Rancang Bangun Prototype Kolektor Surya

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

ISSN 2338 1035

Fadly Rian Arikundo1, Mulfi Hazwi2
Email: arikundo@yahoo.com
1,2
Departemen Teknik Mesin, Universitas Sumatera Utara, Jln.Almamater Kampus
USU Medan 20155 Medan Indonesia
Proses pengeringan merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan pada produk
pertanian dan perkebunan untuk meningkatkan kualitas dengan cara menghilangkan sebagian
kadar air sampai batas dimana mikroba tidak dapat tumbuh. Untuk itu, pada tugas akhir ini
dirancang sebuah ruang pengering berukuran 0,5m x 0,5m x 0,7m yang menggunakan kolektor
surya pelat datar dengan ukuran 2m x 0,5m serta menggunakan ubi kayu sebagai sampel.
Perancangan alat pengeringan ini bertujuan untuk mengeringkan ubi kayu dari kadar air awal
±60% menjadi >10%. Kolektor surya diisolasi dengan
dan kayu sehingga
kehilangan panas dapat diminimalisasi. Medium pengering adalah udara panas yang dihasilkan
melalui kolektor yang menangkap radiasi sinar matahari dan dialirkan secara alamiah keruang
ruang pengering selanjutnya akan digunakan untuk mengeringkan ubi kayu. Setelah dilakukan
penelitian dengan metode eksperimen yakni dengan cara mengamati dan mengukur langsung
hal hal yang dilakukan pada alat pengering tersebut kemudian dilakukan pengolahan serta
evaluasi data penelitian. Dari hasil penelitian dan analisis yang dilakukan pada pukul 08:00–
17:00 WIB pada saat kondisi cuaca cerah, diperoleh panas radiasi rata rata yang dapat diserap
kolektor adalah 372,21 watt, kehilangan panas rata rata pada kolektor adalah 161,32 watt dan
efisiensi rata rata dari kolektor surya yang didapat selama proses pengujian adalah 40,13%.
Kata kunci : pengering, kolektor surya, perpindahan panas

!
"

#
% & '

$
() ' *
"

+
,
,
.!# #)

)&) .#

/ ).'
0

1

!
Wilayah Indonesia memiliki sinar
matahari cukup melimpah, terletak pada
daerah khatulistiwa yang mempunyai
iklim tropis dan radiasi surya hampir
sepanjang
tahun,
sehingga
pengembangan teknologi tepat guna
yang memanfaatkan sinar matahari
sebagai energi alternatif sangat sesuai
aplikasinya dalam bidang pengering
tenaga surya yang memanfaatkan sinar

matahari untuk
pengering.

memanaskan

udara

Pemanfaatan energi sinar matahari
dapat digunakan pada pengering untuk
mengurangi pemakaian energi berbasis
fosil
yang
akan
menyebabkan
pemanasan global. Pengolahan pasca
panen hasil pertanian atau perkebunan
mempunyai peranan penting dalam
kehidupan masyarakat Indonesia, yang

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

ISSN 2338 1035

sekaligus juga merupakan sumber
pemasukan devisa negara yang cukup
besar. Dengan penerapan sistem energi
sinar matahari pada teknologi ini,
diharapkan akan mempercepat proses
pengeringan dan menjaga mutu serta
kualitas produk pasca panen tersebut.
"

