AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM PENATAAN TATA RUANG KOTA

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS LAMPUNG
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN
Jl. Prof. DR. Sumantri Brojonegoro No 1 Bandarlampung

A.4
LEMBAR KENDALI BIMBINGAN
Nama

: Mizdarmadi

NPM

: 0646021041

Judul Skrip

: Akuntabilitas Badan Perencanaan Pembangunag Daerah
Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.

No

Tanggal

Saran Pembimbing

Bandarlampung,
Pembimbing

Paraf

Oktober 2010

Drs.Hi. Agus Hadiawan, M.Si
NIP. 198501090 198603 1 002

ABSTRAK

AKUNTABILTAS BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DAERAH KABUPATEN PESAWARAN DALAM
PENATAAN TATA RUANG KOTA

Oleh

Mizdarmadi

Proses Penataan Ruang Kota di Kabupaten Pesawaran belum akuntabel karena
Pemanfatan sumberdaya yang dikelola saat ini masih belum jelas perencanaannya
seperti halnya bekaitan dengan kepentingan umum, berupa penempatan sektorsektor layanan publik, pusat pengembangan ekonomi masyarakat, pusat
pendidikan, dan pusat kesehatan.

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Akuntabilitas Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kabupaten Pesawaran dalam Penataan Tata Ruang Kota.
dan mengetahui mekanisme Akuntabilitas Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan menetapkan informan
yaitu Kepala Badan Bappeda Kab. Pesawaran, Subbag Perencanaan Bappeda
Kab. Pesawaran, Kabid Pendataan dan Pengendalian Bappeda Kab. Pesawaran,

Subbid Penelitian dan Pengembangan Bappeda Kab. Pesawaran, Subbid Penataan
ruang dan Lingkungan SDA Bappeda Kab. Pesawaran, Subbid Saran dan
Prasarana Bappeda Kab. Pesawaran, dan Kabid Perencanaan Wilayah Bappeda
Kab. Pesawaran. Mengenai Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan tahapan reduksi
data, penyajian data (display) dan penarikan kesimpulan (verifikasi).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Tahap Proses Pembuatan Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesawaran telah memenuhi Akuntabiltas dilihat
dari proses Pembentukan Badan

Koordinasi Penataan Ruang,

Proses

Perencanaan Tata Ruang, dan Proses Penyusunan dan Penetapan Rencana Tata
Ruang Wilayah, dengan mengacu pada kaidah aturan tata ruang. (2) Pada Tahap
Proses sosialisasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pesawaran

telah

memenuhi mekanisme Akuntabilitas dengan berdasarkan tahapan-tahapan diawali
diajukan pada Bappeda Propinsi selanjutnya ke tingkat Nasional yaitu Mendagri
untuk dikaji lebih lanjut. Penyebaran informasi dengan akses publik mengenai
keputusan dan mekanisme pengaduan Masyarakat sudah berjalan dengan baik
dapat disimpulkan Akuntabel.

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengan diberlakukannya UU Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal pada
tahun 2001 dan direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 dimulailah era
baru dalam sistem pembangunan di daerah. Pada hakekatnya otonomi daerah
mengandung makna yaitu diberikannya kewenangan (authority) kepada
pemerintah daerah menurut kerangka perundang-undangan yang berlaku
untuk mengatur kepentingan (interest) daerah masing-masing. Melalui
kebijakan otonomi daerah ini, pemerintah telah mendesentralisasikan
sebagian besar kewenangannya kepada pemerintah daerah.

Konflik kewenangan yang muncul pada dasarnya bersifat vertikal dengan
lebih diakibatkan oleh akses munculnya UU No. 22 tahun 1999, dimana pada
masa sebelum otonomi, seluruh kebijakan pembangunan ditetapkan dan
diatur oleh pemerintah pusat sehingga terjadi sentralisasi kekuasaaan yang
berarti kewenangan pemerintah pusat terhadap seluruh aspek pembangunan
baik pusat maupun di daerah berada di tangan pemerintah pusat di Jakarta.

Sesuai dengan UU No. 24

tahun 1992 tentang penataan ruang, system

perencanaan tata ruang wilayah diselengarakan secara hirarkis menurut

2

kewenangan adminstrarif, yakni dalam bentuk RTRW Nasional, RTRW
Propinsi dan RTRW Kabupaten/ Kota serta rencana-rencana yang sifatnya
lebih rinci. RTRWN disusun dengan memperhatikan wilayah nasional
sebagai wilayah yang lebih lanjut dijabarkan kedalam strategi serta struktur
dan pola pemanfatan ruang wilayah Propinsi (RTRWP), termasuk didalamnya
penetapan

sejumlah

kawasan

tertentu

dan

kawasan

andalan

yang

diprioritaskan penanganannya.

Menurut kebijakan pembangunan tata ruang Indonesia, pembangunan
selayaknya dilakukan dengan keselarasan pemanfaatan ruang yang mampu
mengembangkan fungsi setiap kawasan, Pembangunan berkelanjutan
merupakan pembangunan yang mempertemukan kebutuhan di masa yang
akan

datang.

keseimbangan

Pembanguna
sumber

daya

ini

dilakukan

alam

dan

dengan

lingkungan.

memperhatikan
Pembangunan

berkelanjutan pun hendaknya menyelaraskan antara pembangunan ekonomi,
pembangunan sosial dan lingkungan.

Kabupaten Pesawaran merupakan salah satu kabupaten baru di Provinsi
Lampung, Kabupaten Pesawaran yang dibentuk berdasarkan undang-undang
Nomor 33 tahun 2007

merupakan pemekaran dari Wilayah Kabupaten

Lampung Selatan. Sebagai kabupaten yang memiliki kewenangan otonomi
dalam mengurusi rumah tangganya sendiri. Salah satu amanat dalam undangundang adalah keharusan Kabupaten Pesawaran untuk segera menyiapkan
Rencana Tata Ruang Wilayah.

3

Rencana tata ruang merupakan upaya pengembangan wilayah dalam rangka
melakukan pemerataan pembangunan dan percepatan pembangunan di
Kabupaten Pesawaran.

berdasarkan menurut Undang-undang Nomor 26

Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, setiap daerah Kabupaten mempunyai
kewenangan

menyusun rencanan Tata Ruang Wilayah sebagai arahan

pelaksanaan pembangunan, sejalan dengan penerapan otonomi daerah.
Penyususunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten ke dalam
dokumen rujukan, merupakan hal yang diperlukan guna membantu
pencapaian tujuan perencanaan. Dimana dalam perencanaan pengembangan
wilayah tidak mengesampingkan aspek yang mengarah pada perkuatan
ekonomi wilayah dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan
(Sustainable Development). Selain itu perkembangan sebuah wilayah perlu
didukung pula dengan pemanfaatan sumber daya alam yang dikelola secara
efektif, efisien dan bertanggungjawab.

