PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan PN Nomor: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

ABSTRAK

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN
TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK
(Studi Putusan PN Nomor: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

Oleh
FITRI DWI YUDHA

Pertanggungjawaban pidana adalah sesuatu yang dipertanggungjawabkan secara
pidana, terhadap seseorang yang melakukan tindak pidana. Pertanggungjawaban
pidana pelaku pengancaman terhadap anggota Polri yang dilakukan oleh anak
dalam Putusan Perkara Nomor: 701/Pid. B/ 2014/PN. Tjk. Pelaku yang
dikategorikan anak yaitu AS bin Samijan yang berumur 17 tahun terdakwa telah
terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana paksaan dan
perlawanan terhadap pegawai negeri yang sedang melaksanakan tugas yang sah
dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih dilakukan bersama-sama. Permasalahan
bagaimanakah pertanggungjawaban Pidana pelaku pengancaman terhadap
anggota Polri yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan
PN Nomor:
701/Pid.B/2014/PN.Tjk) dan apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim
dalam menjatuhkan putusan perkara pidana terhadap pelaku pengancaman
terhadap anggota Polri yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan PN Nomor
:701/Pid.B/2014/PN.Tjk)
Pendekatan masalah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis
normatif dan yuridis empiris. Data yang diguanakan yaitu data primer dan data
sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan dan studi
lapangan. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode
induktif.
Hasil penelitian dari pembahasan ini menunjukkan bahwa Pertanggungjawaban
pidana pelaku tindak pidana pengancaman terhadap anggota Polri yang dilakukan
oleh anak dalam Putusan Perkara Nomor: 701/Pid. B/ 2014/PN. Tjk.), terdakwa
dapat dimintai pertanggungjawabannya, sebab terdakwa telah memenuhi unsurunsur pertanggungjawaban pidana yaitu : Perbuatan (manusia), Diancam pidana,
Dilakukan dengan unsur kesalahan. Hakim menjatuhkan sanksi pidana penjara

Fitri Dwi Yudha
selama 1 (satu) tahun dan membebankan biaya perkara kepada terdakwa sebesar
2.000 (rupiah) Akan tetapi penerapan pasal yg dijatuhkan oleh hakim dirasa belum
tepat karena tidak digunakannya Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 yang telah
dirubah menjadi Undang-Undang No 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak. Dasar pertimbangan hakim dalam hal ini yaitu dakwaan jaksa,
tujuan pemidanaan, motif tindak pidana, akibat yang ditimbulkan dan sikap
pelaku setelah melakukan tindak pidana dan kondisi pelaku yang masih anakanak. Serta aplikasi teori-teori yang berkaitan dengan dasar pertimbangan hakim
dalam memutus perkara dalam sidang pengadilan.
Saran dalam penelitian ini adalah Majelis Hakim dalam memberikan
pertimbangan putusan pemidanaan, harus lebih mempertimbangkan keadaan
pelaku yang masih tergolong anak, sebaiknya hakim dalam menjatuhkan
pemidanaan terhadap anak menerapkan sistem pemidanaan yang bersifat
mendidik dalam bentuk rehabilitasi dan pembinaan khusus. Dan Hakim dalam
mengambil keputusan harus lebih bijak dan adil dalam memberikan vonis
terhadap pelaku yang masih dikategorikan anak, sebaiknya putusan hakim dalam
menjatuhkan pidana penjara menjadi pilihan terakhir (ultimum remidium) dan
hakim hendaknya lebih mempertimbangkan hal-hal yang bersifat non-penal
(preventif) daripada yang bersifat penal (refresif).
Kata Kunci: Pertanggungjawaban Pidana, Pengancaman, Anak

RIWAYAT HIDUP

Fitri Dwi Yudha dilahirkan di Bandar Lampung 21
November 1993, yang merupakan anak kedua dari dua
bersaudara pasangan Bapak Bambang Joko Dwi Sunarto,
S.H., M.H. dan Ibu Dr. (c) Asriani, S.H., M.H.
Penulis menyelesaikan pendidikan Taman Kanak-kanak
Aisyah Kedaton Bandar Lampung pada tahun 1997, penulis menyelesaikan
pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Rawa Laut Bandar Lampung pada Tahun
2005, penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Kartika
II-2 Bandar Lampung pada Tahun 2008 dan Sekolah Menengah Atas Negeri 10
Bandar Lampung pada Tahun 2011.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Hukum
Pidana Fakultas Hukum Unila (2014-2015). Selain itu, pada Tahun 2014 penulis
mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tanggal 22 Januari 2014 sampai
dengan 3 Maret 2014 Periode I yang dilaksanakan di Kabupaten Lampung Selatan
Kecamatan Rajabasa Desa Way Muli Timur.

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayahNYA, maka dengan ketulusan dan kerendahan hati serta setiap
perjuangan, do’a dan jerih payahku, aku persembahkan sebuah karya ini kepada :

Ayahanda dan Ibunda
yang selalu kuhormati, kubanggakan, kusayangi, dan kucintai sebagai rasa baktiku
kepada kalian
Terima kasih untuk setiap pengorbanan kesabaran, kasih sayang yang tulus serta
do’a demi keberhasilanku selama ini

Untuk kakakku tersayang yang selalu kubanggakan dan senantiasa menemani
saat-saat aku membutuhkan tempat untuk berbagi cerita
Yuris Nastasia Eka Putri BJDS, S.Ip.

Untuk adik-adikku yang selalu kusayangi dan kubanggakan yang selalu
menemaniku dan selalu menghiburku disaat aku senang maupun sedih
Khalif Anissa Tri Pertiwi BJDS
Dan
Muhammad Catur Lanang Ing Jagad BJDS

Seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan motivasi dan dukungan dalam
bentuk apapun

Almamaterku tercinta.

MOTO
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan
yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang
nyata”
(QS. AL-Ahzab: 58)

“Jangan menyia-nyiakan hidup dengan memberi kekecewaan kepada orang lain, karena 1000
kebaikan yang diberikan akan terhapus dengan 1 kekecewaan saja”
(Fitri Dwi Yudha)

“It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not.”
(André Gide)

SANWACANA
Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNYA penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang penulis alami dalam
proses pengerjaan, namun penulis berhasil menyelesaikan dengan baik. Skripsi ini
sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas
Hukum Universitas Lampung dengan judul : PERTANGGUNGJAWABAN
PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI
YANG DILAKUKAN

OLEH

ANAK.

(Studi

Putusan

PN

Nomor:

701/Pid.B/2014/PN.Tjk)
Penulis menyadari selesainya skripsi ini tidak terlepas dari partisipasi, bimbingan
serta bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S. selaku Rektor Universitas
Lampung.

2.

Bapak Prof. Dr. Heriyandi, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Lampung.

