PERAN PENYULUH KEHUTANAN SWADAYA MASYARAKAT (PKSM) DALAM MEMBANTU MASYARAKAT MENDAPATKAN IZIN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) DI KECAMATAN SENDANG AGUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

(1)

ABSTRAK

PERAN PENYULUH KEHUTANAN SWADAYA MASYARAKAT (PKSM) DALAM MEMBANTU MASYARAKAT MENDAPATKAN IZIN HUTAN

KEMASYARAKATAN (HKm) DI KECAMATAN SENDANG AGUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh

FADILA AYU LARASATI

Salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan menjaga kelestarian hutan adalah dengan memberikan izin hutan kemasyarakatan (HKm) oleh Bupati/Walikota. Penyelenggaraan hutan kemasyarakatan dimaksudkan untuk memberikan ruang bagi masyarakat setempat dalam mengelola hutan secara lestari. Pengajuan izin HKm dilakukan oleh kelompok tani HKm kepada Bupati/Walikota yang difasilitasi oleh PKSM. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat peran PKSM dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm dan menganalisis hubungan antara faktor internal dan faktor eksternal PKSM dengan peran PKSM. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sendang Agung yang merupakan daerah binaan PKSM dalam proses pengajuan izin HKm. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi Square, sedangkan untuk mengetahui tingkat hubungan faktor-faktor responden dengan peran pendamping menggunakan analisis korelasi koefisien kontingensi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh tingkat peran PKSM dalam klasifikasi tinggi dengan peran pendamping sebagai dinamisator, mediator, fasilitator, motivator, serta edukator. Faktor internal pendamping yang memiliki tingkat hubungan cukup kuat dengan peran PKSM adalah jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas, dan kekosmopolitanan, sedangkan umur, pendapatan, serta keterdedahan informasi memiliki hubungan yang sangat rendah. Faktor eksternal pendamping yang memiliki tingkat hubungan cukup kuat dengan peran pendamping adalah pengakuan keberhasilan dan intensitas supervisi, sarana prasarana memiliki tingkat hubungan sangat rendah dengan peran pendamping.


(2)

ABSTRACT

ROLE OF NONGOVERMENTAL FORESTRY EXTENSION WORKERS FOR ASSISTING PEOPLE TO OBTAIN COMMUNITY FOREST LICENSE IN SENDANG AGUNG SUBDISTRICT CENTRAL LAMPUNG

REGENCY

By

FADILA AYU LARASATI

One of the solutions to increase the community welfare and manage the forest is giving the HKm license by regent/mayor. The implementation of community forest intend to give space for the local community for sustainable forest management. The submission of hkm license was done by the farmers to the regent/mayor facilities by PKSM. The objectives of this research were to analyze the role of PKSM level for assisting farmer to obtain HKm license and analyze the correlation between external factors and internal factors of partner with their role. This research was done in Subdistrict Sendang Agung as an area under the jurisdiction of PKSM to assist submission of HKm license. The data was analized by Chi Square test, meanwhile to detect the correlation level of respondent factors with partner role is using coeficient contengence correlation analize. Based on analize result partner role level is obtained in high classification, partner role is releas as dynamist, mediator, facilitator, motivator, and educators. Internal factors companion that has a strong enough relationship with the role of the companionis the number of dependents, long-serving, and cosmopilitaness, where as age, income, as well as information disclosure had uneasy relations. External factors companion that has a strong enough relationship with the companion role is recognition of the success and intensity of supervision, facilities have less close relationship level with the role of companion.


(3)

KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh

FADILA AYU LARASATI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA KEHUTANAN

Pada

Jurusan Kehutanan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015


(4)

(5)

(6)

Teriring doa dan puji syukur kepada Allah SWT kupersembahkan karya

kecilku ini dengan segala kerendahan dan ketulusan hati kepada Ayah dan

Mamak tercinta yang telah membesarkanku, merawat, menjaga, mendidik dan

membimbingku dengan penuh cinta dan kasih sayang serta saudara-saudaraku

tersayang, mbak dan adek-adek yang selalu memberikan nasehat, keceriaan dan

semangat untukku.

Sahabat dan teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungannya,

teman se-angkatan 2010 (Sylvaten). Rekan di Himasylva, Abang/mba dan

adek tingkat tercinta terimakasaih atas bantuan dan motivasinya selama ini

serta kebersamaan yang takkan dilupakan mulai dari awal di kehutanan hingga

sekarang. Tak lupa teman KKN ku ibu dokter aulia, vya, serta nova alias

jayanti yang sampai saat ini selalu memberikan dukungan dan canda tawa


(7)

SANWACANA

Assalamu’alaikum wr. wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Peran Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dalam Membantu Masyarakat Mendapatkan Izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Universitas Lampung.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Ibu Rommy Qurniati, S.P., M.Si., sebagai pembimbing utama skripsi atas bimbingan, arahan, dan motivasi yang telah diberikan hingga selesainya penulisan skripsi ini.

2. Ibu Susni Herwanti, S.Hut., M.Si., sebagai pembimbing kedua atas saran dan kritik serta bimbingan yang telah diberikan hingga selesainya penulisan skripsi ini.


(8)

3. Bapak Dr. Ir. Sumaryo Gs, M.Si., sebagai penguji utama pada ujian skripsi, atas kesedianya memberikan masukan dan saran-saran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4. Bapak Dr. Ir. Agus Setiawan, M.Si., selaku Ketua Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

5. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

6. Bapak dan Ibu Dosen Serta Staf Administrasi Jurusan Kehutanan dan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

7. Bapak Sunanta, Bapak Jumino, Bapak Kuwato, Bapak Iwan Darmawan, Bapak Jumeri, dan Bapak Misbahul Arif yang telah memberikan bantuan, masukan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Besar harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin Yaa Robbal’ Alamiin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandar Lampung, 2015


(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Kerangka Pemikiran ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1. Penyuluhan ... 9

2.2. Penyuluhan Kehutanan ... 10

2.3. Peran Pendamping ... 16

2.4. Hutan Kemasyarakatan (HKm) ... 20

2.5. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peran Pendamping ... 26

2.6. Analisis Data ... 28

2.6.1. Chi Square ... 28


(10)

III. METODE PENELITIAN ... 29

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 29

3.2. Objek dan Alat ... 29

3.3. Definisi Operasional ... 29

3.3.1. Faktor Internal ... 30

3.3.2. Faktor Eksternal ... 31

3.3.3. Peran PKSM ... 32

3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data ... 34

3.4.1. Jenis Data yang dikumpulkan ... 34

3.4.2. Metode Pengumpulan Data ... 35

3.5. Metode Pengambilan Sampel ... 35

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 36

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 39

4.1.Keadaan Fisik dan Wilayah ... 40

4.1.1.Karakteristik Lahan dan Iklim ... 40

4.1.2.Pola Penggunaan Lahan ... 40

4.2.Keadaan Demografis ... 41

4.2.1.Kependudukan Kecamatan Sendang Agung ... 41

4.2.2.Sarana Umum ... 43

4.2.3.Kondisi Perekonomian ... 45

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46

5.1. Deskripsi Peran PKSM ... 46


(11)

5.2.1. Faktor Internal yang Berhubungan dengan Peran PKSM .. 56

1. Umur ... 57

2. Pendidikan Non Formal ... 58

3. Pendapatan ... 59

4. Jumlah Tanggungan Keluarga ... 60

5. Lama Bertugas ... 61

6. Kekosmopolitanan ... 62

7. Keterdedahan Informasi ... 63

5.2.2. Faktor Eksternal yang Berhubungan dengan Peran PKSM 64

1. Pengakuan Keberhasilan ... 65

2. Intensitas supervisi ... 66

3. Sarana Prasarana Pendampingan ... 68

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

6.1. Kesimpulan ... 69

6.2. Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 71


(12)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Variabel dan definisi operasional faktor internal pendamping (X1) ... 30

2. Variabel dan definisi operasional faktor eksternal pendamping (X2) ... 31

3. Variabel dan definisi operasional tingkat peran pendamping (Y) ... 32

4. Kategori koefisien kontingensi ... 38

5. Data kampung di Kecamatan Sendang Agung ... 40

6. Distribusi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Sendang Agung ... 41

7. Distribusi jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaaan di Kecamatan Sendang Agung ... 42

8. Sarana dibidang pendidikan Kecamatan Sendang Agung ... 43

9. Fasilitas kesehatan Kecamatan Sendang Agung ... 44

10. Sarana ibadah di Kecamatan Sendang Agung ... 44

11. Distribusi hubungan faktor internal individu dengan peran PKSM ... 56

12. Distribusi hubungan faktor eksternal individu dengan peran PKSM... 65

13.Rekapitulasi data variabel X1 (faktor internal) petugas PKSM ... 77

14.Rekapitulasi data variabel X2 (faktor eksternal) petugas PKSM ... 78


(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Bagan alir kerangka pemikiran ... 8

2. Peta lokasi Kecamatan Sendang Agung ... 80

3. Pengisian kuesioner dan wawancara responden ... 81

4. Balai pertemuan penyuluhan ... 81


(14)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hutan berdasarkan statusnya dalam Undang-undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan terdiri dari hutan negara dan hutan hak. Hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Hutan negara dapat berupa hutan adat, sedangkan hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani oleh hak milik. Hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat. Penyelenggaraan hutan kemasyarakatan dimaksudkan untuk pengembangan kapasitas dan pemberian akses terhadap masyarakat setempat untuk mengelola kawasan hutan secara lestari guna penciptaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan serta untuk menyelesaikan persoalan sosial (Kementerian Kehutanan, 2014).

Penyelenggaraan hutan kemasyarakatan diberikan kepada kelompok tani dengan mengajukan permohonan izin Hutan Kemasyarakatan (HKm). Berdasarkan Permenhut No. 88 tahun 2014 tentang Hutan Kemasyarakatan, Bupati/Walikota berwewenang menerbitkan izin HKm. Menurut Permenhut No. 88 tahun 2014, syarat dikeluarkannya izin HKm oleh Bupati/Walikota adalah adanya penetapan


(15)

areal kerja HKm oleh Menteri Kehutanan melalui surat keputusannya. Izin kegiatan HKm diberikan sebagai hak untuk melakukan pengelolaan HKm.

