Pertumbuhan Bibit Rhizophora mucronata Lamk pada Berbagai Intensitas Naungan

PERTUMBUHAN BIBIT Rhizophora mucronata Lamk
PADA BERBAGAI INTENSITAS NAUNGAN

SKRIPSI

Oleh :
LOLA ADRES YANTI
071202001/ BUDIDAYA HUTAN

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

PERTUMBUHAN BIBIT Rhizophora mucronata Lamk
PADA BERBAGAI INTENSITAS NAUNGAN

SKRIPSI

Oleh :
LOLA ADRES YANTI
071202001 / BUDIDAYA HUTAN

Skripsi sebagai satu diantara beberapa syarat untuk
memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Pertumbuhan Bibit Rhizophora
Berbagai Intensitas Naungan
Nama

: Lola Adres Yanti

NIM

: 071202001

mucronata

Lamk

pada

Program Studi : Kehutanan

Disetujui Oleh
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Yunasfi, M. Si
Ketua

Nelly Anna, S. Hut, M. Si
Anggota

Mengetahui,

Siti Latifah, S. Hut, M. Si, Ph.D
Ketua Program Studi Kehutanan

Tanggal lulus :

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
LOLA ADRES YANTI: Pertumbuhan Bibit Rhizophora mucronata Lamk pada
Berbagai Intensitas Naungan, dibimbing oleh YUNASFI dan NELLY ANNA.
Rhizophora mucronata merupakan satu diantara beberapa pohon yang
memiliki perakaran kuat serta mampu menahan gelombang laut. Kini keberadaan
R. mucronata semakin habis. Satu diantara beberapa usaha yang dilakukan untuk
merehabilitasi mangrove adalah pembibitan R. mucronata. Penelitian ini bertujuan
mengetahui intensitas naungan terbaik untuk pertumbuhan R. mucronata.
Penelitian dilakukan di Desa Sicanang, Kecamatan Medan Belawan dan di
Laboratorium Biologi Tanah Hutan, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan
Juni 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non
faktorial dengan 5 perlakuan, yaitu intensitas naungan (0%, 25%, 50%, 75%, dan
100%) yang diulang sebanyak 15 sehingga diperoleh 75 unit percobaan.
Hasil penelitian menunjukkan respons R. mucronata dengan intensitas
naungan yang diberikan berpengaruh nyata terhadap persentase hidup, tinggi,
diameter, jumlah helai daun, luas daun total, dan biomassa total. Persentase hidup
terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 0% dan 25% sebesar 95%.
Tinggi bibit terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75% sebesar
16.513 cm. Diameter terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 25%
yaitu sebesar 0.533 cm. Jumlah helai daun terbesar pada bibit R. mucronata
dengan intensitas naungan 75% sebanyak 4.000. Luas daun total bibit terbesar
pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75% sebesar 128.579 cm2.
Biomassa total terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75%
sebesar 0.813 gram.

Kata kunci : Mangrove, Pembibitan, Propagul Rhizophora mucronata Lamk,
Intensitas naungan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
LOLA ADRES YANTI: The Growth of Propagul Rhizophora mucronata Lamk to
Intensity of Shading, under academic supervision by YUNASFI and NELLY
ANNA.
Rhizophora mucronata is one tree that has strong roots and be able
to withstand waves of ocean currents. One of the efforts made to rehabilitate
degraded forest mangrove is doing seedbed propagules R. mucronata. The part of
seedbed are media composition and good of various kinds of sizes . This research
was conducted in the seedling location of Sicanang Belawan and Laboratory of
Forest Soil Biology , Soil Departement, Agriculture Faculty, University of North
Sumatera during 3 mouth i.e Maret-Juni 2011. This research use the group
random design (GRD) with 5 treatment i.e 0% of shading, 25% of shading, 50%
of shading, 75% of shading, and 100% of shading for 15 replication.
The results showed growth of propagules R. mucronata of intensity of
shading to give real effecton seedling life percentation, height, seedling
diameter, seedling leaf, total leaf area, and total biomass. High largest seed in
the seed R. mucronata with 75% of shading that is equal to 16.513 cm. The
diameter of the largest seed in the seed R. mucronata with 25% of shading is
0.533 cm. The high largest seedling leaf in seed R. mucronata with 75% of
shading is 4.000. We have the largest seedling total leaf area in seedlings
R. mucronata with 75% of shading that is equal to 128.579 cm2. Total biomass
of the largest seed found in seed R. mucronata with 75% of shading that is equal
to 0.813 grams.
Keyword : Mangrove, Seedbed, Propagul Rhizophora mucronata Lamk, Intensity
of Shading

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Langsa pada tanggal 29 Januari 1990 dari Ayah
Burhanuddin dan Ibu Sri Erlinda. Penulis merupakan putri pertama dari empat
bersaudara.
Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Langsa, dan pada tahun yang
sama masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur PMP. Penulis memilih
Program Studi Budidaya Hutan, Departemen Kehutanan. Selain mengikuti
perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Badan Kenaziran Mushola Kehutanan,
sebagai asisten Klimatologi Hutan, Inventarisasi Hutan, dan Hidrologi Hutan.
Penulis melaksanakan Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H)
di hutan mangrove Pulau Sembilan, Pangkalan Susu dan hutan dataran rendah
Aras Napal, Kabupaten Langkat Sumatera Utara pada tanggal 11 Juni – 19 Juni
2009. Penulis melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di Perhutani Unit III
Garut, Jawa Barat dari tanggal 2 Januari - 2 Februari 2011.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pertumbuhan Bibit Rhizophora mucronata Lamk pada Berbagai Intensitas
Naungan”.
Pada kesempatan ini penulis menghaturkan pernyataan terima kasih
sebesar-besarnya kepada kedua orang tua, Ayahanda Burhanuddin dan Ibunda Sri
Erlinda serta adik-adik penulis atas doa dan dukungannya. Penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada Dr. Ir Yunasfi, M.Si dan Nelly Anna, S. Hut, M. Si
selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah memberi arahan dan
masukan berharga kepada penulis dari mulai menetapkan judul, pelaksanaan
penelitian, sampai pada ujian akhir. Penulis juga mengucapkan terima kasih untuk
Bapak Udin di Belawan yang telah memberikan tempat untuk penelitian saya, dan
Bapak Pian di Percut yang telah membantu dalam penyediaan propagul R.
mucronata.
Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua staf
pengajar dan pegawai di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian serta
teman-teman mahasiswa yang tak dapat disebutkan satu per satu di sini yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini
bermanfaat.

