Konsep Manusia dan implementasinya dalam perumusan Tujuan Pendidikan Islam Menurut Murtadha Muthahhari.

ABSTRAK
Nama :
NIM :
Judul :

Siska Wulandari
109011000256
Konsep Manusia dan implementasinya dalam perumusan
Tujuan Pendidikan Islam Menurut Murtadha Muthahhari.

Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, konsep manusia
bermakna untuk mengenal dan beriman kepada Allah, ditandai dengan adanya
qalbu dan akal didalam dirinya. Pendidikan adalah salah satu kebutuhan manusia
untuk membantu mengembangkan kemampuannya. Melalui akal dan qalbu yang
telah diberikan oleh Allah dan dengan pendidikan yang diterima manusia akan
mampu bersosialisasi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama. Namun dalam Islam, pendidikan diberikan dengan tujuan
terwujudnya manusia sebagai hamba yang menghambakan diri kepada Allah
dengan cara beribadah kepada Allah. Berdasarkan konteks tersebut, maka tujuan
tulisan ini adalahuntuk mengetahui bagaimana konsep manusia menurut Murtadha
Muthahhari? Dan pertanyaan turunannya adalah bagaimana hubungan konsep
manusia dengan tujuan pendidikan menurut Murtadha Muthahhari?
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif analisis dan kajian pustaka. Setelah data terkumpul dan
tercatat dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data. Proses
analisa dilakukan dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai
sumber, kemudian data tersebut dianalisis dan dipelajari secara cermat dan
dideskripsikan yang selanjutnya memberikan gambaran dan penjelasan serta
uaraian.
Konsep manusia menurut Murtadha Muthahhari adalah makhluk yang sangat
unik, yang memiliki kecerdassan tanggung jawab dan makhluk yang rasional.
Manuisa dilahirkan dengan keadaan tidak tahu apapun akan tetapi Allah memberi
manusia kelebihan yaitu dengan pendengaran, pengelihatan, akal dan hati yang
digunakan untuk membekali kehidupannya menjadi manusia yang baik dan
bersyukur. Dengan itu manusia dapat beribadah, bertakwa kepada Tuhannya dan
berbakti kepadaNya yaitu dengan mengabdikan kemampuannya di dunia ini itulah
yang dinamakan manusia sempurna. Konsep manusia ini tercermin pada rumusan
tujuan pendidikan bahwa tujuan pendidikan itu manusia yang sempurna dengan
cara melatih jiwa, akal, pikiran, perasaan dan fisik manusia dengan demikian,
pendidikan harus mengupayakan tumbuhnya seluruh potensi manusia baik yang
bersifat spiritual, intelektual, daya khayal, fisik, ilmu pengetahuan, maupun
bahasa baik secara individual maupun kelompok.

i

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karna berkat Taufiq
dan HidayahNya penyusunan skripsi dengan judul “Konsep Manusia dan
Implementasinya dalam Perumusan Tujuan Pendidikan Islam menurut Murthadha
Muthahhari” ini dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat teriring salam semoga
tetap tercurah kepada Nabi akhir zaman Nabi besar Muhammad SAW.
Penulisan skripsi ini merupakan proses yang panjang. Diawali dengan niat
dan tekat serta dukungan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat selesai.
Penulis menyadari keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari berbagai
pihak yang membantu baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu
sudah sepantasnya penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Kepada kedua orang tua ku Bapak Murhasan H. Muhammad dan Ibu Sri
Hartati yang telah memberikan dukungan moril dan materil serta do‟a
restunya kepada penulis.
2. Kepada kakak dan adikku tercinta terimakasih atas dukungannya sehingga
saya bisa menyelesaikan skripsi ini.
3. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
4. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Bapak Dr. Abdul Majid Khon,
M.Ag dan Sekertaris jurusan ibu Marhamah Saleh, Lc., M.A.
5. Bapak Prof. Dr. H. Abuddin Nata. MA, Dosen Pembimbing sekaligus
dosen penasehat akademik yang telah tulus ikhlas memberikan petunjuk
dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh bapak dan Ibu dosen civitas akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan yang dengan penuh kesabaran dan ke ikhlasan memberikan
segala ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama kuliah.

ii

7. Terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa PAI angkatan 2009
khususnya kelas G yang telah menemani penulis belajar di kampus selama
4 tahun.
8. Dan kepada sahabatku Maulisa Sudrajat S.Kom.I dan Siti Syifa Fauziah
S.Pd.I yang telah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini.
Jazakumullahu Lakum Kahiran Khatsir.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT juala penulis berharap dan berdoa
semoga amal baik mereka yang

telah membantu dalam proses penyelesaian

skripsi ini mendapat balasan pahala yang berlipat ganda Allah SWT. Amin ya
Rabbal ‘Alamin.

Jakarta, 9 Mei 2014
Penulis

Siska Wulandari

iii

DAFTAR ISI
ABSTRAK………………………………………………………………

i

KATA PENGANTAR…………………………………………………. ii
DAFTAR ISI…………………………………………………………… iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………. 1
B. Identifikasi Masalah………………………………....... 9
C. Pembatasan Masalah………………………………….. 10
D. PerumusanMasalah………………................................. 10
E. Tujuan Penelitian……………………………………… 10
F. Manfaat Penelitian……………………………………. 10

BAB II

KAJIAN TEORI
KONSEP MANUSIA DAN TUJUAN PENDIDIKAN
ISLAM
A. Pengertian Pendidikan Islam ……………………….. 12
B. Dasar-Dasar Pendidikan Islam ……………………… 16
C. Tujuan Pendidikan Islam ……………………………. 21
D. Fungsi Pendidikan Islam ……………………………. 29
E. Konsep Manusia …………………………………….. 32
F. Hasil Penelitian yang Relevan ……………………… 41

iv

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek dan waktu Penelitian ………..……………….. 43
B. Sumber Data ………………………………………… 44
C. Teknik Pengumpulan Data …………………………. 44
D. Teknik Analisa Data ………………………………..

