Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum L.) di PG Madukismo PT Madubaru Yogyakarta dengan Aspek Khusus Manajemen Tebang Angkut Tebu.

i

PENGELOLAAN TANAMAN TEBU
(Saccharum officinarum. L) DI PG MADUKISMO
PT MADUBARU YOGYAKARTA DENGAN ASPEK KHUSUS
MANAJEMEN TEBANG ANGKUT TEBU

DINDA RIZKI AMALIA
A24080161

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Manajemen Tebang Angkut Tebu di PG Madukismo PT Madubaru
Managemen of Harvest and Transportation Sugarcane at PG Madukismo PT Madubaru
Dinda Rizki Amalia1, Purwono2
1

2

Mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB
Staf Pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB
Abstract

The objective of this internship is to increase technical and managerial skill. The
internship was conducted from February 13th until May 13th 2012 at PG Madukismo PT
Madubaru, Bantul, Yogyakarta. Observations made with the specific aspects of harvest and
transportation management. Particular aspect observed was losses and the percentage of
sugar cane trash. The results obtained from the observation is all the problems that occur
during harvest and transportation can be managed by applying the good practises of harvest
and transportation management. Harvest and transportation management is an activity in
organizing and putting things relating harvest and transportation according to the standards.
Losses in Bantul area larger than the area of Purworejo. Levels of impurities in PG
Madukismo percentage is still below the tolerance limit corporate standards. A proper
harvest system is consider terms of sugarcane milling capacity, the optimal maturity, state of
the plant, area conditions, weather and climate, the number of worker and transport
methods. Losses of sugarcane during harvest have effect on the productivity levels of sugar
that produced.
Keyword : harvest, transportation, management, trash

ii

RINGKASAN

DINDA RIZKI AMALIA. Pengelolaan

Tanaman Tebu (Saccharum

officinarum L.) di PG Madukismo PT Madubaru Yogyakarta dengan Aspek
Khusus Manajemen Tebang Angkut Tebu. (Dibimbing oleh PURWONO)
Pabrik gula (PG) Madukismo berdiri pada tahun 1955. Pabrik gula ini
merupakan perusahaan swasta di bawah pimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono
IX. PT Madubaru PG/PS Madukismo berdiri dari dua kepemilikan saham, yaitu
65% milik Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan 35% milik PT Rajawali
Nusantara Indonesia. PG Madukismo didirikan di lokasi bekas PG Padokan 5 km
di sebelah selatan Yogyakarta, tepatnya di Desa Padokan, Kelurahan
Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Pabrik
menempati areal seluas 276,000 m2 dengan luas bangunan 51,000 m2.
Berdasarkan letak geografi, PG Madukismo terletak antara 7°4‟ LU dan 8°20‟ LS
dan antara 110° dan 111° BT pada ketinggian 84 m dpl.
Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dalam setiap teknis budidaya dan manajemen di perkebunan serta
mengetahui bagaimana manajemen tebang angkut tebu yang baik dan benar.
Magang ini dilaksanakan mulai tanggal 13 Februari hingga 13 Mei 2012 di PG
Madukismo PT Madubaru, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan magang dilaksanakan
dengan menggunakan dua metode yaitu metode langsung dan metode tidak
langsung. Metode langsung meliputi beberapa kegiatan mengenai aspek teknis,
aspek manajerial, dan aspek khusus yang merupakan data primer dan diperoleh
secara langsung di lapangan. Metode tidak langsung yang dilakukan pada saat
magang adalah pengumpulan data-data sekunder PG Madukismo beserta studi
pustakanya.
Berdasarkan kegiatan manajemen tebang angkut tebu yang dilakukan di
lapangan, diperoleh data kehilangan hasil panen dan persentase kotoran tebu.
Kehilangan hasil panen tersebut diukur dari tebu tertinggal di lahan yang berupa
tunggul/tunggak. Hasil yang diperoleh adalah kehilangan hasil panen pada tebu
tertinggal di lahan daerah Bantul lebih besar dibandingkan dengan daerah

iii

Purworejo. Kehilangan hasil tebu pada saat tebang angkut berpengaruh pada
tingkat produktivitas gula yang dihasilkan. Hal lain yang berpengaruh pada
produktivitas gula dan tingginya nilai rendemen adalah kadar kotoran/trash pada
tebu siap giling. Persentase kotoran tebu di PG Madukismo masih di bawah batas
toleransi. Pelaksanaan tebang harus memperhatikan tingkat kebersihan dan
kesegaran tebu agar tebu layak giling yang diangkut ke pabrik memiliki
kandungan gula tinggi dan kotoran tidak banyak.
Suatu sistem penebangan yang tepat harus mempertimbangkan segi
kapasitas giling pabrik, kemasakan optimal, keadaan tanaman, kondisi areal,
cuaca dan iklim, jumlah tenaga dan alat angkut. Manajemen tebang angkut adalah
kegiatan dalam mengatur dan menempatkan hal-hal yang berkaitan dengan panen
dan tebang angkut sesuai dengan standar. Manajemen tebang angkut harus
dilakukan sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Keberhasilan
pemanenan ditentukan oleh manajemen tebang angkut yang baik dan kemampuan
divisi tebang angkut dalam mengelola semua kegiatan tebang angkut dan
mengatasi semua permasalahan yang ada di lapangan.

iv

PENGELOLAAN TANAMAN TEBU
(Saccharum officinarum. L) DI PG MADUKISMO PT MADUBARU
YOGYAKARTA DENGAN ASPEK KHUSUS MANAJEMEN TEBANG
ANGKUT TEBU

Skripsi sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

DINDA RIZKI AMALIA
A24080161

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

v

Judul

: PENGELOLAAN TANAMAN TEBU (Saccharum
officinarum. L) DI PG MADUKISMO PT
MADUBARU YOGYAKARTA DENGAN ASPEK
KHUSUS MANAJEMEN TEBANG ANGKUT TEBU

Nama

: DINDA RIZKI AMALIA

NRP

: A24080161

Menyetujui,
Pembimbing

Dr. Ir. Purwono, MS
NIP. 19580922 198203 1 001

Mengetahui,
Ketua Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Agus Purwito, MSc.Agr
NIP. 19611101 198703 1 003

Tanggal Lulus : . . . . .

vi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kota Sidendreng Rappang Makasar, Provinsi
Sulawesi Selatan pada tanggal 13 Agustus 1990. Penulis merupakan anak kedua
dari Bapak Didi Ruswandi dan Ibu Sundari.
Tahun 1995 penulis mengawali masa sekolah di TK/RA Yapisal Cianjur,
kemudian pada tahun 2001 penulis menyelesaikan studi di SD Ibu Dewi 1
Cianjur. Selanjutnya penulis lulus dari SLTPN 1 Warungkondang Cianjur pada
tahun 2005. Tahun 2008 penulis menyelesaikan studi di SMAN 1 Cilaku Cianjur
kemudian penulis di terima di IPB melalui jalur SNMPTN. Selanjutnya tahun
2009 penulis di terima sebagai mahasiswa Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian.
Selama menjadi mahasiswa pemulis aktif di berbagai organisasi
mahasiswa dan kegiatan kepanitian. Penulis adalah anggota OMDA HIMAT
(Organisasi Mahasiswa Daerah Himpunan Mahasiswa Cianjur). Tahun 2009/2010
menjabat sebagai Bendahara II Himagron (Himpunan Mahasiswa Agronomi dan
Hortikultura. Selain itu penulis menjabat sebagai staff PSDM Koperasi
Agrohotplate AGH pada periode 2009/2010 -2010/2011. Penulis juga mengikuti
beberapa kepanitiaan seperti staff Sponsorship IAC, CO Sponsorship AGS 2, staff
Logstran Festa (Festival Tanaman) dan Tegar (Temu Keluarga Alumni AGH).

