HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS PADA POLI ORTOPEDI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

(1)

HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS PADA POLI ORTOPEDI

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

(Skripsi)

ANISA IKA PRATIWI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG


(2)

PATIENTS OSTEOARTRITIS OF POLY ORTHOPEDIC IN REGIONAL PUBLIC HOSPITAL DR .A .DADI TJOKRODIPO

BANDAR LAMPUNG

Osteoarthritis is a degenerative joint disease that is often founded in Indonesia. Osteoarthritis has a major complaint of pain. Higher pain intensity will affect the quality of life in patients with osteoarthritis. The aim of this study is to determine the relationship between pain intensity and quality of life in patients with osteoarthritis.

Thes research methods was a cross-sectional of performd in patients with osteoarthritis of the poly otropedi in Hospital Dr A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung in November 2014 with a sample of 51 respondents taken by consecutive sampling. The statistic analysis with spearman.

The results showed that of the 51 respondents pain intensity values obtained at most in scale 6 is moderate pain as much as 41.2%. On average value of the quality of life of respondents 4.21, and obtained p value 0.015 which indicated that the correlation between the intensity of pain and quality of life was significant. Where the value of the correlation 0.338 (r = 0.338) indicated that the direction of a positive correlation with the strength of a weak correlation.

From this study it can be concluded that there was a relationship between pain intensity and quality of life in patients with osteoarthritis of the poly otropedi in Hospital Dr A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung.


(3)

ABSTRAK

HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS PADA POLI ORTOPEDI

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif sendi yang sering ditemukan di Indonesia. Osteoarthritis memiliki keluhan utama berupa rasa nyeri. Intensitas nyeri yang semakin tinggi maka akan mempengaruhi kualitas hidup pada pasien osteoarthritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antar intensitas nyeri dan kualitas hidup pada pasien osteoartritis .

Penelitian ini menggunakan metode cross sectional yang dilakukan pada pasien osteoartritis pada poli otropedi di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung pada bulan November 2014 dengan sampel sebesar 51 responden diambil secara consecutive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah spearman.

Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 51 responden diperoleh nilai intensitas nyeri paling banyak di skala 6 yaitu nyeri sedang sebanyak 41,2 %. Pada nilai rata-rata kualitas hidup responden 4,21, dan diperoleh p value 0,015 yang menunjukan bahwa korelasi antara intensitas nyeri dengan kualitas hidup adalah bermakna. Dimana nilai korelasinya 0,338 (r = 0,338) menunjukan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas nyeri dan kualitas hidup pada pasien osteoartritis pada poli otropedi di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung.


(4)

HUBUNGAN INTENSITAS NYERI DAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS PADA POLI ORTOPEDI

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

Oleh Anisa Ika Pratiwi

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015


(5)

(6)

(7)

(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Lampung, Bandar Lampung pada tanggal 18 Agustus 1993, sebagai anak kedua dari dua bersaudara, dari Bapak Bambang Sudarisman dan Ibu Azelia Nusadewiarti.

Pendidikan peenulis dimulai dari pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Al-Kautsar Bandar Lampung diselesiakan pada tahun 1999, Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SD Al-Kautsar Bandar lampung pada tahun 2005, Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMP Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2008, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) diselesaikan di SMA Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2011.

Tahun 2011, penulis terdaftar sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Tertulis. Selama menjadi mahasiswi, penulis pernah aktif mengikuti organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK Unila yaitu sebagai anggota PSDMO dan Danus selama dua periode.


(9)

Untuk mama dan papa atas kasih sayang yang telah di berikan

selama ini, dukungan serta doa, dan nasihat-nasihatnya.

Semoga mama dan papa selalu dilindungi oleh Allah SWT.

PUT YOUR HEART, MIND, AND

SOUL INTO EVEN YOUR SMALLEST

ACTS. THIS IS THE SECRET OF

SUCCESS


(10)

SANWACANA

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang senantiasa mencurahkan segala nikmat-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam senantiasa terhaturkan kepada junjungan kita, Rasululloh SAW.

Skripsi dengan judul “Hubungan Intensitas Nyeri Dan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Pada Poli Ortopedi Di Rsud Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung” merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Kepada para responden, terimakasih banyak telah meluangkan waktunya untuk ikut serta sebagai subjek penelitian dan membantu jalannya penelitian sehingga penelitian ini dapat terwujud.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas Lampung;

3. Bapak Dr. Sutyarso, M. Biomed., selaku Dekan Fakultas Kedoketran Universitas Lampung;


(11)

4. dr. TA. Larasati, M. Kes., selaku Pembimbing Utama atas kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses serta penyelesaian skripsi ini;

5. dr. Rika Lisiswanti, MMedEd., selaku Pembimbing Kedua atas kesediaan memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses serta penyelesaian skripsi ini;

6. dr. Dian Isti Angraini, MPH., selaku Penguji Utama. Terima kasih atas waktu, ilmu, bimbingan serta saran-saran yang telah diberikan;

7. dr. Ety Apriliana, M. Biomed., selaku Pembimbing Akademik. Terima kasih atas bimbingan serta saran-saran yang telah diberikan selama ini.

8. Terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Ibunda (dr. Hj. Azelia Nusadewiarti, MPH), atas kiriman do’anya setiap saat dan setiap sholat, kesabaran, keikhlasan, kasih sayang, perhatian, motivasi, inspirasi dan segala sesuatu yang telah dan akan selalu diberikan kepada penulis. Ayahanda (Ir. Hi. Bambang Sudarisman) yang selalu memberikan do’a, pelajaran hidup, dan semangat berjuang yang tinggi. Kakak Aris Caesariano serta keluarga besar lainnya, terimakasih atas do’a dan motivasi kuat yang telah diberikan; 9. Seluruh staf dosen FK Unila yang telah mendidik, membimbing, dan

membina penulis selama mengikuti perkuliahan dan seluruh staf karyawan FK Unila yang telah mempersiapkan semua sarana dan prasarana yang dibutuhkan selama perkuliahan.

10. Sahabat-sahabatku Rahmat Wisudha Puraka N, Mutiara PS, Jayanti Ulfa, Mizaany AD, Putri Cindy, Yusi Farida, Shinta Rapika, Suci Antari, Soraya


(12)

11. Sahabat, saudara seperjuangan, Resti Ramdani, Dina Rianti Fitri, Fatwa Maratus Solehah, Tanti Yossela, Vandy Ikra, M. Yogie Fadli, Diano Ramadhan dan Danar Fahmi S yang telah membantu, menemani, menyemangati, berbagi dalam banyak hal disaat suka dan duka;

12. Resti Ramdani, Dina Rianti Fitri, Fatwa Maratus Solehah, Tanti Yossela, dan Rahmat Wisudha Puraka N, serta Kak Anggi, Mba Shilda, Mba Pepi, Mba Rika dan seluruh staf di poli ortopedi yang telah membantu, menemani, menyemangati dan berbagi selama penelitian.

13. Angga Alpiansyah, Narita Ekananda, Andini Saraswati, Gilang YP, Putri Rinawati, Budiman yang telah menyemangati dan berbagi selama penelitian. 14. Seluruh keluarga mahasiswa angkatan 2011 yang tidak bisa disebutkan satu

persatu atas canda, tawa, masalah, bahagia, kemudahan, konflik dll. selama 3,5 tahun, semoga semua cerita itu dapat menjadi warna tersendiri dan dapat memberikan makna atas kebersamaan yang terjalin baik sekarang maupun kedepan nanti;

15. Kakak-kakak dan adik-adik tingkat (angkatan 2002–2014), yang sudah memberikan semangat kebersamaan dalam satu kedokteran.


(13)

Penulis menyadari skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Namun, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan baru kepada setiap orang yang membacanya. Semoga segala perhatian, kebaikan dan keikhlasan yang diberikan selama ini mendapat balasan dari Allah SWT. Terima kasih.

Bandar Lampung, 13 Januari 2015 Penulis


(14)

DAFTAR ISI

Halaman COVER LUAR

ABSTRAK BAHASA INGGRIS ABSTRAK BAHASA INDONESIA COVER DALAM

LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP PERSEMBAHAN

SANWACANA

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR TABEL ... iv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Osteoarthritis (OA) ... 6

2.1.1. Pengertian Osteoarthritis ... 6

2.1.2. Etiologi ... 7

2.1.3. Patofisiologi Osteoarthritis ... 9


(15)

2.1.5. Diagnosis Osteoarthritis ... 13

2.1.6. Penatalaksanaan Osteoarthritis... 17

2.2.Intensitas Nyeri ... 19

2.2.1. Pengertian Nyeri ... 19

2.2.2. Klasifikasi Nyeri ... 19

2.2.3. Proses Terjadi Nyeri ... 20

2.2.4. Faktor Yang Mempengaruhi ... 22

2.2.5. Tolak Ukur Intensitas Nyeri ... 25

2.3.Kualitas Hidup ... 29

2.3.1. Pengertian Kualitas Hidup ... 29

2.3.2. Domain Kualitas Hidup ... 34

2.3.3. Tolak Ukur Kualitas Hidup ... 36

2.4.Kerangka Teori ... 43

2.5.Kerangka Konsep ... 44

2.6.Hipotesis ... 44

III. METODE PENELITIAN ... 45

3.1. Desain Penelitian ... 45

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 45

3.3. Populasi dan Sampel ... 45

3.4. Identifikasi Variabel ... 46

3.5. Metode Pengumpulan Data ... 47

3.6. Definisi Operasional ... 47

3.7. Alat Penelitian dan Cara Penelitian ... 48

3.7.1. Alat Penelitian ... 48

3.7.2. Cara Pengambilan Data ... 48

3.8. Alur Penelitian ... 49

3.9. Pengolahan dan Analisis Data ... 49

3.9.1. Pengolahan Data ... 49

3.9.2. Analisis Data ... 50

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 51

4.1. Hasil Penelitian ... 51

4.2. Pembahasan ... 56

V. SIMPULAN DAN SARAN ... 65

5.1. Simpulan ... 65

5.2. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Gambaran Osteoartritis ... 11

2. Perbandingan sendi normal dan sendi pada OA ... 15

3. Numeric Rating Scale ... 26

4. Visual analog Scale ... 26

5. Wong Baker FACES Pain Scale ... 27

6. Kerangka Teori ... 43

7. Kerangka Konsep ... 44


(17)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Klasifikasi radiografi OA menurut kriteria Kellgren-Lawrence ... 16

2. Definisi Operasional ... 47

3. Distribusi Frekuensi umur responden ... 52

4. Distribusi Frekuensi jenis kelamin responden ... 52

5. Distribusi Frekuensi pekerjaan responden ... 53

6. Distribusi Frekuensi intensitas nyeri responden ... 54

7. Rerata intensitas nyeri responden ... 54

8. Rerata nilai kualitas hidup responden ... 55


(18)

1 1.1.Latar Belakang

Osteoarthritis (OA) masih merupakan masalah kesehatan utama. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa OA merupakan salah satu penyebab utama kegagalan fungsi yang mengurangi kualitas hidup manusia di dunia. Masalah ini menjadi semakin besar karena peningkatan nilai harapan kualitas hidup. Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak (Price dan Wilson, 2013). Disebut juga penyakit sendi degeneratif, merupakan gangguan sendi yang tersering. Kelainan ini sering menjadi bagian dari proses penuaan dan merupakan penyebab penting cacat fisik pada orang berusia di atas 65 tahun (Robbins, 2007). Karena sifatnya yang kronik progresif, OA berdampak pada sosio ekonomi yang besar di negara maju dan di negara berkembang (Helmtrud et al., 2007).

