Awal Pecahnya Perang Badar

Awal Pecahnya Perang Badar
Nabi Muhammad mendengar berita bahwa kafilah besar melewati rule dekat kota Madinah di
bawah komando kepemimpinan Abu Sufyan. Nabi Muhammad berusaha menghadangnya namun
sempat Abu Sufyan mencium jejak itu dan akhirnya mengubah rute perjalanan dengan mengirim
seorang utusan ke Mekah agar menambah jumlah personal. Pasukan tempur dengan seribu tentara
dan tujuh ratus unta serta pasukan kuda dipersiapkan atas saran Abu Jahl, suatu pertunjukan
kekuatan raksasa yang hendak menggempur kota Madinah. Setelah menerima mata-mata tentang
kafilah serta perubahan rule perjalanan dan pasukan militer Abu Jahl, Nabi Muhammad membuat pengumuman minta saran sahabafiya. Abu Bakr berdiri secara terhormat sikap terhormat yang
kemudian diikuti oleh Umar. Kemudian al-Miqdad bin 'Amr berkata, "Wahai Nabi Allah, pergilah ke
mana Allah memberitahukan anda dan kita akan bersamamu. Demi Tuhan, saya tidak akan berkata
seperti ban! Israil74 kepada Nabi Musa, pergi bersama tuhanmu dan perangilah sedang kami akan
duduk melihatnya,"75 Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika sekiranya engkau
hendak membawa saya pada suatu tempat bernama Bark al-Ghimad 76 saya akan berperang sampai
mati bersamamu melawan mereka sehingga engkau dapat menguasainya." Kata-katanya terdengar
oleh
Nabi
Muhammad
dan
ia
berterima
kasih
dan
berdoa
kepadanya.
Lalu ia mengatakan, "Berilah aku nasihat wahai manusia sekalian," yang dimaksud adalah kaum
Ansar. Ada dua alasan di belakang ini: (a). Mereka sebagai anggota masyarakat mayoritas; dan (b).
Ketika kaum Ansar memberi janji setia di 'Aqaba, mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berhak
mendapat keselamatan sehingga ia memasuki daerah mereka. Saat itu mereka berjanji akan
memberi proteksi sebagaimana mereka proteksi pada para keluarganya. Oleh karena itu, Nabi
memberi perhatian jangan jangan mereka meliliatnya dengan sikap setengah hati terhadap
penyerangan tentara Abu Jahl yang begitu kuat saat masih ada di luar perbatasan kota Madinah.
Saat Nabi Muhammad mengutarakan kata-kata seperti itu, Sa'd bin Mu'adh berkata, "Demi Allah,
mungkin yang dimaksud adalah kami?". Nabi menjawab, "Tentu, tanpa diragukan lagi." Kami percaya
pada engkau, kami teguh terhadap kebenaranmu, kami bersaksi bahwa apa yang engkau dakwahkan
adalah benar dan kami telah memberi sumpah setia untuk mendengar dan menaatinya. Oleh karena
itu, pergilah ke tempat mana pun yang engkau kehendaki dan kami akan tetap bersamamu. Demi
Tuhan yang telah mengutusmu dengan kebenaran, jika engkau menyeberangi lautan ini sekalipun,
saya akan tetap mengarungi lautan dan tak akan ada seorang pun yang menunggu-nunggu di
belakang. Kita tidak gentar sedikit pun menghadang musuh-musuhmu di esok hari. Kita cukup
berpengalaman dan terlatih dan dapat dipercaya dalam pertempuran. Barangkali akan lebih baik saat
Allah mengizinkan kita membuat presentasi sesuatu yang akan membuat engkau senyum, maka
ajaklah menerima rahmat Allah.77 Nabi Muhammad, semakin yakin setelah diberi masukan oleh
ucapan dari Sa'd dan kemudian siap menuju Badr dengan pasukan sebanyak 319 orang, dua ratus
pasukan kuda dan tujuh puluh pasukan unta. Di sanalah mereka menghadang kekuatan tentara
Quraish: seribu orang (enam ratus memakai baju tempur anti peluru, seratus pasukan kuda dan
ratusan pasukan unta.78 Pada hari terakhir karunia Allah tampak terang pada pihak tentara Muslim,
dimana musuh-musuh kafir menderita kekalahan telak dan negara Islam mulai mencapai tingkat
kedewasaan menjadi kekuatan yang terkenal di Semenanjung Arab.

Hadits ke-15
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda
kepada seseorang yang menyertai beliau pada waktu perang Badar: "Pulanglah, aku tidak
akan pernah meminta bantuan orang musyrik." Riwayat Muslim.
Hadits ke-18
Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa mereka (kaum muslimin) beradu satu lawan satu pada
waktu perang Badar. Riwayat Abu Dawud dalam hadits panjang.

Peperangan Badar al-Kubra (1)

Kemudian Rasulullah SAW., mendengar berita kafilah Abu Sofyan yang baru kembali dari
Syam bersama kafilah besar Quraisy yang membawa harta benda dan barang dagangan
mereka. Jumlah anggota kafilah itu lebih kurang tiga puluh atau empat puluh orang
Quraisy. Diantaranya adalah Makhramah bin Naufal dan Amru bin Al-Ash. Kaum muslimin
pun keluar untuk menghadang mereka. Rasulullah berkata, “Ini adalah kafilah Quraisy
yang membawa harta melimpah, hadanglah mereka, mudah-mudahan Allah
menganugerahi harta rampasan perang kepada kalian." Maka orang-orangpun tergerak
keluar. Ada yang merasa ringan dan yang merasa berat. Karena mereka tidak mengira
bahwa Rasulullah akan mencetuskan peperangan.
Ketika Abu Sofyan hampir mendekati wilayah Hijaz, ia mencari-cari informasi. Ia bertanya
kepada setiap rombongan yang dijumpainya. Didorong perasaan khawatir terhadap nasib
rombongannya. Hingga akhirnya ia mendengar berita dari salah satu rombongan
bahwasanya Muhammad telah mengerahkan sahabat-sahabatnya untuk menghadang
kafilah dagangnya. Berhati-hatilah kalian! demikian pesan mereka. Maka ia pun
menyewa Dhamdham bin Amru Al-Ghifaari dan mengutusnya ke Makkah serta
memerintahkannya agar menemui pemuka Quraisy supaya mereka mengerahkan
pasukan untuk mengawal barang dagangan mereka. Dan menyampaikan berita kepada
mereka bahwa Muhammad SAW., bersama sahabatnya berusaha menghadang
kafilahnya. Maka Dhamdham bin Amru segera berangkat ke Makkah.
Tiga hari sebelum Dhamdham tiba di Makkah 'Atikah binti Abdul Muththtalib bermimpi
melihat sesuatu yang sangat mengejutkannya. Ia menemui Al-Abbas bin Abdul Muthalib,
saudaranya, dan berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, demi Allah tadi malam aku
bermimpi melihat sesuatu yang sangat mengejutkanku. Aku khawatir kaummu akan
tertim-pa keburukan dan musibah. Rahasiakanlah mimpi yang kuceritakan padamu ini.
Al-Abbas berkata, "Apa yang engkau lihat?" 'Atikah berkata, "Aku melihat seorang pria
datang dengan menunggang unta lalu berhenti di Abthah. Kemudian ia berteriak
sekeras-kerasnya: "Bersiagalah kalian menghadapi pertempuran wahai kaum dalam tiga
hari ini!" Aku lihat orang-orang datang mengerumuninya, kemudian ia memasuki Masjidil
Haram sementara orang-orang mengikutinya. Ketika mereka mengerumuninya, tiba-tiba
untanya berdiri di atas punggung Ka'bah dan menyerukan seperti seruannya tadi:
"Bersiagalah kalian menghadapi pertempuran wahai kaum dalam tiga hari ini!" Kemudian
unta itu berdiri di atas puncak gunung Abu Qubeis dan berseru seperti itu. Kemudian ia
meraih sebongkah batu besar lalu melemparkannya ke bawah. Sampai di bawah batu itu
terpecah belah sehingga tidak satu pun rumah di Makkah melainkan terkena serpihan
batu tersebut."
,
Al-Abbas berkata, "Demi Allah ini adalah mimpi yang benar! Raha-siakanlah mimpi itu
dan jangan ceritakan kepada siapapun."
Kemudian Al-Abbas pergi dan bertemu dengan Al-Walid bin Utbah bin Rabi'ah, salah
seorang temannya. Al-Abbas menceritakan mimpi itu kepadanya dan memintanya
supaya merahasiakannya. Lalu Al-Walid menceritakannya kepada ayahnya, yakni Utbah.
Lalu menyebarlah cerita tersebut di seantero kota Makkah sehingga menjadi bahan
pembicaraan di kalangan kaum Quraisy, khususnya dalam majelis mereka.
Al-Abbas bercerita: "Suatu ketika aku hendak melakukan thawaf. Sementara Abu Jahal

