Konferensi Nasional Ilmu Komputer KONIK

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

PEMANFAATAN SISTEM PAKAR SEBAGAI REKOMENDASI
MEMILIH PROGRAM STUDI BERDASARKAN
ANALISA PSIKOMETRI
Terttiaavini 1) Sumi Amariena Hamim 2), Rita Wiryasaputra 3)
1),

Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri
2)
Survai Dan Pemetaan , Fakultas Teknik, Universitas Indo Global
3)
Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indo Global Mandiri
3)
Jl. Jend. Sudirman No 629 Km. 4 Palembang, 30128
Email : avini.saputra@yahoo.com1) bune_raznan@yahoo.co.id2), Ritasaputra@gmail.com3)

Abstrak
dilakukan, tidak sedikit alasan dari mereka adalah
merasa salah memilih Program Studi. Pada dasarnya
mereka tidak dapat memberikan alasan mengapa mereka

Sistem pakar merupakan sistem yang memanfaatakan
teknologi informasi untuk menghasilkan analisa yang
mendekati pemikiran seorang pakar. Sistem pakar yang
kini banyak dikolaborasikan dengan berbagai disiplin
ilmu dapat membantu dalam mengahasilkan keputusan
atau output yang cepat dan tepat. Diangkat dari
permasalahan yang sering terjadi pada calon
mahasiswa, yaitu kesulitan dalam menentukan program
studi yang akan diambil,
perlu dilakukan upaya
pembimbingan terhadap calon mahasiswa tersebut agar
dapat menentukan program studi yang sesuai
berdasarkan potensi diri yang mereka miliki. Analisa
psikometri dapat menganalisa indikator IQ dan bakat.
Ini merupakan teknik yang tepat untuk mengetahui dan
menggali potensi diri siswa. Selain itu pemanfaatan
sistem pakar yang didukung oleh teknologi informasi
dapat mempermudah siswa untuk mengetahui hasil
analisa IQ, dan bakat dengan mudah. Proses awal
analisa psikometri dilakukan dari tahapan penyusunan
konstruksi skala aitem. Dengan cara komputasi koefisien
korelasi aitem total dan pengujian signifikasi hasil
korelasi dengan menggunakan uji-t, diharapkan dapat
menghasilkan aitem yang valid dan reliabel.
Selanjutnya membangun kepakaran, perlu dilakukan
analisa sistem pakar yang
mencakup kegiatan
pendefenisian basis pengetahun dan mesin inferensi.
Alternatif pemecahan masalah akan direpresentasikan
dalam model pohon keputusan (decision tree).

mengambil Program Studi tersebut, padahal bila
dianalisa lebih lanjut, ternyata pilihan tersebut tidak
sesuai dengan bakat dan minat mereka yang sebenarnya.
Karena sudah terlajur kuliah untuk beberapa semester,
kebanyakan mahasiswa terus melanjutkan kuliahnya,
walaupun dengan kondisi memaksakan diri (tidak
mampu mencapai prestasi akademik yang maksimal).
Fenomena salah memilih Program Studi dikarenakan
kurang pahamannya mahasiswa terhadap bakat yang
mereka miliki. Ini akan menimbulkan kesulitan bagi
mahasiswa dalam penyesuaian di lingkungan belajar,
tidak dapat mengoptimalkan semua potensi dan
kemampuan yang dimiliki, prestasi belajar lebih rendah
dari yang seharusnya dapat dicapai, serta cenderung
lambat dalam menyelesaikan studinya. Jika kasus salah
memilih Program Studi ini terus dibiarkan, maka akan
berpengaruh terhadap pencapaian prestasi belajar
mahasiswa pada Program Studi yang dipilih.
Setiap manusia memiliki bakat. Bakat (aptitude)
merupakan potensi (potensial ability). Bakat yang
dimiliki merupakan potensi yang perlu dikembangkan
atau dilatih agar dapat mencapai prestasi. Ada berapa
pendapat para ahli tentang bakat, yaitu :
Kartono K (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah
potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan
untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi
kecakapan yang nyata” [4].
Monk (2000) mejelaskan bahwa “keberbakatan
(Giftedness) adalah suatu potensi bawaan yang
memerlukan binaan guna mencapai prestasi sesuai
dengan prestasinya” [7].
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat
disimpulkan bahwa, bakat seseorang bila dibina atau
dilatih dengan baik akan menjadikan manusia yang dapat