Prevalensi dari penyakit sendi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan di Indonesia 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala 24,7%. Prevalensi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Bali (19,3%), diikuti Aceh (18,3 %), Jawa Barat (17,5%), dan Papua (15,4%). Prevalensi penyakit sendi berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan atau gejala tertinggi di Nusa Tenggara Timur (33,1%), diikuti Jawa Barat (32,1%), dan Bali (30%). Prevalensi Lampung memiliki angka prevalensi penyakit sendi berdasarkan


(19)

2

diagnosis dokter atau tenaga kesehatan pada umur ≥ 15 tahun yaitu 11,5% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan., 2013).

Nyeri menjadi gejala utama terbesar pada sendi yang mengalami OA (Helmtrud et al., 2007). Nyeri merupakan suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Pada umumnya orang mempresepsikan bahwa nyeri adalah fenomena yang murni tanpa mempertimbangkan bahwa nyeri juga mempengaruhi homeostasis tubuh yang akan menimbulkan stres untuk memulihakan homeostasis tersebut (Melzack, 2009). Oleh karena itu, penyakit ini dapat menyebabkan disabilitas sebagai akibat dari nyeri, kekakuan sendi dan proses inflamasi, sehingga mengganggu aktifitas sehari-hari dan menimbulkan dampak sosial ekonomi yang berat serta mempengaruhi kualitas hidup penderita (Felson, 2009). Kualitas hidup sudah merupakan masalah prioritas bagi banyak negara (Molnar, 2009).

Kualitas hidup adalah persepsi individu dari posisi mereka dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai didalamnya, dimana mereka hidup dan dalam hubungan dengan tujuan mereka, harapan, standar dan keprihatinan (World Health Organization Quality Of Life, 2012). Kualitas hidup seseorang dapat di ukur dengan menggunakan WHO Quality Of Life -BREF (WHOQOL--BREF). Pada tahun 1991, Bagian Kesehatan Jiwa WHO memulai proyek organisasi kualitas kehidupan dunia. Tujuan dari proyek ini adalah untuk mengembangkan suatu instrumen penilaian kualitas hidup yang


(20)

dapat dipakai secara nasional dan secara antar budaya (World Health Organization Quality Of Life, 2012). Bahwa pada dasarnya menyusun konsep mengenai kualitas hidup adalah hal yang sulit (Molnar, 2009). Meskipun secara umum kualitas hidup menggambarkan individual dari suatu masyarakat (Nofitri, 2009).

Keluhan nyeri masing-masing individu pada penderita OA berbeda berdasarkan intensitas nyeri yang dirasakan, semakin berat intensitas nyeri yang dirasakan akan semakin mempengaruhi kenyamaan, emosional, serta aktifitas fisik penderita yang secara langsung mempengaruhi kualitas hidup pada pasien OA.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. A. Dadi Tjokrodipo merupakan rumah sakit tipe C, yang merupakan tempat rujukan dari puskesmas di Bandar Lampung dikarenakan era Badan Peyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Rumah sakit tersebut memiliki dokter spesialis penyakit dalam dan bedah ortopedi sehingga memungkinkan untuk dijadikan tempat rujukan kasus-kasus OA. Dari laporan rumah sakit didapatkan banyak kasus mengenai laporan penderita OA. Maka dari itu peneliti memilih RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo sebagai tempat penelitian, untuk megetahui apakah intensitas nyeri pada pasien OA di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo berpengaruh pada kualitas hidup pasien.


(21)

4

Dari uraian di atas peneliti bermaksud mengadakan penelitian mengenai “Hubungan Antara Intensitas Rasa Nyeri Terhadap Kualitas Hidup Pada Pasien Osteoartritis di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo pada tahun 2013”

1.2.Rumusan Permasalahan

Berdasarkan dari uraian latar belakang masalah dan yang telah di jabarkan di atas, dapat di rumuskan suatu permasalahan, yaitu :

1. Bagaimanakah hubungan antara tingkat intensitas nyeri yang dirasakan dengan kualitas hidup pada seseorang pasien yang menderita OA ?

1.3.Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan intensitas nyeri dan kualitas hidup pada pasien OA di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo.

b. Tujuan Khusus

1. Mengetahui intensitas nyeri pada pasien OA di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo.

2. Mengetahui kualitas hidup pada pasien OA di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo.

3. Mengetahui hubungan antara intensitas rasa nyeri terhadap kualitas hidup pada pasien OA di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo.


(22)

1.4.Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Bagi peneliti, menambah ilmu pengetahuan di bidang ilmu kedokteran komunitas.

2. Bagi institusi, Bagi institusi kampus yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.dapat menambah bahan kepustakaan mengenai hubungan intensitas nyeri dan kualitas hidup pasien OA dalam lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

3. Penelitian ini juga diharapkan dapat berguna sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.


(23)

6

Intensitas nyeri Diukur dengan NRS (Numeric Rating Scale)

Kualitas Hidup Diukur dengan AIMS2-SF (Arthritis Impac Measurement

Scale) 1.5. Kerangka teori

Faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri

 Usia  Perhatian  Ansietas  Makna nyeri

 Pengalaman masa lalu  Dukungan keluarga  dan sosial

Osteoartritis (OA)

Kesehatan fisik Psikologis

Hubungan Sosial

Lingkungan

Gambar. 1. Faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri dan kualitas hidup (Smeltzer and Bare (2002), WHOQOL, 2012)


(24)

1.6. Kerangka konsep

Gambar. 2. Kerangka Konsep

1.7. Hipotesis

Terdapat hubungan intensitas nyeri dan kualitas hidup pasien OA pada RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung.

Intensitas nyeri pada pasien OA


(25)

8 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Osteoarthritis

2.1.1. Pengertian Osteoarthritis

Osteoartritis adalah gangguan pada sendi yang bergerak (Price dan Wilson, 2013). Disebut juga penyakit sendi degeneratif, merupakan ganguan sendi yang tersering. Kelainan ini sering menjadi bagian dari proses penuaan dan merupakan penyebab penting cacat fisik pada orang berusia di atas 65 tahun (Robbins, 2007). Sendi yang paling sering terserang oleh osteoarthritis adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan sevikal, dan sendi-sendi pada jari (Price dan Wilson, 2013).

Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada permukaan persendian. Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum, dengan jumlah pasiennya sedikit melampaui separuh jumlah pasien arthritis. Gangguan ini sedikit lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki (Price dan Wilson, 2013). Hal yang sama juga ditemukan dalam penelitian Zhang Fu-qiang et al. (2009) di Fuzhou yang menunjukkan peningkatan prevalensi lebih


(26)

tinggi pada perempuan jika dibandingkan dengan laki-laki yaitu sebesar 35,87%.

2.1.2. Etiologi

Faktor resiko pada osteoarthritis, meliputi hal-hal sebagai berikut. 1. Peningkatan usia, OA biasanya terjadi pada usia lanjut, jarang

dijumpai penderita OA yang berusia di bawah 40 tahun (Helmi, 2012). Di Indonesia, prevalensi OA mencapai 5% pada usia < 40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia > 61 tahun (Soeroso et al., 2009).

2. Obesitas, membawa beban lebih berat akan membuat sendi sambungan tulang berkerja lebih berat, diduga memberi andil terjadinya AO (Helmi, 2012). Serta obesitas menimbulkan stres mekanis abnormal, sehingga meningkatkan frekuensi penyakit (Robbins, 2007).

3. Jenis kelamin wanita (Helmi, 2012). Perkembangan OA sendi-sendi interfalang distal tangan (nodus Heberden) lebih dominan pada perempuan. Nodus Heberdens 10 kali lebih sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki (Price dan Wilson, 2013). Kadar estrogen yang tinggi juga dilaporkan berkaitan dengan peningkatan resiko (Robbins, 2007). Hubungan antara estrogen dan pembentukan tulang dan prevalensi OA pada perempuan menunjukan bahwa hormon memainkan peranan aktif dalam perkembangan dan


(27)

10

progresivitas penyakit ini (Price dan Wilson, 2013). Wanita yang telah lanjut usia atau di atas 45 tahun telah mengalami menopause sehingga terjadi penurunan estrogen. Estrogen berpengaruh pada osteoblas dan sel endotel. Apabila terjadi penurunan estrogen maka TGF-β yang dihasilkan osteoblas dan nitric oxide (NO) yang dihasilkan sel endotel akan menurun juga sehingga menyebabkan diferensiasi dan maturasi osteoklas meningkat. Estrogen juga berpengaruh pada bone marrow stroma cell dan sel mononuklear yang dapat menghasilkan HIL-1, TNF-α, IL-6 dan M-CSF sehingga dapat terjadi OA karena mediator inflamasi ini. Tidak hanya itu, estrogen juga berpengaruh pada absorbsi kalsium dan reabsorbsi kalsium di ginjal sehingga terjadi hipokalasemia. Kedaan hipokalasemia ini menyebabkan mekanisme umpan balik sehingga meningkatkan hormon paratiroid. Peningkatan hormon paratiroid ini juga dapat meningkatkan resobsi tulang sehingga dapat mengakibatkan OA (Ganong, 2008).

