HUBUNGAN TERPAAN TALK SHOW “DR. OZ INDONESIA” di TRANS TV DENGAN GAYA HIDUP MASYARAKAT DALAM MENJAGA KESEHATAN (Studi Korelasional Hubungan Terpaan Talk Show “DR. OZ Indonesia” di TRANS TV Dengan Gaya Hidup Masyarakat Dalam Menjaga Kesehatan di Surabaya.

HUBUNGAN TERPAAN TALK SHOW “DR. OZ INDONESIA” di TRANS TV
DENGAN GAYA HIDUP MASYARAKAT DALAM MENJ AGA KESEHATAN
(Studi Korelasional Hubungan Terpaan Talk Show “DR. OZ Indonesia” di TRANS TV
Dengan Gaya Hidup Masyarakat Dalam Menjaga Kesehatan di Surabaya)

SKRIPSI

Oleh :
ASTRIED HARWINDAH ARIESTARI
0943010053

YAYASAN KESEJ AHTERAAN DAN PERUMAHAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA
2013

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.


HUBUNGAN TERPAAN TALK SHOW “DR. OZ INDONESIA” di TRANS TV
DENGAN GAYA HIDUP MASYARAKAT DALAM MENJ AGA KESEHATAN
(Studi Korelasional Hubungan Terpaan Talk Show “DR. OZ Indonesia” di TRANS TV
Dengan Gaya Hidup Masyarakat Dalam Menjaga Kesehatan di Surabaya)

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh
Gelar Sarjana J urusan Ilmu Komunikasi

Oleh :
ASTRIED HARWINDAH ARIESTARI
0943010053

YAYASAN KESEJ AHTERAAN DAN PERUMAHAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” J AWA TIMUR
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SURABAYA
2013


Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
karunia-Nya, sehinggga saya dapat menyelesaikan penulisan proposal penelitian dengan judul
“Hubungan Terpaan Tayangan Talk Show “DR. OZ INDONESIA” di TRANS TV
Dengan Gaya Hidup Masyarakat Dalam Menjaga Kesehatan di Surabaya”. Hasil
penyusuan proposal penelitian ini tidaklah atas kemampuan penulis semata melainkan
terwujud atas bantuan Ibu Dra. Herlina Suksmawati, M.Si selaku dosen pembimbing penulis
dapat menyelesaikan proposal penelitian ini dengan baik.
Dalam penulisan proposal penelitian ini saya banyak mendapat pengarahan,
bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini saya
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Papa Agoes Slamet Harijadi, SH dan Mama Endah Sri Erlawaty, SH yang sudah
memberikan dukungan, pengorbanan baik secara moril atau materil, terimakasih atas
rasa sayang dan doanya. Ini acied persembahkan untuk kalian, acied sayang papa dan
mama.
2. Ibu Dra. Hj. Suparwati, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

UPN “Veteran” Jawa Timur.
3. Bapak Juwito, S.Sos, M.Si. selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UPN
“Veteran” Jawa Timur.
4. Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus dosen pembimbing saya Ibu Dra. Herlina
Suksmawati, M.Si dalam penyusunan proposal penelitian ini.
5. Alm. Mami, Reno, Adek Awien, dan Adek Bimo tercinta terima kasih atas rasa
sayang, doa serta dorongannya baik materiil maupun moril. Aku sayang kalian.
6. My very very important person, Dwiki Kurniawan “ Kiko Bunbun” yang selalu
cerewet dan selalu meluangkan waktunya untuk memberi semangat dalam situasi
apapun. Thanks for always by my side, always care and support me. Ovel you.
7. Wanita-wanita tersayang Barbitch (Rizka, Dhany, Rena, Rina, Vita) , Ronggeng
(Tiara, Mita, Tyas, Desy, Rizcha) , Adek Mertin yang selalu menghibur dan membuat
bahagia serta memberi semangat dalam penggarapan laporan ini. How I Love you
girLs.
Proposal penelitian masih jauh dari sempurna, maka kritik dan saran yang
membangun sangat dibutuhkan penulis guna memperbaiki kekurangan yang ada. Semoga
proposal penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para
pembaca umumnya.
Surabaya, Desember 2013


Penulis

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

DAFTAR ISI
HALAMAN
HALAMAN J UDUL........................................................................

i

HALAMAN PENGESAHAN........................................................

ii

KATA PENGANTAR......................................................................

iii

DAFTAR ISI.....................................................................................


iv

DAFTAR TABEL............................................................................

v

DAFTAR GAMBAR........................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................

x

ABSTRAK........................................................................................

xi

BAB I


PENDAHULUAN....................................................

1

1.1Latar Belakang Masalah.......................................

1

1.2 Perumusan Masalah.............................................

11

1.3 Tujuan Penelitian.................................................

12

1.4 Manfaat Penelitian...............................................

12


1.4.1 Manfaat Teoritis....................................

12

1.4.2 Manfaat Praktis.....................................

12

KAJ IAN PUSTAKA...............................................

13

2.1 Penelitian Terdahulu............................................

13

2.2 Landasan Teori.....................................................

16


2.2.1 Televisi Sebagai Media Massa..............

16

2.2.2 Media Exposure (terpaan media)..........

21

BAB II

2.2.3 Teori S-O-R
(Stimulus – Organisme – Respon).....

22

2.2.4 Gaya Hidup Sehat.................................

24


2.2.5 Masyarakat Sebagai Pemirsa Televisi..

30

2.2.6 Talkshow DR. OZ Indonesia...............

32

2.3 Kerangka Berpikir................................................

34

2.4 Hipotesis..............................................................

36

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

BAB III


METODE PENELITIAN........................................

37

3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel...

37

3.1.1 Terpaan Tayangan DR. OZ Indonesia..

37

3.1.2 Gaya Hidup Masyarakat dalam Menjaga
Kesehatan di Surabaya.......................

40

3.2 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan


BAB IV

Sampel.................................................................

45

3.3 Metode Pengumpulan Data..................................

51

3.4 Analisis Data........................................................

51

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN....

56

4.1

Gambaran Umum Obyek Penelitian..............

56

4.1.1 Profil Stasiun Televisi Trans TV........

56

4.1.2 Logo Trans TV..................................

56

4.1.3 Visi....................................................

57

4.1.4 Misi.....................................................

57

Penyajian Data dan Analisis Data...................

