BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Discovery pada Peserta Didik Kelas IV SD

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Setting dan Karakteristik Subjek Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 01 Ngombak Desa Ngombak Kecamatan Kedungjati Kabupaten Grobogan. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015.

  Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yaitu suatu upaya untuk mencermati kegiatan belajar sekelompok peserta didik dengan memberikan sebuah tindakan (treatment) yang sengaja dimunculkan (Arikunto, 2007). Tindakan tersebut dilakukan oleh guru dengan maksud untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

  Subjek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas IV sejumlah 27 peserta didik yang terdiri dari 13 peserta didik laki-laki dan 14 peserta didik perempuan. Karakteristik peserta didik kelas IV yang masih berumur antara 10-11 tahun menunjukkan karakteristik menuju tahap berpikir konkret/nyata.

  Kondisi sosial ekonomi orangtua/wali cukup beragam. Sebagian besar orangtua peserta didik berprofesi sebagai petani dan buruh. Kondisi daerah yang dikelilingi lahan hutan yang tak tergarap dijadikan sebagai tempat untuk bercocok tanam. Selain itu daerah juga jauh dari perkotaan sehingga akses untuk jaringan internet masih ada kesulitan, hal ini menyebabkan sebagian besar peserta didik masih kurang menguasai teknologi. Sehingga peserta didik kekurangan informasi yang dibutuhkan dalam pembelajaran, akibatnya hasil belajar peserta didik khususnya dalam mata pelajaran IPA masih rendah.

3.2 Variabel Penelitian

  Variabel yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah variabel bebas dan variabel terikat.

  3.2.1 Variabel Bebas

  Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab berubahnya atau timbulnya variabel terikat. Variabel bebas pada penelitian tindakan kelas ini adalah penerapan model pembelajaran discovery.

  Model pembelajaran discovery (penemuan) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, berdiskusi, membaca sendiri, dan mencoba sendiri, agar anak dapat belajar sendiri.

  3.2.2 Variabel Terikat

  Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat pada Penelitian Tindakan Kelas ini ada dua macam, yaitu:

  1. Motivasi belajar IPA peserta didik kelas IV semester 2 tahun ajaran 2014/2015.

  Motivasi belajar adalah dorongan yang muncul dalam diri peserta didik yang memberikan arah dan membangkitkan semangat untuk belajar.

  2. Hasil belajar IPA peserta didik kelas IV semester 2 tahun ajaran 2014/2015.

  Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman atau akibat yang diperoleh peserta didik yang mencakup bidang kognitif, bidang afektif dan bidang psikomotor setelah melakukan kegiatan belajar dalam bentuk nilai yang diperoleh melalui tes.

3.3 Rencana Tindakan

  perencanaan, implementasi tindakan/pelaksanaan, observasi, serta refleksi (Depdiknas, 1999:21).

Gambar 3.1 Penelitian Tindakan Kelas Model Spiral Kemmis dan Mc Taggart (Depdiknas, 1999:21).

  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam beberapa siklus sampai motivasi dan hasil belajar peserta didik telah mencapai indikator kinerja sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Tahapan dalam setiap siklus antara lain:

  Siklus I

a. Tahap perencanaan

  Tahap perencanaan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah dan perumusan masalah untuk menyamakan

  3) Menyusun dan mengembangkan skenario pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). 4) Menyiapkan materi pembelajaran dan media pembelajaran yang diperlukan. 5) Menyusun lembar kerja kelompok yang digunakan peserta didik untuk eksperimen. 6) Menyusun instrumen tes (soal evaluasi) untuk peserta didik. 7) Menyusun format observasi tindakan untuk mengamati kegiatan pembelajaran.

b. Tahap implementasi tindakan dan observasi

  Tahap implementasi tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut: 1) Tahap implementasi tindakan sesuai dengan yang telah disusun dalam RPP. 2) Guru menyampaikan materi singkat dan mendemonstrasikan percobaan yang akan dilakukan. 3) Peserta didik mengamati percobaan yang dilakukan guru. 4) Peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil dengan anggota 4-5 peserta didik dalam setiap kelompok. 5) Guru membagikan lembar kerja kelompok dan alat peraga kepada masing-masing kelompok. 6) Setiap kelompok melakukan percobaan dan tugas guru sebagai pembimbing. 7) Setelah bereksperimen, peserta didik dalam kelompok membuat rangkuman hasil eksperimen. 8) Masing-masing kelompok diminta untuk menyampaikan hasil diskusi dari eksperimen yang dilakukan.

