Pertumbuhan Dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) Pada Berbagai Kombinasi Pupuk Organik Dan Pupuk Anorganik

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG
MANIS (Zea mays sacharata Sturt.) PADA BERBAGAI
KOMBINASI PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK

SKRIPSI

OLEH :
MHD SADLI NASUTION
060301029

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG
MANIS (Zea mays sacharata Sturt.) PADA BERBAGAI
KOMBINASI PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK

SKRIPSI

OLEH :
MHD SADLI NASUTION
060301029/AGRONOMI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi : Pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays saccharata Sturt
pada berbagai kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik
Nama
: Mhd Sadli Nasution
NIM
: 060301029
Departemen : Budidaya Pertanian
Program studi : Agronomi

Disetujui Oleh
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hapsoh, MS.
Ketua

Ferry Ezra Sitepu, SP., MP.
Anggota

Mengetahui,

Ir. T. Sabrina, M. Agr., Sc., Ph.D
Ketua Departemen Agroekoteknologi

Tanggal lulus :

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

MHD SADLI NASUTION: Pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays
saccharata Sturt.) pada berbagai kombinasi pupuk organik dan anorganik.,
dibimbing oleh HAPSOH dan FERRY EZRA SITEPU.
Kondisi lahan pertanian sekarang ini cukup memprihatinkan dimana
tidak sedikit tanah pertanian yang sudah rusak oleh karena penggunaan lahan
dan pupuk kimia secara terus menerus yang menyebabkan produktivitasnya
juga menurun. Pemberian pupuk kimia harus diimbangin dengan pemberian
pupuk organik. Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah kandungan bahan
organik tanah yang semakin lama semakin berkurang. Tanah yang kandungan
bahan organiknya rendah akan berkurang kemampuannya mengikat pupuk
kimia sehingga efisiensinya juga akan menurun. Pupuk organik terdiri dari
pupuk kandang, pupuk hijau, Guano, night soil, tepung tulang tepung ikan,
tepung dara dan kascing. Kascing adalah kompos yang diperoleh dari hasil
perombakan bahan-bahan yang dilakukan oleh cacing tanah yang berupa
campuran kotoran cacing tanah dengan sisa-sisa media atau pakan selama
budidaya cacing tersebut. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan percobaan
Fakultas Pertanian USU
(± 25 m dpl) pada Maret – Mei 2011 menggunakan
rancang acak kelompok non faktorial dengan 6 perlakuan, yaitu K1: pupuk
kascing 100% (80 g/tanaman); K2: pupuk kascing 75% (60 g/tanaman) + pupuk
N, P, K 25% (0,25 g/tanaman urea, 0,12 g/tanaman TSP, 0,12 g/tanaman KCL);
K3: pupuk kascing 50% (40 g/tanaman) + pupuk N, P, K 50% (0,5 g/tanaman
urea, 0,25 g/tanaman TSP, 0,25 g/tanaman KCL); K4: pupuk kascing 25% (20
g/tanamn) + pupuk N, P, K 75% (0,75 g/tanaamn urea, 0,35 g/tanaman TSP, 0,35
g/tanaman KCL); K5: pupuk N, P, K 100% (1 g/tanaman urea, 0,50 g/tanaman
TSP, 0,5o g/tanaamn KCL); K6: kompos pembanding 100% (80 g/tanaman) /
kascing + (5% Rock Phosphat). Parameter yang diamti adalah tinggi tanaman
(cm), diameter batang (cm), luas daun (cm2), umur berbunga (hari), umur panen
(hari), bobot basah akar (g), bobot basah batang atas (g), bobot kering akar (g),
bobot kering batang atas (g), panjang tongkol (cm), produksi per sampel (g),
produksi per plot (g).
Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik dan
anorganik berpengaruh nyata terhadap semua parameter terkecuali luas daun
bendera, umur berbungan dan umur panen.
Kata kunci: jagung, pupuk organik, kascing

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

MHD SADLI NASUTION: Growth and production of sweet corn at the some
combination of organic and anorganic fertilize, supervised by HAPSOH and
FERRY EZRA SITEPU.
Sweet corn

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Perdagangan pada tanggal 16 Mei 1988 dari ayah
Drs. Syafruddin Nasution, dan ibu N Lubis. Penulis merupakan putra sulung
dari empat bersaudara.
Tahun 2006 penulis lulus dari SMA Negeri 3 Pematang Sianatar dan
pada tahun yang sama masuk ke Fakultas Pertanian Universita Sumatera Utara
melalui jalur ujian tertulis Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
Penulis memilih program studi Agronomi, Departemen Budidaya Pertanian.
Selama

mengikuti

perkuliahan,

penulis

aktif

sebagai

asisten

Laboratorium Dasar Agronomi (2010-2011) dan juga anggota Himpunan
Mahasiswa Budidaya Pertanian (HIMADITA). Penulis melaksanakan Praktek
Kerja Lapangan (PKL) di PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Gunung
Monaco, Kab. Serdang Bedagai pada bulan Juni – Juli 2010.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,
atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini yang berjudul ”Pertumbuhan dan Produksi Jagung Manis (Zea mays
saccharata Sturt) pada berbagai kombinasi pupuk organik dan anorganik.”
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
kedua orang tua yang telah banyak memberi dukungan kepada penulis baik
moril maupun materil. Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada
Prof.

Dr.

Ir.

