Faktor faktor yang berhubungan dengan manfaatan Posyandu lansia oleh kelompok usia lanjut didesa Kemalara dalam wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja OKU Tahun 2013. Saprianto, M.Kes

Faktor-faktor yang berhubungan dengan manfaatan Posyandu lansia oleh
kelompok usia lanjut di desa l(emalara.ia dalam wilayah keria Puskesmas
Kemalaraja I(abupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2013
Saprianto. SKM. M.Kes.
Poltekkes Palembang Prodi keperawatan Batura.ia

ABSTRAK
Pendahuluan : Berdasarkan laporan pembinaan ltesehatan Lrsia lan-iLrt dinas kesehatan
OKU diperoleh data bahwa.iumlah larrsia di kabupaten OKU ber"iLrrnlah 23.205 orang yang
terdiri dari 10.822Iaki-laki dan 12.239 rvanita. Puskesrras kernalara-ja mempunya urLrtan
ketiga terbanyal<. dari puskesmas yang ada di kabupaten OKLJ yaitu beriumlah 2.328 lansia
dan hanya 88 orang lansia yang hadir pada kegiatan kelornpok. Belttm diketahLrinya
faktor-faktor yang berhubungan dengan pernanfaatan posyandu lansia di desa kemalara-ia
Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Korrerirrg ulu TahLrn 2013.

Metode

;

penelitian ini rnerLrpal
desain cro.s,y ,yectionul untuk melihat Penelitiarr ini lnerupakan penelitian survey dengan
pendekatan C'ro.ss Sectional. Dikatahan penelitian sllrve)' l
diambil dari popLrlasi untuk merlperoleh

ke.jadiarr-he-iadiarr

relative. distribusi

dan

hubungan antar variable. Dalarn penelitian ini peneliti nrelihat gambaran pemanfbatan dan
faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanf-aatan posl'andu lansia di desa kemalara-ia
Kecamatan Batura.ia TimLrr Kabupaten Ogan Korrering Lrlu Tahun 2013. Setelah semua
data dioteh kemudian data dianalisis denan rnengunakan Lrji statistil< chi square.

: Hasil penelitian didapatkan dari l7-5 lansia ada 46.3 7o lansia yang
posyandu
darr lebih dari sabagiarr larrsia tidak tnemanfaathan posyandu
rnemanfaatl(an
larrsia yaitu berjumlah 53.7 %. Dari hasil irji statistil< bivariat didapatkan bahwa ada
hubungan yang bernrakna antara jarak tempat tinggal dengan pemanf-aatan posyandr"r,
sedangl keluarga dari hasil uji statistik tidak menunjLrkliarr hubungan bertnakna dengan kLrniungarr
lansia ke Posyandu.

Hasil penelitian

Simpulan dan saran:Dari hasil Lrji statistik bivariat didapatkan bahwa ada hubungan
yang bermakna antara jarak tempat tinggal dengan pernanfhatan posyandu. Dan diberikan
saralt agar keluarga rnerrbantu untuk transportasi lansia Inennjr-r posyandu dan perlu
pendekatan petugas kesehatan dengarr pihak kelLrarga.

Kata kunci : Posyandu

r"rsia

lanjut.

I
:
I

t

FAKTOR.FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFMTAN POSYANDU
LANSIA OLEH KELOMPOK USIA LANJUT DI DESA KEMALARAJA DALAM WLAYAH
KERJA PUSKESMAS KEMALARAJA KABUPATEN OKU TAHUN 20,13.

I.

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Tujuan pembangunan nasional adalah untuk meningkatkan derajat kesejahteraan pada
berbagai sendi kehidupan masyarakat, yaitu masyarakat yang adil dan makmur
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Datam upaya mewujudkan cita-cita bangsa
dimaksud maka pembangunan di semua sektor terus digalakkan, termasuk sektor
kesehatan. Dalam perjalanannya pembangunan sektor kesehatan tidak selamanya
berjalan mulus, hal ini disebabkan banyaknya ragam masalah kesehatan yang selalu
dihadapi dan masalah tersebut antara lain masalah kesakitan karena penyakit
degeneratif. Depkes Rl (2002), Keberhasilan pembangunan sektor kesehatan
memberikan salah satu dampak yaitu meningkatnya Umur Harapan Hidup (UHH), dimana

pada tahun 1980 Umur Harapan Hidup wanita 54 tahun dan laki-laki 50,9 tahun,
sedangkan pada tahun 1995 mencapai 66,7 tahun untuk wanita dan 62,9 tahun untuk
laki-laki.

Seperti kita ketahui usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari
kapan sebenarnya seseorang memasuki masa lanjut usia. Jawabannya belum ada
ketentuan pasti, beberapa ahli membedakan 2 macam umur, yaitu umur biologis dan
umur kronologis. umur biologis adalah proses penuaan secara terus menerus, yang di
tandai dengan menurunnya daya tahan fisik, Menurut pasal 19 UU No 23 tahun 1992
tentang kesehatan, umur kronologis adalah usia seseorang ditinjau dari hitungan umur
dan angka. Keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin
meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan serta
peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya
guna, dan produktif.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan makin panjangnya usia harapan
hidup sebagai akibat yang telah dicapai dalam pembangunan perlu mendapat perhatian
khusus dari pemerintah dan masyarakat karena kondisi fisik dan mentalnya yang tiak

memungkinkan lagi untuk berperan dalam pembangunan. (GBHN, 1993). Dengan
meningkatnya jumlah penduduk tersebut akan menimbulkan berbagai masalah antara
lain, masalah medis, teknis akibat proses degeneratif yang terjajdi. Untuk meminimalkan

risiko, pemerintah perlku menciptakan suatu program agar usia lanjut tetap sehat,
produktif dan tidak ketergantungan pada orang lain. Meningkatnya jumlah lansia dengan
berbagai masalah yang berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, baik fisik,
mental maupun sosial dan ekonomi, sehingga memerlukan pelayanan khusus termasuk

pelayanan lansia. Saat ini telah dilakukan berbagai upaya yang dilakukan atau
dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan
produktif untuk lanjut usia, diantaranya dengan meningkatkan cakupan, keterjangkauan
dan mutu pelayanan kesehatan. Menurut Depkes Rl (2003) tujuan dilakukan pembinaan
kesehatan lansia yaitu untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan
keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam masyarakat. Salah satu

bentuk kegiatan yang perlu digalakkan adalah mendorong pembentukan

dan

pemberdayaan usia lanjut seperti kelompok lanjut usia dengan didirikan posyandu lansia
yang sekarang sudah mulai berkembang.
Berdasarkan Laporan Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bulan Desember (2012) Dinas