  10) Setelah melakukan eksperimen dan menemukan kesimpulan, peserta didik mendapat soal evaluasi untuk dikerjakan secara individu dan mandiri. Tahap observasi dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

  1) Dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. 2) Observer mengamati jalannya pembelajaran untuk menilai kemampuan guru dalam mengelola kelas serta aktivitas peserta didik selama pembelajaran berlangsung. 3) Observer melakukan pengamatan terhadap proses pelaksanaan tindakan dengn mengisi lembar observasi peserta didik dan guru.

  4) Observer menilai hasil tindakan sesuai format observasi yang telah disiapkan dan memberikan kesan pendapat.

c. Tahap refleksi

  Tahap refleksi dilakukan untuk mencatat dan mengevaluasi semua hasil yang ditemukan, baik kelemahan dan kelebihan yang muncul pada siklus pertama, selanjutnya hasil refleksi pada siklus pertaman dijadikan acuan untuk perbaikan pada siklus kedua.

  Siklus II

  Pada siklus II, kegiatan pembelajaran akan dilakukan sama seperti pada siklus I. Akan tetapi, waktu pelaksanaan disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia di Sekolah Dasar tempat dilakukannya penelitian. Siklus II merupakan penyempurnaan dari kelemahan dan kekurangan pada Siklus I.

Tabel 3.1 Sintaks Model Pembelajaran Discovery

  No. Tahap Keterangan Kegiatan Guru Kegiatan Peserta Didik

  1. Persiapan Dalam penerapan model

  a. Menentukan tujuan pembelajaran Discovery, pembelajaran. guru harus melakukan

  b. Melakukan identifikasi tahap persiapan terlebih karakteristik siswa dahulu sebelum (kemampuan awal, minat, menerapkannya di dalam gaya belajar, dan sebagainya) kelas.

  c. Memilih materi pelajaran.

  d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik sedara induktif (dari contoh- contoh generalisasi).

  e. Mengembangkan bahan- bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik.

  f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik.

  g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

  2. Aplikasi

  Stimulation Tahap pemberian

   Guru menghadapkan peserta  Peserta didik dihadapkan

  

(stimulasi/pemberian rangsangan untuk didik pada sesuatu yang pada suatu permasalahan

  menimbulkan

  rangsangan)

  menimbulkan yang menimbulkan kebingungan melalui kebingungannya, kemudian kebingungan melalui proses tanya jawab atau dilanjutkan untuk tidak kegiatan tanya jawab mendengarkan. memberi generalisasi agar dengan guru atau timbul keinginan untuk mendengarkan penjelasan menyelidiki sendiri. guru.  Guru bertanya dengan mengajukan persoalan atau menyuruh peserta didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat permasalahan.

  Problem statement Tahap perumusan

   Guru memberikan  Peserta didik dihadapkan masalah yang relevan

  

(pernyataan/identifikasi kesempatan kepada peserta pada masalah-masalah yang

masalah) dengan bahan pelajaran

  didik untuk mengidentifikasi berkaitan dengan materi dan merumuskan sebanyak mungkin agenda- pelajaran dan hipotesis untuk menjawab agenda masalah yang relevan mengidentifikasi satu permasalahan yang dengan bahan pelajaran. masalah untuk dirumuskan dipilih. Kemudian, salah satunya dalam hipotesis dan dipilih dan dirumuskan dalam dibuktikan kebenarannya. bentuk hipotesis.

  Data collection

   Guru memberi kesempatan  Peserta didik

  (pengumpulan data)

  pada peserta didik untuk mengumpulkan informasi mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk sebanyak-banyaknya yang menjawab pertanyaan dan relevan untuk membuktikan membuktikan hipotesis benar atau tidaknya hipotesis. melalui kegiatan membaca, mengamati, wawancara, eksperimen (percobaan sendiri), dan sebagainya.

  Data processing Tahap pengumpulan data oleh

   Peserta didik mengolah data

  (pengolahan data) peserta didik untuk membuktikan

  yang diperoleh untuk benar tidaknya hipotesis. membentuk konsep dan generalisasi.

   Peserta didik akan mendapat pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

  Verification Tahap menemukan suatu Tahap pengolahan informasi

   Peserta didik dibimbing konsep melalui contoh- yang telah diperoleh untuk

  (pembuktian)

  untuk menemukan suatu contoh yang dijumpai pembentukan konsep dan konsep, teori, aturan, atau dalam kehidupan sehari- generalisasi. pemahaman melalui contoh- hari. contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.

