Uji Ketahanan Beberapa Varietas Kedelai (Glycine max L.) Di Luar Musim Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Phakopsora pachyrhizi Syd.) Di Lapangan

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS KEDELAI
(Glycine max L.) DI LUAR MUSIM TANAM TERHADAP PENYAKIT
KARAT DAUN (Phakopsora pachyrhizi Syd. DI LAPANGAN

SKRIPSI

Oleh:

DUNIAMAN TONDANG
040302001
HPT

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

UJI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS KEDELAI
(Glycine max L.) DI LUAR MUSIM TANAM TERHADAP PENYAKIT
KARAT DAUN (Phakopsora pachyrhizi Syd DI LAPANGAN

SKRIPSI

Oleh:

DUNIAMAN TONDANG
040302001
HPT

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di
Departemen Ilmu Hama Dan Penyakit Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan

Disetujui oleh:
Komisi pembimbing

(Dr.Ir. Hasanuddin, MS)
Ketua

(Ir. Zulnayati)
Anggota

DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Duniaman Tondang, The Resistance of Some Variety of Soybean
(Glycine
max
L.)
At
out
of
Season
to
Rust
Disease
(Phakopsora pachyrhizi Syd) In the Field. Mr. Dr.Ir. Hasanuddin, MS as head
of supervisor and Mrs. Ir. Zulnayati as co-supervisor.
The purpose of this research was to find out the resistance of some variety
of soybean (Glycine max L.) at out of season to rust disease
(Phakopsora pachyrhizi Syd.) in the field.
This research was conducted at UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija
Dinas Pertanian Tanjung Selamat, the district of Medan Sunggal, Kabupaten Deli
Serdang, Medan + 25 m from sea level, Startetd from July, 05th until
Agustus, 19th 2009.
The methodology of research was using the non factorial randomized
block design consist of 6 combines of treatment V1 (Anjasmoro Variety), V2
(Ijen Kaba), V3 (Kaba Variety), V4 (Sinabung Variety), V5 (Detam-2 Variety),
V6 (Seulawah Variety) and 4 replication. The observetd parameter are the
intensity of attacks Phakopsora pachyrhizi Syd. and soybean production.
The research finding shows that the last observation of some of variety
has a significant impact to the attactc intensity caused by Phakopsora pachyrhizi
Syd. the highest intensity was found at V5 = 57,79% on the lowest V6 = 30,57%
on the observation. The highest production on V6 = 1,56 ton/ha and
the lowest V5 = 0,82 ton/ha.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Duniaman Tondang, “Uji Ketahanan Beberapa Varietas Kedelai
(Glycine max L.) Di Luar Musim Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun
(Phakopsora pachyrhizi Syd.) Di Lapangan” dengan komisi pembimbing Bapak
Dr.Ir. Hasanuddin, MS selaku ketua dan Ibu Ir. Zulnayati, selaku anggota.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Untuk mengetahui ketahanan
beberapa verietas kedelai (Glycine max L.) di luar musim tanam terhadap
penyakit karat daun (Phakopsora pachyrhizi Syd.) di lapangan.
Penelitian ini dilaksanakan di UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija
Dinas Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Sunggal, Kabupaten Deli
Serdang Medan, Dengan ketinggian tempat + 25 m diatas permukaan laut mulai
bulan 05 Juli hingga 19 oktober 2009.
Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Kelompok NonFaktorial yang terdiri atas 6 perlakuan yaitu V1 (Varietas Anjasmoro),
V2 ( Varietas Ijen ), V3 ( Varietas Kaba ), V4 ( Varietas Sinabung ),
V5 (Varietas Detam-2) dan V6 ( Varietas Seulawah), dan 3 ulangan. Parameter
yang diamati adalah intensitas serangan Phakopsora pachyrhizi Syd. (%) dan
produksi kedelai (ton/ha).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan terakhir perlakuan
ketahanan beberapa varietas berbeda nyata terhadap intensitas serangan
Phakopsora pachyrhizi Syd. Pengamatan terakhir intensitas serangan tertinggi
terdapat pada perlakuan V5 = 57,79% dan terendah pada perlakuan V6 = 30,57%.
Perlakuan ketahanan varietas berpengaruh nyata terhadap produksi. Produksi
tertinggi terdapat pada perlakuan V6 = 1,56 ton/ha dam terendah pada perlakuan
V5 = 0,82 ton/ha.

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

“Duniaman Tondang”, dilahirkan di Tanjung Beringin, Desa Bertungen
Julu Kecematan Tigalingga Kab. Dairi pada tanggal 07 Juni 1985 dari pasangan
ayahanda Ngennate Tondang (+), dan Ibunda Asli Situngkir. Penulis merupakan
anak ketiga dari lima bersaudara.
Tahun 1998 penulis lulus dari SD Negeri No. 034791 Tanjung Beringin,
Tahun 2001 lulus dari SMP Negeri 1 Tigalingga, Tahun 2004 lulus dari SMU
Negeri 1 Tigalingga, lulus seleksi masuk USU Tahun 2004 melalui jalur PMP.
Penulis memilih program studi Hama dan Penyakit Tumbuhan, Departemen Hama
dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian. Melaksanakan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) tahun 2008 di PT. Bakrie Sumatera Plantation, Tbk. Kisaran,
dan melaksanakan praktek skripsi bulan Juli sampai pertengahan bulan
Oktober 2009 dilahan percobaan UPT. BBI Palawija Dinas Pertanian Sumatera
Utara, Tanjung Selamat Deli Serdang.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti seminar “Pengendalian
Hayati Sebagai Komponen PHT (Pengendalian Hama Terpadu)” pada tahun
2006, “Peranan Pertanian Dalam Pembangunan Sumatera Utara” pada tahun
2008, “Dengan Pertanian Berkelanjutan Kita Wariskan Kehidupan Berwawasan
Lingkung” pada tahun 2008, “Sadar Dan Tanggap Bencana Berbasis Akademis
dan Pengalaman Praktis” pada tahun 2008. Mengikuti kegiatan organisasi
IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) FP-USU bidang HUMAS
(Hubungan

