Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Angkatan 2004 Universitas "X" Bandung.

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan
emosional dengan penyesuaian diri pada mahasiswa angkatan 2004 fakultas
Psikologi Universitas X Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri pada mahasiswa
fakultas Psikologi. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda
korelasional, variabel penelitiannya adalah kecerdasan emosional dan penyesuaian
diri.
Pengolahan hasil try out alat ukur dilakukan dengan SPSS 11.0 Spearman
diperoleh 45 item diterima untuk alat ukur kecerdasan emosional, dengan reliabilitas
sebesar 0,601. Sedangkan alat ukur penyesuaian diri diperoleh 39 item diterima
dengan reliabilitas sebesar 0,832.
Pengambilan data dilakukan pada mahasiswa fakultas Psikologi angkatan
2004 Universitas X Bandung. Jumlah responden yang sesuai dengan karakteristik
sampel adalah 147 orang. Pengolahan data dilakukan dengan mengunakan teknik
korelasi dari Spearman. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif
erat antara kecerdasan emosional dan penyesuaian diri (rs = 0,745) pada mahasiswa
fakultas Psikologi angkatas 2004 Universitas X Bandung.
Dari hasil penelitian terdapat 54,4% mahasiswa yang memiliki penyesuaian
diri tinggi dan dan sebesar 60,5% memiliki kecerdasan emosional tinggi. Selain itu
dari tabel tabulasi silang antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri
diketahui sebesar 43,5% mahasiswa memiliki kecerdasan emosional dan penyesuaian
diri yang tinggi dan sebesar 28,5% mahasiswa memiliki kecerdasan emosional dan
penyesuaian diri yang rendah. Mahasiswa dengan kecerdasan emosional tinggi
namun penyesuaian diri nya rendah sebesar 10,8%, menyatakan memiliki interaksi
otoriter, tidak mendapat dukungan orang tua dan memiliki teman dekat yang
terbatas. Sedangakan mahasiswa dengan kecerdasan emosional tinggi dan
penyesuaian diri rendah sebesar 17%, menunjukkan kekurangan dalam hal
mengelola emosi dan empati.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, peneliti mengajukan
saran bagi fakultas Psikologi Universitas X Bandung adalah agar dapat mengadakan
pelatihan untuk menambah wawasan baru mahasiswa mengenai kecerdasan
emosional. Bagi orang tua mahasiswa fakultas Psikologi Univeristas X Bandung
adalah untuk dapat mengembangkan pola asuh demokratis dan memberikan
dukungan kepada anak-anaknya supaya mereka dapat mengembangkan kemampuan
penyesuaian diri yang tinggi. Bagi mahasiswa fakultas Psikologi Univeristas X
Bandung adalah dapat mengunakan hasil penelitian ini untuk mengenali kecerdasan
emosionalnya dan mengatasi aspek yang dianggap kurang. Sedangkan saran utuk
penelitian lanjutan adalah peneliti lain dapat meneliti faktor lain yang diduga
memiliki hubungan dengan penyesuaian diri.

i

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK………………………………………………………………………….i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………...iii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………….vii
DAFTAR TABEL…………………………………………………………………..xi
DAFTAR BAGAN……………………………………………………………….....xii
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………..xiii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah…………………………………………….1

1.2

Identifikasi Masalah………………………………………………....7

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian………………………………………7
1.3.1 Maksud Penelitian…………………………………………...7
1.3.2 Tujuan Penelitian…………………………………………….8

1.4

Kegunaan Penelitian…………………………………………………8
1.4.1 Kegunaan Ilmiah…………………………………………….8
1.4.2 Kegunaan Praktis…………………………………………….8

1.5

Kerangka Pemikiran………………………………………………….9

ii

Universitas Kristen Maranatha

1.6

Asumsi………………………………………………………………16

1.7

Hipotesa Penelitian…………………

BAB II

……………………………….17

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Teori Kecerdaasan Emosional………………………………………17
2.1.1 Sejarah Kecerdasan Emosional……………………………...17
2.1.2 Pengertian Kecerdasan Emosional Menurut Daniel
Goleman……………………………………………………..18
2.1.3 Kecakapan-kecakapan dalam Kecerdasan Emosional………20
2.1.3.1 Kecakapan Pribadi (bagaimana mengelola
emosi diri sendiri)…………………………………...20
2.1.3.2 Kecakapan Sosial (bagaimana individu menangani
suatu huhungan)……………………………………..23
2.1.4 Faktor-faktor Dalam Kecerdasan Emosional………………..28
2.1.4.1 Faktor Internal……………………………………….28
2.1.4.2 Faktor Eksternal……………………………………...30

2.2

Teori Penyesuaian Diri……………………………………………....32
2.2.1 Definisi Penyesuaian Diri……………………………………32
2.2.2 Penyesuaian Diri yang Baik (Well Adjusted)………………..34
2.2.3 Kriteria Penyesuaian Diri…………………………………....35
2.2.4 Faktor-faktor yang menentukan Penyesuaian Diri………….39

iii

Universitas Kristen Maranatha

2.3

Masa Remaja Akhir…………………………………………………40
2.3.1 Perkembangan Kognitif……………………………………..41
2.3.2 Perkembangan Emosi……………………………………….42
2.3.3 Relasi dengan Keluarga dan Teman Sebaya………………..42

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian……………………………………………….45

3.2

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel……….…….46
3.2.1 Kecerdasan Emosional………………………………………46
3.2.2 Penyesuaian Diri…………………………………………….47

3.3

Alat Ukur……………………………………………………………48
3.3.1 Alat Ukur Kecerdasan Emosional…………………………..48
3.3.2 Alat Ukur Penyesuaian Diri…………………………………52
3.3.3 Validitas Alat Ukur………………………………………….

54

3.3.4 Reliabilitas Alat Ukur ………………………………………55
3.4

Populasi Sasaran dan Teknik Penarikan Sampel……………………56

3.5

Teknik Analisis……………………………………………………...57

BAB IV
4.1

HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Sampel…………………………………………………...60
4.1.1 Jenis Kelamin……… ………………………………………..60

iv

Universitas Kristen Maranatha

4.1.2 Usia………………………………………………………….61
4.1.3 Indeks Prestasi Kumulatif………………………………….. 61
4.2

Hasil Penelitian……………………………………………………...62
4.2.1 Gambaran Kecerdasan Emosional…………………………..62
4.2.2 Gambaran Penyesuaian Diri………………………………..