  Generalization (menarik Tahap menarik sebuah

   Guru membimbing peserta  Peserta didik menarik

  kesimpulan/generalisasi) kesimpulan yang dapat

  didik untuk belajar menarik kesimpulan atau generalisasi dijadikan prinsip umum kesimpulan atau generalisasi dari permasalahan yang dan berlaku untuk semua tertentu. Sehingga peserta dipecahkan berdasarkan kejadian atau masalah didik dapat merumuskan hasil verifikasi. yang sama, dengan suatu kesimpulan dengan memperhatikan hasil kata-kata/tulisan tentang verifikasi. prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.

3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengetahui minat dan peningkatan hasil belajar peserta didik kelas IV pada mata pelajaran IPA di SDN 01 Ngombak setelah menerapkan model pembelajaran discovery (penemuan) adalah:

  1. Observasi Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian.

  Teknik observasi digunakan untuk mengetahui sejauh mana implementasi model pembelajaran discovery dapat diterapkan dalam pembelajaran IPA di kelas IV SDN 01 Ngombak.

  2. Angket Angket merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk diberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna.

  Teknik angket digunakan untuk mengukur tingkat motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran IPA dengan penerapan model pembelajaran discovery di kelas IV SDN 01 Ngombak.

  3. Tes Tes merupakan sejumlah pertanyaan yang harus diberikan tanggapan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kemampuan seseorang atau mengungkap aspek tertentu dari orang yang dikenai tes.

  Teknik tes digunakan sebagai alat ukur hasil belajar peserta didik untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik dalam

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data

  Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk mengetahui motivasi dan peningkatan hasil belajar IPA peserta didik kelas IV di SDN 01 Ngombak setelah menerapkan model pembelajaran discovery adalah:

  1. Lembar Observasi Lembar observasi yang digunakan dalam Penelitian Tindakan

  Kelas (PTK) ini berupa lembar observasi terhadap praktik pembelajaran dengan implementasi model pembelajaran discovery. Pengisian lembar observasi ini dilakukan oleh observer dengan melingkari salah satu skor yang telah tersedia sesuai dengan hasil yang diamati oleh observer terhadap aktivitas guru pada kegiatan pembelajaran. Untuk mendapatkan data observasi yang valid digunakan lembar observasi (terlampir) yang telah disesuaikan berdasarkan kisi-kisi observasi pada tabel 3.3 berikut:

Tabel 3.2 Kisi-kisi Lembar Observasi Implementasi Model Pembelajaran Discovery No. Aspek Indikator Nomor Item Jumlah Item

  b. Melakukan tanya jawab untuk menghadapkan siswa pada masalah.

  13,14

  d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi.

  1

  12

  c. Memfasilitasi siswa bekerja dalam kelompok.

  1 Data collection (pengumpulan data)

  11

  b. Memfasilitasi siswa untuk menyusun hipotesis.

  1

  10

  2 Problem statement (pernyataan/identifika si masalah) a. Memfasilitasi siswa untuk mengidentifikasi masalah.

  8,9

  2

  1. Melakukan Persiapan.

  6,7

  (stimulasi/pemberian rangsang) a. Memfasilitasi siswa membaca materi yang berisi permasalahan.

  Stimulation

  3. Kegiatan Inti

  1

  5

  b. Menyampaikan tujuan pembelajaran.

  2

  3,4

  a. Melakukan apersepsi dan motivasi.

  2. Kegiatan Awal

  2

  Persiapan perlengkapan belajar. 1, 2

  2 Lebih dari 85 Sangat baik

  Skor Kategori

  c. Melakukan tindak lanjut. 25,26

  = 19,5

  4

  78

  =

  4

  104 − 26

  Jarak Interval =

  Skor maksimal

  Jarak Interval =

  Kategori Lembar Observasi Implementasi Model Pembelajaran Discovery

  26 Tabel 3.3

  2 Jumlah item

  1

  g. Memfasilitasi siswa untuk mendapatkan pengetahuan baru.

  24

  b. Memberikan penguatan kepada siswa.

  2

  22,23

  a. Melakukan refleksi bersama siswa.

  4. Kegiatan Akhir

  1

  21

  2 Generalization (menarik kesimpulan) i. Memfasilitasi siswa menyusun kesimpulan berdasarkan konsep.

  19,20

  h. Memfasilitasi siswa untuk menemukan dan menyusun konsep.

  2 Verification (pembuktian)

  17,18

  • – Skor minimal Jumlah kelas interval

  2. Lembar Angket

  Lembar angket dalam

  Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini berisi beberapa butir pernyataan dengan menggunakan Skala Likert yang mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif berupa kata- kata antara lain: sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Skor untuk butir pernyataan yang sifatnya positif yaitu sangat setuju (4), setuju (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju (1). Sebaliknya untuk pernyataan yang bersifat negatif yaitu sangat setuju (1), setuju (2), tidak setuju (3), sangat tidak setuju (4).