bin Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy sedang duduk-duduk membicarakan perihal
mimpi 'Atikah.
Demi melihatku Abu Jahal berkata: "Hai Abul Fadhl, datanglah ke-mari setelah engkau
mengerjakan thawaf." Selesai thawaf, aku pun mendatangi mereka dan duduk bersama
mereka. Abu Jahal berkata kepadaku: "Hai bani Abdul Muthalib, kapankah terjadi
peristiwa itu?"
“Peristiwa apakah itu?” tanyaku.
“Mimpi yang dilihat oleh ‘Atikah!” serunya.
“Apa yang dilihat olehnya?” tanyaku lagi.
Ia berkata, “Hai bani Abdul Muthalib, tidak adakah kaum lelaki yang melihat mimpi
seperti itu hingga kaum wanita kalian yang melihat-nya?" 'Atikah melihat dalam mimpi,
katanya, "Bersiap siagalah dalam tiga hari ini!" Kami tunggu dalam tiga hari ini! Jika
benar apa katanya itu, berarti peristiwa itu benar-benar terjadi. Jika dalam tiga hari ini
tidak terjadi sesuatu maka kami akan mencap kalian sebagai keluarga paling besar
kebohongannya di tanah Arab!”
Al-Abbas berkata, “Demi Allah, hal itu bukanlah masalah besar bagiku! Aku pun tidak
mempercayainya. Aku menyanggah kalau ‘Atikah melihat sesuatu dalam mimpinya.”
Kemudian kami pun berpisah. Petang harinya seluruh kaum wanita bani Abdul Muthalib
mendatangiku dan berkata, “Mengapa engkau biarkan si fasik itu melecehkan kaum
lelaki kita, kemudian ia juga melecehkan kaum wanita kita sedang engkau mendengarnya. Namun tidak sedikitpun engkau tergerak untuk membantah apa yang engkau
dengar itu!”
Aku menjawab, “Demi Allah, hal itu telah aku lakukan, kukatakan padanya bahwa hal itu
bukanlah masalah besar bagiku! Demi Allah aku akan menantangnya dan jika ia
mengulangi ucapannya niscaya aku akan membantahnya!”
Pada hari ketiga setelah mimpi 'Atikah itu aku pun berangkat dengan perasaan marah.
Menurutku ada satu urusan yang terluput dan mesti aku selesaikan dengannya. Aku
masuk ke dalam Masjid dan melihat Abu Jahal di situ. Demi Allah, ketika aku berjalan
mendatanginya untuk memberinya pelajaran agar ia meralat kembali apa yang telah
dikatakan-nya kemarin. Abu Jahal adalah seorang yang berperawakan kurus, keras
wajahnya, tajam bicaranya dan tajam pandangannya. Tiba-tiba ia keluar dari pintu
masjid dengan tergesa-gesa. Dalam hatiku bertanya: "Ada apa gerangan dengannya?
Semoga Allah melaknatnya! Apakah ia sengaja melarikan diri karena takut cercaanku?"
Ternyata ia mendengar sesuatu yang belum kudengar. Ia mendengar suara Dhamdham
bin Amru Al-Ghifaari menyeru di atas lembah sembari berdiri di atas untanya. Ia
memotong hidung untanya, membalikkan pela-nanya dan mengoyak bajunya. Ia
berteriak: "Wahai sekalian kaum Qu-raisy! Bencana besar telah menunggu! Bencana
besar telah menunggu! Harta-harta kalian yang dibawa oleh Abu Sofyan telah dihadang
oleh Muhammad bersama sahabat-sahabatnya! Menurutku kalian harus segera
menyusulnya! Tolonglah dia! Tolonglah dia!"
Aku lupa padanya dan dia juga lupa padaku karena peristiwa tersebut. Orang-orang
segera mempersiapkan keberangkatan. Mereka berkata: "Apakah Muhammad dan
sahabat-sahabatnya menyangka urusannya se-mudah apa yang telah mereka lakukan
terhadap rombongan Ibnu Al-Hadhrami! (Amru bin Al-Hadhrami yang terbunuh oleh

pasukan Abdullah bin Jahsy) Demi Allah! Sekali-kali tidak! Mereka akan rasakan nanti!"
Ketika itu kaum Quraisy hanya memiliki dua pilihan: Berangkat pe-rang atau mengutus
seseorang sebagai gantinya! Ternyata seluruh kaum Quraisy berangkat perang, tidak ada
tokoh-tokohnya yang tertinggal, kecuali Abu Lahab bin Abdul Muthalib, ia mengutus AlAsh bin Hisyam bin Al-Mughirah sebagai gantinya. Al-Ash memiliki utang kepada Abu
Lahab sebesar empat ribu dirham, namun ia tidak sanggup melunasinya, maka sebagai
penebus utangnya itu ia menggantikan posisi Abu Lahab.
Dan Umayyah bin Khalaf telah berniat untuk tinggal. Dia adalah seorang yang telah
berusia lanjut, bertubuh gemuk hingga susah bergerak. Lalu Uqbah bin Abi Mu'aith
datang menemuinya, ketika itu ia sedang duduk di Masjidil Haram di tengah-tengah
kaumnya sambil menikmati dupa yang berisi api di hadapannya. Uqbah berkata
kepadanya, "Hai Abu Ali, nikmatilah dupa itu, karena engkau ini seperti wanita!"
Umayyah menjawab, "Semoga Allah memburukkan engkau dan apa yang engkau
katakan tadi!" Lalu dia pun mempersiapkan diri dan ikut keluar bersama pasukan.
Setelah mempersiapkan bekal dan telah sepakat untuk memulai perjalanan, mereka
teringat peperangan mereka dengan Bani Bakr bin Abdi Manaat. Mereka berkata, "Kita
khawatir mereka akan menyerang dari belakang!" Masalah itu hampir-hampir saja
menahan gerak mereka. Lalu menjelmalah iblis dalam wujud Suraqah bin Malik bin
Ju'syum Al-Madlaji dan berkata kepada mereka: "Aku jamin Kinanah tidak akan
menyerang dari belakang!"
Mendengar itu mereka pun langsung bergegas keluar. Rasulullah SAW keluar di awal
bulan Ramadhan bersama sahabat-sahabat beliau. Rasul menyerahkan kepemimpinan
shalat jamaah kepada Amru bin Ummi Maktum RA. Setibanya di Rauhaa' beliau
memerintahkan Abu Lubabah kembali ke Madinah untuk menggantikan beliau. Beliau
menyerahkan panji kepada Mush'ab bin Umeir RA, panji itu berwarna putih. Di hadapan
Rasulullah terdapat dua buah bendera berwarna hitam, satu dipegang oleh Ali bin Abi
Thalib dan satunya lagi dipegang oleh salah seorang Anshar.
Pada saat itu unta yang dimiliki oleh para sahabat nabi berjumlah tujuh puluh ekor unta.
Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib dan Martsad bin Abi Martsad menunggangi satu unta.
Hamzah bin Abdil Muthalib, Zaid bin Haritsah, Abu Kabsyah dan Anasah Maula Rasulullah
menunggangi satu unta. Sementara Abu Bakar, Umar dan Abdurrahman bin Auf
menunggangi satu unta.
Beliau berjalan dari Madinah menuju Makkah melewati Naqab Ma-dinah, lalu melewati
Al-'Aqiq, kemudian Dzulhulaifah, kemudian mele-wati Ulaatul Jaisy. Kemudian beliau
melewati wilayah Turban, kemudian Malal, kemudian Ghamis Al-Hamam di daerah
Maryain. Kemudian be-liau melewati Shukhairaatul Yamaam, kemudian masuk wilayah
As-Sa-yaalah kemudian Fajjir Rauhaa' kemudian memasuki daerah Syanuukah. Ketika
beliau dan pasukan sampai di 'Irq Zhabiyyah mereka bertemu dengan seorang Arab
badui dan bertanya kepadanya tentang situasi Makkah. Namun mereka tidak dapat
mengorek keterangan darinya. Para saha-bat berkata kepadanya: "Ucapkanlah salam
kepada Rasulullah!"
"Apakah di antara kalian ada seorang utusan Allah!" tanyanya pula.
"Benar, ucapkanlah salam kepadanya!" jawab sahabat.