3.

Bapak Dr. Eddy Rifai, S.H., M.H.,

selaku Pembimbing Pertama skripsi

selama penulis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung

dan Ibu Diah Gustiniati M, S.H., M.H., selaku Pembimbing Kedua skripsi
selama penulis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.
4.

Ibu Firganefi, S.H., M.H., selaku Pembahas Pertama skripsi selama penulis
menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampungdan Ibu Rini
Fathonah, S.H., M.H., selaku Pembahas Kedua skripsi selama penulis
menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

5.

Para Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang tidak bisa
disebutkan satu persatu, atas bimbingan dan pengajarannya selama penulis
menjadi mahasiswa serta seluruh staf dan karyawan Fakultas Hukum
Universitas Lampung yang telah membantu penulis dalam proses akademik
dan kemahasiswaan atas bantuan selama penyusunan skripsi.

6.

Bapak Madison, S.H., selaku Hakim pada Pengadilan Negeri IA Tanjung
Karang, Ibu Sayekti Chandra, S.H., selaku Jaksa di Kejaksaan Negeri Bandar
Lampung, Bapak Suswanto selaku Polisi pada Polresta Bandar Lampung, Ibu
Dr. Erna Dewi, S.H., M.H., selaku Dosen bagian Hukum Pidana Fakultas
Hukum Universitas Lampung. Telah meluangkan waktu untuk melakukan
wawancara demi penelitian skripsi ini.

7.

Mbak Sri, Mbak Yanti, dan Babe yang telah membantu dari awal kuliah
hingga akhir perkuliahan sampai penulis menyelesaikan skripsi ini.

8.

Kedua orang tuaku tersayang: Ayahandaku Bambang Joko Dwi Sunarto,
S.H., M.H., dan Ibundaku Dr. (c) Asriani, S.H., M.H., yang selalu menjadi
inspirasi, menyayangiku dan memberikan dukungan baik materil maupun
pemikiran serta selalu mendukung dan memotivasi diriku dalam menggapai
cita-citaku.

9.

Kakakku Yuris Nastasia Eka Putri BJDS, S.I.P., yang selalu memberikan
motivasi dan selalu menjadi pendengar cerita kehidupanku.

10. Adik-adikku Khalif Anissa Tri Pertiwi BJDS dan Muhammad Catur Lanang
Ing Jagad BJDS yang selalu menghiburku dan menemaniku.
11. Seseorang yang selalu memberikan semangat yang luar biasa dalam bentuk
apapun terima kasih telah meluangkan waktu dan fikiran. Sincerely, I’m lucky
to have you.
12. Sahabat dan saudara ku Danissa Okpitasari yang selalu menemaniku dan
memotivasi serta semangat.
13. Sahabat-sahabat Sissy Sarah, Tara, Gracelda, Indah, Zahra, Tiffany, dan Dea
yang selalu menemani dan memberikan motivasi serta semangat. Guys, you
are totally awesome girls! I believe, we will be successful in our future.
14. Teman-temanku Mute, Anca, Triadhani, Mia Nasya, Almira, Tya Murni,
Shintya Sardi, Mimi, Patrisella, Ruri kemala, dan Oldy terimakasih atas
motivasi dan semangat bersama-sama dalam menyelesaikan skripsi.
15. Teman-Teman Brothers Fahmi, Mamed, Odi, Himawan, Danan, Gery, Putera,
Tyo, Ferdian, Jordi, Andre, Hilman yang selalu menghiburku dan
memotivasiku.
16. Teman-teman sepermainan Ivan Savero, Gilang, Backur, Harry, Egi, Zakky
yang selalu memotivasiku.
17. Sahabatku Abdullah (hamba allah) yang selalu membantuku, memotivasi
serta semangat.
18. Keluarga besar Hima Pidana, Fima, Ayi, Hindiana, Andika, Gery, Kresna,
Ninis, Deswandi Ahda, Dopdon, Ody, Fajar, Sarah, Tiffani, Triadhani,

Fahmi, Mute, dan Anggota Hima Pidana angkatan 2012 yang tidak bisa
disebutkan satu persatu, terimakasih atas dukungan, doa dan semangat yang
diberikan untukku.
Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa
dan negara, para mahasiswa, akademisi,

serta pihak-pihak lain

yang

membutuhkan terutama bagi penulis. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.

Bandar Lampung, 23 Februari 2015
Penulis,

Fitri Dwi Yudha

DAFTAR ISI
Halaman
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .............................................................................

1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ............................................................

8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...............................................................

9

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ............................................................

10

E. Sistematika Penulisan ................................................................................

18

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pertanggungjawaban Pidana ....................................................................

20

B. Tinjauan Umum Tentang Hukum Pidana ...................................................

24

C. Tindak Pidana Pengancaman .....................................................................

28

D. Pengertian Anak…………………………………………………..............

29

E. Tinjauan Tentang Polri................................................................................

31

III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah ..................................................................................

33

B. Sumber dan Jenis Data ..............................................................................

34

C. Penentuan Narasumber ..............................................................................

35

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ...........................................

36

E. Analisis Data .............................................................................................

37

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden...........................................................................

39

B. Gambaran Umum Putusan Pengadilan Negeri Kelas Ia Tanjung Karang (Studi
Kasus Putusan Nomor: 701/Pid. B/ 2014/PN. Tjk.) ...............................
41
C.

Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Pengancaman Terhadap Anggota
yang dilakukan oleh Anak (Putusan Nomor: 701/Pid. B/ 2014/PN. Tjk.)..

Polri
45

D. Dasar Pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan perkara pidana terhadap
Pelaku Pengancaman Terhadap Anggota Polri yang dilakukan oleh Anak
(Putusan Nomor: 701/Pid. B/ 2014/PN. Tjk.)............................................
54

V. PENUTUP
A.Simpulan......................................................................................................

65

B.Saran............................................................................................................

66

DAFTAR PUSTAKA

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara hukum seperti yang tercantum dalam Pasal 1 Ayat 3
Undang-Undang Dasar 1945 Perubahan Ketiga. Menurut Penjelasan Umum UUD
1945, khususnya penjelasan tentang Sistem Pemerintahan Negara dinyatakan :
Indonesia adalah Negara yang berdasar atas hukum, artinya: “Negara Indonesia
berdasar atas hukum, tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka”.
Salah satu tujuan hukum adalah keadilan menurut pancasila yaitu keadilan yang
seimbang, artinya ada kesinambungan diantara kepentingan individu, kepentingan
masyarakat dan kepentingan penguasa. Indonesia sebagai negara hukum
menganut asas dan konsep pancasila yang terkandung dalam pembukaan UndangUndang Dasar 1945 yaitu:
1. Asas ketuhanan mengamanatkan bahwa tidak boleh ada produk hukum
nasional yang anti agama dan anti ajaran agama
2. Asas kemanusiaan mengamanatkan bahwa hukum nasional harus menjamin,
melindungi hak asasi manusia
3. Asas kesatuan dan persatuan mengamanatkan bahwa hukum Indonesia harus
merupakan hukum nasional yang berlaku bagi seluruh bangsa Indonesia,
berfungsi sebagai pemersatu bangsa

2

4. Asas demokrasi mengamanatkan bahwa kekuasaan harus tunduk pada hukum
yang adil dan demokratis.
5. Asas keadilan sosial mengamanatkan bahwa semua warga negara mempunyai
hak yang sama dan bahwa semua orang sama di hadapan hukum.