Register 22 Way Waya merupakan salah satu kawasan yang sudah mengajukan permohonan izin HKm. Pada era Reformasi tahun 1998, kawasan hutan Register 22 Way Waya mengalami kerusakan hutan yang sangat parah ditandai dengan adanya perambahan hutan. Perambahan hutan yang dilakukan seperti illegal loging dan pembakaran hutan dilakukan secara sengaja sehingga sumber-sumber mata air tertutup dengan sendirinya (Darmawan, 2009). Masyarakat sekitar hutan perlu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga masyarakat memasuki kawasan hutan untuk memanfaatkan sumber daya hutan yang dapat memberikan peningkatan ekonomi rumah tangganya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat bergantung pada sumber daya hutan yang ada namun tidak mengutamakan fungsi penting hutan lindung. Pemberian izin HKm merupakan salah satu cara pemerintah agar masyarakat dapat memanfaatkan kawasan hutan dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian ekologi, ekonomi, dan sosial. Menurut Mukhtar (2010), makna program HKm oleh masyarakat dipahami sebagai kesempatan untuk memperoleh hak kelola lahan di dalam kawasan hutan untuk kegiatan usaha tani, akibatnya masyarakat cenderung berprilaku eksploitatif untuk memaksimalkan manfaat ekonomi lahan.

Menteri Kehutanan melalui SK Nomor: 761/Menhut-II/2013 telah menetapkan areal kerja HKm sebagai dasar untuk memperoleh Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) seluas ± 7.343 Ha di Kabupaten Lampung Tengah. Menurut data Dishutbun Kabupaten Lampung Tengah 2013, areal kerja HKm di


(16)

Kecamatan Sendang Agung seluas 4.432,535 Ha. Areal kerja HKm ini terdapat di hutan lindung Register 22 Way Waya.

Luas areal kerja HKm yang dikeluarkan melalui SK Menhut tidak terlepas dari usaha penyuluh mendampingi masyarakat untuk melakukan pengajuan izin HKm. Pada dasarnya pendampingan ini dilakukan agar masyarakat mau, mampu, dan mandiri serta berperan dalam pengelolaan dan pelestarian hutan secara sistematis dan berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraannya serta mempunyai kepedulian dan partisipasi dalam pelestarian sumber daya alam.

Pendamping pemberdayaan masyarakat harus berperan aktif dalam memfasilitasi terbentuknya penguatan kelembagaan masyarakat serta peningkatan kapasitas pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan masyarakat, sehingga masyarakat dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi. Pendampingan dalam kegiatan pembangunan kehutanan meliputi kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat di bidang tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi dan reklamasi hutan, serta perlindungan hutan dan konservasi alam (Kementerian Kehutanan, 2013).

Pendampingan masyarakat di Kecamatan Sendang Agung dilakukan oleh Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) yang berkoordinasi dengan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (BP4K) Lampung Tengah, dan bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pendampingan oleh PKSM berupa pembinaan dalam pembentukan kelompok, aturan-aturan kelompok, serta melakukan pembinaan dalam penguatan


(17)

kelembagaan. Terbentuk dan berkembangnya kelembagaan kelompok merupakan syarat untuk mengajukan izin HKm. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui peran pendamping dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tingkat peran pendamping dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung?

2. Fakto-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan peran pendamping dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui tingkat peran pendamping dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung.

2. Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peran pendamping dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung.

1.4. Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Tambahan pengetahuan bagi peneliti dan memperluas wawasan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan peran pendamping.


(18)

2. Bahan pertimbangan bagi lembaga penyuluh maupun instansi berwenang dalam merencanakan program penyuluhan kehutanan.

3. Bahan informasi bagi kalangan akademik yang berminat meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan peran pendamping di tempat lain.

1.5. Kerangka Pemikiran

Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah, berada dalam kawasan hutan lindung Register 22 Way Waya. Sebagian besar penduduk desa di Kecamatan Sendang Agung memanfaatkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Tahun 2001-2004 daerah ini mendapatkan izin sementara dari pemerintah Kabupaten Lampung Tengah untuk melakukan kegiatan Hutan Kemasyarakatan, kemudian daerah ini mengajukan proposal penetapan areal kerja HKm sebagai upaya untuk menetapkan wilayah pengelolaan HKm dan telah diterbitkan melalui SK Menhut No. 761 pada tahun 2013. Bupati berwewenang memberikan izin pengelolaan HKm setelah terbit surat keputusan tentang penetapan areal kerja HKm dari Menteri Kehutanan.

Penetapan areal kerja HKm yang diterbitkan oleh Menteri Kehutanan merupakan calon areal kerja HKm yang diajukan permohonannya untuk dijadikan areal kerja HKm oleh kelompok tani. Adanya kelompok tani hutan merupakan hasil dari persiapan masyarakat melalui fasilitasi oleh pemerintah maupun non-pemerintah. Fasilitasi bertujuan untuk meningkatkan kesiapan kelembagaan masyarakat.


(19)

Meningkatnya kesiapan kelembagaan ditandai dengan terbentuknya kelompok tani hutan yang dapat melakukan pengajuan permohonan izin HKm.

Kecamatan Sendang Agung sudah memiliki kelompok HKm yang dinamai Kelompok Sadar Hutan Lestari (KASHURI). Pembentukan kelompok tesebut merupakan kegiatan persiapan masyarakat dalam mengajukan izin HKm yang difasilitasi oleh Pemerintah dibantu oleh pihak lain. Upaya tersebut tidak terlepas dari peran penyuluh, baik penyuluh kehutanan negeri, swasta, maupun swadaya dalam menjembatani antara masyarakat dengan pemerintah dalam mengajukan permohonan izin HKm.

Penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) merupakan mitra kerja penyuluh kehutanan yang berkoordinasi dengan Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan (BP4K). Jumlah pendamping PKSM saat ini berjumlah 5 orang yang membina 64 kelompok tani HKm. PKSM memiliki peran untuk memdampingi masyarakat khususnya kelompok tani hutan sesuai dengan kemampuannya. PKSM diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap kesejahteraan petani dan menjaga kelestarian hutan.

Peran merupakan pedoman tentang tindakan dan perilaku seseorang yang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan tugas dan fungsi yang melekat serta dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya (Susanti, 2010). Peran dalam penelitian ini merujuk pada Kementerian Kehutanan (2011), yang meliputi dinamisator, mediator, fasilitator, motivator, dan konsultan yang diharapkan mampu membantu masyarakat untuk melakukan pengajuan permohonan izin


(20)

kegiatan HKm. Peran-peran tersebut dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai variabel Y.

Peran PKSM diduga berhubungan dengan beberapa faktor individu yang ada pada diri pendamping. Faktor-faktor yang berhubungan dengan peran PKSM terdiri dari faktor internal yang meliputi umur, pendidikan non-formal, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas, kekosmopolitanan, keterdedahan informasi (Azhari, 2013). Faktor eksternal individu antara lain: tingkat pengakuan keberhasilan, intensitas supervisi, dan ketersediaan sarana dan prasarana (Hadiyanti, 2002). Faktor tersebut berhubungan dengan kemampuan pendamping PKSM dalam melaksanakan perannya, dengan demikian faktor-faktor ini diidentifikasikan sebagai variabel X.


(21)

Gambar 1. Bagan Alir Pemikiran

Peran pendamping PKSM (Y) sebagai: 1. Dinamisator 2. Mediator 3. Fasilitator 4. Motivator 5. Konsultan Faktor internal individu (X1)

X1.1. Umur

X1.2. Pendidikan non-formal

X1.3. Pendapatan

X1.4. Jumlah tanggungan

keluarga X1.5. Lama bertugas

X1.6. Kekosmopolitanan

X1.7. Keterdedahan terhadap

informasi

Faktor eksternal individu (X2)

X2.1. Tingkat pengakuan

keberhasilan

X2.2. Intensitas supervisi

X2.3. Ketersediaan sarana

prasarana

Pengajuan Izin HKm

Kelompok Tani HKm


(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyuluhan

Penyuluhan dapat diartikan sebagai proses untuk memberikan penerangan kepada masyarakat tentang sesuatu “yang belum diketahui dengan jelas” untuk dilaksanakan/diterapkan dalam rangka peningkatan produksi pendapatan/keuntungan yang ingin dicapai melalui proses pembangunan. Penyuluhan dalam bidang pertanian diartikan sebagai suatu cara atau usaha pendidikan yang bersifat nonformal untuk para petani dan keluarganya di pedesaan. Penyuluhan memiliki sifat yang tidak terbatas hanya memberi penjelasan saja tetapi sampai mau, tahu, dan mampu melakukan perbaikan sehingga memberikan hasil akhir dalam perubahan perilaku dan menjadikan sasaran penyuluhan menjadi pribadi yang inovatif (Departemen Kehutanan, 2004).

Pengertian lain penyuluhan adalah proses perubahan sosial, ekonomi dan politik untuk memberdayakan dan memperkuat kemampuan semua “stakeholders” agribisnis melalui proses belajar bersama yang partisipatif, agar terjadi perubahan perilaku pada diri setiap individu dan masyarakatnya untuk mengelola kegiatan agribisnisnya yang semakin produktif dan efisien, demi terwujudnya kehidupan yang baik, dan semakin sejahtera secara berkelanjutan (Mardikanto, 1993).


(23)

Berdasarkan UU No. 16 tahun 2006 yang dimaksud penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Penyuluhan merupakan suatu sistem pendidikan luar sekolah yang tidak sekedar memberikan penerapan atau menjelaskan, tapi berupaya untuk mengubah perilaku sasarannya agar memiliki pengetahuan yang luas, memiliki sikap progresif untuk melakukan perubahan dan inovatif terhadap sesuatu (informasi) baru serta terampil melaksanakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan produktivitas, pendapatan/keuntungan, maupun kesejahteraan keluarga dan masyarakat (Departemen Kehutanan, 1996).

2.2. Penyuluhan Kehutanan

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, menyebutkan bahwa: penyuluhan kehutanan adalah proses pengembangan pengetahuan, sikap dan perilaku kelompok masyarakat sasaran agar mereka tahu, mau dan mampu memahami, melaksanakan dan mengelola usaha-usaha kehutanan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sekaligus mempunyai kepedulian dan berpartisipasi aktif dalam pelestarian hutan dan lingkungannya. Penyuluhan kehutanan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta mengubah sikap dan perilaku masyarakat agar mau dan mampu mendukung pembangunan


(24)

kehutanan atas dasar iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta sadar akan pentingnya sumber daya hutan bagi kehidupan manusia.

