METODOLOGI PENGAJARAN ISLAM PENDIDIKAN P

METODOLOGI PENGAJARAN ISLAM
PENDIDIKAN PADA MASA REMAJA

Diajukan sebagai persyaratan mengikuti ujian akhir semester mata kuliah
Metodologi pengajaran islam

Oleh :
Nama : RIZKI ASHAR YUFRANTO
NIM

: 1106010044

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2013
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………….………….3
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………………..…………..4
A. Pengertian Remaja …………………………………………………………..…………………..4
B. Karakteristik Pendidikan Selama Masa Remaja ……………………………………………...6
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Pendidikan Pada Masa Remaja …….9
D. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Dalam Penyelenggaraan Pendidikan ….10
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………………..………12
A. Kesimpulan ………………………………………………………………………………………12
B. Saran ……………………………………………………………………………………………..12
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………..………13

BAB I
2

PENDAHULUAM

Setiap manusia mengalami fase-fase tertentu dalam hidupnya, seperti pada masa
bayi, fase anak-anak, fase remaja, fase dewasa, dan fase lanjut usia. Namun, yang sering
mengalami pencarian makna hidup berada pada fase remaja. Pada suatu periode dalam
masa perkembangan yang merupakan fokus yang menarik untuk dikaji adalah remaja.
Sebab pada masa ini, individu remaja mengalami masa penyesuaian diri dengan lingkungan
yang ada disekitarnya, khususnya dengan tatanan norma, nilai, adat, dan etika yang berlaku
di masyarakat. Masa remaja merupakan masa penghubung atau masa peralihan antara
masa kanak-kanak dan masa dewasa. Masa remaja termasuk juga masa yang indah dan
terkadang kita mendengar slogan “Indahnya Masa Remaja”, tapi jangan lupa masa ini juga
merupakan masa yang menentukan, di mana anak banyak mengalami perubahan fisik dan
psikis.
Pada masa perkembangan ini, remaja mulai menuntut untuk diberi kesempatan
mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, jika dianggap perlu
remaja tersebut memberontak karena dia merasa bahwa dirinya bukan anak-anak lagi, dan
mengapa belum diakui kedewasaannya hingga mengakibatkan kegelisahan di dalam
dirinya, kurang tenang dengan keadaan lingkungan. Biasanya remaja memiliki yang
dikaguminya, namun sikapnya tidak selalu negatif. Remaja juga sangat tertarik kepada
kelompok sebaya, mencari perhatian di dalam lingkungannya, emosi yang meluap-luap,
serta pertumbuhan fisik mengalami perubahan yang pesat. Di sisi lain, kehidupan remaja
sangat kompleks dengan berbagai kreatifitas dan keinginan untuk mencoba segala yang
ada di sekitarnya, baik dalam bidang pergaulan maupun intelektual. Olehnya itu dibutuhkan
suatu wadah agar bakat, minat serta keinginan berprestasi dapat diwujudkan.
Pendidikan yang merupakan usaha sadar dan dilakukan oleh orang dewasa
(pendidik) dengan berencana, terprogram dan terkendali untuk menyiapkan individu melalui
kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Dengan

pendidikan itulah, individu remaja mengaktualisasikan potensi-potensi yang

dimilikinya melalui alat atau media pendidikan hingga peserta didik (remaja) mampu
menemukan aktivitasnya sendiri serta dapat mengalami perubahan positif dalam aspek
kepribadiannya yang menyangkut tri domain yaitu, perubahan kognitif, afektif, dan
psikomotor.

BAB II
3

PEMBAHASAN
A. Pengertian Remaja
Menurut psikologi, remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal anak anak
hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan
berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik
yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh,
dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan
pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian
kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis)
dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga
Menurut Para Ahli pengertian remaja antara lain :
 Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun.
 Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun
 Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 1223 tahun
 Pada umumnya remaja didefinisikan sebagai masa peralihan antara masa anak dan
masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun
 Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11
hingga 20 tahun.
 Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16
atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun)
Ciri-ciri Remaja
a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang
dikenal dengan sebagai masa storm & stress.
b. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual.
c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain.
d. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak
menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
e. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi.
Tugas Perkembangan Remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
1. memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa
dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
4