Hapsoh,

MS.,

sebagai

ketua komisi

pembimbing dan

Ferry Ezra Sitepu, SP., MP., sebagai anggota komisi pembimbing yang telah
memberi banyak saran dan bimbingan kepada penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini. Serta kepada sdri Femmy Kusuma Wardhani yang membantu
penulis.
Disamping itu penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua staf
pengajar dan pegawai di departemen Budidaya Pertanian, serta semua temanteman angkatan 2006 program studi Agronomi dan adik-adik angkatan 2010
program studi Agroekoteknologi yang telah banyak membantu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun. Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih. Semoga skripsi ini bermanfaat.
Medan, Juli 2011

Universitas Sumatera Utara

Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK ...............................................................................................
ABSTRACT ..............................................................................................
RIWAYAT HIDUP .................................................................................
KATA PENGANTAR .............................................................................
DAFTAR ISI ............................................................................................
DAFTAR TABEL ....................................................................................
DAFTAR GAMBAR ...............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................
PENDAHULUAN
Latar Belakang ........................................................................................
Tujuan Penelitian .....................................................................................
Hipotesis Penelitian .................................................................................
Kegunaan Penelitian ................................................................................
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman ......................................................................................
Syarat Tumbuh.........................................................................................
Iklim ..............................................................................................
Tanah ............................................................................................
Pupuk Kascing .........................................................................................
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................
Bahan dan Alat .........................................................................................
Metode Penelitian .....................................................................................
PELAKSANAAN PENELITIAN
Persiapan lahan .......................................................................................
Persiapan media tanam ...........................................................................
Penanaman .............................................................................................
Pemupukan ..............................................................................................
Pengaplikasian kascing ...........................................................................
Pemeliharaan tanaman ............................................................................
Penyiraman ..................................................................................
Penyiangan ....................................................................................
Penjarangan .................................................................................
Pengendalian hama dan penyakit ................................................
Panen ........................................................................................................
Pengamatan Parameter ............................................................................
Tinggi tanaman (cm).....................................................................

i
ii
iii
iv
v
vii
viii
ix
1
3
3
3
4
6
6
7
8
10
10
10
13
13
13
13
13
14
14
14
14
14
14
15
15

Universitas Sumatera Utara

Diameter batang (cm) ...................................................................
Luas daun bendera (cm2)..............................................................
Umur berbunga (hari) .................................................................
Umur panen (hari) .......................................................................
Bobot basah akar (g).....................................................................
Bobot basah batang atas (g) .........................................................
Bobot kering akar (g)....................................................................
Bobot kering batang atas (g) ........................................................
Panjang tongkol (cm) ....................................................................
Produksi per sampel (g) ................................................................
Produksi per plot (g) .....................................................................
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil .........................................................................................................
Pembahasan .............................................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ..............................................................................................
Saran ........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

15
15
15
15
16
16
16
16
16
16
16

34
34
35

LAMPIRAN .............................................................................................

37

17
31

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

NO.

Hal.

1.

Rataan tinggi tanaman jagung 2, 4, 6 MST(cm) ................................

17

2.

Rataan diameter batang jagung 2, 4, 6 MST (batang) ........................

20

3.

Rataan luas daun jagung (cm2) ..........................................................

21

4.

Rataan umur berbunga jagung (hari) .................................................

22

5.

Rataan umur panen jagung (hari) ......................................................

22

6.

Rataan bobot basah akar jagung (g) ..................................................

23

7.

Rataan bobot basah batang atas jagung (g) .......................................

24

8.

Rataan bobot kering akar jagung (g) .................................................

25

9.

Rataan bobot kering batang atas jagung (g) .......................................

26

10.

Rataan panjang tongkol jagung (g) ....................................................

27

11.

Rataan produksi jagung per sampel (g) .............................................

28

12.

Rataan produksi jagung per plot (g) ..................................................

29

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

NO.

Hal.

1.

Histogram tinggi tanaman jagung 2 MST ..........................................

18

2.

Histogram tinggi tanaman jagung 4 MST ..........................................

18

3.

Histogram tinggi tanaman jagung 6 MST ..........................................

19

4.

Histogram diameter batang jagung 2 MST ........................................

20

5.

Histogram diameter batang jagung 4 MST .........................................

20

6.

Histogram diameter batang jagung 6 MST .........................................

21

7.

Histogram bobot basah akar jagung ...................................................

24

8.

Histogram bobot basah batang atas jagung .........................................

25

9.

Histogram bobot kering akar jagung ..................................................

26

10.

Histogram bobot kering batang atas jagung ........................................

27

11.

Histogram panjang tongkol jagung ....................................................

28

12.

Histogram produksi jagung per sampel ..............................................

29

13.

Histogram produksi jagung per plot ...................................................

30

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

NO.

Hal.

1.

Deskripsi jagung varietas sweet boy ..................................................

37

2.

Data pengamatan tinggi tanaman jagung 2 MST (cm) .......................

38

3.

Sidik ragam tinggi tanaman jagung 2 MST .......................................

38

4.

Data pengamatan tinggi tanaman jagung 4 MST (cm) .......................

38

5.

Sidik ragam tinggi tanaman jagung 4 MST .......................................

38

6.

Data pengamatan tinggi tanaman jagung 6 MST (cm) .......................

39

7.

Sidik ragan tinggi tanaman jagung 6 MST ........................................

39

8.

Data pengamatan diameter batang jagung 2 MST (cm) .....................

39

9.

Sidik ragam diameter batang jagung 2 MST ......................................

39

10.

Data pengamatan diameter batang jagung 4 MST (cm) .....................

40

11.

Sidik ragam diameter batang jagung 4 MST ......................................

40

12.

Data pengamatan diameter batang jagung 6 MST (cm) .....................

40

13.

Sidik ragam diameter batang jagung 6 MST ......................................

40

14.

Data pengamatan luas daun jagung (cm2) ..........................................

41

15.

Sidik ragam luas daun jagung ...........................................................

41

16.

Data pengamatan umur berbunga jagung (hari) .................................

41

17.

Sidik ragam umur berbunga jagung ...................................................

41

18.

Data pengamatan umur panen jagung (hari) ......................................

42

19.

Sidik ragam umur panen jagung ........................................................

42

20.

Data pengamatan bobot basah akar jagung (g) ..................................

42

21.

Sidik ragam bobot basah akar jagung .................................................

42

22.

Data pengamatan bobot basah batang atas jagung (g) ........................

43

Universitas Sumatera Utara

23.

Sidik ragam bobot basah batang atas jagung .....................................

43

24.

Data pengamatan bobot kering akar jagung (g) .................................

43

25.

Sidik ragam bobot basah kering akar jagung .....................................

43

26.

Data pengamatan bobot kering batang atas jagung (g) .......................

44

27.

Sidik ragam bobot kering batang atas jagung ....................................

44

28.

Data pengamatan panjang tongkol (cm) ...........................................

44

29.

Sidik ragam panjang tongkol .............................................................

44

30.

Data pengamatan produksi per sampel (g) .........................................

45

31.