.63

4.2.3 Tabulasi silang antara kecerdasan emosional dengan
penyesuaian diri……………………………………………63
4.2.4 Tabulasi silang antara aspek-aspek kecerdasan emosional
dengan penyesuaian diri……………………………………64
4.2.5 Hasil Ui Korelasi Kecerdasan Emosional dengan
Penyesuaian Diri……………………………………………65
4.3

BAB V

Pembahasan…………………………………………………………65

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan………………………………………………………….69

5.2

Saran…………………………………………………………………70
5.2.1 Saran Praktis…………………………………………………70
5.2.2 Saran untuk penelitian lanjutan……………………………...70

DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR LAMPIRAN

v

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 tabel gambaran sampel berdasarkan jenis kelamin……………………60
Tabel 4.1.2 tabel gambaran sampel berdasarkan usia……………………………...61
Tabel 4.1.3 tabel gambaran sampel berdasarkan Indeks Prestasi Kumulatif ………61
Tabel 4.2.1 tabel gambaran sampel berdasarkan kecerdasan emosional…………...62
Tabel 4.2.2 tabel gambaran sampel berdasarkan penyesuaian diri…………………63
Tabel 4.2.3 tabulasi silang antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri..63
Tabel 4.2.4 tabulasi silang antara aspek-aspek kecerdasan emosional dengan
penyesuaian diri………………………………………………………..64
Tabel 4.2.5 hasil uji korelasi kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri……..65

vi

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR BAGAN

Bagan kerangka pikir………………………………………………………………..16
Skema rancangan penelitian…………………………………………………………45

vii

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Uji validitas dan reliabilitas
Lampiran 2 : Hasil korelasi
Lampiran 3 : Crosstab data penunjang
Lampiran 4 : Kuesioner kecerdasan emosional dan penyesuaian diri

viii

Universitas Kristen Maranatha

Lampiran 1
Uji validitas dan reliabilitas
Hasil try out Penyesuaian diri
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Uji Validitas
0.382
0.362
0.232
0.411
0.317
0.324
0.271
0.366
0.349
0.361
0.144
0.397
0.165
0.418
0.347
0.525
0.328
0.481
0.196
0.552
0.383
0.445
0.308
0.211
0.487
0.361
0.541
0.449
0.334
0.364
0.338
0.412
0.312
0.308
0.421
0.309
0.188
0.251

Keterangan
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Ditolak

39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50

0.388
0.241
0.319
0.412
0.322
0.389
0.366
0.321
0.174
0.355
0.211
0.551

Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Ditolak
Diterima

Hasil try out kecerdasan emosional
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29

Uji Validitas
0.371
0.555
0.414
0.421
0.378
0.377
0.311
0.199
0.325
0.469
0.223
0.201
0.419
0.366
0.381
0.331
0.419
0.256
0.514
0.345
0.388
0.417
0.318
0.361
0.269
0.388
0.245
0.378
0.414

Keterangan
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Ditolak
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima

30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56

0.231
0.362
0.366
0.552
0.347
0.361
0.489
0.177
0.212
0.186
0.341
0.415
0.182
0.429
0.361
0.344
0.349
0.421
0.567
0.338
0.373
0.388
0.514
0.217
0.361
0.412
0.388

Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Ditolak
Ditolak
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Diterima
Ditolak
Diterima
Diterima
Diterima

Reliabilitas kecerdasan emosional

: 0.601

Reliabilitas penyesuaian diri

: 0.832

Lampiran 2

Hasil korelasi

Correlations
Spearman's rho

EI

PD

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N

EI
1.000
.
147
.745**
.000
147

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

PD
.745**
.000
147
1.000
.
147

Lampiran 3
Crosstab data penunjang

Case Processing Summary
Cases
Missing
N
Percent
0
.0%
0
.0%
0
.0%
0
.0%
0
.0%

Valid
N
POLAASUH * KPD
FISIK * KPD
RELASI * KPD
HAMBATAN * KPD
DUKUNGAN * KPD

147
147
147
147
147

Percent
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%

POLAASUH * KPD Crosstabulation
KPD
r
POLAASUH

a

Count
% of Total

b

Count
% of Total

c

Count
% of Total

Total

Count
% of Total

t
11

4

Total
15

7.5%

2.7%

44

77

10.2%
121

29.9%

52.4%

85.7%

3

8

11

2.1%

5.4%

7.5%

58

89

147

39.5%

60.5%

100.0%

Total
N
147
147
147
147
147

Percent
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%
100.0%

FISIK * KPD Crosstabulation
KPD
r
FISIK

a

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

b
c
d
Total

t

17
11.6%
13
8.8%
13
8.8%
15
10.2%
58
39.5%

Total
49
33.3%
27
18.4%
27
18.4%
44
29.9%
147
100.0%

32
21.8%
14
9.5%
14
9.5%
29
19.7%
89
60.5%

RELASI * KPD Crosstabulation
KPD
r
RELASI

a

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

b
c
Total

t

8
5.4%
10
6.8%
40
27.2%
58
39.5%

11
7.5%
10
6.8%
68
46.3%
89
60.5%

Total
19
12.9%
20
13.6%
108
73.5%
147
100.0%

HAMBATAN * KPD Crosstabulation
KPD
r
HAMBATAN a
b
c
Total

Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total
Count
% of Total

6
4.1%
52
35.4%
0
.0%
58
39.5%

t
7
4.8%
78
53.1%
4
2.7%
89
60.5%

Total
13
8.8%
130
88.4%
4
2.7%
147
100.0%

DUKUNGAN * KPD Crosstabulation
KPD
42

83

Total
125

28.6%

56.5%

85.1%

16

6

10.9%

4.1%

r
DUKUNGAN

a

Count
% of Total

b

Count
% of Total

Total

Count
% of Total

t

22
14.9%

58

89

147

39.5%

60.5%

100.0%

Lampiran 4
Kuesioner kecerdasan emosional dan penyesuaian diri

KATA PENGANTAR

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir di fakultas Psikologi Universitas Kristen
Maranatha Bandung, salah satu syarat yang harus dilakukan adalah melakukan penelitian.
Sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon bantuan dan kerjasama Saudara/i
untuk meluangkan waktu dalam mengisi kuesioner mengenai Kecerdasan Emosional dan
Penyesuaian Diri yang dibagikan. Data yang Saudara/i berikan akan sangat bermanfaat
bagi penelitian ini.

Saya sangat mengharapkan Saudara/i bersungguh-sungguh dalam mengisi
kuesioner ini sesuai dengan kenyataan dan pandangan Saudara/i. Data yang Saudara/i
berikan ini akan saya jaga kerahasiaannya.
Atas kerjasamanya saya ucapkan terima kasih.