Ia berkata: "Jika engkau benar-benar utusan Allah maka sebutkanlah kepadaku apa yang
ada di dalam perut untaku ini!"
Salamah bin Salamah bin Waqsy berkata kepadanya, "Jangan tanya Rasulullah, kemarilah
biar aku jawab pertanyaan engkau itu! Engkau menggagahinya lalu dalam perutnya itu
ada seekor bayi unta yang berasal dari benihmu!"
Rasulullah SAW berkata, "Diamlah, engkau telah berkata keji terhadap-nya!" Rasulullah
lantas berpaling dari Salamah.
Kemudian Rasulullah SAW singgah di tempat bernama Sajasaj, yaitu telaga Rauhaa',
kemudian bergerak hingga ketika sampai di Munsharif beliau berbelok ke ke kanan,
melewati An-Naziyah menuju Badar. Beliau menyusuri pinggiran daerah tersebut hingga
melintasi sebuah lembah bernama Ruhqaan. Yaitu tempat yang terletak di antara AnNaziyah dan perbatasan Shafraa'. Kemudian beliau tiba di perbatasan Shafraa'.
Setibanya di sana beliau melanjutkan perjalanan hingga ketika hampir mema-suki
Shafraa' beliau mengutus Basbas bin Amru Al-Juhani dan Adi bin Abi Zaghbaa' Al-Juhani
ke Badar untuk mencari informasi tentang Abu Sofyan bin Harb dan rombongannya.
Setelah mengutus keduanya Ra-sulullah SAW dan pasukan segera bergerak.
Kemudian beliau mendengar berita tentang pasukan Quraisy yang bergerak untuk
melindungi kafilah dagang mereka. Beliau mengajak para sahabat bermusyawarah.
Beliau menceritakan tentang pasukan Quraisy tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.,
bangkit dan mengucapkan perkataan yang sangat baik. Kemudian bangkit pula AlMiqdaad bin Amru RA dan berkata, "Wahai Rasulullah, teruskanlah perjalanan menurut
yang telah Allah perintahkan kepadamu, kami selalu menyertaimu. Demi Allah kami tidak
akan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Musa: “Pergilah kamu
bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk
menanti di sini saja.” (Al-Maidah: 24)
Akan tetapi kami mengatakan, "Pergilah berperang kami akan menyertaimu berperang!
Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sekiranya engkau
membawa kami ke Barkil Ghimaad, niscaya kami akan mengikutimu hingga engkau
sampai ke tujuan!"
Rasulullah SAW., mengucapkan kata-kata yang baik kepadanya dan mendoakannya.
Kemudian Rasulullah berkata: "Kemukakanlah pendapat kalian wahai sahabat-sahabaku!"
maksud beliau adalah kaum Anshar. Karena mereka adalah mayoritas dari anggota
pasukan. Dan ketika membaiat beliau di Aqabah mereka berkata, "Wahai Rasulullah,
kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu hingga engkau tiba di negeri kami.
Dan jika engkau telah tiba di negeri kami maka engkau berada dalam perlindungan kami.
Kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak dan istri kami."
Rasulullah SAW., khawatir kaum Anshar beranggapan mereka tidak wajib melindungi
beliau kecuali bila musuh menyerbu beliau di Madinah dan beranggapan bahwa mereka
tidak wajib berperang melawan musuh beliau ke luar daerah. Setelah Rasulullah
mengucapkan hal itu, Sa'ad bin Mu'adz pun angkat bicara: "Demi Allah, sepertinya yang
engkau maksud adalah kami, kaum Anshar, wahai Rasulullah?"
"Benar!" kata beliau.
Sa'ad berkata, "Kami telah beriman kepadamu dan telah membenarkanmu, kami telah

bersaksi bahwa agama yang engkau bawa adalah haq dan kami telah memberi sumpah
setia untuk selalu patuh dan taat. Teruskanlah perjalanan ini wahai Rasulullah, kami akan
selalu menyertaimu. Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran,
sekiranya engkau menawarkan kepada kami untuk mengarungi samudera luas ini
niscaya kami akan mengarunginya bersamamu, tidak ada seorang pun dari kami yang
tertinggal. Kami tidak merasa keberatan berperang melawan musuh kita besok hari.
Kami adalah kaum yang paling teguh dalam peperangan dan paling setia saat
berhadapan dengan lawan. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepadamu
persembahan terbaik dari kami yang membuat engkau gembira. Berjalanlah bersama
kami dengan keberkahan dari Allah!"
Rasulullah SAW., sangat gembira mendengar penuturan Sa'ad tadi dan memompa
semangat pasukan, beliau berkata: "Berjalanlah dan sambutlah kabar gembira,
sesungguhnya Allah telah menjanjikanku dua kelompok * dan demi Allah seolah-olah saat
ini aku sedang melihat kehancuran mereka! (* Kelompok pertama adalah kafilah dagang
kaum Quraisy yang membawa barang-barang dagangan yang sangat banyak, di dalam
kafilah itu terdapat Abu Sofyan dan Amru bin Al-Ash. Dan kelompok kedua adalah
pasukan yang dikerahkan oleh Abu Jahal, mereka memiliki kekuatan dan jumlah yang
sangat banyak.)
Kemudian beliau singgah di sebuah tempat dekat Badar. Lalu beliau berangkat bersama
salah seorang sahabat (Abu Bakar Ash-Shiddiq) hingga beliau bertemu dengan
seseorang yang sudah berusia lanjut. Beliau bertanya kepadanya tentang keadaan kaum
Quraisy dan tentang keadaan Muhammad SAW., dan sahabat-sahabatnya. Orang tua itu
berkata: "Aku tidak akan memberitahu kalian sehingga kalian menyebutkan identitas
kalian berdua!" Rasulullah berkata: "Kami akan beritahu bila engkau memberitahu
kepada kami!"
"Benarkah demikian?" katanya. "Benar!" jawab beliau. Orang tua itu berkata: "Menurut
berita yang sampai kepadaku, Muhammad dan saha-bat-sahabatnya berangkat pada hari
ini. Jika berita itu benar maka mereka telah sampai di tempat ini." Persis di tempat
Rasulullah dan pasukan beliau berada sekarang.
Kemudian ia berkata: "Menurut berita yang sampai kepadaku kaum Quraisy berangkat
pada hari ini. Jika berita itu benar maka mereka telah sampai di tempat ini." Persis di
tempat pasukan kaum Quraisy berada sekarang. Setelah memberitahu hal itu ia
bertanya: "Darimanakah kalian berdua?" Rasulullah SAW., menjawab: "Kami berasal dari
air!" kemudian be-liau pergi. Orang tua itu berkata: "Apakah berasal dari mata air Iraq?"
Kemudian Rasulullah kembali menemui pasukan. Sore harinya beliau mengutus Ali bin
Abi Thalib, Az-Zubeir bin Al-Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash beserta beberapa orang
sahabat lain ke mata air Badar untuk mengamati situasi. Mereka menemukan unta milik
kaum Quraisy sedang minum yang dikawal oleh Aslam, seorang budak Bani Al-Hajjaj dan
'Aridh Abu Yasaar, seorang budak Bani Al-Ash bin Sa'id. Mereka menangkap dan
menginterogasi kedua budak itu. Saat itu Rasulullah SAW., sedang mengerjakan shalat.
Kedunya berkata: Kami adalah pengambil air pasukan Quraisy, mereka mengutus kami
untuk mengambil air buat mereka."
Namun mereka tidak puas dengan jawaban tersebut dan mengira keduanya berasal dari
kafilah Abu Sofyan. Maka mereka pun memukul keduanya, setelah babak belur dipukul
barulah keduanya mengaku: "Kami berasal dari kafilah Abu Sofyan." Barulah mereka
melepas kedua budak itu. Seiring dengan itu Rasulullah SAW., baru menyelesaikan

