IMPLIKASI HIJAB TERHADAP AKHLAQ MUSLIMAH MENURUT MURTADHA MUTHAHHARI.

IMPLIKASI HIJAB TERHADAP AKHLAK MUSLIMAH
MENURUT MURTADHA MUTHAHHARI

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan kepada
Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :
MARIYATUL KHIBTIYAH
D01212030

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2016

ABSTRAK
Mariyatul Khibtiyah (D01212030), Implikasi Hijab terhadap Akhlak Muslimah
menurut Murtadha Muthahhari , Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Keyword: Implikasi, Hijab, Akhlak Muslimah, Murtadha Muthahhari.

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana pandangan Murtadha
Muthahhari tentang hijab, dan bagaimana implikasi hijab menurut Murtadha
Muthahhari terhadap akhlak muslimah.
Pelaksanaan penelitian pada skripsi ini dalam pengumpulan data penulis
menggunakan metode penelitian kepustakaan (Library Research), sedangkan fokus
penelitiannya adalah implikasi hijab terhadap akhlak muslimah menurut Murtadha
Muthahhari yang membahas tentang pengaruh batasan-batasan prilaku seorang
muslimah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengolahan data, penulis menggunakan
metode tematik.
Hasil analisis tentang implikasi hijab terhadap akhlak muslimah menurut
Murtadha Muthahhari setelah diadakan kajian penelitian menunjukkan bahwa hijab
memiliki dampak positif terhadap akhlak seseorang. Hijab dapat menghindarkan
seseorang dari perbuatan maksiat diantaranya: menjaga kehormatan diri, kesopanan
mengendalikan hawa nafsu, mengajarkan hidup secara sederhana, mendidik rasa malu.
Jika seorang wanita meninggalkan rumahnya dengan berhijab dengan batas-batas yang
telah disebutkan diatas, hal ini menyebabkan penghormatan yang lebih besar, sehingga
dapat menghindarkan adanya gangguan dari laki-laki yang tidak bermoral dan tidak
mempunyai sopan santun.
Berdasarkan dari hasil analisis kajian skripsi ini, maka dapat penulis simpulkan
bahwa jiwa manusia sangat berpengaruh terhadap penampilan raga dalam bentuk
perilaku, jiwa yang bagus lebih disukai oleh manusia yang sehat akalnya daripada
sekedar bagus fisiknya, akhlak yang bagus bisa menutupi kekurangan atau cacat fisik
atau raga manusia, jiwa atau akhlak yang buruk bisa merusak citra fisik atau raga yang
bagus, dan sakitnya jiwa lebih berbahaya daripada sakitnya raga, termasuk sulit
mengobatinya.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM....................................................................................

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI...........................................

ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ............................................

iii

MOTTO .....................................................................................................

iv

PERSEMBAHAN ......................................................................................

v

ABSTRAK .................................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ...............................................................................

vii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ..............................................................

xi

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................

1

1.2. Rumusan Masalah .............................................................

7

1.3. Tujuan Penelitian ...............................................................

7

1.4. Kegunaan Penelitian ..........................................................

7

1.5. Penelitian Terdahulu ..........................................................

8

1.6. Definisi Operasional ..........................................................

10

1.7. Metodologi Penelitian........................................................

14

1.8. Sistematika Pembahasan ...................................................

21

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
2.1. Definisi Hijab ...................................................................

23

2.2. Alasan Perkembangan Hijab dalam Islam ........................

27

2.3. Batas Hijab Dalam Islam ..................................................

31

2.4. Definisi Akhlak..................................................................

35

2.5. Pembagian Akhlak .............................................................

39

2.5.1. Akhlak Terhadap Allah............................................

40

2.5.2. Akhlak Terhadap Manusia.......................................

43

2.5.3. Akhlak Terhadap Lingkungan .................................

45

2.6. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak

55

BAB III BIOGRAFI SOSIAL MURTADHA MUTHAHHARI
3.1. Daftar Riwayat Hidup Murtadha Muthahhari ...................

62\

3.2. Daftar riwayat pendidikan .................................................

64

3.3. Karir Murtadha Muthahhari...............................................

66

3.4. Karya-karya Murtadha Muthahhari ...................................

71

3.5. Pemikiran-Pemikiran Murtadha Muthahhari .....................

75

BAB IV IMPLIKASI HIJAB TERHADAP AKHLAK MUSLIMAH

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

MENURUT MURTADHA MUTHAHHARI
4.1. Definisi hijab menurut Murtadha Muthahhari ...................

79

4.2. Implikasi hijab terhadap akhlak muslimah menurut Murtadha
Muthahhari.........................................................................

BAB V

86

PENUTUP
5.1. Kesimpulan ..................................................................................................

109

5.2. SARAN .............................................................................

110

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PERNYATAAN KEABSAHAN
BIOGRAFI PENULIS

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Islam adalah agama yang diturunkan Allah untuk hamba-Nya dengan
perantaraan Muhammad SAW, yang berisi petunjuk dan pelajaran untuk
pegangan hidup agar berbahagia di dunia-akhirat. Islam datang untuk
mematahkan ikatan dan kendala-kendala yang menjerat masyarakat saat itu di
dalam segala bidang, di antaranya adalah persoalan wanita.
Islam menganjurkan wanita untuk berhijab, sebagaimana difirmankan
dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 59.

           

           

Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mu'min:" Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh
tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi maha
penyayang.1
Ayat di atas menuntut kaum wanita untuk mengulurkan jilbabnya ke
tubuh pada waktu keluar rumah supaya mereka berbeda dari wanita budak dan
tidak seorangpun yang mengganggu mereka.

