AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM PENATAAN TATA RUANG KOTA

ABSTRAK

AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM
PENATAAN TATA RUANG KOTA

Oleh

Mizdarmadi

Proses Penataan Ruang Kota di Kabupaten Pesawaran belum akuntabel karena
Pemanfatan sumberdaya yang dikelola saat ini masih belum jelas perencanaannya
seperti halnya bekaitan dengan kepentingan umum, berupa penempatan sektorsektor layanan publik, pusat pengembangan ekonomi masyarakat, pusat
pendidikan, dan pusat kesehatan.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Akuntabilitas Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kabupaten Pesawaran dalam Penataan Tata Ruang Kota.
dan mengetahui mekanisme Akuntabilitas Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan menetapkan informan
yaitu Kepala Badan Bappeda Kab. Pesawaran, Subbag Perencanaan Bappeda
Kab. Pesawaran, Kabid Pendataan dan Pengendalian Bappeda Kab. Pesawaran,

Subbid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kab. Pesawaran, Subbid Penataan
ruang dan Lingkungan SDA Bappeda Kab. Pesawaran, Subbid Saran dan
Prasarana Bappeda Kab. Pesawaran, dan Kabid Perencanaan Wilayah Bappeda
Kab. Pesawaran. Mengenai Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan tahapan reduksi
data, penyajian data (display) dan penarikan kesimpulan (verifikasi).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Tahap Proses Pembuatan Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesawaran telah memenuhi Akuntabiltas dilihat
dari proses Pembentukan Badan

Koordinasi Penataan Ruang,

Proses

Perencanaan Tata Ruang, dan Proses Penyusunan dan Penetapan Rencana Tata
Ruang Wilayah, dengan mengacu pada kaidah aturan tata ruang. (2) Pada Tahap
Proses sosialisasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesawaran

telah

memenuhi mekanisme Akuntabilitas dengan berdasarkan tahapan-tahapan diawali
diajukan pada Bappeda Propinsi selanjutnya ke tingkat Nasional yaitu Mendagri
untuk dikaji lebih lanjut. Penyebaran informasi dengan akses publik mengenai
keputusan dan mekanisme pengaduan Masyarakat sudah berjalan dengan baik
dapat disimpulkan Akuntabel.

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan diberlakukannya UU Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal pada
tahun 2001 dan direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 dimulailah era
baru dalam sistem pembangunan di daerah. Pada hakekatnya otonomi daerah
mengandung makna yaitu diberikannya kewenangan (authority) kepada
pemerintah daerah menurut kerangka perundang-undangan yang berlaku
untuk mengatur kepentingan (interest) daerah masing-masing. Melalui
kebijakan otonomi daerah ini, pemerintah telah mendesentralisasikan
sebagian besar kewenangannya kepada pemerintah daerah.

Konflik kewenangan yang muncul pada dasarnya bersifat vertikal dengan
lebih diakibatkan oleh akses munculnya UU No. 22 tahun 1999, dimana pada
masa sebelum otonomi, seluruh kebijakan pembangunan ditetapkan dan
diatur oleh pemerintah pusat sehingga terjadi sentralisasi kekuasaaan yang
berarti kewenangan pemerintah pusat terhadap seluruh aspek pembangunan
baik pusat maupun di daerah berada di tangan pemerintah pusat di Jakarta.

Sesuai dengan UU No. 24

tahun 1992 tentang penataan ruang, system

perencanaan tata ruang wilayah diselengarakan secara hirarkis menurut

2

kewenangan adminstrarif, yakni dalam bentuk RTRW Nasional, RTRW
Propinsi dan RTRW Kabupaten/ Kota serta rencana-rencana yang sifatnya
lebih rinci. RTRWN disusun dengan memperhatikan wilayah nasional
sebagai wilayah yang lebih lanjut dijabarkan kedalam strategi serta struktur
dan pola pemanfatan ruang wilayah Propinsi (RTRWP), termasuk didalamnya
penetapan

sejumlah

kawasan

tertentu

dan

kawasan

andalan

yang

diprioritaskan penanganannya.