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten di susun berdasarkan perkiraan
kecenderungan dan arahan perkembangan untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan dimasa depan sesuai dengan jangka waktu perencanaannya.
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten berkaitan
dengan

kaidah-kaidah

perencanaan

seperti

keselarasan,

keserasian,

keterpaduan, kelestarian dan kesinambungan dalam lingkup kabupaten dan
kaitan dengan propinsi serta kabupaten sekitarnya.
Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) diharapkan menjadi
salah satu landasan

kebijakan bagi pemerintah daerah dalam memicu

4

pertumbuhan ekonomi wilayah yang dapat memberikan dampak signifikan
terhadap struktur wilayah, tatanan sosial ekonomi dan budaya.

Pengembangan sistem pusat perkotaan atau kawasan perkotaan tentunya
dapat diarahkan sedemikian rupa agar selaras dengan arahan pengembangan
wilayah. Oleh karena itu disamping pengaturan ditribusi sistem kota-kota
sesuai dengan hirarki jumlah penduduk, potensi dan kegiatan kegiatan
ekonominya (strategi mikro) juga diperlukan sesuatu pengelolaan individual
kota atau daerah perkotaan yang ditunjukkan untuk meningkatkan
produktivitas kegiatan ekonomi dalam rangka mendukung fungsi kota di
wilayah yang lebih luas (strategi makro). Sistem pusat-pusat pemukiman atau
sistem kota-kota di Kabupaten Pesawaran tidak terlepas dari struktur kota
ibukota kabupaten maupun kota ibukota kecamatan, dan kawasan pusat
pertumbuhan perkotaan yang merupakan salah satu unsur penting dalam
membentuk struktur tata ruang wilayah.

Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dalam PP No. 26 tahun
2008, terkandung klasifikasi kota atau daerah perkotaan yang di bagi atas 3
kelompok

berdasarkan

fungsi

dan

pelayanannya

dalam

menunjang

pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu:
1. Kota atau daerah perkotaan yang berfungsi sebagai Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) yang dimaksud adalah kota atau daerah perkotaan yang
mempunyai wilayah pelayanan skala nasional, di samping merupakan
pintu gerbang bagi keluar masuknya, arus barang atau jasa, juga
merupakan simpul perdagangan internasional. Kota atau kawasan
perkotaan yang termasuk klasifikasi ini pusat pelayanan jasa, produksi
dan distribusi serta merupakan simpul tranportasi untuk mencapai puasat
kawasan atau provinsi. Biasanya yang termasuk golongan kota/perkotaan
ini adalah kota-kota besar/metropolis, disebabkan karena kelengkapan
saran dan prasaran yang dimilikinya.

5

2. Kota atau daerah perkotaan yang berfungsi sebagai Pusat Kegitan
Wilayah (PKW) kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi
sebangai pusat kegiatan industri dan jasa yang melayani sekala provinsi,
atau beberapa kabupaten. Kawasan perkotaan yang berfungsi atau
berpotensi sebangai simpul kedua sebangai kegiatan ekpor-impor yang
mendukung (PKN) atau kawasan perkotan yang berpungsi sebangai
simpul tranportasi yang melayani skala provinsi atauy beberapa
kabupaten.
3. Kota atau kawasan yang berfungsi sebangai Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Kawasan perkotaan yang berfugsi atau berpotensi sebangai kegiatan
industri dan jasa yang melayan sekala kabupaten atau beberapa
kecamatan. atau kawasan perekonomian yang berfungsi atau berpotensi
sebangai simpul tranportasi yang melayani skala kabupaten atau beberapa
kecamatan.

Realitasnya beberapa sumber menyatakan perencanaan tata ruang di
Kabupaten Pesawaran masih belum jelas arah perencanaannya di duga belum
menjalankan Akuntabiltas yang berhubungan dengan penataan tata ruang,
dimana dalam penyelenggaraan tata ruang dapat dipertanggung jawabkan,
baik prosesnya, pembiyayaannya, maupun hasilnya.

Berdasarkan hasil riset pada tanggal 5 April 2010 di Kantor Bappeda
Kabupaten Pesawaran dengan mewawanca Bapak Zainal Fikri. ST
(Subbid Penataan ruang dan Lingkungan SDA) tata ruang yang ada saat ini
memang belum tertata dengan baik, seperti halnya bekaitan dengan
kepentingan umum mengenai penempatan sektor-sektor layanan publik, pusat
pengembangan ekonomi masyarakat, pusat pendidikan, dan pusat kesehatan
atau lokasi rumah sakit.

Hal ini dikarnakan melihat dari setiap wilayah

kecamatan memiliki prasarana berdasarkan perkembangan wilayahnya.
Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pesawaran
melakukan perencanaan yang berkaitan dengan potensi yang dimiliki Masingmasing kecamatan ini dapat dilihat dari (Laporan Akhir Rencana Tata Ruang

6

Wilayah (RTRW) Kabupaten Pesawaran Tahun 2008). Berdasarkan hasil
analisis termasuk hirarki sistem kota-kota dan potensi serta keadaan alam
serta dalam rangka memeratakan pertumbuhan ekonomi maka Kabupaten
Pesawaran termasuk dalam Kawasan andalan Bandar Lampung-Metro serta
Wilayah Nasional (RTRWN) termasuk Pusat Kegiatan Nasional (PKN).
Selanjutnya dengan pertimbangan potensi dan berbangai kemungkinan
perkembangan masing-masing kecamatan, serta kebijakan yang ada maka
Kabupaten Pesawaran dapat dibangi menjadi sebangi berikut:
1. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) Gedong Tataan, Kawasan yang dipacu
perkembangannya dengan peningkatan peran dan fungsi kecamatan
sebangai pusat pertumbuhan berbasisis Agroindustri. Terdiri dari
Kecamatan Gedong Tataan, Way Lima dan Kedondong. Pusat
pengembangan dari PKW ini berada di Kota Gedongtataan.
2. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Negrikaton, kawasan yang dipacu
perkembangan dengan pemantapan kegiatan industri, perdagangan, jasa
dan kegiatan lain. Adapun wilayah yang termasuk di dalam wilayah ini
adalah Kecamatan Negrikaton dan Tegineneng. Sebagai pusat
pengembangan dari Satuan Wilayah Pembanguna (SWP) ini adalah
Negrikaton.
3. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) Padang Cermin, Merupakan kawasan yang
dipacu perkembangan dengan pemantapan kegiatan pariwisata, perikanan
dan pertanian. Adapun wilayah yang termasuk di dalam wilayah ini adalah
Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada.

