BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha (Studi Kasus Pada Pengusaha Rumah Makan Di Kelurahan Helvetia Tengah Medan)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Teoritis

2.1.1 Pengertian Wirausaha

  1. Zimmerer (2005) menyatakan kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Artinya, untuk menciptakan sesuatu, diperlukan suatu kreativitas dan jiwa inovator yang tinggi. Seseorang yang memiliki kreativitas dan jiwa inovator tentu berpikir untuk mencari atau menciptakan peluang yang baru agar lebih baik dari sebelumnya.

  2. Wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani dalam mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan.

  Berjiwa berani dalam mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha tanpa diikuti rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Konsep ini juga menjelaskan bahwa seorang wirausahawan dalam pikirannya selalu mencari, memanfaatkan, serta menciptakan peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. (Kasmir, 2006 : 16)

  3. Soetadi (2010) menyatakan bahwa wirausahawan adalah orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menilai kesempatan- kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambilan tindakan yang tepat, mengambil keuntungan serta memiliki sifat, watak dan kemauan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif dalam rangka meraih kesuksesan.

2.1.2 Pengertian Usaha Kecil

  Pengertian Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dijelaskan dalam UU Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) No. 20 tahun 2008 adalah sebagai berikut:

  1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.

  2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.

  3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.

2.1.3 Kriteria Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

  Berdasarkan UU Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) No. 20 Tahun 2008 pada Bab IV pasal 16 menetapkan kriteria UMKM sebagai berikut:

  1. Kriteria Usaha mikro adalah sebagai berikut:

  a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau; b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,- (Tiga Ratus Juta rupiah).

  2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut: memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah) sampai paling banyak Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300.000.000,- (Tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 2.500.000.000,- (Dua miliar lima ratus juta rupiah).

  3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut: memiliki kekayaanbersih lebih dari Rp 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000,-(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,- (Dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,- (Lima puluh milyar rupiah).

2.1.4 Memulai Usaha Baru

  Menurut Hutagalung (2010:59) ada beberapa cara yang dilakukan oleh seseorang untuk memulai suatu usaha atau memasuki suatu usaha, baik secara berkelompok maupun perorangan. Cara memulai usaha yang lazim digunakan yaitu :

1. Merintis usaha baru (starting),

  Yaitu membentuk ide dan mendirikan usaha baru dengan menggunakan modal, ide, organisasi dan manajemen yang dirancang sendiri. Yang dimaksud dalam hal ini adalah mencari lokasi yang tepat, menyediakan peralatan dan mesin yang sesuai dengan usahanya, sampai mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan badan usaha dan mengurus izin- izin usaha secara individu. Tidak sedikit cerita yang menyedihkan di balik sukses yang diraih oleh pengusaha. Ada pengusaha yang memulai usahanya dari nol dengan tertatih-tatih. Bahkan, seringkali pengusaha tersebut menderita kerugian dan nyaris bangkrut. Namun, karena keberanian, kesabaran, ketekunan, dan kepandaiannya dalam mengelola usaha, dari waktu ke waktu selama bertahun-tahun hingga akhirnya berhasil.

  Ada tiga bentuk usaha baru yang dapat dirintis (bentuk kepemilikan bisnis), yaitu:

Tabel 2.1 Tiga bentuk usaha baru yang dapat dirintis

  No Bentuk Defenisi Keuntungan Kerugian Usaha

  1. Perseorangan Perusahaan a.

  a. Semua laba Pengusaha hanya untuk perseoranga perseorangan pengusaha n adalah perusahaan perseorangan bertanggung swasta yang

  b. jawab atas Organisasi didirikan dan sederhana semua dimiliki oleh (mudah untuk kerugian pengusaha didirikan) b.

  Tanggung

  c. jawab tidak perseorangan Pengendalian seutuhnya terbatas

  (pemilik/pemilik d.

  c. Pajak rendah Dana tunggal) dan bukan terbatas badan hukum.

  d.

  Keterampila n terbatas.

  2. Kemitraan Perusahaan

  a. Memiliki modal

  a. Pengambila yang banyak n keputusan kemitraan adalah

  b. yang lambat Kerugian bisnis yang ditanggung b.

  Tanggung dimiliki oleh dua bersama jawab tak orang atau lebih c. terbatas

  Lebih ada secara bersama. spesialisasi c.