45

E. Metode Penelitian …………………………………... 46
F. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data ……
BAB IV

46

PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN
PENDIDIKAN MENURUT MURTHADHA
MUTHAHHARI
A. Biografi Murthadha Muthahhari ……………………. 47
B. Latar Belakang Murthadha Muthahhari …………….. 51
C. Karya-karya Murthadha Muthahhari ………………... 54
D. Impelementasi Konsep Manusia dalam Perumusan
Pendidikan Islam………….......................................... 57
1. Konsep Manusia dan Hubungannya dengan Tujuan
Pendidikan Islam………………………………… 60
2. Konsep Manusia dan Hubungannya dengan
Kurikulkkum Pendidikan Islam …………………. 63

v

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………... 70
B. Implikasi …………………………………………….. 72
C. Saran………………………………………………… 72

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 74

vi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sejak manusia menuntut kemajuan dan kehidupan, maka sejak itu timbul
gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan
melalui pendidikan. Untuk itu dalam sejarah pertumbuhan masyarakat,
pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan
kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakat.1
Menurut keyakinan, sejarah pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga
Adam dan Hawa sebagai unit terkecil dari masyarakat besar umat manusia di
muka bumi ini. Dalam keluarga Adam itulah telah dimulai proses pendidikan
umat manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan kebutuhan
untuk mempertahankan hidupnya.2
Menurut Hasan Langgulung sebagaimana dikutip oleh Nur Uhbiyati,
“Pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan
untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang
1

Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (IPI) untuk IAIN, STAIN, PTAIS, (Bandung : CV Pustaka
Setia,1997), h. 9
2
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam,,,, h. 9

1

2

yang sedang dididik.”3 Yaitu usaha sadar yang dilakukan oleh seorang guru
untuk menciptakan tingkah laku yang baik kepada anak didik sehingga mencapai
pada tujuan pendidikan.
Dikatakan lebih lanjut bahwa tujuan pendidikan itu penting, disebabkan
karena secara implisit dan eksplisit di dalamnya terkandung hal-hal yang sangat
asasi, yaitu pandangan hidup dan filsafat hidup pendidikan, lembaga
penyelenggaraan pendidikan, dan Negara dimana pendidikan itu dilaksanakan.4
Tujuan pendidikan Islam Murtadha Muthahhari terdapat pada tujuan
pendidikam Islam yang universal. Yang mana didalam bukunya Murthadha
Muthahhari, Manusia Sempurna, menjelaskan “Pengenalan manusia sempurna ini
tidak hanya berguna secara teoritis. Pengetahuan ini juga harus kita gunakan
untuk mengikuti jalan Islam guna menjadi Muslim yang sebenarnya dan
menjadikan masyarakat sungguh-sungguh Islami. Dengan begitu, jalan tersebut
menjadi terang dan hasilnya jelas.5
Manusia adalah objek material yang dengan berbagai potensi yang dimiliki
untuk ditumbuh-kembangkan sebagai subjek-objek didik menuju ketingkat
kemajuan yang lebih baik sesuai dengan ajaran Islam. Subyek obyek didik dalam
pandangan Islam ialah manusia yang sudah memiliki potensi, dan oleh karena itu
merupakan sasaran obyek untuk ditumbuh kembangkan agar menjadi manusia
yang sempurna sesuai dengan ajaran Islam.6
Pendidikan juga pembangunan sosok makhluk hidup yang yang mewadahi
serta memfasilitasi perkembangan potensi-potensi mereka. Berkaitan dengan
pendidikan manusia, disana terdapat kekhususan-kekhususan. Sebagai contoh,
3

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kencana Prenada Group, 2012), h. 28
Muhammad „Ammarah, Al-Imam Muhammad „Abduh, Al-Imam Muhammad „Abduh: Mujaddid
al-Islam (Beirut: Al-Muassassah al-Islamiyyah li al-Dirasah wa al-Nasyr, 1981), h.207.
5
Murthadha Muthahhari, Mnausia Sempurna, (Jakarta : Lentera, 1994), h. 1
6
A. Fatah Yasin, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam¸ (Yogyakarta : UIN-Malang Press, 2008), h.
10
4

3

kita tidak dapat mengembangkan potensi-potensi tertentu pada tumbuhan,
sebagaimana juga tidak dapat membekukan potensi-potensi yang sudah menjadi
keharusannya. Namun pada manusia, yang demikian dapat terjadi, dimana
sebagian potensinya berkembang sementara sebagian lagi potensinya membeku.
Dan inilah yang menjadi sabab terjadinya ketidak seimbangan pada diri manusia.
Oleh karena itu, dalam pendidikan manusia sangat diperlukan pengembangan
seluruh potensi-potensinya secara seimbang.7
Al-Qur‟an benar-benar telah tampil sebagai “Kitab Pendidikan”. Al-qur‟an
selain berisi ajaran-ajaran tentang pendidikan terutama dalam bidang akhlak, juga
telah memberi isyarat dan inspirasi bagi lahirnya konsep pendidikan. Namun
demikian sungguh kita dapat mengemukakan argumentasi secara meyakinkan
bahwa Al-qur‟an sebagai “Kitab Pendidikan Islam”, kita tidak dapat mengatakan
bahwa antara Al-qur‟an dan kitab pendidikan itu sama keduanya tetap berbeda.
Al-qur‟an berasal dari Allah, bersifat mutlak, berlaku sepanjang zaman dan pasti
benar. Sedangkan kitab pendidikan berasal dari hasil ijtihad manusia, memiiliki
kebatasan, dapat berubah setiap zaman, dan dapat mendung kesalahan. Kitab
pendidikan, yakni Kitab Pendidikan Islam adalah hasil ijtihad manusia yang
berdasarkan Al-qur‟an.8
Al-Qur'an telah memberi isyarat bahwa permasalahan pendidikan sangat
penting. Jika Al-Qur'an dikaji lebih mendalam maka akan di temukan beberapa
prinsip dasar pendidikan, yang selanjutnya bisa kita jadikan inspirasi untuk
dikembangkan dalam rangka membangun pendidikan yang bermutu. Ada
beberapa indikasi yang terdapat dalam al-Qur'an yang berkaitan dengan
pendidikan antara lain: menghormati akal manusia, bimbingan ilmiah, fitrah man

7

Muthadha Muthahhari, Dasar-dasar Epistimologi Pendidikan Islam. (Jakarta : Sadra Internasional
Instutite, 2011), h. 51-52
8
Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Al-qur‟an, (Jakarta : Buku Daras, 2005), h. 4-5

