REVITALISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADA BEBERAPA TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI PROVINSI LAMPUNG

ABSTRAK
REVITALISASI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PADA
BEBERAPA TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DI PROVINSI
LAMPUNG

Oleh :
Arlina Phelia

Perkembangan jumlah penduduk yang semakin meningkat akan
mengakibatkan timbulan sampah. Timbulan sampah yang dibuang ke TPA akan
menghasilkan air lindi. Air lindi yang dihasilkan berasal dari masuknya air
eksternal ke dalam timbunan sampah. Untuk mejaga agar kualitas air di badan air
tetap terjaga maka air lindi harus diolah terlebih dahulu dengan kolam pengolah
lindi (IPAL).
Dari kondisi IPAL TPA pada empat lokasi di Provinsi Lampung yang
belum memenuhi kriteria adalah TPA Metro, TPA Bakung, dan TPA Bandar Jaya
Timur. Sedangkan untuk TPA Lubuk Kamal mendekati kriteria desain, hanya saja
perlu penambahan waktu detensi.
Salah satu TPA yang pernah mengalami bencana adalah TPA Bakung
akibat curah hujan tinggi menyebabkan tanggul penahan sampah jebol dan
mengenai kolam IPAL dibawahnya. Akibatnya lindi yang dihasilkan tercemar
sampai ke permukiman dan tidak memenuhi baku mutu air.
Untuk meredesain IPAL di TPA Bakung perlu dilakukan perhitungan
ulang dari dimensi kolam.
Desain yang memenuhi kriteria untuk IPAL di TPA Bakung adalah
dengan dimensi kolam anaerob 37x37 m; h: 2,5 m; td: 20 hari, kolam fakultatif
33,5x33,5 m; h: 1,5 m; td: 10 hari, kolam maturasi 34x34 m; h: 1 m; td: 7 hari,
dan kolam biofilter 20,5x20,5 m; h: 2 m; td: 5 hari. BOD efluen yang dihasilkan
pada kolam biofilter adalah 6,22 mg/l dengan persentase 63,6% dan memenuhi
baku mutu kelas III (Permen. No. 82 Tahun 2001).

Kata Kunci : Tempat Pembuangan Akhir, Instalasi Pengolaha Air Limbah, Lindi

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .................................................................................................

xiv

DAFTAR TABEL ........................................................................................ xviii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................
I.

xx

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................

1

B. Identifikasi Masalah ..........................................................................

2

C. Rumusan Masalah ............................................................................

4

D. Tujuan Penelitian …………………………………………………..

5

E. BatasanMasalah ................................................................................

5

F. Manfaat Penelitian ...........................................................................

6

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Umum ............................................................................................. ..

7

B. Klasifikasi Sampah dan Timbulan Sampah ................................ ….

8

C. Sistem Pengelolaan Sampah ................................................. ...........

11

D. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) .............. ....................

12

1. Sistem Pengolahan Sampah Pada TPA ………………………..... 13
1.a. Open Dumping ……………………………………………… 13
1.b. Controlled Landfill………………………………………….. 14
1.c. Sanitary Landfill …………………………………………..... 15

xv

1.d. Improve Sanitary Landfill …………………………………... 16
E. Lindi .................................................................................................... 17
1. Timbulan Leachate ……………….…………………………….... 17
2. Kualitas Leachate …………….....................................................

18

3. Kuantitas Leachate ......................................... ……............…….

20

F. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Lindi Pada TPA.................

20

1. Unit IPAL Pada TPA Sampah …………………………………... 21
1.a. Kolam Anaerobik …………………………………………...

22

1.b. Kolam Aerobik ……………………………………………... 22
1.c. Kolam Fakultatif …………………………………………….. 23
1.d. Kolam Maturasi ……………………………………………… 23
1.e. Biofilter ……………………………………………………… 23
1.f. Contructed Wetland ………………………………………….. 24
1.g. Bak Kontrol / Monitoring ……………………………………. 25
1.h. Sumur Pantau ………………………………………………… 26
2. Perencanaan Kapasitas IPAL .......................................................... 26
3. Perencanan Lokasi IPAL ................................................................. 27
4. Kebutuhan Lahan ............................................................................. 27
5. Opsi Teknologi ……………………………………………………. 28
G. Baku Mutu Air ………………………………………………………… 28
III. METODE PENELITIAN
A. Tahapan Penelitian ………………………………………………...... 34
B.

Lokasi Penelitian ……………………………………………………. 36

C.

Data yang Diperlukan ……………………………………………….. 37

xvi

D.

Alat Penelitian ……………………………………………………….. 37

E.

Analisa Data …………………………………………………………. 38

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Survey ………………………………………………… 41
B. Kondisi Eksisting …………………………………………………… 42
1.b. TPA Bakung – Bandar Lampung ………………………………. 42
2.b. TPA Karang Rejo – Metro ……………………………………… 46
3.b. TPA Lubuk Kamal – Lampung Selatan ............................……… 49
4.b. TPA Bandar Jaya Timur – Lampung Tengah …………………... 53
C. Analisa Sistem Operasional IPAL Lindi ………………………..…… 56
1.c. TPA Bakung – Bandar Lampung ………………………………. 56
2.c. TPA Bandar Jaya Timur – Lampung Tengah ………………….. 57
3.c. TPA Lubuk Kamal – Lampung Selatan ............................……… 59
4.c. TPA Karang Rejo – Metro ……………………………………… 60
D. Analisa Dimensi dan Kapasitas IPAL Lindi ………………………… 61
1.d. TPA Bakung – Bandar Lampung ………………………………. 61
2.d. TPA Bandar Jaya Timur – Lampung Tengah ………………….. 63
3.d. TPA Lubuk Kamal – Lampung Selatan ............................……… 65
4.d. TPA Karang Rejo – Metro ……………………………………… 68
E. Hasil Analisa ……………………………………………………….… 70
1.e. TPA Bakung – Bandar Lampung ………………………………. 71
2.e. TPA Bandar Jaya Timur – Lampung Tengah ………………….. 78
3.e. TPA Lubuk Kamal – Lampung Selatan ............................……… 85
4.e. TPA Karang Rejo – Metro ……………………………………… 91

