ANALISIS NERACA AIR BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI (Glycine max [L] Merr.) PADA LAHAN KERING [ANALYSIS OF WATER BALANCE ON SOYBEAN CULTIVATION (Glycine max [L] Merr.) IN DRY LAND]

  Jur nal Teknik Per t anian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 - 16

ANALISIS NERACA AIR BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI

( Glycine max [L] Mer r .) PADA LAHAN KERING

  

[ANALYSI S OF WATER BALANCE ON SOYBEAN CULTI VATI ON

( Glycine max [L] Mer r .) I N DRY LAND]

1 Oleh : 2 3 1)

Oktaviani , Sugeng Triyono dan Nugroho Haryono

2,3,)

Alumnus S1 Jur usan Teknik Per tanian, Fakultas Per tanian, Univer sitas Lampung

Staf Pengajar Jur usan Teknik Per tanian, Fakultas Per tanian, Univer sitas Lampung

  

komunikasi penulis, email : str iyono@yahoo.com

  

Naskah ini diterima pada 22 April 2013; r evisi pada 6 Mei 2013;

disetujui untuk dipublikasikan pada 8 Mei 2013

ABSTRACT

  

Soybean is one impor t ant food cr op in Indonesia aft er r ice and cor n. In 2008 t o 2010, t he amount of soybean har vest has

fluct uat ed. One effor t t o incr ease t he soybean yield is by using t he expansion pr ogr ams t o exploit dr y lands. How ever ,

w at er scar cit y is t he main pr oblem faced in dr y land cult ivat ion. For t his r eason, st udy on opt imalizat ion of w at er use

become ver y impor t ant and pot ent ial of w at er har vest ing is needed t o be explor ed. This st udy aimed t o analyze and t o

par t it ion t he w at er balance at soybean cult ivat ion, and also to explor e t he pot ent ial of r ainw at er har vest ing. The

exper iment w as conduct ed at t he Int egr at ed Field Labor at or y of t he College of Agr icult ur e, Uni ver sit y of Lampung fr om

2

  

15 Oct ober 2011 t o 6 Januar y 2012. The obser vat ions w er e carr ied out by const r uct ing 8 plot s, 2x1 m each, and in a

longit udinal dir ect ion of t he 5-6% slope. Four of t he exper imental plots w er e sealed w it h plast ic liner and anot her four

3

pot s w er e left w it hout liner . Each plot w as equipped w it h a 1x0,5x0,5 m w at er st or age pond at t he dow n end of t he plot .

  

Physical pr oper t ies w er e det er mined at t he beginning exper iment ; w hile r ainfall, soil moist ur e, and w at er sur face of t he

ponds w er e monit or ed evey day. Soybean yield w as w eighed at the har vest t ime. The r esult s show ed t hat w at er balance

could be divided int o input and out put. Wat er input w as par t it ioned int o r ainfall 41,56% and ir r igat ion 58,44%. Wat er

out put was par t it ioned int o r unoff 6,76%, per colat ion 13,74%, evapot r anspir at ion 74,35%, moist ur e stor ed in t he soil

0,20%, and ir r igat ion sur char ge 5,04%. Ir r igat ion efficiency w as found about 91%, w hile r ainw at er har vest ed

cont r ibut ed 20,74% of the ir r igat ion t ot al. Pot ent ial of pr oductivit y w as found t o be 3,3 t on soybean yield per ha, and

3 pot ent ial w at er use pr oduct ivit y w as about 0,74 kg soybean per m ir r igat ion w at er .

  Keyw or ds: evapotr anspir ation, soybean, sur face r unoff, water balance, water har vesting.

  

ABSTRAK

Kedelai mer upakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Pada tahun 2008

sampai 2010, pr oduksi kedelai mengalami peningkatan dan penur unan. Salah satu upaya peningkatan pr oduktivitas

kedelai adalah per luasan areal dengan memanfaatkan lahan ker ing. Akan tetapi, keter sediaan air adalah masalah

utama dalam pengolahan lahan ker ing. Dengan demikian, optimalisasi penggunaan air menjadi sangat penting dan

potensi pemanenan air per lu dikaji. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dan mempartisi neraca air pada

tanaman kedelai, ser ta mengkaji potensi pemanenan air hujan. Penelitian dilaksanakan di Laborator ium Lapang

Ter padu Fakultas Per tanian Univer sitas Lampung ter hitung mulai tanggal 15 Oktober 2011 – 6 Januar i 2012.

