Kata Kunci : Perjanjian Perkawinan, Perkawinan Campuran, Tanah Hak Milik A. PENDAHULUAN - PEMISAHAN HARTA DALAM PERKAWINAN CAMPURAN UNTUK MENGHINDARI KEPEMILIKAN TANAH HAK MILIK OLEH ORANG ASING

  

PEMISAHAN HARTA DALAM PERKAWINAN CAMPURAN UNTUK

MENGHINDARI KEPEMILIKAN TANAH HAK

MILIK OLEH ORANG ASING

Nabila Rosa, Dr. FX. Sumarja, S.H., M.H., Upik Hamidah, S.H., M.H.

  Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung Jl. Prof.Dr.Ir. Soemantri Brojonegoro No. 1 Gedungmeneng, Bandar Lampung 35145

  

Abstract

Decision of the Constitutional Court Number 69 / PUU-XIII / 2015 has changed the norm

and arrangement of marriage agreement set forth in Article 29 of the Marriage Law. In

addition, the Constitutional Court's decision reinforces and strengthens the position of

Article 21 of the UUPA. A marriage agreement may be made before, during, or after

marriage, with the notarial deed attested. This decree provides a guarantee of equality of

rights and legal certainty for Indonesian citizens of mixed marriages to own land of property

rights.

  Keywords : Marriage Agreement, Mixed Marriage, Property Land.

  

Abstrak

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 telah mengubah norma dan

tatanan perjanjian perkawinan yang diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan.

  

Selain itu putusan MK ini mempertegas dan memperkuat kedudukan Pasal 21 UUPA.

Perjanjian perkawinan dapat dibuat sebelum, pada saat, atau setelah perkawinan

dilangsungkan dengan dibuktikan akta notaris. Keputusan ini memberikan jaminan

kesetaraan hak dan kepastian hukum bagi WNI pelaku perkawinan campuran untuk

memiliki tanah hak milik.

  Kata Kunci : Perjanjian Perkawinan, Perkawinan Campuran, Tanah Hak Milik A.

  bagi investor asing untuk berinvestasi,

   PENDAHULUAN

  Kebutuhan akan tanah dewasa ini membuka usaha, maupun mempunyai semakin meningkat sejalan dengan rumah di Indonesia. Tentu saja bagi berkembangnya perekonomian Indonesia Warga Negara Asing (WNA) yang dan meningkatnya kebutuhan lain yang hendak berinvestasi dan menetap di berkaitan dengan tanah. Seiring Indonesia sangat memerlukan tanah berkembangnya zaman di era globalisasi untuk dapat mewujudkan tujuan-tujuan ini, maka semakin terbuka kesempatan tersebut. Sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) bahwa hanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang dapat mempunyai tanah dengan status hak milik di Indonesia.

  Prinsip nasionalitas atau yang kemudian disebut prinsip kebangsaan bahwa hanya Warga Negara Indonesia (WNI) yang dapat mempunyai hubungan hukum yang sepenuhnya dengan bumi, air dan ruang angkasa.

  nasionalitas itulah, maka ada ketentuan

  Pasal 21, 26 dan Pasal 27 UUPA

  2

  yang 1 FX. Sumarja, Hak Atas Tanah Bagi Orang Asing,

  Yogyakarta: STPN Press, 2015, hlm. 6 2 Pasal 21 mengatur bahwa: ayat 1) Hanya warganegara Indonesia yang dapat mempunyai hak milik; 2) Oleh pemerintah ditetapkan badan-badan hukum yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya; 3) Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta perkawinan, demikian pula warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik dan setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya wajib melepaskan hak itu dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak tersebut atau hilangnya kewarganegaraan itu. Jika sesudah jangka waktu tersebut lampau hak milik itu tidak dilpeaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada Negara, dengan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebaninya tetap berlangsung; 4) Selama seseorang disamping kewarganegaraan Indonesianya mempunyai kewarganegaraan asing, maka ia tidak dapat mempunyai tanah dengan hak milik. Pasal 26 ayat (2) mengatur, bahwa setiap jual beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat dan perbuatan-perbuatan lain yang dimaksudkan untuk langsung atau tidak langsung memindahkan hak milik kepada orang asing, disamping

  merupakan politik hukum larangan kepemilikan tanah hak milik oleh orang asing. Ketentuan yang membedakan antara WNI dan orang asing dalam pemilikan tanah, jika ditinjau dari segi hukum perdata internasional, pembatasan hak-hak orang asing atas tanah dapat dipertanggungjawabkan.

