Hubungan Komponen Konsep Diri Dengan Penerimaan Perubahan Fisik Remaja Putri (Kelas Vll) Pada Masa Pubertas DiSMP Negeri 8 Ogan Komering Ulu Tahun 2013

ABSTRAK
Hubungan Komponen Konsep Diri Dengan Penerimaan Perubahan
Fisik Remaja Putri (Kelas Vll) Pada Masa Pubertas DiSMP Negeri 8
Ogan Komering Ulu Tahun 2013
Lisdahayati.SKM,MPH

Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang

kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan
tersebut bersumbei diri kedudukan masa remaia sebagai periode
transisional antara masa kanak-kanak dan masa dewasa atau yang lebih
dikenal dengan pubertas. Antara anak-anak dengan orang dewasa.ada
beberapa perbedaan yang selain bersifat biotogis atau fisiologis iuga
bersifat psikologis.
Data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat21.770 kasus AIDS
dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29
tahun yakni 48,1o/o dan usia 30-39 tahun sebanyak 30,9%. Selain itu

kasus penularan terbanyak adalah heteroseksual sebanyak

49,3Yo,

homoseksuat sebany ak 3,3o/o dan I DU 41,4o/o.

Tujuan penetitian ini adalah untuk mengetahui apakah adq
hubungan konsep diri dengan penerimaan perubahan fisik remaja putri
pada rirasa pubertas di SMP Negeri I Ogan Komering.Ulu Tahun 2013henelitian ini OinfuXan secara univariat dengan subjek penelitianl49

orang dan sampel 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan gambaran-diri
p vatue = 0,01'0 ada hubungannya dengan penerimaan perubahan flsik
pubertas jika p < (q 0.05) dan tidak berhubungan jika p < (q 0.05), ideal
diri P vaiue = O,240 ada hubungannya dengan penerimaan perubahan
fisik pubertas -iika p < (a 0.05) dan tidak berhubungan ilka p < (o 0.05),
harga diri P value = 0,364 ada hubungannya dengan penerimaan
perubahan fisik pubertas jika p < (o 0.05) dan tidak berhubungan jika p <
io 0.05), peran dri P vatue = 0,224 ada hubungannya dengan penerimaan
jika p'
ieruOalian fisik pubertas iika p < (s 0.05) dan tidak berhubungan
(q 0.05), identitas diri P value = 0,000 ada hubungannya dengan
berhubungan jika P < (o 0.05)
Beidasarkan hasil penelitian, disarankan khususnya kepada orang
tua, dan lnstitusi pendidikan agar: setayaknya dapat memberikan Informasi
tentang perubahan fisik remaja Secara tepat dan benar, serta Sesuai
dengan tahapan perkembangannya.
Kata

kunci: Konsep diri, Perubahan fisik dan Pubeftas

1.

Latar Belakang Masalah
Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam

rentang kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikkan
tersendiri. Keunikkan tersebut bersumber dari kedudukan masa
remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak dan

masa dewasa atau yang

lebih dikenal dengan pubertas. Antara

anak-anak dengan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang

selain bersifat biologis atau fisiologis iuga bersifat psikologis.
(Agustiani, 2006). Pada masa pubertas sikap individu mengalami

berbagai perubahan baik fisik maupun psikis. Perubahan yang
tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang
pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai

pula dengan berkembangnya kapasitas reproduktif. Selain itu
remaia juga berubah secara kognitif dan mulai mampu berpikir
abstrak seperti orang dewasa. Periode ini pula remaja mulai
melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka
menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.
(Al-mighwar, 2006).

Pada masa pubertas ciri umum yang menonjol adalah
berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya

dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada
peritaku remaja. Pubertas merupakan periode yang singkat, namun

bagi sebagian orang dianggap sebagai periode yang sulit bagi
remaia dan mempengaruhi keadaan fisik dan psikologis remaja di
masa selanjutnya. (Agustiani, 20Aq. Remaja putri tampak kurang

menyukai perubahan fisit( ketika beraniak remaia, khususnya
mengenai pertambahan lemak tubuh. Perubahan fisik ini dapat
menyebabkan.remaja putri seringkali merasa malu dan menutup

diri terhadap lingkungan. Berbeda dengan remaja putra

yang

rnenyukai peningkatan massa otot yang mereka alami seiring
pubertas. Namun bagaimanapun perasaan yang mengganggu itu

harus secepatnya disingkirkan. Semua itu merupakan tahapan
memasuki masa pubertas yang tidak seorang pun dapat
menghindarinya. (Al-mighwar, 2006).

Data tnternational Planned Parenthood Federation ([PPF)
menyatakan jumlah perempuan di Asia Pasifik yang harus
men€rnggung malu dan beban menta] akibat minimnya pendidikan

seks, khususnya soal kesehatan reproduksi, terus meningkat.
Sebanyak 21 iuta perempuan di dunia melakukan ab'orsi tidak
aman dan hanya 35% perempuan di kawasan Asia Timur menikah

dengan kesehatan reproduksi yang baik. Menurut Sugiri QAIO)'
masalah yang terjadi pada remaja di antaranya disebabkan karena

mereka tidak dipersiapkan pengetahuan tentang aspek yang
berhubungan dengan masalah peralihan, dari masa anak ke
dewasa. Masatah remaia menyangkut aspek fisik biologis dan
mental sosial.
BKKtsN (2010) menuniukkan, 51e/o remaia di Jabodetabek

telah melakukan seks pra nikah. Beberapa wilayah lain di
lndonesia, seks pra nikah iuga dilakukan beberapa remaia'
Misalnya saja di Surabaya tercatat 54o/o, di Bandung 47o/o, dan

52o/o

di Medan. Hasil penelitian di Yogyakarta kehamilan yang tidak di
inginkan dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37% mengalami kehamilan

sebetum menikah," kata Sugiri (zUA). Setaln itu estimasi iumtah

aborsi di lndonesia pertahun menmpi 2,4 iuta jiwa. 800 ribu di
antaranya teriadi di kalangan remaja.

Menurut penelitian yang dilakukan Lembaga Perlindungan
Anak (2008), di 12 provinsi terungkap sebanyak gg,Tolo anak SMP

dan SMU yang disurvei mengaku pernah melakukan

ciuman,

petting, dan ordl seks. Dan dari 4.726 responden siswa SMP dan
SMA di 17 kota besar, sebanyak 62,70/o remaja SMP tidak perawan

dan

21,2o/o remaia S.[tlA mengaku pernah melakukan aborsi.