  Dengan skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak menyusun butir-butir instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden.

Tabel 3.4 Kisi-kisi Lembar Angket Motivasi Belajar IPA Nomor Nomor Pernyataan Pernyataan No. Indikator Motivasi Belajar Positif Negatif

  1. Adanya hasrat dan keinginan berhasil. 1,3,6 2,4,5

  2. Adanya dorongan dan kebutuhan 9,11,12 7,8,10 dalam belajar.

  3. Adanya harapan dan cita-cita masa 13,14,15 16,17,18 depan.

  4. Adanya penghargaan dalam belajar. 19,21,23 20,22,24

  5. Adanya kegiatan yang menarik dalam 28,29,30 25,26,27 belajar.

  6. Adanya lingkungan belajar yang 31,33,34 32,35,36 kondusif.

Tabel 3.5 Skor Butir Pernyataan Dalam Skala Likert Jawaban Pernyataan Positif Pernyataan Negatif

  Sangat Setuju

  4

  4 Setuju

  3

  3 Tidak Setuju

  2

  2

  • – Skor minimal

    Jumlah kelas interval

  No. Skor Kategori Minat Belajar

  8

  1, 2, 9, 13, 16, 17, 19,

  7.1.1 Mengidentifikasi macam-macam gaya.

  7. Memahami gaya dapat

  Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Nomor butir soal Jumlah butir soal

Tabel 3.7 Kisi-kisi Soal Prasiklus

  3. Soal Tes Tes diberikan untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung melalui respon seseorang terhadap pertanyaan. Tes ini digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran. Tes diberikan setelah akhir pembelajaran.

  1. Lebih dari 86 Sangat Tinggi 2. 67 sampai 86 Tinggi 3. 47 sampai 66 Rendah 4. 27 sampai 46 Sangat Rendah

  = 20,25

Tabel 3.6 Kategori Motivasi Belajar IPA

  4

  81

  =

  4

  108 − 27

  Jarak Interval =

  Skor maksimal

  Jarak Interval =

7.1 Menyimpulkan

  mengubah gerak hari. suatu

  7.1.3 Mendeskripsikan 3, 6, 11, 21,

  6

  benda

  contoh gaya dapat 22, 25 mengubah bentuk benda.

  7.2

  7.2.1 Mendeskripsikan 4, 10, 14, 23

  4 Menyimpulkan gaya dapat mengubah hasil percobaan arah benda.

  bahwa gaya (dorongan dan tarikan) dapat mengubah bentuk suatu benda.

  Jumlah

  45

  45

Tabel 3.8 Kisi-kisi Soal Siklus 1

  Standar Kompetensi Nomor Jumlah Indikator

Kompetensi Dasar butir soal butir soal

  8. Memahami

  8.1

  8.1.1 Mengidentifikasi 1, 2, 3, 4, 5, berbagai Mendeskripsikan macam-macam sumber 6, 7, 8, 9, 12 bentuk energi energi panas dan energi panas beserta 31, 32, 33 dan cara bunyi yang contohnya. penggunaannya terdapat di

  8.1.2 Mengidentifikasi 10, 11, 12, dalam lingkungan cara-cara perpindahan 13, 14, 15,

  10 kehidupan sekitar serta panas 16, 34, 35, sehari-hari. sifat-sifatnya.

  45

  8.1.3 Mengidentifikasi 17, 18, 19, benda konduktor dan 20, 21, 36 6 isolator.

  8.1.4 Menjelaskan 22, 23, 37, pengertian sumber 40, 43, 44 6 bunyi.

  8.1.5 Mengidentifikasi 24, 25, 26, jenis dan sifat bunyi. 27, 28, 38,

  7

  39

  8.1.6 Mengidentifikasi 29, 30, 41, cara-cara perambatan

  4

  42 bunyi.

  Jumlah

  45

  45

Tabel 3.9 Kisi-kisi Soal Siklus 2

  Standar Nomor Jumlah Kompetensi Dasar Indikator Kompetensi butir soal butir soal

  8. Memahami

  8.2 Menjelaskan

  8.2.1 Mengidentifikasi 1, 2, 3, 10, berbagai berbagai energi macam-macam energi 11, 14, 15, bentuk energi alternatif dan cara alternatif. 16, 17, 20,

  15 dan cara penggunaannya . 21, 23, 26, penggunaannya

  29, 31 dalam

  8.2.2 Menjelaskan cara 4, 5, 6, 7, kehidupan penggunaan energi 8, 9, 12, sehari-hari. alternatif. 18, 19, 24,

  16 25, 28, 32,

  37, 38, 44

  8.2.3 Mengidentifikasi keuntungan dan 13, 22, 27, 4 kelemahan energi

  30 alternatif.