# $

% # %
Pengeringan merupakan proses
pemindahan panas dan uap air secara
simultan, yang memerlukan energi panas
untuk menguapkan kandungan air yang
dipindahkan dari permukaan bahan,
yang dikeringkan oleh media pengering
yang biasanya berupa panas. Tujuan
pengeringan itu sendiri adalah untuk
mengurangi kadar air bahan sampai
batas
dimana
perkembangan
mikroorganisme dan kegiatan enzim
yang dapat menyebabkan pembusukan
terhambat
atau
terhenti.
Dengan
demikian bahan yang dikeringkan dapat
mempunyai waktu simpan yang lebih
lama. Pengering surya adalah suatu
sistem pengering yang memanfaatkan
energi surya. Sistem pengering surya
terdiri dari dua bagian utama yaitu
kolektor surya dan ruang pengering [1].
& '
%# (
#
Pemanfaatan
energi
matahari
sebagai sumber energi alternatif untuk
mengatasi krisis energi, khususnya
minyak bumi, yang terjadi sejak tahun
1970 an mendapat perhatian yang cukup
besar dari banyak negara di dunia.
Disamping
jumlahnya
yang
tidak
terbatas, pemanfaatannya juga tidak
menimbulkan polusi yang dapat merusak
lingkungan. Cahaya atau sinar matahari
dapat dikonversi menjadi listrik dengan
menggunakan teknologi sel surya atau
fotovoltaik. Matahari merupakan sumber
energi yang benar benar bebas untuk
digunakan oleh setiap orang. Tidak ada
manusia yang memiliki matahari, jadi
setelah menutupi biaya investasi awal,
pemakaian energi selanjutnya dapat
dikatakan gratis.

Gambar 1. Hubungan Matahari Dan
Bumi
Setiap menit matahari meradiasikan
energi sebesar 56 x 1026 kalori. Potensi
energi surya di Indonesia sangat besar
yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara
dengan 112.000 GWp, namun yang
sudah dimanfaatkan baru sekitar 10
MWp. Jumlah ini merupakan gambaran
potensi pasar yang cukup besar dalam
pengembangan energi surya di masa
datang.
)!

)
*
Kolektor surya adalah suatu alat
yang
dapat
mengumpulkan
atau
menyerap
radiasi
surya
dan
mengkonversikan
menjadi
panas.
Kolektor surya dapat didefinisikan
sebagai sistem perpindahan panas yang
menghasilkan energi panas dengan
memanfaatkan radiasi sinar matahari
sebagai sumber energi utama. Kolektor
surya beroperasi tanpa mengeluarkan
suara (tidak seperti turbin angin besar)
sehingga tidak menyebabkan polusi
suara. Kolektor surya biasanya memiliki
umur yang sangat lama, dan biaya
pemeliharaannya sangat rendah karena
tidak ada bagian yang bergerak. Kolektor
surya juga cukup mudah untuk diinstal.
Energi surya adalah salah satu pilihan
energi terbaik untuk daerah daerah
terpencil, bilamana jaringan distribusi
listrik
tidak
praktis
atau
tidak
memungkinkan
untuk
diinstalasi.
Mengingat ratio elektrifikasi di Indonesia
baru mencapai 55 60 % dan hampir
seluruh daerah yang belum dialiri listrik
adalah daerah pedesaan yang jauh dari
pusat pembangkit listrik.
# $

+#
Dalam perencanaan suatu alat
dengan pemanfaatan tenaga surya perlu
diketahui semua jenis perpindahan
panas yang terjadi selama siklus terjadi.

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

Seperti ketika kolektor menerima panas
dari matahari maka hal itu terjadi dengan
cara radiasi, kemudian panas dari pelat
dan sisi kolektor berpindah secara
konveksi dan konduksi ke udara dan
isolator.

ISSN 2338 1035

perpindahan panas konduksi dapat
dinyatakan dengan Hukum Fourrier [2].

=−
Dimana,
= Laju perpindahan panas (Watt)

c

= Konduktivitas thermal ( W /m.K)
= Luas penampang yang terletak
pada aliran panas (m2)


 = Gradien






temperatur

aliran

Gambar 2. Perpindahan Panas Pada
Kolektor Surya Pelat Datar
• Konduksi
Konduksi
adalah
proses
perpindahan panas yang mengalir dari
benda yang bertemperatur lebih tinggi ke
benda yang bertemperatur lebih rendah
melalui benda penghubung yang diam
(tidak dalam mengalir). Besar kecil
perpindahan panas ditentukan oleh
karakteristik zat dan benda yang dilalui
panas pada waktu perpindahan dari satu
benda ke benda lain.

dalam

panas (K/m)

• Konveksi
Konveksi
merupakan
proses
perpindahan panas dari benda yang
bertemperatur lebih tinggi ke benda yang
bertemperatur lebih rendah melalui
benda penghubung, dimana benda
penghubung tersebut haruslah memiliki
sifat fluida (konduktivitas termal, kalor
spesifik dan densitas). Syarat utama
mekanisme perpindahan panas konveksi
adalah adanya aliran fluida. Perpindahan
panas konveksi pada pengering terjadi
pada fluida kerja yang digunakan
(udara)[2].