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmatNya penulis dapat

menyelesaikan penyusunan tugas akhir skripsi

kegiatan

magang yang berjudul “Pengelolaan Tanaman Tebu (Saccharum officinarum.
L) di PG Madukismo PT Madubaru Yogyakarta dengan Aspek Khusus
Manajemen Tebang Angkut Tebu”.Ucapan terima kasih penulis ucapkan
kepada semua pihak yang membantu dalam penyelesaian kegiatan ini.
1. Ayah dan Ibu tercinta yang selalu mendoakan dan memberikan yang
terbaik untuk anak kebanggaannya serta kakak dan adik-adikku yang
senantiasa memberikan dukungan dan semangat selama ini.
2. Dr. Ir. Purwono MS. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah
memberikan nasehat dan saran selama bimbingan.
3. Dr. Dwi Guntoro, M.Si dan Dr. Ir. Herdhata Agusta, MS. sebagai dosen
penguji ujian yang telah memberikan saran.
4. Dr. Ir. Trykoesoemaningtyas, MSc. selaku dosen pembimbing akademik
yang telah mengarahkan selama program studi serta membantu dalam
keperluan beasiswa.
5. Direksi PG Madukismo PT Madubaru yang telah memberi izin magang.
6. Ir. Nugroho selaku jajaran Direktur PG Madukismo PT Madubaru.
7. Syaeful Anam SP. MM. Selaku kepala Bina Sarana Tani yang telah
membimbing baik secara teori maupun secara praktik di lapang selama
magang.
8. Pak Ponido dan Bu Ponido sebagai bapak dan ibu kos selama di lokasi
magang.
9. Dini Rosdianingsih dan Ahmad Hanif Fadil sebagai Partner satu
bimbingan yang telah menemani dan sama-sama berjuang dalam tugas
akhir ini.
10. Farmita, Ratih, Pipit, Hesti, dan Alma sebagai sahabat yang selalu
memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi.

viii

11. Muhamad Ismail sebagai seseorang yang menjadi penyemangat dan
motivator serta memberikan saran-saran yang membangun dalam
penyelesaian skripsi.
Penulis merasa masih banyak terdapat kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi dalam penyusunan laporan skripsi ini. Penulis berharap
dengan tulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan dan semoga
Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan
bantuan dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa
Robbal „Alamiin.

Bogor, November 2012

Penulis

ix

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................

x

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

xii

PENDAHULUAN ......................................................................................
Latar Belakang ................................................................................
Tujuan .............................................................................................

1
1
2

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................
Syarat Tumbuh Tanaman Tebu .......................................................
Proses Pemasakan Tanaman Tebu ..................................................
Tebang Angkut Tanaman Tebu .......................................................
Trash/kotoran dan Tebu Tertinggal ................................................

3
3
3
4
5

METODE MAGANG .................................................................................
Waktu dan Tempat ..........................................................................
Metode Pelaksanaan ........................................................................
Pengumpulan Data ..........................................................................
Analisis Data ...................................................................................

6
6
6
7
8

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN .......................................................
Sejarah Singkat Perusahaan ............................................................
Visi dan Misi Perusahaan ................................................................
Letak Geografi ................................................................................
Keadaan Iklim dan Tanah ...............................................................
Luas Areal dan Wilayah Kerja ........................................................
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan Perusahaan ....................
Keadaan Tanaman dan Produksi .....................................................

9
9
11
11
12
13
13
17

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG ..............................................
Aspek Teknis ...................................................................................
Aspek Manajerial ............................................................................
Pengolahan Hasil Tebu ...................................................................

20
20
42
44

HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................................
Pola Kemitraan Pabrik Gula dengan Petani ....................................
Manajemen Tebang Angkut ............................................................
Sumber Daya Manusia (SDM) ........................................................
Kehilangan Hasil Tebu di Areal Lahan ...........................................
Kadar Kotoran/ Trash .....................................................................
Pengaruh Curah Hujan ....................................................................

50
50
51
60
60
63
64

KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................................
Kesimpulan .....................................................................................
Saran ................................................................................................

66
66
67

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

68

x

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Daftar luas areal tebu rakyat kerjasama di PG Madukismo .......................

12

2. Daftar luas areal tebu rakyat kerjasama binaan di PG Madukismo ...........

13

3. Jadwal jam kerja khusus mandor ...............................................................

17

4. Produksi PG Madukismo lima tahun terakhir ............................................

18

5. Varietas yang dikembangkan PG Madukismo ...........................................

18

6. Standar mutu bibit tebu ..............................................................................

26

7. Kesesuaian varietas terhadap tipologi wilayah. .........................................

27

8. Aplikasi jenis dan herbisida musim tanam 2011/2012. .............................

31

9. Data Gulma Dominan di Wilayah PG Madukismo....................................

31

10. Asumsi perhitungan skor tebang ................................................................

56

11. Rata-rata kehilangan hasil panen di wilayah Purworejo ............................

61

12. Rata-rata kehilangan hasil panen di wilayah Bantul ..................................

61

13. Hasil Uji t-student kehilangan hasil panen tebu pada dua wilayah ............

62

14. Hasil konversi kehilangan hasil panen tebu ...............................................

63

15. Koreksi kotoran pada tebu yang akan digiling ...........................................

64

16. Persentase kotoran tebu yang akan digiling ...............................................

64

17. Hasil uji korelasi curah hujan terhadap produktivitas tebu, rendemen,
dan produksi hablur. ..................................................................................

65

xi

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1. Lahan yang telah diolah. ............................................................................