Medan, Juli 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK………………………………………………………………………. i
ABSTRACT…………………………………………………………………….. ii
RIWAYAT HIDUP……………………………………………………………. iii
KATA PENGANTAR………………………………………………………….. iv
DAFTAR TABEL……………………………………………………………... vii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………. viii
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………… ix
PENDAHULUAN
Latar Belakang…………………………………………………………………… 1
Kerangka Pemikiran……………………………………………………………… 3
Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 4
Hipotesis Penelitian………………………………………………………………. 4
Kegunaan Penelitian……………………………………………………………… 5
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Fisik Hutan Mangrove………………………………………………….. 6
Bakau Merah (Rhizophora mucronata)………………………………………….10
Pembibitan Tanaman Mangrove…………………………………………………11
Pengaruh Cahaya, Suhu, dan Kelembaban Terhadap
Pertumbuhan Tanaman………………………………………………………….. 16
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat……………………………………………………………… 23
Bahan dan Alat………………………………………………………………….. 23
Metode Penelitian……………………………………………………………….. 23
Prosedur Penelitian
Penyiapan media tanam……………………………………………………… 24
Pemilihan propagul…………………………………………………………... 24
Penanaman di polibag……………………………………………………….. 25
Parameter yang Diukur
Persentase hidup…………………………………………………………….. 25
Tinggi bibit…………………………………………………………………... 25
Diameter bibit………………………………………………………………... 26
Jumlah daun…………………………………………………………………. 26
Luas daun total……………………………………………………………….. 26
Biomassa total………………………………………………………………. 26
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Persentase hidup R. mucronata…………...…………………………………..28
Tinggi bibit R. mucronata……………………………………………………29
Diameter bibit R. mucronata………………………………………………… 30

Universitas Sumatera Utara

Jumlah daun bibit R. mucronata……………………………………………. 31
Luas daun total bibit R. mucronata……………………………………........ 32
Biomassa total bibit R. mucronata…………………………………………... 33
Pembahasan…………………………………………………………………….. 34
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan……………………………………………………………………… 40
Saran……………………………………………………………………………. 40
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1. Pertumbuhan tinggi bibit R. mucronata (cm)…………...………………….. 29
2. Pertumbuhan diameter bibit R. mucronata (cm)…………………...………. 30
3. Jumlah daun bibit R. mucronata…………………………………………….31
4. Luas daun total R. mucronata (cm2)……………………………………… 32
5. Biomassa total bibit R. mucronata (g)………………………………………33

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
No.

Halaman

1.

Kerangka pemikiran penelitian…………………………………………... 4

2.

Persentase hidup bibit R. mucronata terhadap intensitas
naungan………………………………………………………………….. 28

3. Bentuk bibit R. mucronata pada 12 MST berbagai
intensitas naungan a. intensitas naungan 0%,
b. intensitas naungan 25%, c. intensitas naungan 50%,
d. intensitas naungan 75% dan e. intensitas
naungan 100%.…………………………………………………………… 34

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Halaman

1. Data persentase hidup bibit R. mucronata dengan intensitas
naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)……………………………………………………. 46
2. Data pertumbuhan tinggi bibit R. mucronata dengan intensitas
naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)……………………………………………………. 47
3. Data pertumbuhan diameter bibit R. mucronata dengan
Intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)……………………………………………………. 49
4. Data rata-rata jumlah helai daun bibit R. mucronata
dengan intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai
12 MST (Minggu Setelah Tanam)………………………………………….

51

5. Data luas daun total bibit R. mucronata dengan
intensitas naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)…………………………………………………….. 53
6. Data biomassa total bibit R. mucronata dengan intensitas
naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)…………………………………………………….. 55
7. Data interval suhu di dalam paranet dengan intensitas
naungan pada pengamatan 1 sampai 12 MST
(Minggu Setelah Tanam)…………………………………………………….. 57

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
LOLA ADRES YANTI: Pertumbuhan Bibit Rhizophora mucronata Lamk pada
Berbagai Intensitas Naungan, dibimbing oleh YUNASFI dan NELLY ANNA.
Rhizophora mucronata merupakan satu diantara beberapa pohon yang
memiliki perakaran kuat serta mampu menahan gelombang laut. Kini keberadaan
R. mucronata semakin habis. Satu diantara beberapa usaha yang dilakukan untuk
merehabilitasi mangrove adalah pembibitan R. mucronata. Penelitian ini bertujuan
mengetahui intensitas naungan terbaik untuk pertumbuhan R. mucronata.
Penelitian dilakukan di Desa Sicanang, Kecamatan Medan Belawan dan di
Laboratorium Biologi Tanah Hutan, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan
Juni 2011. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non
faktorial dengan 5 perlakuan, yaitu intensitas naungan (0%, 25%, 50%, 75%, dan
100%) yang diulang sebanyak 15 sehingga diperoleh 75 unit percobaan.
Hasil penelitian menunjukkan respons R. mucronata dengan intensitas
naungan yang diberikan berpengaruh nyata terhadap persentase hidup, tinggi,
diameter, jumlah helai daun, luas daun total, dan biomassa total. Persentase hidup
terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 0% dan 25% sebesar 95%.
Tinggi bibit terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75% sebesar
16.513 cm. Diameter terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 25%
yaitu sebesar 0.533 cm. Jumlah helai daun terbesar pada bibit R. mucronata
dengan intensitas naungan 75% sebanyak 4.000. Luas daun total bibit terbesar
pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75% sebesar 128.579 cm2.
Biomassa total terbesar pada R. mucronata dengan intensitas naungan 75%
sebesar 0.813 gram.