xvii

F. Rekomendasi Untuk TPA Bakung – Bandar Lampung ....................... 96
V. PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………… 108
B. Saran …………………………………………………………………... 109
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN A ( Foto – Foto Dokumentasi Hasil Survey Di Lapangan)
LAMPIRAN B (Gambar Rencana Desain Instalasi Pengolahan Air Limbah
Untuk TPA Bakung – Bandar Lampung)
LAMPIRAN C (Data Perhitungan Neraca Air / Perkolasi)
LAMPIRAN D (Surat – Surat dan Lembar Asistensi)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Provinsi Lampung dikategorikan sebagai provinsi yang sedang berkembang.
Provinsi lampung yang beribukota di Bandar Lampung memiliki areal dataran
seluas 34623,80 Km2 termasuk 160 pulau yang terletak pada bagian paling
ujung Tenggara Pulau Sumatera. Secara geografis Provinsi Lampung terletak
pada : 1030 40’ – 1050 0’ Bujur Timur; ser

n r : 60 4 ’ – 30 4 ’ Lin ng

Selatan. Sebagian besar lahan di Provinsi Lampung merupakan kawasan hutan
yaitu mencapai 833.847 Ha atau 25,26%. Selain itu merupakan daerah
perkebunan (20,92%); tegalan / ladang (20,50%); daerah pertanian, dan
perumahan.

Provinsi Lampung mempunyai jumlah penduduk sebanyak 7,789,623 jiwa,
dengan kepadatan penduduk sebesar 2,25 jiwa/km2 (Dinas Kesehatan
Lampung, 2012). Sesuai dengan perkembangan daerah dan pertumbuhan
penduduk, serta efektifitasnya, Provinsi Lampung terbagi menjadi 15
Kabupaten / Kota dan memiliki 206 kecamatan serta 2423 kelurahan / desa.
Kabupaten – Kabupaten / Kota di Provinsi Lampung adalah sebagai berikut:

2

1. Kabupaten Lampung Barat.
2. Kabupaten Lampung Selatan.
3. Kabupaten Lampung Tengah.
4. Kabupaten Lampung Timur.
5. Kabupaten Lampung Utara.
6. Kabupaten Mesuji.
7. Kabupaten Pesawaran.
8. Kabupaten Pringsewu.
9. Kabupaten Tanggamus.
10. Kabupaten Tulang Bawang.
11. Kabupaten Tulang Bawang Barat.
12. Kabupaten Way Kanan.
13. Kabupaten Pesisir Barat.
14. Kota Bandar Lampung.
15. Kota Metro.
Dari keseluruhan kabupaten / kota yang ada di Provinsi Lampung, terdapat
beberapa kabupaten / kota yang memiliki jumlah kepadatan penduduk yang
cukup tinggi.

B. Identifikasi Masalah

Dengan kepadatan penduduk yang semakin meningkat, masyarakat pada
umumnya di suatu kota akan menghasilkan sampah dengan karakteristik yang
berbeda – beda. Pengelolaan sampah yang ada di Provinsi Lampung untuk saat
ini pada umunya masih jauh dari yang diharapkan. Oleh karena itulah

3

permasalahan sampah masih menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang
paling serius yang dihadapi oleh masyarakat di Provinsi Lampung.

Menghadapi permasalahan dari timbulan sampah yang semakin hari semakin
meningkat, diperlukan fasilitas pendukung dalam pengelolaan persampahan.
Selain itu, mengingat meningkatnya penduduk serta memiliki tingkat ekonomi
yang serba berkecukupan, maka diperlukan teknologi yang mudah dan murah
dalam mengolah sampah.

Sebagai provinsi yang berkembang, kabupaten / kota di Provinsi Lampung
menimbulkan timbulan sampah yang besar pula. Timbulan sampah yang tidak
terurus akan menyebabkan terjadinya lingkungan yang kumuh dan menjadi
tempat berkembangbiaknya sumber - sumber penyakit. Penanganan sampah
yang ada selama ini selalu bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe),
yakni memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat yang lain (TPS/TPA).
Penanganan sampah seperti ini sama halnya dengan memindahkan masalah
dari satu tempat ke tempat yang lain. Bila hal ini terus menerus dilakukan
maka dalam beberapa dekade ke depan bumi ini akan penuh dengan timbunan
sampah. Pengelolaan sampah harus memerlukan sistem pengelolaan yang
efektif, efesien dan ekonomis dalam pendayagunaan biaya, tenaga dan sarana.

Pengolahan sampah di TPA akan menghasilkan limbah jenis lain seperti
halnya air lindi yang berbahaya bagi lingkungan. Lindi yang dihasilkan dari
TPA biasanya disalurkan melalui pengumpul yang akan mengalir ke dalam
instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang terdiri dari bak kontrol, bak
fakultatif, bak maturasi, bak filtrasi kerikil dan bak bio indikator. Kinerja pada

4

IPAL dipengaruhi faktor kriteria desain (waktu tinggal, beban BOD, beban
volumetrik). Kinerja IPAL yang tidak optimal menyebabkan lindi yang
dibuang ke sungai dapat menyebabkan pencemaran air sungai dan air tanah.

Kasus - kasus pembuangan lindi yang berkualitas buruk ke sungai mungkin
saja terjadi di beberapa TPA di Provinsi Lampung. Penyebabnya mungkin saja
faktor teknis atau non teknis. Pengetahuan mengenai kinerja beberapa IPAL di
TPA - TPA di Provinsi Lampung adalah hal yang sangat penting untuk
dilakukan. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk meninjau dan
merevitalisasi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk lindi pada
beberapa tempat pembuangan akhir (TPA) di provinsi Lampung.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan indentifikasi masalah di atas dapat disimpulkan
bahwa instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk lindi pada TPA
merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji dan diteliti. Karena dapat
memberikan informasi kepada instansi – instansi yang terkait di provinsi
Lampung mengenai IPAL. Oleh karena itu rumusan masalah dalam penelitian
ini disusun sebagai berikut:
1. Bagaimanakah desain eksisting IPAL pada pengelolaan TPA sampah di
lokasi – lokasi yang ditinjau (apakah sudah memenuhi syarat yang berlaku
menurut pedoman / acuan yang dikeluarkan oleh Direktorat Pengembangan
PLP Ditjen Cipta Karya – Kementrian Pekerjaan Umum )?
2. Bagaimana sistem pengoperasian IPAL (lindi) pada pengelolaan TPA –
TPA tersebut?

