Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA DOKTER YANG
MELAKUKAN EUTHANASIA TERHADAP PASIEN
SKRIPSI
Diajukan guna melengkapi Tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat
untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :
HERDHENY SARI MANIK
NIM : 040200197
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan yang tiada henti-hentinya akan
kehadhirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah
memberikan kesempatan penulis untuk dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini, yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Shalawat dan salam tak lupa
penulis panjatkan kepada junjungan nabi muhammad saw yang telah
memberikan jalan dan menuntun umatnya dari jalan yang gelap menuju jalan
yang terang yang disinari oleh nur iman dan Islam.
Skripsi ini berjudul: Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para Dokter
Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien, yang diajukan untuk
melengkapi tugas dan syarat menyelesaikan pendidikan sarjana pada Fakultas
Hukum, Bagian Hukum Pidana, Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa di dalam pelaksanaan pendidikan ini banyak
mengalami kesulitan-kesulitan dan hambatan, namun berkat bimbingan, arahan,
serta petunjuk dari dosen pembimbing, maka penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini
masih banyak kelemahan serta kekurangan-kekurangan, oleh karena itu
penulis mengharapkan adanya suatu masukan serta saran yang bersifat
membangun di masa yang akan datang.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan,
bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Universitas Sumatera Utara

1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM & H, Sp. A(K), sebagai Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M. Hum sebagai Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, sebagai Pembantu Dekan I Fakultas
Hukum USU.
4. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Hasibuan, SH, MH, DFM, sebagai Pembantu
Dekan II Fakultas Hukum USU.
5. Bapak Muhammad Husni, SH, M. Hum sebagai Pembantu Dekan III
Fakultas Hukum USU.
6. Bapak Abul Khair, SH, M. Hum sebagai Ketua Jurusan Departemen
Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Ibu Nurmalawaty,

SH,

M.Hum

sebagai Dosen Pembimbing I, terima

kasih atas bimbingan dan dukungan bapak ini kepada penulis.
8. Dra.Marlina,

SH,

M.Hum

sebagai Dosen Pembimbing II, terima kasih

atas bimbingan dan dukungan bapak ini kepada penulis.
9. Ibu Afnila,

SH,

M.Hum

sebagai Dosen Penasehat Akademik selama

penulis menjalani perkuliahan di Fakultas Hukum USU.
10. Seluruh staf Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum USU
11. Seluruh Bapak dan Ibu Staf Pengajar Fakultas Hukum USU
12. Ayahanda Junaidi Sari Manik dan Nurmi Butar-Butar,S.Pd, yang tercinta,
sembah sujud ananda haturkan atas curahan dan belaian kasih sayang yang tulus
dan dengan susah payah dan segala upaya telah membesarkan dan mendidik
ananda hingga ananda dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi, serta

Universitas Sumatera Utara

seluruh keluarga besar yang memberikan dorongan semangat kepada penulis
selama mengikuti perkuliahan hingga selesai skripsi ini.
13. Adinda Nurwinda Sari Manik, terima kasih atas dukungannya.
14. Buat seseorang yang kusayangi Almh.Yessie Karlina Nst. Yang selalu
mendukung disaat perkuliahan dan memberikan motivasi yang besar, Semoga
amal ibadahnya diterima disisi-Nya.
15. Buat teman-temanku Dedy Nst cool, Nofan Jablay anak Pak Affan, Ilmi
Negro, Sandi, dan juga teman-teman lain yang tidak bisa di sebutkn satu persatu,
kalian akan selalu dihatiku.
16. Buat semua pihak yang telah berpartisipasi atas penulisan skripsi ini yang
tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Demikianlah yang penulis dapat sampaikan, atas segala kesalahan dan
kekurangannya penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Medan, 14 Maret 2010

Hardheny Sari Manik

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………

i

DAFTAR ISI ……………………………………………………..

ii

ABSTRAKSI …………………………………………………….. iii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………..

1

A. Latar Belakang Masalah ………………………………….

1

B. Permasalahan ……………………………………………..

6

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan …………………………...

7

D. Keaslian Penulisan ………………………………………..

8

E. Tinjaun Pustaka……………………………………………

9

F. Metode Penelitian ………………………………………… 14
1. Pendekatan Penelitian …………………………………

14

2. Alat Pengumpul Data ………………………………….

14

3. Analisa Data …………………………………………... 14
G. Sistematika Penulisan……………………………………… 16
BAB II TANGGUNG JAWAB DOKTER YANG MELAKUKAN
EUTHANASIA ………………………………………….. 18
A. Tanggung Jawab Dokter Menurut Profesi Medis ………… 18
B. Tanggung Jawab Dokter Yang Menurut KUHPidana ……. 24
BAB III PERLINDUNGAN TERHADAP DOKTER YANG
MELAKUKAN EUTHANASIA ………………………. 30
A. Perbuatan euthanasia yang dapat dilindungi ……………... 30
B. Perlindungan Hukum ……………………………………… 46

Universitas Sumatera Utara

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………………………… 53
A. Kesimpulan ………………………………………………... 53
B. Saran ………………………………………………………. 56
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………….. 58

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

Dokter melakukan euthanasia setelah adanya permintaan yang
sungguh-sungguh dari pasien atau keluarganya. Memang bisa terjadi
seseorang meminta kepada dokter agar dicabut nyawanya, misalnya
karena faktor frustasi atau kegagalan hidup yang dialaminya, ataupun
karena kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Namun, apabila dokter
mengabulkan permintaan tersebut la telah melanggar Kode Etik
Kedokteran Indonesia dan juga lafal Sumpah Dokter dan perbuatan
tersebut dapat di golongkan kepadanya pembunuhan.
Bahwa
euthanasia

perlindungan
oleh

hukum

karena:Negara

diperlukan

Indonesia

dokter

adalah

melakukan

negara

yang

berdasarkan atas Hukum (rechtstaat) dan bukan berdasarkan atas
kekuasaan belaka (machtstaat).Sifat dan hakekat dari pada euthanasia
tidaklah secara mutlak universal merupakan delik yang harus dihukum.
Bahwa pengaturan Pasal 344 KUHPidana mengenai euthanasia
mempunyai kelemahan antara lain: Adanya unsur: atas permintaan orang
itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati, yang mempersulit
pembuktian dan penuntutan.Pasal 344 KUHPidana adalah mengenai
euthanasiu aktif, sedangkan mengenai euthanasia pasif tidak ada di atur
Undang-undang.Delik euthanasia adalah delik biasa, dan bukan delik
aduan, sehingga dituntut keuletan dan ketajaman aparat penyelidik dan
penyidik untuk mengungkapkan apakah sesuatu perbuatan euthanasia
telah dilakukan.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perputaran zaman dari masa kemasa membawa kehidupan
masyarakat selalu berubah, berkembang menurut keadaan, tempat dan
waktu. Oleh karena itu timbullah bermacam corak dan aneka ragam
perbuatan kehidupan masyarakat, sehingga dapat saja timbul suatu
perbuatan Undang-undang Hukum Pidana dilarang, karena dianggap
tercela oleh pembentuk undang-undang.1
Dengan demikian semakin majunya zaman maka tentu saja pola
fikir manusia juga semakin maju, dengan majunya teknologi yang dimi1iki
tentu saja merupakan suatu kemajuan bagi masyarakat untuk mengenal
berbagai kemajuan zaman.
Dari hasil kemajuan zaman ini masyarakat tidak perlu lagi
memikirkan kematian dirinya sendiri. Manusia sudah menempuh kematian
tanpa melakukan penyiksaan terhadap dirinya. Apabila seseorang tidak
dapat lagi menahan penderitaannya karena sakit maka dengan kemajuan
peralatan