Kata kunci : Sistem pakar, Model pohon keputusan,
analisa psikometri.
1. Pendahuluan
Sering kita menghadapi kondisi dimana sebagian dari
mahasiswa sulit memahami materi ajar yang kita (dosen)
berikan. Padahal materi, modul, latihan, tugas dan quiz
sudah kita berikan dengan sebaik-baiknya. Hal ini
harusnya menjadi perhatian mengapa hal tersebut selalu
terjadi. Perhatian tertuju pada potensi diri mahasiswa itu
sendiri, dimana dari hasil dari tanya jawab yang telah

1

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

mencapai prestasi maksimal dibidangnya. Tetapi
masalahnya adalah “apakah semua orang bisa
mengetahui bakatnya ?”. Untuk mengetahui potensi
bakat seseorang tidaklah mudah, karena ada perbedaan
yang mendasar antara bakat dan minat. Terkadang minat
diartikan sebagai bakat, padahal minat bukanlah bakat.
Minat sangat dipengeruhi oleh lingkungan teman.
Sedangkan bakat merupakan bawaan genetik seseorang.
Saat ini banyak sekali jasa konsultasi psikologi yang
dapat mendiskripsikan potensi bakat seseorang. Dengan
mengunggulkan pemakaian teknologi dan metode yang
dianggap akurat untuk membaca karaktek seseorang,
namun hal ini harus sebanding dengan jasa konsultasi
yang ditawarkan.

2. Pembahasan
2.1. Landasan Teori
1) Analisa Psikometri
Menurut Saifuddin (1999) Psikometri adalah ilmu
tentang teori pengukuran psikologis [1]. Ruang lingkup
Psikometri adalah masalah pengembangan teori dan
model tes serta pengembangan dasar-dasar evaluasi
terhadap kualitas tes. Pada tahap aplikasinya, teori
Psikometri memberikan landasan fundamental dalam
perancangan dan pengembangan tes psikologis, sehingga
metode-metode konstruksi tes berkembang maju dan
dapat menghasilkan berbagai bentuk tes psikologi yang
valid dan reliabel.
Guna mencapai tingkat objektivitas yang tinggi,
penelitian ilmiah mensyaratkan penggunaan prosedur
pengumpulan data yang akurat dan terpercaya melalui
analisa kuantitatif dengan melalui proses pengukuran
yang tinggi validitas, reliabilitas, objektif dan juga
sistematik Alur kerja dalam membuat konstruksi skala
psikologi diilustrasikan pada gambar_1.

Menurut ilmu Psikologi bakat merupakan bawaan
genetik dan dapat diukur dengan menggunakan
pengukuran karakter psikometri. Analisa Psikometri
dilakukan dengan penggunakan alat tes semacam
psikotes. Hasil dari pengukuran tersebut dapat
memberikan gambaran Program Studi yang sesuai
dengan bakatnya.

Identifikasi Tujuan Ukur
Menetapkan konstrak teoritik

Untuk mencapai hasil penilaian yang akurat dalam
menentukan Program Studi yang tepat, tidak cukup
hanya berdasarkan bakat. Bakat merupakan potensi
kecerdasan yang tersembunyi yang tidak bisa diukur
Menurut Ifa H Misbah (2010) menyatakan bahwa

Pembatasan Domain Ukur
Merumuskan aspek kepribadian

Operasionalisasi Aspek
Menghimpun indikator
keprilakuan

Penulisan Aitem
Reviuw aitem

“Intelegensia tidak sama dengan IQ (inteligent quotient).
IQ merupakan hasil pengukuran kecerdasan yang sudah
dipengaruhi oleh lingkungan (latar belakang
pendidikan, pola asuh, proses belajar, emosi dan
motivasi) sedangkan intelegensia merupakan kecerdasan
dalam bentuk potensi yang belum mendapatkan
intervensi lingkungan yang dinamakan bakat” [6] .

Kisi-kisi (Blue Print) &
Spesifikasi Skala

Pensklalaan

Uji coba bahasa
Evaluasi Kualitatif

Field Test
Evaluasi kuantitatif

Validasi Konstrak

Seleksi Aitem
Estimasi Reliabilitas

Kompilasi
Final

Sumber : Saifuddin Azwar (2011)