Berdasarkan asas-asas tersebut maka segala tindakan yang melanggar hukum
harus segera ditindak lanjuti dengan dibuatnya suatu peraturan perundangundangan yang relevan dan tegas untuk mengaturnya, seperti halnya kejahatan
pengancaman atau afdreiging yang diatur dalam buku II Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP). Kejahatan pengancaman dalam bentuknya yang pokok
diatur dalam Pasal 369 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Pengertian anak sendiri dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 Ayat (3) disebutkan bahwa anak yang
berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah anak yang telah
berumur 12 (dua belas), tetapi belum mencapai 18 (delapan belas) tahun yang
diduga melakukan tindak pidana.

Anak merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat
harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Setiap anak mempunyai harkat
dan martabat yang patut dijunjung tinggi dan setiap anak yang terlahir harus
mendapatkan hak-haknya tanpa anak tersebut meminta. Hal ini sesuai dengan
ketentuan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang
diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36
Tahun 1990, kemudian juga dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1979 tentang Kesejahteraan Anak dan Undang –Undang Nomor 23 Tahun 2002

3

tentang Perlindungan Anak yang kesemuanya mengemukakan prinsip-prinsip
umum perlindungan anak, yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak,
kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, dan menghargai partisipasi anak.1

Anak seyogianya dipandang sebagai aset berharga suatu bangsa dan negara di
masa mendatang yang harus dijaga dan dilindungi hak-haknya. Perlindungan
hukum bagi anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan hukum terhadap
berbagai kebebasan dan hak asasi anak serta berbagai kepentingan yang
berhubungan dengan kesejahteraan anak. Akhir-akhir ini fenomena yang terjadi di
masyarakat menunjukkan tindak pidana yang dilakukan oleh anak mengalami
peningkatan dari waktu-kewaktu sebagaimana seringkali diberitakan baik dalam
media cetak maupun media elektronik tentang berbagai peristiwa kejahatan yang
pelakunya adalah anak-anak.2 Diketahui bahwa tindakan pengancaman merupakan
suatu kejahatan yang mendatangkan bahaya bagi keamanan umum dari orang atau
barang dan cara untuk melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan,
menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain.

Sebagai contoh kasus yang terjadi di Bandar lampung yaitu pengancaman yang
dilakukan oleh anak terhadap anggota Polri pada beberapa bulan lalu di Jl. Agus
Salim

Gg.

Mangga

Dua,

Kelurahan

Kaliawi,

Tanjungkarang

Pusat,

Bandarlampung. Hal ini diawali dari penangkapan yang akan dilakukan oleh
polisi

terhadap seorang warga yang diduga sebagai bandar narkoba, dengan

melihat kedatangan polisi tersebut memicu AS (17) melakukan tindakan
1

http://anjarnawanyep.wordpress.com-konsep-restorative-justice, diakses melalui internet pada
tanggal 6 Juni 2014, pukul 22.00 wib.
2
Tri Budiardjo,Anak-Anak; Generasi Terpingirkan, (membangun Karakter Generasi Baru Lewat
Pelayanan Anak)., Yogyakarta : Penerbit Andi, 2010, hlm. 110.

4

pengancaman dengan menggunakan senjata tajam terhadap anggota Polresta
Bandar lampung yang hendak menangkap tersangka narkoba di Kaliawi.3

Pengertian Pengancaman dapat dilihat pada :
Pasal 214 KUHP. (1) Paksaan dan perlawanan yang diterangkan dalam Pasal 211
dan Pasal 212, jika dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu,
diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) yang bersalah
dikenakan :
1. pidana penjara paling lama delapan tahun enam bulan, jika kejahatan atau
perbuatan lainnya ketika itu mengakibatkan luka-luka;
2. pidana penjara paling lama dua belas tahun, jika mengakibatkan luka berat;
3. pidana penjara paling lama lima belas tahun, jika mengakibatkan orang mati.

Pengancaman dalam Bentuk Pokok (Pasal 369 KUHP)
(1) “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang
lain secara melawan hukum, dengan ancaman pencemaran baik dengan lisan
maupun tulisan, atau dengan ancaman akan membuka rahasia, memaksa seseorang
supaya memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan
orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang atau menghapuskan
piutang, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun”
a. Unsur obyektif
1. Ancaman pencemaran baik dengan lisan maupun tulisan, atau dengan ancaman
akan membuka rahasia.
a. Ancaman pencemaran nama baik adalah perbuatan yang disengaja untuk
menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan
kepadanya telah melakukan suatu perbuatan yang nyata-nyata mempunyai

3

www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/hukum/hukum-a-kriminal/71114-ancam-anggotadivonis-setahun.

5

maksud untuk menyebarluaskan tuduhan tersebut kepada orang lain atau
umum.
b. Ancaman membuka rahasia adalah memberitahukan kepada orang lain atau
orang banyak tentang segala hal yang menyangkut diri korban yang
disimpannya dan tidak boleh diketahui orang lain.
2. Memaksa
Perbuatan aktif yang sifatnya menekan kehendak pada orang, agar melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan kehendak sendiri.
3. Seseorang
Tidak harus pemilik benda/orang yang menyerahkan dan menerima paksaan
sama dengan orang yang memberi hutang atau piutang.
4. Tujuan yang sekaligus merupakan akibat
b. Unsur subyektif (warna merah)
1. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain Memiliki maksud
untuk menambah kekayaan diri sendiri atau orang lain
2. Secara melawan hukum
Bertindak secara sadar dan telah mengetahui bahwa perbuatan mengambil yang
dia petindak lakukan merupakan suatu hal yang dilarang oleh hukum.
(2) “Kejahatan ini tidak dituntut kecuali atas pengaduan orang yang terkena
kejahatan” (Pengancaman merupakan tindak pidana aduan)

Pemerasan dalam bentuk pokok (368 KUHP)
(1) “Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang
lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman
kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian
adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat orang itu atau