58

4.2.1 Karakteristik Responden.....................

58

4.2.2 Penyajian Data....................................

61

4.2

4.2.2.1 Vaeriabel Terpaan Tayangan DR. OZ
Indonesia di Trans TV (X)..............

61

4.2.2.2 Variabel Gaya Hidup Masyarakat
Dalam Menjaga Kesehatan di Surabaya
(Y).......................................................

66

Analisis dan Pengujian Hipotesis....................

89

4.3.1 Analisis Data.......................................

89

4.3.2 Hasil Pengujian...................................

91

4.3.3 Interpretasi..............................................

94

KESIMPULAN DAN SARAN....................................

97

4.3

BAB V

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

5.1

Kesimpulan..........................................................

97

5.2

Saran....................................................................

98

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................

100

LAMPIRAN...........................................................................................

103

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

ABSTRAKSI
ASTRIED HARWINDAH ARIESTARI. HUBUNGAN TALK SHOW “DR. OZ
INDONESIA” di TRANS TV DENGAN GAYA HIDUP MASYARAKAT DALAM
MENJ AGA KESEHATAN (Studi Korelasional Hubungan Terpaan Talk Show “DR.
OZ Indonesia” di TRANS TV Dengan Gaya Hidup Masyarakat Dalam Menjaga
Kesehatan di Surabaya).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan terpaan tayangan DR.
OZ Indonesia di Trans TV dengan gaya hidup masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Terpaan media akan memberikan sebuah respon bagi pemirsanya, seperti pada teori S
– O – R yang mengasumsikan bahwa media masssa menimbulkan efek yang terarah, segera
dan langsung terhadap komunikan.
Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah kuantitatif. Data yang diperoleh
menggunakan kuisoner dan penentuan sample menggunakan Cluster Random Sampling.
Selanjutnya data diolah dengan menggunakan metode korelasi Rank Spearman. Signifikan
hubungan terpaan tayangan DR. OZ Indonesia di Trans TV dengan gaya hidup masyarakat
dalam menjaga kesehatan diperoleh setelah penghitungan akhir menggunakan uji t
(signifikansi 0,05).
Dari data yang dianilisis bahwa secara statistik variabel terpaan talk show DR. OZ
Indonesia di Trans TV (X) memiliki hubungan yang signifikan dengan gaya hidup
masyarakat dalam menjaga kesehatan (Y), yang berarti talk show DR. OZ Indonesia di Trans
TV mempengaruhi gaya hidup masyarakat dalam menjaga kesehatan. Hal tersebut
ditunjukkan dari nilai ttest 6,553 lebih besar dari ttabel yakni 1,980.
Kata Kunci : Hubungan, Terpaan, DR. OZ Indonesia.
ABSTRACT
ASTRIED HARWINDAH ARIESTARI. The Cor r elation exposure Of talk show DR.
OZ Indonesia on Trans TV with the lifestyle society to maintaining healthy (The studies
of cor relation exposure of talk show DR. OZ Indonesia on Trans TV with the lifestyle
society to maintaining healthy in Surabaya).
The purpose of this research is to know the correlation exposure of talk show DR. OZ
Indonesia on Trans TV with the lifestyle society to maintaining healthy.
The exposure communication media will give a respond for the viewer, such as the S
– O – R theory which assumes that the mas media give a directly.
This research is use the quantitative method. The data that was obtained by using the
correlation of Spearman Rank Method. The signification result of the correlation exposure of
talk show DR. OZ Indonesia on Trans TV with the lifestyle society to maintaining healthy
will be obtained after the final calculation by using t-test (index signification 0,05).
From the data that has been analyzed that according to the statistic variable of the
attack of talk show DR. OZ Indonesia on Trans TV (X) have significant correlation with the
lifestyle society to maintaining healthy (Y), of which has been shown from the ttest 6,553
result is greater than the ttable is 1,980.
Keywords : Correlation, Exposure, DR. OZ Indonesia.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah
Salah satu kebutuhan mendasar dari manusia adalah informasi. Untuk
mendapatkan informasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya melalui
media massa. Seperti yang diketahui, akses masyarakat terhadap media massa tersebut
saat ini begitu bebas adanya. Media cetak mapun elektronik merupakan media massa
yang paling banyak digunakan oleh masyarakat diberbagai lapisan sosial, terutama di
masyarakat perkotaan. Oleh karena itu, media massa sering digunakan sebagai alat
mentransformasikan informasi dari dua arah, yaitu : dari media massa ke arah
masyarakat atau mentransformasikan informasi diantara masyarakat itu sendiri. Media
massa mempunyai potensi besar dalam menyampaikan informasi, salah satunya
adalah dengan menggunakan media massa televisi.
Menurut Skornis dalam bukunya Television and society : An Incuest and
Agenda (1985), dibandingkan dengan media massa lainnya (radio, surat kabar,
majalah, buku,dan sebagainya) televisi tampaknya mempunyai sifat istimewa.
Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bersifat informatif,
hiburan maupun pendidikan bahkan gabungan dari ketiga unsur diatas. Televisi
menciptakan suasana tertentu dimana para pemirsanya dspst melihat sambil duduk
dengan santai tanpa kesengajaan untuk menyaksikannya. Penyampaian isi pesan
seolah-olah langsung antara komunikator dengan komunikan. Informasi yang
disampaikan oleh televisi mudah dimengerti karena jelas terdengar secara audio dan
terlihat jelas secara visual (Kuswandi, 1996 : 8).
Akibat dari perkembangan teknologi komunikasi massa televisi tersebut akan
memberikan pengaruh-pengaruh dalam kehidupan manusia (Kuswandi, 1996 : 7).
Menurut Mar’at dari Unpad, acara televisi pada umumnya mempengaruhi perilaku,
pandangan, persepsi dan perasaan para pemirsa. Jadi, jika ada hal-hal yang
mengakobatkan pemirsa terharu, terpesona, atau latah bukanlah sesuatu yang
istimewa. Sebab, salah satu pengaruh psikologi dari televisi ialah seakan-akan
menghipnotisir pemirsa. Sehingga pemirsa tersebut dihanyutkan dalam suasana
pertunjukan televisi (Effendy, 2000 : 193).
Melalui kegiatan menonton televisi, manusia dapat memahami dan mengerti
setiap informasi yang disampaikan. Manusia dapat menilai informasi sebagai pesan
mendidik, menghibur serta mempengaruhi pemirsanya melalui berbagai tayangan
yang disajikan. Disadari atau tidak, menyaksikan tayangan televisi merupakan
kegiatan yang senantiasa dilatarbelakangi oleh upaya pencarian hiburan maupun
informasi.
Berkembangnya dunia pertelevisian memicu semakin banyak munculnya
stasiun-stasiun televisi seperti TVRI, RCTI, SCTV, ANTV, MNCTV, Indosiar, Metro
TV, Global TV, TV One, TRANS, TRANS7 (Kompas, 06/06/2013). Dengan segala
macam program acaranya yang ditayangkan oleh stasiun televisi tersebut, hal ini
membuktikan bahwa stasiun televisi semakin berlomba-lomba untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan informasi. Televisi bisa menjadi candu dan karena
kelebihannya kini telah menjadi kebutuhan primer masyarakat Indonesia (Badjuri,
2010 : 2).

