PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

ABSTRAK

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA
PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
(Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

Oleh
Herlia Anissa

Tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh anak masih terjadi di wilayah
hukum Pengadilan Negeri Gunung Sugih, hal itu dapat dilihat dari Perkara
Pengadilan Negeri Gunung Sugih Nomor 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS. Dalam kasus
tersebut, terdakwa Boby Fernandes Bin Anshori yang masih berusia 12 tahun
dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak
pidana penganiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 351 Ayat (1) KUHP dan
dipinda selama 3 (tiga) bulan pidana penjara. Permasalahan dalam penelitian ini
adalah bagaimanakah penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana
penganiayaan yang dilakukan oleh anak berdasarkan Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan dasar pertimbangan hakim
dalam menjatuhkan putusan terhadap perkara anak yang melakukan tindak pidana
penganiayaan (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS).
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan secara yuridis normatif
dan pendekatan yuridis empiris. Sumber dan jenis data dalam penelitian ini adalah
data primer yang diperoleh dari studi lapangan dengan melakukan wawancara
terhadap Jaksa, Hakim, Lembaga Advokasi Anak dan Dosen bagian pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung. Data sekunder diperoleh dari studi
kepustakaan. Data yang diperoleh kemudian diolah yang kemudian dianalisis
secara analisis kualitatif guna mendapatkan suatu kesimpulan.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa
Penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana penganiayaan yang dilakukan
oleh anak yakni berpedoman pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan unsur-unsur yang terpenuhi atas

Herlia Anissa
perbuatan yang dilakukan, fakta-fakta dipersidangan dalam hal ini terdapat 4
(empat) alat bukti yang cukup berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP,
terdakwa telah memenuhi rumusan Pasal 351 Ayat (1) KUHP dan diberikan
sanksi pidana selama selama 3 (tiga) bulan pidana penjara, ketentuan Pasal 79
Ayat (4) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak menegaskan bahwa pidana penjara dalam KUHP berlaku terhadap Anak
sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Secara normatif penerapan
sanksi pidana tersebut kurang tepat karena melihat keadaan pelaku yang masih
anak dibawah umur yakni berusia 12 tahun maka hal ini tentunya mensyaratkan
mengenai bentuk rehabilitasi dan pembinaan khusus terhadap terdakwa untuk
menghindari pengaruh negatif terhadap anak dalam lingkungan penjara, tetapi
secara komperhensif penjatuhan hukuman pidana penjara dinilai Hakim sudah
sesuai dengan tujuan pemidanaan. Dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan
putusan terhadap perkara anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan
dalam Perkara Nomor 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS adalah dakwaan jaksa, tujuan
pemidanaan, hal-hal yang meringankan dan memberatkan, majelis hakim
cenderung tidak menjatuhkan pidana maksimum, harapan pelaku tidak
mengulangi perbuatannya, motif tindak pidana, sikap pelaku setelah melakukan
tindak pidana, akibat yang ditimbulkan, serta aplikasi teori-teori pertimbangan
hakim dalam memutus perkara dalam sidang pengadilan yakni kepastian hukum,
kemanfaatan dan keadilan hukum. Hakim juga sepenuhnya memperhatikan
ketentuan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 dan Pasal 182 Ayat (6),
Pasal 183, Pasal 184 KUHAP.
Adapun saran penulis yaitu penegak hukum dalam menerapkan sanksi pidana
anak agar lebih mempertimbangkan keadaan pelaku yang masih anak dibawah
umur maka hal ini tentunya mensyaratkan mengenai bentuk rehabilitasi dan
pembinaan khusus terhadap pelaku untuk dapat mengembangkan kontrol diri dan
untuk menghindari pengaruh negatif terhadap anak yakni stigma mental dalam
lingkungan penjara, mengingat bahwa sanksi pidana yang dapat diterapkan tidak
hanya sanksi pidana penjara sebagaimana diatur dalam Pasal 71 Ayat (1) UndangUndang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
Kata Kunci: Penerapan, Sanksi Pidana, Penganiayaan, Anak

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA
PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
(Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

Oleh
Herlia Anissa

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA
PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
(Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)
(Skripsi)

Herlia Anissa

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

DAFTAR ISI
Halaman
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup ................................................... 9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ................................................................ 11
D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ............................................................. 12
E. Sistematika Penulisan ................................................................................. 19

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Anak dari Beberapa Undang - Undang dari Sudut Hukum
Pidana ......................................................................................................... 22
B. Hak dan Kewajiban Anak........................................................................... 25
C. Pengertian Pelaku Tindak Pidana ............................................................... 27
D. Pengertian dan Unsur - Unsur Tindak Pidana Penganiayaan Serta
Pengaturannya.. .......................................................................................... 28
E. Jenis - jenis Sanksi Pidana dan Tindakan dalam Undang - Undang
Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.. ................ 36
F. Teori tentang Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhi Pidana ......... 40

III. METODE PENELITAN
A. Pendekatan Masalah .................................................................................. 45
B. Sumber dan Jenis Data ............................................................................... 46
C. Penentuan Populasi dan Sampel ................................................................. 48
D. Metode Pengumpulan dan Pengelolaan data ............................................. 49
E. Analisis Data .............................................................................................. 50

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden ............................................................................ 51
B. Penerapan Sanksi Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Penganiayaan Yang
Dilakukan oleh Anak Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Putusan Nomor:
43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS) ........................................................................ 53
C. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan terhadap Perkara
Anak yang Melakukan Tindak Pidana Penganiayaan (Studi Putusan
Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS) ............................................................ 69
V. PENUTUP
A. Simpulan .................................................................................................... 84
B. Saran ........................................................................................................... 86

DAFTAR PUSTAKA

MOTTO
“Pelajar berharga adalah insan bangsa yang mau mengorbankan
dan mempersembahkan masa depannya untuk totalitas
perjuangan yang dibutuhkan negeri bukan untuk membudayakan
kekerasan”