2. memperoleh peranan sosial
3. menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
4. memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5. mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
6. memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
7. mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
8. membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu:
1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun
a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas.
Cirinya:
 Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
 Anak mulai bersikap kritis
b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:
 Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
 Memperhatikan penampilan
 Sikapnya tidak menentu/plin-plan
 Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas
ke masa adolesen. Cirinya:
 Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum
tercapai sepenuhnya
 Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun
 Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah:
 perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
 mulai menyadari akan realitas
 sikapnya mulai jelas tentang hidup
 mulai nampak bakat dan minatnya
B. Karakteristik Pendidikan Selama Masa Remaja
Proses belajar akan berhasil apabila sesuai dengan minat dan kebutuhan bagi
seorang individu. Cita-cita tentang jenis pekerjaan di masa yang akan datang merupakan
5

faktor penting yang mempengaruhi minat dan kebutuhan bagi remaja untuk belajar. Olehnya
itu, remaja secara sadar telah mengetahui pula bahwa untuk mencapai jenis pekerjaan yang
diidamkan itu memerlukan saran pengetahuan dan keterampilan tertentu yang harus dimiliki.
Hal inilah yang membimbing remaja menentukan pilihan jenis pendidikan yang akan diikuti.
Remaja pada usia 13-14 tahun atau pada usia awal remaja (pre-adolescence) di
mana jenjang pendidikan berada pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP, mereka
mulai mengenal sistem baru dalam sekolah. Misalnya, perkenalan dengan banyak guru
yang memiliki berbagai macam sifat dan kepribadian. Hal ini menunjukkan perlunya
kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang beragam. Begitu pula anak
mulai mengenal berbagai mata pelajaran yang harus dipelajari dengan berbagai
karakteristiknya. Di SLTP belum ada masalah pemilihan jurusan, tetapi untuk tingkat SLTA
yaitu saat anak berusia sekitar 15-18 tahun, pemilihan jurusan itu telah pula diperkenalkan.
Di samping pengenalan terhadap sistem pendidikan, para remaja tersebut juga
memiliki teman sejawat yang semakin luaslingkungannya dan ia mulai mengenal anak lain
dengan berbagai macam latar belakang keadaan keluarga. Dengan kata lain, remaja
mengenal dan memiliki masyarakat baru yang merupakan masyarakat sekolah atau teman
sebaya. Dengan

demikian, mereka memiliki tiga lingkungan pendidikan yang pola dan

karakteristiknya berbeda-beda. Remaja memiliki tiga lingkungan kehidupan, yang ketigatiganya mempunyai corak yang berbeda serta masing-masing memikul tanggung jawab
dalam penyelenggaraan pendidikan. Mengingat hal itu, maka setiap remaja berada pada
posisi pendidikan yang majemuk, mereka berada di lingkungan kehidupan pendidikan
keluarga, kehidupan pendidikan masyarakat, dan kehidupan pendidikan sekolah yang
diikutinya. Yang mana dari masing-masing lingkungan kehidupan pendidikan itu tidak selalu
sama dasar dan tujuannya. Oleh karena itu, remaja seperti “ditantang” untuk mampu
mengatasi problema keanekaragaman tersebut dan mampu menempatkan dirinya dengan
tepat dan harmonis.
1. Lingkungan Pendidikan di Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama bagi anakanak dan remaja. Pendidikan keluarga lebih menekankan pada aspek moral atau
pembentukan kepribadian daripada pendidikan untuk menguasai ilmu pengetahuan. Dasar
dan tujuan penyelenggaraan pendidikan keluarga bersifat indiviual yang sesuai dengan
pandangan hidup pada masing-masing keluarga, sekalipun secara nasional bagi keluargakeluarga bangsa indonesia memiliki dasar yang sama, yaitu Pancasila. Ada keluarga yang
dalam mendidik anaknya mendasarkan pada kaidah-kaidah agama dan menekankan proses
pendidikan pada pendidikan agama dengan tujuan untuk menjadikan anak-anaknya menjadi
6