  Laba yang Para pemilik diterima harus disebut mitra dibagi-bagi pengusaha. Mitra pengusaha harus mendaftarkan perusahaan kemitraannya kepada negara dan mungkin perlu minta izin usaha.

  3. Korporasi Korporasi adalah suatu perusahaan yang anggotanya terdiri atas para pemegang saham, yang mempunyai tanggung jawab terbatas terhadap utang-utang perusahaan sebesar modal yang disetor.

  a.

  Tanggung jawab terbatas b.

  Memiliki akses dana yang lebih cepat dan banyak c.

  Transfer kepemilikan lebih cepat a.

  Biaya keorganisas ian yang tinggi b.

  Pemberitah uan mengenai keuangan yang tidak sebenarnya c.

  Pajak yang tinggi d.

  Lambat dalam mengambil keputusan

  Sumber : (Hutagalung, 2010) 2.

  Membeli perusahaan orang lain (buying) Yaitu dengan membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis dan diorganisir oleh orang lain dengan nama (good will) dan organisasi usaha yang sudah ada.

  Pembelian ini dapat dilakukan terhadap perusahaan yang sedang berjalan atau perusahaan yang tidak aktif, tetapi masih memiliki badan usaha.

  Pembelian tersebut meliputi saham berikut aset yang dimiliki perusahaan.

3. Kerja sama manajemen dengan sistem waralaba (franchising),

  Yaitu sebuah peluang bisnis yang ditawarkan oleh pemilik, produsen atau distributor (franchisor) untuk memberikan hak eksklusif dari jasa atau merek produk kepada individu atau perusahaan lain (franchisee) untuk distribusi lokal, dan franchisor akan menerima pembayaran royalti dan memberikan jaminan standar kualitas.

  Model ini dikembangkan dengan memakai nama dan manajemen perusahaan lain. Perusahaan pemilik nama disebut sebagai perusahaan induk (franchisor) dan perusahaan yang menggunakan nama disebut sebagai franchisee.

  Sistem waralaba memiliki kelebihan dan kelemahan, antara lain :

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kelemahan Waralaba (Franchise)

  Kelebihan Franchise Deskripsi

  Resiko kerugian lebih kecil Risiko kerugian pada bisnis waralaba dapat diturunkan hingga 85% karena pada bisnis ini, sistem manajemen telah tersusun rapi dan telah terprogram secara baik dan teruji melalui pengalaman selama bertahun-tahun oleh pewaralaba yang berkualitas.

  Tidak dibutuhkan Untuk menjadi terwaralaba, anda akan pengalaman khusus untuk diajarkan menjalankan bisnis tersebut dan menjadi penerima lisensi sistem kemitraan dalam kontrak waralabab (terwaralaba) yang akan anda lakukan. Dalam hal ini, anda tidak perlu pengalaman khusus untuk menerima lisensi dari pihak pewaralaba.

  Mendapatkan keuntungan Jika suatu merek dagang mempromosikan dari promosi produknya di media massa, maka anda sebagai terwaralaba akan ikut mendapatkan keuntungan dari promosi itu karena masyarakat yang tertarik dengan promosi tersebut, akan membeli di tempat anda.

  Memiliki hak usaha penuh Anda berhak menggunakan merek dagang dan produk dari perusahaan induk. Anda tidak perlu membuat merek dagang sendiri dan berusaha membuat merek dagang itu dikenal orang.

  Kelemahan Franchise Deskripsi

  Berbagi keuntungan Sebagai imbalan jasa yang diberikan kepada pemberi izin waralaba, penerima izin (franchisee) harus berbagi keuntungan waralaba dengan pemberi izin (franchisor). Biaya tahunan yang harus dibayar sampai 8% atau lebih dari penerimaan laba yang dihasilkan oleh

  franchisee .

  Pengendalian keuntungan Franchisee harus tunduk kepada petunjuk- petunjuk mengenai bagaimana memproduksi suatu produk, menentukan harga, dan petunjuk lainnya. Akibatnya, kinerja penerima izin waralaba sangat tergantung kepada peraturan ini. Franchisee tidak diperbolehkan mengubah beberapa peraturan tersebut.

