STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture) (Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang
melebihi kekuatan tulang. Fraktur dapat diklasifikasikan menurut jenis
(transversal, spiral, oblik segmental, kominutiva), lokasi (diafise, metafise,
epifise), dan integritas dari kulit serta jaringan lunak yang mengelilinginya
(terbuka atau compound dan tertutup) (Schwartz, 2000). Fraktur apabila kulit di
atasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup (atau sederhana), bila
kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus, keadaan ini disebut fraktur
terbuka (atau compound), yang cenderung mengalami kontaminasi dan infeksi
(Apley & Solomon, 2010).
Fraktur yang mengakibatkan terputusnya kontinuitas pada struktur tulang
atau tulang rawan umumnya disebabkan oleh rudapaksa atau trauma. Trauma
yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung seperti benturan
pada lengan bawah yang mengakibatkan patah tulang pada radius dan ulna,
namun pada trauma tidak langsung dapat pula mengakibatkan tulang patah seperti
ketika jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau
radius distal patah (Sjamsuhidajat & De Jong, 2004). Selain itu, retak dapat terjadi
akibat tekanan berulang-ulang. Keadaan ini sering ditemukan pada tibia atau
fibula atau metatarsal, terutama pada atlet, penari dan calon tentara yang berbaris
dalam jarak jauh. Fraktur juga dapat terjadi oleh tekanan normal namun tulang
tersebut lemah (misalnya oleh tumor) atau bila tulang tersebut sangat rapuh
(misalnya pada penyakit Paget) (Apley & Solomon, 2010).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat di tahun 2011 terdapat lebih
dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 1,3 juta
orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki
prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur sekitar 40% dari insiden kecelakaan
yang terjadi. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan RI tahun 2011 di
1

2

Indonesia didapatkan sekitar 8 juta orang mengalami kejadian fraktur dengan jenis
fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda.
Hasil survey tim Depkes RI didapatkan 25% penderita fraktur mengalami
kematian, 45% mengalami cacat fisik, 15% mengalami stres psikologis karena
cemas dan bahkan depresi, dan 10% mengalami kesembuhan dengan baik
(Depkes RI, 2011).
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang. Proses penyembuhan patah tulang ini dapat
mengalami gangguan. Gangguan penyembuhan dapat disebabkan oleh imobilisasi
yang tidak cukup, infeksi, interposisi, dan gangguan pendarahan setempat. Infeksi
di daerah patah tulang merupakan penyulit berat. Hematom merupakan media
yang baik untuk kuman patologis yang menyebabkan osteomielitis di kedua ujung
patah tulang sehingga proses penyembuhan sama sekali tidak dapat berlangsung.
Infeksi patah tulang menyebabkan osteomielitis yang sukar sembuh dan
memperlambat penyambungan dan pertautan fraktur untuk jangka waktu lama
(Sjamsuhidajat dan De Jong, 2005).
Terapi antibiotik merupakan bagian yang diperlukan dalam terapi infeksi
yang terletak di dalam atau pada infeksi yang menyebar superfisial. Antibiotik
mencegah terjadinya perkembangan mikroorganisme pathogen (Wilkinson, 2006).
Sering keputusan tentang obat antibiotik yang diresepkan harus dibuat secara
empirik, sebelum hasil kultur dan tes resistensi tersedia. Dalam hal seperti ini,
bahan contoh diwarna Gram dapat memberi informasi penting, dan bila digabung
dengan gejala klinik akan membantu dalam menentukan obat yang tepat.
Perubahan berikutnya dalam terapi antibiotik secara empirik akan tergantung atas
(1) respon klinik, (2) hasil laporan kultur dan resistensi serta (3) adanya toksisitas
atau efek samping obat (Sabiston, 1995).
Antibiotik digunakan dalam tiga cara umum, yaitu sebagai terapi empiris,
sebagai terapi profilaksis dan sebagai terapi devenitif. Ketika digunakan sebagai
terapi empirik atau terapi awal, antibiotik yang dipilih harus dapat mengatasi
seluruh patogen yang mungkin, karena organisme penginfeksinya belum
diketahui. Oleh karena itu disarankan untuk memakai antibiotik berspektrum luas,
hingga didapatkan hasil isolasi dan identifikasi mikroorganisme (Chanbers, 2008).

