PENGARUH PERLAKUAN TREADMILL TERHADAP PROFIL LIPID MENCIT (Mus musculus) OBESITAS.

(1)

ABSTRACT

EFFECT TREADMILL TREATMENT TO LIPID PROFILE OF OBESE MICE (Mus musculus).

By:

NINDRIYA KURNIANDARI

Obesity is a complex disorder with excessive fat accumulation and abnormal adipose tissue. The prevalence of obesity is increasing due to the pattern of consumption of foods high in fat, unhealthy lifestyle and lack of physical activity. Obesity and dyslipidemia are elements of the metabolic syndrome that related each other. Dyslipidemia have a greater risk factor for cardiovascular disease. Treadmill is one model to study the physiology, and molecular biochemistry towards physical exercise. This study aims to determine the effect of treadmill treatment to lipid profile in the obese mice (Mus musculus).

This study is an experimental research laboratory using post test control group design only. The study lasted for 28 days and the sample is divided into four groups, the K group (normal control), KP (control obesity), P1 (obese mice on a treadmill 1x10 minutes), and P2 (obese mice on a treadmill 2x10 minutes). K group was given a standard diet, while groups of KP, P1 and P2 are given a high-fat diet. Decreased levels of cholesterol, triglycerides and LDL highest achieved in P2 treatment with cholesterol levels of 179 ± 9.46 mg / dl (p = 0.000), triglycerides 111.2 ± 9.497 mg / dl (p = 0.000), and LDL levels of 119 , 4 ± 10.36 mg / dl (p = 0.000). An increase in HDL is highest in the group with HDL levels P1 77.8 ± 8.786 mg / dl (p = 0.000). In this study, there is an effect of treadmill treatment to lipid profile in the obese mice, even though there was no statistically significant difference between treatment treadmill 1x10 minutes per day and 2x10 minutes per day.


(2)

ABSTRAK

PENGARUH PERLAKUAN TREADMILL TERHADAP PROFIL LIPID MENCIT (Mus musculus) OBESITAS.

Oleh:

NINDRIYA KURNIANDARI

Obesitas merupakan suatu kelainan kompleks dengan akumulasi lemak yang berlebihan dan tidak normal pada jaringan adiposa. Prevalensi obesitas semakin meningkat karena pola konsumsi makanan tinggi lemak, pola hidup tidak sehat dan kurangnya aktifitas fisik. Obesitas dan dyslipidemia merupakan unsure dari sindrom metabolik yang saling berkaitan. Dislipdemia memiliki factor resiko lebih besar terkena penyakit kardiovaskular. Treadmill merupakan salah satu model untuk mempelajari respon fisiologi, bikimia maupun molekuler terhadap latihan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit (Mus musculus) obesitas.

Penilitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium menggunakan post-test control design group only. Penelitian berlangsung selama 28 hari dan terbagi atas 4 kelompok penelitian yaitu kelompok K (kontrol normal), KP (control obesitas), P1 (mencit obesitas dengan treadmill 1x10 menit), dan P2 (mencit obesitas dengan treadmill 2x10 menit). Kelompok K diberikan diet standar sedangkan kelompok KP, P1 dan P2 diberikan diet tinggi lemak. Penurunan kadar kolesterol, trigliserida dan LDL paling tinggi dicapai pada perlakuan P2 dengan kadar kolesterol 179±9,46 mg/dl (p=0,000), kadar trigliserida 111,2±9,497 mg/dl (p=0,000), dan kadar LDL 119,4±10,36 mg/dl (p=0,000). Peningkatan HDL paling tinggi terdapat pada kelompok P1 dengan kadar HDL 77,8 ± 8,786 mg/dl (p=0,000). Pada penelitian ini terdapat pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit obesitas, meskipun secara statistik tidak terdapat perbedaan bermakna antara perlakuan treadmill 1x10 menit per hari dan 2x10 menit per hari.


(3)

PENGARUH PERLAKUAN TREADMILL TERHADAP PROFIL LIPID MENCIT (Mus musculus) OBESITAS

Oleh

NINDRIYA KURNIANDARI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar SARJANA KEDOKTERAN

Pada

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016


(4)

PENGARUH PERLAKUAN TREADMILL TERHADAP PROFIL LIPID MENCIT (Mus musculus) OBESITAS

Skripsi

Oleh

NINDRIYA KURNIANDARI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2016


(5)

i

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Adipokin dan peran terhadap fungsi fisiologis ... 7

Gambar 2. Mekanisme resistensi insulin ... 17

Gambar 3. Inflamasi jaringan adiposa pada obesitas ... 19

Gambar 4. Mekanisme hipertensi pada obesitas ... 22

Gambar 5. Progresivitas atherosklerosis ... 23

Gambar 6. Kerangka Teori ... 26

Gambar 7. Kerangka Konsep ... 27

Gambar 8. Prosedur pengambilan bagian a.koronaria ... 39

Gambar 9. Alur Penelitian ... 42

Gambar 10. Grafik Pengaruh Perlakuan Treadmill Terhadap Kadar Kolesterol Mencit (Mus musculus) Obesitas... 49

Gambar 11. Grafik Pengaruh Perlakuan Treadmill Terhadap Kadar Trigliserida Mencit (Mus musculus) Obesitas... 50

Gambar 12. Grafik Pengaruh Perlakuan Treadmill Terhadap Kadar HDL Mencit (Mus musculus) Obesitas... 51

Gambar 13. Grafik Pengaruh Perlakuan Treadmill Terhadap Kadar lDL Mencit (Mus musculus) Obesitas... 52


(6)

i DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

DAFTAR LAMPIRAN ... iv

BAB I . PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II . TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaringan Adiposa ... 5

2.2 Obesitas ... 13

2.3 Atherosklerosis ... 22

2.4 Treadmill... 23

2.5 Mus musculus l ... 25

2.6 Kerangka teori ... 26

2.7 Kerangka konsep ... 27

2.8 Hipotesis ... 27

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 28

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

3.3 Populasi dan Sampel ... 29

3.4 Alat dan Bahan ... 31

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional ... 32

3.6 Prosedur Penelitian ... 34

3.7 Rancangan Analisis Data ... 41

3.8 Dummy Table ... 43

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian... 45

4.2 Pembahasan... 49

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 61

5.2 Saran... 61

DAFTAR PUSTAKA ... 62 LAMPIRAN


(7)

i

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Persetujuan Etik

Lampiran 2. Surat Izin Peminjaman Alat

Lampiran 3. Surat Izin Peminjaman Laboratorium Lampiran 4. Olah Data Statistik


(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Famili dan komposisi lipoprotein ... 8

Tabel 2. Kriteria obesitas Asia-Pasifik ... 13

Tabel 3. Mutasi gen penyebab obesitas ... 14

Tabel 4. Definisi Operasional Variabel ... 34

Tabel 5. Dummy Table Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar kolesterol total... 43

Tabel 6. Dummy Table Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar trigliserida ... 43

Tabel 7. Dummy Table Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar HDL 43 Tabel 8. Dummy Table Pengaruh perlakuan treadmiil terhadap kadar LDL 44 Tabel 9. Rerata Profil Lipid Tiap Kelompok... 45

Tabel 10. Hasil Uji Normalitas Shapiro-Wilk Profil Lipid... 46

Tabel 11. Hasil Uji Homogenitas Lavene Profil Lipid... 47

Tabel 12. Hasil Uji Oneway-Annova... 47

Tabel 13. Perbandingan Kadar Profil Lipid antar Kelompok dan hasil Uji Post Hoc LSD... 48


(9)

(10)

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Metro pada tanggal 5 Juli 1993 dari pasangan Ibu Hj. Suindriyati, M.Pd dan Bapak H. Sunarto, S.Pd. Penulis merupakan putri ke dua dari tiga bersaudara.

Penulis mengawali pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) pada tahun 1997-1999 di TK PGRI Iring Mulyo dilanjutkan Sekolah Dasar (SD) pada tahun 1999-2005 di SD Muhammadiyah 1 Metro Pusat. Sekolah Menengah Pertama (SMP) diselesaikan di SMPN N 1 Metro pada tahun 2005-2008 dan menjalani pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMA N 2 Bandar Lampung pada tahun 2008-2011. Penulis sempat mencoba menjalani pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran pada tahun 2011 selama satu tahun sebelum akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung pada tahun 2012

Selama menjadi mahasiswa pra klinik, Penulis ikut serta dalam kegiatan organisasi internal maupun eksternal kampus. Penulis pernah menjadi bagian dari kepengurusan FSI Ibnu Sina (2013-2014) , BEM FK Unila (2013-2015), LUNAR FK Unila (2014-2015) , dan BEM U KBM Unila di tingkat universitas pada periode 2015-2016. Pada organisasi eksternal kampus, penulis pernah menjadi bagian dari kepengurusan divisi Kemuslimahan Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Wilayah 1 dan divisi Community Empowerment (CE) Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) Wilayah 1.


(12)

Bismillahirrahmaanirrohiim Atas Izin Allah

Kupersembahkan skripsi ini untuk Umiku, Abiku, Kakakku, Adikku, Sahabat-sahabat tersayang

“Di lapis-lapis keberkahan, Allah sediakan bertumpuk-tumpuk bahan karya tuk menjadi perayu ridha-Nya. Lalah seayat ilmu, setitis rizqi, segerak amal, dan seisi bumi. Sejumlah apa

berkah-Nya terlimpah, seukur dengan seberapa kokoh seayat ilmu memandu setitis rizqi, setitis rizqi membekali segerak amal, dan segerak amal memperindah seisi bumi”

(Salim A. Fillah)


(13)

SANWACANA

Puji syukur senantiasa Penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah memperjalankan skenario terbaik disetiap helaan nafas, yang selalu memberikan sebaik-baik penjagaan di setiap pijakan kebaikan, yang memampukan dan menguatkan pundak dalam setiap perjalanan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada sauri tauladan Nabi Muhammad SAW.

Skripsi ini berjudul “PENGARUH PERLAKUAN TREADMILL TERHADAP PROFIL LIPID MENCIT (Mus musculus) OBESITAS” adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kedokteran di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin M.P selaku Rektor Universitas Lampung. 2. Dr. dr. Muhartono, M.Kes, Sp.PA selaku Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Lampung atas arahan, bimbingan, dan motivasi dalam menyelesaikan pendidikan pra klinik dan skripsi ini.

3. dr. Tiwuk Susantiningsih, M. Biomed selaku pembimbing satu sekaligus pernah menjadi dosen Pembimbing Akademik selama 6 semester yang senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, arahan, nasihat dan motivasi dalam perjalanan pembuatan skripsi ini. Terima kasih


(14)

atas pengertian, sharing ilmu dan pembelajaran hidup yang mungkin tidak akan didapat dalam kuliah pakar manapun.

4. dr. Evi Kurniawaty, M. Sc selaku Pembimbing dua yang telah besedia meluangkan waktu, memberikan masukan, kritik,saran dan nasihat bermanfaat dalam penyelesaian skripsi ini.