Sidik ragam produksi per sampel ......................................................

45

32.

Data pengamatan produksi per plot (g) ..............................................

45

33.

Sidik ragam produksi per plot ...........................................................

45

34.

Perhitungan pupuk ...............................................................................

46

35.

Foto lahan peneltian ..........................................................................

47

36.

Foto sampel per perlakuan ................................................................

47

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

MHD SADLI NASUTION: Pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays
saccharata Sturt.) pada berbagai kombinasi pupuk organik dan anorganik.,
dibimbing oleh HAPSOH dan FERRY EZRA SITEPU.
Kondisi lahan pertanian sekarang ini cukup memprihatinkan dimana
tidak sedikit tanah pertanian yang sudah rusak oleh karena penggunaan lahan
dan pupuk kimia secara terus menerus yang menyebabkan produktivitasnya
juga menurun. Pemberian pupuk kimia harus diimbangin dengan pemberian
pupuk organik. Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah kandungan bahan
organik tanah yang semakin lama semakin berkurang. Tanah yang kandungan
bahan organiknya rendah akan berkurang kemampuannya mengikat pupuk
kimia sehingga efisiensinya juga akan menurun. Pupuk organik terdiri dari
pupuk kandang, pupuk hijau, Guano, night soil, tepung tulang tepung ikan,
tepung dara dan kascing. Kascing adalah kompos yang diperoleh dari hasil
perombakan bahan-bahan yang dilakukan oleh cacing tanah yang berupa
campuran kotoran cacing tanah dengan sisa-sisa media atau pakan selama
budidaya cacing tersebut. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan percobaan
Fakultas Pertanian USU
(± 25 m dpl) pada Maret – Mei 2011 menggunakan
rancang acak kelompok non faktorial dengan 6 perlakuan, yaitu K1: pupuk
kascing 100% (80 g/tanaman); K2: pupuk kascing 75% (60 g/tanaman) + pupuk
N, P, K 25% (0,25 g/tanaman urea, 0,12 g/tanaman TSP, 0,12 g/tanaman KCL);
K3: pupuk kascing 50% (40 g/tanaman) + pupuk N, P, K 50% (0,5 g/tanaman
urea, 0,25 g/tanaman TSP, 0,25 g/tanaman KCL); K4: pupuk kascing 25% (20
g/tanamn) + pupuk N, P, K 75% (0,75 g/tanaamn urea, 0,35 g/tanaman TSP, 0,35
g/tanaman KCL); K5: pupuk N, P, K 100% (1 g/tanaman urea, 0,50 g/tanaman
TSP, 0,5o g/tanaamn KCL); K6: kompos pembanding 100% (80 g/tanaman) /
kascing + (5% Rock Phosphat). Parameter yang diamti adalah tinggi tanaman
(cm), diameter batang (cm), luas daun (cm2), umur berbunga (hari), umur panen
(hari), bobot basah akar (g), bobot basah batang atas (g), bobot kering akar (g),
bobot kering batang atas (g), panjang tongkol (cm), produksi per sampel (g),
produksi per plot (g).
Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik dan
anorganik berpengaruh nyata terhadap semua parameter terkecuali luas daun
bendera, umur berbungan dan umur panen.
Kata kunci: jagung, pupuk organik, kascing

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Jagung manis adalah sayuran yang disukai karena rasanya enak, kandungan
karbohidrat, protein, vitamin serta kadar gulanya relatif tinggi tetapi kandungan
lemaknya rendah. Selain untuk sayuran, jagung manis dikonsumsi setelah direbus atau
dibakar (Iskandar, 2008).
Kondisi lahan pertanian saat ini cukup memprihatinkan dimana tidak
sedikit tanah pertanian yang sudah rusak oleh karena penggunaan lahan dan
pupuk kimia secara terus-menerus yang menyebabkan produktivitas jagung
menurun. Penberian pupuk kimia harus diimbangi dengan pemberian pupuk
organik. Pupuk kimia berperan menyediakan nutrisi dalam jumlah yang besar
bagi tanaman, sedangkan bahan organik cenderung berperan menjaga fungsi
tanah agar unsur hara dalam tanah mudah di manfaatkan oleh tanaman untuk
menyerap unsur hara yang disediakan pupuk kimia. Penggunaan pupuk kimia
dan bahan organik secara seimbang akan meningkatkan produktivitas tanah
sehingga mendukung pertumbuhan tanaman jagung (Indriani, 2004)
Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah, kandungan bahan organik
dalam tanah semakin lama semakin berkurang, bahan organik sering disebut
sebagai bahan penyangga tanah. Tanah dengan kandungan bahan organik
rendah akan berkurang kemampuannya mengikat pupuk kimia sehingga
efisiensinya menurun akibat sebagian besar pupuk hilang melalui pencucian,
fiksasi atau penguapan (Musnamar, 2003).

Universitas Sumatera Utara

Pupuk

organik

mempunyai

beberapa

keunggulan,

yaitu

dapat

meningkatkan kandungan bahan organik di dalam tanah, memperbaiki struktur
tanah, meningkatkan kapasitas tukar kation tanah, meningkatkan aktivitas
kehidupan biologi tanah dan meningkatkan ketersediaan hara di dalam tanah.
Pupuk organik mengandung asam humus yang membantu membebaskan unsurunsur yang terikat, sehingga mudah diserap oleh tanaman. Pupuk organik
terdiri pupuk kandang, pupuk kascing, pupuk hijau, guano, night soil, tepung
tulang, tepung ikan dan tepung darah (Hasibuan, 2006).
Kascing adalah kompos yang di peroleh dari hasil perombakan bahanbahan organik yang dilakukan oleh cacing tanah. Kascing merupakan
campuran kotoran cacing tanah dengan sisa media atau pakan dalam budidaya
cacing tanah.Oleh karena itu kascing merupakan pupuk organik yang ramah
lingkungan dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan kompos
lain yang kita kenal selama ini (http:vermikompos.com, 2010).
Kandungan nutrisi kascing (N, P dan K) dapat mencapai dua kali lipat
dibandingkan dengan kompos (kotoran ayam dankotoran kerbau) dan kascing
juga lebih kaya akan zat pengatur tumbuh (ZPT) tanaman dan mikroba tanah.
Keseluruhan

kandungan

bahan-bahan

kascing,kimiawi

maupun

hayati

membuat jumlah nutrisi yang tersedia dan dapat diserap tanaman jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan kompos biasa (http://mygreenfarm.com, 2010).
Aktivitas cacing tanah ini secara konstan dapat meningkatkan pH pada
tanah asam.Ini karena, cacing dapat mengeluarkan kapur dalam bentuk
kalsium karbonat (CACO3) atau dolomite pada lapisan di bawah permukaan
tanah.Cacing juga dapat menurunkan pH pada tanah yang berkadar garam
tinggi (http:vermikompos.com, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Tujuan Penelitian

Untuk

mengetahui

pertumbuhan

dan

produksi

jagung

manis

(Zea mays saccharata Sturt.) pada berbagai kombinasi pupuk organik dan
anorganik.