Gambar_1. Alur Kerja dalam penyusunan
Skala psikologi

Dalam analisa psikologi, pengukuran IQ dapat
dilakukan dengan tes IQ. Gabungan dari tes IQ dan
bakat dapat disinergikan untuk menentukan Program
Studi yang sesuai dengan kemampuan dan kepribadian
mereka. Teknik penyelesaian masalah yang tepat untuk
penelitian ini, yaitu dengan menggunakan analisa sistem
pakar. Sistem pakar merupakan metode pemecahan
masalah dengan prinsip-prinsip yang hasilnya sama
dengan
pemikiran
para ahli/psikolog.
Dengan
menggunakan pohon keputusan (decision tree), dapat
dibuat aplikasi dengan menggunakan konsep pohon
keputusan. Dengan memetakan berbagai alternatifalternatif pemecahan masalah akan berakhir pada ujung
cabang yang merupakan rekomendasi tentang Program
Studi yang tepat bagi calon mahasiswa. Kesimpulan
inilah yang diharapkan nantinya
dapat menjadi
masukkan / rekomendasi bagi calon mahasiswa.
Berdasarkan permasalah diatas maka dapat disimpulkan
bahwa tujuan dari penelitian ini adalah membangun
Sistem kepakaran untuk untuk menentukan Program
Studi yang sesuai bagi calon mahasiswa berdasarkan
test IQ dan bakat.

Uraian kegiatan pada tahapan kerja penyususna skala
psikologi adalah [2].
[1] Identifikasi tujuan ukur, yaitu menentukan variabel
ukur dalam bentuk konstrak (Dimensi perilaku) yang
mendasari atribut dari analisa psikologi yang hendak
diukur.
[2] Pembatasan domain ukur, berdasarkan konstrak
yang didefenisikan tersebut, perlu dijabarkan kembali
kedalam bentuk keperilakuan yang lebih konkret yaitu
bentuk Domain ukur (Indikator Prilaku).
[3] Operasionalisasi Aspek, Himpunan indikatorindikator keperilakuan beserta dimensi yang diwakilinya,
kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue-print
dengan spesifikasi skala (format stimulus), sebagai
acuan dalam penyusunan aitem.
[4] Penulisan Aitem, Berdasarkan pendapat para ahli
jumlah aitem yang diusulkan minimal 3 kali dari jumlah
seluruh aitem. Hal ini dimaksud agar saat penyusunan
skala, tidak kehabisan aitem akibat gugurnya aitemaitem yang tidak memenuhi persyaratan. sebelum
penulisan aitem, perancang skala perlu menetapkan
bentuk atau format stimulus (aitem) yang hendak

2

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

Ada empat komponen yang membentuk sistem pakar
yaitu :
[1] Basis Pengetahuan (Knowledge Base)
Basis pengetahuan merupakan inti dari suatu sistem
pakar, yaitu berupa representasi pengetahuan dari pakar.
Basis pengetahuan tersusun atas fakta dan kaidah. Fakta
adalah informasi tentang objek, peristiwa, atau situasi.
Kaidah adalah cara untuk membangkitkan suatu fakta
baru dari fakta yang sudah diketahui.

digunakan. Format stimulus ini erat berkaitan dengan
metode penskalaannya.
[5] Evaluasi Kualitatif, bertujuan untuk menguji apakah
aitem yang ditulis sudah sesuai dengan blueprint dan
indikator perilaku yang hendak di ungkapnya, menguji
apakah aitem telah ditulis sesuai dengan kaidah
penulisan yang benar, dan menilai apakah aitem
mengandung social desirability yang tinggi. Dalam
kegiatan ini perlu dilakukn konsultasi dengan ahli
psikologi.
[6] Evaluasi Kuantitatif, melakukan pengujian kualitas
aitem secara empirik dengan cara melakukan analisis
kuantitatif terhadap parameter-parameter aitem. Pada
tahap ini akan dilakukan analisis daya diskriminasi aitem
dengan cara menghitung kooefisien korelasi antara
distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala itu
sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien
korelasi aitem total (rxy) dengan menggunakan rumus
korelasi produk momen Pearson yaitu

[2] Mesin Inferensi (Inference Engine)

Mesin inferensi adalah bagian yang mengandung
mekanisme fungsi berpikir dan pola-pola penalaran
sistem yang digunakan oleh seorang pakar (Turban,
1995) [9]. Mekanisme ini akan menganalisa suatu
masalah tertentu dan selanjutnya akan mencari jawaban
atau kesimpulan terbaik. Ada dua teknik yang dapat
dikerjakan dalam melakukan inferensi, yaitu :
a. Forward Chaining
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian
sebelah kiri (IF dulu). Dengan kata lain, penalaran
dimulai dari fakta terlebih dahulu untuk menguji
kebenaran hipotesis.
b. Backward Chaining
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian
sebelah kanan (THEN dulu). Dengan kata lain, penalaran
dimulai dari hipotesis terlebih dahulu, dan untuk
menguji kebenaran hipotesis tersebut harus dicari faktafakta yang ada dalam basis pengetahuan. Kedua metode
inferensi tersebut dipengaruhi oleh tiga macam
penelusuran, yaitu Depth-first search,
Breadth-first search dan Best-first search.
1) Breadth-first search, Pencarian dimulai dari simpul
akar terus ke level 1 dari kiri ke kanan
dalam 1 level sebelum berpindah ke level berikutnya.
2) Depth-first search, Pencarian dimulai dari simpul akar
ke level yang lebih tinggi. Proses ini
dilakukan terus hingga solusinya ditemukan atau jika
menemui jalan buntu.
3) Best-first search, bekerja berdasarkan kombinasi
kedua metode sebelumnya.