shalat-nya, beliau berkata: "Mengapa kalian pukul kedua budak itu setelah memberi
pengakuan jujur lalu kalian biarkan setelah keduanya memberi pengakuan dusta?"
Benarlah kata mereka berdua, mereka berdua memang berasal dari pasukan Quraisy!
Ceritakanlah kepadaku tentang pasukan Quraisy? Mereka berkata: "Demi Allah. Mereka
sekarang berada di balik bukit yang kalian lihat ini, di pinggir lembah yang jauh."
Rasulullah SAW., bertanya kepadanya, "Berapakah jumlah mereka?"
"Kami tidak tahu" kata mereka berdua. "Berapa ekor unta yang mereka sembelih tiap
hari?"
"Sembilan atau sepuluh unta setiap hari" jawab keduanya. Rasulullah berkata: "Mereka
berjumlah sekitar sembilan ratus atau seribu orang." Kemudian beliau berkata kepada
mereka berdua: "Siapakah pemuka Quraisy yang ikut serta?"
Keduanya menjawab, "Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abul Bakhtari bin Hisyam,
Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuweilid, Al-Harits bin Amir bin Naufal, Thu'aimah bin Adi
bin Naufal, An-Nadhr bin Al-Harits, Zam'ah bin Al-Aswad, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah
bin Khalaf, Nabih dan Munabbih ibnul Hajjaj, Suheil bin Amru dan Amru bin Abdi Wudd."
Rasulullah SAW menghadap kepada para sahabat lalu berkata: "Makkah telah
mengerahkan putra-putra pilihannya!"
Saat itu Basbas bin Amru dan Adi bin Abi Zaghbaa' sudah tiba di Badar. Mereka
menambatkan unta di sebuah anak bukit dekat mata air, kemudian keduanya mengambil
kantung air untuk diisi. Sementara saat itu Majdi bin Amru Al-Juhani sedang berada di
situ. Adi dan Basbas mendengar dua wanita kampung sedang menimba air. Salah
seorang wanita berkata kepada sahabatnya, "Sesungguhnya kafilah akan datang besok
atau besok lusa, aku mau bekerja untuk mereka, kemudian aku akan melunasinya
untukmu." Majdi berkata: "Kalian benar!" Kemudian ia membantu kedua wanita itu.
Pembicaraan itu didengar oleh Basbas dan Adi. Mereka segera menunggang unta dan
bergerak menemui Rasulullah SAW lalu mengabarkan apa yang telah mereka dengar.
-bersambung-

alsofwa.or.id

Peperangan Badar al-Kubra (2)

Abu Sofyan terus bergerak maju dengan hati-hati sehingga sampai di mata air. Ia berkata
kepada Majdi bin Amru: "Apakah engkau mencurigai seseorang di sini?" Majdi menjawab:
"Tidak, aku tidak melihat seorang pun yang mencurigakan, hanya saja aku melihat dua
orang penung-gang yang menambatkan untanya di bukit kecil itu, mereka mengisi
kantung air lalu pergi.
Abu Sofyan mendatangi bukit kecil tempat mereka menambatkan unta lalu memeriksa
kotoran unta mereka, ternyata ia dapati biji kurma. Abu Sofyan berkata: "Demi Allah, ini
adalah makanan hewan di Yatsrib (Madinah)!" Ia segera kembali menemui rekanrekannya lalu mengarahkan kafilahnya menelusuri jalan pantai. Ia berbelok ke kanan
menjauhi Badar dan mempercepat langkahnya.
Setelah melihat keadaan mereka sudah aman Abu Sofyan mengutus seseorang menemui
pasukan Quraisy untuk mengabarkan: "Sesungguhnya kalian keluar untuk melindungi
kafilah, orang-orang dan harta kalian, dan Allah telah menyelamatkannya, maka
kembalilah!"
Abu Jahal bin Hisyam berkata: "Demi Allah kami tidak akan kem-bali hingga tiba di
Badar!" Badar adalah salah satu pasar tahunan orang-orang Arab. "Kami akan tinggal di
sana selama tiga hari, menyembelih unta, menghidangkan makanan, meminum khamr
dan mendengarkan para biduanita berdendang. Orang-orang Arab telah mendengar
tentang kepergian kami bersama pasukan. Setelah ini mereka pasti takut kepada kami
selama-lamanya, maka teruskanlah perjalanan." lanjut Abu Jahal.
Pasukan Quraisy pun terus bergerak hingga sampai di pinggir lem-bah yang jauh. Lalu
Allah menurunkan hujan dari langit, ketika itu lem-bah dalam keadaan becek. Rasulullah
SAW., dan para sahabat mendapat bagian tanah yang padat dan keras sehingga tidak
menghalangi pergerakan mereka. Sementara pasukan Quraisy mendapat bagian tanah
yang lembek sehingga tidak mampu untuk bergerak maju. Akhirnya Rasulullah dapat
mendahului mereka tiba di mata air. Sesampainya di tepi mata air beliau turun di situ.
Al-Habbab bin Al-Mundzir berkata: "Wahai Rasulullah, apakah Allah yang memerintahkan
tuan untuk turun di tempat ini sehingga kita tidak boleh maju maupun mundur darinya,
ataukah siasat perang sema-ta?" Rasulullah menjawab: "Hanya siasat perang!"
Al-Habbab melanjutkan: "Wahai Rasulullah, tempat ini kurang baik, alangkah baiknya jika
kita menempati tempat di tepi seberang sana yang dekat kepada pasukan Quraisy. Kita
tutup sumur di belakangnya dan kita bangun telaga lalu kita isi air sebanyak-banyaknya,
dan dari tempat itu kita menghadapi mereka. Kita dapat minum sementara mereka
tidak." Rasulullah SAW., berkata: "Sungguh tepat pendapatmu itu."
Maka Rasulullah dan para sahabat mengambil tempat di seberang mata air lalu menutup
sumur dan membangun telaga di atasnya lalu mereka isi air sampai penuh. Mereka
ciduki telaga itu dengan bejana-bejana mereka.
Sa'ad bin Mu'adz berkata: "Wahai Nabi Allah, alangkah baiknya jika kami buatkan bagimu
bangsal tempat engkau berteduh. Kami siapkan hewan tunggangan untukmu kemudian
biarkan kami yang menghadapi musuh. Apabila Allah memberikan kemenangan bagi kita
atas musuh maka itulah yang kami harapkan. Jika tidak, engkau dapat mengendarai