20

2. Got mujur ...................................................................................................

22

3. Tebang bibit ...............................................................................................

24

4. Angkut bibit yang sudah dipanen ...............................................................

24

5. Pengklentekan bibit tebu ............................................................................

25

6. Pemotongan bibit bagal ..............................................................................

25

7. Penanaman secara over lapping .................................................................

28

8. Penutupan bibit ..........................................................................................

28

9. Bibit tebu dederan ......................................................................................

29

10. Pemupukan madros ....................................................................................

30

11. Hama uret ( Lepidiota stigma F. ) ..............................................................

33

12. Hama penggerek pucuk tebu ......................................................................

34

13. Pemasangan pias ........................................................................................

34

14. Hama penggerek batang tebu .....................................................................

35

15. Kegiatan budidaya tanaman keprasan ........................................................

36

16. Tebu tertinggal di lahan berupa tunggak. ...................................................

40

17. Alur tebang angkut tebu .............................................................................

60

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Halaman

1. Jurnal harian kegiatan magang di PT Madubaru PG Madukismo ..............

71

2. Analisis usahatani tanaman pertama (PC) ..................................................

79

3. Data curah hujan PG Madukismo ...............................................................

80

4. Peta wilayah kerja PT Madubaru PG Madukismo bagian Sleman ............

81

5. Peta wilayah kerja PT Madubaru PG Madukismo bagian Bantul...............

82

6. Peta wilayah kerja PT Madubaru PG Madukismo bagian Kulon Progo .....

83

7. Peta wilayah kerja PT Madubaru PG Madukismo bagian Purworejo.........

84

8. Peta wilayah kerja PT Madubaru PG Madukismo bagian Magelang .........

85

9. Struktur organisasi di PT Madubaru PG Madukismo .................................

86

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tebu adalah salah satu bahan utama dari gula sedangkan gula merupakan
bagian dari komoditas sembilan bahan kebutuhan pokok. Kebutuhan gula nasional
diperkirakan mencapai 5.7 juta ton di tahun 2014. Sementara itu, produksi gula
nasional dua tahun terakhir masing-masing tahun 2009 sebesar 2.6 juta ton dan
tahun 2010 sebesar 2.29 juta ton. Upaya program swasembada gula nasional
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut. Salah satu misi untuk
mencapai swasembada gula nasional adalah dengan cara revitalisasi sektor onfarm yaitu perluasan areal dan peningkatan produktivitas gula. Salah satu cara
peningkatan produktivitas gula ialah menerapkan sistem budidaya tanaman tebu
yang baik dan benar (Ditjenbun, 2011).
Sistem budidaya tanaman tebu yang baik dan benar memperhatikan segala
aspek mulai dari pemilihan varietas yang unggul, pemeliharaan tanaman tebu
yang intensif hingga prosedur penebangan yang sesuai jadwal. Adapun tahapan
teknik budidaya tanaman tebu yang dilakukan ialah mulai dari persiapan lahan,
pemeliharaan tanaman seperti pemupukan, pengendalian hama dan penyakit,
pengendalian gulma, pengklentekan dan lain sebagainya tebu hingga masuk ke
tahap panen.
Kegiatan teknik budidaya tanaman tebu yang sangat berpengaruh terhadap
nilai kualitas dan kuantitas tebu salah satunya adalah pada saat tebang angkut.
Dalam menentukan manajemen tebang angkut yang baik, pihak manajemen perlu
menentukan dan memperhitungkan areal dan luasan yang hendak ditebang sesuai
perkiraan produktivitasnya hingga memenuhi target giling di pabrik. Manajemen
tebang angkut yang dilakukan dengan tepat dan baik akan menghasilkan tebu
manis, bersih, dan segar (MBS).
Hubungan koordinasi antara produksi tebu per hektar di lapangan dengan
kapasitas giling di pabrik merupakan kunci utama dalam menjaga kualitas dan
keberlanjutan produksi gula. Kegiatan giling tebu akan optimal dan efisien jika
jumlah tebu yang dikirim memenuhi kapasitas giling yang diharapkan. Selama
musim giling, pengelolaan tebang angkut harus ada di dalam satu tangan dengan

2

pengelolaan pabrik atau paling sedikit ada di bawah satu komando sehingga
penyediaan tebu atau jumlah tebu yang ditebang sesuai dengan kebutuhan pabrik.
Kesulitan dalam penebangan/pengangkutan yang akan menyebabkan tertundanya
tebu giling atau kekurangan tebu harus segera diinformasikan pada pengelola
sehingga dapat segera diambil jalan pengamanan (P3GI, 2008). Oleh karena itu
manajemen tebang angkut tebu harus benar-benar diperhatikan.

Tujuan
Tujuan dari kegiatan magang ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan
khusus. Secara umum kegiatan magang ini bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan penulis dalam setiap aspek teknis budidaya dan
manajemen di perkebunan tebu. Secara khusus kegiatan magang ini bertujuan
untuk mempelajari manajemen tebang angkut tebu yang baik dan benar di PG
Madukismo.

3

TINJAUAN PUSTAKA

Syarat Tumbuh Tanaman Tebu
Keberhasilan penyesuaian budidaya tebu ditentukan oleh kesesuaian tebu
terhadap kondisi iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian
pengelolaan tebu dengan topografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan
keterbatasan tenaga sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan
kesesuaian tebu menuju pertanian berkelanjutan. Curah hujan bulanan ideal untuk
pertanaman tebu adalah 200 mm/bulan pada 5-6 bulan berturut-turut, 125
mm/bulan pada dua bulan transisi dan kurang 75 mm/bulan pada 4-5 bulan
berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman
tebu adalah tipe iklim C2 dan C3.
Lahan kering umumnya memiliki tingkat kesuburan relatif rendah.
Kebanyakan pengembangannya dilakukan pada daerah dengan topografi tidak
rata, peka terhadap erosi dan kerusakan lainnya. Titik kritis dari pengelolaan tebu
lahan kering yaitu kondisi kekeringan yang kelak akan berdampak terhadap
penurunan produksi tebu per hektar, terutama pada fase pembentukan gula
maupun fase pematangan. Kondisi tersebut berdampak terhadap penurunan
produktivitas gula persatuan luas secara signifikan meskipun secara kuantitas
rendemen (kandungan gula persatuan bobot tebu) meningkat (Irianto, 2003).
Proses Pemasakan Tanaman Tebu
Proses pemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas.
Tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang bersangkutan. Tebu yang sudah
mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam kecuali
beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang. Panen dilakukan dengan cara
ditebang. Usahakan agar tebu di tebang saat rendemen pada posisi optimal yaitu
umur sekitar 10 bulan atau tergantung jenis tebu (Suwarto, 2010). Gula terbentuk
pada fase pemasakan hingga titik optimal, kurang lebih terjadi pada bulan
Agustus. Proses pemasakan tebu berjalan dari ruas ke ruas tetapi derajat
kemasakannya setiap ruas memiliki sifat tersendiri sesuai dengan umurnya. Ini