=





Dimana,
h

T∞
K)
Gambar 3. Gradient Perpindahan Panas
Pada Isolator.
Peristiwa perpindahan konduksi
pada mesin pengering tenaga surya
terjadi pada sisi sisi kolektor yang
diisolasi oleh
dan
kayu. Energi panas hilang (Qloss) dan
berpindah dari ruang dalam (kanal)
kolektor menuju temperatur yang lebih
dingin (temperatur lingkungan). Laju

= Laju perpindahan panas (Watt)
= Koefisien konveksi ( W / m2.K)
= Luas permukaan kolektor (m2)
= Temperatur dinding ( K )
= Temperatur udara lingkungan (

Korelasi yang sering digunakan dalam
menentukan
koefisien
perpindahan
panas konveksi (hc) yaitu :

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

Dimana:
Grl

= Bilangan Grashoff
= Massa jenis (kg/m3)
%
= Gravitasi (m/s )
*
=
Koefisien udara
pada
temperatur
film (1/K)
0
= Panjang Kolektor (m)
1
= Viskositas (N.s/m2)
Ral
= Bilangan Rayleigh
= Bilangan Prandt
= Bilangan Nusselt
= Lebar Kolektor (m)
ℎ;
= Koefisien konveksi (W/m2.K)
<
= Konduktivitas termal (W/m.K)
Penentuan kondisi aliran pada kasus
konveksi natural adalah menggunakan
bilangan 2 yang telah didefenisikan
pada persaman [3]:

=

β



Pada bidang miring dengan sudut
vertikal,
kemiringan
θ terhadap
percepatan gravitasi dapat diproyeksikan
menjadi
θ yang sejajar dengan
bidang. Ini berarti bidang miring dapat
dianggap sebagai pelat vertikal tetapi
θ
percepatan gravitasinya menjadi
. Maka untuk bidang miring semua
persamaan pada kasus bidang vertikal
′′ konstan dapat
dan
dengan
harus
digunakan. Tetapi gravitasi
θ saat menghitung
diganti menjadi
bilangan 2

• Radiasi
Radiasi adalah proses perpindahan
panas dari benda bertemperatur tinggi ke
benda bertemperatur rendah dimana
tidak diperlukan zat atau benda
penghubung, serta panas memancar
dengan
cara
radiasi
gelombang
elektromagnetik. Perpindahan panas
radiasi pada alat ini terjadi pada absorber
kolektor surya. Peristiwa radiasi yang
dipancarkan
oleh
matahari,
dan
dikonversikan dalam bentuk panas
terjadi pada plat absorber serta adanya
pengaruh dari emisifitas permukaan
benda hitam (plat absorber). Radiasi

ISSN 2338 1035

yang dapat ditangkap oleh luasan
kolektor dengan asumsi effisiensi kaca
90%, intensitas radiasi diperoleh dari alat
ukur, dan dihitung permenit, sehingga
energi
radiasi
dapat
di
hitung
mengunakan rumus [4]:
Q = = > ?@ ∆t F’
Dimana:
Q
= Energi Radiasi Masuk Kolektor
(Watt)
I
= Intensitas radiasi (W/m2)
A
= Luas penampang kolektor(m2)
∆t
= Selang waktu perhitungan (s)
F’
= Faktor efisiensi kolektor
A
= Transmisifitas kaca
@
= Absorbsifitas pelat
Perhitungan panas radiasi yang
hilang pada kolektor surya adalah [4]:

B

F
E
H
H
J
IE IK

F
G

C D

L

Dimana :
T
M
5 669 10 S V F (Konstanta
U W
Stefan Boltzmann)
q
= Panas radiasi yang hilang (J)
A
= Luas penampang (m²)
Tp
= Temperatur Pelat (K)
= Temperatur kaca (K)
Tc
XY
= Emisivitas pelat
X
= Emisivitas kolektor
, ( ) )!)%#

!# #

( )
#
Perancangan merupakan kegiatan
awal dari usaha merealisasikan suatu
produk yang kebutuhannya dibutuhkan
oleh masyarakat. Setelah perancangan
selesai maka kegiatan yang menyusul
adalah
pembuatan
produk.
Cara
merancang terdiri dari 4 tahap atau fase,
yang
masing masing
terdiri
dari
beberapa langkah (3
dan 4 "5.
Keempat fase tersebut adalah [5]:
1. Fase Perumusan . (,
3
5
2. Fase Fungsi (,
3
5
3. Fase Perancangan ($
3
5
4. Hasil (2
5

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

Pengeringan cassava membutuhkan
waktu pengeringan lebih kurang 46 jam
atau dua hari hingga mendapatkan kadar
air sebesar 10%, merupakan standar kering ubi
kayu. Kemudian sampel di potong dadu
1cm x 1cm x 1cm agar mudah dalam
menghitung luasan sampel. Pengujian

Gambar 6. 8
Adapun beberapa parameter yang
diukur ialah :
1. Temperatur Permukaan Kayu (T1)
2. Temperatur Ruang Kolektor (T2)
3. Temperatur Permukaan Kaca (T3)
4. Temperatur Lingkungan Sekitar (T4)
5. Temperatur Permukaan Plat (T5)
6. Intensitas Radiasi Matahari (Ga)
Parameter diatas digunakan untuk
menghitung besarnya nilai energi panas
yang hilang pada kolektor surya dan nilai
dari effisiensi kolektor surya.
Adapun prosedur pengujian yang
dilakukan adalah :
1. Alat pengering kolektor surya
dipersiapkan (
).
2. Pengering dipasang dalam posisi
yang baik dan benar.
3. Semua alat ukur yang dibutuhkan
selama pengujian dan ubi kayu
dipersiapkan.
4. Kabel kabel
dari
agilient
dipasang
pada
pelat
, boks pengering dan inti
ubi kayu.
5. 9
dihidupkan, sebelum
merekam data
di
kan
terlebih dahulu agar di layar laptop
massa berada pada posis 0 gr.
6. Ubi kayu ditimbang dan dimasukkan
kedalam boks pengering.
7. Proses perekaman data dimulai.
8. Pengeringan
dilakukan
sampai
massa ubi kayu mencapai titik
equilibrium.

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

f
=(1+0.089hw0.1166hw.εp)(1+0,07866N)
:
= Luas permukaan

9. Hasil dari pengujian dianalisis

.

ISSN 2338 1035

!#
!#

#!

%

)!

Kehilangan Panas
Samping (Q1, Q2)
Z

[\ > ]^ _ ]

L
`
bF

L

a

H

a

fhpq

bH
Gcde

Sisi

bV

a

fghijkjcl

a

)

Alas

bm

Dan

a

ijKGnjjo

L
V

Dimana :
h1
= Koefisien konveksi permukaan
luar
(W/m2.K)
= Konduktifitas termal kayu
kkayu
(W/m.K)
ksterofoam= Konduktifitas termal sterofoam
(W/m.K)
krockwoll = Konduktifitas termal rockwoll
(W/m.K)
kseng = Konduktifitas termal seng
(W/m.K)
= Koefisien konveksi permukaan
h2
dalam (W/m2.K)
t1
= Tebal kayu (m)
t2
= Tebal sterofoam (m)
t3
= Tebal rockwoll (m)
t4
= Tebal plat seng (m)
= Luas total sisi dinding (m2)
:



#!

