Kerjasama Dan Ekonomi ASEAN (1)
KERJASAMA EKONOMI ASEAN
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967,
negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu
agenda utama yang perlu dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi
difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential
trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi
(complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak
swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan (1976),
Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation
scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced
Preferential Trading arrangement (1987). Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika
negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk
menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN
menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka
perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.
Pada KTT ke-5 ASEAN di Singapura tahun 1992 telah ditandatangani
Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation sekaligus
menandai dicanangkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 1 Januari
1993 dengan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme
utama. Pendirian AFTA memberikan impikasi dalam bentuk pengurangan dan
eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap
kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak
hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang, tetapi juga perdagangan
jasa dan investasi.
KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas
ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC
bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan
bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan
barang modal secara lebih bebas. KTT juga menetapkan sektor-sektor prioritas yang
akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan,
produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari
kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata. Dalam
perkembangannya, pada tahun 2006 jasa logistik dijadikan sektor prioritas yang ke12.
KTT ke-10 ASEAN di Vientiene tahun 2004 antara lain menyepakati Vientiane
Action Program (VAP) yang merupakan panduan untuk mendukung implementasi
pencapaian AEC di tahun 2020.
ASEAN Economic Ministers Meeting (AEM) di Kuala Lumpur bulan Agustus
2006 menyetujui untuk membuat suatu cetak biru (blueprint) untuk menindaklanjuti
pembentukan AEC dengan mengindentifikasi sifat-sifat dan elemen-elemen AEC
pada tahun 2015 yang konsisten dengan Bali Concord II dan dengan target-target
dan timelines yang jelas serta pre-agreed flexibility untuk mengakomodir
kepentingan negara-negara anggota ASEAN.
KTT ke-12 ASEAN di Cebu bulan Januari 2007 telah menyepakati ”Declaration
on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015”. Dalam
konteks tersebut, para Menteri Ekonomi ASEAN telah menginstruksikan Sekretariat
ASEAN untuk menyusun ”Cetak Biru ASEAN Economic Community (AEC)”. Cetak
Biru AEC tersebut berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah
dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN,
yaitu :
a. Menuju single market dan production base (arus perdagangan bebas untuk
sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal);
b. Menuju penciptaaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing tinggi
(regional competition policy, IPRs action plan, infrastructure development, ICT,
energy cooperation, taxation, dan pengembangan UKM);
c. Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata (region of
equitable economic development) melalui pengembangan UKM dan programprogram Initiative for ASEAN Integration (IAI); dan
d. Menuju integrasi penuh pada ekonomi global (pendekatan yang koheren dalam
hubungan ekonomi eksternal serta mendorong keikutsertaan dalam global
supply network).
Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut dijabarkan lebih lanjut melalui
priority actions yang pencapaiannya dievaluasi dan dimonitor dengan menggunakan
score card. Disamping itu, diperlukan dukungan berupa kemauan politik, koordinasi
dan mobilisasi sumber daya, pengaturan pelaksanaan, peningkatan kemampuan
(capacity building) dan penguatan institusi, serta peningkatan konsultasi antara
pemerintah dan sektor swasta. Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut juga
akan didukung dengan program pengembangan sumber daya manusia dan kegiatan
penelitian serta pengembangan di masing-masing negara.
Pada KTT ASEAN Ke-13 di Singapura, bulan Nopember 2007, telah disepakati
Blueprint for the ASEAN Economic Community (AEC Blueprint) yang akan
digunakan sebagai peta kebijakan (roadmap) guna mentransformasikan ASEAN
menjadi suatu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang kompetitif dan
terintegrasi dengan ekonomi global. AEC Blueprint juga akan mendukung ASEAN
menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi
yang merata serta kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi yang makin
berkurang. Sebagai upaya untuk memfasilitasi perdagangan di tingkat nasional dan
ASEAN sebagaimana tertuang dalam AEC Blueprint 2015, Indonesia telah
melakukan peluncuran National Single Window (NSW) dalam kerangka ASEAN
Single Window (ASW) pada tanggal 17 Desember 2007. Menurut rencana ASW
akan diimplementasikan pada tahun 2009.
ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint
Pada pertemuan ke-39 ASEAN Economic Ministers (AEM) tahun 2007,
disepakati mengenai naskah ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint beserta
Strategic Schedule-nya, yang mencakup inisiatif-inisiatif baru serta roadmap yang
jelas untuk mencapai pembentukan ASEAN Economic Community tahun 2015.
Berkaitan dengan disepakatinya draft AEC Blueprint, pada pertemuan ke-39
AEM juga disepakati mengenai Roadmap for ASEAN integration of the Logistics
Services Sector sebagai priotitas ke-12 untuk integrasi ASEAN dan menandatangani
“Protocol to Amend Article 3 of the ASEAN Framework (Amandment) Agreement for
the Integration of the Priority Sectors”. Dengan demikian, ke-12 Priority sectors
dimaksud adalah agro-based products, air-travel, automotivr, e-ASEAN, electronics,
fisheries, healthcare, rubber-based products, textiles & apparels, tourism, woodbased products, logistics services.
ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint tersebut kemudian disahkan
pada Rangkaian Pertemuan KTT ASEAN ke-13. AEC Blueprint bertujuan untuk
menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif,
memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan aliran modal. Selain
itu, juga akan diupayakan kesetaraan pembangunan ekonomi dan pengurangan
kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi pada tahun 2015.
AEC Blueprint merupakan suatu master plan bagi ASEAN untuk membentuk
Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dengan mengidentifikasi langkahlangkah integrasi ekonomi yang akan ditempuh melalui implementasi berbagai
komitmen yang rinci, dengan sasaran dan jangka waktu yang jelas.
Terkait dengan AEC Blueprint, ASEAN juga telah mengembangkan
mekanisme Scorecard untuk mencatat implementasi dan komitmen-komitmen
negara anggota sebagaimana yang telah disepakati di dalam AEC Blueprint.
Scorecard dimaksud akan memberikan gambaran komprehensif bagaimana
kemajuan ASEAN untuk mengimplementasikan AEC pada tahun 2015. Dalam kaitan
ini negara-negara ASEAN telah menyepakati bahwa AEC Scorecard yang diusulkan
akan dilaporkan pada KTT ke-14 ASEAN, Desember 2008 di Thailand.
Berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan “AEC awareness Year 2008”,
para pertemuan ke-40 AEM, para Menteri Ekonomi ASEAN mengesahkan AEC
Communication Plan dan menekankan pentingnya untuk melibatkan berbagai
stakeholders dalam proses komunikasi, yaitu Badan-badan sektoral ASEAN, sektor
swasta, otoritas di tingkat lokal dan nasional di negara-negara ASEAN, kalangan
akademi serta tokoh-tokoh masyarakat.
Terkait dengan implmentasi AEC Bluepint, pada tahun 2007-2008, Ditjen
Kerjasama ASEAN telah melakukan sosialisasi AEC Blueprint bersamaan dengan
sosialisasi ASEAN Charter, baik di tingkat pusat, khususnya kepada asosiasiasosiasi bisnis maupun di daerah-daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Irian. Sosialisasi dilakukan dalam bentuk seminar, workshop,
lokakarya maupun Kuliah Umum, wawancara di media massa cetak dan elektronik
lokal di pusat dan daerah. Salah satu sasaran yang ingin dicapai adalah untuk
memicu kesiapan masyarakat serta menimbulkan mengenai “public awareness”
mengenai ASEAN.
Kerjasama di Sektor Industri
Kerjasama di sektor industri merupakan salah satu sektor utama yang
dikembangkan dalam kerjasama ekonomi ASEAN. Kerjasama tersebut ditujukan
untuk meningkatkan arus investasi, mendorong proses alih teknologi dan
meningkatkan keterampilan negara-negara ASEAN, termasuk dalam bentuk
pertukaran informasi tentang kebijaksanaan perencanaan industri nasional
masing-masing. Kerjasama ASEAN di sektor perindustrian diarahkan untuk
menciptakan fasilitas produksi baru dalam rangka mendorong perdagangan
intra-ASEAN melalui berbagai skema kerjasama yang dikembangkan berdasarkan
konsep resource pooling dan market sharing.
ASEAN Industrial Cooperation (AICO) yang ditandatangani pada bulan April
1996 dan berlaku efektif pada bulan Nopember 1999 merupakan insiatif kerjasama
di sektor industri yang saat ini terus dikembangkan. AICO merupakan skema
kerjasama antara dua atau lebih perusahaan di kawasan ASEAN dalam
pemanfaatan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan,
dalam rangka memproduksi suatu barang yang bertujuan meningkatkan daya saing
perusahaan ASEAN. AICO menyediakan prasarana untuk menerapkan prinsip
economic of scale and scope yang didukung oleh pajak yang rendah untuk
meningkatkan transaksi di ASEAN, menumbuhkan kesempatan investasi dari dalam
dan luar ASEAN, serta menciptakan pasar regional yang lebih besar. Perusahaanperusahaan yang memanfaatkan skema kerjasama ini antara lain akan
mendapatkan preferensi berupa pengenaan bea masuk hingga 5%.
AICO diharapkan akan mendorong kerjasama industri antar negara ASEAN
dan mendorong investasi pada industri berbasis teknologi dan kegiatan yang
memberikan nilai tambah pada produk industri. AICO juga memberikan kesempatan
luas kepada perusahaan di negara ASEAN untuk saling bekerjasama guna
menghasilkan produk dengan menikmati preferensi tarif. Insentif lain yang juga
diberikan kepada perusahaan yang bekerjasama dalam payung AICO berupa
akreditasi kandungan lokal serta insentif non-tarif lainnya yang dapat diberikan oleh
masing-masing negara anggota.
AICO tidak hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan industri, tetapi
juga untuk trading companies yang membantu pemasaran produk-produk industri
kecil. Pada 21 April 2004 para Menteri Ekonomi ASEAN telah menandatangani
Protocol to Amend the AICO Agreement yang mengatur perubahan/penurunan tarif
preferensi yang diberikan untuk proyek-proyek AICO yang disetujui.
Kerjasama di Sektor Perdagangan
1. Kerjasama Perdagangan Barang
Berkaitan dengan AFTA, pada pertemuan ke-21 AFTA Council tanggal 23
Agustus 2007, telah dicapai kemajuan yang cukup signifikan mengenai
implementasi Work Programme on Elimination of Non-Tariff Barries (NTBs) serta
dalam melakukan revisi mengenai CEPT AFTA Rules of Origin, yang diharapkan
akan mengurangi biaya transaksi perdagangan serta memfasilitasi perdagangan
di kawasan.
Berkaitan dengan perdagangan barang ini,
ASEAN juga
berhasil
menyelesaikan pembahasan substantif mengenai ASEAN Trade in Goods
Agreement (ATIGA), yang diharapkan akan ditandatangani pada bulan
Desember 2008. ATIGA
mengintegrasikan semua inisiatif ASEAN yang
berkaitan dengan perdagangan barang kedalam suatu comprehensive
framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara berbagai inisiatif. ATIGA
akan meningkatkan transparansi, kepastian dan meningkatkan AFTA-rulesbased system yang merupakan hal yang sangat penting bagi komunitas bisnis
ASEAN.
ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan capaian penting
yang mengkodifikasi dan penyempurnaan kesepakatan ASEAN di bidang
perdagangan barang, yakni Agreement on Common Effective Preferential Tariff
Scheme for the ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA,1992), Mutual
Recognition Arrangement (MRA, 1998), e-ASEAN (2000), Sektor Prioritas
Integrasi (2004), dan perjanjian ASEAN Single Window (ASW, 2005). Khusus
untuk pengurangan / penghapusan tarif dan hambatan non-tarif internal ASEAN,
ATIGA menegaskan kembali kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya, yakni
penghapusan seluruh tarif atas produk dalam kategori Inclusion List (IL) pada 1
Januari 2010 bagi ASEAN-6, dan 2015-2018 bagi ASEAN-4 (Cambodia, Laos,
Myanmar dan Vietnam – CLMV), serta penghapusan hambatan non tarif pada 1
Januari 2010 bagi ASEAN-5, 1 Januari 2012 bagi Philippines, dan 2015 bagi
CLMV.
b. Fasilitasi Perdagangan
Dalam upaya meningkatkan perdagangan, ASEAN telah menandatangani
Protocol 1-Designation of Tansit Transport Routes and Facilities. Implementasi
Protocol dimaksud akan memfasilitasi transportasi barang-barang di kawasan
serta tidak merintangi akses dan pergerakan kendaraan yang mengangkut
barang-barang tersebut di kawasan ASEAN.
Berkaitan dengan fasilitasi perdagangan, Indonesia juga telah melakukan
pembentukan Nasional Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window
(ASW) merupakan salah satu upaya fasilitasi perdagangan di tingkat nasional
dan ASEAN untuk mempermudah dan mempercepat arus perdagangan dalam
rangka mendukung proses pembentukan ASEAN Economic Community.
National Single Window diharapkan mulai dapat beroperasi pada akhir tahun
2008 di negara-negara ASEAN+6 dan tahun 2012 bagi negara-negara CLMV.
Untuk tingkat nasional, Perkembangan Tahap I Uji Coba NSW telah
dilaksanakan di Tanjung Priok dari Desember 2007 – Juni 2008. Sistem uji coba
melibatkan 5 (five) Government Agencies (GA) yang terkait dengan pemberian
izin, yaitu Ditjen Bea dan Cukai–Depkeu, Ditjen Daglu, Badan POM, Badan
Karantina Deptan dan Pusat Karantina Perikanan (DKP) Draft Blueprint NSW. Uji
coba dimaksud difokuskan pada importir prioritas sebanyak 102. Tujuan yang
dapat dicapai adalah penyederhanaan dokumen impor dan pemendekan proses
bisnis pengurusan perizinan impor dari 5.5 hari menjadi 8 jam.