4. Trauma, riwayat deformitas sendi yang diakibatkan oleh trauma dapat menimbulkan stres mekanis abnormal sehingga menigkatkan frekuensi penyakit (Helmi, 2012 ; Robbins, 2007).

5. Faktor genetik juga berperan dalam kerentanan terhadap OA, terutama pada kasus yang mengenai tangan dan panggul. Gen atau gen-gen spesifik yang bertanggung jawab untuk ini belum


(28)

terindentifikasi meskipun pada sebagian kasus diperkirakan terdapat keterkaitan dengan kromosom 2 dan 11 (Robbins, 2007). Beberapa kasus orang lahir dengan kelainan sendi tulang akan lebih besar kemungkinan mengalami OA (Helmi, 2012).

2.1.3. Patofisiologi

Osteoartritis terjadi akibat kondrosit (sel pembentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi) gagal dalam memelihara keseimbangan antara degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, sehingga terjadi perubahan diameter dan orientasi serat kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, yang menjadikan tulang rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik (Price dan Wilson, 2013). Selain kondrosit, sinoviosit juga berperan pada patogenesis OA, terutama setelah terjadi sinovitis, yang menyebabkan nyeri dan perasaan tidak nyaman. Sinoviosit yang mengalami peradangan akan menghasilkan Matrix Metalloproteinases (MMPs) dan berbagai sitokin yang akan dilepaskan ke dalam rongga sendi dan merusak matriks rawan sendi serta mengaktifkan kondrosit. Pada akhirnya tulang subkondral juga akan ikut berperan, dimana osteoblas akan terangsang dan menghasilkan enzim proteolitik (Robbins, 2007).

Perkembangan osteoarthritis terbagi atas tiga fase, yaitu sebagai berikut.


(29)

12

1. Fase 1

Terjadi penguraian proteolitik pada matrik kartilago. Metabolisme kondrosit menjadi terpangaruh dan meningkatkan produksi enzim seperti metalloproteinases yang kemudian hancur dalam matriks kartilago. Kondrosit juga memproduksi penghambat protease yang akan mempengaruhi proteolitik. Kondisi ini memberikan manifestasi pada penipisan kartilago.

2. Fase 2

Pada fase ini terjadi fibrilasi dan erosi dari permukaan kartilago, disertai adanya pelepasan proteoglikan dan fragmen kolagen ke dalam cairan sinovia.

3. Fase 3

Proses penguaraian dari produk kartilago yang menginduksi respon inflamasi pada sinovia. Produksi makrofag sinovia seperti interleukin 1 (IL 1), tumor necrosis factor-alpha (TNFα), dan metalloproteinases menjadi meningkat. Kondisi ini memberikan manifestasi balik pada kartilago dan secara langsung memberikan dampak destruksi pada kartilago. Molekul-molekul pro-inflamasi lainnya seperti nitric oxide (NO) juga terlibat. Kondisi ini memberikan manifestasi perubahan arsitektur sendi, dan memberikan dampak terhadap pertumbuhan tulang akibat stabilitas sendi. Perubahan arsitektur sendi dan stres inflamasi memberikan


(30)

pengaruh pada permukaan artikular menjadikan kondisi gangguan yang progresif (Helmi, 2012).

Gambar. 3. Gambaran Osteoartritis (Price dan Wilson, 2013).

Osteoartritis pernah dianggap sebagai kelainan degeneratif primer dan kejadian natural akibat proses ”wear and tear” pada sendi sebagai hasil dari proses penuaan. Tetapi, temuan-temuan yang lebih baru dalam bidang biokimia dan biomekanik telah menyanggah teoari ini. Osteoartritis adalah sebuah proses penyakit aktif pada sendi yang dapat mengalami perubahan oleh manipulasi mekanik dan biokimia. Terdapat efek penuaan pada komponen sistem muskuloskeletal seperti kartilago artikular, tulang, dan jaringan yang memungkinkan meningkatnya kejadian beberapa penyakit seperti OA (Price dan Wilson, 2013).

Untuk melindungi tulang dari gesekan, di dalam tubuh ada tulang rawan. Namun karena berbagai faktor risiko yang ada, maka terjadi


(31)

14

erosi pada tulang rawan dan berkurangnya cairan pada sendi. Tulang rawan sendiri berfungsi untuk menjamin gerakan yang hampir tanpa gesekan di dalam sendi berkat adanya cairan sinovium dan sebagai penerima beban, serta meredam getar antar tulang (Robbins, 2007). Tulang rawan yang normal bersifat avaskuler, alimfatik, dan aneural sehingga memungkinkan menebarkan beban keseluruh permukaan sendi. Tulang rawan matriks terdiri dari air dan gel (ground substansi), yang biasanya memberikan proteoglikan, dan kolagen (Hassanali, 2011).

2.1.4. Klasifikasi Osteoarthritis

Berdasarkan patogenesisnya OA dibedakan menjadi OA primer dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik adalah OA yang kausanya tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. OA sekunder adalah OA yang didasari oleh adanya perubahan degeneratif yang terjadi pada sendi yang sudah mengalami deformitas, atau degenerasi sendi yang terjadi dalam konteks metabolik tertentu (Robbins, 2007). Selain dari jenis osteoarthritis yang lazim, ada beberapa varian lain. OA peradangan erosif terutama menyerang sendi pada jari-jari dan berhubungan dengan episode peradangan akut yang menimbulkan deformitas dan alkilosis. Hiperostosis alkilosis menimbulkan penulangan vertebra (Price dan Wilson, 2013).


(32)

2.1.5. Diagnosis Osteoartritis

Osteoarthritis biasanya didasarkan pada anamnesis yaitu riwayat penyakit, gambaran klinis dari pemeriksaan fisik dan hasil dari pemeriksaan radiologis. Anamnesis terhadap pasien osteoartritis lutut umumnya mengungkapkan keluhan-keluhan yang sudah lama, tetapi berkembang secara perlahan-lahan. Keluhan-keluhan pasien meliputi nyeri sendi yang merupakan keluhan utama yang membawa pasien ke dokter, hambatan gerakan sendi, kaku pagi yang timbul setelah imobilitas, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan (Soeroso et al., 2006). Nyeri sendi merupakan keluhan utama yang dirasakan setelah aktivitas dan menghilang setelah istirahat. Bila progresifitas OA terus berlangsung terutama setelah terjadi reaksi radang (sinoritis) nyeri akan terasa saat istirahat. Sedangkan istirahat ataupun immobilisasi yang lama dapat menimbulkan efek-efek pada jaringan ikat dan kekuatan penunjang sendi. Bila akut dapat ditemukan tanda-tanda radang: rubor (merah), tumor (membengkak), calor (terasa panas), dolor (terasa nyeri), dan fuctio laesa (gangguan fungsi) yang jelas (Paranatha, 2012).

Kriteria diagnosis dari OA lutut berdasarkan American College of Rheumatology yaitu adanya nyeri pada lutut dan pada foto rontgen ditemukan adanya gambaran osteofit serta sekurang kurangnya satu dari usia > 50 tahun, kaku sendi pada pagi hari < 30 menit dan


(33)

16

adanya krepitasi. Nyeri pada sendi tersebut biasanya merupakan keluhan utama yang membuat pasien datang ke dokter. Nyeri biasanya bertambah berat dengan gerakan dan berkurang dengan istirahat. Pada umumnya pasien OA mengatakan bahwa keluhannya sudah berlangsung lama tetapi berkembang secara perlahan. Daerah predileksi OA biasanya mengenai sendi – sendi penyangga tubuh seperti di pada lutut. Pada pemeriksaan fisik, pada pasien OA ditemukan adanya gerak sendi baik secara aktif maupun pasif. Selain itu biasanya terdengar adanya krepitasi yang semakin jelas dengan bertambah beratnya penyakit. Gejala ini disebabkan karena adanya pergesekan kedua permukaan tulang sendi pada saat sendi digerakkan atau secara pasif dimanipulasi (American College of Rheumatology, 2012). Hambatan gerak yang seringkali sudah ada meskipun secara radiologis masih berada pada derajat awal dapat ditemukan pada pemeriksaan fisik. Selain itu dapat ditemukan adanya krepitasi, pembengkakan sendi yang seringkali asimetris (Soeroso et al., 2006). Nyeri tekan tulang, dan tak teraba hangat pada kulit (American College of Rheumatology, 2012).

Sedangkan gambaran berupa penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris, peningkatan densitas tulang subkondral, kista tulang, osteofit pada pinggir sendi, dan perubahan struktur anatomi sendi dapat ditemukan pada pemeriksaan radiologis yang menggunakan pemeriksaan foto polos (Soeroso et al., 2006).


(34)

Diagnosis OA selain berdasarkan gejala klinis juga didasarkan pada hasil radiologi. Namun pada awal penyakit , radiografi sendi seringkali masih normal. Adapun gambaran radiologis sendi yang menyokong diagnosis OA adalah:

1. Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung beban).

2. Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral. 3. Kista tulang.

4. Osteofit pada pinggir sendi.

5. Perubahan struktur anatomi sendi (Soeroso et al., 2006).


(35)

18

Tabel 1. Klasifikasi radiografi osteoartritis menurut kriteria Kellgren-Lawrence

Derajat Klasifi kasi Gambaran Radiografis

0 Normal Tidak ada gambaran

radiografis yang abnormal

1 Meragukan Tampak Osteofit kecil

2 Minimal Tampak osteofit, celah

sendi normal

3 Sedang Osteofit jelas,

penyempitan celah sendi

4 Berat Penyempitan celah sendi

berat dan adanya sklerosis

Evaluasi progresivitas penyakit atau hasil pengobatan OA sampai sekarang didasarkan pada pengamatan klinik dan radiografik sendi yang terkena. Disadari kedua parameter tersebut tak dapat memberikan penilaian yang sensitif untuk perkembangan kerusakan rawan sendi OA. Parameter laboratorik yang banyak dipergunakan adalah pengukuran kadar C-reactive protein (CRP) dan laju endap darah (LED) yang hasilnya normal atau sedikit meningkat dan rheuma factor (RF) negatif (Sumual, 2012).