  Sumber : (Hutagalung, 2010)

2.1.5 Sifat–sifat Wirausaha

Tabel 2.3 Sifat-sifat Wirausaha

  Ingin berprestasi 2. Berorientasi keuntungan 3. Teguh, tekun, dan kerja keras 4. Penuh semangat dan penuh energi

  Menurut Hadayati (2011 : 11) tanpa adanya inovasi, perusahaan tidak akan dapat bertahan lama. Hal ini disebabkan kebutuhan, keinginan, dan permintaan pelanggan berubah-ubah. Pelanggan tidak selamanya akan mengkonsumsi produk

  Sumber : (Hutagalung, 2010)

  Mampu ambil risiko 2. Suka tantangan

  Berani Ambil Risiko 1.

  Ketajaman persepsi

  1. Sifat pandangan ke depan 2.

  Berorientasi Masa Depan

  Berorientasi Hasil Kerja 1.

  Percaya Diri

  Ada beberapa sifat wirausaha yang telah dikelompokkan menjadi enam sifat unggul,yaitu :

  2. Komitmen 3. yang sama. Pelanggan akan mencari produk lain dari perusahaan lain yang dirasakan dapat memuaskan kebutuhan mereka. Untuk itulah diperlukan adanya inovasi terus menerus jika perusahaan akan berlangsung lebih lanjut dan tetap berdiri dengan usahanya. Inovasi adalah sesuatu yang berkenaan dengan barang, jasa atau ide yang dirasakan baru oleh seseorang. Meskipun ide tersebut telah lama ada tetapi ini dapat dikatakan suatu inovasi bagi orang yang baru melihat atau merasakannya.

  Sifat suka bergaul dengan orang lain

  Berorientasi Manusia 1.

  Kreatif 2. Inovatif 3. Inisiatif/proaktif

  Originalitas 1.

  Mandiri 3. Kepemimpinan dan Dinamis

  1. Yakin dan Optimisme 2.

  Responsive terhadap saran dan kritik

  Perusahaan dapat melakukan inovasi dalam bidang: a. Inovasi produk (barang, jasa, ide dan tempat).

  b. Inovasi manajemen (proses kerja, proses produksi, keuangan pemasaran, dll).

2.1.6 Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan Agar Sukses Memulai Usaha

  Menurut Soegoto (2009:51) kunci sukses memulai suatu usaha yaitu : 1. Modal

  Sesuaikan kondisi keuangan / modal awal dengan sasaran usaha awal yang akan kita buka. Modal awal yang ada cukup dibelanjakan untuk keperluan awal usaha.

  2. Keahlian / Skill Membuka usaha sesuai keahlian yang kita miliki merupakan kunci awal suksesnya usaha tersebut. Dengan keahlian kita lebih siap menghadapi medan dan mampu menetralisir ancaman yang mungkin timbul dengan tindakan yang cepat.

  3. Lokasi

  Pilih lokasi usaha yang strategis, mudah dijangkau, dan ramai pengunjung. Hal ini mempengaruhi animo konsumen untuk berbelanja sehingga usaha lebih cepat berkembang.

  4. Promosi Usaha yang baru dibuka, memerlukan upaya-upaya promosi / pemasaran, minimal melalui tampilan depan tempat usaha yang didesain semenarik mungkin.

  5. Merek / Brand

  

Brand usaha meliputi logo dan nama usaha yang merupakan daya tarik

calon konsumen untuk mampir dan berbelanja.

  6. Membangun Sistem Sistem usaha yang baik dibangun sejak awal memulai usaha, yang meliputi manajemen usaha, organisasi dan pengelolaan keuangan.

  7. Karyawan Dalam merekrut karyawan akan lebih baik jika telah memiliki keahlian sesuai dengan bidang usaha yang kita buka. Penambahan karyawan disesuaikan dengan perkembangan usaha.

2.1.7 Penyusunan Rencana Usaha

  Suatu rencana usaha disusun berdasarkan fungsi-fungsi operasional usaha, yaitu fungsi pemasaran atau penjualan, produksi, keuangan dan fungsi ketenagaan atau sumber daya manusia.

  Apapun pilihan usaha seseorang, untuk menjamin keberhasilan usahanya, maka harus dilaksanakan persiapan secara matang. Setelah mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan pilihan usaha, langkah berikutnya adalah menyiapkan rencana bisnis.

  Business plan merupakan dokumen yang disiapkan secara seksama, yang

  menerangkan mengenai pola dari usaha kecil yang digeluti, sasaran dari entrepreneur dan rencana tindakan untuk mencapai sasaran.