Implementasi NSW Tahap II dimulai pada bulan Juli – Desember 2008. Pada
Tahap II difokuskan pada tingkat operasional dengan sasaran antara lain :
penerapan di lima pelabuhan utama, yaitu Tanjung Prior (Jakarta), Tanjung
Perak (Surabaya), Belawan (Medan) dan Bandara Soekarno Hatta yang
merupakan tempat bongkar muat barang ekspor impor dengan tingkat volume
90% dari total ekspor impor Indonesia; GA yang terlibat menjadi 15 (total instansi
yang terlibat perizinan sesudah penyederhanaan/sebelumnya 34 instansi); jasa
perizinan meliputi ekspor, impor, pengangkutan udara dan pengangkutan laut. Di
samping itu, sistem NSW juga mulai diujicobakan dengan ASW pada tanggal 11
Agustus 2008 ditandai adanya pertukaran dokumen kepabeanan (SKA dan Form
D antara Indonesia dan Malaysia).
Diharapkan seluruh importir terdaftar (sekitar 17.500 importir) telah dapat
menggunakan sistem dimaksud pada bulan Desember 2008 dan masalah terkait
dengan Service Level Agreement (SLA), permanent help desk; fee structure,
changing management dan Badan Pengelola telah dapat diputuskan pada
Implementasi Tahap II ini.
c. Realisasi ASEAN Free Trade Area
Pada pertemuan ke-40 ASEAN Economic Ministers tahun 2008, ASEAN
Secretariat telah melaporkan bahwa implementasi komitmen liberalisasi tariff
CEPT telah mencapai 92.25 % dari semua produk yang telah dimasukkan ke
dalam inclusion list (IL), 88.48 % memiliki tarif berkisar antara 0-5 % di antara
negara-negara ASEAN. Tarif di antara negara-negara ASEAN yang telah
dihapuskan sebesar 63.42 % dari IL products, rata-rata berkurang sebesar
2,58% dalam tahun 2007 menjadi 1.95 % dalam tahun 2008.
d. Comprehensive Revised CEPT Rules of Origin
Sejak 1 Agustus 2008, ASEAN telah mengimplementasikan Comprehensive
revised CEPT Rules of Origin yang mencakup revisi terhadap teks CEPT ROO
serta komponennya seperti Operational Certification Procedures, Product
Specific Rules (PSRs) dan Certificate of Origin (CO) Form D. Revisi CEPT
ROO termasuk revisi general rule of the CEPT Rules of Origin dari kriteria single
“Regional Value Content of 40 percent (RVC(40)” menjadi alternative co-equal
rules of “Regional Value Content of 40 percent or Change in Tariff Headings
(RVC(40) or CTH)”.
e. Kerjasama Kepabeanan
Selama 3 (tiga) tahun terakhir, ASEAN Customs Administrations terus
melakukan upaya-upaya untuk mengimplementasikan Strategic Plan of Customs
Development (SPCD) 2005 – 2010, khususnya dalam bidang cargo clearance,
risk management, e-customs, facilitation of goods in transit, customs
enforcement and human resource development. Disamping itu, ASEAN juga
mengupayakan penyelesaian mengenai finalisasi Protocol 2 (Designation of
Frontier Posts) dan Protocol 7 (Customs Transit Systems) guna memungkinkan
implementasi penuh Framework Agreement on Facilitation of Goods in Transit
and the establishment of the ASEAN Customs Transit System.
a. Standards, Technical Regulations and Conformity Assessment Procedures
(STRACAP)
Dalam upaya untuk fasilitasi implementasi priority sectors, ASEAN telah
mengimpelementasikan sejumlah ASEAN Sectoral Mutual Recognition
Arrangement (MRA). Hingga tahun 2007, di bidang produk barang, Indonesia
telah menandatangani 3 (tiga) MRAs, yaitu di bidang cosmetics, electrical and
electronic equipment serta pharmaceutical. Namun demikian, mengalami
hambatan dialami dalam proses ratifikasi mengingat adanya benturan antara
MRA dimaksud dengan peraturan perundangan nasional terkait.
b. Initiative for ASEAN Integration (IAI)
Initiative for ASEAN Integration (IAI) adalah suatu policy framework yang
dimaksudkan untuk memberikan kontribusi, dengan dasar berkesinambungan,
untuk mempersempit kesenjangan pembangunan di antara negara-negara
ASEAN, khususnya untuk negara-negara CLMV. Kebijakan dimaksud ditegaskan
di dalam Ha Noi Plan of Action 1998 serta Deklarasi mengenai Narrowing
Development Gap for Closer ASEAN Integration 2001.
IAI dituangkan di dalam IAI Work Plan, yang merupakan rencana 6 tahunan
(Juli 2002 – Juni 2008). Sampai dengan tanggal 15 Mei 2008, terdapat 203
proyek dalam IAI Work Plan dengan berbagai tahap implementasinya.
Pembiayaan telah disiapkan untuk 158 proyek (78%). 116 proyek telah berhasil
diselesaikan, 19 proyek sedang dilaksanakan, 2 proyek telah mendapatkan
pendanaan dan menunggu implementasi, 2 proyek masih mencari dana
separuhnya, 10 proyek masih menunggu proses pelaksanaan dan 18 proyek
belum mendapatkan pendanaan.
Sumber pendanaan proyek-proyek IAI berasal dari negara-negara ASEAN +
6 dan negara-negara donor lainnya. Kontribusi ASEAN + 6 sampai dengan
tanggal 15 Mei 2008 berjumlah US $ 30.98 juta. Kontribusi Indonesia tercatat
sebesar US $ 804.437 untuk 9 (sembilan) proyek, dengan share sebesar 2,6 %
dari total pendanaan yang disiapkan oleh ASEAN-6. Sedangkan Singapura
memberikan kontribusi tertinggi, sebesar US $ 22.811.330, dengan share
73.64% dari seluruh total pendanaan ASEAN.
Di samping itu, kontribusi ASEAN-6 terhadap CLMV on bilateral basis,
sampai dengan tanggal 15 Mei 2008 total berjumlah US $ 159.483.271, untuk
implementasi proyek-proyek dari tahun 1992–2008. Sedangkan kontribusi
Indonesia on bilateral basis sebesar US $ 1.661.588, untuk implementasi 30 Juli
2000–2006. Kontribusi tertinggi diberikan oleh Thailand, sebesar US $
100.358.255 (implementasi proyek 1996 – 2004).
Kontribusi negara-negara dialogue partner ASEAN terhadap proyek-proyek
IAI sampai dengan tanggal 15 Mei 2008 berjumlah total US $ 20.18 juta, untuk
65 proyek. 5 (lima) negara donor utama adalah Jepang, Korea, India, Norwegia
dan Uni Eropa, menyumbang sebesar US $ 17.64 juta (87.3% total dana dari
negara donor).
Sebagai konsistensi untuk narrowing development gap, saat ini sedang
disusun dan diselesaikan IAI Work Plan II, yang diharapkan akan dapat segera
diselesaikan pembahasannya.
h. Perkembangan Pembentukan FTA ASEAN Dengan Negara-negara Mitra
Wicara
a) ASEAN–China Free Trade Agreement
Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism
Agreement ditandatangani oleh Menteri Ekonomi ASEAN dan China pada
bulan Nopember 2004. Sementara itu, Agreement on Trade in Services dan
Second Protocol to Amend the Framework Agreement ditandatangani pada
bulan Januari 2007 di Cebu, Filipina. Berkenaan dengan proses ratifikasi
ketiga perjanjian dimaksud, hanya tinggal Kamboja yang belum meratifikasi
perjanjian tersebut.
Terkait dengan implementasi FTA ASEAN-China di bidang jasa, China
telah mengajukan request kepada Indonesia untuk 10 sektor jasa, yaitu
business services; komunikasi; konstruksi dan jasa engineering; distribusi;
pendidikan; lingkungan; keuangan; jasa sosial dan kesehatan; jasa olah
raga ,budaya dan rekreasi; dan jasa transportasi. Berkenaan dengan hal
tersebut, telah disepakati bahwa basis offer untuk sektor-sektor yang masuk
dalam Komitmen Pertama FTA ASEAN-China bidang Jasa adalah AFAS-4
(business services, telekomunikasi, Konstruksi, Jasa terkait dengan Air
Travel dan Kepariwisataan) ditambah dengan jasa maritim, pendidikan,
keuangan khusus asuransi dan kesehatan yang kesemuanya telah masuk
dalam AFAS-5.
Perundingan yang masih belum diselesaikan adalah bidang investasi dan
kerjasama ekonomi. Negosiasi di bidang investasi semula diharapkan dapat
diselesaikan pada akhir tahun 2007. Namun demikian setelah 4 (empat)
tahun berjalan tidak terlihat tanda-tanda dimana akan tercapai kesepakatan.
Hal ini dikarenakan perbedaan posisi ASEAN yang tetap menginginkan
memakai pendekatan AIA atau negative list approach. Sedangkan China
menghendaki penggunaan positive approach.
Pada KTT ASEAN ke-13 para Pemimpin ASEAN menekankan
pentingnya kerjasama ASEAN-China yang tentunya akan memberikan
manfaat bagi pertumbuhan ekonomi sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat di kawasan Asia, khususnya ASEAN dan China. Bukti
nyata pertumbuhan ekonomi termaksud ditandai dengan meningkatnya
volume perdagangan ASEAN-China dari US$ 160 miliar pada tahun 2006
menjadi US$171.1 miliar pada tahun 2007. Sebagai catatan, pada periode
2003-2007 total nilai perdagangan Indonesia China tumbuh sebesar 28.7%.
Pada tahun 2007, realisasi investasi China di Indonesia berjumlah 22 proyek
dengan nilai US$ 28.9 juta. Sementara negosiasi perjanjian investasi
ASEAN-China yang belum berhasil terselesaikan diharapkan dapat rampung
dalam tahun 2008.
Di sela-sela KTT ASEAN ke-13 diakhiri dengan penandatanganan
Memorandum of Understanding between ASEAN and the Government of the
People’s Republic of China on Strengthening Sanitary and Phytosanitary
Cooperation oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota ASEAN dan
Minister General Administration of Quality Supervision, Inspection and
Quarantine, China.
b) ASEAN-Canada Trade And Investment Framework Arrangement (TIFA)
Meskipun FTA ASEAN-Kanada masih merupakan tujuan jangka panjang,
kedua belah pihak mengakui mengenai adanya suatu keperluan untuk lebih
memformalkan hubungan, dan meminta Sekretariat ASEAN untuk menyusun
draft awal ASEAN-Canada Economic Arrangement yang sejenis dengan
Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) yang telah ditandatangani Kanada dengan MERCOSUR dan ASEAN Community.
Pada SEOM 1/39 di Baguio City, Filipina, Januari 2008, SEO bertukar
pandangan mengenai pembatalan sepihak oleh pihak Kanada karena isu
Myanmar atas rencana pertemuan konsultasi SEOM-Kanada di Vancouver,
Kanada yang dijadwalkan pada bulan Nopember 2007. Selanjutnya pada 2nd
ASEAN Canada Informal Coordinating Mechanism (ICM) di Ha Noi, Viet Nam
10 Maret 2008, Indonesia telah menyampaikan penyesalannya dan berharap
agar Kanada dapat menggulirkan kembali pembahasan TIFA. Viet Nam
sependapat dengan Indonesia dan meminta konfirmasi lebih lanjut mengenai
kepastian penjadwalan ulang pertemuan pembahasan TIFA.
Pada Pertemuan ke-5 ASEAN-Canada Dialogue di Ho Chi Minh, Viet
Nam, 12-14 Mei 2008, Kanada telah menyampaikan keputusannya untuk
melaksanakan the 3rd ASEAN–Canada SEOM yang tertunda di Vancouver,
Kanada pada akhir bulan Nopember 2008.
Sebagai catatan, draft TIFA ASEAN-Kanada terdiri dari 5 sections
dengan 1 Annex berupa Trade and Investment Cooperation Arrangement
between ASEAN Canada Work Plan, yaitu : Section I Objectives; Section II
Principles; Section III Expansion of Trade and Investment; Section IV Joint
Council on Trade and Investment; Section V Final Clauses.
c) ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)
Terkait dengan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZ FTA), setelah
dilakukan perundingan sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah dapat dikatakan
selesai kecuali berkaitan dengan ”market access” untuk sektor otomotif.
Dalam kaitan ini, Australia mengharapkan agar jika market access dimaksud
belum dapat disepakati maka AANZ FTA dapat ditandatangani pada bulan
Desember mendatang. Sedangkan isu-isu bilateral yang belum dapat
diselesaikan akan diselesaikan setelah AANZ FTA ditandatangani.
Dalam kaitan ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah konsekwensi
hukum
ditandatanganinya
AANZ
FTA
apabila
belum
dapat
disepakati/diselesaikannya komitmen bilateral dengan Australia dan New
Zealand, mengingat offer dan request Australia serta New Zealand kepada
Indonesia belum disepakati.
Di samping itu, AANZ FTA menyisakan permasalahan lain, yaitu
menyangkut 2 (dua) MOU mengenai labour dan environment yang
diharapkan oleh New Zealand dapat ditandatangani oleh Indonesia dan New
Zealand sebelum ditandatanganinya AANZ FTA. Kedua MOU tersebut masih
dibahas dan dipelajari lebih lanjut oleh pihak Depnaker serta Kementerian
Lingkungan Hidup.