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

Beragamnya program acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi
(infotaiment, games, sinetron, talk show, reality show dan berita), program acara yang
masih banyak digemari masyarakat adalah talk show. Talk show merupakan program
televisi atau radio dimana seseorang ataupun group berkumpul bersama untuk
mendiskusikan berbagai hal topik dengan suasana santai tapi serius, yang dipandu
oleh seorang moderator. Kadangkala, menghadirkan tamu berkelompok yang ingin
mempelajari berbagai pengalaman hebat. Di lain hal juga, seorang tamu dihadirkan
oleh moderator untuk berbagi pengalaman. Acara Talkshow biasanya diikuti dengan
menerima telpon dari para pendengar/penonton yang berada di rumah, mobil, ataupun
ditempat lain. Beberapa stasiun televisi swasta di Indonesia memiliki program acara
talk show dengan beragam tema, mulai dari tema hiburan, berita dan informasi.
Banyak reality show di pertelevisian Indonesia umumnya hanya sebuah
program acara yang sifatnya menghibur. Seperti “Sedap Malam” (RCTI) dan “Buaya
Show” (Indosiar) yang menyampaikan tema tertentu diselingi dengan lawakan, “eLifestyle” (Metro TV) yang membahas teknologi informasi dan telekomunikasi,
“Kata Kita” (Kompas TV) yang membahas isu-isu berita hangat, “Lawyers Club” (TV
One) yang membahas isu-isu berita hangat namun dihadiri oleh para pengacara
ternama dan tokoh penting (http://media.kompasiana.com). Dari berbagai tema yang
ada pada talk show tersebut, pemirsa seolah hanya melongo saat menonton tayangan
yang disuguhkan stasiun televisi tanpa ada pesan tertentu yang bisa disampaikan.
Sebenarnya talkshow yang bersifat edukatif juga banyak ditayangkan stasiun televisi,
tetapi acara-acara tersebut bagi sebagian pemirsanya hanya sebuah acara yang
membosankan, mengingat masyarakat Indonesia yang hetergen dan meiliki tingkat
selera dan kesukaam yang berbeda pada program acara di televisi.
Dari banyak talk show yang beragam tersebut, stasiun televisi TRANS
mencoba untuk menggunakan tema informasi mengenai kesehatan dalam program
acaranya. Pemilihan konsep yang berbeda ini diharapkan selain untuk menarik
pemirsa, program acara ini juga bisa menginspirasi masyarakat untuk perduli dengan
kesehatan.
Seperti halnya tayangan DR. OZ Indonesia, salah satu tayangan yang
menghadirkan tema-tema mengenai kesehatan dengan multi topik serta dikemas
atraktif dan menghibur. Tayangan ini memberikan sebuah topik kesehatan yang
handal, dapat dipercaya dengan sumber yang terpercaya untuk pemirsa sehingga dapat
dijadikan sebagai panutan. Topik-topik yang diangkat dalam DR. OZ Indonesia ialah
mengenai gaya hidup yang sehat dan berbagai isu terkini berdasarkan pengalaman
pada narasumber maupun opini dari para pakar dibidangnya yang akan memberikan
informasi pengobatan mulai dari bagaimana mencegahnya sampai mengobati
penyakitnya. Program DR. OZ Indonesia ini berkonsep show dengan kemasan
talkshow, mengedepankan konsep talkshow yang fokus pada topik mengenai dunia
kesehatan dan gaya hidup yang sehat. Tujuan dari konsep acara ini ialah dapat
memberikan wawasan baru mengenai kehidupan yang sehat dan bahagia. Program ini
hadir setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 15.15 WIB dipandu oleh dr. Ryan Thamrin.
DR. OZ Indonesia Program ini terdiri dari 6 segmen yaitu Story of The Day
mengupas langsung dalam sebuah diskusi bersama para pakar dan memberikan solusi
sebagai penutupnya. The Truth Tube membahas pengalaman dari seorang narasumber
tentang pengalaman medis mereka, yang berbeda-beda ditiap episodenya. Lab Session
mengungkapkan problema kesehatan dalam konsep laboraturium yang dikemas
atraktif dan fun. Pada segmen Activities, dr Ryan Thamrin akan mengajak audiens di