  8.3 Membuat suatu

  8.3.1 Membuat karya/model untuk karya/model yang 33, 34, 35, menunjukkan menunjukkan perubahan

  5 39, 40 perubahan energi energi gerak akibat gerak akibat pengaruh udara. pengaruh udara,

  8.3.2 Menjelaskan cara misalnya roket dari pembuatan karya/model

  36, 41, 42, kertas/baling- yang menunjukkan

  5 43, 45 Soal prasiklus dan siklus disajikan dalam bentuk soal pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban. Skala pengukuran yang digunakan pada instrumen ini adalah skala Guttman sehingga akan didapat jawaban yang tegas, yaitu “benar” dan “salah” dengan teknik skoring untuk jawaban benar 1 (satu) dan untuk jawaban salah 0 (nol) (Sugiyono, 2010).

  Uji instrumen butir soal pra siklus dan siklus I diujicobakan pada peserta didik kelas V di SDN Depok 05 dan SDN 01 Ngombak dengan responden 39 siswa SDN Depok 05 dan 24 siswa di SDN 01 Ngombak, jadi jumlah responden seluruhnya adalah 63 peserta didik. Sedangkan uji instrumen butir soal siklus II diujicobakan pada peserta didik kelas V SDN 01 Ngombak sebanyak 24 responden

3.4.3 Uji Validitas

  Istilah valid sangat sukar dicari penggantinya. Ada yang mengganti istilah valid dengan sahih, sehingga validitas diganti menjadi kesahihan. Istilah lain dari valid ada yang menggunakan istilah cermat, sehingga validitas diterjemahkan dengan istilah kecermatan.

  Uji validitas adalah pengujian yang dilakukan guna untuk mengetahui seberapa cermat suatu instrumen dalam mengukur apa yang akan diukur (valid). Butir soal dikatakan valid apabila memiliki indeks korelasi minimal lebih dari 0,3. Apabila ada nomor butir yang memiliki indeks korelasi kurang dari 0,3 maka butir tersebut harus dikeluarkan dari analisis data selanjutnya karena tidak valid (dalam Eko Putro Widyoko, 2012).

a) Validitas Angket Motivasi

  Dari 36 butir pernyataan yang diujikan terdapat 27 pernyataan yang dinyatakan valid dan 9 pernyataan dinyatakan tidak valid karena memiliki koefisien correlated item total correlation kurang dari 0,3

Tabel 3.10 Hasil Uji Validitas Butir Pernyataan

a) Validitas Butir Soal Prasiklus

  1, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 22,

Tabel 3.12 Hasil Uji Validitas Butir Soal Siklus 1

  Dari 45 butir soal yang diujicobakan, terdapat 33 butir soal valid dan 12 butir soal yang tidak valid. Hasil rekapitulasi uji coba butir soal siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

  1, 3, 4, 5, 6, 7, 10, 12, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24

  18

  7 Butir soal yang dipakai

  18

  25

  23, 24 2, 8, 9, 11, 16, 21, 25

  Soal valid Soal tidak valid Jumlah

  

Angket Motivasi Belajar IPA

Soal valid Soal tidak valid Jumlah

Tabel 3.11 Hasil Uji Validitas Butir Soal Pra Siklus

  Dari 25 butir soal yang diujikan terdapat 18 soal yang dinyatakan valid dan 7 soal dinyatakan tidak valid. Hasil rekapitulasi uji coba butir soal prasiklus dapat dilihat pada tabel berikut:

  1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 32, 34, 35, 36

  27

  9 Butir soal yang dipakai

  27

  36

  33

  34, 35, 36 6, 10, 11, 12, 13, 20, 29, 31,

  1, 2, 3, 4, 5, 7, 8, 9, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 30, 32,

b) Validitas Butir Soal Siklus I

  33

  12 Butir soal yang dipakai

  30

  1, 2, 3, 5, 6, 7, 8, 10, 13, 14, 15, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 32, 34, 35, 36, 40, 41, 42, 44, 45

c) Validitas Butir Soal Siklus II

  Dari 45 butir soal yang diujikan, terdapat 30 butir soal yang dinyatakan valid dan 15 butir soal dinyatakan tidak valid. Hasil rekapitulasi uji coba butir soal siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.13 Hasil Uji Validitas Butir Soal Siklus 2 Jumlah Soal valid Soal tidak valid

  1, 2, 3, 9, 10, 11, 13, 14, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 26, 27, 4, 5, 6, 7, 8, 12, 15, 16, 21,

  45

  28, 30, 31, 32, 33, 36, 37, 24, 25, 29, 32, 34, 35 38, 39, 40, 41, 42, 44, 45

  30

  15 Butir soal yang dipakai

  30

  1, 2, 3, 9, 10, 11, 13, 14, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 26, 27, 28, 30, 31, 32, 33, 36, 37, 38, 39, 40, 41, 42, 44, 45

3.4.4 Uji Reliabilitas

  Kata relibilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Instrumen tes dikatakan dapat dipercaya (reliable) jika memberikan hasil yang tetap atau ajeg (konsisten) apabila diteskan berkali-kali.