2 Penelitian lapangan dilaksanakan dengan membuat 8 plot percobaan yang masing-masing ber ukuran 2x1 m

membujur sesuai ar ah ler eng (5-6% kemir ingan). Sekeliling plot diberi sekat agar tidak ada aliran masuk dan keluar

dari samping. Empat plot dilapisi terpal pada kedalaman 20 cm dan 4 plot lainnya tidak dilapisi ter pal. Setiap plot

dilengkapi dengan kolam penampungan air limpasan pada bagian hilir nya. Sifat fisik tanah dianalisis pada awal

percobaan; sedangkan curah hujan, kadar air tanah, dan tinggi muka air kolam diamati setiap har i. Hasil panen

polong ditimbang pada saat panen. Hasil penelitian menunjukkan bahw a ner aca air dapat diurai menjadi masukan

dan luaran. Masukan air dipartisi menjadi cur ah hujan 41,56% dan irigasi 58,44%. Luaran air dipar tisi menjadi

limpasan 6,76%, per kolasi 13,76%, evapotranspirasi 74,35%, selisih kadar air awal dan akhir 0,20%, dan kelebihan

irigasi 5,04%. Efisiensi irigasi ter hitung 91%. Dengan per bandingan luas kolam dan luas plot 1:4, hasil pemanenan

air hujan menyumbang 20,74% dari total air irigasi. Potensi produktivitas lahan adalah 3,3 ton kedelai/ ha luas lahan,

3 dan potensi pr oduktivitas penggunaan air 0,74 kg kedelai/ m air irigasi.

  Kat a Kunci: evapotr anspir asi, kedelai, limpasan permukaan, ner aca air , pemanenan air.

  Analisis Ner aca Ai r Budi daya Tanaman Kedelai.... (Oktavi ani, Sugeng Tr iyono, dan Nugr oho Har yono)

I. PENDAHULUAN

  Kedelai mer upakan komoditas str ategis di Indonesia kar ena kedelai mer upakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah ber as dan jagung. Kandungan gizi dar i kedelai ter hitung tinggi, dalam tiap 100 gr am bahan kedelai mengandung pr otein 34,90 gr am, lemak 18,10 gr am, kar bohidr at 34,80 gr am dengan nilai 331 kalor i (Rukmana, 1999).

  Pr oduksi kedelai di Indonesia menunjukkan bahw a pada per iode 2008-2009 meningkat sebesar 25,63% dar i 775.710 ton pada tahun 2008 menjadi 974.512 ton pada tahun 2009. Namun, pr oduksi kedelai mengalami penur unan sebesar 7,68% pada tahun 2010 sebesar 905.015 ton. Peningkatan dan penur unan pr oduksi kedelai dipengar uhi oleh luas panen. Pada tahun 2008 luas panen 590.956 ha, pada tahun 2009 luas panen meningkat menjadi 722.791 ha, tetapi pada tahun 2010 luas panen sedikit tur un menjadi 672.242 ha (BPS, 2010).

  Str ategi peningkatan pr oduksi kedelai nasional dapat ditempuh dengan peningkatan pr oduktivitas atau dengan per luasan ar eal tanam. Peningkatan pr oduktivitas kedelai dapat dilakukan dengan car a pengelolaan tanaman secar a intensifikasi pada lahan saw ah atau pada lahan ker ing. Tetapi pengelolaan tanaman di lahan ker ing umumnya ter kendala oleh keter sediaan air . Salah satu sumber utama air di lahan ker ing adalah hujan. Sebar an hujan yang tidak selalu mer ata, baik menur ut r uang ataupun w aktu, menyebabkan kondisi keter sediaan air tanah ber beda pada suatu tempat dan pada suatu w aktu (Pur baw a dan Wir yajaya, 2009; Guslim, 2007).

  Masalah keter batasan air untuk budidaya tanaman di lahan ker ing dapat diatasi dengan teknik pemanenan air , yaitu mengumpulkan dan menampung air limpasan dar i lahan ke dalam sebuah kolam tampungan. Air tampungan di kolam selanjutnya dapat digunakan untuk menyir am tanaman ketika tidak ada hujan. Selain itu, upaya pemanenan limpasan dapat mengur angi pencemar an daer ah hulu dan mengur angi er osi (Ar syad, 2006; Schw ab, et.al., 1981).