“Hidup adalah belajar memberi meski tak seberapa, belajar
mengasihi meski disakiti,
belajar tenang meski gelisah.
Hidup adalah belajar memahami meski tak sehati, belajar sabar
meski terbebani,
belajar setia meski tergoda.
Hidup adalah belajar bersyukur meski tak cukup, belajar ikhlas
meski tak rela,
belajar taat meski berat”
(Penulis)

“Anak cikal sebuah perubahan, melangkah dengan tunas harapan
dan bertindak atas keilmuan, bukan sebuah tradisi kekerasan yang
harus dikembangkan, akan tetapi tumbuhkanlah kemampuan diri
dengan ilmu”
(Kak Seto-KPAI)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat
dan hidayahNYA, maka dengan ketulusan dan kerendahan hati
serta setiap perjuangan dan jerih payahku, aku persembahkan
sebuah karya ini kepada:

Papi dan Mami tercinta yang telah mengorbankan tenaga, dan
fikiran, serta hartanya untuk mengasuh, mendidik, memberi
dukungan, dan nasehat. Dan senantiasa berdoa untuk
keberhasilanku

Untuk Kakakku Hadha Akbar, S.H.,M.H yang senantiasa
menemaniku dengan keceriaan dan kasih sayang

Sahabat-sahabatku yang selalu hadir menemaniku dalam suka
maupun duka

Almamaterku tercinta

RIWAYAT HIDUP

Herlia Anissa dilahirkan di Bandar Lampung, 2 Januari 1992,
yang merupakan anak ke dua dari dua bersaudara pasangan
Bapak

H.

Herman

Hazboellah,

S.H.,M.M

dan

Ibu

Hj.Dra.Ellya Saleh, M.M.

Penulis menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-kanak Kartika II-26 Bandar
Lampung pada tahun 1997, penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar
Kartika II-5 Bandar Lampung pada tahun 2003, penulis menyelesaikan studinya
di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Bandar Lampung pada tahun 2006 dan
Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bandar Lampung pada tahun 2009. Dengan
mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa akhirnya penulis diterima di Fakultas
Hukum Universitas Lampung Jalur PKAB (Penelusuran Kemampuan Akademik
dan Bakat) pada Tahun 2009.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif mengikuti beberapa kegiatan. Selain
itu, pada Tahun 2012 penulis mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
tanggal 2 Juli sampai 10 Agustus 2012 yang dilaksanakan di Desa Mekar Jaya,
Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan.

SANWACANA

Alhamdulillahirobbil’alamien. Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan
Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNya penulis dapat menyelesaiakan
skripsi ini. Meskipun banyak rintangan dan hambatan yang penulis alami dalam
proses pengerjaannya, namun berhasil menyelesaikannya dengan baik skripsi ini
sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas
Hukum Universitas Lampung dengan judul : PENERAPAN SANKSI PIDANA
BAGI

PELAKU

DILAKUKAN

TINDAK

OLEH

ANAK

PIDANA

PENGANIAYAAN

BERDASARKAN

YANG

UNDANG-UNDANG

NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA
ANAK (STUDI PUTUSAN NOMOR: 43/PID.B.(A)/2012/PN.GS).

Penulis menyadari selesainya skripsi ini tidak terlepas dari partisipasi, bimbingan
serta bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1.

Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung.

2.

Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum
Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung dan selaku Pembimbing

Pertama yang telah memberikan saran sehingga proses penyelesaian skripsi
dapat berjalan dengan baik.
3.

Bapak Tri Andrisman, S.H., M.H. selaku Pembimbing Kedua yang telah
banyak membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi
ini.

4.

Ibu Firganefi, S.H., M.H. sebagai Pembahas Pertama dan Ibu Dona Raisa,
S.H., M.H. sebagai Pembahas Kedua yang telah banyak memberikan
kritikan, koreksi dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.

5.

Bapak A.Nurul Fasjri Oesman, S.H., M.H. selaku Pembimbing Akademik
selama penulis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

6.

Bapak Riswanto, S.H. dan Ibu Siti Munawaroh, S.H., M.H. selaku
responden dari Kejaksaan Negeri Gunung Sugih, Bapak Zulkifli Anwar,
S.H., M.H. dan Bapak Badaruddin, S.H., M.H. selaku responden dari
Pengadilan Negeri Gunung Sugih, Bapak Lukman, S.H. selaku responden
dari LSM LADA Bandar Lampung, serta Bapak Dr. Eddy Rifai, S.H., M.H.
yang telah meluangkan waktunya untuk melakukan wawancara demi
penelitian skripsi ini.

7.

Para Dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung yang tak bisa disebutkan
satu persatu, atas bimbingan dan pengajarannya selama penulis menjadi
mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.

8.

Seluruh staf dan karayawan Fakultas Hukum Universitas Lampung yang
telah membantu penulis dalam proses akademis dan kemahasiswaan atas
bantuannya selama penyusunan skripsi.

9.

Papi H.Herman Hazboellah, S.H.,M.M. dan Mami Hj.Dra.Ellya Saleh,
M.M., mohon dengan sangat arahan, didikan, dukungannya terus dan iringi
doa di setiap langkah Anis.

10.

Ajo ku tersayang beserta istrinya Junjungan Lioni dan keponakanku Kila,
doain Mommy cepet kerja terus sukses. Amin..

11.

Seseorang yang aku sayangi yang selalu setia menemani dan memotivasi
diriku serta mendukung diriku dalam segala hal. Sukses sama-sama yaa.

12.

My bestfriend: Richard, Desva, Nco, Ivan, Moch, Niko, Ayu, Angga, Mono.
Sukses utk kita semua!

13.

Sepupuku: Ade, Nca, Dian, Desta, Ses Lisa. Beserta seluruh keluarga
besarku terimakasih atas dukungan dan do’a yang selam ini telah diberikan.

14.

Hukum Menter Resty, Intan, Ana, Melisa, Fina, Ipeh. Keep menter! Hahaha.

15.