Bila dicurigai terdapat robekan meniskus atau ligamen, dapat dilakukan pemeriksaan MRI yang akan menunjukkan gambaran tersebut lebih jelas. Walaupun demikian, MRI bukan alat diagnostik yang rutin, karena mahal dan seringkali tidak merubah rancangan terapi. Gambaran laboratorium umumnya normal. Bila


(36)

dilakukan analisis cairan sendi juga didapatkan gambaran cairan sendi yang normal. Bila didapatkan peninggian jumlah leukosit, perlu dipikirkan kemungkinan artropati kristal atau artritis inflamasi atau artritis septik (Price dan Wilson, 2007).

2.1.6. Penatalaksanaan 2.1.6.1 Konservatif

1. Pendidikan kesehatan mengenai hal berikut ini.

a. Aktivitas yang menurunkan tekanan berulang pada sendi

b. Upaya dalam penurunan berat badan.

2. Terapi fisik.

Osteoarthritis pada lutut akan menyebabkan kondisi disuse atrofi pada otot kuadriseps. Latihan kekuatan otot akan menurunkan kondisi disuse atrofi. Latihan fisik juga akan membantu dalam upaya penurunan berat badan dan meningkatkan daya tahan.

3. Terapi obat simtomatis

a. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) adalah obat-obat yang digunakan untuk mengurangi nyeri dan peradangan pada sendi-sendi. Contoh-contoh dari NSAIDs termasuk aspirin dan ibuprofen. Saat ini obat pilihan utama yang digunakan dalam


(37)

20

terapi osteoarthritis adalah natrium diklofenak. Adakalanya adalah mungkin untuk menggunakan NSAIDs untuk sementara dan kemungkinan menghentikan mereka untuk periode-periode waktu tanpa gejala-gejala yang kambuh, dengan demikian mengurangi resiko-resiko efek samping.

b. Analgetik seperti tramadol.

c. Obat relaksasi otot (muscle relaxants). d. Injeksi glukokortikoid intraartrikular.

2.1.6.2 Intervensi Bedah

Operasi umumnya direncanakan untuk pasien-pasien dengan osteoarthritis yang terutama parah dan tidak merespons pada perawatan-perawatan konservatif. Beberapa prosedur yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Antroskopi. 2. Osteotomi.

3. Fusion (arthrodesis)

4. Penggantian sendi (artroplasti) (Helmi, 2012).

Tujuan pengobatan pada pasien OA adalah untuk mengurangi gejala dan mencegah terjadinya kontraktur atau atrofi otot. Terapi OA pada umumnya simptomatik, misalnya dengan pengendalian faktor-faktor resiko, latihan


(38)

intervensi fisioterapi dan terapi farmakologis. Pada fase lanjut sering diperlukan pembedahan (Imayati, 2011).

2.2. Intensitas nyeri

2.2.1. Pengertian Nyeri

Nyeri adalah suatu sensasi yang disebabkan karena rusaknya jaringan, bisa dikulit sampai jaringan yang paling dalam. International Association for the Study of Pain, mendefinisikan nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian dimana terjadi kerusakan. Pada umumnya orang mempersepsikan bahwa nyeri adalah fenomena yang murni tanpa mempertimbangkan bahwa nyeri juga mempengaruhi homeostatis tubuh yang akan menimbulkan stres untuk memulihkan homeostasis tersebut (Melzack, 2009).

2.2.2. Klasifikasi nyeri

Menurut Darmojo (2006), berdasarkan pada sifatnya nyeri dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Nyeri tajam merupakan perasaan yang menyengat, rangsangannya sangat cepat dijalarkan ke pusat. Biasanya terdapat di kulit dan tidak terus menerus.


(39)

22

b. Nyeri tumpul merupakan rasa sakit di kulit sampai jaringan yang lebih dalam, terasa menyebab dan lambat dijalarkan ke pusat dan sifatnya terus menerus.

Sedangkan menurut derajatnya, nyeri dibagi dua, yaitu :

a. Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.

b. Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak diketahui penyebabnya yang pasti.

2.2.3. Proses terjadinya nyeri

Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Ganong, 2008).

a. Proses Transduksi

Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima


(40)

ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpusculum paccini, golgi mazoni). Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin, dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Ganong, 2008).

b. Proses Transmisi

Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis, dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih difus dan melibatkan emosi. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Ganong, 2008).

c. Proses Modulasi

Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri


(41)

24

yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. Analgesik endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Dimana kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Ganong, 2008).

d. Persepsi

Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi, transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri, yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari sensorik (Ganong, 2008).

2.2.4.Faktor-faktor yang mempengaruhi

Menurut peneliti bahwa setiap nyeri yang dirasakan oleh individu masing-masing sangatlah berbeda-beda, sesuai dengan persepsi individu dalam merasakan nyeri yang dialaminya, beradasarkan karena faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri itu sendiri, dalam teori Smeltzer and Bare (2002) dalam lukman (2013). Penelitian Lukman tersebut, menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri berasal dari usia, perhatian, ansietas, makna nyeri, pengalaman masa lalu dan dukungan keluarga dan sosial.


(42)

1. Usia

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri, Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena mereka menganggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan (Potter&Perry, 2005).

2. Perhatian

Menurut Gill (1990) dalam Potter dan Perry (2005) tingkat seorang memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan upaya distraksi/relaksasi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.

3. Ansietas

Menurut Gil (1990) dalam Potter dan Perry (2005), hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks. Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi juga seringkali menimbulkan suatu perasaan ansietas.

4. Makna nyeri

Menurut Potter&Perry (2005), individu akan mempersepsikan dengan cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu kehilangan, hukuman, dan tantangan. Derajat dan kualitas nyeri


(43)

26

akibat cedera karena hukuman dan tantangan. Makna nyeri oleh seseorang akan berbeda jika pengalamannya tentang nyeri juga berbeda. Selain pengalaman, makna nyeri juga dapat ditentukan dari cara seseorang beradaptasi terhadap nyeri yang dialami. Misalnya, seseorang wanita yang sedang bersalin akan mempersepsikan nyeri yang berbeda dengan seorang wanita yang mengalami nyeri akibat cedera pukulan pasangannya.

5. Pengalaman masa lalu

Menurut Priyanto (2009), seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

6. Dukungan keluarga dan sosial

Dalam penelitian, peneliti menemukan dukungan keluarga dan sosial, sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi nyeri. Dukungan keluarga dan sosial sangatlah penting bagi individu yang mengalami nyeri, karena dengan keadaan nyeri, seorang individu akan sangat bergantung kepada anggota keluarga dan teman dekat, untuk memperoleh dukungan, bantuan dan perlindungan.


(44)

2.2.5. Tolak ukur intensitas nyeri

Menurut teori tentang persepsi nyeri individu yang berbeda-beda dalam hal skala dan tingkatannya dijelaskan oleh Musrifatul dan Hidayat (2011), yang menyatakan bahwa nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya.

a. Tolak ukur nyeri dapat menggunakan Numeric Rating Scale

1. Indikasi: digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya.

2. Instruksi: pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 – 10. 0 = tidak nyeri

1 – 3 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari) 4 – 6 = nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari)

7 – 10 = nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari)


(45)

28

Gambar. 5. Numeric Rating Scale (Lukman, 2013). b. Visual Analogue Scale (VAS)

Visual Analogue Scale merupakan alat pengukuran intensitas nyeri yang dianggap paling efisien yang telah digunakan dalam penelitian dan pengaturan klinis. Visual Analogue Scale (VAS) umumnya disajikan dalam bentuk garis horisontal. Dalam perkembangannya VAS menyerupai NRS yang cara penyajiannya diberikan angka 0-10 yang masing-masing nomor dapat menunjukkan intensitas nyeri yang dirasakan oleh pasien.

Gambar.6. Visual Analogue Scale(VAS) (Lukman, 2013).

c. Wong BakerFacesPain Scale

1. Indikasi: Pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak dapat menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan instrumen ini.


(46)

2. Instruksi: pasien diminta untuk menunjuk / memilih gambar mana yang paling sesuai dengan yang dirasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri.

0 - 1 = sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali 2 – 3 = sedikit nyeri

4 – 5 = cukup nyeri 6 – 7 = lumayan nyeri 8 – 9 = sangat nyeri

10 = amat sangat nyeri (tak tertahankan)

Gambar. 7. Wong BakerFacesPain Scale (Lukman, 2013). d. COMFORT scale

1. Indikasi: pasien bayi, anak, dan dewasa di ruang rawat intensif / kamar operasi / ruang rawat inap yang tidak dapat dinilai menggunakan Numeric Rating Scale, Wong-Baker Faces Pain Scale.

2. Instruksi: terdapat 9 kategori dengan setiap kategori memiliki skor 1-5, dengan skor total antara 9 – 45.

1. Kewaspadaan 2. Ketenangan

3. Distress pernapasan 4. Menangis


(47)

30

5. Pergerakan 6. Tonus otot 7. Tegangan wajah 8. Tekanan darah basal 9. Denyut jantung basal

e. Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedasi sedang, asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri.

f. Asesmen ulang nyeri: dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam dan menunjukkan adanya rasa nyeri, sebagai berikut:

1. Lakukan asesmen nyeri yang komprensif setiap kali melakukan pemeriksaan fisik pada pasien

2. Dilakukan pada: pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah tatalaksana nyeri, setiap empat jam (pada pasien yang sadar/ bangun), pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum transfer pasien, dan sebelum pasien pulang dari rumah sakit. 3. Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan

penilaian ulang setiap 5 menit setelah pemberian nitrat atau obat-obat intravena

4. Pada nyeri akut / kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit – 1 jam setelah pemberian obat nyeri.


(48)

g. Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai menimbulkan perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis medis atau bedah yang baru (misalnya komplikasi pasca-pembedahan, nyeri neuropatik).