  Banyaknya air limpasan yang dapat ditampung ter gantung dar i banyak faktor , seper ti iklim, jenis tanaman, tekstur tanah dan kemir ingan lahan. Pada penelitian sebelumnya, untuk Daer ah Kota Metr o, Lampung kajian simulasi menunjukkan bahw a kolam penampungan air limpasan seluas kir a-kir a 1400 - 2500 m 2 cukup untuk menunjang kebutuhan air ir igasi tanaman padi di lahan saw ah tadah hujan seluas 1 ha (Tr iyono, dkk., 2010a). Kajian ser upa untuk Daer ah Pesaw ar an, Lampung, Luas kolam yang diper lukan lebih kecil yaitu 850 m 2

  (Tr iyono, dkk. 2010b). Untuk Daer ah Tulang Baw ang, Lampung, kajian menunjukkan bahw a luas kolam penampungan ter kecil adalah 750 m2 jika tanam dilakukan pada Bulan Januar i (Tr iyono, 2011).

  Untuk tanaman-tanaman yang lain, penelitian yang ber kaitan dengan pemanenan air hujan masih per lu dilakukan. Penelitian ini ber tujuan untuk mempar tisi ner aca air dan mengkaji potensi pemanenan air hujan pada tanaman kedelai. Penelitian yang sama pada lahan ber a dilakukan oleh Ar imbi (2011).

  II. BAHAN DAN METODE

  Penelitian dilaksanakan di Labor ator ium Lapang Ter padu Fakultas Per tanian Univer sitas Lampung. Analisis sifat fisik tanah (Agus, dkk., 2006) dilakukan di Labor ator ium Tanah Politeknik Lampung dan Labor ator ium Teknik Sumber Daya Air dan Lahan (TSDAL) Jur usan Teknik Per tanian Unila. Per cobaan lapang ber langsung pada 15 Oktober 2011 sampai dengan 6 Januar i 2012.

  Per alatan yang digunakan adalah: soil moistur e meter , pr ofessional w ir eless w eather stations, r ing sample, dan per alatan labor ator ium seper ti timbangan analitik dan oven. Benih kedelai yang digunakan adalah var ietas Anjasmor o.

  Penelitian dilaksanakan dengan car a membuat 8 plot/ petak lahan yang

  Jur nal Teknik Per t anian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 - 16

    

  : Per ubahan tinggi air kolam (mm) CH : Cur ah hujan (mm) Akl : Luas Kolam (m 2 )

  ΔHkl

  ……………. (2) Keter angan: RO : Limpasan (mm)

  CH x H RO   

    lh kl kl A A

  : Kadar air tanah r ata-r ata (%) FC : Kapasitas lapang (%) Dr z : Kedalaman zona per akar an (mm) Air limpasaan dihitung ber dasar kan volume air yang ter tampung di kolam penampungan pada plot tanpa ter pal (setelah dikor eksi dengan volume air hujan yang jatuh langsung ke kolam). Limpasan dihitung dengan Per samaan 2 ber ikut:

  θ

  ……………..…..… (1) Keter angan: I : Air ir igasi yang ditambahkan (mm)

  I 100

  ber dampingan, masing-masing 1x2 m 2 , memanjang mengikuti ar ah ler eng.

  D x F

  ditentukan 50% fr aksi penipisan. Air irigasi diambil dar i kolam penampungan air limpasan atau diambil dar i sumber lain jika kolam ker ing. Banyaknya air ir igasi ditentukan seper ti pada Per samaan 1 ber ikut: RZ c

  Kadar air titik kritis (θc) diasumsikan dan

  Kadar air tanah diukur di 10 titik per plot kemudian dir ata-r atakan. Cur ah hujan (CH) dir ekam dengan alat w eather station yang ditempatkan di Jur usan Teknik Per tanian Unila dan dicatat setiap har i pada pukul 7 pagi. Hasil pr oduksi kedelai ditimbang pada w aktu panen. Ner aca air pada plot per cobaan utamanya ter dir i dar i air hujan (CH), irigasi (I), limpasan (RO), per kolasi (DP), dan evapotr anspir asi (ETc). Air ir igasi diber ikan letika kadar air tanah menyentuh titik kritis.

  Kadar air tanah (diukur dengan Soil Moistur e Meter TDR 100), per mukaan air di kolam penampungan, dan per tu mbuhan tanaman kedelai diamati di lapangan setiap har i sekitar pukul 7-9 pagi.

  density, ρ) tanah olah, ditentukan melalui analisis labor ator ium di aw al per cobaan.