Temen-temen seperjuangan: Helda, Danar, Maria, Vika, Tri, Icha, Oca, dan
teman-teman angkatan 09’ lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu.

16.

Keluarga kecil semasa KKN: Mba Ida, Pak Ruyat, Dana, Tea. Beserta tim
yang bertugas Yessica, Diena, Mita, Pretty, Adit, Adi, Yuka, Purba, Dian,
Wulan, Eni, Lisa, Rossy.

17.

Untuk KD, Mba Eva, Mba Sri, Mba Yanti makasih atas bantuan, arahan
dan sarannya. Maaf klo Anis repotin terus. Keep Contact yaa!

18.

Sahabat-sahabatku dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan satu persatu
terimakasih atas kebersamaan, motivasi dan kekompakannya.

19.

Almamaterku tercinta yang sudah memberi banyak wawasan dan
pengalaman berharga.

Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa
dan negara, para mahasiswa, akademisi, serta pihak-pihak lain

yang

membutuhkan terutama bagi penulis. Saran dan kritik yang bersifat membangun
sangat diharapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT
senantiasa memberikan perlindungan dan kebaikan bagi kita semua. Amin.

Bandar Lampung, 16 Mei 2013
Penulis

Herlia Anissa

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tindak pidana yang dilakukan oleh anak atau dikenal dengan juvenil delinguency
dewasa ini semakin meluas dan beragam, baik frekuensi maupun dalam
keseriusan kualitas kejahatan. Hal ini terlihat dari banyaknya kasus yang terjadi
antara lain perkelahian, pemerasan/penodongan, penganiayaan dan sebagainya.
Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, ada 2.008 kasus
kriminalitas yang dilakukan anak usia sekolah sepanjang kuartal pertama tahun
2012. Jumlah itu meliputi berbagai jenis kejahatan seperti pencurian, tawuran,
penganiayaan dan pelecehan seksual yang dilakukan siswa SD hingga SMA.
Angka itu meningkat setiap tahun. Jika 2010 terjadi 2.413 kasus kriminal anak
usia sekolah, 2011 yakni sebanyak 2.508 kasus1. Perilaku anak yang menyimpang
sering disebut dengan kenakalan anak (juvenel delinguency). Perilaku tersebut
tidak sesuai dengan norma-norma yang ada di masyarakat sehingga timbul
pelanggaran-pelanggaran yang pada akhirnya cenderung ke arah tindak pidana.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
mempertegas tentang pengertian anak di dalam Pasal 1 angka (3) disebutkan
bahwa:
1

Komisi Perlindungan Anak Indonesia-home page. http://www.kpai.or.id/berita/kriminalitasanak/artikel.php.
diakses tanggal 19 Desember 2012 Pkl. 17.00 WIB

2

“Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak
adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum
berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Undang-undang tentang Pengadilan Anak melihat sisi anak dari perbuatan
yang dilakukannya, apabila anak tersebut melakukan kejahatan sebelum
anak tersebut umur 12 (dua belas) tahun tidak dikategorikan anak nakal
sehingga dari sisi hukum ia belum dapat dimintai pertanggungjawaban,
sebalinya apabila sudah mencapai umur 12 (dua belas) tahun sampai 18
(delapan belas) tahun dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan
yang dilakukannya, kemudian bila anak tersebut sebelum umur 18
(delapan belas) tahun sudah kawin maka bukan dikategorikan anak dan
proses peradilan melalui peradilan umum bukan peradilan anak2”
Perilaku

menyimpang yang cenderung mengarah pada tindak kriminal yang

dilakukan oleh anak tersebut dalam bentuk tindak pidana digolongkan sebagai
kenakalan3. Kenakalan tersebut tampaknya telah mengganggu ketertiban,
keamanan, kenyamanan masyarakat baik di kota-kota besar maupun kota-kota
kecil. Seperti yang dimukakan oleh Y. Bambang Mulyono, Problema kejahatan
anak bukan suatu masalah yang timbul dalam lingkup kecil, tetapi hampir terjadi
baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil. Sebenarnya hampir tiap negara
di dunia ini mengalami atau menghadapi kejahatan yang dilakukan oleh anak4.

Masalah delinguency anak sejauh ini seperti tersebut di atas tidak hanya terjadi di
negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga terjadi di negara-negara maju
seperti Amerika Serikat. Robert Mevercic Iver dalam bukunya “The Prevention
and Control Of Delinguency” menyatakan bahwa berdasarkan data statistik
delikuensi anak meningkat setiap tahunnya juga dinyatakan bahwa kenaikan itu

2

Ketentuan Penjelasn Umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Singgih D. Gunarsa. Kenakalan remaja. Gultom. Jakarta. 1984. hlm. 27
4
Bambang Mulyono. Kenakalan remaja dalam persfektif pendekatan sosiologi psikologi dan
penanggulangannya. Yogyakarta. 1986. hlm. 11

3

3

cukup mencemaskan dan jika delikuensi anak itu dibiarkan maka hal itu akan
meningkat menjadi kejahatan anak atau Adult Criminality5.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002
menjelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas)
tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan6. Undang-Undang Nomor 23
tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa pertanggungjawaban
orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara merupakan rangkaian
kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus demi terlindunginya hak-hak
anak. Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin
pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial.
Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak
sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, nasionalisme, berakhlak mulia,
serta berkemauan keras menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara.

Pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak memerlukan peran serta
masyarakat, baik lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga
swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha,
media massa atau lembaga pendidikan. Apabila anak melakukan kesalahan dan
tindak pidana, maka anak sudah sepatutnya mendapatkan perlindungan dan
perlakuan khusus dalam hal proses peradilannya sebagaimana yang diatur oleh
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak 7.