Kesehatan Kabupaten OKU, diperoleh data bahwa, jumlah lansia di kabupaten Ogan
Komering Ulu beflumlah23205 orang yang terdiri dari 10.822lansia laki-laki dan 12.239
lansia perempuan, Dari jumlah tersebut urutan ketiga terbanyak adalah dalam wilayah
kerja Puskesmas Kemalaraja yaitu sejumlah 2.328 orang lansia, jumlah lansia yang
dibina terdiri dari 616 orang lansia laki-laki dan 640 orang lansia perempuan. Masih
menurut laporan diatas, untuk bulan desember 2012, dari 11 kelompok lansia yang dibina

hanya 88 orang lansia yang hadir pada kegiatan kelompok. Situasi ini menunjukkan
masih rendahnya minat para lansia untuk melakukan kunjungan ke Posyandu lansia.
Salah satu desa yang dibina oleh Puskesmas Kemalaraja adalah desa Kemalaraja, di
desa ini jumlah lansia yang berumur antara 49-59 tahun adalah sejumlah 175 orang.

Rumusan Masalah
Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Posyandu
Lansia oleh lanjut usia di Desa Kemalaraja dalam wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja
kecamatan Baturaja Timur kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2013.

c. Tujuan Penelitian.
1. Tujuan Umum
Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia

oleh lanjut usia di desa Kemalaraja dalam wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja
kecamatan Baturaja Timur kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2013.

2.

Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran pemanfaatan Posyandu Lansia oleh usia lanjut di desa
Kemalaraja dalam wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja,
b. Diketahuinya hubungan jenis kelamin dengan pemanfaatan Posyandu Lansia,
c, Diketahuinya hubungan tingkat pendidikan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
d. Diketahuinya hubungan.pekerjaan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
e. Diketahuinya hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
Hubungan sikap dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
g. Hubungan jarak tempat tinggal dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.
h. Hubungan dukungan keluarga dengan pemanfaatan Posyandu Lansia.

f,

D.

Ruang Lingkup penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di desa Kemalaraja dalam wilayah
kerja pusat Kesetahan
Masyarakat Kemalaraja kecamatan Baturaja iimur tahun zbta.
adapun ,ari.Ld yrng
diteliti adalah: jenis kelamin usila, tingkat pendidikan usila, pekerjaan
usila, p.nt.1unr4

dan sikap kelompok usia lanjut, jarak tempat tinggal ke posyand,
r.ri, jukungan
keluarga kelompok usia lanjut dalam hubungannyi-dengan pemanfaatan posyandu
lanjut usia.
III. TINJAUAN PUSTAKA

A.

Lanjut Usia (Lansia)

1.

Pengertian

.

Berbagai istilah_berkembang terkait dengan lanjut usia, yaitu:
Gerontologi, geriati dan
keperawatan gerontik. Gerontologiberasal dari kita Geiros
= tanjut usia dan logos I ilmu. Jadi
gerontologik adalah ilmu yang secara khusus mempelajari
secara khusus mlngenai faktorfaktor yang menyangkut lanjut usia.

Geriati:

a. cabang ilmu kedokteran yang mempelajaritentang penyakit pada lanjut usia.
b. Cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspetlaipeft Hinis, preventif maupun

c'
d'

bagi klien lanjut usia.

terapeutis

llmu yang mempelajari proses menjadi tua pada manusia serta
akibat-akibatnya pada

tubuh manusia,

Bagian dari ilmu kedokteran yang mempelajari tentang pencegahan penyakit
dan

kekurangan-kekurangan pada usia lanjut.

UU no 13 tahun 1999, tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut
adalah
seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun. Pendapat
lain di(emukakan

Notoatmodio (2007) usia laniut adalah kelompok orang yang
sedang mengalami suatu proses
perubahan yang bertahap daram jangka waktu
beberafade[aoe.
Menurut WHO usia lanjut meliputi:
Usia pertengahan adalah kelompok usia 45-59 tahun
Usia lanjut adalah kelompok usia antara 60_70 tahun
Usia lanjut tua adalah kelompok usia antara 75-g0 tahun
Usia sangat tua adalah kelompok usia diatas g0 tahun

a.
b.
c.
d.

Pendapat lain dikemukakan oreh setyonegoro

daram

mengelompokkan usia lanjut menjadi:
Usia dewasa muda yaitu umur 1g atau 20-25 tahun
Usia dewasa penuh yaitu umur 25-60 atau 65 tahun

a.
b.
c.
d.
e.
.

f

Lanjut usia, yaitu usia lebih dari 65 atau 70 tahun
Young gold, yaitu usia 70-75 tahun
O/4 yaitu usia 75-80 thun'
Very old, yaitu usia lebih dari g0 tahun

daram Nugroho

w (2000),

2.

Proses penuaan

Menua (menjadi tua) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan
diri /mengganti dan mempertahankan fungsi

kemampuan jaringan untuk memperbaiki

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita {Constantinideg94 dalam Nugroho W,2000). Proses menua merupakan proses yang
terus-menerus secara alamiah. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk
hidup, Proses menua setiap individu pada organ tubuh juga tidak sama cepatnya. Adakalanya

orang belum tergolong lanjut

usia (masih

muda) tetapi kekurangan-kekurangnya yang

menyolok (Deskripansi). Secara individual:
a. Tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda
b. Masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda
c. Tidak ada satu faktor pun ditemukan untuk mencegah proses menua.
3. Permasalahan yang terjadi pada usia lanjut

Proses menua didalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar
akan dialami semua orang yang dikaruniai umur panjang. Hanya lambat cepatnya proses

tersebut bergantung pada masing-masing individu yang bersangkutan. Adapaun
permasalahan yang berkaitan dengan lanjut usia antara lain:

a. Secara individu, pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah,

baik

secara fisik-biologik, mental maupun sosial ekonomis.

b.