........................ (1)
Dengan :
rxy = koefisien korelasi antara variable X dan variabel Y
xi = nilai data ke-i untuk kelompok variabel X
yi = nilai data ke-i untuk kelompok variabel Y
n = banyak data
Kemudian, untuk menguji signifikan hasil korelasi
digunakan uji-t. Adapun kriteria untuk menentukan
signifikan dengan membandingkan nilai t-hitung dan ttabel. Jika t-hitung > t-tabel, maka dapat kita simpulkan
bahwa butir item tersebut adalah valid. Rumus mencari
t-hitung yang digunakan adalah:
........................ (2)

[7] Seleksi Aitem dan Validasi Konstrak
Dari hasil uji evaluasi kuantitatif, dihasilkan aitem-aitem
yang dinyatakan valid atau tidak valid. Namun sebelum
aitem tersebut digunakan, perlu dilakukan seleksi aitem
kembali oleh para panel, untuk lebih meyakinkan bahwa
aitem-aitem tersebut sudah teruji dan dapat digunakan
sebagai alat ukur.
[8] Kompilasi final, dimaksudkan untuk menyiapkan
tampilan dan informasi yang menarik agar memudahkan
bagi responden membaca dan menjawab instrumen yang
diberikan.

[3] Basis Data (Data Base)
Basis data terdiri atas semua fakta yang diperlukan,
dimana fakta tersebut digunakan untuk memenuhi
kondisi dari kaidah-kaidah dalam sistem. Basis data
menyimpan semua fakta, baik fakta awal pada saat
sistem mulai beroperasi, maupun fakta-fakta yang
diperoleh pada saat proses penarikan kesimpulan sedang
dilaksanakan. Basis data digunakan untuk menyimpan
data hasil observasi dan data lain yang dibutuhkan
selama pemrosesan.

2) Sistem Pakar
Menurut Sri Kusumadewi, (2003) Secara umum, sistem
pakar (expert system) adalah sistem yang berusaha
mengadopsi pengetahuan manusia ke komputer, agar
komputer dapat menyelesaikan masalah seperti biasa
yang dilakukan oleh para ahli. Sistem pakar yang baik
dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permasalahan
tertentu dengan meniru kerja dari para ahli [8].

[4] Antarmuka Pemakai (User Interface)
Fasilitas ini digunakan sebagai perantara komunikasi
antara pemakai dengan komputer.
Teknik Representasi Pengetahuan
Representasi pengetahuan adalah suatu teknik untuk
merepresentasikan basis pengetahuan yang diperoleh ke
3

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

dalam suatu skema/diagram tertentu sehingga dapat
diketahui relasi/keterhubungan antara suatu data dengan
data yang lain. Teknik ini membantu knowledge
engineer dalam memahami struktur pengetahuan yang
akan dibuat sistem pakarnya. Terdapat beberapa teknik
representasi pengetahuan yang biasa digunakan dalam
pengembangan suatu sistem pakar, yaitu Rule-Based
Knowledge, Frame-Based Knowledge, Object-Based
Knowledge, Case-Base Reasoning.

2.2. Analisa Informasi
1) Penyusunan konstruksi skala aitem
Tahapn yang dilakukan dalam konstruksi skala aitem
yaitu :
[1] Identifikasi tujuan ukur. Konstrak Atribut aitem
yang diukur adalah IQ adan bakat.
[2] Pembatasan domain ukuran (Konstrak). Pembatasan
domain ukur (indikator keprilakuan) untuk masingmasing skala dapat dilihat pada tabel_6.