5. dr. Tri Umiana Soleha, M. Kes selaku Pembimbing Akademik di semester akhir ini atas waktu dan bimbingannya.

6. Abi tercinta, cinta pertama bagi putri kecilnya, H. Sunarto, S.Pd. Terima kasih atas doa yang senantiasa dilangitkan dalam diam nya. Terima kasih atas cinta, pengorbanan, penjagaan dan kekhawatiran yang tak selalu nampak dalam bentuk kata dan aksara, tetapi selalu kurasakan di setiap detiknya.

7. Umi tersayang, madrasah pertamaku, Hj. Suindriyati M. Pd terima kasih atas doa, cinta, kasih sayang, pengorbanan, perhatian dan penjagaannya hingga saat ini. Terima kasih telah menjadi ibu, guru, sahabat, perawat dan wanita multitalent untuk keluarga kita. Terima kasih telah memberikan kesempatan untuk melangitkan kreatifitas dan cita-cita yang hidup di pikiran setiap anak-anaknya.

8. Kakak Yuli Kurniawati dan Adik Kurnia Putri Adillah atas dukungan, motivasi dan semangat yang senantiasa memberi arti.

9. Seluruh Staf Dosen FK Unila atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal untuk bermanfaat bagi masyarakat.

10. Seluruh Staf Tata Usaha, Administrasi, Akademik, pegawai dan karyawan FK Unila


(15)

11. Murobbiyah dan sahabat-sahabat sehidup sesyurga dalam lingkaran cinta karena Allah yang telah memberikan semangat, motivasi dan pengingat dalam mengemudi hati menuju-Nya.

12. Sahabat-sahabat (Bukan Genk) semanis getir kehidupan FK dan sehidup sesurga inshaAllah (Rania, Idzni, Hani, Desti, Farida, Ratna, Ferina, Ghea, Nico, Fairuz, Andika) yang telah mengisi hari-hari yang tidak mudah, saling menopang dan menguatkan satu sama lain. Ana Uhibbukum Fillah.

13. Keluarga Pimpinan BEM Muda Bergerak (Kak Bambang, Kak Deni, Mba Naila, Heni, Ari, Kak Alex, Nurul, Nadiril, Huda, Deris, Riska, Ijal, Imah, Kak Anggi, Mbak Sun, Kak Irkham, Sri, Kak Ogi, Novita, Kak Beny, Nina, Mba Ayu dan Mba Marel) yang telah memberikan ruang untuk belajar, menemukan keluaraga baru dan telah menginspirasi banyak hal. 14. Keluarga Asisten Dosen Anatomi (dr. Anggraeni Janar Wulan, M. Kes, dr.

Rekha Nova Iyos, dr. Catur Ariwibowo , Pak Habudin, Debby, Karina, Ika, Ghea, Vika, Inaz, Eki, Mbung, Rois, Andrian Prasetya, Hambali, Leon, Farras, dan Dicky) atas pengalaman, canda tawa, bertukar cerita selama ini.

15. Tim penelitian (Lana, Eduard, Huzai, Anda, Kharisma, Kurnia) atas kerjasamanya dalam melakukan penelitian ini.

16. Teman-teman FSI Ibnu Sina, BEM FK Unila, BEM U KBM Unila, ISMKI, FULDFK, Yayasan Rabiah.


(16)

18. Pengalaman hidup masa lalu baik dalam hal kegagalan ataupun kebahagiaan yang menguatkan dan memberikan pelajaran sampai hari ini. 19. Teman-teman sejawat angkatan 2012 yang tidak bisa disebutkan satu per

satu.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Aamiin

Bandar Lampung, Januari 2016 Penulis


(17)

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Obesitas adalah suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologik spesifik. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang berlebihan atau tidak normal di jaringan adiposa (Sidartawan, 2009).

Prevalensi penduduk laki-laki dewasa obesitas di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 19,7%, lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). Prevalensi obesitas perempuan dewasa pada tahun 2013 (>18 tahun) menunjukkan angka 32,9%, naik 18,1% dari tahun 2007 (13,9%) dan 17,5% dari tahun 2010 (15,5%) (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

Indeks Massa Tubuh (IMT) telah direkomendasikan sebagai alat ukur obesitas pada berbagai studi karena relatif mudah dilakukan. Nilai IMT ≥25 termasuk ke dalam kategori obesitas untuk kawasan Asia Pasifik. Obesitas sentral dianggap sebagai faktor risiko kardiovaskular yang berhubungan erat dengan sindrom metabolik. Nilai rujukan lingkar pinggang di Asia Pasifik


(19)

2

yaitu laki-laki dengan lingkar pinggang >90cm atau perempuan dengan lingkar pinggang >80cm dinyatakan sebagai obesitas sentral (WHO, 2000). Obesitas sentral di Indonesia menunjukkan angka 26.6%, lebih tinggi dari prevalensi pada tahun 2007 (18,8%) (Kementrian Kesehatan RI, 2013). Obesitas dan penyakit kronis terbukti memiliki sifat endogen dalam hubungannya dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat inap dan rawat jalan yang secara tidak langsung mempengaruhi peningkatan biaya layanan kesehatan (Susyanty, 2010)

Obesitas memiliki karakteristik adanya peningkatan ukuran (hipertrofi) dan jumlah (hiperplasia) jaringan adiposa (Jo et al., 2009). Jaringan adiposa termasuk ke dalam organ endokrin aktif yang menghasilkan sitokin dan mediator bioaktif dalam jumlah besar seperti leptin, adiponectin, Interleukin-6 (IL-Interleukin-6) dan Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α). Produk tersebut tidak hanya mempengaruhi homeostasis berat badan tetapi juga resistensi insulin, diabetes, profil lipid, tekanan darah, koagulasi, fibrinolisis, inflamasi dan atherosclerosis (Lau et al., 2005). Individu dengan obesitas juga mengalami adaptasi morfologi struktur jantung dan fungsi hemodinamik (Poirier et al., 2006).

Obesitas dan dislipidemia merupakan unsur dari sindrom metabolik yang saling berkaitan. Dislipidemia dapat diketahui melalui pengukuran profil lipid darah. Dislipidemia pada obesitas ditandai dengan peningkatan kadar trigliserida puasa dan postprandial, peningkatan kadar Low Density


(20)

3

Lipoprotein (LDL), dan menurunnya kadar High Density Lipoprotein (HDL) di dalam darah. Hal ini terjadi karena obesitas menginduksi adanya efek atherogenik dan perubahan metabolisme lipoprotein (Klop et al., 2013). Individu yang mengalami peningkatan kadar kolesterol total (>200 mg/dL) memiliki risiko penyakit jantung koroner dua kali lebih besar daripada individu dengan kadar kolesterol total optimal(<180 mg/dL) (Roger et al., 2012).

Treadmill telah digunakan sebagai model untuk mempelajari aspek tingkah laku, fisiologi, biokimia dan respon molekuler untuk latihan fisik akut ataupun kronis (Jones, 2006). Latihan fisik tingkat sedang pada hewan dengan diet tinggi lemak dapat memberikan efek proteksi dalam perkembangan obesitas (Baynard et al., 2012). Latihan fisik memicu adanya adaptasi melalui sistem pertahanan terhadap stress oksidatif (Richters et al., 2011).

Penulis menyadari bahwa obesitas menjadi masalah kesehatan global yang dapat menimbulkan masalah kesehatan yang lain. Penelitian tentang efek tredmill terhadap profil lipid dan gambaran histopatologi arteri koronaria mencit jantan (Mus musculus l.) obesitas belum pernah dilakukan. Penelitian ini penting untuk dilakukan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan lebih lanjut tentang modifikasi faktor resiko dan manfaat latihan fisik pada obesitas.


(21)

4

1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit (Mus musculus l.) obesitas?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit (Mus musculus l.) obesitas.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar kolesterol mencit (Mus musculus)

1.3.2.2 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar trigliserida mencit (Mus musculus)

1.3.2.3 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar HDL mencit (Mus musculus)

1.3.2.4 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar LDL mencit (Mus musculus)

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Untuk Peneliti

Menambah wawasan dan memperkaya referensi di bidang keilmuan 1.4.2 Untuk masyarakat

Penelitian ini dapat bermanfaat untuk masyarakat dalam membangun kesadaran melakukan latihan fisik dan prilaku hidup sehat tanpa obesitas.


(22)

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Adiposa

Jaringan adiposa merupakan suatu model terintegrasi antara sistem endokrin dan signaling dalam regulasi metabolisme energi. Jaringan adiposa mengandung pembuluh darah dan persyarafan yang berperan dalam memelihara kebutuhan keseimbangan energi dan penyimpanan energi. (Flier, 2010). Jaringan adiposa tersusun atas kumpulan sel-sel adiposit. Sel-sel adiposit tidak hanya berfungsi sebagai penyimpanan lemak, tetapi juga berfungsi sebagai pengatur keseimbangan energi dan homeostasis tubuh (Bernlohret al.,2002)

2.1.1 Jaringan Adiposa sebagai fungsi penyimpanan

Sel-sel adiposit berasal dari tipe sel preadiposit lalu berdiferensiasi melalui dua jalur adipogenik yaitu lemak putih (white fat) dan lemak coklat (brown fat). Lemak putih lebih banyak ditemukan pada orang dewasa. Lemak putih sebenarnya tampak bewarna kekuningan karena akumulasi berbagai macam pigmen. Sel adiposa jenis ini berbentuk globular berukuran besar (unilocular) tak bermembran. Jaringan


(23)

6

lemak putih berperan utama dalam regulasi transpor lipid (Bautistaet al.,2011).

Jaringan lemak coklat hanya dapat ditemukan pada kondisi tertentu yaitu pada bayi baru lahir dan anak-anak. Jaringan lemak cokelat terdiri atas sel-sel yang banyak mengandung sitokorm mitokondria. Mitokondria tersebut dikelilingi oleh globul-globul lipid multilokular. Morfologi ini mendukung peran lemak coklat dalam proses pemakaian simpanan lemak dalam waktu cepat. Selain itu, jaringan lemak cokat mengandung thermogenin, sejenis protein yang berperan dalam transport elektron dari fosforilasi oksidatif dan menghamburkan gradien proton melewati membran mitokondria bagian dalam sehingga menghasilkan lebih banyak panas dibandingkan ATP (Reed 2009).

2.1.2 Jaringan Adiposa sebagai fungsi endokrin

Jaringan adiposa tidak hanya berperan sebagai jaringan penyimpan trigliserida, tetapi juga berperan sebagai penghasil substansi tertentu melalui fungsi endokrin, parakrin dan autokrinnya. Substansi bioaktif yang dihasilkan disebut adipokin atau adipositokin. Adipokin lebih banyak diproduksi oleh jaringan adiposa putih dan berperan dalam homeostasis berbagai proses fisiologis. Adipokin yang dapat ditemukan berupa Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1), Tumor Necrosis Factor-α(TNF-α), resistin, leptin dan adiponektin.