Lanjut usia tidak saja ditandai dengan kemunduruan fisik, tetapi dapat pula berpengaruh
terhadap kondisi mental. S

c. Pada usia
d.

e.

f.

mereka yang telah lanjut, sebagian daripada lanjut usia tersebut masih

mempunyai kemampuan untuk bekerja.
Disamping itu masih ada sebagian dari lanjut usia dalam keadaan terlantar, selain tidak
mempunyai bekal hidup dan pekerjaan/penghasilan, mereka juga tidak mempunyai
keluarga/sebatang kara,
Dalam masyaralat tradisional biasanya lanjut usia dihargai dan dihormati sehingga mereka
masih dapat berperan yang berguna bagi masyarakat.
Didasarkan pada sistem kultural yang berlaku maka mengharuskan generasi tua/usia lanjut
masih dibutuhkan sebagai pembinaan agar jatidiri budaya dan ciri-ciri khas lndonesia tetap
terpeli hara kelestariannya.

g. Karena kondisinya,

usia lanjut memerlukan tempat tinggal atau fasilitas perumahan yang

khusus.

B.

Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah bentuk pos pelayanan terpadu seperti posyandu pada
umumnya. Namun Posyandu lansia lebih di khususkan kepada penanganan permasalahan
usia lanjut. Menurut Notoatmodjo (2007) peningkatan sistem pelayanan kesehatan lansia
salah satunya yaitu dengan Posyandu lansia, yang bertujuan untuk meningkatkan derajat
kesehatan dan mutu kehidupan para lanjut usia dengan menanamkan pola hidup sehat, Lebih
lanjut dijelaskan dengan meningkatkan kualitas hidup lansia memberikan beberapa manfaat
yaitu:

1. Memberikan kesempatan bagi para lanjut usia yang potensial untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya, baik untuk berkarya lebih lanjut ataupun untuk

pengembangan hobi mereka melalui lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan formal
maupun non formal.

2. f,/emberikan kesempatan dengan memberdayakan para lanjut usia yang potensial dan
produktif untuk berkarya sesuai dengan kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya,
ketaqwaan para lansia sesuai agamanya atau
kepercayaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta memandu pelaksanaannya dalam

3. Meningkatkan dan memantapkan iman dan

kehidupan sehari-hari.
Manfaat Posyandu lansia menurut Depkes Rl (2006)antara lain:
1. Meningkatnya kesadaran para lanjut usia untuk membina sendiri kesehatannya.

2. Meningkatnya
3,

kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam menghayati
dan mengatasi kesehatan lanjutn usia,
Meningkatnya upaya kesehatan lanjut usia dengan mengintegrasikan pelayanan kesehatan
lanjut usia dengan berbagai kegiatan seperti kesehatan olahraga, gizi, perawatan
kesehatan masyarakat, pengobatan dan kesehatan jiwa.

Menurut Ridwan (1999) peran keluarga dalam pembinaan terhadap lanjut usia
1. Memberikan fasilitas atau kemudahan bagi lansia untuk mengamalkan kemampuan dan
keterampilan yang dimiliki.

2, Pembinaan agama
3. Pembinaan fisik
4. Pembinaan psikhislmental
5. Pembinaan sosial ekonomi
6. Memberikan makanan bergizidan penyediaan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
7. Aktifitas olahraga ringan bagi lansia agar tetap sehat dan bugar
8. Memberikan perawatan bagi lansia yang sakit
9. Menjaga agar lansia menghindari makan, minum atau tidur yang tidak teratur.

C.

Konsep Keluarga

1. DefinisiKeluarga
Undang Undang No 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan
pembangunan keluarga sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
darim suami-istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. Pendapat lain
arti keluarga menurut Friedman (1998) mendifinisikan keluarga adalah kumpulan dua orang

atau

lebih yang hidup bersama dengan

keterikalan aturan dan emosional dan individu

mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.
Menurut Depkes Rl, (1995), keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Pengertian lain keluarga adalah merupakan
suatu gejala yang universal dan mempunyai empat karakteristik universal dapat dilihat dari
keluarga

a. Keluarga terdiri

dari orang-orang yang bersatu karena ikatan-ikatan perkawinan, sedarah

atau adopsi

b. Para anggota suatu keluarga biasanya hidup

bersama-sama dalam satu rumah dan

mereka membentuk satu rumah tangga.

c. Keluarga merupakan satu kesatuan orang-orang yang berinteraksi dan

saling
berkomunikasi, yang memainkan peran suami dan istri, bapak dan ibu, anak dan saudara.

d. Keluarga mempertahankan suatu
2.

kebudayaan bersama yang sebagian besar berasal dari
kebudayaan umum yang luas.
Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri atas bermacam-macam, diantaranya adalah:
a. Patrilineal

Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi dimana hubungan itu disusun menurut garis ayah.

b. Matilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi dimana hubungan itu disusun menurut garis ayah.

c.
d.

e.

3.

Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri
Patrilokal
Adalah sepasang suamiistriyang tinggal bersama keluarga sedarah suami
Keluarga Kawinan
Adalah hubungan suami iski sebagai dasar bagi pembinaan keluarga dan beberapa
sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami

atau istri.
Type lBentuk Keluarga
a. Keluarga inli (nuclear family)
Adalah keluarga yang terdiridariayah ibu dan anak
b. Keluarga besar (exfended familiy)

Adalah keluarga inti ditambah sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan,

c.

saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.
Keluarga berantai (serial family)

d.

Adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan
merupakan satu keluarga inti.
Keluarga janda/duda (single family)

e.

f,
4.

Adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian
Keluarga berkomposisi (composite)
Adalah keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersamaan.
Keluarga kabitas (cahabitation)
Adalah dua orang menjadi satu keluarga tanpa perkawinan tetapi membentuk satu

keluarga.
Struktur keluarga

Struktur keluarga dapat menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsi
keluarga dimasyarakat sekitarnya. Parad dan Caplan (1965) dalam Suprajitno, (2004) yang
diadopsi oleh Friedman mengatakan ada empat elemen struktur keluarga, yaifu:
Struktur peran keluarga, menggambarkan peran masing-masing anggota keluarga dalam
keluarga sendiri dan perannya dilingkungan masyarakat atau peran formal dan informal.
Nilai atau norma keluarga, menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini
oleh keluarga, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan.
Pola komunikasi keluarga, menggambarkan bagaimana cara dan pola komunikasi ayahibu (orang tua), orang tua dengan anak, anak dengan anak dan anggota keluarga lain.

a.
b.
c.

d.

Skuktur kekuatan keluarga, menggambarkan kekuatan anggota keluarga

5.

mempengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah perilaku keluarga yang
mendukung kesehatan.
Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga
Patriakal
Yang dominan dan memegang kekuasaan keluarga dalam adalah pihak ayah

a.
b.

untuk

Matiakal

Yang dominan dan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.
Equalitarian
Yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah ayah dan ibu
Fungsi Keluarga

c.