4

usia, penggunaan cerita (kisah) untuk tujuan pendidikan dan memelihara
keperluan sosial masyarakat.
Dengan pengetahuan dan pendidikan, manusia menjadi manusia yang
berkebudayaan dan berperadaban. Dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran,
manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang serat dengan nilai kebenaran baik
yang universal, abstrak, teoritis, maupun praktis. Nilai kebenaran ini selanjutnya
mendorong terbentuknya sikap dan prilaku yang arif dan berkeadilan. Sikap yang
demikian itu selanjtunya menjadi modal bagi manusia untuk membangun
kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan baik yang bersifat material maupun yang
bersifat spiritual, adalah upaya manusia untuk mengubah dan membangun
hubungan berimbang baik secara horizontal, maupun vertical. 9
Pada dimensi dialektika horizontal, pendidikan Islam hendaknya mampu
mengembangkan realitas kehidupan, baik yang menyangkut dengan dirinya,
masyarakat, maupun alam semesta berserta segala isinya. Sementara dalam
dimensi ketundudkan vertikal mengisyaratkan bahwa, pendidikan Islam selain
sebagai alat untuk memelihara, memanfaatkan, dan melestarikan sumber daya
alam, juga hendaknya menjadi jembatan untuk memahami fenomena dan misteri
kehidupan dalam upayanya mencapai hubungan yang abadi dengan Khaliqnya.10
Hakikat manusia dalam melestarikan dan menjaga kebudayaan adalah suatu
keharusan agar tidak terpengaruh oleh kebudayaan lainnya. Kita harus menjaga
keaslian budaya kita karena kebudayaan tersebut merupakan warisan dari nenek
moyang kita dahulu. Kebudayaan itu di ibaratnya seperti ciri khas dari manusia
yang menggunakan kebudayaan tersebut. Namun akhir – akhir ini kita pasti sudah
tahu kalau banyak dari kebudayaan Negara kita ini telah terpengaruh oleh

9

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: 2011), h. 53
Al-Rasyidin, MA, Dr.H.Samsul `Nizar,M.A, Filsafat PEndidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
2005), h. 37
10

5

kebudayaan luar, khususnya kebudayaan barat. Ini merupakan efek dari arus
globalisasi yang sangat kencang sehingga banyak kebudayaan – kebudayaan dari
luar yang bebas keluar masuk ke dalam Negara kita ini sehingga kebudayaan kita
sedikit terpengaruh.
Manusia menurut Al-Qur‟an, memiliki potensi untuk meraih ilmu dan
mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu bertebaran ayat yang
memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal
tersebut. Allah juga menegaskan bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas.
Allah berfirman :11

Artinya: “Kamu hanya di beri pengetahuan yang sedikit”. (QS. Al-Isra‟ :85)
Kepribadian secara utuh hanya mungkin dibentuk melalui pengaruh
lingkungan, khususnya pendidikan. Adapun sasaran yang yang dituju dalam
pembentukan kepribadian ini adalah kepribadian yang memiliki akhlak yang
mulia. Dan tingkat kemuliaan akhlak erat kaitannya dengan tingkat keimanan.
Sebab Nabi mengemukakan “orang mukmin yang paling sempurna imannya,
adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya” (Hadits), yang juga
merupakan tujuan pembentukan kepribadian muslim.12
Muthahhari adalah seorang tokoh intelektual Iran yang terkenal sangat
produktif dalam mengeluarkan pemikiran-pemikiran baru mengenai ajaran Islam
lewat karya-karyanya. Bisa dikatakan, bahwa beliau adalah kampiun bagi
kebangkitan tradisi intellektual dan rasional di dunia Muslim. Namun, di sisi lain,
belum di jumpai sebuah karya khusus dari beliau mengenai pendidikan.
11

Quraish Shihab, Wawasan Al-qur‟an, (Bandung: Mizan,2000) Cet ke-XI, h.435-436.s
Jalaluddin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan
Pemikirannya, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 95
12

6

Iman dan ilmu adalah karakteristik kemanusiaan, maka pemisahan keduanya
akan menurunkan martabat manusia. Iman tanpa ilmu akan mengakibatkan
fanatisme dan kemunduran, takhayul dan kebodohan. Ilmu tanpa iman akan
digunakan untuk memuaskan kerakusan, kepongahan, ambisi, penindasan,
perbudakan, penipuan dan kecurangan. Muthahhari menegaskan bahwa Islamlah
satu-satunya agama yang memadukan iman dan ilmu (sains).13
Keterkaitan antara iman dan ilmu serta pertalian keduanya yang tidak dapat
dipisahkan selalu mewarnai pemikiran dan dasar tujuan pendidikan Muthahhari.
Lazimnya para ulama yang lain, Muthahhari menegaskan bahwa kewajiban
menuntut ilmu tidak bisa tergantikan.
Banyak sekali hadis-hadis yang mewajibkan menuntut ilmu. “Mencari ilmu
wajib hukumnya bagi setiap muslim”.14 Arti dari hadis ini adalah bahwa salah
satu kewajiban Islam, yang sejajar dengan semua kewajiban lainnya adalah
mencari dan menuntut ilmu. Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi setiap
orang muslim; tidak hanya dikhususkan bagi satu kelompok dan tidak bagi
kelompok yang lain.15
Di dalam sejarah disebutkan bahwa pada masa sebelum datangnya Islam,
sebagian masyarakat berperadaban pada waktu itu memandang bahwa mencari
ilmu adalah hak sebagian kelompok, dan tidak mengakui bahwa mencari ilmu
adalah hak seluruh lapisan masyarakat. Di dalam Islam, ilmu bukan hanya
dianggap sebagai hak setiap orang, melainkan Islam menganggapnya sebagai
tugas dan kewajiban bagi semua orang. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban
sebagaimana kewajiban-kewajiban yang lain seperti sholat, puasa, zakat, dan haji.

13

Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Qum: Ansariyan Publication, 1401 H) Cet. Ke-1, h.