  Lembaga perkawinan merupakan sendi kehidupan dan susunan masyarakat Indonesia, dan perkawinan itu sendiri merupakan masalah hukum, negara, dan agama. Menurut Anita D.A. Kolopaking penyelundupan hukum melalui lembaga perkawinan biasanya terjadi melalui modus perkawinan siri, yang menggunakan nama wanita WNI yang diikat dengan perjanjian melalui Notaris antara WNA dengan pasangan wanita WNI dimana jika akan melakukan pelepasan hak kepemilikan atas tanah tersebut harus dilakukan dengan kedua pasangan sirih ini.

1 Atas dasar prinsip

  3 Padahal dalam Pasal 3

  PP Nomor 103 tahun 2015 menyatakan

  kewarganegaraan Indonesia adalah batal karena hukum dan tanahnya jatuh kepada Negara dengan ketentuan, bahwa hak-hak pihak lain yang membenaninya tetap berlangsung serta semua pembayaran yang telah diterima oleh pemilik tidak dapat dituntut kembali. Pasal 27 huruf a angka 4 mengatur bahwa hak milik hapus bila tanahnya jatuh pada Negara karena ketentuan Pasal 21 ayat (3) dan pasal 26 ayat (2). 3 Anita D.A. Kolopaking, Kepemilikan Tanah Hak Milik Oleh WNA dan Badan Hukum Dikaitkan Dengan Penggunaan Nominee sebagai Bentuk Penyelundupan Hukum, Disertasi UNPAD Bandung, 2009, hlm. 15, 55. bahwa Warga Negara Indonesia yang melaksanakan perkawinan dengan Orang Asing dapat memiliki hak atas tanah yang sama dengan Warga Negara Indonesia lainnya, hak atas tanah bukan merupakan harta bersama yang dibuktikan dengan perjanjian pemisahan harta antara suami dan istri, yang dibuat dengan akta notaris.

  Sesuai ketentuan hukum adat, Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing yang berkedudukan di Indonesia, dan Peraturan Mentri Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional nomor 7 Tahun 1996 juncto Nomor 8 Tahun 1996 tentang Persyaratan Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing,

  4

  orang asing hanya dapat menguasai tanah hak pakai dengan kewenangan yang terbatas.

  terhadap kepemilikan tanah WNI perlu mendapat perhatian dari Pemerintah. Perhatian yang dapat dilakukan Pemerintah adalah memberikan perlindungan hukum terhadap hak-hak atas tanah WNI dari penguasaan dan 4 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia:

  Sejarah Pembentukan Undang-Indang Pokok Agraria, isi dan Pelaksanaannya , Jakarta: Djambatan, 2008. hlm. 223 5 Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan antara Regulasi dan Implementasi, Edisi Revisi , Jakarta: Buku Kompas, 2007, hlm. 171

  eksploitasi asing, sejalan dengan salah satu dari fungsi hukum. Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab atas hak- hak atas tanah warganegara nya, sebagaimana jelas dikatakan Undang- Undang Dasar 1945 mengamanatkan

  6

  “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

  Sebebas apapun paham sebuah Negara, sendi-sendi kehidupan masyarakat didalamnya pasti ada batas-batas atau aturannya. Begitu juga di Indonesia, yang meski dikatakan sebagai negara yang demokratis, yang menjamin kebebasan setiap orang untuk berpendapat , tentu tidak membiarkan begitu saja kehidupan bermasyarakatnya berjalan tanpa aturan.

5 Dampak negatif globalisasi

  Tak terkecuali di dunia pertanahan. Bagaimanapun, tanah merupakan bagian permukaan bumi yang mempunyai fungsi sosial dimana pemanfaatannya diperuntukan untuk sebesar-besar kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

  7

  6 Lihat alinea ke-4 Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 7 Lihat pasal 1 angka (2) dan pasal 6 UUPA

  Permasalahan 1.