Penyuluhan kehutanan pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat, dunia usaha dan pihak lainnya dalam pembangunan kehutanan, merupakan investasi untuk mengamankan dan melestarikan sumberdaya hutan sebagai aset negara (Departemen Kehutanan, 2004). Departemen Kehutanan (1996) menjelaskan bahwa penyuluhan kehutanan sebagai upaya alih teknologi kehutanan melalui pendidikan luar sekolah yang ditujukan kepada petani dan kelompok masyarakat lainnya, untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan kemampuan dalam memanfaatkan lahan miliknya, pengamanan, serta pelestarian sumberdaya alam.

Sasaran hasil penyuluhan kehutanan adalah terwujudnya masyarakat yang mandiri berbasis pembangunan kehutanan, sasaran kegiatan penyuluhan kehutanan adalah yang berkaitan dengan pembangunan kehutanan, yaitu:

1. Masyarakat di dalam dan sekitar hutan;

2. Kalangan dunia usaha yang bergerak dalam bidang kehutanan;

3. Aparat pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terkait dengan pembangunan kehutanan;

4. Kalangan tokoh adat, pemuka agama dan generasi muda; dan

5. Para pihak lainnya yang berkaitan dengan sektor kehutanan (Departemen Kehutanan, 1996).

Hasil dari kegiatan penyuluhan adalah terwujudnya kemandirian masyarakat yang diberdayakan melalui penyuluhan kehutanan dalam peningkatan kualitas


(25)

hidupnya. Kurt Levin, 1943 dalam Departemen Kehutanan 1996 mengenalkan adanya tiga macam peran penyuluh (kehutanan) yang terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Pencairan diri dengan masyarakat sasaran;

2. Menggerakan masyarakat untuk melakukan perubahan-perubahan; dan 3. Pemantapan hubungan dengan masyarakat sasaran.

Memasuki era globalisasi abad XXI, menekankan beberapa peranan yang dapat dimainkan oleh seorang penyuluh dalam masyarakat:

1. Sebagai katalis, artinya seorang penyuluh di masyarakat harus mampu mempercepat proses perubahan dalam masyarakat, namun ia tidak terlibat dalam proses perubahan tersebut.

2. Sebagai penemu solusi, artinya penyuluh harus mampu memberikan jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi masyarakat/petani.

3. Sebagai pendamping, artinya penyuluh harus mendampingi masyarakat yang dalam posisi lemah, mendampingi masyarakat dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

4. Sebagai perantara, artinya penyuluh mampu menjembatani kepentingan masyarakat dengan pihak lain di luar sistemnya seperti dengan pemerintah, swasta, lembaga lain dan sebagainya (Hubies, 1992 dalam Gitosaputro dkk, 2012).

Najib dan Rahwita (2010) mengemukakan penyuluh memegang peranan penting dalam membimbing petani agar dapat memberikan yang terbaik dalam pengelolaan usaha tani yang dilakukannya, oleh sebab itu penyuluh harus merupakan ahli yang


(26)

berkompeten dalam bidangnya, dapat berkomunikasi secara efektif dan cepat tanggap dalam menghadapi setiap permasalahan dan pertanyaan yang nantinya akan diajukan oleh para petani.

Hidayat (2003) menyatakan ukuran keberhasilan penyuluh kehutanan secara sederhana adalah tumbuh dan berkembangnya kelompok Masyarakat Produktif Mandiri (KMPM) berbasis kehutanan dan adanya Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat sebagai mitra kerja penyuluh kehutanan dan kesepahaman masyarakat sebagai pelaku dan pendukung pembangunan hutan dan kehutanan. Muhsin (2011) mengungkapkan adanya kendala-kendala dalam penyelenggaraan penyuluhan, diantaranya adalah kurangnya sarana dan prasarana penyuluhan, kurang informasi pengetahuan inovasi dan teknologi baru disebabkan kurang aktinya mencari informasi sendiri, dan sulit mengumpulkan petani. Kesulitan dalam mengumpulkan petani terjadi karena kegiatan penyuluhan lebih menyesuaikan dengan waktu penyuluh, selain itu kegiatan pelaksanaan penyuluhan bersamaan dengan kesibukan para petani.

Selanjutnya Mulyono (2011) menjelaskan pula kriteria keberhasilan penyuluh kehutanan dalam proses pemberdayaan masyarakat berupa terbentuk dan berkembangnya kelembagaan masyarakat di wilayah kerjanya. Selanjutnya dijelaskan indikator yang mencirikan telah terbentuk dan berkembangnya kelembagaan masyarakat yang kuat dan mandiri yaitu dengan kriteria:

a. Terbentuknya Kelompok Tani dengan SDM anggota masyarakat yang mantap; b. Memiliki organisasi dan pengurus serta mempunyai tujuan yang jelas dan


(27)

c. Memiliki kemampuan managerial dan kesepakatan/ aturan adat yang di taati bersama.

Dinas Kehutanan (2009) menerangkan bahwa, penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) adalah tokoh masyarakat yang secara mandiri mau dan mampu melaksanakan penyuluhan kehutanan. Berdasarkan batasan tersebut maka seseorang dapat dikatagorikan sebagai Penyuluh kehutanan swadaya masyarakat (PKSM) apabila:

a. Telah melaksanakan upaya-upaya nyata di bidang rehabilitasi hutan dan lahan, konservasi dan pelestarian hutan, pengamanan dan perlindungan hutan secara sukarela/swadaya.

b. Secara sukarela memiliki semangat untuk mengajak atau menularkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya kepada anggota masyarakat lainnya.

c. Memiliki pengetahuan dan keterampilan sahingga dapat ditiru dan diteladani oleh anggota masyarakat.

d. Mendapat pengakuan dari masyarakat di sekitarnya bahwa yang bersangkutan memiliki kemampuan dan pantas sebagai Penyuluh Swadaya.

Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat yang selanjutnya disebut PKSM adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. Penyelenggaraan penyuluh kehutanan swasta dan penyuluh kehutanan swadaya masyarakat bertujuan:

a. Mendukung Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penyuluhan kehutanan.


(28)

b. Untuk memenuhi kebutuhan penyuluhan kehutanan bagi Pelaku Utama dan Pelaku Usaha dalam pendampingan kegiatan pembangunan kehutanan.

c. Untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan penyuluhan kehutanan dalam mendukung keberhasilan pembangunan kehutanan.

d. Untuk menyampaikan pesan-pesan pembangunan kehutanan (Kementerian Kehutanan, 2012).

Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat mempunyai tugas :

a. Menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan kegiatan penyuluhan kehutanan; menyusun rencana kegiatan penyuluhan kehutanan;

b. Melaksanakan kegiatan penyuluhan kehutanan secara mandiri;

c. Berperan aktif menumbuhkembangkan kegiatan penyuluhan kehutanan;

d. Menyampaikan informasi dan teknologi baru dan tepat guna kepada pelaku utama; dan

e. Mengolah data hasil lapangan untuk dijadikan program dan metode penyuluhan kehutanan (Kementerian Kehutanan, 2012).

Setiap pelaksanaan tugas PKSM harus berkoordinasi dengan Penyuluh Kehutanan Pegawai Negeri Sipil dan Penyuluh Kehutanan Swasta sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun. Selebihnya mengenai Penyuluh Kehutanan swasta dan Penyuluh Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P.42/Menhut-II/2012.


(29)

2.3. Peran Pendamping

Peran (role) merupakan aspek dinamis kedudukan (status). Soekanto (1995) menegaskan secara umum peran mencakup tiga hal, yaitu:

1. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

2. Peran adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai suatu organisasi.

3. Peran juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat

Menurut Komaruddin (1994), yang dimaksud peran adalah:

a. Bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan seseorang dalam manajemen; b. Pola penilaian yang diharapkan dapat menyertai suatu status;

c. Bagian atau fungsi seseorang dalam kelompok atau pranata;

d. Fungsi yang diharapkan dari seseorang atau menjadi karakteristik yang ada padanya;

e. Fungsi setiap variabel dalam hubungan sebab akibat.

Berry (1995), mengemukakan peran sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Selanjutnya Berry mengemukakan mengenai konsep peranan merupakan satu dari seperangkat istilah yang digunakan dalam mempelajari perilaku individu maupun kelompok, membatasi data yang dikumpulkan, dan mengarahkan analisis yang harus


(30)

dilakukan. Peranan berasal dari kata peran dan mengandung arti seperangkat tingkah laku yang diharapkan, dilakukan seseorang yang berkedudukan di masyarakat.

Pendampingan merupakan proses belajar bersama dalam mengembangkan hubungan kesejajaran, hubungan pertemanan atau persahabatan, antara dua subyek yang dialogis untuk menempuh jalan musyawarah dalam memahami dan memecahkan masalah, sebagai suatu strategi mengembangkan partisipasi masyarakat menuju kemandirian (Kementerian Kehutanan, 2011).

Pendampingan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama masyarakat dalam mencermati persoalan nyata yang dihadapi di lapangan selanjutnya didiskusikan bersama untuk mencari alternatif pemecahan ke arah peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat (Kementerian Kehutanan, 2011); pelaku kegiatan pendampingan, yaitu : agen pembangunan (Pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi, Swasta) dan masyarakat.

Departemen Kehutanan (2004), menjelaskan pendampingan adalah suatu upaya membantu masyarakat memecahkan masalah melalui belajar bersama serta mengorganisasikan kegiatan/aksi masyarakat sehingga menumbuhkan kreatifitas dan kemampuan refleksi masyarakat. Selain itu pendampingan diartikan sebagai upaya untuk mengubah kesadaran dan perilaku masyarakat yang berpengaruh dalam peningkatan kemampuan masyarakat dalam memahami realitas lingkungan, mengetahui faktor-faktor pembentuk lingkungan.


