MAKALAH TENTANG MURABAHAH DAN INDONESIA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,yang atas rahmat-Nya maka
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.Penulisan makalah ini
merupakan salah satu tugas dari mata kuliah “fiqh Muamalah.”
Dalam penulisan makalah ini kami haturkan permohonan maaf jika terdapat
banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat
kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihakpihak yang membantu dalam menyelesaikan penulisan ini, khususnya kepada:
Dosen pembimbing mata kuliah “fiqh Muamalah”

yang senantiasa

memberikan dukungan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal
pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua
bantuan ini sebagai ibadah, Aamiin yaa robbal’Alamiiin.

Mataram,april 2013
Penulis


DAFTAR ISI
Kata Pengantar .......................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................... ii
BAB I Pendahuluan ................................................................................... 1
A. Latar Belakang .....................................................................................
B. Rumusan Masalah ................................................................................
C. Tujuan Masalah ....................................................................................
BAB II Pembahasan ...................................................................................
A. Pengertian Pembiayaan Murabahah ....................................................
B. Penjelasan Murabahah bil wakalah........................................... ..........
BAB III Penutup ........................................................................................
Kesimpulan ................................................................................................
Daftar Pustaka ............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Jual beli Murabahah (Bai’ al-Murabahah) demikianlah istilah yang banyak
diusung lembaga keuangan sebagai bentuk dari Financing (pembiayaan) yang
memiliki prospek keuntungan yang cukup menjanjikan. Sehingga hampir

semua lembaga keuangan syari’at menjadikannya sebagai produk financing
dalam pengembangan modal mereka.
Murabahah adalah jual beli barang sebesar harga pokok barang ditambah
dengan margin keuntungan yang disepakati (lihat Pasal 1 angka 7 Peraturan
Bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan
Penyaluran Dana Bagi Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan
Prinsip Syariah).
Murabahah adalah pembiayaan saling menguntungkan yang dilakukan
oleh shahib al-mal (pemilik modal) dengan pihak yang membutuhkan melalui
transaksi jual beli dengan penjelasan bahwa harga pengadaan barang dan
harga jual terdapat nilai lebih yang merupakan keuntungan atau laba bagi
shahib al-mal dan pengembaliannya dilakukan secara tunai atau angsur (lihat
Pasal 20 angka 6 Peraturan Mahkamah Agung No. 02 Tahun 2008 tentang
Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah).
Kemudian dalam satu kasus murabahah ini bisa digabungkan dengan akad
wakalah , sebenarnya dalam hadist rasullulah SAW telah melarang adanya
penggabungan dua akad dalam satu transaksi .akan tetapi dalam hal ini
berbeda Akad yang digunakan boleh dua ,tapi masing-masing dari akad ini
sama-sama berdiri sendiri, sehingga tidak akan terjadi dua akad dalam satu
transaksi.


B.Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Murabahah
2. Apa yang dimaksud dengan Murabahah bil wakalah
C. Tujuan Masalah
1.Untuk mengetahui Pengertian murabahah
2. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan murabahah bil wakallah

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Pembiayaan Murabahah
Al- Murabahah berasal dari kata bahasa Arab Al-ribh(keuntungan).ia
dibentuk dengan wazan (pola pembentukan kata) mufa’alat yang mengandung
arti saling. oleh karenanya, secara terminologi, diartikan dan didefinisikan
dengan redaksi yang variatif. Ahmad al-Syaisy al Qaffal mengatakan, almurabahat ialah tambahan terhadap modal , Bagi al-sayid sabiqMurabahah
penjualan barang seharga pembelian disertai dengan keuntungan yang
dbierikan oleh pembeli artinya ada tambahan harga dari harga nilai beli.adapun
arti Murabahah secara umum adalah akad jual beli atas barang tertentu,dimana
penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli kemudian

menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan keuntungan yang
diharapkan sesuai jumlah tertentu. Dalam akad Murabahah , penjual menjual
barangnya dengan meminta kelebihan atas harga beli dengan dengan harga jual
.perbedaan antara harga jual dengan harga beli barang disebut margin
keuntungan. 1
Adapun Firman Allah yang berkenaan dengan murabahah yaitu dalam QS. AnNisa(4)29