11.
14

Ushul al-Kafi, Jld. I, h. 30.
Murtadha Muthahhari, Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan,
(Jakarta: Lentera, 1999) Cet. Ke-1, h. 157.
15

7

Islam pada abad keemasan bagaikan harta karun kekayaan peradaban
intelektual yang tidak ternilai harganya, menyebar hampir seluruh dunia.
Kehebatan imperium Islam dalam abad keemasan tersebut melampaui kehebatan
imperium Romawi 7 abad sebelumnya. Di antara nilai peradaban intelektualnya
yaitu:16
Pertama, semangat mencari ilmu yang luar biasa dari orang-orang Islam. Hal
ini bisa terjadi karena dipicu oleh doktrin Islam, bahwa mencari ilmu,
mengembangkan dan kemudian mengamalkannya untuk membangun kehidupan,
adalah wajib hukumnya. Semangat pencarian ilmu tersebut menjadi kunci
penjelajahan intelektual Islam pada puncaknya abad ke-9, 10, dan 11M.17
Kedua, semangat pencarian ilmu tersebut menemukan momentumnya dalam
imperium Islam di bawah bimbingan para khalifah. Pada masa itu dana serta
fasilitas dari istana untuk mempercepat perkembangan peradaban baru yang
berbasis pengetahuan (knowledge based) merupakan kebijakan prioritas.18
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap orang baik laki-laki ataupun
perempuan. Menuntut ilmu juga tidak memiliki batasan waktu atau masa tertentu,
sebagaimana hadis Nabi saw, “Carilah Ilmu dari buaian sampai ke liang kubur”
(Bukhari & Muslim). Pada setiap zaman manusia haruslah menggunakan
kesempatan yang ada untuk mencari ilmu. Keluasan kewajiban menuntut ilmu
juga digambarkan dalam hadis, “Carilah ilmu walaupun di negeri Cina”. Artinya
bahwa mencari ilmu tidak memiliki batasan tempat tertentu.
Dalam hal ini dapat dilihat bahwa Islam telah memerintahkan menuntut ilmu
dengan tiada batasan golongan tertentu, waktu, tempat dan pengajarnya tetapi
16

Mastuhu, Sistem Pendidikan Nasional Visioner, (Jakarta: Lentera Hati, 2007) Cet. Ke-1, h. 71-

72.
17
18

Ibid, h. 71-72.
Ibid, h. 71-72.

8

mengapa Islam begitu mundur dan generasi muda saat ini selalu berteman dengan
kebodohan? Hal inilah yang sangat menyedihkan karena sesungguhnya perintahperintah yang mulia ini telah ditinggalkan begitu saja oleh generasi muda saat ini.
Dalam mengambil ilmu sebagai hikmah Muthahhari juga tidak membatasi
pada satu golongan tertentu. Hal ini berdasarkan hadis Rasul saw, “Hikmah
adalah barang orang mukmin yang hilang, yang akan diambil di mana saja
mereka menemukannya”. Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali sebagaimana
dikutip Murtadha Muthahhari. “Hikmah adalah barang orang mukmin yang
hilang, maka ambillah hikmah itu meskipun dari orang munafik”.19
Dilihat dari perspektif pendidikan dan pengajaran, ketentuan-ketentuan akhlak
Islam ditujukan untuk mendidik manusia agar sesuai dan selaras dengan apa yang
diinginkan oleh Islam. Sasaran utama pendidikan dipandang dari sisi sebuah
kerangka pengantar terbentuknya masyarakat yang baik, maka pembentukan
kepribadian seseorang sangatlah penting. Islam sangat menjaga dan menghormati
kesejatian Individu dan masyarakat.20
Al-Attas misalnya, menghendaki tujuan pendidikan Islam yaitu manusia yang
baik, sedangkan Athiyah al-Abrasyi menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam
yaitu manusia yang berakhlak mulia,21 Munir Mursih menghendaki tujuan
pendidikan Islam yaitu manusia sempurna,22 Ahmad D Marimba berpendapat
bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian
muslim. 23

19

Murtadha Muthahhari, Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan,
(Jakarta: Lentera, 1999) Cet. Ke-1, h.158.
20
Murtadha Muthahhari, Dasar-Dasar Epistimologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Sadra
International Institute, 2011), Cet ke-1, h.2.
21
Muhammad Athiyah al-Abrasy, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. (terj). Bustami A. Gani
dan Djohar Bahry (Jakarta: Bulan bintang, 1974), h. 15
22
Muhammad Munir Mursi, at-Tarbiyah al-Islamiyah Usuluha wa Tatawwuruha fi Bilad alArabiyah, (Qahhirah: Alam al-Kutub, 1997), h. 18
23
Ahmad D Marimba, Pengantar FilsafatPendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma‟rif, 1989), h. 39

9

Menurut Paulo Freire sebagaimana dikutip oleh Nurul Zainab “Pendidikan
merupakan yang dijalankan bersama-sama oleh pendidik dan peserta didik
sehingga peserta didik tidak menjadi cawan kosong yang diisi oleh pendidik yang
mana hal tersebut merupakan penindasan terhadap potensi dan fitrah peserta
didik. Sedangkan pendidikan manusiawi dalam pandangan Murtadha Muthahhari
dalam konteks pendidikan kritis adalah pendidikan yang mengembangkan potensi
berpikir kreatif pada diri peserta didik serta membekali mereka dengan semangat
kemerdekaan dalam proses pengembangan potensi berpikir. Tujuan pendidikan
Freire adalah menumbuhkan kesadaran kritis, sedangkan tujuan pendidikan
Muthahhari adalah menumbuhkan kemampuan blerpikir kritis. Karakteristik
utama pendidikan Freire adalah konsientisasi, sedangkan karakteristik pendidikan
Muthahhari adalah sosialisasi dan berpikir kritis. Pendidikan Freire diterapkan
dengan pola praxis, kemanunggalan antara aksi dan refleksi yang berjalan terus
menerus, sedangkan metode penerapan pendidikan Muthahhari tidak terbatas
pada aksi dan refleksi semata tetapi mencakup muhasabah, muraqabah dan amal.
Persamaan antara pemikiran Paulo Freire dengan Murtadha Muthahhari yaitu
fitrah, humanisme dan pembebasan dalam pendidikan.”24
Berdasarkan pada pemikiran tersebut diatas, penulis skripsi akan meneliti
lebih dalam lagi mengenai “Konsep Manusia Dan Implemenatsinya dalam
Perumusan Tujuan Pendidikan Menurut Murtadha Muthahhari”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan indentifikasi masalah sebagai
berikut :

24

Nurul Zainab, Paradigma Pendidikan Kritis (Studi Komparasi Pemikiran Paulo Freire dan
Murtadha Muthahhari).