4

berarti pada tanaman tebu yang masih muda, ruas-ruas bagian bawah mengandung
kadar gula yang relatif tinggi daripada bagian atasnya. Pada umumnya tebu masak
pada umur 12-16 bulan (Notojoewono, 1981).
Masa pemasakan tebu adalah suatu gejala bahwa pada akhir dari
pertumbuhannya terdapat timbunan sukrosa di dalam batang tebu. Pelaksanaan
tebang yang tampaknya belum cukup siap dalam segi teknis dan pengelolaannya
cenderung mengakibatkan semakin merosotnya mutu tebangan. Hal itu dapat
merugikan petani maupun proses pengolahan di pabrik (Adisasmito,1984).
Analisis tingkat kemasakan tebu dilaksanakan terus menerus selama tahun giling
dan beberapa bulan sebelumnya. Perubahan tingkat kemasakan tebu dapat
diketahui dari data hasil analisis tebu dari berbagai areal yang pengambilan
contohnya ditentukan dari peta tanaman (Moerdokusumo, 1993).
Tebang dan Angkut Tanaman Tebu
Pola penebangan yang baik adalah: 1) penebangan disesuaikan dengan
pola tebang, 2) di dalam surat pengiriman tebu harus dicantumkan nama kebun,
golongan tanaman, luas lahan, nomor kontrak, dan nama ketua kelompok, 3) di
dalam satu kebun, pada waktu bersamaan tidak boleh lebih dari dua monster vak
yang ditebang, 4) tiap monster vak yang ditebang dalam satu hari usahakan
minimal terdapat delapan lori dalam satu deretan, 5) penulisan data tebu harus
benar (Nitiadiwidjojo, 1984).
Sistem tebangan berhubungan dengan cara-cara praktis di lapang untuk
memanen tebu. Pelaksanaan sistem tebang, muat, angkut dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor terutama dalam penentuan jadwal tebang (T-Score) yang meliputi
masa tanam, selisih harkat kemurnian bawah dan harkat kemurnian atas,
rendemen rata-rata, selisih antara rendemen atas dan bawah, faktor kemasakan,
koefisien peningkatan, koefisien daya tahan, hama penggerek pucuk, kondisi
tanaman, dan jarak. Layout kebun, prasarana (kondisi jalan, jembatan), topografi,
iklim dan cuaca, dan peralatan penanggulangan kebakaran menentukan sistem
tebangan yang akan digunakan (Supatma, 2008).

5

Trash/kotoran dan Tebu Tertinggal
Kebersihan tebu hasil pemanenan sangat berperan penting terhadap nilai
rendemen. Semakin besar persentase kotoran yang terdapat pada tebu yang akan
digiling maka rendemen yang dihasilkan akan menurun.Trash/kotoran adalah
segala sesuatu yang tidak mengandung gula yang melekat pada tanaman tebu.
Beberapa hal yang termasuk ke dalam Trash/kotoran meliputi kelaras (kelopak
daun) daun kering/hijau, sogolan yang kurang dari 1.5 m, pucuk, akar, tali ikat,
dan tebu mati. Trash/kotoran dinyatakan dengan nilai EM (Extraneous Matter)
yaitu persentase dari bobot kotoran dibanding dengan bobot tebu. Berdasarkan
kriteria di lapangan dinyatakan tebu bersih bila EM<5% (Haryanti, 2008).
Kotoran bersabut (seperti daun, pucuk, kelaras, akar, sogolan, gulma,
kayu) akan menurunkan rendemen tebu karena akan menaikkan kadar sabut dan
menurunnya kadar nira tebu. Ini berarti sebagian gula yang seharusnya dapat
diperoleh hilang dalam ampas. Kotoran tidak bersabut ( tanah, pasir, batu, bahan
logam) mungkin tidak larut akan tetapi dapat merusak peralatan gilingan sehingga
dapat menurunkan keragaan peralatan tersebut dan menambah biaya untuk
perbaikan (Mochtar, 1989).
Tebu tertinggal yang biasa terjadi di lapangan berupa tunggul, yaitu sisa
tebu akibat tebangan yang melebihi tinggi standar tebangan. Tunggul merupakan
masalah yang harus dipecahkan karena merupakan bagian yang memiliki kadar
gula tinggi. Ketinggian tunggul maksimal yang diperbolehkan adalah 5 cm
(Supatma, 2008).

6

METODE MAGANG

Waktu dan Tempat
Kegiatan magang dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan
Februari sampai dengan bulan Mei 2012. Lokasi magang adalah di wilayah kerja
PG Madukismo PT Madubaru, Yogyakarta.
Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan kegiatan magang ini yaitu pelaksanaan kegiatan
teknis lapang. Pada pelaksanaan kegiatan teknis lapang mahasiswa bekerja secara
langsung di lapang. Adapun kegiatan yang dilakukan sesuai dengan tahap
manajerial, seperti pelaksana lapang, pendamping mandor, pendamping asisten,
hingga pendamping kepala kebun. Kegiatan magang tersebut dilaksanakan selama
tiga bulan dengan melaksanakan kegiatan tiga minggu sebagai karyawan harian
lepas (KHL), tiga minggu selanjutnya sebagai pendamping mandor, dan enam
minggu terakhir sebagai pendamping asisten.
Kegiatan pada tiga minggu pertama magang adalah melaksanakan kegiatan
sebagai karyawan harian lepas (KHL). Beberapa kegiatan yang dilakukan pada
saat menjadi KHL ini seperti penanaman, pemupukan, pengendalian gulma,
pengairan, pengklentekan daun, penebangan tebu, penggilingan tebu dan teknik
budidaya lainnya.
Pada tiga minggu berikutnya, kegiatan yang dilaksanakan sebagai
pendamping mandor dalam melaksanakan aspek manajerial selama satu bulan.
Selama menjadi pendamping mandor, penulis turut bertugas memberikan
pengarahan kerja kepada karyawan, mengatur dan mengawasi pekerjaan
karyawan, melakukan check roll dan mengisi buku kerja mandor (BKM).
Memasuki enam minggu terakhir magang kegiatan yang dilaksanakan
yaitu sebagai pendamping mandor I, dan bertugas mengontrol pekerjaan mandormandor dan

karyawan. Selanjutnya, dua minggu terakhir dibulan

ketiga,

akhirnya bertugas sebagai pendamping asisten. Tugasnya yaitu, melakukan
kegiatan

kontrol lapangan, mempelajari aspek

manajerial dan administrasi

7

tingkat divisi dan kebun. Selain itu juga melaksanakan kegiatan yang berkaitan
dengan aspek khusus. Aspek khususnya dalam hal ini ialah penentuan masa
tebang tebu. Pengelolaan aspek khusus tersebut akan dibandingkan dengan hasil
data

