Respon Organisasi Kepemudaan Respon Organisasi Kemasyarakatan di Indonesia Terhadap UU No. 8 Tahun 1985

Jaminan Presiden, bahwa Muhammadiyah dapat menjaga keasliannya sebagai gerakan sosial Islam, dan bahwa Pancsaila sebagai asas tunggal tidak dimaksudkan untuk mengurangi dan membatasi aktivitas-aktivitasnya, mempercepat Muhammadiyah menerimanya secara resmi pada Muktamar di Surakarta. Jadi, isu ideologis di sekitar Pancasila dan Islam diselesaikan oleh Muhammadiyah dengan cara tertentu, sehingga tidak mengubah keasliannya sebagai gerakan sosial keagamaan.

3. Respon Organisasi Kepemudaan

MUI Majelis Ulama Indonesia, didirikan pada tanggal 26 Juli 1975, memainkan peran penghubung antara umat Islam dengan Pemerinta. Seperti yang ditujukan oleh namanya, lembaga ini berfungsi melakukan ijtihad dan mengeluarkan fatwa-fatwa kepada umat Islam atau pemerintah berkaitandengan masalah-masalah social yang status hukumnya tidak dapat ditemukan baik dalam Al-Qur’an maupun Hadis. Pada mulanya, MUI menghadapi dilema dalam merespon Pancasila sebagai asas tunggal, karena memandang agama dan bangsa sama-sama penting. Pada Tahun 1982, bersama organisasi-organisasi lain MUI mengadakan pertemuan kerja sama antar umat beragama untuk membahas masalah ini. Pada pertemuan tersebut, MUI, MAWI, DGI, PHDP Parisadha Hindu Dharma Pusat dan Walubi Perwalian Umat Budha Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa “lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi keagamaan, masing-masing mengikuti landasan yang sesuai dengan agamanya, menyerukan pada pengikut mereka untuk loyal pada agama mereka dan pada saat yang sama menjadi seorang Pancasilais yang baik. Pernyataan ini berupaya untuk menegaskan kembali agama sebagai asas masing-masing organisasi mereka, sementara pada saat yang sama menyatakan tanggung jawab mereka terhadap ideologi nasional Pancasila. Sebagaimana dikatakan Yunan Nasution, salah seorang ketua MUI, bahwa: “....Mereka menyerukan pada pemerintah: marilah kita memanfaatkan masing-masing asas dalam konstitusi kita sebagaimana mestinya karena kita dilahirkan di bumi Indonesia, yakni masing-masing agama kita. Ini merupakan jalan hidup di sini dan petunjuk hidup setelahnya. Asas kita tidak semuanya mengancam Pancasila. Sebaliknya, sementara kita membangun komunitas Islam dengan basis agama kita, kita juga memajukan itu untuk meneguhkan Lima prinsip dari Pancasila, dalam tatanan yang Pancasilais. Jadi, dalam pembangunan bangsa Indonesia, sebagaimana kita lakukan sekarang, basis agama kita bias menjadi mitra Pancasila”. 51 Setahun kemudian, pada pertemuan Badan Kerja Sama Agama bulan November 1983, MUI, Walubi, PHDP, MAWI, dan DGI masih mempertahankan posisi mereka berkaitan dengan Pancasila sebagai asas tunggal. Mereka menegaskan bahwa “asosiasi dan ormas keagamaan tetap menggunakan agama 51 Faisal Ismail, Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama; Wacana Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila, Op.Cit. , h. 251 mereka masing-masing, sebagai asas organisasi. Kemudian mereka semua menerima Pancasila sebagai asas tunggal setelah UU secara resmi diumumkan pemerintah. Sejauh menyangkut Majeli Ulama Indonesia, Pancasila sebagai asas tunggal di terima MUI secara resmi pada kongres di Jakarta pada bulan Juli 1985. MUI secara jelas mencantumkan Pancasila sebagai asas tunggal dalam pasal 2 rumusan ADART-nya, sedangkan karakteristiknya sebagai organisasi Islam dicantumkan pada pasal 1. HMI Himpunan Mahasiswa Islam, juga merespon Pancasila sebagai asas tunggal. Didirikan oleh Lafran Pane pada tanggal 5 Februari 1947 di Yogyakarta, HMI di kenal sebagai organisasi independent yang tidak berafiliasi dengan prganisasi politik atau kelompok sosial mana pun. Namun, dari perspektif keagamaannya yang mungkin digambarkan sebagai modernisme Islam, HMI mempunyai kedekatan dengan Muhammadiyah pada saat sekarang, dan dengan Masyumi pada masa lalu. Dalam merespon Pancasila sebagai asas tunggal seluruh ormas, HMI mengadakan satu seri pembahasan pada kongres ke-51 di Medan, Sumatera Utara, pada akhir Mei 1983. melalui Menteri Pemuda dan Olah Raga, Abdul Ghaffur dia sendiri adalah mantan ketua HMI cabang Jakarta, pemerintah menekan HMI untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal, meskipun UU tentang ormas baru dipersiapkan dan dalam proses diajukan pemerintah kepada DPR. Menurut Ghaffur, penerimaan Pancasila menjadi asas tunggal oleh HMI tidak akan menghilangkan identitas khas gerakan HMI, karena karakter ini dengan jelas dapat dimasukan dalam program-programnya. HMI melihat bahwa UU keormasan akan memberi kekuasaan penuh pada pemerintah, sehingga pemerintah dapat membatasi bahkan melakukan intervensi kedalam kehidupan dan aktivitas ormas. Kondisi ini pada gilirannya akan membuat ormas menjadi apatis terhadap masalah-masalah nasional. Jika kondisi ini terus berlangsung, HMI menyatakan kehidupan politik Indonesia di masa yang akan dating akan menjadi tidak demokratis. Alasan HMI menerima Pancasila sebagai asas tunggal adalah, bahwa Islam dan dan Pancasila tidak bertentangan, selama Pancasila diletakan pada konteks historis yang benar. HMI juga percaya bahwa nilai-nilai Pancasila akan semakin kaya, kuat dan dinamis jika didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai Islam. Ini berarti bahwa Pancasila akan menjadi berarti dan terpelihara dalam bingkai Islam. Sedangkan PII Partai Islam Indonesia, yang didirikan pada tanggal 4 Mei 1947 di Yogyakarta, menempuh jalan yang berbeda dalam merespon Pancasila sebagai asas tunggal. Sebagaimana HMI, PII adalah organisasi independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik atau ormas apapun. Namun PII mempunyai hubungan yang dekat dengan HMI dan dengan organisasi Muslim modernis yang lain karena cara pandang keagamaannya, dan mengikuti Islam Modernis. sebagai organisasi bagi pelajar sekolah tingkat atas, PII tetap mempertahankan Islam sebagai asas tunggalnya dan dengan gigih menolak untuk menggantikannya dengan Pancasila. Karena sikapnya ini, Menteri Dalam Negeri melalui keputusannya No. 120 dan 121 tanggal 10 Desember 1987 melarang PII dengan lasan PII tidak mengikuti prinsip-prinsip fundamental UU keormasan. Sejauh mengenai ormas Islam, larangan pemerintah ini hanya di kenakan kepada PII. Jadi yang menyusul NU untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal adalah Muhammadiyah, HMI, MUI, dan semua organisasi massa Islam lainnya kecuali PII, seperti Persis dan Syarikat Islam, PMII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dan lain-lain. Sikap ini diambil oleh semua organisasi massa Islam karena pemerintah tetap memperbolehkan mereka untuk mempertahankan keaslian pergerakan dan aktivitas mereka dan tetap membolehkan untuk melaksanakan aktivitas sosio-keagamaan mereka menurut aspirasi dan cita-cita agama mereka, sebagaimana sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak akan mengurangi dan menghilangkan keragaman masyarakat Indonesia, tetapi justru akan memberi peluang bagi aspirasi-aspirasi sosial keagamaan untuk lebih berkembang; suatu keadaan yang diharapkan oleh ormas- ormas Islam dan ormas lain di seluruh Indonesia. 52 52 Faisal Ismail, Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama; Wacana Ketegangan Kreatif Islam dan Pancasila, Op.Cit. , h. 258.