Hipotesa Penelitian

Kombinasi pupuk organik dan anorganik berpengaruh terhadap
pertumbuhan dan produksi jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.)

Kegunaan Penelitian
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dan sebagai bahan informasi bagi
pihak yang memerlukan.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman

Akar

primer

awal

memulai

pertumbuhan

tanaman

setelah

perkecambahan. Sekelompok akar sekunder berkembang pada buku-buku
pangkal batang dan tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini
merupakan akar adventif dengan percabangan yang amat lebat. Akar
penyokong memberikan tambahan topangan untuk tumbuh tegak dan
membantu penyerapan hara. Akar ini tumbuh di atas permukaan tanah,
tumbuh rapat pada buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke
tanah (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Batang jagung manis berbantuk padat (solid). Batang mempunyai jumlah
ruas antara 8-21 ruas tetapi pada umumnya 14 ruas. Tinggi batang bergantung
pada varietasnya, yang normal antara 2-3 meter. Penampang batang 2-3 cm,
dimana kelopak daun membungkus batang (Tobing, dkk, 1995).
Daun memiliki lebar agak seragam dan tulang daunnya terlihat
jelas dengan banyak tulang daun kecil sejajar dengan panjang daun.
Pelepah daun terbentuk pada buku dan membungkus rapat-rapat panjang
batang utama. Lembar daun berselang-seling dan bentuknya seperti rumput
(Rubatzky dan Yamaguchi, 1998).
Jagung manis memiliki bunga jantan dan betina yang terpisah dalam
satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga
dari suku poaceae yang disebut floret. Pada jagung manis, dua floret dibatasi
oleh sepasang glumae. Bunga jantan tumbuh dibagian pucuk tanaman berupa

Universitas Sumatera Utara

karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning beraroma khas.
Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku diantara
batang dan pelepah daun. Bunga jantan cenderung siap untuk penyerbukan 2-5
hari lebih awal dari bunga betinanya (protandri) (Anonimus, 2007).
Biji jagung letaknya teratur, berbaris pada tongkol sesuai dengan
letakbunga. Biji dibungkus oleh perikarp yang terdiri dari embrio dan
endosperm. Embrio terdiri dari plumula, radikula, dan skutellum. Bentuk biji
ada yang bulat,berbentuk gigi sesuai dengan varietasnya. Warna biji bervariasi
antara lain kuning, putih, merah/orange dan merah hampir hitam (Tobing, dkk,
1995).
Kandungan gizi jagung manis menurut Iskandar (2008) dapat dilihat
pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan gizi jagung manis
No
1.

Zat Gizi (Tiap 100 g bahan)
Energi (cal)

Jagung manis
96.0

2.

Protein (g)

3.5

3.

Lemak (g)

1.0

4.

Karbohidrat (g)

22.8

5.

Kalsium (mg)

3.0

6.

Fosfor (mg)

11.1

7.

Besi (mg)

0.7

8.

Vitamin A (SI)

400

9.

Vitamin B (mg)

0.15

10.

Vitamin C (mg)

12.0

11.

Air (g)

72.7

Universitas Sumatera Utara

Syarat Tumbuh

Iklim
Walaupun asal tanaman jagung manis berada di daerah tropis tetapi
karena banyak sekali tipe-tipe dan variasi sifat-sifat yang dimilikinya sehingga
jagung manis dapat menyebar luas dan dapat tumbuh baik pada berbagai iklim
(Tobing, dkk, 1995).
Untuk pertumbuhannya tanaman jagung Manis dapat hidup baik pada suhu
antara 26,5 - 29,50C. Bila suhu diatas 29,50C maka air tanah cepat menguap
sehingga mengganggu penyerapan unsur hara oleh akar tanaman. Sedangkan suhu
dibawah 16, 50C akan mengurangi kegiatan respirasi (Irfan, 1999).

Tanaman akan tumbuh normal pada curah hujan yang berkisar 250-500
mm pertahun. Curah hujan kurang atau lebih dari angka yang di atas akan
menurunkan produksi. Air banyak dibutuhkan pada waktu perkecambahan dan
setelah berbunga. Tanaman membutuhkan air lebih sedikit pada pertumbuhan
vegetatif dibanding dengan pertumbuhan generatif. Setelah tongkol mulai
kuning,

air

tidak

diperlukan

lagi.

Idealnya

tanaman

jagung

manis

membutuhkan curah hujan 100-125 mm perbulan dengan distribusi merata
(Tobing, dkk, 1995).
Kekurangan air dalam waktu singkat pada umumnya dapat di toleransi
dan hanya berpengaruh kecil terhadap perkembangan biji. Namun, kekurangan
air yang berkepanjangan setelah penyerbukan dapat secara nyata menurunkan
bobot kering biji. Pada kondisi tersebut, pertumbuhan biji sebagian disokong
oleh mobilisasi asimilat yang tersimpan di batang (Rubatzky dan Yamaguchi,
1998).

Universitas Sumatera Utara

Tanaman jagung manis menghendaki penyinaran sinar matahari yang
penuh. Di tempat-tempat yang teduh, pertumbuhan jagung manis akan merana
dan tidak mampu membentuk tongkol (Najiyati dan Danarti, 1995).

