Proses Etanolisis Minyak Sawit Dalam Sistem Deep Eutectic Solvent (DES) Berbasis Choline Chloride – Etilen Glikol

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Potensi Minyak Sawit Sebagai Bahan Baku Biodiesel

Tanaman sawit (Elaeis guineensis jacquin) merupakan tanaman yang berasal

dari afrika selatan. Tanaman ini merupakan tanaman penghasil minyak yang paling
efisien dari pada tanaman penghasil minyak lainnya, yaitu hingga 4.5 ton per hektar.

Tanaman sawit dapat menghasilkan 2 jenis minyak, yaitu minyak yang berasal dari
daging dan biji buah sawit. Minyak yang berasal dari daging buah sawit disebut

dengan Crude Palm Oil (CPO), sedangkan yang berasal dari biji buah sawit disebut

dengan Crude Palm Kernel Oil (CPKO). Kandungan asam lemak jenuh pada minyak

sawit hampir sama dengan kandungan asam tidak jenuhnya. Komponen utama yang


terdapat pada minyak sawit adalah asam palmitat (44-45%), asam oleat (39-40%)
dan asam linoleat (10-11%) [17].

Berikut merupakan tabel kandungan asam lemak yang terdapat pada minyak

sawit

Tabel 2.1 Kandungan asam lemak pada buah sawit [17]
Malaysian (1981)a

Mean
Fatty Acids
% by wt

Range

(215 samples )

Malaysian (1990)b


Mean

Range

(215 samples )

Brazilian (1993)c
Mean

Range

(73 samples )

12:0

0,2

0,1-1,0

0,2


0,1-0,4

0,2

Tr-2,6

16:0

44,0

41,8-46,8

44,1

40,9-47,5

39,0

31,9-57,3


18:0

4,5

4,2-5,1

4,4

3,8-4,8

5,0

2,1-6,4

14:0
16:1

1,1
0,1


0,9-1,5

1,1

0,1-0,3

0,2

1,0-1,4
0-0,4

0,8

0,03

Tr-1,3
Tr-0,4

18:1


39,2

37,3-40,8

39,0

36,4-41,2

43,2

33,8-47,5

18:3

0,4

0-0,6

0,3


0-0,6

0,4

Tr-0,7

18:2
20:0

10,1

0,4

9,1-11,0

10,6

0-0,7


0,2

9,2-11,6
0-0,4

11,5
0,01

6,4-14,8

Tr-0,3

6
Universitas Sumatera Utara

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan biodiesel dapat berupa minyak

kanola, kedelai, maupun minyak sawit. Biodiesel biasanya terdiri dari asam lemak
(rantai C14-C22) dan alkohol rantai pendek, misalnya metanol ataupun etanol [3].
2.2


Biodiesel

Biodiesel merupakan suatu energi alternatif yang ramah lingkungan.

Biodiesel mendapatkan menjadi suatu kajian yang menarik di dunia sebagai bahan

bakar yang dicampurkan dengan solar ataupun digunakan langsung pada mesin
diesel. Biodiesel juga merupakan bahan bakar yang dapat diperbaharui karena terbuat

dari minyak hewan ataupun tumbuhan [18; 19]. Hal ini juga menyebabkan biodiesel

menjadi bahan bakar yang biodegradable, tidak beracun, babas kandungan sulfur dan
senyawa aromatik, dan menghasilkan emisi gas buangan yang lebih rendah daripada
bahan bakar konvensional [19].

Saat ini, ada beberapa proses yang sering digunakan dalam pembuatan

biodiesel yaitu : (1) penggunaan langsung dan pencampuran dengan minyak mentah,


(2) mikro-emulsi, (3) secara enzimatis (4) thermal cracking, (5) reaktor ultrasonik,
(6) superkritikal alkohol, (7) menggunakan microwave dan (8) tranesterifikasi [18;
19; 20].