Perencanaan Tata Ruang merupakan dasar bagi pembanguan selanjutnya
sebangai arahan didalam pelaksanaan pembangunan di masa yang akan
datang, dengan adanya kebijakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Pesawaran dalam Perencanaan Tata Ruang sangat penting adanya
pertanggungjawaban atau akuntabilitas terhadap perencanaan tersebut.
Akuntabilitas merupakan asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil dari kegiatan penyelenggaraan Negara harus dapat dipertanggung-

7

jawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi Negara sesuai dengan ketentuan-ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Terkait

dengan

permasalahan

tersebut,

maka

Badan

Perencanaan

Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pesawaran merupakan instasi
pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan dan tugas penyusun
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan tata ruang wilayah.
Untuk menunjang sarana dan prasaran kota seperti disektor jasa layana
publik, pendidikan, kesehatan dan perumahan bangi masyarakat. untuk
mendukung terbentuknya kota. Perencanaan awal yang baik akan menentukan
keberhasilan pembangunan Kabupaten Pesawaran selanjutnya.

Sebagai

Satuan Kerja yang memiliki tugas pokok melakukan penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan.

Beranjak dari realita tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti lebih dalam
mengenai

“Akuntabilitas

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka dapat penulis
kemukakan rumusan masalahnya adalah:
“Bangaimana

Akuntabilitas

Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota”.?

8

C.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Akuntabilitas Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Pesawaran Dalam Penataan
Tata Ruang Kota.

D. Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, hasil penelitian sebagai salah satu kajian

manajemen

pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan akuntabilitas Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah.
2. Secara praktis, diharapkan hasil penelitian ini dapat member kontribusi
pemikiran terhadap pemerintah Kabupaten Pesawaran dalam bindang
Penataan Tata Ruang Kota.

II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Akuntabilitas

1. Pengertian Akuntabilitas

Akuntabilitas Instansi Pemerintah Pusdiklatwas Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) – 2007 Terdapat berbagai definisi
tentang akuntabilitas, yang diuraikan sebagai berikut :

Sjahruddin Rasul menyatakan bahwa akuntabilitas didefinisikan secara
sempit sebagai kemampuan untuk memberi jawaban kepada otoritas yang
lebih tinggi atas tindakan “seseorang” atau “sekelompok orang” terhadap
masyarakat secara luas atau dalam suatu organisasi. dalam konteks
institusi pemerintah, “seseorang” tersebut adalah pimpinan instansi
pemerintah sebagai penerima amanat yang harus memberikan
pertanggungjawaban atas pelaksanaan amanat tersebut kepada masyarakat
atau publik sebagai pemberi amanat.

J.B. Ghartey menyatakan bahwa akuntabilitas ditujukan untuk mencari
jawaban atas pertanyaan yang berhubungan dengan stewardship yaitu apa,
mengapa,

siapa,

ke

mana,

yang

mana,

dan

bagaimana

suatu

pertanggungjawaban harus dilaksanakan.

Ledvina V. Carino mengatakan bahwa akuntabilitas merupakan suatu
evolusi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh seorang petugas baik
yang masih berada pada jalur otoritasnya atau sudah keluar jauh dari
tanggung jawab dan kewenangannya. Setiap orang harus benar-benar
menyadari bahwa setiap tindakannya bukan hanya akan memberi pengaruh

10

pada dirinya sendiri saja. Akan tetapi, ia harus menyadari bahwa
tindakannya juga akan membawa dampak yang tidak kecil pada orang lain.
Dengan demikian, dalam setiap tingkah lakunya seorang pejabat
pemerintah harus memperhatikan lingkungannya.
Sedangkan Menurut Taliziduhu Ndraha (2003:87), memberikan definisi
Accuntability sebagai berikut :
“Accuntability adalah menunjukakan sejauh mana seorang pelaku
pemerintah terbukti mampu menjalankan tugas atau perintah yang
diamanatkan kepadanya, menurut cara, alat, dan tingkatan pencapaan
sasaran yang telah ditetapkan, terlepas dari persoalan, apakah ia
menyetujui perintah itu atau ia merasa terpaksa, dipaksa, harus atau karena
tiada pilihan, dan dalam pada itu harus menaggung resiko”.

Menurut budi supriyatno dalam buku manajemen pemerintahan (2009:
232) Ada empat (4) kewajiban yang harus dilakukan apratur dalam
pelaksanaan akutabilitas publik, yaitu:

1. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban seseorang atau pimpinan
dalam lembanga pemerintahan secara kolektif sebangai konsekuensi
logis dari adanya pemberian hak dan kewajiban, maka perlu adanya
sanksi bagi yang melanggarnya.
2. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban untuk mempertanggung
jawabkan kinerja dan tindakan. Kinerja merupakan keseluruhan hasil,
manfaat dan dampak dari suatu proses pengelolaan masukan guna
mencapai tujuan yang di inginkan. Sedangkan tindakan adalah,
aktivitas seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif untuk melakukan
atau tidak dilakukan, berkaitan dengan hak dan kewenangan yang
diberikan kepada seseorang atau pimpinan lembanga pemerintah.
3. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban yang melekat pada
seseorang atau pimpinan lembanga pemerintahan yang karena
jabatanya memperoleh hak dan kewajiban menjalankan tugas untuk
mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian, akuntabilitas dapat
perorangan, kelompok atau organisasi.
4. Akuntabilitas publik merupakan pertanggungjawaban yang ditujukan
pada pihak yang memiliki hak dan kewenangan untuk hal tersebut.
Akuntabilitas yang dilakukan seseorang/badan hukum/pimpinan
kolektif ditujukan kepada pihak-pihak yang memiliki hak dan
kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Pihak-pihak
tersebut adalah, pejabat yang berwenang atau para pemegang saham
(stakeholder) dan masyarakat.

11

Pengawasan merupakan bangian penting dari akuntabilitas. dengan kata
lain akuntabilitas publik tidak akan berjalan efektif dan efisien jika tidak
ditunjang mekanisme pengawasan yang baik, demikian sebaliknya.
Akuntabilitas

publik

tanpa

pengawasan

akan

menyebabkan

penyimpangan-penyimpangan yang dapat merugikan masyarakat dan
dunia usaha. dari uraian tersebut, dapat dikatakan bahwa akuntabilitas
merupakan perwujutan kewajiban seseorang atau unit organisasi untuk
mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya
dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui media pertanggung
jawaban secara periodik, tetapi harus dilakukan pengawasan secara ketat.
Dalam hal ini, pemanfaatan sumberdaya meliputi sumber daya manusia
(SDM), kekayaan alam, material, keungan, data/informasi dan tata ruang.
Agar pemanfatannya sesui, harus dilakukan pengawasan secara terusmenerus.

Berdasarkan pengertian maupun pendapat-pendapat yang dikemukakan di
atas dapat ditarik satu ke satuan pengertian mengenai akuntabilitas atau
pertanggungjawaban yaitu walaupun seseorang mempunyai kebebasan
dalam melaksanakan tugas yang di bebankan kepadanya, namun ia tidak
dapat membebaskan dirinya dari hasil atau akibat perbuatannya dan ia
dapat dituntut untuk melaksanakan secara layak apa yang menjadi
kewajibanya.