Tanah

Jagung manis dapat tumbuh pada beragam jenis tanah, sehingga hal
utama yang menyebabkan produksi tidak baik pada pertanaman di daerah
tropis adalah produktivitas tanah yang rendah. Untuk meingkatkan produksi
dapat dilakukan dengan pembukaan areal baru (Leagreid, et all, 1999).
Pada tanah berpasir, tanaman jagung manis hibrida bisa tumbuh dengan
baik dengan syarat kandungan unsur hara tersedia dan mencukupi. Pada tanah
berat atau sangat berat, misalnya tanah grumosol, jagung manis hibrida masih
dapat tumbuh dengan baik dengan syarat tata air (drainase) dan tata udara
(aerasi) diperhatikan. Adapun tanah yang paling baik untuk ditanami jagung
manis hibrida adalah tanah lempung berdebu, lempung berpasir atau lempung
(Warisno, 1998).
Tanaman jagung manis tidak membutuhkan persyaratan yang khusus
karena tanaman ini dapat tumbuh pada hampir semua jenis tanah bila tanah
tersebut subur, gembur, kaya akan bahan organik dan drainase maupun aerase
baik. Jagung manis dapat tumbuh pada semua jenis tanah , dengan syarat
drainase baik serta persediaan humus dan pupuk tercukupi. Keasaman tanah
yang baik untuk pertumbuhan 5,5 – 7,0 (Tobing, dkk, 1995).

Universitas Sumatera Utara

Pupuk Kascing

Kascing adalah kotoran atau feses cacing tanah.Istilah lain dari cascing adalah
atau kasting dan vermicast atau vermicompost.Kascing mengandung unsure hara yang
lengkap,baik unsure makro maupun mikro,yang berguna bagi pertumbuhan tanaman
(Agritekno.com, 2010).
Penggunaan kompos dapat

memberikan beberapa manfaat yaitu

menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman, menggemburkan
tanah, memperbaiki tekstur dan struktur tanah, meningkatkan porositas, aerase
dan komposisi mikroorganisme tanah, memudahkan pertumbuhan akar
tanaman, daya serap air yang lebih lama pada tanah (Isnaini, 2006).
Hasil dari vermincomposting disebut dengan vermikompos (kascing).
Vermikompos mengandung nitrogen; fosfor; mineral; hormon auksin, giberelin dan
sitokinin; serta beberapa enzim protease, lipase, selulase dan kitinase yang cukup
tinggi. Jenis cacing tanah yang biasa digunakan pada pembutan kompos adalah
Lumbricus rubellus. Cascing jenis ini dapat hidup dalam populasi yang padat.
Lumbricus rubellus sering ditemukan di bawah timbunan dedaunan atau timbunan
kotoran ternak. Cacing ini tidak hidup jauh di dalam tanah seperti jenis cacing
lainnya, tetapi lebih sering hidup di lapisan yang mendekati permukaan tanah
(Djuarnani,dkk,2005).
Menurut

http://vermikompos.com

(2010)

kascing

memiliki

beberapa

keunggulan, yaitu:
1.

Kascing mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, P,
K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Al, Na, Cu, Zn, Bo dan Mo tergantung pada bahan yang
digunakan.Kascing merupakan sumber nutrisi bagi mikroba tanah.Dengan adanya
nutrisi tersebut mikroba pengurai bahan organik akan terus berkembang dan

Universitas Sumatera Utara

menguraikan bahan organik dengan lebih cepat.Oleh karena itu selain dapat
meningktkan kesuburan tanah,kascing juga dapat membantu proses penghancuran
limbah organik.
2.

Kascing

berperan

memperbaiki

kemampuan

menahan

air,

membantu

menyediakan nutrisi bagi tanaman, memperbaiki struktur tanah dan menetralkan
pH tanah.
3.

Kascing mempunyai kemampuan menahan air sebesar 40-60%.Hal ini karena
struktur kascing yang memiliki ruang-ruang yang mampu menyerap dan
menyimpan air, sehingga mampu mempertahankan kelembaban.

4.

Tanaman hanya dapat mengkonsumsi nutrisi dalam bentuk terlarut.Cacing tanah
berperan mengubah nutrisi yang tidak larut menjadi bentuk terlarut. Yaitu dengan
bantuan enzim-enzim yang terdapat dalam alat pencernaannya. Nutrisi tersebut
terdapat di dalam kascing sehingga dapat diserap oleh akar tanaman untuk
dibawa ke seluruh bagian tanaman.
Kascing berasal dari kotoran hewan yang diurai oleh cacing. Cacing akan

memakan habis seluruh kotoran yang tersedia. Lumbricus rebellus mampu
meningkatkan kadar unsur hara pada kotoran sapi jauh melebihi hasil penguraian
dengan bakteri. Sebagai contoh hasil uji lab kadar N sebesar 1,79% jauh dibandingkan
dengan kompos yang hanya 0,09%. Kascing juga mempunya kelebihan lain yaitu
kandungan hormon dan antibiotik. Kedua kandungan ini berasal dari tubuh cacing.
Hormon dalam kascing sangan baik dalam pertumbuhan tanaman (Agritekno.com,
2010).

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE

Tempat dan waktu

Penelitian direncanakan dilahan Fakulktas Pertanian Universitas Sumatera
Utara dengan ketinggian ± 25 meter diatas di atas permukan laut. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Maret – Mei 2011.

Bahan dan alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung
Varietas Sweet Boy (Lampiran 1), pupuk kascing, pupuk rock phosphate, top soil,
pupuk urea, pupuk TSP, pupuk KCL, insektisida Decis 2 cc/l, fungsida Dithane M-45
2 cc/l, polibeg 10 kg.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ini adalah Leaf
Area meter (LAM), cangkul, gembor, meteran, handsprayer, kalkulator, timbangan
analitik.
Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode RAK (Rancangan Acak Kelompok)
dengan 6 perlakuan 4 ulangan. Sebagai perlakuan adalah dosis pupuk kascing,
pupuk N,P,K dengan 5 taraf, yaitu :
K1

: pupuk kascing 100% (80 g/tanaman)

K2

: pupuk kascing 75% (60 g/tanaman) + pupuk N,P,K 25% (0,25
g/tanaman Urea, 0,12 g/tanaman TSP,0,12 g/tanaman KCl