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

studio untuk terlibat langsung dalam sebuah topik yang diangkat. Audiens di studio
dan di rumah pun berkesempatan bertanya langsung kepada dr Ryan Thamrin
mengenai kesehatan dalam Ask The Doctor. Di akhir segmen akan ditutup dengan
Doctor's Order berbagai tips kesehatan Dr. Oz Indonesia.
(http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/kabar/66700-trans-tv-tayangkan-thedr-oz-show-versi-indonesia.html diakses pada 1 Juni 2013 pukul 14.21)
Kini makna kesehatan lebih identik dengan penyakit, obat, puskesmas, rumah
sakit, dan dokter yang memberikan sifat histeria massa sehingga sering ketika terjadi
masalah kesehatan sangat jarang berpikir bahwa aspek pencegahan menjadi preferensi
utama. Padahal, berdasarkan penelitian lebih dari 50% masalah kesehatan (penyakit)
dapat dicegah dengan upaya preventif.
(http://republika.co.id/koran_detail.asp?id-330352&kat-id_16&kat_idl=kat_id2=
diakses pada 3 Juni 2013 pukul 19.28)
Untuk menciptakan kondisi sehat diperlukan suatu keharmonisan dalam
menjaga kesehatan tubuh. HL. Blum menjelaskan ada empat faktor utama yang
memperngaruhi derajat kesehatan masyarakat. Keempat faktor tersebut merupakan
faktor determinan timbulnya masalah kesehatan. Keempat faktor tersebut terdiri dari
faktor perilaku atau gaya hidup (lifestyle), faktor lingkungan (ssial, ekonomi, politik,
budaya), faktor pelayanan kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya), dan faktor
genetik (keturunan). Keempat faktor tersebut saling berinteraksi yang mempengaruhi
kesehatan perorangan dan derajat kesehatan masyarakat. Diantara faktor tersebut,
faktor perilaku manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan sukar
ditanggulangi, disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena faktor
perilaku yang lebih dominan dibandingkan dengan faktor lingkungan, karena
lingkungan hidup manusia juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat
(Purnama, 2007: 1).
Perubahan gaya hidup dan pola makan dari pola makan tradisional ke pola
makan makanan praktis dan siap saji yang dapat menimbulkan mutu gizi yang tidak
seimbang. Hal tersebut terutama terlihat di kota-kota besar di Indonesia. Pola makan
tersebut jika tidak dikonsumsi secara rasional mudah menyebabkan kelebihan
masukan
kalori
yang
akan
menimbulkan
obesitas.
(http://www.m3undip.org.ed3/artikel_02_01.htm)
Obesitas atau yang biasa disebut dengan kegemukan adalah faktor kunci
terjadinya Diabetes Melitus. Angka penyandang penyakit yang populer dengan
sebutan kencing manis itu memang cukup fantastis, menempati urutan keempat
terbesar di dunia dan masuk dalam 10 penyakit terbesar di Surabaya. Pada 2006
ditemukan 14juta diabetesi. Dari 50% yang sadar mengidapnya, hanya 30% yang
rutin berobat. WHO memperkirakan, pada 2030 nanti sekitar 21,3 juta orang
Indonesia terkena diabetes. Aspek genetik memang tidak dapat dicegah, tapi gaya
hidup bisa diubah. Penyakit DM sebenarnya dapat dikendalikan atau dicegah
terjadinya melalui gaya hidup sehat, seperti makanan sehat dan aktivitas fisik teratur.
Namun, seiring perkembangan zaman, terjadi perubahan gaya hidup, seperti konsumsi
menu-menu junkfood yang tinggi kolesterol serta malas bergerak akibat terlalu
mengandalkan
transportasi
dan
teknologi
yang
canggih.
(http://infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=1285)

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

Berdasrkan uraian di atas, maka penelitian ini akan difokuskan pada faktor
perilaku atau gaya hidup. Selain itu disebabkan karena tayangan DR. OZ Indonesia
yang dipilih sebagai objek lebih mengutamakan informasi yang berkaitan dengan
kesehatan dan gaya hidup yang berhubungan dengan kesehatan. Namun gaya hidup
masyarakat saat ini cenderung tidak sehat, seperti : merokok, mengkonsumsi makanan
cepat saji, makanan ringan (snack) dan instant (mie), serta minum-minuman
beralkohol. Sehingga penyakit yang ditimbulkan akibat dari gaya hidup tidak sehat
adalah obesitas, kolesterol, diabetes, hipertensi, jantung koroner, kanker dan
sebagainya.
Penyakit akibat gaya hidup yang jumlah penderitanya paling banyak adalah
jantung koroner. Penyakit ini terjadi akibat penyempitan, penyumbatan pembuluh
darah. Hal ini menyebabkan aliran darah ke jantung terhenti, atau jantung tak lagi
dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Kategori penyakit ini tidak lepas dari gaya
hidup yang kurang sehat yang banyak dilakukan seiring dengan berubahnya pola
hidup. Penyakit yang biasa disebut “penyakit makan enak” ini bisa dicegah akibatnya
dengan perbaikan gaya hidup. Faktor-faktor pemicu serangan jantung ialah merokok,
mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, kurang gerak, malas berolahraga, stres
dan
kurang
istirahat.
(http://202.155.5.44/index.php?option/articles&task=viewarticle&artid=373&itemid=
3)
Dr. Nedra Belloc dan Dr. Lestter Breslow dari Departemen of Public Health,
Berkeley, California, merupakan peneliti yang pertama yang menyatakan gaya hidup
merupakan faktor langgeng usia. Sebagai hasil penelitian, didapatkan tujuh komponen
gaya hidup: 1) tidur yang memadai 7 – 8 jam per malam, 2) jangan jajan diantara
waktu makan, 3) sarapan pagi yang bergizi setiap hari, 4) menjaga berat badan yang
direkomendasikan, 5) melakukan gerak badan secara rutin, 6) mengurangi minuman
beralkohol, 7) menghindari penggunaan tembakau. Banyak kebiasaan hidup yang
sehat yang dihidupkan seseorang, kemungkinan untuk meninggal itu menurun (5,5 %
untuk pria dan 5.3% untuk wanita). (http://tumoutou.org/?p=31)
Sebuah majalah Success Magazine melaporkan hasil penelitian terhadap apa
yang masyarakat anggap sebagai simbol kesuksesan: kesehatan yang baik (58%),
pekerjaan yang menyenangkan (49%), keluarga bahagia (45%), kedamaian pikiran
(34%), sahabat-sahabat yang baik (25%), intelegensia (15%), uang yang tak terbatas
(11%), talenta (7%), nasib baik (6%), mobil mewah (2%), rumah mahal (1%). Dari
hasil penelitian ini, ternyata bahwa memiliki kesehatan yang baik adalah lambang
sukses dengan presentase yang tertinggi yang dinilai masyarakat. Jadi jelas bahwa
tidak ada arrtinya memiliki rumah mahal atau mobil mewah kalau kita sakit-sakitan.
(http://tumoutou.org/?p=31 diakses pada 3 Juni 2013 pukul 19.40)
Adapun teori yang digunakan adalah teori S – O – R yaitu Stimulus,
Organism, Response. Teori ini menunjukkan bahwa komunikasi merupakan proses
dari aksi dan reaksi. Artinya model ini nantinya berguna untuk memberikan gambaran
tentang efek media yakni menjelaskan bagaimana terpaan acara talk show di televisi
dapat menimbulkan perubahan sikap bagi pemirsanya.
Berkaitan dengan itu maka peneliti ingin mengetahui hubungan terpaan
tayangan DR. OZ Indonesia dengan gaya hidup masyarakat dalam menjaga kesehatan.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