Menurut kebijakan pembangunan tata ruang Indonesia, pembangunan
selayaknya dilakukan dengan keselarasan pemanfaatan ruang yang mampu
mengembangkan fungsi setiap kawasan, Pembangunan berkelanjutan
merupakan pembangunan yang mempertemukan kebutuhan di masa yang
akan

datang.

keseimbangan

Pembanguna
sumber

daya

ini

dilakukan

alam

dan

dengan

lingkungan.

memperhatikan
Pembangunan

berkelanjutan pun hendaknya menyelaraskan antara pembangunan ekonomi,
pembangunan sosial dan lingkungan.

Kabupaten Pesawaran merupakan salah satu kabupaten baru di Provinsi
Lampung, Kabupaten Pesawaran yang dibentuk berdasarkan undang-undang
Nomor 33 tahun 2007

merupakan pemekaran dari Wilayah Kabupaten

Lampung Selatan. Sebagai kabupaten yang memiliki kewenangan otonomi
dalam mengurusi rumah tangganya sendiri. Salah satu amanat dalam undangundang adalah keharusan Kabupaten Pesawaran untuk segera menyiapkan
Rencana Tata Ruang Wilayah.

3

Rencana tata ruang merupakan upaya pengembangan wilayah dalam rangka
melakukan pemerataan pembangunan dan percepatan pembangunan di
Kabupaten Pesawaran.

berdasarkan menurut Undang-undang Nomor 26

Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap daerah Kabupaten mempunyai
kewenangan

menyusun rencanan Tata Ruang Wilayah sebagai arahan

pelaksanaan pembangunan, sejalan dengan penerapan otonomi daerah.
Penyususunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten ke dalam
dokumen rujukan, merupakan hal yang diperlukan guna membantu
pencapaian tujuan perencanaan. Dimana dalam perencanaan pengembangan
wilayah tidak mengesampingkan aspek yang mengarah pada perkuatan
ekonomi wilayah dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan
(Sustainable Development). Selain itu perkembangan sebuah wilayah perlu
didukung pula dengan pemanfaatan sumber daya alam yang dikelola secara
efektif, efisien dan bertanggungjawab.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten di susun berdasarkan perkiraan
kecenderungan dan arahan perkembangan untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan dimasa depan sesuai dengan jangka waktu perencanaannya.
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten berkaitan
dengan

kaidah-kaidah

perencanaan

seperti

keselarasan,

keserasian,

keterpaduan, kelestarian dan kesinambungan dalam lingkup kabupaten dan
kaitan dengan propinsi serta kabupaten sekitarnya.
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) diharapkan menjadi
salah satu landasan

kebijakan bagi pemerintah daerah dalam memicu

4

pertumbuhan ekonomi wilayah yang dapat memberikan dampak signifikan
terhadap struktur wilayah, tatanan sosial ekonomi dan budaya.

Pengembangan sistem pusat perkotaan atau kawasan perkotaan tentunya
dapat diarahkan sedemikian rupa agar selaras dengan arahan pengembangan
wilayah. Oleh karena itu disamping pengaturan ditribusi sistem kota-kota
sesuai dengan hirarki jumlah penduduk, potensi dan kegiatan kegiatan
ekonominya (strategi mikro) juga diperlukan sesuatu pengelolaan individual
kota atau daerah perkotaan yang ditunjukkan untuk meningkatkan
produktivitas kegiatan ekonomi dalam rangka mendukung fungsi kota di
wilayah yang lebih luas (strategi makro). Sistem pusat-pusat pemukiman atau
sistem kota-kota di Kabupaten Pesawaran tidak terlepas dari struktur kota
ibukota kabupaten maupun kota ibukota kecamatan, dan kawasan pusat
pertumbuhan perkotaan yang merupakan salah satu unsur penting dalam
membentuk struktur tata ruang wilayah.

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dalam PP No. 26 tahun
2008, terkandung klasifikasi kota atau daerah perkotaan yang di bagi atas 3
kelompok

berdasarkan

fungsi

dan

pelayanannya

dalam

menunjang

pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu:
1. Kota atau daerah perkotaan yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) yang dimaksud adalah kota atau daerah perkotaan yang
mempunyai wilayah pelayanan skala nasional, di samping merupakan
pintu gerbang bagi keluar masuknya, arus barang atau jasa, juga
merupakan simpul perdagangan internasional. Kota atau kawasan
perkotaan yang termasuk klasifikasi ini pusat pelayanan jasa, produksi
dan distribusi serta merupakan simpul tranportasi untuk mencapai puasat
kawasan atau provinsi. Biasanya yang termasuk golongan kota/perkotaan
ini adalah kota-kota besar/metropolis, disebabkan karena kelengkapan
saran dan prasaran yang dimilikinya.