1

Soenarjo,et.,al, Al-Qur'an dan Terjemahannya, (Semarang: PT Kumudasmoro,1994) h. 678

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

2

Ayat-ayat yang berhubungan dengan hal ini tidak merujuk kepada kata
hijab. Ayat-ayat yang merujuk kepada masalah ini, yaitu surat An-Nur ayat 32
dan surat Al-Ahzab ayat 33 dan ayat 53. Kedua surat di atas telah menyebutkan
batasan penutup dan kontak-kontak antara laki-laki dan wanita tanpa
menggunakan kata hijab.2 Ayat yang menggunakan kata hijab merujuk istri-istri
Nabi s.a.w. adalah ayat-ayat yang menjadi khalab dari ayat-ayat tersebut.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka menyeru
kebangkitan wanita melalui permissivisme (serba boleh) tanpa memperdulikan
nilai-nilai akhlak. Keadaan semacam ini membuat para wanita merasa berhak dan
bebas melakukan segala aktivitasnya, salah satu contonya ialah dengan
mengumbar auratnya di tempat umum.
Pada dasarnya aurat adalah sesuatu yang malu bila dilihat. Menurut
pandangan Islam aurat adalah sesuatu yang haram di tampakkkan karena aurat
bisa memancing hafsu birahi. Daya tarik aurat tak jarang seseorang
mendewakannya dan tak jarang seseorang hancur kariernya karena aurat. Bila
aurat bebas terbuka dan berjalan kemana-mana, maka tunggulah hancurnya mala
petaka hidup.
Pada saat ini manusia mengalami suatu masalah yang tidak menghiraukan
nilai-nilai moral, sehingga menimbulkan kehidupan yang serba permissiv atau

2
Murtadha Muthahhari, Hijab Gaya Hidup Wanita Islam, terj. Agus Efendi dan Alwiyah
Abdurrahmab, (Bandung: Mizan, 1990) h. 14

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

3

serba boleh, yang ditandai adanya akibat munculnya aborsi, pornografi, dan
sebagainya.
Selain itu salah satu faktor ialah Budaya barat yang telah merambah di
kalangan generasi Islam,

khususnya dalam aspek interaksi pria dan wanita,

namun sayangnya para generasi Islam tidak menyadari bahwa itu bertentangan
dengan nilai-nilai dan kebudayaan Islam dan justru sebaliknya mereka malah
mengikuti dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa mereka
sadari.3
Dunia semakin maju tetapi di sisi lain manusia kian terbelakang.
Ironisnya demikian melanda para generasi Islam yang merupakan tulang
punggung perjuangan Islam di kemudian hari, sebab tidak semua kemajuan
tersebut berdampak positif bagi generasi Islam.
Di Indonesia dikenal dengan pakaian penutup kepala yang lebih umum
disebut kerudung, tetapi tahun 1980-an lebih populer dengan jilbab. Jilbab pada
masa Nabi Muhammad ialah pakaian luar yang menutupi segenap anggota badan
dari kepala hingga kaki perempuan dewasa. Sedangkan di beberapa negara Islam
pakaian sejenis jilbab dikenal dengan beberapa istilah, seperti cadar di Iran,
pardeh di India dan Palestina, charshaf di Turki. Pergeseran makna hijab dari
semula tabir berubah menjadi pakaian penutup aurat perempuan.4

3

Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015) h.

4

Ibid, h. 389

386

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

4

Telah banyak budaya barat yang tidak sesuai dengan budaya timur yang
berusaha merusak moral bangsa dan masyarakat. Sebagaimana yang telah
dipahami bahwa dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama
teknologi informasi, ternyata tidak diikuti dalam bidang akhlak.
Maka jelaslah peran hijab zaman dahulu berperan sebagai penentu bagi
maju-mundurnya

suatu

bangsa

karena

setidaknya

hijab

mencerminkan

kepribadian akhlak atau moral penduduk suatu bangsa ketika itu, terutama para
generasi mudanya. Bahkan lebih jauh, pemakaian hijab pada wanita dapat
menanamkan pendidikan akhlak pada pemakaiannya. Salah satu tokoh terkenal
yang menyerukan digalakkan pemakaian hijab adalah Murtadha Muthahhari.
Hijab yang diperintahkan Islam kepada kaum wanita menurut Murtadha
Muthahhari bukanlah tetap tinggal di dalam rumah dan tidak pernah keluar
darinya, karena tidak ada di dalam Islam indikasi yang mengajak untuk
mengurung wanita. Hijab bagi wanita dalam Islam yang dimaksud adalah agar
wanita

menutup

badannya

ketika

berbaur

dengan

laki-laki,

tidak

mempertontonkan kecantikan dan tidak pula mengenakan perhiasan.5
Hijab di dalam Islam berakar pada sebuah masalah yang lebih umum dan
mendasar. Yaitu, ajaran Islam bertujuan membatasi seluruh bentuk pemuasan
seksual hanya pada lingkungan keluarga dan perkawinan di dalam ikatan
pernikahan, sehingga masyarakat hanya merupakan sebuah tempat untuk bekerja
dan beraktivitas. Hal ini berlawanan dengan sistem Barat dewasa ini yang
5

Murtadha Muthahhari, Wanita dan, Ibid., h. 60

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

5

membaurkan pekerjaan dengan kesenangan seksual. Islam memisahkan
sepenuhnya kedua lingkungan ini.6
Hijab mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan
manusia, sebagaimana di ceritakan Al Alamah Larus bahwa dahulu para wanita
Romawi memakai kerudung bila keluar. Mereka menutupi wajah-wajah mereka,
akan tetapi manakala wanita Romawi tidak berhijab lagi dan mulai meninggalkan
rumahnya, Imperium Romawi mengalami kemunduran hebat.7
Semakin maraknya penyimpangan prilaku yang terjadi dan persoalan lain
berkait dengan wanita telah menjadi sarana baik para prilaku kerusakan untuk
menyerang agama Islam yang suci untuk memicu malapetaka dengan segala
macam bentuk propaganda yang licik yang mempengaruhi terhadap generasi
muda yang lemah dalam aspek agamanya disebabkan mereka belum
mendapatkan tuntunan agama sebagaimana lazimnya. 8
Mereka mengatakan bahwa semua aturan dan hukum di dunia sebelum
abad ke dua puluh di dasarkan pada pandangan bahwa laki-laki disebabkan oleh
jenis kelaminnya, lebih mulia dari wanita dan bahwa wanita diciptakan sematamata untuk kemanfaatan dan kegunaan kaum laki-laki. Bahwa Islam tidak
mengakui wanita sebagai wanita yang sempurna dan bahwa Islam tidak
menetapkan hukum bagi wanita, yang diperlukan seorang manusia. Mereka
6

Ibid,. h. 19.
Abdul Hasan Al-Ghafar, Wanita dan Gaya Hidup Modern, Terj, Baharuddin Fanani,
(Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), h, 37
8
Murtadha Muthahhari, Wanita dan Hijab.cet 1, terj. Nashib Mustafa (Jakarta: Lentera,
2000), h. 19
7