6.

Ada lima fungsi keluarga dalam masyarakat yang dikemukakan WHO dalam Depkes Rl
(1995) yaitu sebagai berikut:
Fungsi biologis

a.

b.

c.

1) Fungsi meneruskan keturunan
2) Membesarkan anak
3) Memberikan makanan bagi keluarganya
4) Melindungi kesehatan para anggotanya
5) Memberikan kesempatan untuk berekreasi pada anggotanya
Fungsi psikologis

1) ldentitas keluarga serta aman
2) Pendewasaan kepribadian bagi para anggotanya
3) Perlindungan secara psikologis
4) Kemampuan untuk mengadakan hubungan keluarga dengan keluarga
lain/masyarakat
Fungsi sosiobudaya

1) Meneruskan nilai-nilai budaya
2) Sosialisasi
3) Pembentukan norma-norma, tingkah laku pada tiap tahap perkembangan anak serta
kehidupan keluarga

d.

4) Fungsisosialekonomi
5) Mencari sumber-sumber untuk memenuhifungsi lainnya
6) Pembagian sumber-sumber tersebut untuk pengeluaran/tabungan
7) Pengaturan ekonomi I keuangan
Fungsi pendidikan

1) Penanaman keterampilan, tingkah laku dan pengetahuan dalam hubungan dengan

2)
3)

fungsi-fungsi lain
Persiapan untuk kehidupan dewasa
Memenuhi peranan sebagai anggota keluarga dewasa.

D.

Konsep Perilaku

1. Konsep Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu, dan

ini terjadi setelah

orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Notoatmodjo (2003) mendefinisikan
pengetahuan adalah hasil dari tahu, yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. .Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovet behaviofl.
Proses Adopsi Perilaku

a.

Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari

oleh

pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
Penelitian Rogers 11974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru
(berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yakni berurutan, yakni :

1)

Awarennes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui
terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek).

2) lnterest, dimana orang mulaitertarik kepada stimulus
3) Evaluation (menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi
dirinya). Hal ini berartisikap responden sudah lebih baik lagi.
4) In'al, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru
s) Adoption dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran,
dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan
perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut diatas. Apabila penerimaan perilaku baru
atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran

dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long

lasting).

Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak
akan berlangsung lama,
Tingkatan pengetahuan didalam domain kognitif
Pengetahuan yang dicakup di dalam kognitif mempunyai 6 tingkatan yakni :
Tahu (know): tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recalf) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima.
Memahami (Comprehensrbnl; memahamidiartikan sebagaisuatu kemampuan untuk

b.

1)

2)

3)

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham
terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.
Aplikasi (Application): aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajri pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini
dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasiyang lain.

4)
5)

6)

Analisis (Analysis): analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu

struktur organisasi tersebut yang masih ada kaitannya satu sama lain.
Sintetis (Synfhesfts): sintetis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintestis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi-formulasi yang ada.
Evaluasi (Evaluation): evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek Penilaian-penilaian itu
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria
yang telah ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penlitian atau responden.
Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan
tingkat-tingkat tersebut d iatas.

2.

Konsep Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau obyek. manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya
dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukan
konotasi adanya kesesuaian rekasi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-

hari merupakan reaksi yang bersifat emosional, terhadap stimulus sosial. New comb, salah
seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan
suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau
tingkah laku yang terbuka, Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap obyek di
lingkungan iertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek.
a. Komponen pokok sikap
Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai3 komponen pokok
Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu obyek
Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek
Kecendrungan untuk bertindak (tend to behave).

1)
2)
3)

b.

1)

2)
3)

:

Berbagaitingkatansikap
Sepertihalnya dengan pengetahuan, sikap initerdiridari berbagai tingkatan, yakni

:

Menerima (Receiving): menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
mem perhatikan stim ul us yang d iberik an (obyek).

Merespon (Responding): memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan
suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas
pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

Menghargai (Valuing): mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi tingkat 3. Misalnya:

4) Bertanggung Jawab (Responsible): bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

3.

Praktek atau findaka n (practice)

suatu sikap belum otomatii tenuujud
dalam suatu tindakan (oveft behaviorl.
untuk
terwujudnya sikaP agar menjadi
suatu perouatan-nyata'oip.irxrn
faktor pendukung atau
kondisi yang memungtint [i[-aoatan rriirit*-5kro
yang pisistif teiiradap
imunisasi harus mendlpat konfirmasi
iari suaminya, oan aoa iasilitas yang mudah
dicapai,
agar ibu tersebut meng-imunisasikan
,nrknyr.
obamping iariJr rasiritas, juga
diperrukan
faktor dukungan (support) dari pihak
lrin,
Tingkat-tingkat praktek :

il,

a'
b'
c'
.
d'

Persepsi (percetakan): mengenar
dan memirih berbagai obyek sehubungan
dengan
tindakan yan g akan diam bir aJarah
meiupatan prrL*.tiigkai pertama.

Respon Terpimpin (Giuded Rrrr;r;;),
dapat melakrrran".esuatu sesuai
dengan urutan
yang benar sesuai dengan contoh
aoaLn ni.rrprtrnlilkrtr; praktek
tingkat
dua.
Mekanisme (mechaniim): apabila
t.r.or.ng telah dapat melakukan sesuatu dengan
benar secara otomatis,'atau sesuatu-it,
,rirr,
kebiasaan, maka ia sudah
mencapai

;.rffi;;;

praktek tingkat tiga.

Adaptasi (adaptatioi): ad-apatasi
adarah
suatu praktek atau tindakan yang
-iinortrn
sudah
berkembang dengan baik, Artinya
;;;;h-'dimodifikasikannya tanpa

mengurangi kebenaran tindakan
teriebut.

id

III. HASIL PENELITIAN

A. HasilPenelitian
1. Univariat

r.mlTglli:llr1rl

Distribusi Frekuensi
Dalam wilayah Kerja

oreh Lansia Di Desa Kemararaja

puskerr* Kr*rr.r-4a
Tahun 2013

Kecamatan-Baturala rimur

Dilihat

dari tabel 3:1,-diskibusi frekuensi pemanfaatan posyandu
oteh lansia di Desa
Kemalaraja dalam wilayah re4a eusresmJs
xematarala didapatkan hasil bahwa
dari
175 orang lanjut usia, seiumtin
ao.3y" memanfaatkan
ransia
0/o
dan
sejumrah
53.7
tidak memanfaatkan poryrnOu lrnrirl

p.rril;

Tabel 3 : 2
Lansia Di Desa Kemalaraja Dalam wilayah
Kelamin
Distribusi FrekuensiJenis

KerjaPuskesmasKemalarajaKecamatanBaturajaTimur
Tahun 2013
Persentase

Jenis Kelamin

Jumlah

Laki-laki

86

49.1

Perempuan

89

50.9

Jumlah

175

100

Kemalaraja dalam w1!v.!!
Dari tabel 3: 2, Distribusi frekuensijenis kelamin lansia di desa
lansia, sejumlah 49'1Yo
kerja puskesmas Kemalaraja, dapit dilihat bahwa dari 175 orang
laniia adalah laki-lakidan sejumlah 50.9% adalah lansia perempuan.