  Bagaimana pengaturan pemisahan harta dalam perkawinan campuran untuk menghindari kepemilikan tanah hak milik oleh orang asing?

  2. Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan harta dalam perkawinan campuran?

METODE PENELITIAN

  Pendekatan masalah yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan normatif dan empiris dimana pendekatan ini secara intensif dilakukan melalui proses analisis peraturan perundang-undangan yang berlaku, norma hukum Indonesia dan doktrin-doktrin hukum yang berkaitan dengan kepemilikan rumah tinggal atau hunian oleh orang asing, serta penulis melakukan riset.

  Penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Dengan bahan hukum primer, yaitu hukum yang bersifat mengikat seperti Undang-Undang Nomor

  1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tinggal atau Hunian oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

  69/PUU-VIII/2015, dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan penulisan ini. Serta, penulis melakukan riset pada Kantor Hukum Farida Law Office di Kuningan, Jakarta Selatan. Serta data sekunder yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka yang dianggap menunjang dalam penelitian ini. Bahan hukum sekunder, juga memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti makalah hasil-hasil seminar atau pertemuan ilmiah lainnya, majalah, jurnal ilmiah, artikel, artikel bebas dari media internet, sepanjang memuat informasi yang berkaitan dengan pembahasan penulisan ini.

  C. KERANGKA TEORI

  UUPA hanya memuat ketentuan- ketentuan pokok yang bersifat umum dan tentunya tidak lengkap, termasuk undang- undang perkawinan. UUPA masih harus ditindaklanjuti dan dijabarkan lebih lanjut dengan aturan-aturan pelaksanaan, sehingga membentuk sebuah struktur hukum tanah sendiri. Struktur adalah kelembagaan yang diciptakan sistem hukum dan mempunyai fungsi untuk mendukung bekerjanya sistem hukum.

  8 Setiap sistem hukum akan

  menghadapai persoalan kontradiksi, 8 FX, Sumarja, Problematika Kepemilikan Tanah

  Bagi Orang Asing , Bandar Lampung: Indepth Publishing, 2012, hlm. 24 kekosongan hukum dan norma kabur. Peraturan hukum yang saling bertentangan (kontradiksi) perlu upaya konsistensi (sinkronisasi dan harmonisasi), kekosongan hukum karena tidak lengkap diperlukan pembentukan, dan norma kabur perlu adanya penemuan/interpretasi hukum. Suatu sistem dalam operasi aktualnya merupakan sebuah organisme kompleks, di mana struktur, substansi, dan kultur berinteraksi. Efektif atau tidak suatu ketentuan hukum dipengaruhi ketiga komponen tersebut.

  Mengingat UUPA dan undang- undang perkawinan adalah sebuah peraturan hukum, yang juga tidak luput dari sifat tidak lengkap atau tidak tuntas, maka untuk menjaga jangan sampai ada kekosongan hukum diperlukan pembentukan hukum.

  pelaksanaan UUPA dan peraturan lain yang dibentuk inilah yang kemudian sering kali menimbulkan ketidakpastian hukum, tidak terkecuali ketentuan Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan yang menyebutkan bahwa perjanjian perkawinan hanya dapat dilaksanakan pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan.

  Sebagai Subjek hak Atas Tanah di Indonesia , oleh FX. Sumarja, hlm. 306.

  Melihat kondisi tersebut, maka perlulah adanya pembaharuan hukum yang mengatur mengenai pemisahan harta khususnya pada perkawinan campuran. Dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 ini memberikan jaminan kesetaraan hak dan kepastian hukum bagi WNI pelaku perkawinan campuran untuk memiliki tanah hak milik.