(24)

7

Gambar 1 menunjukkan adipokin utama yang dihasilkan oleh jaringan adiposa dan perannya dalam proses fisiologis. Jaringan adiposa menghasilkan adipokin yang memiliki efek metabolik pada jaringan sentral maupun perifer. Produksi adipokin dipengaruhi oleh insulin, katekolamin, dan penyimpanan lemak.

Gambar 1. Adipokin dan peran terhadap fungsi fisiologis (Bautistaet al.,2011).

2.1.3 Plasma Lipid dan Transpor Lipid

Lipid tidak bersirkulasi dalam bentuk bebas dan memiliki sifat tidak larut air. Kolesterol, trigliserida dan fosfolipid dibawa dalam bentuk komplek lipoprotein sedangkan Free Fatty Acid (FFA) terikat pada albumin. Kompleks yang terbentuk meningkatkan daya larut lipid. Enam famili lipoprotein digolongkan berdasarkan


(25)

8

ukuran dan jenis lipid yang dibawanya. Secara umum, lipoprotein terdiri dari inti hidrofobik trigliserida dan kolesterol ester yang dikelilingi oleh fosfolipid dan protein (Murray, 2012). Tabel 1 di bawah ini merangkum enam famili lipoprotein berdasarkan ukuran dan komposisinya.

Tabel 1.Famili dan komposisi lipoprotein (Barretet al.,2010)

2.1.3.1 Jalur Metabolisme Lipid Eksogen

Jalur metabolisme lipid eksogen menjelaskan proses metabolisme lipid yang berasal dari konsumsi makanan. Lipid mengalami proses enzimatik oleh lipase pankreas di usus halus untuk membentuk misel. Misel terutama terdiri atas asam lemak bebas, 2-monogliserol, turunan kolesterol dan molekul penting tak larut air. Molekul penting tak larut air tersebut adalah vitamin A, D, E, dan K. Misel diserap melalui sel mukosa dalam bentuk komplek


(26)

9

lipoprotein yang besar yaitu kilomikron. Kilomikron bertanggung jawab mengangkut semua lipid dari makanan ke dalam sirkulasi.

Kilomikron memasuki sirkulasi melalui duktus limfatik dan dibersihkan dari sirkulasi melalui peran enzim lipoprotein lipase. Lipoprotein lipase adalah enzim yang terdapat di permukaan endotel kapiler. Enzim ini berperan sebagai katalis dalam pemecahan trigliserida pada kilomikron ke dalam bentuk asam lemak bebas dan gliserol. Asam lemak bebas dan gliserol hasil pemecahan tersebut akan memasuki sel-sel adiposit dan mengalami reesterifikasi. Asam lemak bebas tetap ada di dalam sirkulasi melalui ikatan dengan albumin. Kilomikron yang telah kehilangan trigliserida berada dalam sirkulasi dalam bentuk kilomikron sisa (chylomicron remnants). Kilomikron sisa akan dibawa menuju hepar melalui endositosis yang diperantarai oleh reseptor. Ester kolesteril dan triasilgliserol mengalami metabolisme dan hidrolisis. (Barret et al., 2010). Kilomikron diserap melalui sisa perantara apo-E, dua reseptor dependen-apo E, reseptor LDL (apo B-100, E0 danLike Reseptor Protein-LDL (LRP-LDL) (Murray, 2012).

2.1.3.2 Jalur Metabolisme Endogen

Trigliserida dan kolesterol yang disintesis di hati akan disekresikan ke dalam sirkulasi sebagai lipoprotein Very Low Density Protein


(27)

10

(VLDL). Apoliproprotein yang terkandung dalam VLDL adalah apolipoprotein B100. Trigliserida dalm VLDL mengalami hidrolisis oleh enzim Lipoprotein Lipase (LPL) dan VLDL akan berubah menjadi Immediate Density Lipoprotein (IDL). Proses hidrolisis akan berlanjut pada IDL dan mengubah IDL menjadi Low Density Lipoprotein (LDL). Sebagian jumlah VLDL, IDL, dan LDL akan mengangkut kolesterol ester kembali ke hati. Kolsterol paling banyak terkandung dalam LDL. Sebagian kolesterol yang terdapat pada LDL, akan dibawa ke hati dan jaringan steroidogenik. Beberapa contoh jaringan steroidogenik tersebut adalah kelenjar adrenal, testis, dan ovarium yang mempunyai reseptor untuk kolesterol-LDL. Kolesterol-LDL lainnya akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh Scavenger Reseptor-A (SR-A) di makrofag dan akan menjadi sel busa (foam cell) (John MF, 2009).

Reseptor LDL pada permukaan sel menerima LDL melalui proses endositosis dan dicerna oleh enzim lisosom. Kolesterol dilepaskan dari ester kolesterol oleh esterase lisosom. Kolesterol dapat digunakan untuk mensistesis membran sel atau sintesis garam empedu dalam hati atau hormon steroid dalam jaringan endokrin. Laju sintesis kolesterol dalam sel dikendalikan melalui pengmenghambatan Hidroksi Metil Gluttril Koenzim-A (HMG Ko-A) oleh kolesterol. Kolesterol menghambat sintesis reseptor LDL


(28)

11

(regulasi menurun) yang berdampak pada penurunan jumlah pengambilan kolesterol oleh sel. Kolesterol mengaktifkan Asil Cholesterol Asil Transferase (ACAT), yang berperan mengubah kolesterol ke dalam bentuk ester kolesterol untuk penyimpanan dalam sel (Swansonet al.,2012).

2.1.3.3 Sintesis, Transpor dan Eksresi Kolesterol

Kolesterol dalam tubuh berasal dari proses sintesis (sekitar 700 mg/hari) dan sisanya diperoleh dari makanan. Retikulum endoplasma dan sitosol pada hampir semua sel berinti mampu membentuk kolesterol. Kolesterol terdapat di jaringan dan plasma sebagai kolesterol bebas atau dalam bentuk simpanan. (Murray, 2006).

Kolesterol disintesis dari Asetil Koenzim A (Asetil Ko-A) sitosol. Sumber utama karbon untuk asetil KoA adalah glukosa. Asetil KoA sitosol membentuk asetoasetil KoA, yang berkondensasi dengan asetil KoA yang lain untuk membentuk Hidroksi Metil Glutril (HMG-KoA). Hidroksi Metil Glutril koenzim A sitosol mengalami reduksi di dalam retikulum endoplasma membentuk asam mevalonat oleh enzim regulator HMG-KoA reduktase. Asam mevalonat mengalami fosforilasi dan mengalami dekarboksilasi membentuk karbon-lima (C-5) isoprenoid yaitu isopentenil


(29)

12

pirofosfat. Dua unit isopentenil pirofosfat berkondensasi, membentuk senyawa C-10 (granil pirofosfat). Granil pirofosfat bereaksi dengan unit 5 yang lain untuk membentuk senyawa C-15 yaitu fernesil pirofosfat. Skualen terbentuk dari dua unit C-C-15 membentuk lanosterol dari proses oksidasi dan siklik. Lanosterol selanjutnya akan diubah menjadi kolesterol dengan struktur cincin yang tidak dapat dipecah dalam tubuh. Garam empedu di feses adalah bentuk utama dari inti steroid yang disekresi (Swanson, 2012).

2.1.3.4 JalurReverse Cholesterol Transport

Usus halus dan hati melepaskan HDL nascent yaitu partikel kecil miskin kolesterol yang mengandung apolipoprotein (apo) A, C dan E. Kolesterol yang tersimpan di makrofag akan diambil oleh HDL nascent. Setelah mengambil kolesterol dari makrofag, HDL nascent berubah menjadi HDL dewasa yang berbentuk bulat. Kolesterol bebas di bagian dalam dari makrofag harus dibawa ke permukaan membran sel makrofag oleh suatu transporter yang disebut Adenosinetriphosphate-Binding Cassete transporter-1 (ABC-1) agar dapat diambil oleh HDL nascent. Kolesterol bebas akan diesterifikasi menjadi kolesterol ester oleh enzim Lecithin Cholesterol Acyltransferase (LCAT). Kolesetrol ester yang dibawa oleh HDL akan mengalami dua jalur yaitu jalur langsung ke hati


(30)

13

(ditangkap oleh reseptor SR-B1) atau dipertukarkan dengan trigliserid dari VLDL dan IDL dengan bantuan Cholesterol Ester Transfer Protein(CETP) (John MF, 2009).

2.2 Obesitas

Obesitas merupakan suatu penyakit mulrifaktorial akibat akumulasi lemak dan berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit. Faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko penyakit adalah kelebihan lemak viseral. (Sidartawan 2009). Kriteria obesitas untuk wilayah Asia-Pasifik menggunakan kriteria pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.Kriteria obesitas Asia-Pasifik.Sumber:(WHO 2000)

2.2.1 Etiologi Obesitas

2.2.1.1 Pengaruh Genetik dan Lingkungan

Kejadian obesitas dapat terlihat dalam satu keluarga memiliki berat badan dan tinggi yang hampir sama dalam satu keturunan meskipun faktor genetik dan lingkungan sulit untuk dibedakan. Dua orang kembar identik memiliki Indeks Masa Tubuh (IMT)


(31)

14

yang relatif sama dibandingkan kembar dizygotik. Faktor genetik ini berhubungan dengan eksperesi kebutuhan dan pemakaian energi setiap individu. Faktor budaya dan lingkungan berhubungan dengan ketersediaan makanan, pola makan, dan aktivitas fisik setiap individu. Pada anak-anak, obesitas berhubungan dengan menghabiskan waktu lebih banyak menonton televisi (Flier, 2010).

2.2.1.2 Sindrom Genetik Spesifik

Mutasi genetik pada gen ob mencit menunjukkan perkembangan obesitas, resistensi insulin dan hiperfagia walaupun diberikan jumlah kalori makanan yang sama dengan mencit normal). Produk dari gen ob adalah peptida leptin yang disekresi oleh sel-sel adiposa dan bertugas mengirimkan signal rasa kenyang ke hipotalamus. Mutasi pada genobmenghambat pengiriman sinyal ke otak sehingga persepsi otak tetap merasakan lapar. Tabel 3 dibawah ini menjelaskan mutasi gen-gen yang menyebabkan obesitas pada manusia dan mencit.

Tabel 3. Mutasi gen penyebab obesitas (Flier, 2010).

Gen Produk

Gen

Mekanisme Obesitas

Manusia Roden

Lep(ob) Leptin Mutasi

menghambat leptin mengirim sinyal


(32)

15

kenyang; persepsi otak masih terasa lapar.