DATA PRIBADI
Nama ( inisial )

:

Jenis Kelamin

:

Usia

:

Angkatan

:

IPK

:

1. Interaksi dengan orang tua yang mengasuh anda adalah :
a. Otoriter
b. Demokratis
c. Permisif

2. Dalam satu tahun terakhir anda pergi ke dokter sebanyak
a. Tidak sama sekali
b. 1 kali

c. 2 kali
d. < 3 kali

3. Dalam lingkungan kampus, anda memiliki berapa teman dekat?
a. 1 orang
b. 2 orang
c. < 3 orang

4. Apabila menemui hambatan dalam upaya anda mencapai suatu goal, maka usaha
yang anda lakukan adalah :
a. Memilih goal lain yang serupa
b. Mencoba segala usaha untuk mendapatkan goal tersebut
c. Menyerah

5. Apakah anda mendapatkan dukungan moril dan materiil orang tua dalam
menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi?
a. Ya
b. Tidak

PETUNJUK PENGISIAN
Pada halaman berikut ini anda akan mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang
berhubungan denga tingkah laku atau penghayatan anda. Anda diminta untuk membaca
dan memahami tiap-tiap pernyataan. Kemudian anda diminta untuk memilih salah satu
jawaban dengan cara memberikan tanda silang (X) pada salah satu dari kelima pilihan
yang tersedia :
SS

: Sangat sering dirasakan

SR

: Sering dirasakan

KD

: Kadang-kadang dirasakan

JR

: Jarang dirasakan

SJ

: Sangat jarang dirasakan
Jika anda memilih “Sering dirasakan” maka berilah tanda X di kolom SR,

demikian seterusnya. Dalam tiap pernyataan tidak ada jawaban yang benar atau salah.
Setiap orang memiliki jawaban yang khas untuk dirinya, karena jawaban yang tepat
adalah jawaban yang menggambarkan diri anda.
Jika anda memberikan tanda silang pada kolom yang salah dan anda berniat
mengubahnya, maka anda cukup melingkari tanda silang tadi, kemudian berikan tanda
silang baru pada kolom yang sesuai.
Saya sangat mengharapkan dan menghargai kejujuran anda dalam mengisi
kuesioner ini. Saya ucapakan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasama anda.
Selamat Mengerjakan

KUESIONER PENYESUAIAN DIRI

No

Pernyataan

SS

1.

Saya dapat meraih hal-hal yang saya inginkan

2.

Saya mengakui kesalahan yang telah saya
lakukan

3.

Saya tetap tenang saat menghadapi situasi
baru

4.

Saya malu dihadapan orang yang lebih pandai
dari saya.

5.

Saya mudah untuk melupakan kesalahan yang
telah saya lakukan.

6.

Saya gelisah seakan-akan saya menginginkan
sesuatu tapi tidak tahu apa yang saya inginkan

7.

Saya menyukai rekreasi bersama keluarga

8.

Saya mudah bersahabat dengan orang yang
berjenis kelamin sama dengan diri saya.

9.

Saya tertinggal dibandingkan saudara-saudara
saya.

10.

Saya senang mengahabiskan waktu luang
seorang diri.

11.

Saya memiliki keyakinan dalam mengambil
suatu keputusan.

12.

Saya

dapat

melakukan apa

yang saya

SR

KD

JR

SJ

kehendaki tetapi tetap dalam batasan norma
yang ada
13.

Saya dapat mengendalikan diri ketika suasana
hati sedang tidak enak.

14.

Saya

memiliki

sedikit

hal

yang dapat

dibanggakan
15.

Saya

menyalahgunakan

kebebasan

yang

diberikan oleh orang tua.
16.

Saya mudah terpancing amarahnya apabila
ada

orang

lain

yang

membuat

saya

tersinggung.
17.

Saya menerima teguran dari orang tua apabila
saya melakukan kesalahan.

18.

Saya

aktif

terlibat

kegiatan-kegiatan

di

kampus.
19.

Saya

berselisih

paham

dengan

anggota

keluarga.
20.

Saya santai dan percaya diri di saat bersama
orang lain.

21.

Saya menganggap kepribadian saya menarik
bagi lawan jenis saya.

22.

Saya mengikuti aturan-aturan yang ada di
lingkungan tempat saya tinggal.

23.

Saya

merasakan

kesedihan

orang

yang

terkena musibah.
24.

Saya berharap bahwa saya adalah orang lain.

25.

Saya menyalahkan orang lain jika terjadi
sesuatu yang buruk dalam hidup saya.

26.

Saya khawatir berlebihan terhadap hal yang
belum tentu terjadi.

27.

Saya senang bila orang tua mengetahui
kegiatan yang saya lakukan.

28.

Saya memiliki keterlibatan sosal dengan
dosen di kampus.

29.

Saya menghindari kegiatan bersama keluarga
apabila memungkinkan.

30.

Saya tidak nyaman berada di dekat teman
sekampus .

31.

Saya puas dengan penampilan saya.

32.

Saya dapat memaafkan orang yang telah
melakukan kesalahan besar pada diri saya.

33

Saya

dapat

mengungkapkan

rasa

kesal

terhadap teman saya maupun orang lain.
34.

Saya marah jika seseorang mengkritik diri
saya.

35.

Saya menyukai berada di rumah daripada
pergi bersosialisasi

36.

Saya tersisih dalam keluarga.

37.

Saya senang berbicara dan berbagi dengan
anggota keluarga.

38.

Saya senang bergurau pada teman-teman
saya.

39.

Saya terpaksa menaati aturan orang tua.

KUESIONER KECERDASAN EMOSIONAL

No.

Pernyataan

SS

SR

KD

JR

SJ

1.

Saya menikmati kegiatan perkuliahan yang
saya jalani.

2.

Rasa marah dapat mempengaruhi aktivitas
belajar saya.

3.

Saya

bangkit

kembali

walau

pernah

menghadapi kegagalan.
4.

Saya membalas apabila dimarahi orang lain.

5.

Saya putus asa dan tidak dapat menyelesaikan
tugas kuliah bila sedang menghadapi masalah.

6.

Beratnya

tugas

tidak

membuat

saya

melalaikannya.
7.

Aktivitas sosial saya terganggu saat saya
sedang bermasalah dengan teman.

8.

Saya memaksakan pendapat saya pada temanteman di kampus.

9.

Saya

ditunjuk

oleh

teman-teman

untuk

memimpin suatu acara.
10.

Saya marah apabila pendapat yang saya
kemukakan ditentang.

11.

Saya tidak sabar jika mendengarkan teman
yang sedang bicara.

12.

Saya berusaha memikirkan cara yang terbaik
untuk menyelesaikan pertengkaran dengan
teman.

13.

Saya sulit menerima pandangan yang berbeda
dengan pandangan saya.