(31)

Tujuan pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pembentukan dan penataan organisasi secara demokratis;

2. Mensosialisasikan program pembangunan kehutanan yang ada di wilayah kerjanya;

3. Membangun jaringan usaha maupun hubungan kemitraan dengan pemerintah (Departemen Kehutanan, 2004).

Pendamping diharapkan dapat memainkan perannya sebagai edukator, motivator, fasilitator, dinamisator, inspirator, konselor, mediator dan advokator secara bergantian, sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Uraian peran pendamping menurut Kementerian Kehutanan (2011) dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Edukator

Inti pendampingan dalam mendidik masyarakat dengan cara yang tidak formal, tidak otoriter, dengan memberikan ruang gerak bagi berkembangnya pemikiran dan kreativitas masyarakat untuk secara aktif belajar dan berlatih atas dasar kesadaran yang tumbuh dari dalam. Pada saat memotivasi masyarakat, pendamping melatih pola pikir, kesadaran dan kepercayaan diri masyarakat.

2. Motivator

Pendamping sebagai motivator berperan dalam menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan diri masyarakat. Pendamping memotivasi masyarakat untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan yang direncanakan, seperti melakukan peningkatan kapasitas dalam teknis budidaya, pengelolaan


(32)

keuangan, membangun kerja sama dan menguatkan kelembagaan usaha dan lainnya.

3. Fasilitator, dinamisator dan inspirator

Pendamping juga berperan dapat sebagai fasilitator. Fasilitator dalam hal ini melakukan kegiatan untuk memperlancar proses pembelajaran masyarakat, seperti memfasilitasi pelatihan, konsultasi atau bantuan teknis lainnya seperti mengembangkan kelompok, memberikan saran untuk memecahkan permasalahan masyarakat dan lainnya. Selain itu, pendamping juga berfungsi sebagai dinamisator dan inspirator, yakni menggerakkan dan mendorong masyarakat, memberikan inspirasi kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

4. Konsultan

Pada situasi tertentu, peran pendamping sebagai konselor juga dibutuhkan. Dalam hal ini masyarakat dapat berkonsultasi dan meminta bimbingan pendamping untuk dapat mengambil keputusan atau mengatasi permasalahannya. Apabila permasalahan itu berada di luar kapasitas atau kompetensi pendamping, maka pendamping perlu memfasilitasi masyarakat untuk bisa memperoleh jawaban, misalnya dengan berkonsultasi dengan pihak lain atau menghadirkan seorang atau beberapa narasumber.

5. Mediator

Pendamping juga dapat berperan sebagai mediator, yaitu menjembatani masyarakat dan kelompok atau institusi lainnya berkaitan dengan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, misalnya menjadi mediator untuk memperoleh


(33)

bimbingan teknis atau fasilitas lainnya, menjembatani dengan lembaga keuangan untuk memperoleh fasilitas permodalan usaha, menjembatani dengan mitra usaha.

6. Advokasi

Dalam kondisi posisi tawar masyarakat yang rendah, misalnya dalam hal sengketa dengan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan, pendamping dapat melakukan pembelaan terhadap masyarakat dalam batas-batas kebenaran dan kewajaran. Fungsi ini bisa diwujudkan antara lain dengan memfasilitasi masyarakat untuk berdialog dengan para pemimpin formal di daerah untuk membicarakan implikasi kebijakan terhadap masyarakat atau kelompok (Kementerian Kehutanan, 2011). Menurut Indraningsih (2010), untuk mendukung peran-peran tersebut, penyuluh harus menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi, komunikasi, dan edukasi. Pendampingan kegiatan pembangunan kehutanan meliputi kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat di bidang :

a. Tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan; b. Pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan hutan; c. Rehabilitasi dan reklamasi hutan; dan

d. Perlindungan hutan dan konservasi alam (Kementerian Kehutanan, 2013).

2.4. Hutan Kemasyarakatan (HKm)

Hutan kemasyarakatan (HKm) adalah hutan negara dengan sistem pengelolaan hutan yang bertujuan memberdayakan masyarakat (meningkatkan nilai ekonomi, nilai budaya, memberikan manfaat/benefit kepada masyarakat pengelola, dan masyarakat setempat), tanpa mengganggu fungsi pokoknya (meningkatkan fungsi


(34)

hutan dan fungsi kawasan, pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu, hasil hutan bukan kayu dengan tetap menjaga fungsi kawasan hutan (Cahyaningsih dkk, 2006).

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:P.88/Menhut-II/2014mendefinisikan Hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang pemanfaatan utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat setempat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara optimal, adil dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup. Proses pemberdayaan masyarakat dalam hutan kemasyarakatan tersebut dimaksudkan agar pengembangan kapasitas dan pemberian akses terhadap masyarakat setempat yang mengelola hutan secara lestari dapat dijamin ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat untuk memecahkan persoalan ekonomi dan sosial yang terjadi di masyarakat, sehingga tujuan dari hutan kemasyarakatan dapat terpenuhi.

Ruang lingkup pengaturan HKm meliputi : a. Penetapan areal kerja HKm;

b. Fasilitasi; c. Pemberian izin; d. Hak dan kewajiban; e. Rencana kerja;

f. Perpanjangan dan penghapusan izin;

g. Pembinaan, pengendalian, dan pembiayaan; dan h. Sanksi (Kementerian Kehutanan, 2014).


(35)

Fasilitasi bertujuan untuk:

a. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam mengelola organisasi kelompok;

b. Membimbing masyarakat mengajukan permohonan izin sesuai ketentuan yang berlaku;

c. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam menyusun rencana kerja pemanfaatan hutan kemasyarakatan;

d. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam melaksanakan budidaya hutan melalui pengembangan teknologi yang tepat guna dan peningkatan nilai tambah hasil hutan;

e. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat setempat melalui pengembangan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan;

f. Memberikan informasi pasar dan modal dalam meningkatkan daya saing dan akses masyarakat setempat terhadap pasar dan modal; dan

g. Meningkatkan kemampuan masyarakat setempat dalam mengembangkan usaha pemanfaatan hutan dan hasil hutan (Kementerian Kehutanan, 2014).

Jenis fasilitasi meliputi:

a. Pengembangan kelembagaan kelompok masyarakat setempat; b. Pengajuan permohonan izin;

c. Penyusunan rencana kerja hutan kemasyarakatan; d. Teknologi budidaya hutan dan pengolahan hasil hutan; e. Pendidikan dan latihan;

f. Akses terhadap pasar dan modal; dan


(36)

Perizinan HKm

Kelompok masyarakat hasil penyiapan yang dilaksanakan melalui fasilitasi Pemerintah/kabupaten kota dapat mengajukan permohonan izin kegiatan hutan kemasyarakatan kepada Bupati/Walikota. Permohonan izin dilengkapi dengan sketsa areal kerja yang dimohon dan surat keterangan kelompok yang memuat data dasar kelompok masyarakat dari kepala desa. Sketsa areal kerja memuat deskripsi wilayah, antara lain keadaan fisik wilayah, sosial ekonomi, dan potensi kawasan hutan (Kementerian Kehutanan, 2014). Berdasarkan permohonan masyarakat tersebut, Bupati/Walikota mengajukan usulan penetapan areal kerja HKm kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktorat Jenderal dan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan. Atas usulan tersebut Direktur Jenderal dapat menerima atau menolak untuk seluruh atau sebagian usulan penetapan areal kerja HKm. Terhadap usulan yang diterima untuk seluruh atau sebagian, dilakukan pembuatan peta areal kerja oleh Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan harus diselesaikan paling lama 30 hari kerja sejak diterimanya surat permohonan dari Direktur Jenderal. Penetapan areal kerja HKm oleh Menteri paling lama 90 hari kerja setelah diterimanya permohonan dari Bupati/Walikota (Kementerian Kehutanan, 2014).

Berdasarkan PAK HKm, Bupati/Walikota menerbitkan IUPHKm dengan ketentuan bahwa Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota sesuai kewenangannya memberikan fasilitasi untuk penguatan kelembagaan kelompok. Hasil dari fasilitasi, Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai kewenangannya selambat-lambatnya 90 hari kerja menerbitkan IUPHKm dengan tembusan kepada Menteri cq. Direktur Jenderal, Gubernur, dan Kepala KPH. IUPHKm memuat luas HKm,


(37)

lokasi, fungsi kawasan, hak dan kewajiban, daftar anggota kelompok, dan masa berlaku izin serta sanksi (Kementerian Kehutanan, 2014).

Kawasan hutan yang dapat ditetapkan sebagai areal kerja hutan kemasyarakatan adalah kawasan hutan lindung dan kawasan hutan produksi. Kawasan hutan lindung dan hutan produksi dapat ditetapkan sebagai areal kerja hutan kemasyarakatan dengan ketentuan:

a. Belum dibebani hak atau izin dalam pemanfaatan hasil hutan; b. Menjadi sumber mata pencaharian masyarakat setempat;

c. Dalam hal yang dimohon berada pada hutan produksi dan akan dimohonkan untuk pemanfaatan kayu, mengacu peta idikatif arahan pemanfaatan hutan pada kawasan hutan produksi yang tidak dibebani izin untuk usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (Kementerian Kehutanan, 2014).

Peraturan tersebut menegaskan bahwa, semua hutan lindung dan hutan produksi dapat menjadi wilayah kelola HKm. Ada beberapa kriteria yang juga harus dipatuhi, antara lain:

a. Bukan pada wilayah yang masih berhutan bagus;

b. Wilayah kelola HKm tidak diizinkan membuka hutan yang masih baru atau membuka baru (memperluas lahan garapan); dan

c. HKm bisa dilakukan pada lahan yang sudah kritis dan sudah digarap oleh masyarakat selama beberapa tahun (Cahyaningsih dkk, 2006).

Kailola (2012) merumuskan tujuan pembangunan HKm sebagai berikut:

a. Meningkatkan produktifitas di dalam kawasan hutan baik dalam bentuk kayu bakar, pertukangan dan pakan ternak.


(38)

b. Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan kemasyarakatan.

c. Mewujudkan pengelolaan hutan kemasyakarakatan dengan tetap memperhatikan fungsi utamanya sebagai pengatur tata air, pengendalian bahaya banjir dan erosi melalui pendekatan Forest Ecosystem Managemant (FEM).

d. Menunjang pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia.