3) Program Studi
Program Studi adalah pengelompokan sejumlah mata
pelajaran yang sejenis atau memiliki ciri yang sama
(mata pelajaran yang telah berkorelasi dengan satu
dengan yang lainnya) (sumber : kamusbesar.com)
http://www.kamusbesar.com/48721/bidang-studi
[5].
Menurut buku panduan Panduan pelaksanaan penelitian
dan PPM edisi IX (2013) klasifikasi Program Studi [3]
adalah sebagai berikut :

Tabel_2. Penyusunan Skala item
Konstrak
(Dimensi
perilaku)

Kosa kata (Q2)
Pemahaman
(Q3)

Tabel_1. Daftar rumpun ilmu
Rumpun Ilmu
Matematika dan Ilmu
Pengetahuan alam (MIPA)
- Ilmu IPA
- Matematika
- Kebumian dan angkasa
Ilmu Tanaman
- Ilmu pertanian dan
perkebunan
- Teknologi dalam ilmu
tanaman
- Ilmu Sosiologi pertanian
- Ilmu kehutanan
Ilmu Hewani
- Ilmu Peternakan
- Ilmu perikanan
- Ilmu Kedokteran hewan
Ilmu Kedokteran
- Ilmu kedokteran Spesialis
- Ilmu kedokteran (akademik)
- Ilmu spesialis kedokteran
gigi dan mulut
- Ilmu kedokteran gigi dan
akademik
Ilmu Kesehatan
- Ilmu kesehatan umum
- Ilmu keperawatan dan
kebidanan
- Ilmu Psikologi
- Ilmu Farmasi
Ilmu Teknik
- Teknik sipil dan
perencanaan tata ruang
- Ilmu keteknikan industri
- Teknik elektro dan
informatika
- Teknologi kebumian
- Ilmu perkapalan

Domain Ukur
(Indikator
prilaku)
Informasi (Q1)

Indikator keprilakuan
Tipe tes

Aspek yang diukur

Tipe
objektif,
dengan
pola tes
pilihan
berganda

Pemahaman
pengetahuan umum
Mencari padanan
kata yang sesuai
Menentukan tindakan
berdasarkan suatu
kasus
Membandingkan
kesamaan 2 benda
Menentukan pola
suatu benda
Mengulangi urutan
angka yang telah di
tampilkan
Menghitung
sederetan angka
Mengingat kembali
angka yg hilang
Mengatur gambar
acak menjadi suatu
alur cerita
Mengatur gambar
menjadi urutan yang
benar dari gambar
yang dimaksud
Menulis angka
berdasarkan simbol
yang telah ditentukan
Mengukur
pembentukan
keputusan, common
sense, penekanan
pada praktis-konkrit,
pemaknaan realitas,
dan berpikir secara
berdikari/ mandiri.
Mengukur
kemampuan bahasa,
perasaan empati,
berpikir induktif
menggunakan
bahasa, dan
memahami
pengertian bahasa
Mengukur
kemampuan
mengenal barangbarang kongkrit
melalui proses
penglihatan,
khususnya mengenai
barang secara diukur
adalah kemampuan
fleeksibilitas dalam
berpikir, daya
mengkombinasikan,

Kesamaan (Q4)

Rumpun Ilmu
Ilmu Bahasa
- Sub rumpun ilmu sastra (dan
bahasa)
indonesia
dan
daerah
- Ilmu Bahasa
- Ilmu bahasa Asing
Ilmu ekonomi
- Ilmu ekonomi
- Ilmu Manajeman

IQ /
Intelegensia

Rancangan
Balok (Q5)
Rentang angka
(Q6)

Tipe
Subjektif,
berpola

Hitungan (Q7)
Kelengkapan
gambar (Q8)
Susunan gambar
(Q9)

Tes
menjawab
dng isian

Perakitan Objek
(Q10)

Ilmu sosial humaniora
- Ilmu politik
- Ilmu sosial

Simbol angka
(Q11)

Agama dan filsafat
- Ilmu pengetahuan (ilmu)
agama
- Ilmu filsafat

Melengkapi
Kalimat (B1)

Ilmu seni, Desai dan media
- Ilmu seni pertunjukan
- Ilmu kesenian
- Ilmu seni kriya
- Ilmu media
- Desain
Ilmu Pendidikan
- Pendidikan ilmu sosial
- Ilmu pendidikan bahasa dan
sastra
- Ilmu pendidikan olah raga
dan kesehatan
- Ilmu pendidikan teknologi
dan kejuruan
- Ilmu pendidikan
- Ilmu pendidikan kesenian
Sumber : Panduan pelaksanaan penelitian dan PPM edisi IX

Mencari kata
yang berbeda
(B2)

Bakat
Mencari
hubungan Kata
(B3)

4

Tipe
objektif,
dengan
pola tes
pilihan
berganda

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

Mencari kata
yang mencakup
dua pengertian
(B4)

Hitungan
Sederhana (B5)