3: 3
Di
Desa Kemalaraja Dalam Wilayah Keria
Distribusi Frekuensi Pendidikan Lansia
Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur
Tabel

Tahun 2013
Pendidikan

Jumlah

Persentase

Tinggi

102

58,3

Rendah

73

41.7

Jumlah

175

100

Dilihat dari tabel

3:3 Distribusifrekuensi pendidikan Lansia Di Desa Kemalaraja dalam

58'3% adalah
wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja, dari 175 orang lansia, sejumlah
adalah lansia
41.7o/o
sejumlah
sisanya
tansia dengan kelompok pendidikan tinggi dan
dengan pendidikan rendah'
Tabel 3: 4
Di Desa Kemalaraja Dalam wilayah Kerja
Lansia
Pekerjaan
Frekuensi
Diskibusi
PuskesmasKemalaraja Kecamatan BaturajaTimur
Tahun 2013
Persentase
Jumlah
Pekeriaan

Beke4q-

134

76.6

Tidak bekeria

41

23.4

Jumlah

175

100

dalam wlayah
Daritabel3:4 DistribusiFrekuensipekeriaan lansia didesa Kemalaraja
sejumlah
lansia,
175
orang
Kerja Puskesmas Kemalaraja dapat diunat bahwa dari
23'40/0 adalah lansia yang
16.60/o lansia yang bekerja, sedangkan sisanya sejumlah
tidak bekerja.

Tabel 3 : 5
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Lansia Di Desa Kemalaraja Dalam Wilayah
Kerja Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur
Tahun 2013
Penqetahuan

Jumlah

Persentase

Baik

128

73.1

Kuranq baik
Jum[ah

47
175

26.9
100

Dilihat dari tabel 3:5 Distribusi fekuensi pengetahuan lansia di desa Kemalaraja dalam
wilayah kerja Puskesmas Kemalaraja dapat dilihat bahwa dari 175 orang lansia
yang menjadi responden penelitian, sejumlah 73.1o/o adalah lansia berpengetahuan
baik dan sejumlah 26.9Yo adalah lansia yang berpengetahuan kurang baik.

fabel 3 : 6
Distribusi Frekuensi Sikap Lansia Di Desa Kemalaraja Dalam Wlayah Kerja
Puskesmas Kemalaraja Kecamatan BaturajaTimur
Tahun 2013
Sikap
Jumlah
Persentase

Positif
Negatif

134

76.6

41

23.4

Jumlah

175

100

Daritabel 3:6 Distribusifrekuensisikap lansia didesa Kemalaraja dalam wilayah kerja
Puskesmas Kemalaraja diatas dapat dilihat bahwa, sebanyak 76.60/o adalah lansia
yang mempunyai sikap positif sedangkan sisanya sejumlah 23.4Yo adalah lansia yang
mempunyai sikap negatif.
Tabel

3:

7

Distribusi Frekuensi Jarak rempat ringgal Lansia Di Desa Kemalaraja Dalam
Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur
Jarak Tempat Tinqoal
Mudah diianqkau
Tidak Mudah diianokau
Jumlah

Tahun 2013
Jumlah

Persentase

144

82,3

31

17.7

175

100

Dilihat dari tabel 3:7 Distribusi frekuensijarak tempat tinggal lansia di desa Kemalaraja
Dalam wilayah'kerja Puskesmas Kemalaraja, dari 175 orang lansia, sejumlah 823;/o

lansia mengungkapkan bahwa posyandu lansia mudah dijangkau dan hanya 1T]Yo
lansia yang mengungkapkan bahwa posyandu lansia sulit untuk dijangkau.

Tabel 3 : 8
Distribusi Frekuensi Dukungan Oleh Keluarga Lansia DiDesa Kemalaraja Dalam
Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja Kecamatan Baturaja Timur
Tahun 2013
Dukunqan Keluarqa

Jumlah

Persentase

Mendukunq

fi7

61.1

Tidak mendukuno

68

38.9

Jumlah

175

100

Dilihat dari tabel

3:8

Distribusi frekuensi dukungan oleh keluarga lansia di desa
Kemalaraja dalam wilayah kerla Puskesmas Kemalaraja dari 175 orang lansia yang
menjadi responden penelitian dapat dilihat bahwa, sejumlah 61.1Y0 mengungkapkan
bahwa keluarga mendukung mereka ke posyandu lansia, sedangkan sejumlah 38.9%
mengungkapkan bahwa keluarga kurang mendukung mereka untuk ke posyandu
lansia.

B.

Bivariat
Tabel 3 :9
Hubungan Jenis Kelamin Dengan Pemanfaatan Posyandu oleh Lansia Di Desa
Kemalaraja Dalam Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja
Tahun 2013

Jenis Kelamin

Pemanfataan Posyandu Lansia
Memanfaatkan

Laki-laki
Perempuan
Jumlah

Keterangan

Tidak
Memanfaatkan

Total

41

45

u7.67\

(52.32\

86
(100%)

4A

49

B9

&4.92\

(55.05)

(100%)

81

94
{53.71)

175
(100%)

(46,28)

p. value

0.83

Keterangan : p. value > 0.05
Dari tabel 3,9 Hubungan Jenis Kelamin Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia dapat
dilihat bahwa dari 86 orang lansia laki-laki, sejumlah 52.32Ys tidak memanfaatkan posyandu,

sedangkan dari 89 orang lansia perempuan sejumlah 55.05% tidak memanfaatkan
posyandu.Hasil uji statistik didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara jenis kelamin

dengan pemanfaatan posyandu lansia, nilai p = 0.83 (p > 0,0S).