Kata kunci : Mangrove, Pembibitan, Propagul Rhizophora mucronata Lamk,
Intensitas naungan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
LOLA ADRES YANTI: The Growth of Propagul Rhizophora mucronata Lamk to
Intensity of Shading, under academic supervision by YUNASFI and NELLY
ANNA.
Rhizophora mucronata is one tree that has strong roots and be able
to withstand waves of ocean currents. One of the efforts made to rehabilitate
degraded forest mangrove is doing seedbed propagules R. mucronata. The part of
seedbed are media composition and good of various kinds of sizes . This research
was conducted in the seedling location of Sicanang Belawan and Laboratory of
Forest Soil Biology , Soil Departement, Agriculture Faculty, University of North
Sumatera during 3 mouth i.e Maret-Juni 2011. This research use the group
random design (GRD) with 5 treatment i.e 0% of shading, 25% of shading, 50%
of shading, 75% of shading, and 100% of shading for 15 replication.
The results showed growth of propagules R. mucronata of intensity of
shading to give real effecton seedling life percentation, height, seedling
diameter, seedling leaf, total leaf area, and total biomass. High largest seed in
the seed R. mucronata with 75% of shading that is equal to 16.513 cm. The
diameter of the largest seed in the seed R. mucronata with 25% of shading is
0.533 cm. The high largest seedling leaf in seed R. mucronata with 75% of
shading is 4.000. We have the largest seedling total leaf area in seedlings
R. mucronata with 75% of shading that is equal to 128.579 cm2. Total biomass
of the largest seed found in seed R. mucronata with 75% of shading that is equal
to 0.813 grams.
Keyword : Mangrove, Seedbed, Propagul Rhizophora mucronata Lamk, Intensity
of Shading

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang
didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan
berkembang pada daerah pasang-surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini
umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat
aliran air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang-surut yang kuat
(Wales, 2010).
Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang
banyak

ditemukan

antara

lain

adalah api-api (Avicennia sp.), bakau

(Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia
sp.,) merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Jenis
mangrove tersebut adalah kelompok mangrove yang menangkap, menahan
endapan dan menstabilkan tanah habitatnya (Irwanto, 2008).
Sumatera Utara merupakan wilayah yang terparah kerusakan hutan
mangrove di seluruh Indonesia disusul Kalimantan. Secara nasional kerusakan
hutan bakau di Sumut telah mencapai 62,7 persen (mencapai 52.35 Ha) dari luas
83.55 Ha yang ada di Sumut. Sedangkan sisa hutan bakau yang kondisinya masih
baik tinggal 31.20 Ha (37,3 Persen) (Witoelar, 2007). Departemen Kehutanan
menyadari akan pentingnya hutan mangrove bagi kehidupan masyarakat baik
langsung maupun tidak langsung, maka melalui Gerakan Rehabilitasi Hutan dan
Lahan (GN RHL/Gerhan), direncanakan rehabilitasi terhadap sumberdaya tersebut
sesuai dengan urutan prioritasnya, dengan menggunakan jenis tanaman yang

Universitas Sumatera Utara

sesuai dengan kondisi biofisik dan sosial ekonomi masyarakat setempat
(Peraturan Menteri Kehutanan, 2004).
Berdasarkan informasi dan data lapangan, diketahui bahwa R. mucronata
dan R. apiculata yang paling disukai untuk digunakan sebagai tanaman
rehabilitasi. Manfaat R. mucronata adalah kayu digunakan sebagai bahan bakar
dan arang. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan, dan juga digunakan
sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni). R. mucronata
ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang. R. mucronata
menghasilkan madu dari nektarnya, buah dimakan, mengandung selulosa dan
xantat, produksi

rayon viskosa (viscose rayon) untuk bahan dasar tekstil,

kerangka ban, sabuk /alur untuk industri, dan selofan. Di antara beberapa jenis
mangrove penghasil kayu Rhizophora spp., dimanfaatkan karena keawetan dan
kekuatan. Kayu Rhizophora spp. digunakan untuk tiang, pancang, pasak,
bangunan kapal, kerajinan tangan, gagang macam-macam alat, bantalan rel kereta
api, mebel,dan bahan bangunan lainnya.
Faktor yang ikut menentukan keberhasilan Gerhan adalah tersedianya bibit
yang berkualitas dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu. Benih R. mucronata
mudah didapat karena berbunga dan berbuah sepanjang tahun. R. mucronata juga
merupakan jenis yang cukup tinggi permintaannya di pasaran sehingga
mempunyai prospek yang cerah untuk dikembangkan baik dari faktor ekologi
maupun dari faktor ekonominya. Menurut Mardani (2006) faktor yang tak kalah
penting yaitu pengaturan media tanam dengan komposisi tertentu sehingga dapat
menyediakan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan akar
dan pucuk. Menurut Octeri (2004) faktor lainnya adalah viabilitas propagul R.

Universitas Sumatera Utara

mucronata yang dinyatakan dalam daya kecambah, vigor, persen berkecambah
per hari, dan kecepatan tumbuh sangat bergantung pada tingkat kadar air
propagulnya. Menurut Gorat (2010) pertambahan tinggi bibit R. mucronata
dengan ukuran ≥ 60 cm sangat berbeda dengan bibit R. mucronata dengan ukuran
yang lainnya (40 cm-44 cm ; 45 cm-49 cm ; 50 cm-54 cm dan 55 cm-59 cm)
karena bibit yang ukurannya ≥ 60 cm memili ki cadangan makanan yang banyak.
Selain faktor ketersediaan bibit berkualitas, media tanam, viabilitas
propagul, dan ukuran propagul, serta pengaturan naungan sangat penting untuk
menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Khusus bagi semai yang baru
disapih, naungan yang diberikan harus lebih berat karena sangat rentan terhadap
sengatan sinar matahari. Periode waktu pemberian naungan tergantung dari
jenisnya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka penulis memandang perlu
dilakukannya penelitian mengenai pengaruh intensitas naungan terhadap
pertumbuhan R. mucronata. Penelitian ini diperlukan agar diperoleh bibit yang
berkualitas untuk kegiatan rehabilitasi lahan.
Kerangka Pemikiran
R. mucronata sebagai objek penelitian dikarenakan banyak permintaan
untuk

rehabilitasi lahan mangrove sehingga sangat dibutuhkan bibit yang

berkualitas dimana untuk mendapatkan bibit yang berkualitas perlu dilakukan
pembibitan yang berkualitas pula. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan,
dimana telah diteliti aspek-aspek pembibitan terbaik untuk R. mucronata.
Penelitian

ini

mengkombinasikan

aspek-aspek

penelitian

terbaik

bagi

pertumbuhan R. mucronata dimana komposisi media tanam terbaik dan ukuran

Universitas Sumatera Utara

propagul terbaik. Namun belum diketahui intensitas naungan terbaik bagi R.
mucronata ini. Sehingga penulis melakukan penelitian mengenai intensitas
naungan yang sangat penting bagi pertumbuhan R. mucronata.
Hutan Mangrove
Konversi lahan

Pertanian dan Pemukiman

Industri

Tambak

Degradasi Lahan

Rehabilitasi Lahan

Pembibitan Tanaman Mangrove

Media Tanam

Ukuran Propagul

Naungan

Ketersediaan dan
viabilitas propagul

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Tujuan Penelitian
Menentukan intensitas naungan terbaik untuk pertumbuhan bibit R.
mucronata Lamk.
Hipotesis Penelitian
Intensitas naungan 50 % berpengaruh paling baik untuk pertumbuhan bibit
R. mucronata Lamk.