5

Kartini Kartono. Patologi 2 kenakalan remaja. Rajawali Pers. Jakarta. 1992. hlm 16
Penjelasan umum Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
7
Penjelasan umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

6

4

Persoalan hukum tidak hanya menimpa orang-orang dewasa. Anak-anak juga
seringkali terbentur dengan persoalan hukum. Seperti halnya orang dewasa, anakanak juga berhak mendapat perlindungan secara hukum. Perlindungan hukum ini
tidak hanya diberikan kepada anak yang menjadi korban dalam suatu masalah
hukum, tapi juga kepada anak-anak yang menjadi pelakunya.

Peradilan anak bertujuan memberikan yang paling baik bagi anak, tanpa
mengorbankan kepentingan masyarakat dan tegaknya suatu keadilan. Tujuan
Peradilan Anak tidak berbeda dengan peradilan lainnya, yaitu memeriksa,
memutus dan menyelesaikan perkara anak. Dalam hal ini, pelaksanaan pembinaan
dan perlindungan terhadap anak, diperlukan dukungan baik yang menyangkut
kelembagaan maupun perangkat hukum yang lebih baik dan mewadahi8.

Tindak pidana penganiayaan (gequalificeerde diefstal mistreatment) yang
dilakukan oleh anak adalah suatu bentuk kenakalan. Seorang anak belum dapat
mempertanggungjawabkan semua kesalahannya karena lingkungan sekitarnya
juga memberi peluang untuk melakukan pelanggaran hukum. Sehingga proses
peradilannya pun mempunyai perbedaan dengan peradilan pada umumnya.
dikarenakan demi menghindari tekanan psikologis terhadap anak yang telah
melanggar norma atau pun hukum yang berlaku9. Sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Suara Pembaruan, “kejahatan anak”. http://www.prakarsarakyat.org/artikel/fokus/artikel.php?aid=29687.
diakses tanggal 20 November 2012 Pkl. 16.00 WIB
9
Bassar M. Sudrajat. Tindak-tindak pidana tertentu di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Remaja
Karya. Jakarta. 1986. hlm. 34

8

5

Tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh anak terjadi di Negara Republik
Indonesia. Kasus-kasus yang terjadi demikian perlu mendapat perhatian dari
pemerintah lebih khususnya Komisi Perlindungan Anak yang memiliki peran
penting dalam menanggapi berbagai kasus yang terjadi.

Dasar yuridis yang mengatur tentang tindak pidana penganiayaan adalah Pasal
351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang secara terperinci
memaparkan tindak pidana penganiayaan. Ketentuan di dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP), tindak pidana penganiayaan termasuk tindak
pidana yang kualifikasiannya tersebut diatur dalam Pasal 351 Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Unsur perbuatan delinquat adalah pelanggaranpelanggaran norma masyarakat10. Unsur tersebut bersifat anti sosial dari berbagai
tindakan untuk mengamankan masyarakat maka para pelaku kejahatan diberi
hukuman yang sesuai dengan perbuatannya dan perbuatan delinguat adalah
perbuatan yang merugikan dalam segala aspeknya. Disamping itu kejahatan yang
dilakukan oleh orang dewasa pada umumnya hampir sama dengan yang dilakukan
oleh anak-anak pula. Jadi perbuatan tersebut merupakan kejahatan seperti yang
dirumuskan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Sehubungan dengan hal tersebut, untuk memberikan gambaran awal tentang
perbuatan yang dirumuskan dalam Pasal 351 KUHP di atas, akan dikutipkan
ketentuan dalam Pasal tersebut. Pasal 351 KUHP secara tegas merumuskan11:
(1) Penganiayaan dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua tahun
delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat ribu lima ratus rupiah;
10
11

P.A.F. Lamintang. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Citra Aditya Bakti. Bandung. 1997. hal. 16
Ketentuan Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

6

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama lima tahun;
(3) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya orang, maka yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun;
(4) Dengan penganiayaan disamakan merusak kesehatan orang dengan sengaja;
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dapat dipidana.

Berdasarkan rumusan ketentuan Pasal 351 KUHP di atas terlihat bahwa rumusan
tersebut memberikan kejelasan tentang perbuatan seperti apa yang dimaksudkan.
Ketentuan Pasal 351 KUHP di atas telah merumuskan kualifikasi dan pidana yang
diancamkan. Menurut Sudarto yang di kutip oleh Tolib Setiady menjelaskan
bahwa pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada orang yang
melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu12.

Berbagai motif kejahatan yang dilakukan anak terjadi karena hal-hal tertentu,
sedangkan kualitas setiap motif berbeda-beda, suatu kejahatan yang muncul di
permukaan tidak selalu berdiri sendiri, ada suatu gejala yang melatarbelakanginya,
seperti berbagai kondisi psikologis maupun sosiologis yang dapat memicu
timbulnya kejahatan tersebut dalam segala aspek dan kondisinya. Kejahatan yang
dilakukan anak merupakan suatu bentuk penyimpangan dan bertentangan dengan
Undang-undang sehingga sebagai akibat perbuatan tersebut seorang anak dapat
dipidana. Menurut Sudarto yang di kutip oleh Tolib Setiady menjelaskan bahwa

12

Tolib Setiady. Pokok-Pokok Hukum Penitensier Anak Indonesia. Alfabeta. Bandung. 2010. hlm. 19

7

pemidanaan diartikan sebagi menetapkan hukum atau memutuskan tentang
hukumnya (berechten)13.

Berdasarkan pra survey pada Pengadilan Negeri Gunung Sugih serta contoh kasus
pada

Pengadilan

Negeri

Gunung

Sugih

dengan

Nomor

Perkara.

43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS, terdakwa Boby Fernandes Bin Anshori yang masih
berusia 12 tahun pada waktu dan tempat sebagaimana diuraikan dalam surat
dakwaan telah melakukan melakukan penganiayaan yang menimbulkan rasa tidak
enak, rasa sakit, atau luka atau dengan sengaja merusak kesehatan orang lain yaitu
saksi

korban

Mulyawan

Yulistiyo

Bin

Ibrahim.