12

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik pengertian tentang akuntabilitas
adalah mekanisme perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk
mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan pelaksanaan program
dan kegiatan yang telah diamanatkan para pemangku kepentingan sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

2. Indikator & Alat Ukurnya Akuntabilitas

Menurut Loina Lalolo Krina P. Sekretariat Good Public Governance
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Jakarta - Agustus 2003
menyatakan Akuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa
setiap
kegiatan
penyelenggaraan
pemerintahan
dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak
yang terkena dampak penerapan kebijakan.
Pengambilan keputusan didalam organisasi-organisasi publik melibatkan
banyak pihak. Oleh sebab itu wajar apabila rumusan kebijakan merupakan
hasil kesepakatan antara warga pemilih (constituency) para pemimpin
politik, teknokrat, birokrat atau administrator, serta para pelaksana
dilapangan.

Sedangkan dalam bidang politik, yang juga berhubungan dengan
masyarakat secara umum, akuntabilitas didefinisikan sebagai mekanisme
penggantian pejabat atau penguasa, tidak ada usaha untuk membangun
mono loyalitas secara sistematis, serta ada definisi dan penanganan yang
jelas terhadap pelanggaran kekuasaan dibawah rule of law. Sedangkan
public accountability didefinisikan sebagai adanya pembatasan tugas yang
jelas dan efisien.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas berhubungan
dengan kewajiban dari institusi pemerintahan maupun para aparat yang
bekerja di dalamnya untuk membuat kebijakan maupun melakukan aksi

13

yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan masyarakat.
Akuntabilitas publik menuntut adanya pembatasan tugas yang jelas dan
efisien dari para aparat birokrasi.

Karena pemerintah bertanggung jawab baik dari segi penggunaan
keuangan maupun sumber daya publik dan juga akan hasil, akuntabilitas
internal harus dilengkapi dengan akuntabilitas eksternal, melalui umpan
balik dari para pemakai jasa pelayanan maupun dari masyarakat.

Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan
seberapa besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan
ukuran nilai-nilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para
stakeholders yang berkepentingan dengan pelayanan tersebut. Sehingga,
berdasarkan tahapan sebuah program, akuntabilitas dari setiap tahapan
adalah :
1. Pada tahap proses pembuatan sebuah keputusan, beberapa indikator
untuk menjamin akuntabilitas publik adalah :
a. pembuatan sebuah keputusan harus dibuat secara tertulis dan
tersedia bagi setiap warga yang membutuhkan
b. pembuatan keputusan sudah memenuhi standar etika dan nilai-nilai
yang berlaku, artinya sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi
yang benar maupun nilai-nilai yang berlaku di stakeholders
c. adanya kejelasan dari sasaran kebijakan yang diambil, dan sudah
sesuai dengan visi dan misi organisasi, serta standar yang berlaku
d. adanya mekanisme untuk menjamin bahwa standar telah terpenuhi,
dengan konsekuensi mekanisme pertanggungjawaban jika standar
tersebut tidak terpenuhi
e. konsistensi maupun kelayakan dari target operasional yang telah
ditetapkan maupun prioritas dalam mencapai target tersebut.
2. Pada tahap sosialisasi kebijakan, beberapa indikator untuk menjamin
akuntabilitas publik adalah :
a. penyebarluasan informasi mengenai suatu keputusan, melalui
media massa, media nirmassa, maupun media komunikasi personal

14

b. akurasi dan kelengkapan informasi yang berhubungan dengan caracara mencapai sasaran suatu program
c. akses publik pada informasi atas suatu keputusan setelah keputusan
dibuat dan mekanisme pengaduan masyarakat
d. ketersediaan sistem informasi manajemen dan monitoring hasil
yang telah dicapai oleh pemerintah.

B. Tinjauan Tentang Badan Perencanaan Pembanguan Daerah

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan
daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah
disusun dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. Perencanaan
pembangunan daerah dimaksud disusun oleh pemerintahan daerah sesuai
dengan kewenangannya yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah. Penyusunan perencanaan pembangunan daerah juga
dimaksudkan untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.
Tugas Dan Fungsi
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan unsur perencanaan
pembangunan, mepunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan
pelaksanaan kebijakan daerah di bidang Perencanaan Pembanguan Daerah.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok sebagai mana dimaksut, Badan
Perencanaan Pembanguan Daerah Menyelenggarakna fungsi:
a. Perumusan

Kebijakan

teknis

perencanaan

serta

penelitian

dan

pengembangan;
b. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan pembanguan serta penelitian
dan pengembangan;
c. Pembinaan dan pelaksanaan

tugas di bidang perencanaan pembangunan

daerah serta penelitian dan pengembangan;

15

d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang perencanaan
pembangunan;
e. Pelayanan administrasi.

C. Tinjauan Tentang Perencanaan

Robinso Tarigan dalam perencanaan pembangunan wilayah (2004:5)
Moekijat menyebutkan ada delapan perumusan tentang arti perencanaan.
Empat di antar kutip berikut ini:
1. “Perencanaan adalah hal memilih dan menghubungkan fakta-fakta serta
hal membuat dan menggunakan dugaan-dugaan mengenai masa yang
akan datang dalam mengambarka dan merumuskan kegiatan-kegiatan
yang diusulkan yang dianggap perlu untuk mencapai hasil-hasil yang
diguanakan.”
2. “Perencanaan adalah suatu usaha untuk membuat suatu perencanaan
tindakan, artinya menentukan apa yang dilakukan, siapa yang melakukan,
dan dimana hal itu dilakukan.”
3. “Perencanaan adalah penentuan suatu arah tindakan untuk mencapai suatu
hasil yang diinginkan.”
4. “Perencanaan adalah suatu penentuan sebelunya dari tujuan-tujuan yang
diinginkan dan bangaimana tujuan tersebut harus tercapai.”
Dari berbagai perumusan diatas dapat disimpulkan inti dari perencanaan
adalah menentukan tujuan dan merumuskan langkah-langkah untuk mencapai
tujuan tersebut.

Robinso Tarigan dalam perencanaan pembangunan wilayah (2004:4) Menurut
Friedman perencanaan adalah cara berpikir mengatasi permasalahan sosial
dan ekonomi, untuk menghasilkan sesuatu di

masa depan. Sasaran yang

16

dituju adalah keinginan kolektif dan

mengusahakan keterpaduan dalam

kebijakan program.

Robinso Tarigan dalam perencanaan pembangunan wilayah (2004:4) Menurut
conyers & Hiils dalam Arsyad, perencanaan adalah “suatu proses yang
bersinambungan yang mencakup keputusan-keputusan apabial pilihan-pilihan
sebagai alternative penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu pada masa yang akan datang.”
Berdasarkan definisi di atas, Arsyad berpendapat ada empat dasar
perencanaan, yaitu:
1. Merencanakan berarti memilih
2. Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumber daya,
3. Perencanaan merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan
4. Perencanaan berorientasi kemasa depan.