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

6

menambahkan sekali pun Islam adalah agama persamaan dan mengajarkan
persamaan dalam hal-hal lain, namun dalam masalah wanita dan laki-laki, Islam
tidak melaksanakannya. Mereka mengatakan bahwa Islam memberikan hak-hak
deskriminatif dan memihak kepada kaum laki-laki.9
Wanita menjadi mitra kaum laki-laki pada setiap aktivitas dalam berbagai
kegiatan kemasyarakatan dan pemikiran. Kemudian wanita dibedakan dari lakilaki dengan pemberian kefiminiman serta unsur pesona yang dijadikan Allah
sebagai jalan kebahagiaan di antara mereka (wanita dan laki-laki). Sudah menjadi
rahasia umum, bahwa tempat kembali kebahagian dan stimulasi ini adalah naluri
yang ditiupkan pada tabiat mereka, bukan pada bagian kerja sama yang
mengumpulkan mereka dalam pemikiran dan semangat untuk melaksanakan
aktivitas-aktivitas sosial, keilmuan, dan kebudayaan.10
Jadi, laki-laki menerima wanita sebagai mitra tolong menolong pada
bidang pemikiran dan pergerakan untuk membangun masyarakat serta peradaba,
dan secara naluriah laki-laki menemukan hal-hal menarik dari kefiminan dan
kesempurnaan yang dititipkan pada perempuan.
Oleh karena itu, berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka
merupakan

suatu

alasan

yang mendasar

mengapa

penulis

membahas

permasalahan tersebut dalam penelitian yang berjudul “Implikasi Hijab Terhadap
Akhlak Muslimah Menurut Murtadha Muthahhari.”
9

Murtadha Muthahhari, Hak-hak Wanita Dalam Islam, (Jakarta: Lentera, 2000), h. 71-72
Dr.Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Perempuan dalam pandangan hukum barat dan
Islam, (Yogyakarta: Suluh press, 2005) h. 175.
10

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

7

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi
masalah pokok dalam tulisan ini adalah :
1.

Bagaimana pandangan Murtadha Muthahhari tentang hijab?

2.

Bagaimana implikasi hijab menurut Murtadha Muthahhari terhadap
akhlak muslimah?

1.3.

Tujuan Penelitian
Dari ke tiga poin yang menjadi rumusan penelitian ini, maka penelitian
ini bertujuan sebagai berikut:
1.

Untuk mengetahui pandangan Murtadha Muthahhari tentang hijab.

2.

Untuk mengetahui implikasi hijab menurut Murtadha Muthahhari terhadap
akhlak muslimah.

1.4.

Manfaat Penelitian
Adapun hasil dari pembahasan skripsi ini diharapkan berguna untuk:
1.

Bahan pengalaman bagi penulis dalam penyusunan karya tulis dan
sekaligus sebagai sumbangan pemikiran dalam meningkatkan mutu
akhalak bagi para perempuan.

2.

Bahan referensi bagi peneliti selanjutnya dalam mengadakan penelitian
yang berkaitan dengan implikasi hijab terhadap akhlak muslimah.

3.

Informasi bagi pembaca dalam rangka meningkatkan mutu akhlak untuk
memperbaiki tingkah laku bagi para perempuan.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

8

1.5.

Penelitian Terdahulu
Sudah banyak kajian dan penelitian yang membahas pemikiran Murtadha
Muthahhari dari berbagai aspeknya. Namun dalam masalah hijab sejauh penulis
mengetahui hanya beberapa dari skripsi terdahulu yang membahas masalah hijab.
Dan tidak banyak dari penulis-penulis sebelumnya yang mengambil dari
pemikiran Murtadha Muthahhari. Adapun pembahasan mengenai masalah hijab
wanita dalam skripsi-skripsi sebelumnya adalah:
1.

“Eksistensi Hijab Wanita menurut Murtadha Muthahhari” oleh Naila
Rahmatika Alif, jurusan Aqidah Filsafat fakultas Ushuluddin 2012.
Dalam skrispsi tersebut penulis menjelaskan tentang batasan-batasan
dalam Islam yang menimbulkan syahwat agar terhindar dari sikap negatif
dan pelecehan seksual, sehingga tetap terjaga kehormatan wanita dan
mengutip beberapa pemikiran Murtadha Muthahhari.

2.

“Hijab Dalam Hukum Islam dan Relevansinya Dengan Hak-hak
Perempuan” oleh Muhammad Riyadi Nur Husni, jurusan Ahwalus
Syakhsiyah fakultas Syariah 2000. Dalam skrispi tersebut penulis
menjelaskan tentang peran wanita dalam masyarakat dan pendidikan bagi
wanita. Seperti masalah penutup muka, dan masalah perkawinan yang
meliputi poligami dan talak.

3.

“Hijab Menurut Konsepsi Al-Qur’an” oleh Masruroh,

jurusan Tafsir

Hadis fakultas Ushuluddin 1999. Dalam skripsi tersebut penulis

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

9

menjelaskan tentang tinjauan sosiologis pelaksanaan hijab, pandangan AlQur’an tentang hijab dan mengutip beberapa pemikiran Murtadha
Muthahhari
4.

“Hak-hak Wanita dalam Islam (study komparatif Murtadha Muthahhari
dan Fatimah Mernissi) oleh Khairrunnisa’, jurusan Ahwalus Syakhsiyah
fakultas Syariah 2000. Dalam skripsi tersebut penulis membahas tentang
persamaan kedudukan wanita dalam Islam yang tertelak pada pengakuan
otoritas suami dalam menjatuhkan talak dan pengakuan eksistensi dalam
khuluk sebagai salah satu alat dalam pelaksanaan pemutusan perkawinan.

5.

“Pemikiran Sayyid Amir Ali dan Murtadha Muthahhari tentang
kedudukan perempuan dalam Islam” oleh Siti Rofiqoh, jurusan Aqidah
Filsafat fakultas Ushuluddin 2005. Dalam skripsi tersebut penulis
membahas tentang kedudukan wanita dalam Islam menurut Murtadha
Muthahhari dilihat dari hak-hak wanita yang terletak pada warisan,
lamaran, mahar, nafkah, dan poligami. Sedangkan menurut Sayyid Amir
Ali dilihat dari sejarah pada masa pra Islam selalu direndahkan dan
wanita sebagai objek pelampiasan seksual.
Dari beberapa buku diatas telah banyak menjelaskan tentang pentingnya

keberadaan hijab. Maka dalam penelitian ini penulis lebih mengkhususkan pada
hijab menurut Murtadha Muthahhari dan implikasinya terhadap akhlak
muslimah.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

10

1.6.