Universitas Sumatera Utara

Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai informasi untuk pembibitan dalam
menentukan intensitas naungan terbaik bagi bibit R. mucronata Lamk sehingga
diperoleh bibit yang berkualitas bagi kegiatan rehabilitasi lahan.

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA
Hutan Mangrove
Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan
bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove
digunakan, baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan
pasang-surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun
komunitas tersebut.

Dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk

menyatakan individu jenis tumbuhan,

dan kata mangal

untuk menyatakan

komunitas tumbuhan tersebut (Ningsih, 2008).
Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropis dan subtropis yang khas,
tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut
air laut. Mangrove banyak di jumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari
gempuran ombak dan daerah yang landai. Mangrove tumbuh optimal di wilayah
pesisir yang memiliki muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak
mengandung lumpur. Sedangkan di wilayah pesisir yang tidak bermuara sungai,
pertumbuhan vegetasi mangrove tidak optimal. Mangrove sulit tumbuh di wilayah
pesisir yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut kuat, karena
kondisi ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur yang diperlukan
sebagai substrat bagi pertumbuhannya (Dahuri, 2003).
Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara ekosistem darat dan
laut, ke arah darat meliputi bagian tanah baik yang kering maupun yang terendam
air laut, dan masih dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik laut seperti pasang surut,
ombak dan gelombang serta perembesan air laut, sedangkan ke arah laut
mencakup bagian perairan laut yang dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di

Universitas Sumatera Utara

darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar dari sungai maupun yang disebabkan
oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan, pembuangan limbah,
perluasan permukiman serta intensifikasi pertanian (Djamali, 2004).
Jenis tumbuhan di hutan bakau member respons berbeda terhadap variasivariasi lingkungan fisik, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu.
Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang
paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur
dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini
sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di
atas tanah bergambut. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir
yang tinggi, atau bahkan dominan pecahan karang, di pantai-pantai yang
berdekatan dengan terumbu karang (Wales, 2010).
Vegetasi mangrove secara khas memperlihatkan adanya pola zonasi.
Beberapa ahli mangrove menyatakan bahwa hal tersebut berkaitan erat dengan
tipe tanah (lumpur, pasir atau gambut), keterbukaan (terhadap hempasan
gelombang), salinitas serta pengaruh pasang surut. Sebagian besar jenis-jenis
mangrove tumbuh dengan baik pada tanah berlumpur, terutama di daerah dimana
endapan lumpur terakumulasi (Chapman, 1977). Di Indonesia, substrat berlumpur
ini sangat baik untuk tegakan R. mucronata dan A. marina. Jenis lain seperti R.
stylosa tumbuh dengan baik pada substrat berpasir, bahkan pada pulau karang
yang memiliki substrat berupa pecahan karang dan kerang (Ding Hou, 1958). Di
Indonesia, R. stylosa dan S. alba tumbuh pada pantai yang berpasir, atau bahkan
pada pantai berbatu. Pada kondisi tertentu, mangrove dapat juga tumbuh pada
daerah pantai bergambut, misalnya di Florida, Amerika Serikat (Chapman, 1976).

Universitas Sumatera Utara

Di Indonesia, kondisi ini ditemukan di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian–
Lumu, Sulawesi Selatan, dimana mangrove tumbuh pada gambut dalam (>3m)
yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0,5 m) (Giesen dkk., 1991).
Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi
(62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu, Teluk Jakarta
(Hardjowigeno 1989 dalam Noer dkk. 2006).
Jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang
kerap digempur ombak. Bakau R. apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas
tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan prepat (S. alba) tumbuh di atas
pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (A. alba)
di zona terluar atau zona pionir ini. Di bagian lebih ke dalam, yang masih
tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan
jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain.
Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah
(Nypa fruticans), peudada (S. caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.). Pada bagian
yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nyirih (Xylocarpus spp.),
teruntum (L. racemosa), dungun (H. littoralis) dan kayu buta-buta (E. agallocha)
(Wales, 2010).
Fungsi hutan mangrove dapat dikelompokkan sebagai berikut fungsi fisik :
hutan mangrove dalam menjaga garis pantai tetap stabil, melindungi pantai dan
sungai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai dari laut, menahan hasil
proses penimbunan lumpur, menjadi wilayah penyangga serta berfungsi
menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar, serta mengolah limbah
beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2. Fungsi biologis : hutan mangrove

Universitas Sumatera Utara

menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber pakan bagi plankton, tempat
memijah dan berkembang biak satwa laut, tempat berlindung, bersarang dan
berkembang biak burung dan satwa lain, sumber plasma nutfah dan sumber
genetik, dan merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota. Fungsi ekonomis :
hutan mangrove sebagai penghasil kayu, penghasil bahan baku industri, penghasil
bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak silvofishery, dan
sebagai tempat wisata, penelitian serta pendidikan (Irwanto, 2008).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mangrove adalah :
(1) gerakan gelombang yang minimal, agar jenis tumbuhan mangrove dapat
menancapkan akarnya, (2) salinitas payau (pertemuan air laut dan tawar), (3)
endapan Lumpur (4) zona intertidal (pasang surut) yang lebar (Irwanto, 2008).
Selain faktor di atas terdapat faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan
mangrove yaitu (1) tanah : sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan
baik pada tanah berlumpur, terutama di daerah endapan lumpur terakumulasi. Di
Indonesia substrat berlumpur ini sangat baik untuk tegakan Rhizophora
mucronata dan Avicennia marina. Jenis tanah yang mendominasi kawasan
mangrove biasanya adalah fraksi lempeng berdebu, akibat rapatnya bentuk
perakaran-perakaran yang ada. Nilai pH tidak banyak berbeda, yaitu antara 4,66,5 dibawah tegakan jenis Rhizophora spp. (2) cahaya, salah satu faktor yang
penting dalam proses fotosintesis dalam melakukan pertumbuhan tumbuhan hijau.
Cahaya mempengaruhi respirasi, transpirasi, fisiologi dan juga sruktur fisik
tumbuhan. Intensitas cahaya, di dalam kualitas dan juga lama penyinaran juga
merupakan satu faktor penting untuk tumbuhan (3) suhu, pada Rhizophora spp.,
Ceriops spp., Exocoecaria spp. dan Lumnitzera spp., laju tertinggi produksi daun