Deret Angka
(B6)

Menyusun
bentuk (B7)

Kubus (B8)

Mengingat Kata
(B9)

Anrillia Ema, M.E.d., Psi. Adapun contoh aitem yang
diusulkan diuraikan pada tabel_3.

mendeteksi dan
memindahkan
hubunganhubungan, serta
kejelasan dan
kekonsekuenan
dalam berpikir.
Mengukur
kemampuan abstraksi
verbal, kemampuan
untuk menyatakan
pengertian akan
sesuatu dalam bentuk
bahasa, membentuk
suatu pengertian atau
mencari inti
persoalan, serta
berpikir logis dalam
bentuk bahasa
Mengukur
kemampuan berpikir
praktis dalam
berhitung, berpikir
induktif, reasoning,
dan kemampuan
mengambil
kesimpulan
Melihat cara berpikir
teoritis dengan
hitungan, berpikir
induktif dengan
angka-angka, serta
kelincahan dalam
berpikir
Melihat kemampuan
dalam
membayangkan,
kemampuan
mengkonstruksi
(sintesa dan analisa),
berpikir konkrit
menyeluruh, serta
memasukkan bagian
pada suatu
keseluruhan.
retention).
Mengukur daya
bayang ruang,
kemampuan tiga
dimensi, analitis,
serta kemampuan
konstruktif teknis
Mengukur daya
ingat, konsentrasi
yang menetap, dan
daya tahan.

Tabel_3. Aitem dan penskalan aitem
No
Item
1
2

3

4

5

Aitem
Seringgit sama dengan 2 ½ Rupiah, satu ketip sama dengan
a. 1 Rupiah b. 10 Rupiah c. 5 Rupiah d. 10 Sen
Suatu keadaan tak menentu, tentang turun naiknya tingkat
harga ?
a. Inflasi
b. Resesi
c. Fluktuasi d. Devaluasi
SEDIKIT : BANYAK : RIBUAN = .......
a. Tidak : mau sama : sekali
b. Jarang: Kadang-kadang: Sering
c. Jelek : Indah : Lukisan
d. Khusus : special : umum
Semua wanita menggunakan make-up. Semua presenter
menggunakan make-up. Aji bukan seorang wanita. Aji
menggunakan make-up. Pernyataan yang sesuai dengan
pernyataan diatas adalah
a. Aji adl seorang presenter b. Aji adalah seorang wanita
c. Aji bkn seorang laki-laki d. Aji bukan presenter
Andre anggota Palang Merah Remaja. Sebagian Anggota
Palang merah Remaja mengerti tentang P3K. Andre tidak
mengerti P3K
a. Andre bukan anggota palang merah
b. Andre mengerti P3K
c. Andre anggota Palang merah remaja yg tdk mengerti P3
d. Andre Anggota Pramuka

Tahap kedua : Aitem akan dievaluasi secara kualitatif
guna mengetahui apakah kalimat yang digunakan dalam
aitem mudah dapat dipahami dengan benar sebagai mana
yang diinginkan oleh peneliti. Pada penelitian ini uji
coba bahasa akan dilakukan kepada 300-500 sampel.
Data yang dikumpulkan akan digunakan untuk
menentukan validasi dan reliabilitas suatu aitem.
[6] Field test (evaluasi kuantitatif)
Pada tahap ini dihitung nilai koefisien korelasi aitem
total (rxy) untuk masing-masing aitem. Hasil perhitungan
dapat dilihat pada tabel_4
[7] Seleksi Aitem (Estimasi Reliabilitas).
Penyeleksian aitem mengunakan rumus koefisien
validasi aitem. Hasil perhitungan dapat dilihat pada
tabel_4.
Tabel_4. Uji Validasi Aitem

[3] Operasionalisasi aspek (Indikator Keprilakukan)
Tahap ini dilakukan pendefenisian domain ukur. Domain
ukur akan dijabarkan menjadi beberapa aspek yang akan
menjadi dasar pembentukan aitem instrumen penelitian.
Adapun aspek yang diukur didefenisikan pada tabel_6.
[4] Penulisan aitem (review aitem).
Berikut adalah sebagian contoh aitem untuk indikator
Informasi yang diusulkan beserta skala pengukurannya.
[5] Uji coba bahasa (Evaluasi Kualitatif). Evaluasi
kualitatif dilakukan melalui dua tahap :
Tahap pertama
: Aitem yang telah dirancang
dikonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli psikologi.
Ahli psikologi yang membantu penelitian ini adalah

Dari perhitungan t hitung , selanjutnya akan dibandingkan
dengan koefisien t tabel , dengan α = 0.05. Dari hasil
perbandingan tersebut dapat tentukan aitem yang valid

5

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

valid dan tidak valid.