10

1. Manusia membutuhkan ilmu untuk mengetahui Tuhannya dan menjadi
manusia beriman
2. Menuntut ilmu suatu kewajiban yang tidak bisa tergantikan menurut
Murtadha Mutahhari
3. Bagusnya pendidikan seseorang berpengaruh dengan karakteristik seseorang
C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan tidak melebar, maka pada penulilsan skripsi ini dibatasi
hanya pada konsep manusia dan hubungannya dengan pendidikan Islam menurut
Murtadha Muthahari dan menurut pendapat para tokoh yang terkait dengan
konsep manusia dan hubungannya dengan pendidikan Islam.
D. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penulis skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana konsep manusia menurut Murtadha Muthahhari?
2. Bagaimana hubungan antara konsep manusia dan tujuan pendidikan Islam
menurut Murtadha Muthahhari ?

E. Tujuan Penelitian
Dengan melihat dan memperhatikan rumusan masalah di atas, tujuan dari
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui konsep manusia menurut Murtadha Muthahhari.
2. Untuk mengetahui hubungan antara konsep manusia dan tujuan pendidikan
Islam menurut Murthadha Mutahhari
F. Manfaat Penelitian
1. Memberikan sumbangan bagi perkembangan khazanah ilmu pengetahuan,
terutama bagi kemajuan ilmu pendidikan, khususnya menyangkut tujuan

11

pendidikan Muthahhari yang belum begitu dikenal akrab oleh pakar-pakar di
bidang pendidikan.
2. Menambah sumber referensi bagi jurusan ilmu pendidikan (tarbiyyah), yang
akan meneliti lebih lanjut mengenai tujuan pendidikan Murtadha Muthahhari.
3. Memberikan masukan bagi para pakar di bidang pendidikan mengenai
keunggulan dan originalitas tujuan pendidikan Muthahhari, yang nantinya
diharapkan dapat ditransfer ke dalam dunia pendidikan Islam Indonesia.

BAB II
KAJIAN TEORI
KONSEP MANUSIA DAN IMPLEMENTASINYA PADA
PERUMUSAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan dalam arti sempit yaitu bimbingan atau pimpinan secara
sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak
didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam arti luas
pendidikan adalah menyangkut seluruh pengalaman.1
Menurut Ahmad Tafsir, “Pendidikan adalah pengembangan
pribadi dalam semua aspeknya, dengan menjelaskan bahwa yang
dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan
oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan oleh
orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, dan hati”.2
Pendidikan mempunyai peran yang sangat urgen untuk menjamin
perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa. Pendidikan
juga menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa, dan menjadi cermin

1

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2007) Cet. Ke-7, h.24-25
2
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, h.26

12

13

kepribadian

masyarakatnya.3

Begitu

pula

dengan

ilmu

yang

dikembangkan dalam pendidikan haruslah berorientasi pada nilai-nilai
Islami.
Bila kita di fahami pengertian pendidikan dari segi bahasa, kata
“pendidikan” yang umum di gunakan sekarang dalam bahasa Arabnya
adalah “tarbiyah” dengan asal kerjanya “rabba”.4 Sedangkan menurut
epistimologi kata “pendidikan” berasal dari kata “didik” yang mendapat
awal pe dan akhiran an yang artinya “pemeliharaan, asuhan, pimpinan,
atau bimbingan.5 Kata “pengajaran” itu sendiri dalam bahasa Arabnya
“ta‟lim” dengan kata kerjanya “allama” jadi mengenai kata pendidikan
dan pengajaran dalam bahasa Arabnya adalah “tarbiya wa ta‟lim”.
Sedangkan pengertian pendidikan secara istilah adalah suatu usaha
yang dilakukan oleh orang dewasa yang bertanggung jawab dalam
memberi

bimbingan

perkembangan

atau

jasmani

bantuan

dan

kepada

rohani.

Agar

anak

didik,

mereka

dalam

mencapai

kedewasaannya dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai kholifah di
bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri
sendiri.
Van

Cleve

Morris

sebagaimana

dikutip

oleh

Nuruhbiyati

menyatakan “secara ringkas kita mengatakan pendidikan adalah studi
filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial. Sementara untuk
mengarahkan secara hidup secara mengarah kepada setiap generasi,
tetapi ia menjadi agen yang melayani masa depan yang lebih baik.6
Mortimer J. Adler sebagaimana dikutip oleh Nuruhbiyati mengartikan
“Pendidikan adalah proses dengan mana segenap kemampuan manusia
yang dapat dipengaruhi oleh siapapun untuk membantu orang lain, atau

3

Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996)
Cet. Ke-1, h.27
4
Zakiyah Drajat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta: Bumi Aksara, Tahun,2004), h.
25
5
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka,1984), cet ke-7, h. 250
6
Nurbiyanti, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : CV. Pustaka Setia), h. 56

14

dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang
baik”. 7
Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan
sebagai sebuah proses dengan metode - metode tertentu sehingga orang
memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang
sesuai

dengan

kebutuhan.

Dalam

pengertian

yang

luas

dan

representative (mewakili/mencerminkan segala segi), pendidikan ialah
…the total process of developing human abilities and behaviors
drawing

on

almost

all

life‟s

experiences.

(seluruh

tahapan

pengembangan kemampuan–kemampuan dan prilaku–prilaku manusia
dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan).8
Menurut Ibrahim Amini, “Pendidikan adalah memilih tindakan
dan perkataan yang sesuai, menciptakan syarat-syarat dan faktorfaktor yang diperlukan, dan membantu seorang individu yang
menjadi objek pendidikan supaya dapat dengan sempurna
mengembangkan segenap potensi yang ada dalam dirinya, dan
secara perlahan-lahan bergerak maju menuju tujuan dan
kesempurnaan yang diharapkan.”9
Dengan demikian Pendidikan Agama Islam dapat juga sebagai
sebuah proses individu supaya hidup secara sempurna (kamil) dalam
memahami ajaran Islam melalui persiapan fisik atau jasmani, akal dan
rohani, sehingga dapat diharapkan menjadi anggota masyarakat yang
bermanfaat untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain.
Menurut Muhaimin, bahwa “Pendidikan agama Islam merupakan
salah satu bagian dari pendidikan Islam. Istilah “Pendidikan Islam”
dapat dipahami dalam beberapa perspektif, yaitu :
Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam
dan atau system pendidikan yang Islami, adalah pendidikan yang
dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai–nilai