  Gambar 1. Tata Letak Plot Per cobaan Kar akter istik fisik tanah, seper ti tekstur tanah, kadar air kapasitas lapang (field capacity, FC), kadar air titik layu (per manent w ilting point, PWP), dan ber at isi tanah (bulk

  Kemir ingan lahan sekitar 5-6%. Sekeliling plot diber i sekat (kedalaman 20 cm) agar tidak ada alir an air yang masuk dan keluar dar i samping. Empat plot diber i lapisan ter pal pada kedalaman 20 cm dan empat yang lain tidak diber i lapisan. Dengan demikian per kolasi tidak ter jadi pada empat plot lahan per cobaan yang ber lapis terpal. Kolam kecil, ukur an 1x0,5x0,5 m 3 , untuk menampung air limpasan dar i plot dibuat di ujung bagian hilir tiap-tiap plot. Benih kedelai ditanam pada jar ak antar bar is 50 cm dan 15 cm jar ak antar tanaman dalam bar is. Dengan demikian ada dua bar is tanaman di setiap plot. Susunan petak lahan per cobaan disajikan pada Gambar 1.

  Alh : Luas lahan lot (m 2 ) Per kolasi dihitung dengan berdasar kan selisih limpasan dar i plot ber lapis ter pal dengan limpasan dar i plot tidak ber lapis ter pal, dan ditambah air gr avitasi (yang ter simpan pada por i macr o). Per kolasi dihitung dengan Per samaan 3 ber ikut:

  Analisis Ner aca Ai r Budi daya Tanaman Kedelai.... (Oktavi ani, Sugeng Tr iyono, dan Nugr oho Har yono) C jenuh ttp tp

  F RO RO DP     …….. (3)

  Sesuai tujuan semula, pembedaan kedua plot ter sebut adalah untuk menghitung volume per kolasi, dengan per bedaan volume alir an limpasan yang ter tampung pada kolam tampungan. Tetapi jika alir an hor izontal, air di baw ah per mukaan pada plot ber lapis ter pal, tidak lancar maka pengukur an per kolasi menjadi bias. Kelancar an alir an hor izontal air di baw ah per mukaan ter sebut dapat dideteksi dengan per bedaan kadar air tanah pada kedua plot. Gambar 3 menyajikan pasangan data kadar air tanah kedua plot (ber lapis dan tidak ber lapis ter pal). Secar a kuantitatif tingkat per bedaan pasangan data kadar air har ian kedua plot ter sebut cukup kecil dengan RMSE=2,39. Hal ini ber ar ti bahw a tingkat per bedaan pasangan data ter sebut r ata-r ata 2,39 mm, cukup kecil jika dibandingkan dengan kadar air tanah r ata-r ata 70,4 mm untuk plot

  Data kadar air tanah pada plot ber lapis ter pal dan plot tidak ber lapis terpal tidak menunjukkan per bedaan yang besar . Gr afik kadar air tanah dar i kedua plot ter sebut tampak ber impit dengan beber apa sedikit penyimpangan (Gambar 2).

  3.2. Kadar Air Tanah

  (%) 22,3

  Titik kritis /θc (%) 30,7 Titik layu permanent/PWP

  3 ) 1,41 Kapasitas lapang/Fc (%) 39,1

  Uraian Keterangan Tekstur tanah Liat Kerapatan isi /ρ (g/cm

  Tabel 1. Sifat fisik tanah

  mer upakan ambang batas air pada tanaman, diper oleh sebesar 30,7 %. Data ini yang selanjutnya menjadi dasar untuk per hitungan ir igasi. Ker apatan isi tanah diper oleh r ata-r ata sebesar 1,41 g/ cm 3 . Data fisik tanah selanjutna dir angkum dalam Tabel 1 ber ikut.

  lai 22,3 %. Titik kritis (θc),

  Melalui analisis labor ator ium dengan menggunakan contoh tanah yang diambil dar i empat titik ber beda di lokasi penelitian pada kedalaman 0–20 cm, r ata-r ata per sentase per bandingan pasir 36,05%, debu 18,44%, dan liat 45,51%. Ber dasar kan penggolongan pada segitiga tekstur tanah yang dibuat oleh Depar temen Per tanian Amer ika Ser ikat (USDA), komposisi tanah ini ter masuk ke dalam kelas tekstur liat. Analisis labor ator ium juga menunjukkan bahw a kapasitas lapang tanah r ata-r ata 39,1%. Titik layu per manen dapat dihitung dengan per bandingan antar a kapasitas lapang dan titik layu. Tanah yang ber kapasitas lapang (32 - 42%) memiliki per bandingan dengan titik layu per manen sebesar 1,75 : 1 (Phocaides, 2007) sehingga titik layu per manen pada lokasi per cobaan memiliki ni

  : Per ubahan kadar air tanah selama 1 har i (mm) Ketika ada hujan, kemungkinan tidak diir igasi, dan sebaliknya jika tidak ada hujan maka limpasan dan per kolasi ber nilai nol.