Masyarakat/Mahasiswa)

Pada

tahun

2005-2007,

PEMA

(Pemerintahan Mahasiswa) FP-USU koordinator Bidang Administrasi dan

Universitas Sumatera Utara

Kesekretariatan masa bakti 2007-2008, anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum)
FP-USU pada tahun 2007 dan 2008. Penulis merupakan salah satu penerima
Beasiswa Unggulan Aktivis Mahasiswa pada tahun 2008 dalam program
“Student Excheng Malasya-Thailand” ke Universitas Utara Malasya (UUM) dan
Prince of Songkla University (PSU), Thailand.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nya sehingga Penulis dapat meyelesaikan usulan penelitian ini
dengan baik.
Adapun judul penelitian ini adalah, Uji Ketahanan Beberapa Varietas
Kedelai (Glycine max L.) Di Luar Musim Tanam Terhadap Penyakit
Karat

Daun

(Phakopsora pachyrhizi Syd.) Di Lapangan, yang merupakan

salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada : Dr.Ir. Hasanuddin, MS
selaku Ketua Komisi Pembimbing, dan Ir. Zulnayati , selaku Anggota Komisi
Pembimbing, yang telah banyak memberikan bimbingan kepada Penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Kepala Dinas UPT. BBI Tanjung Selamat Ir. Isya Hutasuhut, Bapak Saut Pasaribu
dan Keluarga serta seluruh keluarga besar UPT.BBI Tanjung Selamat yang telah
banyak membantu penulis selama melaksanakan penelitian.
Dan ucapan terima kasih kepada ayahanda dan Ibunda atas segala doa dan
perhatiannya juga kepada abang dan kakak serta adek yang tercinta, teman-teman
HPT 04 serta seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
penelitian dan skripsi ini.
Semoga skripsi ini kelak bermanfaat.
Medan, Maret 2009

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT ------------------------------------------------------------------------- i
ABSTRAK-------------------------------------------------------------------------- ii
RIWAYAT HIDUP -------------------------------------------------------------- iii
KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------ v
DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------------- vi
DAFTAR TABEL --------------------------------------------------------------- viii
DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------ ix
DAFTAR LAMPIRAN ----------------------------------------------------------- x

PENDAHULUAN
Latar belakang ------------------------------------------------------------- 1
Tujuan penelitian ---------------------------------------------------------- 4
Hipotesa penelitian -------------------------------------------------------- 4
Kegunaan penelitian ------------------------------------------------------- 4
TINJAUAN PUSTAKA
Sistematika dan Biologi Tanaman Kedelai ----------------------------- 5
Biologi Penyakit Tumbuhan---------------------------------------------- 9
Gejala serangan ----------------------------------------------------------- 11
Daur Hidup Penyakit ----------------------------------------------------- 12
Faktor Yang Mempengaruhi -------------------------------------------- 13
Pengendalian Penyakit --------------------------------------------------- 14
Ketahanan ----------------------------------------------------------------- 15
BAHAN DAN METODE
Tempat Dan Waktu Percobaan ------------------------------------------ 17
Bahan Dan Alat ----------------------------------------------------------- 17
Metode Penelitian -------------------------------------------------------- 17
Pelaksanaan penelitian -------------------------------------------------- 18
Persiapan Areal Penelitian -------------------------------------- 18
Penanaman-------------------------------------------------------- 19
Pemeliharaan ----------------------------------------------------- 19
Pemanenan-------------------------------------------------------- 20

Universitas Sumatera Utara

Parameter Pengamatan --------------------------------------------------- 20
Intensitas Serangan ---------------------------------------------- 20
Produksi----------------------------------------------------------- 23
HASIL DAN PEMBAHASAN
Intensitas Serangan Phakopsora pachyrizi Syd. -----------------------24
Produksi --------------------------------------------------------------------27
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan -----------------------------------------------------------------30
Saran ------------------------------------------------------------------------30
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No
01.
02.
03.

Judul

Hal

Beda Uji Rataan Intensitas Serangan Phakopsora pachyrizi Syd (%)
Untuk Setiap Waktu Pengamatan ------------------------------------------ 24
Kriteria ketahanan kedelai terhadap Phakopsora pachyrizi Syd ------- 26
Rataan Produksi Biji Kering Kedelai -------------------------------------- 27

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
No
01.
02.
03.
04.

05.

Judul

Hal

Urediospora Phakopsora pachyrizi Syd ---------------------------------- 10
Gejala Serangan Phakopsora pachyrizi Syd ----------------------------- 11
Siklus Hidup Phakopsora pachyrizi Syd ---------------------------------- 13
Histogram ketahanan Varietas Terhadap Intensitas Serangan
Penyakit Karat Daun (Phakopsora pachyrizi Syd.) Pada
setiap waktu Pengamatan --------------------------------------------------- 25
Histogram Rataan Produksi Kedelai (ton/ha)----------------------------- 27

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No
01.
02.
03.
04.
05.
06.
07.
08.
09.
10.
11.
12.
13.