5

3. Apakah kapasitas atau dimensi IPAL (lindi) eksisting sudah memenuhi
syarat yang berlaku?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1. Melakukan tinjauan ulang mengenai instalasi pengolahan air limbah (lindi)
di beberapa TPA provinsi Lampung.
2. Untuk

mengetahui

karakteristik

desain

IPAL

lindi

dan

sistem

pengoperasian IPAL lindi di beberapa TPA provinsi Lampung.
3. Mengetahui kapasitas / dimensi IPAL lindi di TPA Provinsi Lampung.
4. Mendesain Instalasi Pengolahan Air Limbah (Lindi).

E. Batasan Masalah

Berikut adalah batasan masalah pada penelitian ini :
1. Daerah yang ditinjau adalah IPAL dari 4 lokasi di provinsi Lampung.
Yakni TPA Bakung – Bandar Lampung, TPA Lubuk Kamal – Lampung
Selatan, TPA Karang Rejo - Metro, dan TPA Bandar Jaya Timur –
Lampung Tengah.
2. Objek yang diteliti adalah desain IPAL dan kondisi eksisting IPAL lindi di
TPA yang sudah ditentukan masing – masing di provinsi Lampung.
3. Melakukan evaluasi terhadap kapasitas / dimensi IPAL di masing – masing
TPA provinsi Lampung.

6

F. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :
1.

Dapat menjadi informasi mengenai sistem pengoperasian pengolahan air
lindi khususnya pada TPA yang dilaksanakan di provinsi Lampung.

2.

Dapat menjadi referensi bagi para pengelola TPA dan stakeholder di
Kabupaten / Kota Provinsi Lampung, dalam merencanakan desain instalasi
pengolah lindi sesuai dengan kriteria desain yang berlaku.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Umum

Sampah merupakan buangan berupa bahan padat atau tidak padat yang tidak
terpakai, pada umumnya berasal dari suatu kegiatan manusia, hewan maupun
tumbuh – tumbuhan. Berdasarkan undang – undang tentang pengelolaan
sampah UU No. 18 Tahun 2008 disebutkan bahwa definisi sampah adalah
sisa kegiatan sehari – hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk
padat.

Sampah yang semakin hari semakin bertambah dan menumpuk disuatu
tempat dapat menyebabkan timbulnya polusi dan berbagai macam penyakit,
menurunnya nilai estetika lingkungan, serta dapat menurunya nilai sumber
daya. Akibat dari tumpukan sampah tersebut serta sistem pengelolaan yang
kurang memadai ini dapat menimbulkan permasalahan baru bagi pemerintah
Kota/Kabupaten mengenai pengelolaan sampah.

Pengelolaan sampah Kota / Kabupaten terutama di Provinsi Lampung secara
umum masih memakai paradigma lama yakni dengan sistem kumpul – angkut
– buang. Pengumpulan dan pengangkutan sampah di Kota/Kabupaten

8

tersebut masih belum terorganisir dengan baik. Akibatnya semakin
banyaknya tumpukan sampah dan semakin besar pula biaya serta berpotensi
menimbulkan konflik dan bencana. Kondisi untuk tempat pembuangan akhir
di Kota/Kabupaten sebagian besar masih memakai sistem open dumping,
dikarenakan keterbatasan sumber daya (manusia, dana, dll). Akan tetapi sejak
diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2008, sistem open dumping sudah tidak
bisa dipergunakan, karena akan berpotensi mencemari lingkungan dan
digantikan dengan sistem sanitary landfill.

B. Klasifikasi Sampah dan Timbulan Sampah

Sampah dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara tergantung dari kondisi
yang dianut oleh kebijakan negara setempat. Penggolongan ini dapat
didasarkan atas sumber sampah, komposisi, bentuk, lokasi, proses terjadinya,
sifat, dan jenisnya. Penggolongan ini sangat penting dalam penentuan
penanganan dan pemanfaatan sampah.

Berdasarkan tingkat penguraian, sampah pada umumnya dibagi menjadi dua
macam (Hadiwiyoto, 1983):
a) Sampah organik, yaitu sampah yang mengandung senyawa – senyawa
organik, karena tersusun dari unsur - unsur seperti C, H, O, N, dan
sebagainya. Sampah organik umumnya dapat terurai secara alami oleh
mikroorganisme, contohnya sisa makanan, karton, kain, karet, kulit,
sampah halaman.

9

b) Sampah anorganik, yaitu sampah yang bahan kandungannya bersifat
anorganik dan umumnya sulit terurai oleh mikroorganisme. Contohnya
kaca, kaleng, alumunium, debu, dan logam lainnya.

Klasifikasi sampah berdasarkan kandungan organik dan anorganik
(Tchobanoglous, 1993) :
a) Sampah basah adalah sampah yang mengandung unsur-unsur organik,
sifatnya mudah terurai dan membusuk, dan akan menghasilkan air lindi.
Sampah golongan ini merupakan sisa - sisa pengolahan atau sisa - sisa
makanan dari rumah tangga, hasil sampingan kegiatan pasar.
b) Sampah kering adalah sampah yang mengandung unsur-unsur
anorganik,

tidak

membusuk,

tidak

mudah

terurai,

dan

tidak

mengandung air. Sampah jenis ini terdiri atas:
 Sampah mudah terbakar (combustible) seperti kayu, kertas, kain, dan
lain-lain.
 Sampah tidak mudah terbakar (non combustible) seperti logam,
kaca, keramik, dan lain-lain.
c) Abu adalah sampah yang mengandung unsur organik dan anorganik
yang berasal dari proses atau kegiatan pembakaran baik pada
lingkungan rumah, kantor, atau industri.