Perilaku seks bebas pada remaja tersebar di kota dan desa pada
tingkat ekonomi kaya dan miskin.
Berdasarkan data Kemenkes pada akhir Juni 2010 terdapat
21.77O kasus AIDS dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase

pengidap usia 20-29 tahun yakni 48,1o/o dan usia 30-39 tahun
sebanyak 30,9%. Selain itu kasus penularan terbanyak adatah
heteroseksual sebanyak 49,3o/o, homoseksual sebanyak 3,3% dan
IDU 40,4o/o.
Hasil studi pendahuluan pada SMP Negeri

I

OKU data yang

diperoleh dari seluruh siswa VI}, Vltl [X sebanyak 4CI5 orang, dengan
r,incian kelas

Vll

149 orang, kelas

Vlll

125 orang, kelas

lX

131

orang. (profit SMP Negeri 8 AKU, 2013). Elerdasarkan uraian
sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian
mengenai "hubungan komponen konsep diri terhadap penerimaan
perubahan fisik remaja putrid (kelas Vll) pada masa pubertas di
SMP NegeriS OKU Tahun 2013
2.

Rumusan Masalah

Belum dlketahuinya hubungan komponen konsep diri dengan
penerimaan perubahan fisik remaja putri (kelas Vll) pada masa
pubertas diSMP Negeri

I

OKU Tahun 2013.

Pertanyaan Penelitian
1.

Adakah hubungan gambaran diri dengan penerimaan perubahan
fisik remaja putri (kelas Vll) pada masa pubertas ?

2. Adakah hubungan ideat diri dengan penerimaan perubahan fisik

remaja putri (kelas Vll) pada masa pubertas ?
3. Adakah hubungan harga diri dengan penerimaan perubahan fisik

remaja putri (kelas Vll) pada masa pubertas ?
4. Adakah hubungan'peran diri dengan penerimaan perubahan fieik
remaja putri (kelas Vll) pada masa pubertas ?
5. Adakah hubungan identitas dirl dengan penerimaan perubahan fisik

remaja (kelas Vll) putri pada masa pubertas ?

Tujuan Penelitian

1. Tuiuan

Umum

Untuk mengetahui hubungan komponen konsep diri dengan
penerimaan perub'ahan fisik remaia putri (kelas Vll) pada masa
pubertas di SMP Negeri

2.

I

OKU Tahun 2A13.

Tuiuan Khusus

a. Untuk mengetahui

apakah ada hubungan gambaran diri

dengan penerimaan perubahan flsik remaia putri (ketas Vll)
pada masa pubertas di SMP Negeri I OKU Tahun 2019.

b.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan kl,eat diri dengan
penerimaan perubahan fisik remaja putri (kelas Vll) pada
masa pubertas di SMP Negeri

c.

I

OKU Tahun 2019.

Untuk mengetahui apakah ada hubungan harga diri dengan

penerlmaan perubahan fisik rernaia putri (kelas Vtl) pada
masa pubertas di SMP Negeri 8 OKU Tahun 2013.

d. Untuk mengetahui

apakah ada hubungan peran diri dengan

penerimaan perubahan fisik remaja putri (kelas Vll) pada
masa pubertas di SMP Negeri

I

OKU Tahun 2A13-

e. Untuk mengetahui apakah ada

hubungan identitas diri

dengan penerimaan perubahan flsik remaia putri (ketas Vll)
pada masa pubertas di SMP Negeri 8 OKU Tahun 2}fi.
Manfaat Penelitian
1. Untuk tnstitusi Pendidikan

lnstitusi pendidikan diharapkan dapat memberikan informasi

tentang kesehatan reproduksi agar dapat meenciptakan
generasi mud.a yang berprilaku seks yang sehat dan
be

rtanggung jawab. generasi berencana

berfungsi dan karakteristik seks sekunder mulai muncul (wong,et
aL 2aag. Masa puber merupakan periode transisi dan tumpang
tindih. Dikatakan transisi sebab pubertas berada dalam peralihan

antara masa kanak-kanak dengan masa remaia. Tumpang tindih
sebab beberapa ciri biologis.psikologis kanak-kanak masih
dimilikinya, sementara beberapa ciri remaia iuga dimitikinya. Jadi

masa puber meliputi tahun-tahun akhir masa kanak-kanak dan
tahun awal masa remaia. Anak matang secara seksual, ia masih
disebut "anak pubef', begitu matang secara seksual ia disebut
"Femaia" atau "remaia muda" (Al-mighwar, 2A06). Masa pubertas

disebut sebagai masa bangkitnya kepribadian ketika minatnya lebih
elitujukan kepada perkembary;an pribaeli sendiri. pr-ibadi itulah yang
menjadi pusat pikirannya (Zu tkifli, 2005).

B. Masa Remaia
wong,et al (2009) mengemukakan masa remaja terdiri atas tiga
subfase yang jelas, yaitu:

a. Masa remaja awal usia 11-14 tahun
b. Masa remaia pertengahan usia lU1T tahun

c.

Masa remaja akhir usia 18-20 tahun

Al-Mighwar (2006) menielaskan masa puber terjadi secara bertahap,

yaitu:

a. Tahap Prapubertas,

tahap ini disebut iuga tahap pematangan
yaitu pada satu atau dua terakhir masa kanak-kanak. pada
masa ini anak dianggap sebagai ,,prapuber,,, sehingga ia tidak
disebut seorang anak dan tidak pula seorang remaja. pada

tahap ini, ciri-cirl seks sekunder mulai tampak, namun organorgan reproduksinya belum berkembang secara sempurna.

b. Tahap Pubei, tahap ini disebut iuga tahap matang, yaitu terjadi
pada garis antara rRasa kanak-kanak dan masa remaja. pada
tahap ini, kriteria kematangan sekstiat mutai muncul. pada anak
perempuan terjadi haid pertama dan pada anak laki-laki terjadi

mimpi basah pertama kali. Dan mulai berkembang ciri.ciri seks
sekunder dan sel-sel diproduksi dalam organ-organ seks.

c.

Tahap Pascapuber, pada tahap ini menyatu dengan tahun
pertama atau kedua masa remaia. pada tahap ini, ciri-ciri seks

sekunder sudah berkembang dengan baik dan organ-organ
seks iuga berfungsi se€ara matang.

wong,et al (2009) mengatakan bahwa pubertas dibagi atas
tiga tahap yaitu:

a.

Prapubertas, yaitu periode sekitar 2 tahun sebelum pubertas

ketika anak pertama kali mengalami perubahan fisik yang
menandakan kematangan seksual.

b.

Pubertas, merupakan titik pencapaian kematangan seksual,
ditandai dengan keluarnya darah menstruasi pertama kali

pada remaia putri sedangkan pada remaja putra indikasi
seksualitasnya kurang jelas.

c.

Pascapubertas, merupakan periode 1 sampai2 tahun setelah
pubertas, ketika pertumbuhan tulang telah lengkap dan fungsi
reproduksinya terbentuk dengan cukup baik.

C.

Ciri-ciri Perkembangan Remaja
Menurut wong,et al(2009) perkembangan remaja tertihat pada:

Perkembangan biologis, perubahan

fisik pada

merupakan hasit aktivitas hormonal

di

pubertas

bawah pengaruh

sistem saraf pusat. Perubahan fisik yang sangat jelas tampak
pada pertumbuhan peningkatan fisik dan pada penampakan
serta perkembangan karakteristik seks sekunder.
b.