5

2. Kota atau daerah perkotaan yang berfungsi sebagai Pusat Kegitan
Wilayah (PKW) kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi
sebangai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani sekala provinsi,
atau beberapa kabupaten. Kawasan perkotaan yang berfungsi atau
berpotensi sebangai simpul kedua sebangai kegiatan ekpor-impor yang
mendukung (PKN) atau kawasan perkotan yang berpungsi sebangai
simpul tranportasi yang melayani skala provinsi atauy beberapa
kabupaten.
3. Kota atau kawasan yang berfungsi sebangai Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Kawasan perkotaan yang berfugsi atau berpotensi sebangai kegiatan
industri dan jasa yang melayan sekala kabupaten atau beberapa
kecamatan. atau kawasan perekonomian yang berfungsi atau berpotensi
sebangai simpul tranportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa
kecamatan.

Realitasnya beberapa sumber menyatakan perencanaan tata ruang di
Kabupaten Pesawaran masih belum jelas arah perencanaannya di duga belum
menjalankan Akuntabiltas yang berhubungan dengan penataan tata ruang,
dimana dalam penyelenggaraan tata ruang dapat dipertanggung jawabkan,
baik prosesnya, pembiyayaannya, maupun hasilnya.

Berdasarkan hasil riset pada tanggal 5 April 2010 di Kantor Bappeda
Kabupaten Pesawaran dengan mewawanca Bapak Zainal Fikri. ST
(Subbid Penataan ruang dan Lingkungan SDA) tata ruang yang ada saat ini
memang belum tertata dengan baik, seperti halnya bekaitan dengan
kepentingan umum mengenai penempatan sektor-sektor layanan publik, pusat
pengembangan ekonomi masyarakat, pusat pendidikan, dan pusat kesehatan
atau lokasi rumah sakit.

Hal ini dikarnakan melihat dari setiap wilayah

kecamatan memiliki prasarana berdasarkan perkembangan wilayahnya.
Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pesawaran
melakukan perencanaan yang berkaitan dengan potensi yang dimiliki Masingmasing kecamatan ini dapat dilihat dari (Laporan Akhir Rencana Tata Ruang

6

Wilayah (RTRW) Kabupaten Pesawaran Tahun 2008). Berdasarkan hasil
analisis termasuk hirarki sistem kota-kota dan potensi serta keadaan alam
serta dalam rangka memeratakan pertumbuhan ekonomi maka Kabupaten
Pesawaran termasuk dalam Kawasan andalan Bandar Lampung-Metro serta
Wilayah Nasional (RTRWN) termasuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN).
Selanjutnya dengan pertimbangan potensi dan berbangai kemungkinan
perkembangan masing-masing kecamatan, serta kebijakan yang ada maka
Kabupaten Pesawaran dapat dibangi menjadi sebangi berikut:
1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Gedong Tataan, Kawasan yang dipacu
perkembangannya dengan peningkatan peran dan fungsi kecamatan
sebangai pusat pertumbuhan berbasisis Agroindustri. Terdiri dari
Kecamatan Gedong Tataan, Way Lima dan Kedondong. Pusat
pengembangan dari PKW ini berada di Kota Gedongtataan.
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Negrikaton, kawasan yang dipacu
perkembangan dengan pemantapan kegiatan industri, perdagangan, jasa
dan kegiatan lain. Adapun wilayah yang termasuk di dalam wilayah ini
adalah Kecamatan Negrikaton dan Tegineneng. Sebagai pusat
pengembangan dari Satuan Wilayah Pembanguna (SWP) ini adalah
Negrikaton.
3. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Padang Cermin, Merupakan kawasan yang
dipacu perkembangan dengan pemantapan kegiatan pariwisata, perikanan
dan pertanian. Adapun wilayah yang termasuk di dalam wilayah ini adalah
Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada.