Timbulan Sampah

Timbulan sampah bisa dinyatakan dengan satuan volume dan satuan berat.
Jika digunakan satuan volume, derajat pewadahan (densitas sampah) harus
dicantumkan. Oleh karena itu, lebih baik digunakan satuan berat karena

10

ketelitiannya lebih tinggi dan tidak perlu memperhatikan derajat
pemadatan. Timbulan sampah ini dinyatakan sebagai:


Satuan berat: kg/o/hari, kg/m2/hari, kg/bed/hari, dan sebagainya.



Satuan volume: L/o/hari, L/m2/hari, L/bed/hari, dan sebagainya.

Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari,
antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan antara satu negara dengan
negara lainnya. Variasi ini terutama disebabkan oleh perbedaan, antara
lain, jumlah penduduk, tingkat hidup masyarakat, musim, iklim, serta cara
penanganan makanannya. Beberapa studi memberikan angka timbulan
sampah kota di Indonesia berkisar antara 2-3 liter/orang/hari dengan
densitas 200-300 kg/m3 dan komposisi sampah organik 70-80%.
Tabel 1. Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Komponen – Komponen
Sumber Sampah.
No.
1.

Komponen Sumber
Sampah
Rumah Permanen

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Satuan
/orang/hari

Volume
(Liter)
2,25 - 2,50

Berat (kg)
0,350 - 0,400

Rumah Semi Permanen
Rumah Non Permanen
Kantor
Toko/Ruko
Sekolah

/orang/hari
/orang/hari
/pegawai/hari
/petugas/hari
/murid/hari

2,00 - 2,25
1,75 - 2,00
0,50 - 0,75
2,50 - 3,00
0,10 - 0,15

0,300
0,250
0,025
0,150
0,010

- 0,350
- 0,300
- 0,100
- 0,350
- 0,020

Jalan Arteri Sekunder
Jalan Kolektor Sekunder
Jalan Lokal
Pasar

/m/hari
/m/hari
/m/hari
/m2/hari

0,10 - 0,15
0,10 - 0,15
0,05 - 0,10
0,20 - 0,60

0,020
0,010
0,005
0,100

- 0,100
- 0,050
- 0,025
- 0,300

Sumber: Standar Spesifikasi Timbulan Sampah Untuk Kota Kecil & Sedang di
Indonesia Dept. PU, LPMB, Bandung 1993.

11

Tabel 2. Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota.
No.

Klasifikasi Kota

Volume
(L/Orang/Hari)

Berat
(Kg/Orang/Hari)

Kota Besar
2,75 – 3,25
(500.000 – 1.000.000 jiwa)
Kota Sedang
2.
2,75 – 3,25
(100.000 – 500.000 jiwa)
Kota Kecil
3.
2,50 – 2,75
(20.000 – 100.000 jiwa)
Sumber: Standar Spesifikasi Timbulan Sampah Untuk
Sedang di Indonesia Dept. PU, LPMB, Bandung 1993.
1.

0,70 – 0,80
0,70 – 0,80
0,625 – 0,70
Kota Kecil &

Jumlah timbulan sampah perlu diketahui, agar pengelolaan persampahan
dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

C. Sistem Pengelolaan Sampah

Tchobanoglous (1977), mengatakan pengelolaan sampah adalah suatu bidang
yang berhubungan dengan pengaturan terhadap penimbunan, penyimpanan
(sementara), pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pemrosesan dan
pembuangan sampah dengan suatu cara yang sesuai dengan prinsipprinsip terbaik dari kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik (engineering),
perlindungan alam (conservation), keindahan dan pertimbangan lingkungan
lainnya dan juga mempertimbangkan sikap masyarakat.

Pengelolaan sampah merupakan kegiatan yang bersangkut paut dengan
pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan, transfer dan transportasi,
pengolahan dan pemrosesan akhir /

pembuangan sampah, dengan

mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi, teknologi,
konservasi, estetika, dan faktor – faktor lingkungan lainnya yang erat

12

kaitannya dengan respons masyarakat.
Menurut UU No. 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah merupakan kegiatan
yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan

yang meliputi

pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi :
1) Pembatasan timbulan sampah.
2) Pendauran ulang sampah.
3) Pemanfaatan kembali sampah.
Sedangkan kegiatan penanganan meliputi :
1) Pemilahan.
2) Pengumpulan.
3) Pengangkutan.

D. Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS)

Tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) merupakan tempat dimana sampah
mencapai tahap terakhir dalam pengelolaannya sejak mulai timbul di sumber,
pengumpulan, pemindahan / pengangkutan, pengolahan dan pembuangan.
Mengenai kondisi TPA di Indonesia, berdasarkan data SLHI 2007
(Damanhuri, 1995) sebagian besar merupakan tempat penimbunan sampah
terbuka (open dumping) sehingga menimbulkan masalah pencemaran pada
lingkungan.

Pada data tersebut menyatakan bahwa 90 % TPA dioperasikan dengan open
dumping dan hanya 9 % yang dioperasikan dengan controlled landfill dan
sanitary landfill.

13

1. Sistem Pengolahan sampah pada TPA
Pembuangan sampah ke area landfill mempunyai beberapa tipe sistem
pengolahan sampah yaitu:
a) Open Dumping
Open dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan
sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi;
dibiarkan terbuka tanpa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi
tersebut penuh. Akan tetapi masih ada Pemda yang menerapkan cara
ini karena alasan keterbatasan sumber daya (manusia, dana, dll).

Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi
pencemaran lingkungan yang dapat ditimbulkannya seperti:
 Perkembangan vektor penyakit seperti lalat, tikus, dll.
 Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan.
 Polusi air akibat banyaknya lindi (cairan sampah) yang timbul.
 Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor.

Gambar 1. Landfill dengan Sistem Pengolahan Open Dumping.

14

b) Controlled Landfill
Metoda ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana
secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan
tanah

untuk

mengurangi

potensi

gangguan

lingkungan

yang

ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan
pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan
dan kestabilan permukaan TPA.

Di Indonesia, metode control landfill dianjurkan untuk diterapkan di
kota sedang dan kecil. Untuk dapat melaksanakan metoda ini
diperlukan penyediaan beberapa fasilitas diantaranya:
 Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan
 Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan.
 Pos pengendalian operasional.
 Fasilitas pengendalian gas metan.
 Alat berat.

Gambar 2. Landfill dengan Sistem Pengolahan Controlled Landfill.