orang yang saleh dan senantiasa takwa dan iman kepada Tuhan Yang maha Esa. Ada pula
keluarga yang dasar dan tujuan penyelenggaraan pendidikannya berorientasi kepada
kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan dengan tujuan untuk menjadikan anak-anaknya
menjadi orang yang produktif dan bermanfaat dalam kehidupan bemasyarakat.
Anak dan remaja di dalam keluarga berkedudukan sebagai anak didik dan orang tua
sebagai pendidiknya. Secara garis besar corak dan pola pada penyelenggaraan pendidikan
keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu; pendidikan otoriter, pendidikan
demokratis, dan pendidikan liberal. Berkaitan dengan itu, pendidikan yang bercorak otoriter
memberikan kesan di mana anak-anak senantiasa harus mengikuti apa yang telah
digariskan oleh orang tuanya, sedang pada pendidikan yang bercorak liberal, anak-anak
lebih cenderung diberikan kebebasan oleh orang tuanya untuk menentukan tujuan dan citacitanya. Dari beberapa pola pendidikan itu, diketahui bahwa kebanyakan keluarga di
Indonesia mengikuti corak pendidikan yang demokratis. Selanjutnya, makna pendidikan
yang demokratis itu oleh Ki Hadjar Dewantara dinyatakan bahwa penyelenggaraan
pendidikan itu hendaknya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani, yang artinya : di depan memberi contoh, di tengah membimbing, dan di belakang
memberi semangat.
2. Lingkungan Pendidikan di Masyarakat
masyarakat merupakan lingkungan alami kedua yang dikenal anak-anak. Anak
remaja telah banyak mengenal karakteristik masyarakat dengan berbagai norma dan
keragamannya. Kondisi masyarakat amat beragam, tentu banyak hal yang harus
diperhatikan dan diikuti oleh anggota masyarakat, dan dengan demikian para remaja perlu
memahami hal itu.

Sehubungan dengan itu, maka tidak jarang para remaja memiliki

perbedaan pandangan dengan para orang tua, sehingga norma dan perilaku remaja
dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat yang sedang berlaku. Hal ini tentu saja
akan berdampak pada pembentukan pribadi remaja. Perbedaan ini dapat mendorong para
remaja untuk membentuk kelompok-kelompok sebaya yang memiliki kesamaan pandangan.
Di balik itu di dalam masyarakat terdapat tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh kuat
terhadap pola hidup masyarakatnya. Namun hal itu terkadang tidak mampu mempengaruhi
kehidupan remaja, akibatnya para remaja kadang-kadang melakukan tindakan-tindakan
yang tidak sesuai dengan ketentuan masyarakat, atau para remaja dengan sengaja
menghindar dari aturan dan ketentuan masyarakat.
Dalam menjalankan fungsi pendidikan, masyarakat banyak membentuk atau
mendirikan kelompok-kelompok atau paguyuban-paguyuban atau kursus-kursus yang
7