14.

Saya sedih tanpa mengetahui apa yang
menjadi penyebabnya.

15.

Saya memaki teman yang menyepelekan hasil
kerja saya.

16.

Saya dapat meredakan ketegangan menjelang
ujian.

17.

Saya

tidak

dapat

menepati

jadwal

penyelesaian tugas kuliah.
18.

Saya

membantu

orang-orang

yang

membutuhkan bantuan saya.
19.

Saya memarahi teman-teman yang tidak mau
bekerja sama dalam satu kelompok.

20.

Saya menenangkan diri sebelum berbicara
dengan teman yang telah membuat saya
marah.

22.

Saya tidak berminat untuk mengikuti kegiatan
amal atau organisasi.

23.

Saya cemas apabila rencana yang telah saya
buat menemui rintangan.

24.

Saya bangga dengan hasil IPK yang sesuai
dengan target pribadi.

25.

Saya

mendengarkan

terlebih

dahulu

pembicaraan teman saya samapai selesai
sebelum saya menanggapinya.
26.

Saya menjalankan tanggung jawab yang
diberikan walaupun saya sedang kesal.

27.

Saya menentukan target IPK untuk setiap
semester.

28.

Saya berdiskusi dengan teman-teman untuk
mencari jawaban suatu permasalahan.

29.

Saya memarahi teman kelompok apabila hasil
kerjanya tidak sesuai dengan tugas yang telah
diberikan.

30.

Saya memiliki kemauan yang rendah untuk

berprestasi.
31.

Saya berusaha tenang meskipun nilai ujian
saya turun.

32.

Saya dapat mengikuti kegiatan perkuliahan
sekalipun sedang gelisaha atau kesal.

33.

Saya

menghormati

keputusan

yang

merupakan hasil diskusi teman-teman.
34.

Saya

menghindari

teman-teman

yang

mengkritik saya.
35.

Saya tidak peduli dengan perasaan teman saya
yang sedang sedih.

36.

Saya gugup apabila berbicara denagn orang
yang saya sukai.

37.

Saya berusaha menghibur teman saya yang
menghadapi masalah.

38.

Saya memilih menonton TV atau membaca
majalah daripada menyelesaikan tugas kuliah.

39.

Saya

tidak

menemui

kesulitan

dalam

menetukan tugas yang harus diselesaikan
terlebih dahulu.
40.

Saya

cemas

apabila

tidak

mampu

mengerjakan tugas laporan yang diberikan.
41.

Saya

menegur

teman

yang

melakukan

kesalahan dengan kata-kata yang sopan.
42.

Saya tetap berbicara sopan kepada teman
yang membuat saya kesal.

43.

Saya dihindari teman-teman karena saya
pendiam dan sulit diajak bicara.

44.

Saya berbicara dengan nada suara yang keras
ketika marah.

45.

Saya diminta teman-teman untuk membantu
mengerjakan tugas.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Memasuki ambang millennium ketiga, masyarakat Indonesia mengalami

perubahan-perubahan di berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi,
politik, ekonomi, dan pendidikan sebagai imbas dari globalisasi. Menghadapi arus
perubahan yang pesat itu, suka atau tidak suka masyarakat Indonesia dituntut untuk
dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Salah satu
bentuk penyesuaian yang harus dilakukan adalah mempersiapkan sumber daya
manusia yang handal, yang mampu menjawab arus globalisasi menjadi tantangan
sehingga tetap eksis dan mampu menunjukkan martabatnya di mata dunia
internasional.
Potensi kecerdasan telah lama dipandang sebagai pintu menuju keberhasilan.
Artinya, diperlukan kecerdasan dalam derajat tertentu agar individu mampu
mengatasi pelbagai persoalan dalam kehidupan mulai dari persoalan sederhana
hingga persoalan kompleks. Secara substansial, manusia memiliki potensi kecerdasan
yang beragam. Kecerdasan intelektual saja tidak cukup memadai untuk menjawab
persoalan menjadi tantangan. Mahasiswa yang cerdas secara intelektual, misalnya,
belum tentu akan menjadi jaminan dirinya berhasil dalam menjalani kehidupannya.
Sebab, sebagai mahluk sosial, manusia senantisa dituntut untuk menyesuaikan diri

1

Universitas Kristen Maranatha

agar tetap survive. Untuk itulah, kecerdasan emosional dipandang sebagai konsep
kecerdasan yang perlu diperhitungkan dan diposisikan sama pentingnya dengan
potensi kecerdasan lainnya termasuk kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual
dan kecerdasan emosional adalah sumber-sumber daya yang sinergis. Menurut
(Daniel Goleman (1997), kecerdasan intelektual hanya mempengaruhi 20% dari
kesuksesan seseorang dalam pekerjaan atau kehidupannya, sedangkan sisanya
ditentukan oleh kemampuan emosi atau disebut kecerdasan emosional.
Seorang mahasiswa memiliki berbagai tuntutan dalam menjalankan perannya
di lingkungan kampus. Tuntutan terkait dengan ketentuan akademik yang telah
ditetapkan seperti mengikuti jadwal perkuliahan teori ataupun praktikum, mengikuti
ujian, mengumpulkan tugas yang diberikan dosen dan hadir pada saat perwalian.
Selain tuntutan tersebut terdapat pula tuntutan yang lain yaitu tuntutan sosial dan
tuntutan emosi. Tuntutan sosial berkaitan dengan hubungan mahasiswa dengan
individu lain dalam lingkup kampus. Individu lain yang berkaitan dengan mahasiswa
adalah dosen, asisten dosen, mahasiswa satu angkatan yang belajar bersama-sama,
mahasiswa lain baik yang senior maupun junior, dan pengawai tata usaha. Tuntutan
emosi terkait dengan bagaimana mahasiswa mengolah emosinya sehingga dapat
selaras dengan lingkungannya. Untuk dapat mengikuti perkuliahan dengan baik selain
mematuhi peraturan akademis yang ada, maka mahasiswa juga memerlukan bantuan
dari individu lain dalam lingkup kampus baik secara langsung maupun tidak
langsung. Oleh karenanya, mahasiswa diharapkan dapat membina hubungan yang
baik dengan civitas academis di lingkup kampus. Untuk dapat membina hubungan
2