Berdarkan pendapat di atas dapat disimpulakan bahwa perencanaan adalah
perumusan tujuan-tujuan dan bangai mana mencapai tujuan tersbut.

Mulyono Sadyohutomo (2008:36) Levy mengemukakan ada tiga pendekatan
teori merencanakan (theory of planning) yang dapat dipilih dalam melakukan
proses perencanaan kota dan wilayah, yaitu sebagai berikut.

a.

The Rational Comprehensive Model
Pendekatan model rasional ini sekarang termasu dalam model
ortodok/kuno. Model ini beranjak dari asumsi dimilikinya informasi secara
lengkap dan akurat serta didukung adanya manusia yang berpikir dan
bertindak rasional. Dengan asumsi tersebut maka diketahui seluruh
dimensi persoalan dan dapat disusun alternative pemecahan secara

17

rasional. Sasarannya adalah optimalisasi kegiatan secara rasional dan
sitematis sehingga diperoleh perencanaan komprehensif.
Berikut langkah-langkahnya.
1. Merumuskan masalah
2. Memperjelas pentingnya masalah (nilai Masalah)
3. Merumuskan Tujuan (goal) dan sasaran-sasaran (objectives)
4. Merumuskn alternatif-alternatif rencana.
5. Mengevaluasi alternatif-alternatif rencana dan memilih satu atau
beberapa alternative yang terbaik.
6. Perkiraan kosekuensi alternative rencana pilihan
7. Penjabaran ke rencana detail/program.
8. Review dan evaluasi.
b.

Disjointed Incrementalism = Muddling Through
Model ini ditunjukkan pada system yang bersifat pluralistik dan untilitas
perencanaan dilakukan secara Increment (perubahan bertahap)
Dengan mengacu pada perencanaan (planners) karena kemampuan dan
pengalamannya langsung dapat merumuskan kemungkinan-kemungkinan
perubahan rencan atau kebijaksanaan (policy) yang lalu dengan mengubah
atau menyempurnakannya menjadi rencana artau kebijakan paling baru.

c.

Mixel scanning
Mixel scanning merupakan model jalan tengah yang diperkenalkan oleh
amitai Etzioni pada tahun 1968, yaitu memanfaatkan keunggulankeunggulan dari model rasional dan model incremental. Model ini lebih
banyak digunakan dalam perencanaan Karen dianggap, lebih luwes
pemakainya dan efisien dalam menghadapi permaslahan yang komplek.
Disebut Mixel scanning karena ada dua langkah perencanaan, yaitu
sebangai berikut:
1) Mempelajari gambar secara umum (scanning). Dari pengamatan atau
penyelidikan secara global ini diperoleh hal-hal menonjol yang
bersifat strategis untuk ditangani.
2) Memfokuskan bangai mana yang penting atau strategis untuk diteliti
lebih lanjut secara detail. Dalam pendetailan ini perencana dapat
memilih model pendekatan perencanaan yang cocok, apakah model
rasional atau model incremental sesuai dengan kondisi.

18

D. Tijauan Tentang Perencanaan Wilayah

Menurut Robinson Tarigan dalam Perencanaan Pembangunan Wilayah (2004:
28) terdapat beberapa pengertian Perencanaan wilayah sebagai berikut:
1. Perencanaan wilayah adalah perencanaan penggunaan ruang wilayah
(termasuk perencanaan pembanguan didalam ruang wilayah) dan
perencanaan ruang wilayah tersebut. Perencanaan penggunaan wilayah di
atur dalam bentuk perencanaan tata ruang wilayah, sedangkan
perencanaan kegiatan dalam wilayah dia atur dalam perencanaan tata
ruang wilayah. Tata ruang wilayah merupakan landasan dan sekaligus
juga sasaran dari perencanaan pembanguan wilayah.
2. Perencanaan wilayah adalah perencanaan penggunaan ruang wilayah dan
perencanaan aktifitas pada ruang wilayah.
Berdarkan pendapat di atas dapat disimpulakan Perencanaan wilayah adalah
perencanaan

yang

mengambarkan

kegunaan

ruang

wilayah

dalam

perencanaan aktivitas didalam wilayah.

Perencanaan ruang wilayah adalah suatu proses yang melibatkan banyak
pihak dengan tujuan agar pengguanaan ruang itu memberikan kemakmuran
yang sebesar-besarnya kepada masyarakat dan terjamin kehidupan yang
berkesinambungan. Penataan ruang menyangkut seluruh aspek kehidupan
sehingga masyarakat perlu mendapat akses dalam perencanaan tersebut.
Setiap rencana tata ruang harus mengemukakan kebijakn makro pemanfatan
ruang berupa:

1. Tujuan pemanfaatan ruang,
2. Struktur dan pola pemanfatan ruang, dan
3. Pola pengendalian pemanfaatan ruang

19

Tujuan penataan tata ruang adalah menciptakan hubungan yang serasi antara
kegiatan berbagai subwilayah agar tercipta hubungan yang serasi atara
berbagai kehidupan. Dengan demikian, hal itu mempercepat proses
tercapainya kemakmuran dan terjaminnya kelestariam lingkungan hidup.
Struktur ruang berdasarkan pemanfaatanya serta hierarki dari dari pusat
pemukiman dan pusat layanan.

E. Tinjauan Tentang Tata Ruang Kota

1. Pengertian Kota
(www.google.com. Diakses 2 Mei 2010)Menurut definisi universal kota
adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun kampung
berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status
hukum, dalam konteks administrasi pemerintahan di Indonesia, kota
adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia setelah provinsi,
yang dipimpin oleh seorang walikota. Selain kota, pembagian wilayah
administratif setelah provinsi adalah kabupaten. Secara umum, baik
kabupaten dan kota memiliki wewenang yang sama. Kabupaten bukanlah
bawahan dari provinsi, karena itu bupati atau walikota tidak bertanggung
jawab kepada gubernur. Kabupaten maupun kota merupakan daerah
otonom yang diberi wewenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahannya sendiri.

2. Tata Ruang Kota
Tata ruang kota merupakan suatu usaha pemegang kebijakan untuk
menentukan visi ataupun arah dari kota yang menjadi tanggung jawab
pemegang kekuasaan di wilayah tersebut, dalam upaya untuk mewujudkan
tata ruang yang dapat mewadahi kegiatan seluruh warga secara
berkesinambungan.