bulanan

atau

tahunan

di

perusahaan

untuk

mengetahui

tingkat

produktivitasnya.
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan terdiri atas dua bagian yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan terhadap
semua kegiatan yang berlangsung di kebun. Data primer ini diambil untuk
mengetahui berapa banyak persentase kehilangan hasil tebu pada saat tebang
angkut. Data di ambil dari dua wilayah yang berbeda (Purworejo dan Bantul)
dengan masing-masing wilayah terdiri dari tiga kebun sebagai ulangan dengan
varietas sama. Pada satu kebun diamati tiga petakan. Setiap petakan diamati lima
juringan dengan panjang 2 m tiap juringan dengan selisih 2 m di setiap juringan.
Adapun data primer yang telah diamati adalah pengukuran kehilangan hasil.
Data sekunder ini diperoleh dari Laporan Tahunan, Laporan Semesteran,
ataupun Laporan Triwulanan berdasarkan data manajemen PG Madukismo
tersebut. Selain itu diperoleh data informasi mengenai letak geografis dan
topografi, kondisi lahan, kondisi iklim, kondisi umum tanaman, dan sejarah
perusahaan. Semua hal tersebut dibutuhkan untuk menunjang perolehan hasil data
terhadap aspek yang diamati. Data yang diperoleh ini dibandingkan dengan
standar perusahaan sehingga naik turunnya kinerja PG tersebut dapat diketahui.
Selain data primer dan data sekunder yang diamati, pengumpulan data
dilakukan dengan cara sharing dan wawancara dengan karyawan pabrik bagian
tanaman di pabrik seperti bagian laboratorium HPT dan Bina Sarana Tani maupun
di lapang seperti buruh, mandor, dan sinder wilayah. Data pendukung ini
merupakan informasi tentang budidaya tebu di lapang dan sistematis kinerja
karyawan pabrik bagian tanaman yang dilakukan di PG Madukismo.

8

Analisis Data
Seluruh data yang diperoleh dari kegiatan

magang ini dianalisis

menggunakan rata-rata, persentase, dan analisis dengan statistika deskriptif. Data
yang diperoleh dari menghitung kehilangan hasil tebu antara dua wilayah yang
berbeda dianalisis dengan Uji t-student dengan taraf 5%. Dilakukan uji korelasi
antara curah hujan 15 tahun terakhir dengan data produktivitas PG Madukismo
lima tahun terakhir.

9

KEADAAN UMUM PERUSAHAAN

Sejarah Singkat Perusahaan
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda di sekitar DIY terdapat 17
pabrik gula antara lain PG Padokan, PG Ganjuran, PG Gesikan, PG Kedaton, PG
Cebongan, dan PG Medari yang pengelolaannya di lakukan oleh pemerintahan
Hindia Belanda. Pada saat itu kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda sangat
dominan baik di dalam dunia usaha/ bisnis maupun dalam dunia politik/
pemerintahan. Pengelolaan ini tidak berlangsung lama karena tentara Jepang
menduduki wilayah RI pada tahun 1942 sehingga pabrik-pabrik tersebut di ambil
alih oleh Jepang.
Pada masa perkembangan kepemilikan pemerintah Jepang, pabrik-pabrik
gula mengalami kemunduran yang parah karena areal penanaman tebu
dialihfungsikan untuk menanam palawija dan padi demi keperluan tentara jepang.
Keadaan ini berlangsung hingga diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia.
Sejak saat itu pemerintah RI merekrut semua pabrik gula tersebut dari tangan
Jepang dan dibumihanguskan. Hingga sampai tahun 1950 seluruh pabrik gula
hanya tinggal sisa dan puing-puingnya saja. Setelah pemerintahan berjalan dengan
normal dan keamanan pulih kembali, Sri Sultan

Hamengkubuwono IX

memprakarsai didirikannya pabrik gula yang kemudian lebih di kenal dengan “PT
Madubaru PG/PS Madukismo”. PT Madubaru PG/PS Madukismo memiliki dua
pabrik, yaitu Pabrik Gula Madukismo (PG Madukismo) dan Pabrik Spirtus
Madukismo (PS Madukismo). Selain itu Sri Sultan Hamengkubuwono IX
membangun pabrik gula dengan tujuan:
1. Untuk menampung para buruh bekas pabrik gula yang kehilangan
pekerjaannya.
2. Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
3. Menambah penghasilan pemerintah baik pusat maupun daerah.
Pada tahun 1945 PG/PS Madukismo mulai di bangun dengan Machine
Fabrick Sangerhausen dari Jerman Timur sebagai kontraktor utamanya.
Peresmian PT. Madubaru PG/PS Madukismo dilaksanakan pada tanggal 28 Mei
1958 oleh presiden RI pada waktu itu adalah Ir. Soekarno. Pada awal berdiri

10

status perusahaan berbentuk PT (Perseroan Terbatas) yang berdiri pada tanggal 14
Juni 1955 dengan di beri nama PT Madubaru PG/PS Madukismo.
Pada tahun 1962 pemerintahan RI mengambil alih semua perusahaan
perkebunan yang ada di Indonesia, baik milik asing, swasta maupun semi swasta.
Sejak saat itu status PT Madubaru PG/PS Madukismo berubah menjadi
perusahaan negara (PN) di bawah BPUPPN (Badan Pemimpin Umum Perusahaan
Perkebunan Negara). Serah terima PT Madubaru PG Madukismo kepada
pemerintah

RI

dilakukan

tanggal

11

maret

1962

oleh

Sri

Sultan

Hamengkubuwono IX selaku Presiden Direktur PT Madubaru PG/PS Madukismo
pada waktu itu. Tahun 1966 BPUPPN dibubarkan, sehingga PT Madubaru PG/PS
Madukismo di beri kebebasan untuk memilih tetap sebagai Perusahaan Negara
atau ingin menjadi perusahaan swasta. PT Madubaru PG/PS Madukismo memilih
menjadi perusahaan swasta sehingga statusnya kembali menjadi Perseroan
Terbatas (PT) Madubaru PG/PS Madukismo dengan susunan Direktur yang
dipilih adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Presiden Direkturnya.
Pada tanggal 4 Maret 1984 PT Madubaru PG/PS Madukismo mengadakan
kontrak pengelolaan manajemen dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).
RNI merupakan salah satu badan usaha milik negara (BUMN) di bawah
Departemen Keuangan RI. Kontrak pengelolaan manajemen antar PT Madubaru
PG/PS Madukismo dengan PT Rajawali Indonesia (RNI) ini berlaku dalam jangka
wangku 10 tahun dan kemudian pada tanggal 1 April diperbaharui kembali
kontrak pengelolaan manajemen sampai 31 Maret 2004.
PT Madubaru PG/PS Madukismo berdiri dari dua kepemilikan saham,
yaitu 25% milik Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan 75% milik pemerintahan RI
yang dikuasakan kepada Departemen Keuangan RI. Pada tanggal 10 Maret 1997
terjadi perubahan pada kepemilikan saham, yaitu 65% milik Sri Sultan
Hamengkubuwono IX dan 35% untuk PT Rajawali Nusantara Indonesia.
Akhir-akhir ini perusahaan dapat berjalan lancar yang disertai perubahan
beberapa alat pada proses pengolahan seperti penambahan penggunaan Rotary
Vacum Filter, Unigerator dan lain sebagainya. Perubahan alat ini bertujuan untuk
meningkatkan mutu produk dan kapasitas giling sehingga diharapkan produksi per
tahun meningkat.