K3

: pupuk kascing 50% ( 40 g /tanaman) + pupuk N,P,K 50% (0,50
g/tanaman Urea, 0,25 g/tanaman TSP, 0,25 g/tanaman KCl

Universitas Sumatera Utara

K4

: pupuk kascing 25% (20 g/tanaman) + pupuk N,P,K 75% (0,75
g/tanaman Urea, 0,35 g/tanaman TSP, 0,35 g/tanaman KCl

K5

: pupuk N,P,K 100% (1g/tanaman Urea, 0,50 g/tanaman TSP, 0,50
g/tanaman KCl)

K6

: kompos pembanding (100%) (80 g/tanaman)/kascing+(5%Rock Phosfat)

Jumlah ulangan

: 4 ulangan

Jumlah plot/blok

: 6 plot

Jumlah plot seluruhnya

: 24 plot

Panjang plot

: 200 cm

Lebar plot

: 100 cm

Jarak antar blok

: 50 cm

Jarak antar plot

: 30 cm

Jumlah polibeg /plot

: 4 polibeg

Jumlah tanaman/polibeg

: 1 tanaman

Jumlah sampel/plot

: 3 tanaman

Jumlah sampel seluruhnya

: 72 tanaman

Jumlah tanaman seluruhnya

: 96 tanaman

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam
berdasarkan model linier sebagai berikut:
Yijk = μ + ρi + αj + Єij
Dimana:
Yijk

= Hasil pengamatan pada blok ke-i dengan komposi dengan pupuk kascing

Universitas Sumatera Utara

µ

= Nilai tengah

ρi

= Pengaruh blok ke-i

αj

= Pengaruh pemberian pupuk kascing pada taraf ke-j

Єij

= Pengaruh galat pada blok ke-i komposisi pupuk N,P,K pada taraf ke-j
Jika dari sidik ragam diperoleh efek komposisi pupuk kascing yang berbeda

nyata akan dilanjutkan dengan uji beda rataan berdasarkan Uji Jarak Berganda
Duncan (DMRT) pada taraf 5% (Gomez and Gomez, 1995).

Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PENELITIAN

Persiapan lahan
Areal pertanaman yang digunakan, dibersihkan dari gulma dan sampahsampah. Dibuat plot-plot percobaan dengan ukuran 200 cm x 100 cm, parit
pembatas blok dengan ukuran 50 cm dan parit pembatas plot dengan ukuran
30 cm.
Persiapan media tanam
Media tanam yang digunakan adalah tanah top soil. Sebelum
dimasukkan ke dalam polibeg, media terlebih dahulu dibersihkan dari sampah
atau kotoran lain, kemudian media yang telah bersih dikeringanginkan.
Penanaman
Pada setiap polibeg yang telah disiapkan, dilakukan pembuatan lubang
tanam dengan cara menugal sedalam 3–5 cm. Setiap lubang ditanam dua biji
jagung lalu ditutup dengan tanah.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan hanya sebagai pupuk dasar yaitu dengan dosis
1,0 g Urea/tanaman, 0,5 g TSP/tanaman dan 0,3 g KCL/tanaman diberikan
setelah tanaman berumur 3 hari setelah tanam. Pupuk ditaburkan disekeliling
tanaman.
Pengaplikasian Kascing
Pengaplikasian pupuk kascing dilakukan pada saat tanaman berumur 7
hari setelah tanam. Pupuk kascing dibenamkan kedalam lubang tanam dengan
jumlah yang sesuai dengan perlakuan

Universitas Sumatera Utara

Pemeliharaan Tanaman
Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor, dilakukan dua kali
sehari, setiap pagi dan sore hari namun disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Penyiangan
Penyiangan areal penanaman dilakukan dengan cara manual dan dengan
menggunakan cangkul. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi di
lapangan.
Penjarangan
Penjarangan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 MST, dengan cara
memotong satu tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dengan pisau. Di
setiap polibeg ditinggalkan satu tanaman yang pertumbuhannya jagur.
Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dilakukan dengan menyemprotkan insektisida
dengan merek dagang Sepin dengan dosis 1 g/liter air. Pengendalian dilakukan
pengendalian dilakukan pada saat tanaman berumur 7 MST.
Panen
Panen dilakukan pada saat jagung manis menunjukkan kriteria panen yaitu
rambut tongkol berwarna kecoklatan dan kelobot berwarna kuning dan jika
kelobot dikupas biji berwarna kuning mengkilap. Panen dilakukan dengan cara
memutar tongkol berikut kelobotnya atau dengan mematahkan tangkai buah
jagung.

Universitas Sumatera Utara

Pengamatan Parameter
Tinggi tanaman (cm)
Tinggi tanaman mulai diukur dari leher akar sampai ujung daun
tertinggi dengan menggunakan meteran. Pengukuran dilakukan pada saat
tanaman berumur 2 MST dengan interval 2 minggu sekali sampai muncul bunga
jantan 75%, yaitu hingga umur 7 MST.
Diameter batang (mm)
Pengukuran diameter batang dilakukan pada saat tanaman berumur 2
MST dengan interval dua minggu sekali sampai muncul bunga jantan 75%,
yaitu hingga umur 7 MST. Pengukuran diameter batang dilakukan sebanyak 2
kali dari sisi yang berbeda.
Luas daun (cm2)
Pengukuran luas daun dilakukan dengan menggunakan Leaf Area Meter
(LAM) daun yang diukur merupakan daun ke-6 dengan cara bagian daun
dipotong dari pangkal daun kemudian daun yang diukur diletakan pada bidang
ukur LAM setelah itu dilakukan proses scaning dan dicatat data yang muncul.
Umur berbunga (hari)
Diamati umur berbunga dari masing-masing perlakuan, dengan kriteria
tanaman sampel telah mengeluarkan bunga jantan (malai) secara sempurna.
Umur panen (hari)
Diamati umur panen dari masing-masing perlakuan, dilakukan pada saat
panen ketika tanaman telah memasuki kriteria matang panen.