Universitas Sumatera Utara

baru adalah pada suhu 26-28 ºC, untuk Bruguiera spp adalah 27ºC dan Avicennia
marina memproduksi daun baru pada suhu 18-20 ºC.

Bakau Merah (Rhizophora mucronata)
Nama lokal : bakau, bako-gandul, bakau-genjah, bakau-bandul, bakauhitam, tanjang-lanang, tokke-tokke, bakao, bakau-laki, blukap, tongke-besar, lului,
bakau-bakau, wako, bako, bangko, blukap. Bakau merah merupakan tumbuhan
mayor hutan mangrove dimana bentuknya berupa pohon yang panjangnya bisa
mencapai 25 meter.
Manfaat bakau merah ini adalah kayu digunakan sebagai bahan bakar dan
arang. Tanin dari kulit kayu digunakan untuk pewarnaan, dan kadang-kadang
digunakan sebagai obat dalam kasus hematuria (perdarahan pada air seni).
Kadang-kadang ditanam di sepanjang tambak untuk melindungi pematang
(Kusmana dkk., 2008).
R. mucronata menghasilkan madu dari nektarnya, buah dimakan,
mengandung selulosa dan xantat, produksi rayon viskosa (viscose rayon) untuk
bahan tekstil, kerangka ban, sabuk /alur untuk industri, selofan. Beberapa jenis
mangrove penghasil kayu yang penting adalah Rhizophora spp., Bruguiera spp.,
Ceriops spp., Xylocarpus spp., Sonneratia spp., Avicennia spp., Lumnitzera spp.
dan H. littoralis, dimana jenis tersebut dimanfaatkan karena keawetan kayunya
dan kekuatannya. Semua jenis ini memberikan harga kayu yang diterima pasar,
baik di tingkat lokal, nasional ataupun internasional. Kayu-kayu dari jenis ini
digunakan untuk tiang, pancang, pasak, bangunan kapal, kerajinan tangan, gagang
macam-macam alat, bantalan rel kereta api, mebel,dan bahan bangunan lainnya
(Kusmana dkk., 2008).

Universitas Sumatera Utara

Arsitektur tanaman adalah khas bagi setiap spesies yang menunjukkan
dikontrol oleh genetik. Meskipun demikian juga dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan seperti cahaya, temperatur, kelembaban, dan ketersediaan nutrien.
Kajian model arsitektur penting bagi tanaman sebab selain untuk identifikasi juga
berperan dalam fungsi lingkungan, misalnya sebagai tanaman pelindung, dipilih
tanaman yang memiliki akar yang kuat, tajuk yang lebar dan mempunyai
kerimbunan tajuk sehingga perlu dilakukan penanaman anakan dengan jarak
tertentu (Dahlan dkk., 2009).
Keberhasilan perkembangan stek tanaman dipengaruhi oleh faktor luar dan
faktor dalam. Faktor dalam adalah ketersediaan air, kandungan cadangan makanan
(karbohidrat) dalam jaringan sel dan hormon endogen di dalam jaringan stek.
Sedangkan faktor luar (lingkungan) meliputi media perakaran, kelembaban, suhu,
intensitas cahaya dan teknik penyiapan stek (Mulyani dkk., 1999).
Suhu umum rata-rata bagi pertumbuhan bakau merah (R. mucronata)
adalah 20–30°C (68–86°F). Suhu rata-rata maksimum dari suhu musim kemarau
adalah 23–38°C (73–100°F) sedangkan suhu rata-rata minimum dari suhu musim
hujan adalah 13–18°C (55–64°F). Suhu minimum yang masih dapat ditoleransi
adalah 10°C (50°F) (Duke, 2006).

Pembibitan Tanaman Mangrove
Rehabilitasi hutan mangrove adalah penanaman kembali hutan mangrove
yang telah mengalami kerusakan. Agar rehabilitasi dapat berjalan secara efektif
dan efisien perlu didahului survei untuk menetapkan kawasan yang potensial
untuk rehabilitasi berdasarkan penilaian kondisi fisik dan vegetasinya. Kegiatan
rehabilitasi dilakukan untuk memulihkan kondisi ekosistem mangrove yang telah

Universitas Sumatera Utara

rusak agar ekosistem mangrove dapat menjalankan kembali fungsinya dengan
baik. Upaya rehabilitasi harus melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang
berhubungan dengan kawasan mangrove. Rehabilitasi kawasan mangrove
dilakukan sesuai dengan manfaat dan fungsi yang seharusnya berkembang, serta
aspirasi masyarakat.
Informasi teknik pembibitan mangrove memusat pada beberapa spesies
mangrove mayor. Dari sekitar 60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan
minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi, hanya 12 spesies yang biasa
digunakan untuk restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia, Bruguiera,
Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoecaria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan
Hibiscus. Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada tekstur tanah, kadar
garam, dan lama penggenangan, serta iklim mikro lainnya (Setyawan dkk., 2003).
Dalam penanaman mangrove, kegiatan pembibitan dapat dilakukan dan
dapat tidak dilakukan. Apabila keberadaan pohon/buah mangrove di sekitar lokasi
penanaman banyak, kegiatan pembibitan dapat tidak dilakukan. Apabila
keberadaan pohon/buah di sekitar lokasi penanaman sedikit atau tidak ada,
kegiatan pembibitan sebaiknya dilaksanakan. Adanya kebun pembibitan akan
menguntungkan terutama bila penanaman dilaksanakan pada saat tidak musim
puncak berbuah atau pada saat dilakukan penyulaman tanaman. Selain itu,
penanaman melalui buah yang dibibitkan akan menghasilkan persentase tumbuh
yang tinggi. Propagul/ benih yang akan ditanam harus sudah tersedia satu hari
sebelum penanaman (Khazali, 1999).
Pertumbuhan tinggi bibit R. mucronata dengan ukuran≥ 60 cm sangat
berbeda dengan bibit R. mucronata dengan ukuran yang lainnya (40 cm-44 cm ;