Judul

Hal

Bagan Penelitian ------------------------------------------------------------Deskripsi Varietas ----------------------------------------------------------Data Pengamatan 4 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 5 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 6 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 7 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 8 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 9 mst ----------------------------------------------------Data Pengamatan 10 mst ---------------------------------------------------Data Pengamatan 11 mst ---------------------------------------------------Rataan Produksi-------------------------------------------------------------Foto lahan Penelitian -------------------------------------------------------Data Curah Hujan------------------------------------------------------------

33
35
41
43
45
47
49
51
53
55
57
58
60

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Duniaman Tondang, The Resistance of Some Variety of Soybean
(Glycine
max
L.)
At
out
of
Season
to
Rust
Disease
(Phakopsora pachyrhizi Syd) In the Field. Mr. Dr.Ir. Hasanuddin, MS as head
of supervisor and Mrs. Ir. Zulnayati as co-supervisor.
The purpose of this research was to find out the resistance of some variety
of soybean (Glycine max L.) at out of season to rust disease
(Phakopsora pachyrhizi Syd.) in the field.
This research was conducted at UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija
Dinas Pertanian Tanjung Selamat, the district of Medan Sunggal, Kabupaten Deli
Serdang, Medan + 25 m from sea level, Startetd from July, 05th until
Agustus, 19th 2009.
The methodology of research was using the non factorial randomized
block design consist of 6 combines of treatment V1 (Anjasmoro Variety), V2
(Ijen Kaba), V3 (Kaba Variety), V4 (Sinabung Variety), V5 (Detam-2 Variety),
V6 (Seulawah Variety) and 4 replication. The observetd parameter are the
intensity of attacks Phakopsora pachyrhizi Syd. and soybean production.
The research finding shows that the last observation of some of variety
has a significant impact to the attactc intensity caused by Phakopsora pachyrhizi
Syd. the highest intensity was found at V5 = 57,79% on the lowest V6 = 30,57%
on the observation. The highest production on V6 = 1,56 ton/ha and
the lowest V5 = 0,82 ton/ha.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Duniaman Tondang, “Uji Ketahanan Beberapa Varietas Kedelai
(Glycine max L.) Di Luar Musim Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun
(Phakopsora pachyrhizi Syd.) Di Lapangan” dengan komisi pembimbing Bapak
Dr.Ir. Hasanuddin, MS selaku ketua dan Ibu Ir. Zulnayati, selaku anggota.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Untuk mengetahui ketahanan
beberapa verietas kedelai (Glycine max L.) di luar musim tanam terhadap
penyakit karat daun (Phakopsora pachyrhizi Syd.) di lapangan.
Penelitian ini dilaksanakan di UPT Balai Benih Induk (BBI) Palawija
Dinas Pertanian Tanjung Selamat, Kecamatan Medan Sunggal, Kabupaten Deli
Serdang Medan, Dengan ketinggian tempat + 25 m diatas permukaan laut mulai
bulan 05 Juli hingga 19 oktober 2009.
Penelitian ini menggunakan Metode Rancangan Acak Kelompok NonFaktorial yang terdiri atas 6 perlakuan yaitu V1 (Varietas Anjasmoro),
V2 ( Varietas Ijen ), V3 ( Varietas Kaba ), V4 ( Varietas Sinabung ),
V5 (Varietas Detam-2) dan V6 ( Varietas Seulawah), dan 3 ulangan. Parameter
yang diamati adalah intensitas serangan Phakopsora pachyrhizi Syd. (%) dan
produksi kedelai (ton/ha).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamatan terakhir perlakuan
ketahanan beberapa varietas berbeda nyata terhadap intensitas serangan
Phakopsora pachyrhizi Syd. Pengamatan terakhir intensitas serangan tertinggi
terdapat pada perlakuan V5 = 57,79% dan terendah pada perlakuan V6 = 30,57%.
Perlakuan ketahanan varietas berpengaruh nyata terhadap produksi. Produksi
tertinggi terdapat pada perlakuan V6 = 1,56 ton/ha dam terendah pada perlakuan
V5 = 0,82 ton/ha.

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kedelai (Glycine max L.) sampai saat ini diduga berasal dari kedelai liar
Cina, Manchuria dan Korea. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak
yang tumbuh tegak. Kedelai jenis liar Glycine ururiencis merupakan kedelai yang
menurunkan berbagai kedelai yang kita kenal sekarang. Penyebaran tanaman
kedelai ke Indonesia berasal dari daerah Manshukuo (Cina Utara) menyebar ke
daerah Mansuria, Jepang dan ke negara-negara lain di Amerika dan Afrika
(Andrianto dan Indarto, 2004).
Kedelai merupakan tanaman sumber protein yang penting di Indonesia.
Berdasarkan luas panen di Indonesia kedelai menempati urutan ke-3 sebagai
tanaman palawija setelah jagung dan ubi kayu. Rata-rata luas pertanaman per
tahun sekitar 703.878 ha dengan total produksi 518.204 ton (Suprapto, 2001).
Kedelai bernilai gizi tinggi dengan kadar protein sekitar 40%. Kandungan
asam amino penting yang terdapat dalam kedelai yaitu isoleucine, leucine, lysine,
methionine, phenylalanine, threonin, tryptophane, dan valine yang rata-rata
tinggi, kecuali methionine dan phenylalanine. Di samping itu kedelai mengandung
kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan B yang berguna bagi pertumbuhan manusia.
Biji kedelai juga dapat dipakai sebagai bahan baku industri seperti minyak goreng
dan mentega. Minyak dari kedelai dapat digunakan untuk bermacam tujuan
perindustrian. Ini mencakup pembuatan gycerine, insektisida, cat, dan lain
sebagainya (Suprapto, 2001).