2.3. Kualitas Hidup

2.3.1. Pengertian Kualitas Hidup

Kualitas hidup adalah persepsi individu dari posisi mereka dalam kehidupan, dalam konteks budaya dan sistem nilai didalamnya, dimana mereka hidup dan dalam hubungan dengan tujuan mereka, harapan, standar dan keprihatinan (World Health Organization Quality Of Life, 2012). Sedangkan menurut Sarafino (1994) yang dikutip Rachmawati (2013) kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka. Keunggulan individu tersebut biasa-nya dapat dinilai dari tujuan hidupnya, kontrol pribadinya, hubungan interpersonal, perkembangan pribadi, intelektual dan kondisi materi (Rachmawati, 2013), dan menurut Gill & Feinstein (1994) kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu tentang posisinya dalam kehidupan, dalam hubungannya dengan sistem budaya dan nilai setempat dan berhubun-gan denberhubun-gan cita-cita, pengharapan, dan pandanberhubun-gan-pandanberhubun-gannya, yang merupakan pengukuran multidimensi, tidak terbatas hanya pada efek fisik maupun psikologis pengobatan (Rachmawati¸ 2013).


(49)

32

Dikutip dari kualitas hidup menurut Dudgeeon dan Schipper (1999), kualitas hidup mencakup :

a. Gejala fisik

b. Kemampuan fungsional (aktivitas) c. Kesejahteraan keluarga

d. Spiritual e. Fungsi sosial

f. Kepuasan terhadap pengobatan (termasuk masalah keuangan) g. Orientasi masa depan

h. Kehidupan seksual, termasuk gambaran terhadap diri sendiri i. Fungsi dalam bekerja (Departmen Kesehatan RI, 2007).

Secara awam, kualitas hidup berkaitan dengan pencapaian kehidupan manusia yang ideal atau sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Molnar (2009) dengan melihat kualitas hidup suatu individu dapat diketahui posisi individu tersebut dalam hubungannya dengan kondisi yang diinginkan atau ideal.

Kualitas hidup merupakan suatu bentuk multidimensional, terdapat tiga konsep kualitas hidup yaitu menunjukan suatu konsep multidimensional, yang berarti bahwa informasi yang dibutuhkan mempunyai rentang area kehidupan dari penderita itu, seperti kese-jahteraan fisik, kemampuan fungsional, dan kesekese-jahteraan emosi atau sosial, menilai celah antara keinginan atau harapan dengan kemampuan yang dapat dikerjakan dan terakhir bahwa kualitas hidup ini dinamis


(50)

atau dapat berubah sesuai dengan derajat beratnya penyakit dan terapi yang didapat (Rachmawati, 2013).

Testa dan Simonson (1996) membuat batasan kualitas hidup didasarkan pada definisi sehat WHO yang berisi dimensi sehat fisik, jiwa, dan sosial yang untuk tiap-tiap orang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh pengalaman, kepercayaan, keinginan, dan persepsi seseorang. Keempat komponen ini disebut sebagai persepsi sehat (perception of health). Tiap-tiap dimensi tersebut dapat diukur dengan penilaian yang objektif status fungsional atau status kesehatannya dan penilaian yang subjektif terhadap persepsi kesehatannya. Walaupun penilaian dimensi objektif ini penting untuk dapat melihat derajat kesehatan seseorang, tetapi persepsi dan keinginan subjektif dapat diubah menjadi penilaian yang objektif sehingga menjadi suatu pengalaman kualitas hidupnya. Keinginan untuk sehat dan kemampuan menanggulangi keterbatasan dan ketidakmampuan dapat mempengaruhi persepsi sehat dan kepuasan terhadap hidup (life-satisfaction) seseorang, sehingga dua orang dengan status kesehatan yang sama mungkin dapat berbeda kualitas hidupnya (Testa & Simonson, 1996 dalam Rachmawati, 2013).

Kualitas hidup (tingkat kesejahteraan) terkait dengan individu atau sekelompok orang. Tidak seperti standar hidup, kualitas hidup bukanlah konsep yang nyata, dan karena itu tidak dapat diukur secara langsung. Selain itu, kualitas hidup terdiri dari dua komponen. Yang pertama


(51)

34

adalah aspek fisik yang meliputi hal-hal seperti kesehatan, diet, serta perlindungan terhadap rasa sakit dan penyakit. Komponen kedua adalah psikologis yang di alami. Aspek ini mencakup hal-hal seperti stres, khawatir, kesenangan, kepuasan dan keadaan emosi positif atau negatif lainnya. Hal ini hampir mustahil untuk memprediksi kualitas tertentu individu, karena kombinasi dari atribut yang mengarah satu orang harus puas jarang sama untuk orang lain. Namun, seseorang dapat berasumsi dengan keyakinan tingkat rata-rata yang lebih tinggi diet, tempat tinggal, keamanan, serta kebebasan dan hak-hak masyarakat umum memiliki, secara keseluruhan lebih baik kualitas hidup mengatakan pengalaman populasi.

Manusia berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup sejak awal. Kualitas hidup adalah kategori filosofis seperti kualitas itu sendiri. Memperhatikan penting dan diterima aspek filosofis dari kualitas umum “Kualitas Hidup” dirasakan dengan cara yang berbeda, terutama sesuai dengan kualifikasi dan preferensi peneliti mempelajari subjek ini. Hal ini dianggap tidak hanya filosofis tetapi juga kategori sosiologis, termasuk disiplin berikut: kedokteran, psikologi sosial, ekologi serta organisasi dan ilmu manajemen, terutama kualitas manajemen (Molnar, 2009).

Dilihat dari Penelitian Pamela, Robert, Margaret (2009) menunjukkan bahwa wanita dengan relapsing-remitting multiple sclerosis (RRMS)


(52)

mewakili populasi yang unik yang mengalami rasa sakit secara berbeda daripada wanita yang sehat. Selain itu, temuan dari studi ini merupakan langkah penting dalam memberikan pemahaman yang lebih baik dari gejala bahwa dapak kualitas hidup pada wanita. Semua wanita harus dinilai secara rutin untuk nyeri, kelelahan, depresi, dan tidur gangguan. Manajemen nyeri yang efektif dapat menurunkan intensitas kelelahan, depresi, dan gangguan tidur pada semua wanita. Selain itu, pada wanita dengan beberapa gejala, pengobatan depresi dapat meningkatkan kualitas mental kehidupan, sedangkan pengobatan kelelahan dapat meningkatkan kualitas fisik kehidupan.

Sedangkan pada penelitian Papakostidou et al., (2012) Pada pasien yang menderita OA yang tidak menanggapi pengobatan medis, total lutut artroplasti (TKA) adalah prosedur bedah yang paling efektif untuk mengurangi nyeri, memperbaiki deformitas dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Kesimpulannya, nyeri muskuloskeletal adalah berkorelasi kuat dari kualitas hidup, yang memiliki efek merusak aditif pada kualitas hidup, dan memediasi efek didiagnosis OA. Asosiasi ini stabil dari waktu ke waktu menunjukkan rasa sakit yang memiliki konsisten daripada peningkatan efek merusak. Karena kita menemukan bahwa faktor yang sama berhubungan dengan kualitas hidup dari waktu ke waktu (Laslett et al., 2012).


(53)

36

2.3.2. Domain Kualitas Hidup

Kualitas hidup dapat didefinisikan sebagai gelar di mana persyaratan, menentukan perkembangan masyarakat terpenuhi yang tergantung pada komponen-komponen berikut, mewakili utama domain kehidupan:

1. Kehidupan keluarga (hubungan dan situasi dalam keluarga) 2. Kesejahteraan psikologis (struktur psikologis manusia) 3. Faktor fungsional (pekerjaan)

4. Faktor somatik (kerjasama dengan lingkungan) 5. Faktor keberadaan (kondisi kehidupan)

Ini dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup adalah varian yang paling penting yang dapat dianggap sebagai pengembangan stimulating factor masyarakat. Konseptualisasi dan pengukuran kualitas hidup sulit. Dengan demikian, ada banyak pendekatan untuk memberikan definisi umum istilah ini. Dalam konteks ini, kualitas adalah sangat rumit dan masalah subjektif, sulit untuk diukur, karena di satu sisi ia mendefinisikan keberhasilan dan kepuasan, tetapi di sisi lain, kurangnya kepuasan dalam kasus ketika seseorang tidak memiliki keberhasilan di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi (Molnar, 2009).

Sedangkan menurut WHOQOL terdapat 4 domain yang menyusun kulitas hidup seseorang, yaitu :


(54)

1. Kesehatan Fisik

Penyakit, kegelisahan tidur dan beristirahat, energi dan kelelahan, mobilitas, aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat dan bantuan medis, kapasitas pekerjaan.

2. Psikologis :

Perasaan positif, berfikir, belajar, mengingat dan konsentrasi, selfesteem, penampilan dan gambaran jasmani, perasaan negatif, kepercayaan individu

3. Hubungan sosial :

Hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual

4. Lingkungan :

Kebebasan, keselamatan fisik dan keamanan, lingkungan rumah, sumber keuangan, kesehatan dan kepedulian sosial, peluang untuk memperoleh ketrampilan dan informasi baru, keikutsertaan dan peluang untuk berekreasi, aktivitas dilingkungan, transportasi.

2.3.3. Tolak Ukur Kualitas Hidup

Pengukuran Kualitas Hidup telah berkembang selama lebih kurang 20 tahun dan kini telah menjadi metodologi tertentu dengan teori yang terstruktur formal skor kualitas hidup telah semakin diakui sebagai ukuran hasil yang penting baik dalam penelitian, pelayanan kesehatan dan evaluasi pengobatan. Penilaian kualitas hidup secara luas digunakan dalam uji klinis dan dalam pengamatan studi tentang


(55)

38

kesehatan dan penyakit. Hal ini sering digunakan untuk mengevaluasi intervensi dan efek samping pengobatan serta dampak penyakit dan proses biologis lainnya dari waktu ke waktu (World Health Organization Quality Of Life, 2012).

Lingkup dari konsep dan pengukuran kualitas hidup harus berpusat pada persepsi subjektif individual mengenai kualitas hidup dari kehidupannya sendiri. Rachmawati (2013) mengatakan bahwa kualitas merupakan konstruk individual dan hal ini sebaliknya menjadi pertimbangan dalam pengukuran kualitas hidup yang tepat.