Sedangkan obyek dari penelitian ini adalah pemirsa tayangan DR. OZ Indonesia yang
berada di Surabaya.
Peneliti memilih lokasi di wilayah Surabaya kerena menurut hasil Survey dari
Dinas Kesehatan Kota Surabaya pada tahun 2012 tingkat penyakit yang terjadi masih
sangat tinggi. Adapun 10 tingkat penyakit terbesar Kota Surabaya adalah:
Tabel 1
10 Tingkat Penyakit Terbesar Kota Surabaya
NO

Nama Penyakit

J umlah Kasus

1

Penyakit saluran pernafasan bagian atas

57124 kasus

2

Penyakit rongga mulut

176886 kasus

3

Penyakit pada sistem otot dan jaringan
pengikat

164720 kasus

4

Penyakit kelainan kulit dan jaringan sub
Kutan

121777 kasus

5

Penyakit infeksi pada usus

89270 kasus

6

Penyakit lain pada sistem pencernaan

85988 kasus

7

Penyakit tekanan darah tinggi

44047 kasus

8

Penyakit endokrin dan metabolik

26563 kasus

9

Penyakit mata dan adneksia

24149 kasus

10

Penyakit virus

19577 kasus

Penelitian ini dirasa penting untuk sarana informasi dan pendidikan para
pembaca serta para pemirsanya agar dapat mengubah perilaku atau gaya hidup
mereka menjadi perilaku atau gaya hidup yang sehat. Selain itu, penelitian ini dapat
sebagai dasar pemikiran untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang berhubungan
dengan gaya hidup sehat.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan antara terpaan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

tayangan DR. OZ Indonesia dengan gaya hidup masyarakat dalam menjaga kesehatan
di Surabaya?”.
1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui hubungan antara terpaan
tayangan DR. OZ Indonesia dengan gaya hidup masyarakat dalam menjaga kesehatan
di Surabaya”.

1.4

Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan pada perkembangan
dan pendalaman ilmu komunikasi terutama dalam bidang komunikasi massa, yaitu
media massa televisi. Penelitian ini diharapkan dapat mewakili dan memberikan
gambaran tentang kemampuan terpaan dari sebuah tayangan televisi terhadap
pemirsanya.
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak lain yang akan
mengadakan penelitian lebih lanjut, khususnya bagi mahasiswa UPN “Veteran”
Jawa Timur.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

BAB II
KAJ IAN PUSTAKA

2.1

Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini akan disampaikan beberapa penelitian terdahulu yakni :
1. Puasini Apriliyantini dan Neni Octavis (2011), program studi ilmu komunikasi,
Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi-Almamater Wartawan Surabaya. Penelitian
berjudul “Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pemilihan Program Televisi”.
Dalam penelitian ini berbicara bahwa tingkat pendidikan seseorang menentukan
program acara yang dipilih, karena ditunjang juga dengan semakin
berkembangnhya industri pertelevisian Indonesia yang memunculkan beragam
program acara dan salah satunya adalah RCTI. Selain itu acara televisi juga akan
mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan rasa penasaran pada penonton.
Landasan teori yang digunakan adalah teori Perbedaan Individual yang
mengasumsikan bahwa individu amat bervariasi dalam organisasi psikologinya
secara pribadi. Teori yang kedua adalah teori Uses and Gratification. Dalam teori
ini terdapat dua konsep, yakni Gratifications Sought (GS) dan Gratification
Obtained (GO).
Penelitian ini terdapat dua variabel yakni tingkat pendidikan dan program acara.
Pengambilan sampel menggunakan teknik Random Sampling. Berdasarkan
perhitungan dan analisis Chi Kuadrat diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan
antara tingkat pendidikan seseorang dengan keputusan memilih acara di televisi.
2. Ropingan (2011), jurusan Ilmu Komunikasi, penelitian berjudul “Hubungan
Pengeluaran Rumah Tangga Terhadap Tingkat Pembelian HP individu,
Kepemilikan Nomor HP dan HP di Sulawesi Barat, NTB, dan Jawa Timur”.
Penelitian ini berbicara tentang pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana
komunikasi. Komunikasi menjadi kebutuhan yang sangat penting dan sangat
mempengaruhi kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan masyarakat secara
umum. Kepemilikan teknologi informasi ini sekarang dimulai dari pedagang
asongan, tukang becak, pegawai kantor, mahasiswa, pelajar. Singkatnya kelas
bawah sampai kelas atas membutuhkan teknologi informasi yakni HP yang tentu
hal ini akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Landasan teori pada penelitian ini menggunakan teori komunikasi yang
mengasumsikan pentingnya komunikasi sebagai kebutuhan individu, dan juga
teori kebutuhan Malow. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah rumah
tangga dan individu mulai umur 15 tahunke atas yang berdomisili di Sulawesi
Barat, NTB, dan Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan
multistrage random sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa kecenderungan
pengeluaran rumah tangga rendah, dan pengeluaran pembelian pulsa rendah. Jadi
terdapat hubungan antara pengeluaran rumah tangga terhadap tingkat pembelian
handphone individu, kepemilikan nomor handphone.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pada penelitian
sekarang yang dilakukan memiliki perbedaan dan persaman dengan penelitian

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

terdahulu. Perbedaan terletak pada penggunaan teori, sampel, dan analisis karena
memang penelitian terdahulu dengan yang sekarang menggunakan objek berbeda.
Penelitian terdahulu lebih pada teori Uses And Gratification, teori perbedaan
individu, teori kebutuhan Maslow, teori komunikasi. Kemudian analisis data yang
digunakan pada penelitian terdahulu menggunakan analisis Chi Kuadrat.
Pada penelitian yang sekarang yang meneliti hubungan terpaan tayangan DR.
OZ Indonesia dengan gaya hidup sehat masyarakat di Surabaya yakni menjelaskan
bagaimana terpaan tayangan pada media televisi dapat mempengaruhi gaya hidup
yang dalam penelitian ini objeknya keluarga. Persamaan terletak pada media yang
digunakan yakni televisi dan teknik pengambilan populasi dan sampel sama-sama
menggunakan clutser random sampling. Sebenarnya analisis data yang digunakan
antara Chi Kuadrat, Rank Spearman, Product Moment itu sam-sama menganalisis
tentang hubungan antara variabel satu dengan yang lain. Hanya saja dalam
penelitian sekarang peneliti lebih tertarik menggunakan metode analisis Rank
Spearman.
2.2