Perhitungan score
Berdasarkan konstrak (lihat tabel_2), maka domain ukur
untuk tes IQ dan bakat terdiri dari 20 indikator. Dari
masing- masing indikator memiliki 5 aitem. Sehingga
jumlah seluruh aitem = 200. Proses perhitungan skor
untuk tes yaitu diberi nilai 1 (satu) bila benar dan 0 (Nol)
bila salah.
Akusisi pengetahuan
Pengetahuan yang diperoleh dari pakar dapat
direpresentasikan
sebagian dalam bentuk pohon
keputusan. Teknik representasi pengetahuan yang
digunakan adalah Case-Base Reasoning dan Inferencing
dengan rule menggunakan Forward chaining.
Karena kurangnya tempat penyajian untuk seluruh
alternatif pemecahan masalah, dimungkinkan hanya
mengambil contoh satu jalur keputusan saja,
sebagaimana terlihat pada gambar_2.

2) Analisa Sistem Pakar
[1] Basis pengetahuan
Basis
pengetahuan
merupakan
proses
untuk
mengumpulkan data-data pengetahuan akan suatu
masalah dari Pakar. Bahan pengetahuan dalam penelitian
ini adalah
Kesesuain hasil tes IQ terhadap tingkat pendidikan
Kemampuan intelegensi (IQ) seseorang sangat
menentukan jalur dominan tingkat pendidikan siswa.
Semakin tinggi IQ seseorang, maka semakin tinggi pula
kemampuan untuk berfikir dan memecahkan masalah.
Dari hasil analisa ahli psikologi tingkat pendidikan yang
sesuai dengan tingkat IQ seseorang dapat dilihat pada
tabel_5.
Tabel _5. Klasifikasi IQ dan Tingkat Pendidkan

Kesesuain Rumpun Ilmu dengan Domain Ukur
Untuk merumuskan rumpun ilmu berdasarkan Domain
ukur, tahap ini merupakan hasil dari penalaran ahli
Psikologi. Ahli psikologi merumuskan pontensi yang
harus dimiliki seseorang untuk menentukan jurusan.
Analisa ini menjadi basis pengetahuan sistem pakar.
Tabel_6 merupakan hasil dari analisa yang dilakukan
oleh ahli psikologi.
Gambar_2. Pohon keputusan
Tabel_6. Kesesuain Rumpun Ilmu dengan
Domain Ukur

Bisnis Rule
 Calon Mahasiswa harus menyelesaikan seluruh test
sampai selesai.
 Ouput dari Tes adalah deskripsi dari nilai masingmasing indikator dan Rekomendasi Program Studi.
 Calon mahasiswa dapat melakukan test lebih dari
satu kali.
 Pengetahuan dapat ditambah berdasarkan hak atas
knowledge enginer.
 Rule
Proses pertama yang dilakukan user
adalah
menjalankan Tes IQ. Hasil tes IQ disimpan pada
variabel IQ. Berdasarkan nilai IQ ditentukan :

Untuk masing-masing rumpun ilmu memiliki ciri
kemampuan yang harus menonjol dari pada kemampuan
lainnya.

Aturan T1.
Membandingkan Nilai IQ dengan tingkat IQ dengan
ketentuan :

[2] Mesin Inferensi
Mekanisme inferensi mengandung suatu pola pikir dan
penalaran yang digunakan dalam menyelesaikan suatu
masalah, dalam hal ini beberapa ketentuan yang dapat
diambil menjadil suatu kesimpulan berdasarkan
manifestasi yang dimasukkan oleh calon Mahasiswa
adalah :

IF (IQ > 96) AND (IQ ≤ 105)
THEN kerjakan Rule T21
ELSE IF (IQ > 105) AND (IQ ≤ 110)
THEN kerjakan Rule T22

6

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

ELSE IF (IQ > 110)
THEN kerjakan Rule T23
ELSE
Selesai

IF (B=B2) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T217
End For
R = “Ilmu Bahasa”

Proses kedua yang dilakukan user adalah menjalani Tes
Bakat. Hasil dari Tes Bakat disimpan pada variabel
TB1...TB9. Kemudian dilakukan pengurutan secara
menurun (descending) terhadap nilai-nilai tersebut.
Nilai tertinggi pertama akan dibandingkan dengan nilai
kesesuaian domain ukur (ketentuan berdasarkan
tabel_6).
Aturan T21.
Membandingkan Nilai tes tertinggi_1 sampai ke
tertinggi_n dengan nilai kesesuaian domain ukur,
ketentuan :
For i = 1 to 7 do
IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B5) OR
(B=B6) OR (B=B7) OR (B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T212
End For
R = “Ilmu Teknik”