  Δθ

  …... (4) Keter angan: ETc : Evapotr anspir asi (mm)

  I CH ETc      

  Selanjutnya evapotr anspir asi tanaman (ETc) dihitung ber dasar kan per ubahan kadar air tanah setiap har i dan dikor eksi dengan komponen yang lain. Evapotr anspir asi dihitung ber dasar kan ner aca air (Hillel, 1972; Abujamin, 2000), dengan Per samaan 4 ber ikut:

  θ jenuh : Kadar air jenuh (mm)

  Keter angan: DP : per kolasi (mm); Rotp : limpasan dar i plot ber ter pal (mm); Rottp : limpasan dar i plot tanpa ter pal (mm)

DP RO

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Sifat Fisik Tanah

  Jur nal Teknik Per t anian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 - 16

  80

  

KA pl ot tak ber l api s ter pal KA pl ot ber l api s ter pal

Fc θc

  PW P

  60

  65

  70

  75

  85

  80

  60

  65

  70

  75

  80

  85 KA Plot Tak Berlapis Terpal (mm) K A P lo t B er la p is T er p a l (m m ) RMSE=2.39

  85 HST K a d a r A ir T a n a h ( m m )

  60 65 70 75

  ber lapis ter pal dan 70,9 mm untuk plot tidak ber lapis ter pal. Kenyataan ini menunjukkan bahw a alir an hor izontal air baw ah per mukaan pada plot berter pal cukup lancar .

  60

  Dengan kenyataan ini, pengukur an per kolasi dapat dikatakan tidak bias. Kadar air tanah plot tidak ber ter pal sedikit lebih tinggi dar i kadar air tanah plot

  10

  20

  30

  40

  50

  70

  55

  80

  90 5 10 15

  20

  25

  30 35 40 45

  50

  Gambar 2. Kadar air tanah har ian Gambar 3. Per bandingan pasangan data kadar air tanah pada plot ber lapis ter pal dengan plot tak ber lapis ter pal

  Analisis Ner aca Ai r Budi daya Tanaman Kedelai.... (Oktavi ani, Sugeng Tr iyono, dan Nugr oho Har yono)

  3.4. Perkolasi

  ber ter pal. Hal ini diduga disebabkan oleh adanya alir an lengas dar i baw ah pada plot tidak ber terpal sehingga kadar airnya sedikit lebih tinggi. Ber dasar kan Uji T sample ber pasangan, per bedaan ter sebut nyata, namun hal ini tidak ber dampak pada per hitungan per kolasi.

  Per kolasi dihitung dengan mengambil selisih antar a limpasan plot ber lapis ter pal dengan limpasan plot tidak ber lapis terpal. Gr afik per kolasi disajikan pada Gambar 5. Dar i 30 har i hujan, hanya 23 har i hujan yang menimbulkan per kolasi dengan total kedalaman air 104,22 mm atau sekitar 32,86% dar i total cur ah hujan. Per kolasi cukup tinggi (sekitar dua kali) jika dibandingkan limpasan. Tingginya per sentase per kolasi selain disebabkan oleh r endahnya cur ah hujan selama penelitian, juga disebabkan oleh sifat fisik tanah yang mengandung pasir cukup tinggi (36,05%).

3.3. Limpasan

  Gambar 4. Limpasan dar i plot tidak ber lapis ter pal

  50

  60.0 HST C u r a h H u ja n ( m m ) Perkolasi Curah Hujan

  50.0

  40.0

  30.0

  20.0

  10.0

  0.0

  90 HST P er k o la si (m m )

  80

  70

  60

  40

  Gambar 5. Per kolasi dar i plot per cobaan

  30

  20

  Pengukur an volume air limpasan dar i lahan di lakukan dengan car a mengukur volume air limpasan dar i plot tidak ber lapis terpal. Gr afik limpasan dar i plot tidak ber ter pal ditunjukkan pada Gambar 4. Dar i 30 har i hujan dengan total kedalaman air 317,2 mm, hanya 14 har i hujan yang menghasilkan limpasan dengan total kedalaman air 51,64 mm, atau 16,28 % dar i cur ah hujan. Pr opor si limpasan cukup kecil jika dibandingkan dengan cur ah hujan yang ter jadi. Per sentase air hujan yang menjadi limpasan sangat ber fluktuasi ter gantung dar i tinggi air hujan. Jika diper hatikan cur ah hujan selama penelitian cukup r endah, ter tinggi hanya 36 mm, dan menghasilkan limpasan 28 mm. Dapat dilihat bahw a kondisi kadar air tanah cukup ker ing sehingga banyak menyer ap air dan ber akibat r endahnya limpasan.