Tabel 3 : '10
Hubungan Pendidikan Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia Di Desa
Kemalaraja Dalam Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja
Pendidikan

Tinggi

Tahun 2013
Pemanfataan Posvandu Lansia
Keterangan
Memanfaatkan
Tidak
Total
Memanfaatkan
50
52
142
(49.01)
(50.98)
{100%)

Rendah

31

u2.46\
Jumlah

81

u6.281
Keterangan : p. value

Dari

>

42
(57.53)

73
(100%)

94
(53.71)

(100%)

p, value

0.48

175

0.05

tabel 3.10 Hubungan Pendidikan Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia
didapatkan hasil bahwa, dari 102 orang lansia Bendidikan tinggi, sejumlah 50.98% tidak
memanfaatkan posyandu, sedangkan dari 73 orang lansia pendidikan rendah sejumlah
57,53% lansia juga tidak memanfaatkan posyandu. Hasil uji statistik didapatkan hubungan
yang tidak bermakna antara variabel pendidikan dengan pemanfaatan posyandu, nilai p 6.43
=
(p > 0.05).

Tabel 3: 11
Hubungan Pekerjaan Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia Di Desa
Kemalaraja Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja
Pekerjaan

Bekerla

Tidak bekerja

Tahun 2013
Pemanfataan Posvandu Lansia
Keterangan
Memanfaatkan
Tidak
Total
Memanfaatkan
63
71
134
(47.01)
(52.98)
{1000/o)
18

(43.90)
Jumlah

81

(46.28)

23
{56.09)

(100%)

94
(53.71)

(10070)

p. value

0.86

41

175

Keterangan : p. value > 0.05
Dari tabel 3,11 Hubungan Pekerjaan Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia dapat
dilihat bahwa dari 134 orang lansia bekerja, sejumlah 52.98% tidak memanfuatkan posyandu,
sedangkan dari 41 orang lansia yang tidak berkerja dan tidak memanfaatkan posyandu
sejumlah 56.09%. Hasil'ujistatistik didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara variabel

pkerjaan dengan pemanfaatan posyandu, nilai p = 0.86 (p > 0.05).

t

Tabel

Hubungan[:H.t1}itffijj',,ffi

3:

:f]'X,.1T]1]iaDiDesa
!ffi
Tahun 2013

f,iilruff

Pemanfataan Posyandu Lansia
Tidak
Memanfaatkan

Pengetahuan

12

Keterangan
Total

p. value

tufemanfaalkan

:
;

21

f53.12)
26

(44/68)

(55.31)

Tidak baik

81

Jumlah

(46.28)
Keteratrgan

128

68

60
(46.87)

Baik

0.93

(1000/0)

47
(100%)

94

175

(53.71)

(100%)

+. value > 0'05

d-ff;}

Dengan Pemantuatl'.1*lill,9Jtn^f1XtJ,:
srtvstqrrvsrr vv"Y'e
Fluuurrucrrr fPensetahuan
lz Hubunsan
3.12
tabel c'
Dari laoel
uan
baik,, sejumlah 53.12o/o tidak
oirinat bahwa dari \za orr-ng lansia berpengetahuan
+i Lirig lansia pengetahuan tidak baik sejumlah
nremanfaatkan posyandu, sedangkan oari
hubungan
setelah diiakukan uli statistit< didapatkan
55,31% tidak memanfaatkan posyandu.
nilaip =
Oenfan pemanfaath posyandu oleh lansia'
yang tidak bermakna
0,93 (p > 0.05).

*tuit

pt.gltunrrn

Tabel 3: 13
Oleh Lansia DiDesa
Hubungan Sikap Dengan Pemanfaatan Posyandu
i{r*rtanja Daiam Witayah Kerja Puskesmas Kemalaraja
Tahun 2013
p. value
Keterangan
1q$lgPemanfataan Posyandu
Total
Tidak
Memanfaatkan
Memanfaatkan
0.36
134
EO
75

""--

Sikap

Positif

u4.02\

(55.97)

(100%)

Negatif

22
(53,65)

1g

(46.35)

41
(1000/o)

Jumlah

81

94

175

(46.28)

{53.71)

(10070)

Keterangal : P. value >

0.05

3 Hubung.n lix.p Densan Pemanfaatal :-t"tJ:l9y 9lt^:?::111':::,,*::t
Dari tabel
posvand u'
;ffiir,, a;ir-rrh u g,ni*' tidak memanraatkan
Tin' ;;"- H;ilU;#
Setelah
+O,gi'/. juga tidak memanfaatkan posyandu'
dan dari 41 tansia ri1rp n.grti

ffi

3.

1

;6

*ffith

yang'tifiak bermakna antara sikap lansia dengan
dilakukan uji statistik didapatkan hubungan
p"rrnt rt# psoyandu, nilaip = 0'36 (p > 0'05)'

Tabel 3: 14
Hubungan Jarak Tempat Tinggal Dengan Pemanfaatan Posyandu Lansia Di
Desa Kemalaraja Puskesmas Kemalaraja
Tahun 2013
Jarak Tempat
Tinggal

Pemanfataan Posvandu Lansia
Memanfaatkan

Tidak
Memanfaatkan

Mudah

61

@2.36\

83
(57.63)

20
(64.51)

11

31

(35,48)

(100%)

Tidak mudah

<

p, value

Total

144

0.041

(100%)

81

94

175

(46.28)

$3.711

(100%)

Jumlah

Keterangan : p. value

Keteranoan

0.05

Dari tabel 3.14 Hubungan Jarak Tempat Tinggal Dengan Pemanfaatan Posyandu Lansia
dapat dilihat bahwa dari 144 lansia mempunyai jarak tempat tinggal mudah dijangkau
sejumlah 57,630/0 tidak memanfaatkan posyandu, dan dari 31 orang lansia yang jangkauan ke
posyandu tidak mudah d'tjangkau sejumlah 35.48% tidak memanfaatkan posyandu. Hasil uji
statistik didapatkan hubungan yang bermakna antara variabeljangkauan dengan pemanfaatn
Posyandu, nila P = 0.041 (P < 0.05).
Tabel 3: 15
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia Di
Desa Kemalaraja Dalam Wilayah Kerja Puskesmas Kemalaraja
Tahun 2013
Dukungan
Keluarga

Pemanfataan Posyandu Lansia
Memanfaatkan

Tidak

Keteranoan

p. value

Total

Memanfaatkan
Mendukung

(47.66)

56
(52.33)

Tidak

30

36

mendukuno

{45.45)

Jumlah

81

{54.54)
94
(53.71)

51

{46.28)

107

0.76

(100%)
66
(100%)
175
(100%)

Keterangan : p. value > 0.05
Dari tabel 3.15 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pemanfaatan Posyandu Oleh Lansia

dapat dilihat bahwa dari 107 orang lansia yang mendapat dukungan keluarga sejumlah
52.33Y0 tidak memanfaatkan'posyandu, dan dari 66 orang lansia yang tidak mendapatkan
dukungan keluarga sejumlah 54.540/o tidak memanfaatkan posyandu. Hasil uji statistik
didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara variabel dukungan keluarga dengan
pemanfaatan posyandu, nilaip = 0.76 (p > 0.05).