  Rencana bisnis ini selain berguna sebagai alat untuk mengajukan permohonan modal, juga mengandung informasi-informasi penting yang diperlukan untuk mengambil sebuah keputusan strategis sebelum memulai suatu bidang usaha.

  Tidak semua entrepreneur menyiapkan business plan sebelum memulai bisnis mereka. Namun, manfaat business plan jauh lebih besar. Dengan business

  plan , wirausaha diharuskan untuk berpikir kreatif. Dengan demikian isu-isu kritis yang muncul akan bisa ditangani dengan baik.

  Menurut Anoraga (2002), suatu rencana usaha (business plan) disusun berdasarkan fungsi-fungsi operasional usaha, yaitu:

1. Rencana Pemasaran

  Merupakan rencana yang berisi tentang perkiraan dan taksiran yang mencakup volume permintaan, baik untuk permintaan (konsumen) industri maupun untuk konsumsi akhir, volume penjualan yang mampu dicapai serta daerah pemasarannya, program pemasaran yang mencakup bauran pemasaran dan kebijaksanaan harga jual yang dikaitkan dengan harga produk / jasa pesaing.

  2. Rencana Produksi merupakan rencana yang berisi tentang perkiraan dan taksiran mengenai mesin atau alat-alat yang digunakan dalam proses menghasilkan barang atau jasa, mengenai pemasok dan kapasitas pemasok, pemilihan lokasi tempat usaha, desain proses produksi dan karakteristik proses produksi yang dipakai, cara pengaturan persediaan bahan baku, tenaga kerja yang dibutuhkan, serta persoalan peralatan yang digunakan.

3. Rencana Organisasi dan Manajemen

  Merupakan rencana yang berisi tentang perkiraan dan taksiran yang mencakup struktur organisasi yang sesuai dengan besarnya usaha, banyaknya tenaga kerja untuk melaksanakan kegiatan operasional usaha dan kualifikasi keahlian yang diperlukan, gaji / upah dan jaminan / fasilitas lain yang diberikan serta pembagian tugas dan jadwal kerja.

  4. Rencana Keuangan Merupakan rencana yang berisi tentang perkiraan dan taksiran atas kebutuhan modal untuk investasi, modal kerja dan arus kas; yang mencakup penerimaan, rincian pengeluaran atas biaya langsung (biaya produksi) dan biaya tak langsung (biaya-biaya pemasaran, umum, dan penyusutan), laba sebelum pajak, taksiran pajak, laba setelah pajak, arus kas sesudah pajak, pembayaran pokok pinjaman, dan arus kas bersih.

2.2 Penelitian Terdahulu

  Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2009) dengan judul penelitian “Analisis Faktor-Faktor yang Mendorong Keberhasilan Usaha

  Baru (Studi Kasus Pada Rumah Kue Maisyaroh dan Al-Baik Bakery and Cakes Medan)” menghasilkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mendorong

  keberhasilan usaha baru adalah penerapan yang diikuti pengimplementasian keempat faktor dari rencana usaha (bussiness plan) yaitu rencana pemasaran, rencana produksi, rencana organisasi dan manajemen serta rencana keuangan. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa rencana organisasi dan manajemen merupakan faktor yang paling dominan sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha baru.

  Ritonga (2005) melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh

  Kewirausahan Terhadap Keberhasilan Usaha Mikro Non Makanan Di Lingkungan Pajak USU” dimana peneliti menggunakan empat indikator untuk mengukur kewirausahaan yaitu, perencanaan, resiko, peluang, dan adaptasi.

  Keberhasilan usaha akan diukur dengan tiga indikator yaitu keuntungan usaha, jumlah usaha, jumlah penjualan, dan pertumbuhan usaha. berdasarkan penelitian diperoleh yaitu bahwa kewirausahaan bukan merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha mikro non makanan di Pajak USU atau dapat dikatakan tidak terdapat hubungan antara kewirausahaan dan keberhasilan usaha yang signifikan.

  Ulina (2008) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Faktor-

  faktor yang Mendorong Keberhasilan Usaha Baru (Studi Kasus Pada Crispo Accessories Grand Palladium dan Q-ta Accessories Sun Plaza Medan)”

  dimana peneliti menggunakan empat indikator untuk mengukur kewirausahaan, yaitu rencana pemasaran, rencana produksi, rencana organisasi dan manajemen serta rencana keuangan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan dalam mendorong keberhasilan baru yaitu faktor pemasaran.