Perkembangan psikohgis,

teori psikosmial

tradisional

menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja
menghasilkan terbentuknya identitas. pada masa remaja
mereka mulai melihat dirinya sebagai individu yang lain.

c.

Perkembangan kognitif, berfikir kognitif mencapai puncaknya

pada kemampuan berfikir abstrak. Rernaja tidak lagi dibatasi
dengan kenyataan dan aktual yang merupakan ciri periode

berfrkir konkret, remaia juga memerhatikan terhadap
kemungkinan yang akan terjadi.

d.

Perkernbangan moral, anak yang lebih muda hanya dapat

menerima keputusan atau sudut pandang orang dewasa,
sedangkan remaja, untuk memperoleh autonomi dari orang

dewasa, mereka harus mengganti seperangkat moral dan
nilai mereka sendlri.

e.

Perkembangan spiritual, remaja mampu memahami konsep

abstrak dan menginterpretasi anatogi serta simbot-simbot.
Mereka mampu berempati, berfilosofi dan berfikir secara
logis.

f.

Perkembangan sosial, untuk memperoleh kematangan

penuh, remaia harus membebaskan diri mereka

dar.i

dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas yang
mandiri dari wewenang orang tua. Masa remaja adalah masa
dengan kemampuan bersosialisasi yang kuat terhadap teman
sebaya dan teman dekat.

Agustiani (2006) mengemukakan masa remaja menjadi tiga
bagian, yaitu:

a.

Masa remaja awal (12-15 tahun), pada masa ini individu
mulai menlnggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha
mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak

tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adatah
penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya
konformitae yang kuat dengan teman sebaya.

b.

Masa remaja pertengahan (15-18 tahun), masa ini ditandai

dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru.
Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun

individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri. pada
masa ini l:emaia mulai mengembangkan kematangan tingkah

laku. Belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat
keputusan-keputusan awal yang b'erkaitan dengan tujuan
vaksional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari
lawanienis meniadi penting bagi indMdu.

c. Masa remaja akhir

(19-22 tahun), masa ini ditandai oleh
persiapan akhir untuk memasuki peran-peran oraRg dewasa.

Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan
vaksiona[ dan mengembangkan sense of pereonal identity.
Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima

dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga
menjadi ciri dari tahap ini.

D. Perubahan fisik pada masa remaja
Awal pubertas, ekstremitas turnbuh lebih cepat dari pada
batang tubuh. Pertumbuhan ekstremitas kemudian berhenti, tetapi

batang tubuh terus tumbuh dengan baik sampai remaia.
Perturnbuhan batang tubuh yang paling besar biasanya pada
tulang pelvis. Lebarnya b,ertambah lebih eepat dari pada ukuran
antero'posterior. Rongga pelvis memanjang dan pintu panggul

melebar, untuk memper,siapkan fungsi kehamitan (Henderscin,
2005).

Terjadi pertumbuhan yang cepat pada remaia, termasuk
pertumbuhan organ-organ reproduksi (organ seksual) untuk
mencapal kematangan, sehingga mampu melangsungkan fungsi
reproduksi. Perubahan iniditandai dengan munculnya :

a.

Tanda-tandd seks primer, yaitu yang berhubungan langsung

dengan organ seks (terjadinya haid pada remaja putri dan
teriadinya mimpi basah pada remaia taki-laki).

b.

Tanda- tanda seks sekunder, yaitu

:

1) Pada remaja laki-laki terjadi perubahan suara, timbulnya jakun,
penis dan buah zakar bertambah besar, teriadinya ereksi dan
ejakulasi, dada lebih besar, badan berotot, tumbuhnya kumis,
jannb'ang dan rambut

2)

disekitar kemaluan dan ketiak.
Pada remaja putri : panggul melebar, petumbuhan rahim dan
vagina, payudara mernbesar, tumbuhnya rambut di ketiak dan

sekitar kemaluan (pubis).

Perubahan fisik pada pubertas merupakan hasil aktivitas
hormonal di bawah pengaruh sistem saraf pusat, walaupun semua

aspek fungsi flsiologis berinteraksi secara bersama-sama.
Ferubahan fisik yang sangat jelas tampak pada pertumbuhan
peningkatan fisik dan pada penampakan serta perkembangan
karakteristik seks sekunder. Perubahan yang tidak tampak jelas
adalah perubahan fislotogis dan kematangan neurogonad yang
disertai dengan kemampuan untuk bereproduksi. perbedaan fisik
antara kedua jenis kelamin di tentukan berdasarkan karakteristik
pembeda ; karakteristik seks primer merupakan organ eksternal

dan internal yang melaksanakan fungsi reproduktif (mis., ovarium,
uterus, payudara, penis) ; karakteristik seks sekunder merupakan
perubahan yang terjadi di seluruh tubuh sebagai hasit dari
perubahan hormonal (mis., perubahan suara, munculnya rambut
pubertas dan bulu pada waiah, penumpukan lemak) tetapi tidak
berperan langsung dalam reproduksi (Wong,et al. 200g).
Menurut Al-Mighwar (2006) perubahan-perubahan fisik yang
penting dan terjadi selama masa remaja adalah sebagai berikut

a.

:

Perubahan Ukuran Tubuh
Pertumbuhan tinggi dan berat badan merupakan perubahan

fisik mendesar yang pertama pada masa pubertas. Hurtock
berpendapat bahwa pertambahan tinggi badan anak-anak
perempuan mencapai rat+rata

3 inci pertahun,

sebelum haid, bahkan bisa saja mencapai

5

datram tahun

hingga

6

inci.

Peningkatan berat tubuh bukan hanya disebabkan lemak,
tetapi iuga sernakin bertambah beratnya tulang dan jaringan

otot. Pada anak perempuan, peningkatan berat tubuh yang
paling besar terjadi sesaat sebelum dan sesudah haid. pada
awal terjadinya pertumbuhan pesat, lemak cenderung
menumpuk, terutama di sekitar perut, putting su$u, pinggul,
paha, pipi, leher dan rahang. Biasanya lemak itu akan hilang
dengan sendirinya pada saat akhir masa puber dan pesatnya
pertumbuhan tinggi badan.
b.

Perubahan Bentuk Tubuh

Perubahan bentuk tubuh merupakan perubahan fisik
rnendasar kedua. Akibat terjadinya kematangan lebih eepat
dari daerah-daerah tubuh yang lain, sekarang daerah-daerah
tubuh tertentu yang tadinya kecil menjadi besar. Gejata ini
tampak jelas pada hidung, kaki dan tangan. Namun demikian
semua bagian itu akan mencapai ukuran dewasa walaupun
perubahannya terjadi sebelum akhir masa puber pada akhir
masa remaia.
Ciri Kelamin Primer

Pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri seks primer, yaitu
organ-organ seks merupakan perubahan fisik mendasar yang
ketiga. organ-organ reproduksi wanita tumbuh selama masa

puber dengan tingkat kecepatan yang bervariasi. Haid
dianggap sebagai petunjuk pertama bahwa mekanisrne
reproduksi anak perempuan menjadi matang. Gejala ini
merupakan awal dari serangkaian pengeluaran darah, lendir
dan jaringan sel yang hancur dari uterus secara berkala, dan
akan berhenti saat wanita mencapai menopause.
d.