Program hutan kemasyarakatan dapat memberikan manfaat bagi berbagai lapisan, baik masyarakat, pemerintah, maupun terhadap fungsi hutan itu sendiri. Adapun beberapa manfaat yang diperoleh bagi masyarakat, pemerintah dan terhadap fungsi hutan yaitu:

1. Manfaat HKm bagi masyarakat: a) memberikan kepastan akses untuk turut mengelola kawasan hutan, b) menjadi sumber mata pencarian, c) ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan untuk rumahtangga dan pertanian terjaga, dan d) hubungan yang baik antara pemerintah dan pihak terkait lainnya.

2. Manfaat HKm bagi pemerintah: a) sumbangan tidak langsung oleh masyarakat melalui rehabilitasi yang dilakukan secara swadaya dan swadana, dan b) kegiatan HKm berdampak kepada pengamatan hutan.

3. Manfaat HKm bagi fungsi hutan dan restorasi habitat: a) terbentuknya keaneka ragaman tanaman, b) terjaganya fungsi ekologis dan hidrologis, melalui pola tanam campuran dan teknis konservasi lahan yang diterapkan, dan c) menjaga


(39)

kekayaan alam flora dan fauna yang telah ada sebelumnya (Waznah dalam Harlen, 2010).

2.5. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Peran Pendamping

Hadiyanti (2002) dalam hasil penelitiaanya mengemukakan bahwa faktor internal (karakteristik individu) dan faktor eksternal (iklim atau lingkungan) yang memungkinkan untuk berperilaku tertentu mempengaruhi kemampuan individu. Berkaitan dengan peran pendamping dalam melaksanakan tugasnya kedua faktor ini diduga berhubungan dengan peran pendamping dalam mendampingi masyarakat. Hadiyanti (2002), menjelaskan faktor internal yang berhubungan dengan kinerja penyuluh adalah tingkat pendidikan formal dan non-formal, pengalaman kerja, tingkat kebutuhan hidup, persepsi terhadap tugas pkok, dan sikap terhadap tanggung jawab, sedangkan faktor eksternal meliputi: jumlah kompensansi, tingkat pengakuan keberhasilan, intensitas hubungan interpersonal, intensitas supervisi, dan tingkat ketersediaan sarana dan prasarana penyuluhan.

Kajian di atas akan diamati juga faktor yang berhubungan dengan peran pendamping dalam mendampingi masyarakat. Faktor internal individu: umur, pendidikan formal dan non formal, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas, kekosmopolitan, dan keterdedahan informasi. Sedangkan faktor eksternal meliputi: Tingkat pengakuan keberhasilan, Intensitas supervisi, dan Ketersediaan sarana dan prasarana.

Roucek dan Waren (1994), mengemukakan bahwa umur, jenis kelamin, kedudukan dalam sistem keluarga dan kedudukan dalam sistem ekonomi adalah


(40)

salah satu faktor yang menentukan tingkat peranan seseorang. Madri (1990) menambahkan bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi masyarakat untuk berperan dalam kelompok. Pendidikan mempengaruhi sikap pola pikir petani dalam mengambil keputusan untuk menerapkan usahataninya. Madri (1990), juga menjelaskan bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi peran masyarakat dalam pembangunan. Akibat pendidikan dapat menimbulkan perubahan model kepribadiaan, karena perubahan itu terjadi dalam struktur kepribadian maka akan menyebabkan warga masyarakat menjadi serasi untuk berfungsi secara efisien dalam suatu tatanan baru. Tingkat pendidikan memberikan kemampuan warga masyarakat untuk mengetahui potensi-potensi yang ada di lingkungannya, yang kemungkinan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Selanjutnya Madri (1990), juga mengemukakan bahwa tingkat pendapatan dapat mempengaruhi warga masyarakat untuk berperan dalam kelompok. Besarnya jumlah pendapatan seseorang mempunyai hubungan langsung atau tidak langsung dengan keinginan untuk berperan dalam suatu kelompok yang dibinanya.

Mardikanto (1993), menyatakan bahwa pengalaman seseorang akan memberikan kontribusi terhadap minat dan harapan untuk belajar lebih banyak, sehingga pengalaman dapat mengarahkan perhatian kepada minat, kebutuhan, dan masalah-masalah yang dihadapi.

Rogers dan Shoemaker (1981), mengatakan bahwa peranan penyuluh pertanian berhubungan dengan tingkat usia, tingkat pendidikan formal dan nonformal, tingkat pendapatan, tingkat pengalaman kerja, fasilitas kerja, dan jarak tempat


(41)

tinggal. Pada penelitian penyuluh kehutanan dianalogikan sebagai petugas pendamping karena mempunyai peran yang sama.

2.6. Analisis Data 2.6.1. Chi Square

Chi-Square menurut Zanten (1994) adalah suatu ukuran (uji) mengenai perbedaan yang terdapat antara frekuensi yang sebenarnya ada dalam populasi dan frekuensi yang diharapkan.

2.6.2. Koefisien kontingensi

Menurut Siegel (1997), koefisien kontingensi (C) adalah suatu ukuran kadar asosiasi atau relasi antara dua himpunan atribut. Ukuran ini berguna khususnya apabila hanya memiliki informasi kategori (skala nominal) mengenai satu di antara himpunan-himpunan atribut atau kedua himpunan atribut itu. Yaitu, pengukuran ini dapat dipergunakan kalau informasi tentang atribut-atribut rangkaian frekuensi yang tidak berurut.


(42)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2014 di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah. Lokasi ini dipilih secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi tersebut merupakan salah satu daerah binaan PKSM dalam proses mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah.

3.2. Objek dan Alat Penelitian

Objek penelitian ini adalah pendamping kehutanan di Kecamatan Sendang Agung. Pendamping yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) yang bertugas di wilayah administrasi Kecamatan Sendang Agung. Alat yang digunakan antara lain: alat tulis, kalkulator, perekam suara, komputer, panduan wawancara/kuisioner, dan kamera digital.

3.3. Definisi Operasional

Untuk lebih memudahkan dalam pengukuran konsep, maka suatu konsep dijabarkan dalam bentuk definisi operasional. Definisi operasional adalah


(43)

penentuan suatu nilai/harga sehingga menjadi variabel atau variabel-variabel yang dapat diukur (Notoatmodjo, 2002).

Berikut akan diuraikan definisi operasional dari variabel-variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini guna memperoleh batasan yang jelas sehingga dapat dilakukan pengukurannya, yaitu sebagai berikut:

3.3.1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor dalam diri individu yang berhubungan dengan tingkat peran pendamping dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm, meliputi: umur, pendidikan non formal, pendapatan, jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas, kekosmopolitanan, dan keterdedahan informasi yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Variabel dan Definisi Operasional Faktor Internal Pendamping (X1)

Variabel Definisi Operasional Indikator/ukuran Skala

Pengukuran

Umur (X1.1) Usia responden yang

dihitung dari sejak lahir sampai menjadi

responden dan dinyatakan dalam tahun.

Jumlah tahun. Ordinal

Pendidikan Non Formal (X1.2)

Frekuensi responden mengikuti pendidikan non-formal seperti pelatihan, kursus mapun sekolah lapang.

Tingkat pendidikan non-formal yang pernah diikuti.

Ordinal

Pendapatan (X13) Penghasilan responden yang diperoleh dari berbagai sumber, baik pekerjaan tetap maupun sampingan dalam satu bulan dan dinyatakan dalam rupiah. Penghasilan responden perbulan. Ordinal Jumlah tanggungan keluarga (X1.4)

Jumlah anggota keluarga yang menetap dan menjadi tanggungan kepala keluarga.

Jumlah tanggungan.


(44)

Variabel Definisi Operasional Indikator/ukuran Skala Pengukuran Lama Bertugas (X1.5) Lamanya penyuluh menjadi penyuluh kehutanan.

Jumlah tahun. Ordinal

Kekosmopolitanan (X1.6)

Sifat keterbukaan responden dalam menerima ide baru yang diperlukan dari interaksi dengan orang lain diluar kecamatannya.

Frekuwensi keluar desa dalam mencari informasi

mengenai kebutuhan

pendampingan dan kemauan menerima ide baru (dalam 1 bulan).

Ordinal

Keterdedahan informasi (X1.7)

Upaya responden dalam mencari informasi melalui media massa yang dapat membantu mereka menentukan informasi yang dibutuhkan. Jumlah media massa yang digunakan dalam mencari informasi (dalam 1 bulan).

Ordinal

Sumber: Disesuaikan dengan Penelitian Azhari (2013)

3.3.2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor dari luar diri individu yang diduga berhubungan dengan tingkat peran pendamping dalam membantu masyarakat mendapatkan izin HKm, meliputi: tingkat pengakuan keberhasilan, intensitas supervisi, dan sarana prasarana pendampingan yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Variabel dan Definisi Operasional Faktor Eksternal Pendamping (X2)

Variabel Definisi Operasional Indikator/Ukuran Skala Pengukuran

Tingkat pengakuan keberhasilan (X2.1) Pemberian penghargaan oleh lembaga terhadap penyuluh yang berprestasi. Jumlah penghargaan yang diberikan oleh lembaga kepada penyuluh yang berprestasi (dalam 1 tahun). Ordinal Intensitas supervisi (X2.2) Kegiatan pembinaan oleh lembaga penyuluh kehutanan terhadap penyuluh dalam melaksanakan perannya. Frekuensi kegiatan oleh lembaga penyuluh kehutanan kepada penyuluh dalam waktu 1 tahun.


(45)

Variabel Definisi Operasional Indikator/Ukuran Skala Pengukuran Ketersediaan sarana prasarana (X2.3) Ketersediannya sarana dan prasaran yang mendukung kegiatan pendampingan/ fasilitas pendampingan. Ketersediaan sarana dan prasarana pendampingan Sarana penpampingan meliputi: komputer/laptop, LCD, Sound system, papan tulis, alat transportasi, dsb. Prasarana

pendampingan meliputi: kantor, balai pertemuan,

penerangan, jalan lingkungan, lahan/unit percontohan, dsb.