15

c) Sanitary Landfill
Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internsional
dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi
gangguan yang timbul dapat diminimalkan. Namun demikian
diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi
penerapan metode ini sehingga sampai saat ini baru dianjurkan untuk
kota besar dan metropolitan. Berdasarkan peletakkan sampah di dalam
sanitary landfill, maka klasifikasi dari landfill dapat dibedakan
menjadi :
 Mengupas lahan secara bertahap
Pengupasan membentuk parit – parit tempat penimbunan sampah
dikenal sebagai metode trench. Metode ini digunakan pada area
yang memiliki muka air tanah yang dalam. Area yang digunakan
digali dan dilapisi dengan bahan yang biasanya terbuat dari membran
sintetis, tanah liat dengan permeabilitas yang rendah (lowpermeability clay), atau kombinasi keduanya, untuk membatasi
pergerakan leachate dan gasnya.

Gambar 3. Klasifikasi Landfill Dengan Metode Trench.

16

 Menimbun sampah di atas lahan.
Untuk daerah yang datar, dengan muka air tanah tinggi,
dilakukan dengan cara menimbun sampah di atas lahan. Cara ini
dikenal sebagai metode area. Sampah dibuang menyebar memanjang
pada permukaan tanah, dan tiap lapis dalam proses pengisian
(biasanya per 1 hari), lapisan dipadatkan, dan ditutup dengan
material penutup setebal 15-30 cm. Luas area penyebaran
bervariasi tergantung pada volume timbulan sampah dan luas lahan
yang tersedia.

Gambar 4. Klasifikasi Landfill Dengan Metode Area.

d) Improved Sanitary Landfill
Improved Sanitary landfill merupakan pengembangan dari sistem
sanitary landfill, dilengkapi dengan instalasi perpipaan sehingga air
sampah atau Leachate (dibaca :licit) dapat dialirkan dan ditampung
untuk diolah sehingga tidak mecemari lingkungan, bila air sampah
yang telah diolah tersebut akan dibuang keperairan umum, maka harus
memenuhi peraturan yang telah ditentukan oleh Pemerintah RI.

17

mengenai buangan air limbah. Pada Improved Sanitary landfill juga
dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan Gas yang dihasilkan oleh
proses dekomposisi sampah di landfill.

E. Lindi (Leachate)

Lindi (leachate) adalah limbah cair yang dihasilkan ketika air hujan jatuh,
mengalir dan meresap kedalam sampah. Air limbah ini membawa material
terlarut yang didapat dari sampah yang dilewatinya. Pada umumnya leachate
bersifat asam, kaya akan bahan organik yang bersifat asam, mengandung ion
sulfat, dan mempunyai konsentrasi logam yang tinggi. Leachate mempunyai
bau yang khas yang tidak sedap. Apabila lechate meresap kedalam tanah dan
mencemari air tanah maka sumber air di sekeliling landfill akan menjadi
tercemar pula (Susilo, 2007).

1) Timbulan Leachate
Tempat pembuangan akhir sampah merupakan salah satu susbsistem
dalam sistem pengolahan sampah yang ditimbun di TPA dan mengalami
proses pembusukan dalam jangka waktu tertentu sampai bisa berubah
menjadi bahan seperti humus. Timbunan sampah yang terletak di TPA,
biasanya terdiri dari bahan organik yang dapat terurai karena mengalami
proses degradasi menghasilkan zat – zat hara, zat – zat kimia toksik, dan
bahan organik sederhana akibat adanya air yang masuk ke dalam timbulan
sampah.

18

Air tersebut dapat berasal dari air hujan, saluran drainase, air tanah atau
sumber lain di sekitar TPA. Pada saat terjadi hujan di lokasi tempat
pembuangan akhir, maka air hujan akan masuk dan meresap ke dalam
tumpukan sampah yang kemudian membawa zat – zat berbahaya atau
limbah cair yang keluar dari timbunan sampah yang dinamakan leacheate.
Apabila limpahan tersebut sampai masuk ke dalam badan air yang ada di
permukaan akan dapat mengganggu lingkungan sekitar.

Pada TPA yang masih beroperasi, BOD leachate dpat mencapai antara
2000 – 30000 mg/l, COD antara 3000 – 60000 mg/l, TOC antara 1500 –
20000 mg/l, dan PH antara 4,5 – 7,5 (Djoko H Martono).
Namun pada TPA yang sudah beroperasi lebih dari 15 tahun, pada
umumnya akan terjadi penurunan kandungan BOD, COD, maupun TOC,
bahkan PH dari leachate cenderung mendekati netral dan mempunyai
kandungan karbon organik dan mineral yang relatif menurun ( Martin,
1991). Oleh karena itu leachate tidak dapat langsung dibuang ke badan air,
karena dapat mencemari air dan mengganggu kesehatan manusia serta
keseimbangan ekosistem badan air.

2) Kualitas Leachate
Secara umum kualitas leachate akan bergantung dari beberapa hal yang
dapat mempengaruhi antara lain : (Enri Damanhuri, 1995)
 Variasi dan proporsi komponen dari timbunan sampah.
 Keadaan musim dan curah hujan.
 Lamanya umur dari timbunan sampah.

19

 Penerapan pelaksanaan pola operasional.
 Waktu pelaksanaan sampling.

Sedangkan untuk karakteristik leachate yang khas pada beberapa tempat
pembuangan akhir di Indonesia mempunyai karakter asam dan mempunyai
nilai COD yang tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa kandungan karbon
organik yang terkandung melebihi baku mutu efluen limbah cair. Ambang
batas kualitas olahan yang diperkenankan dibuang ke badan air penerima
diatur oleh masing – masing daerah. Semakin ketat nilai ambang batasnya,
maka dituntut efisiensi pengolahan air lindi yang semakin tinggi. Beberapa
kualitas hasil olahan yang diharapkan menurut peraturan yang berlaku di
Indonesia :

Tabel 3. Beberapa Baku mutu yang berlaku di Indonesia.
Kepmen
No.