20

3. Klasifikasi Perencanaan Pembangunan Kota
Menurut Ruddy Williams (2001: 48-49), klasifikasi perencanaan
pembangunan kota adalah sebagai berikut:
a. Rencana Tapak
Rencana Tapak merupakan rencana secara terperinci untuk merancang
bangunan dan pertamanan, tetapi yang lebih sering ialah gambar yang
dimaksudkan sebagai contoh dari apa yang mungkin terjadi jika ada
kebijaksanaan umum lagi yang akan dipakai contoh ini di beri judul
dengan rencana tapak ilustratif, tetapi yang mengagumkan dalam
banyak hal contoh gambar itu mempunyai pengaruh yang penting atas
apa yang sebenarnya dibangun. ilustrasi tersebut membantu orang
untuk melihat kira-kira hasil keputusan-keputusan kebijaksanaan, jadi
membantu proses untuk mencapai kesepakatan atas suatu rencana
b. Rencana Struktur
Rencana Struktur merupakan satu langkah menyajikan suatu yang
direncanakan secara realistis, rencana struktur ini memusatkan
perhatiannya pada aspek-asek tertentu dari lingkungan: biasanya tata
guna lahan, sistem pergerakan utama, dan besaran serta lokasi dari
fasilitas-fasilitas penting dan bangunan-bangunan. Rencana ini
dimaksudkan untuk mempengaruhi keputusan-keputusan lokasi
tertentu yang menjadi kunci, sambil mengenal adanya perbedaan
antara daerah belakang dan daerah depan. Jika daerah harus
dikembangkan dalam waktu yang lama, ada kebijaksanaan untuk
memberi kebebasan dan tetap berpegang teguh kepada beberapa aspek
perencanaan yang penting.
c. Rencana Konsep
Rencana konsep merupakan peryataan rencana yang dimaksudkan
lebih dari sekedar uraian untuk pelaksanaan kerja. Pada rencana
konsep, jalur hijau yang menghubungkan antara garis pantai kota dan
daerah-daerah distrik pemukiman dapat diterangkan dalam bentuk
diagram, tanpa menyebutkan keputusan-keputusan tentang bentuk
(jalur taman atau sejumlah taman yang dihubungkan) untuk
dibicarakan dan diperdebatkan nanti. Memang arti utama dari rencana
konsep ini adalah agar memusatkan pembahasan pada seluruh hal yang
penting, dari pada mengubah pembahasan secara terperinci sebelum
waktunya.rencana-rencana konsep itu akan menjadi paling efektif jika
disertai dengan gambaran-gambaran yang mungkin nanti dihasilkan.
Ketiga macam perencanaan merupakan komponen dari tahap pembangunan
kota yang memang perlu ada pada tahapan atau proses pembangunan dari

21

berbagai aspek yang menunjang bagi masyarakat kota agar kehidupannya
menjadi lebih baik. dan untuk itu dalam setiap program perencanaan tata
ruang kota juga tidak luput dari ketiga konsep tersebut yang memang harus di
laksanakan sesuai konsep perencanaan.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Perencanaan Kota
Menurut Ruddy Williams (2001: 51):
Menurut kebiasaan yang berlaku perencanaan itu paling baik kalau
dilaksanakan selangkah demi selangkah, yang diatur menurut urutannya,
yaitu perencanaan dimulai dengan pengumpulan data yang relevan
kemudian dilanjutkan dengan menentukan persoalan yang mungkin dapat
dilakukan, dengan mengadakan pengujian pemecahan soal-soal tahapan
pelaksanaan yang diinginkan dan menjabarkan tahapan pelaksanaan itu
kedalam rencana tindakan, proses ini memiliki keluesan tertentu, tetapi
kurang tepat ditinjau dari segi tata kerja perencanaan. Dengan
memerankan perencanaan sebagai kegiatan memecahkan masalah,
diperkirakan ada kesepakatan bahwa suatu tindakan tertentu harus
dilakukan dan pokok bahasannya adalah bagaimana menemukan pilihan
yang tepat,.sesuai dengan kondisi lingkungan. Tujuan perencanaan pada
umumnya tidak jelas sampai kemungkinan pemecahan diuji dan
dibicarakan, diperlukan waktu beberapa tahap untuk merencanakan,
memperjelas tujuan, dan membuat rencana baru sebelum orang merasa
puas dan kemungkinan pelaksanaan kerja berpengaruh besar atas tindakan
yang dapat dipertimbangkan, sebenarnya,perencanaan itu seringkali
berjalan bagaikan alat untuk mencapai tujuan, begitu juga dari tujuan
menjadi alat.
Menurut Ruddy Williams (2001: 51): faktor-faktor yang mempengaruhi
proses perencanaan kota adalah:
a. Keahlian Profesional
Keahlian khusus dalam menyusun perencanaan lingkungan fisik,
merancang lingkungan tidak hanya sekedar masalah apa yang lebih
disukai tetapi harus diteliti dan di konsep sebaik mungkin dalam proses
perencanaan pemembangunan kota berwawasan lingkungan untuk itu
diperlukan keahlian profesional dalam merencanakan pembangunan
kota lingkungan dengan mengacu pada aspek-aspek yang telah
ditetapkan oleh pemerintah.

22

b. Keterlibatan Masyarakat
Kunci lain agar perencanaan bisa efektif ialah mengetahui bahwa
keterlibatan masyarakat perlu untuk mencapai kesepakatan masyarakat
yang diperlukan untuk pelaksanaan kerja. Perencanaan harus
membantu semua pihak yang berkepentingan untuk mencapai
kesepakatan tentang sifat permasalahan dan rencana yang diinginkan.
Bermacam-macam teknik telah difikirkan secara baik untuk membuka
proses perencanaan untuk membuat setiap rencana. Paling umum
adalah mengadakan lokakarya atau dengar pendapat secara umum
mengenai pokok-pokok permasalahan agar dapat mengumpulkan
gagasan-gagasan dan mengundang tanggapan-tanggapan tentang
perencanaan. proses yang lebih ambisius ialah yang melibatkan rakyat
secara langsung dalam pembuatan rencana pembangunan kota
berwawasan lingkungan yaitu dengan cara mensosialisasikan kepada
masyarakat kota agar beramai-ramai ikut membantu pemerintah dalam
mewujudkan kota.
c. Mencapai Kesepakatan Tindakan Pelaksanaan
Dalam merencanakan kota berwawasan lingkungan perlu mencapai
cukup kesepakatan atas keinginan melakukan perubahan dalam rangka
mewjudkan suatu tindakan, sementara ada banyak contoh usaha-usaha
perbaikan kota waktu lampau yang dipahami dibalik ruang tertutup dan
dilaksanakan dengan sedikit keterlibatan masyarakat, karena
seharusnya proses perencanaan tidak berjalan dengan baik tanpa
keterlibatan dari masyarakat. Dalam hubungan ini proses perencanaan
kota berwawasan lingkungan harus menggunakan sumber daya
perubahan secara efektif karena rencana yang tidak dilanjutkan dengan
tindakan pelaksanaan berarti suatu proses yang gagal.
d. Mewujudkan Rencana Menjadi Kenyataan
Perencanaan bertujuan mengubah kenyataan suatu tempat dengan
memaparkan gambaran masa depan yang diinginkan dan pada
akhirnya mengusahakan supaya gambaran ini dapat diterima oleh
pemerintah dan masyarakat pada umumnya, lalu diwujudkan dalam
bentuk nyata. Dalam usaha perencanaan umum ada tiga macam
tindakan pelaksanaan yang diperlukan supaya dapat melaksanakan
keputusan-keputusan:
1) Tindakan Langsung, tindakan tertentu dapat diambil secara
langsung oleh Negara dan badan pemerintah di daerah, yang
berusaha memutuskan tindakan-tindakan mana harus diambil dan
berusaha agar tindakan itu apat diterima pembuat undang-undang
2) Tindakan Tak Langsung, tindakan lain menentukan campur tangan
sektor swasta, dan cara-caranya harus diikuti untuk menentukan
apakah tindakan-tindakan itu sesuai dengan rencana umum.