Terdakwa

melakukan

penganiayaan tersebut karena saksi korban tanpa sengaja menyenggol tas
terdakwa Boby Fernandes Bin Anshori yang sedang berjalan kaki beramai-ramai
dengan teman-temannya. terdakwa terdakwa Boby Fernandes Bin Anshori juga
menganiaya saksi korban dengan menggunakan patahan sebatang kayu di bagian
kaki sebelah kiri sebanyak dua kali, di bagian pundak sebelah kiri sebanyak satu
kali lalu menendang menggunakan kaki sebelah kanan sebanyak satu kali, dan di
bagian muka memukul berkali-kali dengan menggunakan tangan sebelah kanan.
Majelis Hakim mejatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut dengan pidana
penjara selama 3 (tiga) Bulan.

Ketentuan dalam ilmu pengetahuan hukum pidana atau doktrin menjelaskan
penganiayaan diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk
menimbulkan rasa sakit atau luka pada tubuh orang lain, penganiayaan yang
biasanya terjadi tidak hanya dilakukan oleh satu orang tetapi secara bersama-

13

Tolib Setiady. Op. cit. hlm. 21

8

sama, oleh karena itu penganiayaan yang dilakukan oleh anak dikenakan Pasal
351 Ayat (1) KUHP dipidana sebagai pembuat delik14.

Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana penganiayaan tersebut
dapat dimintai pertanggungjawabannya, sesuai dengan unsur-unsur tindak pidana,
yaitu sehat jiwanya, mengetahui bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum
serta mampu mengetahui kehendak sesuai kesadarannya, sehingga ia dapat
dipidana oleh Hakim. Tujuan pemidanaan ini bukanlah suatu pembalasan
melainkan pembinaan bagi terdakwa yang telah berbuat salah dan agar dapat
mempertanggungjawabkan perbuatannya15.

Penerapan sanksi pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana
penganiayaan berbeda dengan orang dewasa. Perhitungan pidana penjara yang
dijatuhkan kepada anak adalah ½ dari maksimum ancaman pidana bagi orang
dewasa. Sesuai dengan ketentuan Pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjelaskan bahwa: “Pidana
penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari
maksimum ancaman pidana penjara bagi orang dewasa 16”.

Penerapan sanksi pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana
penganiayaan ini bukanlah suatu pembalasan melainkan pembinaan bagi terdakwa
yang telah berbuat salah. Secara yuridis penjatuhan pidana terhadap pelaku
penganiayaan tersebut memang sudah memenuhi ketentuan Pasal 351 Ayat (1)
KUHP, namun terkadang putusan hakim tidak pernah mencapai pidana yang
14

Ibid. hlm. 41
Roeslan Saleh. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. Aksara Baru. Jakarta. 1999. hlm. 27
16
Penjelasan umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

15

9

maksimum seperti yang diancamkan dalam undang-undang. Hal ini tentu saja
menimbulkan gejolak di masyarakat yang menginginkan pelaku tindak pidana
yang diberikan vonis serendah-rendahnya atau sebaliknya, di sinilah peranan
hakim sebagai penengah di antara keduanya17.

Berdasarkan dari contoh kasus yang terjadi di atas, menunjukkan bahwa tindak
pidana yang dilakukan oleh anak sudah seperti tindak pidana yang dilakukan
orang dewasa, dalam kasus ini majelis hakim menjatuhkan putusan pidana penjara
kepada anak tersebut namun penjatuhan vonis tersebut sudah sesuai atau belum
berdasarkan tujuan keadilan hukum baik terhadap korban maupun pelakunya
menjadi telaah dasar bagi hakim dalam menerapkan sanksi pidana.

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis hendak melakukan
penelitian yang hasilnya akan dijadikan skripsi dengan judul “Penerapan Sanksi
Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Penganiayaan yang Dilakukan Oleh Anak
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)”.

B. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis uraikan, maka yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah:

17

Ibid. hal. 29

10

a. Bagaimanakah penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana
penganiayaan yang dilakukan oleh anak berdasarkan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Putusan Nomor:
43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)?
b. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan
terhadap perkara anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan (Studi
Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)?

2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian skripsi ini terbatas pada kajian bidang hukum pidana
anak di Indonesia khususnya hanya terbatas penerapan sanksi pidana bagi pelaku
tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh anak berdasarkan UndangUndang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan dasar
pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap perkara anak yang
melakukan tindak pidana penganiayaan dengan pemberatan (Studi Perkara Nomor
43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS). Lingkup pembahasan dalam penelitian ini hanya
terbatas pada analisis terhadap tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh
anak di Gunung Sugih, Sedangkan ruang lingkup tempat penelitian hanya dibatasi
pada Pengadilan Negeri Gunung Sugih, Lembaga Advokasi Anak dan Fakultas
Hukum Universitas Lampung.

11

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana
penganiayaan yang dilakukan oleh anak berdasarkan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Perkara Nomor
43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS).
b. Untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan
terhadap perkara anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan (Studi
Perkara Nomor 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS).

3. Keguanaan penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Kegunaan teoritis
Kegunaan penulisan ini secara teoritis adalah memberikan sumbangan
terhadap pengembangan ilmu hukum pidana, yaitu hal-hal yang berkaitan
dengan beberapa permasalahan tentang penerapan sanksi pidana bagi pelaku
tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh anak berdasarkan UndangUndang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi
Perkara Nomor 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS).

12

b. Kegunaan Paktis
Hasil penulisan skripsi ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat dan bagi
aparatur penegak hukum dalam memperluas serta memperdalam ilmu hukum
khususnya ilmu hukum pidana dan juga dapat bermanfaat bagi masyarakat
pada umumnya dan bagi aparatur penegak hukum pada khususnya untuk
menambah wawasan dalam berfikir dan dapat dijadikan sebagai masukan
dalam rangka penegakan hukum pidana anak Indonesia.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Setiap penelitian akan ada kerangka teoritis yang menjadi kerangka acuan dan
bertujuan untuk mengidentifikasikan terhadap dimensi sosial yang dianggap
relevan oleh peneliti18.