Definisi Operasional
Demi mempermudah dalam memahami judul skripsi ini dan mengetahui
arah dan tujuan pembahasan skiripsi ini, maka berikut ini akan dipaparkan
definisi operasional sebagai berikut:
1.6.1.

Implikasi
Implikasi berarti mengandung dampak atau pengaruh terhadap

sesuatu.11 Sesuatu yang dimaksud adalah konsekuensi langsung temuan yang
dihasilkan dari suatu penelitian, atau bisa dikaitkan dengan kesimpulan
temuan dari suatu penelitian.
1.6.2.

Hijab
Hijab dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki tiga makna,

yaitu: (1). Dinding yang membatasi sesuatu yang lain, (2). Dinding yang
membatasi hati manusia dengan Allah, (3). Dinding yang membatasi hati
seorang untuk mendapatkan harta warisan.12
Makna hijab dapat juga diartikan sebagai pembatas antara bidang satu
dengan bidang yang lain. Jika hijab digunakan pada makna wanita maka
difokuskan pada aurat yang seharusnya ditutupi.

11

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa Departeman
Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1994), h.232
12
Ibid. h. 351

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

11

Jadi makna hijab dapat diartikan sebagai penutup aurat. Yang mana
orang lain ketika memandang tidak bisa secara langsung. Oleh karena itu,
wanita harus menutup tubuhnya didalam pergaulannya dengan laki-laki yang
menurut hukum agama bukan muhrimnya.
1.6.3.

Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa arab (akhlaqun), jamak dari kholaqa,

yang secara etimologi berasal dari “budi pekerti, tabiat, perangai, adat
kebiasaan, perilaku, dan sopan santun”.13
Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu hasil dari iman dan
ibadah, karena iman dan ibadah manusia tidak sempurna kecuali dari situ
muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam Islam bersumber pada iman
dan takwa dan mempunyai tujuan langsung yang dekat, yaitu harga diri, dan
tujuan jauh, yaitu ridha Allah.14
Jadi akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
macam-macam kebiasaan. Merupakan suatu kehendak yang membawa
kecenderungan kepada pemilihan kebiasaan yang benar (akhlak terpuji) atau
kebiasaan yang jahat (akhlak tercela).
Sebagai makhluk sosial, akhlak dibutuhkan dalam berinteraksi dengan
masyarakat. Akhlak terpuji menjadi tolak ukur manusia dalam bersosial.

13

Khozin, Khazanah Pendidikan Agama Islam, (Bakarndung: Remaja Rosdakarya, 2013) h.

14

Ibid, h. 141

140

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

12

Akhlak terpuji menjadikan keharmonisan dalam berhubungan dengan sesama
manusia yang berbagai macam karakter dan pandangan hidupnya.sedangkan
akhlak tercela juga menjadi penilaian tersendiri dalam pandangan masyarakat.
Sebab manusia yang memiliki akhlak tercela, tentunya akan membawa
dampak yang dapat merugikan orang di sekitarnya.
1.6.4.

Muslimah
Secara harfiah “muslim” itu artinya “berserah diri”. Namun secara

istilah “muslim” adalah orang yang beragama Islam. Berarti muslim adalah
orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, serta
berserah diri kepada-Nya.Sedangkan muslimah adalah sebutan untuk wanita
muslim, yaitu wanita yang beragama islam.
Jadi yang dimaksud dengan akhlak muslimah adalah sifat seorang
wanita yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam
perbuatan, baik perbuatan terpuji atau tercela.
1.6.5.

Murtadha Muthahhari
Murtadha

Muthahahari

adalah

salah

seorang

arsitek

utama

kesederhanaan baru Islam di Iran, lahir pada tanggal 2 Februari 1919 di
Fariman, sebuah dusun - kota sebuah praja – yang terletak 60 km dari
Masyhad, pusat belajar dan ziarah kaum syiria yang besar di Iran Timur.
Ayahnya adalah Muhammad Husein Muthahhari, seorang ulama cukup

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

13

terkemuka yang belajar di Najaf dan menghabiskan beberapa tahun di Mesir
dan Hijaz sebelum kembali ke Fariman.15
Ia dibesarkan dalam asuhan ayahnya yang bijak hingga usia dua belas
tahun. Pada usia itu Murtadha Muthahhari mulai belajar agama secara formal
di lembaga pengajaran di Marsyhad, yang pada waktu itu sedang mengalami
kemunduran, sebagian karena alasan-alasan intern, dan sebagai karena alasan
eksteren, yaitu tekanan-tekanan Rezalkhan, Otokrat pertama Pahlevi, terhadap
semua lembaga ke Islaman. Tetapi di Masrsyhad Muthahhari menemukan
kecintaan besarnya kepada filsafat, teologi, dan tasawuf.16
Jika dikaitkan dari pengertian diatas mengenai hijab dan akhlak
muslimah maka hijab akan membentuk kepribadian muslimah yang ideal. Di
antaranya:
1)

Kokoh pada rohaniyahnya: yakni, akan menghasilkan sebuah
akhlak yang terpuji, sebab rohani manusia sebagai tempat dasar
ditanamkannya ajaran agama. Jika rohaniyahnya kokoh dan baik
maka ajaran agama yang ditanamkan menjadi bermanfaat untuk
dirinya dan orang lain..

2)

Kokoh ilmu pengetahuannya: yakni, ilmu sebagai petunjuk untuk
menyuburkan rohani dan keimanan.

15

Abu Muhammad Iqbal, Pemikiran Pendidikan Islam, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2015),

16

Ibid., h. 390

h. 389

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

14

3)

Kokoh fisiknya: yakni, badan atau jasmani yang sehat dapat
memaksimalkan kerja organ tubuh yang akan membawa
pengaruh positif terhadap kerja rohani.

Dengan demikian, hijab mampu mengantarkan potensi rohaniyah yang
ada dalam diri manusia untuk membentuk akhlak terpuji. Oleh karena itu, akhlak
adalah hasil usaha pembinaan dan bukan terjadi dengan sendirinya.
1.7.

Metodologi Penelitian
1.7.1.