secara sengaja disediakan untuk anak remaja dalam upaya mempersiapkan hidupnya
dikemudian hari. Kursus-kursus yang dimaksud pada umumnya berorientasi kepada dunia
kerja. Namun, banyak kelompok kegiatan atau kursus-kursus yang dibangun masyarakat
tersebut kurang menarik perhatian remaja; oleh para remaja apa yang disediakan itu
dinilainya tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Kondisi semacam itu banyak
merangsang pemikiran remaja yang responnya belum tentu positif. Banyak kelompok
remaja yang membayangkan masa depannya suram dan mereka membentuk kelompok
yang diberi nama “Madesu”.
3. Lingkungan Pendidikan di Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan artifisial yang sengaja diciptakan untuk membina
anak-anak ke arah tujuan tertentu, khususnya untuk memberikan kemampuan dan
keterampilan sebagai bekal kehidupannya di kemudian hari. Bagi para remaja pendidikan
jalur sekolah yang diikutinya adalah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Di
mata remaja sekolah dipandang sebagai lembaga yang cukup berpengaruh terhadap
terbentuknya konsep yang berkenaan dengan nasib mereka di masa mendatang. Mereka
menyadari jika prestasi atau hasil yang dicapaidi sekolah itu baik, maka hal itu akan
membuka kemungkinan hidupnya di kemudian hari menjadi cerah, tetapi sebaliknya apabila
prestasi yang dicapainya kurang baik, maka hal itu dapat berakibat pada gelapnya masa
depan mereka. Kegagalan sekolah bagi remaja dipandang sebagai awal dari kegagalan
hidupnya. Dengan demikian, sekolah dipandang banyak mempengaruhi kehidupannya. Oleh
karena itu, remaja telah memikirkan benar-benar dalam memilih dan mendapatkan sekolah
yang diperkirakan mampu memberikan peluang baik baginya dikemudian hari. Pandangan
ini didasari oleh berbagai faktor, seperti faktor ekonomi, sosial, dan harga diri (status dalam
masyarakat). Akan tetapi, dalam menentukan pilihan sekolah masih banyak terjadi campur
tangan orang tua yang terlalu besar. Hal itu sering membawa akibat kegagalan dalam
pendidikan sekolah karena anak terpaksa mengikuti pelajaran yang tidak sesuai dengan
pilihan dan minatnya.
Dunia pendidikan, baik jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, menyediakan
berbagai jenis program yang diperkirakan relevan dengan kebutuhan jenis tenaga kerja di
masyarakat. Untuk menetapkan pilihan jenis pendidikan dan pekerjaan yang diidamkan
banyak faktor yang harus dipertimbangkan yang meliputi :
 Faktor prediksi masa depan.
 Faktor prestasi yang menggambarkan bakat dan minat remaja.
 Faktor kehidupan yang dapat diamati dari kondisi beragamnya lapangan kerja di
masyarakat.
8

 Kemampuan daya saing setiap individu.
C. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Pendidikan Pada Masa Remaja
a. Faktor Sosial Ekonomi
Kondisi sosial ekonomi keluarga banyak menentukan perkembangan kehidupan
pendidikan dan karier anak. Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua
merupakan faktor yang “dilihat” oleh anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan.
Secara tidak langsung keberhasilan orang tua merupakan “beban” bagi anak, sehingga
dalam menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan orang
tua. Di samping itu, secara eksplisit orang tua menyampaikan harapan hidup anaknya yang
tercermin pada dorongan untuk memilih jenis sekolah atau pendidikan yang diidamkan oleh
orang tua.
Faktor ekonomi mencakup kemampuan ekonomi orang tua dan kondisi ekonomi
negara (masyarakat). Yang pertama merupakan kondisi utama karena menyangkut
kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan anaknya. Banyak anak berkemampuan
intelektual tinggi tidak dapat menikmati pendidikan yang baik disebabkan oleh keterbatasan
kemampuan ekonomi orang tuanya.
b. Faktor Lingkungan
Pengaruh dari faktor lingkungan ini meliputi tiga macam. Pertama, lingkungan
kehidupan masyarakat, seperti lingkungan masyarakat perindustrian, pertanian, atau
lingkungan perdagangan. Dikenal pula lingkungan masyarakat akademik atau lingkungan di
mana para anggota masyarakatnya pada umumnya terpelajar atau terdidik. Lingkungan
kehidupan semacam itu akan membentuk sikap anak dalam menentukan pola kehidupan
yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemikiran remaja dalam menentukan jenis
pendidikan dan karier yang diidamkan.
Kedua, lingkungan kehidupan rumah tangga di mana kondisi sekolah merupakan
lingkungan yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan pendidikan dan cita-cita karier
remaja. Lembaga pendidikan atau sekolah yang baik mutunya, yang memelihara
kedisiplinan cukup tinggi akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan
perilaku kehidupan pendidikan anak dan pola pikirnya dalam menghadapi karier.
Ketiga, lingkungan teman sebaya. Bahwa pergaulan teman sebaya akan
memberikan pengaruh langsung terhadap kehidupan pendidikan masing-masing remaja.
Lingkungan teman sebaya akan memberikan peluang bagi remaja (laki-laki atau wanita)

9

untuk menjadi lebih matang. Di dalam kelompok sebaya seorang gadis berkesempatan
untuk menjadi seorang wanita dan perjaka untuk menjadi seorang laki-laki serta belajar
mandiri sesuai dengan kodratnya.
c. Faktor Pandangan Hidup
Pandangan

hidup

merupakan

bagian

yang

terbentuk

dari

lingkungan.

