Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas

APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN
ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN
(Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS
(Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal)

Oleh:
Ismail Rasyid Siregar
071202003
Budidaya Hutan

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN
ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN
(Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS
(Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal)

SKRIPSI

Oleh:
Ismail Rasyid Siregar
071202003
Budidaya Hutan

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

APLIKASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DAN
ASAM HUMIK TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT SUREN
(Toona sureni Merr) PADA TANAH PASCA TAMBANG EMAS
(Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal)

SKRIPSI

Oleh:
Ismail Rasyid Siregar
071202003
Budidaya Hutan
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ISMAIL RASYID SIREGAR: Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan
Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada
Tanah Bekas Tambang Emas. Dibimbing oleh NELLY ANNA dan DELVIAN.
Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi mikoriza
arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren pada media
tanah bekas tambang. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa dan laboratorium
biologi tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dimulai pada bulan
April sampai Juli 2011. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter
batang, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu
FMA dan asam humik.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis FMA dan asam humik serta
interaksi antara keduanya memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan
tinggi, pertambahan diameter, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P
tanaman.
Kata kunci : FMA, asam humik, tanah bekas tambang emas, pertumbuhan, Toona
sureni merr.

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Ismail Rasyid Siregar dilahirkan di Padang Sidimpuan pada tanggal 05
Oktober 1988 dari ayah Drs. H. M. Yunan Siregar dan Ibu Hj. Fazrina Harahap.
Penulis merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara.
Penulis memulai pendidikan formal di SD Negeri

P. sidimpuan, lulus

tahun 2001 dan melanjutkan pendidikan di MTs Negeri P. Sidimpuan dan lulus
tahun 2004. Tahun 2007 penulis lulus dari MA Negeri 2 Model P. Sidimpuan dan
pada tahun yang sama juga penulis diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)
Universitas Sumatera Utara melalui jalur PMP (Panduan Minat dan Prestasi) pada
Program Studi Budidaya Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian.
Selama

mengikuti

perkuliahan,

penulis

telah

mengikuti

Praktik

Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) di Hutan Dataran Rendah Aras Napal dan
Hutan Mangrove Pulau Sembilan Kabupaten Langkat. Penulis melaksanakan
Praktik Kerja Lapang (PKL) di Perum Perhutani Unit II KPH Banyuwangi
Selatan, Jawa Timur.
Pada akhir kuliah, penulis melaksanakan penelitian dengan judul “Aplikasi
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit
Suren (Toona serene Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas” di bawah
bimbingan Ibu Nelly Anna S.Hut M.Si dan Bapak Dr. Delvian, S.P,M.P.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan
skripsi ini. Judul dari penelitian ini adalah “Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula
(FMA) dan Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene
Merr) Pada Tanah Bekas Tambang Emas”.
Penelitian ini melibatkan banyak pihak sehingga memberi kesan yang
berarti di hati penulis. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ayah Drs. H. M. yunan Siregar dan dan Ibu Hj. Fazrina Harahap yang telah
memberikan doa yang tulus, kasih sayang, dorongan materi dan semangat
kepada penulis.
2. Ibu Nelly Anna S.Hut M.Si dan Bapak Dr. Delvian, S.P,M.P selaku komisi
pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan serta masukan yang
sangat bermanfaat selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan
skripsi ini.
3. Saudara dan saudari penulis, Syahrial Mukhlis S.SiT, Yusra Dewi Siregar
MA, M. Taufik Arham S.Pd, Ridawati Syukriah A.md, Ir. Marahalam S.Sos,
Ilham Muttaqin S.Sos, Mikrot Junaidi S.Pt MM, Muslimah Nurul Utami dan
Dian Akhfiana Fitri atas dorongan semangat dan materi yang telah diberikan
4. Teman-temanku M Riyadh, Fehni Al-Asyari, Dikki Angriawan, Arief
Setiawan, Lola Adres, Rahmad Adventa, Moehar Marghy, King M dan
seluruh pihak yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung

Universitas Sumatera Utara

yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian
hingga akhir skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak luput dari
kekurangan. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan
berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kehutanan. Akhir
kata penulis mengucapkan terima kasih.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAK...................................................................................................

i

RIWAYAT HIDUP .....................................................................................

iii

KATA PENGANTAR .................................................................................

iv

DAFTAR ISI ...............................................................................................

v

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................

vi

PENDAHULUAN ......................................................................................

1

Latar Belakang .............................................................................................
Tujuan Penelitian .........................................................................................
Kegunaan Penelitian ....................................................................................
Hipotesis Penelitian .........................................................................................

1
2
3
3

TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................

4

METODOLOGI PENELITIAN .................................................................
Waktu dan Tempat .......................................................................................
Bahan dan Alat ............................................................................................
Metode Penelitian .........................................................................................
Pelaksanaan Penelitian ..................................................................................
Parameter Pengamatan .................................................................................

15
15
15
16
17
18

HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................................
Kondisi Kimia Tanah ....................................................................................
Pertumbuhan Tinggi Tanaman ......................................................................
Pertumbuhan Diameter Tanaman ..................................................................
Berat Kering Total Tanaman .........................................................................
Persentase Infeksi Akar .................................................................................
Serapan P Tanaman ......................................................................................
Pembahasan ..................................................................................................

21
21
22
23
23
24
26
27

KESIMPULAN DAN SARAN......................................................................
Kesimpulan...................................................................................................
Saran ............................................................................................................

36
36
36

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................

37

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Tinggi Tanaman…………….
Gambar 2. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Diameter Tanaman ………...
Gambar 3. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Berat Kering Tanaman …….
Gambar 4. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Persen Infeksi Akar .........….
Gambar 5. Grafik Hasil Uji DMRT terhadap Serapan P Tanaman .........….
Gambar 6. Contoh akar yang terinfeksi FMA………...………………..…….

22
23
24
25
26
33

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Analisis sidik ragam Serapan P Tanaman ..………….....
Lampiran 2. Hasil analisis sidik ragam Persentasi infeksi akar ...………….
Lampiran 3. Hasil Analisis sidik ragam Pertambahan Diameter Tanaman....
Lampiran 4. Hasil analisis sidik ragam Pertambahan Tinggi Tanaman..........
Lampiran 5. Hasil Analisis sidik ragam BKT……………....………………
Lampiran 6. Gambar kegiatan Penambangan………………....…………….
Lampiran 7. Gambar kegiatan Pengambilan Tanah dan Penanaman……….
Lampiran 8. Gambar Contoh Tanaman…….………………....…………….
Lampiran 9. Gambar Contoh Infeksi Akar…………………....…………….

49
49
49
49
50
50
50
51
52

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ISMAIL RASYID SIREGAR: Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan
Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Bibit Suren (Toona serene Merr) Pada
Tanah Bekas Tambang Emas. Dibimbing oleh NELLY ANNA dan DELVIAN.
Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi mikoriza
arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren pada media
tanah bekas tambang. Penelitian ini dilakukan di rumah kasa dan laboratorium
biologi tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, dimulai pada bulan
April sampai Juli 2011. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, diameter
batang, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P tanaman. Penelitian ini
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu
FMA dan asam humik.
Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis FMA dan asam humik serta
interaksi antara keduanya memberikan pengaruh nyata terhadap pertambahan
tinggi, pertambahan diameter, berat kering total, derajat infeksi dan serapan P
tanaman.
Kata kunci : FMA, asam humik, tanah bekas tambang emas, pertumbuhan, Toona
sureni merr.

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pertambangan merupakan salah satu sumber daya alam potensial yang
dapat dimanfaatkan sebagai sumber devisa untuk pembangunan nasional. Dalam
kegiatan penambangan biasanya dilakukan dengan cara pembukaan hutan,
pengikisan lapisan-lapisan tanah, pengerukan dan penimbunan. Dampak kegiatan
pengoperasian tambang pada akhirnya akan mempengaruhi kesuburan tanah
sebagai media pertumbuhan tanaman, mengakibatkan merosotnya kesuburan
tanah yang disebabkan karena terkupasnya lapisan tanah oleh kegiatan
penambangan.
Pada zaman sekarang ini, industri pertambangan terus berkembang pesat,
mencakup seluruh wilayah-wilayah di seluruh Indonesia. Adanya industri
pertambagan memberikan pengaruh besar kepada kondisi perekonomian
Indonesia dan juga daerah-daerah tempat adanya industri pertambangan tersebut.
Namun demikian kegiatan pertambangan apabila tidak dilaksanakan secara tepat
dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan terutama gangguan
keseimbangan permukaan tanah yang cukup besar. Dampak lingkungan kegiatan
pertambangan antara lain, tingginya tingkat erosi dan menurunnya kemampuan
peresapan air yang lebih lanjut akan mengakibatkan penurunan produktivitas
tanah, pemadatan tanah, sedimentasi, terjadinya gerakan tanah atau longsoran,
terganggunya flora dan fauna, terganggunya keamanan dan kesehatan penduduk,
serta perubahan iklim mikro.
Kenyataannya, untuk melakukan kegiatan rehabilitasi pada lahan-lahan
bekas tambang mengalami kendala. Hal ini terutama disebabkan oleh kondisi

Universitas Sumatera Utara

lahan yang tidak menguntungkan, antara lain kurangnya unsur hara khususnya
NPK, kurangnya air, dan kandungan logam berat yang sangat tinggi. Untuk
menunjang keberhasilan dalam merehabilitasi lahan-lahan yang rusak tersebut,
maka berbagai upaya seperti perbaikan lahan pra tanam, pemilihan jenis yang
cocok, aplikasi silvikultur yang benar, dan penggunaan pupuk biologis fungi
mikoriza arbuskula perlu dilakukan (Setiadi, 1996).
Permasalahan yang muncul setelah dilakukannya kegiatan penambangan
di antaranya adalah penurunan produktivitas tanah, pemadatan tanah dan
sedimentasi, hal ini mengakibatkan lahan bekas tambang menjadi kritis, untuk itu
perlu dilakukan usaha untuk mengembalikan produktivitas tanah atau paling tidak
mengurangi kerusakan yang ditimbulkan. Untuk mencegah dan mengurangi
kerusakan lingkungan yang lebih parah, maka

perlu dicari berbagai upaya

pengendalian yang mengarah pada kegiatan rehabilitasi lahan. Salah satu cara
yang dapat dilakukan adalah aplikasi fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan Asam
humik pada bibit tanaman yang akan digunakan dalam kegiatan reklamasi lahan
bekas tambang.
Potensi biologis fungi mikoriza dan prospek aplikasinya telah diketahui
secara luas, diantaranya dapat memacu pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur
hara bagi tanaman, membuat tanaman mampu beradaptasi dengan lingkungan
yang kurang baik serta secara tidak langsung dapat memberikan manfaat berupa
peningkatan kesuburannya menjadi lebih baik. Pemanfaatan mikoriza diharapkan
menjadi teknologi alternatif guna mengatasi kendala-kendala dalam usaha
revegetasi lahan pasca tambang. Karena tipe jamur ini mampu meningkatkan
resistensi tanaman terhadap kekeringan dan penggunaannya dianggap sebagai cara

Universitas Sumatera Utara

yang efisien untuk membantu pertumbuhan tanaman pada daerah-daerah yang
kurang hujan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh aplikasi fungi
mikoriza arbuskula (FMA) dan asam humik terhadap pertumbuhan semai Suren
pada media tanah bekas tambang.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan data sebagai bahan
informasi dalam usaha penanganan lahan bekas tambang melalui upaya
peningkatan pertumbuhan tanaman dengan inokulasi FMA dan pemberian asam
humik.
Hipotesis Penelitian
1. Interaksi antara FMA dengan asam humik berpengaruh nyata terhadap
pertumbuhan semai suren dengan media tanam lahan bekas tambang .
2. Aplikasi FMA pada dosis tertentu berpengaruh nyata terhadap
pertumbuhan bibit suren dengan media tanam lahan bekas tambang .
3. Pemberian asam humik pada dosis tertentu berpengaruh nyata terhadap
pertumbuhan bibit suren dengan media tanam lahan bekas tambang .

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Morfologi Suren (Toona sureni Merr)
Suren (Toona sureni Merr) merupakan tanaman yang cepat tumbuh dan
kayunya dapat digunakan untuk papan dan bahan bangunan perumahan, peti,
venire, alat musik, kayu lapis, venir, dan mebel. Bagian tanaman suren khususnya
kulit kayu dan daunnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional seperti
tonik, obat diare, dan anti biotik. Tanaman ini tumbuh pada daerah bertebing
dengan ketinggian 600 - 2.700 m dpl dengan temperatur 22ºC (Balai penelitian
dan pengembangan kehutanan, 2009).
Pohon suren ini memiliki karakter khusus seperti harum yang khas apabila
bagian daun atau buah diremas dan pada saat batang dilukai atau ditebang. Ada
ciri lain yang dapat membedakan secara sekilas, yaitu :
1. Batang
Bentuk batang lurus dengan bebas cabang mencapai 25 m dan tinggi pohon dapat
mencapai 40 sampai 60 m. Kulit batang kasar dan pecah-pecah seperti kulit buaya
berwarna coklat. Batang berbanir mencapai 2 m.
2. Daun
Daun suren berbentuk oval dengan panjang 10-15 cm, duduk menyirip tunggal
dengan 8-30 pasang daun pada pohon berdiameter 1-2 m.
3. Bunga
Kedudukan bunga adalah terminal dimana keluar dari ujung batang pohon.
Susunan bunga membentuk malai sampai 1 meter. Musim bunga 2 kali dalam
setahun yaitu bulan Februari-Maret dan September-Oktober.

Universitas Sumatera Utara

4. Buah
Musim buah 2 kali dalam setahun yaitu bulan Desember-Februari dan
April-September, dihasilkan dalam bentuk rangkaian (malai) seperti rangkaian
bunganya dengan jumlah lebih dari 100 buah pada setiap malai. Buah berbentuk
oval, terbagi menjadi 5 ruang secara vertikal, setiap ruang berisi 6-9 benih. Buah
masak ditandai dengan warna kulit buah berubah dari hijau menjadi coklat tua
kusam dan kasar, apabila pecah akan terlihat seperti bintang. Ciri lain dari buah
masak yaitu, pohon seperti meranggas/tidak berdaun.
5. Benih
Warna benih coklat , panjang benih 3-6 mm dan 2-4 mm lebarnya dan
pipih, bersayap pada satu sisi sehingga benihnya akan terbang terbawa angin.
Suren tumbuh tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar di Indonesia,
Nepal, India, Burma, China, Thailand, Malaysia sampai ke barat Papua Nugini.
Suren termasuk ke dalam famili Meliaceae, tumbuh dengan cepat, tinggi
mencapai 40-60 meter, tinggi bebas cabang setinggi 25 meter dengan diameter
mencapai 100 cm (Balai penelitian dan pengembangan kehutanan, 2009).
Saat ini suren belum banyak dibudidayakan secara luas. Namun demikian
mengingat kegunaan dari jenis kayu ini, tidak tertutup kemungkinan untuk
dikembangkan secara luas di masa mendatang. Suren juga memiliki potensi untuk
digunakan sebagai salah satu jenis tanaman rehabilitasi lahan terdegradasi (Sofyan
dan Islam, 2006)
Pemilihan jenis adalah tahap yang paling penting dalam upaya merestorasi
lahan bekas tambang. Pemilihan ini bertujuan untuk memilih spesies tanaman
yang disesuaikan dengan kondisi lahan yang akan direstorasi. Kunci utama

Universitas Sumatera Utara

keberhasilan revegetasi adalah pemilihan jenis pohon yang tepat. Pemilihan jenis
pohon ini didasarkan pada kemampuannya beradaptasi, cepat tumbuh, diketahui
teknik silvikultur, ketersediaan bahan tanam dan dapat bersimbiosis dengan
mikoriza.
Fungi Mikoriza Arbuskula
Mikoriza merupakan struktur yang dibentuk oleh fungi dan akar tumbuhan
yang bekerja sama dan saling menguntungkan. Terdapat dua bentuk mikoriza
dibidang kehututanan yaitu ektomikoriza dan endomikoriza. Ektomikoriza banyak
di jumpai pada tumbuhan jenis dipterocarpaceae, Myrtaceae dan leguminaceae
(Suhartono dan Sri, 2000).
Asosiasi fungi mikoriza pada akar tumbuhan hutan memberi banyak
keuntungan bagi tumbuhan inangnya terutama dalam penyerapan unsur hara dan
air, serta pencegahan terhadap masuknya patogen akar. Namun demikian
kemampuan simbion fungi dalam membantu inangnya tergantung pada tingkat
kecocokan fungi tersebut dengan inangnya, tersedianya simbion yang paling
cocok didalam tanah dan faktor-faktor lain
Mikoriza adalah asosiasi akar dengan fungi yang hifanya menembus akar
secara intraseluler, jenis mikoriza ini kini lebih dikenal sebagai fungi mikoriza
arbuskula (FMA). Fungi ini menerima hara organik dari tumbuhan, tapi ia
memperbaiki kemampuan akar dalam menyerap air dan mineral (Salisbury dan
Ross, 1995). Fungi mikoriza arbuskula termasuk dalam ordo Glomales dan terdiri
dari dua sub ordo, yaitu Glomineae dan Gigasporineae. Sub ordo Glomineae
terdiri dari dua famili, yaitu Glomaceae yang terdiri dari genus Glomus dan
Sclerocystis dan Acaulosporaceae yang terdiri dari dua genus, yaitu Gigaspora
dan Scutellospora.

Universitas Sumatera Utara

Mikoriza arbuskula (MA) adalah golongan fungi yang hanya hidup apabila
berasosiasi dengan akar tanaman (Brundett et al, 1996). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa MA dapat meningkatkan penyerapan unsur hara akibat
meluasnya volume tanah yang dieksploitasi sebagai sumber serapan fosfat melalui
perluasan hifa eksternal (Setiadi, 1999) dan akibat aktivitas enzim yang membantu
meningkatnya ketersediaan hara melalui pelepasan hara terfiksasi. Hal yang juga
penting bagi tanaman untuk bertahan pada lahan terdegradasi adalah masalah
kekeringan karena air tidak dapat ditahan oleh tanah. Telah banyak dilaporkan
bahwa MA mampu meningkatkan resistensi tanaman terhadap kekeringan
(Setiadi, 1999). Hal ini karena hifa FMA selain mampu menyerap air juga dapat
mempengaruhi tanaman dalam mengatur tekanan osmotis sel sehingga akan
mempengaruhi laju transpirasi (Setiadi, 1999).
Fungi mikoriza arbuskula dapat ditemukan hampir pada sebagian besar
tanah dan pada umumnya tidak mempunyai inang yang spesifik. Namun tingkat
populasi dan komposisi jenis sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh karakteristik
tanaman dan sejumlah faktor lingkungan seperti suhu, pH, kelembaban tanah,
kandungan fosfor dan nitrogen. Suhu terbaik untuk perkembangan FMA adalah
pada suhu 30 °C, tetapi untuk kolonisasi miselia yang terbaik adalah pada suhu
28-35 °C (Setiadi, 2001) .
Fungi mikoriza arbuskula (FMA) adalah salah satu tipe fungi pembentuk
mikoriza yang cukup efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan memperbaiki
kualitas semai tanaman kehutanan. Menurut (Allen and Allen, 1992) di alam,
keberadaan fungi mikoriza arbuskula (FMA) dapat mempercepat terjadinya
suksesi secara alami pada habitat habitat yang mendapat gangguan ekstrim, selain

Universitas Sumatera Utara

itu

keberadaannya

mutlak

diperlukan

karena

berperan

penting

dalam

mengektifkan daur ulang unsur hara (nutrients cycle) sehingga dianggap sebagai
alat paling efektif untuk mempertahankan stabilitas ekosistem hutan dan ke
anekaragaman hayati.
Fungi mikoriza arbuskula dapat berasosiasi dengan hampir 90% jenis
tanaman dimana tiap jenis tanaman dapat juga berasosiasi dengan satu atau lebih
jenis FMA. Tetapi tidak semua jenis tumbuhan dapat memberikan respon
pertumbuhan positif terhadap inokulasi FMA. Konsep ketergantungan tanaman
akan FMA adalah relatif dimana tanaman tergantung pada keberadaan FMA
untuk mencapai pertumbuhannya. Tanaman yang mempunyai ketergantungan
yang tinggi pada keberadaan FMA, biasanya akan menunjukkan pertumbuhan
yang nyata terhadap inokulasi FMA, dan sebaliknya tidak dapat tumbuh sempurna
tanpa adanya asosiasi dengan FMA (Setiadi ,2001).
Suatu penelitian rumah kaca telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh
jumlah spora dan spesies fungi mikoriza arbuskula (FMA) sebagai inokulum pada
bibit kelapa sawit. Dua spesies FMA yang diuji ialah Acaulospora tuberculata
dan Gigaspora margarita sedangkan jumlah spora yang diuji ada tiga tingkat
yaitu 200, 350, dan 500 spora (Widiastuti et al.,1998).
Berdasarkan struktur tumbuh dan cara infeksinya pada sistem perakaran
inang maka mikoriza dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan besar yaitu
Ektomikoriza dan Endomikoriza. Didalam endomikoriza terdapat enam subtype
yaitu ectendo, arbutoid, monotropoid, ericoid, dan orchid, tipe arbuskula adalah
yang paling popular. Fungi mikoriza arbuskula

dapat dibedakan dari

ektomikoriza dengan memperhatikan karateristik berikut ini: (a) sistem perakaran

Universitas Sumatera Utara

yang kena infeksi tidak membesar (b) cendawannya membentuk struktur lapisan
hifa tipis dan tidak merata pada permukaan akar (c) hifa menyerang ke dalam sel
jaringan korteks (d) dan pada umumnya ditemukan struktur percabangan hifa
yang disebut dengan arbscules (arbuskula) dan struktur khusus berbentuk oval
yang disebut dengan vesicles (vesikula). Dibandingkan dengan fungi ektomikoriza
yang tingkat asosiasinya lebih spesifik dan hanya terbatas pada jenis-jenis pohon
hutan potensial seperti Pinus, Eucalyptus, dan kelompok Dipterocarp, tingkat
asosiasi FMA nampaknya lebih luas. Tipe fungi ini mampu berasosiasi dengan
jenis-jenis pohon hutan potensial yang popular dipakai untuk HTI dan reboisasi
lainya seperti (Paraserianthes falcataria, Acacia mangium, Switenia macrophylla,
Pterocarpus sp, Tectona grandis, dll) (Setiadi, 2003).
Fungi mikoriza arbuskula mampu membentuk simbiosis dengan sebagian
besar (97%) familia tanaman darat, dimana tanaman- tanaman tersebut juga
tanaman komersial dari kelompok tanaman kehutanan, pangan, hortikultura,
perkebunan dan pakan ternak. Fungi ini juga dapat berasosiasi dengan tanaman
Angiospermae, Gymnospermae, dan paku- pakuan yang memiliki sistem
perakaran yang jelas.
Dibandingkan dengan jenis fungi ektomikoriza, pemakaian fungi mikoriza
arbuscula memang masih jarang digunakan untuk tanaman kehutanan, akan tetapi,
potensi fungi ini untuk tanaman kehutanan juga sangat besar, menurut (Setiadi,
1993) fungi ini juga dapat di kembangkan untuk tanaman kehutanan karena
berdasarkan hasil studi tentang status tanaman bemikoriza menunjukkan bahwa
sekitar 90% jenis tanaman kehutanan dapat berasosiasi dengan FMA.

Universitas Sumatera Utara

Kelebihan yang dimiliki oleh FMA ini adalah kemampuannya dalam
meningkatkan penyerapan unsur hara makro terutama fosfat dan beberapa unsur
mikro seperti Cu, Zn, dan Bo. Oleh sebab itu, maka penggunaan FMA ini dapat
dijadikan sebagai alat biologis untuk mengefisienkan penggunaan pupuk buatan
terutama fosfat. Untuk membantu pertumbuhan tanaman reboisasi pada lahanlahan yang rusak, penggunaan tipe fungi ini dianggap merupakan suatu cara yang
paling efisien karena kemampuannya meningkatkan resistensi tanaman terhadap
kekeringan. Beberapa penelitian lainnya juga membuktikan bahwa fungi ini juga
mampu mengurangi serangan patogen tular tanah dan dapat membantu
pertumbuhan tanaman pada tanah-tanah yang tercemar logam berat, sehingga
penggunaannya dapat berfungsi sebagai bio-proteksi.
Tanah pada lahan bekas tambang merupakan tanah kritis yang sangat
miskin hara, sehingga di butuhkan peran fungi mikoriza dalam mempercepat laju
pertumbuhan, meningkatkan kualitas dan daya hidup semai tanaman kehutanan
pada lahan ini.
Kondisi Lahan Bekas Tambang
Tahap eksploitasi atau penambangan adalah merupakan tahap yang
paling utama dari seluruh rangkaian kegiatan penambangan sumberdaya mineral.
Semua penyelidikan yang telah dilakukan, sejak mencari mineral sampai
ditemukannya mineral tersebut pada akhirnya bermuara pada kegiatan
penambangan (Pattimahu, 2004).
Secara garis besar penambangan dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok,
yaitu penambangan terbuka (open pit) dan penambangan dalam/bawah tanah
(underground mining). Dampak utama dari penambangan terbuka adalah

Universitas Sumatera Utara

borosnya penggunaan lahan. Bekas penambangan akan berubah sama sekali,
baik topografinya maupun kehidupan di atasnya. Tanah subur yang telah
terbentuk ratusan tahun, telah dipindahkan (overburden). Dampak lainnya
adalah buangan (tailing) hasil penggalian dan hasil pengolahan, yang bisa
berbentuk zat padat, air dan kimia.
Kondisi Fisik Tanah
Berbagai aktivitas dalam kegiatan penambangan menyebabkan rusaknya
struktur, tekstur, porositas dan bulk density sebagai karakter fisik tanah yang
penting bagi pertumbuhan tanaman. Kondisi tanah yang kompak karena
pemadatan mnyebabkan buruknya sistem tata air (water infiltration and
percolation) dan aerasi (peredaran udara) yang secara langsung dapat membawa
dampak negatif terhadap fungsi dan perkembangan akar. Akar tidak dapat
berkembang dengan sempurna dan fungsinya sebagai alat absorpsi unsur hara
akan terganggu. Akibatnya tanaman tidak dapat berkembang dengan normal tetapi
tetap kerdil dan tumbuh merana. Rusaknya struktur dan tekstur juga menyebabkan
tanah tidak mampu untuk menyimpan dan meresap air pada musim hujan,
sehingga aliran air permukaan (surface run off) menjadi tinggi. Sebaliknya tanah
menjadi padat dan keras pada musim kering sehingga sangat berat untuk diolah
(Lugo (1997) dalam Pattimahu (2004).
Kondisi Kimia Tanah
Dalam profil tanah yang normal lapisan tanah atas merupakan sumber
unsur-unsur hara makro dan mikro bagi pertumbuhan tanaman. Selain itu juga
berfungsi sebagai sumber lahan organik untuk menyokong kehidupan mikroba.
Hilangnya lapisan tanah atas (top soil) yang proses pembentukannya memakan

Universitas Sumatera Utara

waktu ratusan tahun dianggap sebagai penyebab utama buruknya tingkat
kesuburan tanah pada lahan-lahan bekas pertambangan. Pada umumnya lahan
bekas tambang akan kekurangan unsur hara esensial seperti Nitrogen dan fosfor,
toksisitas mineral dan kemasaman tanah (pH yang rendah) yang merupakan
kendala umum dan utama yang ditemui pada tanah-tanah bekas kegiatan
pertambangan (Pattimahu, 2004).
Kondisi Biologi Tanah
Hilangnya lapisan top soil dan serasah (liter layer) sebagai sumber karbon
untuk menyokong kehidupan mikroba potensial merupakan penyebab utama
buruknya kondisi populasi mikroba tanah. Hal ini secara tidak langsung akan
sangat mempengaruhi kehidupan tanaman yang tumbuh di permukaan tanah
tersebut (Delvian 2004).
Keadaan mikroba tanah potensial dapat memainkan peranan sangat
penting bagi perkembangan dan kelangsungan hidup tanaman. Aktivitasnya tidak
saja terbatas pada penyediaan unsur hara, tetapi juga aktif dalam dekomposisi
serasah dan bahkan dapat memperbaiki struktur tanah.
Jenis-jenis mikroba tanah yang memberikan banyak manfaat diantaranya
bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat. Selain bakteri, fungi
mikroriza sangat mutlak diperlukan pada lahan-lahan bekas tambang. Beberapa
tanaman juga sangat tergantung untuk kehidupannya pada jenis Fungi ini.
Kemampuan fungi mikoriza tidak hanya terbatas pada peningkatan solibilitas
mineral dan memperbaiki absorpsi nutrisi tanaman (terutama fosfat), tetapi juga
dapat mengurangi stress karena temperature dan serangan pathogen akar. Dengan

Universitas Sumatera Utara

cara tersebut maka daya hidup dan pertumbuhan tanaman pada lahan marginal
dapat ditingkatkan.
Teknik dan waktu yang tepat akan menentukan keberhasilan tanaman
terinfeksi oleh FMA. Waktu inokulasi FMA hanya dilakukan pada saat tanaman
masih tingkat semai atau pada biji yang baru berkecambah, inokulasi pada
tanaman yang telah dewasa selain boros penggunaan inokulum juga kurang
memberikan manfaat yang optimal (Delvian, 2007).
Asam Humik
Asam humik merupakan bahan organik terhumifikasi yang dianggap
sebagai hasil akhir dekomposisi bahan tanaman dan hewan yang telah memfosil
dalam selang waktu jutaan tahun di dalam tanah. Bahan organik ini berfungsi
sebagai bahan pembenah tanah yang terlibat dalam reaksi kompleks dan dapat
mempengaruhi kesuburan tanah dengan

mengubah kondisi fisik, kimia

dan

biologi tanah (Tan, 1993). Pemberian asam humik akan mempengaruhi sifat fisik,
kimia dan biologi tanah. Istilah asam humik berasal dari Berzilius pada tahun
1980, yang menggolongkan fraksi humik tanah ke dalam, (1) asam humik yaitu
fraksi yang larut dalam basa, tidak larut dalam asam dan alkohol (2) asam krenik
dan apokrenik atau asam fulvat yang larut dalam air dan (3) humik yaitu bagian
yang tidak dapat larut. Asam humik memiliki kadungan 56.2% C, 35.5% O, 4.7 %
H, 3.2 % N dan 0.8 % S. Substansi humik terdiri atas makromolekul aromatik
kompleks asam amino, peptida termasuk juga ikatan antar kelompok aromatik
yang juga terdiri atas fenolik OH bebas, struktur quinone, nitrogen, oksigen dan
gugus CaOH pada cincin aromatik. Kandungan asam humik dalam tanah yaitu C,
H, O, S, dan P dan unsur lain seperti Na, K, Mg, Mn, Fe, dan Al-oksida (Huang
dan Schnitzer (1997) dalam Windyianingrum, (2008).

Universitas Sumatera Utara

Asam humik memiliki keuntungan secara fisik antara lain meningkatkan
kapasitas memegang air, aerasi tanah, memperbaiki daya kerja tanah, membantu
bertahan pada kondisi kekurangan air, memecah masa dormansi benih dan
mengurangi erosi tanah. Keuntungan kimia yaitu membantu menahan air terlarut
dan melepaskannya ke tanah yang memerlukan, meningkatkan Kapasitas Tukar
Kation (KTK) dan Kapasitas Sangga Tanah, pengkhelatan ion logam dibawah
kondisi basa, kaya akan bahan organik dan mineral yang penting untuk
pertumbuhan dan meningkatkan persentase total nitrogen dalam tanah (Tan,
1993).

Universitas Sumatera Utara

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Progaram Studi
Kehutanan Universitas Sumatera Utara, dan Rumah kasa Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011
sampai Juli 2011.
Alat dan Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan ialah media tanam berupa tanah bekas galian
tambang emas traditional di Kecamatan Simpang Gambir, Kabupaten Mandailing
Natal, Sumatera Utara. Inokulum FMA berupa spora Fungi mikoriza arbuscula
jenis Gygaspora sp, Acaulaspora tuberculata, Glomus manihotis, Glomus etunicatum

yang berasal dari Laboratorium Bioteknologi IPB Bogor, Asam humik berupa
Humega

TM

, semai Suren yang berasal dari Balai Persemaian Dinas Kehutanan

Kabupaten Karo UPT. Tongkoh, KOH 10 %, HCL 2 %, Larutan staining, larutan
distaining dan pasir yang disterilkan sebagai media kecambah benih.
Alat yang digunakan adalah polybag sebagai wadah media tanam,
hand sprayer sebagai alat penyiram bibit, jangka sorong sebagai alat untuk

mengukur diameter, penggaris untuk mengukur tinggi, oven sebagai alat
mengovenkan akar dan tajuk, Spectrometer sebagai alat untuk mengukur serapan
P, mikroskop, kaca preparat, pinset,

dan alat tulis lainnya yang mendukung

penelitian ini.
Metode Penelitian
Percobaan ini dilakukan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL)
faktorial dengan 2 faktor yaitu :
Faktor 1 : FMA dengan 4 taraf, yaitu:

Universitas Sumatera Utara

Mo

: Tampa inokulasi

M1

: 5 gr/polibag

M2

: 10 gr/polibag

M3

: 15 gr/polibag

Faktor 2 : Asam Humik (Humega TM) dengan 3 dosis, yaitu:
Ho

: 0 % HumegaTM/ polibag

H1

: 2.5 % HumegaTM/polibag

H2

: 5 % Humega TM/ polibag

dengan demikian ada 12 kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 5 kali,
sehingga diperoleh 60 satuan percobaan. Kombinasi perlakuannya adalah sebagai
berikut:
M0H0

M0H1

M0H2

M1H0

M1H1

M1H2

M2H0

M2H1

M2H2

M3H0

M3H1

M3H2

Model linier yang digunakan adalah :
Yij = π + αi + βj + ∑ij
Dimana :
Yij

= Hasil pengamatan inokulasi mikorija pada taraf ke-i dan pemberian asam

humik pada dosis ke-j
Π

= Nilai rata-rata

αi

= Pengaruh FMA pada taraf ke-i

βj

= Pengaruh asam humik pada dosis ke-j

Universitas Sumatera Utara

(αβ)ij : Pengaruh interaksi inokulasi FMA pada taraf ke-i dan pemberian asam
humik pada dosis ke-j
∑ij

: Pengaruh galat inokulasi FMA pada taraf ke-I dan pemberian asam

humik pada dosis ke-j
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam
(ANOVA) dan jika memberikan hasil yang berbeda nyata (p