  Uji reliabilitas adalah untuk menguji konsistensi alat ukur, apakah hasilnya tetap konsisten jika pengukuran diulang pada sampel yang sama untuk waktu yang berbeda. Instrumen yang tidak reliabel (ajek) tidak dapat dikatakan konsisten untuk pengukuran sehingga hasil pengukuran tidak dapat dipercaya.

  Indeks reliabilitas instrumen dapat dilihat pada output kotak Reliability ditentukan yaitu 0,7 maka dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut adalah reliabel (dalam Eko Putro Widyoko, 2012).

a) Reliabilitas Angket Motivasi

  Pada uji reliabilitas angket motivasi diperoleh hasil koefisien reliabilitas sebesar 0,867 dan setelah butir pernyataan yang tidak valid dibuang, koefisien reliabilitasnya menjadi 0,871. Dengan demikian pernyataan pada angket motivasi dapat digunakan sebagai instrumen penelitian yang reliabel. Hasil uji reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.14 Hasil Uji Reliabilitas Butir Pernyataan Angket Motivasi Belajar IPA

  

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.867

  36

b) Reliabilitas Soal Prasiklus

  Pada uji reliabilitas soal prasiklus diperoleh hasil koefisien reliabilitas sebesar 0,820 dan setelah butir soal yang tidak valid dibuang diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,811. Dengan demikian butir soal pada prasiklus dapat digunakan sebagai instrumen penelitian yang reliabel. Hasil uji reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.15 Hasil Uji Reliabilitas Butir Soal Pra Siklus

  

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.820

  25

  c) Reliabilitas Soal Siklus I

  Pada uji reliabilitas soal siklus I diperoleh hasil koefisien reliabilitas sebesar 0,886 dan setelah butir soal yang tidak valid dibuang, koefisien reliabilitasnya menjadi 0,891. Dengan demikian butir soal pada siklus I dapat digunakan sebagai instrumen penelitian yang reliabel. Hasil uji reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.16 Hasil Uji Reliabilitas Butir Soal Siklus I

  

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.886

  45

  d) Reliabilitas Soal Siklus II

  Pada uji reliabilitas soal siklus II diperoleh hasil koefisien reliabilitas sebesar 0,909 dan setelah butir soal yang tidak valid dibuang menjadi 0,927. Dengan demikian butir soal pada siklus II dapat digunakan sebagai instrumen penelitian yang reliabel. Hasil uji reliabilitas angket motivasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.17 Hasil Uji Reliabilitas Butir Soal Siklus II

  

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

.909

  45

3.4.5 Uji Tingkat Kesukaran

  dipandang dari kemampuan peserta didik dalam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut pandang guru sebagai pembuat soal.

  Cara melakukan analisis untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah dengan menggunakan rumus (Nana Sudjana, 2013:141) sebagai berikut: I = Keterangan: I = indeks kesulitan untuk setiap butir soal B = banyaknya siswa yang menjawab benar untuk setiap butir soal N = jumlah siswa seluruhnya Kriteria indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut:

  = soal kategori sukar

  • – 0,33 0,34
  • – 0,66 = soal kategori sedang 0,67
  • – 1,00 = soal kategori mudah

a) Taraf kesukaran soal prasiklus

  Hasil analisis tingkat kesukaran butir soal prasiklus dapat dilihat pada

tabel 3.23 berikut:Tabel 3.18 Analisis Tingkat Kesukaran Soal Prasiklus

  Nomor Soal Indeks Nomor Soal Valid yang Jumlah Persentase Kesukaran Digunakan

  Mudah 1, 2, 3, 4, 5, 6, 11, 1, 3, 4, 5, 6, 12, 12 67% 12, 14, 17, 19, 20, 14, 17, 19, 20, 23,

  23, 24, 25

  24 Sedang 7, 8, 10, 13, 14, 16, 7, 10, 13, 15, 18, 6 33% 18, 22

  22

  • Sukar

  Total

  25

  18 18 100%

Tabel 3.19 Analisis Tingkat Kesukaran Soal Siklus I

  Nomor Soal Indeks Persentase

  