7

Nurbiyanti, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : CV. Pustaka Setia), h. 56
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : PT
Remaja Rosdakary, 2007), h. 10
9
Ibrahim Amini, Asupan Ilahi, (Jakarta: Al-Huda, 2011) Cet. Ke-1, h.21
8

15

fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Qur‟an
dan as Sunnah/Hadits. Pendidikan ke-Islaman atau pendidikan agama
Islam, adalah upaya mendidik tentang agama Islam atau ajaran Islam
dan nilai – nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap
hidup) seseorang.
Pendidikan merupakan suatu perkembangan dan pertumbuhan
manusia yang terus menerus dalam bentuk generasi tua mengajarkan
kepada generasi yang lebih muda berbagai hasil pelajaran dan
pengalaman kepada mereka dan orang-orang terdahulu dari mereka.
Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dalam berbagai
dimensinya secara umum merupakan akibat dari pendidikan dan
pengajaran.10
Pendidikan dalam Islam, adalah proses dan praktek penyelenggaraan
pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam sejarah umat
Islam. Dalam arti proses bertumbuh kembangnya Islam dan umatnya,
baik Islam sebagai agama, ajaran maupun system budaya dan peradaban,
sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang. 11
Menurut penulis, “Terlepas dari pengertian pendidikan secara luas
ataupun sempit, pendidikan merupakan interaksi yang terjadi antara
seseorang dengan lingkungan sekitarnya dan berlangsung sepanjang
hayat. Pendidikan juga merupakan latihan mental, moral dan fisik yang
menghasilkan manusia (peserta didik) yang berbudaya tinggi untuk
melaksanakan tugas kewajiban dan tanggung jawabnya dalam
masyarakat selaku hamba Allah. Dan usaha kependidikan bagi manusia
menyerupai makanan yang berfungsi memberikan vitamin bagi
pertumbuhan manusia supaya tumbuh sebagai makhluk yang sehat
fisiknya (jasmaniah) dan mentalnya (rohaniah). Dari sisnilah maka

10

Ibrahim Amini, Asupan Ilahi, (Jakarta : Al-huda, 2011), h.12
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, di Sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), h 7-8
11

16

pendidikan sebagai vitamin dan nutrisi bagi kehidupan sangat penting
diperhatikan”.
B. Dasar – Dasar Pendidikan Agama Islam
Yang di maksud dengan dasar pendidikan Agama Islam di sini
adalah acuan atau landasan yang di pergunakan dalam pendidikan
agama. Setiap usaha atau kegiatan tindakan yang disengaja untuk
mencapai tujuan haruslah mempunyai dasar tempat berpijak yang kuat
dan baik. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan
pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini, dasar yang
menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai
kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik kearah
pencapaian pendidikan.12 Mengenai dasar pendidikan agama dapat di
tinjau dari dua aspek, yaitu:
1. Dasar Relejius
Menurut Zuhairini dkk, yang di maksud dengan dasar religious
adalah “dasar – dasar yang bersumber dari ajaran Islam. Bahwa
pelaksanaan Pendidikan Agama Islam merupakan dari Allah dan
merupakan ibadah kepada-Nya”. 13
Menetapkan al-Qur‟an dan Hadits sebagai dasar pendidikan
Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan
pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang
terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar
manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman
kemanusiaan.14

12

Al-Rasyidin, MA, Dr.H.Samsul Nizar,M.A, Filsafat PEndidikan Islam, (Jakarta:
Ciputat Press, 2005), h. 34
13
Zuhairini et al. Metodik Khusus Islam, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), Cet. Ke-8,
h. 27
14
Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat PEndidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
2005), h. 34-35

17

Dalam al-Qur‟an ayat–ayat yang menunjukan adanya perintah
tersebut antara lain sebagai berikut :

          
           

       
Artinya : “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah
kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan kebahagiaanmu dari (keni‟matan) duniawi, dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang berbuat
kerusakan”. (Q.S Al-Qashas : 28:77)
Menurut

Quraish

Shihab

dalam

kitab

tafsir

Al-Misbah

menjelaskan bahwa “Kehidupan dunia tidaklah seimbang dengan
kehidupan

akhirat.

Larangan

melakukan

perusakan,

setalah

sebelumnya telah diperintahkan berbuat baik, merupakan peringatan
agar tidak mempercampur adukan antara kebaikan dan keburukan.
Perusakan dimaksud menyangkut banyak hal. Di dalam al-Qur‟an
ditemukan contoh-contohnya. Puncaknya adalah merusak fitrah
kesucian manusia, yakni tidak memelihara tauhid yang telah Allah
anugerahkan kepada setiap insan. Di bawah peringkat itu ditemukan
keengganan menerima kebenaran dan pengorbanan nilai-nilai
agama, seperti pembunuhan, perampokan, pengurangan takaran dan
timbangan, berfoya-foya, pemborosan gangguan terhadap kelestarian
lingkungan, dan lain-lain”. 15
Al-hasan dan Qatadah mengatakan dalam kitab tafsir al-Qurtubi
bahwa maknanya adalah “Jangan kau habiskan umurmu hanya untuk
bersenang-senang dan mencari kehidupan dunia semata”. Ucapan ini
mengandung nasehat dan anjuran untuk memperbaiki diri dan tidak
15

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), h. 668

18

lupa dengan tujuan hidup yang hakiki, sebagaimana yang dikatakan
oleh Ibnu Athiyyah. Ibnu Al Arabi berkata, “Banyak pendapat dalam
masalah ini, namun dapat disimpulkan bahwa hendaknya kita
mempergunakan seluruh nikmat yang Allah berikan untuk
menambah ketaatan kita