Perundingan FTA ASEAN – Australia dan Selandia Baru telah berhasil
diselesaikan, dan kesepakatan FTA dimaksud telah ditandatangani pada
KTT ASEAN ke-14 di Thailand pada Februari 2009. Diharapkan negara
anggota ASEAN segera meratifikasi perjanjian tersebut sehingga perjanjian
dapat diimplementasikan per 1 Januari 2010.
d) ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)
Sejak ditandatanganinya Framework Agreement on Comprehensive
Economic Cooperation between ASEAN and India pada tanggal 8 Oktober
2003, perundingan ASEAN-India Trade Negotiating Committee (AITNC) telah
memasuki pertemuan ke-21. Draft ASEAN–India Trade in Goods Agreement
telah berhasil disepakati kecuali “market acsess” kepada Viet Nam.
Diharapkan hal ini dapat segera diselesaikan secara bilateral. Di samping itu
juga masih terdapat perbedaan pandangan antara ASEAN dengan India
berkaitan dengan penurunan tarif di dalam Exclusion List (EL) dan Normal
Track (NT).
e) ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA)
Pertemuan ASEAN-EU Commemorative Summit di Singapura pada
tanggal 22 November 2007, berhasil menyepakati dua dokumen penting yaitu
Plan of Action to Implement the Nuremberg Declaration on an EU-ASEAN
Enhanced Partnership dan Joint Declaration of the ASEAN-EU
Commemorative Summit. Kedua dokumen tersebut memuat paragraf
kesepakatan peningkatan kerjasama ekonomi kedua kawasan.
Hingga saat ini, telah diadakan 6 kali pertemuan Joint Committee on
ASEAN-EU Free Trade Agreement (JCAEFTA). Dalam pertemuan JCAEFTA
ke-6 yang berlangsung di Ha Noi, Viet Nam pada tanggal 14-17 Oktober
2008, masih terlihat keinginan dari pihak UE untuk memasukan isu-isu nontradisional seperti government procurement, competition policy, dan
sustainable development.
Dalam isu Trade in Goods, UE juga mengemukakan penawaran dengan
pendekatan country specific adjustrment, yang mengindikasikan adanya offer
yang berbeda dari UE kepada setiap negara-negara anggota ASEAN.
Namun, ASEAN tidak menyetujui tawaran EU tersebut karena dikhawatirkan
pendekatan ini akan menimbulkan diskriminasi.
Terkait dengan modalitas ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA),
terdapat dua proposal tentang working method (mekanisme perundingan)
yang akan digunakan dalam kerangka AEFTA. UE mengusulkan agar
working method dilakukan dengan menggunakan mekanisme perundingan
dual track, yakni perundingan “fast track” yang dilakukan dengan beberapa
negara (kelompok kecil) terutama negara-negara yang memiliki tingkat
ambisi tinggi baik dalam hal cakupan isu-isu yang dirundingkan maupun
ambisi yang cukup tinggi di masing-masing isu, dan “normal track” yang
dilakukan dengan negara anggota ASEAN lainnya yang tingkat ambisinya
lebih rendah.
Berkenaan dengan proposal tersebut, Viet Nam juga mengusulkan
pendekatan yang hampir sama dengan UE, namun sifatnya sukarela. Di
samping traditional issues (trade in goods, services dan investment)
kelompok pertama dapat merundingkan non-traditional issues (seperti
competition policy, sustainable development dan government procurement),
namun sifatnya sukarela. Sedangkan kelompok kedua hanya merundingkan
traditional issues.
f) ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership
Landasan perundingan ASEAN-Japan Comprehensive Economic
Partnership adalah Joint Declaration of the Leaders on Comprehensive
Economic Partnership between ASEAN and Japan yang telah ditandatangani
pada tanggal 5 November 2002. Kemitraan ini juga kemudian diperkuat
dengan penandatanganan Framework for Comprehensive Economic
Cooperation between ASEAN and Japan pada tanggal 8 Oktober 2003.
Saat ini perjanjian AJCEP telah ditandatangani secara ad-referendum
pada bulan Maret 2008. Sedangkan pihak Jepang telah meratifikasi
perjanjian tersebut pada tanggal 21 Juni 2008. Saat ini masing-masing
negara ASEAN sedang melaksanakan prosedur legal nasional guna dapat
menerapkan perjanjian ini.
Kerjasama di Sektor Jasa
a. Perkembangan Liberalisasi Jasa ASEAN
1) Peranan Sektor Jasa ASEAN
Sektor Jasa memegang peranan penting di ASEAN dengan rata-rata 4050% GDP negara ASEAN berasal dari sektor jasa. Jasa juga berperan
penting dalam perekonomian Indonesia dengan porsi 46% total GDP pada
tahun 2007.
Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi melalui liberalisasi
perdagangan di bidang jasa, Negara-negara ASEAN telah menyepakati dan
mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada
tanggal 15 Desember 1995 di Bangkok, Thailand. Selanjutnya untuk
menindaklanjuti kesepakatan tersebut, telah dibentuk
Coordinating
Committee on Services (CCS) yang memiliki tugas menyusun modalitas
untuk mengelola negosiasi liberalisasi jasa dalam kerangka AFAS yang
mencakup 8 (delapan) sektor, yaitu: Jasa Angkutan Udara dan Laut, Jasa
Bisnis, Jasa Konstruksi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pariwisata,
Jasa
Keuangan, Jasa Kesehatan dan Jasa Logistik.
Indonesia mendorong liberalisasi sektor jasa melalui Badan Kebijakan
Fiskal, Departemen Keuangan, yang bertindak sebagai koordinator (Tim
Koordinator Bidang Jasa) di semua forum dan sektor, termasuk sebagai
pengelola sektor jasa keuangan non-bank dan jasa profesi (akuntan dan
penilai).
Sejak penandatangan AFAS hingga saat ini, Negara-negara anggota
ASEAN telah menyepakati 6 paket komitmen liberalisasi jasa. KTT ASEAN
ke-13 di Singapura pada November 2007 telah menyepakati pengesahan
paket ke-6 tersebut sebagai kelanjutan liberalisasi jasa di bawah AFAS.
Prinsip, strategi dan modalitas untuk liberalisasi jasa tersebut ditujukan guna
mewujudkan realisasi bebasnya arus perdagangan jasa ASEAN dalam
rangka pembentukan kawasan ekonomi terintegrasi “Komunitas Ekonomi
ASEAN” tahun 2015. Integrasi perdagangan jasa ASEAN akan dilaksanakan
dengan mengacu pada Cetak Biru Pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN
yang juga telah disepakati pimpinan ASEAN pada kesempatan KTT ASEAN
tersebut.
Disamping itu juga telah ditandatangani ASEAN Multilateral Agreement
on the Full Liberalisation of Air Freight Services and the ASEAN multilateral
Agreement on Air Services pada pertemuan ke-14 ASEAN Transport
Ministers’ Meeting pada bulan November 2008.
2) Integrasi Sektor Jasa Prioritas Menjelang Realisasi Komunitas Ekonomi
ASEAN 2015
ASEAN telah menetapkan 5 (lima) sektor jasa prioritas dari 12 sektor
prioritas integrasi barang dan jasa yang akan diliberalisasi menjelang
pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, yaitu: Jasa Kesehatan, Jasa
Pariwisata, e-ASEAN, Jasa Logistik dan Jasa Transportasi Udara.
Target penghapusan hambatan dalam perdagangan bidang jasa di empat
sektor prioritas bidang jasa adalah tahun 2010 untuk jasa perhubungan
udara, e-ASEAN, kesehatan, dan pariwisata dan tahun 2013 untuk jasa
logistik. Adapun liberalisasi bidang jasa seluruhnya ditargetkan pada tahun
2015.
Masing-masing sektor prioritas tersebut telah dilengkapi peta kebijakan
(roadmaps) yang mengkombinasikan inisiatif-inisiatif khusus dengan inisiatif
yang lebih luas secara lintas sektor seperti langkah-langkah fasilitasi
perdagangan.
3) Jasa Angkutan Udara (Air Transport Services)
Sidang ke 18 ASEAN Air Transport Working Group (ATWG) di Kuala
Lumpur tanggal 12 – 14 Agustus 2008 membahas berbagai hal terkait
dengan upaya liberalisasi jasa angkutan udara ASEAN, termasuk ASEAN
Multilateral Agreement on the Full Liberalisation of Air Freight Services,
ASEAN Multilateral Agreement on Air Services, ASEAN Single Aviation
Market (SAM) dan Kerjasama Angkutan Udara dengan Mitra Dialog.
4) Jasa Angkutan Laut (Maritime Transport Services)
Sidang ke-16 ASEAN Maritime Transport Working Group (MTWG) di Nha
Trang, Viet Nam tanggal 9-11 September telah membahas langkah-langkah
lebih lanjut dalam mengimplementasikan Roadmap Towards an Integrated
and Competitive Maritime Transport. Terkait Roadmap Towards an
Integrated and Competitive Maritime Transport, Indonesia ditunjuk
bertanggung jawab sebagai lead coordinator untuk measure (langkah
kebijakan) no.11 “Confirm the Principle of Open Access to the International
Maritime Trade of All ASEAN Member States” dan measure no.12 “Develop
the Strategies for an ASEAN Single Shipping Market” dari Roadmap
dimaksud.
5) Jasa Keuangan (Finance Services)
Pertemuan terkini Para Menteri Keuangan ASEAN dan ASEAN Finance
Minister Investors Seminar (AFMIS) diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat
Arab pada tanggal 7-9 Oktober 2008. Para Menteri menegaskan
komitmennya untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan
sekaligus memperkuat tingkat kompetensi di pasar global. Pertumbuhan GDP
regional diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan dibandingkan
tahun sebelumnya yang mencapai 6,7 %.
Untuk merespon hal tersebut, ditegaskan perlunya upaya kapitalisasi
yang kuat pada sektor perbankan dan institusi keuangan selain upaya untuk
segera dapat mengimplementasikan Chiang Mai Initiative Multilateralisation
pada pertengahan tahun 2009 sejalan dengan inisiatif regional yang lain
dalam upaya kerjasama dan integrasi regional.
6) Jasa Telekomunikasi (Telecommunications Services)
ASEAN menyadari pentingnya Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi
seluruh lapisan masyarakat. Terkait hal ini telah disepakati upaya sinergis
untuk membangun infrastruktur komunikasi melalui “Siem Reap Ministerial
Declaration on Enhancing Universal Access on ICT Services in ASEAN” yang
disepakati dalam sidang TELSOM/TELMIN ke-7 tahun 2007 di Siem Reap,
Kamboja.
9th ASEAN Telecommunications & Information Technology Senior Officials
Meeting (TELSOM-9) dan 8th ASEAN Telecommunications & Informations
Technology Ministers Meeting (TELMIN-8) dengan tema ‘’High Speed
Connection to Bridge ASEAN Digital Divide” di Bali, pada tanggal 25-29
Agustus 2008 telah membahas dan mengesahkan indikator dan target dalam
ICT Scorecard yang diperlukan untuk mencapai proses integrasi dan
pengembangan sektor ICT ASEAN tahun 2008-2010.
7) Jasa Pariwisata (Tourism Services)
Dalam pertemuan ASEAN Tourism Meetings di Manila tanggal 6 – 9 Juli
2008, telah dibicarakan beberapa hal antara lain:
-
-
-
-
Penyusunan MRA di bidang Pariwisata diharapkan selesai pada akhir
2008 dan dapat ditandatangani oleh para Menteri Pariwisata ASEAN
pada saat ASEAN Tourism Forum (ATF) 2009 di Ha Noi, Viet Nam,
tanggal 5-12 Januari 2009.
Dalam kerangka ASEAN Tourism Resource Management and
Development Network (ATMR) telah direncanakan untuk mengadakan
beberapa kegiatan antara lain: Training on eco tourism di Thailand,
Pelatihan Tourism Heritage di Indonesia, ATMR Cruise di Singapura,
Workshop tentang Home stay di Malaysia.
Guna lebih meningkatkan promosi ASEAN sebagai destinasi tunggal
telah dibahas beberapa kegiatan promosi bersama, yaitu: ASEAN
Promotional Chapter for Tourism, ASEAN Tourism Area in
International tourism Fairs dan Joint Promotion Activities with ASEAN
Airlines.
Terkait dengan NTO/VAC Fund dinyatakan bahwa Balance of
NTO/VAC Fund hingga bulan Mei 2008 adalah USD 58,791.25.
8) Jasa Logistik (Logistic Services)
Jasa logistik telah ditetapkan sebagai sektor prioritas kedua belas yang
akan diliberalisasikan oleh ASEAN. Roadmap for Integration of Logistics
Services telah ditandatangani pada Sidang ke-39 ASEAN Economic
Ministers’ di Makati City, Filipina, pada tanggal 24 Agustus 2007.
Mutual Recognition Arrangements Bidang Jasa
Para Menteri Ekonomi ASEAN telah menandatangani Mutual Recognition
Agreement (MRA) Framework on Accountancy Services, MRA on Medical
Practitioner and MRA on Dental Practitioners. MRA Framework on Accountancy
Services yang akan menjadi prinsip-prinsip dasar dan kerangka negosiasi
bilateral atau multilateral. Sedangkan MRAs mengenai Medical Practitioners and
Dental Practitioners diharapkan dapat memfasilitasi mobilitas qualified medical
and dental practitioners di ASEAN.
Di samping itu juga telah ditandatangani MRAs di bidang engineering
services, architectures services, nursing services and surveying and urged
renewed efforts by the related professional bodies to implement the MRAs.
Sedangkan Mutual Recognition Arrangements on Tourism Professionals,
diharapkan akan dapat ditandatangani pada ASEAN Tourism Ministers Meeting
pada bulan Januari 2009.
Ratifikasi Perjanjian-perjanjian Ekonomi ASEAN
Hingga saat ini terdapat 92 Perjanjian Ekonomi ASEAN. Dari jumlah tersebut, 57
perjanjian telah diratifikasi, sedangkan 35 masih dalam proses. Perlu disampaikan
juga bahwa terdapat 12 perjanjian dalam tahap akhir proses ratifikasi dan
diharapkan selesai pada akhir tahun 2008.