Universitas Sumatera Utara

45 cm-49 cm ; 50 cm-54 cm dan 55 cm-59 cm), karena bibit yang ukurannya≥ 60
cm memiliki cadangan makanan yang banyak untuk menunjang pertumbuhannya,
baik untuk pertumbuhan plumula dan radikula. Keberhasilan pembibitan bibit R.
mucronata dipengaruhi oleh faktor seperti ketersediaan air, kandungan cadangan
makanan (karbohidrat) dalam jaringan sel dan hormon endogen di dalam jaringan
stek (Gorat, 2010).
Lokasi persemaian diusahakan pada tanah lapang dan datar. Selain itu,
hindari lokasi persemaian di daerah ketam/kepiting atau mudah dijangkau
kambing. Lokasi persemaian diusahakan sedekat mungkin dengan lokasi
penanaman dan sebaiknya terendam air pasang lebih kurang 20 kali/bulan agar
tidak dilakukan kegiatan penyiraman bibit. Dari luas areal yang ditentukan untuk
tempat persemaian, sekitar 70% dipergunakan untuk keperluan bedeng
pembibitan, sisanya 30% digunakan untuk jalan inspeksi, saluran air, gubuk kerja
dan bangunan ringan lainnya. Ukuran tempat persemaian tergantung pada
kebutuhan jumlah buah yang akan dibibitkan. Bahan tempat persemaian dapat
menggunakan bambu. Atap/naungan dapat menggunakan daun nipah atau alangalang dengan ketinggian antara 1-2 meter. Apabila di sekitar lokasi persemaian
terdapat banyak kambing, maka bangunan persemaian harus dirancang agar
kambing tidak masuk (Khazali, 1999).
Bedeng sapih adalah bedeng bersekat, berukuran tertentu, yang
difungsikan

untuk

menampung

polibag

yang

berisi

semai

/propagul.

Semai/propagul ini bisa berasal dari semai yang disapih dari bedeng tabur atau
semai dari biji atau stek yang langsung ditanam dalam polibag. Di bedeng sapih
inilah semai dipelihara dari kecil hingga siap tanam. Idealnya, bedeng sapih

Universitas Sumatera Utara

dilengkapi dengan naungan dengan intensitas tertentu. Di pasaran, naungan ini
sudah umum dijumpai dengan nama perdagangan paranet atau sarlon. Namun
demikian, naungan dapat dibuat secara sederhana dengan memasang jalinan daun
rumbia atau daun kelapa (Kusmana dkk., 2008).
Bedeng sapih dibuat dengan ukuran bervariasi sesuai dengan kebutuhan,
tetapi umumnya berukuran 5 x 1 m dengan bedeng ini dapat memuat kurang lebih
1200 kantong plastik (polibag) ukuran 15 x 20 cm atau 10 x 15 cm, dimana
masing-masing kantong memuat satu benih. Bedeng dapat dibuat dengan
mencangkul tanah dengan kedalaman 5-10 cm atau tanah yang datar diberi batas
bambu agar kantung plastik atau botol air mineral bekas tidak jatuh. Antar bedeng
sebaiknya ada jalan inspeksi untuk memudahkan pemeriksaan tanaman. Bibit
Bakau atau tumu berumur sekitar 3-4 bulan siap untuk ditanam di lapangan.
Sedangkan bibit api-api atau prepat siap ditanam setelah berumur sekitar 5-6
bulan. Saat ini permintaan terhadap bibit mangrove cukup banyak karena sudah
berjalannya beberapa program penanaman mangrove di berbagai tempat (Khazali,
1999).
Bedeng dengan ukuran 1 m x 10 m akan dapat memuat 2.250 bibit (ukuran
polibag 14 x 22 cm). Secara sederhana, pembatas (sekat) bedeng dapat
menggunakan bambu atau tiang yang panjangnya disesuaikan dengan ukuran
bedeng. Bedeng menghadap ke arah timur (membujur ke arah selatan-utara)
dengan maksud agar seluruh bibit di dalam bedeng mendapatkan sinar matahari
pagi yang merata dan optimal. Jarak antar bedengan adalah setengah hingga satu
meter untuk jalan inspeksi dan memudahkan penyiraman. Khusus bagi semai
yang baru disapih, naungan yang diberikan harus lebih berat karena sangat rentan

Universitas Sumatera Utara

terhadap sengatan sinar matahari. Apabila naungan yang ada di bedeng sapih
adalah paranet, maka sebaiknya diberi naungan tambahan berupa atap rumbia,
tepat diatas semai yang baru disapih. Setelah beberapa minggu, naungan rumbia
ini diambil hingga tinggal paranetnya (Kusmana dkk., 2008).
Untuk benih yang berukuran sedang hingga besar (misalnya bakau,
tancang, putat laut, ketapang, dan nyamplung), penanaman sebaiknya dilakukan
secara langsung dalam polibag. Penanaman langsung ini dinilai lebih efektif dan
efisien karena tidak memerlukan penyemaian pada bedeng tabur dan penyapihan.
Untuk tanaman mangrove, media tanam yang dipergunakan adalah lumpur atau
lumpur berpasir, diutamakan yang berasal dari sekitar pohon induk.
Persemaian bibit mangrove (khususnya Rhizophora spp., Ceriops spp., dan
Bruguiera spp.) biasanya terletak di lokasi yang terkena pasang surut. Dalam
kondisi demikian maka penyiraman tidak perlu dilakukan. Walaupun tidak
disiram, namun pemberian naungan tetap harus dilakukan, terutama dalam waktu
2 bulan pertama. Setelah itu, intensitas naungan sebaiknya dikurangi.
Pengurangan intensitas naungan ini harus dilakukan secara perlahan-lahan hingga
bibit memiliki ketahanan untuk hidup di lokasi terbuka, sebagaimana kondisi
sebenarnya di lapangan.
Ketinggian bedeng sapih perlu diatur (dengan cara digali atau ditimbun)
dan harus diperhitungkan dengan fluktuasi ketinggian air laut (pasang surut),
sehingga bedeng sapih tersebut bisa digenangi oleh air laut dengan frekuensi yang
sesuai untuk masing-masing jenis (30-50 kali per bulan, tergantung jenisnya).
Ketinggian bedeng sapih juga perlu diatur sedemikian rupa sehingga pada waktu
terjadi pasang tertinggi, bibit terendam kira-kira sedalam ¾ dari tinggi anakan.