6

orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam
karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan.”
a. Unsur Obyektif
1. Memaksa
Perbuatan aktif yang sifatnya menekan kehendak pada orang, agar melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan kehendak sendiri.
2. Seseorang/orang lain
Tidak harus pemilik benda/orang yang menyerahkan dan menerima paksaan
sama dengan orang yang memberi hutang atau piutang.
3. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
a. Kekerasan adalah setiap perbuatan melawan hukum, dengan atau tanpa sarana
terhadap fisik dan psikis yang menimbulkan bahaya bagi nyawa, badan, atau
terampasnya kemerdekaan seseorang.
b. Ancaman kekerasan adalah setiap perbuatan melawan hukum berupa ucapan,
tulisan, gambar, simbol, atau gerakan tubuh, baik dengan atau tanpa sarana
yang menimbulkan rasa takut atau mengekang kebebasan hakiki seseorang.
4. Untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah
kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat orang itu atau orang
lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang.
Merupakan indikator selesainya kejahatan pemerasan (selesainya perbuatan
tergantung korban)
a. Unsur benda tidak harus milik korban
b. Penyerahan benda tidak harus oleh korban dan tidak harus diberikan
terhadap petindak

7

c. Memberi hutang berarti mengadakan perjanjian yang menyebabkan korban
harus membayar sejumlah uang/memberi prestasi
d. Menghapuskan piutang berarti menghapuskan segala perikatan yang
menyebabkan

hapusnya

kewajiban

hukum

untuk

menyerahkan/menunaikan prestasi kepada korban.
b. Unsur Subyektif (warna merah)
1. Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
Memiliki maksud untuk menambah kekayaan bagi dirinya sendiri atau orang
lain
2. Secara melawan hukum
Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum positif.

Tindakan pengancaman yang dilakukan AS (17) terhadap anggota Polri
membuatnya ditangkap. Ketua majelis hakim Ahmad Virzha menyatakan, AS
(17) bersalah melanggar Pasal 214 Ayat 1 KUHP. ’’Terdakwa dijatuhi hukuman
satu tahun penjara. Dia dinilai telah melanggar Pasal 214 Ayat 1 KUHP,” Putusan
tersebut lebih rendah dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Sayekti
Chandra, yakni dua tahun penjara.

Hukum merupakan jaminan bagi kepastian perlindungan anak. Sebagaimana Arif
Gosita,4 mengemukakan bahwa kepastian hukum perlu diusahakan demi
kelangsungan kegiatan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang
membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan perlindungan
anak.

4

Arif Gosita, 1989, Masalah Perlindungan Anak, Jakarta: Akademi Pressindo, hlm. 19.

8

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis tertarik untuk
mengangkat masalah ini dalam bentuk skripsi dengan judul “Pertanggungjawaban
Pidana pelaku pengancaman terhadap anggota Polri yang dilakukan oleh anak
(Studi Putusan PN Nomor :701/Pid.B/2014/PN.Tjk)”.
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Perumusan masalah dibuat dengan tujuan untuk memecahkan masalah pokok
yang timbul secara jelas dan sistematis. Perumusan masalah dimaksudkan untuk
lebih menegaskan masalah yang akan diteliti, sehingga dapat ditentukan suatu
pemecahan masalah yang tepat dan mencapai tujuan atau sasaran sesuai yang
dikehendaki.
Berdasarkan uraian di atas yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini,
yaitu:
1. Bagaimanakah Pertanggungjawaban Pidana pelaku pengancaman terhadap
anggota Polri yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan

PN Nomor

:701/Pid.B/2014/PN.Tjk) ?
2. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan
perkara pidana terhadap pelaku pengancaman terhadap anggota Polri yang
dilakukan oleh anak (Studi Putusan PN Nomor :701/Pid.B/2014/PN.Tjk)?

2. Ruang Lingkup

Berdasarkan dengan permasalahan di atas maka ruang lingkup penelitian penulis
ini adalah kajian ilmu Hukum Pidana, yang membahas pertanggungjawaban

9

pidana pelaku pengancaman terhadap anggota Polri yang dilakukan oleh anak
(Studi Putusan PN Nomor :701/Pid.B/2014/PN.Tjk). Sedangkan ruang lingkup
penelitian akan dilakukan pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Kelas I A
Tanjung Karang, Kejaksaan Negeri Bandar Lampung, Kepolisian Polres Bandar
Lampung, Fakultas Hukum Universitas Lampung. Penelitian dilaksanakan pada
tahun 2014.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah diatas maka tujuan adanya penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a.

Untuk

mengetahui

Pertanggungjawaban

pidana

pelaku

pengancaman

terhadap anggota Polri yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan PN Nomor
:701/Pid.B/2014/PN.Tjk)
b. Untuk mengetahui dan memahami dasar pertimbangan hakim dalam
menjatuhkan putusan perkara pidana terhadap pelaku pengancaman terhadap
anggota Polri yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan

PN Nomor

:701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

2. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah mencakup kegunaan teoritis dan kegunaan
praktis :

10

a. Kegunaan Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
terhadap pengembangan ilmu hukum pidana khususnya hukum pidana anak di
Indonesia, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan beberapa permasalahan tentang
tindak pidana pengancaman yang dilakukan oleh anak (Studi Putusan

PN

Nomor :701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

b. Kegunaan Praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi
rekan-rekan mahasiswa selama mengikuti program perkuliahan Hukum Pidana
khususnya pada Fakultas Hukum Universitas Lampung dan masyarakat umum
mengenai

Pertanggungjawaban

Pidana

Pelaku

Pengancaman

terhadap

Polri yang dilakukan oleh anak.

D. Kerangka Teoristis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Setiap penelitian akan ada kerangka teoritis yang menjadi acuan dan bertujuan
untuk mengidentifikasi terhadap dimensi sosial yang relevan oleh peneliti.5
Kerangka teoritis merupakan susunan dari beberapa anggapan, pendapat, cara,
aturan, asas, keterangan sebagai satu kesatuan yang logis yang menjadi acuan,
landasan, dan pedoman untuk mencapai tujuan dalam penelitian atau penulisan.6

5

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: Universitas Indonesia, 1986, hlm.125.
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitan Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004,
hlm. 73.