      
         
        
s

1

Isma’il, perbankan Syari’ah(Jakarta: Prenada Media Group)H.138

Adapun dasarHukum dan Syarat dalam akad murabahah dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Dasar Hukum murabahah
a. QS. Al-Baqarah [2] : 275


       
       
       
       
         
        
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba”
b. Hadits Riwayat Ibn Majah
Dari Suhaib al-Rumi r.a, bahwa Rasulullah Saw, bersabda : “Tiga
hal yang didalamnya terdapat keberkatan : jual beli secara tangguh,
muqaradhan (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung
untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual” (HR. Ibn Majah).
c. Fatwa Dewan Syariah
d. UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan Umum
e. UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah
f. UU No. 42 Tahun 2009 tentang PPN dan PPnBM
2. Syarat-Syarat Murabahah
Dalam melakukan transaksi murabahah terdapat syarat-syarat yang

harus dipenuhi, antara lain :
a. Bank Islam memberitahu biaya modal kepada nasabah.
b. Kontrak pertama harus sah.
c. Kontrak harus bebas dari riba.

d. Bank Islam harus menjelaskan setiap cacat yang terjadi sesudah
pembelian dan harus membuka semua hal yang berhubungan dengan
cacat.
e. Bank Islam harus membuka semua ukuran yang berlaku bagi harga
pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.
f. Jika syarat dalam 1, 4 atau 5 tidak dipenuhi, pembeli memiliki pilihan:
1) Melanjutkan pembelian seperti apa adanya.
2) kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan.
3) membatalkan kontrak
Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau
aset kepada bank syariah. Jika bank syariah menerima permohonan tersebut, bank
harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang.
Bank membeli barang keperluan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian
ini harus sah dan bebas riba. Dalam hal ini bank harus memberitahu secara jujur
harga


pokok

barang

kepada

nasabah

berikut

biaya

yang

diperlukan.

Dimungkinkan bagi bank memberikan kuasa pembelian barang kepada nasabah
untuk membeli barang yang dibutuhkannya. Jika demikian, akad jual beli
(murabahah) harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi Analisis atas

penagihan.
Dalam Aplikasi bank Syariah , bank merupakan penjual atas objek barang
dan Nasabah merupakan pembeli . Bank menyediakan barang yang dibutuhkan
oleh nasabah dengan membeli barang dari Supplier , kemudian menjualnya
kepada nasabah dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga beli
yang dilakukan oleh bank syariah. pembayaran atas transaksi Murabahah dapat
dilakukan dengan cara membayar sekaligus pada saat jatuh tempo atau melakukan
pembayaran angsuran selama jangka waktu yang disepakati.
Imam syafi’i menyatakat pendapatnya bahwa jika seseorang menunjukkan
sebuah komoditi kepada seseorang dan berkata : Belikan sesuatu untukku dan aku
akan memberimu keuntungan sekian dan orang itu kemudian membelikan sesuatu

untuknya , maka transaksi demikian ini adalah sah.2
dalam kasus murabahah contohnya seperti, terjadi jual beli sesuatu barang pada
harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah
pihak .penjual dalam hal ini memberi tahu harga produk yang ia beli dan
menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan . misalnya anda
membutuhkan untuk pembelian mobil. dalam bank konvensional anda akan
dikenakan bunga dan diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu
disektor perbankkan ,suku bunga yang berlaku pulang saja berubah .dalam sistem

bank syariah, tentu saja produk seperti ini juga tersedia .namun bentuknya bukan
kredit, melainkan menggunakan prinsip jual –beli yang diistilahkan dengan
Murabahah. dalam hal ini ,bank syariah akan membeli mobil yang anda inginkan
terlebih dahulu ,kemudian menjualnya lagi kepada anda. harganya sedikit mahal,
sebagai bentuk keuntungan buat bank syariah .karena bentuk keuntungan bank
syariah sudah disepakati dahulu.
Adapun Rukun Pembiayaan Akad Murabahah adalah
Rukun Pembiayaan Murabahah
Rukun dari akad murabahah yang harus dipenuhi dalam setiap
transaksi ada beberapa yaitu:
-

Penjual (ba’i) adalah pihak yang memiliki barang untuk dijual,.