hewan kendaraan itu untuk menyusul orang-orang kita yang tertinggal di belakang.
Wahai nabi Allah, ada sejumlah orang yang tertinggal di bela-kang, kami bukanlah orang
yang lebih dalam cintanya kepadamu diban-ding mereka. Sekiranya mereka tahu engkau
bakal menghadapi peperang-an tentu mereka tidak akan tertinggal di belakang. Allah
akan melin-dungimu melalui mereka. Mereka pasti berlaku tulus terhadapmu dan
berjihad bersamamu." Rasulullah SAW., memujinya dengan kata-kata yang baik dan
mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian dibangunlah bangsal untuk Rasulullah.
Pagi harinya kaum Quraisy mulai bergerak. Ketika melihatnya Rasulullah SAW., segera
menuruni Al-'Aqanqal –sebuah bukit pasir di lembah tersebut–. Rasulullah berkata: "Ya
Allah, itu pasukan Quraisy telah da-tang dengan segala kesombongan dan
keangkuhannya! Mereka hendak menantangMu dan mendustakan RasulMu. Ya Allah,
turunkanlah pertolongan yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah
mereka besok!"
Tibalah pasukan Quraisy di Badar, beberapa orang dari mereka men-datangi telaga yang
dibangun oleh Rasulullah dan para sahabat. Diantara mereka terdapat Hakim bin Hizam.
Rasulullah berkata: "Biarkanlah mereka!"
Orang-orang yang minum dari telaga Rasulullah saat itu menemui kematiannya pada
peperangan ini kecuali Hakim bin Hizam, dia lah satu-satunya yang selamat. Kemudian ia
masuk Islam dan menjadi baik ke-Islamannya. Setelah itu apabila ia sungguh-sungguh
bersumpah ia berka-ta: "Demi Allah yang telah menyelamatkanku pada peperangan
Badar!"
Setelah keadaan tenang, kaum Quraisy mengutus Umeir bin Wahab Al-Jumahi, mereka
berkata kepadanya: "Perkirakanlah berapa jumlah pasukan Muhammad!"
Ia pun menunggangi kudanya mengelilingi pasukan kemudian kem-bali dan berkata:
"Jumlah mereka lebih kurang tiga ratus orang! Akan tetapi biar aku lihat apakah ada
pasukan yang tersembunyi atau bala bantuan bagi mereka?"
Ia pun menunggangi kudanya menjauhi lembah. Ternyata ia tidak melihat sesuatu yang
mencurigakan. Lalu kembali dan berkata: "Aku tidak melihat sesuatu yang
mencurigakan. Akan tetapi wahai sekalian Quraisy! Aku melihat balaaya (Bentuk jamak
dari perkataan baliyyah, artinya unta-unta atau hewan-hewan yang diikat di kuburan
tidak makan dan tidak minum hingga mati) (unta-unta) yang membawa kematian! Untaunta Yatsrib yang membawa kematian yang tidak bisa dielakkan. Satu kaum yang tidak
memiliki pertahanan dan tempat melarikan diri (perlindungan) selain pedang mereka!
Demi Allah, setiap orang yang terbunuh dari mereka pasti membunuh salah seorang dari
kalian! Jika dengan jumlah mereka yang sedikit itu mereka berhasil mengalahkan kalian
maka tidak ada lagi kehidupan yang enak setelah itu! Oleh karena itu pikirkanlah
matang-matang!"
Mendengar penuturannya itu Hakim bin Hizam menemui orang-orang. Ia mendatangi
Utbah dan berkata: "Wahai Abul Walid, engkau adalah pembesar Quraisy dan salah satu
pemimpin yang ditaati! Maukah kebaikanmu selalu dikenang hingga akhir zaman.?"
"Apa itu hai Hakim?" tanya Utbah. Hakim berkata: "Kembalilah bersama pasukan dan
selesaikanlah tebusan sekutumu, yakni Amru bin Al-Hadhrami."
"Aku pasti akan melakukannya, engkaulah yang menjadi saksinya, ia adalah sekutuku

dan akulah yang menanggung tebusannya dan harta-nya yang diambil. Datangilah Ibnul
Hanzhaliyah (Abu Jahal bin Hisyam, ibunya anak dari Hanzhalah bin Malik). Aku tidak
khawatir orang-orang akan berselisih tentangnya!" jawab Utbah.
Maka Utbah pun bangkit dan berbicara: "Wahai sekalian kaum Quraisy, demi Allah apa
yang kalian lakukan bila mengalami kekalahan dalam menghadapi Muhammad dan
pasukannya? Demi Allah sekiranya kalian menang maka kita saling memandang dengan
perasaan benci sambil menggerutu "Ia telah membunuh sepupunya, telah membunuh
keponakannya atau anggota keluarganya sendiri". Biarkanlah Muhammad menghadapi
kabilah Arab yang lain. Bila mereka berhasil mengalahkan Muhammad maka itulah yang
kalian harapkan. Jika yang terjadi selain itu, kalian telah selamat dan terhindar dari
musibah yang tidak kalian inginkan darinya."
Hakim berkata: "Aku bergegas menemui Abu Jahal, saat itu ia tengah mempersiapkan
pakaian perangnya. Kukatakan padanya: "Hai Abul Hakam, sesungguhnya Utbah
mengutusku menemuimu untuk urusan ini!" yakni masalah yang diutarakannya tadi. Abu
Jahal berkata: "Demi Allah, kembang kempis dadanya (Kinayah dari rasa takut) karena
melihat Muhammad dan pasukannya. Demi Allah sekali-kali tidak! Kita tidak akan
kembali hingga Allah memutuskan siapakah yang menang, kita atau Muhammad!
Seharusnya Utbah tidak mengatakan perkataan seperti itu! Namun ia melihat
Muhammad dan pasukannya hanya sedikit sementara di antara mereka terdapat
anaknya! Ia hanyalah menakut-nakuti kalian saja!"
Lalu ia mengutus seseorang kepada Amir bin Al-Hadhrami untuk mengatakan:
"Sekutumu (yakni Utbah) menghendaki pasukan ini kembali ke Makkah! Sementara
engkau hendak membalas dendam! Bangkit dan teriakkanlah hakmu (Yakni tuntutlah
kepada bangsa Quraisy perjanjian mereka kepadamu. Mereka adalah tetangga dan
sekutu (Amr bin Al-Hadhrami) dan darah saudaramu!
Maka bangkitlah Amir bin Al-Hadhrami dan berdiri di tengah orang banyak sambil
berteriak: "Duhai Amru! Duhai Amru!
Spontan saja berkobarlah semangat pasukan, tekad mereka semakin menyala-nyala dan
mereka semua bersatu di atas keburukan. Kacaulah apa yang diserukan oleh Utbah
kepada mereka!
Al-Aswad bin Abdil Asad Al-Makhzumi maju ke depan –ia adalah seorang lelaki yang
buruk perangainya– sambil berkata: "Aku bersumpah akan meminum air dari telaga
mereka. Akan kuhancurkan telaga itu meski aku harus terbunuh! Tantangannya itu
disambut oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika keduanya saling berhadapan Hamzah
menebas kakinya hingga terbelah dua dan terpental jauh. Sementara ia masih berada
jauh dari telaga. Ia pun tumbang sementara kakinya mengucurkan darah ke arah temantemannya. Kemudian ia merangkak menuju telaga dan berusaha menceburkan diri ke
dalamnya. Ia hendak melaksanakan sumpahnya. Namun Hamzah mengejarnya lalu
menebasnya dengan pedang. Maka terbunuhlah Al-Aswad di telaga itu.!
Kemudian majulah Utbah bin Rabi'ah didampingi oleh saudaranya, yakni Syaibah dan
putranya Al-Walid bin Utbah. Sesampainya di antara dua pasukan mereka menantang
berduel satu lawan satu. Tiga orang pemuda Anshar maju menjawab tantangan itu,
mereka adalah Auf dan Mu'adz bin Al-Harits dan seorang lelaki lain, ada yang
mengatakan ia adalah Abdullah bin Rawaahah.