Universitas Kristen Maranatha

yang baik terdapat beberapa kemampuan yang harus dimiliki dan bahkan
dikembangkan oleh mahasiswa. Kemampuan tersebut antara lain adalah kemampuan
untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali
emosi yang dirasakan oleh orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain.
Seluruh kemampuan tersebut merupakan aspek-aspek yang terangkum dalam
kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional berperan terhadap kesadaran diri, kepekaan sosial dan
kemampuan adaptasi seseorang, bahkan dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun
masyarakat. Kecerdasan emosional juga menentukan potensi seorang mahasiswa
untuk mempelajari keterampilan-keterampilan praktis yang terdiri atas lima aspek,
yaitu kesadaran diri, motivasi, pengaturan diri, empati dan kecakapan membina
hubungan dengan orang lain.
Generasi muda sekarang banyak mengalami tekanan yang berkaitan erat
dengan masalah emosional. Di tengah kehidupan perkotaan yang sarat dengan
persaingan, mereka mudah mengalami stress dari berbagai sumber, diantaranya dalam
menghadapi studi mereka, dalam hubungan sosialnya dan lebih mudah terpicu
melakukan tindak kekerasan. Bahkan tidak jarang mahasiswa selaku kaum intelektual
terlibat tawuran dengan mahasiswa lainnya. Ternyata setelah dikaji lebih dalam, hal
yang memicu permasalahan disebabkan adanya kesalahpahaman antar mahasiswa itu
sendiri. Mereka tidak mampu mengontrol dan mengatasi emosi yang timbul
(Kompas, April 2005).

3

Universitas Kristen Maranatha

Mahasiswa yang memiliki kecerdasan emosional rendah menunjukkan
ketidakmampuan dalam membina hubungan yang baik dengan lingkungannya, dan
pada akhirnya dapat menghambat penyesuaian diri mahasiswa bersangkutan.
Mahasiswa yang kecerdasan emosionalnya rendah, akan mengalami kesulitan untuk
memahami dan mengelola emosinya dengan baik sehingga akan lebih mudah
terpancing amarahnya (//www.mail-archive.com). Kecerdasan emosional merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, sehingga seseorang yang
memiliki

kecerdasan

emosional

rendah

akan

mengalami

kesulitan

dalam

menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana dia berada. Ketika seseorang berada di
suatu wilayah baru ia akan berusaha untuk memahami lingkungan barunya itu dan
kemungkinan akan mengalami kebingungan dan keresahan emosional. Hal ini yang
sebagian mendasari kemampuan mengatasi emosi dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan. Individu yang mampu mengenali dan mengolah emosinya dapat
menyesuaikan diri dengan baik. Sedangkan individu yang tidak mampu mengenali
dan mengolah emosinya akan mengalami kecemasan yang terus-menerus yang
akhirnya menimbulkan dampak negatif bagi penyesuaian diri seseorang, seperti
menutup diri (Jeanne Segal) Juni 2001.
Dalam kehidupannya manusia sebagai makhluk sosial selalu berhubungan
dengan lingkungannya. Tetapi tidak semua individu dapat menyesuaikan diri dengan
tuntutan lingkungan tempatnya berada. Lazarus (1976), mengatakan penyesuaian diri
merupakan kemampuan bereaksi atau bertingkah laku yang bertanggung jawab baik
dalam sikap atau dalam mengikuti kegiatan saat menghadapi berbagai tuntutan
4

Universitas Kristen Maranatha

lingkungan. Kesulitan melakukan penyesuaian diri lebih terasa pada saat individu
baru memasuki masa remaja akhir. Masa remaja akhir merupakan periode
penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru.
Penyesuaian diri tersebut menjadi suatu periode yang sulit dalam rentang hidup
seseorang. Individu diharapkan dapat menyesuaikan diri secara mandiri sehingga
dapat diterima oleh lingkungan dimana ia berada.
Dalam lingkungan Perguruan Tinggi terdapat berbagai fakultas. Salah satu
fakultas yang memerlukan mahasiswa memiliki kecerdasan emosional yang tinggi
adalah fakultas Psikologi, mengingat intensitasnya yang tinggi untuk berhubungan
dengan manusia. Mereka dituntut untuk dapat melakukan pendekatan tahap mula
dengan baik, wawancara yang terstruktur, observasi yang objektif dan konseling yang
efektif. Keseluruhan kegiatan tersebut membutuhkan pengenalan emosi diri,
kepercayaan bahwa dirinya mampu membantu orang lain, mampu berempati untuk
memahami orang lain dengan baik melalui kepekaan terhadap isyarat emosi, memiliki
keterampilan sosial yang berkaitan erat dengan persuasi yang baik serta komunikasi
yang seimbang antara mendengarkan informasi dan menyampaian informasi kepada
orang lain. Sedangkan kesadaran emosi diri, kepercayaan diri, empati, keterampilan
sosial dan komunikasi merupakan bagian dari kecerdasan emosional. Mahasiswa
fakultas Psikologi mendapat tuntutan tambahan yaitu memiliki kecerdasan emosional
yang tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti terhadap 20 orang mahasiswa fakultas
Psikologi Perguruan Tinggi “X” di Bandung, delapan orang atau 40% mengatakan
5

Universitas Kristen Maranatha

bahwa mereka tidak menemui kesulitan berarti dalam beradaptasi pada lingkungan
kampus, merasa nyaman dengan suasana belajar dan lingkungan belajar, namun
mereka kurang memiliki rasa percaya akan kemampuan mereka untuk dapat
memenuhi semua tuntutan akademik nya. Sedangkan lima orang atau 25%
mengatakan mereka tidak menemui hambatan dalam beradaptasi dengan lingkungan
baru yaitu lingkungan kampus dan merasa nyaman dengan suasana belajar. Mereka
juga merasa yakin akan kemampuan yang mereka miliki dapat membantu mereka
dalam memenuhi tuntutan akademik yang ada. Mereka tetap dapat mengikuti
perkuliahan dengan konsentrasi walaupun memiliki masalah atau sedang mengalami
suasana hati yang buruk. Tugas-tugas yang diberikan dosen juga tidak tertunda
pengerjaannya karena adanya masalah yang mereka alami dengan lingkungannya.
Selain itu terdapat dua orang atau 10% yang mengatakan bahwa mereka merasa tidak
nyaman berada di lingkungan kampus, merindukan masa-masa SMU, tidak dapat
beradaptasi dengan lingkungan kampus, baik dengan teman-teman maupun dengan
tuntutan akademik yang ada. Oleh karena itu, saat menghadapi masalah maka
perhatian mereka ke kuliah dan pengerjaan tugas menjadi terbagi dan berakibat tidak
dapat berkonsentrasi dengan baik saat kuliah dan terbengkalainya tugas.
Sedangkan lima orang atau 25% lainnya mengatakan bahwa pada awalnya
mereka sangat kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan kampus yang sangat
berbeda dengan lingkungan SMU namun mereka berusaha untuk dapat merasa
nyaman pada lingkungan baru tersebut. Mereka percaya dapat menyesuaikan diri
dengan baik, mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas dengan baik dengan
6

Universitas Kristen Maranatha

kemampuan yang ada pada diri mereka. Dalam usahanya mereka berusaha tetap
fokus pada kuliah walaupun sedang ada masalah dan mau memulai untuk
mendekatkan diri pada teman seangkatannya. Saat ini mereka telah merasa nyaman
dan dapat mengontrol emosinya untuk berhubungan dengan lingkungan barunya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai hubungan antara kecerdasan emosional dan penyesuaian diri pada
mahasiswa fakultas Psikologi angkatan 2004 Universitas “X” Bandung.