Kerjasama di Sektor Investasi
Di sektor investasi, kerjasama ASEAN diawali dengan dikemukakannya
gagasan pembentukan suatu kawasan investasi ASEAN pada Pertemuan Pemimpin
ASEAN di Bangkok pada tahun 1995. Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, pada
tahun 1996, dibentuk Komite Kerja Kawasan Investasi ASEAN (WC-AIA), yang
berada dibawah naungan SEOM, dengan mandat menyiapkan sebuah Persetujuan
Dasar tentang Kawasan Investasi ASEAN (Framework Agreement on ASEAN
Investment Area/FA-AIA).
Framework Agreement on ASEAN Investment Area ditandatangani di Makati
City, Filipina, pada tahun 1998. Bersamaan dengan penandatanganan tersebut juga
disahkan pembentukan AIA Council. FA-AIA mencakup seluruh kegiatan investasi,
kecuali investasi portfolio dan kegiatan investasi lainnya yang sudah tercakup pada
perjanjian ASEAN lainnya, seperti the ASEAN Framework Agreement on Services.
Tujuan utama yang hendak dicapai adalah menciptakan suatu Kawasan Investasi
ASEAN yang liberal dan transparan, sehingga dapat meningkatkan arus investasi ke
kawasan. Liberalisasi investasi bagi negara anggota ASEAN disepakati untuk mulai
berlaku pada tahun 2010, sedangkan dengan negara non-ASEAN disepakati untuk
direalisasikan pada tahun 2020.
Kerangka kerja AIA mencakup semua arus investasi asing langsung (Foreign
Direct Investment/FDI) ke ASEAN maupun investasi langsung antar negara-negara
ASEAN. Persetujuan tersebut antara lain akan mengikat negara-negara anggota
untuk menghapus hambatan-hambatan investasi, meliberalisasi peraturan-peraturan
dan kebijaksanaan investasi, memberi persamaan perlakuan nasional dan membuka
investasi di industrinya terutama sektor manufaktur. Dengan menciptakan ASEAN
sebagai suatu kawasan investasi yang lebih berdaya saing dan terbuka, AIA
diharapkan dapat menarik arus investasi langsung ke ASEAN.
Pada pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN Ke-40 yang berlangsung di
Singapura bulan Agustus 2008, negara-negara ASEAN sepakat untuk membentuk
suatu rejim investasi ASEAN yang lebih terbuka serta mendukung proses integrasi
ekonomi di Asia Tenggara. Rejim yang dimaksud adalah ASEAN Comprehensive
Investment Agreement (ACIA) yang merupakan hasil revisi dan penggabungan dari
ASEAN Investment Area (AIA) dan ASEAN Investment Guarantee Agreement
(ASEAN-IGA). ACIA mencakup empat pilar utama yang meliputi: liberalisation,
protection, facilitation and promotion.
ACIA lebih bersifat komprehensif dibandingkan dengan AIA dan ASEAN IGA,
dikarenakan ACIA telah mengadopsi international best practices dalam bidang
investasi dengan mengacu kepada kesepakatan-kesepakatan investasi
internasional. Dengan adanya ACIA, diharapkan ASEAN dapat meningkatkan iklim
investasi di kawasan dan menarik lebih banyak investasi asing. Sebagai tambahan,
nilai investasi asing di ASEAN pada tahun 2005 berjumlah sebesar US$. 41.06
milyar dan tahun 2006 sebesar US$. 52.3 milyar.
Setelah mengalami pembahasan yang cukup alot sejak tahun 2006, ASEAN
akhirnya berhasil menyelesaikan pembahasan ASEAN Comprehensive Investment
Agreement (ACIA). Draft ACIA dimaksud telah dibahas dan di-endorse pada
Pertemuan ke-40 ASEAN Economic Ministers (AEM) tahun 2008. Diharapkan ACIA
akan dapat ditandatangani pada KTT ke- 14 ASEAN mendatang di Chiang Mai,
Thailand, Desember 2008. Dengan ditandatanganinya ACIA, diharapkan akan dapat
menjadikan ASEAN menjadi wilayah yang sangat kompetitif untuk menarik Foreign
Direct Investment (FDI) serta mendukung realisasi ASEAN Economic Community.
Kerjasama di Sektor Komoditi dan Sumber Daya Alam
Kerjasama Pertanian
1) Pangan
Secara umum kondisi pangan ASEAN pada tahun 2005/2006 stabil.
ASEAN telah mampu mencapai swasembada, khususnya untuk komoditi
beras dan gula yang produksinya melebihi kebutuhan di ASEAN. Untuk
jagung dan kedelai, ASEAN masih mengandalkan impor karena produksi
lokal belum mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Dalam skema kerja sama ASEAN Plus Three, 2 (dua) proyek telah
dilaksanakan sejak tahun 2004 – 2008, yaitu East Asia Emergency Rice
Reserves (EAERR) dan ASEAN Food Security Information System (AFSIS).
Kegiatan EAERR terutama difokuskan pada implementasi mekanisme
pengadaan beras (stock release mechanism) dan pemanfaatan cadangan
beras darurat untuk kondisi bencana. Sementara itu, kegiatan AFSIS
difokuskan pada pembuatan jaringan informasi mengenai ketahanan pangan
dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam proyek AFSIS, sebuah
website telah dibentuk yang memberikan informasi mengenai situasi dan
perencanaan kebijakan ketahanan pangan di kawasan.
ASEAN juga telah membentuk ASEAN General Guidelines on the
Preparation and Handling of Halal Food sebagai upaya memperluas
perdagangan daging dan produk daging intra-ASEAN.
Menanggapi perkembangan krisis dunia yang berdampak pada sektor
pangan, ASEAN sesuai dengan usulan Presiden RI, telah menyusun sebuah
skema strategis dan komprehensif untuk memperkuat ketahanan pangan
regional yang disebut ASEAN Integrated Food Security (AIFS) Framework
beserta rencana kerja jangka menengah yang disebut Strategic Plan of
Action on Food Security in the ASEAN Region (SPA-FS). Para Menteri
Pertanian dan Kehutanan ASEAN menyepakati untuk merekomendasikan
dokumen tersebut ke ASEAN Summit di Thailand, bulan Desember 2008.
Selanjutnya, kedua dokumen tersebut akan di-endorse oleh para Pemimpin
ASEAN melalui Bangkok Statement on Food Security in the ASEAN Region.
2) Tanaman Pangan (Crops)
Sejak tahun 2006 – 2008, ASEAN telah membuat Daftar Hama Endemik
untuk beberapa komoditas pertanian yang diperdagangkan di kawasan, yaitu
padi giling, jeruk (citrus), mangga, kentang, dan anggrek potong dendrobium.
Upaya harmonisasi phytosanitary untuk komoditas-komoditas tersebut akan
terus dilanjutkan khususnya untuk pengembangan panduan importasi.
ASEAN Plant Health Cooperation Network (APHCN) telah dibentuk
sebagai sarana untuk berbagi informasi mengenai kesehatan tanaman di
negara-negara anggota ASEAN. Saat ini, informasi mengenai Undangundang Karantina Tanaman dan persyaratan impor untuk Malaysia dan
Singapura telah tersedia di website APHCN. Dalam inisiatif ini, akan dibentuk
ASEAN Regional Diagnostic Initiative sebagai proyek percontohan untuk
mengatasi hambatan terhadap akses pasar produk pertanian.
Melalui harmonisasi Maximum Residue Limits (MRLs) untuk pestisida,
ASEAN terus berupaya untuk melindungi kesehatan konsumen dan
memfasilitasi perdagangan dengan meminimalisir penggunaan pestisida dan
memastikan keamanan pangan dan mencegah kerusakan lingkungan. Dalam
29th ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture and Forestry (29th AMAF) di
Bangkok, 2007, ASEAN telah mengadopsi harmonisasi 99 MRL untuk 16
pestisida. Sebelumnya ASEAN telah memiliki 658 MRL untuk 61 pestisida.
ASEAN terus berupaya untuk melaksanakan upaya terpadu dalam
mengharmonisasi standar dan kualitas, jaminan keamanan pangan dan
standarisasi sertifikasi perdagangan untuk mendukung integrasi ekonomi dan
meningkatkan daya saing produk-produk pertanian dan kehutanan ASEAN di
pasar internasional. Untuk itu, ASEAN telah mengadopsi ASEAN Good
Agricultural Practices (ASEAN GAP) mengenai penanganan produksi, panen
dan paska panen buah dan sayuran segar serta sejumlah produk hortikultura
lainnya berupa Standar ASEAN untuk mangga, nanas, durian, papaya,
pumelo, dan rambutan.
Sebagai upaya kawasan untuk mengendalikan penggunaan pestisida,
ASEAN telah memiliki website untuk lembaga pengawasan pestisida
“aseanpest” (http://agrolink.moa.my/doa/aseanpest) yang memberikan
landasan untuk saling bertukar informasi dan database serta penanganan
masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan pemanfaatan
pestisida.
3) Agricultural Training and Extension
ASEAN terus melanjutkan program Pengelolaan Hama secara Terpadu
(Integrated Pest Management/IPM) untuk berbagai tanaman pangan,
termasuk pengembangan modul pelatihan untuk komoditas prioritas dan
pengorganisasian pelatihan IPM di kawasan terhadap komoditas prioritas
tersebut. Komoditas dimaksud, di antaranya mangga, jeruk, bawang merah,
beras, pumelo dan kedelai. Pertukaran pejabat, pelatih dan petani terkait IPM
untuk citrus telah diorganisir oleh Thailand pada tanggal 10-16 Juni 2008.
Sejumlah aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan pekerja dan petani
telah pula dilaksanakan, di antaranya: Regional Training on Edible and
Medicinal Mushroom Production Technology for ASEAN Extension Workers
and Farmers (1-2 November 2008 di Viet Nam) serta pertukaran pejabat,
pelatih dan petani yang diorganisir di Palembang, Indonesia, tanggal 5-10
Juli 2007.
4) Penelitian dan Pengembangan di bidang Pertanian
Kerjasama Penelitian dan Pengembangan di bidang pertanian telah
dimulai sejak 2005. Sejumlah aktivitas telah dilakukan, termasuk
pembentukan ASEAN Agricultural Research and Development Information
System (ASEAN ARDIS), ASEAN Directory of Agricultural Research and
Development Centres in ASEAN, dan Guidelines for the Use of the Digital
Information System.
5) Codex
ASEAN telah mengembangkan website ASEAN Food Safety Network
(www.aseanfoodsafetynetwork.net) untuk memberikan informasi yang
berguna terkait keamanan pangan, seperti upaya SPS di berbagai bidang,
isu-isu yang muncul dalam badan-badan penetapan standar internasional
(Codex, OIE, IPPC, dll), serta hasil kerja dari berbagai badan di ASEAN
terkait keamanan pangan.
6) Skema Promosi Produk Pertanian dan Kehutanan
Untuk mempromosikan produk pertanian dan kehutanan, ASEAN telah
memperpanjang implementasi Memorandum of Understanding (MoU) on
ASEAN Cooperation in Agriculture and Forest Products Promotion Schemes
untuk periode 5 tahun ke depan, dari 2004 menjadi 2009. MoU ini tetap
relevan sebagai basis kerjasama dengan sektor swasta dan berkoordinasi
tentang posisi bersama terkait perdagangan produk pertanian dan kehutanan
ASEAN. Pembuatan MoU saat ini tengah dikembangkan oleh Negara-negara
Anggota ASEAN, termasuk pengkajian produk-produk pertanian dan
kehutanan yang dicakup dalam MoU. Dengan mempertimbangkan relevansi
situasi pasar yang ada serta aktivitasnya dalam 12 tahun terakhir, 5 produk,
yaitu: udang beku, ayam beku, nanas kaleng, tuna kaleng, dan karet alam
telah disetujui untuk dihapus dari daftar.
7) Bioteknologi
ASEAN menyadari pentingnya bioteknologi pertanian sebagai cara untuk
meningkatkan produktifitas pangan secara berkelanjutan. Namun demikian,
saat ini terdapat kekhawatiran publik terhadap penggunaan bioteknologi yang
perlu diatasi. ASEAN telah mengadopsi Guidelines on the Risk Assessment
of Agriculture-related Genetically Modified Organisms (GMOs). Panduan ini
memberikan Negara-negara Anggota ASEAN pendekatan dan pemahaman
bersama saat melakukan evaluasi ilmiah terhadap peluncuran GMOs di
bidang pertanian. Panduan ini menggambarkan prosedur notifikasi,
persetujuan, dan registrasi GMOs di bidang pertanian.
Menyadari pentingnya pemahaman mengenai teknologi dan penilaian
risiko untuk Manipulasi Genetika (MG), serta untuk meningkatkan
pembangunan kapasitas di bidang ini, ASEAN telah mengembangkan
Program Kesadaran Publik terhadap GMOs. Dalam program ini, Frequently
Asked Questions (FAQs) mengenai GMOs dari seluruh Negara Anggota
ASEAN dikumpulkan dan diterbitkan untuk informasi publik.
Dalam meningkatkan pembangunan kapasitas, ASEAN berkolaborasi
dengan International Life Sciences Institute Southeast Asia telah
mengembangkan serangkaian pelatihan dan workshop mengenai
penggunaan ASEAN Guidelines on Risk Assessment of Agriculture-related
GMOs yang ditujukan bagi para pejabat dan pengambil keputusan. Tiga buah
workshop telah diadakan di Singapura (2001), Kuala Lumpur (2002),
Bangkok (2003) dan Jakarta (2004).
Kerjasama Peternakan
Kerjasama ASEAN di bidang peternakan semakin berkembang, terutama
mengenai Reg
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967,
negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu
agenda utama yang perlu dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi
difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential
trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi
(complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak
swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan (1976),
Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation
scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced
Preferential Trading arrangement (1987). Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika
negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk
menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN
menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka
perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.