11

Visi dan Misi Perusahaan
Visi
Menjadikan PT. Madubaru (PG/PS Madukismo) perusahaan Agro Industri
yang unggul di Indonesia dengan menjadikan petani sebagai mitra sejati.
Misi
- Menghasilkan Gula dan Ethanol yang berkualitas untuk memenuhi permintaan
masyarakat dan industri di Indonesia.
- Menghasilkan produk dengan memanfaatkan teknologi maju yang ramah
lingkungan, dikelola secara profesional dan inovatif, memberikan pelayanan
yang prima kepada pelanggan serta mengutamakan kemitraan dengan petani.
- Mengembangkan produk/bisnis baru yang mendukung bisnis inti
- Menempatkan karyawan dan stake holders lainnya sebagai bagian terpenting
dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan pencapaian stake holder
values.
Letak Geografi
Pabrik gula Madukismo didirikan di lokasi bekas PG Padokan 5 km di
sebelah selatan Yogyakarta, tepatnya di Desa Padokan, kelurahan Tirtonirmolo,
Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. Pabrik menempati areal
seluas 276,000 m2 dengan luas bangunan 51,000 m2. Lokasi yang sama juga
terdapat pabrik alkohol dan spirtus Madukismo. Keduanya ada di bawah satu
perusahaan yaitu PT. Madubaru. Berdasarkan letak geografi, PG Madukismo
terletak antara 7°4‟ LU dan 8°20 LS

dan antara 110° dan 111° BT pada

ketinggian 84 m di atas permukaan air laut.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam memilih lokasi industri
adalah tersedianya bahan baku dan bahan penunjang tenaga kerja, area pemasaran,
dan sarana transportasi. Berdasarkan tinjauan tersebut maka PG. Madukismo
memiliki posisi yang strategis, hal ini karena :

12

1. Letak pabrik berdekatan dengan lokasi bahan baku tebu dimana lahan
perkebunan tebu yang ada cukup luas dan didukung oleh keadaan tanah dan
iklim yang cocok untuk tanaman tebu.
2. Tenaga kerja yang tersedia cukup banyak, terutama untuk karyawan musiman
yang berasal dari daerah di sekitar pabrik dengan upah yang relatif murah.
3. Sarana transportasi seperti rel untuk lori dan jalan raya untuk truk pengangkut
yang memadai sehingga transportasi bahan dan hasil produksi berjalan dengan
lancar.
4. Pabrik gula memerlukan banyak air untuk menghasilkan uap. Kebutuhan air
dapat di penuhi dari sungai Winongo yang dekat dengan lokasi pabrik.
Keadaan Iklim dan Tanah
Wilayah PG Madukismo memiliki curah hujan rata-rata 2,143 mm/tahun
dan BK (Bulan Kering) pada bulan Juni-September serta BB (Bulan Basah) antara
November-April (Lampiran 3). Adapun jika dilihat berdasarkan kondisi tanahnya
PG Madukismo memiliki topografi yang beragam dari datar hingga berbukit
dengan kemiringan 3–8 derajat. Keadaan lahan di PG Madukismo terbagi ke
dalam enam jenis lahan dengan sebagian besar termasuk ke dalam tanah berat
berpengairan lancar (TBPL). Keadaan lahan yang sesuai di PG Madukismo dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Daftar luas areal tebu rakyat kerjasama di PG Madukismo
Keterangan
Tanah Berat Pengairan lancar (TBPL)
Tanah Berat Pengaian Tidak Lancar (TBPTL)
Tanah Ringan Pengairan Lancar (TRPL)
Tanah Ringan Pengairan Tidak Lancar (TRPTL)

Luas (Hektar)
1,122.46
109.40
631.67
-

Tanah Sedang Pengairan Lancar (TSPL)
Tanah Sedang Pengairan Tidak Lancar (TSPTL)

631.70
38.75

Jumlah

2,533.98

Sumber : Bina sarana tani PT Madubaru PG Madukismo, Bantul (2012)

13

Luas Areal dan Wilayah Kerja
Pada dasarnya luasan lahan yang di tanami tebu di wilayah kerja PG
Madukismo rata-rata lahan Tebu Rakyat (TR). Satu-satunya lahan milik PG
Madukismo adalah kebun bibit Kembaran dengan luasan sekitar tiga hektar dan
selebihnya merupakan lahan sewa atau kerjasama dengan petani (kemitraan).
Total luas kebun bibit sekitar 200 ha yang terdiri dari tiga hektar lahan milik
pabrik sendiri yang digunakan untuk membudidayakan bibit pokok, bibit nenek,
serta bibit induk, dan sisanya adalah kerjasama dengan petani tebu rakyat lewat
program akselerasi. Keseluruhan areal KTG yang terdapat di wilayah PG
Madukismo tahun 2011/2012 merupakan TR (Tebu Rakyat) kerjasama yaitu
seluas 2,533.98 ha yang ditunjukan pada Tabel 2.
Tabel 2. Daftar luas areal tebu rakyat kerjasama binaan di PG Madukismo
Rayon
Luas (Hektar)
BGK (Bantul, Gunung Kidul)
1,103.20
Sleman
494.52
KMT (Kulonprogo, Magelang,
784.43
Temanggung
PKB ( Purworejo, Kebumen)
151.83
Jumlah
2,533.98
Sumber : Bina sarana tani PG Madukismo PT Madubaru, Bantul (2012)
Rayon BGK (Bantul, Gunung Kidul) memiliki areal yang lebih luas
dibandingkan keempat rayon di PG Madukismo dengan luas areal 1,103.20 ha
dari luas areal total 2,533.98 ha. Daerah Bantul merupakan daerah yang tanahnya
paling subur, sedangkan daerah Purworejo merupakan daerah yang tanahnya
kurang kandungan hara sehingga cenderung termasuk ke dalam tanah berpasir.
Struktur Organisasi dan Ketenagakerjaan Perusahaan
Struktur organisasi
PT Madubaru dipimpin seorang Direktur yang dalam menjalankan
tugasnya dibantu oleh satuan pengawasan intern (SPI), Kepala Bagian Tanaman,
Kepala Bagian Pabrikasi, Kepala bagian Instalansi, Kepala Bagian Akuntansi dan
Keuangan, Kepala Bagian SDM dan Umum dan Kepala Bagian Pabrik Spiritus.