1.2

Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan

identifikasi masalah sebagai berikut :
♣ Apakah terdapat hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Penyesuaian diri
pada Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2004 Universitas “X” Bandung.

1.3

Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian
Untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara Kecerdasan
Emosional dan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Fakultas Psikologi
angkatan 2004 Universitas ‘X’ Bandung.

7

Universitas Kristen Maranatha

1.3.2 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui sejauhmana hubungan antara Kecerdasan Emosional dan
Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2004
Universitas ‘X’ Bandung.

1.4

Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Ilmiah


Untuk bahan masukan bagi pengembangan penelitian lebih lanjut terhadap
permasalahan yang sama, sehingga ahkirnya dapat menjadi sumbangan
yang bermanfaat bagi mahasiswa ataupun masyarakat pada umumnya.



Memberikan informasi bagi ilmu Psikologi terutama mengenai kecerdasan
emosional dan penyesuaian diri.

1.4.2 Kegunaan Praktis


Bagi Fakultas Psikologi Perguruan Tinggi ‘X’ Bandung, penelitian ini
diharapkan memberikan gambaran tentang kecerdasan emosional dan
penyesuaian diri pada mahasiswa yang dapat dijadikan informasi untuk
meningkatkan program pendidikan yang berkaitan dengan kecerdasan
emosional dan mengembangkan kecerdasan emosional mahasiswanya.



Bagi orang tua mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2004 Universitas
‘X’ Bandung, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi

8

Universitas Kristen Maranatha

mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kecerdasan emosional dan
penyesuaian diri anak-anak nya.


Bagi mahasiswa, penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang
pentingnya kecerdasan emosional dan penyesuaian diri sehingga dapat
mengembangkan keduanya.

1.5

Kerangka Pemikiran
Ketika

menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, mahasiswa menemui

berbagai tuntutan dari lingkungan. Tuntutan tersebut antara lain tuntutan akademis,
tuntutan emosi dan tuntutan sosial. Dalam usaha untuk memenuhi tuntutan
lingkungan, mahasiswa harus mampu untuk menyesuaikan diri dengan tuntutantuntutan tersebut. Kemampuan mahasiswa untuk mengubah tuntutan menjadi
tantangan adalah dengan cara beradaptasi terhadap tuntutan yang bersumber dari
lingkungan eksternalnya. Penyesuaian diri mahasiswa terhadap lingkungan Perguruan
Tinggi lebih berat, hal ini disebabkan karena Perguruan Tinggi merupakan suatu
jenjang pendidikan yang membutuhkan kemandirian dan tanggung jawab yang lebih
tinggi dibanding jenjang pendidikan sebelumnya. Khusus bagi mahasiswa fakultas
Psikologi memiliki, tuntutan untuk dapat menjalin relasi dengan orang lain secara
baik lebih diutamakan, karena objek sekaligus subjek kajian Psikologi adalah
manusia.

9

Universitas Kristen Maranatha

Mahasiswa tingkat awal berada dalam tahap perkembangan remaja akhir,
yang memiliki tuntutan perkembangan antara lain otonomi, membina hubungan yang
baik dengan teman sebaya, dan memiliki hubungan yang baik dengan orang tuanya.
Tuntutan perkembangan tersebut disesuaikan dengan perkembangan dan kematangan
mahasiswa, khususnya perkembangan dan kematangan intelektual, sosial, moral dan
emosi. Perkembangan dan kematangan tiap bagian tersebut membantu mahasiswa
dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Santrock) 2003.
Kemampuan penyesuaian diri

dibutuhkan oleh mahasiswa untuk dapat

memenuhi tuntutan dalam kehidupan. Menurut Schneiders (1994), penyesuaian diri
merupakan suatu proses yang meliputi respon mental dan tingkah laku dalam upaya
seseorang untuk menguasai atau menanggulangi segala kebutuhan-kebutuhan diri,
ketegangan, frustrasi, konflik dan untuk menyeimbangkan tuntutan-tuntutan dalam
diri dan tuntutan yang dibebankan kepadanya oleh dunia obyektif dari lingkungan
dimana individu berada. Mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri dengan baik
adalah mahasiswa yang dalam batas-batas kapasitasnya sendiri dan sesuai dengan
kepribadiannya, belajar untuk bereaksi terhadap dirinya dan lingkungannya secara
matang, efisien, memuaskan dan dapat menyelesaikan konflik mental, frustrasi dan
bereaksi terhadap permasalahan pribadi dan sosial tanpa memunculkan tingkah laku
simptomatik. Mahasiswa yang dapat menyesuaikan diri juga mampu membina
hubungan yang baik dengan lingkungannya. Penyesuaian diri juga dapat membantu
mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya secara
fleksibel tanpa diwarnai oleh konflik-konflik berarti dalam dirinya.
10

Universitas Kristen Maranatha

Dilihat dari bentuknya, maka penyesuaian diri terdiri atas penyesuaian diri
terhadap pribadi dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial. Penyesuaian diri
terhadap pribadi mencakup penyusunan kembali sikap dan tingkah laku mahasiswa
untuk berespon secara adekuat terhadap keadaan dirinya yang didalamnya meliputi
penerimaan diri, moral dan perasaan. Penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial
merujuk kepada kapasitas untuk bereaksi secara efektif terhadap kenyataan yang ada
di lingkungan termasuk lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah, sehingga
mampu memenuhi tuntutan sosial dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan
bagi dirinya maupun lingkungannya. Apabila derajat kemampuan penyesuaian diri
terhadap pribadi seorang mahasiswa adalah baik, maka akan membantunya untuk
melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial.
Penyesuaian diri ditentukan oleh beberapa faktor yaitu : kondisi fisik dan
determinannya (termasuk hereditas, konstitusi tubuh, sistem syaraf, kelenjar dan
sistem otot, kesehatan dan keadaan sakit), perkembangan dan kematangan (khususnya
kedewasaan intelektual, sosial, moral dan emosi), determinan psikologis (termasuk
pengalaman belajar, pengkondisian, frustrasi dan konflik; kondisi lingkungan
(khususnya kondisi rumah, keluarga dan sekolah), kondisi lingkungan (khususnya
kondisi rumah, keluarga dan sekolah), dan determinan kebudayaan dan agama.
Sebagaimana disebutkan pada alinea sebelumnya, perkembangan dan
kematangan emosi dirujuk sebagai sub faktor yang turut menentukan penyesuaian diri
mahasiswa ke lingkungan. Penelitian ini secara spesifik akan tertuju pada faktor
perkembangan dan kematangan emosi. Perubahan biologis, kognitif, dan sosio11