Pada KTT ke-5 ASEAN di Singapura tahun 1992 telah ditandatangani
Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation sekaligus
menandai dicanangkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tanggal 1 Januari
1993 dengan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme
utama. Pendirian AFTA memberikan impikasi dalam bentuk pengurangan dan
eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap
kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak
hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang, tetapi juga perdagangan
jasa dan investasi.
KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas
ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC
bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan
bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan
barang modal secara lebih bebas. KTT juga menetapkan sektor-sektor prioritas yang
akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan,
produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari
kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata. Dalam
perkembangannya, pada tahun 2006 jasa logistik dijadikan sektor prioritas yang ke12.
KTT ke-10 ASEAN di Vientiene tahun 2004 antara lain menyepakati Vientiane
Action Program (VAP) yang merupakan panduan untuk mendukung implementasi
pencapaian AEC di tahun 2020.
ASEAN Economic Ministers Meeting (AEM) di Kuala Lumpur bulan Agustus
2006 menyetujui untuk membuat suatu cetak biru (blueprint) untuk menindaklanjuti
pembentukan AEC dengan mengindentifikasi sifat-sifat dan elemen-elemen AEC
pada tahun 2015 yang konsisten dengan Bali Concord II dan dengan target-target
dan timelines yang jelas serta pre-agreed flexibility untuk mengakomodir
kepentingan negara-negara anggota ASEAN.
KTT ke-12 ASEAN di Cebu bulan Januari 2007 telah menyepakati ”Declaration
on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015”. Dalam
konteks tersebut, para Menteri Ekonomi ASEAN telah menginstruksikan Sekretariat
ASEAN untuk menyusun ”Cetak Biru ASEAN Economic Community (AEC)”. Cetak
Biru AEC tersebut berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah
dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN,
yaitu :
a. Menuju single market dan production base (arus perdagangan bebas untuk
sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal);
b. Menuju penciptaaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing tinggi
(regional competition policy, IPRs action plan, infrastructure development, ICT,
energy cooperation, taxation, dan pengembangan UKM);
c. Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata (region of
equitable economic development) melalui pengembangan UKM dan programprogram Initiative for ASEAN Integration (IAI); dan
d. Menuju integrasi penuh pada ekonomi global (pendekatan yang koheren dalam
hubungan ekonomi eksternal serta mendorong keikutsertaan dalam global
supply network).
Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut dijabarkan lebih lanjut melalui
priority actions yang pencapaiannya dievaluasi dan dimonitor dengan menggunakan
score card. Disamping itu, diperlukan dukungan berupa kemauan politik, koordinasi
dan mobilisasi sumber daya, pengaturan pelaksanaan, peningkatan kemampuan
(capacity building) dan penguatan institusi, serta peningkatan konsultasi antara
pemerintah dan sektor swasta. Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut juga
akan didukung dengan program pengembangan sumber daya manusia dan kegiatan
penelitian serta pengembangan di masing-masing negara.
Pada KTT ASEAN Ke-13 di Singapura, bulan Nopember 2007, telah disepakati
Blueprint for the ASEAN Economic Community (AEC Blueprint) yang akan
digunakan sebagai peta kebijakan (roadmap) guna mentransformasikan ASEAN
menjadi suatu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang kompetitif dan
terintegrasi dengan ekonomi global. AEC Blueprint juga akan mendukung ASEAN
menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi
yang merata serta kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi yang makin
berkurang. Sebagai upaya untuk memfasilitasi perdagangan di tingkat nasional dan
ASEAN sebagaimana tertuang dalam AEC Blueprint 2015, Indonesia telah
melakukan peluncuran National Single Window (NSW) dalam kerangka ASEAN
Single Window (ASW) pada tanggal 17 Desember 2007. Menurut rencana ASW
akan diimplementasikan pada tahun 2009.
ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint
Pada pertemuan ke-39 ASEAN Economic Ministers (AEM) tahun 2007,
disepakati mengenai naskah ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint beserta
Strategic Schedule-nya, yang mencakup inisiatif-inisiatif baru serta roadmap yang
jelas untuk mencapai pembentukan ASEAN Economic Community tahun 2015.
Berkaitan dengan disepakatinya draft AEC Blueprint, pada pertemuan ke-39
AEM juga disepakati mengenai Roadmap for ASEAN integration of the Logistics
Services Sector sebagai priotitas ke-12 untuk integrasi ASEAN dan menandatangani
“Protocol to Amend Article 3 of the ASEAN Framework (Amandment) Agreement for
the Integration of the Priority Sectors”. Dengan demikian, ke-12 Priority sectors
dimaksud adalah agro-based products, air-travel, automotivr, e-ASEAN, electronics,
fisheries, healthcare, rubber-based products, textiles & apparels, tourism, woodbased products, logistics services.
ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint tersebut kemudian disahkan
pada Rangkaian Pertemuan KTT ASEAN ke-13. AEC Blueprint bertujuan untuk
menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif,
memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan aliran modal. Selain
itu, juga akan diupayakan kesetaraan pembangunan ekonomi dan pengurangan
kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi pada tahun 2015.
AEC Blueprint merupakan suatu master plan bagi ASEAN untuk membentuk
Komunitas Ekonomi ASEAN pada tahun 2015 dengan mengidentifikasi langkahlangkah integrasi ekonomi yang akan ditempuh melalui implementasi berbagai
komitmen yang rinci, dengan sasaran dan jangka waktu yang jelas.
Terkait dengan AEC Blueprint, ASEAN juga telah mengembangkan
mekanisme Scorecard untuk mencatat implementasi dan komitmen-komitmen
negara anggota sebagaimana yang telah disepakati di dalam AEC Blueprint.
Scorecard dimaksud akan memberikan gambaran komprehensif bagaimana
kemajuan ASEAN untuk mengimplementasikan AEC pada tahun 2015. Dalam kaitan
ini negara-negara ASEAN telah menyepakati bahwa AEC Scorecard yang diusulkan
akan dilaporkan pada KTT ke-14 ASEAN, Desember 2008 di Thailand.
Berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan “AEC awareness Year 2008”,
para pertemuan ke-40 AEM, para Menteri Ekonomi ASEAN mengesahkan AEC
Communication Plan dan menekankan pentingnya untuk melibatkan berbagai
stakeholders dalam proses komunikasi, yaitu Badan-badan sektoral ASEAN, sektor
swasta, otoritas di tingkat lokal dan nasional di negara-negara ASEAN, kalangan
akademi serta tokoh-tokoh masyarakat.
Terkait dengan implmentasi AEC Bluepint, pada tahun 2007-2008, Ditjen
Kerjasama ASEAN telah melakukan sosialisasi AEC Blueprint bersamaan dengan
sosialisasi ASEAN Charter, baik di tingkat pusat, khususnya kepada asosiasiasosiasi bisnis maupun di daerah-daerah di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Irian. Sosialisasi dilakukan dalam bentuk seminar, workshop,
lokakarya maupun Kuliah Umum, wawancara di media massa cetak dan elektronik
lokal di pusat dan daerah. Salah satu sasaran yang ingin dicapai adalah untuk
memicu kesiapan masyarakat serta menimbulkan mengenai “public awareness”
mengenai ASEAN.
Kerjasama di Sektor Industri
Kerjasama di sektor industri merupakan salah satu sektor utama yang
dikembangkan dalam kerjasama ekonomi ASEAN. Kerjasama tersebut ditujukan
untuk meningkatkan arus investasi, mendorong proses alih teknologi dan
meningkatkan keterampilan negara-negara ASEAN, termasuk dalam bentuk
pertukaran informasi tentang kebijaksanaan perencanaan industri nasional
masing-masing. Kerjasama ASEAN di sektor perindustrian diarahkan untuk
menciptakan fasilitas produksi baru dalam rangka mendorong perdagangan
intra-ASEAN melalui berbagai skema kerjasama yang dikembangkan berdasarkan
konsep resource pooling dan market sharing.
ASEAN Industrial Cooperation (AICO) yang ditandatangani pada bulan April
1996 dan berlaku efektif pada bulan Nopember 1999 merupakan insiatif kerjasama
di sektor industri yang saat ini terus dikembangkan. AICO merupakan skema
kerjasama antara dua atau lebih perusahaan di kawasan ASEAN dalam
pemanfaatan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan,
dalam rangka memproduksi suatu barang yang bertujuan meningkatkan daya saing
perusahaan ASEAN. AICO menyediakan prasarana untuk menerapkan prinsip
economic of scale and scope yang didukung oleh pajak yang rendah untuk
meningkatkan transaksi di ASEAN, menumbuhkan kesempatan investasi dari dalam
dan luar ASEAN, serta menciptakan pasar regional yang lebih besar. Perusahaanperusahaan yang memanfaatkan skema kerjasama ini antara lain akan
mendapatkan preferensi berupa pengenaan bea masuk hingga 5%.
AICO diharapkan akan mendorong kerjasama industri antar negara ASEAN
dan mendorong investasi pada industri berbasis teknologi dan kegiatan yang
memberikan nilai tambah pada produk industri. AICO juga memberikan kesempatan
luas kepada perusahaan di negara ASEAN untuk saling bekerjasama guna
menghasilkan produk dengan menikmati preferensi tarif. Insentif lain yang juga
diberikan kepada perusahaan yang bekerjasama dalam payung AICO berupa
akreditasi kandungan lokal serta insentif non-tarif lainnya yang dapat diberikan oleh
masing-masing negara anggota.
AICO tidak hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan industri, tetapi
juga untuk trading companies yang membantu pemasaran produk-produk industri
kecil. Pada 21 April 2004 para Menteri Ekonomi ASEAN telah menandatangani
Protocol to Amend the AICO Agreement yang mengatur perubahan/penurunan tarif
preferensi yang diberikan untuk proyek-proyek AICO yang disetujui.
Kerjasama di Sektor Perdagangan
1. Kerjasama Perdagangan Barang
Berkaitan dengan AFTA, pada pertemuan ke-21 AFTA Council tanggal 23
Agustus 2007, telah dicapai kemajuan yang cukup signifikan mengenai
implementasi Work Programme on Elimination of Non-Tariff Barries (NTBs) serta
dalam melakukan revisi mengenai CEPT AFTA Rules of Origin, yang diharapkan
akan mengurangi biaya transaksi perdagangan serta memfasilitasi perdagangan
di kawasan.
Berkaitan dengan perdagangan barang ini,
ASEAN juga
berhasil
menyelesaikan pembahasan substantif mengenai ASEAN Trade in Goods
Agreement (ATIGA), yang diharapkan akan ditandatangani pada bulan
Desember 2008. ATIGA
mengintegrasikan semua inisiatif ASEAN yang
berkaitan dengan perdagangan barang kedalam suatu comprehensive
framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara berbagai inisiatif. ATIGA
akan meningkatkan transparansi, kepastian dan meningkatkan AFTA-rulesbased system yang merupakan hal yang sangat penting bagi komunitas bisnis
ASEAN.
ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) merupakan capaian penting
yang mengkodifikasi dan penyempurnaan kesepakatan ASEAN di bidang
perdagangan barang, yakni Agreement on Common Effective Preferential Tariff
Scheme for the ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA,1992), Mutual
Recognition Arrangement (MRA, 1998), e-ASEAN (2000), Sektor Prioritas
Integrasi (2004), dan perjanjian ASEAN Single Window (ASW, 2005). Khusus
untuk pengurangan / penghapusan tarif dan hambatan non-tarif internal ASEAN,
ATIGA menegaskan kembali kesepakatan yang telah dicapai sebelumnya, yakni
penghapusan seluruh tarif atas produk dalam kategori Inclusion List (IL) pada 1
Januari 2010 bagi ASEAN-6, dan 2015-2018 bagi ASEAN-4 (Cambodia, Laos,
Myanmar dan Vietnam – CLMV), serta penghapusan hambatan non tarif pada 1
Januari 2010 bagi ASEAN-5, 1 Januari 2012 bagi Philippines, dan 2015 bagi
CLMV.
b. Fasilitasi Perdagangan
Dalam upaya meningkatkan perdagangan, ASEAN telah menandatangani
Protocol 1-Designation of Tansit Transport Routes and Facilities. Implementasi
Protocol dimaksud akan memfasilitasi transportasi barang-barang di kawasan
serta tidak merintangi akses dan pergerakan kendaraan yang mengangkut
barang-barang tersebut di kawasan ASEAN.
Berkaitan dengan fasilitasi perdagangan, Indonesia juga telah melakukan
pembentukan Nasional Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window
(ASW) merupakan salah satu upaya fasilitasi perdagangan di tingkat nasional
dan ASEAN untuk mempermudah dan mempercepat arus perdagangan dalam
rangka mendukung proses pembentukan ASEAN Economic Community.
National Single Window diharapkan mulai dapat beroperasi pada akhir tahun
2008 di negara-negara ASEAN+6 dan tahun 2012 bagi negara-negara CLMV.
Untuk tingkat nasional, Perkembangan Tahap I Uji Coba NSW telah
dilaksanakan di Tanjung Priok dari Desember 2007 – Juni 2008. Sistem uji coba
melibatkan 5 (five) Government Agencies (GA) yang terkait dengan pemberian
izin, yaitu Ditjen Bea dan Cukai–Depkeu, Ditjen Daglu, Badan POM, Badan
Karantina Deptan dan Pusat Karantina Perikanan (DKP) Draft Blueprint NSW. Uji
coba dimaksud difokuskan pada importir prioritas sebanyak 102. Tujuan yang
dapat dicapai adalah penyederhanaan dokumen impor dan pemendekan proses
bisnis pengurusan perizinan impor dari 5.5 hari menjadi 8 jam.