Jenis Penelitian
Kajian ilmiah skripsi ini termasuk jenis penelitian kualitatif yaitu

dengan penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang
mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam materi
yang terdapat dalam kepustakaan buku.
Dari segi obyek penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian
historis, yaitu berupa penelaahan dokumen secara sistematis. Penelitian ini
mengambil obyek studi tentang pemikiran seorang tokoh, tentu saja penelitian
ini berdasarkan dokumen-dokumen karya tokoh yang bersangkutan maupun
tulisan-tulisan mengenai tokoh tersebut yang ditulis penulis lain.
1.7.2.

Jenis data dan sumber data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah

(skripsi) ini :

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

15

1.7.2.1.

Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya.

Dalam hal ini penelitian memperoleh data dengan cara melalakukan
pengamatan, pembacaan, pengkajian, pencatatan serta penganalisis
terhadap

teks-teks,

dokumen-dokumen,

buku

majalah17

yang

membahas tentang implikasi hijab terhadap pendidikan akhlak menurut
Murtadha Muthahhari.
a)

Buku Hijab gaya hidup wanita Islam yang dikarang oleh Murtadha
Muthahhari diterbitkan oleh PT Mizan di kota Bandung pada
tahun 1997.

b) Buku Islam dan tantangan zaman yang dikarang oleh Murtadha
Muthahhari diterbitkan oleh Pustaka Hidayah di kota Bandung
pada tahun 1996.
c)

Buku hak-hak wanita dalam Islam yang dikarang oleh Murtadha
Muthahhari diterbitkan oleh Lentera di kota Jakarta pada tahun
1995.

d) Buku kritik atas konsep Moralitas Barat Falsafah Akhlak yang
dikarang oleh Murtadha Muthahhari dterbitkan oleh Pustaka
Hidayah di Bandung pada tahun 1995.

17

Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan, Prosedur dan Strategi, (Bandung:
Angkasa, 1987), h. 42

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

16

e)

Buku

Jejak-jejak

Ruhani

yang

dikarang

oleh

Murtadha

Muthahhari diterbitkan oleh Pustaka Hidayah di Bandung pada
tahun 1996.
f)

Buku Wanita dan Hijab yang dikarang oleh Murtadha Muthahhari
diterbitkan oleh Lintera Basri Tama di Jakarta pada tahun 2000.

1.7.2.2.

Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah informasi yang tidak secara

langsung mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap
informasi yang ada padanya.

18

Data sekunder adalah data penunjang

dari data primer. Data ini peneliti peroleh dari dokumen-dokumen,
buku-buku, karya ilmiah, jurnal, surat kabar, dan lain sebagainya, yang
ada hubungan dan relevansinya dengan penulisan karya ilmiah
(skripsi) ini.
a)

Buku Pemikiran Pendidikan Islam yang dikarang oleh Abu
Muhammad Iqbal diterbitkan oleh Pustaka Pelajar di Yogyakarta
pada tahun 2015.

b) Khazanah Pendidikan Agama Islam dikarang oleh Khozin yang
diterbitkan oleh PT. Remaja Rosdakarya di Bandung pada tahun
2013.

18

Ibid, h. 42

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

17

c)

Buku Wanita Islam dan Gaya Hidup Modern yang dikarang oleh
Abdul Rasul Abdul Hassan Al-Ghaffary diterbitkan oleh Pustaka
Hidayah di Bandung pada tahun 1995.

d) Buku Ilmu Pendidikan Islam yang dikarang oleh Abuddin Nata
yang diterbitkan oleh Kencana Prenada Media Grup di Jakarta
pada tahun 2010.
e)

Buku Fikih Perempuan (Muslimah) Busana dan Perhiasan
Penghormatan atas Perempuan, Sampai Wanita Karier dikarang
oleh Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi diterbitkan oleh Amzah di
kota Jakarta pada tahun 2005.

f)

Buku Anggun Berjilbab dikarang oleh Nina Surtiretna diterbitkan
PT Mizan di kota Bandung pada tahun 1997.

1.7.3.

Teknik Analisis Data
Analisis Data dalam penelitian ini menggunakan model content

analysis (analisis isi), yakni investigasi teksual melalui analisis ilmiah
terhadap isi pesan suatu komunikasi sebagaimana tertuang dalam literaturliteratur yang memilki relevansi dengan tema penelitian ini.19 Model
penelitian ini digunakan untuk mengkaji tentang pemikiran seorang tokoh,
yakni pemikiran-pemikiran tentang hijab yang diperoleh dari beberapa karya
Murtadha Muthahhari dengan teknik analisis data yaitu :

19
Arif Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007), h 157

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

18

1.7.3.1.

Deduktif
Dari pengertian umum dibuat eksplisitasi dan penerapan lebih

khusus. Dapat dibedakan dua tahap:
a)

Dari pemahaman yang telah digeneralisasi (transendental) dapat
dari yang umum tadi; tetapi segi-segi khusus ini masih tetap
merupakan pengertian umum.20

b) Akhirnya yang umum itu semua harus dilihat kembali dalam yang
individual (‘aku’, atau ‘si anu’). Oleh pemahaman universal tadi
individu disoroti dan dijelaskan. Dengan demikian generalisasi
yang dikaji kembali apakah memang sesuai dengan kenyataan
real; kemudian direfleksi kembali.
1.7.3.2.

Induktif
Induktif pada umumnya disebut generalisasi. Ilmu eksakta

mengumpulkan data-data dalam jumlah tertentu, dan atas dasar data itu
menyusun suatu ucapan umum. Dalam penelitian ilmu sosial dan
lebih-lebih ilmu humanistik (humaniora) induksi ini semakin menjadi
case-study. Kasus-kasus manusia yang konkret dan individual dalam
jumlah terbatas dianalisis, dan pemahaman yang ditemukan di
dalamnya dirumuskan dalam ucapan umum. Titik pangkal penelitian
filsafat mengenai hakikat manusia juga selalu ditemukan pada

20

Anton Bakker, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h 44

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

19

kenyataan sendiri, atau pada pengalaman yang konkret dan individual.
Fakta-fakta yang ditemukan di dalam dan dari yang singular. 21
Pengertian ini memiliki beberapa sifat:
a)

Bukan subjektivistis, sampai menjadi tergantung dari perasaan dan
keinginan pribadi, melainkan mengenal objek dalam dirinya
sendiri; meskipun demikian, pengertian ini memang tetap
subjektif, sebab berupa pengalaman si peneliti pribadi;

b) Bukan pragmatis, sampai mencari untung atau kegunaan praktis
tetapi melihat objek menurut adanya; meskipun demikian,
pengertian ini mempunyai konsekuensi praktis bagi seluruh hidup;
c)

Bukan abstrak, sampai terjadi hal konkret dan individu tidak
digubris lagi, tetapi justru situasi dan lingkungan konkret
dipahami; meskipun demikian kasus individual dilihat dalam
kebersamaannya dengan seluruh kenyataan di sekitarya.