6

11

a. Teori Pertanggungjawaban Pidana
Pertanggungjawaban pidana mengandung asas kesalahan (asas culpabilitas),
yang didasarkan pada keseimbangan monodualistik bahwa asas kesalahan yang
didasarkan pada nilai keadilan harus disejajarkan berpasangkan dengan asas
legalitas yang didasarkan pada nilai kepastian. Walaupun konsep berprinsip
bahwa pertanggungjawaban pidana berdasarkan kesalahan, namun dalam
beberapa hal tidak menuntup kemungkinan adanya pertanggungjawaban
pengganti (vicarious liability) dan pertanggungjawaban yang ketat (strict
liability). Masalah kesesatan (error) baik kesesatan mengenai hukumnya sesuai
dengan konsep merupakan salah satu alasan pemaaf sehingga pelaku tidak
dipidana kecuali kesesatan itu patut dipersalahakan kepadanya.7

Pertanggungjawaban pidana harus memperhatikan bahwa hukum pidana harus
digunakan untuk mewujdkan masyarakat adil dan makmur merata materiil dan
spiruil. Hukum pidana tersebut digunakan untuk mencegah atau menanggulangi
perbuatan yang tidak dikehendaki. Selain itu penggunaan sarana hukum pidana
dengan sanksi yang negatif harus memperhatikan biaya dan kemampuan daya
kerja dari insitusi terkait, sehingga jangan sampai ada kelampauan beban tugas
(overbelasting) dalam melaksanakannya.8
Syarat-syarat elemen yang harus ada dalam delik kealpaan yaitu :
1) Tidak mengadakan praduga-praduga sebagaimana diharuskan oleh hukum,
adapun hal ini menunjuk kepada terdakwa berpikir bahwa akibat tidak
akan terjadi karena perbuatannya, padahal pandangan itu kemudian tidak
7

Barda Nawawi Arief, 2001, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm. 23.
8
Moeljatno, 1993, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban dalam Hukum Pidana, Jakarta,
Bina Aksara, hlm. 49.

12

benar. Kekeliruan terletak pada salah pikir/pandang yang seharusnya
disingkirkan. Terdakwa sama sekali tidak punya pikiran bahwa akibat yang
dilarang mungkin timbul karena perbuatannya. Kekeliruan terletak pada
tidak mempunyai pikiran sama sekali bahwa akibat mungkin akan timbul
hal mana sikap berbahaya
2) Tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana diharuskan oleh hukum,
adapun hal ini menunjuk pada tidak mengadakan penelitian kebijakan,
kemahiran/usaha

pencegah

yang

ternyata

dalam

keadaan

yang

tertentu/dalam caranya melakukan perbuatan.9

Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum
larangan aman yang disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi
barang siapa melanggar larangan tersebut.10
Pertanggungjawaban pidana atau kesalahan seseorang dapat setidaknnya ia
dipidana harus memenuhi rumusan sebagai berikut:
a. Kemampuan bertanggungjawab orang yang melakukan perbuatan.
b. Hubungan bathin (sikap psikis) orang yang melakukan perbuatan dengan
perbuatannya, berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa).
c. Tidak ada alasan yang menghapus pertanggungjawaban pidana atau
kesalahan bagi pembuat.11

9

Ibid, hlm. 49.
Soesilo, R. 1999. KUHP Serta Komentar-komentarnyanya Lengkap dengan Pasal Demi Pasal.
Politeia. Bogor.
11
Sudarto. 1997, Hukum pidana. Yayasan Sudarto. Fakultas Hukum UNDIP. Semarang.

10

13

Ruslan Saleh menyatakan :
Janganlah jatuhkan pidana penjara atau pidana kurungan yang tidak bersyarat jika
suatu pidana bersyarat dipandang telah cukup, janganlah jatuhkan pidana
perampasan kemerdekaan, sifatnya adalah panjang jika suatu pidana waktunya
pendek telah dapat menyelesaikan persoalan itu.12

Penanganan perkara pidana yang pelakunya masih tergolong anak haruslah
ditujukan pada :
a. Menjatuhkan Kesejahteraan Anak (the promotion of well being of the juvenile),
dan
b. Prinsip proposionalitas (the principle of proportionality).

Bahwa prinsip memajukan kesejahteraan anak untuk menghindari penggunaan
sanksi yang semata-mata bersifat pidana atau semata-mata bersifat menghukum.
Sedangkan prinsip proposionalitas digunakan untuk mengekang penggunaan
sanksi yang bersifat menghukum dalam arti membalas semata-mata.13

b. Teori Dasar Pertimbangan Hakim
Menurut Mackenzie, ada beberapa teori atau pendekatan yang dapat dipergunakan
oleh hakim dalam mempertimbangkan penjatuhan putusan dalam suatu perkara,
yaitu sebagai berikut :
1. Teori Keseimbangan
Keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbanngan antara syarat-syarat yang
ditentukan oleh undang-undang dan kepentingan pihak-pihak yang berkaitan

12

Samosir, Djusman. 1992. Fungsi Pidana Penjara Dalam Sistem Pemidanaan di Indonesia. Bina
Cipta Bandung.
13
Muladi dan Barda Nawawi Arief. 2005. Teori-Teori dan Kebijakan Pidana. Alumni. Bandung.

14

dengan perkara, antara lain adanya keseimbangan yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat, kepentingan terdakwa dan kepentingan korban, atau
kepentingan pihak penggugat dan pihak tergugat.

2. Teori Pendekatan Seni dan Intuisi
Penjatuhan Putusan oleh hakim merupakan diskresi suatu kewenangan dari
hakim. Sebagai diskresi, dalam penjatuhan putusan, hakim akan menyesuaikan
denga keadaan dan hukuman yang wajar bagi setiap pelaku tindak pidana atau
dalam perkara perdata, hakim akan melihat keadaan pihak yang berperkara,
yaitu tergugat pang penggugat dalam perkara pidana. Pendekatan seni
dipergunakan oleh hakim dalam penjatuhan suatu putusan, lebih ditentukan
oleh instink atau intuisi daripada pengetahuan hakim.

3. Teori Pendekatan Keilmuan
Titik tolak dari teori ini adalah pemikiran bahwa proses penjatuhan pidana
harus dilakukan secara sistematik dan penuh kehati-hatian, khususnya dalam
kaitan dengan putusan-putusan terdahulu dalam rangka menjamin konsistensi
dari putusan hakim.

4. Teori Pendekatan Pengalaman
Pengalaman dari seorang hakim merupakan hal yang dapat membantunya
dalam menghadapi perkara-perkara yang dihadapi perkara-perkara yang
dihadapinya sehari-hari, karena dengan pengalaman yang dimilikinya, seorang
hakim dapat mengetahui bagaimana dampak dari putusan yang dijatuhkan

15

dalam suatu perkara pidana, yang berkaitan dengan pelaku, korban maupun
masyarakat.14

5. Teori Ratio Decidendi
Teori

ini

didasarkan

pada

landasan

filsafat

yang

mendasar,

yang

mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang
disengketakan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan
dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam
penjatuhan putusan, serta pertimbangan hakim harus didasarkan pada motivasi
yang jelas untuk menegakkan hukum dalam memberikan keadilan bagi para
pihak yang berperkara.