3

Spektrum luas sangat dianjurkan karena penggunaan antibiotik spektrum sempit
dapat menyebabkan multiresisten bakteri (Reese and Betts, 2000).
Pada penelitian yang di lakukan oleh Fauziah et al., (2011) dengan judul
Hubungan Penggunaan Antibiotika Pada Terapi Empiris dengan Kepekaan
Bakteri di ICU RSUP Fatmawati Jakarta, disimpulkan bahwa Imipenem adalah
jenis antibiotika yang paling besar memberikan hasil sensitif, dan seftriakson
adalah antibiotika yang paling kecil memberikan hasil sensitif dibandingkan
antibiotik lainnya berdasarkan sampel penelitian yakni penggunaan sefotaksim,
seftriakson, seftazidim, sefepim, imipenem, menopenem, amikasin sulfat,
gentamicin, siprofloksasin, levofloksasin dan fosfomisin Na. Menurut Intensive
Care Unit Empirical Antimicrobial Treatment Guidelines tahun 2010, cefazolin
merupakan antibiotika ortopedi yang digunakan dengan dosis 2g IV sebagai terapi
empiris.

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui penggunaan antibiotika empiris pada pasien fraktur khususnya fraktur
tertutup (closed fraktur).

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana penggunaan antibiotika empiris pada pasien fraktur tertutup

(closed fracture) di RSSA Malang.

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1

Tujuan Umum
Mengetahui penggunaan antibiotika empiris pada pasien fraktur tertutup
(closed fracture) di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang.

1.3.2

Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
Mengkaji jenis, rute, frekuensi dosis penggunaan antibiotika empiris yang
dikaitkan dengan kondisi pasien.

4

1.4

Manfaat Penelitian
a.

Mengetahui pemilihan antibiotika empiris yang tepat pada pasien
fraktur tertutup (closed fracture).

b. Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait dalam
menentukan kebijakan tentang penggunaan antibiotika empiris pada
kasus fraktur tertutup (closed fracture).
c.

Meningkatkan kualitas pelayanan pada instalasi farmasi terutama pada
kasus penggunaan antibiotika empiris pada pasien fraktur tertutup
(closed fracture).

d. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi
bagi penelitian selanjutnya.

SKRIPSI
FARISA DIWI HARSIWI

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA
EMPIRIS PADA PASIEN RAWAT INAP PATAH
TULANG TERTUTUP (CLOSED FRACTURE)
(Penelitian Dilakukan di Rumah Sakit Dr.Saiful Anwar Malang)

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2014

ii

iii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Puji syukur tercurahkan kepada ALLAH SWT, Tuhan semesta alam karena
berkat rahmad dan ridhonya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN
RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture) (Penelitian
di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang).
Skripsi ini diajukan untuk memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana
Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Malang. Dalam penyusunan skripsi ini penulis tidak terlepas dari
peranan pembimbing dan bantuan dari seluruh pihak. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.
8.

9.

ALLAH SWT, Tuhan semesta alam yang memberikan rahmat, nikmat dan
hidayah kepada umat-Nya, Rosulullah SAW, yang sudah menuntun kita
menuju jalan yang lurus.
Bapak Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep.,Sp.Kom selaku Dekan Fakultas
Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang yang telah
memberikan kesempatan penulis belajar di Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Malang.
dr. Budi Rahayu MPH selaku Direktur RSU Dr. Saiful Anwar Malang
beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk
melakukan penelitian di RSU Dr. Saiful Anwar Malang.
Ibu Nailis Syifa’, S.Farm., M.Sc.,Apt selaku Ketua Program Studi Farmasi
Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberi motivasi dan
kesempatan penulis belajar di Program Studi Farmasi Universitas
Muhammadiyah Malang.
Bapak Drs. Didik Hasmono.,M.S.,Apt. dan ibu Hidajah Rachmawti,
S.Si.,Apt.,Sp.FRS selaku Dosen Pembimbing I dan II, disela kesibukan
Bapak dan Ibu masih bisa meluangkan waktu untuk membimbing dan
memberi pengarahan dan dorongan moril sampai terselesaikannya skripsi
ini.
Ibu Dra.Lilik Yusetyani.,Apt.,Ap.FRS dan Ibu Nailis Syifa’, S.Farm.,
M.Sc.,Apt. selaku Dosen Penguji I dan II, yang telah banyak memberikan
saran dan masukan demi kesempurnaan skripsi ini.
Semua Dosen Farmasi Universitas Muhamadiyah Malang yang sudah
memberikan waktunya untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang sangat berguna.
Kedua orang tuaku tercinta, Bapak Tatok Mudjihardadi dan Ibu Idawati
yang tiada hentinya memotivasi dalam segala hal, dengan sabar
mendoakan untuk kebaikan dan kesuksesan anak-anaknya. Terima kasih
banyak atas didikan dan kerja keras untuk membuat anak-anaknya bahagia
serta mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Kakakku Muhammad Hatta Pratama, terima kasih sudah menjadi kakak
terbaik yang selalu memberikan dukungan hingga skripsi ini dapat

iv

10.