1.7.3.3.

Interpretasi
Dalam pelaksanaan segalam macam penelitian seorang peneliti

akan berhadapan dengan kenyataan. Dalam kenyataan itu dapat
dibedakan beberapa aspek. Bisa berbentuk fakta, yaitu suatu perbuatan
atau kejadian (dari kata latin facere, artinya membuat atau berbuat).
Bisa berbentuk data, yaitu pemberian, dalam wujud hal atau peristiwa
yang disajikan; atau pula dalam wujud sesuatu yang tercatat tentang
21

Ibid, h 43

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

20

hal, peristiwa, atau kenyataan lain yang mengandung pengetahuan
untuk dijadikan dasar keterangan selanjutnya (dari kata latin dare,
artinya memberi). Mungkin juga kenyataan berbentuk gejala, yaitu
sesuatu yang nampak sebagai tanda adanya peristiwa atau kejadian.
Ketiga aspek tersebut akan mendapat titik berat yang berbeda menurut
masing-masing disiplin ilmu.22
1.7.3.4.

Komparasi
Pemahaman manusia hanya mungkin dengan melihat hubungan,

tidak hanya di antara ide-ide, melainkan juga dengan manusia terutama
bersifat vital dan komunikatif; yang satu mempengaruhi yang lain.
Memahami sesuatu itu terjadi, sebab peneliti mengerti relasi-relasi dan
fungsi-fungsinya terhadap lingkungannya. Namun walaupun tidak ada
hubungan vital dengan banyak hal atau orang disekitarnya, hanya
membuat komparasi sudah cukup membantu untuk lebih memahami
objek penelitian.
Dalam penelitian, komparasi dapat diadakan di antara tokoh, atau
naskah dan dapat diadakan di antara sistem atau konsep. Perbandingan
hanya dilakukan dalam dua hal atau di antara yang lebih banyak.
Mereka dapat sangat serupa atau berbeda sekali. Selain itu masih
banyak lagi kemungkinan-kemungkinan variasi yang dapat diadakan.23

22
23

Ibid, h. 41
Ibid, h. 51

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

21

Dalam komparasi tersebut ini sifat-sifat hakiki dalam objek
penelitian dapat menjadi lebih jelas dan tajam. Justru perbandingan itu
memaksa untuk dengan tegas menentukan kesamaan dan perbedaan
sehingga objek dipahami dengan semakin murni.
1.8.

Sistematika Pembahasan
Suatu sistematika dalam karya ilmiah yang disajikan akan bervariasi

sesuai dengan aspirasi penulis. Penulis mencoba mendeskripsikan sistematika
pembahasan yang terdiri dari lima bab, sebagai berikut :
Bab pertama memuat tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, metode penelitian, kajian
terdahulu, dan sistematika pembahasan.
Bab dua kajian teori tentang hijab dan akhlak dengan sub, a) Definisi
tentang hijab, b) Alasan perkembangan hijab dalam Islam, c) Batas Hijab dalam
Islam, d) Definisi akhlak, e) Pembagian akhlak, dan f) Faktor yang mempengaruhi
pembentukan akhlak.
Bab tiga memuat tentang biografi sosial Murtadha Muthahhari dengan
sub, (a) daftar riwayat hidup,(b) daftar riwayat pendidikan, (c) karir, (d) karyakarya, dan (e) pemikiran-pemikirannya.
Bab empat memuat tentang definisi hijab menurut Murtadha Muthahhari,
dan implikasi hijab tentang akhlak muslimah menurut Murtadha Muthahhari.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

22

Bab lima memuat tentang pembahasan seluruh skripsi ini ditutup dengan
kesimpulan dan saran-saran dalam bab enam.

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

23

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Pada bab II ini akan dikaji secara teoritis tentang hijab dan akhlak dengan
sub, a) Definisi tentang hijab, b) Alasan perkembangan hijab dalam Islam, c)
Batas Hijab dalam Islam, d) Definisi akhlak, e) Pembagian akhlak, dan f) Faktor
yang mempengaruhi pembentukan akhlak. Selanjutnya akan dijelaskan lebih
detail dalam bab ini.
Wanita sebelum masuk Islam tidak memiliki peranan apa pun. Dirampas
haknya, diperjual-belikan seperti budak, dan diwariskan tetapi tidak mewarisi.
Bahkan sebagian bangsa melakukan hal itu terus menerus dan menganggap
wanita tidak punya ruh, hilang dengan kematian dan tidak tunduk pada syariat,
berbeda dengan laki-laki.24
Ketika Islam datang, hijab merupakan tradisi murahan yang diwariskan
secara turun-temurun tanpa diketahui tujuannya secara pasti. Islam kemudian
meredefinisi pengertian hijab dengan pengertian yang baru untuk menghapus
pemahaman sebelumnya yang tidak diketahui tujuannya. Pemberian nama baru
ini tanpa tendensi atas bentuk penguasaan laki-laki terhadap wanita. Hijab
menjadi bentuk pengejewantahan sopan santun yang wajib dikenakan oleh
wanita. Baik laki-laki maupun wanita diharuskan menerimanya sebagai bentuk

24
Dr.Muhammad Anis Qasim ja’far, Perempuan dan kekuasaan (Bandung: Zaman Wacana
Mulia, 1998) h. 11

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

24

tata-krama dan budi pekerti.25 Perihal mengenai hijab dan kebebasan, orangorang dahulu kerap melakukan kezhaliman terhadap kaum wanita. Jika mereka
mencintai seorang wanita, maka mereka akan mengurungnya seperti burung
dalam sangkar, tetapi apabila mereka akan menghinakannya, mereka akan
melepaskannya dan menjadi bahan olokan seperti binatang.
Pada masa sekarang ini tampaknya ada kecenderungan di kalangan
masyarakat , khususnya para muslimah menyebut pakaian yang sesuai syariat
dengan hijab, dan menyebut penyandangnya dengan kata muhajjabah (
perempuan yang mengenakan hijab). Meskipun tidak ada kesetiaan dalam
menggunakan istilah tersebut, karena kadang-kadang istilah hijab dan jilbab
dipakai secara bergantian. Padahal sebenarnya terdapat perbedaan penggunaan
istilah hijab yang termuat dalam al-Qur’an dan Sunnah dengan istilah hijab
dalam pengertian baru, yaitu yang bermakana sebagai pakaian muslimah atau
jilbab.26
Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam tentang definisi hijab
ini akan dijelaskan sebagai berikut.
2.1.