Implementasi NSW Tahap II dimulai pada bulan Juli – Desember 2008. Pada
Tahap II difokuskan pada tingkat operasional dengan sasaran antara lain :
penerapan di lima pelabuhan utama, yaitu Tanjung Prior (Jakarta), Tanjung
Perak (Surabaya), Belawan (Medan) dan Bandara Soekarno Hatta yang
merupakan tempat bongkar muat barang ekspor impor dengan tingkat volume
90% dari total ekspor impor Indonesia; GA yang terlibat menjadi 15 (total instansi
yang terlibat perizinan sesudah penyederhanaan/sebelumnya 34 instansi); jasa
perizinan meliputi ekspor, impor, pengangkutan udara dan pengangkutan laut. Di
samping itu, sistem NSW juga mulai diujicobakan dengan ASW pada tanggal 11
Agustus 2008 ditandai adanya pertukaran dokumen kepabeanan (SKA dan Form
D antara Indonesia dan Malaysia).
Diharapkan seluruh importir terdaftar (sekitar 17.500 importir) telah dapat
menggunakan sistem dimaksud pada bulan Desember 2008 dan masalah terkait
dengan Service Level Agreement (SLA), permanent help desk; fee structure,
changing management dan Badan Pengelola telah dapat diputuskan pada
Implementasi Tahap II ini.
c. Realisasi ASEAN Free Trade Area
Pada pertemuan ke-40 ASEAN Economic Ministers tahun 2008, ASEAN
Secretariat telah melaporkan bahwa implementasi komitmen liberalisasi tariff
CEPT telah mencapai 92.25 % dari semua produk yang telah dimasukkan ke
dalam inclusion list (IL), 88.48 % memiliki tarif berkisar antara 0-5 % di antara
negara-negara ASEAN. Tarif di antara negara-negara ASEAN yang telah
dihapuskan sebesar 63.42 % dari IL products, rata-rata berkurang sebesar
2,58% dalam tahun 2007 menjadi 1.95 % dalam tahun 2008.
d. Comprehensive Revised CEPT Rules of Origin
Sejak 1 Agustus 2008, ASEAN telah mengimplementasikan Comprehensive
revised CEPT Rules of Origin yang mencakup revisi terhadap teks CEPT ROO
serta komponennya seperti Operational Certification Procedures, Product
Specific Rules (PSRs) dan Certificate of Origin (CO) Form D. Revisi CEPT
ROO termasuk revisi general rule of the CEPT Rules of Origin dari kriteria single
“Regional Value Content of 40 percent (RVC(40)” menjadi alternative co-equal
rules of “Regional Value Content of 40 percent or Change in Tariff Headings
(RVC(40) or CTH)”.
e. Kerjasama Kepabeanan
Selama 3 (tiga) tahun terakhir, ASEAN Customs Administrations terus
melakukan upaya-upaya untuk mengimplementasikan Strategic Plan of Customs
Development (SPCD) 2005 – 2010, khususnya dalam bidang cargo clearance,
risk management, e-customs, facilitation of goods in transit, customs
enforcement and human resource development. Disamping itu, ASEAN juga
mengupayakan penyelesaian mengenai finalisasi Protocol 2 (Designation of
Frontier Posts) dan Protocol 7 (Customs Transit Systems) guna memungkinkan
implementasi penuh Framework Agreement on Facilitation of Goods in Transit
and the establishment of the ASEAN Customs Transit System.
a. Standards, Technical Regulations and Conformity Assessment Procedures
(STRACAP)
Dalam upaya untuk fasilitasi implementasi priority sectors, ASEAN telah
mengimpelementasikan sejumlah ASEAN Sectoral Mutual Recognition
Arrangement (MRA). Hingga tahun 2007, di bidang produk barang, Indonesia
telah menandatangani 3 (tiga) MRAs, yaitu di bidang cosmetics, electrical and
electronic equipment serta pharmaceutical. Namun demikian, mengalami
hambatan dialami dalam proses ratifikasi mengingat adanya benturan antara
MRA dimaksud dengan peraturan perundangan nasional terkait.
b. Initiative for ASEAN Integration (IAI)
Initiative for ASEAN Integration (IAI) adalah suatu policy framework yang
dimaksudkan untuk memberikan kontribusi, dengan dasar berkesinambungan,
untuk mempersempit kesenjangan pembangunan di antara negara-negara
ASEAN, khususnya untuk negara-negara CLMV. Kebijakan dimaksud ditegaskan
di dalam Ha Noi Plan of Action 1998 serta Deklarasi mengenai Narrowing
Development Gap for Closer ASEAN Integration 2001.
IAI dituangkan di dalam IAI Work Plan, yang merupakan rencana 6 tahunan
(Juli 2002 – Juni 2008). Sampai dengan tanggal 15 Mei 2008, terdapat 203
proyek dalam IAI Work Plan dengan berbagai tahap implementasinya.
Pembiayaan telah disiapkan untuk 158 proyek (78%). 116 proyek telah berhasil
diselesaikan, 19 proyek sedang dilaksanakan, 2 proyek telah mendapatkan
pendanaan dan menunggu implementasi, 2 proyek masih mencari dana
separuhnya, 10 proyek masih menunggu proses pelaksanaan dan 18 proyek
belum mendapatkan pendanaan.
Sumber pendanaan proyek-proyek IAI berasal dari negara-negara ASEAN +
6 dan negara-negara donor lainnya. Kontribusi ASEAN + 6 sampai dengan
tanggal 15 Mei 2008 berjumlah US $ 30.98 juta. Kontribusi Indonesia tercatat
sebesar US $ 804.437 untuk 9 (sembilan) proyek, dengan share sebesar 2,6 %
dari total pendanaan yang disiapkan oleh ASEAN-6. Sedangkan Singapura
memberikan kontribusi tertinggi, sebesar US $ 22.811.330, dengan share
73.64% dari seluruh total pendanaan ASEAN.
Di samping itu, kontribusi ASEAN-6 terhadap CLMV on bilateral basis,
sampai dengan tanggal 15 Mei 2008 total berjumlah US $ 159.483.271, untuk
implementasi proyek-proyek dari tahun 1992–2008. Sedangkan kontribusi
Indonesia on bilateral basis sebesar US $ 1.661.588, untuk implementasi 30 Juli
2000–2006. Kontribusi tertinggi diberikan oleh Thailand, sebesar US $
100.358.255 (implementasi proyek 1996 – 2004).
Kontribusi negara-negara dialogue partner ASEAN terhadap proyek-proyek
IAI sampai dengan tanggal 15 Mei 2008 berjumlah total US $ 20.18 juta, untuk
65 proyek. 5 (lima) negara donor utama adalah Jepang, Korea, India, Norwegia
dan Uni Eropa, menyumbang sebesar US $ 17.64 juta (87.3% total dana dari
negara donor).
Sebagai konsistensi untuk narrowing development gap, saat ini sedang
disusun dan diselesaikan IAI Work Plan II, yang diharapkan akan dapat segera
diselesaikan pembahasannya.
h. Perkembangan Pembentukan FTA ASEAN Dengan Negara-negara Mitra
Wicara
a) ASEAN–China Free Trade Agreement
Trade in Goods Agreement dan Dispute Settlement Mechanism
Agreement ditandatangani oleh Menteri Ekonomi ASEAN dan China pada
bulan Nopember 2004. Sementara itu, Agreement on Trade in Services dan
Second Protocol to Amend the Framework Agreement ditandatangani pada
bulan Januari 2007 di Cebu, Filipina. Berkenaan dengan proses ratifikasi
ketiga perjanjian dimaksud, hanya tinggal Kamboja yang belum meratifikasi
perjanjian tersebut.
Terkait dengan implementasi FTA ASEAN-China di bidang jasa, China
telah mengajukan request kepada Indonesia untuk 10 sektor jasa, yaitu
business services; komunikasi; konstruksi dan jasa engineering; distribusi;
pendidikan; lingkungan; keuangan; jasa sosial dan kesehatan; jasa olah
raga ,budaya dan rekreasi; dan jasa transportasi. Berkenaan dengan hal
tersebut, telah disepakati bahwa basis offer untuk sektor-sektor yang masuk
dalam Komitmen Pertama FTA ASEAN-China bidang Jasa adalah AFAS-4
(business services, telekomunikasi, Konstruksi, Jasa terkait dengan Air
Travel dan Kepariwisataan) ditambah dengan jasa maritim, pendidikan,
keuangan khusus asuransi dan kesehatan yang kesemuanya telah masuk
dalam AFAS-5.
Perundingan yang masih belum diselesaikan adalah bidang investasi dan
kerjasama ekonomi. Negosiasi di bidang investasi semula diharapkan dapat
diselesaikan pada akhir tahun 2007. Namun demikian setelah 4 (empat)
tahun berjalan tidak terlihat tanda-tanda dimana akan tercapai kesepakatan.
Hal ini dikarenakan perbedaan posisi ASEAN yang tetap menginginkan
memakai pendekatan AIA atau negative list approach. Sedangkan China
menghendaki penggunaan positive approach.
Pada KTT ASEAN ke-13 para Pemimpin ASEAN menekankan
pentingnya kerjasama ASEAN-China yang tentunya akan memberikan
manfaat bagi pertumbuhan ekonomi sehingga dapat meningkatkan
kesejahteraan rakyat di kawasan Asia, khususnya ASEAN dan China. Bukti
nyata pertumbuhan ekonomi termaksud ditandai dengan meningkatnya
volume perdagangan ASEAN-China dari US$ 160 miliar pada tahun 2006
menjadi US$171.1 miliar pada tahun 2007. Sebagai catatan, pada periode
2003-2007 total nilai perdagangan Indonesia China tumbuh sebesar 28.7%.
Pada tahun 2007, realisasi investasi China di Indonesia berjumlah 22 proyek
dengan nilai US$ 28.9 juta. Sementara negosiasi perjanjian investasi
ASEAN-China yang belum berhasil terselesaikan diharapkan dapat rampung
dalam tahun 2008.
Di sela-sela KTT ASEAN ke-13 diakhiri dengan penandatanganan
Memorandum of Understanding between ASEAN and the Government of the
People’s Republic of China on Strengthening Sanitary and Phytosanitary
Cooperation oleh Sekjen ASEAN atas nama negara anggota ASEAN dan
Minister General Administration of Quality Supervision, Inspection and
Quarantine, China.
b) ASEAN-Canada Trade And Investment Framework Arrangement (TIFA)
Meskipun FTA ASEAN-Kanada masih merupakan tujuan jangka panjang,
kedua belah pihak mengakui mengenai adanya suatu keperluan untuk lebih
memformalkan hubungan, dan meminta Sekretariat ASEAN untuk menyusun
draft awal ASEAN-Canada Economic Arrangement yang sejenis dengan
Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) yang telah ditandatangani Kanada dengan MERCOSUR dan ASEAN Community.
Pada SEOM 1/39 di Baguio City, Filipina, Januari 2008, SEO bertukar
pandangan mengenai pembatalan sepihak oleh pihak Kanada karena isu
Myanmar atas rencana pertemuan konsultasi SEOM-Kanada di Vancouver,
Kanada yang dijadwalkan pada bulan Nopember 2007. Selanjutnya pada 2nd
ASEAN Canada Informal Coordinating Mechanism (ICM) di Ha Noi, Viet Nam
10 Maret 2008, Indonesia telah menyampaikan penyesalannya dan berharap
agar Kanada dapat menggulirkan kembali pembahasan TIFA. Viet Nam
sependapat dengan Indonesia dan meminta konfirmasi lebih lanjut mengenai
kepastian penjadwalan ulang pertemuan pembahasan TIFA.
Pada Pertemuan ke-5 ASEAN-Canada Dialogue di Ho Chi Minh, Viet
Nam, 12-14 Mei 2008, Kanada telah menyampaikan keputusannya untuk
melaksanakan the 3rd ASEAN–Canada SEOM yang tertunda di Vancouver,
Kanada pada akhir bulan Nopember 2008.
Sebagai catatan, draft TIFA ASEAN-Kanada terdiri dari 5 sections
dengan 1 Annex berupa Trade and Investment Cooperation Arrangement
between ASEAN Canada Work Plan, yaitu : Section I Objectives; Section II
Principles; Section III Expansion of Trade and Investment; Section IV Joint
Council on Trade and Investment; Section V Final Clauses.
c) ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)
Terkait dengan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZ FTA), setelah
dilakukan perundingan sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah dapat dikatakan
selesai kecuali berkaitan dengan ”market access” untuk sektor otomotif.
Dalam kaitan ini, Australia mengharapkan agar jika market access dimaksud
belum dapat disepakati maka AANZ FTA dapat ditandatangani pada bulan
Desember mendatang. Sedangkan isu-isu bilateral yang belum dapat
diselesaikan akan diselesaikan setelah AANZ FTA ditandatangani.
Dalam kaitan ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah konsekwensi
hukum
ditandatanganinya
AANZ
FTA
apabila
belum
dapat
disepakati/diselesaikannya komitmen bilateral dengan Australia dan New
Zealand, mengingat offer dan request Australia serta New Zealand kepada
Indonesia belum disepakati.
Di samping itu, AANZ FTA menyisakan permasalahan lain, yaitu
menyangkut 2 (dua) MOU mengenai labour dan environment yang
diharapkan oleh New Zealand dapat ditandatangani oleh Indonesia dan New
Zealand sebelum ditandatanganinya AANZ FTA. Kedua MOU tersebut masih
dibahas dan dipelajari lebih lanjut oleh pihak Depnaker serta Kementerian
Lingkungan Hidup.