BAB IV POLITIK HUKUM PEMERINTAHAN SOEHARTO TENTANG

DEMOKRASI POLITIK

A. Arah dan Format Politik Hukum Pemerintahan Soeharto

Pemerintahan Soeharto disebut juga sebagai Pemerintahan Orde Baru. Era Orde Baru muncul dan dikenal luas sejak Soeharto menjadi penguasa baru setelah Pemerintahan Soekarno lengser dari kekuasaannya. Munculnya era Orde Baru setelah kekuasaan Soekarno Bung Karno tidak berkuasa lagi, telah melalui proses yang panjang. Puncak proses yang panjang itu terjadi setelah peristiwa Gerakan 30 September G.30.S PKI Tahun 1965. Peristiwa ini merupakan perbuatan inskonstitusional karena akan menggulingkan pemerintahan yang sah. Kudeta yang didalangi oleh PKI ini gagal. Kegagalan ini berakibat kepada naiknya Soeharto menjadi penguasa baru menggantikan Bung Karno. Sejak munculnya Soeharto ini kepanggung kekuasaan mulailah dikenal istilah Orde Baru. Tekad yang pertama kali didengungkan Orde Baru adalah melaksanakan UUD1945 secra murni dan konsekwen. Penyegaran di era Orde Baru ini mengintrodusir demokrasi Pancasila. Demokrasi yang didasarkan pada kekuatan musyawarah. Perwujudan musyawarah itu di implementasikan melalui lembaga Legislatif, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat MPR dan Dewan Perwakilan Rakyat DPR. Lembaga legislatif inilah yang dijadikan alat legitimasi kekuasaan Soeharto sepanjang masa Orde Baru dengan didukung