2.3 Kerangka Konseptual

  Kerangka konseptual atau kerangka pemikiran adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian ditujukan, dimana hal ini merupakan jaringan hubungan antara variabel yang secara logis diterangkan dan dikembangkan dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui proses wawancara, observasi, dan survei literatur. (Kuncoro, 2003 : 44).

  Seorang wirausaha adalah seorang yang mempunyai visi, semangat dan melakukan tindakan-tindakan nyata dalam usaha menciptakan dan mengembangkan sendiri sumber-sumber income-nya tanpa tergantung semata- mata pada orang lain (Hutagalung 2010: 76).

  Setiap saat seorang wirausaha mencapai targetnya, maka segera dibuat impian-impian baru yang dapat memacu semangat serta antusiasme untuk mencapainya. Untuk menjadi seorang wirausaha muda, harus memiliki visi dan semangat serta melakukan tindakan nyata (action) saat ini juga, sehingga akan meningkatkan rasa percaya diri dan memiliki keberanian dalam mengatasi segala tantangan.

  Rencana bisnis bukan hanya digunakan untuk menunjukkan sejauh mana perusahaan mengetahui tentang bisnis tersebut, tetapi juga untuk menetapkan tugas-tugas konkret yang direncanakan (Rohi, 2005:225).

  Pada kerangka penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa variabel yang mendorong keberhasilan usaha baru, yaitu melalui rencana bisnis (bussiness plan) yang terdiri atas : Rencana Pemasaran (X1), Rencana Produksi (X2), Rencana Organisasi dan Manajemen (X3), dan Rencana Keuangan (X4).

  Berdasarkan variabel tersebut, maka kerangka konseptual dapat digambarkan dalam skema sebagai berikut : Rencana Usaha

  (Business Plan) dan Implementasinya

  Rencana Pemasaran (X1)

  Rencana Produksi Keberhasilan Usaha

  (X2) Baru (Y)

  Rencana Organisasi dan Manajemen (X3) Rencana Keuangan

  (X4)

Gambar 1.1 Kerangka Konseptual Sumber : Anoraga (2002) diolah

2.4 Hipotesis

  Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan penelitian (Sugiyono, 2005 : 51).

  Berdasarkan perumusan masalah yang telah ditetapkan, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Faktor – faktor yang mendorong wirausahawan meraih keberhasilan dalam usaha barunya adalah rencana pemasaran, rencana produksi, rencana organisasi dan manajemen serta rencana keuangan yang tergabung dalam rencana usaha (bussiness plan) dan pengimplementasian dari keempat rencana dalam bussiness plan tersebut.

Dokumen yang terkait

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha (Studi Kasus Pada Pengusaha Rumah Makan Di Kelurahan Helvetia Tengah Medan)

21 123 103

Analisis Faktor-Faktor Pendorong Keberhasilan Usaha Baru Pada Rumah Makan Mie Sop Kampung Di Jalan Dr.Mansyur Medan

2 36 55

Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Pengusaha Rumah Makan Di Kecamatan Medan Baru

34 137 108

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Baru (Studi Kasus Pada Dhuo net-Tripel Gnet)

4 73 63

Analisis Faktor-faktor Keberhasilan Dalam Menjalankan Usaha Keluarga (Studi Kasus Pada Rumah Makan Sop Sumsum Langsa Jl. KL Yos Sudarso No. 73 Medan)

8 72 78

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Kecil (Study Kasus Pada Usaha Laundry Mikro-Kecil Di Lingkungan Sekitar Kampus USU)

28 148 104

Analisis Faktor-Faktor Keberhasilan Dalam Menjalankan Usaha Kecil Keluarga (Studi Kasus Pada Rumah Makan Ayam Penyet Jakarta Jl Dr. Mansyur No.45 Medan)

19 156 80

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Analisis Rasio Keuangan - Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Perbankan Di Indonesia

0 0 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Perbankan Syariah - Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profit Distribution Manajement Pada Unit Usaha Syariah Di Indonesia

0 0 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Bank - Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Masyarakat Terhadap Pemanfaatan Kredit Pemilikan Rumah di Kota Medan (Studi Kasus PT. BRI Medan)

0 0 21