Universitas Kristen Maranatha

emosional yang terjadi pada mahasiswa akan berdampak kepada perkembangan dan
kematangan fungsi seksual, peningkatan kemampuan berfikir, kemampuan mengelola
emosi dan berkembangnya kemandirian. Kemampuan mengelola emosi, menjadi
bagian esensial dari kecerdasan emosional (EQ). Oleh karenanya, sejauh mana
perkembangan dan kematangan emosi mahasiswa akan tercermin melalui seberapa
jauh kecerdasan emosional mahasiswa bersangkutan telah berkembang.
Kecerdasan emosional merupakan suatu komponen mendasar yang dimiliki
oleh mahasiswa yang berangsur-angsur terbentuk ketika mahasiswa menghadapi
berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membina interaksi dengan
orang lain dalam pelbagai setting. Dengan berbagai persoalan atau kejadian seharihari yang dialami, membuat seseorang terus menerus belajar sehingga keterampilan
emosional ini akan terus berkembang.
Kecerdasan emosional seseorang tergambar dalam lima aspek, Goleman
(1997). Aspek-aspek tersebut antara lain mengenali emosi yang merupakan
kemampuan mengenali dan merasakan emosi dirinya, termasuk mengenali gejalagejala fisik dan psikis yang terjadi pada diri serta derajat dari gejala tersebut. Melalui
pengenalan ini mahasiswa mampu mengenali dan menghayati jenis emosi yang
sedang dirasakan. Mahasiswa yang mampu mengenali emosi tidak tengelam dalam
emosi negatif yang merugikan, namun mereka dapat dengan cepat mengenali dan
menghayati emosi apa yang sedang dirasakan kemudian memegang kendali atas
keadaan emosi mereka. Aspek kedua adalah mengelola emosi. Dorongan emosional
baik yang positif maupun yang negatif dapat diolah dengan baik sehingga
12

Universitas Kristen Maranatha

pengekspresian keluar sesuai dengan tuntutan lingkungan. Dengan pengolahan yang
baik, mahasiswa juga dapat bertoleransi terhadap frustrasi dengan mengungkapkan
amarah dengan tepat dan berkurangnya tindakan pelanggaran. Aspek ketiga adalah
memotivasi diri sendiri merupakan kemauan dari dalam diri untuk bertanggung
jawab, memusatkan perhatian dan berkonsentrasi pada tugas, penguasaan diri yang
lebih baik, tidak impulsif serta peningkatan prestasi.
Aspek keempat dari kecerdasan emosional adalah mengenali emosi orang
lain. Mengenali emosi orang lain berarti mahasiswa mampu untuk mengenali gejalagejala emosi yang muncul pada diri orang lain, kualitas emosi, derajat emosi dan
bentuk emosi yang sedang dirasakan. Dengan dapat mengenali emosi orang lain maka
mahasiswa juga dapat menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan
orang lain dan adanya keinginan memahami perasaan orang lain. Aspek kelima
adalah membina hubungan dengan orang lain. Hubungan yang baik dapat terbina
dengan adanya kemampuan menganalisis dan memahami hubungan, menyelesaikan
pertikaian dan menyelesaikan persoalan yang timbul dalam relasi, tegas dan terampil
dalam berkomunikasi, populer dan mudah bergaul, menaruh perhatian dan tenggang
rasa, memikirkan kepentingan sosial, suka berbagi, berkerja sama, dan demokratis
dalam bergaul dengan orang lain.
Menurut Daniel Goleman (1997), orang yang memiliki kecerdasan emosional
tinggi diharapkan mampu menjadi pilot yang baik dalam kehidupannya. Mahasiswa
dikatakan memiliki kecerdasan emosional yang tinggi bila pada saat ia mengalami
emosi yang tidak menyenangkan ia mampu menyadari emosi yang dialaminya,
13

Universitas Kristen Maranatha

mampu mengolah emosi tersebut, kemudian memanfaatkan emosi yang dialaminya
untuk tetap produktif. Kesadaran emosi, pengolahan dan pemanfaatan emosi
merupakan keterampilan yang mendasari kemampuan seseorang dalam berempati dan
membina hubungan dengan orang lain. Ciri-ciri dari kecerdasan emosional adalah
kemampuan memotivasi diri sendiri dan bertahan terhadap frustrasi, mengendalikan
dorongan hati, mengatur suasana hati dan menjaga agar masalah yang dihadapi tidak
melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berharap.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional berasal dari faktor
internal dan faktor eksternal. Pengaruh faktor internal berpusat pada sistem syaraf
otak manusia di bagian amygdala. Amygdala merupakan gudang emosional manusia
yang membantu seseorang untuk dapat merasakan perasaannya dan perasaan orang
lain. Berbagai perasaan yang dirasakan seseorang seperti senang, sedih, marah dan
kecewa dapat disadari dengan bantuan dari amygdala. Amygdala juga berperan dalam
mengenali apa yang dirasakan oleh orang lain. Sedangkan pengaruh faktor eksternal
adalah dari proses belajar, pendewasaan dan relasi sosial. Sepanjang hidupnya
mahasiswa mengalami proses belajar secara berkesinambungan, baik proses belajar
secara formal maupun informal yang memberikan pengaruh terhadap kecerdasan
emosionalnya. Begitu pula dengan pendewasaan, semakin dewasa seseorang maka ia
akan memiliki pandangan-pandangan yang lebih luas. Sedangkan relasi sosial juga
memberikan pengaruh bagi kecerdasan emosional seseorang dengan membentuk
sikapnya dan cara berelasi dengan orang lain.