LepR (db) Leptin Receptor

Mekanisme sama dengan di atas

Ada Ada POMC Propiomelan okortin Menghambat sintesis MSH, sinyal persepsi kenyang Ada Ada MC4R Reseptor tipe 4 untuk MSH

Mutasi

menghambat sinyal kenyang dari MSH

Ada Ada AgRP Agouti-related peptide, neuropeptida yang diekspresika n di hipotalamus Ekspresi berlebihan menghambat sinyal melalui MC4R Tidak Ada PC-1 Prehormone convertase 1 Mutasi mencegah sintesis neuropeptida, kemungkinan MSH. Ada Tidak Fat Karboksipep tidase-E

Sama dengan di atas

Tidak Ada

Tub Tub, protein dengan fungsi yang

Disfungsi hipotalamus

Tidak Ada


(33)

16

belum diketahui pada hipotalamus TrkB TrkB,

reseptor neurotropin

Hiperfagia karena defek hipotalamus nonspesifik.

Ada Ada

2.2.1.3 Sindrom lain yang berhubungan dengan obesitas

Beberapa sindrom lain yang berhubungan dengan obesitas adalah cushing syndrome, hipotiroid, insulinoma, craniofaringioma dan kelainan lain pada hipotalamus (Jameson 2010).

2.2.2 Manifestasi Klinis Obesitas berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.

2.2.2.1 Sindrom Metabolik

Sindrom metabolik adalah sekumpulan gejala abnormal fisik dan metabolik yang menjadi faktor resiko penyakit kardiovaskular (Klein et al., 2004). Sindrom metabolik ditegakkan apabila seseorang memiliki sedikitnya 3 kriteria yaitu peningkatan kadar trigliserida (> 150 mg/dL), penurunan kadar kolesterol HDL (<40 mg/dL dan pada wanita <50 mg/dL), peningkatan tekanan darah (>130/85 mmHg) dan peningkatan glukosa darah puasa (>100 mg/dL). Obesitas tidak


(34)

17

dimasukkan ke dalam kriteria jika kriteria lain telah terpenuhi. Karena terdapat individu yang tidak obesistas memiliki resistensi insulin dan faktor resiko metabolik (Sugondo & Reno 2009).

2.2.2.2 Resistensi Insulin

Mekanisme terjadinya resistensi insulin terjadi melalui berbagai mekanisme. Gambar 2 menunjukkan jalur endokrin, inflamasi dan neuronal resistensi insulin pada obesitas.

Gambar 2. Mekanisme resistensi insulin. (Qatanani & Lazar, 2007).

Obesitas berhubungan dengan meningkatnya asam lemak yang dapat memicu resistensi insulin melalui metabolit intrasel pengaktivasi Protein Kinase C (PKC). Aktivasi PKC menyebabkan aktivasi serin/treonin kinase yang menghambat sinyal insulin dalam sel. Sekresi adipokin pada obesitas


(35)

18

mengalami perubahan. Adipokin adalah modulator sinyal insulin. Pada obesitas terjadi akumulasi Adipose Tissue Macrophages (ATMs) yang meningkatkan produksi sitokin inflamasi oleh jaringan adiposa yang menghambat sinyal insulin. Kelenjar endokrin dan mediator inflamasi bergabung dengan serin/treonin kinase kemudian mengambat proses sinyal insulin. Obesitas mengaktivasi Nuclear Facto-B (NF-B) yang meningkatkan respon inflamasi dan memperberat resistensi insulin. Kelompok protein Suppressor Of Cytokine Signalling (SOCS) diinduksi oleh adipokin untuk menginduksi resistensi insulin melalui fosforilasi tirosin IRS-1 dan IRS-2 atau melalui degradasi proteosom insulin Receptor Substrate-1 (IRS-1) dan IRS-2. Asam lemak juga memicu resistensi insulin melalui aktivasi langsung Toll Like Receptor-4 (TLR4) dan respon imun bawaan (Qatanani & Lazar, 2007).

Resistin menjadi salah faktor yang mempengaruhi resistensi insulin. Resistin dihasilkan oleh sel adiposit. Kadar resistin meningkat pada berbagai model hewan pengerat untuk obesitas. Penurunan kadar resistin meningkatkan kerja insulin dan, sebaliknya pemberian resistin rekombinan meningkatkan resistensi insulin pada hewan normal (Kumar, 2007).


(36)

19

2.2.2.3 Reaksi Inflamasi

Obesitas menyebabkan reaksi inflamasi pada tubuh. Gambar 3 menjelaskan tentang proses inflamasi yang terjadi pada jaringan adiposa.

Gambar 3. Inflamasi jaringan adiposa pada obesitas (McArdleet al.,2013).

Energi yang berlebih di dalam tubuh akan disimpan di jaringan adiposa. Hal ini menyebabkan penambahan volume dan jumlah sel adiposit yang mensekresi molekul seperti Monocyte Chemoattractant Protein-1 (MCP-1). Molekul MCP-1 memperantarai hadirnya sel-sel imun lain ke dalam jaringan adiposa. Mediator proinflamasi seperti TNF-α, IL-β dan IL-6 oleh sel adiposit, preadiposit dan infiltrasi sel imun berdampak


(37)

20

pada aktivasi makrofag menjadi fenotip proinflamasi M1 dan mengarahkan populasi sel T. Aktivitas lipolisis dalam tubuh yang meningkat berdampak pada peningkatan asam lemak bebas. Kondisi ini berdampak negatif pada jalur sinyal insulin dan resistensi insulin. Selain itu jaringan adiposa yang mengalami hipertrofi berhubungan dengan kejadian hipoksia (McArdleet al.,2013).

2.2.2.4 Dislipidemia

Dislipidemia pada obesitas ditandai dengan hipertrigliseridemia karena peningkatan jumlah asam lemak bebas di hati yang menyebabkan akumulasi trigliserida di hati. Keadaan ini menyebabkan sintesis VLDL meningkat. Aktivitas lipolisis kilomikron dapat terhambat oleh kompetisi kadar lipoprotein lipase karena meningkatnya trigliserida remnant yang dikembalikan ke hati. Aktivitas lipolisis pada obesitas lebih lanjut akan terganggu karena menurunnya ekspresi mRNA yang mengatur aktivitas lipoprotein lipase di jaringan adiposa dan otot rangka. Selanjutnya, hipertrigliseridemia menginduksi peningkatan pertukaran kolesterol ester dan trigliserida antara VLDL, HDL, dan LDL oleh cholesterylester-transfer-protein (CETP). Konsentrasi HDL menurun dan kandungan trigliserida dalam LDL juga menurun (Klopet al.,2013).


(38)

21

2.2.2.5 Hipertensi

Obesitas menginduksi terjadinya hipertensi melalui aktivitas simpatik, mekanisme renal, hormonal dan proses disfungsi endotel vaskular (Kotsiset al.,2010).

Pada obesitas terjadi peningkatan asam lemak bebas. Distribusi asam lemak bebas yang abnormal pada pasien obesitas meningkatkan sensitifitas α-adrenergik vaskular dan berimplikasi pada peningkatan aktivitas α-adrenergik (Haastrupet al., 1998). Mekanisme pasti terkait efek endogen asam lemak bebas belum sepenuhnya diteliti. Lisofosfolipid dan asam lemak bebas menghambat Na+, K+-ATPase dan pompa sodium yang berefek pada peningkatn tonus otot polos dan resistensi pembuluh darah (Zhengt & Kuo, 1990).

Target lain asam lemak bebas adalah isoenzim protein kinase C yang tidak tergantung kalsium. Elemen ini berperan vital dalam memediasi transduksi sinyal dan regulasi sel. Asam lemak bebas berperan sebagai aktivator poten fosforilasi protein kinase C (Khan et al. 1993). Gambar 4 menjelaskan tentang mekanisme obesitas menginduksi terjadi hipertensi.


(39)

22

Gambar 4. Mekanisme hipertensi pada obesitas.(Kotsiset al.,. 2010)

2.3 Atheroskelerosis

Atherosklerosis adalah suatu penyakit dari arteri-arteri besar dimana timbul lesi lemak atau plak ateromatosa pada dinding arteri. Plak ini dimulai dengan penimbunan kristal kolesterol yang kecil dalam intima dan otot polos yang terletak di bawahnya melalui proliferasi jaringan otot halus dan jaringan fibrosa di sekitarnya membentuk plak yang semakin besar (Guyton, 1996).

Atherosklerosis diawali oleh pembentukan lesi fatty streak akibat akumulasi apolipoprotein B pada bagian subendotel pembuluh darah. Akumulasi ini menyebabkan datangnya sel-sel dendritik dan makrofag pada daerah lesi. Progresivitas atheroskelerosis berlanjut dengan infiltasi sel T pada tunika intima yang menyebabkan retensi apolipoprotein-B


(40)

23

semakin parah. Plak akan membentuk daerah yang berisi inti-inti nekrotik (fibrous cap) karena akumulasi sel-sel apoptosis dan defek pada pembersihan sel-sel fagosit. Pembentukan fibrous cap menurunkan stabilitas lesi dan menyebabkan plak atherosklerosis mudah mengalami ruptur dan terbentuk trombus. Gambar 5 menjelaskan tahapan progresivitas atheroskelerosis pada pembuluh darah (Moore & Tabas, 2011)

.

Gambar 5. Progresivitas atherosklerosis (Moore & Tabas, 2011)

2.4 Treadmill

Latihan fisik merupakan aktivitas multifaktorial yang dapat mempengaruhi organ dan jaringan pada tubuh. Latihan fisik yang kurang dapat berimplikasi pada masalah kesehatan yang bersifat kronis. Sejauh ini peneliti di bidang biomedik mencoba mengformulasikan sebuah sistem yang hampir mirip dengan latihan fisik untuk digunakan dalam penelitian di bidang ini. Modalitas latihan fisik yang dapat digunakan terdapat tiga jenis yaitu treadmill running exercise, wheel running,dan swimming


(41)

24

exercise(American Physiological Society, 2006). Pemakaian hewan coba seperti Mus musculus memberikah hasil yang menyerupai pada manusia (Kemiet al,. 2002).

Latihan fisik dapat memberikan efek positif terhadap fungsi endotel, sistem saraf autonom dan efek protektif terhadap sistem kardiovaskular (Joyner & Green, 2009). Latihan fisik tingkat sedang pada diet tinggi lemak mempengaruhi penurunan ekspresi gen inflamasi pada jaringan adiposa sehingga dapat memberikan efek protektif terhadap obesitas (Baynardet al., 2012). Latihan fisik aerobik dapat meningkatkan aktivitas lipolisis (Hashimoto et al., 2013), menurunkan aktivitas angiotensinogen II (regulator proliferasi sel dan proses fibrosis) (Marchon et al., 2015), menurunkan kolesterol dan trigliserida melalui mekanisme peningkatan proses transpor balik kolesterol pada transfer kolesterol ester (Pinto et al., 2015). Latihan fisik dapat mengurangi atheroslerosis melalui mekanisme pelepasan NO dan berkaitan dengan apo-E (Shimadaet al., 2007).