%

# #

&

hasil
rancangbangun
mesin
pengering
dan
pengujian performansi mesin pengering
hasil pertanian dan perkebunan tenaga
surya.

: 7 > 5

Dimana:
N
= Jumlah penutup/kaca
Tp = Temperatur plat absorber
σ
= Konstanta Stefan Boltzman
Ta = Temperatur lingkungan
C
= 520(1 0,000051β2)untuk
β≤70°
e
= 0.43 (1 (100/Tp))
= Emisivitas Kaca
εk
= Emisivitas Plat
εp
h
= Koefisien kalo konveksi

Dimana:
F'
= Faktor Efisiensi Kolektor =
90%
A
= Luas penampang Kolektor = 1
m2
?
= Transmisivitas kaca
=
0.85
α
= Absorbsivitas Plat
=
0.97
I
= Intensitas Radiasi Matahari
;
= Total kehilangan panas
kolektor
= Total panas yang masuk
;
kolektor
(Watt)
= Total panas yang digunakan
;
(Watt)
#!
Berikut

/0,1
;. < =

'# #
#
Pada perhitungan efisiensi kolektor
surya, nilai dari faktor efisiensi kolektor
(F’) diasumsikan adalah 90%. Nilai
absorbsifitas dari plat yang dicat hitam di
asumsikan 0.97 [4].

=2
= 80.42 oC
= 5.67x10 8 W/m.C4
= 32.48 oC
0°≤
= 0.30833147
= 0.88
= 0.97
2.8+3v

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

ISSN 2338 1035

beberapa faktor, diantaranya adalah
adanya perbedaan tempat pengukuran
atau letak alat ukur, dimana pengukuran
oleh Hobo dilakukan di gedung Magister
Teknik Mesin USU lantai empat
sedangkan pengukuran oleh Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) dilakukan di kantor BMKG
Sampali. Faktor lain diantaranya adalah
ketinggian pengukuran.

Gambar 9. Grafik Waktu vs Temperatur
Pada Tanggal 01 Maret 2013

Gambar 7. Alat Pengering
Perbandingan antara data intensitas
radiasi matahari hasil pengukuran pada
pengujian dengan radiasi surya dengan
data intensitas radiasi matahari hasil
pengukuran BMKG Kota Medan dapat
dilihat pada grafik di bawah ini :

Gambar 10. Grafik Waktu vs Efisiensi
dan Intensitas Radiasi Matahari Pada
Tanggal 01 Maret 2013
Perhitungan efisiensi kolektor tiap 15
menit pada tanggal 1 Maret 2013 pada
pukul 10:16 WIB sampai dengan pukul
13:42 WIB diperoleh effisiensi kolektor
rata rata pada sampel pertama (hari
pertama) adalah ƞ = 45.29 %.

Gambar 8. Grafik Perbandingan
Intensitas Radiasi Matahari Pengukuran
Hobo dan Pengukuran BMKG Tanggal
06 Maret 2013.
Adanya
bias
antara
hasil
pengukuran intensitas radiasi matahari
oleh alat pengukur Hobo dan hasil
pengukuran intensitas radiasi matahari
dari alat ukur solarmeter oleh Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG) wilayah Medan. Terdapatnya
bias pengukuran disebabkan oleh

Gambar 11. Grafik Waktu vs Temperatur
Pada Tanggal 02 Maret 2013

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

Gambar 12. Grafik Waktu vs Efisiensi
dan Intensitas Radiasi Matahari Pada
Tanggal 02 Maret 2013

ISSN 2338 1035

Gambar 15. Grafik Waktu vs Temperatur
Pada Tanggal 06 Maret 2013

Perhitungan efisiensi kolektor tiap 15
menit pada tanggal 02 Maret 2013 pada
pukul 08:42 WIB sampai dengan pukul
16:16 WIB diperoleh effisiensi kolektor
rata rata pada sampel pertama (hari
kedua) adalah ƞ = 40.88 %.
Gambar 16. Grafik Waktu vs Efisiensi
dan Intensitas Radiasi Matahari Pada
Tanggal 06 Maret 2013