kepadaNya. Sementara Imam Malik

mengatakan “Makan dan minumlah tanpa berlebih-lebihan”.
Menurutku, Imam Malik mengatakan demikian untuk membatah
orang-oranng yang berlebihan dalam beribadah.16
Dari pendapat dua ulama diatas maka saya dapat simpulkan
bahwa perusakan didunia yang dilakukakan oleh manusia itu bisa
dicegah dengan cara mendidik manusia dengan nilai-nilai agama
untuk taat kepada Tuhannya dan beribadah kepadaNya sehingga
tebentuk manusia yang selalu menyebarkan kebaikan di muka bumi
ini. Nilai-nilai pendidikan yang tercantum dalam tafsir ini
pendidikan akhlak dan pendidikan karakteristik manusia, karena
kemajuan Negara itu diliahat dari pendidik untuk mengubah karakter
dan akhlak anak bangsanya.
Selain ayat di atas, ada juga hadits yang menyebutkan tentang
pendidikan, diantaranya sebagai berikut :
Artinya : “dari Abu Hurairah, menceritakan : “Sesungguhnya
Nabi SAW, bersabda : Anak yang baru lahir, adalah suci bersih,
maka ibu bapaknya yang menjadikan anak itu Yahudi, Nasrani dan
majusi”. (H.R. Bukhari)17
Ayat dan hadits di atas, menunjukan hal yang jelas tentang
perintah memberikan pendidikan agama Islam kepada semua
manusia terlebih lagi kepada keluarga (anak dan istri) baik dalam
pendidikan rumah tangga, sekolah maupun masyarakat.

16

Imam Al-Qurthubi, Tafsir Al-Qurthubi, (Jakarta : Pustaka Azzam, 2009), h. 800-802
Muhammad Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, Ter. Zainudin Hamidy, dkk, (Jakarta :
Wijaya, 1970), h. 120
17

19

2. Dasar Yuridis Formal
Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah: 18
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4301);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4496) sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2013 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5410);
c. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan
dan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun
2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
141);
d. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan,
Tugas,

dan

Fungsi

Kementerian

Negara

serta

Susunan

Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara,
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 92 Tahun 2011 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 142);
e. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P Tahun 2009
mengenai

Pembentukan

Kabinet

Indonesia

Bersatu

II

sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden
Nomor 5/P Tahun 2013;

18

Permenag Kurikulum PAI tahun 2013

20

f. Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2013 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal

Kementerian

Agama;
g. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun
2013 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan
Menengah;
h. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun
2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah;
i. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun
2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah;
j. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun
2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan;
k. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 67 Tahun
2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah;
l. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun
2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah
Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah;
m. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun
2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah
Menengah Atas/Madrasah Aliyah.
n. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 81 A
Tahun

2013

tentang

Implementasi

Kurikulum

Sekolah

/Madrasah

C. Tujuan Pendidikan Islam
Karena pendidikan adalah suatu proses, maka proses tersebut akan
berakhir pada tercapainya tujuan akhir pendidikan. Suatu tujuan yang
hendak dicapai oleh pendidikan pada hakikatnya adalah suatu
perwujudan dari nilai-nilai ideal yang terbentuk dalam pribadi manusia
yang diinginkan.

21

Ibnu Khaldun sebagaimana dikutip dalam undang-undang Republik
Indonesia nomor 20 mengatakan: “Sesungguhnya tujuan pendidikan
yang bersumber dari al Qur‟an adalah untuk mencapai tujuan akhlak
karimah melalui jalan agama yang diturunkan untuk mendidik jiwa
manusia serta menegakan akhlak yang membangkitkan kepada
perbuatan yang baik.”19
Tujuan pendidikan Islam secara umum menurut beberapa pakar
pendidikan adalah sebagai berikut :
Athiyah Al Abrasy sebagaimana dikutip oleh Hasan Langgulung
menyimpulkan tujuan umum pendidikan Islam menjadi lima yaitu :
1.

Untuk pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimin dari
dahulu kala sampai sekarang setuju bahwa pendidikan akhlak
adalah inti pendidikan Islam, dan bahwa mencapai akhlak yang
sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.

2.

Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
Pendidikan Islam bukan hanya menitik beratkan pada keagamaan
saja, atau pada keduniaan saja, tetapi pada kedua – duanya.

3.

Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi manfaat,
atau yang lebih dikenal sekarang ini dengan nama tujuan – tujuan
vokasional dan profesional.

4.

Menumbuhkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan
keinginan tahu (curiosity) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu
demi ilmu itu sendiri.

5.

Menyiapkan

pelajar

dari

segi

professional,

teknikal

dan

pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu, dan
keterampilan pekerjaan tertentu agar ia dapat mencari rezeki dalam
hidup disamping memelihara segi kerohanian dan keagamaan. 20

Departemen Dalam Negeri, Undang – undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : PT. Kloang Klede Putra Timur,
2003), h. 10 dan 17
20
Hasan Langgulung, Manusia & Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Filsafat, dan
pendidikan, (Jakarta: PT. Pusaka Al HusnaBaru, 2004), h. 51
19

22

Menurut Abdul Fatah Jalal sebagaimana dikutip oleh Hasan
Langgulung, tujuan umum pendidikan Islam ialah “Terwujudnya
manusia sebagai hamba Allah”. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah
menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang
dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah. Islam
menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan
tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan
hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti
dalam surat Adzariyat ayat 56 :

“ Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya
mereka beribadah kepada-Ku”.
Menurut Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Mishbah mengatakan
bahwa Hakikat ibadah adalah “Menempatka diri seseorang dalam
kedudukan kerendahan dan ketundukan serta mengarahkannya kearah
maqam Tuhannya”. Dan tentu saja anda telah memahami apa yang
dimaksud dengan tujuan oleh ulama ini, yakni bertujuan member
kesempurnaan bagi pencipta, bukan bagi sang pencipta.21
Jadi ibadah itu manfaatnya tidak hanya untuk Tuhannya melainkan
untuk diri sendiri seperti perintahnya untuk beribadah, ibadah itu bisa
didapat melalui pendidikan dan dengan pendidikan manusia akan
menjadi manusia yang bermartabat dan itulah yang membedakan
manusia dengan hewan, hewan adalah makhluk Allah yang beribadah
tetapi tidak berpendidikan, sedangkan manuisa mencakup keduanya.
Jalal menyatakan bahwa “Sebagian orang mengira ibadah itu
terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan,
mengeluarkan zakat, ibadah Haji, serta mengucapkan syahadat”. Tetapi
sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, pikiran, dan perasaan
21

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta : Lentera Hati, 2002), h. 111