Pembuatan biodiesel menggunakan proses transesterifikasi dilakukan dengan

mencampurkan trigliserida dengan alkohol dan katalis. Alkohol yang umum

digunakan adalah metanol karena harganya yang murah [19]. Namun dalam
pembuatan biodiesel tedapat beberapa masalah, yang paling utama ialah keterbatasan
transfer massa dan laju reaksi yang lambat diakibatkan oleh sistem minyak dan

metanol yang tidak saling melarut, dan yang kedua adalah dalam hal pemurnian
biodiesel hingga dapat digunakan langsung pada mesin. Banyak hal yang telah
dilakukan untuk mengatasi hal tersebut, seperti penggunaan katalis heterogen,

meningkatkan aktifitas katalis hingga penggunaan co-solvent untuk meningkatkan

kelarutan antara minyak dan metanol [12].
2.3


Proses Transesterifikasi Minyak Sawit

Proses pembuatan biodiesel yang paling umum digunakan adalah proses

transesterifikasi yang dilakukan dengan mereaksikan minyak dan alkohol dengan

7
Universitas Sumatera Utara

menggunakan bantuan katalis untuk mempercepat reaksi yang terjadi. Disamping

penggunaan katalis untuk mempercepat reaksi, penggunaan pelarut juga digunakan

sebagai salah satu cara untuk mempercepat reaksi agar mendapatkan hasil yang
optimal.

2.3.1 Transesterifikasi tanpa Menggunakan Pelarut

Proses pembuatan biodiesel yang biasa dilakukan dengan proses yang mudah

serta dapat dikembangkan dalam industri yaitu dengan reaksi alkoholisis
(transesterifikasi). Reaksi alkoholisis merupakan reaksi kimia dari minyak atau

lemak dengan alkohol dengan bantuan katalis asam atau basa yang akan membentuk
ester dan gliserol. Reaksi ini merupakan reaksi reversible yang berurutan dimana
trigliserida dikonversikan menjadi digliserida, digliserida kemudian dikonversikan
menjadi monogliserida dan diikuti pengkonversian monogliserida menjadi gliserol.
Dari masing

masing tahapan tersebut terbentuk ester dan tiga molekul ester

dibentuk dari satu molekul trigliserida [20].

Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut :
katalis

Trigliserida

metanol

metil ester

digliserida

metil ester

monogliserida

katalis

Digliserida

metanol
katalis

Monogliserida

metanol

metil ester

gliserol

Gambar 2.1 Tahapan Reaksi Alkoholisis [20]

8
Universitas Sumatera Utara

Berikut

ini

merupakan

menggunakan katalis basa.

mekanisme

reaksi

transesterifikasi

dengan

Step 1 :

Step 2 :

Step 3 :

Gambar 2.2 Mekanisme reaksi transesterifikasi dengan menggunakan
katalis basa homogen [21]
Katalis berfungsi untuk meningkatkan laju reaksi dan laju reaksi dan yield

dari suatu reaksi. Dalam pembuatan biodiesel yang merupakan reaksi bolak-balik
(reversible), alkohol berlebih digunakan untuk menghambat terjadinya reaksi balik

ke arah reaktan. Katalis yang umum digunakan pada produksi biodiesel melalui
proses transesterifikasi adalah katalis basa yang bersifat homogen, seperti natrium

hidroksida (NaOH), kalium hidroksida (KOH), dan natrium metoksida (NaOCH3).
Penggunaan katalis asam juga dapat digunakan dalam pembuatan biodiesel, akan

tetapi, hal ini dapat menyebabkan korosi pada peralatan yang digunakan dan reaksi

yang berjalan juga lambat [22]. Penggunaan katalis basa yang bersifat homogen pada
pembuatan biodiesel memberikan beberapa dampak negatif, seperti menghasilkan air

buangan dalam jumlah besar dalam proses pemurniannya dan katalis yang tidak
dapat digunakan kembali. Penggunaan katalis basa (seperti NaOH, KOH dan

9
Universitas Sumatera Utara

NaOCH3) juga sangat sensitif terhadap keberadaan air (diatas 2% v/v) maupun asam

lemak bebas pada minyak (diatas 0,05% v/v) yang akan dijadikan biodiesel.
Disamping kerugian menggunakan katalis basa yang bersifat homogen, terdapat

keuntungan penggunaannya, yaitu : (1) reaksi yang berlangsung sangat cepat, (2)
menggunakan energi yang lebih sedikit, dan (3) katalis basa seperti NaOH dan KOH
mudah ditemukan dan harganya murah [20; 22; 23].