14

Setiap perangkat perusahaan memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Berikut adalah tugas dan tanggung jawab masing-masing :
1. Direktur
Direktur memiliki fungsi sebagai pengelola perusahaan untuk melaksanakan
kebijakan rapat umum pemegang saham (RUPS). Berikut ini adalah tugas dari
direktur :
- Merumuskan tujuan perusahaan
- Menetapkan strategi untuk mencapai tujuan perusahaan
- Menyusun rencana jangka panjang
- Menetapkan kebijakan-kebijakan dan pedoman-pedoman penyusunan
anggaran tahunan
- Menetapkan rancangan Rapat Umum Pemegang Saham
- Melakukan manajemen yang meliputi keseluruhan kegiatan termasuk
keputusan dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Dewan Direksi.
- Bertanggung jawab kepada direksi dan semua faktor produksi
- Mengevaluasi hasil kerja pabrik setiap tahunnya.
2. Satuan Pengawasan Intern (SPI)
- Melakukan pengawasan melalui kegiatan audit, konsultasi, dan pembinaan
terhadap semua kegiatan dan fungsi organisasi
- Melakukan pengawasan atas pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan
atas persetujuan Direktur
- Melakukan audit investigasi terhadap aspek penuh dan bebas ke seluruh
fungsi, catatan, dokumen, aset, dan karyawan.
- Melakukan penugasan memiliki aspek penuh dan bebas keseluruh fungsi,
catatan, dokumen, aset, dan karyawan.
- Mengalokasikan sumber daya dan menentukan lingkup kerja serta
menerapkan teknik-teknik audit
- Memperoleh bantuan kerjasama dari personil di unit-unit perusahaan pada
saat melakukan pengawasan juga jasa-jasa khusus lainnya dari dalam
maupun luar perusahaan
- Menjadi counterpart bagi auditor eksternal dalam pelaksanaan tugasnya

15

3. Kepala Bagian Tanaman
Kepala Bagian Tanaman memiliki fungsi untuk membantu General
Manager dalam melaksanakan kebijakan Direksi dalam bidang-bidang berikut :
a. Penanaman dan penyediaan bibit tebu
b. Pemasukan areal Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)
c. Penyuluhan teknis penanaman tebu
d. Rencana tebang dan angkutan tebu
e. Kegiatan lain yang menyangkut penyediaan supply bahan baku berupa
tebu
f. Memimpin seksi-seksi yang berada dalam bagiannya guna mencapai
tujuan dan sasaran yang ditetapkan perusahaan
4. Kepala Bagian Instalasi
a. Bertanggung jawab kepada Direktur di bidang instalasi atau mesin
b. Mengkoordinir dan memimpin semua kegiatan di bidang instalasi
c. Meningkatkan efisiensi kerja alat produksi untuk kelangsungan proses
5. Kepala Bagian Pabrikasi
a. Bertanggung jawab kepada Direktur di bidang pabrikasi
b. Mengkoordinir dan memimpin semua kegiatan di bagian pabrikasi
c. Meningkatkan efisiensi proses dan menjaga kualitas produk (gula)
6. Kepala Bagian Pemasaran
a. Menyusun strategi pemasaran
b. Mengusahakan pengembangan pasar untuk produk-produk PT.
Madubaru
c. Mengadakan perbaikan sistem pemasaran
d. Menilai prestasi kerja staff pemasaran
e. Merencanakan dan mengawasi pengiriman barang dan proses
penagihan
7. Kepala Bagian Akuntasi dan Keuangan.
a. Bertanggung jawab di bagian tata usaha, keuangan, dan pengadaan
barang perusahaan
b. Mengkoordinir dan memimpin kegiatan di bidang keuangan, anggaran,
biaya produksi, kegiatan pembelian dan penjualan.

16

c. Mengkoordinir administrasi tebu rakyat dan timbangan tebu
d. Mengawasi hasil produksi di gudang gula
8. Kepala bagian Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum
a. Bertanggung jawab di bagian tata usaha dan personalia
b. Mengkoordinasi dan memimpin kegiatan pengolahan tenaga kerja dan
kesehatan karyawan
c. Mengkoordinir kegiatan pendidikan bagi karyawan
d. Bertanggung jawab pada kegiatan-kegiatan umum, seperti pengaturan
dan penggunaan kendaraan dan koordinasi keamanan perusahaan.
9. Kepala Bagian Pabrik Spiritus/Alkohol
a. Mengkoordinir kegiatan produksi spiritus dan alkohol
b. Melakukan evaluasi terhadap konsentrasi spiritus dan alkohol yang
diinginkan pasar
Struktur organisasi wilayah kerja PG Madukismo PT Madubaru dapat dilihat lebih
jelas pada Lampiran 5.
Ketenagakerjaan
Tenaga kerja merupakan salah satu unsur penting dalam melaksanakan
proses produksi di suatu perusahaan. Untuk meningkatkan produktivitas kerja para
karyawan, perusahaan harus memiliki manajemen pengendalian yang baik
terhadap tenaga kerjanya sehingga produksi perusahaan dapat ditingkatkan,
minimal dipertahankan sama dengan produksi periode sebelumnya.
Tenaga kerja di PT. Madubaru dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Tenaga kerja tetap
Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang dipekerjakan dalam waktu
yang tidak tentu dan saat dimulai hubungan kerja, diawali dengan masa
percobaan selama tiga bulan. Karyawan tetap bekerja sepanjang tahun selama
musim giling ataupun tidak. Tenaga kerja tetap dibedakan atas staff dan non
staff.
2. Tenaga kerja PKWT (Perjanjian Kontrak Waktu Tertentu)
Tenaga kerja PKWT ialah tenaga kerja yang dipekerjakan untuk jangka
waktu tertentu dan pada awal dimulainya hubungan kerja tanpa masa

17

percobaan kerja. Karyawan jenis ini biasanya akan melamar pada musim giling
dan bekerja dengan sistem kontrak hanya selama musim giling saja. Karyawan
tidak tetap dapat dibedakan lagi menjadi dua jenis, yaitu :
a. Karyawan PKWT dalam
Karyawan PKWT dalam bekerja pada bagian yang terlibat langsung dalam
proses produksi, seperti karyawan penimbangan tebu, karyawan unit gilingan,
dan karyawan unit masakan. Masa kerjanya ialah satu kali masa gilingan.
b. Karyawan PKWT luar
Karyawan musiman bekerja pada bagian sekitar amplasemen namun tidak
terlibat langsung dengan bagian proses produksi. Karyawan yang termasuk
jenis ini antara lain pekerja lintasan rel, pekerja derek tebu, supir, dan
pembantu supir traktor, juru tulis gudang, dan pekerja pengambil contoh tebu
untuk analisa laboratorium. Masa bekerjanya sama dengan karyawan PKWT
Dalam, yaitu satu kali masa gilingan.
Pada musim giling, PG. Madukismo beroperasi selama 24 jam dengan
pembagian tiga shift kerja untuk karyawan bagian pabrikasi. Berikut ini adalah
pembagian jam kerja untuk tiap shift (Tabel 3).
Tabel 3. Jadwal jam kerja khusus mandor
Shift
Pagi
Siang
Malam