Perundingan FTA ASEAN – Australia dan Selandia Baru telah berhasil
diselesaikan, dan kesepakatan FTA dimaksud telah ditandatangani pada
KTT ASEAN ke-14 di Thailand pada Februari 2009. Diharapkan negara
anggota ASEAN segera meratifikasi perjanjian tersebut sehingga perjanjian
dapat diimplementasikan per 1 Januari 2010.
d) ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)
Sejak ditandatanganinya Framework Agreement on Comprehensive
Economic Cooperation between ASEAN and India pada tanggal 8 Oktober
2003, perundingan ASEAN-India Trade Negotiating Committee (AITNC) telah
memasuki pertemuan ke-21. Draft ASEAN–India Trade in Goods Agreement
telah berhasil disepakati kecuali “market acsess” kepada Viet Nam.
Diharapkan hal ini dapat segera diselesaikan secara bilateral. Di samping itu
juga masih terdapat perbedaan pandangan antara ASEAN dengan India
berkaitan dengan penurunan tarif di dalam Exclusion List (EL) dan Normal
Track (NT).
e) ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA)
Pertemuan ASEAN-EU Commemorative Summit di Singapura pada
tanggal 22 November 2007, berhasil menyepakati dua dokumen penting yaitu
Plan of Action to Implement the Nuremberg Declaration on an EU-ASEAN
Enhanced Partnership dan Joint Declaration of the ASEAN-EU
Commemorative Summit. Kedua dokumen tersebut memuat paragraf
kesepakatan peningkatan kerjasama ekonomi kedua kawasan.
Hingga saat ini, telah diadakan 6 kali pertemuan Joint Committee on
ASEAN-EU Free Trade Agreement (JCAEFTA). Dalam pertemuan JCAEFTA
ke-6 yang berlangsung di Ha Noi, Viet Nam pada tanggal 14-17 Oktober
2008, masih terlihat keinginan dari pihak UE untuk memasukan isu-isu nontradisional seperti government procurement, competition policy, dan
sustainable development.
Dalam isu Trade in Goods, UE juga mengemukakan penawaran dengan
pendekatan country specific adjustrment, yang mengindikasikan adanya offer
yang berbeda dari UE kepada setiap negara-negara anggota ASEAN.
Namun, ASEAN tidak menyetujui tawaran EU tersebut karena dikhawatirkan
pendekatan ini akan menimbulkan diskriminasi.
Terkait dengan modalitas ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA),
terdapat dua proposal tentang working method (mekanisme perundingan)
yang akan digunakan dalam kerangka AEFTA. UE mengusulkan agar
working method dilakukan dengan menggunakan mekanisme perundingan
dual track, yakni perundingan “fast track” yang dilakukan dengan beberapa
negara (kelompok kecil) terutama negara-negara yang memiliki tingkat
ambisi tinggi baik dalam hal cakupan isu-isu yang dirundingkan maupun
ambisi yang cukup tinggi di masing-masing isu, dan “normal track” yang
dilakukan dengan negara anggota ASEAN lainnya yang tingkat ambisinya
lebih rendah.
Berkenaan dengan proposal tersebut, Viet Nam juga mengusulkan
pendekatan yang hampir sama dengan UE, namun sifatnya sukarela. Di
samping traditional issues (trade in goods, services dan investment)
kelompok pertama dapat merundingkan non-traditional issues (seperti
competition policy, sustainable development dan government procurement),
namun sifatnya sukarela. Sedangkan kelompok kedua hanya merundingkan
traditional issues.
f) ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership
Landasan perundingan ASEAN-Japan Comprehensive Economic
Partnership adalah Joint Declaration of the Leaders on Comprehensive
Economic Partnership between ASEAN and Japan yang telah ditandatangani
pada tanggal 5 November 2002. Kemitraan ini juga kemudian diperkuat
dengan penandatanganan Framework for Comprehensive Economic
Cooperation between ASEAN and Japan pada tanggal 8 Oktober 2003.
Saat ini perjanjian AJCEP telah ditandatangani secara ad-referendum
pada bulan Maret 2008. Sedangkan pihak Jepang telah meratifikasi
perjanjian tersebut pada tanggal 21 Juni 2008. Saat ini masing-masing
negara ASEAN sedang melaksanakan prosedur legal nasional guna dapat
menerapkan perjanjian ini.
Kerjasama di Sektor Jasa
a. Perkembangan Liberalisasi Jasa ASEAN
1) Peranan Sektor Jasa ASEAN
Sektor Jasa memegang peranan penting di ASEAN dengan rata-rata 4050% GDP negara ASEAN berasal dari sektor jasa. Jasa juga berperan
penting dalam perekonomian Indonesia dengan porsi 46% total GDP pada
tahun 2007.
Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi melalui liberalisasi
perdagangan di bidang jasa, Negara-negara ASEAN telah menyepakati dan
mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) pada
tanggal 15 Desember 1995 di Bangkok, Thailand. Selanjutnya untuk
menindaklanjuti kesepakatan tersebut, telah dibentuk
Coordinating
Committee on Services (CCS) yang memiliki tugas menyusun modalitas
untuk mengelola negosiasi liberalisasi jasa dalam kerangka AFAS yang
mencakup 8 (delapan) sektor, yaitu: Jasa Angkutan Udara dan Laut, Jasa
Bisnis, Jasa Konstruksi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pariwisata,
Jasa
Keuangan, Jasa Kesehatan dan Jasa Logistik.
Indonesia mendorong liberalisasi sektor jasa melalui Badan Kebijakan
Fiskal, Departemen Keuangan, yang bertindak sebagai koordinator (Tim
Koordinator Bidang Jasa) di semua forum dan sektor, termasuk sebagai
pengelola sektor jasa keuangan non-bank dan jasa profesi (akuntan dan
penilai).
Sejak penandatangan AFAS hingga saat ini, Negara-negara anggota
ASEAN telah menyepakati 6 paket komitmen liberalisasi jasa. KTT ASEAN
ke-13 di Singapura pada November 2007 telah menyepakati pengesahan
paket ke-6 tersebut sebagai kelanjutan liberalisasi jasa di bawah AFAS.
Prinsip, strategi dan modalitas untuk liberalisasi jasa tersebut ditujukan guna
mewujudkan realisasi bebasnya arus perdagangan jasa ASEAN dalam
rangka pembentukan kawasan ekonomi terintegrasi “Komunitas Ekonomi
ASEAN” tahun 2015. Integrasi perdagangan jasa ASEAN akan dilaksanakan
dengan mengacu pada Cetak Biru Pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN
yang juga telah disepakati pimpinan ASEAN pada kesempatan KTT ASEAN
tersebut.
Disamping itu juga telah ditandatangani ASEAN Multilateral Agreement
on the Full Liberalisation of Air Freight Services and the ASEAN multilateral
Agreement on Air Services pada pertemuan ke-14 ASEAN Transport
Ministers’ Meeting pada bulan November 2008.
2) Integrasi Sektor Jasa Prioritas Menjelang Realisasi Komunitas Ekonomi
ASEAN 2015
ASEAN telah menetapkan 5 (lima) sektor jasa prioritas dari 12 sektor
prioritas integrasi barang dan jasa yang akan diliberalisasi menjelang
pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, yaitu: Jasa Kesehatan, Jasa
Pariwisata, e-ASEAN, Jasa Logistik dan Jasa Transportasi Udara.
Target penghapusan hambatan dalam perdagangan bidang jasa di empat
sektor prioritas bidang jasa adalah tahun 2010 untuk jasa perhubungan
udara, e-ASEAN, kesehatan, dan pariwisata dan tahun 2013 untuk jasa
logistik. Adapun liberalisasi bidang jasa seluruhnya ditargetkan pada tahun
2015.
Masing-masing sektor prioritas tersebut telah dilengkapi peta kebijakan
(roadmaps) yang mengkombinasikan inisiatif-inisiatif khusus dengan inisiatif
yang lebih luas secara lintas sektor seperti langkah-langkah fasilitasi
perdagangan.
3) Jasa Angkutan Udara (Air Transport Services)
Sidang ke 18 ASEAN Air Transport Working Group (ATWG) di Kuala
Lumpur tanggal 12 – 14 Agustus 2008 membahas berbagai hal terkait
dengan upaya liberalisasi jasa angkutan udara ASEAN, termasuk ASEAN
Multilateral Agreement on the Full Liberalisation of Air Freight Services,
ASEAN Multilateral Agreement on Air Services, ASEAN Single Aviation
Market (SAM) dan Kerjasama Angkutan Udara dengan Mitra Dialog.
4) Jasa Angkutan Laut (Maritime Transport Services)
Sidang ke-16 ASEAN Maritime Transport Working Group (MTWG) di Nha
Trang, Viet Nam tanggal 9-11 September telah membahas langkah-langkah
lebih lanjut dalam mengimplementasikan Roadmap Towards an Integrated
and Competitive Maritime Transport. Terkait Roadmap Towards an
Integrated and Competitive Maritime Transport, Indonesia ditunjuk
bertanggung jawab sebagai lead coordinator untuk measure (langkah
kebijakan) no.11 “Confirm the Principle of Open Access to the International
Maritime Trade of All ASEAN Member States” dan measure no.12 “Develop
the Strategies for an ASEAN Single Shipping Market” dari Roadmap
dimaksud.
5) Jasa Keuangan (Finance Services)
Pertemuan terkini Para Menteri Keuangan ASEAN dan ASEAN Finance
Minister Investors Seminar (AFMIS) diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat
Arab pada tanggal 7-9 Oktober 2008. Para Menteri menegaskan
komitmennya untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan keuangan
sekaligus memperkuat tingkat kompetensi di pasar global. Pertumbuhan GDP
regional diperkirakan akan mengalami sedikit perlambatan dibandingkan
tahun sebelumnya yang mencapai 6,7 %.
Untuk merespon hal tersebut, ditegaskan perlunya upaya kapitalisasi
yang kuat pada sektor perbankan dan institusi keuangan selain upaya untuk
segera dapat mengimplementasikan Chiang Mai Initiative Multilateralisation
pada pertengahan tahun 2009 sejalan dengan inisiatif regional yang lain
dalam upaya kerjasama dan integrasi regional.
6) Jasa Telekomunikasi (Telecommunications Services)
ASEAN menyadari pentingnya Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi
seluruh lapisan masyarakat. Terkait hal ini telah disepakati upaya sinergis
untuk membangun infrastruktur komunikasi melalui “Siem Reap Ministerial
Declaration on Enhancing Universal Access on ICT Services in ASEAN” yang
disepakati dalam sidang TELSOM/TELMIN ke-7 tahun 2007 di Siem Reap,
Kamboja.
9th ASEAN Telecommunications & Information Technology Senior Officials
Meeting (TELSOM-9) dan 8th ASEAN Telecommunications & Informations
Technology Ministers Meeting (TELMIN-8) dengan tema ‘’High Speed
Connection to Bridge ASEAN Digital Divide” di Bali, pada tanggal 25-29
Agustus 2008 telah membahas dan mengesahkan indikator dan target dalam
ICT Scorecard yang diperlukan untuk mencapai proses integrasi dan
pengembangan sektor ICT ASEAN tahun 2008-2010.
7) Jasa Pariwisata (Tourism Services)
Dalam pertemuan ASEAN Tourism Meetings di Manila tanggal 6 – 9 Juli
2008, telah dibicarakan beberapa hal antara lain:
-
-
-
-
Penyusunan MRA di bidang Pariwisata diharapkan selesai pada akhir
2008 dan dapat ditandatangani oleh para Menteri Pariwisata ASEAN
pada saat ASEAN Tourism Forum (ATF) 2009 di Ha Noi, Viet Nam,
tanggal 5-12 Januari 2009.
Dalam kerangka ASEAN Tourism Resource Management and
Development Network (ATMR) telah direncanakan untuk mengadakan
beberapa kegiatan antara lain: Training on eco tourism di Thailand,
Pelatihan Tourism Heritage di Indonesia, ATMR Cruise di Singapura,
Workshop tentang Home stay di Malaysia.
Guna lebih meningkatkan promosi ASEAN sebagai destinasi tunggal
telah dibahas beberapa kegiatan promosi bersama, yaitu: ASEAN
Promotional Chapter for Tourism, ASEAN Tourism Area in
International tourism Fairs dan Joint Promotion Activities with ASEAN
Airlines.
Terkait dengan NTO/VAC Fund dinyatakan bahwa Balance of
NTO/VAC Fund hingga bulan Mei 2008 adalah USD 58,791.25.
8) Jasa Logistik (Logistic Services)
Jasa logistik telah ditetapkan sebagai sektor prioritas kedua belas yang
akan diliberalisasikan oleh ASEAN. Roadmap for Integration of Logistics
Services telah ditandatangani pada Sidang ke-39 ASEAN Economic
Ministers’ di Makati City, Filipina, pada tanggal 24 Agustus 2007.
Mutual Recognition Arrangements Bidang Jasa
Para Menteri Ekonomi ASEAN telah menandatangani Mutual Recognition
Agreement (MRA) Framework on Accountancy Services, MRA on Medical
Practitioner and MRA on Dental Practitioners. MRA Framework on Accountancy
Services yang akan menjadi prinsip-prinsip dasar dan kerangka negosiasi
bilateral atau multilateral. Sedangkan MRAs mengenai Medical Practitioners and
Dental Practitioners diharapkan dapat memfasilitasi mobilitas qualified medical
and dental practitioners di ASEAN.
Di samping itu juga telah ditandatangani MRAs di bidang engineering
services, architectures services, nursing services and surveying and urged
renewed efforts by the related professional bodies to implement the MRAs.
Sedangkan Mutual Recognition Arrangements on Tourism Professionals,
diharapkan akan dapat ditandatangani pada ASEAN Tourism Ministers Meeting
pada bulan Januari 2009.
Ratifikasi Perjanjian-perjanjian Ekonomi ASEAN
Hingga saat ini terdapat 92 Perjanjian Ekonomi ASEAN. Dari jumlah tersebut, 57
perjanjian telah diratifikasi, sedangkan 35 masih dalam proses. Perlu disampaikan
juga bahwa terdapat 12 perjanjian dalam tahap akhir proses ratifikasi dan
diharapkan selesai pada akhir tahun 2008.