Aturan T217
For i = 1 to 4 do
IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B5) OR (B=B6)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T218
End For
R = “Ilmu Ekonomi”
Aturan T218
For i = 1 to 4 do
IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T219
End For
R = “Ilmu Sosial Humaniora”
Aturan T219
For i = 1 to 4 do
IF (B=B3) OR (B=B6) OR (B=B7) OR (B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T210
End For
R = “Ilmu Desain dan media”

Aturan T212
For i = 1 to 6 do
IF (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B5) OR (B=B6) OR
(B=B7) OR (B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T213
End For
R = “Ilmu MIPA”

Aturan T220
For i = 1 to 3 do
IF (B=B3) OR (B=B7) OR (B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T211
End For
R = “Ilmu Hewani”

Aturan T213
For i = 1 to 5 do
IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B7) OR
(B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T214
End For
R = “Ilmu Kedokteran”

Aturan T211
R = “Ilmu Pendidikan”
Proses yang sama berlaku untuk simpul T22 dan T23
Aturan T211.. T21n
Pada tahap ini, rumpun ilmu (R) sudah diketahui. Dari
masing-masing rumpun ilmu, terdiri dari beberapa
program studi. Penentuan spesifikasi program studi
tersebut berdasarkan variabel minat. Dari variabel
tersebut dapat dibandingkan dan disimpulkan.
Kesimpulan tersebut merupakan rekomendasi program
studi bagi calon mahasiswa.

Aturan T214
For i = 1 to 4 do
IF (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B7) OR (B=B8)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T215
End For
R = “Ilmu Tanaman”
Aturan T215
For i = 1 to 4 do
IF (B=B1) OR (B=B3) OR (B=B4) OR (B=B9)
THEN next i
ELSE kerjakan Rule T216
End For
R = “Ilmu Kesehatan”

[3] Rancangan Antar muka
Membangun antar muka harus memperharikan unsur unsur : Simplicity, Familiarity, Responsiveness,
Robustness , Protection dan Easy Of Learning and easy
of Use. Gambar_3 merupakan rancangan tampilan Tes
IQ.

Aturan T216
For i = 1 to 4 do

7

ISSN : 2338-2899

Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2014

[6] Misbach, Ifa H. (2010). Dasyatnya sidik jari menguak bakat &
potensi untuk merancang masa depan melalui Fingerprint
Analysis. Cetakan kedua. Transmedia Pustaka
[7] Mongks, F. J. , Knoers, A. M. P. , & Haditono, S. R. (2000).
Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam berbagai bagiannya.
Cetakan 14. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
[8] Sri Kusumadewi, “ Artifical intelligence (teknik dan aplikasinya)”
penerbit graham ilmu,Yogyakarta 2003.
[9] Turban, Efraim,1995, Decision Support System and Expert System,
4th ed., Prentice-Hall, Inc., New Jersey, pp 472-679

Gambar_3. Rancangan Tampilan Tes IQ
Hasil akhir dari test psikotest tersebut berupa laporan
dari masing-masing nilai indikator prilaku dan
rekomendasi Program Studi dapat dilihat pada gambar_4
dan gambar_5.

Gambar_4. Rancangan Tampilan Hasil Tes IQ

Gambar_5. Rancangan Tampilan Hasil Tes Bakat
3. Kesimpulan
Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa :
1. Analisa psikometri dapat digunakan sebagai basis
pengetahuan Sistem Pakar.
2. Hasil pengujian IQ dan Bakat seseorang, dapat
disinergikan menjadi dasar penentuan Program studi
yang sesuai dengan potensi diri yang dimiliki calon
mahasiswa.
Daftar Pustaka
[1] Azwar, Syaifuddin. (1999). Dasar-Dasar Psikometri. Pustaka
Pelajar.Yogyakarta
[2] Azwar, Saifudin. (2011). Psikologi Intelegensi. cetakan VIII.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta
[3] Dikti. (2013). Panduan pelaksanaan penelitian dan Pengabdian
kepada Masyarakat diperguruan Tinggi. Edisi IX.
[4] Kartini Kartono. (1995). Psikologi Umum. Bandung : Maju
Mundur
[5] Kamusbesar.com. http: // www.kamusbesar.com/48721/bidang
studi. (diakses tgl 23 april 2014)

8

Dokumen yang terkait

Dokumen baru