-

Pembeli (musytari) adalah pihak yang memerlukan dan akan
membeli barang. (Dalam hal ini pihak harus memenuhi kriteria
bahwa pihak tersebut cakap hukum, sukarela dalam pengertian tidak
dalam keadaan dipaksa/terpaksa/di bawah tekanan) Objek akad, yaitu

mabi’ (barang dagangan) dan tsaman (harga).[7]Harga dalam hal ini
pun sudah harus jelas berapa jumlahnya. Harga inilah yang akan
ditambahkan margin oleh Bank Syariah yang akan disepakati oleh
pihak nasabah. Bank Syariah berperan sebagai pembeli dari pihak
penjual. Objek tersebut berkriteria:

2

Hakim Abl Atang,fiqih Peerbankan Syariah,(Jakarta:Rafika
Aditama)H.225-227

-

tidak termasuk yang diharamkan atau dilarang, bermanfaat
penyerahannya dari penjual ke pembeli dapat dilakukan
merupakan hak milik penuh pihak yang berakad sesuai
spesifikasinya antara yang diserahkan penjual dengan yang
diterima pembeli.

Shighah, yaitu Ijab (serah) dan Qabul (terima). Akad harus jelas dan

disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad, antara ijab dan qabul harus
selaras baik spesifikasi barang maupun harga dari objek tersebut, tidak
menggantungkan pada klausul yang baru akan terjadi pada hal/kejadian yang
akan datang.
B.Murabahah Bil Wakalah
seperti penjelasan diatas yang murabahah merupakan akad jual beliatas
barang tertentu, dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada
pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan
keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu. dalam akad Murabahah,
penjual menjual barangnya kepada nasabah atau pihak yang membeli dengan
meminta kelebiahan atas harga beli dengan harga jual.
Sedangkan secara bahasa Al-Wakalah atau al-wikalah berarti al-tafwidh
(penyerahan,pendelegasian, dan pemberian mandat) .Secara bahasa ,al-wakalah
didefinisikan sebagai sebuah transaksi dimana seseorang menunjuk orang lain
untuk menggantikan dalam mengerjakan pekerjaannya.
Dalam wakalah sebenarnya pemilik urusan (Muwakkil) itu dapat secara sah untuk
mengerjakan pekerjaanyasecara sendiri .Namun, karena ada sesuatu dan lain hal
urusan itu diserahkan kepada orang lain yang dipandang mampu untuk
menggantikannya .oleh karena itu ,jika seseorang (muwakkil) itu orang yang tidak
ahli untuk mengerjakan urusannya itu seperti orang gila atau anak kecil maka
tidak sah untuk mewakilkan orang lain Contoh kasus wakalahseseorang
mewakilkan kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali nikah dalam
pernikahan anak perempuannya.

Ijma’ ulama membolehkan wakalah karena wakalah dipandang sebagai tolong
menolong atas dasar kebaikan dan takwa yang diperintahkan Allah SWT .dan
Allah SWT perfirman adalah Surat Al- Maidah ayat 2:
Ada Beberapa Rukun yang harus dipenuhi dalam Wakalah
1. Orang yang mewakilkan (muwakkil), syaratnya dia berstatus sebagai
pemilik urusan atau benda dan menguasai serta dapat bertindak terhadap
harta tersebut dengan dirinya sendiri. jika muwakkil itu bukan
pemiliknya atau bukan orang yang ahli maka batal . dalam hal ini maka
anak kecil dan orang gila tidak sah jadi muwakkil karena tidak termasuk
orang yang berhak untuk bertindak.
2. wakil (orang yang mewakili),syaratnya ialah orang yang barakal .jika ia
idiot ,gila atau belum dewasa maka batal . tapi menurut hanafiyah anak
kecil yang cerdas (dapat membedakan yang baik dan yang buruk) sah
menjadi wakil alasannya bahwa AmrSayydiyah Ummu Salamah
mengawinkan ibunya kepada rasullulah ,saat itu masih kecil yang belum
baliq.
3.