Ciri Kelamin Sekunder

ciri-ciri seksual pada remaja putri seperti pinggul meniadi
tambah lebar dan bulat, kulit lebih halus dan pori-pori

bertambah besar. seranjutnya ciri sekunder
rainnya ditandai
oleh kerenjar remak dan keringat meniadi rebih
aktif, dan
sumbatan kelenjar remak dapat menyebabkan jerawat.
ciri-ciriseks sekunder pada wanita antara tain: (Ar-Mighwar,
2006)
1)

Pinggur yang membesar dan memburat sebagai
akibat
membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya
lemak

bawah kutit.
2) Buah dada dan putting susu semakin tampak
menonjol, dan
dengan berkembangnya kelenjar susu, payudara
meniadi
semakin lebih besar dan lebih bulat lagi.
3) Tumbuhnya rambut

di kematuan, ketiak, rengan dan

kaki,

dan kurit wajah. semua rambut, kecuari rambut
wajah muramura lurus dan terang warnanya, kemudian
meniadi

rebih

subur, lebih kasar, lebih gelap dan agak keriting.
4) Kulit meniadi lebih kasar, rebih tebar, agak pucat

dan lubang

pori-pori bertambah besar.
5)

suara dari suara kanak-kanak meniadi merdu (merodious),

suara serak dan suara yang pecah jarang sekali
terjadi.
6) Ketenjar keringat rebih aktif, dan kurit lebih
menjadi kasar

dibanding kurit anak-anak. sumbatan kerenjar
remak dapat

menyebabkan jerawat. Kerenjar keringat
di ketiak
mengeruarkan banyak keringat dan baunya
menusuk
sebelum dan selama masa haid.
7)

otot semakin kuat dan semakin besar, terutama pada
pertengahan dan menjelang akhir
masa puber, sehingga
memberikan bentuk pada bahu, rengan dan
tungkai kaki.

E.

Penyebab Perubahan pada Masa pubertas
usia mulainya pubertas dan perkembangannya

dipengaruhi

oleh berbagai faktor biotogis, psikososiar dan ringkungan.
Faktor

terpenting tampaknya adalah kesehatan umum individu
(Henderson,20Aq.

Santrock J (2003) mengemukakan berbagai riset
menemukan bahwa sebelum anak matang s€cara seksual,
pengeluaran hormon seks jarang terjadi. Akan tetapi, dengan
sernakin meningkatnya iumtah hormon yang dikeluarkan, struktur
dan fungsi organ-organ seks akan semakin matang. Hubungan
yang erat antara ketenjar pituitary yang ada pada dasar otak telah
terbentuk dengan gonad atau kelanjar seks. Jadi ada tiga hal yang
meniadipenyebab masa puber, yaitu

:

a. Peran Kelenjar

Pituitary kelenjar pituitary memproduksi dua
hormon, yaitu hormon pertumbuhan yang berpengaruh datam

menentukan besarnya individu, hormon gonadotropik yang
merangsang gonad untuk meningkatkan aktivita$}ya. sebetum
datangnya masa puber, jumlah hormon gonadotropik bertambah

secara bertahap, demikian pula kepekaan ganad terhdadap
hormon gonadotropik. Dalam kondisi itulah terjadinya
peru bahan-perubahan masa puber.

b. Peranan Gonad, seiring

pertumbuhan

dan

perkembangan

gonad, bertambah besarlah organ-organ seks, yaitu ciri-ciriseks
primer dan fungsinya pun menjadi matang. Begitu puta ciri,ciri
seks sekunder, sepertl berkembangnya rambut kema]uan.

c.

lnteraksi Kelenjar Pituitary dan Gonad, hormon yang telah
diproduksi gonad, yang tetah dirangsang oteh hormon
gonadotropik yang diproduksi oleh kelenjar pituitary, kemudian

bereaksi terhadap keleniar ini dan secara berangsur-angsur
mengakibatkan penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang
diproduksi sehingga menjadikan prose.s pertumbuhan terhenti.

lnteraksi antara hormon gonadotropik dan gonad terus
bertangsung sepaniang kehidupan reproduksi individu,

kemudian berkurang secara perlahan saat wanita mendekati

menopaus.
Wong,et

al QAlg

mengatakan bahwa secara umum peristiwa

pubertas diseb'abkan oleh pengaruh hormon dan dikendalikan oleh
kelenjar hipofisis anterior (adenohiposis) sebagai respons terhadap

stimulasi

dari

hipotalamus. stimulasi gonad memiliki fungsi

ganda,yaitu:

a.

Produksi dan pelepasan gamet-produksi sperma pada pria
dan kematangan serta pelepasan ovum pada wanita.

b.

Sekresi hormon seks yang sesuai , yaitu estrogen dan
progesteron dari ovarium (wanita) dan testosteron dari testis
(pria).

8.

Konsep Diri

A. Pengertian Konsep diri
Willoughby, King & polatajko (1996, dalam Wong,et at 200g)

diri adalah bagaimana individu
menggambarkan dirinya sendiri. lstilah konsep diri mencakup

mengemukakan bahwa konsep

konsep, keyakinan, dan perrdirian yang ada dalam pengetahuan

seseorang tentang dirinya sendiri

dan yang

mempengaruhi

hubungan individu tersebut dengan orang lain. Konsep diri tidak

ada saat lahir tetapi berkembang perlahan-lahan sebagai hasil
pengataman dan dengan sesuratu yang nyata dilingkungan.

Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang

tentang dirinya, yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman
yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan. Konsep diri bukan

rnerupakan faktor h'awaan, melainkan berkembang dari
pengalaman yang terus menerus dan terdiferensiasi. Dasar dari
konsep diri individu ditanamkan pada saat-saat dini kehidupan anak

dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya kemudian
hari (Agustiani, 2006).