Penelitian ini akan membahas mengenai analisis terhadap tindak pidana
penganiayaan yang dilakukan oleh anak di wilayah Gunung Sugih, untuk
mempertajam fakta tersebut sangat penting untuk mengetahui Pasal-Pasal dalam
peraturan hukum yang berlaku menyangkut fakta tersebut dan teori-teori serta
interprestasi para ahli-ahli hukum.

Tindak pidana adalah suatu bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral
kemanusiaan, merugikan masyarakat, asosial, melanggar hukum serta undangundang pidana. Unsur-unsur yang mengkibatkan dipidananya seorang terdakwa

18

Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. UI Press. Jakarta. 1986. hlm. 125

13

adalah mampu bertanggungjawab. Tujuan dipidananya seorang terdakwa
bukanlah suatu pembalasan melainkan pembinaan bagi terdakwa yang telah
berbuat salah19.

Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum
larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang
siapa melanggar larangan tersebut20.

Tujuan pemidanaan menurut Sudarto adalah:
a. Mempengaruhi peri kelakuan si pembuat agar tidak melakukan tindak
pidana lagi yang biasanya disebut prevensi sosial.
b. Mempengaruhi peri kelakuan anggota masyarakat pada umumnya agar
tidak melakukan tindak pidana seperti yang dilakukan oleh si
terhukum.
c. Mendatangkan suasana damai atau penyelesaian konflik.
d. Pembalasan atau pengimbalan dan pembinaan dari kesalahan si
pembuat21.
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam sistem pemidanaan menurut Barda Nawawi
Arief terdapat beberapa teori tujuan pemidanaan yang mencakup beberapa teori
antara lain22:

a. Relative Theory (teori relatif)
Menurut teori relatif suatu kejahatan tidak mutlak harus diikuti dengan suatu
pidana.
b. Combinative Theory (teori gabungan)
Menurut teori gabungan, tujuan pemidanaan selain membahas kesalahan
penjahat
19

juga

dimaksudkan

untuk

melindungi

masyarakat

dengan

Roeslan Saleh. Op. cit. hlm. 42
Sudarto. Hukum Pidana I. Yayasan Sudarto. Fakultas Hukum UNDIP. Semarang. 1990. hlm. 96
21
Ibid. hlm. 98
22
Barda Nawawi Arif. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Citra Aditya Bakti. Bandung. 2002. hlm. 50

20

14

mewujudkan ketertiban, dengan ketentuan beratnya pidana tidak boleh
melampaui batas pembalasan yang adil.

Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman
menyebutkan bahwa hakim wajib memutuskan tiap-tiap perkara, menafsirkan atau
menjelaskan Undang-undang jika tidak jelas dan melengkapinya jika tidak
lengkap. Tetapi penfsiran hakim mengenai undang-undang dan ketentuan yang
dibuatnya itu, tidak mempunyai kekuatan mengikat umum, tapi hanya berlaku
dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Karena itu secara prinsip, hakim tidak terikat
oleh putusan-putusan hakim lainnya23.

Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman
menyebutkan bahwa hakim wajib memutuskan tiap-tiap perkara, menafsirkan atau
menjelaskan Undang-undang jika tidak jelas dan melengkapinya jika tidak
lengkap. Tetapi penfsiran hakim mengenai undang-undang dan ketentuan yang
dibuatnya itu, tidak mempunyai kekuatan mengikat umum, tapi hanya berlaku
dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Karena itu secara prinsip, hakim tidak terikat
oleh putusan-putusan hakim lainnya.

Hakim bebas bertindak untuk menjatuhkan sanksi pidana yang tepat terhadap
anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan menurut kebenaran dan
keyakinannya. Dalam usaha mewujudkan pembaharuan hukum pidana anak yang
berkeadilan di Indonesia maka hakim juga mengedepankan aspek-aspek sosial
kemanusiaan dan hak asasi manusia dengan menerapkan beberapa teori-teori

23

Ahmad Rifai. Penemuan Hukum oleh Hakim. Sinar grafika. Jakarta. 2011. hlm. 35

15

dasar pertimbangan hakim. Salah satu bentuk pembaharuan hukum pidana anak
adalah dengan dirumuskannya model restorative justice (keadilan restoratif)
dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak. Ketentuan dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menjelaskan bahwa restorative justice
adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban,
keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari
penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan
semula, dan bukan pembalasan.

Penerapan model restorative justice (keadilan restoratif) tersebut memuat
pendekatan asas diversi dalam proses peradilan pidana anak. Ketentuan dalam
Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak menjelaskan bahwa “Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara
Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana”. Konsep
dasar pendekatan asas diversi adalah mewujudkan keadilan yang terpadu,
mencapai perdamaian antara korban dan Anak; menyelesaikan perkara Anak di
luar proses peradilan; menghindarkan Anak dari perampasan kemerdekaan;
mendorong masyarakat untuk berpartisipasi; dan menanamkan rasa tanggung
jawab kepada Anak, apabila setiap pihak menerima perhatian secara adil dan
seimbang, aktif dilibatkan dalam proses peradilan dan memperoleh keuntungan
secara memadai dari interaksi mereka dengan sistem pengadilan anak.