III. PEiTBAHASAN

A.

Posyandu Fnti.'. .
Hubungan Jenis Kelamin dan Pemanfaatan
seiumlah 52'32o/o lidak
penelitian menunjukkan bahwa oari ao orang lansia.laki-laki,
Hasil

lansia pgremPu:n-Ymlah 55'050/o
memanfaatk4 p6yrr'JrlrcJr.gfr. dari 89 ora-ng
didapatkan hubungan yang -tidak
tidak memant rtxin poryanou."trasit uii statistili
posyandu lansia' nilai p = 0'83 (p >
bermakna ,nt r.l.ri, lenmin dengan femantaatan
gender se.sgoralg, gender dimaksud adalah
0.05). jenis reraiiiin- merupakan
ptt nipuan. Dalam f,enelitian ini untuk gender atau jenia kelamin
gbnder laki-laki ,t
pemanfaatan posyandu oleh lansia'
tidak didapatkan berhubungan bermkana dengan
ada faktor lain yang mempengaruhinya, selain ienis

l**

,

situasi ini menunlukkun ,rtinv,

B.

kelamin.

dan Pemanfaatan PonyanOy!?fi':. .
posyandu'
tinggi, seiumlah 50'987o tidak memanfaatkan
Dari 102 orang
juga tidak
prnoioikin rendah sejumlah 57.53Y0 lansia
sedangkan drri
didapatkan hubungan yang-tidak. bermakna
memanfaatkan posyandui. nasit uli statistit
p 0,48 (p. > 0'05)'
pendidikan dengan pemanfaatan posyandu, nitai =

irnrngrn Pendidikan

tJ#

p.noioir*

;I ;;g-irnri,

antara variabel
teraftnir yang pernah ditamatkan oleh
Tingkat pendidikan adalah jenjing ptnOiOit.n
lansia
ai'arin ie*s pendidikan lang pemah diikuti. oleh
tansia. Pendidikai y;;g

;firi

dan sempat OisetesaiXa.-n/lulus serta

C.

*tndrprtiu.n ijazah. Dalam penelitian ini didapatkan

hubunganyangtidakbermaknaantarapendidikandenganpemanfaatanposyandulansia,
adanya.jaktor lain selain faktor pendidikan
artinya situasi ini menuUuf posyandu.
yang mempengaruhi perilatu lansja dalam memanfaatkan
pemanfaatan Posyandulansia
itrU"ungan'eeklrjaan'dan
..
posyandu'
bekerja, selumian 5?.990/0. tidak memanfaatkan

Dari 134 orang

6niil

sedangkandari4loranglansiayang'tioatberkeriadantidakmemanfaatkanposyandu
hubungan yang tidak bermakna antara
sejumlah 56.09Y0, irtil ,ii statiitif iidapatkan

variabelpekerjaandenganpemanfaatanposyandu,nitaip=0.86(p>0.05)'Dalam
tetap yang ditekuni oleh lansia
penelitian ini Vang Oi*Jftrd pekeriaan adahh, aktivitas
pemerintah

ilk

D.

dapat berupa pegawai
11236 gimaksud
dalam feniOupaniya ttnrii-n.ti.
Hal ini pedu diketahui untuk melihat seiauh
atau non pemerintah lainya (wiras*;tt i.
uniuk memanfaatkan posyandu lansia'
mana aktvitas lansia mempengaruni ufayanya
hubungan yang bermakna antara pekeriaan
Namun Oafam Gnefitirn i*itidif Oitemukin
ini menuniukkan kemungkinan adanya
dengan p.rrtifrrt n fosyandu lansia' Situasi
pemanfaatan posyandu lansia'
faktor lain selain pekeriaan-yang mempengaruhi
Hubungan Pengetahuan dan Posyandu Lansia'

Dari 128

or.d-l;;il

memanfaatkan
n.iprngLtrhuan baik, sejumlah 53.12Yo tidak

pengetairuan tidak baik sejumlah 55'31Y0 tidak
posyandu, sedangkan dari 47 orang taniia

hubungan yang tidak

didapatkan
memanfaatkJpdffi. seteurr-oitaruran uilstatistik
posyandu
oleh lansia' nilai p = 0'93
pemanfaatan
oengan
bermakna rnt I ping.t nu.n

dari tahu, dan initerjadi setelah orang
(p > 0.05), Pengetahuan adalah,merupakan hasil
ooyerr tertentu. Penginderaan terjadi melalui
melakukan rr,;{re;rr* ierrradap sriaiu
pengfinitan,.pendengaran, penciuman, rasa dan

panca inder.

,irnrria yakni indera

yang sangat penting untuk
raba. r*ng.ahuan ,td, kognitif meruiaran domain
behaviofi' Dari pengalaman dan penelitian
terbentuknya linOrfrn srs.oring tivirt'

:r--

terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Dalam penelitian ini tidak ada hubungan
yang bermakna antara pengetahuan dengan pemanfaatan posyandu oleh lansia, artinya
situasiini menunjukkan kemungkinan ada faktor lain yang mempengaruhinya selain faktor
E.

pengetahuan lansia.
Hubungan Sikap dan Pemanfaatan Posyandu Lansia.
Dari 134 orang lansia sikap psitil sejumlah 55.97% tidak memanfaatkan posyandu, dan
dari 41 lansia sikap negatif sejumlah 46.35% juga tidak memanfaatkan posyandu. Setelah

dilakukan uji statistik didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara sikap lansia
dengan pemanfaatan psoyandu, nilai p = 0.36 (p > 0.05). Sikap merupakan reaksi atau
respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek,
manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih
dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya

kesesuaian rekasi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari
merupakan reaksi yang bersifat emosional, terhadap stimulus sosial.
New camb. Salah seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan
kesiipan atau kesediaan bertindak dan bukan merupakan pelaksana moflf tertentu. Sikap

belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi adalah merupakan
predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan
merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. Sikap merupakan kesiapan

untuk bereaksi terhadap abyek

di

lingkungan tertentu sebagai suafu penghayatan

terhadap obyek. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna
antara sikap dengan pemanfaatan posyandu oleh lansia. Artinya situasi ini menunjukkan
adanya faktor lain selain sikap lansia yang mempengaruhi pemanfaatan posyandu oleh
F.