23

3) Tindakan kelembagaan, dalam banyak contoh akan adanya
kebutuan perubahan-perubahan organisasi guna menjamin apakah
inisiatif dijalankan secara benar dan terkoordinir dan bahwa
keputusan-keputusan yang dating kemudian menentukan jiwa
rencana aslinya. Kekuatan kelembagaan untuk menjalankan
perubahan-perubahan akan mempengaruhi oleh rencana-rencana
lingkungan fisik kota.

F. Tinjauan Tentang Pembangunan

Riyadi dan Deddy supriady

Bratakusuma dalam buku perencanan

pembangunan (2003: 4) terdapat pengertian pembangunan menurut para ahli
sebangai berikut:

Siagian memberikan pengertian Pembangunan

adalah suatu usaha atau

rangkaian usaha pertumbuhahan dan perubahan yang berencana dan
dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah, menuju
moderntas dalam rangka pembinaan bangsa (nasion building)”.

Sedangkan Ginanjar Kartasasmita memberikan pengertian yang lebih
sederhan, yaitu sebagai “ suatu proses perubahan ke arah yang lebih baik
melalui upaya yang dilakukan secara terencana”
Dalam buku ajar teori pembangunan Agus Hadiawan (2006:5) pembanguan
terkandung arti adanya suatu usaha untuk mengembangkan, mempengaruhi,
mengganti yang tidak atau kurang baik dengan yang baik, membuat yang baik
lebih baik, yang sudah baik di usahakan agar semakin baik. Dalam pengertian
pembanguan tersebut terkandung pula arti adanya suatu usaha agar benarbenar lebih maju, lebih modern, usaha untuk maju terus dengan modernisasi
dan pembaharuan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pembangunan adalah suatu usah secara sadar yang dilakukan oleh pemerintah
untuk melakukan perubahan di segala bidang kehidupan kearah yang lebih

24

baik dengan perencanaan yang optimal untuk mencapai sasaran pembanguan
dan perubahan dimasa mendatang.

Disamping

itu

pembanguan

dilaksaknakan

dengan

tujuan

untuk

meningkatkan taraf hidup masyaraka, baik secara spiritual maupu dengan
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.
8.

Pembanguan harus bersifat rasional, artinya kebijakan yang diambil
harus dilaksankan pada pertimbangan rasional.
Adanya rencana pembangunan dan proses pembangunan
Peningkatan produktivitas
Peningkatan standar kehidupan
Kedudukan, peranan dan kesempatan yang sederajat serta sama di bidang
politik, sosial, ekonomi dan hukum.
Pengembangan lembanga-lembanga sosial dan sikap-sikap dalam
masyarakat yang mencakup:
a.
Efisiensi
b.
Kerajian dan ketekunan
c.
Keteraturan
d.
Ketetapan
e.
Kesederhanaan dan kecermatan
f.
Ketelitian dan kejujuran
g.
Bersifat rasional dalam mengambil keputusan
h.
Selalu siap untuk mengahadapi perubahan
i.
Selalu menggunakan kesempatan dengan benar
j.
Giat dalam usaha
k. Mempunyai intergritas dan dapat berdiri sendiri
l.
Bersifat koorperatif
Konsolidasi nasional
Kemerdekaan nasional

Dengan demikian proses perubahan yang dilakukan secara sengaja itu harus
memperhatiakan tujuan pokok dari pada pembanguan yaitu untuk
meningkatkan tarap hidup masyarakat, baik spiritual maupun materil.
G. Kebijakan Tentang Perencanaan Pembangunan Daerah

Otonomi daerah memberikan kewenangan dalam rencana tata ruang wilayah
kabupaten

disusun

berdasarkan

perkiraan

kecendurungan

dan

arah

25

perkembangan pembanguan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di
masa depan sesuai dengan jangka waktu perencanaan. Penyusunan RTRW
kabupaten harus berdasarkan kaidah-kaidah perencanaan seperti keselarasan,
keserasian, kepaduan, kelestarian kesinambumgan dalam lingkup kabupaten
dan kaitan dengan provinsi serta kabupaten sekitarnya. Selain itu RTRW
diharapkan menjadi salah satu landasan kebijakn bangi pemerintah dalam
memicu pertumbuhan ekonomi wilayah yang dapat memberikan dampak
signipikan terhadap struktur ruang wilayah, tata sosial ekonomi dan budaya.

Tujuan perencanaan wilayah pada tahap akhirnya menghasilakan rencana
yang menetapkan lokasi dari berbangai kegiatan yang direncanakan baik oleh
pihak pemerintah maupun oleh pihak swasta. Lokasi yang dipilih
memberikan efisiensi dan keserasian lingkungan yang paling maksimal,
setelah memperhatikan benturan kepentingan dari berbangai pihak. Sifat
perencanaan wilayah yang sekaligus menunjukkan manfaat antara lain dapat
dikemukakan sebangai berikut:

1. Perencanaan wilayah haruslah mampu menggambarkan proyeksi dari
berbangai kegiatan ekonomi dan penggunaan lahan di wilayah tersebut
dimasa yang akan datang. Dengan demikian, sejak awal telah terlihat
arah lokasi yang dipersiapkan untuk dan yang akan dijadikan wilayah
penyangga.
2. Dapat membantu atau memandu para pelaksana ekonomi untuk memilih
kegiatan apa yang perlu dikembangkan dimasa yang akan datang dan
diama lokasi kegiatan seperti itu masih diizinkan. Hal ini bisa

26

mempercepat proses pembanguan karena investor mendapat kepastian
hukum tentang lokasi usahanya dan menjamin

keteraturan dan

menjauhkan benturan kepentingan.
3. Sebangai bahan acuan bagi pemerintah untuk mengendalikan atau
mengawasi arah pertumbuhan kegiatan dan arah penggunaan lahan.
4. Sebangai landasan bangi rencan-rencana lain yang lebih sempit tetapi
lebih detail, misalnya merencanakan sektor dan perencanaan prasaran
5. Lokasi itu sendiri dapat digunakan untuk bebagai kegiatan tertentu pada
lokasi tertentu haruslah memberikan nilai tambah maksimal bagi seluruh
masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan

bahwa Badan

Perencanaan Pembanguan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pesawaran
merupakan instasi pemerintah daerah yang mempunyai kewengan dan tugas
penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang perencanaan tata
ruang wilayah. Untuk menunjang sarana dan prasaran kota seperti disektor
jasa layana publik, pendidikan, kesehatan dan perumahan bangi masyarakat.
untuk mendukung terbentuknya kota.