Universitas Sumatera Utara

Penyebab rendahnya hasil kedelai di Indonesia antara lain adalah
gangguan hama dan penyakit tanaman. Penyakit yang sering merusak tanaman
kedelai adalah penyakit karat daun (P. pachyrhizi Syd.) penurunan hasil oleh
penyakit ini berkisar antara 30-60%. Selain menurunkan hasil penyakit karat daun
juga berpotensi untuk menurunkan kualitas biji kedelai. Tanaman kedelai yang
tertular penyakit ini memiliki biji lebih kecil (Sumarno, dkk, 1990).
Penyakit terpenting pada kedelai adalah karat daun. Di daerah endemik
karat daun, pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam varietas
toleran yaitu Wilis, Kerinci, Dempo, Merbabu dan Rinjani. Pengendalian
menggunakan fungisida dilakukan bila gejala penyakit karat daun timbul sebelum
tanaman berbunga. Penyakit karat daun yang timbul saat pengisian polong hampir
penuh (umur 60-80 hari) tidak mempengaruhi hasil biji. Bila terjadi serangan
karat pada tanaman muda. Kehilangan hasil karena serangan karat daun antara 3060% (Adie dan Krisnawati, 2008).
Banyaknya, lamanya atau berulangnya kelembaban yang tinggi, apakah
dalam bentuk hujan, embun atau kelembaban udara relatif, adalah faktor-faktor
dominandalam perkembangan kebanyakan epidemi penyakit yang disebabkan
oleh jaur seperti karat daun, bercak daun, hawar dll. Kelembaban tidak hanya
mendukung pertumbuhan tanaman yang sukulen dan rentan, tetapi lebih penting
lagi akan meningatkan sporulasi jamur, pelepasan spora. Adanya tingkat
kelembababan yang tinggi memungkinkan semua kejadian yang mendukung
terjadinya penyakit untuk berada dalam keadaan konstan dan berulang dan
memungkinkan timbulnya epidemi (Abadi, 2003).

Universitas Sumatera Utara

Epidemi sering terjadi pada suhu tinggi atau suhu rendah dibandingkan
dengan suhuyang optimum untuk pertumbuhan tanaman karena pada suhu
optimum ini tingkat ketahanan horizontal pada tanaman akan berkurang. Pada
tingkat tertentu, suhu mungkin mengurangiatau menghilangkan ketahanan vertikal
tanaman inang. Tanaman yang tumbuh pada suhu semacam ini menjadi stress dan
mudah terserang patogen (Abadi, 2003)
Pedoman waktu tanam yang baik untuk kedelai disesuaikan dengan
kemungkinan adanya resiko yang paling kecil dan biaya pemeliharaan yang dapat
ditekan. Penanaman yang dilaksanaan pada musim hujan yang berlebihan, akan
mengalami gangguan yang merugikan pertumbuhan terutama disebabkan karena
serangan penyakit dan hambatan dalam pengolahan lepas panen (Suprapto, 2001).
Ketahanan dapat mempunyai beberapa macam bentuk. Suatu tanaman
dapat tahan terhadap infeksi suatu patogen , sebaliknya tanaman yang tahan itu
dapat juga terinfeksi oleh pathogen. Tanaman yang tahan dapat membatasi
aktivitas pathogen penyebab penyakit sehingga tidak dapat membiak dengan
bebas dan tidak dapat menyebabkan kerusakan berat yang menimbulkan kerugian
yang berarti. Jika pembiakan patogen terhambat , patogen tidak dapat meluas ,
sehingga pertanaman relatif bebas dari penyakit. Dalam praktek dilapangan pada
umumnya penanaman dilapangan cukup mengurangi kerugian sampai sekecil
mungkin, dan biasanya tidak perlu tindakan pengendalian (Semangun, 1996).

Universitas Sumatera Utara

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui Ketahanan Beberapa Verietas Kedelai (Glycine max L.)
Di Luar Musim Tanam Terhadap Penyakit

Karat Daun (P. pachyrhizi Syd.)

Di lapangan.

Hipotesa Penelitian

Beberapa varietas tanaman kedelai { Varietas anjasmoro,

ijen, Kaba,

Sinabung, Detam 2 dan Seulawah} di luar Musim Tanam Mempunyai Ketahanan
Yang

Berbeda

Terhadap

Penyakit

Karat

Daun

(P. pachyrhizi Syd.)

Di lapangan.

Kegunaan Penelitian


Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Pertanian
di Departemen Hama & Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.



Sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Sistematika dan Biologi Tanaman Kedelai

Menurut

Sharma

(2002),

kacang

kedelai diklasifikasikan sebagai

berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Class

: Dicotyledoneae

Family

: Leguminoceae

Genus

: Glycine

Species

: Glycine max L. Merril.