Definisi Hijab
Di

dalam

Lisan

al-‘Arab

Ibnu

Manzhur

mengatakan

al-hijab

(sekat/penghalang) berarti al-satr (sekat pembatas). Sebuah benda betul-betul
menjadi sekat dan penghalang benda yang lain. Hijab al-jawf misalnya, adalah
25

Fada Abdur Razak al-Qashir, Wanita Muslimah Antara Syariat Islam dan Budaya Barat,
(Jogjakarta: Darus Salam, 2004), h. 166
26
Nina Surtiretna, Anggun Berjilbab, (Bandung: PT Mizan, 1997) h. 61

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

25

sekat antara rongga dada dan perut. al-Azhari mengatakan bahwa hijab al-jawf
adalah kulit ari antara hati dan isi perut. Dan hijab sendiri artinya adalah sesuatu
yang dipakai untuk menyekat. Dan segala sesuatu yang terletak di antara dua
benda adalah hijab. Bentuk jamak al-hijab adalah al-hujub, bukan yang lain.27
Murtadha Muthahhari berpendapat bahwa hijab wanita dalam Islam yang
dimaksud adalah kewajiban seorang wanita agar menutup badannya ketika
berbaur dengan laki-laki yang menurut agama bukan muhrim dan tidak
dipertontonkan kecantikannya, dan tidak pula mengenakan perhiasan.28
Dalam fiqih istilah mahram ini digunakan untuk menyebut wanita yang
haram dinikahi oleh pria.29 Dan selanjutnya sebagai penunjang penjelasan
pengertian mahram lebih banyak lagi maka dibawah ini akan dijelaskan beberapa
pendapat para mujtahid sebagai berikut:
Menurut Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, “Mahram adalah semua
orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab nasab, persusuan
dan pernikahan.” Menurtut Syaikh Sholeh Al-Fauzan, “Mahram wanita adalah
suaminya dan semua orang yang haram dinikahi selama-lamanya karena sebab
nasab seperti bapak, anak, dan saudaranya, atau dari sebab-sebab mubah yang
lain seperti saudara sepersusuannya, ayah atau pun anak tirinya”. 30

27

Abdul Hasan Al-Ghafar, Wanita dan Gaya Hidup Modern, Terj, Baharuddin Fanani,
(Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), h, 35
28
Murtadha Muthahhari, Wanita Dan Hijab, terj. Nashib Mustafa, (Jakarta: Lentera, tt) h. 60
29
Abdurrahman Ghazali. Fiqh Munakahat, (Bogor: Prenada Media,2003).h.124
30
Sahrani Sohari, Fikih Munakahat. (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), h.98

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

26

Dari pengertian-pengertian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
mahram adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya seperti
bapak, anak, saudara, paman (sebab nasab), sepersusuan, dan pernikahan.
Namun hijab juga bisa disebut dengan “ satr ” (penutup) atau bisa
diartikan penghalang, yaitu menyembunyikan atau menghalangi dari pandangan
orang lain dimana pada zaman sekarang dikenal dengan jilbab.31
Pengertian hijab identik dengan makna jilbab, jilbab sendiri mempunyai
makna pakaian gamis atau pakaian yang lebar. Maksudnya adalah pakaian
panjang berbentuk baju kurung yang longgar yang dapat menutupi kepala, dada
dan sebagainya (kecuali yang diperbolehkan tampak). Dapat disimpulkan bahwa
hijab yang digunakan sebagai pembatas atau tirai antara laki-laki dan wanita
yang bukan mahramnya, yaitu sejenis baju karung yang lapang yang dapat
menutupi kepala, leher, dan dada wanita.
Namun sebenarnya hijab bagi wanita tidak dipersyaratkan harus seperti
‘aba’ah (yang terbuat dari kain wol) yang berlaku di Irak. Hijab yang
dimaksudkan dalam bahasan ini memiliki bentuk yang bermacam-macam, sesuai
adat dan tradisi suatu masyarakat. Yang penting tidak keluar dari apa yang
dimaksudkan, yaitu penutup tubuh wanita dan bagian tubuh yang dapat
membangkitkan syahwat dan menggairahkan nafsu seksual.32

31

Munawwar khalil, Nilai wanita, (Solo, Romadhoni, 1994) h. 256.
Abdul Hasan Al-Ghafar, Wanita dan Gaya Hidup Modern, Terj, Baharuddin Fanani,
(Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993), h, 35-36
32

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

27

Kesimpulan dari keseluruhan definisi hijab yang telah diuraikan adalah
sebagai penutup aurat. Yang mana orang lain ketika memandang tidak bisa
secara langsung. Oleh karena itu, wanita harus menutup tubuhnya didalam
pergaulannya dengan laki-laki yang menurut hukum agama bukan muhrimnya.
2.2.

Alasan Perkembangan Hijab dalam Islam
Orang-orang yang tidak setuju dengan hijab tidak mengakui adanya
perbedaan antara hijab dalam Islam dan non-Islam. Mereka mengatakan hijab
dalam Islam seakan muncul dari kondisi yang rusak tersebut, antara lain:
Pertama, Alasan Filosofis. Persoalan hijab berpusat pada kecenderungan
ke arah kerahiban dan perjuangan melawan kesenangan-kesenangan dalam upaya
menaklukan ego.33 Jika seorang laki-laki dan wanita bercampur dan bergaul
bersama-sama maka keduanya pasti akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan
kesenangan dan kenikmatan, secara sadar atau tidak sadar.
Oleh karena itu dengan mengikuti filsafat rahbaniah (yang menganggap
bahwa wanita adalah kenikmatan terbesar manusia) dan untuk menciptakan
lingkungan yang tenang, maka mereka menggunakan hijab. Maka munculnya
hijab berdasarkan teori ini, karena adanya pandangan bahwa perkawinan sebagai
suatu hal yang kotor, sedangkan membujang sebagai hal yang suci. 34