  D. PEMBAHASAN Pengaturan Pemisahan Harta Perkawinan Campuran

  Secara umum, penguasaan tanah oleh warga negara asing (WNA) dan badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia diatur dalan Pasal 41 dan 42 UUPA yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 tahun 1996 tentang Hak Guna usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai atas Tanah. Landasan hukum ketentuan dalam Pasal 42 UUPA adalah Pasal 2 UUPA yang merupakan pelaksanaan amanat Pasal 33 Ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu perwujudan kewenangan negara adalah menentukan dan mengatur hubungan hukum antara orang dengan bumi (termasuk tanah), air, ruang angkasa, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan kewenangan itu, Negara dapat menentukan bermacam-

9 Peraturan

9 Jurnal Masalah Masalah Hukum, Orang Asing

  macam hak atas tanah (Pasal 4 jo. Pasal 16 UUPA), dengan isi dan wewenang masing-masing, termasuk persyaratan tentang subyek (pemegang) hak atas tanah.

  Pasal 9 Ayat (1) UUPA menentukan bahwa hanya warga negara Indonesia (WNI) yang dapat mempunyai hubungan sepenuhnya dengan bumi, air, dan ruang angkasa; dengan perkataan lain, hanya WNI saja yang dapat mempunyai hak milik. Bagi WNA yang berkedudukan di Indonesia dan badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di Indonesia dapat diberikan hak pakai.

  hukum yang dapat menjadi landasan bagi seluruh aktivitasnya. Mendesain hukum yang dapat melaksanakan fungsinya tersebut, khususnya lagi mengenai pengaturan hak atas tanah bagi orang harus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

  Harta Perkawinan Campuran Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015

  Guna mengakomodir aspirasi masyarakat yang tergabung dalam organisasi perkawinan campuran (Perca Indonesia), Pemerintah menegaskan dan mengatur secara normatif kemungkinan 10 Maria S.W. Sumardjono, Alternatif Kebijakan

  Pengaturan Hak Atas Tanah Beserta Bangunan Bagi Warga Negara Asing dan Badan Hukum Asing , Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2008, hlm.

  6-7

  bagi WNI yang melakukan perkawinan campuran untuk mendapatkan hak-haknya sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) UUPA dan

  Pasal 21 ayat (1) UUPA, dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal Atau Hunian Oleh Orang Asing Yang Berkedudukan di Indonesia (PP 103/2015), pada tanggal 22 Desember 2015.

  Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 mengatur bahwa WNI yang melaksanakan perkawinan dengan orang asing dapat memiliki hak atas tanah yang sama dengan WNI lainnya. Hak atas tanah tersebut bukanlah merupakan harta bersama yang dibuktikan dengan perjanjian pemisahan harta antara suami dan istri, yang dibuat dengan akta notaris. Artinya hak yang diberikan kepada WNI yang melakukan pernikahan campuran untuk mendapatkan hak milik atas tanah dengan syarat atau hak bersyarat. Syaratnya adalah harta tersebut bukanlah harta bersama atau harta yang bersih dari unsur asing. Alat bukti yang diperlukan adalah perjanjian perkawinan pemisahan harta.

10 Era globalisasi membutuhkan

1. Pemisahan

  Pasal

  3 PP 103/2015 juga bukanlah norma baru yang diadakan oleh hukum tanah nasional, namun hanya sebagai norma penegas ketentuan Pasal 21 ayat (3) UUPA. Meskipun hanya sebagai norma penegas, namun dampaknya akan lebih meluas bahwa WNI yang menikah dengan WNA mempunyai hak yang sama dengan WNI lainnya, sepanjang hak atas tanah yang dimiliki tidak ada unsur asingnya. Syarat agar hak atas tanah tidak ada unsur asingnya, maka harus ada penegasan bahwa hak atas tanah tersebut bukan harta bersama yang dibuktikan dengan akta notaris. Pasal 3 PP 103/2015 akan memacu seseorang untuk melakukan perjanjian perkawinan pisah harta. Hal ini akan semakin memberikan jaminan kepastian hukum kepada WNI yang menikah dengan WNA untuk tetap mendapatkan hak milik atas tanah.