  60.0

  50.0

  40.0

  30.0

  20.0

  10.0

  0.0

  Kur va evapotr aspir asi har ian selama masa tanam kedelai disajikan pada Gambar 6. Evapotr anspir asi total sebesar 661,5 mm untuk plot ber lapis ter pal dan 567,5 mm untuk plot tanpa terpal. Per bedaan evapotr anspir asi dar i kedua plot ter sebut diduga sebagai akibat adanya alir an lengas dar i baw ah ke atas, pada plot tanpa lapisan ter pal sehingga kadar air tanah ter catat tidak cepat menur un. Sebaliknya pada plot dengan lapisan ter pal kadar air lebih cepat menur un kar ena tidak mendapatkan suplai lengas dar i baw ah. Evapotr anspir asi dar i kedua plot ter sebut melebihi cur ah hujan yang hanya 317,2 mm. Hal ini menunjukkan 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 10 20 30 40 50 60 70 80 L 90 HST im p a sa n ( m m ) 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 HST C u ra h H u ja n ( m m ) Limpasan Curah Hujan

  3.5. Evapotranspirasi

  10

  Jur nal Teknik Per t anian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 - 16

  bahw a air hujan pada w aktu itu tidak cukup 2012, saat cur ah hujan belum banyak. Dalam untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. aplikasinya, tentu masa tanam kedelai Kekur angan atau deficit air ini cukup besar dipertimbangkan dengan baik agar tidak yaitu 344,3 mm untuk plot ber lapis ter pal kekur angan air , dan biasanya pada Bulan dan 250,3 mm untuk plot tanpa ter pal. Apr il-Mei setelah padi. Kekur angan ini per lu dikompensasi dengan ir igasi.

  

HST

  60.00

  50.00 10 )

  ) m m m

  40.00 20 m (

   ( si n a ir ja

  30.00 30 u sp n

   H a h tr

  20.00 40 ra o u p a C v

  10.00

  50 E

  0.00

  60

  10

  20

  30

  40

  50

  60

  70

  80

  90 HST Evapotranspirasi plot berterpal Evapotranspirasi plot tanpa terpal Curah Hujan

  Gambar 6. Evapotr anspir asi kedelai selama penanaman

  7.0

  6.08 ) n

  5.47

  6.0 ri a

  4.80 /h

  5.0

  4.30 m m n (

  4.0 n si so t so a ea en ir ea

  3.0 l S m sp S ia p id n o te it a

  2.0 a M el tr In L o ev p

1.0 D a v E

  0.0 0-15 16-30 31-70 71-83 HST

  Gambar 7. Evapotr anspir asi r ata-r ata har ian per per iode tumbuh Kekur angan air ini bisa dipahami kar ena Jika dilihat dar i per iode tumbuh, penelitian dilaksanakan pada Tanggal 15 evapotr anspir asi kedelai tidak mer ata Oktober 2011 sampai Tanggal 6 Januar i sepanjang hidupnya. Pada aw al

  Analisis Ner aca Ai r Budi daya Tanaman Kedelai.... (Oktavi ani, Sugeng Tr iyono, dan Nugr oho Har yono)

  per tumbuhan (initial) evapotr anspir asi cukup r endah, kemudian meningkat pada masa per kembangan (development), memuncak di per iode pemasakan (mid season), dan kemudian menur un lagi di masa pemasakan (late season), seper ti pada Gambar 7. Pola semacam itu juga ber laku untuk tanaman lain, kar ena konsumsi air tentu ter kait dengan per kembangan fisiologi tanaman (Allen, et.al., 1998).