Landasan Teori

2.2.1 Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa
Dalam proses pertukaran informasi akan terjadi proses komunikasi, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi memegang peranan penting
dalam suatu sistem informasi dalam proses penyampaian pessan. Komunikasi massa
dapat diartikan sebagai jenis komunikasi yang menggunakan alat dengan nama media
massa dalam menyampaikan pesan. Komunikasi massa sering disebut juga
komunikasi media massa. Media massa memiliki kapasitas yang dapat melipat
gandakan pesan-pesan komunikasi dalam jumlah yang sangat besar serta
menyebarluaskannya dalam waktu yang relatif cepat kepada sejumlah audiens,
seperti: surat kabar, majalah, radio, film dan televisi. Massa dalam komunikasi massa
adalah semua orang yang menjadi sasaran media komunikasi massa atau yang
terjangkau oleh media massa. Massa meliputi semua lapisan masyarakat yang tersebar
dalam berbagai lokasi tetapi dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan
memperoleh pesan-pesan yang sama. (Wiryanto, 2003 : 16)
Berdasarkan definisi diatas, maka komunikasi massa mempunyai ciri-ciri
khusus yang disebabkan oleh sifat-sifat komponennya. Ciri-ciri komunikasi massa
adalah sebagai berikut:
1. Komunikasi massa berlangsung satu arah
Yaitu tidak terdapat arus balik dari komunikan kepada komunikator.
2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga
Media massa sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga,
yakni suatu institusi atau organisasi. Komunikator pada komunikasi massa adalah
suatu lembaga yang menyebarluaskan pesan komunikasinya bertindak atas nama
lembaga, sejalan dengan kebijaksanaan institusi atau organisasi yang diwakilinya.
3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum
Bersifat umum karena ditujukan kepada umum dan mengenai kepentingan
umum. Jadi tidak ditujukan kepada perseorangan atau sekelompok orang tertentu.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Yang dimaksud dengan keserempakan ialah keserempakan kontak dengan
sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk
tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.
5. Komunikan bersifat heterogen
Massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen,
dalam keberadaannya secara terpencar-pencar, antara yang satu dengan yang
lainnya tidak saling mengenal dan tidak terdapat kontak pribadi. Masing-masing
berada dalam berbagai hal : jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan,
pendidikan, pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan
yang lainnya. (Effendy, 2002 : 22)
Sedangkan menurut Wahyudi dalam bukunya “Komunikasi Jurnalistik”
(1991), komunikasi massa media televisi adalah proses komunikasi antara
komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana, yaitu : televisi.
Karena media televisi bersifat “Transistory” (hanya meneruskan), maka pesanpesan yang disampaikan melalui komunikasi massa media tersebut hanya
didengar dan dilihat secara sekilas. Pesan-pesan di televisi bukan hanya didengar
tetapi juga dapat dilihat dalam gambar yang bergerak (audio visual). Pada
umumnya, proses komunikasi massa tidak menghasilkan “feedback” (umpan
balik) secara langsung, namun tertunda dalam waktu yang relatif (Kuswandi, 1996
: 18).
Televisi terdiri dari istilah “tele” yang berarti jauh dan “vision” yag berarti
penglihatan. Jadi, televisi adalah perpaduan antar unsur radio (broadcast) dan
unsur-unsur film (moving picture). Televisi mempunyai daya tarik yang
disebabkan adanya unsur-unsur kata-kata, musik, sound effect dan memiliki unsur
visual berupa gambar. Televisi memiliki sifat sebagai berikut :
1. Langsung
Televisi bersifat langsung, sehingga suatu pesan yang akan
disampaikan kepada penonton tidak mengalami proses yang berbelit-belit
seperti halnya dengan menggunakan bahan tercetak. Suatu berita dapat
disampaikan kepada publik dengan cepat, bahkan pada saat peristiwa
tersebut sedang berlangsung.
2. Tidak mengenal jarak
Televisi tidak mengenal jarak dan rintangan. Peristiwa di suatu kota di
negara yang satu dapat ditonton dengan baik dari negara lain, tanpa
mengenal rintangan berupa : laut, gunung ataupun jurang.
3. Memiliki daya tarik yang kuat
Televisi mempunyai daya tarik yang kuat, disebabkan unsur-unsur
kata, musik, sound serta visual berupa gambar (Effendy, 2000 : 177).
Sebagai salah satu bentuk media massa, televisi mempunyai beberapa
fungsi yakni:

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

1. Fungsi Penerangan (The Information Function)
Yang memberikan informasi-informasi atau berita-berita aktual yang
terjadi di lingkungan sekitar masyarakat.
2. Fungsi Pendidikan (The Educational Function)
Yang memberikan informasi yang mengandung unsur pendidikan
dalam meningkatkan pengetahuan serta penalaran masyarakat.
3. Fungsi Hiburan (The Entertaiment Function)
Acara-acara yang ditayangkan di televisi, yang mengandung unsur
menghibur (memberikan hiburan kepada khalayak luas) (Effendy, 1993 :
24)
Televisi diangggap sebagai sesuatu yang terpenting dalam kehidupan manusia,
dan karenanya sangat meendominasi kehidupan mereka seraya menyisihkan kegiatankegiatan yang lainnya (Mulyana, 1999 : 147). Dan, suatu kenyataan bahwa gambar
yang tertayang di televisi (paket acara) baik film, drama, berita maupn iklan akan
mempengaruhi kejiwaan pemirsa. Secara nyata, beberapa acar televisi telah
membentuk pola kehidupan masyarakat terhadap berbagai macam informasi yang
disajikan (Kuswandi, 1996 : 94). Ada tiga efek yang ditimbulkan dari acara televisi
terhadap pemirsa, yaitu:
1. Efek Kognitif, yaitu : berhubungan dengan kemampuan berpikir dan bernalar
pemirsa untuk dapat menyerap serta memahami acara yang ditayangkan televisi,
sehinggga khalayak yang semula tidak tahu, tidak mengerfti dan bingung menjadi
merasa jelas.
2. Efek Afektif, yaitu : ketertarikan pemirsa terhadap tayangan yang ditonton
3. Efek Konatif, yaitu : bersangkutan dengan niat, tekad, upaya, usaha yang
cenderung menjadi suatu kegiatan atau tindakan. Karena berbentuk perilaku, maka
efek konatif sering disebut juga efek behavioral. Timbulnya efek konatif setalah
muncul kognitif dan atau efek afektif (Effendy, 2000 : 319).
2.2.2 Media Exposure (Terpaan Media)
Media exposure merupakan terpaan media dengan melibatkan kegiatan
mendengar, melihat dan membaca pesan-pesan media massa (Rakhmat, 1981 : 16).
Media exposure mempunyai arti sebagai terpaan media massa terhadap khalayak.
Terpaan media massa ini tidak hanya menyangkut apakah seseorang secara fisik
cukup dekat dengan kehadiran media massa, akan tetapi juga meliputi keterbukaan
seseorang dengan pesan-pesan yang ada di media tersebut. Exposyre merupakan
kegiatan mendengar, melihat dan membaca pesan-pesan media massa yang terjadi
pada individu atau kelonpok (Singarimbun. 1989 : 99).
Dampak media massa akan muncul secara kuat dan cepat apabila sebagian
besar khalayak memang tela diterpa oleh media massa (Sandjaja, 1993 : 180).
Sedangkan menurut Sari (1993 : 29), media exposure (terpaan media berusaha
mencari data audience tentang penggunaan media, baik jenis media, frekuensi
penggunaan, maupun durasi penggunaan (longevity). Pola ini yang sering dilakukan