6. Teori Kebijaksanaan
Sebenarnya teori ini berkeneen dengan putusan hakim dalam perkara
dipengadilan anak. Landasan dari teori kebijakan ini menekankan rasa cinta
terhadap tanah air, nusa, dan bangsa Indonesia serta kekeluargaan harus
ditanam, dipupuk, dan dibina. Selanjutnya teori ini menekankan bahwa
pemerintah, masyarakat dan orangtua ikut bertanggung jawab untuk
membimbing, membina, mendidik, dan melindungi anak, agar kelak dapat
menjadi manusia yang berguna bagi keluarga, masyarakat, dan bagi
bangsanya.15

Hakim dalam menjatuhkan pidana harus mempertimbangkan hal-hal yang bersifat
yuridis dan hal-hal yang bersifat non-yuridis, yaitu :

14

Ahmad Rifai, Penemuan Hukum Oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif, Jakarta: Sinar
Grafika, 2010, hlm. 105-106.
15
Loc. Cit.

16

1. Hal-hal yang bersifat yuridis
a) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU)
b) Keterangan saksi dan terdakwa
c) Barang bukti
d) Pasal-pasal yang bersangkutan
2. Hal-hal yang bersifat non yuridis maksudnya pertimbangan dari luar aspek
hukumnya, misalnya keadaan terdakwa, umur terdakwa, sikap dan pribadi
terdakwa, termasuk teori pertimbangan hakim.

2. Konseptual
Konseptual adalah susunan berbagai konsep yang menjadi fokus pengamatan
dalam melaksanakan penelitian.Kerangka konseptual adalah kerangka yang
menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang mempunyai artiarti yang berkaitan dengan istilah yang diteliti atau diketahui.16

Berdasarkan definisi tersebut, maka konseptualisasi dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:

a. Pertanggungjawaban pidana
Pertanggungjawaban pidana adalah sesuatu yang dipertanggungjawabkan secra
pidana terhadap seseorang yang melakukan perbuatan pidana atau tindak
pidana.17

16

Soerjono Soekanto, 1986, Op.Cit., hlm.132.
Roeslan saleh, perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana, 1999, Jakarta: Akasara Baru,
hlm 75.

17

17

b. Pelaku
Pengertian pelaku telah dirumuskan dalam Pasal 55 Ayat (1) KUHP sebagai
berikut:
“Pelaku adalah mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, yang
turut serta melakukan, dan mereka yang sengaja menganjurkan orang lain
supaya melakukan perbuatan”.
c. Pengancaman
Pengancaman adalah tindak pidana yang dilakukan untuk menguasai suatu
barang dengan cara menista atau mengancam akan membuka rahasia dengan
kata atau tulisan. Pengancaman diancam dengan hukuman penjara paling lama
empat tahun berdasarkan pasal 369 KUHP

d. Anak
Anak menurut Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang
Sistem Peradilan Pidana Anak menyebutkan bahwa :
“Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah
anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18
(delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.”

18

E. Anggota Polri
Polri adalah Kepolisian Nasional diIndonesia, yang bertanggung jawab langsung
di bawah Presiden. Polri mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah
Indonesia. Badan pemerintah yg bertugas memelihara keamanan dan ketertiban
umum, menangkap orang yg melanggar undang-undang, anggota badan
pemerintah atau pegawai negara yg bertugas menjaga keamanan. 18

E. Sistematika Penulisan

Sistematika ini memuat uraian keseluruhan yang akan disajikan dengan tujuan dan
kegunaan, kerangka teoritis dan konseptual, serta sistematika penulisan.
I. PENDAHULUAN
Merupakan bab yang menguraikan latar belakang masalah dan ruang lingkup,
tujuan dan kegunaan, manfaat penulisa, serta sistematika penulisan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Merupakan bab pengantar yang menguraikan tentang pengertian-pengertian
umum dari pokok bahasan yang memuat tinjauan umum mengenai pengertian
penegakan hukum, pengertian tinjuan umum tindak pidana, tinjauan umu tentang
pengancaman dan pengertian anak
III. METODE PENELITIAN
Merupakan bab yang membahas suatu masalah yang menggunakan metode ilmiah
secara sistematis, yang meliputi pendekatan masalah, sumber, jenis data, prosedur
pengumpulan dan pengelolaan. Sehingga dengan demikian memerlukan suatu
18

http://pospolisi.wordpress.com/2012/11/03/tugas-dan-wewenang-polri/, diakses
11 desember 2014 pada pukul 12:12.

pada tanggal

19

metode yang jelas dan efektif agar hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat di
pertanggungjawabkan.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Merupakan bab yang menguraikan jawaban dari permasalahan yang telah
dirumuskan yang memuat tentang karakteristik responden, Pertanggungjawaban
pidana pelaku pengancaman terhadap POLRI yang dilakukan oleh anak dan
pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman bagi terpidana tersebut.
V. PENUTUP
Merupakan bab yang berisikan kesimpulan yang dapat diambil penulis dan saransaran yang diberikan penulis yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.

20

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertanggungjawaban Pidana

Pertanggungjawaban pidana didasarkan pada asas kesalahan (culpabilitas), yang
didasarkan pada keseimbangan monodualistik bahwa asas kesalahan yang
didasarkan pada nilai keadilan harus disejajrkan berpasangan dengan asa legalitas
yang didasarkan pada nilai kepastian. Walaupun konsep berprinsip bahwa
pertanggungjawaban pidana berdasrkan kesalahan, namun dalam beberapa hal
tidak menutup kemungkinan adanya pertanggungjawaban pengganti (vicarious
liability) dan pertanggungjawaban yang ketat (strict liability). Masalah kesesatan
(error) baik kesesatan mengenai keadaanya (error facti) maupun kesesatan
mengenai hukumnya sesuai dengan konsep alasan pemaaf sehingga pelaku tidak
dipidana kecuali kesesatanya itu patut dipersalahkan.1

Kesalahan tersebut terdiri dari dua jenis yaitu kesengajaan (opzet) dan kelalaian
(culpa), sesuai teori hukum pidana Indonesia, kesengajaan terdiri dari tiga macam,
yaitu sebagai berikut :
a. Kesengajaan yang bersifat tujuan
Bahwa dengan kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku dapat
dipertanggungjawabkan dan mudah dapat dimengerti oleh khalayak ramai.

1

Barda Nawawi Arief, 2001, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan
Kejahatan. Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm. 23.