3.6. Irigasi dan Aspek Pemanenan Air Hujan

  Ir igasi yang diber ikan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman kedelai selama per tumbuhannya disajikan pada Gambar 8. Pada penelitian ini, air ir igasi diambil dar i kolam penampungan limpasan (luas kolam : luas plot = 1 : 4), dan jika tidak cukup air ir gasi diambil dar i sumber lain yang ter sedia. Pember ian air ir igasi dilakukan setiap har i atau saat kadar air tanah menur un sampai titik kr itis. Kebutuhan air ir igasi untuk plot tidak ber lapis ter pal kir a-kir a 406,1 mm (Evapotr anspir asi + per kolasi + limpasan - cur ah hujan). Ir igasi untuk plot ber ter pal tidak dianalisis. Sementar a, air limpasan dar i plot tidak ber lapis ter pal dan hujan yang langsung jatuh ke kolam hanya 0,185 m 3 (yang tertampung di kolam penampung). Dengan kata lain pemanenan air hujan menyumbang air sebesar 22.78% dar i total kebutuhan ir igasi, dan kekur angan air sebanyak 313,6 mm (77,22%) diambil dar i sumber lain. Kecilnya volume pemanenan air hujan ini mengindikasikan bahw a per bandingan antar a luas kolam dan luas lahan tanam, yaitu 1:4, belum cukup. Untuk pengembangan aplikasinya luas kolam penampungan bar angkali per lu diper luas lagi. Secar a teor itis, kebutuhan air ir igasi adalah 406,1 mm, tetapi dalam kenyataannya pember ian air ir igasi mencapai 446.1 mm untuk plot tidak ber ter pal. Hal ini menunjukkan adanya sedikit inefisiensi dalam pember ian air ir igasi. Air irigasi diber ikan sedikit ber lebih sehingga kemungkian kadar air tanah melew ati kapasitas lapang, dan akhirnya mengalir melalui per kolasi ataupun limpasan sebanyak 40 mm. Atas dasar pehitungan ini, efisiensi air ir igasi adalah 91%. Ter jadinya inefisiensi ini diduga kar ena kenyataan ter jadinya hujan di sor e atau malam har i setelah dilakukan penyir aman di pagi har i. Data r ekaman menunjukkan ada 17 har i ter jadi hujan setelah penyir aman di pagi har i.

  Gambar 8. Air ir igasi selama masa tanam kedelai pada plot tidak ber lapis ter pal Tabel 2. Necar a air selama penaman kedelai

  15 Oktober 2011 – 6 Januar i 2012

  Komponen Hidr ologi mm % Masukan: 763,3 100,00 Cur ah hujan 317,2 41,56 Ir igasi 446,1 58,44

  Luaran: 763,3 100,00 Limpasan 51,6 6,76 Per kolasi 104,2 13,65 Evapotr anspir asi 567,5 74,35 Selisih kadar air aw al dan akhir 1,5 0,20 Kelebihan ir igasi 38,5 5,04 Ner aca 0,0 0,0

  3.7. Rangkuman Neraca Air

  Ner aca air selama penanaman kedelai dar i

  15 Oktober 2011 sampai 6 Januar i 2012 disajikan pada Tabel 2. Dapat dilihat pada Tabel 2, cur ah hujan hanya menyumbang 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 10 20 30 40 50 60 70 80 Ir 90 HST ig a si ( m m )

  Jur nal Teknik Per t anian Lampung– Vol. 2, No. 1: 7 - 16

  4.2. Saran

  41,56% dan irigasi 58,44% dar i total masukan. Pada sisi luar an, dapat dilihat bahw a limpasan hanya sebagian kecil, 51,6 mm atau 6,76% dar i total luar an. Seper ti pada umumnya, evapotr anspir asi mencapai 74,35%, mer upakan por si ter besar penggunaan air bagi tanaman (Wallender and Gr imes, 1990).

  Penelitian di per iode w aktu yang lain masih per lu dilakukan agar mendapatkan gambar an pastir i necar a air dan potensi pemanenan air hujan secar a komplit.

DAFTAR PUSTAKA

3.8. Produktivitas Penggunaan Air Irigasi

   Efisiensi irigasi ter hitung 91%.

   Dengan per bandingan luas kolam dan luas plot 1:4, hasil pemanenan air hujan menyumbang 20,74% dar i total air ir igasi.

  Diakses pada tanggal 19 September 2011. Guslim. 2007. Agr oklimatologi. Univer sitas Sumater a Utar a. Pr ess: Medan.

  Cetakan Ketiga. IPB Pr ess. Bogor . BPS, 2010. Data Komuditas Kedelai, Badan Pusat Statistik. http:/ / w ww .bps.go.id.

  Univer sitas Lampung. Bandar Lampung. Ar syad , S. 2006. Konser vasi Tanah dan Air .

  Ar imbi, D. 2011. Analisis Ner aca Air Pada Lahan Ber a di Plot Per cobaan Labor ator ium Lapang Ter padu Univer sitas Lampung. (Skripsi).

  Smith. 1998. Cr op evapotr anspir ation - Guidelines for computing cr op w ater r equir ements - FAO Ir r igation and dr ainage paper 56. FAO. Rome.

  Dar iah. (Editor ). 2006. Sifat Fisik Tanah dan Metode Analisinya. Balai Besar Litbang Sumber daya Lahan Per tanian. Jakar ta. Allen, R. G., L. S. Per eir a., D. Raes., dan M.

  Agus, F., U. Kur nia, A. Adimihar dja, dan A.