11.

12.

13.

terselesaikan dengan baik. Kepada Erizal Fauzan, terima kasih untuk
selalu memberikan semangat dan motivasi sehingga penulis dapat
menyelesaikan studi tepat waktu.
Sahabat seperjuangan fraktur, Randy Teja Permana, Jorinda Karyudi dan
Reny Septianingsih, terima kasih atas bantuannya selama ini, atas
kebersamaan yang tidak akan pernah penulis lupakan.
Sahabatku Rezki Maulidya dan Hervita Meivenni, terima kasih sudah
selalu menemani penulis, menjadi sahabat terbaik. Penulis mohon maaf
apabila selama 4 tahun bersama penulis melakukan kesalahan baik yang
disengaja ataupun tidak disengaja.
Teman-teman Farmasi 2010 khususnya sahabat-sahabat Farmasi C yang
penulis tidak bisa sebutkan satu persatu, terima kasih atas pengalaman
berharga selama 4 tahun bersama.
Kepada semua sahabat, semua teman, semua orang yang sudah mendoakan
yang terbaik untuk penulis, terima kasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kebaikan skripsi ini. Semoga penulisan ini dapat berguna bagi penelitian
berikutnya, amiin.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Malang, September 2014
Penyusun

(Farisa Diwi Harsiwi)

v

RINGKASAN

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN
RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture)
(Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
Fraktur berarti deformasi atau diskontinuitas dari tulang oleh tenaga yang
melebihi kekuatan tulang. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat di tahun
2011 terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan
dan sekitar 1,3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden
kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur sekitar
40% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Berdasarkan data dari Departemen
Kesehatan RI tahun 2011 di Indonesia didapatkan sekitar 8 juta orang mengalami
kejadian fraktur dengan jenis fraktur yang berbeda dan penyebab yang berbeda.
Berdasarkan Laporan Tahunan Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang
tahun 2009, mencatat terdapat 1.305 kasus fraktur yang berada pada urutan ketiga
dari sepuluh penyakit terbanyak rawat inap.
Fraktur dapat diklasifikasikan menurut jenis (transversal, spiral, oblik
segmental, kominutiva), lokasi (diafise, metafise, epifise), dan integritas dari kulit
serta jaringan lunak yang mengelilinginya (terbuka atau compound dan tertutup) .
Fraktur apabila kulit di atasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup
(atau sederhana), bila kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus, keadaan
ini disebut fraktur terbuka (atau compound), yang cenderung mengalami
kontaminasi.
Proses penyembuhan patah tulang adalah proses biologis alami yang akan
terjadi pada setiap patah tulang. Proses penyembuhan patah tulang ini dapat
mengalami gangguan. Gangguan penyembuhan dapat disebabkan oleh imobilisasi
yang tidak cukup, infeksi, interposisi, dan gangguan pendarahan setempat. Infeksi
di daerah patah tulang merupakan penyulit berat. Penggunaan antibiotik untuk
terapi empiris adalah penggunaan antibiotik pada kasus infeksi yang belum
diketahui jenis bakteri penyebabnya. Tujuan pemberian terapi empiris adalah
eradikasi atau penghambatan pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab
infeksi, sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Pengetahuan mengenai mikroorganisme yang paling mungkin dalam
menyebabkan infeksi pada inang sangatlah penting. Namun dalam kebanyakan
situasi identifikasi morfologi organisme penginfeksi tidaklah cukup untuk
menetapkan diagnosis bakteriologis yang spesifik, sehingga pemilihan antibiotik
berspektrum sempit mungkin tidak tepat, terutama jika infeksinya mengancam
nyawa. Oleh karena itu disarankan untuk memakai antibiotik berspektrum luas,
sambil menunggu hasil isolasi dan identifikasi mikroorganisme.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotika empiris
pada pasien patah tulang tertutup (closed fracture), dilakukan secara retrospektif,
dianalisa secara deskripstif, dan menggunakan data pasien patah tulang tertutup
(closed fracture) yang di rawat di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr.Saiful Anwar
Malang dari periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2013. Data yang
didapatkan dari rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 20 pasien.