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

adalah pengukuran variabel durasi penggunaan media dengan menghitung berapa
lama audience bergabung dengan suatu media atau berapa lama audience mengikuti
suatu program.
Berkaitan dengan teori di atas, maka terpaan dioperasionalkan ssebagai
frekuensi menonton dan durasi (lama menonton televisi) dalam menonton tayangan
DR. OZ Indonesia di Trans TV, dengan responden yang berusia 17 tahun ke atas.
2.2.3 Teori S – O – R (Stimulus – Organisme – Respon)
Teori S – O – R merupakan singkatan dari Stimulus – Organisme – Respon.
Menurut teori ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus
khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian
antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi, unsur-unsur dalam model ini menurut
Effendy (2000 : 254) sebagai berikut:
1. Pesan (Stimulus, S)

: terpaan tayangan DR. OZ Indonesia di Trans

2. Komunikan (Organisme, O)

: Pemirsa tayangan DR. OZ Indonesia

3. Efek (Respon, R)

: gaya hidup sehat

Mar’at menjelaskan dalam bukunya “Sikap Manusia”, perolehan serta
pengukurannya mengutip pendapat Houvland, Janis dan Kelley yang menyatakan
bahwa dalam menelaah sikap yang berubah ada tiga variabel penting, yaitu:
1. Perhatian
2. Pengertian
3. Penerimaan
Teori S – O – R ini akan lebih dijelaskan melalui gambar model sebagai
berikut :
Organisme

STIMULUS

Perhat ian
Pengert ian
Penerimaan

RESPON
(Perubahan Sikap)

Menurut gambar diatas menunjukkan bahwa adanya perubahan bergantung
pada proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan oleh
komunikator kepada komunikan mungkin diterima atau mungkin saja ditolak.
Komunikasi akan berlanjut jika ada perhatian dari komunikan. Kemampuan
komunikasi akan melanjutkan prosesnya yaitu komunikan mengolah serta
menerimanya, maka terjadilah kesediaan pada diri komunikan untuk mengubah sikap
(Effendy, 2000 : 255).

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

2.2.4 Gaya Hidup Sehat
Dalam kamus bahasa Indonesia, gaya mempunyai arti sebagai kekuatan, daya,
cara atau ragam. Dalam psikologi, gaya hidup umumnya dipahami sebagai cara atau
kebiasaab pribadi dan unik dari individu. Gaya hidup dipahami sebagai adaptasi aktif
individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu
dan bersosialisasi dengan orang lain. (Hujatnikajenong, 2006 : 36)
Ketika suatu gaya hidup menyebar kepada banyak orang dan menjadi mode
yang diikuti, pemahaman terhadap gaya hidup sebagai satu keunikan tidak memadai
lagi digunakan. Gaya hidup bukan lagi semata-mata cara atau kebiasaan pribadi dan
unik dari individu, tetapi menjadi sesuatu yang diadopsi oleh sekelompok orang.
Sebuah gaya hidup bisa menjadi populer dan diikuti oleh banyak orang. Sifat unik
dari gaya hidup tidak lagi dipertahankan. Orang tidak segan-segan mengikuti gaya
hidup yang dianggap baik oleh orang banyak. Pengadopsian gaya hidup tertentu oleh
banyak dipandang sebagai indikasi dari masifikasi, permasalahn yang disebabkan oleh
ketidakmampuan mereka menemukan jati dirinya.
Seiring dengan perkembangan gejala gaya hidup tersebut, kajian tentangnya
tidak lagi menggunakan sudut pandang psikologi individual. Kajian tentang gaya
hidup perlu melibatkan sudut pandang ilmu sosial yang menempatkan manusia
sebagai individu dalam masyarakat dan dipengaruhi oleh kehidupan bersama.
Pengertian gaya hidup pun bergeser menjadi tata cara hidup yang mencerminkan
sikap-sikap, nilai dan norma kelompok sosial tertentu.
Istilah gaya hidup, baik dari sudut pandang individual maupun kolektif
mengandung bahwa gaya hidup sebagai cara hidup mencakup sekumpulan kebiasaan,
pandangan dan pola-pola respon terhadap hidup serta terutama perlengkapan untuk
hidup. Cara bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hal yang ditemukan, diadopsi
atau diciptakan, dikembangkan dan digunakan untuk menampilkan tindakan agar
mencapai tujuan tertentu. Untuk dapat dikuasai, sebuah cara harus diketahui,
digunakan dan dibiasakan. (Hujatnikajwnong, 2006 : 36)
Kebiasaan yang baik merupakan kunci dari hidup sehat (Mayo, 2006 : xi).
Sedangkan gaya hidup sehat adalah kebiasaan baik dalam menciptakan hidup yang
sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
Menurut Purnama (2007 : 1) menjelaskan bahwa didalam konsep Blum terdapat 4
faktor utama yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yakni :
1. Faktor Perilaku atau Gaya Hidup (life style) :
Perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan memegang peranan penting
dalam mewujudkan Indonesia Sehat. Budaya hidup bersih dan sehat harus dapat
dimunculkan dari dalam diri masyarakat agar menjaga kesehatannya. Berperilaku
bersih dan sehat akan menghasilkan budaya menjaga lingkungan yang bersih dan
sehat.
Berperilaku sehat juga harus diikuti dengan pembinaan untuk menumbuhkan
kesadaran pada masyarakat. Pembinaan tersebut dapat dimulai dari lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat sebagai role model
harus diajak turut serta dalam mensukseskan program-program kesehatan.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