  Panen kedelai dilakukan pada umur 83 har i setelah tanam. Data pr oduksi kedelai hanya diambil dar i plot tanpa lapisan ter pal, ker ena kondisi ini yang r ealistis dan mendekati kondisi lahan sebenar nya di petani. Ber at total polong kedelai diper oleh 0,67 kg/ plot atau 0.33 kg/ m 2 sehingga potensi pr oduktivitas kedelai mencapai 3,3 ton kedelai ker ing panen per hektar . Sementar a, konsumsi air irigasi total sebesar 0,446 m 3 / m 2 . Jika pr oduktivitas penggunaan air mer upakan per bandingan antar a ber at total polong kedelai dengan total air ir igasi (Tusi, 2011), maka nilai pr oduktivitas penggunaan air ir igasi adalah 0,74 kg / m 3 .

  Abujamin, A

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

   Ner aca air dapat diur ai menjadi masukan

  dan luar an. Masukan air dipar tisi menjadi cur ah hujan 41,56% dan ir igasi 58,44%. Luar an air dipar tisi menjadi limpasan 6,76%, per kolasi 13,76%, evapotr anspir asi 74,35%, selisih kadar air aw al dan akhir 0,20%, dan kelebihan ir igasi 5,04%.

   Potensi pr oduktivitas lahan adalah 3,3 ton kedelai/ ha luas lahan, dan potensi pr oduktivitas penggunaan air 0,74kg kedelai/ m3 air ir igasi.

  A. 2000. Penentuan penghitungan ner aca air Agr oklimat. Makalah disampaikan pada pr ogr am pelatihan peningkatan dalam bidang Agr oklimatologi Ker ja sama antar a Badan Litbang Per tanian, Deptan dan FMIPA-IPB. Bogor . 31 Agustus – 2 Nopember 2000. Tidak diter bitkan 28 halaman.

  Analisis Ner aca Ai r Budi daya Tanaman Kedelai.... (Oktavi ani, Sugeng Tr iyono, dan Nugr oho Har yono)

  Tusi, A. 2011. Kebutuhan Air Tanaman. Hillel, D. 1972. The Field Water Balance and http:/ / staff.unila.ac.id/ at usi. Diakses Water Use Efficiency in D. Hillel (ed) Oktober 2011.

  Optimizing The Soil Physical Envir onment Tow ar d Gr eater Cr op Wallender , W. dan D. Gr imes. 1990. Yields. Academic Pr ess. New Yor k. Ir r igation. Section 15 of the National

  Engineer ing Handbook (NEH). United Phocaides, A. 2007. Handbook On States Depar tment of Agr icultur e. USA.

  Pr essur ized Ir r igation Techniques. Food And Agr icultur e Or ganization Of The United Nations. Rome. Available at ftp:/ / 193.43.36.44/ docr ep/ fao / 010/ a1336e/ a1336e06.pdf.

  Pur baw a, A. dan Wir yajaya. 2009. Analisis spasial nor mal keter sediaan air tanah bulanan di Pr ovinsi Bali. Buletin Meteor ologi, Klimatologi, dan Geofisika Vol. 5 No. 2 Juni 2009. Balai Besar Meteor ologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar . Bali .

  Rukmana, R. 1999. Kedelai, Budidaya, dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakar ta. Schw ab, G.O., R.K. Fr ever t, T.W. Edminster , and K.K. Bar nes. 1981. Soil and Water

  Conser vation Engineer ing. John Wiley and Sons, Inc. N.Y. 525 p. Tr iyono, S., Zeovany, Oktafr i, and B. Rosadi.

  2012a. Model Simulation of ”Saw ah- Kolam” System fo Rainw ater Har vesting to Suppor t Rainfed Paddy Pr oduction. J.

  Tr op. Soils, Vol. 15 (3): 261-270. Tr iyono, S., B. Rosadi, Oktafr i, dan A. Affandi.

  2010b. Model Pemanenan Air Hujan Untuk Pr oduksi Padi Tadah Hujan: Contoh Kasus Di Pesaw ar an. J. Tenik Per tanian Vol. 2 No.2: 103-114.

  Tr iyono., S. 2011. Simulasi Kiner ja Sistem Saw ah-Kolam Untuk Penyediaan Air Ir igasi Pada Saw ah Tadah Hujan Dalam Rangka Menyikapi Per ubahan Musim Tanam Yang Kur ang Menentu.

  Pr osiding Seminar Nasional BKS Bar at di Palembang, 23-25 Mei 2011. ISBN: 978- 979-8389-18-4, Vol III, Halaman 821- 831.