vi

Pasien yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami patah tulang
tertutup (closed fracture) sebanyak 12 pasien (60%) dibandingkan dengan pasien
berjenis kelamin laki-laki sebanyak 8 pasien (40%). Penyebab pasien mengalami
patah tulang (closed fracture) paling banyak karena kecelakaan sebanyak 13
pasien (65%). Antibiotika empiris tunggal pada pasien patah tulang tertutup
(closed fracture) digunakan sebanyak 10 pasien (56%) diberikan sefazolin dengan
dosis 2 kali 2g rute iv yakni 1 pasien (5%), dosis 2 kali 1g rute iv yakni 2 pasien
(12%), dosis 3 kali 1g rute iv yakni 7 pasien (39%). Sebanyak 8 pasien (44%)
diberikan sefazolin dengan dosis 2 kali 1g rute iv yakni 7 pasien (39%) dan dosis
3 kali 1g rute iv sebanyak 1 pasien (5%). Sedangkan antibiotika empiris
kombinasi digunakan sebanyak 2 pasien (40%) diberikan gentamisin 80mg rute iv
dengan stabactam 1g rute iv sebanyak 1 pasien (50%) dan kombinasi gentamisin
80mg rute iv dengan seftriakson 2g rute iv sebanyak 1 pasien (50%).

vii

ABSTRACT

DRUG UTILIZATION STUDY OF EMPIRICAL ANTIBIOTIC IN
HOSPITALIZED PATIENT CLOSED FRACTURE
(Research at Hospital of Dr. Saiful Anwar Malang)

Background: Fracture when the overlying skin is intact, the condition is called a
closed fracture. The purpose of empirical therapy is eradication or inhibition of
growth of bacteria suspected to be the cause of infection in closed fractures
because it can inhibit the healing fracture, before the results of microbiological
examination was obtained.
Objectives: The study aims to determine pattern of empirical antibiotic utilization
in hospitalized patients closed fracture and to examine the relationship empirical
antibiotic therapy related to the dose and route of administration associated with
condition of patients at the Hospital of Dr. Saiful Anwar Malang.
Methods: The study is a retrospective observational with consecutive sampling
method in patients closed fracture from January 2012 to December 2013.
Result & Conclusion: This study there were 20 patients. 18 patients (90%)
received antibiotic empiric single dose and 2 patients (10%) received empirical
combination antibiotic. In a single empirical antibiotics received ceftriaxone
(44%) at a dose of 2x1g there is 7 patients (39%) and the dose of 3x1g there is 1
patient (5%) with the iv route. A total of (56%) cefazoline given at a dose of 2x2g
there is 1 patient (5%), the dose of 2x1g there is 2 patients (12%) and a dose of
3x1g there is 7 patients (39%) with the iv route. Empirical combination antibiotic
there are gentamicin 80mg and ceftriaxone 2g with the iv route there is 1 patient
(50%) and gentamicin 80 mg iv combain with stabactam 1g with the iv route there
is 1 patient (50%).
Key words: Antibiotic Empirical, Closed Fracture, Hospitalized

viii

ABSTRAK

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN
RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture)
(Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
Latar Belakang: Patah tulang atau fraktur apabila kulit di atasnya masih utuh,
keadaan ini disebut fraktur tertutup. Tujuan pemberian terapi empiris adalah
eradikasi atau penghambatan pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab
infeksi pada fraktur tertutup karena dapat menghambat penyembuhan fraktur
tersebut , sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Tujuan: Untuk mengetahui pola penggunaan antibiotika empiris pada pasien
patah tulang tertutup (closed fracture) di RSU Dr. Saiful Anwar Malang dan jenis
antibiotika empiris terkait dosis dan rute pemberian yang dikaitkan dengan
kondisi pasien.
Metode: Penelitian ini bersifat observational yaitu berupa studi retrospektif
dengan metode consecutive sampling pada pasien patah tulang tertutup (closed
fracture) periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013.
Hasil & Kesimpulan: Data yang didapatkan dari rekam medik yang memenuhi
kriteria inklusi sebanyak 20 pasien. Antibiotika empiris digunakan secara tunggal
pada pasien patah tulang tertutup (closed fracture) sebanyak 18 pasien (90%) dan
digunakan secara kombinasi sebanyak 2 pasien (10%). Pada antibiotika empiris
tunggal diberikan seftriakson (44%) dengan dosis 2 kali 1g sebanyak 7 pasien
(39%) dan dosis 3 kali 1g sebanyak 1 pasien (5%) dengan rute iv. Sebanyak
(56%) diberikan sefazolin dengan dosis 2 kali 2g sebanyak 1 pasien (5%), dosis 2
kali 1g sebanyak 2 pasien (12%) dan dosis 3 kali 1g sebanyak 7 pasien (39%).
Antibiotika empiris kombinasi diberikan gentamisin 80mg rute iv dengan
seftriakson 2g iv sebanyak 1 pasien (50%) dan gentamisin 80mg rute iv dengan
stabactam 1g rute iv sebanyak 1 pasien (50%).
Kata Kunci: Antibiotika Empiris, Patah Tulang Tertutup, Rawat Inap