Universitas Sumatera Utara

Untuk mencegah akar menembus dasar bedengan, maka dasar bedengan
sebaiknya diberi lapisan lembaran plastik yang hitam dan agak tebal. Dengan cara
ini maka kemungkinan serangan kepiting terhadap akar bibit dapat dihindari,
disamping itu juga untuk menghindari kelayuan bibit pada waktu akan ditanam,
karena bibit yang akarnya sudah menancap ke dasar bedeng akan segera layu bila
dicabut. Cara lain untuk menghindari menancapnya akar ke dasar bedengan
adalah dengan cara mengangkat bibit secara periodik sambil melakukan
pengelompokan keseragaman bibit.
Untuk beberapa jenis mangrove (R. mucronata, R. apiculata, C. tagal, B.
gymnorrhiza) penyimpanan propagul dengan direndam dalam air payau dan
disimpan ditempat teduh selama 5-10 hari. Selain dapat mempercepat proses
perkecambahan dan meningkatkan persentase hidup tanaman, propagul akan
terhindar dari serangan hama ketam atau kepiting (Wibisono dkk. 2006 dalam
Kusmana dkk. 2008).

Pengaruh Cahaya, Suhu, dan Kelembaban terhadap Pertumbuhan Tanaman
Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis,
sementara

fotosintesis

merupakan

proses

yang

menjadi

kunci

dapat

berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman (Kramer dan
Kozlowski 1979 dalam Irwanto 2006).
Perilaku tertentu tumbuhan bisa dianggap sebagai respons terhadap
bermacam-macam rangsangan yang mempengaruhi tumbuhan. Rangsangan itu
bisa eksternal (lingkungan berupa daya tarik bumi, suhu, kelembaban, dan cahaya)
atau internal (genetik) sebagai akibat proses metabolik atau proses untuk

Universitas Sumatera Utara

melanjutkan keturunan. Respons tumbuhan terhadap rangsangan ditunjukkan
dengan dua cara yaitu respons gerakan dan respons perkembangan (Heddy, 1996).
Efek cahaya matahari dalam proses perkembangan tanaman melalui
photostimulasi biosintesis (seperti pembentukan klorofil dari photochlorophyllid,
sintesis enzim, dan lain-lain), menentukan arah pertumbuhan (phototropism,
kegiatan yang memerlukan cahaya matahari), berperan sebagai waktu dalam
photonasty dan sebagai pemicu yang memicu perkembangan dari berbagai
tingkatan pada tempat yang tepat di kehidupan tanaman (induksi cahaya)
(Larcher, 1995).
Cahaya dan suhu berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
bibit di persemaian. Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan bibit tumbuh
kerdil, daun kering dan gugur, bahkan dapat berakibat bibit mati. Sedangkan
intensitas cahaya yang rendah atau kurang akan menimbulkan pengaruh yang
kurang menguntungkan bagi pertumbuhan bibit serta menyebabkan etiolasi pada
bibit (Marschner 1995 dalam Delvian 2006).
Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya,
walaupun dengan bertambahnya umur naungan dapat dikurangi secara bertahap.
Beberapa spesies yang berbeda mungkin tidak memerlukan naungan dan yang lain
mungkin memerlukan naungan mulai awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan
sangat penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Naungan
berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan,
evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku
yang berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan mudah dalam intensitas

Universitas Sumatera Utara

cahaya yang tinggi tetapi beberapa spesies tidak (Suhardi dkk. 1995 dalam
Irwanto 2006).
Lama pemberian naungan dan lama naungan dibuka di persemaian
sebelum ditanam untuk jenis R. mucronata 3 – 4 bulan dan 1 bulan naungan
dibuka; R. apiculata 3 – 4 bulan dan 1 bulan; B. gymnorrhiza 2 – 3 bulan dan 1
bulan; C. tagal 3 – 4 bulan dan 3 – 4 bulan; S. alba 2 bulan dan 3- 4 bulan
naungan dibuka; S. caseolaris 2 bulan dan 3- 4 bulan; A. marina 2 bulan dan 1 –
2 bulan; X. granatum 2 bulan dan 1 – 2 bulan (Taniguchi 1999 dalam Kusmana
dkk. 2008).
Pada fase bibit, semua jenis tanaman tidak tahan IC penuh, butuh 30-40%,
diatasi dengan naungan. Naungan merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi
intensitas cahaya yang terlalu tinggi. Naungan selain diperlukan untuk
mengurangi intensitas cahaya yang sampai ke tanaman pokok, juga dimanfaatkan
sebagai salah satu metode pengendalian gulma Di bawah penaung, bersih dari
gulma terutama rumputan. Spesies toleran naungan : Aegiceras, Ceriops,
Bruguiera, Osbornia, Xylocarpus, Excoecaria. Spesies intoleran naungan:
Acrostichum,

Acanthus,

Aegialitis,

Rhizophora,

Lumnitzera,

Sonneratia.

Avicennia anakan intoleran naungan : Avicennia pohon toleran naungan.
Morfologi jenis memberikan respons terhadap intensitas cahaya juga
terhadap naungan. Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun.
Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada jika
berada di tempat terbuka. Jumlah luas daun menjadi penentu utama kecepatan
pertumbuhan. Daun-daun yang memiliki luas permukaan lebih besar memiliki
pertumbuhan yang lebih cepat pula (Marjenah 2001 dalam Irwanto 2006).