H. Kerangka Pikir

Akuntabilitas adalah perwujudan pertanggungjawaban seseorang atau unit
organisasi, dalam mengelola sumber daya yang telah diberikan dan dikuasai,
dalam rangka pencapaian tujuan dan menunjukakan sejauh mana seorang
pelaku pemerintah terbukti mampu menjalankan tugas atau perintah yang

27

diamanatkan kepadanya, menurut cara, alat, dan tingkatan pencapaan sasaran
yang telah ditetapkan.

Perencanaan Tata Ruang Wilayah adalah perencanaan penggunaan atau
pemanfatan ruang wilayah, yang intinya adalah perencanaan penggunaan
lahan (land use plan-ning) dan perencanaan pergerakan pada ruang tersebut.
Perencanaan ruang wilayah pada dasarnya adalah menetapkan kawasan atau
zona yang tegas diatur pengguanaannya. Pengembangan sistem perkotaan
harus diarahkan sedemikian rupa agar selaras dengan arah pengembangan
wilayah. yang dimaksut dengan prinsip akuntabilitas adalah akan menunjukkn
bahwa penyelenggaraan penataan ruang dapat dipertanggungjawabkan, baik
prosesnya, pembiyaannya, maupun hasilnya.

Badan

Perencanaan

Pembangunan

Daerah

Kabupaten

Pesawaran

(BAPPEDA) dalam kontek otonomi daerah adalah instasi pemerintah daerah
yang mempunyai kewengan melakukan penyusun dan pelaksaan kebijakan
daerah di bidang perencanaan termasuk perencanaan Tata Ruang Wilayah.
Tata Ruang Kota merupakan bangian dari Tata Ruang Wilayah dalam hal ini
pengembangan system tata perkotaan atau kawasan perkotaan tentunya harus
diarahkan sedemikiaan rupa agar selaras dengan arahan pengembangan
wilayah.

Prinsip akuntabilitas publik adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa
besar tingkat kesesuaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran nilainilai atau norma-norma eksternal yang dimiliki oleh para stakeholders yang

28

berkepentingan dengan pelayanan tersebut. Sehingga, berdasarkan tahapan
sebuah program, akuntabilitas dari setiap tahapan adalah :
1. Pada tahap proses pembuatan Rencana Tata Ruang Wilayah.
a. Pembentukan Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah
b. Proses Perencanaan Tata Ruang
c. Proses Penyusunan dan Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah
2. Pada tahap sosialisasi Rencana Tata Ruang Wilayah

Untuk lebih jelas pertanggungjawaban perencanaan pembangunan wilayah
dapat kita lihat pada kerangka pikir berikut ini.

Pada tahap proses pembuatan
Rencana Tata Ruang Wilayah
a. Proses
Pembentukan
badan
koordinasi penataan ruang daerah
b. Proses Perencanaan Tata Ruang
c. Proses Perencanaan Penyusunan
dan Penetapan Rencana Tata
Ruang Wilayah

Pada tahap sosialisasi Rencana Tata
Ruang Wilayah

GAMBAR 1 : Skema Kerangka Pikir

Akuntabiltas Badan
Perencanaan Pembangunan
Daerah Kabupaten Pesawaran
dalam Penataan Tata Ruang
Kota

III METODE PENELITIAN

A. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara
terperinci mengenai fenomena-fenomena sosial tertentu yang berkenaan
dengan masalah dan unit yang diteliti, yaitu berusaha menggambarkan proses
Akuntabilitas

Badan

Perencanaan Pembangunan Daerah

Kabupaten

Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.

Menurut Moleong (2004:6), penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena yang dialami oleh subyek penelitian
misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain. Secara holistik
dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu
konteks khususnya yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
ilmiah.
Sedangkan Bog dan Taylor (dalam Lexy J. Moleong, 2000:3) mendefinisikan
penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data
desktiptif berupa kata-kata tulisan/lisan dari orang-orang/prilaku yang dapat
diamati. Dengan penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan peristiwa riil
di lapangan bahkan mengungkapkan nilai-nilai tersembunyi dari hasil
penelitian.
Penulis menggunakan tipe penelitian kualitatif ini karena sesuai dengan
kebutuhan penelitian ini yaitu menuturkan dan mendefinisikan data tentang

30

proses Akuntabilitas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten
Pesawaran Dalam Penataan Tata Ruang Kota.

B. Fokus Penelitian

Penelitian kualitaitif yang harus diperhatiakn adalah masalah dan fokus
penelitian. Fokus penelitian ini memegang peranan yang sangat penting
dalam memandu dan mengarahkan jalanya suatu penelitian. Fokus penelitian
sangat membantu seseorang peneliti angar tidak terjebak oleh melimpahnya
volume data yang masuk, termasuk juga yang tidak berkaitan dengan masalah
penelitian. Fokus memberikan kemudahan dalam pengumpulan data,
sehingga peneliti fokus memahami masalah yang menjadi tujuan peneliti.
Menurut Moleong (2005:92) penetapan fokus sebagai penting artinya dalam
usaha menentukan batasan penelitian.

Untuk mengetahui Akuntabilitas Badan Perencanaan Pembanguan Kabupaten
Pesawaran Dalam Penataan Tata Kota maka yang menjadi fokus dalam
penelitian ini adalah:
1. Pada tahap proses pembuatan Rencana Tata Ruang Wilayah meliputi:
a. Pembentukan badan koordinasi penataan ruang daerah
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Pelaksanaan
b. Proses Perencanaan Tata Ruang
tahap menentukan struktur ruang dan pola ruang
c. Penyusunan dan penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah
2. pada tahap sosialisasi kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah

31

C. Lokasi Penelitian

Menurut Lexy J. Moleong (2005:86):
Dalam penentuan lokasi penelitian cara terbaik yang ditempuh
dengan jalan mempertimbangakn teori subtantif; pergilah dan
jajakilah lapangan untuk mel
Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 1031 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 292 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 233 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

2 165 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 226 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 305 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 288 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

5 164 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

7 298 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 329 23