  Pasal 3 PP 103/2015 semakin lengkap dan semakin mendapatkan kepastian hukum untuk dapat dilaksanakan dengan adanya Putusan MK No.69/PUU-XIII/2015. Mahkamah Konstitusi melalui putusannnya mengabulkan permohonan uji materi Pasal 29 UU Perkawinan. Inti putusan tersebut menetapkan bahwa perjanjian perkawinan dapat dilakukan baik sebelum, pada waktu, maupun selama perkawinan berlangsung. Artinya upaya dan perjuangan WNI yang menikah dengan WNA untuk mendapatkan tanah hak milik dapat terlaksana dengan melakukan perjanjian perkawinan pisah harta di kemudian hari atau selama pasangan suami-isteri terikat pernikahan. Mengingat pada saat pernikahan atau sebelum pernikahan tidak terpikirkan untuk membuat perjanjian perkawinan pisah harta.

  Bagi pasangan perkawinan campuran, dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 jo. Peraturan Menteri Agraria dan Tata RI Nomor 29 Tahun 2016, memungkinkan orang asing untuk memiliki rumah tempat tinggal atau hunian di Indonesia dengan hak pakai. Adapun jangka waktu hak pakai berasal dari hak milik yang diberikan selama jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 20 (dua puluh) tahun dan diperbaharui untuk jangka waktu 30 (tiga puluh) tahun, untuk hak pakai yang berasal dari hak guna bangunan serta hak pakai atas sarusun diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015.

  Perkawinan antara WNI-WNA, sesuai

  Pasal 2 Undang-Undang Perkawinan, jika tidak membuat perjanjian perkawinan, maka jika WNI membeli aset hak milik atau hak guna bangunan, dibatasai oleh ketentuan hukum Pasal 21 Ayat (30) jo. 36 Ayat (2) Undang-Undang Pokok Agraria, yang menyatakan jika lewat waktu 1 (satu) tahun sejak diperolehnya aset hak milik atau hak guna bangunan dan tidak dialihkan kepada WNI, maka hak atas tanah tersebut gugur dan menjadi tanah negara. Dengan dibuatnya perjanjian perkawinan pasca putusan Mahkamah Konstitusi tersebut, bukan berarti hak atas tanah yang sudah gugur itu otomatis hidup kembali, akan tetapi yang bersangkutan wajib melakukan permohonan ulang kepada BPN dengan membayar uang pemasukan kepada negara.

  Pemisahan Campuran Menurut Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-

  VIII/2015 Putusan Mahkamah Konstitusi

  Nomor 69/PUU-XIII/2015 telah mengubah norma dan tatanan (pembuatan) perjanjian perkawinan yang diatur dalam Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan berkaitan baik mengenai kapan dibuatnya maupun dapat diubah atau dicabutnya perjanjian perkawinan. Selain hal tersebut perubahan atas Pasal 29 Undang-Undang Perkawinan tidak saja berlaku bagi pasangan WNA- WNI yang telah mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi tersebut, akan tetapi berlaku pula bagi pasangan perkawinan antara WNI-WNI.

  Pembuatan perjanjian perkawinan dapat dilakukan pada waktu, sebelum dilangsungkan atau selama dalam ikatan perkawinan, berarti bahwa perjanjian perkawinan dapat dibuat kapan saja yakni sebelum perkawinan menurut hukum, masing-masing agamanya dan kepercayannya, sebelum pencatatan perkawinan Pegawai Pencatat Perkawinan atau selama perkawinan berlangsung. Selain kapan dibuatnya perjanjian perkawinan, diperbolehkannya selama perkawinan berlangsung atas persetujuan kedua belah pihak (suami-istri) mengubah atau mencabut perjanjian perkawinan yang mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainnya, asal perubahan dan pencabutan tidak merugikan pihak ketiga. Ini berarti bahwa perubahan atau pencabutan perjanjian perkawinan dapat dilakukan terhadap perjanjian perkawinan yang telah dibuat baik sebelum atau setelah putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015.