ix

ABSTRACT

DRUG UTILIZATION STUDY OF EMPIRICAL ANTIBIOTIC IN
HOSPITALIZED PATIENT CLOSED FRACTURE
(Research at Hospital of Dr. Saiful Anwar Malang)

Background: Fracture when the overlying skin is intact, the condition is called a
closed fracture. The purpose of empirical therapy is eradication or inhibition of
growth of bacteria suspected to be the cause of infection in closed fractures
because it can inhibit the healing fracture, before the results of microbiological
examination was obtained.
Objectives: The study aims to determine pattern of empirical antibiotic utilization
in hospitalized patients closed fracture and to examine the relationship empirical
antibiotic therapy related to the dose and route of administration associated with
condition of patients at the Hospital of Dr. Saiful Anwar Malang.
Methods: The study is a retrospective observational with consecutive sampling
method in patients closed fracture from January 2012 to December 2013.
Result & Conclusion: This study there were 20 patients. 18 patients (90%)
received antibiotic empiric single dose and 2 patients (10%) received empirical
combination antibiotic. In a single empirical antibiotics received ceftriaxone
(44%) at a dose of 2x1g there is 7 patients (39%) and the dose of 3x1g there is 1
patient (5%) with the iv route. A total of (56%) cefazoline given at a dose of 2x2g
there is 1 patient (5%), the dose of 2x1g there is 2 patients (12%) and a dose of
3x1g there is 7 patients (39%) with the iv route. Empirical combination antibiotic
there are gentamicin 80mg and ceftriaxone 2g with the iv route there is 1 patient
(50%) and gentamicin 80 mg iv combain with stabactam 1g with the iv route there
is 1 patient (50%).
Key words: Antibiotic Empirical, Closed Fracture, Hospitalized

x

ABSTRAK

STUDI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA EMPIRIS PADA PASIEN
RAWAT INAP PATAH TULANG TERTUTUP (Closed Fracture)
(Penelitian di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang)
Latar Belakang: Patah tulang atau fraktur apabila kulit di atasnya masih utuh,
keadaan ini disebut fraktur tertutup. Tujuan pemberian terapi empiris adalah
eradikasi atau penghambatan pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi penyebab
infeksi pada fraktur tertutup karena dapat menghambat penyembuhan fraktur
tersebut , sebelum diperoleh hasil pemeriksaan mikrobiologi.
Tujuan: Untuk mengetahui pola penggunaan antibiotika empiris pada pasien
patah tulang tertutup (closed fracture) di RSU Dr. Saiful Anwar Malang dan jenis
antibiotika empiris terkait dosis dan rute pemberian yang dikaitkan dengan
kondisi pasien.
Metode: Penelitian ini bersifat observational yaitu berupa studi retrospektif
dengan metode consecutive sampling pada pasien patah tulang tertutup (closed
fracture) periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2013.
Hasil & Kesimpulan: Data yang didapatkan dari rekam medik yang memenuhi
kriteria inklusi sebanyak 20 pasien. Antibiotika empiris digunakan secara tunggal
pada pasien patah tulang tertutup (closed fracture) sebanyak 18 pasien (90%) dan
digunakan secara kombinasi sebanyak 2 pasien (10%). Pada antibiotika empiris
tunggal diberikan seftriakson (44%) dengan dosis 2 kali 1g sebanyak 7 pasien
(39%) dan dosis 3 kali 1g sebanyak 1 pasien (5%) dengan rute iv. Sebanyak
(56%) diberikan sefazolin dengan dosis 2 kali 2g sebanyak 1 pasien (5%), dosis 2
kali 1g sebanyak 2 pasien (12%) dan dosis 3 kali 1g sebanyak 7 pasien (39%).
Antibiotika empiris kombinasi diberikan gentamisin 80mg rute iv dengan
seftriakson 2g iv sebanyak 1 pasien (50%) dan gentamisin 80mg rute iv dengan
stabactam 1g rute iv sebanyak 1 pasien (50%).
Kata Kunci: Antibiotika Empiris, Patah Tulang Tertutup, Rawat Inap

xi

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................
i
LEMBAR PENGUJIAN……………………………………………..

ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………

iii

RINGKASAN………………………………………..………………..

v

ABSTRACT…………………………………………………………….

vii

ABSTRAK………………………………………………………………

viii

DAFTAR ISI ................................................................................................ ix
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................
xii
DAFTAR TABEL ................................................................................................
xiii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………...

xiv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 ................................................................................................ 1
3
atar Belakang ..........................................................................................
1.2 ................................................................................................ 3
3
umusan Masalah ......................................................................................
1.3 ................................................................................................ 3
4
ujuan Penelitian…………………………………………...…
1.3.1 Tujuan Umum…………………………………………...
1.3.2 Tujuan Khusus…………………………………………..
1.4 ................................................................................................
anfaat Penelitian ......................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ................................................................................................
raktur ................................................................................................
2.1.1 Definisi Fraktur………………………………………….
2.1.2 Klasifikasi Fraktur……………………………………….
2.1.2.1 Berdasarkan Lengkap Atau Tidak Lengkapnya
Patahan………………………………………….
2.1.2.2 Berdasarkan Hubungannya Antara Fragmen
Tulang Dengan Dunia Luar………………………
2.1.2.3 Berdasarkan Jumlah Garis Patah………………..
2.1.2.4 Berdasarkan Bergeser Atau Tidaknya Patahan….
2.1.2.5 Berdasarkan Sudut Patahnya Patahnya…………

xii

5
5
5
5
6
6
6
7
8

2.1.3 Etiologi Fraktur….……………………………………….
2.1.4 Patofisiologi Fraktur…………………………………….
2.1.5 Penatalaksanaan Fraktur………………………………….
2.1.6 Manifestasi Klinik Fraktur……………………………….
2.2 ................................................................................................
enggunaan Antibiotika ................................................................
2.2.1 Klasifikasi Antibiotika…………………………………..
2.2.2 Antibiotika Empris……………………………………….
2.2.2.1 Antibiotika Golongan β-Laktam………………….
2.2.2.1.1 Mekanisme Kerja Antibiotika Turunan
β-Laktam …………..………………….
2.2.2.1.2 Antibiotika Golongan Sefalosporin…..
2.2.2.1.3 Antibiotika Golongan β-Laktam
Lainnya . …………..………………….
2.2.2.2 Antibiotika Golongan Aminoglikosida…………
2.2.2.3 Antibiotika Golongan Kuinolon……………….…
2.2.2.4 Antibiotika Golongan Lain-Lain…………….….
2.2.2.4.1 Vankomisin…………………………….
2.2.2.5 Pemilihan Antibiotika Empiris….…………….….
BAB III KERANGKA KONSEPTUAL

9
11
12
13
13
14
15
16
16
19
20
21
21
21
22

24

BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 ................................................................................................ 27
27
ancangan Penelitian ...................................................................................
4.2 ................................................................................................ 27
opulasi dan Sampel Penelitian ................................................................
27
4.2.1 Populasi Penelitian………………………………………
27
4.2.2 Sampel Penelitian………………………………………..
27
4.2.3 Kriteria Data Inklusi…………………………………….
28
4.2.4 Kriteria Data Eksklusi…………………………………...
28
4.3 ................................................................................................ 28
ahan Penelitian………………………………………………
28
4.4 ................................................................................................ 29
nstrumen Penelitian….……………………………………….
30
4.5 Tempat dan Waktu Penelitian………………………………….
4.6 Definisi Operasional…………………………………………..
4.7 Prosedur Pengumpulan Data………………………………….
31
4.8 Analisis Data………………………………………………….
32
32
BAB V HASIL PENELITIAN.
32
5.1 ................................................................................................ 33

xiii

Jumlah Sampel Penelitian ................................................................
5.2 ................................................................................................
Data Demografi Pasien ................................................................
5.2.1 Jenis Kelamin…...………………………………………
5.2.2 Usia Pasien……………………………………………...
5.3 Penyebab Pasien Terdiagnosis Patah Tulang Tertutup………..
5.4. Profil Penggunaan Terapi Patah Tulang Tertutup…………….
5.4.1 Profil Penggunaan Antibiotika Empiris…………………
5.5 Terapi yang Diberikan Pada Pasien Patah Tulang Tertutup…..
5.6 Lama Rawat Inap Pasien Patah Tulang Tertutup………………
5.7 Kondisi Keluar Rumah Sakit (KRS) Pasien Patah Tulang
Tertutup……………………………………………………….