21

Apabila kesengajaan seperti ini ada pada suatu tindak pidana, si pelaku pantas
dikenakan hukuman pidana.
b. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian
kesengajaan ini ada apabila si pelaku, dengan perbuatannya tidak bertujuan
untuk mencapai akibat yang menjadi dasar dari delik, tetatpi ia tahu benar
bahwa akibat itu pasti akan mengikuti perbuatan itu
d. Kesengajaan secara keinsyafan kepastian
kesengajaan ini yang terang-terang tidak disertai bayangan suatu kepastian akan
terjadi akibat yang bersangkutan, melainkan hanya dibayangkan suatu
kemungkinan belaka akan akibat itu. Selanjutnya mengenai kealpaan karena
merupakan bentuk dari kesalahan yang mengahasilkan dapat dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatan seseorang yang dilakukannya.2

Kelalaian (culpa) terletak antara sengaja dan kebetulan, bagaimanapun juga culpa
dipanjang lebih ringan dibanding dengan sengaja, oleh karena itu delik culpa,
culpa itu merupakan delik semu sehingga diadakan pengurangan pidana. Delik
culpa mengandung dua macam, yaitu delik kelalaian yang menimbulkan akibat
dan tidak menimbulkan akibat, tapi yang diancam dengan pidana ialah perbuatan
ketidak hati-hatian itu sendiri, perbedaan antara keduanya sangat mudah dipahami
yaitu kelalaian yang menimbulkan akibat dengan terjadinya itu maka diciptalah
delik kelalaian, bagi yang tidak perlu menimbulkan akibat dengan kelalaian itu
sendiri sudah diancam dengan pidana.3

Syarat-syarat elemen yang harus ada dalam delik kealpaan yaitu :
1. Tidak mengadakan praduga-praduga sebagaimana diharuskan oleh hukum,
adapun hal ini menunjuk kepada terdakwa berpikir bahwa akibat tidak akan
terjadi karena perbuatannya, padahal pandangan itu kemudian tidak benar.
Kekeliruan terletak pada salah pikir/pandang yang seharusnya disingkirkan.
Terdakwa sama sekali bahwa akibat yang dilarang mungkin timbul karena
perbuatannya. Kekeliruan terletak pada tidak mempunyai pikiran sama sekali
bahwa akibat mungkin akan timbul hal mana sikap berbahaya
2. Tidak mengadakan penghati-hatian sebagaimana diharuskan oleh hukum,
mengenai hal ini menunjuk pada tidak mengadakan penelitian kebijaksaan,

2
3

Moeljatno, Op. Cit, hlm. 46.
Ibid, hlm.48.

22

kemahiran/usaha pencegah yang ternyata dalam keadaan yang tertentu/cara
melakuka perbuatan4

Pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility) adalah suatu mekanisme
untuk

menentukan

apakah

seseorang

terdakwa

atau

tersangka

dipertanggungjawabkan atas suata tindakan pidana yang terjadi atau tidak. Untuk
dapat dipidananya si pelaku, disyaratkan bahwa tindak pidana yang dilakukannya
itu memenuhi unsur-unsur yang telah ditentukan dalam Undang-undang.
Seseorang dilihat dari sudut terjadinya tindakan yang dilarang, harus
mempertanggungjawabkan tindakan-tindakan yang melawan hukum serta tidak
ada alasan pembenar atau peniadaan yang melawan hukum untuk pidana yang
dilakukannya. Tindak pidana jika tidak ada kesalahan adalah merupakan asas
pertanggungjawaban pidana, oleh sebab itu dalam hal dipidananya seseorang yang
melakukan perbuatan sebagaimana yang diancamkan, ini tergantung dari soal
apakah dalam melakukan perbuatan ini dia mempunyai kesalahan.5

Berdasarkan hal tersebut maka pertanggungjawaban pidana atau kesalahan
menurut hukum pidana, terdiri atas tiga syarat, yaitu :
a. Kemampuan bertanggung jawab atau dapat dipertanggungjawabkan dari si
pembuat.
b. Adanya perbuatan melawan hukum yaitu sikap psikis pelaku yang terkait
dengan kelakuannya yaitu disengaja dan kurang hati-hati atau lalai.
c. Tidak ada alasan pembenar atau alasan yang menghapuskan
pertanggungjawaban pidana bagi si pembuat. 6

Masalah kemampuan bertanggung jawab ini terdapat dalam Pasal 44 Ayat 1
KUHP yang berbunyi : “Barang siapamelakukan perbuatan yang tidak dapat
4

Ibid, hlm. 48
Moeljatno, Op. Cit, hlm. 49.
6
Ibid, hlm. 50
5

23

dipertanggungjawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau
terganggu karena cacat, tidak dipidana”. Menurut Moeljatno, bila tidak
dipertanggungjawabkan itu disebabkan hal lain, misalnya jiwanya tidak normal
dikarenakan dia masih muda, maka Pasal tersebut tidak dapat dikenakan. Apabila
hakim menjalankan Pasal 44 KUHP, maka sebelumnya harus memperhatikan
apakah telah dipenuhi dua syarat yaitu :
a. Syarat psikiatris yaitu pada terdakwa harus ada kurang sempurna akalnya atau
sakit berupa akal, yaitu keadaan kegilaan (idiot), yang mungkin ada sejak
kelahiran atau karena suatu penyakit jiwa keadaan ini harus terus menerus.
b. Syarat psikologis ialah gangguan jiwa itu harus pada waktu si pelaku
melakukan perbuatan pidana, oleh sebab itu suatu gangguan jiwa yang timbul
sesudah peristiwa tersebut, dengan sendirinya tidak dapat menjadi sebab
terdakwa tidak dapat dikenai hukuman.7

Berdasarkan uraian diatas maka diketahui bahwa pertanggungjawaban pidana
mengandung makna bahwa setiap orang yang melakukan tindak pidana atau
melawan hukum, sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang, maka orang
tersebut patut mempertanggungjawabkan perbuatan sesuai dengan kesalahannya.
Dengan

kata

lain

orang

mempertanggungjawabkan

yang

perbuatan

melakukan

perbuatan

tersebut

denganpidana

pidana
apabila

akan
ia

mempunyai kesalahan, seseorang mempunyai kesalahan apabila pada waktu
melakukan perbuatan dilihat dari segi masyarakat menunjukan pandangan
normatif mengenai kesalahan yang telah dilakukan orang tersebut

7

Ibid, hlm.51.

24

B. Tinjauan Umum Tentang Hukum Pidana

1. Pengertian Pidana
Istilah “hukuman” yang merupakan istilah umum konvensional, dapat mempunyai
arti yang luas dan berubah-ubah karena istilah itu dapat mempunyai arti dapat
berkonotasi dengan bidang yang cukup luas. Istilah tersebuttidak hanya sering
digunakan dalam bidang hukum, tetapi juga dalam istilah sehari-hari di bidang
pendidikan, moral, agama dan sebagainya.
Oleh karena “pidana” merupakan istilah yang lebih khusus, maka perlu ada
pembatasan pengertian atau makna sentral yang dapat menunjukkan ciri-ciri atau
sifat-sifat yang khas.Untuk memberikan gambaran yang lebih luas, berikut ini
dikemukakan beberapa pendapat atau defenisi dari para sarjana sebagai berikut:
Menurut Prof. Sudarto, SH:8
Yang dimaksud dengan pidana ialah penderitaan yang sengaja diberikan kepada
orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Jenis pidana menurut KUHP, seperti terdapat dalam pasal 10, dibagi dalam dua
jenis:9
a. Pidana pokok, yaitu :
1. Pidana mati
2. Pidana penjara
3. Pidana kurungan

8

Muladi dan Barda Nawawi Arif, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Cetakan Ke-2, Bandung:
Alumni, 1998, hlm. 2 – 4.
9
R. Soesilo, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentar Lengkap
Pasal Demi Pasal, Bogor: Politeia, 1988, hlm. 34.