Latihan fisik berpengaruh pada peningkatan AMPK (AMP activated protein kinase) (Zhao et al., 2011). Enzim ini berperan dalam stimulasi pemakaian glukosa, oksidasi asam lemak dan penuruan sintesis lemak (Richter, 2010). Hipotalamus merupakan kunci dalam pengaturan asupan makanan, berat badan dan keseimbangan pemakaian energi. Diet tinggi lemak pada obesitas menyebabkan peningkatan sitokin proinflamasi yang diproduksi oleh hipotalamus. Produksi tersebut mengaktivasi sel-sel


(42)

25

mikroglia yang sangat sensitif terhadap perubahan homeostasis. Ketidakseimbangan homeostasis dapat dipengaruhi salah satunya oleh leptin. Sel-sel mikroglia yang teraktivasi selanjutnya memproduksi IL1β, TNFα dan IL-6 yang dapat berpengaruh pada perubahan metabolisme di dalam tubuh. Sel mikroglia teraktivasi dapat dideteksi jumlahnya melalui pemeriksaan immunohistokimia berupa peningkatan IbA1 (macrophage/microglia-specific calcium binding protein allograf inflammatory factor-1). Latihan fisik memproteksi hipotalamus dengan menurunkan jumlah aktivasi sel mikroglia yang ditunjukkan oleh penurunan IbA1 (Yiet al., 2012).

2.5 Mus musculus l.

Hirararki taksonomiMus musculusadalah sebagai berikut Kingdom : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mamalia

Ordo : Rodentia

Famili : Muridae

Genus : Mus

Species :Mus musculus Linnaeus


(43)

26

2.6 Kerangka Teori

Bagan 1. Kerangka Teori Kolesterol

Peningkatan Resiko Penyakit Kardiovaskular

Treadmill • Genetik dan lingkungan

• Sindrom genetik spesifik

• Sindrom yang berhubungan dengan obesitas

Intake > Pemakaian Energi

Obesitas

Hiperplasia dan Hipertrofi Jaringan Adiposa

Inflamasi dan stress oksidatif Dislipidemia

Leptin

LDL HDL


(44)

27

2.7 Kerangka Konsep

Bagan2.Kerangka Konsep

2.8 Hipotesis

Ho : tidak terdapat pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit (Mus musculus l.) obesitas.

H1 : terdapat pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid (Mus musculus l.) obesitas.

Hipotesis yang diajukan adalah treadmill menurunkan profil lipid (Mus musculus l.) obesitas.

Variabel Terikat: Profil Lipid Variabel Bebas :

Perlakuan Treadmill

Dislipidemia Obesitas

Diet Tinggi Lemak

HDL Trigliserida


(45)

28

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian eksperimental laboratorium menggunakanpost-test control design group only.Pada penelitian ini terdapat 4 kelompok penelitian, yaitu kelompok kontrol normal (K), kelompok kontrol obesitas (KP), kelompok perlakuan (P1) mencit obesitas + perlakuan treadmill 1 kali sehari selama 10 menit, dan kelompok perlakuan (P2) mencit obesitas + perlakuan treadmill 2 kali sehari masing-masing 10 menit.

3.2 Tempat dan Waktu

3.2.1 Tempat

Perlakuan treadmill dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung sedangkan untuk pemeriksaan profil lipid dilakukan di Laboratorium Biokimia Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Laboratorium Klinik Mitra Diagnostik Bandar Lampung.


(46)

29

3.2.2 Waktu

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September sampai bulan Oktober 2015.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah mencit jantan (Mus musculus l.) berusia 6-8 minggu dengan berat badan rata-rata mencit normal adalah 20-30 gram, dan berat badan rata-rata mencit obesitas adalah lebih dari 30 gram.

3.3.2 Sampel

Sampel yang digunakan adalah mencit jantan. Besar sample ditentukan berdasarkan rumus Federer. Rumus penentuan besar sampel untuk uji eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) adalah:

t (n-1)≥15

Dimana t merupakan jumlah kelompok penelitian dan n merupakan jumlah sampel tiap kelompok. Penelitian ini terdapat 4 kelompok penelitian sehingga didapat perhitungan sampel sebagai berikut:

4 (n-1)≥15 4n-4≥15 4n≥19 n≥4,75


(47)

30

Berdasarkan hasil perhitungan didapat jumlah sampel yang akan digunakan pada tiap kelompok adalah 5 ekor mencit jantan (pembulatan n≥4,75). Jumlah sampel yang akan digunakan dalam penelitian adalah 20 ekor mencit jantan.

a. Kriteria inklusi mencit normal: 1) Mencit jantan

2) Berumur 6-8 minggu

3) Berat badan rata-rata 20-30 gram

4) Diperoleh dari tempat pembiakan yang sama 5) Dipelihara pada tempat dan waktu yang sama

b. Kriteria inklusi mencit obesitas 1) Mencit jantan obesitas 2) Berumur 6-8 minggu

3) Berat badan rata-rata >30 gram

4) Diperoleh dari tempat pembiakan yang sama 5) Diperoleh pada tempat dan waktu yang sama

c. Kriteria eksklusi

1) Terjadi penurunan berat badan selama proses pemeliharaan lebih dari 10%

2) Tampak sakit selama proses pemeliharaan (gerak terbatas, bulu terlihat kusam, terdapat luka gigitan, kotoran cair)


(48)

31

3) Mencit mati

3.4 Alat dan Bahan 3.4.1 Alat

a. Kandang mencit

b. Tempat makan dan minum mencit c. Timbangan mencit, timbangan analitik d. Logbook dan alat tulis

e. Automatic Biochemistry Analyser(Kenza 240 TX) f. Alat treadmill (listrik)

g. Micropipet h. Spuit 1 cc i. Flacon j. Tip

k. Vacutainer

3.4.2 Bahan

a. Mencit jantan usia 6-8 minggu b. Pakan Tinggi Lemak Protein (TLP) c. Pakan standar

d. Larutan anestesi ketaminexylazine

e. Reagen HDL-Cholesterol REF 90206direct method f. Reagen LDL-Cholesterol REF 90416direct method g. Reagen Cholesterol REF 80106 CHOD-PAPmethod


(49)

32

h. Reagen Trigliserida REF 80019 GPOmethod

3.5 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel 3.5.1 Identifikasi Variabel

a. Variabel bebas (independent variable) dalam penelitin ini adalah pemberian perlakuan treadmill dan diet tinggi lemak dan protein kepada mencit jantan (Mus musculus l.). b. Variabel terikat (dependent variable) P1da penelitian ini adalah profil lipid darah (fraksi lemak total, Trigliserida, HDL, LDL) mencit jantan (Mus musculus l.).

3.5.2 Definisi Operasional Variabel

Pada tabel 1 dilampirkan definisi konsep dan operasional untuk memudahkan penjelasan dan memperlihatkan variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian ini:

No. Variabel Definisi Hasil Ukur Jenis Variabel

1. Treadmill Treadmill adalah

alat olahraga

listrik yang

digunakan untuk berlari memiliki Panjang 40 cm.

Treadmill yang

digunakan dalam

0= tidak

dilakukan treadmill 1 = 1 x 10 menit 2= 2 x 10 menit


(50)

33

penelitian ini

adalah treadmill

yang berukuran

kecil dan

disambungkan ke

listrik, untuk

memberi

perlakuan kepada hewan coba agar

bisa berlari di

atasnya tanpa

berhenti dengan

kecepatan 20

meter per menit dan waktu yang

telah peneliti

tetapkan. Kelompok

perlakuan P1

dilakukan

treadmill selama 10 menit sehari sekali selama 28

hari, dan P2

dilakukan

treadmill selama Lanjutan tabel 4


(51)

34

10 menit 2 kali sehari selama 28 hari.

2. Profil Lipid Metode yang

dilakuan untuk

evaluasi lipid

berupa kadar

fraksi lemak total, HDL, LDL dan trigliserida.

Kadar dalam plasma (mg/dL)

Numerik

4. Mencit Obesitas Mencit Mus

musculus jantan

galur DDY

dengan berat

badan lebih dari 30 gram

gram

Tabel 4. Definisi Operasional Variabel

3.6 Prosedur Penelitian 3.6.1 Alur Penelitian

Penelitian ini adalah uji eksperimental laboratorium dalam bidang ilmu Biologi-Biokimia Molekuler dan Patologi Klinik. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan treadmill terhadap profil lipid mencit obesitas. Mencit dibagi atas 4 kelompok besar yang terdiri dari 7 mencit jantan tiap kelompoknya, dengan total mencit jantan yang digunakan adalah sebanyak 28 ekor. Kelompok Lanjutan tabel 4


(52)

35

perlakuan dalam penelitian ini adalah kelompok kontrol normal (K) yaitu mencit dengan berat badan normal, kontrol positif (KP) yaitu mencit obesitas, dan kelompok perlakuan 1 (P1) yaitu mencit obesitas yang diberi perlakuan treadmill selama 10 menit sehari sekali selama 28 hari, perlakuan 2 (P2) yaitu mencit obesitas yang diberi perlakuan treadmill selama 10 menit sehari 2 kali selama 28 hari.

Sebelum dilakukan penelitian, mencit malalui masa adaptasi di laboratorium selama 7 hari. Suhu kandang dijaga sekitar 25˚C dan ada pertukaran gelap dan terang setiap 12 jam.

• Kelompok K diberi pakan standar dan minumad libitumselama 28 hari.

• Kelompok KP diberi pakan dengan kombinasi makanan tinggi lemak dan protein serta minumad libitumselama 28 hari.

• Kelompok P1 diberi pakan dengan kombinasi makanan tinggi lemak dan protein serta minum ad libitum dan diberi perlakuan treadmill selama 10 menit sehari sekali selama 28 hari.

• Kelompok P2 diberi pakan dengan kombinasi makanan tinggi lemak dan protein serta minum ad libitum dan diberi perlakuan treadmill selama 10 menit sehari dua kali selama 28 hari.


(53)

36

Pada hari ke-29 mencit dipuasakan dahulu selama 10 jam, kemudian dilakukan terminasi pada mencit lalu dilakukan cardiac punctureuntuk pemeriksaan profil lipid.

3.6.2 Prosedur Pemberian Perilaku Treadmill

Pada penelitian ini digunakan alat treadmill khusus yang disambungkan dengan listrik dan memiliki panjang lintasan 40cm. Setelah alat treadmill dihidupkan, mencit diletakkan di atasnya dan dibiarkan berlari selama 10 menit untuk satu kali pemberian perlakuan pada kelompok P1 dan selama 10 menit sehari 2 kali untuk kelompok P2.

3.6.3 Prosedur Pengambilan darah mencit

Prosedur pengambilan darah mencit diawali dengan prosedur terminasi. Mencit diberikan obat anestesi Ketaminexylazine 75-100 mg/kg + 5-10 mg/kg secara IP. Kemudian tikus di euthanasia menggunakan metode cervical dislocation (Leary et al. 2013). Setelah tikus dipastikan mati, dilakukan bedah kemudian dilakukan cardiac puncturedan diambil organ jantung.