kedokteran

ia

dapat

meminta

kepada

dokter

untuk

menghilangkan jiwanya.
1

Abdoel Djamali, Pengantar Hukurn Indonesia, PT, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 1993, hal. 21

Universitas Sumatera Utara

Permintaan untuk menghilangkan jiwa tersebut Ilmu Hukum Pidana
dikenal dengan perbuatan euthanasia. Di mana euthanasia ini secara
jelas di atur Pasal 344 KUHPidana: “Barang siapa merampas nyawa
orang lain atas perrnintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan
kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas
tahun”.
Ketentuan Pasal 344 KUHPidana ini merupakan suatu perbuatan
yang menghilangkan jiwa orang lain yang harus dikenakan hukuman,
untuk seorang dokter harus lebih berhati-hati untuk melakukan euthanasia
tersebut. Adanya permintaan dari pasien untuk menghilangkan jiwanya
maka dokter perlu dilindungi demi menjaga nama baik seorang dokter, di
mana menjalankan tugas-tugasnya sehari-hari seorang dokter terikat
dengan sumpah jabatan dan kode etik yang digariskan kepadanya.
Peneliti berkeyakinan bahwa euthanasia bukan tidak pernah terjadi
di Indonesia terutama apabila si pasien tidak mungkin lagi disembuhkan
atau pengobatannya diberikan tidak berpotensi lagi. Kasus euthanasia ini
dianggap tidak pernah terungkap. Euthanasia sekarang di sebut dengan
Mercy Killing (mati otak) KUHPidana di atur Pasal 344.
Adanya unsur permintaan orang itu sendiri yang dinyatakan dengan
kesungguhan hati, mengakibatkan sulitnya pembuktian penuntutan bahwa

Universitas Sumatera Utara

seorang dokter itu telah melakukan euthanasia, terlebih bila si pasien
telah berada dalam keadaan incompetent (tidak mampu berkomunikasi)
menyatakan kehendaknya, menolak atau menyetujui jiwanya dihilangkan,
serta keadaan In a Persistent Vegetative State (mati tidak hidup pun
tidak), bagaimana mungkin untuk membuktikan adanya permintaan orang
itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati.2
Apabila kita memandang dari segi pandangan agama kematian itu
bukanlah merupakan kehendak manusia akan tetapi dapat dinyatakan
bahwa kematian itu sudah merupakan suatu kewajiban bagi orang yang
hidup dan semua manusia yang hidup pasti akan menuju kematian.
Adapun alasan-alasan dan faktor-faktor yang menyebabkan dokter
melakukan euthanasia adalah sebagai berikut:
1. Adanya penyakit yang diderita pasien yang menurut dokter tidak
dapat lagi di sembuhkan dan di mana si penderita atau keluarganya
harus mengeluarkan biaya pengobatan yang besar dengan sia-sia
saja.
2. Adanya rasa frustasi atau kegagalan hidup dari si pasien, sehingga
si pasien tidak lagi ingin untuk hidup.3

2
3

Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1987, hal. 19
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Di antara para sarjana terdapat perbedaan pendapat tentang jenis
ataupun bentuk euthanasia, seperti halnya:
1. Vrijwillige euthanasia yang maksudnya euthanasia yang
dilaksanakan dengan adanya permintaan yang nyata dan sungguhsungguh dari si pasien.
2. Onvrijwillige euthanasia yang maksudnya tidak adanya pennintaan
yang nyata dan sungguh-sungguh dari si pasien.
3. Passieve euthanasia yang maksudnya hal ini tidak atau tidak lagi
digunakan alat
alat ataupun perbuatan yang dapat
memperpanjang hidup si pasien.
4. Active euthanasia yang maksudnya itu menggunakan alat-alat
ataupun perbuatan yang memperpendek hidup si pasien.4
Dr. H. Akbar mengemukakan, Euthanasia aktif dan euthanasia
pasif, penderita gawat dan darurat dirawat di rumah sakit atau dibagian
rumah sakit gawat darurat dengan peralatan yang majemuk untuk
menolong jantung, pernapasan dan cairan tubuh, sehingga alat-alat tubuh
itu dapat berfungsi dengan baik.5
Euthanasia aktif dilakukan dengan menghentikan segala alat-alat
pembantu ini, sehingga jantung dan pernafasan tidak dapat bekerja dan
akan berhenti berfungsi, atau memberikan obat penenang dengan dosis
yang melebihi, yang juga akan menghentikan fungsi jantung. Euthanasia
pasif di lakukan bila penderita gawat darurat tidak diberi obat sama sekali.

4

Soerjono Soekanto, “Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 47
5
Ibid. hal., 45

Universitas Sumatera Utara

Dari uraian-uraian tersebut di atas dapat di ambil kesimpulan
bahwa euthanasia aktif maupun euthanasia pasif adalah merupakan
pembunuhan secara langsung.
Dr. R. Soeprono membagi euthanasia empat bentuk yaitu:
1. Euthanasia sukarela (Voluntary euthanasia) pasien meminta,
membei izin/persetujuan untuk menghentikan atau meniadakan
perawatan yang memperpanjang hidup.
2. Euthanasia terpaksa (Invulunturv eulfzunusiu) membiarkan pasien
mati tanpa
3. sepengetahuan si pasien sebelumnya dengan cara menghentikan
atau meniadakan perawatan yang memperpanjang hidup.
4. Mercy Killing sukarela (Volunturi Mercy Killing) dengan
sepengetahuan dan
5. persetujuan pasien diambil tindakan yang menyebabkan kematian.
6. Mercy Killing terpaksa (Involunlari A1ercv Killing) tindakan sengaja
di ambil tanpa sepengetahuan si pasien untuk mempercepat
kematian. 6
Dengan demikian euthanasia mempunyai pengertian yang luas
karena bukan hanya atas permintaan pasien saja, melainkan juga tanpa
persetujuan pasien atau keluarga. Di Belanda, perumusan euthanasia dari
Koniklijke

Nederlanclche

Matschuppij

Geneeskunst

(KNNG)

lebih

memandang euthanasia tersebut dari kepentingan si pasien: tersebut
bersifat aktif (caution). Dari tindakan yang aktif ini seorang pasien akan
mati dengan tenang, misalnya dengan memberikan injeksi dengan obat
yang menimbulkan kematian, obat penghilang rasa kesadaran dosis yang
tinggi dan lain-lain.

6

Djoko Prakoso dan Djaman Andhi Nirwanto, Euthanasia Hak Azasi Manusia
dan Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 54

Universitas Sumatera Utara

Antara jenis euthanasia yang pertama dengan yang ketiga ini,
sama-sama didasarkan atas permintaan pasien atau keluarganya kepada
dokter. Hanya saja pada jenis pertama dokter bersifat pasif, sedang pada
jenis yang ketiga dokter lebih bersifat aktif bertindak untuk mempercepat
terjadinya kematian.
Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa dokter yang melakukan
euthanasia tersebut perlu dilindungi mengingat profesinya sebagai dokter,
dan perlindungan tersebut adalah perlindungan yang bersangkut paut
dengan hukum. Berdasarkan paparan tersebut di atas penelitian akan di
beri judul: "PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PARA DOKTER YANG
MELAKUKAN EUTHANASIA TERHADAP PASIEN".

B. Permasalahan
Dalam sebuah penelitian diperlukan adanya perumusan masalah
yang akan dibahas. Adapun perumusan masalah pada penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pertanggungjawaban terhadap dokter yang melakukan
Euthanisa ?
2. Bagaimanakah perlindungan terhadap dokter yang melakukan
euthanisa ?

Universitas Sumatera Utara

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Dalam rangka penyusunan skripsi ini penulis mempunyai tujuan
yang hendak dicapai, sehingga penulisan ini akan lebih terarah serta
dapat mengenai sasarannya. Tujuan utama daripada penulisan skripsi ini
adalah sebagai sarana untuk melengkapi tugas akhir dan syarat untuk
memperoleh gelar sarjana “Sarjana Hukum” dari Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara. Selain itu, adapun tujuan lain daripada
penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana pertanggungjawaban dokter yang
melakukan melakukan euthanasia dan sampai di mana tanggung
jawab dokter yang melakukan euthanisa.
2. Untuk mengetahui apakah dokter yang melakukan euthanasia
tersebut dapat (perlu dilindungi) dan perlindungan yang bagaimana
dapat digunakan.
Selain tujuan daripada penulisan skripsi ini, perlu pula diketahui
bersama bahwa manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penulisan
skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Skripsi ini diharapkan dapat memberikan masukan yang cukup
berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan secara umum, dan
ilmu hukum pada khususnya, dan lebih khususnya lagi adalah di
bidang hukum pidana. Selain itu, skripsi ini diharapkan juga dapat

Universitas Sumatera Utara

memberikan masukan bagi penyempurnaan perangkat ketentuan di
bidang hukum pidana.
2. Secara praktis
Melalui penulisan skripsi ini, diharapkan dapat memberikan
masukan dan pemahaman yang lebih mendalam bagi aparat
penegak hukum dan masyarakat sehingga akan lebih mengetahui
apa saja yang menyebabkan dokter melakukan euthanasia. Serta
dapat mengetahui sampai di mana tanggung jawab dokter yang
melakukan euthanasia tersebut menurut KUHPidana, serta apakah
dokter yang melakukan euthanasia tersebut dapat atau perlu
dilindungi.

D. Keaslian Penulisan
Tulisan yang berjudul Perlunya Perlindungan Hukum Bagi Para
Dokter Yang Melakukan Euthanasia Terhadap Pasien merupakan hasil
dari

penelitian

penulis.

Penulis

telah

melakukan

penelusuran

di

perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, dan tidak ada
skripsi mahasiswa yang menulis tentang judul tulisan ini. Karena para
mahasiswa belum ada yang menulis, maka tulisan ini asli dari buah pikiran
penulis. Jika dikemudian hari telah nyata ada skripsi yang sama dengan
skripsi ini, sebelum skripsi ini dibuat, maka saya akan bertanggung jawab
sepenuhnya.

Universitas Sumatera Utara

E. Tinjauan Pustaka
Euthanasia secara singkat dapat diartikan mati dengan tenang
tanpa suatu penderitaan. 7Menyinggung masalah kematian, menurut cara
terjadinya maka ilmu pengetahuan membedakannya tiga jenis kematian,
yaitu:
a. Orthothunasia, yaitu kematian yang terjadi karena suatu proses
alamiah.
b. Dysthanasia, yaitu suatu kematian yang terjadi secara tidak wajar.
c. Euthanasia, yaitu suatu yang terjadi dengan pertolongan atau
tidak dengan pertolongan.8
Kematian yang ketiga yaitu Euthanasia, mulai menarik perhatian
dan mendapat sorotan dunia lebih-lebih setelah dilangsungkannya
konfrensi hukum sedunia, yang diselenggarakan oleh World Pace
Thorough Law Center di Manila (Pilipina) tanggal 22 dan 23 Agustus
1977.9

1. Pengertian Euthanasia Secara Agama
Dilihat dari segi agama, baik Islam, Kristen, Katholik dan
sebagainya, maka euthanasia merupakan perbuatan yang di larang,
sebab masalah kehidupan dan kematian seseorang itu berasal dari
penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Jadi perbuatan-perbuatan yang

7

Parlaungan Ritonga, Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Bartong Jaya, Medan,
2006. hal. 27
8
Ibid.
9
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

menjurus kepada tindakan penghentian hidup merupakan tindakan yang
bertentangan dengan kehendak Tuhan, oleh karenanya tidak dibenarkan.
Agama Islam yang mayoritas dianut oleh Bangsa Indonesia jelas
melarang euthanasia. Hadist Nabi Muhammad S.A.W. yang diriwayatkan
oleh Annas r.a. menyebutkan sebagai berikut:
Bahwa Rasullullah Pernah berkata: “Janganlah tiap-tiap orang dari
kamu meminta-minta mati, karena kesukaran yang menimpanya.
Jika memang sangat perlu dia berbuat demikian, maka ucapkanlah
doa sebagai berikut: Ya Allah panjangkanlah umurku, kalau
memang hidup adalah lebih baik bagiku, dan matikanlah aku
menakala memang lebih baik bagiku.“10
Apabila jika dilihat dari bunyi hadist di atas, dinyatakan secara jelas
bahwa euthanasia itu di larang ajaran Islam. Di samping itu masih banyak
ayat-ayat suci Al Qur'an dan Hadist-hadist Nabi Muhammad lain yang
melarang bunuh diri (suicide) yang mirip dengan euthanasia, misalnya
karena kebosanan akan hidup dan umumnya karena takut akan tanggung
jawab hidup.
Tindakan demikian ini sangat diharamkan oleh Agama Islam,
misalnya dalam Surat An Nisa ayat 29:
“Hai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu makan harta
sesamamu dengan jalan curang, kecuali dengan cara perdagangan
yang berlaku dengan suka rela diantaramu. Dan janganlah kamu
membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang
Padamu”. 11
Surat Al An'am ayat 15l:
“Katakanlah! Marilah kubacakan apa-apa yang telah diharamkan
Tuhan padamu, yakni: janganlah kamu mempersekutukan dia
10
11

Ibid., hal. 63
Al Qur'an dan Terjemahannyu, 1993, Departemen Agarna RI. hal. 65

Universitas Sumatera Utara

dengan sesuatupun, berbaktilah kepada kedua orang tuamu. Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin.
Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka juga.
Janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji dan terang
maupun yang tersembunyi. Dan janganlah kamu buruk jiwa yang
diharamkan Allah membunuhnya kecuali karena sebab-sebab yang
dibenarkan oleh syari'at. Begitulah yang diperintahkan Tuhan
kepadamu supaya kamu memikirkannya”.12
Surat Al Isra' ayat 3l:
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut
melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan
kepadamu juga. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa
yang besar”.13
Surat A1 `Araf ayat 34: “Bagi tiap-tiap umat itu ada batas waktu
tertentu (ajal/mati), sebab itu bila datang waktunya itu, mereka tidak dapat
mengulurkan barang seketika maupun mempercepatnya.
Jadi jelaslah terutama dari surat Al'Araf ayat 34 tersebut di atas
diajarkan bahwa masalah mati dan hidup manusia itu ada di tangan
Tuhan, sehingga manusia tidak dapat menentukannya.
Ditinjau dari segi ajaran Agama Kristen (katholik dan Protestan)
yang juga banyak di anut oleh bangsa Indonesia hal semacam ini yang
diuraikan di atas pun merupakan suatu tindakan di larang. Di samping itu
diajarkan pula bahwa soal hidup dan matinya seseorang berada di tangan
Tuhan, misalnya Kitab Injil Perjanjian Baru karangan Martius Bab 6:
“25.Sebab itu aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan
hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan
janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu
makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan

12
13

Ibid., hal. 64
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari
pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian”.
26. Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat
menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya di dunia.14
Apabila dilihat dari ajaran ini dapat di ambil kesimpulan, bahwa
masalah nyawa seseorang itu lebih penting dari hal-hal lainnya, dan hidup
serta matinya seseorang itu ada di tangan Tuhan, manusia tidak akan
dapat mempercepat ataupun memperlambatnya barang sedikit pun.
2. Pengertian Euthanasia Secara Pidana
Dilihat dari segi perundang-undang dewasa ini belum ada
peraturan yang baru dan lengkap tentang euthanasia ini menyangkut
keselamatan manusia, maka harus di cari pengaturannya atau pasal yang
sekurang-kurangnya mendekati masalah euthanasia adalah apa yang di
atur Buku 11, Bab IX Pasal 344 KUHPidana.
Sejarah pembentukan KUHPidana, pembentukan undang-undang
pada zaman Belanda menganggap bahwa jiwa manusia sebagai milik
yang paling berharga dibanding milik manusia lainnya, sebab itu setiap
perbuatan itu mengancam keamanan dan keselamatan jiwa manusia,
dianggap sebagai kejahatan besar oleh negara.
Dilihat dari aspek Hukum Pidana, euthanasia aktif maupun
euthanasia pasif apapun di larang, euthanasia akfif maupun euthanasia

14

Martius, Kitab Injil Perjanjian Baru, Departemen Agarna RI. 1993, hal. 67

Universitas Sumatera Utara

pusif atas permintaan, dilarang menurut Pasal 344 KUHPidana, yang
berbunyi:
Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang
itu sendiri, yang dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan
pidana penjara selama lamanya dua belas tahun.
Bunyi pasal ini dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak
diperbolehkan melakukan pembunuhan terhadap orang lain walaupun
atas permintaan orang itu sendiri.
Dengan demikian euthanasia mempunyai pengertian yang luas
karena bukan hanya atas permintaan pasien saja, melainkan juga tanpa
persetujuan pasien atau keluarga. Di Belanda, perumusan euthanasia dari
Koniklijke

Nederlanclche

Matschuppij

Geneeskunst

(KNNG)

lebih

memandang euthanasia tersebut dari kepentingan si pasien: tersebut
bersifat aktif (caution). Dari tindakan yang aktif ini seorang pasien akan
mati dengan tenang, misalnya dengan memberikan injeksi dengan obat
yang menimbulkan kematian, obat penghilang rasa kesadaran dosis yang
tinggi dan lain-lain.
Antara jenis euthanasia yang pertama dengan yang ketiga ini,
sama-sama didasarkan atas permintaan pasien atau keluarganya kepada
dokter. Hanya saja pada jenis pertama dokter bersifat pasif, sedang pada

Universitas Sumatera Utara

jenis yang ketiga dokter lebih bersifat aktif bertindak untuk mempercepat
terjadinya kematian.

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Penulisan dalam skripsi ini, tentunya akan melakukan penelitian
untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Hal ini akan menggunakan
metode penelitian yang bersifat normatif. Hal ini ditempuh dengan cara
melakukan penelitian kepustakaan (library research), atau biasa dikenal
dengan sebutan studi kepustakaan, walaupun demikian penelitian
dimaksud tidak lepas pula dari sumber lain selain sumber kepustakaan,
yakni penelitian terhadap bahan media massa ataupun dari internet.
Penelitian kepustakaan yang normatif adalah penelitian dengan mengolah
dan menggunakan bahan hukum primer dan juga bahan hukum sekunder
yang berkaitan dengan aspek hukum pidana yang berkaitan dengan
masalah Euthanasia.

2. Alat Pengumpul Data
Materi dalam skripsi ini diambil dari bahan hukum seperti yang
dimaksudkan di bawah ini :

Universitas Sumatera Utara

a. Bahan hukum primer, yaitu :
Berbagai dokumen peraturan nasional yang tertulis, sifatnya
mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang, Dalam tulisan
ini antara lain adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu:
Bahan-bahan yang berkaitan erat dengan bahan hukum primer, dan
dapat digunakan untuk menganalisa dan memahami bahan hukum
primer yang ada. Semua dokumen yang merupakan informasi atau
hasil kajian tentang Ethanasia, seperti hasil seminar atau makalah
para pakar hukum kesehatan, surat kabar, majalah, dan juga sumbersumber dari dunia maya internet yang tentunya memiliki kaitan erat
dengan persoalan yang dibahas.
c. Bahan Hukum Tertier atau penunjang, yang mencakup kamus
bahasa, untuk pembenahan tata bahasa Indonesia dan juga sebagai
alat bantu pengalih bahasa beberapa literatur asing.15

3. Analisa Data
Bahan hukum primer, dan bahan hukum sekunder, termasuk pula
bahan tersier yang telah disusun secara sistematis sebelumnya, kemudian

15

Soerjono Soekanto, Op.Cit., hal. 47

Universitas Sumatera Utara

akan dianalisis secara perspektif atau menggunakan analisis perspektif dengan
menggunakan metode-metode sebagai berikut:16
a. Metode kualitatif, dimana proses berawal dari proposisi-proposisi
khusus (sebagai hasil pengamatan) dan berakhir pada suatu
kesimpulan (pengetahuan baru) yang berkebenaran empiris. Dalam
hal ini, adapun data-data yang telah diperoleh akan dibaca,
ditafsirkan, dibandingkan, dan diteliti sedemikian rupa sebelum
dituangkan dalam menarik satu kesimpulan akhir.
b. Metode kuantitatif, yang bertolak dari suatu proposisi umum yang
kebenarannya telah diketahui (diyakini) yang merupakan kebenaran
ideal yang bersifat aksiomatik (self evident) yang esensi kebenarannya
tidak perlu diragukan lagi, dan berakhir pada kesimpulan (pengetahuan
baru) yang bersifat lebih khusus.

G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini, dalam garis besarnya akan dibagi ke dalam 5
(lima) bab yang saling berhubungan satu dengan lainnya, mulai dari bab
Pendahuluan, bab Tanggung jawab Dokter yang Melakukan Euthanasia
Menurut KUH Pidana, bab Perlindungan Dokter Yang Melakukan Euthanasia

16

Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Suatu Pengantarr,
(Jakarta : Penerbit PT. Raja Grafmdo Persada, 2003), hal 10-11.

Universitas Sumatera Utara

bab Penutup. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai
berikut:
1. BAB I yaitu Pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang
masalah yang menjadi dasar penulisan skripsi. Kemudian berdasarkan
kepada latar belakang
masalah

dan

penulisan

tersebut,

dibuatlah

perumusan

tujuan penulisan. Selain itu, dalam bab ini juga

diterangkan mengenai keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan,
metode penelitian dan sistematika penulisan.
2. BAB II yaitu Tanggung jawab Dokter yang Melakukan Euthanasia Menurut
KUH Pidana, yang membahas mulai dari tanggung jawab dokter dalam
profesi sampai dengan tanggung jawab dokter yang melakukan
Euthanasia menurut KUHPidana.
3. BAB III yaitu, Perlindungan Dokter Yang Melakukan Euthanasia, yang
membahas mulai dari Perbuatan Euthanasia yang dapat dilindungi dan
bagaimana perlindungan hukumnya.
4. BAB IV yaitu PENUTUP, yang berisikan mulai dari Kesimpulan dan
Saran

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TANGGUNG JAWAB DOKTER YANG MELAKUKAN EUTHANASIA

A. Tanggung Jawab Dokter Menurut Profesi Medis.
Pada dasawarsa ini para dokter dan petugas kesehatan lain
menghadapi sejumlah masalah dalam bidang kesehatan yang cukup berat
ditinjau dari sudut pandang medis-etis-yuridis. Masalah yang dimaksud,
antara lain: transplantasi organ manusia, inseminasi artificial, sterilisasi,
bayi tabung, Abortus provocatus, dan euthanasia. Dari keenam masalah
tersebut di atas maka euthanasia merupakan dilema yang menempatkan
tenaga kesehatan pada situasi yang sangat sulit, karena sampai sekarang
masih terus menjadi bahan perdebatan baik para ahli dari komponen
agama, medis, dan etis belum memperoleh kesepakatan, akibat situasi ini
semakin menempatkan dokter pada posisi yang sulit.
Kelompok yang tidak setuju berpendapat bahwa euthanasia adalah
suatu pembunuhan yang terselubung, sehingga bertentangan dengan
kehendak Tuhan. Kelompok ini berpendapat bahwa hidup adalah sematamata diberikan oleh Tuhan sendiri, sehingga tak seorang manusia atau
institusi manapun yang berhak mencabutnya. Dengan demikian manusia
sebagai ciptaan Tuhan yang tidak memiliki hak untuk mati. Kelompok yang
pro

berpendapat

bahwa

tindakan

euthanasia

dilakukan

dengan

Universitas Sumatera Utara

persetujuan dan tujuan utama untuk menghentikan penderitaan pasien.
Salah satu prinsip yang menjadi pedoman kelompok ini adalah pandapat
bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Jadi tujuan
utamanya adalah meringankan penderitaan pasien dengan resiko
hidupnya diperbaiki.
Namun, uniknya, kemajuan dan perkembangan yang pesat ini
rupanya tidak diikuti oleh perkembangan di bidang hukum dan etika.
Pakar hukum kedokteran Prof. Separovic menyatakan bahwa konsep
kematian dalam dunia kedokteran masa kini dihadapkan pada kontradiksi
antara etika, moral, dan hukum di satu pihak, dengan kemampuan serta
teknologi kedokteran yang sedemikian maju di pihak lain.17
Masalah euthanasia, terlepas dari faktor-faktor yang melatar
belakangi dokter untuk melakukannya, bukanlah semata-mata merupakan
permasalahan medical ethis saja, tetapi persoalannya adalah juga bio
ethics dan karenanya bersifat interdisipliner. Lebih jauh dari itu, masalah
euthanasia

tidaklah

akan

terlepas

dari

jangkauan

hukum

yang

mengaturnya, oleh karena euthanasia tersebut menyangkut keselamatan
jiwa manusia, gangguan terhadap kelangsungan hidup seseorang.

17

Wirjono Prodjo Dikoro, Asas-asas Hukum Pidana Di Indonesia, Refika Aditama,
Bandung., 2008, hal. 36

Universitas Sumatera Utara

Manusia memerlukan jasa seorang dokter untuk menyembuhkan
penyakitnya. Seorang dokter dengan segala kemampuan yang ada
padanya dan berdasar sumpahnya akan memberikan pertolongan kepada
pasiennya. Tujuan utamanya bukan semata-mata mencari uang, tetapi
lebih

memandang

tugasnya

sebagai

keharusan

sosial

dan

menyelamatkan pasiennya dari penyakit dan tidak menguntungkan diri
sendiri.
Menurut Oemar Seno Adji, Pekerjaan dokter adalah:
Sebagai suatu panggilan untuk melayani sesama yang sakit dan
yang memerlukan bantuan. Untuk itu tuntutan pada profesi
kedokteran harus meningkatkan pengetahuan dan keahlian terus
menerus yang merupakan ethos kedokteran modern. 18

Menjalankan profesinya, dokter dibedakan atas:
1. Dokter Umum.
Yang dimaksud dengan dokter umum adalah seorang yang telah
memenuhi

seluruh

tuntutan

pendidikannya

di

Fakultas

Kedokteran, sehingga la dapat berpraktek sebagai dokter umum.
2. Dokter Spesialis.
Yang dimaksud dokter spesialis adalah seorang dokter yang
telah memenuhi seluruh tuntutan pendidikannya di Fakultas
Kedokteran dan kemudian melanjutkan pendidikannya untuk
mengambil bidang spesialisasi yang dimintanya.
18

Oemar Seno Adji, Etika Profesional dan Hukum Pertanggung Jawaban Pidana
Dokter, Profesi Dokter, Erlangga, Jakarta, 1991, hal. 5

Universitas Sumatera Utara

Oleh karena makin luas dan rumitnya ilmu kedokteran, maka
seorang dokter tidak mungkin mengetahui semuanya. Karena itu seorang
dokter perlu memperlancar hubungan anggota sebagai seorang profesi
medis, konsultasi dengan kolega atau dokter spesialis, baik menyangkut
penyembuhan penyakit maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan
profesi medis.
Mengenai tugas dokter, secara umum tercermin dari Kode Etik
Kedokteran Indonesia (KEKI), yang tercantum empat kewajiban, yaitu:
1. Kewajiban Umum
2. Kewajiban Dokter terhadap pasien
3. Kewajiban Dokter terhadap teman sejawat
4. Kewajiban Dokter terhadap diri sendiri
Keempat kewajiban ini merupakan pedoman bagi dokter untuk
melaksanakan tugas mulia dan luhur profesi medis tersebut. Di dalam
kewajiban itu, yang menjadi tugas pokok sehari-hari adalah kewajiban
dokter terhadap pasien karena hubungan dengan pengobatan dan
penyembuhan penyakit pasien.
Tanggung jawab seorang dokter adalah harus menunaikan
kewajibannya dengan sungguh-sungguh dan dengan keinsyafan akan
beratnya tanggung jawab yang dipikulnya. Seorang dokter menjalankan
profesi medisnya, selain dibebani dengan tanggung jawab etis, moral

Universitas Sumatera Utara

serta tanggung jawab kepada Tuhan (tanggung jawab religius), juga
dibebani tanggung jawab hukum.
Kemampuan profesional dokter biasanya diukur dari kemahiran
serta wewenang untuk melaksanakan profesinya. Suatu kesalahan
mungkin terjadi apabila yang bersangkutan kurang pengalaman, kurang
pengetahuan

dan

pengertian.

Dengan

demikian

seorang

dokter

melakukan kesalahan apabila la tidak memeriksa, menilai, berbuat atau
meninggalkan hal-hal yang harus diperiksa, dinilai, diperbuat atau
ditinggalkan oleh para dokter pada umumnya disituasi yang sama.
Jadi, suatu kesalahan profesional belum tentu mengakibatkan
terjadinya tanggung jawab hukum. Tetapi tanggung jawab hukum
dasarnya adalah tanggung jawab profesional. Tanggungjawab hukum
seorang dokter profesinya dapat berupa;
1. Tanggung jawab Pidana
2. Tanggung jawab Perdata
3. Tanggung jawab Administratif
Tanggung

jawab

pidana

terjadi

misalnya

apabila

terdapat

kesalahan dokter yang menimbulkan kematian atau luka-luka terhadap
pasien. Faktornya adalah faktor kelalaian, dan bukan kesengajaan seperti
yang terdapat misalnya pada penganiayaan. Kita tahu bahwa ilmu Hukum

Universitas Sumatera Utara

Pidana, kesalahan (schuld) dapat disebabkan oleh kesengajaan (obzet)
atau oleh kelalaian.
Untuk

menentukan

kematian

seseorang

diperlukan

kriteria

diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat
dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Kriteria diagnostik pertama yang
dibuat oleh para ahli di bidang kedokteran adalah berdasarkan konsep
“permanent of

heart

beating

and respiration

is

death”.

Setelah

ditemukannya respirator yang dapat mempertahankan fungsi paru-paru
dan jantung maka disusunlah kriteria baru berdasarkan pada kansep
“brain death is death”. Terakhir, konsep diagnostik tersebut diperbaiki lagi
menjadi “brain stem death is death”.19
Di Indonesia, lkatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat keputusan
Nomor 336/PB/A.4/88 merumuskan bahwa seseorang dinyatakan mati
apabila fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti
(irreversible), atau apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak.
Seorang filosof Yunani yang meletakkan landasan legisme bagi
sumpah dokter dan etika kedokteran, Hippocrates menuntut para
muridnya untuk bersumpah tidak melakukan euthanasia dan pengguguran
kandungan, kemudian PP Thun 1969 tentang Lafal Sumpah Dokter

19

“Euthanasia, Legal atau Non Legal”, http://www.Artikel.com diakses tanggal 05
Nopember 2009

Universitas Sumatera Utara

Indonesia yang bunyinya sama dengan Deklarasi Jenewa 1948 dan
Deklarasi Sydney 1968.20
Agar timbul tanggung jawab pidana, maka pertama-tama harus
dibuktikan adanya kesalahan profesional, misalnya kesalahan diagnosis
atau kesalahan cara-cara pengobatan/penyembuhan. Untuk menentukan
adanya kesalahan profesional tersebut diperlukan pendapat para ahli
yang dapat memberikan data profesional kepada hakim. Jadi menurut ilmu
kedokteran, terlebih dahulu harus ada ketetapan mengenai kesalahan
tersebut, untuk kemudian ditetapkan hakim apakah kesalahan tersebut
mengakibatkan terjadinya tanggung jawab pidana.
Tanggung jawab perdata terjadi apabila misalnya seorang pasien
menggugat dokter untuk membayar ganti rugi atas dasar perbuatan yang
merugikan pasien tersebut. Pada umumnya seorang dokter yang
berpraktek mengadakan suatu penawaran umum (open baar aan bod)
mengenai pekerjaan yang dapat di lakukan untuk menyembuhkan orangorang sakit.
Pasien yang kemudian menghubungi dokter untuk minta bantuan
medis

dan

dokter

kemudian

mengobatinya,

maka

terjadilah

kontrak/persetujuan. Dengan demikian tuntutan ganti rugi kepada dokter
adalah karena wanprestasi atau perbuatan melawan hukum. Tanggung
20

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

jawab di bidang hukum administrasi terjadi misalnya apabila seseorang
dokter melakukan praktek tanpa izin.21

B. Tanggung Jawab Dokter Yang Menurut KUHPidana
Dilihat dari segi perundang-undangan dewasa ini, belum ada
pengaturan yang baru dan lengkap tentang euthanasia ini. Tetapi
bagaimana pun juga, karena masalah euthanasia menyangkut soal
keselamatan jiwa manusia, maka harus dicari pengaturan atau pasal yang
sekurang-kurangnya mendekati unsur-unsur euthanasia itu. Satu-satunya
yang dapat dipakai sebagai landasan hukum adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia, khususnya mengenai kejahatan yang
menyangkut jiwa manusia. Yang paling mendekati adalah Pasal 344
KUHPidana.22
Dalam

pandangan

hukum,

euthanasia

bisa

dilakukan

jika

pengadilan megijinkan. Namun bila euthanasia dilakukan tanpa dasar
hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa dianggap melanggar pasal 345
KUHP, yaitu menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan
sarana. Dari sudut pandang hukum euthanasia aktif jelas melanggar, UU

21
22

Untuk lebih jelasnya lihat Peraturan Pemerintah No. 36/1964
Untuk lebih jelasnya lihat Buku ke 2, Bab IV KUHPidana

Universitas Sumatera Utara

RI No. 39 tahun 1999 tentang HAM, yaitu Pasal 4, Pasal 9 ayat 1, Pasal
32, Pasal 51, Pasal 340, Pasal 344, dan Pasal 359.
Pada uraian sebelumnya telah kita tinjau pengertian euthanasia
dari berbagai pendapat, apabila dikaitkan dengan ketiga jenis euthanasia
di atas, maka rumusan yang terdapat Pasal 344 KUHPidana adalah
sesuai dengan jenis euthanasia yang ketiga, yaitu euthanasia yang
bersifat aktif.
Pasal 344 KUHPidana tersebut berbunyi sebagai berikut: Barang
siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang
jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua betas tahun.
Mengenai perampasan nyawa/jiwa orang lain di atur juga Pasal 340
KUHPidana sebagai berikut: Barang siapa sengaja merampas nyawa
orang lain, diancam karena pembunuhan berencana (moord), dengan
pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu
paling lama dua puluh tahun.
Ketiga pasal tersebut di atas mengandung makna larangan untuk
membunuh.

Namun

pembunuhan

biasa

Pasal

338

KUHPidana

(doodslag,) merupakan

yang

aturan

mengandung

umum tentang

pernapasan nyawa orang lain. Pasal 340 KUHPidana merupakan pasal

Universitas Sumatera Utara

pembunuhan berencana. Demikian juga Pasal 338 KUHPidana tersebut di
muat unsur

"atas permintaan orang itu sendiri menyatakan dengan

kesungguhan hati".
Apabila seorang dokter melakukan euthanasia yang tentu saja di
Indonesia mengandalkan Pasal 344 KUHPidana maka dokter tersebut
haruslah memenuhi seluruh unsur-unsur yang terdapat Pasal 344
KUHPidana

tersebut.

Jaksa

harus

membuktikan

adanya

unsur

"permintaan orang itu sendiri yang dinyatakan dengan kesungguhan hati".
Bahwa perumusan ini menimbulkan suatu kesulitan sudahlah pasti,
oleh karena dapat dibayangkan bahwa orang yang menyatakan dengan
kesungguhan hati tu sudah pulang kealam baka. Oleh sebab itu,
pernyataan "dengan kesungguhan hati" itu tidak boleh diucapkan secara
lisan, sebaiknya bentuk tertulis dan ditanda tangani oleh saksi-saksi,
sehingga pada proses pembuktiannya di Pengadilan nanti, surat
pernyataan ini dapat di pakal sebagai alat bukti seperti yang di atur Pasal
184 KUHAP yang mengakui upaya bukti berupa: saksi-saksi ahli, suratsurat, petunjuk dan keterangan terdakwa.
Adanya

unsur

"atas

permintaan

orang

itu

sendiri",

juga

menimbulkan masalah, manakala yang bersangkutan tidak mampu lagi
berkomunikasi dalam bentuk dan kesungguhan hati. Karena kita tahu mati

Universitas Sumatera Utara

tidak, hidup pun tidak (in a persistent vegetative state) atau in competent
(tidak mampu berkomunikasi menyatakan kehendaknya).
Seperti contoh yang sangat populer adalah yang terjadi di Amerika
Serikat, yaitu kasus: Karen aan quinlan, pada tahun 1976 di New Jcrsey si
gadis manis Karen berusia 21 tahun, yang dipungut oleh keluarga quinlan,
berada dalam keadaan in a persistent vegetative state, Karen hanya dapat
bertahan dengan bantuan sebuah respirator. 23
Keadaannya bagaikan kerangka mayat saja, tidak dapat bicara lagi.
Janganlah makan, bernafas pun sudah payah, pendeknya segala untuk
hidup dan yang menghidupinya, tergantung dari mesin-mesin modem
yang serba ruet. Karen terbujur melengkung, tanpa bisa bergerak sendiri,
bagaikan sebuah mayat hidup tanpa perasaan. Apakah Karen dengan
demikian dapat dikatakan sudah mati?
Dunia hukum tidak dapat dan tidak boleh mempunyai pretensi
untuk menentukan fomulasi pengertian mati. Bahkan kedokteran sendiri
masih berada di persimpangan jalan tentang pengertian mati, terutama
sejak tahun 1967, ketika diadakan operasi transplantasi jantung yang
pertama kali. Jadi masih belum ada kata sepakat untuk menentukan
pengertian mati atas dasar konsep brain death ataupun heart death. Pada
kasus ini pemeriksaan menunjukkan bahwa Karen tidak dalam keadaan
23

Djoko Prakoso dan Djaman Andhi Nirwanto, Op.Cit., hal. 54

Universitas Sumatera Utara

brain death. Para ahli kedokteran mengatakan bahwa apabila respirator
tersebut dilepaskan, akan berakibat lebih lanjut terhadap otaknya dan
Karen akan segera mati. Tetapi hal ini para dokter menolak untuk
menghentikan penggunaan respirator tersebut.
Quinlan (ayah angkatnya) kemudian menuntut agar Karen
dinyatakan sebagai in cokpetent dan Quinlah yang ditunjuk sebagai
guardian tersebut, tetapi New Jersey Supreme Court menyatakan putusan
banding, bahwa seseorang mempunyai hak yang disebut right to privacy
dan khusus di dalam kasus Karen ini, bila mana Karen dapat
melakukannya,

dia

pasti

menolak

penggunaan

respirator

karena

penderitaan yang dialaminya sangat berat.
Karen membutuhkan 24 Jam terus menerus perawatan intensif, anti
piotiks, bantuan respirator, catheter dan feeding tube. Jadi jelas ini
kepentingan Karena melebihi kepentingan para dokter yang merawatnya
dan negara. Pada akhirnya supreme court memerintahkan agar the life
support apparatus dicabut tanpa adanya pertanggung jawaban sipil
maupun kriminal.
Kasus tersebut di atas memang terjadi di Amerika Serikat, di mana
supreme court (Pengadilan Tertinggi) di Amerika Serikat mengizinkan atau

Universitas Sumatera Utara

memerintahkan agar respirator yang digunakan Karen selama ini di cabut
tanpa menuntut pertanggung jawaban.
Apabila kasus tersebut di atas terjadi di Indonesia, maka sudah
jelas dokter yang mencabut respirator tersebut, yang mengakibatkan
kematian bagi pasien, walaupun dengan persetujuan sendiri, dapat
dimintakan pertanggung jawabannya menurut Pasal 344 KUHPidana. Dan
apa yang dikemukakan/diuraikan di atas, dapatlah diambil kesimpulannya,
bahwa euthanasia di Indonesia ini tetap dilarang.
Larangan ini terdapat Pasal 344 KUHPidana, yang sampai
sekarang masih berlaku. Akan tetapi perumusan Pasal 344 KUHPidana
tersebut dapat menimbulkan kesulitan Jaksa untuk menerapkannya atau
mengadakan penuntutan.
Oleh karena itulah, maka sebaiknya bunyi Pasal 344 KUHPidana
tersebut

dapatlah

kiranya

dirumuskan

kembali,

berdasarkan

atas

kenyataan-kenyataan yang sekarang, yang telah disesuaikan dengan
perkembangan di bidang medis. Rumusan baru ini diharapkan dapat
memudahkan untuk mengadakan penuntutan kasus ini.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
PERLINDUNGAN TERHADAP DOKTER YANG MELAKUKAN
EUTHANASIA

A. Perbuatan euthanasia yang dapat dilindungi
Sebagaimana

dikemukakan

pada

uraian

terdahulu

bahwa

perlindungan hukum adalah perlindungan yang berasal dari dan
berdasarkan hukum. Cukup beralasan bahwa di negara Indonesia ini
setiap warga negara dijamin kehidupannya dan dilindungi oleh hukum,
mengingat Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas
hukum (rech staat), sebagaimana dikemukakan penjelasan tentang
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia. Demikian juga Pasal
27 UUD 1945 dinyatakan bahwa: segala warga negara bersamaan
kedudukannya di dalam Hukum dan Pemerintahan".
Setiap

warga

negara

dilindungi

oleh

hukum

dan

wajib

menjunjung/tunduk pada hukum. Hal ini juga membawa konsekwensi
bahwa pelanggaran terhadap hukum itu akan dikenai sanksi.
Dari penggolongan Euthanasia, yang paling praktis & mudah
dimengerti adalah:
1. Euthanasia aktif, tindakan secara sengaja dilakukan oleh dokter atau
tenaga kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup

Universitas Sumatera Utara

pasien. Merupakan tindakan yang dilarang, kecuali di negara yang
telah membolehkannya lewat peraturan perundangan.
2. Euthanasia pasif, dokter atau tenaga kesehatan lain secara sengaja
tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang
hidup pasien, misalnya menghentikan pemberian infus, makanan lewat
sonde, alat bantu nafas, atau menunda operasi.
3. Auto euthanasia, seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar
untuk menerima perawatan medis & dia mengetahui bahwa hal ini
akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan
tersebut ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis tangan). Auto
euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan.
Karena masih banyak pertentangan mengenai definisi euthanasia,
diajukan berbagai pendapat sebagai berikut:
a. Voluntary euthanasia: Permohonan diajukan pasien karena,
misalnya

gangguan

atau

penyakit

jasmani

yang

dapat

mengakibatkan kematian segera yang keadaannya diperburuk oleh
keadaan fisik & jiwa yang tidak menunjang.
b. Involuntary euthanasia: Keinginan yang diajukan pasien untuk mati
tidak dapat dilakukan karena, misalnya seseorang yang menderita

Universitas Sumatera Utara

sindroma Tay Sachs. Keputusan atau keinginan untuk mati berada
pada pihak orang tua atau yang bertanggung jawab.
c. Assisted suicide: Tindakan ini bersifat individual dalam keadaan &
alasan tertentu untuk menghilangkan rasa putus asa dengan bunuh
diri.24
Tindakan

langsung

menginduksi

kematian.

Alasan

adalah

meringankan penderitaan tanpa izin individu yang bersangkutan & pihak
yang berhak mewakili. Hal ini sebenarnya pembunuhan, tapi dalam
pengertian agak berbeda karena dilakukan atas dasar belas kasihan.
Sampai saat ini, kaidah non hukum yang manapun, baik agama,
moral, & kesopanan menentukan bahwa membantu orang lain mengakhiri
hidupnya, meskipun atas permintaan yang bersangkutan dengan nyata &
sungguh-sungguh adalah perbuatan yang tidak baik. Di Amerika Serikat,
euthanasia lebih populer dengan istilah “physician assisted suicide”.
Negara yang telah memberlakukan euthanasia lewat undang-undang
adalah

Belanda

&

di

negara

bagian

Oregon-Amerika

Serikat.

Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan syarat-syarat tertentu, antara
lain:

24

“Hukum Pelaksanaan Euthanasia di Indonesia, http://www.google.com, diakses tanggal
05 Nopember 209

Universitas Sumatera Utara

a. Orang yang ingin diakhiri hidupnya adalah orang yang benar-benar
sedang sakit & tidak dapat diobati, misalnya kanker.
b. Pasien berada dalam keadaan terminal, kemungkinan hidupnya
kecil & tinggal menunggu kematian.
c. Pasien harus menderita sakit yang amat sangat, sehingga
penderitaannya hanya dapat dikurangi dengan pemberian morfin.
d. Yang boleh melaksanakan bantuan pengakhiran hidup pasien,
hanyalah dokter keluarga yang merawat pasien & ada dasar
penilaian dari dua orang dokter spesialis yang menentukan dapat
tidaknya dilaksanakan euthanasia.25
Semua persyaratan itu harus dipenuhi, baru euthanasia dapat
dilaksanakan. Indonesia sebagai negara berasaskan Pancasila, dengan
sila pertamanya ‘Ketuhanan Yang Mahaesa’, tidak mungkin menerima
tindakan “euthanasia aktif”.
Mengenai “euthanasia pasif”, merupakan suatu “daerah kelabu”
karena memiliki nilai bersifat “ambigu” yaitu di satu sisi bisa dianggap
sebagai perbuatan amoral, tetapi di sisi lain dapat dianggap sebagai
perbuatan mulia karena dimaksudkan untuk tidak memperpanjang atau
berjalan secara alamiah.

25

Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Kini kita memasuki inti permasalahan yaitu bahwa euthanasia
adalah jelas merupakan delik terutama apabila kita lihat dari sudut
perundang-undangan kita yang berlaku sekarang ini, di mana Pasal 344
KUHPidana dapat kita anggap sebagai pasal yang mengatur tentang delik
euthanasia, tetapi juga harus dicarikan upaya-upaya perlindungan hukum
terhadap orang yang melakukannya.
Jadi di negara hukum seperti di Indonesia, hukum itu berusaha
melindungi dan mengayomi masyarakat, bahkan sekalipun seseorang itu
telah melakukan pelanggaran atau kejahatan. "Azas p