Tanaman kedelai berbentuk perdu dengan tinggi lebih kurang 20-100 cm.
Pertumbuhan akar tunggang lurus masuk ke dalam tanah dan mempunyai banyak
akar cabang. Pada setiap akar cabang tersebut terdapat bintil-bintil akar yang
mampu

mengikat

Nitrogen

(N2)

dari

udara

dengan

bantuan

bakteri

Rhyzobium japonicum yang mempunyai kemampuan mengikat N2 dari udara yang
berguna untuk menyuburkan tanah (Snyder, 1987).
Batang kedelai berwarna ungu atau hijau dan pada umur yang masih muda
terbagi atas hipokotil dan epikotil. Berdasarkan tipe pertumbuhan batangnya,
kedelai dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe determinate, indeterminate, dan semi
determinate. (Danarti dan Najiyati, 1999).

Universitas Sumatera Utara

Daunnya merupakan daun majemuk yang terdiri dari tiga helai anak daun
dan umumnya berwarna hijau muda atau hijau kekuningan, bentuknya ada yang
oval dan ada yang segi tiga. Warna bunga putih bersih atau ungu muda. Bunga
tumbuh di ketiak daun dan pada ketiak daun terdapat 3-15 kuntum, namun hanya
sebagian membentuk kolom (Adisarwanto, 2005).
Di dalam polong terdapat biji yang berjumlah 2-3 biji yang berwarna
kuning atau hijau transparan sampai yang berwarna kecoklatan atau hitam. Setiap
biji kedelai mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari kecil (sekitar 7-9 g/100 biji),
sedang (10-13 g/100 biji), dan besar (>13 g/100 biji). Bentuk biji bervariasi,
tergantung pada varietas tanaman, yaitu bulat, agak gepeng, dan bulat telur.
(Adisarwanto, 2005).
Kedelai tumbuh baik pada tanah bertekstur gembur, lembab, tidak
tergenang air dan memiliki pH 6-6,8. pada pH 5,5 kedelai masih dapat
berproduksi, meskipun tidak sebaik pada pH 6-6,8. pada pH 15
(6 – 1) (r -1) > 15
5r – 5 > 15
5r > 20
r> 4
Jumlah ulangan (r) = 4
Model linear yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Yij

= µ + γi + αj + εij

Keterangan :
Yij

= data percobaan

µ

= efek nilai tambah

γi

= efek blok dari taraf ke-i

αj

= efek perlakuan dari taraf ke-j

εij

= efek error
Jika sidik ragam menunjukkan hasil yang nyata, maka dilanjutkan dengan

uji jarak Duncan (DMRT) (Hanafiah, 2003).

IV. Pelaksanaan Penelitian

1.

Persiapan Areal Penelitian

Areal pertanaman dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya,
kemudian tanah dicangkul dan digemburkan. Dibuat plot-plot dengan ukuran
2 x 2 m sebanyak 24 plot dengan 4 ulangan. Jarak antar plot 0,5 m dan jarak antar
ulangan 1 m. Jadi luas keseluruhan areal penelitian adalah 13 m x 15,5 m, yaitu
201,5 m2.

Universitas Sumatera Utara

2.

Penanaman

Penanaman dilakukan setelah lahan siap olah dengan memasukkan dua biji
perlubang tanam dengan jarak tanam 20 x 40 cm, kedalaman 2-3 cm dengan
menggunakan tugal. Setelah tanaman berumur 2 minggu dipotong kedelai menjadi
1 tanaman perlubang tanam. Jadi dalam 1 plot terdapat 50 populasi tanaman
kedelai dengan banyak sampel 5 tanaman per plot (10% dari populasi tanaman).
Pemupukan dasar dilakukan sehari sebelum tanam dengan cara menugal
disekitar lobang tanam. Pemupukan kedua dilakukan setelah tanaman berumur 3
minggu. Pupuk yang digunakan adalah urea 0,8 gr/tanaman ( 40 gr/plot),
TSP 0,6 gr/tanaman ( 30 gr/plot) dan KCL 0,4 gr/tanaman (20 gr/plot) . Pupuk
diberikan di sela-sela barisan tanaman 5 cm dari tanaman. Untuk pemupukan
pertama diberikan urea ½ dosis, TSP seluruhnya dan KCL seluruhnya.
Pemupukan kedua diberikan sisa dosis pada pemupukan awal (Suprapto, 2001).

3.

Pemeliharaan

Apabila tidak turun hujan, maka perlu dilakukan penyiraman sebanyak 2
kali sehari dan disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Penyiangan gulma
dilakukan secara manual dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan agar tidak
mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam penelitian ini.
Pengendalian hama bila ada, dilakukan dengan menggunakan insektisida
Sevin 85 S dengan dosis 2 cc/l air. Penyemprotan dilakukan sejak tanaman
berumur 3 hari untuk mencegah lalat bibit dan selanjutnya dilihat pada serangan
dilapangan.

Universitas Sumatera Utara

4.

Pemanenan
Pemanenan dilakukan pada saat biji mencapai kemasakan yang tepat, yaitu

daun-daunnya telah menguning dan mulai gugur, polong mengering dan berwarna
kecoklatan. Cara panen dengan memotong batang bawah kedelai menggunakan
sabit yang tajam. Tidak dibenarkan mencabut batang bersama akarnya.
5.