33
Murtadha Muthahhari, Hijab Gaya Hidup Wanita Islam, terj. Agus Efendi dan Alwiyah
Abdurrahmab, (Bandung: Mizan, 1990) h. 36
34
Murtadha Muthahhari, Wanita dan Hijab, terj. Nashib Mustafa, (Jakarta: Lentera, 2000) h.
17

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

28

Kedua, Alasan Sosial. Penyebab lain bahwa hijab muncul dikarenakan
semakin tidak adanya rasa aman.35 Ketidakadilan dan ketikdak amanan telah
melanda masa-masa zaman dahulu. Hanya orang kuat dan para penguasa yang
mempunyai kekuasaan untuk menentukan kehidupan mereka. Sehingga bagi
siapa saja yang memiliki sedikit harta harus menyembunyikannya dari
pandangan orang lain dengan menguburnya ke dalam tanah.36
Hilangnya rasa aman yang dulu menyertai harta kekayaan juga menimpa
para wanita. Jadi, barang siapa yang mempunyai istri cantik juga harus
disembunyikan dari mata-mata yang selalu mengintainya karena apabila
pengintai itu melihatnya, pasti akan merampas dari suaminya.
Ketiga, Alasan Ekonomi. Perlakuan hijab di dalam kehidupan wanita
bertujuan untuk mencari keuntungan dari pihak wanita. Pria menempatkan
wanita di belakang tirai dan menjaganya agar tidak keluar masuk, membuat
wanita dapat melakukan pekerjaan rumah yang telah diberikan kepadanya secara
lebih baik. Hal ini sama dengan ketika memenjarakan budaknya dan tidak
memperbolehkan budak itu keluar agar dapat melakukan pekerjaan majikannya
dengan lebih baik.37 Jadi hijab hanya untuk mengeksploitasi terhadap wanita.
Keempat, Alasan Etis. Alasan ini berasal dari sikap egoistis dan
kecemburuan oleh pihak pria. Munculnya hijab karena adanya kekuasaan laki-

35
36

Murtadha Muthahhari, Hijab Gaya Hidup Wanita Islam, Ibid, h. 47
Murtadha Muthahhari, Wanita dan Hijab, terj. Nashib Mustafa, (Jakarta: Lentera, 2000) h.

37

Murtadha Muthahhari, Hijab Gaya Hidup Wanita Islam, Ibid, h. 57

27

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

29

laki atas wanita. Kaum laki-laki menetapkan hijab dan memenjarakannya adalah
kerena kecenderungannya untuk memilikinya secara pribadi.Dia tidak suka ada
laki-laki lain bercampur dengan wanita yang menjadi miliknya walau hanya
sebatas berbicara.38
Kelima, Alasan Psikologis. Alasan ini berasal dari adanya perasaan
rendah diri wanita terhadap pria.Dengan keberadaannya wanita dinomor duakan
dalam memperoleh hak-haknya. Perasaan rendah diri ini muncul karena adanya
dua hal,yaitu : (a) Adanya perbedaan dalam fisik dan karakter antara wanita dan
pria. (b) Adanya kebiasaan seorang wanita mengalami pendarahan pada masa
menstruasi dan pada masa melahirkan anak. 39 Menstruasi yang dialami
perempuan merupakan proses biologis yang kodrat dan memiliki implikasi
terhadap posisi perempuan dalam struktur sosial budaya, dan notasinya antara
pria laki-laki dan perempuan.
Inilah lima alasan-alasan perkembangan hijab yang tidak sesuai dengan
Islam. Dalam perkembangannya hijab Islam tidak memiliki alasan-alasan diatas.
Jadi, Islam memiliki alasan tersendiri dan tidak dapat membedakan dengan lima
alasan diatas, yaitu: kesejahteraan diri, keluarga, masyarakat.40
Bahwasanya manusia menginginkan sesuatu yang dilarang dan yang
mengakibatkan gairah, tetapi jika tidak ditonjol-tonjolkan maka tidak begitu
bernafsu. Begitu pula, dalam pergaulan bebas, semakin banyak rangsangan,
38

Murtadha Muthahhari, Wanita dan Hijab, h. 42
Murtadha Muthahhari, Hijab Gaya Hidup Wanita Islam, Ibid, h. 65
40
Ibid, h. 68

39

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

30

semakin berkeinginan seseorang untuk memenuhinya, pada akhirnya akan
membuat seorang kecewa atau frustasi.
Dengan demikian, perlu adanya suatu pembatas, dan nafsu seksual hanya
dapat dipenuhi di dalam lingkungan pernikahan. Dalam keluarga, usaha-usaha
harus diciptakan sedemikian sehingga hubungan pernikahan menjadi kian baik.
Dan adapun merusak hubungan harus ditiadakan.
Pembatas pemenuhan kebutuhan seksual hanya pada pernikahan, apapun
bentuk pemenuhannya menyebabkan hubungan istri kian harmonis karena suami
menjadi sumber kesenangan dan kenikmatan.
Kaitannya dalam masyarakat, hijab Islam tidak mengatakan bahwa
manusia tidak boleh meninggalkan rumah, dan juga tidak mengatakan bahwa
wanita tidak berhak melakukan pekerjaan yang sifatnya sosial atau ekonomi.
Akan tetapi, wanita boleh meninggalkan rumah asal tidak merangsang pria lain
atau tidak menarik perhatian pria lain kepda dirinya.
Ini merupakan kewajiban khusus bagi wanita. Dan tidak ada seorang pria
pun yang berhak memandang dengan nafsu wanita yang meninggalkan
rumahnya. Ini kewajiban khusus bagi pria.41 Jadi masyarakat hanya dapat
dijadikan sebagai tempat beraktivitas dan bekerja.

41

Ibid, h. 75

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

31

2.3.

Batas Hijab Dalam Islam
Batas Hijab dalam Islam meliputi dua hal, antara lain:
Pertama, Permintaan izin ketika akan memasuki rumah seseorang.Orangorang Arab pada masa jahiliyah tidak mengenal adanya budaya minta ketika akan
memasuki rumah orang lain, karena pintu-pintu ma

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3884 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1033 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 927 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 777 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1323 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1221 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 808 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1093 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1322 23