Menurut Dr. Nedra Belloe dan Dr. Lester Breslow, gaya hidup merupakan faktor
langgeng usia. Terdapat tujuh komponen gaya hidup, yaitu :
a. Tidur yang memadai antara 7 – 8 jam per malam
b. Jangan jajan diantara waktu makan
c. Sarapan pagi yang bergizi setiap hari
d. Menjaga berat badan yang direkomendasikan
e. Mengadakan gerak badan secara rutin
f. Mengurangi minuman beralkohol
g. Menghindari penggunaan tembakau
2. Faktor Lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya) :
Lingkungan yang memiliki kondisi sanitasi buruk dapat menjadi sumber
berkembangnya penyakit. Terjadinya penumpukan sampah yang tidak dapat
dikelola dengan baik, populasi udara, air dan tanah juga dapat menjadi penyebab.
Disamping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan. Sebagai
makhluk sosial, sangat diperlukan bantuan orang lain sehingga interaksi individu
satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Upaya menjaga lingkungan
menjadi tanggung jawab semua pihak. Untuk itulah diperlukan kesadaran semua
pihak. Kondisi lingkungan sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah
kejiwaan.
3. Faktor Pelayanan Kesehatan (jenis cakupan dan kualitasnya) :
Kondisi pelayanan kesehatan sangat menunjang derajat kesehatan masyarakat,
terutama pelayanan kesehatan yang berkualitas. Masyarakat membutuhkan
posyandu, puskesmas, rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya untuk
membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan. Peningkatan
kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dibidang kesehatan sangat diperlukan.
Banyak kejadian kematian yang seharusnya daoat dicegah, seperti : diare, demam
berdarah, malaria dan penyakit degeneratif yang berkembang saat ini seperti :
jantung koroner, stroke, diabete melitus, dan yang lainnya. Penyakit dapat dengan
mudah dicegah, jika masyarakat paham dan menjaga kondisi lingkungan dan
kesehatannya.
4. Faktor Genatik (keturunan) :
Riwayat kesehatan pribadi dan keluarga bisa memberikan informasi tambahan
tentang meningkatbya resiko gangguan kesehatan. Sekarang ini kesehatan lebih
banyak bergantung pada pilihan gaya hidup daripada unsur bawaan keluarga.
Status gizi harus diperhatikan, sebab pada masa inilah perkembangan otak anak
yang menjadi aset dimasa mendatang. Tidak terbatas semasa masih didalam
kandungan dan anak-anak tetapi terus sepanjang masa remaja, dewasa dan tua. Zat
gizi adalah isi atau kandungan bahan makanan yang berguna bagi kehidupan
sebagai sumber energi, untuk mendukung pertumbuhan dan mengganti jaringan
tubuh yang rusak serta memperlancar proses metabolisme. Adapun zat-zat yang
dibutuhkan oleh tubuh, antara lain :

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

a. Karbohidrat
Merupakan sumber energi utama dalam tubuh, yaitu sebagai bahan bakar
utama sel-sel tubuh.
b. Protein
Merupakan bahan dasar pembentuk sel-sel dan jaringan baru dalam tubuh.
Protein juga berfungsi untuk pettumbuhan, pemeliharaan dan perbaikan
jaringan tubuh yang rusak.
c. Lemak
Sunber energi yang paling padat yang mengandung sedikit air. Sebagian
lemak dalam makanan diperlukan agar tubuh berfungsi dengan baik
sebagai simpanan bahan bakar. Namun, tertlalu banyak lemak dapat
memberi efek negatif terhadap kesehatan.

d. Vitamin
Merupakan unsur penting untuk kesehatan, tanpa vitamin proses
metabolisme tubuh akan terhenti. Vitamin juga dapat membantu
menghasilkan sel darah, hormon, bahan genetik dan zat kimia sistem saraf.
e. Mineral
Membantu mengatur keseimbangan air dan bahan kimia delam tubuh,
penting untuk pertumbuhan dan kesehatan tulang serta gigi
f. Air
Air merupakan unsur utama dari jaringan tubuh, seperti : otot dan organ
tubuh. Air mengatur suhu tubuh, membawa makanan dan oksigen ke selsel tubuh dan mengeluarkan bahan-bahan yang sudah tidak diperlukan dari
tubuh. Air juga berfungsi sebagai bantalan sendi dan membantu
melindungi organ dan jaringan tubuh. Tubuh yang sehat dalam sehari
membutuhkan air sekitar 8 – 10 gelas sehari atau 2 – 3 liter. Tubuh yang
mengalami kekurangan air akan mengakibatkan gangguan metabolisme.
Perilaku gaya hidup sehat bahkan lebih meningkat kesehatannya ini, sekurangkurangnya mencakup di bawah ini:
1) Makan dengan menu seimbang
2) Aktifitas fisik secara teratur
3) Tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat menimbulkan adeksi
atau kecanduan, termasuk tidak merokok
4) Mengelola stres (bukan menghindari stres)
5) Menyediakan waktu untuk rekreasi.

Hak Cipta © milik UPN "Veteran" Jatim :
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.

6) Menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan makanan atau minuman sehari-hari.
(Soekidjo, 137)

2.2.5 Masyarakat sebagai Pemirsa Televisi
Pemirsa, yaitu masyarakat sebagai obyek acara televisi memang terkadang
aktif dalam artian selalu memberikan reaksi tayangan jelas menentukan seberapa jauh
media televisi itu mempunyai dampak yang menyentuh aspek kepribadian secara
emosional, intelektual maupun sosial. Setiap proses komunikasi selalu ditunjukkan
kepada pihak tertentu sebagai penerima pesan yang disampaikan olehkomunikator.
Istilah khalayak media berlaku universal dan secara sederhana dapat diartikan sebagai
sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar , pemirsa media massa
mengetahui komponen isinya. Mereka adalah sasaran komunikasi massa melalui
media televisi siaran. Komunikasi dapat dikatakan efektif, jika pemirsa terpikat
perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti, tergerak hatinya dan melakukan
aktivitas apa yang diinginkan p