Universitas Sumatera Utara

Jumlah daun tanaman lebih banyak di tempat ternaung daripada di tempat
terbuka. Jenis yang diteliti memberikan respons terhadap perbedaan intensitas
cahaya. Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada
tempat terbuka. Tanaman yang ditanam di tempat terbuka mempunyai daun yang
lebih tebal daripada di tempat ternaung. Menurut Heddy (1996) dalam satu
tanaman, daun yang terluar yang mendapat cahaya matahari penuh tumbuh lebih
lebih kecil daripada daun yang sebelah dalam yang terlindung. Bila tumbuhan
berada lama dalam cahaya yang lemah, ia akan mengalami etiolasi, yakni
batangnya menjadi sangat panjang tanpa jaringan serabut penyokong yang cukup,
daunnya keputih-putihan tanpa klorofil yang cukup. Namun apabila penyinaran
yang berlebihan akan menimbulkan tumbuhan yang kerdil dengan perkembangan
yang abnormal yang akhirnya berakhir dengan kematian.
Cahaya merupakan satu dari faktor-faktor lingkungan terpenting karena
perannya dari proses fotosintesis. Daun-daun musim panas yang tipis dan lebar
dan daun musim semi yang lebih tebal, yang beradaptasi terhadap derajat cahaya
yang lebih tinggi. Di bawah tekanan cahaya yang rendah terbuka tiga pilihan
(Fitter dan Hay, 1991) :
a. Pengurangan kecepatan respirasi, untuk menurunkan titik kompensasi
(dimana pengikatan karbon untuk fotosintesis sama dengan kehilangan
karena respirasi.
b.

Peningkatan luas daun, untuk memperoleh satu permukaan yang lebih
besar bagi absorbsi cahaya.

c. Peningkatan kecepatan fotosintesis setiap unit energi cahaya dan luas
daun.

Universitas Sumatera Utara

Daun

merupakan

organ

tanaman

tempat

berlangsungnya

proses

fotosintesis. Besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis
menunjukkan biomassa, sedangkan besarnya biomassa dalam jaringan tanaman
mencerminkan bobot kering. Bila luas daun meningkat, asimilat yang dihasilkan
akan lebih besar pula. Luas daun yang besar menyebabkan laju asimilasi bersih
meningkat, sehingga laju pertumbuhan nisbi juga meningkat dan bobot kering
tanaman meningkat pula. Laju pertumbuhan nisbi adalah peningkatan bobot
kering tanaman dalam suatu interval waktu tertentu saja, bukan pertambahan
bobot kering tanaman. Nilai laju pertumbuhan nisbi erat kaitannya dengan
efisiensi penyerapan cahaya oleh daun, dalam hal ini luas daun dan laju asimilasi
bersih akan mempengaruhi laju pertumbuhan nisbi. Luas daun meningkat dengan
diimbangi laju asimilasi bersih yang tinggi, akan menghasilkan laju pertumbuhan
nisbi yang tinggi pula (Tohari dkk. 2004).
Menurut Salisbury (1992) dalam Zamroni dan Rohyani (2008) suhu dan
kelembaban udara mempengaruhi jatuhan serasah tumbuhan. Naiknya suhu udara
akan menyebabkan menurunnya kelembaban udara sehingga transpirasi akan
meningkat, dan untuk menguranginya maka daun harus segera digugurkan.
Menurut Triswanto (1997) dalam Zamroni dan Rohyani (2008) tumbuhan
mangrove akan mengugurkan daun segarnya di bawah suhu optimum dan
menghentikan produksi daun baru apabila suhu lingkungan di atas suhu optimum.
Penelitian Hutchings dan Saenger (1987) dalam Zamroni dan Rohyani (2008)
menunjukkan bahwa temperatur optimum untuk R. stylosa dan Ceriops spp.
adalah 26-28 0C, dan Bruguera spp. adalah 27 0C. Suhu hutan mangrove Teluk
Sepi yang diteliti di penelitian Zamroni dan Rohyani (2008) (27,8-31,7 0C) masih

Universitas Sumatera Utara

merupakan suhu yang optimum bagi famili Rhizophoraceae. Pendapat lain juga
dikatakan oleh Muhamaze (2008) bahwa temperatur rata-rata untuk pertumbuhan
mangrove maksimal 320C pada siang hari dan minimal 230C pada malam hari.
Sedangkan salinitas antara 22-26 ppm. Hasil analisa pengukuran salinitas yang
diperoleh cocok untuk pertumbuhan mangrove.
Peningkatan luas daun pada dasarnya merupakan kemampuan tanaman
dalam mengatasi cekaman naungan. Peningkatan luas daun merupakan upaya
tanaman dalam mengefisiensikan penangkapan energi cahaya untuk fotosintesis
secara normal pada kondisi intensitas cahaya rendah. Taiz dan Zeiger (1991)
dalam Djukri dan Purwoko (2003) menyatakan daun tanaman toleran naungan
memiliki struktur sel-sel palisade kecil dan ukurannya tidak jauh berbeda dengan
sel-sel bunga karang, sehingga daun lebih tipis. Struktur tersebut lebih berongga
dan akan menambah efisien dalam menangkap energi radiasi cahaya untuk proses
fotosintesis. Pernyataan ini didukung oleh Djukri dan Purwoko (2003) secara
genetik, tanaman yang toleran terhadap naungan mempunyai kemampuan adaptasi
yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Taiz dan Zeiger (1991) dalam Djukri
dan Purwoko (2003) menyatakan distribusi spektrum cahaya matahari yang
-2 -1

diterima oleh daun di permukaan tajuk (1900 umol m s ) lebih besar dibanding
-2 -1

dengan daun di bawah naungan (17.7 umol m s ). Pada kondisi ternaungi cahaya
yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis sangat sedikit. Naungan dapat
mengurangi enzim fotosintetik yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi
CO2 dan menurunkan titik kompensasi cahaya.
Pemberian naungan akan mengurangi radiasi yang diterima tanaman dan
mengakibatkan adanya perubahan-perubahan unsur-unsur iklim seperti suhu udara

Universitas Sumatera Utara

dan kelembaban udara di sekitar daerah pertanaman (Widiastoety dan Bahar,
1995). Khusus untuk Jakarta, menurut penelitian Widiastoety dan Bahar (1995),
penggunaan naungan yang akan memberikan intensitas cahaya sebesar 75%, 65%
dan 55% sama baiknya bagi pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun dan
panjang daun serta pertambahan/pembentukan tunas anakan anggrek Dendrobium.
Hanya parameter lebar daun yang memberikan respons yang berbeda pada ketiga
jenis naungan tersebut, yaitu se