33
33
35
37
37

38
45
45
45

BAB VI PEMBAHASAN
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan……………………………………………………
7.2 Saran…………………………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................
46

xiv

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

2.1

Klasifikasi Fraktur Berdasarkan Sudut Patahnya .......................

8

2.2

Patofisiologi Fraktur ..................................................................

10

2.3

Patofisiologi Terjadi Infeksi Pada Fraktur ...............................

11

2.4

Perbedaan Struktur Kimia Sefalosporin Generasi Pertama
Pada Rantai R1 Dan R2..............................................................

2.5

Perbedaan Struktur Kimia Sefalosporin Generasi Pertama
Pada Rantai R1 Dan R2..............................................................

2.6

17

18

Perbedaan Struktur Kimia Sefalosporin Generasi Pertama
Pada Rantai R1 Dan R2..............................................................

18

2.7

Struktur Kimia Imipenem ..........................................................

19

2.8

Struktur Kimia Vankomisin ........................................................

21

3.1

Skema Kerangka Konseptual Fraktur Tertutup..........................

25

3.2

Skema Kerangka Operasional ....................................................

26

5.1

Skema Inklusi dan Ekslusi Penelitian Pada Pasien Patah
Tulang Tertutup (Closed Fracture).…………………………

xv

31

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

II.1

Evaluasi Penggunaan Antibiotika Empiris … ...................

15

V.1

Jenis Kelamin Pasien Patah Tulang Tertutup (Closed

32

Fracture)…………………………………………………..
V.2

Usia Pasien Patah Tulang Tertutup (Closed Fracture)…...

32

V.3

Penyebab Pasien Terdiagnosa Patah Tulang Tertutup

33

(Closed Fracture)……………………………………...….
V.4

Profil Penggunaan Antibiotika Empiris Pasien Patah

33

Tulang Tertutup (Closed Fracture)…………………….....
V.5

Profil Penggunaan Antibiotika Empiris Tunggal Pasien

34

Patah Tulang Tertutup (Closed Fracture)…………….......
V.6

Profil Penggunaan Antibiotika Empiris Kombinasi Pada

34

Pasien Patah Tulang Tertutup (Closed Fracture)…...…....
V.7

Golongan Terapi Yang Diberikan Pada Pasien Patah

35

Tulang Tertutup (Closed Fracture) ……………………....
V.8

Jenis Obat Yang Diberikan Pada Pasien Patah Tulang

36

Tertutup (Closed Fracture)…………………………….....
V.9

Lama Rawat Inap Pasien Patah Tulang Tertutup (Closed

37

Fracture)…………………………………………………..
V.10

Kondisi Keluar Rumah Sakit (KRS) Pasien Patah Tulang
Tertutup (Closed Fracture)……………………………….

xvi

37

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran

Halaman

1. Daftar Riwayat Hidup .............................................................. 49
2. Surat Pernyataan ..................................................................... 50
3. Keterangan Kelayakan Etik ..................................................... 51
4. Daftar Nilai Normal Data Klinik dan Data Laboratorium ....... 52
5. Lembar Pengumpul Data ......................................................... 53
6.

Lembar Tabel Induk ................................................................ 69