Adapun aplikasi teori-teori yang berkaitan dengan dasar pertimbangan hakim
dalam memutus perkara dalam sidang pengadilan dengan pelaksanaan proses

16

peradilan pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana penganiayaan
antara lain:

a. Teori kepastian hukum (Rechtssicherheit)
Teori kepastian hukum memberikan penjelasan bahwa segala macam bentuk
kejahatan dan pelanggaran harus di berikan sanksi tegas berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang mengaturnya24. Dalam teori ini sangat
berhubungan erat dengan asas legalitas dalam hukum pidana, bahwa setiap
tindak pidana yang diatur dalam perundang-undangan harus diproses dalam
sistem peradilan pidana guna menjamin kepastian hukum.

b. Teori kemanfaatan (Zweckmassigkeit)
Teori kemanfaatan memberikan penjelasan bahwa apabila dalam suatu
persidangan hakim memandang perbuatan terdakwa bukan karena murni
melawan hukum akan tetapi dari segi kemanfaatan bertujuan untuk
menjalankan norma dalam masyarakat dan dipandang apabila dijatuhi
hukuman berupa pidana penjara maka dari elemen masyarakat merasa
keberatan25. Jadi sebagai pertimbangan hakim dengan melihat segi
kemanfaatan maka terdakwa tidak diberikan sanksi atau pun tidak dijatuhi
sanksi maksimum kepada terdakwa agar tidak mengulangi perbuatannya
sehingga masih dapat memperbaiki diri.

24
25

Ahmad Rifai. Op. cit. hlm. 105
Ahmad Rifai. Op. cit. hlm. 107

17

c. Teori keadilan (Gerechtigkeit)
Teori keadilan menjelaskan bahwa dalam menegakkan hukum seorang Hakim
juga harus memperhatikan teori keadilan hukum dan juga harus melihat fakta
kongkret dalam persidangan26. Karena melihat rasa keadilan tidak tepat
apabila terdakwanya semata-mata bukan atas dasar niat jahat dan sudah
berusia lanjut, di bawah umur atau karena suatu keadaan tertentu yang
sepatutnya tidak diganjar dengan hukuman pidana penjara maka Hakim harus
dapat memberikan pertimbangan sesuai dengan rasa keadilan. Nilai hukum
dan rasa keadilan Hakim jauh lebih diutamakan dalam mewujudkan hukum
yang berkeadilan27.

2. Konseptual

Konseptual adalah kerangka yang mengambarkan hubungan antara konsepkonsep khusus, yang merupakan kumpulan dalam arti-arti yang berkaitan dengan
istilah yang ingin tahu akan diteliti28.

Adapun Konseptual yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:

a.

Penerapan Sanksi Pidana
Penerapan sanksi pidana adalah pemberian sanksi hukum oleh hakim dalam
sidang pengadilan, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari
segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam

26

Ahmad Rifai. Op. cit. hlm. 108
Ibid. hlm. 104
28
Soerjono Seokanto. Op. cit. hlm. 143
27

18

undang-undang, pemberian pemidanaan sebagai akibat suatu reaksi atas delik,
dan berwujud suatu nestapa (pidana) yang dengan sengaja ditimpakan Negara
pada pembuat delik 29.
Menurut Bambang Gatot Subroto memberikan pendapat mengenai penerapan
sanksi pidana dalam hukum pidana materiel (material criminal law) sebagai
berikut:
“Penerapan pidana mempunyai dua arti, yakni pertama, dalam arti umum
ialah yang menyangkut pembentuk undang-undang yang menetapkan
stelsel sanksi hukum pidana (pemberian pidana in abstracto), kedua dalam
arti konkrit, ialah yang menyangkut berbagai badan yang kesemuanya
mendukung dan melaksanakan stelsel sanksi hukum pidana itu. KUHP
telah menetapkan dan mengumumkan reaksi apa yang akan diterima oleh
orang yang melakukan perbuatan yang dilarang itu. Dalam hukum pidana
modern reaksi ini tidak hanya berupa pidana akan tetapi juga apa yang
disebut tindakan, yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari
perbuatan-perbuatan yang merugikannya30”.
b. Tindak Pidana/Perbuatan Pidana
Menurut Tolib Setiady menerangkan bahwa strafbaar feit (perbuatan pidana)
adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana
disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa
melanggar larangan tersebut31.

c. Pelaku Tindak Pidana
Pelaku Tindak Pidana adalah setiap orang atau korporasi yang melakukan
perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum32. Ketentuan dalam Pasal 55
29

Roeslan Saleh. Op. cit. hlm. 89
Barda Nawawi Arif. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan
Kejahatan. Kencana. Jakarta. 2010. hlm. 52
31
Tolib Setiady. Pokok-Pokok Hukum Penitensier Anak Indonesia. Alfabeta. Bandung. 2010. hlm. 45
32
Ibid.. hlm. 48

30

19

KUHP mengkategorikan pelaku sebagai orang yang melakukan sendiri suatu
tindak pidana dan orang yang turut serta atau bersama-bersama untuk
melakukan tindak pidana. Berdasarkan ketentuan Pasal 55 Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) menjelaskan bahwa :

1). Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
Ke-1. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut
serta melakukan perbuatan;
Ke-2. Mereka yang dengan memberi atau menjajikan sesuatu dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat,dengan kekerasan,
ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana
atau keterangan, seengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan
perbuatan.
2). Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah
yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya
d. Penganiayaan
Penganiayaan adalah suatu perbuatan dengan sengaja menimbulkan rasa sakit
atau luka, kesengajaan itu harus dicantumkan dalam surat tuduhan33.
e. Anak
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk
anak yang masih dalam kandungan34.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam penelitian ini bertujuan agar lebih memudahkan
dalam memahami penulisan skripsi ini secara keseluruhan. Sistematika
penulisannya sebagai berikut:

33
34

Ibid. hlm. 50
Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

20

I. PENDAHULUAN
Bab ini merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang penulisan. Dari
uraian latar belakang ditarik suatu pokok permasalahan dan ruang lingkupnya,
tujuan dan kegunaan dari penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta
menguraikan tentang sistematika penulisan. Dalam uraian bab ini dijelaskan
tentang latar belakang tindak pidana penganiayaan oleh anak.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tentang pengantar pemahaman pada pengertian-pengertian
umum serta pokok bahasan. Dalam uraian bab ini lebih bersifat teoritis yang
nantinya digunakan sebagai bahan studi perbandingan antara teori yang berlaku
dengan kenyataannya yang berlaku dalam praktek. Adapun garis besar dalam bab
ini adalah menjelaskan tentang tinjauan mengenai pengertian anak dari beberapa
Undang-Undang dari sudut hukum pidana, hak dan kewajiban anak, pengertian
pertanggungjawaban pidana dan pelaku tindak pidana, pengertian dan unsur-unsur
tindak pidana penganiayaan serta pengaturannya, jenis-jenis sanksi pidana dan
tindakan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak, teori tentang dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhi pidana.