Konsep diri adarah cara individu datam
merihat pribadinya
secara utuh, menyangkut fisik, emosi, intelektual,
sosial dan
spiritual. Termasuk didaramnya adarah persepsi
individu tentang
sifat dan potensi yang dimilikinya, interaksi
individu dengan orang
lain maupun ringkungannya, nirai-nirai yang
berkaitan dengan
pengalaman dan objek, serta
tuiuan, harapan dan keinginannya

(Sunaryo, 2004). Fitts (1971, dalam
Agustiani, 2006)
mengemukakan bahwa konsep diri
nrerupakan aspek penting

dalam diri seseorang, karena konsep diri
seseorang merupakan
kerangka acuan daram berinteraksi dengan
tingkungan. Fitts
mengatakan bahwa konsep diri berpengaruh
kuat terhadap tingkah
laku seseorang. Dengan rnengetahui konsep
diri seseorang, kita
akan lebih mudah meramatkan dan memahami
tingkah taku orang
pada
tersebut.
umumnya tingkah raku individu berkaitan
dengan

gagasan-gagasan tentang dirinya
sendiri.

oreh karena itu dapat disimputkan, bahwa
konsep diri
merupakan pandangan, asumsi serta
kesan siswa tentang

karakteristik yang dimilikinya baik secara
fisik maupun psikis,
penerimaan, peniraian, penghargaan
dan keyakinan yang terdapat
dalam diri siswa yang dipengaruhi oleh lingkungan
sosiatnya.
Apabila siswa memiliki konsep diri yang positil
maka

ia akan
mengembangkan sifat-sifat seperti percaya
diri, rasa berharga dan
kemampuan untuk menitaidirinya secara
rearistis, sedangkan siswa

yang memiliki konsep diri yang cenderung
negatif

mengembangkan sikap merasa tidak
mampu
sehingga munculperilaku kurang percaya
diri.

akan

dan rendah diri

B. Komponen-Komionen Konsep
Diri

Menurut Sunaryo (2004) mengemukakan
lima komponen
konsep diri, yaitu:

a.

Gambaran diri, adalah sikap individu terhadap tubuhnya,
baik
secara sadar maupun tidak sadar, meliputi : performane,e,

potensi tubuh, fungsi tubuh, serta persepsi dan perasaan
tentang ukuran dan bentuk tubuh.

b. ldeal diri, adarah persepsi individu tentang

perirakunya,

disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan
cita_
cita, harapan, dan keinginan, tipe orang yang diidam-idamkan,
dan nilaiyang ingin dicapai.

c.

Harga diri, adarah peniraian individu terhadap hasil yang
ingin
dicapai dengan cara menganarisis seberapa jauh peritaku
individu tersebut sesuai dengan ideal diri. Harga diri dapat
diperoteh metaluiorang tain dan diri sendiri. Aspek utama
harga
diri adalah dicintai, disayangi, dikasihi, orang tain dan mendapat
penghargaan dari orang tain.

d. Peran diri adarah

pora periraku, sikap, nirai dan aspirasi yang
diharapkan individu berdasarkan posisinya di masyarakat.

e. ldentitas diri, adalah kesadaran akan diri pribadi

yang

bersumber dari pengamatan dan penitaian, sebagai sintesis
semua aspek konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang
utuh.

C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Yusuf

e0Aq

mengemukakan terdapat delapan raktor yang
mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu;

a.
b.

Kematangan biologis

e

Dampak media massa

d.
e.

f.

Kondisifisik

Tuntutan sekolah
Pengalaman aiaran agama
Masalah ekonomi keluarga

g. Hubungan dalam keluarga
h. Harapan orang tua.

Menurut Fitts (1gg7 dalam Agustiani' 2006) konsep

diri

sebagai berikut
seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor

;

a.Pengalaman,terutamapengalamaninterpersonal'yang

b.

memunculkanperasaanpositifdanperasaanberharga.
dan orang
Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu
lain.

c.

dari potensi
Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi
pribadi Yang sebenarnya'

D. Pembentukan KonseP Diri
Masabayi,konsepdiriterutamaada}ahkesadarantentang
lalu sebagai
eksistensi mandiri seseorang yang dipelajari di masa
orang lain' Anak
hasit darl kontak sosiat dan pengalaman dengan
orang lain, lebih
usia sekolah lebih menyadari perbedaan di antara

sensitifterhadaptekanansosial,danmenjadilebihsibuk
selama masa
memikirkan masalah kritikan-diri dan evaluasi-diri'
remaiaawa],anaklebihberfokuspadaperubahanflsikdanemosi
diri
yang terjadi dan pada penerimaan teman sebaya' Konsep
diperietassetamamasarernaiaakhirketikaanakmudamengatur
kompetensi yang
konsep diri mereka disekitar nilai, tujuan, dan
204$'
didapat selama masa kanak-kanak (Wong' et al'

Masaanak.anakkonsepdiriyangdipunyaiseseorang
biasanyaberlainandengankonsepdiriyangdipunyaiketikaia
itu tersusun
memasuki usia remaja. Pada dasarnya, konsep diri
atastahapan-tahapan.Se}amamasaanakakhirkonsepdiriyang

terbentuksudahagakstabil.Tetapidenganmulainyamasa
pubertasteriadiperubahandrastispadakonsepdiri'Remaiayang
masihmudamempersepsikandirinyasebagaiorangdewasadalam

banyakcara,namunbagiorangtuaiatetapmasihseoranganakanak.Walaupunketidaktergantungandariorangdewasamasih

belum mungkin terjadi dalam beberapa tahun, remaja mulai terarah
pada pengaturan tingkah laku sendin (Agu*tiani,2A06)

Konsep Penerimaan Diri
Menurut Hurlock (1973, dalam Sobur,

2Affi|

Penerimaan diri

adalah suatu tingkat kemampuan dan keinginan individu untuk hidup

dengan segafa karakteristik dir]nya. lndividu yang dapat menerima

dirinya diartikan sebagai individu yang tidak bermasalah dengan
dirinya sendiri. lstilah konsep diri meruiuk pada pengetahuan yang
disadari mengenai berbagai persepsi diri, seperti karakteristik fisik,
kemampuan, nilai, idea] diri dan pengharapan serta ide-ide dirinya

sendiri dalam hubungannya dengan orang lain. Semakin mereka
berfikir positif terhadap dirinya sendiri, semakin mereka percaya diri
dalam mencoba kembali guna meraih kesuksesan (wong,et al. 2009).

10. KERANGKA KONSEP
Variabel lndependen dalam penelitian ini adalah komponen
dari konsep diri dan variabel dependen adalah penerimaan terhadap
perubahan fisik remaja putri pada masa pubertas.
Variabet lndependen
KomponenKomponen Konsep
Diri :
Gambaran Diri

.

o

.
o
o

[dea[ Dlrl
Harga Diri
Peran Diri
ldentitas Diri

Varlabel Dependen

Perubahan Fisik Remaia
Putri (ketas Vtt)

11.

Definisi Operasional

Variable

No

Dependen
Penerimaa
n

perubahan
fisik remaja
putri kelas

vI

Perubahan yang
terjadi pada siswi
SMP Negeri

Wawancara

Kuesioner

I

OKU:
. Ukuran tubuh
. Bentuk tubuh
. Cir.i-cirikelamin

.

primer" serta

sekunder

i

Positif : Apabita
responden
menjawab tidak
setuiu > mean
11 (kode 2)
Negatif : Apabita
responden
menjawab setuju
< rnean 11 (kode

Nomina
I

lndepende
n

Konsep
Diri:
a. Gambara
n diri

Perasaan senang
atau tidak pada
anggota tubuh

Wawancara

Kuesioner

Wawancara

Kuesioner

Wawancara

Kuesioner

Baik: Apabita
responden
meniawab ya >
mean 4 (kode 2).
Tidak baik :
Apabila
responden
menjawab tidak
s mean 4 (kode

b. ldeal diri

Harapan tentang
masa depan

c. Harga

Wawancara

Kuesioner

diri

d. Peran
diri

e. ldentitas

Penilaian
terhadap anggota
tubuh menerima
atau menolak

Bagaimana peran

Wawancara

Kuesioner

1).