xvii

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. 104 Antibiotic Prophylaxis In Surgery. A National Clinical
Guideline. Scottish Intercollegiate Guidelines Network. Elliot House 810 Hillside Crescent, Edinburg
Anonim, 2010. Intensive Care Unit Empirical Antimicrobial Treatment
Guidelines. Quality Use of Antimicobical in Intensive Care.
Appley, AG and Solomon, L., 1995. Buku Ajar Ortopedi dan fraktur system
Appley, 7th Ed, Jakarta: Widya Medika, hal: 238
Chambers, H.F., 2008. Senyawa Antimikroba. In: Molinoff, P.B., and Ruddon,
R.W. (editor). Goodman & Gilman’s Dasar Farmakologi dan Terapi
edisi 10th volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteram ECG.hal 11171145
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : ECG.
Depkes RI, 2011. Insidens Fraktur. http://www.depkes.go.id
Diana, D., 2011. Studi Kasus Closed Neglected Femur Fracture. Skripsi
Universitas Sumatra Utara
Baughman, Diane C. 2002. Keperawatan Medical Bedah: Buku Saku Untuk
Brunner Dan Suddarth. Ahli Bahasa Yasmin Asih. Jakarta: EGC.
Fauziyah, S.,Radji, M.,A.Nurgani, 2011. Hubungan Penggunaan Antibiotika
Pada Terapi Empiris Dengan Kepekaan Bakteri di ICU RSUP
Fatmawati Jakarta. Jurnal Farmasi Indonesia.Vol.5.No.3.Januari
2011:150-158
Gillespie, WJ and Walenkamp,GHIM, 2010. Antibiotic prophylaxis for surgery
for proximal femoral andother closed long bone fractures. Cochrane
Database of Systematic Reviews 2010, Issue 3. Page: 4
Joyce L Kee. and Hayes, ER.,1996. Farmakologi Pendekatan Proses
Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG. Hal 324
Katzung, B.G., 2006. Basic And Clinical Pharmacology. Edisi ke-10, San
Francisco : McGraw-Lange, section 7
Kropp, H., Sundelof, J.G., Hajdu, R., and Kahan, F.M., 1982. Metabolism of
thienamycin and related carbapenem antibiotics by the renal
dipeptidase, dehydropeptidase. Antimicrob. Agents Chemother

xviii

Lane NE., 2001. Osteoporosis, Rapuh Tulang : Petunjuk untuk Penderita dan
Langkah-Langkah Pengamanan untuk Keluarga. Terjemahan.
Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Lestari,W., Almahdy,A., Zubir,N., Darwin,D., 2011. Studi Penggunaan
Antibiotik Berdasarkan Sistem ATC/DDD dan Kriteria Gyysens di
Bangsal Penyakit Dalam RSUP DR.M.Djamil Padang, hal: 2
Munckhof W., 2005. Antibiotics for surgical prophylaxis. Australian
Prescriber, Vol. 28 No. 2. P. 38 – 40
Neal, M.J., 2006. At a Glance Farmakologi Medis. Edisi ke-5, Jakarta: Penerbit
Erlangga, hal. 80-84
Reese, E, Richard, Betts, F, Robert., Gumustop, Bora, 2000. Handbook of
Antibiolics, 3rd Edition, Lippncott Williams & Wilkins, Philadelphia,
USA
Reeves CJ, Roux G and Lockhart R, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Buku
I, (Penerjemah Joko Setyono), Jakarta : Salemba Medika
Sabiston, D.C., 1995. Buku Ajar Bedah (Essentials of Surgery). Bagian 1.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Sachdeva R.K., 1996. Catatan Ilmu Bedah. Ed 5, Jakarta: Hipocrates, hal 245249
Schwartz S, Shires G, Spencer F., 2000. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles
of Surgery). Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran E
Sjamsuhidajat,R. and De Jong,Wim, 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2,
Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC
Smeltzer, S, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
Suddarth. Volume 2 Edisi 8. Jakarta: EGC
Smeltzer C. Suzanne. Bare G. Brenda, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth’s. Volume 2. Edisi 8, Jakarta: EGC
SMF Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RS Umum Dr.
Soetomo, Pedoman Diagnosa dan Terapi UPF Ilmu Bedah 1994
Soekardjo B., Hardjono, S., dan Sondakh, R., 2000. Hubungan Struktur
Aktivitas Obat Antibiotika. In: Siswandono, dan Soekardjo, B. Kimia
Medisinal, hal.110-153
Sylvia A.Price. and Lorainne M.Wilson, 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

xix

Whitehouse,DJ.,Friedman,MD.,et all, 2002. The Impact of Surgical‐Site
Infections Following Orthopedic Surgery at a Community Hospital
and a University Hospital: Adverse Quality of Life, Excess Length of
Stay, and Extra Cost. Infection Control and Hospital Epidemiology,
Vol. 23, No. 4, pp. 183-189
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC :
Jakarta
William A. Petri, Jr, 2008. Senyawa Antimikroba. In: Molinoff, P.B., and
Ruddon, R.W. (editor). Goodman & Gilman’s Dasar Farmakologi dan
Terapi edisi 10th volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteram EKG.hal
1181 – 1188

xx


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1838 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 481 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 430 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 256 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 379 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 561 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 497 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 318 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 488 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 575 23