  11 Berdasarkan ketentuan Pasal 29 Ayat

  (4) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015, perjanjian perkawinan dapat mengenai harta perkawinan atau perjanjian lainnya, sehingga dengan demikian oleh para pihak dapat bebas menentukan isi perjanjian perkawinan tersebut, hanya perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  11 Makalah pada Seminar Nasional dengan Tema “Akibat Hukum dan Pertanggungjawaban Dalam Pembuatan Perjanjian Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015, Ditinjau Dari Kepentingan Pihak Ketiga, Ahliwaris, dan Notaris Sebagai Pejabat Umum”, Pengurus Wilayah Banten Ikatan Notaris Indonesia, di Kampus UPH Karawaci, Gedung D, Lt. 5, Ruang 502-503, Tangerang, 14 Oktober 2017

  1. Tidak dapat diperjanjikan, bahwa salah satu pihak akan menanggung hutang yang lebih besar daripada bagiannya dalam laba persatuan;

  2. Untuk perjanjian perkawinan yang dibuat sepanjang perkawinan sebaikanya dibuat daftar harta mana yang telah dimiliki sebelum dibuatnya perjanjian perkawinan yang ditandatangani suami istri dan diletakkan pada minuta; 3. Perjanjian perkawinan tidak boleh menunjuk berlakunya perundang- undangan asing sebagai pilihan hukumnya;

  4. Tidak boleh melepaskan hak yang diberikan undang-undang kepada mereka atas harta peninggalan keluarga sedarah mereka dalam garis ke bawah, pun tidak boleh mengatur harta peninggalan itu.

  5. Tidak boleh suami istri saling menunjuk ahliwaris masing-masing atau menjanjikan apa yang harus dimuat dalam surat wasiat masing- masing.

  Dukcapil Nomor 472.2/5876/ Dukcapil dan Surat Kementrian Agama RI 28 September 2017 Nomor B.2674/ DJ.III.KW.00/9/2017

  Surat Kementrian Dalam Negeri RI Direktorat Jenderal

  Kependudukan dan Pencatatan Sipil kepada kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/ Kota di seluruh Indonesia tanggal 19 Mei 2017 di Jakarta, Nomor 472/5876/Dukcapil, menyebutkan diantaranya; “1. Perjanjian perkawinan dapat dibuat sebelum, pada saat dan dengan akta notaris dilaporkan kepada Instansi Pelaksana atau Unit Pelaksana Teknis (UPT) Instansi Pelaksana;

  2.Persyaratan dan tata cara pencatatan atas pelaporan perjanjian perkawinan atau pencabutan perjanjian perkawinan, sebagaimana dimaksud pada Lampiran I(...)”; Adapun disertakan pada Surat Kementrian Dalam Negeri 472/5876/ Dukcappil tersebut lampiran lampiran sebagai berikut: a.

  Lampiran I mengenai persyaratan dan tata cara pencatatan pelaporan perjanjian perkawinan diberikan petunjuk apa saja yang perlu dilampirkan apabila hendak melakukan pelaporan.

3. Surat Kementrian Dalam Negeri R.I.

  b.

  Lampiran II merupakan contoh format catatan pinggir perjanjian perkawinan pada register akta dan catatan pinggir baik untuk mencatatkan perjanjian perkawinan pada register dan kutipan akta perkawinan maupun untuk catatan pinggir perubahan/pencabutan.

  c.

  Lampiran III diberikan contoh format surat keterangan pelaporan perjanjian perkawinan sebagai lampiran akta perkawinan akta perkawinan atau dengan nama lain yang diterbitkan oleh negara lain baik untuk mencatatkan pelaporan perjanjian perkawinan maupun untuk pencatatan perubahan/ pencabutan pelaporan perjanjian perkawinan. Surat Kementrian Agama RI tanggal 28 September 2017 Nomor. B.2674/DJ.III.KW.00/9/2017 mengatur tentang pencatatan perjanjian perkawinan. Pencatatan perjanjian perkawinan yang dilakukan sebelum perkawinan, pada waktu perkawinan, atau selama dalam ikatan perkawinan yang disahkan oleh notaris dapat dicatat pegawai pencatat nikah. Perkawinan yang dicatat oleh negara lain, akan tetapi perjanjian perkawinan atau perubahan/pencabutan dibuat di Indonesia, maka pencatatan pelaporan perjanjian perkawinan dibuat dalam bentuk surat keterangan oleh KUA kecamatan setempat.

  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemisahan Harta Perkawinan Campuran 1.