2.3.2 Transesterifikasi dengan Menggunakan Pelarut

Dalam reaksi transesterifikasi sendiri juga terdapat masalah yaitu tidak

larutnya fasa minyak dan alkohol yang akan mengganggu jalannya laju reaksi [9].
Berbagai cara yang telah dikembangkan untuk mengatasi masalah ini misalnya

dengan penambahan co-solvent yang dapat meningkatkan kelarutan antara minyak
dan alkohol yang digunakan. Beberapa co-solvent yang telah digunakan dalam proses

pembuatan biodiesel dengan menggunakan katalis homogen adalah tetrahydrofuran

(THF), aseton, dietil eter dan chlorobenzene [8; 9]. Akan tetapi, co-solvent yang

selama ini digunakan dalam pembuatan biodiesel bersifat racun terhadap lingkungan,

sehingga penggunaannya dapat merusak lingkungan apabila digunakan berlebihan.

Penelitian mengenai pelarut yang ramah lingkungan dalam beberapa tahun terakhir
telah menjadi kajian yang sangat strategis dalam teknologi ramah lingkungan [10].

Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan berbahaya dan
mengurangi

polusi

lingkungan.

Banyak

penelitian

yang

dilakukan

untuk

mengembangkan suatu pelarut yang ramah lingkungan, salah satunya ialah Ionic
Liquids (ILs), yang pada awalnya telah menarik banyak perhatian karena sifat fisika

dan kimianya. Namun dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa ILs memiliki

kekurangan dalam hal toksisitas, biodegradibilitas yang rendah dan harga yang mahal
[11]. Salah satu contoh pengembangan mengenai sistem pelarut organik yang murah

dan ramah lingkungan yang dikenal sebagai Deep eutectic solvents (DES) sangat
menarik dikarenakan DES merupakan pelarut yang sangat ramah lingkungan [12].
2.4

Deep Eutectic Solvent (DES)
Ketertarikan

terhadap Deep Eutectic Solvent (DES) sebagai salah satu

terknologi ramah lingkungan untuk pengaplikasiannya dalam industri telah

10
Universitas Sumatera Utara

berkembang dalam beberapa tahun terakhir [24]. DES merupakan suatu pelarut
ramah lingkungan yang saat ini telah banyak diaplikasikan dalam pemrosesan kimia

[12]. Konsep DES pertama kali dikenalkan oleh Abbot et al. Secara umum DES
merupakan suatu jenis pelarut yang terbentuk dari dua campuran yang membentuk

titik eutaktik dan mempunyai titik beku yang jauh lebih rendah daripada masingmasing komponen penyusunnya [11].

Deep Eutectic Solvent (DES) merupakan campuran dari suatu komponen

garam ammonium kuartener dengan suatu senyawa organik yang berfungsi sebagai

hydrogen bond donor (HBD) seperti alkohol, asam, halida, amina, asam amino dan

lain-lain hingga membentuk campuran eutektik [11; 25]. Meskipun memiliki sifat

yang hampir sama dengan Ionic Liqiuds (ILs), akan tetapi, DES tidak dapat

dikatakan sebagai ILs, hal ini dikarenakan : (1) DES tidak terbentuk dari jenis ionik
dan (2) dapat ditemukan dari jenis non-ionik [26]. DES merupakan suatu terobosan

pelarut baru yang murah, mudah diproduksi, dan memiliki tingkat kemurnian yang
tinggi menjadikan DES mempunyai potensi yang besar dalam pengaplikasiannya

dalam skala yang besar [3; 27]. DES sebagai sebuah terobosan pelarut yang baru

mempunyai beberapa kelebihan seperti : (1) bio-degradable, (2) tidak mudah
terbakar, (3) toksisitas rendah, (4) tekanan uap yang rendah, dan (5) stabilitas panas
yang tinggi, (6) harga yang murah (7) mudah disintesis dengan kemurnian yang
tinggi, [11; 25; 28].

melting point of A
melting point of B

liquid L
A+L

B+L
eutectic point
A+B

Gambar 2.4 Diagram Representasi Teori Titik Eutektik Campuran [29]
11
Universitas Sumatera Utara