25

4. Pidana denda
5. Pidana tutupan (ditambah berdasarkan UU No. 20 tahun 1946)

b. Pidana tambahan, yaitu :
1. Pencabutan hak-hak tertentu;
2. Perampasan barang-barang tertentu;
3. Pengumuman putusan hakim

2. Tindak Pidana
Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana
Belanda yaitu “Straftbaar Feit”, Strafbar Feit terdiri dari 3 (tiga) kata yakni Straf,
Baar dan Feit. Straf diterjemahkan sebagai pidana dan hukum, perkataan baar
diterjemahkan sebagai dapat dan boleh sedangkan kata feit diterjemahkan sebagai
tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan. Tindak menunjuk pada hak
kelakuan manusia dalam arti positif (handelen). Padahal pengertian yang
sebenarnya dalam istilah feit adalah termasuk baik perbuatan aktif maupun pasif.10
Perbuatan aktif maksudnya suatu bentuk perbuatan yang untuk mewujudkannya
diperlukan atau diisyaratkan adanya suatu gerakan atau gerakan-gerakan dari
tubuh atau bagian dari tubuh manusia, misalnya mengambil sebagaimana diatur
dalam Pasal 362 KUHP atau merusak yang diatur dalam

Pasal 406 KUHP.

Sedangkan perbuatan pasif adalah suatu bentuk tidak melakukan suatu bentuk
perbuatan fisik apapun, dimana seseorang tersebut telah mengabaikan kewajiban
hukumnya, misal perbuatan tidak menolong sebagaimana diatur dalam Pasal 531
KUHP atau perbuatan membiarkan yang diatur dalam Pasal 304 KUHP.
10

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002, hlm
67.

26

Simon mengatakan bahwa straftbaar feit adalah kelakuan yang diancam dengan
pidana, bersifat melawan hukum, dan berhubungan dengan kesalahan yang
dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab. Sedangkan Van Hamel
mengatakan bahwa straftbaar feit adalah kelakuan orang yang dirumuskan dalam
undang-undang, bersifat melawan hukum, patut dipidana dan dilakukan dengan
kesalahan.11

Dengan demikian dilihat dari istilahnya, hanya sifat-sifat dari perbuatan saja yang
meliputi suatu tindak pidana sedangkan sifat-sifat orang yang melakukan tindak
pidana menjadi bagian dari persoalan lain, yaitu pertanggungjawaban pidana.
Terdapat pemisahan antara pertanggungjawaban pidana dan tindak pidana, yang
dikenal dengan paham dualisme, yang memisahkan antara unsur yang mengenai
perbuatan dengan unsur yang melekat pada diri orangnya tentang tindak pidana.

Tindak pidana berisi rumusan tentang akibat-akibat yang terlarang untuk
diwujudkan. Dengan demikian, rumusan tentang tindak pidana berisi kewajiban,
yang apabila tidak dilaksanakan pembuatnya diancam dengan pidana. Kewajiban
disini, menurut Wilson bukan hanya bersumber dari ketentuan undang-undang,
dapat kewajiban tersebut timbul dari suatu perjanjian ataupun kewajiban yang
timbul di luar perjanjian, atau kewajiban yang timbul dari hubungan-hubungan
yang khusus, atau kewajiban untuk mencegah keadaan bahaya akibat
perbuatannya, bahkan kewajiban-kewajiban lain yang timbul dalam hubungan
sosial.12

11

Chairul huda,Dari Tiada Pidana Tanpa kesalahan Menuju Kepada Tiada pertanggungjawaban
Pidana Tanpa Kesalahan, Jakarta: Prenada Media, 2006, hlm. 28.
12
Ibid, hlm. 30

27

3. Unsur-Unsur Tindak Pidana
Unsur-unsur tindak pidana dapat dibedakan dari dua sudut pandang yaitu Menurut
Moeljatno, unsur-unsur tindak pidana adalah:
a. Perbuatan
b.Yang diarang (oleh aturan hukum)
c. Ancaman pidana (bagi yang melanggar larangan)13

Perbuatan manusia saja yang boleh dilarang, yang melarang adalah aturan hukum.
Ancaman (diancam) dengan pidana menggambarkan bahwa tidak mesti perbuatan
itu dalam kenyataan benar-benar dipidana. Pengertian diancam adalah pengertian
umum, yang artinya pada umumnya dijatuhi pidana. Tresna menyatakan bahwa
unsur-unsur tindak pidana adalah:
a. Perbuatan atau rangkaian perbuatan
b. Yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
c. Diadakan tindakan penghukuman14

Dari unsur ketiga terdapat diadakan tindakan penghukuman, yaitu pengertian
bahwa seolah-olah setiap perbuatan yang dilarang itu selalu diikuti dengan
penghukuman (pemidanaan). Berbeda dengan Moeljatno, karena kalimat diancam
pidana berarti perbuatan itu tidak selalu dan dengan demikian dijatuhi pidana.
Walaupun mempunyai kesa

Dokumen yang terkait

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA ATAS PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Kasus terhadap Putusan Nomor 1003/PID/(A)/2010/PN.TK)

0 11 59

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

1 6 70

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan Nomor: 791/Pid.A/2012/PN.TK)

2 26 62

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA POLRI (Nomor Putusan: 355/PID.B/2011/PN.GS.,86/PID/2012/PT.TK)

0 8 48

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PEMBUNUHAN BERENCANA OLEH ANGGOTA POLRI (Studi Putusan No : 283/pid.B./2011/PN.Menggala)

2 35 55

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114/Pid./2012/PT.TK)

0 5 48

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan PN Nomor: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

0 10 59

PERTANGGUNG JAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (STUDI PUTUSAN PN NOMOR: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

0 0 12

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA POLISI (Studi Kasus Nomor.114Pid.2012PT.TK) Oleh: FERRY ADTIA HUTAJULU ABSTRAK - PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP DELIK PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH OKNUM ANGGOTA PO

0 0 14

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENCABULAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA (Studi putusan PN Nomor 500/Pid.B/2016/Pn.Tjk)

0 0 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3924 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1044 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 933 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 625 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 782 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1333 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1229 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 814 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1101 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1329 23