Darah mencit diambil menggunakan spuit sebanyak 1cc menggunakan metode cardiac puncture. Darah dimasukkan ke dalam vacutainer. Komponen darah yang digunakan untuk pemeriksaan profil lipid adalah komponen serum.


(54)

37

3.6.3 Prosedur Penentuan Profil Lipid

Darah mencit terlebih dahulu dibuat dalam bentuk serum dengan melakukan sentrifugasi Pada kecepatan 12.000 rpm selama 2 menit. Setelah sentrifugasi selesai, serum akan terbentuk berupa warna bening pada bagian atas. Serum akan digunakan dalam analisis profil lipid yang meliputi kolesterol total, trigliserida, HDL, dan LDL. Pada pemeriksaan ini akuades digunakan sebagai larutan blanko.

Analisis kolesterol dilakukan melalui metode CHOD-PAP dengan pengambilan 10μL serum darah ditambahkan 1 ml reagen. Larutan blanko menggunakan akuades sebanyak 10 μL lalu ditambahkan 1 ml reagen. Larutan standar dipersiapkan sebanyak 10 μL dan ditambhkan 1 ml reagen. Selanjutnya serum, larutan blanko dan larutan standar yang telah diberi reagen dimasukkan ke dalam alat untuk dilakukan pemeriksaan fotometri pada absorbansi 500nm.

Analisis trigliserida dilakukan melalui metode GPO dengan pengambilan 10μL serum darah ditambahkan 1 ml reagen. Larutan blanko menggunakan akuades sebanyak 10 μL lalu ditambahkan 1 ml reagen. Larutan standar dipersiapkan sebanyak 10 μL dan ditambhkan 1 ml reagen. Selanjutnya serum, larutan blanko dan


(55)

38

larutan standar yang telah diberi reagen dimasukkan ke dalam alat untuk dilakukan pemeriksaan fotometri pada absorbansi 500nm

Analisis HDL dilakukan melalui metode direct melalui dua tahap pemeriksaan fotometri. Pertama, serum sebanyak 3 μ L ditambahkan 300 μ L reagen R1 (accelerator). Larutan calibrator disiapkan menggunakan reagen kalibrator CK-MB sebanyak 3μL dan dicampur dengan 300 μ L reagen R1. Larutan blanko dipersiapkan dengan mengambil 300 μ reagen R1. Masing-masing larutan yang telah dicampur dengan reagen dimasukkan ke dalam alat pada pemeriksaan absorbansi 600nm. Setelah itu, masing-masing larutan blanko, kalibartor dan serum ditambahkan 100 μ L reagen R2 (selective detergent) dan kembali diperiksa pada absorbansi 600 nm.

Analisis LDL dilakukan melalui metode direct melalui dua tahap pemeriksaan fotometri. Pertama, serum sebanyak 3 μ L ditambahkan 300 μ L reagen R1 (reagent enzymes). Larutan calibrator disiapkan menggunakan reagen kalibrator CK-MB sebanyak 3μ L dan dicampur dengan 300 μ L reagen R1. Larutan blanko dipersiapkan dengan mengambil 300 μ reagen R1. Masing -masing larutan yang telah dicampur dengan reagen dimasukkan ke dalam alat pada pemeriksaan absorbansi 546 nm. Setelah itu, masing-masing larutan blanko, kalibartor dan serum ditambahkan


(56)

39

100 μ Lreagen R2 (selective detergent) dan kembali diperiksa pada absorbansi 546 nm.


(57)

40

ALUR PENELITIAN

Bagan 3. Alur Penelitian

Mencit diadaptasikan di laboratorium selama 7 hari

P2 P1

KP K

Mencit di beri pakan standar

dan minumad

libitumselama 28 hari

Mencit di beri pakan TLP dan

minumad

libitumselama 28 hari.

Mencit di beri pakan TLP dan

minumad

libitum+ treadmill 10

menit/hari, selama 28 hari.

Mencit di beri pakan TLP dan

minumad

libitum+ treadmill 2x10

menit/hari selama 28 hari.

Pada hari ke-29, mencit dipuasakan dahulu selama 10 jam, kemudian di anestesi

Mencit dilakukancardiac puncture

Darah mencit sebanyak 1 cc disentrifugasi dengan kecepatan 12.000 rpm selama 2 menit

Serum diambil masing-masing sebanyak 10μ l (Kolesterol) , 10 μ l (Trigliserida), 3 μ l (LDL), 3 μ l (HDL) ditambah reagen kolesterol dan trigliserida sebanyak 1 ml dan

reagen HDL dan LDL sebanyak 300 μ l (R1) dan 100 μ l (R2)

Membandingkan profil lipid mencit K,KP, P1, dan P2

Analisis data

Interpretasi hasil pengamatan

Larutan Blanko, standar dan kalibrator dipersiapkan

Pengukuran menggunakan alat menggunakanAutomatic Biochemistry Analyzer pada absorbansi 500 nm (Kolesterol dan Trigliserida), 600 nm (HDL) dan 546 nm


(58)

41

Keterangan :

K = Kelompok Kontrol Normal (Tidak Obesitas, Tidak Treadmill) KP = Kelompok Kontrol Obesitas (Obesitas, Tidak Treadmill) P1 = Obesitas, Kelompok Perlakuan Treadmill 10 menit/hari P2 = Obesitas, Kelompok Perlakuan Treadmill 2 x 10 menit/hari Pakan TLP = Pakan Tinggi Lemak dan Protein

3.7 Rancangan Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini diproses pada program statistik dengan menggunakan tingkat signifikasi p<0,05. Prosedur pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai berikut :

3.7.1 Uji Normalitas Data (p>0,05)

Pengujian normalitas data menggunakan Shapiro Wilk test untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak normal karena jumlah populasi yang digunakan <50. Selanjutnya digunakan analisis parametrik bila data berdistribusi normal. Jika data berdistribusi tidak normal, tetapi homogen, atau berdistribusi normal tetapi tidak homogen, maka dilakukan transformasi data. Jika hasil transformasi data didapatkan data normal dan homogen, maka dilakukan analisis parametrik. Apabila hasil transformasi data masih berdistribusi tidak normal, homogen, atau berdistribusi normal, tidak homogen, maka dilakukan analisis non parametrikKruskal Wallis.


(59)

42

3.7.2 Uji Homogenitas Data (p>0,05)

Uji Leven’s digunaan untuk mengetahui data homogen atau tidak homogen. Hasil uji homogenitas ini untuk menentukan analisis berikutnya, yaitu analisis Parametrik bila data berdistribusi normal atau non parametrik apabila data tidak berdistribusi normal.

3.7.3 Uji Parametri (Dependent t-test)

Uji parametri dependent T-Test dilakukan untuk menguji pengaruh perlakuan pada kelompok kontrol (K), kelompok kontrol obesitas (KP), dan kelompok perlakuan (P1 dan P2) terhadap profil lipid dan gambaran histopatologi arteri koronaria mencit obesitas yang diberi perlakuan treadmill

3.7.3 Uji Parametrik (One way- Anova)

Uji parametrik (One way-Anova) dilakukan untuk menguji perbedaan pengaruh kelompok kontrol 1 (K), kelompok kontrol 2 (KP), dan kelompok perlakuan (P1 dan P2) terhadap profil lipid dan gambaran histopatologi mencit obesitas yang diberi perlakuan treadmill. Uji non ParametrikKruskal-Wallisdigunakan apabila data tidak memenuhi syarat uji parametrik. Hipotesis dianggap bermakna bila p<0,05. Jika pada uji One way-Anova atau Kruskal-Wallis menghasilkan nilai p<0,05, maka dilanjutkan dengan melakukan analisis Post-Hoc LSD untuk melihat perbedaan pengaruh antar kelompok.


(60)

43

3.8 Dummy Table

3.8.1 Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar kolesterol total

Kelompok Perlakuan Rerata Kadar Kolesterol total (mg/dL)

(P)

K KP

P1 P2

3.8.2 Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar trigliserida Kelompok Perlakuan Rerata kadar trigliserida

(mg/dL)

(P)

K KP

P1 P2

3.8.3 Pengaruh perlakuan treadmill terhadap kadar HDL

Kelompok Perlakuan Rerata Kadar HDL(mg/dL) (P) K

KP P1 P2


(61)

44

3.8.4 Pengaruh perlakuan treadmiil terhadap kadar LDL

Kelompok Perlakuan Rerata Kadar LDL(mg/dL) (P) K

KP P1 P2

3.9Ethical Clearance

Surat persetujuan etik penelitian akan disampaikan kepada komisi etik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung agar mendapat persetujuan dan lulus syarat etik penelitian.


(62)

61

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar kolesterol lebih tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.2 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar trigliserida

lebih tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.3 Perlakuan treadmill 1x10 menit per hari menaikkan kadar HDL lebih

tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.4 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar LDL lebih

tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.5 Perlakuan treadmill berpengaruh terhadap profil lipid mencit (Mus

musculus) Obesitas dengan nilai p=0,000

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui rentang durasi treadmill yang masih berpengaruh terhadap penurunan profil lipid mencit obesitas.


(63)

62

DAFTARPUSTAKA

American Physiological Society. 2006. Resource Book for the Design of Animal Exercise Protocols. hlm.43-47

Barret K, Barman SM, Brooks HL, Boitano S. 2010. Ganong’s review of medical physiology. Edisi ke-23. United States: McGrawHill

Bautista M, Esquel SJ, Esquivel CS, Durant MI, Valadez VC. 2011.Inflammation, oxidative stress, and obesity. International Journal of Molecular Sciences. 12(10):117–132.

Baynard T, Vieira VJ, Valentine RJ, Woods JA. 2012. Exercise training effects on inflammatory gene expression in white adipose tissue of young mice.

Hindawi Publishing Corporation. 2012:1–7.

Bernlohr DA, Jenkins AE & Bennaars AA. 2002. Adipose tissue and lipid metabolism. In: Vance DE and Vance JE, editors. Biochemistry of Lipids, Lipoproteins and Membranes. 4th Edition. USA. Elsevier Science. hlm. 263– 289.

Coker SOW. 2002. Red blood cell hemolysis during processing. Transfussion Medicine Reviews. 16(1):46-60

Eisinger K, Liebisch G, Schmitz G, Aslanidis C, Krautbauer S, & Buechler C. 2014. Lipidomic analysis of serum from high fat diet induced obese mice. International journal of molecular sciences. 15:91–102

Flier JS & Maratos E. 2010. Biology of Obesity. Dalam: Jameson JL, penyunting. Harrison’s endocrinology. Second Edition. USA:Mc Graw Hill. hlm.242 Fox JG, Barthold S, Davisson M, Newcomer CE, Quimby FW, Smith A. 2006.

The mouse in biomedical research: normative biology, husbandry, and models. Second edition. Philadelphia:Academic Press. hlm.455

Good, Deborah J. 2005. Using obese mouse models in research: special considerations for IACUC members, animal care technicians, and researchers. Univesity Masatchussets. 34(2):30–37.