Pengejawantahan pandangan hidup tampak pada pendirian seseorang, terutama dalam
menyatakan cita-cita hidup bagi remaja. Dalam memilih lembaga pendidikan, seorang
individu dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang melatarbelakangi. Remaja yang berasal dari
kalangan keluarga kurang, umumnya bercita-cita untuk di kemudian hari menjadi orang yang
berkecukupan (kaya), dan dengan demikian dalam memilih jenis pendidikan berorientasi
kepada jenis pendidikan yang dapat mendatangkan banyak uang, misalnya; kedokteran,
ekonomi, dan ahli teknik.
D. Implikasi Tugas-tugas Perkembangan Remaja Dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Memperlihatkan banyaknya faktor kehidupan yang berada di lingkungan remaja,
maka pemikiran tentang penyelenggaraan pendidikan juga harus memperhatikan faktorfaktor tersebut. Sekalipun dalam penyelenggaraan pendidikan diakui bahwa tidak mungkin
memenuhi tuntutan dan harapan seluruh faktor yang berlaku tersebut. Berkaitan dengan hal
itu, maka terdapat beberapa implikasi dari tugas-tugas perkembangan remaja dalam
penyelenggaraan pendidikan yang meliputi ;
a. Pendidikan yang berlaku di Indonesia, baik pendidikan yang diselenggarakan di
dalam sekolah maupun di luar sekolah, pada umumnya diselenggarakan dalam
bentuk klasikal. Penyelenggaraan pendidikan klasikal ini berarti memberlakukan
sama semua tindakan pendidikan kepada semua remaja yang tergabung di dalam
kelas, sekalipun masing-masing diantara mereka sangat berbeda-beda. Pengakuan
terhadap kemampuan setiap pribadi yang beraneka ragam itu menjadi kurang. Oleh
karena itu, yang harus mendapatkan perhatian di dalam penyelenggaraan
pendidikan adalah sifat-sifat dan kebutuhan umum remaja, seperti pengakuan akan
kemampuannya,

ingin

untuk

mendapatkan

kepercayaan,

kebebasan,

dan

semacamnya.
b. Beberapa usaha yang perlu dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan
sehubungan dengan minat dan kemampuan remaja yang dikaitkan terhadap cita-cita
kehidupannya antara lain adalah :
 Bimbingan karier dalam upaya mengarahkan siswa untuk menentukan pilihan
jenis pendidikan dan jenis pekerjaan sesuai dengan kemampuannya.
10

 Memberikan latihan-latihan praktis terhadap siswa dengan berorientasi kepada
kondisi (tuntutan) lingkungan.
 Penyusunan kurikulum yang komprehensif dengan mengembangkan kurikulum
muatan lokal.
c. Keberhasilan dalam memilih pasangan hidup untuk membentuk keluarga banyak
ditentukan oleh pengalaman dan penyelesaian tugas-tugas perkembangan masamasa sebelumnya. Untuk mengembangkan model keluarga yang ideal maka perlu
dilakukan :
-Bimbingan tentang cara pergaulan dengan mengajarkan etika pergaulan lewat
pendidikan budi pekerti dan pendidikan keluarga.
-Bimbingan siswa untuk memahami norma yang berlaku baik di dalam keluarga,
sekolah, maupun di dalam masyarakat. Untuk kepentingan ini diperlukan arahan
untuk kebebasan emosional dari orang tua.
d. Pendidikan tentang nilai kehidupan untuk mengenalkan norma kehidupan sosial
kemasyarakatan perlu dilakukan. Dalam hal ini perlu dilakukan pendidikan praktis
melalui organisasi pemuda, pertemuan dengan orang tua secara periodik, dan
pemantapan pendidikan agama baik di dalam maupun di luar sekolah.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan

11

Dari pembahasan

terhadap pokok permasalahan di atas, maka dapat

kami

simpulkan beberapa hal diantaranya adalah :
Bahwa masa remaja merupakan masa yang sangat menentukan, di mana anak
banyak mengalami perubahan fisik dan psikis, mereka menuntut untuk diberi kesempatan
mengemukakan pendapatnya sendiri, suka mencetuskan perasaannya, dan pengakuan
terhadap kedewasaannya hingga mengakibatkan kegelisahan di dalam dirinya, kurang
tenang dengan keadaan lingkungan. Remaja juga sangat tertarik kepada kelompok sebaya,
mencari perhatian di dalam lingkungannya, emosi yang meluap-luap, serta pertumbuhan
fisik mengalami perubahan yang pesat.
Bahwa pendidikan harus diberikan dan difungsikan secara maksimal dalam rangka
memberikan keterampilan dan menitikberatkan pada pewarisan budaya, norma dan nilai.
Sekolah sebagai salah satu instrument pendidikan

harus sekurang-kurangnya

terdapat berbagai fungsi pada “personal” dan “interpersonal”, di mana sekolah adalah
sebuah tempat yang menggambarkan sebuah konteks interaksi sosial dan mengembangkan
kebersamaan.
Ada tiga jenis lingkungan pendidikan yang berpengaruh terhadap remaja dan harus
dijalankan

sesuai

dengan

fungsinya

masing-masing

yakni

lingkungan

pendidikan

dimasyarakat, lingkungan pendidikan di sekolah dan lingkungan pendidikan keluarga.
B. Saran
Adapun saran-saran kami untuk sebagai solusi terhadap permsalahan ini adalah
antara lain :
Perlunya memahami pertumbuhan dan perkembangan remaja sehingga dipahami
pola-popa perilaku yang seharusnya dinteraksikan kepada mereka oleh semua pihak
baik oleh keluarga, masyarakat ataupun para pendidik.

DAFTAR PUSTAKA

Sunarto. H & Hartono Agung. B. 1999, Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rineka Cipta.
12

Syah. Muhibbin. 2000, Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Drs. Sudarsono,S.H. 1991,Etika Isalam Tenatang Kenakalan Remaja. Jakarta : Rineka
Cipta.
Santrock Jhon W. 2007, Remaja. Jakarta : Erlangga

13


Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K) TERHADAP SIKAP MASYARAKAT DALAM PENANGANAN KORBAN KECELAKAAN LALU LINTAS (Studi Di Wilayah RT 05 RW 04 Kelurahan Sukun Kota Malang)

43 379 31

PENGEMBANGAN TARI SEMUT BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER DI SD MUHAMMADIYAH 8 DAU MALANG

54 398 20

STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM MEWUJUDKAN MALANG KOTA LAYAK ANAK (MAKOLA) MELALUI PENYEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN

69 402 39

ANALISIS VALIDITAS BUTIR SOAL UJI PRESTASI BIDANG STUDI EKONOMI SMA TAHUN AJARAN 2011/2012 DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JEMBE

1 38 16

ANTARA IDEALISME DAN KENYATAAN: KEBIJAKAN PENDIDIKAN TIONGHOA PERANAKAN DI SURABAYA PADA MASA PENDUDUKAN JEPANG TAHUN 1942-1945 Between Idealism and Reality: Education Policy of Chinese in Surabaya in the Japanese Era at 1942-1945)

1 24 9

EFEKTIVITAS PENGAJARAN BAHASA INGGRIS MELALUI MEDIA LAGU BAGI SISWA PROGRAM EARLY LEARNERS DI EF ENGLISH FIRST NUSANTARA JEMBER

10 144 10

PENGAJARAN MATERI FISIKA DASAR UNTUK MAHASISWA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

9 103 43

PENGARUH HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN TERHADAP TINGKAT APLIKASI NILAI KARAKTER SISWA KELAS XI DALAM LINGKUNGAN SEKOLAH DI SMA NEGERI 1 SEPUTIH BANYAK KABUPATEN LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

22 217 82

JUDUL INDONESIA: IMPLEMENTASI PENDIDIKAN INKLUSIF DI KOTA METRO\ JUDUL INGGRIS: IMPLEMENTATION OF INCLUSIVE EDUCATION IN METRO CITY

0 51 92

ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN TINGGI TANJUNG KARANG PERKARA NO. 03/PID.SUS-TPK/2014/PT.TJK TENTANG TINDAK PIDANA KORUPSI DANA SERTIFIKASI PENDIDIKAN

5 63 59

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2227 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 575 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 493 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 319 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 440 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 708 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 623 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 397 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 579 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 705 23