Universitas Sumatera Utara

Bobot basah akar (g)
Ditimbang bobot segar akar tanaman sampel, setelah akar dibersihkan
dari tanah yang menempel dan dipisahkan dari tajuknya. Pengukuran
dilakukan setelah panen.
Bobot basah batang atas (g)
Ditimbang bobot basah dari batang atas tanaman, setelah batang atas
dipisahkan dari akar, malai dan tongkol jagung. Pengukuran dilakukan setelah
panen.
Bobot kering akar (g)
Dilakukan dengan cara mengovenkan akar tanaman pada suhu 700 selama 24
jam, kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.
Bobot kering batang atas (g)
Dilakukan dengan cara mengovenkan akar tanaman pada suhu 700 selama 24
jam, kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.
Panjang tongkol (cm)
Diukur

panjang

tongkol

dari

masing-masing

sampel

dengan

menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan setelah tongkol dibersihkan
dari kelobotnya.
Produksi per sampel (g)
Dihitung bobot

seluruh

produksi

tanaman

sampel.

Perhitungan

dilakukan setelah panen dan dibersihkan setiap tongkol jagung dari kelobotnya.
Produksi per plot (g)
Dihitung bobot seluruh produksi per plot percobaan. Perhitungan
dilakukan setelah panen dan dibersihkan setiap tongkol jagung dari kelobotnya.

Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2 – 33) menenjukkan bahwa
kombinasi pupuk organik dan anorganik berpengaruh nyata terhadap
parameter tinggi tanaman, diameter batang, bobot basah akar, bobot basah
batang atas, bobot kering akar, bobot kering batang atas, panjang tongkol,
produksi per sampel, produksi per plot dan memberikan pengaruh yang tidak
nyata terhadap parameter luas daun, umur berbunga dan umur panen.
1.

Tinggi tanaman (cm)
Hasil pengamatan analisis sidik ragam dari tinggi tanaman pada 2, 4 dan

6 MST dan dapat dilihat pada Lampiran 2 - 7. Hasil analisi sidik ragam
menunjukkan bahwa pemberian berbagai kombinasi pupuk organik dan pupuk
anorganik berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Rataan
tinggi tanaman pada 2, 4 dan 6 MST data dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rataan tinggi tanaman jagung (cm) 2, 4 dan 6 MST pada berbagai
kombinas pupuk organik dan anorganik
Tinggi tanaman (cm)
Perlakuan
2 MST
4 MST
6 MST
47.67a
93.52a
156.69a
K1
44.76ab
96.64a
149.24a
K2
K3
44.17ab
94.35a
149.63a
K4
38.58b
87.94a
145.50a
K5
31.33bc
68.80b
119.65ab
K6
30.61c
61.41b
113.99b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 1 diketahui bahwa pada 2 MST rataan tinggi tanaman
tertinggi terdapat pada perlakuan K1 (47,67a cm) dan terendah terdapat pada
perlakuan

K6 (30,61c cm). Pada 4 MST rataan tinggi tanaman tertinggi

Universitas Sumatera Utara

terdapat pada perlakuan K2 (96,64a cm) dan terendah terdapat pada perlakuan
K6 (61,41b cm). Pada 6 MST rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada
perlakuan

K1 (156,69a cm) dan terendah terdapat pada perlakuan K6

(113,99b cm).
60

tinggi tanaman
(cm)

50
40
30
20
10
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 1. Histogran tinggi tanaman jagung 2 MST
120

tinggi tanaman
(cm)

100
80
60
40
20
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 2. Histogram tinggi tanaman jagung 4 MST

Universitas Sumatera Utara

180

tinggi tanaman (cm)

160
140
120
100
80
60
40
20
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 3. Histogram tinggi tanaman jagung 6MST
2.

Diameter batang (cm)
Hasil pengamatan analisis sidik ragam dari diameter batang pada 2, 4

dan 6 MST dan dapat dilihat pada Lampiran 8 - 13. Hasil analisi sidik ragam
menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk
anorganik berpengaruh nyata terhadap diameter batang. Rataan diameter
batang pada 2, 4 dan 6 MST data dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan diameter batang jagung 2, 4 dan 6 MST (cm) pada berbagai
kombinasi pupuk organik dan anorganik
Diameter batang (cm)
Perlakuan
2 MST
4 MST
6 MST
0.71a
1.57a
1.97a
K1
0.70a
1.57a
1.96a
K2
0.68a
K3
1.54a
1.95a
K4
0.58ab
1.43a
1.93a
K5
0.43b
1.09b
1.62a
K6
0.34b
0.86b
1.59a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 2 diketahui bahwa pada 2 MST rataan diameter batang (cm)
terlebar terdapat pada perlakuan K1 (0.71a cm) dan terendah terdapat pada
perlakuan K6 (0,34b cm). Pada 4 MST rataan diameter batang terlebar

Universitas Sumatera Utara

terdapat pada perlakuan K1 (1,57a cm) dan terendah terdapat pada perlakuan
K6 (0,86b cm). Pada 6 MST rataan diameter batang (cm) tertinggi terdapat pada
perlakuan K1 (1,97a cm) dan terendah terdapat pada perlakuan K6 (1,59a cm).
0,8

diameter batang (cm)

0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 4. Histogram diameter batang jagung 2 MST
1,8
1,6

diameter batang (cm)

1,4
1,2
1
0,8
0,6
0,4
0,2
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 5. Histogram diameter batang jagung 4 MST

Universitas Sumatera Utara

diameter batang (cm)

2,5

2

1,5

1

0,5

0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 6. Histogram diameter batang jagung 6 MST
3.

Luas daun (cm2)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari luas daun bandera (cm2)

dapat dilihat dari Lampiran 14 - 15. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
tidak nyata terhadap luas daun bender. Rataan luas daun bendera dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan luas daun bendera jagung (cm2) pada pemberian kombinasi
pupuk
organik dan pupuk anorganik
Perlakuan
Luas daun (cm2)
339.66
K1
399.61
K2
K3
360.83
K4
341.97
K5
351.40
K6
365.03
Dari Tabel 3 diketahui bahwa rataan luas daun bendera (cm2) tertinggi
terdapat pada perlakuan K2 (399.61 cm2) sedangkan yang terendah terdapat
pada perlakuan K4 (341.97 cm2).
4.