Kepmen
LH
03/91

Kepmen
LH
03/98
Kepmen
LH
112/03

ΣN

BODs

COD

mg/l

mg/l

Golongan I

20

40

6–9

10,88

Golongan II

50

100

6–9

22

200

Golongan III

150

300

6–9

38

400

Golongan IV

300

600

6–9

75

500

50

100

6–9

-

100

-

6–9

-

Klasifikasi

Kawasan

pH

Anorganik
mg/l

Industri

Air Limbah
Domestik

Ket : untuk kualitas hasil olahan leachate menggunakan standar Kepmen LH No.112/2003.

SS
mg/l
100

200

100

20

3) Kuantitas Leachate
Perkiraan produksi merupakan salah satu dasar pertimbangan dalam
perencanaan untuk menentukan Tempat Pembuangan Akhir. Sehingga
nantinya dapat dibuat sistem dan rancangan dalam proses pengumpulan
serta pengolahan leachate. Dalam kaitannya dengan perencanaan sarana
dan prasarana sebuah TPA, harus mempunyai dua aspek yang dibutuhkan
dari sebuah lahan urug, yaitu :
 Adanya saluran penangkap dan pengumpul leachate, yang mempunyai
skala waktu dalam orde yang kecil (berskala jam) artinya saluran
tersebut hendaknya mampu menampung leachate maksimum yang
terjadi pada waktu tersebut.
 Adanya bangunan pengolahan leachate, yang biasanya mempunyai
orde dalam skala hari, dan dikenal dengan debit rata – rata harian.
F. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Lindi Pada TPA Sampah

IPAL adalah salah satu teknologi pengolahan limbah cair yang bertujuan
untuk menghilangkan / memisahkan cemaran dalam air limbah sebelum
dibuang ke lingkungan sampai memenuhi baku mutu lingkungan. Instalasi
pengolahan air limbah memiliki beberapa macam tempat pengelolaan yang
berbeda - beda, yakni IPAL berskala domestik / permukiman, IPAL untuk
industri, IPAL rumah sakit, IPAL untuk tempat pembuangan akhir (TPA),
serta instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT).

Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian
lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik

21

maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan diperlihara oleh
masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai
dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. IPAL yang
baik adalah IPAL yang memiliki kriteria :
 Sedikit memerlukan perawatan.
 Aman dalam pengoperasiannya.
 Less biaya energi.
 Less product excess (produk sampingan) seperti lumpur atau sludge IPAL.

1.

Unit IPAL Pada TPA Sampah
Menurut Aluko et al. (2003) cara pengolahan air lindi yang efektif,
murah dan ramah lingkungan adalah pengolahan kimia (netralisasi,
oksidasi, flokulasi), filtrasi kerikil (biofilter), bak stabilisasi (bak
anaerobik, fakultatif, maturasi) dan wetland. Permasalahan dalam
operasional IPAL lindi biasanya adalah pengoperasian yang tidak benar
karena tidak mengikuti kriteria standar desain dan SOP (standar
operasional dan prosedur) (Aluko, 2003). Berikut ilustrasi Bak stabilisasi
dapat dilihat pada Gambar 5.

(www.akvo.org)

Gambar 5. Ilustrasi Bak Stabilisasi Pada IPAL Lindi.

22

a.) Kolam anaerobik
Menurut Mara (1997), kolam anaerobik biasanya memiliki kedalaman
2-5 m dan menerima limbah dengan beban organik tinggi (biasanya
lebih besar dari 100g BOD/m3 hari ekivalen dengan lebih 3000
kg/hari untuk

kedaman 3m). Kolam anaerobik berfungsi untuk

mengolah cairan yang keluar dari kolam pengumpul yang masih
mengandung kandungan BOD relatif tinggi. Proses yang terjadi dalam
kolam ini adalah proses anaerobik (tanpa bantuan oksigen), sehingga
kedalaman kolam ini dibuat sedemikian rupa dan pada permukaan
dibiarkan terbentuk kerak buih sebagai pencegah masuknya sinar
matahari ke dalam kolam.

b) Kolam Aerobik
Kolam aerobik, juga disebut sebagai kolam aerobik tingkat tinggi.
Kolam ini relatif dangkal dengan kedalaman biasanya berkisar antara
0,3 sampai 0,6 m (1 sampai 2 ft) sehingga memungkinkan cahaya
untuk menembus lapisan air hingga bagian dasar kolam. Hal ini
menjaga agar DO tersebar di seluruh bagian kolam. Hal ini meransang
kinerja ganggang sehingga terjadinya kondisi anaerobik dapat
dicegah. DO pada air berasal dari proses fotosintesis yang dilakukan
oleh ganggang atau alga dan oksigen yang berasal dari permukaan
kolam.

Bakteri aerobik memanfaatkan dan menstabilkan kandungan organik
dalam air limbah untuk memperoleh nutrisi. Waktu tinggal (Hidraulic

23

Retention Time) di tambak adalah singkat, yaitu 3 sampai 5 hari.
Penggunaan kolam aerobik biasanya hanya terbatas pada daerah yang
beriklim hangat dan cerah, terutama di mana tingkat tinggi
penghapusan BOD diperlukan tapi ketersediaan lahan tidak terbatas.

c) Kolam Fakultatif
Kolam fakultatif berfungsi sebagai kolam stabilisasi yang menerima
air limbah yang sudah terolah di kolam anaerobik, dan mengalirkan
air yang sudah diolah ke selokan kering atau ke kolam maturasi.
Kedalaman biasanya 1-2 m (Standar Direktorat PLP PU).

d) Kolam Maturasi / Pematangan
Kolam maturasi / pematangan adalah kolam yang mengolah limbah
cair, terutama secara aerobik karena sebagian besar zat organik telah
terambil pada unit - unit anaerobik dan fakultatif, sehingga beban
organik pada kolam maturasi menjadi rendah. Kolam maturasi
menerima efluen yang berasal dari kolam fakultatif dan bertanggung
jawab terhadap kualitas dari efluen akhir. Periode tinggal berkisar
antara 7-20 hari dengan kedalaman 1-1,5 meter. Fungsi utama kolam
maturasi adalah untuk menghilangkan bakteri atau mereduksi BOD,
COD, dan SS (padatan tersuspensi) serta bakteri coli.
e) Biofilter
Proses pengolahan air limbah dengan biofilter secara garis besar
dapat dilakukan dalam kondisi aerob, anaerob atau kombinasi
anaerob dan aerob. Proses aerobik dilakukan dengan kondisi adanya

24

oksigen terlarut di dalam reaktor air limbah. Sedangkan proses
kombinasi anaerob dan aerob merupakan gabungan proses anaerob
dan proses aerob.