Ordinal

Sumber: Disesuaikan dengan Penelitian Hadiyanti (2002)

3.3.3. Peran PKSM

Peran PKSM merupakan tingkah laku pendamping yang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan individu tersebut dalam lingkungan masyarakat. Peran pendamping meliputi: peran sebagai dinamisator, mediator, falisitator, motivator, dan educator, yang disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Variabel dan Definisi Operasional Tingkat Peran Pendamping (Y)

Variabel Definisi Operasional Indikator/Ukuran Skala Pengukuran

Dinamisator Peran penyuluh

menggerakan masyarakat

(membuat peta batas areal kerja HKm, mengajukan izin HKm, dan membuat rencana kerja HKm) untuk melakukan perubahan atau mampu mengadopsi pergerakan yang diberikan oleh penyuluh. Frekuensi kegiatan yang diberikan penyuluh bagi masyarakat untuk membuat peta batas areal kerja HKm dalam satu tahun. Frekuensi kegiatan yang diberikan penyuluh bagi masyarakat untuk mengajukan

permohonan izin HKm dalam satu tahun.


(46)

Variabel Definisi Operasional Indikator/Ukuran Skala Pengukuran

Mediator Peran penyuluh

sebagai penghubung masyarakat dan kelompok atau institusi lainnya berkaitan dengan kegiatan pengajuan izin HKm.

Frekuensi penyuluh dalam perannya sebagai penghubung masyarakat dengan pihak lain (pemerintah/swasta) berkaitan dengan pembuatan peta batas areal kerja HKm dalam satu tahun. Frekuensi penyuluh dalam perannya sebagai penghubung masyarakat dengan pihak lain (pemerintah/swasta) dalam pengajuan permohonan izin HKm dalam satu tahun.

Ordinal

Fasilitator Peran penyuluh

memfasilitasi kelompok binaan, yakni membantu mengelola suatu proses pertukaran informasi dalam suatu kelompok. Frekuensi penyuluh memfasilitasi kegiatan temu lapang dalam pembuatan peta batas areal kerja HKm dalam satu tahun. Frekuensi penyuluh menyediakan sarana dalam pengajuan izin HKm dalam satu tahun.

Ordinal

Motivator Peran penyuluh

dalam mendorong dan mengarahkan masyarakat untuk melakukan

pengajuan izin HKm.

Frekuensi penyuluh memberikan motivasi kepada masyarakat melakukan pengajuan izin HKm pada kegiatan temu karya dalam satu tahun. Frekuensi penyuluh memberikan motivasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kemampuan menyusun rencana kerja HKm pada kegiatan temu karya dalam satu tahun.


(47)

Variabel Definisi Operasional Indikator/Ukuran Skala Pengukuran

Edukator Peran penyuluh

mendidik dan membimbing masyarakat dalam pengajuan izin HKm.

Frekuensi pemberiaan bimbingan yang diberikan penyuluh dalam pengajuan izin HKm dalam satu tahun.

Frekuensi pemberian bimbingan dalam kursus pembuatan peta batas areal kerja HKm dalam satu tahun.

Ordinal

Sumber: Disesuaikan dengan Permenhut P:29Menhut-II/2013 dan Azhari (2013)

3.4. Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Jenis Data yang dikumpulkan

Data yang perlu diambil dari penelitian ini terdiri dari: a. Data primer

Data yang diperoleh langsung dari observasi dan pengamatan langsung di lapangan terhadap petugas pendamping kehutanan di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah. Data primer yang diambil meliputi peran PKSM sebagai dinamisator, mediator, fasilitator, dan edukator, serta data mengenai faktor internal dan eksternal yang berhubungan dengan peran pendamping. b. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang telah tersedia dalam bentuk catatan tertulis dan dikumpulkan melalui penelusuran pustaka atau laporan yang terdapat di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Lampung Tengah, dan instansi terkait. Data sekunder meliputi: keadaan umum lokasi penelitian, baik lingkungan fisik, sosial, maupun ekonomi masyarakat.


(48)

3.4.2. Metode Pengumpulan Data a. Data primer

1. Observasi merupakan pengamatan secara langsung objek yang diteliti, yaitu petugas pendamping PKSM sertakeadaan fisik lapangan.

2. Wawancara dan pengisian kuisioner dilakukan dengan metode tanya jawab secara langsung dengan petugas pendamping mengenai peran PKSM dan faktor eksternal serta internal yang berhubungan dengan peran pendamping PKSM.

b. Data sekunder

Pengumpulan data sekunder pada penelitian ini melalui studi pustaka/literatur yaitu dengan cara membaca dan mengutip teori-teori yang relevan dari berbagai sumber, serta data-data yang didapat dari lembaga-lembaga/instansi-instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti balai desa atau Kantor Kecamatan Sendang Agung mengenai keadaan umum lokasi penelitian, baik lingkungan fisik, sosial, maupun ekonomi masyarakat, serta profil PKSM Kecamatan Sendang Agung.

3.5. Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode sensus, karena jumlah populasi kurang dari 100 (Arikunto, 2006). Populasi penelitian dalam penelitian ini adalah petugas pendamping yaitu PKSM yang ada di Kecamatan Sendang Agung sebanyak 5 orang.


(49)

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif kuatitatif dan disajikan dalam bentuk tabulasi. Penyajian dalam bentuk tabulasi adalah penyajian data dalam bentuk tabel berisikan jawaban yang dikelompokan berdasarkan katagori jawaban, disusun secara teratur dan teliti.

Tingkat peran PKSM dalam mendampingi masyarakat untuk mendapatkan izin HKm dianalisis berdasarkan penjumlahan skor dari aspek peran PKSM sebagai dinamisator, mediator, fasilitator, motivator, dan edukator. Deskripsi data dilakukan berdasarkan persentase dari skor maksimum masing-masing variabel yang kemudian dikategorikan sangat rendah, rendah, tinggi, dan sangat tinggi. Penyajian deskriptif dipakai untuk menjelaskan gambaran dari setiap bentuk hubungan antara pertanyaan responden, yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis terhadap penelitian ini dengan menggunakan tabel silang. Tabel silang digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel responden yang terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal individu responden dengan tingkat peran PKSM.

Hubungan karakteristik individu dengan peran pendamping dianalisis menggunakan uji statistik Chi Square (X2). Uji Chi Square digunakan untuk menetapkan signifikansi perbedaan-perbedaan atara dua kelompok independen. Untuk menerapkan tes Chi Square rumus dasar yang digunakan untuk pengujian adalah sebagai berikut:


(50)

(Oij Eij)

X2= ∑ (Siegel, 1997) Eij

Keterangan : X2 = Chi Kuadrat

Oij = jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke-i

pada kolom ke-j.

Eij = banyak kasus yang diharapkan di bawah Ho untuk dikategorikan dalam baris

ke-i pada kolom ke-j.

Langkah-langkah dalam penggunaan tes Chi quare adalah sebagai berikut:

1. Memasukan frekuensi-frekuensi observasi dalam suatu tabel kontingensi k x r, dengan menggunakan k kolom untuk kelompok dan r baris disediakan untuk kondisi-kondisi yang berlainan.

2. Menentukan frekuensi yang diharapkan untuk masing-masing sel dan membagi hasil kali dengan N.

3. Menghitung X2 dengan rumus di atas dan menentukan db = (k - 1) (r -1).

4. Menentukan signifikansi nilai observasi X2 dengan memakai tabel C sebagai acuan. Kalau kemungkinan yang diberikan untuk harga observasi X2 untuk harga db itu sama dengan atau lebih kecil dari , tolak H0 dan menerima H1.

Kalau tingkat kepercayaan () ditentukan sebesar 0,90 maka nilai X2 dapat diperoleh dari tabel Chi Square (X2).

Kriteria pengujian : Apabila nilai X2 < X2 , maka H0 diterima,


(51)

Terima H0 memiliki arti faktor-faktor individu responden tidak ada perbedaan

yang nyata dalam hubungannya dengan peran PKSM, sebaliknya H0 ditolak atau

terima H1 berarti faktor-faktor responden ada perbedaan yang nyata dalam

hubungannya dengan peran PKSM. Analisis selanjutnya dilakukan melalui analisis korelasi koefisien kontingensi (C) untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel, yaitu antara faktor-faktor pendamping dengan peran pendamping. Perhitungan koefisien kontingensi sangat mudah jika nilai Chi Square sudah diketahui. Nilai koefisien kontingensi berkisar antara 0 – 1. Rumus koefisien kontingensi adalah sebagai berikut:

Keterangan : C = koefisien kontingensi X2 = Chi Square

N = jumlah sampel, (Siegel, 1997)

Penafsiran terhadap koefisien kontingensi tersebut kuat dan lemahnya menurut Sugiyono (2013) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kategori koefisien kontingensi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 – 0,199 Sangat rendah 0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Cukup Kuat/sedang 0,60 – 0,799 Kuat


(52)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Kecamatan Sendang Agung merupakan salah satu bagian wilayah Kabupaten Lampung Tengah Propinsi Lampung, terletak pada 1040– 49050– 1040– 560 BT dan 050– 080– 150 LS, dengan ketinggian dari permukaan laut antara 88 m – 125 m. Jarak pusat pemerintahan Kecamatan Sendang Agung ke pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah di Gunung Sugih adalah 66 km, dan ke pusat pemerintahan Propinsi Lampung di Bandar Lampung adalah 77 km.

Wilayah Kecamatan Sendang Agung berbatasan langsung dengan: 1. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Pubian dan Padang Ratu, 2. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Padang Ratu dan Kalirejo,

3. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Adiluwih dan Kawasan Register 22 Way Waya, dan

4. Sebelah barat berbatasan dengan Kawasan Register 22 Way Waya.

Wilayah Kecamatan Sendang Agung merupakan pemekaran dari wilayah Kecamatan Kalirejo yang mulai dibuka oleh penduduk sejak tahun 1951. Desa asal dibentuk berdasarkan SK Bupati No. 54/D/1953, tanggal 18 April 1953, sedangkan desa baru (pemekaran) berdasarkan SK Bupati No. 261/1.6/DES/72, tanggal 26 Mei 1972. Kecamatan Sendang Agung terdiri dari sembilan kampung, disajikan pada Tabel 5.