14

Universitas Kristen Maranatha

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa salah satu faktor yang
mempengaruhi penyesuaian diri adalah kecerdasan emosional. Dengan memiliki
kecerdasan emosional mahasiswa akan belajar untuk mengenali emosi dirinya,
mengelola emosinya, memotivasi dirinya sendiri, berempati dan mampu membina
hubungan dengan orang lain. Semua kemampuan yang tercakup dalam kecerdasan
emosional akan membantu mahasiswa dalam menyesuaiakan diri dengan tuntutantuntutan dari lingkungan. Penyesuaian diri pada mahasiswa diawali dengan
penyesuaian terhadap pribadinya lalu selanjutnya penyesuaian diri terhadap
lingkungan. Dengan demikian, mahasiswa yang memiliki kecerdasan emosional
tinggi maka akan mampu menyesuaikan dirinya dengan baik. Mahasiswa dengan
kecerdasan emosional yang rendah kurang mampu menyesuaikan dirinya dengan baik
terhadap lingkungan baru. Sedangkan mahasiswa dengan tingkat kecerdasan
emosional sedang cukup mampu dalam menyesuaikan dirinya.

15

Universitas Kristen Maranatha

Bagan kerangka pemikiran

TuntutanTuntutan
Tinggi
Mahasiswa

Kecerdasan
Emosional

Penyesuaian
Diri
Rendah

Faktor yang mempengaruhi:
• Konstitusi fisik dan determinannya dalam
penyesuaian diri termasuk hereditas,
konstitusi tubuh, sistem syaraf, kelenjar
dan sistem otot, kesehatan dan keadaan
sakit
• Perkembangan dan kematangan, khususnya
kedewasaan intelektual, sosial, moral dan
emosi
• Determinan psikologis, termasuk
pengalaman, belajar, pengkondisian,
frustrasi dan konflik.
• Kondisi lingkungan, khususnya kondisi
rumah, keluarga dan sekolah.
• Determinan kebudayaan dan agama dalam
penyesuaian.

1.6

Asumsi
♣ Kecerdasan emosional yang terdiri atas kemampuan mengenali emosi,
mengelola emosi, memotivasi diri, empati, dan membina hubungan yang
baik akan berkembang di sepanjang rentang kehidupan manusia.
♣ Kecerdasan emosional mencerminkan kematangan seseorang dalam hal
emosi.
16

Universitas Kristen Maranatha

♣ Semakin tinggi kecerdasan emosional seseorang, semakin mampu dirinya
menata perasaannya yang sekaligus mencerminkan kematangan emosinya.
♣ Kematangan emosi merupakan salah satu faktor yang membantu
seseorang untuk menyesuaikan diri ke lingkungan.

1.7

Hipotesa Penelitian
♣ Terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian diri
pada mahasiswa fakultas Psikologi Angkatan Universitas X Bandung.

17

Universitas Kristen Maranatha

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan


Berdasarkan hasil penelitian, diketahui korelasi antara kecerdasan emosional
dan

penyesuaian

diri

sebesar

0,745.

Menurut

kriteria

Guilford

(Nirwana,1995), nilai koefisien korelasi yang diperoleh termasuk dalam
kriteria korelasi yang erat.


Berdasarkan hasil penelitian, sebesar 54,4% mahasiswa memiliki penyesuaian
diri tinggi dan sebesar 60,5% mahasiswa memiliki kecerdasan emosional yang
tinggi.



Berdasarkan tabulasi silang antara kecerdasan emosional dengan penyesuaian
diri, sebesar 43,5% mahasiswa memiliki kecerdasan emosional dan
penyesuaian diri tinggi. Serta sebesar 28,5% mahasiswa memiliki kecerdasan
emosional dan penyesuaian diri rendah.



Mahasiswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi namun penyesuaian
diri nya rendah, menyatakan memiliki interaksi otoriter dengan orang tua,
tidak mendapat dukungan moril dan materiil dari orang tua dan memiliki
teman dekat yang terbatas. Sedangkan mahasiswa dengan kecerdasan
emosional rendah dan penyesuaian diri tinggi, menunjukkan kekurangan
dalam hal mengelola emosi dan empati.

69

Universitas Kristen Maranatha

5.2

Saran

5.2.1 Saran Praktis
¬ Bagi fakultas Psikologi Universitas “ X” Bandung


Dapat menambah wawasan baru bagi mahasiswa tentang kecerdasan
emosional,

misalnya

mengadakan

pelatihan

mengenai

bagaimana

meningkatkan kemampuan mengelola emosi.
¬ Bagi orang tua mahasiwa fakultas Psikologi Universitas “ X “ Bandung


Dapat mengembangkan interaksi demokratis dan memberikan dukungan
kepada anak-anaknya, supaya mereka dapat mengembangkan kemampuan
penyesuaian diri yang tinggi.

¬ Bagi mahasiswa fakultas Psikologi Universitas “ X “ Bandung


Dengan mengetahui hasil penelitian ini, mahasiswa dapat memanfaatkannya
untuk dapat mengenali kecerdasan emosional nya dan mengatasi aspek yang
dianggap kurang.

5.2.2 Saran untuk penelitian lanjutan


Dapat diteliti faktor lain yang diduga memiliki pengaruh dengan penyesuaian
diri, misalnya dukungan orang tua dan pola asuh yang dalam penelitian ini
dijaring melalui data penunjang.

70

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Goleman, Daniel. 1997. Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional); Mengapa
EI Lebih Penting daripada IQ. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Guilford, J.P. 1956. Fundamental Statistic In Psychology And Education. 3rd ed.
Tokyo : Mc. Graw. Hill Kogakusha, Co.,Ltd.

Pedoman Penyusunan Skripsi. Juni 2000. Bandung : Fakultas Psikologi Universitas
Kristen Maranatha.

Program SPSS 4 Windows versi 11.0

Santrock, John W. 1986. Life – Span Development. Second Edition. Dubuqu, Iowa :
Wm. C. Brown Publisher.

Santrock, John W. 2002. Perkembangan Masa Hidup. Edisi kelima. Jakarta :
Erlangga.

Schneiders, Alexander A. 1964. Personal Adjustment And Mental Health. Mew York,
Holt, Rinehart and Winston.

Segal, Jeanne Ph.D. 2001. Raising Your Emotional Intelligence. Bandung : Kaifa.

Siegel, Sidney. 1990. Terjemahan oleh Hagul, Peter. Statistic Non-Parametrik Untuk
Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta : PT Gramedia.

Sitepu, Nirwana SK. 1995. Analisis Korelasi. Bandung : Unit Pelayanan Statistika
Jurusan Statistika, FMIPA, Universitas Padjadjaran.

Universitas Kristen Maranatha

Sudjana, Prof. DR. M.A., M.Sc. 1996. Metoda Statistik. Edisi keenam. Bandung :
Tarsito.

Universitas Kristen Maranatha

LAMPIRAN

Universitas Kristen Maranatha

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2712 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 704 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 591 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 388 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 527 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 889 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 808 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 494 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 734 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 877 23