Jam Mulai
05.30 WIB
13.30 WIB
21.30 WIB

Jam Selesai
13.30 WIB
21.30 WIB
05.30 WIB

Sumber : Bagian pabrikasi PG. Madukismo

Keadaan Tanaman dan Produksi
PG Madukismo juga memproduksi spirtus oleh karena itu pabrik tersebut
dinamakan PT Madubaru PG/PS Madukismo. Hasil produksi sampingan lainnya
yaitu berupa blotong, tetes, dan ampas tebu. Blotong ini biasa digunakan sebagai
pupuk organik yang biasa diaplikasikan saat pemeliharaan tanaman tebu di lahan.
Tetes digunakan sebagai bahan baku industri alkohol dan spirtus. Ampas tebu
biasanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar tambahan pabrik tersebut. Sebagai
bahan pertimbangan dan perbaikan PG Madukismo terdapat data hasil produksi

18

lima tahun terakhir yang merupakan suatu kinerja PG Madukismo dengan hasil
yang berfluktuatif. Hasil produksi tersebut dapat di lihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Produksi PG Madukismo lima tahun terakhir
Produksi Produktivitas
Rendemen
Tebu
Tebu
(%)
(Ku)
(Ku/ha)
2007 7,000.13 5,600,107
800
6.80
2008 6,114.29 4,585,734
750
7.37
2009 6,677.59 4,780,076
716
6.80
2010 6,597.92 5,234,137
793
5.66
2011 6,681.75 4,152,391
621
6.73
Sumber : Bina sarana tani PG Madukismo, Bantul (2012)

Tahun

Areal
(Ha)

Produksi
Hablur
(Ku)
381,068.24
337,968.32
325,042.75
296,398.10
279,456.20

Produktivitas
Hablur
(Ku/ha)
54.44
55.28
48.68
44.92
41.82

Tabel 4 menjelaskan bahwa produksi tebu PG Madukismo selama lima
tahun terakhir cenderung berfluktuatif. Pada tahun 2011 produktivitas tebu turun
dari 793 ku/ha menjadi 621 ku/ha. Hal ini dikarenakan curah hujan pada tahun
2010 tidak terdapat bulan kering yang menyebabkan produksi tebu menurun. Luas
areal keprasan yang meningkat pun menyebabkan produksi tebu menjadi semakin
menurun.
PG Madukismo menggunakan varietas bibit unggul untuk meningkatkan
kualitas dan kuantitas produksi tanaman tebu. Varietas yang digunakan
berdasarkan fase kemasakan tanaman tebu, yaitu fase masak awal, masak tengah
dan masak akhir. Berikut adalah tabel varietas yang dikembangkan PG
Madukismo.
Tabel 5. Varietas yang dikembangkan PG Madukismo
Masa Tanam
Masak Awal
Masak Awal Tengah
Masak Tengah
Masak Tengah Lambat
Masak Lambat

Varietas
PSCO 90-2411
PS-862
PS-851, PS-921, PA 198
PS-864
BL, PS-951

Masa Tebang
Mei
Juni
Juli
Agustus
September-Oktober

Sumber : Bina sarana tani PG Madukismo, Bantul (2012)

Sistem pengolahan lahan yang dilakukan di PG Madukismo menggunakan
sistem semi-reynoso (hanya sedikit bagian) dan sistem mekanisasi sedangkan
dalam penanaman, terdapat dua teknik penanaman, yakni tanaman baru (plant
cane) dan tanaman keprasan (ratoon cane). Tanaman pertama (PC) adalah

19

tanaman yang di tanam pada areal yang dilakukan pengolahan tanah terlebih
dahulu. Tanaman keprasan (RC) adalah tanaman yang tumbuh lagi setelah
tanaman tersebut dipanen/tebang.
Penanaman di PG Madukismo terdiri dari penanaman di Kebun Bibit dan
kebun tebu giling (KTG). Pada pembibitannya terdapat jenjang masing-masing
kebun bibit. Berikut adalah beberapa jenjang dalam pembibitan.
-

Kebun bibit pokok utama (KBPU)
Kebun Bibit Pokok Utama merupakan kebun bibit yang berasal dari P3GI
untuk ditanam pada kebun KBP milik litbang di pabrik.

-

Kebun bibit pokok (KBP)
Kebun Bibit Pokok merupakan kebun bibit tingkat I di pabrik gula untuk
ditanam kembali di kebun KBN dengan bulan tanam November/
Desember/ Januari/ Februari. Luas kebutuhan KBP tergantung luas areal
tebu giling dengan faktor penangkaran minimal kurang lebih 0.1% dari
luas areal tanaman PC tebu giling.

-

Kebun bibit nenek (KBN)
Kebun Bibit Nenek merupakan kebun pembibitan tingkat II di pabrik gula
untuk ditanam di kebun KBI dengan bulan tanam Juni/ Juli/ Agustus/
September. Luas kebutuhan KBN adalah 0.5% dari luas areal tanaman PC
tebu giling.

-

Kebun bibit induk (KBI)
Kebun Bibit Induk merupakan kebun pembibitan tingkat III di pabrik gula
untuk ditanam kembali di Kebun Bibit Datar (KBD) dengan bulan tanam
Februari/ Maret/ April. Luas kebutuhan KBI adalah 2.5% dari luas areal
tanaman PC tebu giling.

-

Kebun bibit datar (KBD)
Kebun Bibit Datar merupakan kebun pembibitan terakhir yang ditanam
kembali di Kebun Tebu Giling (KTG) dengan bulan tanam OktoberDesember untuk pola tanam A dan bulan tanam Februari-April untuk pola
tanam B. Luas kebutuhan KBD sepertujuh luas areal tanaman PC tebu
giling.

20

PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG

Aspek Teknis
Pembukaan atau persiapan lahan
Pembukaan

atau

persiapan

lahan

merupakan

kegiatan

untuk

mempersiapkan tanah tempat tumbuh tanaman tebu sehingga kondisi fisik dan
kimia tanah menjadi media perkembangan perakaran tanaman tebu sehingga tebu
dapat tumbuh secara optimal juga dapat menekan pertumbuhan gulma tentunya.
Kegiatan tersebut terdiri atas beberapa jenis yang dilaksanakan secara bertahap
sesuai dengan kronologis.
Pada prinsipnya, persiapan lahan untuk tanaman baru (PC) dan tanaman
bongkaran baru (RC) adalah sama tetapi untuk PC kegiatan persiapan lahan tidak
dapat dilaksana

Dokumen yang terkait

Dokumen baru