Nomor Soal Valid yang Jumlah

Kesukaran Digunakan

  Mudah 2, 4, 5, 6, 7, 9, 21, 2, 5, 6, 7, 21, 26, 9 30% 26, 30, 32, 33, 37, 32, 40, 44

  40, 44 Sedang 1, 3, 8, 10, 11, 14, 1, 3, 8, 10, 14, 19 63%

  15, 16, 17, 18, 19, 15, 17, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 22, 23, 24, 27, 27, 29, 31, 34, 35, 34, 35, 36, 41, 36, 38, 41, 42, 43, 42, 45

  45 Sukar 12, 13, 28, 39 13, 28 2 7%

  Total

  45

  30 30 100%

c) Taraf kesukaran soal siklus II

  Hasil analisis tingkat kesukaran butir soal siklus II dapat dilihat pada

tabel 3.25 berikut:Tabel 3.20 Analisis Tingkat Kesukaran Soal Siklus II

  

Indeks Nomor Soal Nomor Soal Valid Jumlah Persentase

Kesukaran yang Digunakan

  Mudah 5, 9, 11, 14, 15, 9, 11, 14, 18, 20, 8 27% 16, 18, 20, 27, 30, 27, 30, 33

  32, 33, 34 Sedang 2, 3, 7, 8, 10, 17, 2, 3, 10, 17, 19, 22, 16 53%

  19, 21, 22, 23, 25, 23, 28, 36, 37, 39, 28, 29, 36, 37, 39, 40, 41, 42, 43, 45

  40, 41, 42, 43, 45 Sukar 1, 4, 6, 12, 13, 24, 1, 13, 26, 31, 38, 6 20%

  26, 31, 35, 38, 44

  44 Total

  45

  30 30 100% pembelajaran discovery (penemuan) pada mata pelajaran IPA. Penerapan model discovery ini dinyatakan tercapai jika berada pada kategori baik atau sangat baik. Kategori baik dinyatakan apabila guru dan peserta didik melaksanakan semua kegiatan sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran model discovery dan tidak ada catatan berupa masukan atau perbaikan dari observer.

3.6 Teknik Analisis Data

  Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif yaitu berbentuk angka-angka yang diperoleh dari tes tertulis dan deskriptif kualitatif yaitu berupa kata-kata atau penjelasan yang diperoleh dari lembar observasi.

3.6.1 Analisis Data Lembar Observasi

  Data hasil observasi dalam penelitian ini berupa hasil observasi aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran discovery. Observasi dilaksanakan oleh observer selama pembelajaran siklus I dan siklus II berlangsung. Observasi dilakukan untuk mengukur apakah guru mampu melaksanakan pembelajaran discovery dengan baik. Lembar observasi implementasi model pembelajaran discovery pada mata pelajaran IPA kelas IV SDN 01 Ngombak terdiri dari 26 pernyataan yang dibagi dalam 3 tahap pembelajaran yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Dalam lembar observasi, observer mengamati aktivitas mengajar yang dilakukan guru dan harus melingkari salah satu dari 4 angka yang terdapat dalam setiap pernyataan. Angka 1 jika pernyataan dilakukan guru dalam kategori kurang, angka 2 jika pernyataan dilakukan guru dalam kategori cukup, angka 3 jika dilakukan guru dalam kategori baik, dan angka 4 jika dilakukan guru dalam kategori sangat baik. Setelah pernyataan diisi semua, akan dihitung jumlah keseluruhan skor yang diperoleh guru serta rata-

  Skor maksimal

  • – Skor minimal

  Jarak Interval =

  Jumlah kelas interval 104 78 − 26

  Jarak Interval = = = 19,5

  4

  4 Berdasarkan hasil perhitungan interval di atas, maka kategori untuk rentang

  skor adalah sebagai berikut: Kurang = 26 sampai 45 Cukup = 46 sampai 65 Baik = 66 sampai 85 Sangat baik = lebih dari 85

  Dari jumlah skor yang diperoleh dari observasi yang dilakukan observer, kemudian disimpulkan apakah guru dapat melaksanakan penerapan model pembelajaran discovery dengan kategori kurang, cukup, baik, atau sangat baik. Peneliti menetapkan bahwa guru dikatakan berhasil menerapkan model pembelajaran discovery jika dalam kategori baik atau sangat baik dengan melaksanakan semua langkah-langkah pembelajaran discovery dan tidak ada catatan dari observer.