  Faktor Penghambat Walaupun kini sudah jelas pengaturan pemisahan harta perkawinan antara WNI dan WNA, yaitu salah satunya membuat perjanjian perkawinan pisah harta yang ditujukan untuk menghindari kepemilikan tanah hak milik oleh pihak WNA. Namun, perjanjian perkawinan ini belum terlaksana dengan optimal khususnya pada pasangan perkawinan campuran. Selalu ada faktor-faktor yang mempengaruhi, antara lain yaitu:

  1. Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui pengaturan perjanjian perkawinan pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015. Hal ini dikarenakan belum tersosialisasikan secara optimal hasil dari putusan tersebut.

  2. Selain itu, dampak dari putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015 dan berlakunya

  Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 ini menimbulkan kebingungan bagi masyarakat seperti notaris/PPAT, pengacara, pengembang dan perbankan yang mungkin dalam hal ini menjadi pihak ketiga dalam mendorong terlaksananya perjanjian

  12

  perjanjian perkawinan. pemisahan harta pada perkawinan campuran pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor Hal tersebut mengakibatkan notaris

  69/PUU-XIII/2015, yaitu Organisasi acapkali tidak mau membuat perjanjian Perkawinan Campuran Indonesia (Perca perkawinan yang berlaku sejak perkawinan Indonesia) melakukan upaya seperti dilangsungkan, padahal putusan Mahkamah menyelenggarakan pertemuan konsultatif

  Konstitusi menyatakan demikian. Mengapa

  13

  kepada masyarakat Indonesia khususnya demikian? Karena notaris tidak dapat para pelaku perkawinan campuran yang di menggali motivasi apa pelaku perkawinan dalamnya mengenai tata cara dan syarat campuran ataupun pelaku perkawinan biasa pembuatan perjanjian perkawinan yang membuat perjanjian perkawinan dalam hal dilakukan dan dibuktikan dengan akta pisah harta, bisa jadi perjanjian perkawinan notaris sesuai dengan Putusan Mahkamah yang akan dibuat akan merugikan pihak

  15 Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015.

  ketiga, yakni perbankan sebagai debitur. Serta notaris menghindari terjadinya E.

   PENUTUP

  sengketa tanah di kemudian hari sebagai

  Kesimpulan

  akibat perjanjian perkawinan tersebut, oleh Berdasarkan pada peraturan karenanya notaris tidak mau membuat perundang-undangan yaitu Undang- perjanjian tersebut, karena dapat di Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang indikasikan pula sebagai perbuatan melawan Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria,

  14 hukum.

  Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974

  2.Faktor Pendorong tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 103 tahun 2015 tentang Pemilikan

  Selain terdapat faktor-faktor Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh penghambat dalam pembuatan perjanjian Orang Asing yang Berkedudukan di pemisahan harta dalam perkawinan Indonesia, dan Putusan Mahkamah campuran, terdapat pula faktor yang 12 Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015,

  Surat Kementrian Dalam Negeri

  http://www.bpn.go.id/BERITA/Berita- Pertanahan/menyoal-kepemilikan-properti-wni-

  RI.Dukcapil Nomor 472.2/5876/Dukcapil 13 kawin-campur-61743 Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu

  tim kuasa hukum Ibu Farida saat Judicial Review 15 Bpk. Yahya Tulus Hutabarat, Pada Tanggal 6 Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu 14 November 2017. tim kuasa hukum Ibu Farida saat Judicial Review Berdasarkan hasil wawancara dengan Majelis Bpk. Yahya Tulus Hutabarat, Pada Tanggal 6 Pengawas Daerah Bandar Lampung, Bpk. FX. November 2017.

  Sumarja, Pada Tanggal 10 November 2017. dan Surat Kementrian Agama RI 28 September 2017 Nomor B.2674/DJ.III.KW.00/9/2017, bahwa warganegara Indonesia yang melakukan perkawinan campuran, dapat mempunyai tanah hak milik dengan syarat atau ketentuan membuat perjanjian pemisahan harta perkawinan baik sebelum, pada saat, maupun setelah perkawinan berlangsung yang dibuktikan dengan akta notaris dan dicatatkan pada pegawai pencatat nikah.