Kerjasama di Sektor Investasi
Di sektor investasi, kerjasama ASEAN diawali dengan dikemukakannya
gagasan pembentukan suatu kawasan investasi ASEAN pada Pertemuan Pemimpin
ASEAN di Bangkok pada tahun 1995. Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, pada
tahun 1996, dibentuk Komite Kerja Kawasan Investasi ASEAN (WC-AIA), yang
berada dibawah naungan SEOM, dengan mandat menyiapkan sebuah Persetujuan
Dasar tentang Kawasan Investasi ASEAN (Framework Agreement on ASEAN
Investment Area/FA-AIA).
Framework Agreement on ASEAN Investment Area ditandatangani di Makati
City, Filipina, pada tahun 1998. Bersamaan dengan penandatanganan tersebut juga
disahkan pembentukan AIA Council. FA-AIA mencakup seluruh kegiatan investasi,
kecuali investasi portfolio dan kegiatan investasi lainnya yang sudah tercakup pada
perjanjian ASEAN lainnya, seperti the ASEAN Framework Agreement on Services.
Tujuan utama yang hendak dicapai adalah menciptakan suatu Kawasan Investasi
ASEAN yang liberal dan transparan, sehingga dapat meningkatkan arus investasi ke
kawasan. Liberalisasi investasi bagi negara anggota ASEAN disepakati untuk mulai
berlaku pada tahun 2010, sedangkan dengan negara non-ASEAN disepakati untuk
direalisasikan pada tahun 2020.
Kerangka kerja AIA mencakup semua arus investasi asing langsung (Foreign
Direct Investment/FDI) ke ASEAN maupun investasi langsung antar negara-negara
ASEAN. Persetujuan tersebut antara lain akan mengikat negara-negara anggota
untuk menghapus hambatan-hambatan investasi, meliberalisasi peraturan-peraturan
dan kebijaksanaan investasi, memberi persamaan perlakuan nasional dan membuka
investasi di industrinya terutama sektor manufaktur. Dengan menciptakan ASEAN
sebagai suatu kawasan investasi yang lebih berdaya saing dan terbuka, AIA
diharapkan dapat menarik arus investasi langsung ke ASEAN.
Pada pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN Ke-40 yang berlangsung di
Singapura bulan Agustus 2008, negara-negara ASEAN sepakat untuk membentuk
suatu rejim investasi ASEAN yang lebih terbuka serta mendukung proses integrasi
ekonomi di Asia Tenggara. Rejim yang dimaksud adalah ASEAN Comprehensive
Investment Agreement (ACIA) yang merupakan hasil revisi dan penggabungan dari
ASEAN Investment Area (AIA) dan ASEAN Investment Guarantee Agreement
(ASEAN-IGA). ACIA mencakup empat pilar utama yang meliputi: liberalisation,
protection, facilitation and promotion.
ACIA lebih bersifat komprehensif dibandingkan dengan AIA dan ASEAN IGA,
dikarenakan ACIA telah mengadopsi international best practices dalam bidang
investasi dengan mengacu kepada kesepakatan-kesepakatan investasi
internasional. Dengan adanya ACIA, diharapkan ASEAN dapat meningkatkan iklim
investasi di kawasan dan menarik lebih banyak investasi asing. Sebagai tambahan,
nilai investasi asing di ASEAN pada tahun 2005 berjumlah sebesar US$. 41.06
milyar dan tahun 2006 sebesar US$. 52.3 milyar.
Setelah mengalami pembahasan yang cukup alot sejak tahun 2006, ASEAN
akhirnya berhasil menyelesaikan pembahasan ASEAN Comprehensive Investment
Agreement (ACIA). Draft ACIA dimaksud telah dibahas dan di-endorse pada
Pertemuan ke-40 ASEAN Economic Ministers (AEM) tahun 2008. Diharapkan ACIA
akan dapat ditandatangani pada KTT ke- 14 ASEAN mendatang di Chiang Mai,
Thailand, Desember 2008. Dengan ditandatanganinya ACIA, diharapkan akan dapat
menjadikan ASEAN menjadi wilayah yang sangat kompetitif untuk menarik Foreign
Direct Investment (FDI) serta mendukung realisasi ASEAN Economic Community.
Kerjasama di Sektor Komoditi dan Sumber Daya Alam
Kerjasama Pertanian
1) Pangan
Secara umum kondisi pangan ASEAN pada tahun 2005/2006 stabil.
ASEAN telah mampu mencapai swasembada, khususnya untuk komoditi
beras dan gula yang produksinya melebihi kebutuhan di ASEAN. Untuk
jagung dan kedelai, ASEAN masih mengandalkan impor karena produksi
lokal belum mampu memenuhi kebutuhan domestik.
Dalam skema kerja sama ASEAN Plus Three, 2 (dua) proyek telah
dilaksanakan sejak tahun 2004 – 2008, yaitu East Asia Emergency Rice
Reserves (EAERR) dan ASEAN Food Security Information System (AFSIS).
Kegiatan EAERR terutama difokuskan pada implementasi mekanisme
pengadaan beras (stock release mechanism) dan pemanfaatan cadangan
beras darurat untuk kondisi bencana. Sementara itu, kegiatan AFSIS
difokuskan pada pembuatan jaringan informasi mengenai ketahanan pangan
dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam proyek AFSIS, sebuah
website telah dibentuk yang memberikan informasi mengenai situasi dan
perencanaan kebijakan ketahanan pangan di kawasan.
ASEAN juga telah membentuk ASEAN General Guidelines on the
Preparation and Handling of Halal Food sebagai upaya memperluas
perdagangan daging dan produk daging intra-ASEAN.
Menanggapi perkembangan krisis dunia yang berdampak pada sektor
pangan, ASEAN sesuai dengan usulan Presiden RI, telah menyusun sebuah
skema strategis dan komprehensif untuk memperkuat ketahanan pangan
regional yang disebut ASEAN Integrated Food Security (AIFS) Framework
beserta rencana kerja jangka menengah yang disebut Strategic Plan of
Action on Food Security in the ASEAN Region (SPA-FS). Para Menteri
Pertanian dan Kehutanan ASEAN menyepakati untuk merekomendasikan
dokumen tersebut ke ASEAN Summit di Thailand, bulan Desember 2008.
Selanjutnya, kedua dokumen tersebut akan di-endorse oleh para Pemimpin
ASEAN melalui Bangkok Statement on Food Security in the ASEAN Region.
2) Tanaman Pangan (Crops)
Sejak tahun 2006 – 2008, ASEAN telah membuat Daftar Hama Endemik
untuk beberapa komoditas pertanian yang diperdagangkan di kawasan, yaitu
padi giling, jeruk (citrus), mangga, kentang, dan anggrek potong dendrobium.
Upaya harmonisasi phytosanitary untuk komoditas-komoditas tersebut akan
terus dilanjutkan khususnya untuk pengembangan panduan importasi.
ASEAN Plant Health Cooperation Network (APHCN) telah dibentuk
sebagai sarana untuk berbagi informasi mengenai kesehatan tanaman di
negara-negara anggota ASEAN. Saat ini, informasi mengenai Undangundang Karantina Tanaman dan persyaratan impor untuk Malaysia dan
Singapura telah tersedia di website APHCN. Dalam inisiatif ini, akan dibentuk
ASEAN Regional Diagnostic Initiative sebagai proyek percontohan untuk
mengatasi hambatan terhadap akses pasar produk pertanian.
Melalui harmonisasi Maximum Residue Limits (MRLs) untuk pestisida,
ASEAN terus berupaya untuk melindungi kesehatan konsumen dan
memfasilitasi perdagangan dengan meminimalisir penggunaan pestisida dan
memastikan keamanan pangan dan mencegah kerusakan lingkungan. Dalam
29th ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture and Forestry (29th AMAF) di
Bangkok, 2007, ASEAN telah mengadopsi harmonisasi 99 MRL untuk 16
pestisida. Sebelumnya ASEAN telah memiliki 658 MRL untuk 61 pestisida.
ASEAN terus berupaya untuk melaksanakan upaya terpadu dalam
mengharmonisasi standar dan kualitas, jaminan keamanan pangan dan
standarisasi sertifikasi perdagangan untuk mendukung integrasi ekonomi dan
meningkatkan daya saing produk-produk pertanian dan kehutanan ASEAN di
pasar internasional. Untuk itu, ASEAN telah mengadopsi ASEAN Good
Agricultural Practices (ASEAN GAP) mengenai penanganan produksi, panen
dan paska panen buah dan sayuran segar serta sejumlah produk hortikultura
lainnya berupa Standar ASEAN untuk mangga, nanas, durian, papaya,
pumelo, dan rambutan.
Sebagai upaya kawasan untuk mengendalikan penggunaan pestisida,
ASEAN telah memiliki website untuk lembaga pengawasan pestisida
“aseanpest” (http://agrolink.moa.my/doa/aseanpest) yang memberikan
landasan untuk saling bertukar informasi dan database serta penanganan
masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan pemanfaatan
pestisida.
3) Agricultural Training and Extension
ASEAN terus melanjutkan program Pengelolaan Hama secara Terpadu
(Integrated Pest Management/IPM) untuk berbagai tanaman pangan,
termasuk pengembangan modul pelatihan untuk komoditas prioritas dan
pengorganisasian pelatihan IPM di kawasan terhadap komoditas prioritas
tersebut. Komoditas dimaksud, di antaranya mangga, jeruk, bawang merah,
beras, pumelo dan kedelai. Pertukaran pejabat, pelatih dan petani terkait IPM
untuk citrus telah diorganisir oleh Thailand pada tanggal 10-16 Juni 2008.
Sejumlah aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan pekerja dan petani
telah pula dilaksanakan, di antaranya: Regional Training on Edible and
Medicinal Mushroom Production Technology for ASEAN Extension Workers
and Farmers (1-2 November 2008 di Viet Nam) serta pertukaran pejabat,
pelatih dan petani yang diorganisir di Palembang, Indonesia, tanggal 5-10
Juli 2007.
4) Penelitian dan Pengembangan di bidang Pertanian
Kerjasama Penelitian dan Pengembangan di bidang pertanian telah
dimulai sejak 2005. Sejumlah aktivitas telah dilakukan, termasuk
pembentukan ASEAN Agricultural Research and Development Information
System (ASEAN ARDIS), ASEAN Directory of Agricultural Research and
Development Centres in ASEAN, dan Guidelines for the Use of the Digital
Information System.
5) Codex
ASEAN telah mengembangkan website ASEAN Food Safety Network
(www.aseanfoodsafetynetwork.net) untuk memberikan informasi yang
berguna terkait keamanan pangan, seperti upaya SPS di berbagai bidang,
isu-isu yang muncul dalam badan-badan penetapan standar internasional
(Codex, OIE, IPPC, dll), serta hasil kerja dari berbagai badan di ASEAN
terkait keamanan pangan.
6) Skema Promosi Produk Pertanian dan Kehutanan
Untuk mempromosikan produk pertanian dan kehutanan, ASEAN telah
memperpanjang implementasi Memorandum of Understanding (MoU) on
ASEAN Cooperation in Agriculture and Forest Products Promotion Schemes
untuk periode 5 tahun ke depan, dari 2004 menjadi 2009. MoU ini tetap
relevan sebagai basis kerjasama dengan sektor swasta dan berkoordinasi
tentang posisi bersama terkait perdagangan produk pertanian dan kehutanan
ASEAN. Pembuatan MoU saat ini tengah dikembangkan oleh Negara-negara
Anggota ASEAN, termasuk pengkajian produk-produk pertanian dan
kehutanan yang dicakup dalam MoU. Dengan mempertimbangkan relevansi
situasi pasar yang ada serta aktivitasnya dalam 12 tahun terakhir, 5 produk,
yaitu: udang beku, ayam beku, nanas kaleng, tuna kaleng, dan karet alam
telah disetujui untuk dihapus dari daftar.
7) Bioteknologi
ASEAN menyadari pentingnya bioteknologi pertanian sebagai cara untuk
meningkatkan produktifitas pangan secara berkelanjutan. Namun demikian,
saat ini terdapat kekhawatiran publik terhadap penggunaan bioteknologi yang
perlu diatasi. ASEAN telah mengadopsi Guidelines on the Risk Assessment
of Agriculture-related Genetically Modified Organisms (GMOs). Panduan ini
memberikan Negara-negara Anggota ASEAN pendekatan dan pemahaman
bersama saat melakukan evaluasi ilmiah terhadap peluncuran GMOs di
bidang pertanian. Panduan ini menggambarkan prosedur notifikasi,
persetujuan, dan registrasi GMOs di bidang pertanian.
Menyadari pentingnya pemahaman mengenai teknologi dan penilaian
risiko untuk Manipulasi Genetika (MG), serta untuk meningkatkan
pembangunan kapasitas di bidang ini, ASEAN telah mengembangkan
Program Kesadaran Publik terhadap GMOs. Dalam program ini, Frequently
Asked Questions (FAQs) mengenai GMOs dari seluruh Negara Anggota
ASEAN dikumpulkan dan diterbitkan untuk informasi publik.
Dalam meningkatkan pembangunan kapasitas, ASEAN berkolaborasi
dengan International Life Sciences Institute Southeast Asia telah
mengembangkan serangkaian pelatihan dan workshop mengenai
penggunaan ASEAN Guidelines on Risk Assessment of Agriculture-related
GMOs yang ditujukan bagi para pejabat dan pengambil keputusan. Tiga buah
workshop telah diadakan di Singapura (2001), Kuala Lumpur (2002),
Bangkok (2003) dan Jakarta (2004).
Kerjasama Peternakan
Kerjasama ASEAN di bidang peternakan semakin berkembang, terutama
mengenai Reg