Parameter pengamatan
Sampel yang diamati dalam satu plot adalah + 10% jumlah tanaman

perplot. Pengambilan tanaman sampel di buat secara acak, jumlah tanaman
sampel dalam satu plot adalah 5 tanaman..
Intensitas serangan penyakit dihitung tiap seminggu sekali, pengambilan
data dimulai apabila sudah ada gejala serangan dilapangan. Data intensitas
serangan diambil sebanyak 8 kali. Besarnya intensitas serangan di hitung
berdasarkan rumus sebagai berikut:
∑ (n x v)

IS = ----------- x 100%
ZxN

Dimana:
IS

= Intensitas serangan

n

= jumlah daun dalam tiap kategori serangan

v

= Nilai skala tiap kategori serangan

Z

= Nilai skala dari kategori serangan tertinggi

N

= jumlah daun yang diamati

Kategori skala kerusakan
Skala

kode kerusakan

1

111

2

122, 123, 132,133, 222, 223

Universitas Sumatera Utara

3

142, 143, 232, 233, 242, 243, 322, 323

4

332, 333

5

343

Kategori notasi / kode
Digit 1 : mencatat posisi daun yang diamati pada tanaman kacang kedelai
1

= sepertiga bagian bawah daun kedelai diukur dari permukaan tanaman

2

= sepertiga bagian tengah daun kedelai diukur dari permukaan tanaman

3

= sepertiga bagian atas daun kedelai diukur dari permukaan tanaman
Digit 2 : tingkatkepadatan lesiokarat pada daun yang diamati

1

= Tidak terjadi infeksi – 0 lesio / cm2

2

= kepadatan lesio jarang – 1-8 lesio / cm2

3

= kepadatan lesio sedang – 9-16 lesio / cm2

4

= kepadatan lesio padat – lebih padat dari 16 lesio / cm2
Digit 3 : mencatat reaksi tanaman

1

= tidak ada pustule

2

= bercak tak berspora

3

= bercak berspora (Uredospora)

(Santoso, 2003)

Universitas Sumatera Utara

a. tidak ada serangan

b. Serangan ringan

c. serangan sedang

d. serangan berat

Gambar 4. tingkat gejala serangan penyakit karat daun
Sumber: Suprapto, 2001

Penilaian ketahanan tanaman terhadap penyakit karat daun didasarkan pada
skala intensitas serangan berikut ini:
Kriteria

intensitas serangan

Imun (I)

IS = 0%

Tahan `

0% < IS < 25%

Agak Tahan

25% < IS < 50%

Agak rentan

50% < IS < 75%

Rentan

IS > 75%

(Santoso, 2003).

Universitas Sumatera Utara

Produksi
Penghitungan produksi tanaman dilakukan saat panen, ini dilakukan
dengan cara menghitung berat kering polong yang dipanen dari masing masing
plot perlakuan (gr/plot). Lalu hasilnya dikonversikan kedalam ton per
hektar.Dihitung dengan rumus sebagai berikut:
X

Y

2
10000 m

= --------- x ----------1000 Kg

L

Keterangan:
Y

: Produksi dalam Ton/Ha

X

: Produksi dalam Kg/Plot

L

: Luas Plot (m2)

(Sudarman dan sudarsono, 1981)

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Intensitas Serangan Phakopsora pachyrizi Syd.

Hasil pengamatan intensitas serangan P.

phachyrizi Syd. Pada setiap

waktu pengamatan mulai dari 4-11 minggu setelah tanam (mst) dapat dilihat pada
lampiran 8-15. dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat adanya perbedaan yang
nyata antar perlakuan. Untuk mengetahui perlakuan mana yang berbeda nyata,
maka dilakukan Uji jarak Duncan. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Uji rataan intensitas Serangan P. pachyrizi Syd. (%) Untuk setiap Waktu
Pengamatan (mst).
Waktu Pengamatan (Mst)

Perlakuan
V1
V2
V3
V4
V5
V6

4
7.93c
2.87d
9.30ab
8.38c
10.31a
2.87d

5
13.68b
2.87c
15.50a
14.35b
16.61a
2.87c

6
19.33b
2.87c
21.33a
20.27b
22.61a
2.87c

7
25.27c
4.81d
27.02b
25.93b
29.25a
2.87d

8
30.64c
11.69d
33.53b
32.32b
36.01a
5.34e

9
35.85c
19.44d
39.45b
37.90b
42.88a
12.98e

10
41.86c
27.46d
45.81b
43.46c
49.56a
22.26e

11
48.80c
35.16d
53.20b
50.20c
57.79a
30.57e

Keterangan: angka dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda
nyata, pada taraf 5% uji jarak Duncan (DMRT).
Serangan penyakit karat daun kedelai (P. phachyrizi Syd.) ini muncul
pada minggu ke-4 setelah tanam, dimana pada setiap tanaman mulai muncul
bercak - bercak
tabel

1 dapat

karat

kecil

meskipun

dilihat dimana

V5 (varietas Detam-2) sebesar

sangat sedikit persentasinya. Pada

serangan

10.31%

dan

tertinggi

pada

perlakuan

terendah

pada

perlakuan

V6 (Varietas Seulawah) dan V2 (Varietas Ijen) sebesar 2.87 %. Dan pada
umumnya penyakit karat daun (P. phachyrizi Syd.) muncul dipertanaman pada
saat tanaman berumur 3-4 minggu setelah tanam hingga siap panen.

Universitas Sumatera Utara

Pada tabel 1 pengamatan 11 minggu setelah tanam (mst) menunjukkan
bahwa intensitas serangan tertinggi terdapat pada perlakuan V5 (varietas Detam 2)
yaitu sebesar 57,79 % dan intensitas serangan terendah terdapat pada perlakuan

Rataan Intensitas Serangan (%)

V6 (varietas Seulawah) yaitu sebesar 30,57 %.