III. METODE PENELITIAN
Bab ini memuat pendekatan masalah, sumber dan jenis data, prosedur
pengumpulan dan pengolahan data serta tahap terakhir yaitu analisis data.

21

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini merupakan pembahasan tentang berbagai hal yang terkait langsung
dengan pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu untuk
mengetahui penerapan sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana penganiayaan
yang dilakukan oleh anak berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dan untuk mengetahui dasar pertimbangan
hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap perkara anak yang melakukan tindak
pidana penganiayaan (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS).

V. PENUTUP
Bab ini berisi tentang hasil akhir dari pokok permasalahan yang diteliti berupa
kesimpulan dan saran dari hasil penelitian terhadap permasalahan yang telah
dibahas.

22

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Anak dari Beberapa Undang-Undang dari Sudut Hukum
Pidana
Anak dalam pengertian yang umum tidak saja mendapat perhatian dalam bidang
ilmu pengetahuan, tetapi dapat juga ditelaah dari sisi pandang sentralis kehidupan.
Seperti agama, hukum dan sosiologisnya yang menjadikan pengertian anak
semakin rasional dan aktual dalam lingkungan sosial. Dalam masyarakat,
kedudukan anak memiliki makna dari subsistem hukum yang ada dalam
lingkungan perundang-undangan dan subsistem sosial kemasyrakatan yang
universal1.

Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian kedudukan anak
dari pandangan sistem hukum sebagai subjek hukum. Kedudukan anak dapat
dikelompokkan sebagai berikut:

1. Pengertian anak menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Pengertian anak dalam hukum pidana diletakkan dalam pengertian anak yang
bermakna penafsiran kedudukan anak dalam hukum. Menurut Undang-Undang

1

Zakiah Daradjat. Problema remaja di Indonesia. Bulan Bintang. Jakarta. 1978. hlm.29

23

Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, pengertian anak
meliputi :
1. Anak yang Berhadapan dengan Hukum adalah anak yang berkonflik dengan
hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi
tindak pidana.
2. Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah
anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18
(delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
3. Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak
Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang
mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang
disebabkan oleh tindak pidana.
4. Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi
adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat
memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan
pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar,
dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.

Ketentuan penjelasan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem
Peradilan Pidana Anak mengklarifikasikan pengertian anak yang berkonflik
dengan hukum adalah orang yang dalam perkara telah mencapai umur 12 tahun,
tetapi belum mencapai umur delapan belas tahun dan belum pernah kawin. Anak
yang berkonflik dengan hukum adalah:
1. Anak yang yang melakukan tindak pidana

24

2. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik
menurut peraturan perundang-undangan maupun peraturan hukum lain yang
hidup dan berlaku dimasyarakat2.

2. Pengertian Anak yang Berkonflik dengan Hukum menurut UndangUndang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
tentang Pengadilan Anak mempertegas tentang pengertian anak di mana di dalam
Pasal 1 angka (2) disebutkan bahwa:
“Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak
adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum
berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Undang-undang tentang Sistem Peradilan Anak melihat sisi anak dari
perbuatan yang dilakukannya, apabila anak tersebut melakukan kejahatan
sebelum anak tersebut umur 12 (dua belas) tahun tidak dikategorikan anak
nakal sehingga dari sisi hukum ia belum dapat dimintai
pertanggungjawaban, sebaliknya apabila sudah mencapai umur 12 (dua
belas) tahun sampai 18 (delapan belas) tahun dapat dimintai
pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya, kemudian bila
anak tersebut sebelum umur 18 (delapan belas) tahun sudah kawin maka
bukan dikategorikan anak dan proses peradilan melalui peradilan umum
bukan peradilan anak”.
Pengertian Anak yang Berkonflik dengan Hukum berdasarkan ketentuan
penjelasan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak disebutkan bahwa anak yang berkonflik dengan hukum adalah:
a. Anak yang melakukan tindak pidana; atau
b. Anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak, baik
menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum
lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat bersangkutan3.

2

Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

25

Berdasarkan ketentuan diatas, dapat dikatakan bahwa Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak menggunakan istilah “Anak
yang Berkonflik dengan Hukum” bagi anak yang melakukan tindak pidana
maupun perbuatan lainnya yang melanggar peraturan tertulis maupun tidak
tertulis (hukum adat). Jadi berdasarkan ketentuan hukum positif yang mengatur
tentang anak, anak yang bermasalah kelakuan

Dokumen yang terkait

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

1 6 70

PERSPEKTIF PENERAPAN DIVERSI PADA TAHAP PENYIDIKAN TERHADAP ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA PERKOSAAN BERDASARKAN PRINSIP-PRINSIP UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

0 13 65

ANALISIS PERBANDINGAN PERLINDUNGAN HUKUM PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

0 8 49

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan Nomor: 791/Pid.A/2012/PN.TK)

2 26 62

ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI (Studi Putusan Nomor: 604/PID.B/2014/PN.TJK)

1 10 58

ANALISIS PERBANDINGAN PENYIDIKAN ANAK YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DAN UNDANG UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

0 7 42

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU PENGANCAMAN TERHADAP ANGGOTA POLRI YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan PN Nomor: 701/Pid.B/2014/PN.Tjk)

0 10 59

PRAKTIK PENYIDIKAN TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDARAAN BERMOTOR (CURANMOR)OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK

0 0 12

ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI (Studi Putusan Nomor: 604/Pid.B/2014/PN.TJK)

0 0 11

ANALISIS YURIDIS UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DAN UNDANG-UNDANG NO. 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK DALAM PEMBERIAN BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA

0 0 10