  Faktor pengambat pemisahan harta dalam perkawinan campuran adalah kurang tersosialisasikannya secara optimal mengenai hasil dari Putusan Mahkamah Konstitusi tentang pengujian Undang- undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, dan adanya permasalahan dari pihak notaris yang tidak jarang menolak untuk membuatkan perjanjian pemisahan harta perkawinan pasca putusan mahkamah konstitusi, karena dapat diindikasikan sebagai perbuatan melawan hukum karena waktu berlakunya perjanjian perkawinan. Sedangkan Faktor pendorong pemisahan harta dalam perkawinan campuran adalah salah satunya Organisasi Perkawinan Campuran Indonesia (PerCa) yang aktif melakukan pertemuan Konsultatif dengan para pelaku perkawinan campuran yang tidak semuanya tergabung dalam organisasi perca mengenai syarat dan pembuatan perjanjian pemisahan harta perkawinan sesuai Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015.

  Saran 1.

  Perjanjian pemisahan harta yang terdapat dalam Pasal 3 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 harus dijelaskan lebih terperinci, misal dari penjelasannya: dimaknai sebagai alat pembuktian di kemudian hari jika terjadi perceraian, pewarisan, atau ketika tanah akan dijual kepada pihak lain untuk menghindari penyelundupan hukum. Sehingga jelas kepemilikan hak atas tanah tersebut bukan bagian dari harta bersama. Untuk itulah, seharusnya Pemerintah harus segera memperbaiki dengan mencantumkan penjelasan, atau mengeluarkan undang-undang pertanahan yang menjamin kepastian hukum.

  2. Seharusnya Pemerintah dapat menindaklanjuti Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015 dengan membuat undang-undang sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam UndangUndang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

  3. Dengan adanya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015, seharusnya Kementrian Hukum dan HAM menerbitkan semacam surat edaran terkait pelaksanaan tugas notaris selaku Pejabat

  Umum yang bertugas membuat surat perjanjian perkawinan dan menerbitkan akta sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-VIII/2015.

  Literatur

  Harsono, Boedi, Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya , Jakarta: Djambatan, 2008. Kolopaking, Anita D.A., Kepemilikan Tanah Hak Milik Oleh WNA dan Badan Hukum

  Dikaitkan Dengan Penggunaan Nominee Sebagai penyelundupan Hukum , Disertasi UNPAD Bandung, 2009.

  Sumardjono, Maria S.W., Alternatif Kebijakan Pengaturan Hak Atas tanah Beserta

  

Bangunan Bagi Warga Negara Asing dan Badan Hukum Asing , Jakarta: Buku

Kompas, 2008.

  • , Kebijakan Pertanahan antara Regulasi dan Implementasi, Jakarta: Buku Kompas, 2007.

  Sumarja, FX., Problematika Kepemilikan Tanah Bagi Orang Asing, Bandar Lampung: Indepth Publishing, 2012 ----------------, Hak Atas Tanah Bagi Orang Asing, Yogyakarta: STPN Press, 2015.

  Undang-Undang Dasar 1945 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2015 tentang Pemilikan Rumah Tempat Tinggal atau Hunian Oleh Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015 tentang Pengujian Undang-Undang

  Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

  Surat Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri No. 472.2/5876/Dukcapil tentang Pencatatan Pelaporan Perjanjian Perkawinan

  Jurnal Masalah-Masalah Hukum, Orang Asing Sebagai Subjek Hak Atas Tanah di Indonesia, Diterbitkan oleh Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang. Jilid 44 No. 3, Juli 2015.

  Makalah pada Seminar Nasional dengan Tema “Akibat Hukum dan Pertanggungjawaban

  

Dalam Pembuatan Perjanjian Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Kontitusi Nomor

69/PUU-XIII/2015, Ditinjau Dari Kepentingan Pihak Ketiga, Ahliwaris, dan Notaris Sebagai

Pejabat Umum”, Pengurus Wilayah Banten Ikatan Notaris Indonesia, di Kampus UPH

Karawaci, Gedung D, Lt. 5, Ruang 502-503, Tangerang, 14 Oktober 2017.

  http://www.bpn.go.id/BERITA/Berita-Pertanahan/menyoal-kepemilikan-properti-wni-kawin- campur-61743

Dokumen yang terkait

Dokumen baru