70
60
V1
50

V2

40

V3

30

V4
V5

20

V6
10
0
4

5

6

7

8

9

10

11

Minggu Pengamatan

Gambar 4. Histogram ketahanan masing-masing varietas terhadap intensitas
serangan penyakit karat daun (P. phachyrizi Syd.) (%) pada setiap waktu
pengamatan
Dari histogram diatas, bahwa pada setiap waktu pengamatan (4-11 mst)
terjadi perubahan nilai persentase serangan pada setiap perlakuan. Namun
intensitas serangan mengalami peningkatan setiap minggunya secara bertahap dari
4 mst sampai 11 mst. Hal ini dapat dipengaruhi oleh umur tanaman serta faktor
musim atau keadaan lingkungan pada saat di pertanaman. Ketahanan tanaman
terhadap penyakit semakin menurun dengan bertambahnya umur tanaman.
Matnawi (1989) mengatakan bahwa penyakit ini menyerang tanaman kedelai
yang umurnya belum tua, dan pada tanaman seperti ini dapat menyebabkan
hampanya polong. Pada tanaman yang telah berumur lebih dari 65 hari penyakit
tidak berpengaruh terhadap produktivitas biji kedelai.

Universitas Sumatera Utara

Tingginya intensitas serangan penyakit P. pachyrizi Syd. Dipengaruhi oleh
Faktor curah hujan atau kelembaban. curah hujan yang tinggi selama bulan
Agustus-september yaitu 269 mm/bulan dan 618 mm/bulan mendukung patogen
untuk menginfeksi tanaman. Semangun (1993) mengatakan masa berembun
pendek untuk terjadinya infeksi pada suhu 20-250C adalah 6 jam, sedang pada
suhu 15-170C adalah 8-10 jam. Penyakit karat yang lebih berat terjadi pada
pertanaman kedelai musim hujan.

Tabel 2. Kriteria
ketahanan
(P. phachyrizi Syd.)
Varietas

kedelai

terhadap penyakit karat daun

Intensitas Serangan (%()) Kriteria Ketahanan

Varietas Anjasmoro (V1)

48.80

Agak Tahan

Varietas Ijen (V2)

35.16

Agak Tahan

Varietas Kaba (V3)

53.20

Agak Rentan

Varietas Sinabung (V4)

50.20

Agak Rentan

Varietas Detam-2 (V5)

57.79

Agak Rentan

Varietas Seulawah (V6)

30.57

Agak Tahan

Keterangan : Imun : (IS = 0%);Tahan:( 0% < IS < 25%); Agak Tahan:(25% < IS < 50%);
Agak rentan: (50% < IS < 75%); Rentan : (IS > 75%)

Dari hasil peneitian terhadap 6 varietas yang di uji diperoleh 3 varietas
agak tahan terhadap penyekit karat daun (P. phachyrizi Syd.) yaitu Varietas
Seulawah (V6), Varietas Ijen (V2) dan Varietas Anjasmoro (V1), dengan masing
- masing Intensitas Serangannya: 30.57%; 35.16%; 48.80%. dan diperoleh 3
varietas Agak Rentan terhadap penyakit P. phachyrizi Syd. Yaitu Varietas
Sinabung (V4), Varietas Kaba (V3) dan Varietas Detam-2 (V3), dengan masingmasing Intensitas serangannya: 50.20%; 53.20%; 57.79%.

Universitas Sumatera Utara

2. Produksi

Berdasarkan hasil sidik ragam, diketahui bahwa perlakuan varietas
terhadap hasil kering berbeda nyata pada selang kepercayaan 5% uji DMRT.
Tabel 3. Rataan pengaruh varietas terhadap produksi (ton/ha).
No.

Perlakuan

Produksi sesuai deskripsi
(ton/ha)

Produksi ton/ha

Kehilangan hasil
(ton/ha)

2,03-2,25
1,29 (51%)
1
V1
0.96c
2,49
1,08 (43%)
2
V2
1.41b
2,13
1,27 (59%)
3
V3
0.86e
1,6-2,5
1,59 (63%)
4
V4
0.91d
1,7
0,88 (52%)
5
V5
0.82f
1,6-2,5
0,94 (37%)
6
V6
1.56a
Keterangan: angka yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda
nyata pada taraf 5% uji DMRT
Dari tabel 3 menenunjukkan bahwa rataan berat kering tertinggi terdapat
pada perlakuan V6 (Varietas Seulawah) yakni sebesar 1.56 ton/ha, sedangkan
terendah terdapat pada perlakuan V5 (Varietas Detam-2) yaitu sebesar 0,82
ton/ha. Rendahnya berat kering produksi dari kedelai ini dipengaruhi oleh terlalu
besarnya

curah

hujan pada bulan agustus-september yaitu 269 mm/bulan dan

618 mm/bulan. Pada umumnya tanaman kedelai tumbuh dan berproduksi baik
pada saat Iklim kering dan Curah hujan optimum antara 100-200 mm/bulan.
(Danarti dan Najiyati, 1993) mengatakan Iklim kering lebih disukai tanaman
kedelai dibanding

iklim

sangat

lembab.