(64)

63

Guerra RLF, Prado WL, Cheik NC, Viana FP, Botero JP, Vendramini RC et al., 2007. Effects of 2 or 5 consecutive exercise days on adipocyte area and lipid parameters in Wistar rats. Lipids in health and disease, 6:1-8

Guyton AC & Hall JE. 1996. Metabolisme Lemak. Dalam: Setiawan I, penyunting. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC. hlm.1088

Haastrup AT, Stepniakowski KT, Goodfriend T L, Egan BM. 1998. Intralipid enhances alpha1-adrenergic receptor mediated pressor sensitivity. Journal of Hypertension. 32:693–698.

Hashimoto T, Sato K, & Iemitsu M. 2013. Exercise-inducible factors to activate lipolysis in adipocytes. J Appl Physiol.115:260–267.

ITIS Report. 2015. Mus musculus taxonomy. Integrated Taxonomic Information System on-line database. Available online at: http://www.itis.gov. Diakses pada tanggal 17 September 2015

Jo J, Gavrilova O, Pack S. Jou W. Mullen S. Sumner AE et al., 2009. Hypertrophy and/or hyperplasia: Dynamics of adipose tissue growth. PLoS Computational Biology. 5(3):1-11

John MFA. 2009. Dislipidemia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta:FKUI. hlm.1948–1954.

Joyner MJ, & Green DJ. 2009. Exercise protects the cardiovascular system : effects beyond traditional risk factors. Journal of Physiology. 587(23):51–58. Kawanishi N, Yano H, Yokogawa Y, Suzuki K. 2010. Exercise training inhibits inflammation in adipose tissue via both suppression of macrophage infiltration and acceleration of phenotypic switching from M1 to M2 macrophages in high-fat-diet- induced obese mice. Dalam: Hirumi Yano, penyunting. Exercise and machropage phenotype in obese mice. Okayama:Univesity of medical Walfare.hlm.105-118

Kementrian Kesehatan RI, 2013. Riset kesehatan dasar. Jakarta

Kemi OJ, Loennechen JP, Wisloff U. Ellingsen O. 2002. Intensity-controlled treadmill running in mice: cardiac and skeletal muscle hypertrophy. Journal of applied physiology. 93:301–309.

Khan WA, Blobe G, Halpern A, Taylor W, Wetsel WC, Burns D et al., 1993. Selective regulation of protein kinase C isoenzymes by oleic acid in human platelets. Journal of Biological Chemistry, 268(7):63–68.

Klein S, Burke LE, Bray GA, Blair S, Allison DB, Pi SX et al., 2004. Clinical implications of obesity with specific focus on cardiovascular disease: A


(65)

64

statement for professionals from the American Heart Association Council on Nutrition, Physical Activity, and Metabolism. Circulation. 110:52–67.

Klop B, Elte JWF, & Cabezas MC. 2013. Dyslipidemia in Obesity: Mechanisms and Potential Targets. Nutrients. 5:218–240.

Kotsos V, Stabouli S, Papakatsika S, Rizos Z & Parati G. 2010. Mechanisms of obesity-induced hypertension Mechanisms of obesity-induced hypertension. Hypertension Research. 33:386–393.

Kumar V, Cotran RS, & Robbins SL, Salzer MJC, Crawford JM. 2007. Pankreas. Dalam: Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N, penyunting. Buku ajar Patologi Volume 2.Edisike-7. Jakarta: EGC. hlm. 723-724.

Lau DCW, Dhillon B, Yan H, Szmitko PE, & Verma S. 2005. Adipokines: molecular links between obesity and atheroslcerosis. American journal of physiology Heart and circulatory physiology. 288:031–041.

Leary S, Underwood W, Lilly E, Anthony R, Cartner S, Corey D. et al., 2013. AVMA Guidelines for the euthanasia of animals :Scamburg. hlm. 38

Mann S, Beedie C, & Jimenez, A. 2014. Differential effects of aerobic exercise, resistance training and combined exercise modalities on cholesterol and the

lipid profile : review, synthesis and recommendations. Sports Medicine.

44:211–221.

Marchon C, Marco OE, Silva V, Katia A, Lacchini S, Souza RR. et al., 2015. Effects of moderate exercise on the biochemical, physiological, morphological and functional parameters of the aorta in the presence of estrogen deprivation and dyslipidemia: an experimental model. Cellular Physiology and Biochemistry, 35:397–405.

McArdle MA, Finucane OM, Connaughton RM, McMorrow AM, Roche HM. et al., 2013. Mechanisms of obesity-induced inflammation and insulin resistance: Insights into the emerging role of nutritional strategies. Frontiers in Endocrinology.4(May):1–23.

Moore KJ & Tabas I. 2011. Review macrophages in the pathogenesis of atherosclerosis. Cell, 145(3):341–355.

Murray RK, Granner DK, Rodwell VW, Botham KM, Mayes PA, Bender DA, et al., 2009. Pengangkutan dan penyimpanan lipid. Dalam: Wulandari N, Randy L, Dwijayanthi L, Liena, Dany F, rachman LY, penyunting. Biokimia Harper. Jakarta: EGC. hlm.225-238

Nikolac, N. 2014. Lipemia: causes, interference mechanisms, detection and management. Biochemia Medica. 24(1): 57-67


(66)

65

Nybo L, Sundstrup E, Jakobsen, MD, Mohr M, Hornstrup T, Simonsen L et al., 2010. High-intensity training versus traditional exercise interventions for promoting health. Medicine & Science in Sports & Exercise.42(1): 51–58. Pal, Shyamali. 2005. Study of lipid profile from RIQAS quality control sample.

Indian Journal of Clinical Biochemistry. 20(2):18-23

Pinto PR, Rocco DD, Ferraretto M, Okuda LS, Machado LA, Castilho G. et al., 2015. Aerobic exercise training enhances the in vivo cholesterol trafficking from macrophages to the liver independently of changes in the expression of genes involved in lipid flux in macrophages and aorta. Lipids in Health and Disease.14:109.

Poirier P, Giles TD, Bray GA, Hong Y, Stern JS, Pi SFX. et al., 2006. Obesity and cardiovascular disease: Pathophysiology, evaluation, and effect of weight loss. Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology. 26:968– 976.

Qatanani M, & Lazar MA. 2007. Mechanisms of obesity-associated insulin resistance: Many choices on the menu. Genes and Development, 21(215):1443–1455.

Reed S. 2009. Essential physiological biochemistry. USA:Willey Black Well. hlm.301

Richters L , Lange N, Renner R, Treiber N, Ghanem A, Tiemann K. et al., 2011. Exercise-induced adaptations of cardiac redox homeostasis and remodeling in heterozygous SOD2-knockout mice. Journal Appl Physiol, 111:1431–1440. Richter EA & Ruderman NB. 2010. AMPK and the biochemistry of exercise:

Implication for human health and disease. Biochemical Journal, 418(2):261– 275.

Roger VL, Go AS, Lioyd-Jones DM, Benjamin EJ, Berry JD, Borden WB et al., 2012. Heart disease and stroke statistics--2012 update: A report from the american heart association. Circulation.125:2–220.

Shaodong C, Haihong Z, Manting L, Guohui L, Zhengxiao ZYM, Zhang et al., 2013. Research of influence and mechanism of combining exercise with diet control on a model of lipid metabolism rat induced by high fat diet. Lipids in health and disease. 12(21):1-4

Shimada K, Kishimoto C, Okabe TA, Hattori M, Murayama T, Yokode M. et al., 2007. Exercise training reduces severity of atherosclerosis in apolipoprotein E knockout mice via nitric oxide. Circ J. 71(July):1147–1151.


(67)

66

Sidartawan S. 2009. Obesitas. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta: FKUI. hlm.1941–1946.

Sugondo S. & Reno G. 2009. Sindrom Metabolik. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta:FKUI. hlm.1871–1872.

Susyanty AL. 2010. Hubungan obesitas dan penyakit kronis terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan ( analisis data riskesdas dan susenas 2007) [Tesis] Universitas indonesia: Depok

Suwandi D, Sugiarto C. Fenny. 2015. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Kadar Kolesterol Total Metode Electrode-Based Biosensor Dengan Metode Spektrofotometri [Thesis] Universitas Kristen Maranatha: Bandung

Swanson TA, Kim SI, Glucksman MJ. 2012. Metabolisme Kolesterol dan Lipoprotein Darah. Dalam: Harliansyah, penyunting. Essential Biokimia disertai Biologi Molekular dan Genetik. Edisi ke-5.Tangerang: Binarupa Aksara. hlm.226-236.

Thompson MA, Henderson KK, Woodman CR, Turk JR, Rush JWE, Price E. et al., 2004. Exercise preserves endothelium-dependent relaxation in coronary arteries of hypercholesterolemic male pigs. Journal of applied physiology.96:1114–1126.

WHO. 2014. Obesity and overweight.

WHO. 2000. The asia-pasific perspective redefining obesity and its treatment. Yi C, Al-massadi O, Donelan E, Lehti M, Weber J, Ress C. et al., 2012.

Physiology & Behavior Exercise protects against high-fat diet-induced hypothalamic inflammation. Physiology & Behavior. 106(4):485–490

Zhao J, Tian Y, Xu J, Liu D, Wang X. 2011. Endurance exercise is a leptin signaling mimetic in hypothalamus of Wistar rats. Lipids in Health and Disease. 10(225):1-7

Zhengt B, & Kuo JF. 1990. Inhibition of Na K-ATPase and sodium pump by protein kinase C regulators sphingosine lysophosphatidylcholine and oleic acid. Journal of Biological Chemistry. 265(1):70–75.


(1)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar kolesterol lebih tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.2 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar trigliserida

lebih tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.3 Perlakuan treadmill 1x10 menit per hari menaikkan kadar HDL lebih

tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.4 Perlakuan treadmill 2x10 menit per hari menurunkan kadar LDL lebih

tinggi pada mencit (Mus musculus) obesitas dengan nilai p=0,000 5.1.5 Perlakuan treadmill berpengaruh terhadap profil lipid mencit (Mus

musculus) Obesitas dengan nilai p=0,000

5.2 Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui rentang durasi treadmill yang masih berpengaruh terhadap penurunan profil lipid mencit obesitas.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

American Physiological Society. 2006. Resource Book for the Design of Animal Exercise Protocols. hlm.43-47

Barret K, Barman SM, Brooks HL, Boitano S. 2010. Ganong’s review of medical physiology. Edisi ke-23. United States: McGrawHill

Bautista M, Esquel SJ, Esquivel CS, Durant MI, Valadez VC. 2011.Inflammation, oxidative stress, and obesity. International Journal of Molecular Sciences. 12(10):117–132.

Baynard T, Vieira VJ, Valentine RJ, Woods JA. 2012. Exercise training effects on inflammatory gene expression in white adipose tissue of young mice.

Hindawi Publishing Corporation. 2012:1–7.