.

Baik: Apabita
responden
menjawab ya >
mean 6 (kode 2).
Tidak baik :
Apabila
responden
menjawab tidak
s rnean 6 (kode
1).

Baik: Apabita
responden
menjawab ya >
mean a (kode 2).
Tidak baik :
Apablla

Ordinal

13.Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif anaritik dengan
menggunakan pendekatan cross sectianal, dimana subjek di teliti satu
kali saja pada saat pengkajian data dengan pengukuran variabel
independen dan variabel dependen.
14. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan obiek yang diteliti (Dr. Soekidjo
Notoatmodjo, 2005). Jadi, populasi dalam penelitian ini adalih
keseluruhan siswa kelas vll sMP Negeri I oKU tahun 2013 yang
berjumtah 149 orang.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek
yang ditetiti dan dianggap mewakili keseturuhan populasi. cara
pengambilan sampel menggunakan rumus lwan Ariawan yakni
sebagai berikut:

=

22.1-at2.P (1-p).N

d2.(N-1) + 22.1-d2.P(1 -P)

Keterangan:

n
: sempelyang akan diteliti.
Z-1-al2 : derajat kepercayaan diri seluruh populasi yaitu g5%
(1,96).
P
: proporsi pada populasi0,5.
d
: simpangan dari proporsi poputasi yaitu presisi
digunakan 0,1.
N
:jumlah seluruh populasi 149 siswa.
n 7.1-al2.P (1-P).N
) + 7.1 -at7.P(1-P)
(1,96)2.0,5 (1 -0,5). 1 49

d2. (N-1
n

.(149-1) + (1,96)2.0,5.(1-0,S)
3,8416.0,5.0,5.149

(0, 1)

=
=
=

I

0.01 _149 + 3,9416.0,5-0,5

143,0996
1,48 + 0,960+
143,0996

2,4404
58,63
= dibulat kan meniadi 60 sampel darijumlah populasi-

Jadiyang mewakili seluruh populasi adalah sebanyak 60 siswa.
(metode yang digunakan adalah random sampling).
15. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian inidilakukan disMp Negerig ogan Komering utu.
2. Waktu Penelitian
waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Mei tahun

aAfi.

16. Teknik dan lnstrumen Pengumpulan Data
1. Cara Pengumpulan Data

sumber data yang digunakan datam penetitian

ini dapat
dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
a. Data Primer
Data dikumpulkan dengan cara responden menglsi kuesioner
yang telah disediakan.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari SMp Negeri 8 Ogan Komering
UIu.

2. lnstrument Penelitian
lnstrument yang digunakan adalah kuesioner.
17. Teknik Pengolahan Data
1. Pengolahan data

Pengolahan data adalah salah satu bagian rangkaian
kegiatan penelitian setelah kegiatan pengumpulan data. .Agar

analisis penelitian menghasilkan informasi yang benar, paling tidak

ada_lima tahapan dalam pengolahan data yang harus

a.

Editing (pengeditan)

dilaluiyaitu:

Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian

formulir atau kuesioner, apakah jawaban sudah tengkap, jelas,
dan konsisten.
b. Coding (pengkodean)
Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi
data berbentuk angka dan bilangan.
c. Entry (pemasukkan data)
Memasukkan data ke dalam bentuk kumpulan data secara
manual ke dalam program komputer sesuai dengan variabel
yang diteliti.
d, Processing .
Memproses data dari kuesioner agar dapat di analisis.
e. CIeaning data (pembersihan data)
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang akan
dianalisis apakah ada kesalahan atau tidak.

2. Analisa Data
a. Analisa Univariat
Teknik analisa data yang digunakan datam penelitian ini
adalah analisa univariat yaitu cara menganalisis data yang
dihasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari setiap
variabel. Analisa ini dilakukan untuk melihat distribusifrekuensi
dan persentase komponen konsep diri (gambaran diri, ideal
diri, harga diri, peran diri, identitas diri) dengan penerimaan
perubahan fisik remaia putri (ketas Vll) pada masa pubertas di
SMP Negeri 8 OKU.
b. Analisa Bivariat
Analisa bivariat bertujuan untuk mengetahui pengaruh
antara variabel indevenden konsep diri terhadap variabel
devenden perubahan fisik remaja putrid (kelas Vll). Untuk
menguji hubungan variabel indevendent dan variabel
devendent dengan uji statistik yang digunakan adalah kai
kuadrat yang nilai P dilihat dari levence test, bila nilai p < alpha
(0.05) maka varian berhubungan, dan nilai p > alpha (0.0S)
maka varian tidak berhubungan.
18.HASIL PENELITIAN

A. Hasil Analisa Univariat
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Penerimaan Fisik Remaja Putri Kelas vll pada
Masa Pubertas Di SMP NegeriS Ogan Komering Ulu
Tahun 2013
No Penerimaan

Putri
1

2

Positif
Nesatif
Jumlah

Fisik

Remaja

Frekuensi

Persentase
("/"1

32
28
60

53,3
46,7
100

Dari tabel 1. Didapatkan bahwa responden yang memiliki
penerimaan fisik positif sebanyak 53,3o/o, sedangkan yang memiliki
penerimaam fisik negatif sebanyak 46,70/o.

.

Tabel2. Distribusi frekuensi Komponen Konsep Diri Responden
Gambaran Diri
Baik
Tidak Baik

ldeal Diri
Baik
fidak Baik
Harga Diri
Baik
Tidak Baik
Peran Diri
Baik
Tidak Baik
ldentitas Diri
Baik
Tidak Baik

n

%

31

(51,7)

48
12

(80)
Qa't

29 (49,3)

42 (68,3)

1s

(31,3)

36

{60)

?s
30
30

(4O)

(5o)

(50)

= jumlah sarnpel

=persentase

Dari.tabel 2 Didapatkan bahwa respoden yang memiliki gambaran
diri.baik sebanya! s.1-,7y., sedang yang-memiriki gambaran diri

tidak baik seb-1nyak 48,3o/a, respoden yang memilikiideat diri baik
sebanyak 80olo, sedangkan yang memifiki ideal dirri tidak baik
sebanyak 20 %. sedangkan reipoden yang memiriki harga diri
baik sebanyak 683o/o,_99dangl 0,05). Maka dapat dislmputkan

Dari tabel

tidak ada hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remaja
putri dengan gambaran diri.

2.

Hubungan ideal diri dengan penerimaan fisik remaja putri

Tabel 4.