3.6.2 Analisis Data Lembar Angket Motivasi

  Setiap peserta didik mengisi lembar angket motivasi belajar IPA yang dibagikan guru. Dalam lembar angket tersebut terdapat 27 penyataan yang terdiri dari pernyataan positif dan pernyataan negatif. Dalam setiap pernyataan terdapat 4 pilihan yaitu sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangat setuju. Tugas peserta didik adalah mengisi salah satu dari 4 pilihan jawaban tersebut dengan memberikan tanda centang (√). Perhitungan skor yang dilakukan dengan memberikan skor 1, 2, 3, atau 4 berdasarkan pernyataan positif dan negatif yang dijawab oleh peserta didik. Untuk pernyataan positif, skor 1 jika menjawab sangat tidak setuju, skor 2 jika setuju. Selanjutnya hasil jawaban peserta didik dijumlahkan untuk disimpulkan dalam kategori motivasi belajar IPA yang telah ditentukan oleh peneliti. Ada 4 kategori motivasi belajar yaitu rendah, sangat rendah, tinggi, sangat tinggi dengan rentang interval skor pada setiap kategori sebagai berikut:

  Skor maksimal

  • – Skor minimal

  Jarak Interval =

  Jumlah kelas interval 108 81 − 27

  Jarak Interval = = = 20,25

  4

4 Berdasarkan hasil perhitungan interval di atas, maka kategori untuk motivasi

  belajar IPA peserta didik kelas IV SDN 01 Ngombak adalah sebagai berikut: Sangat rendah = 27 sampai 46 Rendah = 47 sampai 66 Tinggi = 67 sampai 86 Sangat tinggi = lebih dari 86

  Dari hasil perhitungan di atas akan dapat disimpulkan kategori motivasi belajar IPA setiap peserta didik. Dalam penelitian ini, peneliti menetapkan bahwa Penelitian Tindakan Kelas ini dikatakan berhasil jika 75% dari jumlah seluruh peserta didik meliliki kategori motivasi belajar IPA tinggi dan sangat tinggi.

3.6.3 Analisis Data Butir Soal Tes

  Data mengenai hasil belajar IPA peserta didik diperoleh dari tes tertulis pada prasiklus, siklus I, dan siklus II. Ter tertulis berupa soal pilihan ganda. 18 soal untuk prasiklus, 30 soal untuk siklus I, dan 30 soal untuk siklus II. Skor yang diperoleh adalah 1 jika peserta didik menjawab butir soal dengan jawaban benar dan 0 jika peserta didik menjawab butir soal dengan jawaban salah. Untuk menentukan nilai peserta didik dilakukan penjumlahan Berdasarkan hasil perhitungan rumus di atas, maka akan diperoleh nilai setiap peserta didik. Peneliti menetapkan ketentuan bahwa Penelitian Tindakan Kelas ini dinyatakan berhasil jika 80% dari jumlah peserta didik kelas IV SDN 01 Ngombak mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan KKM (KKM=70) dalam mata pelajaran IPA.

Dokumen yang terkait

BAB II KAJIAN TEORI - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD di Ahmad Yani Gugus Ahmad Yani Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 201

0 0 12

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD di Ahmad Yani Gugus Ahmad Yani Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015

0 0 11

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD di Ahmad Yani Gugus Ahmad Yani Kota Salatiga Semester II

0 0 22

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD di Ahmad Yani Gugus Ahmad Yani Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015

0 0 15

Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pengaruh Model CTL (Contextual Teaching and Learning) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD di Ahmad Yani Gugus Ahmad Yani Kota Salatiga Semester II Tahun Pelajaran 2014/2015

0 0 50

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pertimbangan Hakim terhadap Penguasaan Tanah Secara Melawan Hukum: Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung RI No. 2462 K/PDT/2015 Juncto Putusan Peng

0 0 15

BAB II PENGUASAAN ATAS TANAH, HAK ATAS TANAH DAN PERALIHANNYA MENURUT UNDANG-UNDANG POKOK AGRARIA A. Penguasaan Atas Tanah - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pertimbangan Hakim terhadap Penguasaan Tanah Secara Melawan Hukum: S

2 2 24

BAB III PERBUATAN MELAWAN HUKUM DALAM KONSTRUKSI HUKUM DI INDONESIA A. Konsep Dan Definisi Perbuatan Melawan Hukum - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pertimbangan Hakim terhadap Penguasaan Tanah Secara Melawan Hukum: Studi ter

0 0 30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Pertimbangan Hakim terhadap Penguasaan Tanah Secara Melawan Hukum: Studi terhadap Putusan Mahkamah Agung RI No. 2462 K/PDT/2015 Juncto Putusan Pengadilan

0 0 42

BAB II LANDASAN TEORI - Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Penerapan Pembelajaran Numbered Heads Together(NHT) Berbantuan Media Gambar untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas 4 di SD Negeri Dadapayam 02 Kecamatan S

0 0 24