"Siapakah kalian?" tanya mereka. "Kami adalah pemuda kaum An-shar!" jawab sahabat.
"Kami tidak berkeinginan melawan kalian!" sahut mereka. Lalu salah seorang dari
mereka berteriak: "Hai Muhammad, keluarkanlah orang-orang yang seimbang dengan
kami dari kaum kami!"
Rasulullah SAW., berkata: "Majulah wahai Ubaidah bin Al-Harits, maju-lah wahai Hamzah
dan majulah wahai Ali!" Mereka pun berkata: "Itu baru lawan yang seimbang!" Maka
Ubaidah pun –ia adalah yang paling tua di antara ketiganya– meladeni Utbah bin Rabi'ah.
Hamzah meladeni Syaibah bin Rabi'ah dan Ali meladeni Al-Walid bin Utbah.
Adapun Hamzah tanpa susah payah berhasil menewaskan Syaibah. Demikian juga Ali
tanpa susah payah berhasil menewaskan Al-Walid. Sementara Ubaidah terlibat dalam
pertarungan yang amat sengit dengan Utbah. Masing-masing dapat mencederai
lawannya. Lalu Hamzah dan Ali berbalik dan menyerang Utbah dengan pedang terhunus
dan menghabisinya, kemudian keduanya membopong Ubaidah kembali ke pasukan.
Setelah itu kedua pasukan saling berhadapan dan saling mendekat. Rasulullah
memerintahkan pasukan agar jangan menyerang sebelum mendapat komando dari
beliau. Beliau berkata: "Jika mereka maju menyerang hujanilah mereka dengan lemparan
batu!" Ketika itu Rasulullah berada di dalam bangsal bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq
SAW.,.
Peperangan Badar ini terjadi pada Jum'at pagi tanggal 17 Ramadhan. Kemudian
Rasulullah SAW., merapikan barisan dan kembali ke bangsal bersama Abu Bakar, tidak
ada orang lain yang menyertai beliau. Rasulullah terus berdoa memohon pertolongan
yang telah dijanjikan Allah kepada-nya. Beliau berdoa: "Ya Allah, jika Engkau
membinasakan pasukan ini niscaya Engkau tidak akan disembah lagi."
Abu Bakar saat itu berkata: "Wahai Nabiyullah, Allah telah memenuhi janjiNya
kepadamu!"
Rasulullah SAW., sempat tertidur sejenak di dalam bangsal kemudian beliau terbangun
dan berkata: "Wahai Abu Bakar, sambutlah kabar gembira, pertolongan Allah telah tiba.
Malaikat Jibril telah bersiap memacu kudanya. Terlihat gumpalan debu dari arahnya!"
Kemudian Rasulullah keluar dan memompa semangat pasukan, beliau berkata: "Demi
Allah yang jiwa Muhammad berada ditanganNya, siapa saja yang terbunuh pada hari ini
karena mengharap pahala, maju berperang bukan mundur ke kebelakang, pasti Allah
memasukkannya ke dalam Surga."
Mendengar itu, Umeir bin Al-Humam, saudara Bani Salamah, yang saat itu sedang makan
buah kurma berkata: "Wah, wah, cuma itukah yang memisahkan diriku dengan Surga?
Hanya dengan terbunuh di tangan mereka?!" Ia segera melemparkan buah kurma yang
digenggamnya lalu mengambil pedang, kemudian ia maju ke depan hingga akhirnya
tewas terbunuh.
Kemudian Rasulullah SAW., mengambil segenggam debu lalu mengha-dap pasukan
Quraisy dan berkata: "Terhinalah wajah-wajah kalian!" kemudian beliau meniupnya ke
arah mereka. Lalu beliau memberi komando kepada pasukan: "Serbu!"
Maka pada saat itulah pasukan Quraisy menemui kekalahan. Terbunuhlah para pemuka
Quraisy dan tertawanlah sejumlah orang terpandang mereka.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas RA., bahwa pada saat itu Rasulullah SAW., berkata
kepada para sahabat: "Aku tahu, sebagian orang dari Bani Hasyim dan lainnya keluar
berperang karena terpaksa. Kita tidak perlu membunuh mereka. Siapa saja yang
bertemu dengan salah seorang Bani Hasyim, maka janganlah membunuhnya. Siapa saja
yang bertemu dengan Abul Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad, maka janganlah
membunuhnya. Siapa saja yang bertemu dengan Al-Abbas bin Abdil Muthalib, maka
janganlah membunuhnya. Karena ia keluar berperang karena terpaksa."
Abu Hudzaifah berkata: "Apakah kami dibiarkan membunuh bapak-bapak kami, saudarasaudara kami dan keluarga kami lantas membiarkan Al-Abbas? Demi Allah, jika aku
menemuinya niscaya akan kubunuh dengan pedangku ini!"
Sampailah perkataan ini kepada Rasulullah SAW.,. Beliau berkata kepada Umar bin AlKhatthab RA.,: "Wahai Abu Hafsh, patutkah paman Rasulullah ditebas dengan pedang?"
Umar berkata: "Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk membunuh orang yang
mengatakannya! Demi Allah ia telah berbuat kemunafikan!
Setelah peristiwa itu Abu Hudzaifah berkata: "Aku tidak pernah merasa aman dari
ucapan yang kukatakan saat itu. Aku senantiasa takut akibatnya, dan tidak ada cara
selain kutebus dengan mati syahid!" Beliau terbunuh sebagai seorang syuhada pada
peperangan Yamamah.
Para malaikat tidak pernah terlibat langsung dalam peperangan kecuali pada peperangan
Badar ini. Pada peperangan lain mereka datang dalam jumlah yang sangat banyak
namun tidak terlibat langsung dalam peperangan.
Setelah Rasulullah SAW., dan pasukan berhasil menaklukkan pasukan Quraisy, beliau
memerintahkan agar mencari jasad Abu Jahal di antara para korban yang tewas. Ibnu
Mas'ud RA., menuturkan: "Aku menyembelih kepala Abu Jahal dan membawanya ke
hadapan Rasulullah. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, inilah kepala musuh Allah Abu Jahal!
Rasulullah berkata: "Demi Allah, tiada ilah yang berhak disembah selain Dia!" Begitulah
sumpah Rasulullah.
Aku berkata: "Benar, demi Allah yang tiada ilah yang berhak disembah selain Dia!"
Kemudian aku letakkan kepala Abu Jahal di hadapan Rasulullah. Beliau memanjatkan
puja dan puji kepada Allah.
Rasulullah SAW., memerintahkan agar melempar mayat-mayat tentara Quraisy itu ke
sumur. Kecuali Umayyah bin Khalaf, tubuhnya membengkak dalam baju perang yang
dikenakannya sehingga sulit dikeluarkan. Mereka mencoba mengeluarkannya dengan
menggoyang-goyangnya, tetapi dagingnya malah rontok, akhirnya mereka biarkan. Lalu
mereka timbun sumur itu dengan tanah dan bebatuan. Setelah mayat-mayat itu
dilemparkan ke dalam sumur, pada malam harinya Rasulullah SAW., berdiri di samping
sumur lalu berkata –perkataan beliau didengar oleh para sahabat-: "Hai penghuni sumur,
hai Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Umayyah bin Khalaf, Abu Jahal...-dan
beberapa orang yang dilemparkan ke dalam sumur- Apakah kalian telah merasakan
kebenaran janji Allah atas kalian? Sesungguhnya aku telah melihat kebenaran janji Allah
atasku!" Kaum muslimin berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau menyeru kaum yang
telah menjadi bangkai?"
Rasulullah menjawab: "Kalian tidaklah lebih mendengar apa yang aku katakan daripada
mereka! Hanya saja mereka tidak dapat menjawab perkataanku!"