DES telah banyak digunakan dalam proses pembuatan biodiesel, beberapa

diantaranya dengan menggunakan choline chloride : gliserol, dan choline chloride :

PTSA [12, 14]. Selain penggunaannya sebagai pelarut dalam sintesis biodiesel, DES
juga telah digunakan dalam bidang elektrodeposisi, katalis ataupun pelarut dalam

bidang reaksi kimia, enzimatik, dan sebagai pelarut pada ekstraksi [15]. DES dapat
digunakan sebagai pelarut untuk pembuatan polimer, absorpsi CO2, dan pemurnian

biodiesel [30].

Berikut merupakan gambar ilustrasi pembuatan biodiesel tanpa menggunakan

DES dan dengan menggunakan DES.
a. Tanpa DES

b. Menggunakan DES

Gambar 2.5 Ilustrasi pembuatan biodiesel (a) tanpa menggunakan DES dan (b)
menggunakan DES [12]

Penggunaan DES dalam reaksi pembuatan biodiesel bertujuan untuk

mengubah distribusi fasa komponen pada campuran reaktan yang bertujuan untuk

mengurangi terbentuknya reaksi saponifikasi, dan mempermudah pemisahan dan
pemurnian produk biodiesel [12].

12
Universitas Sumatera Utara

2.5

Sintesis Deep Eutectic Solvent (DES)

Secara umum, DES dibuat dari garam berbasis ammonium ataupun

phosponium. Garam tersebut dicampurkan dengan rasio yang berbeda-beda dengan
HBD nya seperti : alkohol, asam karboksilat, ester, eter, amida, nitrat, maupun asetat
[29]. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pembuatan DES sangat mudah dan

cepat, dan tidak memerlukan pemurnian sama sekali. Proses pembuatan DES yang
telah dilakukan adalah dengan menimbang HBD dan garam kuartener dan
dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang tertutup (hal ini disebabkan karena tingkat

higroskopis bahan yang tinggi sehingga harus diisolasi dari uap air yang ada di

udara), kemudian dilakukan pemanasan dan pengadukan hingga terbentuk cairan
tidak berwarna (biasanya 2 jam pada 60 oC) [31].

Berikut merupakan ilustrasi interaksi antara Hydrogen Bond Acceptor (ChCl) dan

Hydrogen bond Donor (R-OH).

Gambar 2.6 Interaksi antara Hydrogen Bond Acceptor (ChCl) dan Hydrogen bond
Donor (R-OH) [32]
Salah satu contoh DES yang dapat dibentuk ialah dengan menggunakan

campuran choline chloride dan urea dengan perbandingan 1:2 (dengan titik leleh

masing-masing ialah 247 dan 133 oC) menghasilkan DES dengan titik leleh yang
sangat rendah yaitu 12 oC [30]. ChCl menjadi sebuah garam amonium kuaterner

yang bermanfaat hal ini dikarenakan ChCl merupakan garam amonium kuaterner
asimetris dengan gugus fungsi polarnya. Sifat asimetris molekul tersebut akan

mengurangi titik beku molekul cairan ionik, seperti halnya gugus fungsional polar
[29].

13
Universitas Sumatera Utara

2.6

Aplikasi DES dalam Bidang Pembuatan Biodiesel

Penggunaan DES dalam bidang pembuatan biodiesel selain sebagai pelarut

untuk memudahkan pencampuran fasa minyak dengan alkohol juga dapat digunakan
sebagai katalis dan pengekstrak gliserol yang dihasilkan dari reaksi

2.6.1 Penggunaan DES sebagai Katalis dalam Transesterifikasi

Dalam proses transesterifikasi DES dapat digunakan sebagai katalis untuk

mempercepat reaksi. Long, pada tahun 2010 mempublikasikan pengunaan DES
untuk katalis dalam reaksi transesterifikasi dengan menggunakan DES berbasis

ChCl:ZnCl2 (1:2) [33]. Selain sebagai katalis pada reaksi yang bersifat kimia, DES

juga dapat digunakan pada reaksi pembuatan biodiesel dengan menggunakan
biokatalis. Hal ini disebabkan karena DES memiliki beberapa kelebihan diantaranya

harganya yang murah, tidak bersifat racun, biodegradable, lipase-compability (dapat
menaikkan selektivitas lipase hingga 99 %) [34]