Gambar 13. Grafik Waktu vs Temperatur
Pada Tanggal 05 Maret 2013

Perhitungan efisiensi kolektor tiap 15
menit pada tanggal 06 Maret 2013 pada
pukul 08:58 WIB sampai dengan pukul
15:34 WIB diperoleh effisiensi kolektor
rata rata pada sampel kedua (hari
kedua) adalah ƞ = 38.25 %.
Hasil analisis selama empat hari
pada cuaca cerah diperoleh panas
radiasi rata rata yang dapat diserap
kolektor adalah 372.21 watt. Kehilangan
panas rata rata pada kolektor adalah
161.32 watt. Efisiensi teoritis rata rata
dari kolektor surya 40.13%.
2

Gambar 14.Grafik Waktu vs Efisiensi dan
Intensitas Radiasi Matahari Pada
Tanggal 05 Maret 2013
Perhitungan efisiensi kolektor tiap 15
menit pada tanggal 05 Maret 2013 pada
pukul 08:48 WIB sampai dengan pukul
14:05 WIB diperoleh effisiensi kolektor
rata rata pada sampel kedua (hari
pertama) adalah ƞ = 36.12 %.

#&+ !
#&+ !

Kesimpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah:
1. Telah dirancangbangun sebuah
ruang pengering berukuran 0.5m x
0.5m x 0.7m yang menggunakan
kolektor surya pelat datar sebagai
sumber panasnya dengan ukuran
2m x 0.5m dan menggunakan panas
matahari sebagai sumber energinya
serta menggunakan ubi (cassava)
sebagai sampelnya.
2. Dari perhitungan diperoleh panas
radiasi rata rata yang dapat diserap

Jurnal

Dinamis, Volume. 8, No.4 Maret 2014

kolektor
adalah
372.21
watt.
Kehilangan panas rata rata pada
kolektor adalah 161.32 watt.
3. Efisiensi teoritis rata rata dari
kolektor surya 40.13%.
4. Adanya bias intensitas matahari
antara pengukuran Hobo dan
pengukuran di BMKG diakibatkan
karena adanya perbedaan letak dan
tempat pengukuran.
Adapun saran untuk perbaikan
skripsi ini adalah:
1. Diperlukan penelitian lebih lanjut
untuk mengetahui besar nilai
absorbsifitas pada jenis cat yang
digunakan pada pelat absorber pada
kolektor.
2. Diperlukan penelitian terhadap jenis
kaca, jumlah kaca dan jarak antara
kaca yang baik digunakan pada
kolektor.
3. Menambah roda pada kaki kaki
mesin
pengering
agar
mempermudah
dalam
proses
pemindahan.
4. Menambahkan lapisan isolasi pada
bagian ruang
pengering untuk
mengurangi panas yang hilang.

'
[1] Thaib, Gumbira Said dan Suteja
Wiraatmadja. S. 1988. ?
3
3
3
@
3
. PT Mediatama
Sarana Perkasa: Jakarta
[2] Yunus,
A.
Cengel.
2002.
@
:
3
:
6
8
Mc
Graw Hill, Book Company, Inc:
Singapore.
[3] Ambarita,
Himsar.
2011.
3
3
0
3
:
3
0
Medan: Departemen Teknik Mesin
FT USU.
[4] Duffie A. John, Beckman A.
William.1980. 6
?

ISSN 2338 1035

3
6
8
John
Wiley & Sons, Inc: New York.
[5] Pahl, G. Beitz. 1998. 8
$
: 6
:
78
8
5. Springer Verlag:
London.
[6] Incropera, Frank P., David P.
Dewitt. 1985. ,
@
+
, 6
8
. John Wiley & Sons Inc. :
New York.

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3884 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1034 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 927 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 623 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 777 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1323 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1222 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 808 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1093 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1322 23