Umur berbunga (hari)

Universitas Sumatera Utara

Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari umur berbunga (hari)
dapat dilihat dari Lampiran 16 - 17. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
tidak nyata terhadap parameter umur berbunga. Rataan umur panen dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan umur berbunga jagung (hari) pada pemberian kombinasi
pupuk
organik dan pupuk anorganik
Perlakuan
Umur berbunga (hari)
66.00
K1
65.75
K2
65.83
K3
K4
65.75
K5
65.42
K6
65.50
Dari Tabel 4 diketahui bahwa rataan umur berbunga (hari) tertinggi
terdapat pada perlakuan K1 (66,00 hari) sedangkan yang terendah terdapat
pada perlakuan
5.

K5 (65,42 hari).

Umur panen (hari)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari umur panen (hari) dapat

dilihat dari Lampiran 18 - 19. Hasil analisis sidik ragam menunjukan bahwa
pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh tidak
nyata terhadap parameter umur panen. Rataan umur panen dapat dilihat pada
Tabel 5.

Tabel 5. Rataan umur panen jagung (hari) pada pemberian kombinasi pupuk
organik dan pupuk anorganik
Perlakuan
Umur panen (hari)
K1
75.75

Universitas Sumatera Utara

K2
K3
K4
K5
K6

75.25
75.25
75.00
75.00
75.00

Dari Tabel 5 diketahui bahwa rataan umur panen (hari) tertinggi terdapat
pada perlakuan K1 (75,75 hari) sedangkan yang terendah terdapat pada
perlakuan K4, K5 dan K6 (75,00 hari).
6.

Bobot basah akar (g)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari bobot basah akar (g)

dapat dilihat dari Lampiran 20 - 21. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap bobot basah akar. Rataan bobot basah akar dapat dilihat pada
Tabel 6.
Tabel 6. Rataan bobot basah akar jagung (g) pada pemberian pupuk organik
dan
pupuk anorganik
Perlakuan
Bobot basah akar (g)
220.54b
K1
250.83a
K2
K3
218.36b
K4
202.21b
K5
187.26b
K6
201.37b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 6 diketahui bahwa rataan bobot basah akar (g) tertinggi
terdapat pada perlakuan K2 (250,83a g) sedangkan yang terendah terdapat pada
perlakuan K5 (187,26b g).

Universitas Sumatera Utara

0,8

bobot basah akar (g)

0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 7. Histogram bobot basah akar jagung
7.

Bobot basah batang atas (g)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari bobot basah batang atas

(g) dapat dilihat dari Lampiran 19 - 20. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap bobot basah batang atas. Rataan bobot basah batang atas dapat
dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan bobot basah batang atas jagung (g) pada pemberian pupuk
organik
dan pupuk anorganik
Perlakuan
Bobot basah batang atas (g)
135.40b
K1
166.24a
K2
K3
153.86a
K4
145.15a
K5
135.07b
K6
142.93a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 6 diketahui bahwa rataan bobot basah akar (g) tertinggi
terdapat pada perlakuan K2 (166,24a g) sedangkan yang terendah terdapat pada
perlakuan K5 (135,07b g).

Universitas Sumatera Utara

180

bobot basah batang atas (g)

160
140
120
100
80
60
40
20
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 8. Histogram bobot basah batang atas jagung

8.

Bobot kering akar (g)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari bobot kering akar (g)

dapat dilihat dari Lampiran 24 - 25. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap bobot kering akar. Rataan bobot kering akar dapat dilihat pada
Tabel 8.
Tabel 8. Rataan bobot kering akar jagung (g) pada pemberian pupuk organik
dan
pupuk anorganik
Perlakuan
Bobot kering akar (g)
110.91b
K1
135.32a
K2
112.78b
K3
K4
108.94b
K5
99.89b
K6
104.01b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 8 diketahui bahwa rataan bobot kering akar (g) tertinggi
terdapat pada perlakuan K2 (135,32a g) sedangkan yang terendah terdapat pada
perlakuan K5 (99,89b g).

Universitas Sumatera Utara

160

bobot kering akar (g)

140
120
100
80
60
40
20
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 9. Histogram bobot kering akar jagung

9.

Bobot kering batang atas (g)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari bobot kering batang atas

(g) dapat dilihat dari Lampiran 26 - 27. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap bobot kering batang atas (g). Rataan bobot basah akar dapat
dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Rataan bobot kering batang atas jagung (g) pada pemberian pupuk
organik dan pupuk anorganik
Perlakuan
Bobot kering batang atas (g)
74.51b
K1
86.51a
K2
K3
74.87b
K4
75.18b
K5
65.85b
K6
68.67b
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 9 diketahui bahwa rataan bobot kering batang atas (g)
tertinggi terdapat pada perlakuan K2 (86,51a g) sedangkan yang terendah
terdapat pada perlakuan K5 (65,85b g).

Universitas Sumatera Utara

bobot kering batang atas (g)

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 10. Histogram bobot kering batang atas jagung
10. Panjang tongkol (cm)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari panjang tongkol (cm)
dapat dilihat dari Lampiran 28 - 29. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap panjang tongkol. Rataan panjang tongkol dapat dilihat pada
Tabel 10.
Tabel 10. Rataan panjang tongkol jagung (cm) pada pemberian pupuk organik
dan
pupuk anorganik
Perlakuan
Panjang tongkol (cm)
17.26c
K1
18.91a
K2
K3
19.22a
K4
17.77b
K5
15.52d
K6
17.46c
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukan berbeda nyata menurut uji Duncan pada taraf 5%.

Dari Tabel 10 diketahui bahwa rataan panjang tongkol (cm) tertinggi
terdapat pada perlakuan K3 (19,22a cm) sedangkan yang terendah terdapat
pada perlakuan K5 (15,52d cm).

Universitas Sumatera Utara

25

panjang tongkol (cm)

20
15
10
5
0
K1

K2

K3

K4

K5

K6

perlakuan

Gambar 11. Histogram panjang tongkol jagung
11. Produksi per sampel (g)
Hasil pengamatan dan analisis sidik ragam dari produksi per sampel (g)
dapat dilihat dari Lampiran 30 - 31. Hasil analisis sidik ragam menunjukan
bahwa pemberian kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik berpengaruh
nyata terhadap produksi per

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pertumbuhan Dan Produksi Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) Pada Berbagai Kombinasi Pupuk Organik Dan Pupuk Anorganik