Seperti yang sudah dijelaskan di latar belakang sebelumnya, bahwa kualitas hidup dapat diukur menggunakan WHOQOL-BREF. Tujuannya adalah untuk mengembangkan suatu instrumen penilaian kualitas hidup yang dapat dipakai secara nasional dan secara antar budaya. Instrumen WHOQOL – BREF ini telah dikembangkan secara kolaborasi dalam sejumlah pusat dunia dan telah dilakukan uji validitas dan reabilitas. Instrumen WHOQOL-BREF terdiri atas 4 domain dan 26 item (World Health Organization Quality Of Life, 2012).

Instrumen WHOQOL-BREF merupakan suatu instrumen yang sesuai untuk mengukur kualitas hidup dari segi kesehatan terhadap lansia dengan jumlah responden yang kecil, mendekati distribusi normal, dan mudah untuk penggunaannya (Hwang, 2003 dalam Sutikno, 2010).


(56)

Selain WHOQOL-BREF terdapat tolak ukur kualitas hidup yang lain serta dapat digunakan dan sudah terbukti validitas dan reabilitasnya, yaitu :

a. Quality of Life Scale (QOLS)

Quality of Life Scale (QOLS) awalnya adalah instrumen 15 item yang diukur dari lima domain konseptual kualitas hidup: materi dan kesejahteraan fisik, hubungan dengan oarang lain, sosial, komunitas dan kegiatan kemasyarakatan, pengembangan pribadi dan pemenuhan, dan rekreasi. Setelah penelitian deskriptif yang bertanya pada orang dengan penyakit kronis dengan presepsi mereka tentang kualitas hidup, instrumen diperluas untuk mencakup satu item lagi: Independence, kemampuan melakukan untuk diri sendiri. Dengan demikian, QOLS yang sekarang berisi 16 item.

Selam 20 tahun terakhir, sejumlah peneliti telah menggunakan QOLS untuk mengumpulkan informasi QOL kuantitatif dari beragam kelompok orang dengan penyakit kronis. Penyakit ini termasuk diabetes melitus, OS, gangguan pencernaan, arthritis dan sistemik lupus erythematosus, penyakit baru obstruktif kronik (PPOK), fibromyalgia, psoriasis, penyakit jantung, cedera tulang belakang, inkontinensia stres, gangguan stres pasca trauma, dan nyeri pinggang.

Cara penialaian QOLS ini dengan menjumlahkan skor pada setiap item untuk menghasilkan skor total untuk instrumen. Skor dapat berkisar dari 16 sanpai 112. Skor QOLS dijumlahkan sehingga skor yang lebih


(57)

40

tinggi menunjukkan kualitas hidup yang lebih tinggi. Total rata-rata untuk populasi sehat adalah sekitar 90 untuk kelompok penyakit rematik, rentang rata-rata adalah 83 untuk rheumatoid arthritis, 84 untuk lupus eritematosus sistemik, 87 untuk OA, dan 92 untuk orang dewasa muda dengan rheumatoid arthritis. Semua cara ini berasal dari studi deskriptif atau eksperimental data pretest, seperti banyak instrument QOL, yang berarti cendrung sangat negatif miring dengan sebagian besar pasien melaporkan beberapa tingkat kepuasan dan bagaian besar doamain dari kehidupan mereka (Burckhardt dan Anderson, 2003).

Perkiraan studi pertama dari 200 pasien amerika dengan penyakit kronis (diabetes, OA, arthritis dn pasca oprasi ostomy arthritis) diindikasikan bahwa 15 item skala kepuasan QOLS adalah internal konsisten (α = 0,82 – 0,92 ) dan memiliki kendala yang tinggi setelah pretes dan di nilai kembali lebih dari 3 minggu di kelompok yang stabil dengan penyakit kronis ( r = 0,78 untuk r = 0,84). Peneliti lain telah melakukan bahwa perkiraan reabilitas untuk skala 16 item sama (Burckhardt dan Anderson, 2003).

b. Diabetes-39

Kuisioner spesifik mengenai kualitas hidup pada penderita diabetes. Kualitas diabetes terkait kehidupan dinilai pada 1 tahun menggunakan Diabetes-39. Instrument ini mengukur kualitas pasien dinilai dari kehidupan dan mencakup 5 domain: control diabetes, kecemasan dan


(58)

kekhawatir, beban social, energy dan mobilitas, dan fungsi seksual. Responden ditanya „„berapa banyak kualitas hidup anda dipengaruhi oleh’’ berbagai aspek penyakit diabetes dan perawatan dalam sebulan terakhir.

Kemungkinan yang terbesar adalah skala 7 point, dan berkisar dari „„tidak terpengaruh sama sekali’’ (=1), dan untuk „„sangat terpengaruh’’ (=7). Skor domain dihitung dengan menjumlahkan tanggapan dan kemudian menerapkan transformasi linear untuk skala 0-100. Untuk keseluruhan skor kehidupan dihitung dengan menggunakan semua 39 item dalam kuesioner. Skor lebih dekat ke 0 menunjukan kualitas hidup yang lebih baik. Instrument telah mengalami test intern konsistensi (alpha Cronbach = 0,81-0,93; item total korelasi = 0,50-0,84), validitas konstruk menggunakan SF-36 Status Health Questionnare, dan analisis factor, yang menemukan bahwa lima factor pengumbang 90% dari varian (Khanna et al., 2012).

c. Arthritis Impac Measurement Scale (AIMS2-SF)

Kuisioner AIMS2-SF, secara internasional instrument divalidasi untuk penilaian kualitas hidup diantara pasien arthritis (Rosemann et al., 2005). Menggunakan 9 subskala yang berbeda terdiri dari 26 item yang membentuk 9 komponen skala, masing-masing terkait dengan 1 dari 4 dimensi sebagai berikut:


(59)

42

Skala mobilitas, skala aktifitas fisik, skala keluesan, skala aktifitas hidup harian dan skala akifitas rumah tangga.

2. Skala dimensi sakit 3. Dimensi cacat psikologis:

Skala kecemasan dan skala depresi 4. Skala kegiatan sosial

Skor untuk masing-masing komponen adalah skala diperoleh dengan menjumlahkan skor item dan kemudian jumlah untuk berbagai skor dari 0-10 untuk setiap skala. Skala penilaian dari AIMS berkisar dari 0-10, mengikuti konfensi menyamakan statistis kesehatan yang tinggi dengan skor rendah (Ali et al., 2000). Di AIMS2-SF, format respon telah distandarisasi di seluruh bagian untuk skala 5 poin skala Likert dari 0-4 untuk penilaian. Skor yang lebih tinggi menunjukkan cacat yang lebih besar. Skor untuk setiap bagian standar untuk skala 0-10 dengan menggunakan rumus standarisasi. Rata kesehatan total dihitung dengan menjumlahkan nilai standard (A Short Form of the Arthritis Impact Measurement Scales 2, 1997).Hasil validitas AIMS2-SF memiliki Konsistensi internal dari komponen Physical, Symptom dan Affect adalah baik (Cronbach a = 0,75-0,87), sedangkan untuk komponen Social Interaction (a = 0.63) dan Role (a = 0.62). Reliabilitas test-retest dari AIMS2-SF komponen tinggi (koefisien korelasi intraclass > 0.70). Skor rata-rata dari AIMS2-SF umumnya dekat dengan AIMS2. Korelasi komponen AIMS2-SF yang sangat mirip dengan korelasi untuk AIMS2 asli. Komponen Affect dan Social


(60)

Interaction memiliki sifat psikometrik yang baik, mirip dengan AIMS2 asli. AIMS2-SF valid, terpercaya, dan responsif. Studi ini memberikan bukti untuk validitas konstruk dan responsif dari versi asli dari AIMS2 (Ismail, 2013). Spesifik untuk kondisi atau masalah yang konsukuensinya terhadap activities of daily living (ADL) tetapi tertuju ke semua sendi tubuh. Hal ini dapat digunakan dalam penyakit sendi yang umum, seperti rheumatoid arthritis karena di kembangkan khusus untuk kondisi ini (Angst et al., 2003).

d. Short Form (SF-36)

SF-36 adalah sebuah kuisioner survei kesehatan untuk menilai kualitas hidup yang terdiri dari 36 butir pertanyaan. Kuisioner ini menghasilkan 8 skala fungsional profil kesehatan dan skor kesejahteraan berbasi psikometri kesehatan fisik dan psikis, serta merupakan kumpulan dari langkah-langkah dan preferensi kesehatan berbasis indeks (Rahman et al., 2013). Kuisioner ini membagi kualitas hidup menjadi 2 dimensi, yaitu dimensi kualitas kesehatan fisik (Physical Component Summary) dan dimensi kualitas kesehatan mental (Mental Component Summary) (Angst et al., 2003).

Oleh karena itu, SF-36 telah terbukti berguna dalam survei umum dan populasi khusus, membandingkan relatif beban penyakit serta dalam membedakan manfaat kesehatan yang dihasilkan oleh berbagai intervensi yang berbeda. SF-36 adalah sebuah kuisioner survei yang mengukur 8 kriteria kesehatan sebagai berikut: (1) fungsi fisik, (2)


(61)

44

keterbatasan peran karena kesehatan fisik, (3) tubuh sakit, (4) persepsi kesehatan secara umum, (5) vitalitas, (6) fungsi social, (7) peran keterbatasan karena masalah emosional, dan (8) kesehatan psikis (Rahman et al., 2013).

Pengukuran ini menghasilkan nilai skala untuk masing-masing 8 kriteria kesehatan dan dua ukuran ringkasan kesehatan fisik dan psikis. Nilai skor kualitas hidup rata-rata adalah 60, dibawah skor tersebut kualitas hidup dinilai kurang baik dan nilai skor 100 merupakan tingkat kualiltas hidup yang sangat baik (Rahman et al., 2013). Penilaian kualitas hidup total didasarkan pada rata-rata kedua komponen tersebut (Angst et al., 2003).

Kualitas hidup adalah ukuran berguna dan banyak digunakan status kesehatan karena menangkap pribadi dan konteks sosial kehidupan pasien dengan cara kuantitatif, dan memprediksi penggunaan sumber daya kesehatan dan kematian (Laslett et al., 2012).


(62)

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu dengan cara pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu dengan tujuan untuk mencari hubungan antara intensitas rasa nyeri terhadap kualitas hidup pada pasien osteoarthritis (Notoatmodjo, 2010).