lansia.
Hubungan Jarak Tempat Tinggal dan Pemanfaatan Posyandu Lansia
Dari 1tA lansia mempunyaijarak tempat tinggal mudah dijangkau sejumlah 57.63% tidak

memanfaatkan posyandu, dan dari 31 orang lansia yang jangkauan ke posyandu tidak
mudah dijangkau sejumlah 35.48% tidak memanfaatkan posyandu. Hasil uji statistik
didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel jangkauan dengan pemanfaatn
posyandu, nila p = 9.641 (p < 0.05). Jangkauan ke pusat layanan kesehatan adalah
suatu situasi atau kondisi yang memberikan petunjuk bagaimana ibu merespon jarak
tempat tinggal dengan pusat layanan kesehatan, apakah ibu akan mengatakan mudah
dijangkau atau sulit dalam menjangkaunya. Menurut pendapat Pohan (2003),
menyatakan bahwa pasien mau berobat ke Puskesmas atau tempat pelayanan
kesehatan jika jarak ketempat pelayanan kesehatan tersebut dapat dijangkau atau tidak
terlalu jauh dari rumah, kemudahan dalam mendapatkan tranfortasi juga kemampuan
membayar biaya pengobatan. Dalam penelitian inididapatkan hubungan yang bermakna
antara variabel jangkauan dan pemanfaatan posyandu oleh lansia. Artinnya hasil
penelitian penulis sejalan dengan pendapat ahli diatas, bahwa ada hubungan antara jarak
atau jangkauan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan oleh pasien atau klien.

:

G.

Hubungan Dukungan Keluarga dan Pernanfaatan Posyandu Lansia

Dari 107 orang lansia yang mendapat dukungan keluarga sejumlah 52.33% tidak
memanfaatkan posyandu, dan dari 66 orang lansia yang tidak mendapatkan dukungan
keluarga sejumlah 54,54o/o tidak memanfaatkan posyandu. Hasil uji statistik didapatkan
hubungan yang tidak bermakna antara variabel dukungan keluarga dengan pemanfaatan
posyandu, nilai p = 0.76 (p > 0.05). Menurut Depkes Rl, (1995), keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling
'ketergantungan. Pengertian lain keluarga adalah merupakan suatu gejala yang universal
dan mempunyai empat karakteristik univercal dapat dilihat dari keluarga. Dalam penelitian

ini didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara dukungan keluarga dengan
pemanfaatan posyandu lansia. Situasi menunjukkan kemungkinan ada faktor lain yang
mempengaruhinya selain faktor dukungan keluarga.

M. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.

2.
3,

Didapatkan hubungan yang tidak bermakna antara jenis kelamin dengan pemanfaatan
posyandu lansia.
Untuk variabel pendidikan juga didapatkan hubungan yang tidak bermakna dengan
pemnafataan posyandu lansia.
Pekerjaan juga didapatkan hubungan yang tidak bermakna dengan pemanfaatan
posyandu oleh lanjut usia.

4. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara pengetahuan lansia

dengan

pemanfaatan posyandu oleh lansia.

5. Variabel sikap juga tidak

berhubungan bermakna dengan pemanfaatan posyandu

lansi.

6. Didapatkan hubungan bermakna antara jangkauan tempat tinggal lansia dengan
pemanfaatan posyandu lansia.

7. Tidak didapatkan hubungan bermakna antara dukungan keluarga

dengan

pemanfaatan posyandu lansia,

B.

Saran-saran

l. Diharapkan

kepada petugas kesehatan untuk terus memberikan penyuluhan
kesehatan kepada masyarakat khususnya lansia tentang pentingnya memanfaatkan

2.

posyandu bagi lanjut usia,
Kepada keluarga lansia penyuluhan kesehatan tentang manfaat posyandu lansia perlu
diberikan, tanpa memandang tinggi rendahnya pendidikan lansia.

3. Terus mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan lansia tentang keuntungan
bila dapat memanfaatkan posyandu lansia secara baik dan rutine sesuai dengan

4.

jadwal yang ditentukan.
Diharapkan kepada petugas kesehatan untuk terus menanamkan sikap yang positif
kepada keluarga dan masyarakat khususnya lansia dalam terus memahami posyandu
lansia.

5.

Perlunya dukungan keluarga yang terus-menerus kepada lansia mengingat lansia
pada umumnya sudah banyak mengalami penurunan-penurunan termasuk daya tahan

fsk
6.

dan emosional.

Diharapkan kepada program dan keluarga untuk terus memberikan dukungan pada
lansia agar rajin ke posyandu tanpa mempermasalahkan jarak rumah dengan
posyandu, hal ini mengingat transfortasi di kota Baturaja sangat lancar'

DAFTAR PUSTAKA
Ariawan lwan,1992
Manajeman dan Analisi Data Penelitian, Jakarta
BPS OKU, 2013.

Srfuas Demografi Kab. Ogan Komeing UIu, Baturaia
Bachtiar Adang, Dkk, 2000
Metodo@ Penelitian, PPS-IKM

UI

Jakarta

Dinas Kesehatan Kab, OKU,2013
Laporan Tahunan Keadaan Lansia di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Baturaja
Hamid. M. Zainal, 1992
Mengukur Srkap Sosial Pegangan untuk Penelitian dan Praktrsi, Bumi Aksara, Jakarta.

t{otoatmdio, 2003
Pengantar Pendidikan Kexhatan dan llmu Peilaku Kesehatan, Andi Ofset,
Yogyakarta

Nqroho Wahyudi, 2000
Kepenwatan Gerontik, Edisi2, Buku Kedokteran, Jakarta
Puskesmas Kemalaraja, 2013
Laporan Tahun Puskesmas, Baturaia
Singarimbun, M, dan Effendi, S, '1987

MetodologiPenelitian Suruai, LP3S, PT Midas Surya Gravindo, Jakarta

&rprajitno,2004
Asuhan Keperawatan Keluarga,Aplikasi Dalam Praktik, Buku Kedokteran, Jakarta

Dokumen yang terkait

Dokumen baru