Perencanaan Tata Ruang merupakan dasar bagi pembanguan selanjutnya
sebangai arahan didalam pelaksanaan pembangunan di masa yang akan
datang, dengan adanya kebijakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Pesawaran dalam Perencanaan Tata Ruang sangat penting adanya
pertanggungjawaban atau akuntabilitas terhadap perencanaan tersebut.
Akuntabilitas merupakan asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil dari kegiatan penyelenggaraan Negara harus dapat dipertanggung-

7

jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Terkait

dengan

permasalahan

tersebut,

maka

Badan

Perencanaan

Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pesawaran merupakan instasi
pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan dan tugas penyusun
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan tata ruang wilayah.
Untuk menunjang sarana dan prasaran kota seperti disektor jasa layana
publik, pendidikan, kesehatan dan perumahan bangi masyarakat. untuk
mendukung terbentuknya kota. Perencanaan awal yang baik akan menentukan
keberhasilan pembangunan Kabupaten Pesawaran selanjutnya.

Sebagai

Satuan Kerja yang memiliki tugas pokok melakukan penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan.

Beranjak dari realita tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam
mengenai

“Akuntabilitas

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis
kemukakan rumusan masalahnya adalah:
“Bangaimana

Akuntabilitas

Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota”.?

8

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Akuntabilitas Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan
Tata Ruang Kota.

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, hasil penelitian sebagai salah satu kajian

manajemen

pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan akuntabilitas Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah.
2. Secara praktis, diharapkan hasil penelitian ini dapat member kontribusi
pemikiran terhadap pemerintah Kabupaten Pesawaran dalam bindang
Penataan Tata Ruang Kota.

VI. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Penataan Tata Ruang Kota yang di lakukan Bappeda Kabupaten telah
akuntabel terpenuhinya Prosedur, melalui pembentukan Badan Koordinasi
Penataan Tata Ruang Daerah, dengan memperhatiakan standar etika dan
nilai-nilai yang beralaku, sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang
benar maupun nilai-nilai yang berlaku di stakeholders.

2. Penyusunan dan Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Pesawaran dalam Penataan Ruang Kota oleh Bappeda sudah berjalan
Akuntebel karena dalam rencana tata ruang tersebut telah memuat
informasi yang berkaitan dengan rencana umum dan rencana rinci tata
ruang dan melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan
ruang.

3. Pembuatan akses publik pada informasi keputusan dan pengaduan sudah
berjalan dengan baik melalui penyebaran informasi kebijakan Rencana
Tata Ruang melalui media massa dan Websait Resmi Pemkab. Pesawaran
yang

dapat

diakses

Publik.

Keterbukaan

informasi

akuntabilitas Bappeda Kab. Pesawaran terhadap masyarakat.

merupakan

86

4. Secara keseluruhan Proses Perencanaan Tata Ruang Kota yang di lakukan
Bappeda Kabupaten Pesawaran telah memenuhi aspek akuntabilitas
dalam kaidah-kaidah perencanaan yang berkaitan dengan keselarasan,
keserasian,

keterpaduan,

kelestarian

dan

kesinambungan

untuk

pembanguan Kabupaten.

B. Saran

1. Meningkatkan proses pembuatan keputusan tertulis yang belum memenuhi
standar etika dan prinsip administrasi sebainya di sesuaikan dengan
standar etika dan prinsip administrasi yang benar.

2. Lebih proaktiflagi dalam Penyusunan dan Penetapan Tata Ruang Kota dan
disesuiakan dengan perencanaan dan standar minimal pelayanan pada
masyarakat Pesawaran dan publik secara umum.

3. Pembuatan akses publik mengenai suatu keputusan lebih ditingkatkan,
melalui media massa, media nirmassa, maupun media komunikasi
personal. Agar masyarakat pesawaran memahi mengenai kebijakan yang
diambil.

4. Sistem informasi manajemen dan monitoring sebaiknya menerapkan
prinsip tranparansi dan akuntabilitas dengan melibatkan masyarakat
sebagai paner di dalam pengawasan pembangunan daerah Kabupaten
Pesawara.

Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 1031 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 292 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 233 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

2 165 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 226 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 305 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 288 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

5 164 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

7 298 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 329 23