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung, pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2014.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek atau obyek penelitian yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Dahlan, 2012). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menderita OA pada RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung. Metode pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, dikarenakan peneliti tidak memperoleh sampling frame sehingga menggunakan nonprobability sampling (Dahlan, 2012). Dengan cara peneliti mengambil semua subjek yang didiagnosis OA sampai jumlah subjek minimal terpenuhi.


(63)

46

( )

Diperoleh dari peneleitian sebelumnya oleh Burckhardt dan Anderson (2003) r sebesar 0,4 (r = 0,4).

N { ( ) }

[ ]

Zα= 1,64 Zβ= 1,28 r = 0,4

N = { ( ) }

[ ]

N = 51

Dengan demikian, besar sample adalah 51

Adapun kriteria inkslusi dari penelitian ini sebagai berikut :

1. Pasien OA pada RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung. 2. Pasien baru pada poli ortopedi.

3. Pasien yang mengisi persetujuan informed consent. Adapun kriteria eksklusi dari penelitian ini sebagai berikut :

1. Pasien OA yang datang berulang selama penelitian. 2. Pasien yang menderita penyakit kronis lain.

3.4. Identifikasi Variabel

1. Variabel bebas (dependent variable) dalam penelitian ini adalah intensitas nyeri.

2. Variabel terikat (independent variable) dalam penelitian ini adalah kualitas hidup.


(64)

3.5. Metode Pengumpulan Data

Data primer tentang karakteristik responden:

a. Intensitas rasa nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0 – 10.

b. Kualitas hidup pasien OA diukur dengan kuesioner AIMS2-SF, terdiri dari 5 dimensi (domain) dan 26 pertanyaan.

3.6. Definisi Operasional

Definisi oprasional dari penelitian ini adalah :

No. Variable Definisi Cara Ukur Hasil Ukur Skala 1 Intensitas Tingkatan Kuisioner 0-10 Numerik

Nyeri pengalaman sensori yang Numeric Rating Rasio di ukur menggunakan Scale (NRS) kuesioner NRS 2 Kualitas

hidup

Persepsi individu dari

Kuisioner AIMS2-SF

0-10 Numerik

Rasio posisi mereka dalam kehidupan, yang diukur menggunakan AIMS2-SF


(65)

48

3.7. Alat Penelitian dan Cara Penelitian 3.7.1. Alat Penelitian

a) Alat Tulis

Adalah alat yang digunakan untuk mencatat dan melaporkan hasil penelitian. Alat tersebut adalah pulpen, kertas, pensil dan komputer.

b) Kuesioner Terstruktur

Adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian, adapun kuisioner tersebut adalah :

1. Numeric Rating Scale (NRS) pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan dilambangkan dengan angka antara 0-10.

2. AIMS2-SF, yang merupakan kuesioner mengenai kualitas hidup yang dikhususkan pada penderita arthritis yang terdiri dari 5 domain dan 26 pertannyaan.

c) Lembar informed consent

Adalah lembar persetujuan untuk menjadi responden penelitian.

3.7.2. Cara Pengambilan Data

Dalam penelitian ini, data didapat dari poli ortopedi dan diambil secara langsung dari responden yang meliputi :

a) Pasien yang telah diarahkan dari poli ortopedi b) Penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian c) Pengisian informed consent


(66)

3.8. Alur Penelitian

Gambar. 8. Alur penelitian

3.9. Pengolahan dan Analisis Data 3.9.1. Pengolahan data

Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data akan diubah ke dalam bentuk tabel - tabel, kemudian data diolah menggunakan program komputer. Kemudian, proses pengolahan data menggunakan program komputer ini terdiri beberapa langkah :

a) Coding, untuk mengkonversikan (menerjemahkan) data yang dikumpulkan selama penelitian kedalam simbol yang cocok untuk keperluan analisis.

b) Data entry, memasukkan data ke dalam komputer. Meminta izin untuk melakukan penelitian

Menyiapkan kuisioner yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Pengisian lembar persetujuan oleh Responden

Memberikan kuisioner kepada responden yang sudah ditentukan

Hasil dan kesimpulan Melakukan pengolahan data


(67)

50

c) Verifikasi, memasukkan data pemeriksaan secara visual terhadap data yang telah dimasukkan ke dalam komputer.

d) Output komputer, hasil yang telah dianalisis oleh komputer kemudian dicetak.

3.9.2. Analisis Data

Analisis statistika untuk mengolah data yang diperoleh akan menggunakan program Software Statistik pada komputer dimana akan dilakukan 2 macam analisis data, yaitu analisis univariat dan analisis bivariat.

a. Analisis Univariat

Analisis data untuk mengetahui gambaran masing-masing variabel, yaitu intensitas nyeri sebagai variabel bebas dan kualitas hidup sebagai variabel terikat.

b. Analisis Bivariat

Analisis bivariat adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji statististik. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Spearman karena setelah dilakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov di dapatkan normalitas data tidak tercapai. Hasil uji dikatakan ada hubungan yang bermakna bila nilai p < 0,05. Hasil uji dikatakan tidak ada hubungan yang bermakna bila p > 0,05.


(68)

51 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Penelitian ini telah dilakukan di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung pada Poli Ortopedi dengan judul Hubungan Intensitas Nyeri dan Kualitas Hidup Pasien OA di Poli Ostopedi RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung, pada bulan Oktober 2014. Subyek penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis OA sampai jumlah subjek 51. Hasil penelitian ini meliputi tingkat nyeri yang dirasakan dengan skala NRS dengan angka 0-10. Penelitian ini juga menilai kualitas hidup dari pasien OA yang diukur menggunakan kuisioner AIMS2-SF dengan jumlah pertannyaan 26 item dimana setiap pertanyaan memiliki nilai 0-4 dan terdapat 5 komponen yaitu physical, affect, symptom, social interaction, dan role, kemudian dari masing-masing komponen dinilai dengan angka 0-10, dimana 0 atau angka yang semakin rendah menandakan bahwa keadaan kualitas hidupnya semakin baik sedangkan 10 atau angka yang semakin tinggi menandakan keadaan kualitas hidup yang semakin buruk. Dari pengolahan data yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut.


(69)

52

4.1.1. Analisis Univaraiat a. Karakteristik Responden 1. Umur

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Umur Responden

Umur (tahun) Frekuensi Persentase (%)

20-40 41-60 >60 9 28 14 17,6 54,9 27,5

Total 51 100

Berdasarkan tabel 4, responden berumur 41-60 tahun sebanyak 54,9 %, menggambarkan bahwa setengah dari jumlah total responden berusia 41-60, sedangkan seperempat dari jumlah total responden yaitu sebesar 27,5% berumur lebih dari 60 tahun, dan sisanya sebesar 17,6 %, berumur 20-40, dimana responden yang berumur antara 41-60 tahun lebih banyak dibandingkan kelompok umur lain.

2. Jenis Kelamin

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Perempuan Laki-laki 28 23 54,9 45,1

Total 51 100

Berdasarakan tabel 5, responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 54,9 %, dan 45,1 % berjenis kelamin laki-laki, dimana responden yang berjenis kelamin perempuan memiliki jumlah sedikit lebih tinggi yaitu sebesar 4,9 % dibandingkan dengan yang berjenis kelamin laki-laki.


(70)

3. Pekerjaan

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

Ibu Rumah Tangga Swasta Buruh Nelayan Petani Pol pp Tidak berkerja 25 12 6 2 1 1 4 49,2 23,5 11,8 3,9 1,9 1,9 7,8

Total 51 100

Berdasarkan tabel 6, responden yang merupakan ibu rumah tangga sebanyak 49,2 %, berkerja sebagai pegawai di perusahaan swasta sebanyak 23,5 %, berkerja sebagai buruh sebanyak 11,8 %, berkerja sebagai nelayan 3,9 %, berkerja sebagai petani dan pol pp memiliki presentasi yang sama yaitu 1,9 %, sedangkan yang tidak berkerja sebanyak 7,8 %.

4. Intensitas nyeri

Intensitas nyeri diukur berdasarkan jawaban responden terhadap skala nyeri yang diberikan. Skala nyeri yang diberikan merupakan skala dari 0 – 10


(71)

54

Tabel 6. Distribusi Frekuensi Intensitas Nyeri Responden

Nyeri Frekuensi Presentase (%)

1 2 3,9

3 4 7,8

4 6 11,8

5 4 7,8

6 21 41,2

7 12 23,5

8 1 2

9 1 2

Total 51 100

Berdasarkan tabel, responden yang memiliki tingkat intensitas nyeri paling banyak di skala 6 (nyeri sedang) adalah sebanyak 41,2 %.

Tabel 7. Rerata Intensitas Nyeri Responden

Variabel N Mean Median Std. Deviation

Intensitas Nyeri 51 5,59 6,00 1,615

Berdasarkan tabel, didapatkan nilai rata-rata dari 51 responden intensitas nyeri adalah 5,59, nilai tengah dari intensitas nyeri adalah 6 dan memiliki standar deviasi 1,615.

5. Kualitas hidup

Kualitas hidup diukur menggunakan kuisioner AIMS2-SF dengan jumlah pertannyaan 26 item dimana setiap pertanyaan memiliki nilai 0-4 dan terdapat 5 komponen yang dinilai yaitu, physical, affect, symptom, social interaction, dan role. Berdasarkan jawaban responden atas 26 pertannyaan mengenai aktifitas hidup sehari-hari pada penderita OA dapat menggambarkan kualitas hidup responden.


(72)

Tabel 8. Rerata Nilai Kualitas Hidup Responden

Variabel N Mean Median Std.

Deviation Physical

51

3,49 3,75 1,34

Affect 4,67 5 1,23

Symptom 4,67 5 1,40

Social interaction 5,89 5,84 1,34

Role 1,92 0 2,42

Nilai Total Kualitas Hidup

4,21 4,25 0,95

Berdasarkan tabel, didapatkan nilai rata-rata dari nilai total kualitas hidup adalah 4,21, nilai tengah dari kualitas hidup adalah 4,25 dan memiliki standar deviasi sebesar 0,95.