23

yang dihadapkan (atau disandarkan) kepada Allah. Aspek ibadah
merupakan kewajiban orang islam untuk mempelajarinya agar ia dapat
mengamalkannya dengan cara yang benar.22
Dari beberapa pernyataan tersebut di atas, penulis berkesimpulan
bahwa tujuan umum pendidikan Islam adalah “Mengadakan perubahan –
perubahan manusia dengan mengembangkan potensi – potensi yang di
anugrahkan oleh Allah swt. Supaya manusia mencapai tujuan
kekhalifahannya dimuka bumi ini”.
Pendidikan Islam juga memiliki tujuan khusus. Tujuan khusus
pendidikan Islam dalam penumbuhan semangat agama dan akhlak
adalah:
1. Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam, dasar–
dasarnya, asal usul ibadat, dari cara – cara melaksanakannya dengan
betul, dengan membiasakan mereka berhati – hati mematuhi akidah
– akidah agama den menjalankan dan menghormati syiar – syiar
agama.
2. Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap
agama termasuk prinsip–prinsip dan dasar–dasar akhlak yang mulia.
3. Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam, dan kepada
malaikat, rasul–rasul, kitab–kitab dan hari akhir berdasar pada
kesadaran dan perasaan.
4. Membersihkan hati mereka dari rasa dengki, hasud, iri hati, benci,
kekasaran, perpecahan dan perselisihan.

Tujuan khusus ini yang dapat saya simpulkan semua yang kita
lakukan di dunia ini didasarkan dengan ibadah kepada Allah serta
menamkan dasar agama yang mendalam pada diri manusia (peserta
didik) sehingga tertanam akhlak yang mulia dan beranfaat utnuk dunia
dan akhirat.

22

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, h. 46-47

24

Ibnu Khaldun sebagaimana dikuti oleh Hasan Langgulung yaitu Ibnu
Khaldun seorang pemikir terakihr dari zama keemasan generasi Islam
yang banyak menulis mengenai pendidikan, menyebutkan tujuan khusus
pendidikan Islam sebagai berikut;
1. Mempersiapkan

seseorang

dari

segi

keagamaan

yaitu

mengajarkannya syiar–syiar agama menurut al Qur‟an dan as Sunna,
sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana
halnya dengan poteni – potensi lain yang jika telah mendarah daging
maka itu seakan akan menjadi fitrah.
2. Menyiapkan seseorang dari segi akhlak.
3. Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial.
4. Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan.
Dikatakannya bahwa mencari dan menegakan hidupnya mencari
pekerjaan,

sebagaimana

ditegaskannya

pentingnya

pekerjaan

sepanjang amal manusia, sedang pengajaran atau pendidikan
dianggapnya termasuk diantara keterampilan – keterampilan itu.
5. Menyiapkan

seseorang

dari

segi

pemikiran,

sebab

dengan

pemikiranlah seseorang itu dapat memegang berbagai pekerjaan dan
pertukangan tertentu.
6. Menyiapkan seseorang dari segi kesenian, disini termasuklah musik,
syiar, khat, seni bina, dan lain – lain.23
Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa tujuan akhir
dari pendidikan Islam adalah “Mengembangkan empat aspek potensi
manusia yakni fitrah, roh, kemauan yang bebas dan akal, supaya dapat
menempati kedudukan sebagai kholifah Allah dimuka bumi ini, manusia
memakmurkan alam semesta melalui ketaatan dan penghambaannya
kepada Allah SWT”.
Sedangkan tujuan umum dalam pendidikan Islam menurut Ali Khalil
Abu al-Aynaim adalah “Membentuk pribadi yang beribadah kepada
23

Hasan Langgulung, Manusia & Pendidikan; Suatu Analisa Psikologis, Filsafat, dan
pendidikan, (Jakarta: PT. Pusaka Al HusnaBaru, 2004), h. 55 - 56

25

Allah. Sifat tujuan umum ini tetap, berlaku di sepanjang tempat, waktu
dan keadaan. Sedangkan tujuan khusus pendidikan Islam di tetepkan
berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan
geografi, ekonomi, dan lain–lain yang ada di tempat itu. Tujuan khusus
ini dapat di rumuskan berdasarkan ijtihad para ahli di tempat itu”.24
pendapat ini ada dua unsur kontan dan unsur fleksibelitas dalam tujuan
pendidikan Islam. Pada tujuan pendidikan Islam yang bersifat umum
terkandung unsur konstan, tetap berlaku sepanjangn zaman, tempat, dan
keadaan, tidak akan mengalami perubahan serta pergantian sepanjang
zaman. Sedangkan pada tujuan pendidikan Islam yang bersifat khusus
terkandung unsur fleksibelitas. Tujuan khusus ini dapat dirumuskan
sesuai dengan keadaan zaman, tempat dan waktu namun tetap tidak
bertentangan dengan tujuan yang lebih tinggi yaitu tujuan akhir atau
tujuan umum.
Uraian mengenai tujuan pendidikan Islam tersebut memperlihatkan
dengan jelas keterlibatan fungsional mengenai gambaran ideal dari
manusia yang ingin di bentuk oleh kegiatan pendidikan. Perumusan
pendidikan Islam itu pada hakikatnya adalah pekerjaan para filosof di
bidang pendidikan yang merupakan rumusan filosof tentang manusia
yang ideal dengan berdasarkan pada ajaran Islam sebagai sumber acuan
utamanya yaitu al-Qur‟an dan al-Hadits.25
Perlu diingat bahwa pengalaman nyata orang tua sebagai pendidik
akan membawanya kepada kesadaran akan nilai – nilai budi pekerti
luhur lainnya yang lebih relavan untuk perkembangan anak. Dengan
demikian faktor eksperimentasi (percobaan) yang disertai dengan niat
yang tulus dan kejujuran ketika memandang suatu masalah dikatakan
sangat penting dalam usaha menemukan dan mengembangkan agenda –
agenda pendidikan keagamaan untuk perbaikan moral anak dalam rumah
tangga maupun bermasyarakat. Hal itu tidak lain adalah demi
Ali Khalil Abu al-Ainain, Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah fi Qur‟an al-Karim,
(Mesir: Dar al-Fikr al-„Arabiyah, 1980), h. 153-217
25
Abudinnata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (ciputat : logos Wacana Ilmu, 1997) h. 58
24

26

terciptanya tujuan pendidikan Islam baik secara umum maupun secara
khusus.
Menurut pandangan Islam manusia itu satu hakikat tetapi
mempunyai tiga dimensi w

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3480 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 884 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 801 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 524 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 674 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1169 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1065 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 664 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 944 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1157 23