Hubungan ldeal Dri Dengan Penerimaan Fqik Rem?jlPutr
i di SMP NegeriS Ogan Komering Ulu Tahun 2013
Penerimaan Fisik Remaja
Total

Putri

ldeatDiri

p.value

Negatif

Positif
N

o/o

N

o/o

Tidak baik

8

66,7

4

33,3

12

Baik

24

50

24

50

48

a,240

I

i
L

t

t

Total

Dari tabet

32

53,3

28

46,7

4. Didapat bahwa diantara tZ

60

responden yang

mempunyai ideal diri tidak baik sebanyak 8 (66,70/o) remaja yang

memiliki penerimaan fisik positif. Sedangkan dari 48 responden
yang mempunyai ideal diri baik sebanyak 24 (50%) remaja yang
memiliki penerimaan fisik negatif. Hasit uil statistik diperoleh nitai

> 0,05). Maka dapat disimpulkan tidak ada

p=0,240 (p. value

hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remaja putri
dengan idealdiri.

3.

Hubungan harga diri dengan penerimaan fisik remaja putri

Tabet 5
Hubungan Harga Diri Dengan Penerimaan Fisik Remaja Putri
di SMP Negeri8 Ogan Komering Ulu Tahun 2013
Penerimaan Fisik Remaja
Harga Diri

Totat

Putri

Positif

Negatif

N

o/o

N

o/o

8

42,1

11

57,9

19

Baik

24

58,5

17

41,5

41

Total

32

53,3

28

46,7

60

Tidak baik

p.value

0,364

5.

Didapat bahwa diantara 19 responden yang
mempunyai harga diri tidak baik sebanyak 8 (42,1o/o\ remala yang
memiliki penerimaan fisik positif. Sedangkan dan 41 responden

Dari tabel

yang mempunyai harga diri baik seb,anyak 24 (58,5Vo) remaia yang

memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil uji statistik diperoleh nilai

p=0,364 (p. value

> 0,05). Maka dapat disimputkan tidak

ada

hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remaja putri
dengan harga diri.

4. Hubungan peran diri dengan penerimaan fisik remaja putri
Tabel 6.
Hubungan Peran Diri Dengan Penerimaan Fisik Remaja Putri
di SMP NegeriS Ogan Komering Ulu Tahun 2013
Penerimaan Fisik Remaja
Peran Diri

Putri

Total

Positif

p.value

Negatif

N

o/o

N

o/o

Tidak baik

10

34,5

14

58,3

24

Baik

22

71

14

38,9

36

Total

32

53,3

28

46,7

60

0,224

6.

Dari tabel
Didapat bahwa diantara 24 responden yang
mempunyai peran diri tidak baik sebanyak '10 (34,5olo) remaja yang
memiliki penerlmaan fisik positif. Sedangkan dari 36 r:esponden
yang mempunyai peran diri baik sebanyak 22 (71%) remaja yang
memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil uji statistik diperoleh nilai
p=A,224 (p. value > 0,05). Maka dapat disimpulkan tidak ada
hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remaja putri
dengan peran diri.

5.

Hubungan identitas diri dengan penerimaan fisik remaja putri

Tabel 7
Hubungan ldentitas Diri Eengan Penerimaan Fisik Remaja Putridi SMP
Negeri I Ogan Komering Utu Tahun 2013
Penerimaan Fisik Remaja
ldentitas Diri

Total

Putri

Positif

Negatif

N

,/o

N

o/o

7

23,3

23

76,7

30

Baik

25

83,3

5

16,7

30

Total

32

53,3

28

46,7

60

Tidak baik

p.value

0,000

\-

7.

Didapat bahwa diantara 30 responden yang
mempunyai identitas diri tidak baik sebanyak 7 (23,3o/o) remaja
yang memiliki penerimaan fisik positif- Sedangkan dari 30
responden yang mempunyai identitas diri baik sebanyak 25
(83,3"/o) remaja yang memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil uji
statistik diperoteh nilai p-0,000 (p. value > 0,05). Maka dapat

Dari tabel

disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik
remaja putridengan identitas diri

19. PEMBAHASAN

1.

Hubungan Gambaran Diri dengan Penerimaan Fisik Remaia Putri
Pada Masa Pubertas

Pada hasil penelitian diketahui dari 60 responden proporsi antara
gambaran diri dengan penerimaan fisik remaja putri didapat bahwa
diantara 29 responden yang mempunyai gambaran diri tidak baik
sebanyak 10 (34,5o/o) remaja yang memiliki penerimaan fisik positif.
Sedangkan dari 31 responden yang mempunyai gambaran diri baik
sebanyak 22 (71Yo) remaja yang memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil
disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik
remaja putri dengan gambaran diri.

Penelitian ini sejalan dengan pendapat Santrock Q0A7)
gambaran diri biasanya dipengaruhi oleh harapan lingkungan, keluarga,
dan teman. Gambaran yang dimiliki remaia terhadap tubuhnya sangat
dipengaruhi oleh teman-teman disekelilingnya. Ketika mereka menemui
beberapa perbedaan dengan teman sebaya dalam hal pertumbuhan dan
perkembangan tubuh, hal ini meniadikan suatu pengalaman yang sulit
bagi mereka. Kondisi inilah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk
berkomunikasi secara terbuka dan memberikan pengertian yang jelas dan
benar tentang apa yang terjadi pada anak ketika memasuki masa remaja.
Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa remaja sudah
pasti mengalami kecemasan dan ketakutan saat memasuki masa
pubertas, oleh karena itu dibutuhkan peran orang tua untuk memberikan
informasi agar anak siap memasuki masa pubertasnya.

2. Hubungan ldeal Diri dengan

Penerimaan Fisik Remaia Putri pada

Masa Pubertas

Pada hasit penelitian diketahui dari 60 responden proporsi antara
ideal diri dengan penerimaan fisik remaja putri didapat bahwa diantara
12 responden yang mempunyai ideal diri tidak baik sebanyak I
(66,7%) remaja yang memiliki penerimaan fisik positif. Sedangkan dar
48 responden yang mempunyai ideal diri baik sebanyak 24 (50cn