Bernlohr DA, Jenkins AE & Bennaars AA. 2002. Adipose tissue and lipid metabolism. In: Vance DE and Vance JE, editors. Biochemistry of Lipids, Lipoproteins and Membranes. 4th Edition. USA. Elsevier Science. hlm. 263– 289.

Coker SOW. 2002. Red blood cell hemolysis during processing. Transfussion Medicine Reviews. 16(1):46-60

Eisinger K, Liebisch G, Schmitz G, Aslanidis C, Krautbauer S, & Buechler C. 2014. Lipidomic analysis of serum from high fat diet induced obese mice. International journal of molecular sciences. 15:91–102

Flier JS & Maratos E. 2010. Biology of Obesity. Dalam: Jameson JL, penyunting. Harrison’s endocrinology. Second Edition. USA:Mc Graw Hill. hlm.242 Fox JG, Barthold S, Davisson M, Newcomer CE, Quimby FW, Smith A. 2006.

The mouse in biomedical research: normative biology, husbandry, and models. Second edition. Philadelphia:Academic Press. hlm.455

Good, Deborah J. 2005. Using obese mouse models in research: special considerations for IACUC members, animal care technicians, and researchers. Univesity Masatchussets. 34(2):30–37.


(3)

Guerra RLF, Prado WL, Cheik NC, Viana FP, Botero JP, Vendramini RC et al., 2007. Effects of 2 or 5 consecutive exercise days on adipocyte area and lipid parameters in Wistar rats. Lipids in health and disease, 6:1-8

Guyton AC & Hall JE. 1996. Metabolisme Lemak. Dalam: Setiawan I, penyunting. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC. hlm.1088

Haastrup AT, Stepniakowski KT, Goodfriend T L, Egan BM. 1998. Intralipid enhances alpha1-adrenergic receptor mediated pressor sensitivity. Journal of Hypertension. 32:693–698.

Hashimoto T, Sato K, & Iemitsu M. 2013. Exercise-inducible factors to activate lipolysis in adipocytes. J Appl Physiol.115:260–267.

ITIS Report. 2015. Mus musculus taxonomy. Integrated Taxonomic Information System on-line database. Available online at: http://www.itis.gov. Diakses pada tanggal 17 September 2015

Jo J, Gavrilova O, Pack S. Jou W. Mullen S. Sumner AE et al., 2009. Hypertrophy and/or hyperplasia: Dynamics of adipose tissue growth. PLoS Computational Biology. 5(3):1-11

John MFA. 2009. Dislipidemia. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta:FKUI. hlm.1948–1954.

Joyner MJ, & Green DJ. 2009. Exercise protects the cardiovascular system : effects beyond traditional risk factors. Journal of Physiology. 587(23):51–58. Kawanishi N, Yano H, Yokogawa Y, Suzuki K. 2010. Exercise training inhibits inflammation in adipose tissue via both suppression of macrophage infiltration and acceleration of phenotypic switching from M1 to M2 macrophages in high-fat-diet- induced obese mice. Dalam: Hirumi Yano, penyunting. Exercise and machropage phenotype in obese mice. Okayama:Univesity of medical Walfare.hlm.105-118

Kementrian Kesehatan RI, 2013. Riset kesehatan dasar. Jakarta

Kemi OJ, Loennechen JP, Wisloff U. Ellingsen O. 2002. Intensity-controlled treadmill running in mice: cardiac and skeletal muscle hypertrophy. Journal of applied physiology. 93:301–309.

Khan WA, Blobe G, Halpern A, Taylor W, Wetsel WC, Burns D et al., 1993. Selective regulation of protein kinase C isoenzymes by oleic acid in human platelets. Journal of Biological Chemistry, 268(7):63–68.

Klein S, Burke LE, Bray GA, Blair S, Allison DB, Pi SX et al., 2004. Clinical implications of obesity with specific focus on cardiovascular disease: A


(4)

statement for professionals from the American Heart Association Council on Nutrition, Physical Activity, and Metabolism. Circulation. 110:52–67.

Klop B, Elte JWF, & Cabezas MC. 2013. Dyslipidemia in Obesity: Mechanisms and Potential Targets. Nutrients. 5:218–240.

Kotsos V, Stabouli S, Papakatsika S, Rizos Z & Parati G. 2010. Mechanisms of obesity-induced hypertension Mechanisms of obesity-induced hypertension. Hypertension Research. 33:386–393.

Kumar V, Cotran RS, & Robbins SL, Salzer MJC, Crawford JM. 2007. Pankreas. Dalam: Hartanto H, Darmaniah N, Wulandari N, penyunting. Buku ajar Patologi Volume 2. Edisike-7. Jakarta: EGC. hlm. 723-724.

Lau DCW, Dhillon B, Yan H, Szmitko PE, & Verma S. 2005. Adipokines: molecular links between obesity and atheroslcerosis. American journal of physiology Heart and circulatory physiology. 288:031–041.

Leary S, Underwood W, Lilly E, Anthony R, Cartner S, Corey D. et al., 2013. AVMA Guidelines for the euthanasia of animals :Scamburg. hlm. 38

Mann S, Beedie C, & Jimenez, A. 2014. Differential effects of aerobic exercise, resistance training and combined exercise modalities on cholesterol and the lipid profile : review, synthesis and recommendations. Sports Medicine. 44:211–221.

Marchon C, Marco OE, Silva V, Katia A, Lacchini S, Souza RR. et al., 2015. Effects of moderate exercise on the biochemical, physiological, morphological and functional parameters of the aorta in the presence of estrogen deprivation and dyslipidemia: an experimental model. Cellular Physiology and Biochemistry, 35:397–405.

McArdle MA, Finucane OM, Connaughton RM, McMorrow AM, Roche HM. et al., 2013. Mechanisms of obesity-induced inflammation and insulin resistance: Insights into the emerging role of nutritional strategies. Frontiers in Endocrinology.4(May):1–23.

Moore KJ & Tabas I. 2011. Review macrophages in the pathogenesis of atherosclerosis. Cell, 145(3):341–355.

Murray RK, Granner DK, Rodwell VW, Botham KM, Mayes PA, Bender DA, et al., 2009. Pengangkutan dan penyimpanan lipid. Dalam: Wulandari N, Randy L, Dwijayanthi L, Liena, Dany F, rachman LY, penyunting. Biokimia Harper. Jakarta: EGC. hlm.225-238

Nikolac, N. 2014. Lipemia: causes, interference mechanisms, detection and management. Biochemia Medica. 24(1): 57-67


(5)

Nybo L, Sundstrup E, Jakobsen, MD, Mohr M, Hornstrup T, Simonsen L et al., 2010. High-intensity training versus traditional exercise interventions for promoting health. Medicine & Science in Sports & Exercise.42(1): 51–58. Pal, Shyamali. 2005. Study of lipid profile from RIQAS quality control sample.

Indian Journal of Clinical Biochemistry. 20(2):18-23

Pinto PR, Rocco DD, Ferraretto M, Okuda LS, Machado LA, Castilho G. et al., 2015. Aerobic exercise training enhances the in vivo cholesterol trafficking from macrophages to the liver independently of changes in the expression of genes involved in lipid flux in macrophages and aorta. Lipids in Health and Disease.14:109.

Poirier P, Giles TD, Bray GA, Hong Y, Stern JS, Pi SFX. et al., 2006. Obesity and cardiovascular disease: Pathophysiology, evaluation, and effect of weight loss. Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology. 26:968– 976.

Qatanani M, & Lazar MA. 2007. Mechanisms of obesity-associated insulin resistance: Many choices on the menu. Genes and Development, 21(215):1443–1455.

Reed S. 2009. Essential physiological biochemistry. USA:Willey Black Well. hlm.301

Richters L , Lange N, Renner R, Treiber N, Ghanem A, Tiemann K. et al., 2011. Exercise-induced adaptations of cardiac redox homeostasis and remodeling in heterozygous SOD2-knockout mice. Journal Appl Physiol, 111:1431–1440. Richter EA & Ruderman NB. 2010. AMPK and the biochemistry of exercise:

Implication for human health and disease. Biochemical Journal, 418(2):261– 275.

Roger VL, Go AS, Lioyd-Jones DM, Benjamin EJ, Berry JD, Borden WB et al., 2012. Heart disease and stroke statistics--2012 update: A report from the american heart association. Circulation.125:2–220.

Shaodong C, Haihong Z, Manting L, Guohui L, Zhengxiao ZYM, Zhang et al., 2013. Research of influence and mechanism of combining exercise with diet control on a model of lipid metabolism rat induced by high fat diet. Lipids in health and disease. 12(21):1-4

Shimada K, Kishimoto C, Okabe TA, Hattori M, Murayama T, Yokode M. et al., 2007. Exercise training reduces severity of atherosclerosis in apolipoprotein E knockout mice via nitric oxide. Circ J. 71(July):1147–1151.


(6)

Sidartawan S. 2009. Obesitas. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta: FKUI. hlm.1941–1946.

Sugondo S. & Reno G. 2009. Sindrom Metabolik. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, penyunting. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi ke-4. Jakarta:FKUI. hlm.1871–1872.

Susyanty AL. 2010. Hubungan obesitas dan penyakit kronis terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan ( analisis data riskesdas dan susenas 2007) [Tesis] Universitas indonesia: Depok

Suwandi D, Sugiarto C. Fenny. 2015. Perbandingan Hasil Pemeriksaan Kadar Kolesterol Total Metode Electrode-Based Biosensor Dengan Metode Spektrofotometri [Thesis] Universitas Kristen Maranatha: Bandung

Swanson TA, Kim SI, Glucksman MJ. 2012. Metabolisme Kolesterol dan Lipoprotein Darah. Dalam: Harliansyah, penyunting. Essential Biokimia disertai Biologi Molekular dan Genetik. Edisi ke-5.Tangerang: Binarupa Aksara. hlm.226-236.

Thompson MA, Henderson KK, Woodman CR, Turk JR, Rush JWE, Price E. et al., 2004. Exercise preserves endothelium-dependent relaxation in coronary arteries of hypercholesterolemic male pigs. Journal of applied physiology.96:1114–1126.

WHO. 2014. Obesity and overweight.

WHO. 2000. The asia-pasific perspective redefining obesity and its treatment. Yi C, Al-massadi O, Donelan E, Lehti M, Weber J, Ress C. et al., 2012.

Physiology & Behavior Exercise protects against high-fat diet-induced hypothalamic inflammation. Physiology & Behavior. 106(4):485–490

Zhao J, Tian Y, Xu J, Liu D, Wang X. 2011. Endurance exercise is a leptin signaling mimetic in hypothalamus of Wistar rats. Lipids in Health and Disease. 10(225):1-7

Zhengt B, & Kuo JF. 1990. Inhibition of Na K-ATPase and sodium pump by protein kinase C regulators sphingosine lysophosphatidylcholine and oleic acid. Journal of Biological Chemistry. 265(1):70–75.