Curah

hujan

optimum

antara

100-200 mm/bulan.

produsi kedelai (ton/ha)

Produksi ton/ha
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0

Produksi ton/ha

V1

V2

V3

V4

V5

V6

perlakuan

Gambar 5. Histogram rataan produksi kedelai (ton/ha)

Universitas Sumatera Utara

Dari tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan V5 (varietas Detam-2)
merupakan perlakuan dengan produktivitas terendah. Rendahnya produksi ini
diakibatkan

juga

oleh

tingginya

intensitas

serangan karat daun

(P. phachyrizi Syd.). (Sumarno, dkk, 1990) mengatakan penurunan hasil oleh
penyakit ini berkisar antara 30-60%. Selain menurunkan hasil penyakit karat daun
juga berpotensi untuk menurunkan kualitas biji kedelai. Tanaman kedelai yang
tertular penyakit ini memiliki biji lebih kecil.
Penanaman tanaman kedelai biasanya dilaksanakan setelah panen padi.
Penanaman dianjurkan dilaksanakan pada bulan September, bulan Maret sampai
April (musim kemarau). Di lahan kering, waktu tanam yang dianjurkan adalah
Februari sampai Maret (musim hujan). Untuk mencegah terjadinya kekeringan
pada tanaman kedelai, khususnya pada stadia berbunga dan pembentukan polong,
dilakukan dengan waktu tanam yang tepat, yaitu saat kelembaban tanah sudah
memadai untuk perkecambahan. Selain itu, juga harus didasarkan pada pola
distribusi curah hujan yang terjadi di daerah tersebut.
Pada pelaksanaan penelitian, penanaman kedelai dilaksanakan pada bulan
juli, sesuai dengan literature bahwa penanaman ini dilaksanakan di luar musim
tanaman kedelai tersebut. Penanaman pada bulan juli sampai panen bulan oktober
merupakan bulan dengan curah hujan yang tinggi. Tingginya curah hujan akan
mengakibatkan terjadinya gangguan yang merugikan pertumbuhan terutama
disebabkan oleh serangan penyait dan hambatan dalam pengolahan hasil panen.
Suprapto, (2001) menyatakan bahwa Pedoman waktu tanam yang baik untuk
kedelai disesuaikan dengan kemungkinan adanya resiko yang paling kecil dan
biaya pemeliharaan yang dapat ditekan. Penanaman yang dilaksanaan pada musim

Universitas Sumatera Utara

hujan yang berlebihan, akan mengalami gangguan yang merugikan pertumbuhan
terutama disebabkan karena serangan penyakit dan hambatan dalam pengolahan
lepas panen. Selama masa stadia pemasakan biji, tanaman kedelai memerlukan
kondisi lingkungan yang kering agar diperoleh kualitas biji yang baik. Kondisi
lingkungan yang kering akan mendorong proses pemasakan biji lebih cepat dan
bentuk biji yang seragam.

Universitas Sumatera Utara

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Intensitas serangan P. phachyrizi Syd. Tertinggi pada 11 mst untuk
perlakuan V5 (Varietas Detam-2) sebesar 57,79% dan yang terendah pada
perlakuan V6 (Varietas Seulawah) sebesar 30.57%.
2. Varietas yang diuji tergolong Ketahanan Agak Tahan (varietas Seulawah
(IS=30,57), varietas Ijen (IS=35,16), varietas Anjasmoro (IS=48,80)). Dan
Ketahanan Agak Rentan (Variertas Detam-2 (IS=57,75), varietas Kaba
(IS=53,20) dan Varietas Sinabung (IS=50).
3. Tingginya intensitas serangan P. phachyrizi Syd dipengaruhi oleh
timggimya curah hujan yang terjadi pada bulan Agustus-September yaitu
269 mm/bulan dan 618 mm/bulan.
4. Produksi tertinggi adalah pada perlakuan V6 (Varietas Seulawah) yakni
sebesar 1,56 ton/ha, dan produksi yang terendah pada perlakuan V5
(Varietas Detam-2) yaitu sebesar 0,82 ton/ha.

Saran

Perlu dilakukan penelitian pengujian Ketahanan Beberapa Varietas
Kedelai

(G. max L.) Pada Musim Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun

(P. phachyrizi Syd.) di Lapangan .

Universitas Sumatera Utara

DA

Dokumen yang terkait

Uji Ketahanan Beberapa Varietas dan Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora Underw) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Dataran Rendah

2 85 71

Uji Ketahanan Beberapa Varietas Dan Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia Polysora Underw) Pada Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Di Dataran Rendah

1 47 71

Uji Ketahanan Beberapa Varietas Dan Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia Polysora Underw) Pada Tanaman Jagung (Zea Mays L.)

2 40 71

Uji Efektivitas Ekstrak Daun Mimba (Azadiractha indica A.Juss) dan Daun Sirih (Piper betle L.) Terhadap Penyakit Karat Daun (Phakopsora pachyrhizi Syd.) Pada Kacang Kedelai (Glycine max L.) Di Lapangan

2 41 69

Respon Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Kedelai (Glycine max L.) Terhadap Jarak Tanam Di Lahan Sawah

0 32 97

Uji Efektifitas Beberapa Pestisida Nabati Untuk Mengendalikan Penyakit Karat Daun (Phakopsora pachyrhizi) Pada Tanaman Kacang Kedelai (Glycine max L. Merril)

3 33 98

KARATERISTIK AGRONOMIK EMPAT GENOTIPE KEDELAI (Glicine max, L. Merrill) TAHAN KARAT DAUN (Phakopsora pachyrhizi Syd.)

0 8 34

Jenis Tanaman Inang Phakopsora Pachyrhizi syd. Penyebab Penyakit Karat pada Kedelai

0 7 6

Jenis Tanaman Inang Phakopsora Pachyrhizi Syd. Penyebab Penyakit Karat Pada Kedelai

0 7 6

UJI EFEKTIVITAS AGENS HAYATI (Corynebacterium sp. dan PGPR) UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT KARAT (Phakopsora pachyrhizi Syd.) PADA BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (Glycine max L.) UMUR SEDANG

0 0 16