remaja yang memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil uji statistik
diperoleh nilai p=9,240 (p. value > 0,05). Maka dapat disimpulkan tidak
ada hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remafa putri
dengan ideal diri.
Berdasarkan pendapat Stuart dan Laraia (2005), Pada masa
remaia, ideal diri mulai terbentuk melalui proses identifikasi dari orang
tua, guru dan teman. Pada usia lanjut, dibutuhkan beberapa
penyesuaian, tergantung pada kekuatan fisik dan perubahan peran
serta tanggunga jawab. Faktor yang mempengaruhi ideal diri
seseorang diantaranya adalah
a. Seseorang cenderung menetapkan ideal diri sesuai dalam batas
kemampuannya. Seseorang tidak akan mungkin menetapkan suatu
ideal atau tujuan jika sekiranya dirinya tidak mempu mengupayakan
diri untuk mencapai tujuan tersebut atau berada diluar batas
kemampuannyab. ldeal diri juga dipengaruhi oleh faktor budaya, dimana seseorang
akan membandingkan standar dirinya dengan teman sebayanya.
c. Ambisi dan keinginan untuk lebih unggul dan sukses, kebutuhan
yang realistis, keinginan untuk menghindari kegagalan dan perasan
cemas serta rendah diri. lndividu mampu berfungsi dan
mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan ideal diri,
sehingga ia akan menyerupai apa yang diinginkan. ldeal diri
hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi
dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat
dicapai.
Dengan demikian penetiti menyimpulkan bahwa selain flsik ada
beberapa hal yang mempengaruhi ideal diri seperti batas kemampuan,
budaya, ambisi, dan lingkungan.
3. Hubungan Harga Diri dengan Penerimaan Fisik Remaja Putri pada
Masa Pubertas
Pada hasil penetitian diketahui dari 60 responden proporsi antara
harga diri dengan penerimaan fisik remaja putri didapat bahwa diantara
19 responden yang mempunyai harga diri tidak baik sebanyak 8
(42,1%) remaja yang memiliki penerimaan fisik positif. Sedangkan dari
41 responden yang mempunyai harga diri baik sebanyak 24 (58,5o/o)
remaja yang memiliki penerimaan fisik negatif. Hasil uii statistik
diperoleh nllai p=Q,364 (p. value > 0,05). Maka dapat disimpulkan tidak
ada hubungan yang bermakna antara penerimaan fisik remaja putri
dengan harga diri.
Berdasarkan pendapat Coopersmith (dalam Arsita, 2006)
individu dengan harga diri yang rendah adalah individu yang merasa
dirinya tidak berharga lagi dan tidak disukai, hal ini membuat takut
gagat untuk melakukan hubungan sosia[- Karena itutah individu tersebut

sering menolak dirinya sendiri, merasa tidak puas dan meremehkan
dirinya sendiri.
Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa selain perubahan
fisik remaja pada saat pubertas ada beberapa hal yang membuat
remaja memiliki harga diri rendah seperti mereka yang kurang berhasil
di sekolah, relasi dengan teman sebaya dan sering kali tertekan tanpa
alasan yang jelas.

4.

Hubungan Peran Diri dengan Penerimaan Fisik Remaja Putri pada
Masa Pubertas

Pada hasil penelitian diketahui dari 60 responden proporsi
antara peran diri dengan penerimaan fisik remaja putri didapat
bahwa diantara 24 responden yang mempunyai peran diri tidak baik
sebanyak 10 (34,5o/oJ remaia yang memitiki penerimaan fisik positif.
Sedangkan dari 36 responden yang mempunyai peran diri baik
sebanyak 22 (71%) remaja yang memiliki penerimaan fisik negatif
Hasil uji statistik diperoleh nifai p=$,224 (p.value > 0,05). Maka
dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara
penerimaan fisik remaja putri dengan peran diri.
Hal ini seialan dengan hasil penetitian yang di[akukan o]eh
Novarini (2011) bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin
dengan rasa percaya diri seseorang dalam bersosialisasi.
Dengan demikian penetiti menyimpulkan bahwa perbadaaan
antara lakilaki dan perempuan semakin memiliki batasan yang tldak
jelas satu sama lain seiring dengan perkembangan zaman. Tuntutan
pemenuhan kebutuhan membuat laki-taki blsa melakukan peran
yang biasa dilakukan perempuan, begitu juga sebaliknya.

5.

Hubungan ldentitas Diri dengan Penerimaan Fisik Remaja Putri
pada Masa Pubertas
Pada frasil penelitian diketahui dari 60 responden proporsi
antara gambaran diri dengan penerimaan fisik remaja putri didapat
bahwa diantara 30 responden yafig rnempunyai identitas diri tidak
baik sebanyak 7 (23,3o/o) remaja yang memiliki penerimaan fisik
positif. Sedangkan dari 30 responden yang mempunyai identitas diri
baik sebanyak 25 (83,3%) remaja yang memiliki penerimaan fisik
negatif. Hasil ufi statistik diperoleh nilai p=9,900 (p. value > 0,05).
Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara
penerimaan fisik remaja putri dengan identitas diri.
Berdasarkan pendapat Demo (dalam Marthanya 2003), 5
komponen identitas diri adalah fisik, seksual, kejuruan, sosial, dan
philosopik. Dalam proses pencapaian identitas diri tersebut, banyak
hal yang mempengaruhinya salah satunya adalah keluarga. Pada
masa remaja peran keluarga sangatlah penting bagi remaja. Remaja

membutuhkan bantuan dari keruarganya
unfuk menghadapi segara
perubahan yang terjadi.
Dengan demikian peneriti menyimpurkan
bahwa hubungan
dengan ketuarga menjadi;i;t, yang
sangat penting pada masa
remaja, karena. pada Laat initatr
seorang anlk membutuhkan lebih
banyak perhatian, ngng"*i;n,. tuntunan
& pengertian. peran
keluarga dapat memraitu
menghadapi
peruoahan yang
.oaLm
terjadi, tetapi
tetuargtr
penting
eluga
pencapaian
identitas diri pada remaja.
'

f:l?!

i"rri1

20. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasir penetitian.tentanghubungan komponen
-fisik
konsep diri dengan penerimaan
feruoanan
i"rzr" putri (keras
Vll) pada masa pubertas oi snip
g ogan Komering Uru
Tahun 2013 pada butan fvfeiiapaiorsrmputkan
-r.regeri
bahwa
:

1. Tidak

,d,

bermakna antara sambaran diri
,*}11g31-{rlg.
densan penerimaan
peruuinr;.I;lk'Errd;';r#io
lxeras vr;
pubertas di sMp r.reseri
a"6iJn".Komerins

?:fllrTfia.
2'

Utu

Tidak ada hubungan yaxg be*nakna
antara idear diri dengan
penerimaan perubahan Rsr=t
rem.gja putiiil"L.
pada masa
pubertas disMp NegeriS
ogan
zo1a.
Tidak ada hubunga.n yalg bermakna
penerimaan perubahan Rs-it
?Igra harga diri dengan
rem.g,a putri (keras vttl paoa
masa
puberras di sMp Negeri s
ogin d.#;i"g'uilir'nrn zo1g.

ii)
xb*"*g'ui;i;;"

3.

4.

Tidak ada hubunga.n yalg bermakna
glBra peran diri dengan
penerimaan qglubahair niit
rem.Sja putri (keras vr) pada
masa
pubertas di sMp Negeri
8 ogan Kbni"iing'ui..i;a'#n

5. Tidak ada

2afi.

y1ng. bermakna antara identitas
diri
dengan penerimaan peiurirran nsit-ffi]-prrri
(keras
Mr)
pubertas'oi srr,rp Negeri 8

Lylyqt

i:ffirTffia

oA;liomerins

Utu

B. Saran

1.

Untuk Orang Tua

orang fua hendaknya memberikan pengarahan
kepada anak
yang memasuki masa pia remaja
tentanb-pJil;fiil ,,rg terjadi

>

^
2-

saat pubertas sehingga anak
tersebut siap memasuki masa
Oait

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3530 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 899 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 819 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 532 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 687 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1184 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

61 1085 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 689 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 963 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1175 23