2.6.2 Penggunaan DES untuk Pemisahan Gliserol dari Biodiesel Mentah

Selain sebagai katalis dalam reaksi transesterifikasi, DES dapat digunakan

untuk mengekstrak gliserol dari biodiesel mentah sehingga memudahkan pemisahan

dan pemurnian biodiesel. Abbot, pada tahun 2007, melaporkan bahwa DES berbasis
ChCl:Gliserol (1:1) efektif digunakan untuk mengekstrak gliserol yang terdapat pada
biodiesel mentah sehingga memudahkan proses pemisahan [35].

2.6.3 Penggunaan DES sebagai Co-Solvent dalam Pembuatan Biodiesel

Penggunaan DES sebagai co-solvent pada proses pembuatan biodiesel

bertujuan untuk meningkatkan kelarutan antara minyak dengan alkohol sehingga

akan mempercepat transfer massa antara kedua reaktan tersebut [12]. Zhao, pada
tahun 2013 menggunakan DES berbasis ChCl:Gliserol (1:2) sebagai co-solvent pada

pembuatan biodiesel dengan menggunakan reaksi enzimatis [15]. Gu, pada tahun

2015 juga menggunakan DES berbasis ChCl:Gliserol (1:2) sebagai co-solvent pada

pembuatan biodiesel dengan reaksi kimia [12].

Penggunaan co-solvent DES pada bidang pembuatan biodiesel dapat

mempercepat reaksi karena penggunan co-solent itu sendiri dapat mempercepat

14
Universitas Sumatera Utara

transfer massa akibat penurunan tegangan permukaan dari zat yang akan direaksikan

[36]. Tegangan permukaan sangat bergantung dari besarnya interaksi intermolekul
dari suatu zat, apabila interaksi antar molekulnya semakin besar, maka tegangan

permukaan akan semakin kuat [37]. Penggunaan DES dapat menurunkan tegangan
permukaan antara dua campuran cairan yang tidak saling melarut disebabkan oleh

terbentuknya capillary bridge/capillary force pada interfacial area campuran.

Capillary forces merupakan gaya tarik menarik yang terbentuk di area kontak antar

partikel berdekatan. Capillary forces dapat dikatakan sebagai cara dimana salah satu

fasa fluida dapat membentuk meniscus dalam fasa fluida lain. Capillary forces tidak

hanya dapat diakibatkan oleh terbentuknya meniscus, namun juga adanya capillary
bridge oleh cairan didalam cairan lain sehingga dapat melarutkan dua larutan yang

tidak saling melarut [38].
2.7

Potensi Ekonomi

Penggunaan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) memiliki

keuntungan jika digunakan langsung sebagai bahan baku pengunaan biodiesel karena

tidak memerlukan tahapan pemurnian minyak sehingga dapat menekan harga
produksi dari biodiesel itu sendiri. Namun, disamping keuntungan sebagai bahan

baku yang digunakan langsung, CPO juga memiliki beberapa kelemahan karena
tingginya kadar asam lemak bebas dari minyak sawit mentah yang belum di olah

sehingga dapat membentuk sabun yang dapat membentuk emulsi sehingga

mempersulit proses pemisahan yang dilakukan dan biaya produksi juga akan
semakin meningkat.

Deep Eutectic Solvent (DES) berbasis Choline Chloride - etilen glikol dapat

digunakan sebagai co-solvent dalam menanggulangi permasalahan pembuatan

biodiesel dengan menggunakan CPO sebagai bahan baku yang mana memiliki kadar
asam lemak yang sangat tinggi. Dengan penambahan DES, bahan baku CPO dapat

digunakan langsung tanpa proses pemurnian dan hasil yang didapat tidak membentuk
sabun sehingga proses pemisahan yang dilakukanpun lebih mudah. Akan tetapi,
harga choline chloride yang digunakan masih tergolong mahal, sehingga diperlukan

penelitian lebih lanjut untuk penggunaan ulang DES agar dapat menekan harga
produksi biodiesel.

15
Universitas Sumatera Utara