Muwakkalfih (sesuatu yang diwakilkan)
a. pekerjaan atau urusan itu dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang
lain.
b. pekerjaan itu dimiliki oleh muwakkil sewaktu akad wakalah .oleh
karena itu tidak sah berwakil menjual sesuatu yang belum dimilikinya
c. Pekerjaan itu diketahui secara jelas Maka tidak sah mewakilkan
sesuai yang masih sama seperti “ aku jadikan engkau sebagai wakilku
untuk mengawini anakku.
d. Shigat yang diiringi kerelaan dari mewakil” saya wakilkan atau
serahkan pekerjaan ini kepada kamu untuk mengerjakan pekerjaan ini
“ kemudian diterima oleh wakil.seandainya si wakil tidak
mengucapkan kabul tetap dianggap sah.

jika dilihat dari kasus murabahah bil wakalah ,hal termasuk pembiayaan
multi akad dan diperbolehkan dalam ajaran islam dengan catatan akad-akad
tersebut bersifat indefenden ,meskipun memiliki keterkaitan satu sama lain .

Menanggapi hal tersebut ,Anas bin Malik mengatakan bahwa jika seseorang
membeli sebuah barang dari orang lain dengan harga beli tunai 15 dinar atau
harga beli 20 dinar kredit ,maka transaksi tersebut tidak sah jika kedua akad
itu(yaitu beli tunai dan beli kredit) menyatu dalam satu kesepakatan jual beli
yang sama.sedangkan yang dimaksud dengan akad-akad yang bersifat
independen adalah semua kontrak yang ada ,tidak saling mempersyaratkan
antara satu dengan yang lain . sehingga semuanya sling terpisah (namun
saling mendukung) ,misalnya ,akad nasabah dengan bank untuk membeli
sebuah tanah ,dengan menggunakan skema pembiayaan murabahah bil
wakalah pada prakteknya ada dua tahap.
pertama Bank membeli tanah dari Developer dengan menunjuk nasabah
sebagai wakilnya (akad wakalah) ,sehingga tanah tersebut biasanya sesuai
dengan keinginan nasabah.tahap kedua ,bank menjual tanah tersebut kepada
nasabah dengan akad murabahah . dalanm hal ini,wakalah bukan merupakan
syarat terjadinya murabahah tetapi mendukung murabahah . demikian pula
dengan pembiayaan multi akad lainnya. pada contoh kasus diatas ,jika
murabahah berdiri sendiri tanpa didampingi wakalah , ada kemungkinan
tanah yang dibeli Bank tidak sesuai dengan keinginan nasabah , sehingga
rumah tersebutmungkin tidak terjual.

BAB III
ENUTUP
Al- Murabahah

berasal dari kata bahasa Arab Al-

ribh(keuntungan).ia dibentuk dengan wazan (pola pembentukan kata)
mufa’alat yang mengandung arti saling. oleh karenanya, secara
terminologi, diartikan dan didefinisikan dengan redaksi yang variatif.
Ahmad al-Syaisy al Qaffal mengatakan, al-murabahat ialah tambahan
terhadap modal

, Bagi al-sayid sabiqMurabahah

penjualan barang

seharga pembelian disertai dengan keuntungan yang dbierikan oleh
pembeli artinya ada tambahan harga dari harga nilai beli.adapun arti
Murabahah

secara

umum

adalah

akad

jual

beli

atas

barang

tertentu,dimana penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada
pembeli kemudian menjual kepada pihak pembeli dengan mensyaratkan
keuntungan yang diharapkan sesuai jumlah tertentu.