4.1.2. Analisis Bivariat

Data yang diperoleh di uji normalitasnya dengan uji kolmogorov-smirnov dan normalitas data tidak didapatkan, maka dilakukan uji statistik alternatif dengan metode Spearman.

a. Hubungan kualitas hidup dengan intensitas nyeri pasien OA

Berdasarkan hasil uji test of normality kolmogorov-smirnov, didapatkan bahwa skor intensitas nyeri mempunyai nilai p = 0,000. Oleh karna nilai p < 0,05, maka data mempunyai distribusi tidak normal. Sedangkan untuk skor kualitas hidup didaptkan nilai p = 0,200, dimana nilai p > 0,05, maka data mempunyai distribusi normal.


(73)

56

Maka dari itu dilakukan transformasi data supaya distribusi data menjadi normal, namun hasil normalitas tidak berubah. Oleh karena itu, uji statistik dilakukan dengan uji spearman.

Tabel 9. Analisi Hubungan Intensitas Nyeri dengan Kualitas Hidup

Variabel N p-value r

Intensitas nyeri

51 0,015 0,338

Kualitas hidup

Berdasarkan tabel didapatkan hasil bahwa dari 51 responden diperoleh nilai signifikan 0,015 yang menunjukan bahwa korelasi antara intensitas nyeri dengan kualitas hidup adalah bermakna. Dimana nilai korelasinya 0,338 (r = 0,338) menunjukan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah.

4.2. Pembahasan 4.2.1. Umur

Osteoarthritis dianggap sebagai penyakit yang terjadi karena suatu proses penuaan normal, sebab insidens bertambah dengan meningkatnya usia (Price, 2012). Prevalensi kerusakan sendi sinovial ini meningkat dengan pertambahan usia (Imayati, 2011). Proses penuaan dimulai pada usia lanjut, terlihat perubahan permukaan sendi yang baik pada usia muda menjadi permukaan granular mengalami kerusakan pada usia tua (Sudoyono, 2009). Pada proses penuan ini terlihat bahwa adanya hubungan dengan perubahan-perubahan pada komposisi rawan sendi yang mengarah pada osteoarthritis (Price, 2012).


(1)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan:

1. Dari data responden didapatkan responden yang menderita OA memiliki intensitas nyeri paling banyak yaitu pada nyeri sedang adalah sebanyak 41,2 %.

2. Dari data responden didapatkan responden yang menderita OA memiliki skor rata-rata kualitas hidup yang baik.

3. Terdapat hubungan antara intensitas nyeri terhadap kualitas hidup pasien OA pada poli ortopedi di RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung.

5.2. Saran

1. Bagi Institusi Kesehatan

a. Diharapkan pada puskesmas yang merujuk dan RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung sendiri dapat melakukan peningkatan pengetahuan pada penanganan dan pengelolaan pasien OA yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

2. Bagi Masyarakat

a. Diharapkan memiliki pemahaman dan perilaku yang lebih baik terhadap apa saja yang dapat mempengaruhi intensitas nyeri seperti bertambahnya


(2)

66

umur, pekerjaan, dan jenis kelamin pada penyakit OA yang dapat meningkatkan kualitas hidup.

3. Bagi penelitian selanjutnya

a. Diharapkan dapat melakukan penelitian dengan jenis penilaian yang berbeda pada variabel intensitas nyeri dan kualitas dengan sampel yang berbeda dan lebih besar.


(3)

DAFTAR PUSTAKA

American College of Rheumatology. 2012. Available from

[https://www.rheumatology.org.]. Tersedia ( 25 September 2014

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional. Jakarta

Departmen Kesehatan RI. 2007. Profil Kesehatan dan Kualitas Hidup Ganong, W.F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedikteran. Ed 22. Jakarta: EGC Hassanali, S.H. 2011. Osteoartritis: A Look At Pathophysiology And Approach

To New Treatments. East African Orthopaedic Journal.

Helmi, Z.N. 2012. Buku Ajar Gangguan Muaskuloskeletal. Salemba Medika : Jakarta

Helmtrud, I, Roach, Simon, T. 2007. Bone and Osteoarthritis. London : Springer Imayati, K. 2011. Laporan Kasus Osteoartritis. Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar: Denpasar.

Ismail, A. 2013. Evaluasi Kualitas Hidup Penderita Osteoartritis Di Instalasi Rawat Jalan Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta Periode Februari – Mei 2013. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Koentjoro, SL. 2010. Hubungan antara Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan Derajat Osteoarthritis Lutut Menurut Kellgren dan Lawrence. Semarang. Universitas Diponegoro.

Kristianto H, 2010, Perbandingan Perawatan Luka Teknik Modern Dan

Konvensional Terhadap Transforming Groeth Factor Beta 1 (Tgf Β1) Dan


(4)

Kumar, V, Cortan, R.S, Robbins, S.L. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins Volume 2, Ed 7. Jakarta : EGC

Laslett, L.L, Quinn, S.J, Winzenberg, T.M, Sanderson, K, Cicuttini, F and Jones, G. 2012. A prospective study of the impact of musculoskeletal pain and radiographic osteoarthritis on health related quality of life in community dwelling older people. BMC Musculoskeletal Disorder.

Lukman, T.V. 2013. Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Intensitas Nyeri pada Pasien Post-Operasi Sectio Caesaria di RSUD. Prof. DR. Hi. Aloei saboe Kota Gorontalo. Universitas Negri Gorontalo. Lumbantoruan SM, Harahap IA. 2012. Hubungan Intensitas Nyeri Dengan Stres

Pasien Osteoartritis Di Rsup H. Adam Malik Medan. Medan. Universitas Sumatra Utara.

Melzack, R. 2009. Pain and Stress : Clues toward understanding chronic pain. Psychology: IUPsyS Global Resource.

Molnar, P. 2009. Some Aspects of The Measurement and Improvement of Quality of Life

Nofitri NFM, 2009 , Gambaran Kualitas Hidup Pada Individu Dewasa Berdasarkan Karakteristik Budaya Jakarta, Depok, Universitas indonesia Notoatmodj, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka cipta Pamela, K, Robert, T, Ullione, M. 2009. The Impact of Pain and Other Symptoms

on Quality og Life in women With Relapsing-Remitting Multiple sclerosis. NIH Punlic Access

Papakostidou, I, Dailiana, Z.H, Papapolychroniou, T, Liaropoulos, L, Zintzaras, E, Karachalios, T.S and Malizos, K.N, 2012. Factors affecting the quality of life after totalknee arthroplasties: a prospective study. BMC


(5)

Pranatha, I.N.A. 2011. Penambahan Latihan Pengutan Dengan En Tree Pada Intervensi Ultra Sound Dan Tens Untuk Mengurangi Nyeri Pada Penderita Osteoartritis Lutut Di RSUP Sanglah Denpasar. Bagian Fisioterapi Universitas Udayana Denpasar: Denpasar

Pratiwi. 2012. Upaya Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Akuntansi Siswa Melalui Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) Pada Siswa Kelas XI AK SMK Putra Anda Binjai Tahun Ajaran 2012/2013. Skripsi. Universitas Negeri Medan.

Price, S.A, Wilson, L.M. 2013. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed 6. Jakarta : EGC

Rachmawati, S. 2013. Kualitas Hidup Orang Denagn HIV/AIDS Yang Mengikuti Terapi Antiretroviral. Jurnal Sains Dan Praktik Psikologi. Volume 1, 48-62

Rantepadang A. 2012. Interaksi Sosial Dan Kualitas Hidup Lansia Di Kelurahan Lansot Kecamatan Tomohon Selatan. Menado. Universitas Klabat

Rianiari, U. 2014. Gambaran Pengobatan Dan Kualitas Hidup Pada Pasien Rheumatoid Arthritis Di Instalasi Rawat Jalan Rs Pku Muhammadiyah Yogyakarta. Fakultas Farmasi. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Said MI. 2012. Hubungan Ketidaknyaman Nyeri Dan Molodour Dengan Tingkat

Stres Pada Pasien Kanker Payudara di RSKD Jakarta dan RSAM Bandar Lampun. Depok. Universitas Indonesia.

Saryono. (2011). Metodologi penelitian kesehatan: penuntun praktis bagi pemula. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.


(6)

Soeroso, J, Isbagio, H, Kalim, H, Broto, R, Pramudiyo, R. 2006 Osteoartritis. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 4th ed. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia

Sudoyono AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2009. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jilid III Edisi V. Jakarta: Interna Publishing. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. Hal: 2533-2549

Sumual, A.S. 2012. Pengaruh Berat Badan Terhadap Gaya Gesek Dan

Timbulnya Osteoarthritis Pada Orang Di Atas 45 Tahun Di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Skripsi. Bagian Fisika Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado: Manado.

Sutikno, E. 2010. Hubungan Antara Fungsi Keluarga Dan Kualitas Hidup Lansia. Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata. Kediri

Valente, M.A.F, Ribeiro, J.L.P, Jensen, M.P. 2011. Validity of four pain intensity rating scales. PAIN_ 152. 2399–2404


Dokumen yang terkait

Penilaian Kinerja RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard

19 162 232

Usulan Perbaikan Pelayanan RSUD Dr. Pirngadi Medan dengan Integrasi Fuzzy Servqual dan Quality Function Deployment (QFD)

6 84 159

PEMBERIAN REKOMENDASI IZIN PENDIRIAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. A. DADI TJOKRODIPO OLEH DINAS KESEHATAN KOTA BANDAR LAMPUNG

3 30 46

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NEGLECTED FRACTURE PADA PASIEN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

0 7 66

PERBEDAAN GEJALA KLINIS DAN DERAJAT PENYAKIT INFEKSI DENGUE PADA ANAK DAN DEWASA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH A. DADI TJOKRODIPO BANDAR LAMPUNG

0 5 53

HUBUNGAN DERAJAT NYERI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS DI POLI SYARAF RUMAH SAKIT Hubungan Derajat Nyeri Dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hardjono Ponorogo.

0 3 15

PENDAHULUAN Hubungan Derajat Nyeri Dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hardjono Ponorogo.

0 3 7

TINJAUAN PUSTAKA Hubungan Derajat Nyeri Dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hardjono Ponorogo.

0 9 21

DAFTAR PUSTAKA Hubungan Derajat Nyeri Dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hardjono Ponorogo.

0 4 7

HUBUNGAN DERAJAT NYERI DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN OSTEOARTRITIS DI POLI SYARAF RUMAH SAKIT Hubungan Derajat Nyeri Dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoartritis Di Poli Syaraf Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hardjono Ponorogo.

0 1 14