(53)

Tabel 5. Data kampung di Kecamatan Sendang Agung

No Kampung Luas wilayah

(Ha)

Dusun RT

1 Sendang Mulyo 1.130 8 28

2 Sendang Rejo 750 9 25

3 Sendang Baru 529 5 17

4 Sendang Retno 499 5 12

5 Sendang Asih 826 8 16

6 Sendang Agung 956 8 32

7 Sendang Asri 489 6 13

8 Sendang Mukti 548 7 14

9 Kutowinangun 306 5 10

Jumlah 6.033 60 167

Sumber: Monografi Kecamatan Sendang Agung tahun 2014

4.1. Keadaan Fisik dan Wilayah 4.1.1. Karakteristik Lahan dan Iklim

Wilayah Kecamatan Sendang Agung mempunyai jenis tanah podsolik merah kuning sampai sedikit berbatu dengan lapisan olah antara 15 cm s/d 20 cm. Tekstur tanah lempung berpasir dan strukturnya remah sampai menggumpal dengan ph 4,5 sampai dengan 5,5 dengan tingkat kesuburannya rendah sampai dengan sedang, curah hujan tahunan di wilayah Kecamata Sendang Agung rata-rata antara 2,345 mm sampai dengan 3,577 mm dengan hari hujan antara 101 sampai dengan 230 hari (6 bulan basah 100 mm/bulan dan 6 bulan kering 60 mm/bulan). Temperatur udara antara 23o C s/d 32o C.

4.1.2. Pola Pengggunaan Lahan

Penggunaan Lahan untuk sawah pada musim rending ditanami seluas 1.342 Ha dan pada musim kemarau sebagian ditanami palawija, sayuran, tanaman empon-empon, dan tanaman perkebunan serta tanaman keras lainnya seluas 290 Ha.


(54)

Untuk lahan pekarangan dimanfaatkan sebagai lahan kurang gizi dengan tanaman sayuran, buah-buahan, tanaman bambu, dan tanaman obat serta tanaman hias. Lahan kolam dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan gurame, lele dumbo, emas, patin, dan nila.

Lahan kering/tegalan ditanami hutan rakyat dan lahan negara yaitu hutan lindung Register 22 Way Waya ditanami berbagai jenis kayu-kayuan dan MPTs. Lahan lain-lain digunakan untuk kapasitas umum seperti jalan, lapangan bola, pemakamam umum, sungai, dan lainnya.

4.2. Keadaan Demografis

4.2.1. Kependudukan Kecamatan Sendang Agung

Jumlah penduduk Kecamatan Sendang Agung pada tahun 2014 kurang lebih 36.833 jiwa dengan luas wilayah sebesar 108,89 km2 dan kepadatan penduduk 338 jiwa/km2. Komposisi jumlah penduduk dapat di tunjukan dengan rasio jenis kelamin dari berbagai Kelurahan di Kecamatan Sendang Agung Kabupaten Lampung Tengah dapat dilihat pada Tabel 6.

Table 6. Distribusi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Sendang Agung

No Jenis Kelamin Frekuensi Jumlah Penduduk Persentase (%)

1 Laki-laki 19.416 52,54

2 Perempuan 17.417 47,28

Jumlah 36.883 100,00


(55)

Tabel 6 terlihat bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Sendang Agung berjumlah 36.883 jiwa. Jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan hampir setara meskipun lebih banyak penduduk yang berjenis kelamin laki-laki.

Kecamatan Sendang Agung berpenduduk dengan usia produktif yang paling banyak, sehingga masyarakat desa ini mempunyai banyak potensi untuk melakukan usaha. Kelompok umur 0-14 memiliki persentase 28,56%, kelompok umur 15-64 sebesar 65,67%, dan kelompok umur >65 sebesar 5,77%. Jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaan pada tahun 2014 umumnya berusaha pada sektor primer yaitu sebesar 61,9%, kemudian diikuti sektor tersier 25%, dan sektor sekunder 13,1%. Selain jenis pekerjaan, status pekerjaan juga merupakan indikator yang dapat menggambarkan karakteristik pekerja. Berdasarkan data kependudukan yang terjadi pada tahun sebelum-sebelumnya, pada tahun 2014 komposisi penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja menurut status pekerjaannya di Kecamatan Sendang Agung adalah sebagai berikut:

Tabel 7. Distribusi jumlah penduduk berdasarkan jenis pekerjaaan di Kecamatan Sendang Agung

No Jenis Pekerjaan Persentase (%)

1 Berusaha sendiri 10,38

2 Berusaha dibantu pekerja tidak tetap 30,30

3 Berusaha dibantu pekerja tetap 2,40

4 Buruh/karyawan 15,80

5 Pekerja bebas dipertanian 7,60

6 Pekerja tidak dibayar 27,32

Jumlah 100,00


(56)

4.2.2. Sarana Umum 1. Sarana Pendidikan

Persentase penduduk Kecamatan Sendang Agung tahun 2014 menurut ijazah yang dimiliki pada sebagian besar tamat SD 36,60%, belum/tidak memiliki ijazah 19,40%, sedangkan yang memiliki ijazah SMP sederajat sebesar 21,50%, SMA sederajat 19,30%, dan Perguruan Tinggi mencapai 3,2%. Keadaan ijazah yang dimiliki penduduk Sendang Agung disimpulkan bahwa rata-rata tingkat pendidikan masyarakat masih tergolong rendah dengan sebaran jumlah sarana dibidang pendidikan dapat dilahat pada Tabel 8.

Tabel 8. Sarana dibidang pendidikan Kecamatan Sendang Agung

No Tingkat pendidikan Jumlah

1 PAUD 23

2 SD Negeri 24

3 SD/Madrasah Ibtidaiyah Swasta 10

4 SMP Negeri 2

5 SMP/MadrasahTsanawiyah Swasta 8

6 SMA Negeri 1

7 SMA/MA/SMK 5

8 Pondok Pesantren 3

Sumber: Monografi Kecamatan Sendang Agung tahun 2014

Tabel 8 dapat dilihat bahwa sarana dibidang pendidikan sudah cukup memadai, rendahnya tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Sendang Agung dikarenakan berbagai faktor yang dihadapi penduduk Kecamatan ini, sehingga masyarakat hanya menamatkan pendidikannya sampai tingkat SD saja.

2. Sarana Kesehatan

Fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Sendang Agung dapat dilihat pada Tabel 9.


(57)

Tabel 9. Fasilitas kesehatan Kecamatan Sendang Agung

No Tingkat pendidikan Jumlah

1 Puskesmas 1

2 Puskesmas pembantu 4

3 Balai pengobatan 1

4 Dokter 1

5 Bidan 23

6 Perawat 15

Sumber: Monografi Kecamatan Sendang Agung tahun 2014

Tabel 9 dapat dilihat bahwa fasilitas kesehatan di Kecamatan Sendang Agung kurang memadai dengan jumlah dokter umum hanya 1 dan tidak adanya rumah sakit daerah. Jika ada penduduk kampung mengalami sakit parah masyarakat harus ke luar Kecamatan untuk berobat ke rumah sakit yang lebih memadai sarana pengobatannya.

3. Sarana Ibadah

Sarana ibadah di Kecamatan Sendang Agung disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Sarana ibadah di Kecamatan Sendang Agung

No Tempat Ibadah Jumlah

1 Masjid 36 unit

2 Musholah 93 unit

3 Gereja Katolik 2 unit

4 Gereja Protestan 3 unit

5 Pura 3 unit

6 Vihara 1 unit

Jumlah 138 unit

Sumber: Monografi Kecamatan Sendang Agung tahun 2014

Tabel 10 menunjukan bahwa agama kepercayaan Kecamatan Sendang Agung yang mendominasi adalah agama islam dengan beragam suku (jawa, sunda, dan lampung).


(58)

4.2.3. Kondisi Perekonomian

Kondisi perekonomian di Kecamatan Sendang Agung diperoleh dari lahan pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Untuk mengelola hasil perekonomian agar lebih terstruktur penduduk Sendang Agung tergabung dalam sebuah kelompok, yaitu kelompok tani dengan jumlah anggota 6.091 orang petani untuk mengolah lahan pertanian dan kelompok tani HKm untuk mengolah lahan kehutanan yang berjumlah 2751 anggota kelompok tani HKm.


(59)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) sebagai pendamping memiliki peran yang tinggi dalam membantu masyarakat untuk mendapatkan izin HKm di Kecamatan Sendang Agung dengan berperan sebagai dinamisator, mediator, fasilitator, motivator, dan edukator.

2. Berdasarkan hasil nilai kontingensi faktor internal yang memiliki hubungan cukup kuat dengan peran pendamping adalah pendidikan non-formal, jumlah tanggungan keluarga, lama bertugas, dan kekosmopolitanan, sedangkan umur, pendapatan, dan keterdedahan informasi memiliki hubungan yang sangat rendah. Faktor eksternal yang berhubungan dengan peran pendamping adalah pengakuan keberhasilan pendamping, dan intensitas supervisi dengan tingkat hubungan yang cukup kuat, sedangkan sarana prasarana penyuluhan memiliki tingkat hubungan yang sangat rendah dengan peran pendamping.

6.2. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian terhadap sasaran pendampingan untuk menilai peran PKSM dalam mendampingi masyarakat, sehingga hasil penelitian lebih bersifat objektif.


(60)

2. Perlu adanya suatu penghargaan yang dapat diberikan pendamping kehutanan swadaya atas keberhasilan yang pernah diraih selama melakukan pendampingan agar termotivasi untuk terus melakukan perbaikan dalam kualitas kerjanya.

3. Perlu adanya pembinaan lebih lanjut dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota untuk meningkatkan peran PKSM dalam bentuk pelatihan (diklat) di bidang kehutanan.

4. Perlu adanya perbaikan sarana prasarana bagi pendamping untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pendampingan, misal perbaikan balai pertemuan yang sudah rusak.


(61)

DAFTAR PUSTAKA

Anwas, O., M. 2013. Pengaruh Pendidikan Formal, Pelatihan, dan Intensitas Pertemuan Terhadap Kempetensi Penyuluh Pertanian. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaaan. Vol.19. No.1. (50 – 61).

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Azhari, R. 2013. Pengaruh Karakteristik Individu dan Peran Penyuluh dalam Peningkatan Diversifikasi Pangan Rumah Tangga. Tesis IPB. Bogor.

Berry, D. 1995. Pokok-pokok Pikiran dalam Sosiologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Cahyaningsih, N., Pasya, G., dan Warsito. 2006. Hutan Kemasyarakatan Kabupaten Lampung Barat. Dinas Kehutanan dan PDSA. Lampung Barat. Darmawan, I. 2009. Profil PKSM Lampung Tengah. Penyuluh Swadaya.