Kemudian Rasulullah memerintahkan agar membagi-bagi ghanimah (harta rampasan
perang) yang telah dikumpulkan. Kaum muslimin saling berselisih tentangnya. Para
pengumpul ghanimah berkata: "Harta itu milik kami!"
Anggota pasukan yang terlibat peperangan berkata: "Demi Allah, kalau bukan karena
perjuangan kami kalian tidak akan bisa mengumpulkannya! Kamilah yang memalingkan
perhatian musuh terhadap kalian sehingga kalian bisa leluasa mengumpulkannya."
Anggota pasukan yang bertugas menjaga Rasulullah SAW., dari gang-guan musuh
berkata: "Demi Allah, kalian tidaklah lebih berhak daripada kami. Demi Allah, kami telah
bertekad memerangi musuh sebab Allah telah mengaruniai kami kekuatan. Dan kami
pun punya kesempatan untuk mengambili harta karena tidak ada lagi yang menjaganya.
Akan tetapi kami khawatir terhadap keselamatan Rasulullah dari rongrongan musuh,
maka kami pun menjaga beliau. Kalian tidaklah lebih berhak daripada kami!" –
Bersambung-

alsofwa.or.id

Peperangan Badar al-Kubra (3)

Setelah memperoleh kemenangan Rasulullah mengutus Abdullah bin Rawahah untuk
menyampaikan kabar gembira kepada penduduk 'Aliyah dan Zaid bin Haritsah kepada
penduduk Saafilah. Kemudian beliau bergegas kembali ke Madinah dengan membawa
para tawanan. Diantara mereka terdapat Uqbah bin Abi Mu'aith dan An-Nadhr bin AlHarits. Beliau juga membawa harta rampasan perang yang diperoleh dari kaum
musyrikin. Beliau memerintahkan Abdullah bin Ka'ab bin Amru bin 'Auf untuk
mengawalnya.
Beliau berjalan hingga sampai di Mudhayyiq Shafraa' beliau singgah di sebuah bukit kecil
antara Mudhayyiq dan Naziyah. Di situlah beliau membagi-bagikan harta rampasan
perang yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Beliau membaginya sama rata.
Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan. Sesampainya di Rau-ha' beliau bertemu
dengan sebagian kaum muslimin yang mengucapkan selamat atas kemenangan yang
diberikan Allah kepada beliau bersama pasukan. Salamah bin Salamah berkata: "Ucapan
selamat apakah yang kalian tujukan buat kami?! Demi Allah kami hanyalah menghadapi
kaum yang lemah seperti unta-unta yang tertambat lalu kami datang menyembelihinya!"
Rasulullah hanya tersenyum mendengar perkataan tersebut. Kemu-dian beliau berkata:
"Hai saudaraku, mereka adalah kelompok yang besar!"
Setibanya di Ash-Shafraa', An-Nadhr bin Al-Harits dibunuh, Ali bin Abi Thaliblah yang
melaksanakan tugas membunuhnya. Kemudian pasukan kembali bergerak, setibanya di
'Irq Zhabiyyah giliran Uqbah bin Abi Mu'aith yang dibunuh. Ketika Rasulullah SAW.,
memerintahkan agar membunuhnya, ia berkata: "Untuk siapakah mata pedang ini hai
Muhammad?"
"Untuk Neraka!" jawab beliau.
'Ashim bin Tsabit bin Abi Aqlah Al-Anshari yang melaksanakan tugas membunuhnya.
Kemudian Rasulullah melanjutkan perjalanan hingga tiba di Madinah sehari sebelum
rombongan yang membawa tawanan tiba. Ketika para tawanan datang, beliau membagibagikannya kepada para sahabat. Beliau berpesan agar berbuat baik terhadap para
tawanan.
Orang Quraisy pertama yang sampai di Makkah setelah kekalahan itu ialah Al-Haisumaan
bin Abdulllah.
Orang-orang Quraisy meratapi para korban yang gugur. Kemudian mereka berkata:
"Jangan meratap seperti itu, jangan sampai Muhammad dan sahabat-sahabatnya
mendengar ratapan kita sehingga mereka bergembira mendengarnya. Jangan utus
seorang pun untuk menebus tawanan kalian. Tundalah niat kalian itu. Jangan sampai
Muhammad dan sahabat-sahabatnya menekan kalian dalam penebusan tawanan
tersebut!"
Dalam peperangan itu Al-Aswad bin Al-Muthalib kehilangan tiga orang anaknya: Zam'ah
bin Al-Aswad, Uqeil bin Al-Aswad dan Al-Harits bin Zam'ah. Ia ingin sekali meratapi anakanaknya itu. Tiba-tiba pada suatu malam ia mendengar suara ratapan. Pada saat itu

pandangannya sudah lemah, ia berkata kepada seorang budaknya: "Coba lihat siapakah
yang meratap itu? Apakah orang-orang Quraisy sedang meratapi korban-korban mereka
yang gugur? Biar aku menangisi Abu Hakimah –yakni Zam'ah- karena dadaku sudah
sesak rasanya! Sekembalinya si budak tadi ia berkata: "Itu hanyalah tangisan seorang
wanita yang kehilangan untanya?" Saat itulah Al-Aswad melantunkan syair dukanya:

Apakah wanita itu menangisi untanya yang hilang
Hingga ia tidak bisa tertidur pulas?
Jangan tangisi unta itu tangisilah para korban perang Badar
Tangisilah Bani Husheish, Makhzum dan keluarga Abul Walid
Tangisilah Uqeil dan Harits singa milik Al-Aswad
Tangisilah mereka semua janganlah engkau jemu!
Sungguh Abu Hakimah memang tiada tandingannya!
Kemudian kaum Quraisy mengutus orang untuk menebus para tawanan. Mereka
mengutus Mikraz bin Hafsh untuk menebus Suheil bin Amru. Setelah Mikraz
mengemukakan maksudnya dan disetujui oleh kaum muslimin, mereka berkata:
"Berikanlah tebusannya?" Mikraz ber-kata: "Ikatlah kakiku sebagai ganti dirinya, dan
bebaskanlah dia hingga ia memberikan tebusannya kepada kalian. Maka kaum muslimin
pun mem-bebaskan Suheil dan mengikat Mikraz sebagai gantinya.
Pada saat itu Umar bin Al-Khatthab RA., berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah,
izinkanlah aku menanggalkan giginya dan memotong lidahnya agar ia tidak bisa lagi
menjelek-jelekkan dirimu!" Rasulullah SAW., berkata: "Aku tidak akan merusak dirinya
sehingga Allah akan merusak diriku, meskipun aku seorang nabi."
Di antara para tawanan terdapat Abul Ash bin Ar-Rabi' bin Abdil Uzza, mantan menantu
Rasulullah, bekas suami putri beliau, Zainab RA.,. Islam telah memisahkan mereka
berdua. Hanya saja dahulu Rasulullah SAW., tidak kuasa memisahkan mereka berdua.
Zainab yang ketika itu sudah memeluk Islam masih tetap hidup bersama Abul Ash yang
masih musy-rik. Hingga Rasulullah berhijrah ke Madinah. Ketika pasukan Quraisy berangkat ke peperangan Badar, Abul Ash bin Ar-Rabi' ikut bersama pa-sukan. Pada
peperangan ini ia tertawan. Di Madinah ia berada di bawah pengawasan Rasulullah.
Ketika penduduk Makkah mengutus orang-orang mereka untuk me-nebus tawanan,
Zainab binti Rasulullah SAW., meminta agar Abul Ash dibe-baskan dengan tebusan
sejumlah harta. Zainab menyerahkan kalungnya yang dihadiahkan oleh Khadijah saat ia
berumah tangga dengan Abul Ash. Melihat itu hati Rasulullah pun luluh, lalu beliau
berkata: "Jika kalian setuju membebaskan Abul Ash dan mengembalikan kalung ini
kepada Zainab, maka lakukanlah." Para sahabat berkata: "Kami setuju wahai Rasulullah,
bebaskanlah Abul Ash dan kembalikanlah kalung itu kepada Zainab."
Lalu Abul Ash kembali ke Makkah, sementara Zainab tinggal ber-sama Rasulullah di
Madinah. Islam telah memisahkan keduanya. Hingga menjelang penaklukan kota
Makkah, Abul Ash berangkat berniaga ke negeri Syam. Ia adalah orang yang terpercaya.
Ia membawa harta da-gangannya dan harta dagangan milik orang-orang Quraisy yang
diinves-tasikan kepadanya. Setelah selesai berniaga dan hendak kembali ke Makkah, ia
dihadang oleh pasukan Rasulullah SAW., dan merampas harta benda yang dibawanya.
Abul Ash sendiri melarikan diri karena tidak mampu melawan. Sekembalinya pasukan
dengan membawa harta yang baru mereka rampas, Abul Ash diam-diam datang ke
Madinah pada malam hari. Ia menemui Zainab binti Rasulullah dan meminta
perlindungan kepadanya, Zainab pun melindunginya. Ia ceritakan bahwa tujuannya

adalah mengambil kembali hartanya yang dirampas. Pagi harinya ketika Rasulullah mulai
mengerjakan shalat Shubuh bersama para sahabat, tiba-tiba Zainab berteriak dari
tengah shaf: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah melindungi Abul Ash bin
Ar-Rabi'. Selesai shalat Rasulullah berkata: "Apakah kalian dengar teriakan itu?"
"Kami mendengarnya!" jawab sahabat.
Rasulullah berkata: "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, aku tidak
tahu menahu soal itu hingga mendengarnya tadi sebagaimana yang kalian dengar.
Sesungguhnya wajib melindungi orang yang dilindungi oleh seorang muslim meski
serendah apapun derajatnya."
Kemudian Rasulullah menemui putrinya dan berkata: "Wahai putri-ku, muliakanlah dia,
namun janganlah mendekatinya karena ia tidak halal bagimu."
Abdullah bin Abi Bakar menuturkan kisahnya: "Rasulullah SAW., mengutus pasukan yang
merampas harta benda milik Abul Ash. Rasulullah berkata kepada mereka: "Lelaki ini
(Abul Ash) dalam perlindungan kami sebagaimana yang kalian ketahui, dan kalian telah
merampas hartanya. Jika kalian berbaik hati mengembalikan harta yang kalian rampas
maka kami sangat mensyukurinya. Jika kalian menolak maka itu merupakan harta fa'i
yang Allah berikan kepada kalian. Kalian lebih berhak terhadapnya." Mereka berkata:
"Wahai Rasulullah, kami akan mengembalikannya."
Maka mereka pun mengembalikannya. Ada yang mengembalikan timba, ada yang
mengembalikan tempat air, ada yang mengembalikan bejana kulit, bahkan ada yang
mengembalikan kayu pemikul karung. Mereka mengembalikan seluruh harta bendanya
tanpa ada satupun yang tertinggal. Lalu Abul Ash membawanya ke Makkah dan
menyerahkannya kepada pemiliknya dan kepada orang yang telah menanamkan modal
kepadanya. Kemudian ia berkata: "Wahai sekalian kaum Quraisy, adakah orang yang
belum mengambil harta yang dititipkannya kepadaku?"
"Tidak ada, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, engkau adalah orang yang
amanat lagi mulia!" jawab mereka.
Abul Ash melanjutkan perkataannya: "Sesungguhnya aku telah bersaksi tiada ilah yang
berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya! Demi Allah
tidak ada perkara yang menghalangiku masuk Islam di hadapan beliau melainkan aku
khawatir kalian akan menuduhku sebagai orang yang ingin mengambil secara tidak sah
harta orang lain. Setelah aku mengembalikannya kepada kalian dan sudah selesai urusan
di antara kita, maka aku pun menyatakan ke-Islamanku!"
Kemudian ia meninggalkan Makkah dan pergi menemui Rasulullah.
Di antara para tawanan yang kami ketahui namanya dan diberi pengampunan selain
Abul Ash bin Ar-Rabi' adalah Al-Muthalib bin Hanthab, Shaifi bin Abi Rifaa'ah, Abu Azzah
Amru bin Abdillah bin Utsman bin Uhaiib bin Hudzafah bin Jumah, ia adalah seorang fakir
dan banyak memiliki anak perempuan. Ia datang menghadap Rasulullah dan berkata:
"Wahai Rasulullah, engkau tahu aku tak punya harta, aku adalah orang miskin dan
banyak anak, bebaskanlah diriku." Maka Rasulullah pun membebaskannya dan
mengambil janji darinya supaya ia tidak membantu seorang pun dalam memusuhi
Rasulullah.

Abu Azzah memuji Rasulullah dan menyebutkan keutamaan beliau di tengah kaumnya
dalam sebuah syair:

Siapakah yang sudi mengabari dariku
tentang Muhammad Rasulullah,
tentang penguasa yang terpuji,
sesungguhnya seruanmu adalah hak
engkau menyeru kepada kebenaran dan hidayah
Cukuplah Allah Yang Maha Agung menjadi saksinya
Engkaulah orang yang memiliki kedudukan yang tinggi
Siapa saja yang engkau perangi niscaya akan celaka
Dan siapa saja yang engkau lindungi niscaya akan bahagia
Tebusan kaum musyrikin ketika itu seribu sampai empat ribu dirham untuk satu orang.
Kecuali yang tidak memiliki harta, Rasulullah SAW., mengampuni mereka.
Peserta perang Badar dari kalangan Muhajirin yang diberi bagian harta rampasan perang
berjumlah delapan puluh tiga orang. Peserta perang Badar dari kalangan suku Aus yang
diberi bagian harta rampasan perang berjumlah enam puluh satu orang. Dan peserta
perang Badar dari kalangan suku Al-Khazraj berjumlah seratus tujuh puluh orang.
Jumlah keseluruhan peserta perang Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang
diberi bagian harta rampasan perang adalah tiga ratus empat belas orang. –Habis-

alsofwa.or.id

Sirah Nabi Muhammad

Perang Badar
Kehidupan di Madinah semakin stabil. Perekonomian berjalan lancar.
Muhammad perlu menjaga ketenangan tersebut. Maka ia pun
membangun kekuatan tempur. Beberapa ekspedisi militer dilakukan.
Diantaranya dengan mengirim ekspedisi ke wilayah Ish, tepi Laut Merah
yang dikomandani Hamzah. Pasukan ini nyaris bentrok dengan pasukan
Abu Jahal. Pasukan Ubaidah bin Harith yang dikirim ke Wadi Rabigh Hijaz-berpapasan dengan tentara Abu Sofyan. Pasukan Saad bin Abi
Waqash pun berpatroli ke Hij

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3873 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1029 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1319 23