Biofilter berfungsi untuk menampung air dari pengolahan leachate
yang berupa bidang rembes atau menyaring efluen. Kolam ini
merupakan bangunan pengolah terakhir sebelum air akan dibuang
ke Badan Air Penerima (BAP) dengan ketentuan yang dipakai,
sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Kedalaman yang
dipakai 2 m, sedangkan bahan terdiri dari batu, kerikil, ijuk, dan
pasir.

f) Contructed Wetland
Constructed wetland merupakan suatu rawa buatan yang di buat untuk
mengolah air limbah domestik, untuk aliran air hujan dan mengolah
lindi (leachate) atau sebagai tempat hidup habitat liar lainnya, selain
itu constructed wetland dapat juga digunakan untuk reklamasi lahan
penambangan atau gangguan lingkungan lainnya. Wetland dapat
berupa biofilter yang dapat meremoval sediment dan polutan seperti
logam berat. (wikepedia, 2007). Wetland memanfaatkan spesies
tumbuhan tertentu yang toleran dan merupakan tumbuhan lokal
dengan biaya yang minimal.

Bentuknya dapat berupa free flowing (aliran bebas) atau sub-surface
flow (aliran bawah tanah) yang disesain dengan kemiringan dasar
(slope) (1-4%) agar lindi dapat mengalir secara gravitasi keseluruh

25

sistem. Sub surface wetland didesain dengan menggunakan lapisan
gravel atau batu belah (split) yang diatasnya diberi lapisan pasir
sebagai media tanaman tumbuh. Ilustrasi Rawa buatan dapat dilihat
pada Gambar 6.

(EDIS Image Page).

Gambar 6. Rawa buatan aliran permukaan dan aliran bawah tanah.

g) Bak Kontrol / Monitoring
Fungsi dari bak kontrol adalah untuk mencegah adanya padatan yang
terbuang ke badan sungai, dan untuk memastikan jika air yang akan
dibuang sudah menurun kadar BOD maupun COD. Pada bak kontrol
dapat diberikan beberapa ikan kecil pada kolam, agar dapat
memastikan apakah efluen yang sudah diproses pada instalasi
pengolah lindi mengeluarkan hasil yang memenuhi baku mutu air.
Apabila ikan yang terdapat pada kolam sampai mati berarti efluen

26

belum bisa dibuang ke badan air penerima karena kadar efluen masih
tinggi.

h) Sumur Pantau
Sumur pantau berfungsi untuk mengontrol atau melihat apakah terjadi
pencemaran terhadap air tanah atau tidak pada suatu tempat
pembuangan akhir sampah dan setelah itu dilakukan uji laboratorium
terhadap kualitas air, agar yang berada disekitar TPA dapat digunakan
sebagaimana mestinya.

2. Perencanaan kapasitas IPAL
a) Perencanaan debit IPAL
Kapasitas rencana IPAL dihitung berdasarkan desain debit air limbah
sebagai berikut :
 Debit rata – rata harian (dengan infiltrasi).
 Debit harian maksimum (dengan infiltrasi).
 Debit jam minimum (dengan infiltrasi).
Desain debit tersebut, adalah debit air limbah pada ujung akhir pipa
induk yang menuju ke IPAL.
b) Proyeksi debit perencanaan
Kapasitas rencana IPAL di atas diproyeksikan untuk debit perencanaan
20 tahun sesuai periode perencanaan rencana induk.
c) Perencanaan debit pada masing – masing komponen
 Debit rata – rata : hanya pada unit – unit pengolahan kimia dan
sekunder (biologi).

27

 Debit harian maksimum : hanya pada unit –unit pengolahan primer.
 Debit jam maksimum : pada semua perpipaan unit – unit
pengolahan.

3. Perencanaan lokasi IPAL
Hal – hal yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan lokasi IPAL
adalah sebagai berikut :
 Lokasi IPAL harus sesuai dengan ketentuan tata ruang.
 Pemilihan

lokasi

IPAL

diujung

muara

pipa

induk

harus

mempertimbangkan aspek hidrolis dan aspek pembebasan lahan.
 Lokasi IPAL harus merupakan daerah bebas banjir untuk periode
ulang 20 tahun.

4. Kebutuhan lahan
i. Kebutuhan lahan untuk IPAL terdiri dari :
 Lahan untuk instalasi dan bangunan penunjang.
 Lahan untuk buffer zone (untuk penghijauan).
ii. Kebutuhan lahan untuk instalasi dihitung berdasarkan debit harian
maksimum yang diproyeksikan 20 tahun untuk penerapan IPAL
berbasis teknologi proses alamiah atau proses biologis yang efisien
dalam kebutuhan konsumsi listrik.
iii. Kebutuhan lahan untuk lahan penyangga (buffer zone) minimum harus
dipersiapkan seluas 50% dari kebutuhan luas lahan untuk instalasi.

28

5. Opsi Teknologi
Beberapa pilihan alternatif teknologi yang diterapkan di Indonesia adalah :
 Kolam Anaerobik, Fakultatif, Maturasi, dan Biofilter (alternatif 1).
 Kolam Anaerobik, Fakultatif, Maturasi, dan Landtreatment / Wetland
(alternatif 2).
 Kolam Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dengan Aerated Lagoon
(alternatif 3).
 Proses Koagulasi – Flokulasi, Sedimentasi, Kolam Anaerobik atau
ABR (alternatif 4).
 Proses Koagulasi – Flokulasi, Sedimentasi I, Aerated Lagoon,
Sedimentasi II (alternatif 5).