Sendang Asih.

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluh Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

. 1999. Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Salinan Kepala Biro Hukum dan Organisasi. Dephutbun. Jakarta.

. 2004. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan. Pusat Bina Penyuluh Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

. 2006. Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 Tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Dephutbun. Jakarta.

Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. 2009. Pedoman Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM). Lampung.

Faqih, A. 2013. Peranan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dalam Memberdayakan Kelompok Tani: Studi Kasus pada Kelompok Tani


(1)

70

2. Perlu adanya suatu penghargaan yang dapat diberikan pendamping kehutanan swadaya atas keberhasilan yang pernah diraih selama melakukan pendampingan agar termotivasi untuk terus melakukan perbaikan dalam kualitas kerjanya.

3. Perlu adanya pembinaan lebih lanjut dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota untuk meningkatkan peran PKSM dalam bentuk pelatihan (diklat) di bidang kehutanan.

4. Perlu adanya perbaikan sarana prasarana bagi pendamping untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pendampingan, misal perbaikan balai pertemuan yang sudah rusak.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

Anwas, O., M. 2013. Pengaruh Pendidikan Formal, Pelatihan, dan Intensitas Pertemuan Terhadap Kempetensi Penyuluh Pertanian. Jurnal Pendidikan

dan Kebudayaaan. Vol.19. No.1. (50 – 61).

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rineka Cipta. Jakarta.

Azhari, R. 2013. Pengaruh Karakteristik Individu dan Peran Penyuluh dalam

Peningkatan Diversifikasi Pangan Rumah Tangga. Tesis IPB. Bogor.

Berry, D. 1995. Pokok-pokok Pikiran dalam Sosiologi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Cahyaningsih, N., Pasya, G., dan Warsito. 2006. Hutan Kemasyarakatan

Kabupaten Lampung Barat. Dinas Kehutanan dan PDSA. Lampung Barat.

Darmawan, I. 2009. Profil PKSM Lampung Tengah. Penyuluh Swadaya. Sendang Asih.

Departemen Kehutanan. 1996. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluh Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

. 1999. Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang

Kehutanan. Salinan Kepala Biro Hukum dan Organisasi. Dephutbun.

Jakarta.

. 2004. Buku Pintar Penyuluhan Kehutanan. Pusat Bina Penyuluh Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta.

. 2006. Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 Tentang

Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Dephutbun.

Jakarta.

Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. 2009. Pedoman Penyuluh Kehutanan

Swadaya Masyarakat (PKSM). Lampung.

Faqih, A. 2013. Peranan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dalam Memberdayakan Kelompok Tani: Studi Kasus pada Kelompok Tani


(3)

72

Tanaman Pangan di Pesisir Pantai Kabupaten Cirebon. Disertasi

Universitas Sebelas Maret. Surakata.

Gitosaputro, S., Listiana I., dan Gultom T.D. 2012. Buku Ajar: Dasar – Dasar

Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian. Anugrah Utama Raharja. Bandar

Lampung.

Hadiyanti, P. 2002. Kinerja Penyuluh Kehutanan dalam Pelaksanaan Tugas

Pokoknya (Kasus di Kabupaten Cianjur). Tesis IPB. Bogor.

Harlen, S. 2010. Efektivitas Hutan Kemasyarakatan Sebagai Wujud Kolaborasi Pengelolaan Hutan (Kasus Desa Air Naningan Kecamatan Air Naningan,

Kabupaten Tanggamus, Lampung). Skripsi Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Hidayat, N. 2003. Penyuluhan Kehutanan Akan Dibawa Kemana. Pusat Penyuluhan Kehutanan. Jakarta.

Indraningsih, S.K. 2010. Kinerja Penyuluh dari Perspektif Petani dan Eksistensi

Penyuluh Swadaya Sebagai Pendamping Penyuluh Pertanian. Jurnal

Analisis Kebijakan Pertanian. No. 8. Vol. 4. (302-321).

Ivan, M., Sihombing, dan L., Jufri, M. 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Motivasi Petugas Penyuluh Lapangan Pertanian

(Kasus: Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang). Jurnal On

Social Economic of Agriculture and Agribusiness. Vol. 3. No. 1. (85 – 97).

Kailola, J. 2012. Strategi Social Forestry dalam Pengelolaan Hutan

Kemasyarakatan (HKm) di Kabupaten Halmahera Utara. Jurnal

Agroforestry. No. 4. Vol. 1.

Kementrian Kehutanan. 2011. Pendampingan Hutan Tanaman Rakyat ( HTR ). Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan. Jakarta.

. 2012. Permenhut No. P.42/Menhut-II/2012 tentang Penyuluh Kehutanan Swasta dan Penyuluh Kehutanan Swadaya

Masyarakat. Salinan Kepala Biro Hukum dan Organisasi. Jakarta.

. 2013. Permenhut. No. P.29/Menhut-II/2013 tentang

Pedoman Pendampingan Kegiatan Pembangunan Kehutanan. Salinan

Kepala Biro Hukum dan Organisasi. Jakarta.

. 2014. Permenhut No. 88/Menhut-II/2014 tentang Hutan

Kemasyarakatan. Departemen Kehutanan. Jakarta.


(4)

Madri, 1990. Faktor Penentu Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan. Universitas lampung. Bandar Lampung

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. UNS Press. Surakarta: Sebelas Maret.

. . 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. UNS Press. Surakarta: Sebelas Maret.

Marius, A.J. 2007. Pengembangan Kompetensi Pertanian di Provinsi Nusa

Tenggara Timur. Disertasi IPB. Bogor.

, Sumardjo, Slamet, M., dan Asngari, S.P., 2007. Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Penyuluh Terhadap Kompetensi Penyuluh di Nusa

Tenggara Timur. Jurnal Penyuluhan. Vol. 3. No. 2. (8 – 19).

Muhsin, 2011. Peranan dan Fungsi Penyuluh Kehutanan dalam Pengembangan

Kelompok Tani di Kabupaten Lombok Barat. Jurnal Ganec Swara. Vol. 5

No. 1.

Mukhtar. 2010. Pengelolaan Program Hutan Kemasyarakatan Berbasis Kearifan

Lokal: Studi Kasus di Kawasan Hutan Lindung Sesaot Lombok Barat.

JurnalWacana. No. 13. Vol. 1.

Mulyono, P. 2011. Upaya Pemberdayaan Masyarakat Melalui Penyuluhan

Kehutanan. Badan Penyuluhan Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

Najib, M dan Rahwita, H. 2010. Peranan Penyuluh Pertanian dalam Pengembangan Kelompok Tani di Desa Bukit Raya Kecamatan Tenggarong

Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. Jurnal Ziraa’ah. No. 28. Vol. 2 :

116-127.

Narso. 2012. Persepsi Penyuluh Pertanian Lapang Tentang Perannya dalam

Penyuluhan Pertanian Padi di Provinsi Banten. Jurnal Penyuluhan. Vol. 8.

No.1.

Notoatmodjo, 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Rineka Cipta. Jakarta.

Purwatiningsih, A., Ismani, dan Noor, I. 2004. Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Desa. Jurnal Ilmiah

Administrasi Publik. Vol. 4. No. 2. (75-83).

Ramadoan, S., Muljono, P., dan Pulungan, I. 2013. Peran PKSM dalam Meningkatkan Fungsi Kelompok Tani dan Partisipasi Masyarakat di Kabupaten Bima, NTB. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. Vol. 3. No. 3. Hal. (199−120).


(5)

74

Rogers, B.M. dan Shoemaker, F.F. 1981. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Diterjemahkan Oleh Abdillah Hanafi. Usaha Nasional. Surabaya.

Roucek, J.S. dan Waren, R.L. 1984. Pengantar Sosiologi. Diterjemahkan oleh Sehat Simamora. Bina Aksara. Jakarta.

Sahera, S.L., Rosnita, dan Sayamar, E. 2014. Persepsi Penyuluh terhadap Pentingnya Peran Penyuluhan Perkebunan Kelapa Sawit di Kecamatan

Tapung Kabupaten Kampar. Jurnal Online Mahasiswa. Vol. 1. No. 1. (900

– 910).

Sari, M.A. 2013. Kinerja Penyuluh Pertanian dalam Pengembangan Usaha

Peternakan Sapi Bali di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.

Tesis Universitas Udayana. Denpasar.

Sariyem, Yulida, R., dan Kausar. 2015. Persepsi Petani Terhadap Pentingnya Peran Penyuluhan Perkebunan Karet (Hevea brasiliensi Muell arg) di Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi. Jurnal Online

Mahasiswa Fakultas Pertanian. Vol . 2. No. 1. (164 – 172).

Siegel, S. 1997. Statistik Non Parametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sitorus, L. 2009. Hubugan Karakteristik Dengan Kopetensi Penyuluh Pertanian

di Kota Ternate Provinsi Maluku Utara. Tesis IPB. Bogor.

Soekanto, S. 1995. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D. Alfabeta. Bandung.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan: Petunjuk bagi Penyuluhan Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Susanti, Delva. 2010. Peranan Petugas Pendamping Pemberdayaan Kelompok Petani Kecil (KPK) dalam Program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil

(P4K) di Kota Metro.Skripsi. Unila. Lampung.

Tondok, R.A., Mappigau, P., dan Kaimuddin,. 2013. Pengaruh Motivasi, Modal Sosial dan Peran Model Terhadap Adopsi Teknologi PTT di Kabupaten Maros.pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/4c0f0984ba54a9035c432da38a75aaa6

.pdf.Diakses tanggal 10 Maret 2015.

Van den Ban A. W dan Hawkins, H.S. 1999. Penyuluhan Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Yulida, R. Kausar, dan Marjelita, L. 2012. Dampak Kegiatan Penyuluhan Terhadap Perubahan Perilaku Petani Sayuran di Kota Pekanbaru.


(6)

Yunasaf, U. dan Tasripin, S.D. 2011. Peran Penyuluh dalam Proses

Pembelajaran Peternak Perah di KSU Tandangsari Sumedang. Jurnal Ilmu

Ternak. Vol. 11. No. 2. (98 -103).

Zanten, Wim Van.1994. Statistika Untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Edisi Kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta