Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula

(1)

PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM

PERBANYAKAN

SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA

INTAN UTAMI 071202024

PROGAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2011


(2)

PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM

PERBANYAKAN

SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA

SKRIPSI

Oleh :

INTAN UTAMI 071202024

PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


(3)

PENGGUNAAN SENYAWA HUMIK DALAM

PERBANYAKAN

SPORA FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA

SKRIPSI

Oleh :

INTAN UTAMI

071202024 / BUDIDAYA HUTAN

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Penelitian : Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula

Nama Mahasiswa : Intan Utami NIM : 071202024 Program Studi : Budidaya Hutan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

Dr. Deni Elfiati, S.P, M.P Dr. Delvian, S.P, M.P Ketua Anggota

Mengetahui Ketua Program Studi

Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph. D NIP. 197104162001122001


(5)

ABSTRAK

INTAN UTAMI. Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula, dibimbingoleh DENI ELFIATI dan DELVIAN.

Fungi MikorizaArbuskulamerupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. FMA dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan karbohidrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun upaya untuk memproduksi inokulan FMA dalam skala besar masih sulit karena penggunaannya dalam jumlah relative besar dan membutuhkan waktu untuk berproduksi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organic dan metode kultur terhadap produksi spora FMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Juli 2011 di LaboratoriumBiologi Tanah Hutan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial yaitu asam humik (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameter yang diamati adalah kepadatan spora FMA, persentase kolonisasi FMA, tipe spora FMA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan spora FMA dan persentasi kolonisasi FMA berpengaruh tidak nyata terhadap pemberian senyawa humik (HUMEGATM). Hasil pengamatan kolonisasi akar hanya ditemukan hifa pada akar yang terinfeksi, sedangkan vesikula dan arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar. Berdasarkan hasil trapping diperoleh 13 jenis spora yang berasal dari satu genus yaitu Glomus sp.


(6)

ABSTRACT

INTAN UTAMI. The use of humic compounds in the multiplication of Mychorrhiza Vesicular Arbuskula spores, supervised by DENI ELFIATI and DELVIAN.

Mychorhiza Vesycular Arbuskulaare fungi that symbiotic with the roots of its host plant. FMA can provide a variety of nutrients, particularly phosphor and carbohydrates to improve growth and crop production. But attempts to produce largescale inoculum MVA is still difficult because of its use in relatively large quantities and require time to produce. Therefore the study was conducted to determine the use of humic compounds and methods of culturing of MVA spore production. Methods used in this study were trapping cultur. The research was performed in March until July 2011 at agrobiology laboratory and green house, College of Agriculture University of North Sumatera using completely randomized design non factorial Humic(0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameters analyzed were MVA spore density, percentage of MVA colonization, MVA spore type.

Results showedthat the density of MVAspores and the percentage of MVA colonization did not affect real impact on the provision humic compounds. Observations of root colonization hypha is found only in infected roots, but vesicles and arbuskula were not found in root samples. Based on trapping results obtained 13 kinds of spores originating from a singlegenus of glomus sp.

Keyword : Humic Compounds, Mychorrhiza Vesycular Arbuskula, Trapping Cultur.


(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan proposal hasil penelitian ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari usulan penelitian ini adalah “Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula”. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak pada dosen pembimbing penelitian yaitu Dr. Deni Elfiati, S.P, M.P selaku ketua dan Dr. Delvian, S.P, M.P selaku anggota. Serta kepada kedua orangtua dan teman-teman yang telah mendukung dan membantu saya.

Penulis menyadari bahwa proposal hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi materi maupun teknik penulisan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi penyempurnaan hasil penelitian ini.

Akhirnya penulis berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi para mahasiswa kehutanan.

Medan, Agustus 2011 Penulis


(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 4

Hipotesis ... 4

Manfaat ... 4

TINJAUAN PUSTAKA ... 5

Organ-organ FMA... 6

Spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) ... 7

Faktor Pembentuk Spora FMA ... 7

Asam Humik ... 9

Pengaruh Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Spora ... 10

BAHAN DAN METODE ... 11

Waktu dan Tempat ... 11

Bahan dan Alat ... 11

Metode Penelitian ... 11

Pelaksanaan Penelitian ... 12

Persiapan Media Tumbuh dan Tanaman Inang ... 12

Ekstraksi dan Identifikasi Spora Fungi Mikoriza Arbuskula ... 13

Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel... 14

Pembuatan Kultur ... 15

Variabel yang Diamati ... 16

HASIL DAN PEMBAHASAN Kepadatan Spora Tanah Sampel ... 17

Kepadatan Spora Hasil Trapping ... 18

Persentase Kolonisasi Akar ... 23

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 26

Saran ... 26 DAFTAR PUSTAKA


(9)

DAFTAR TABEL

No Hlm

1. Kondisi tanah di bawah tegakan sengon (Paraserianthes falcataria) ... 18

2. Kepadatan spora hasil trapping ... 18

3 Jenis spora hasil trapping ... 20


(10)

DAFTAR GAMBAR

No Hlm


(11)

DAFTAR LAMPIRAN

No Hlm

1. Kegiatan penelitian ... 29 2. Hasil analisis sidik ragam kepadatan spora FMA hasil trapping ... 30 3. Hasil analisis sidik ragam kolonisasi akar ... 31


(12)

ABSTRAK

INTAN UTAMI. Penggunaan Senyawa Humik dalam Perbanyakan Spora Fungi Mikoriza Arbuskula, dibimbingoleh DENI ELFIATI dan DELVIAN.

Fungi MikorizaArbuskulamerupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. FMA dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan karbohidrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Namun upaya untuk memproduksi inokulan FMA dalam skala besar masih sulit karena penggunaannya dalam jumlah relative besar dan membutuhkan waktu untuk berproduksi. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organic dan metode kultur terhadap produksi spora FMA. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Juli 2011 di LaboratoriumBiologi Tanah Hutan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non factorial yaitu asam humik (0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameter yang diamati adalah kepadatan spora FMA, persentase kolonisasi FMA, tipe spora FMA.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan spora FMA dan persentasi kolonisasi FMA berpengaruh tidak nyata terhadap pemberian senyawa humik (HUMEGATM). Hasil pengamatan kolonisasi akar hanya ditemukan hifa pada akar yang terinfeksi, sedangkan vesikula dan arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar. Berdasarkan hasil trapping diperoleh 13 jenis spora yang berasal dari satu genus yaitu Glomus sp.


(13)

ABSTRACT

INTAN UTAMI. The use of humic compounds in the multiplication of Mychorrhiza Vesicular Arbuskula spores, supervised by DENI ELFIATI and DELVIAN.

Mychorhiza Vesycular Arbuskulaare fungi that symbiotic with the roots of its host plant. FMA can provide a variety of nutrients, particularly phosphor and carbohydrates to improve growth and crop production. But attempts to produce largescale inoculum MVA is still difficult because of its use in relatively large quantities and require time to produce. Therefore the study was conducted to determine the use of humic compounds and methods of culturing of MVA spore production. Methods used in this study were trapping cultur. The research was performed in March until July 2011 at agrobiology laboratory and green house, College of Agriculture University of North Sumatera using completely randomized design non factorial Humic(0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% HUMEGA TM). Parameters analyzed were MVA spore density, percentage of MVA colonization, MVA spore type.

Results showedthat the density of MVAspores and the percentage of MVA colonization did not affect real impact on the provision humic compounds. Observations of root colonization hypha is found only in infected roots, but vesicles and arbuskula were not found in root samples. Based on trapping results obtained 13 kinds of spores originating from a singlegenus of glomus sp.

Keyword : Humic Compounds, Mychorrhiza Vesycular Arbuskula, Trapping Cultur.


(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Mikoriza merupakan fungi yang dapat bersimbiosis dengan akar dari tanaman inangnya. Fungi yang dapat menyediakan berbagai nutrisi, terutama pospor, dan menyediakan karbohidrat untuk pertumbuhan dari jamur. Mikoriza bersifat non-pathogenic, dapat hidup pada berbagai tempat dan bersimbiosis dengan berbagai jenis tanaman (Barber, 1984).

Mikoriza tersebar hampir di seluruh permukaan bumi dan dapat berasosiasi dengan sebagian besar tumbuhan. Menurut Smith dan Read (1997) 83% dikotiledon, 79% monokotiledon dan semua Gymnospermeae yang pernah dipelajari adalah bermikoriza. Tanaman yang tidak bermikoriza biasanya terdapat pada daerah dengan tanah yang sangat kering atau salin atau tergenang, mengalami gangguan yang sangat berat seperti aktivitas penambangan, atau dimana kandungan hara tanah sangat tinggi atau sangat rendah (Brundrett, 1991).

Mikoriza dapat ditemukan berbagai jenis tanaman yang biasanya di akar angiosperms dan gymnosperms. Mikoriza yang bersimbiosis memberikan dampak positif terhadap inangnya, seperti pengambilan posfor dan membantu pertumbuhan inangnya. Selama terjadinya interaksi, fungi berkecambah dan

berkembangbiak membentuk miselium yang menyebar di akar tanaman (Selvaraj dan Padmanabhan, 2006).

Mikoriza dapat dikelompokkan dalam dua tipe, yaitu (1) ektomikoriza merupakan cendawan yang terjadi di luar sel inangnya,dan (2) endomikoriza merupakan cendawan yang seluruhnya terjadi di dalam sel inangnya. Ada juga


(15)

yang bertipe perantara, tetapi hanya sedikit yang dapat bersimbiosis dengan tipe ini dan pengetahuan tentang biologinya sangat sedikit (Landecker, 1982).

Pada ektomikoriza, jamur seluruhnya menyelubungi masing-masing cabang akar dalam selubung atau mantel akar. Hifa-hifa itu hanya menembus antarsel korteks akar. Sedangkan endomikoriza, jamurnya tidak membentuk suatu selubung luar tetapi hidup di dalam sel-sel akar (intraselular) dan membentuk hubungan langsung antar sel-sel akar dan tanah sekitarnya. Karakteristik biologis yang utama dari FMA adalah obligat bitrophik. Artinya setiap tahap siklus hidupnya memerlukan asosiasi dengan tanaman hidup. Seperti halnya sebagian besar filamentous jamur lainnya, propagasi FMA dapat terjadi salah satunya oleh diferensiasi spora dan diferensiasi perkecambahan oleh budding interkalar atau apikal pada hifa (Rao, 1994).

Identifiksi Spesies FMA berdasarkan karakter spora, arsitektur dari dinding spora, dan morfologi hifa. Fungi Mikoriza arbuskula (FMA) membetuk struktur karakteristik khusus yang disebut arbuskel dan vesikel. Arbuskul membantu dalam mentransfer nutrient (terutama fosfat) dari tanah ke sistem perakaran. FMA merupakan simbion obligat dan tidak pernah dipisahkan dalam kultur murni dan hanya dapat dipertahankan pada tanaman sedang tumbuh yang diinokulasi dengan spora dari salah satu spesies dan potongan-potongan akar beserta tanahnya untuk tujuan penelitian (Rao, 1994).

Penelitian mengenai mikoriza telah mulai banyak dilakukan, bahkan usaha untuk memproduksinya telah mulai banyak dirintis. Hal ini disebabkan oleh peranannya yang cukup membantu dalam meningkatkan kualitas tanaman. Seperti yang disampaikan oleh Yusnaini (1998), bahwa FMA dapat membantu


(16)

meningkatkan produksi kedelai pada tanah ultisol di Lampung. Bahkan pada penelitian lebih lanjut dilaporkan bahwa penggunaan FMA ini dapat meningkatkan produksi jagung yang mengalami kekeringan sesaat pada fase vegetatif dan generatif.

Menurut Setiadi (2003) dalam Dewi (2007), menyebutkan bahwa mikoriza juga sangat berperan dalam meningkatkan toleransi tanaman terhadap kondisi lahan kritis, yang berupa kekeringan dan banyak terdapatnya logam-logam berat. Mencermati kondisi demikian maka dapat disepakati jika terdapat komentar mengenai potensi mikoriza yang cukup menjanjikan dalam bidang agribisnis.

Namun demikian masih terdapat beberapa kendala yang perlu dihadapi dalam upaya pemanfaatan mikoriza ini, diantaranya seperti yang disampaikan oleh Simanungkalit (2003) dalam Dewi (2007), bahwa upaya untuk memproduksi inokulan mikoriza dalam skala besar masih sulit. Penggunaan mikoriza ini masih mendapatkan kesulitan karena penggunaannya yang dalam jumlah relatif besar dan lamanya waktu untuk memproduksinya. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan senyawa organik dan metoda kultur yang digunakan akan berpengaruh terhadap produksi spora yang diperoleh.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kultur traping (trapping cultur). INVAM (2010) kultur traping adalah teknik menghasilkan koloni spora fungi yang sehat untuk identifikasi dan sebagai inokulum kultur tunggal. Spora yang dikumpulkan langsung dari tanah memiliki banyak masalah, seperti mikoriza yang terlihat baik tetapi sebenarnya tidak karena telah mati bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, hanya terdapat koloni fungi arbuskular dengan aktifitasdan biomassa yang cukup untuk melakukan sporulasi.


(17)

Tujuan

Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh senyawa asam humik terhadap produksi spora FMA.

Hipotesis

Pemberian asam humik mampu meningkatkan produksi spora FMA.

Manfaat

Hasil penelitian beguna sebagai bahan informasi untuk mengetahui cara memperbanyak spora FMA dan pembelajaran mikoriza bagi yang membutuhkan.


(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Mikoriza merupakan suatu bentuk simbiosis mutualistik antara jamur dan akar tanaman (Brundrett, 1991). Hampir pada semua jenis tanaman terdapat bentuk simbiosis ini. Umumya mikoriza dibedakan dalam tiga kelompok , yaitu: endomikoriza atau FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) pada jenis tanaman pertanian), ektomikoriza (pada jenis tanaman kehutanan), dan ektendomikoriza (Harley and Smith, 1983 dalam Dewi, 2007). Peranan FMA dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman telah banyak dilaporkan dan dari hasil penelitian belakangan ini banyak laporan yang memuat aplikasi dan

usaha produksi inokulan FMA yang diusahakan secara komersil (Dewi, 2007).

Menurut Setiadi (2001) dalam Elfiati dan Delvian (2007) bahwa fungi mikoriza arbuskula dapat berasosiasi dengan hampir 90% jenis tanaman dimana tiap jenis tanaman dapat juga berasosiasi dengan satu atau lebih jenis FMA. Tetapi tidak semua jenis tumbuhan dapat memberikan respon pertumbuhan positif terhadap inokulasi FMA. Konsep ketergantungan tanaman akan FMA adalah relatif dimana tanaman tergantung pada keberadaan FMA untuk mencapai pertumbuhannya. Tanaman yang mempunyai ketergantungan yang tinggi pada keberadaan FMA, biasanya akan menunjukkan pertumbuhan yang nyata terhadap inokulasi FMA, dan sebaliknya tidak dapat tumbuh sempurna tanpa adanya asosiasi dengan FMA.

Tanaman yang mempunyai mikoriza cenderung lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan dengan tanaman yang tidak mempunyai mikoriza.


(19)

pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Setelah periode kekurangan air, akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa jamur mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyerapan hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil akan meningkat (Dewi, 2007).

Organ-organ FMA

Menurut Landecker (1982) bahwa cendawan FMA mempunyai organ-organ khusus, yaitu:

1. Vesikel

Vesikel adalah pembengkakan hifa internal secara terminal dan interkalar, kebanyakan berbentuk bulat telur, dan berisi banyak senyawa lemak sehingga merupakan organ penyimpanan cadangan makanan dan pada kondisi tertantu dapat berperan sebagai spora atau alat untuk mempertahankan kehidupan cendawan. Tipe FMA vesikel memiliki fungsi yang paling menonjol dari tipe cendawan mikoriza lainnya. Hal ini dimungkinkan karena kemampuannya dalam berasasiasi dengan hampir 90% jenis tanaman.

2. Arbuskul

Arbuskul merupakan hifa bercabang halus yang dibentuk oleh percabangan koloni yang berulang-ulang sehingga menyerupai pohon dari dalam sel inang.

3. Spora

Spora terbentuk pada ujung hifa eksternal. Spora ini dapat dibentuk secara tunggal, berkelompok atau di dalam sporokarp tergantung pada jenis


(20)

cendawannya. Perkecambahan spora sangat sensitif tergantung kandungan logam berat yang ada di dalam tanah. Spora dapat hidup di dalam tanah beberapa bulan sampai beberapa tahun.

Spora Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)

Spora merupakan propagul yang bertahan hidup dibandingkan dengan hifa yang ada di dalam akar tanah. Spora terdapat pada ujung hifa eksternal dan dapat hidup selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Perkecambahan spora bergantung pada lingkungan seperti pH, temperatur, dan kelembaban tanah serta kadar bahan organik (Imas dkk; 1998).

FMA mempunyai peran biologis yang cukup penting khususnya bagi tanaman, yaitu (1) meningkatkan penyerapan hara, (2) sebagai pelindung hayati (bioprotektor), (3) meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan, dan (4) berperan sinergis dengan mikroorganisme lain.

Mengingat sifat simbiotiknya yang obligat, produksi dalam skala besar dari inokulum FMA memerlukan kontrol dan optimisasi baik pada pertumbuhan inang dan perkembangan jamur. Ukuran mikroskopis dari FMA, bersama dengan proses identifikasi kompleks juga berkontribusi pada kesukaran propagasi inokulum (Dewi, 2007).

Faktor Pembentuk Spora FMA

Perbedaan ketinggian tempat dapat mempengaruhi kepadatan spora. Berdasarkan data perbedaan ketinggian tempat di atas permukaan laut terlihat bahwa dengan bertambahnya ketinggian tempat maka terjadi penurunan suhu.


(21)

Dapat dikatakan dengan menurunnya suhu lingkungan dapat menurunkan tingkat kepadatan spora (Elfiati dan Delvian, 2007).

Spora yang dihasilkan oleh FMA akan semakin banyak jika perkembangan kolonisasinya juga tinggi. Kolonisasi yang tinggi sangat ditentukan oleh keterbukaan lingkungan tajuk tanaman inang dan suhu lingkungan (Elfiati dan Delvian, 2007). Suhu maupun sinar menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap koloni dan perkembangan spora FMA. Peningkatan intensitas sinar biasanya meningkatkan kolonisasi akar (Suhardi,1989).

Kondisi lingkungan tanah yang cocok untuk perkecambahan biji juga cocok untuk perkecambahan spora mikoriza. Demikian pula kindisi edafik yang dapat mendorong pertumbuhan akar juga sesuai untuk perkembangan hifa. Fungi mikoriza memasuki lapisan epidermis akar yang selanjutnya tumbuh menuju korteks. Pertumbuhan hifa secara eksternal terjadi jika hifa internal tumbuh dari korteks melalui epidermis. Pertumbuhan hifa secara eksternal tersebut terus berlangsung sampai tidak memungkinnya untuk terjadi pertumbuhan lagi. Bagi jamur mikoriza, hifa eksternal berfungsi mendukung fungsi reproduksi serta untuk transportasi karbon serta hara lainnya kedalam spora, selain fungsinya untuk menyerap unsur hara dari dalam tanah untuk digunakan oleh tanaman (Pujianto, 2001).

Inokulasi FMA pada tanaman sering kali dilakukan menggunakan campuran spora, hifa, dan akar terinfeksi. Walaupun memiliki beberapa kelebihan, inokulum campuran memiliki kelemahan dalam standarisasi dan sterilisasi. Spora adalah tipe inokulum yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan hifa ataupun akar terinfeksi, misal tahan terhadap pengaruh fisika dan kimia


(22)

karena ketebalan dindingnya, dapat disterilisasi untuk keperluan inokulasi aseptik, dan dapat distandarisasi. Namun, spora juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu memerlukan waktu untuk perkecambahan dan spora memiliki sifat dorman pada beberapa spesies (Widiastuti dkk; 2005).

Asam Humik

Asam humik atau asam humat merupakan hasil dari prosedur ekstraksi pelarut humus. Asam humat membentuk bagian terbesar dan kompleks humus dan dianggap sebagai polimer senyawa aromatik. Dapat diperoleh variasi yang cukup besar dari produk degradasi fenolik di dalam asam humat. Jamur dan bakteri diketahui melakukan dekomposisi asam humat. Beberapa jamur, terutama basidiomisetes dan askomisetes, yang mampu mendekomposisi lignin dan mendekomposisi asam humat (Rao, 1994).

Asam humat menguntungkan bagi tanaman karena berperanan dalam transfer nutrien dari tanah ke tanaman, meningkatkan retensi air dan merangsang populasi dan aktivitas mikroorganisme dalam tanah (Bio Ag Technologies International, 1999 dalam Roni dkk; 2005). Asam humik juga dapat sebagai pembawa mikronutrien yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman (Chen dan Aviad, 1990).

Asam humat diketahui mempengaruhi pertumbuhan dan perkembanganbiakan mikroorganisme. Pertumbuhan Aspergillus niger, Pennecillum glaucum, Bacillus mycoides, dan Scenedesmus spp. dipercepat dengan penambahan bahan humus. Jumlah sel-sel Azotobacter dan jumlah


(23)

nitrogen yang difiksasi olehnya juga makin banyak dengan pembubuhan asam humat (Rao, 1994).

Sifat asam humik (Humic Acid) adalah memiliki nilai kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi, mempunyai kemampuan membentuk ikatan kompleks dengan ion logam, relatif resisten terhadap degradasi mikroba, dan memiliki struktur yang kompleks dengan bobot molekul yang sangat tinggi (Humate Indonesia, 2009).

Pengaruh Asam Humik Terhadap Pertumbuhan Spora

Pemberian asam humik mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman inang dan sporulasi fungi mikoriza arbuskula (FMA). Berdasarkan penelitian, pemberian asam humik dapat meningkatkan pertumbuhan Pueraria javanica dengan peningkatan 75,4%-105,9%. Terjadinya perbedaan respon pertumbuhan ini berhubungan dengan pengaruh asam humik terhadap peningkatan penyerapan hara, baik makro maupun mikro (Delvian, 2003).

Pemberian asam humik ternyata mampu meningkatkan jumlah spora yang terbentuk. Banyaknya jumlah spora yang terbentuk ini tidak terlepas dari respon pertumbuhan tanaman inang yang lebih baik dengan pemberian asam humik. Pada kondisi yang demikian proses-proses metabolisme tanaman, seperti fotosintesis, akan berlangsung secara maksimal sehingga fotosintat yang dihasilkan menjamin proses pertumbuhan tanaman dan kelangsungan simbiosis antara tanaman dan mikoriza. Dengan terjaminnya suplai karbon dari tanaman bagi perkembangan mikoriza, maka sporulasi juga akan berlangsung dengan baik.


(24)

Sebaliknya, perkembangan mikoriza yang baik akan menjamin suplai air dan hara bagi pertumbuhan tanaman (Delvian, 2006).


(25)

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan dari bulan Maret hingga Juli 2011. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Tanah Hutan dan rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pengambilan sampel tanah di Arboretum USU Kwala Bekala, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah di bawah tegakan sengon, asam humik (HUMEGATM 6%), pasir steril, Pueraria javanica (kudzu), Chlorox 5%, air, larutan gula, larutan Melzers, larutan Polyvinyl Lacto Glycerol (PVLG), KOH 10%, HCl 2%, dan Trypan blue 0,05%.

Alat-alat yang digunakan berupa pot-pot kultur, bak kecambah, satu set saringan dengan ukuran 425µm, 212µm, 106µm, dan 53µm , tabung sentrifuse, cawan petri, pinset spora, mikroskop binokuler, mikroskop cahaya, kaca preparat, dan kaca penutup.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial. Penelitian terdiri dari lima perlakuan, yaitu:

1. Ho (0% HUMEGA TM) 2. H1 (2,5% HUMEGA TM) 3. H2 (5% HUMEGA TM) 4. H3 (7,5% HUMEGA TM)


(26)

Masing-masing perlakuan dibuat 4 ulangan, sehingga jumlah unit percobaan adalah 20 unit.

Menurut Hanafiah (2008), rumus umum rancangan acak lengkap non faktorial adalah sebagai berikut:

Yij = µ + τij + εij Dimana:

Yij = nilai pengamatan dari pemberian dosis asam humik pada taraf ke-j µ = rataan umum

τij = pengaruh pemberian dosis asam humik pada taraf ke-j εij = pengaruh acak pada pemberian asam humik pada taraf ke-j

Hasil analisis dimasukkan dalam tabel analisis sidik ragam (ANOVA). Apabila hasil analisi sidik ragam berbeda nyata, maka dilakukan Uji Lanjut Duncan pada taraf 5%.

Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Media Tumbuh dan Tanaman Inang

Media tumbuh yang digunakan adalah pasir sungai. Pasir tersebut dicuci sampai bersih untuk menghilangkan kotoran yang ada. Benih-benih P. javanica yang digunakan sebagai tanaman inang terlebih dahulu direndam dalam larutan Chlorox 5% selama 5-10 menit sebagai upaya sterilisasi permukaan. Kemudian direndam dalam air hangat (suhu 50oC) selama ±24 jam untuk memecahkan dormansi yang mungkin terjadi. Selanjutnya benih-benih tersebut disemaikan dalam bak persemaian selama ±10 hari atau telah muncul dua helai daun. Setelah itu dapat langsung dilakukan penanaman.


(27)

2. Ekstraksi dan Identifikasi Spora Fungi Mikoriza Arbuskula

Teknik yang digunakan dalam mengekstraksi spora FMA adalah teknik tuang – saring dari Pacioni (1992) dalam Delvian (2003) dan akan dilanjutkan dengan teknik sentrifugasi dari Brundrett dkk (1996) dalam Delvian (2003). Prosedur kerja teknik tuang – saring ini dimulai dengan mencampurkan tanah sampel sebanyak 50g dengan 200–300 ml air dan diaduk sampai butiran-butiran tanah hancur. Selanjutnya disaring dalam satu set saringan dengan ukuran 425µ m, 212µm, 106µm, dan 53µ m secara berurutan dari atas ke bawah. Dari saringan bagian atas disemprot dengan air kran untuk memudahkan bahan saringan lolos. Kemudian saringan paling atas dilepas dan saringan kedua kembali disemprot dengan air kran. Setelah saringan kedua dilepas sejumlah tanah sisa yang tertinggal pada saringan terbawah dipindahkan ke dalam tabung sentrifuse.

Ekstraksi spora teknik tuang – saring ini kemudian diikuti dengan teknik sentrifugasi dari Brundrett dkk (1996) dalam Delvian (2003). Hasil saringan dalam tabung sentrifuse ditambahkan dengan gula yang diletakkan pada bagian bawah dari larutan tanah dengan menggunakan pipet. Pemberian gula bertujuan untuk memisahkan antara partikel tanah dan spora. Tabung sentrifuse ditutup rapat dan disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 3 menit. Selanjutnya larutan supernatan tersebut dituang ke dalam saringan 53µ m, dicuci dengan air mengalir (air kran) untuk menghilangkan glukosa. Endapan yang tersisa dalam saringan di atas dituangkan ke dalam cawan petri dan kemudian diamati di bawah mikroskop binokuler untuk penghitungan kepadatan spora dan pembuatan praparat guna identifikasi spora FMA yang ada.


(28)

Pembuatan preparat spora menggunakan bahan pewarna Melzer’s dan pengawet PVLG yang diletakkan secara terpisah pada satu kaca preparat. Spora-spora FMA yang diperoleh dari ekstraksi setelah dihitung jumlah diletakkan dalam larutan Melzer’s dan PVLG dan jenis spora FMA yang ada dikedua larutan ini sama. Selanjutnya spora-spora tersebut dipecahkan secara hati-hati dengan cara menekan kaca penutup preparat menggunakan ujung lidi. Perubahan warna spora dalam larutan Melzer’s adalah salah satu indikator untuk menentukan tipe spora yang ada.

3. Kolonisasi FMA pada Akar Tanaman Sampel

Pengamatan kolonisasi FMA pada akar tanaman contoh dilakukan melalui teknik pewarnaan akar (staining). Metoda yang digunakan untuk pembersihan dan pewarnaan akar sampel adalah metoda dari Kormanik dan McGraw (1982) dalam Delvian (2003). Langkah pertama adalah memilih akar-akar halus dengan diameter ± 0,5 mm segar dan dicuci dengan air mengalir hingga bersih.

Akar sampel dimasukkan ke dalam larutan KOH 10% dan dibiarkan selama lebih kurang 24 jam sehingga akar akan berwarna putih atau pucat. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan semua isi sitoplasma dari sel akar sehingga akan memudahkan pengamatan struktur infeksi FMA. Larutan KOH kemudian dibuang dan akar contoh dicuci pada air mengalir selama 5-10 menit. Selanjutnya akar contoh direndam dalam larutan HCl 2% dan diinapkan selama kurang lebih 24 jam. Tujuannya untuk memudahkan dalam penyerapan warna sehingga mudah diketahui tipenya. Larutan HCl 2% kemudian dibuang dengan mengalirkannya secara perlahan-lahan. Selanjutnya akar sampel direndam dalam


(29)

larutan Trypan blue 0,05% selama 24 jam. Kemudian larutan Trypan blue dibuang dan diganti dengan larutan lacto glycerol untuk proses destaining (pengurangan warna). Selanjutnya kegiatan pengamatan siap dilakukan.

Penghitungan persentase kolonisasi akar menggunakan metoda panjang akar terkolonisasi (Giovannetti dan Mosse, 1980 dalam Delvian, 2003). Secara acak diambil potong-potongan akar yang telah diwarnai dengan panjang ± 1 cm sebanyak 10 potongan akar dan disusun pada kaca preparat, untuk setiap tanaman sampel dibuat dua preparat akar. Potongan-potongan akar pada kaca preparat diamati untuk setiap bidang pandang. Bidang pandang yang menunjukkan tanda-tanda kolonisasi (terdapat hifa dan atau arbuskula dan atau vesikula) diberi tanda-tanda positif (+), sedangkan yang tidak terdapat tanda-tanda kolonisasi diberi tanda negatif (-). Derajat/persentase kolonisasi akar dihitung dengan menggunakan rumus:

% kolonisasi akar =

+ n keseluruha pandang bidang da ber pandang bidang _ _ ) _( tan _ _

x 100%

4. Pembuatan kultur

Teknik trapping yang digunakan mengikuti metoda Brundrett dkk (1994) dalam Delvian (2003) dengan menggunakan pot kultur terbuka. Teknik pengisian media tanam dalam pot kultur adalah pot kultur diisi dengan pasir yang telah steril, tanah, dan pasir steril dengan perbandingan 1:1:1, kemudian dibuat lubang tanam untuk meletakkan P. javanica. Frekuensi pemberikan asam humik (HUMEGATM 6%) adalah 1xsebulan. Penambahan asam humik ini diharapkan berpengaruh terhadap sporulasi cendawan mikoriza.


(30)

Pemeliharaan kultur meliputi kegiatan penyiraman, pemberian hara dan pengendalian hama secara manual. Larutan hara yang digunakan adalah Hyponex merah dengan konsentrasi 1 g/l. Pemberian larutan hara dilakukan setiap minggu sebanyak 20 ml tiap pot kultur.

Setelah kultur berumur 8 minggu, kegiatan penyiraman dihentikan dengan tujuan mengkondisikan kultur pada keadaan stress kekeringan. Proses pengeringan ini berlangsung secara perlahan sehingga dapat merangsang pembentukan spora lebih banyak. Periode pengeringan ini berlangsung selama lebih kurang 2 minggu. Setelah itu dapat dilakukan pemanenan spora dengan menggunakan teknik ekstraksi dan identifikasi spora FMA.

5. Variabel yang Diamati - Kepadatan spora FMA

Perhitungan kepadatan spora FMA diamati di bawah mikroskop binokuler, kemudian dihitung jumlah spora yang terbentuk pada setiap perlakuan. - Persentase kolonisasi FMA

Perhitungan persentase kolonisasi FMA menggunakan metoda panjang akar terkolonisasi.

- Tipe spora FMA

Tipe spora FMA ditentukan dengan melihat perubahan warna spora dalam larutan Melzer’s, sehingga dapat diketahui jenis dan genus dari spora FMA.


(31)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kepadatan Spora Tanah Sampel

Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa rata-rata kepadatan spora per 50 gram tanah adalah 56. Hasil ini tergolong rendah karena jumlah spora per gram tanah hanya 1,12. Menurut Smit dan Read (1997) bahwa jumlah spora per gram adalah 1-4 spora, dimana nilai 1 adalah nilai terendah sedangkan nilai 4 adalah nilai tertinggi.

Jumlah kepadatan spora dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kandungan hara, suhu tanah, dan intensitas cahaya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Coyne (1960) bahwa jumlah spora tergantung pada kondisi tanah. Dan sesuai dengan pernyataan Sieverding (1991) dalam Widiastuti dkk (2005) mengemukakan bahwa O2, CO2, kelembaban, suhu, status hara tanah dan sumber hara berpengaruh pada perkecambahan spora.

Keadaan kerapatan tegakan sengon di lokasi pengambilan sampel tanah sangat rendah yang ditandai dengan jarak tanam antar tanaman yang jauh (5,5x5,5m) sehingga intensitas cahaya yang masuk sangat tinggi. Keadaan tersebut menyebabkan suhu tanah menjadi tinggi. Menurut pernyataan Elfiati dan Delvian (2007) bahwa kolonisasi yang tinggi sangat ditentukan oleh keterbukaan lingkungan tajuk tanaman inang dan suhu lingkungan. Peningkatan intensitas sinar biasanya meningkatkan kolonisasi akar.

Suhu tanah di lapangan (Tabel 1) adalah 27°C, dimana suhu ini belum optimum untuk memproduksi spora sehingga jumlah kepadatan spora pada tanah sampel tergolong rendah. Hal ini berdasarkan pada pernyataan Suhardi (1989)


(32)

tetapi untuk kolonisasi miselia yang terbaik adalah pada suhu 28-35 °C. Suhu tanah sangat berpengaruh terhadap terbentuknya koloni akar, pembentukan spora, dan kemampuan hidup dari alat-alat perkembangbiakan spora.

Berikut merupakan kondisi tanah di bawah tegakan sengon (Paraserianthes falcataria) yang berada di kebun percontohan Arboretum USU Kuala Bekala (Tabel 1).

Tabel 1. Kondisi tanah di bawah tegakan sengon (Paraserianthes falcataria) Parameter Satuan Kisaran Nilai Keterangan Temperatur

tanah

°C 27 Temperatur tanah diukur pada kedalaman 10 cm.

pH tanah - 5,5-6,5 Agak asam

C-organik % 3,1-5,0 Tinggi

P-tersedia ppm 16-25 Sedang

K-dd me/100g 0,3-0,5 Sedang

Sumber: Rauf (2009)

Kepadatan Spora Hasil Trapping

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam diperoleh bahwa pemberian asam humik tidak berpengaruh terhadap peningkatkan jumlah spora FMA (Lampiran 2). Berdasarkan hasil trapping kepadatan spora pada Tabel 2 diperoleh rata-rata tertinggi pada pemberian 10% asam humik dan yang terendah pada pemberian 5% asam humik, yaitu 58,3 dan 42,7.

Tabel 2. Kepadatan spora hasil trapping

Perlakuan Ulangan Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 41 58 51 24 43,5

H1 (2,5%) 45 48 47 50 47,5

H2 (5%) 32 42 40 57 42,7

H3 (7,5%) 48 52 62 58 55,0


(33)

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada kegiatan pemerangkapan (trapping) bahwa pemberian asam humik (HumegaTM 6%) belum menunjukkan peningkatan jumlah spora FMA yang signifikan. Peningkatan jumlah spora hanya terjadi pada pemberian asam humik 10%, yaitu 58,3. Peningkatan spora hanya 2,3 dari rata-rata jumlah spora pada tanah sampel atau meningkat 4,5% dari tanah sampel (Tabel 2). Hasil penelitian Delvian (2006) menunjukkan bahwa dari kegiatan trapping didapatkan bahwa pemberian asam humik (HumegaTM) pada dosis 2,5% dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman inang dan sporulasi Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) hingga 156,25%.

Ada beberapa faktor yang diduga menyebabkan perbedaan hasil tersebut yaitu ditemukan semut dan Collembola yang menyerang tanah trapping yang menyebabkan berkurangnya produksi spora. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suhardi (1989) bahwa binatang di dalam tanah seperti semut atau Collembola dapat memakan spora FMA sehingga dapat mengurangi populasi FMA di tanah. Kemudian salah satu hal yang berkurangnya spora yaitu adanya kesalahan teknis pada saat proses sentrifugasi, sentrifus tidak dapat berputar pada kecepatan 2500rpm dalam 3 menit sehingga keadaan ini menyebabkan jumlah spora yang tersaring sedikit.

Asam humik dapat menjadi sumber energi untuk FMA dan sebagai sumber unsur hara untuk P. javanica (kudzu). Menurut Pettit (2011) asam humik merupakan sumber energi untuk organisme tanah yang menguntungkan. Energi disimpan dalam bentuk karbon yang digunakan untuk menyampaikan berbagai macam reaksi metabolism pada organisme tersebut sehingga dapat meningkatkan


(34)

pertumbuhan dari tanaman. Contohnya, mikoriza membantu akar tanaman dalam mengambil air dan unsur hara.

Berdasarkan hasil trapping diperoleh 13 jenis spora yang berasal dari satu genus (Tabel 3), yaitu Glomus sp. Genus Glomus didapat dari semua jenis perlakuan yang diberikan, hal ini menunjukkan bahwa Glomus mempunyai daya adaptasi yang tinggi dan dapat bertoleransi dengan keadaan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Elfiati dan Delvian (2007) bahwa genus Glomus mempunyai tingkat adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan baik pada kondisi tanah yang masam maupun pada kondisi suhu yang bervariasi sehingga dapat ditemukan di berbagai tempat.

Tabel 3. Jenis spora hasil trapping

No Tipe spora Perbesaran Karakteristik spora

1.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna coklat, permukaan halus, dan mudah pecah.

2.

Glomus sp

10x Spora berbentuk lonjong, berwarna

kecoklatan,permukaan halus, dan mudah pecah.


(35)

3.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna kuning orange, dan mudah pecah.

4.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna coklat kemerahan, dan mudah pecah.

5.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna coklat kemerahan, dan mudah pecah.

6.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna merah bata, dan dindingnya tebal (tidak mudah pecah).

7.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna coklat, dan mudah pecah.

8.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna kecoklatan, dan mudah pecah.


(36)

9.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna merah bata, dan mudah pecah.

10.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna coklat, dan mudah pecah.

11.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna kuning kecoklatan, dan mudah pecah.

12.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna kuning kemerahan, dan mudah pecah.

13.

Glomus sp

40x Spora berbentuk bulat, berwarna kecoklatan, dan tidak mudah pecah.


(37)

Persentase Kolonisasi Akar

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) terlihat bahwa pemberian asam humik berpengaruh tidak nyata terhadap persentase kolonisasi akar. Akar-akar yang terinfeksi diidentifikasi dengan ditemukannya hifa pada akar yang telah diletakkan di kaca preparat. Hifa, arbuskula, dan vesikula merupakan ciri-ciri dari terinfeksinya akar oleh FMA.

Berdasarkan hasil pengamatan persentase kolonisasi akar diperoleh persentase tertinggi pada pemberian 5% asam humik dan terendah pada pemberian 7,5% asam humik, yaitu 87,45% dan 74,75%. Berikut adalah data hasil persentase kolonisasi akar yang disajikankan pada Tabel 4.

Tabel 4. Persentase kolonisasi akar

Perlakuan Kolonisasi akar (%) Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 71,2 83,1 94,6 82,9 82,94

H1 (2,5%) 83,0 81,8 75,0 66,7 76,63

H2 (5%) 88,4 89,1 91,5 80,8 87,45

H3 (7,5%) 66,0 78,0 80,0 75,0 74,75

H4 (10%) 55,1 91,5 77,6 85,5 77,43

Hasil pengamatan kolonisasi akar hanya ditemukan adanya hifa pada akar yang terinfeksi, sedangkan vesikula dan arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar. Arbuskula tidak ditemukan pada sampel akar karena arbuskula memiliki waktu hidup yang singkat. Hal ini sesuai dengan pernyataan Harley dan Smith (1983) dalam Kramadibrata dan Gunawan (2006) bahwa arbuskula memiliki masa hidup yang pendek, sekitar 1-3 minggu yang kemudian dinding arbuskula akan mengalami kematian. Arbuskula merupakan tempat pertukaran metabolik antara mikoriza dan tanaman (Coyne, 1960).


(38)

Akar tanaman sampel P. javanica (Kudzu) berasosiasi dengan FMA yang membentuk kolonisasi. Persentase kolonisasi yang tinggi pada akar tanaman P. javanica disebabkan oleh morfologi P. javanica yang memiliki banyak rambut akar sehingga hifa dapat menembus sel epidermis akar melalui rambut-rambut akar tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Read dkk (1984) bahwa hifa akan membuat kontak dengan menginfeksi akar kemudian menyebar keseluruh bagian akar tanaman. Beberapa hifa akan membentuk koneksi antara akar yang memiliki karakteristik khusus yang sering disebut arteri hifa. Arteri tersebut memiliki diameter yang besar, sedikit cabang daripada hifa yang lain dan langsung melewati akar. Kemudian hifa akan membentuk vesikula yang dapat memberikan kebutuhan karbohidrat ke tanaman karena vesikula adalah tempat penyimpan karbohidrat dari FMA.

(a) (b) Gambar 1. (a) akar yang memiliki hifa, (b) akar yang tidak terinfeksi FMA

Berdasarkan Gambar 1 terlihat perbedaan antara akar yang terinfeksi FMA memiliki hifa (a), sedangkan akar yang tidak terinfeksi FMA tidak memiliki hifa


(39)

(b). Vesikula pada penampang akar tidak terlihat karena tidak ditemukan pembengkakan hifa internal secara terminal dan interkalar.


(40)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian asam humik (HUMEGATM 6%) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan jumlah spora FMA. Pada pemberian asam humik 10 %, hanya meningkatkan 4,5% jumlah spora dari rata-rata jumlah spora pada tanah sampel.

Saran

Agar penelitian selanjutnya memperhatikan mikroorganisme yang dapat menyerang spora FMA sehingga produksi spora dapat optimal.


(41)

DAFTAR PUSTAKA

Barber, S.A. 1984. Soil Nutrient Bioavailability. John Wiley & Son, Inc. United States of America. Hlm. 162.

Brundrett MC. 1991. Mycorrhizal in natural ecosystems. Adv. Ecol. Res. 21 : 171-313.

Chen, Y dan T. Aviad. 1990. Effects of Humic Substances on Plant Growth. American Society of Agronomy and Soil Science Society of America, USA.

Coyne, M.S. 1960. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. Delmar Pubhlishers. An international Thompson Pubhlisher Company.

Delvian. 2003. Keanekaragaman Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Di Hutan Pantai dan Potensi Pemanfaatannya. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Delvian. 2006. Karya Tulis: Koleksi Isolat Cendawan Mikoriza Arbuskula Asal Hutan Pantai. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas sumatera Utara.

Dewi, I.R. 2007. Makalah: Peran, Prospek Dan Kendala Dalam Pemanfaatan Endomikoriza. Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran. Bandung.

Elfiati, D dan Delvian. 2007. Keanekaragaman Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Berdasarkan Ketinggian Tempat. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Edisi Khusus 3:371 – 378.

Hanafiah, K. A. 2008. Rancangan Percobaan: Teori dan Aplikasi. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Humate Indonesia. 2009. Asam Humik (Humic Acid). http://www.humate-indonesia.co.cc [23 Februari 2011]

Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W. Gunawan, dan Y. Setiadi, 1989. Mikrobiologi Tanah II. Depdikbud Ditjen Dikti, Pusat Antar Universitas Bioteknologi, IPB.

INVAM. 2010. Trap Cultur. http://www.invam.caf.wvu.edu [12 Desember 2010]. Kramadibrata, K, dan Gunawan, A. W. 2006. Arbuscular Mycorrhizal Fungi

Surrounding Tropical Kudzu and Para Grass. Jurnal Mikrobiologi Indonesia 11 (2) : 67-71.


(42)

Landecker, E.M. 1982. Fundamentals of The Fungi. Second Edition. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs. New Jersey.

Pettit, R. E. 2011. Organic Matter, Humus, Humate, Humic Acid, Fulvic Acid, and Humin. Emeritus Associate Professor, Texas A and M University. Pujianto. 2001. Pemanfatan Jasad Mikro, Jamur Mikoriza dan Bakteri Dalam

Sistem Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia: Tinjauan Dari Perspektif Falsafah Sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Edisi Kedua. Penerbit Universitas Indonesia.

Rauf, A. 2009. Profil Arboretum USU 2006-2008. USU Press, Medan.

Read, D.J, Francis, R dan Finlay, R.D. 1984. The Structure and of The Vegetative mycelium of myccorhizal roots. In the Ecology anf Phisiology of the fungal mycellium. Cambridge University Press. Cambridge.

Roni, N. G. K. Soedarmadi, dan Y Setiadi. 2005. Pertumbuhan Dan Produksi Kudzu Tropika (Pueraria phaseoloides BENTH.)Yang diberi asam humat Dan pupuk fosfat . http://www. ejournal.unud.ac.id [23 Februari 2011] Selvaraj, T dan Padmanabhan, C. 2006. Arbuscular Mycorrhizae: A Diverse

Personality. Journal of Central European Agriculture 7: 349-353.

Smith, SE dan Read, DJ. 1997. Mycorrhizal symbiosis. Second edition. Academic Press. Harcourt Brace & Company Publisher. London. Hlm. 32-79.

Suhardi, 1989. Mikoriza Vesikular Arbuskular(MVA). Penerbit UGM Press, Yogyakarta.

Tate, R. L. 1987. Soil Organic Matter: Biological And Ecological Effects. John Wiley and Sons, Inc.

Widiastuti, Y, N. Sukarno, L.K. Darusman, D.H. Goenadi, S. Smith, dan E. Guhardja. 2005. Application Of Arbuscular Mycorrhizal Fungi Spore As Inoculant To Increase Growth And Nutrient Uptake Of Oil Palm Seedling. Menara Perkebunan 73(1): 26-34.

Yusnaini, S. 1998. Pengaruh Inokulasi Ganda Rhizobium dan FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) terhadap Nodulasi dan Produksi Kedelai pada Tanah Ultisol Lampung. Jurnal Tanah Tropika.7:103-108.


(43)

Lampiran 1: Dokumentasi Penelitian

(a) (b) (b)

(c ) (d)

Gambar 1. Kegiatan penelitian: Bibit Pueraria Javanica di dalam pot kultur (a), kegiatan trapping di rumah kaca (b), kegiatan pemanenan akar dan tanah trapping (c), dan akar hasil trapping (d).


(44)

Lampiran 2: Hasil Analisis Sidik Ragam Kepadatan Spora FMA Hasil Trapping Tabel 1. Data kepadatan spora FMA hasil trapping

Perlakuan

Ulangan

Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 41 58 51 24 174 43,5

H1 (2,5%) 45 48 47 50 190 47,5

H2 (5%) 32 42 40 57 171 42,75

H3 (7,5%) 48 52 62 58 220 55

H4 (10%) 44 45 66 78 233 58,25

Tabel 2. Analisis sidik ragam (ANOVA)

SK Db JK KT F Hit. F Tabel

Perlakuan 4 769.3 192.3 1.49tn 3,06

Galat 15 1937.5 129.2

Total 19 2706.8


(45)

Lampiran 3: Hasil Analisis Sidik Ragam Persentase Kolonisasi Akar Tabel 3. Data persentase kolonisasi akar

Perlakuan

kolonisasi akar (%)

Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 71,2 83,1 94,6 82,9 331,8 82,94

H1 (2,5%) 83,0 81,8 75,0 66,7 306,5 76,63

H2 (5%) 88,4 89,1 91,5 80,8 349,8 87,45

H3 (7,5%) 66,0 78,0 80,0 75,0 299,0 74,75

H4 (10%) 55,1 91,5 77,6 85,5 309,7 77,43

Tabel 4. Analisis sidik ragam (ANOVA)

SK db JK KT F Hit. F Tabel

Perlakuan 4 438.6 109.7 1.19tn 3,06

Galat 15 1383.1 92.2

Total 19 1821.8


(1)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian asam humik (HUMEGATM 6%) tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peningkatan jumlah spora FMA. Pada pemberian asam humik 10 %, hanya meningkatkan 4,5% jumlah spora dari rata-rata jumlah spora pada tanah sampel.

Saran

Agar penelitian selanjutnya memperhatikan mikroorganisme yang dapat menyerang spora FMA sehingga produksi spora dapat optimal.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

Barber, S.A. 1984. Soil Nutrient Bioavailability. John Wiley & Son, Inc. United States of America. Hlm. 162.

Brundrett MC. 1991. Mycorrhizal in natural ecosystems. Adv. Ecol. Res. 21 :

171-313.

Chen, Y dan T. Aviad. 1990. Effects of Humic Substances on Plant Growth. American Society of Agronomy and Soil Science Society of America, USA.

Coyne, M.S. 1960. Soil Microbiology: An Exploratory Approach. Delmar Pubhlishers. An international Thompson Pubhlisher Company.

Delvian. 2003. Keanekaragaman Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Di Hutan Pantai dan Potensi Pemanfaatannya. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Delvian. 2006. Karya Tulis: Koleksi Isolat Cendawan Mikoriza Arbuskula Asal Hutan Pantai. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas sumatera Utara.

Dewi, I.R. 2007. Makalah: Peran, Prospek Dan Kendala Dalam Pemanfaatan Endomikoriza. Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran. Bandung.

Elfiati, D dan Delvian. 2007. Keanekaragaman Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) Berdasarkan Ketinggian Tempat. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian

Indonesia. Edisi Khusus 3:371 – 378.

Hanafiah, K. A. 2008. Rancangan Percobaan: Teori dan Aplikasi. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Humate Indonesia. 2009. Asam Humik (Humic Acid). http://www.humate-indonesia.co.cc [23 Februari 2011]

Imas, T., R.S. Hadioetomo, A.W. Gunawan, dan Y. Setiadi, 1989. Mikrobiologi Tanah II. Depdikbud Ditjen Dikti, Pusat Antar Universitas Bioteknologi, IPB.

INVAM. 2010. Trap Cultur. http://www.invam.caf.wvu.edu [12 Desember 2010]. Kramadibrata, K, dan Gunawan, A. W. 2006. Arbuscular Mycorrhizal Fungi

Surrounding Tropical Kudzu and Para Grass. Jurnal Mikrobiologi


(3)

Landecker, E.M. 1982. Fundamentals of The Fungi. Second Edition. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs. New Jersey.

Pettit, R. E. 2011. Organic Matter, Humus, Humate, Humic Acid, Fulvic Acid, and Humin. Emeritus Associate Professor, Texas A and M University. Pujianto. 2001. Pemanfatan Jasad Mikro, Jamur Mikoriza dan Bakteri Dalam

Sistem Pertanian Berkelanjutan Di Indonesia: Tinjauan Dari Perspektif Falsafah Sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme tanah dan pertumbuhan tanaman. Edisi Kedua. Penerbit Universitas Indonesia.

Rauf, A. 2009. Profil Arboretum USU 2006-2008. USU Press, Medan.

Read, D.J, Francis, R dan Finlay, R.D. 1984. The Structure and of The Vegetative mycelium of myccorhizal roots. In the Ecology anf Phisiology of the fungal mycellium. Cambridge University Press. Cambridge.

Roni, N. G. K. Soedarmadi, dan Y Setiadi. 2005. Pertumbuhan Dan Produksi Kudzu Tropika (Pueraria phaseoloides BENTH.)Yang diberi asam humat Dan pupuk fosfat . http://www. ejournal.unud.ac.id [23 Februari 2011] Selvaraj, T dan Padmanabhan, C. 2006. Arbuscular Mycorrhizae: A Diverse

Personality. Journal of Central European Agriculture 7: 349-353.

Smith, SE dan Read, DJ. 1997. Mycorrhizal symbiosis. Second edition. Academic Press. Harcourt Brace & Company Publisher. London. Hlm. 32-79.

Suhardi, 1989. Mikoriza Vesikular Arbuskular(MVA). Penerbit UGM Press, Yogyakarta.

Tate, R. L. 1987. Soil Organic Matter: Biological And Ecological Effects. John Wiley and Sons, Inc.

Widiastuti, Y, N. Sukarno, L.K. Darusman, D.H. Goenadi, S. Smith, dan E. Guhardja. 2005. Application Of Arbuscular Mycorrhizal Fungi Spore As Inoculant To Increase Growth And Nutrient Uptake Of Oil Palm Seedling.

Menara Perkebunan 73(1): 26-34.

Yusnaini, S. 1998. Pengaruh Inokulasi Ganda Rhizobium dan FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula) terhadap Nodulasi dan Produksi Kedelai pada Tanah Ultisol Lampung. Jurnal Tanah Tropika.7:103-108.


(4)

Lampiran 1: Dokumentasi Penelitian

(a) (b) (b)

(c ) (d)

Gambar 1. Kegiatan penelitian: Bibit Pueraria Javanica di dalam pot kultur (a), kegiatan trapping di rumah kaca (b), kegiatan pemanenan akar dan tanah trapping (c), dan akar hasil trapping (d).


(5)

Lampiran 2: Hasil Analisis Sidik Ragam Kepadatan Spora FMA Hasil Trapping Tabel 1. Data kepadatan spora FMA hasil trapping

Perlakuan

Ulangan

Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 41 58 51 24 174 43,5

H1 (2,5%) 45 48 47 50 190 47,5

H2 (5%) 32 42 40 57 171 42,75

H3 (7,5%) 48 52 62 58 220 55

H4 (10%) 44 45 66 78 233 58,25

Tabel 2. Analisis sidik ragam (ANOVA)

SK Db JK KT F Hit. F Tabel

Perlakuan 4 769.3 192.3 1.49tn 3,06

Galat 15 1937.5 129.2

Total 19 2706.8


(6)

Lampiran 3: Hasil Analisis Sidik Ragam Persentase Kolonisasi Akar Tabel 3. Data persentase kolonisasi akar

Perlakuan

kolonisasi akar (%)

Rata-rata

1 2 3 4

H0 (0%) 71,2 83,1 94,6 82,9 331,8 82,94 H1 (2,5%) 83,0 81,8 75,0 66,7 306,5 76,63

H2 (5%) 88,4 89,1 91,5 80,8 349,8 87,45

H3 (7,5%) 66,0 78,0 80,0 75,0 299,0 74,75 H4 (10%) 55,1 91,5 77,6 85,5 309,7 77,43

Tabel 4. Analisis sidik ragam (ANOVA)

SK db JK KT F Hit. F Tabel

Perlakuan 4 438.6 109.7 1.19tn 3,06

Galat 15 1383.1 92.2

Total 19 1821.8