G. Baku Mutu Air

Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,
atau komponen yang ada dan atau harus ada unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya di dalam air. Akan tetapi air tersebut tetap dapat digunakan
sesuai dengan kriterianya. Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat)
kelas menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001,
yaitu :
1) Kelas satu yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air bakti
air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
2) Kelas dua yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana /
sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk

29

mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
3) Kelas tiga yaitu air yang peruntukannya
pembudidayaan ikan air

dapat digunakan untuk

tawar, peternakan, air untuk imengairi

pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang
sama dengan kegunaan tersebut.
4) Kelas empat yaitu air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
mengairi, pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.
Mengenai klasifikasi mutu air berdasarkan kelas air dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas.
KELAS

KETERANGAN

PARAMETER SATUAN
I

II

III

IV

FISIKA

Temperatur

Residu
Terlarut

Residu
Tersuspensi

o

C

mg/ L

mg/L

Deviasi temperatur
deviasi deviasi deviasi deviasi
dari keadaan
3
3
3
5
almiahnya
1000

50

1000

50

1000

400

2000

400

Bagi pengolahan air
minum secara
konvesional, residu
tersuspensi  5000
mg/ L

30

KIMIA ANORGANIK

pH

6-9

6-9

6-9

5-9

BOD

mg/L

2

3

6

12

COD

mg/L

10

25

50

100

DO

mg/L

6

4

3

0

Total Fosfat
sbg P

mg/L

0,2

0,2

1

5

NO 3 sebagai
N

mg/L

10

10

20

20

NH3-N

mg/L

0,5

(-)

(-)

(-)

Arsen

mg/L

0,05

1

1

1

Kobalt

mg/L

0,2

0,2

0,2

0,2

Barium

mg/L

1

(-)

(-)

(-)

Boron

mg/L

1

1

1

1

Selenium

mg/L

0,01

0,05

0,05

0,05

Kadmium

mg/L

0,01

0,01

0,01

0,01

Khrom (VI)

mg/L

0,05

0,05

0,05

0,01

Apabila secara
alamiah di luar
rentang tersebut,
maka ditentukan
berdasarkan kondisi
alamiah

Angka batas
minimum

Bagi perikanan,
kandungan amonia
bebas untuk ikan
yang peka  0,02
mg/L sebagai NH3

31

Tembaga

Besi

mg/L

mg/L

0,02

0,3

0,02

(-)

0,02

(-)

0,2

Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional, Cu 
1 mg/L

(-)

Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional, Fe  5
mg/L
Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional, Pb 
0,1 mg/L

Timbal

mg/L

0,03

0,03

0,03

1

Mangan

mg/L

0,1

(-)

(-)

(-)

Air Raksa

mg/L

0,001 0,002 0,002

0,005

Seng

mg/L

0,05

0,05

0,05

2

Khlorida

mg/l

600

(-)

(-)

(-)

Sianida

mg/L

0,02

0,02

0,02

(-)

Fluorida

mg/L

0,5

1,5

1,5

(-)

Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional, Zn 
 mg/L

Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional,
NO2_N  1 mg/L

Nitrit sebagai
N

mg/L

0,06

0,06

0,06

(-)

Sulfat

mg/L

400

(-)

(-)

(-)

Khlorin bebas

mg/L

0,03

0,03

0,03

(-)

Bagi ABAM tidak
dipersyaratkan

Belereng

mg/L

0,002 0,002 0,002

(-)

Bagi pengolahan air
minum secara

32

sebagai H2S

konvensional, S
sebagai H2S 1000
mg/L),
sedimentasi,
stabilisasi
influen.
2,5 – 5

1.

Fungsi

2.
3.

Kedalaman (m)
Removal BOD
50 – 85
(%)
Waktu Detensi
20 – 50
(hari)
Organic
224 – 560
Loading Rate
(kg/ha/hari)
pH
6,5 – 7,2
Bahan
Pasangan
Batu

4.
5.

6.
7.

Proses Pengolahan
Fakultatif
Maturasi
Removal
Removal
BOD
mikroorganisme
pathogen,
nutrien

Biofilter
Menyaring
effluen
sebelum
dibuang ke
badan air

1-2

1 – 1,5

2

70 - 80

60 - 89

75

5 - 30

7 – 20

3–5

56 - 135

< 17

< 80

6,5 – 8,5
Pasangan
Batu

6,5 – 10,5
Pasangan Batu

Psg. Batu,
Kerikil,
Ijuk, Pasir

39

Analisa data juga dimaksudkan untuk mengambil contoh air leachate
eksisting pada kolam pengolah yang ditinjau, guna mengetahui berapa nilai
pH, Do, Turbidity, Conduktivity, dan suhu eksisting. Dimana nilai tersebut
akan digunakan untuk menganalisa kualitas dari lindi, sehingga diharapkan
outlet dari instalasi pengolahan lindi dapat memenuhi kriteria baku mutu air
menurut Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001.

Apabila dari hasil analisis dimensi dan kapasitas tidak memenuhi kriteria
desain seperti waktu detensi, kedalaman, pH, dan lainnya, maka dapat
diberikan rekomendasi alternatif pengolahan lindi. Agar nantinya instalasi
pengolahan air lindi tidak hanya mampu menampung debit air lindi, tetapi
juga memiliki kemampuan mengolah air lindi dengan baik.

Metoda yang digunakan pada perhitungan perencanaan awal suatu timbulan
leachate, dan kolam pengolahnya adalah Metode Neraca Air (Water Balance
method). Metoda ini memprediksi banyaknya leachate yang timbul pada saat
atau setelah pengoperasian suatu landfill dan didasari oleh asumsi bahwa
leachate hanya dihasilkan dari curah hujan yang berhasil meresap masuk ke
timbunan sampah (perkolasi).
Leachate

= PERC = P – R/O – AET -  ST

Dimana : PERC = Perkolasi (tirisan) yang terjadi pada timbunan sampah.
P

= Prespitasi / peresapan.

R/O

= Limpasan air permukaan.

ΔST

= Perubahan kandungan air dalam air tanah dan sampah.

AET

= Evapotranspirasi.

40

Dari semua hasil analisa data yang sudah dilakukan, hasil analisa dapat
diberikan berupa kesimpulan dan saran terkait tentang instalasi pengelolaan
air limbah pada beberapa TPA di Provinsi Lampung.

V. PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari tinjauan dan kajian pada instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) lindi di beberapa tempat pembuangan akhir sampah Pro

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1887 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 496 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 438 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 263 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 579 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 508 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 322 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 499 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 590 23