Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)

POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK
MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
(STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR)

SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH:
JOHANNES TARE PANGARIBUAN
NIM: 070200235

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

Universitas Sumatera Utara

POSISI DOMINAN YANG MENGAKIBATKAN PRAKTIK
MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT
(STUDI KASUS PUTUSAN KPPU NO. 02/KPPU-L/2005 TENTANG CARREFOUR)

SKRIPSI
Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH:
JOHANNES TARE PANGARIBUAN
NIM: 070200235

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

Disetujui Oleh:
Ketua Departemen Hukum Ekonomi

Windha, S.H., M.Hum.
NIP. 197501122005012002

Dosen Pembimbing I,

Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait, S.H., M.Li
NIP. 195603291986011001

Dosen Pembimbing II,

Windha, S.H., M.Hum.
NIP. 197501122005012002

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Penulis sadar bahwa menyelesaikan perkuliahan adalah awal dari sebuah
perjalanan kehidupan penulis menuju kesuksesan. Sungguh senang dan bahagia
rasanya ketika penulis memenangkan 1 (satu) bangku PTN tepatnya di Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara Tahun 2007. Namun ketika ditanya kepadaku
apa yang memotivasi diriku agar cepat menyelesaikan perkuliahan ini adalah
kejenuhan ku dengan Fakultas ini, fakultas yang telah membesarkanku, karena
aku ingin mengabdi pada negeri ini. Puji Tuhan akhirnya penantian panjang
penulis telah penulis lewati, setelah melewati masa sedih karena ditinggal tamat
sahabat-sahabatku yang telah terlebih dahulu menyelesaikan perkuliahannya, kini
skripsi ini selesai juga. Sudah tepatlah penulis memanjatkan puji dan syukur
kepada Tuhan atas nikmat karunia yang telah diberikan-Nya kepada penulis
selama pengerjaan tersebut. Pada kesempatan ini, penulis dengan rendah hati
mempersembahkan skripsi yang berjudul “Posisi Dominan Yang Dapat
Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi
Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)” kepada
dunia pendidikan, guna menumbuhkembangkan ilmu pengetahuan, khususnya
ilmu pengetahuan hukum.
Adapun salah satu tujuan dari disusunnya skripsi ini adalah untuk
melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas
Sumatera Utara. Skripsi ini menguraikan berbagai seluk beluk Persaingan Usaha,

Universitas Sumatera Utara

khususnya mengenai perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan Posisi
Dominan dan mengkaji mengenai perilaku Carrefour.
Tujuan lainnya adalah untuk mengembangkan pengetahuan mengenai
Persaingan Usaha agar dapat dipelajari oleh mahasiswa, kalangan pelaku pasar,
maupun masyarakat umum, serta bertujuan agar para pelaku pasar dan konsumen
dapat mengetahui hak perlindungan hukum dalam hal berbisnis dan bersaing.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
Kedua orang tua penulis, yaitu Bapak Reguel Pangaribuan dan Ibu
Tarima Rajuma Marpaung (Alm), serta saudara kandung penulis, yaitu
Juli Wanto Pangaribuan dan Istri, Rohani Jelita Pangaribuan,
Peronika Wati Pangaribuan (Mak Dapit) dan Keluarga, Theresia
Novita Pangaribuan (Teremutz), Jeremia Hadi Broto Pangaribuan.
Mereka yang telah menjadi sumber semangat terbesar bagi penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini;
1. Bapak Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.H., selaku Pembantu Dekan I
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Syafruddin, S.H., M.H., DFM., selaku Pembantu Dekan II Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Bapak Muhammad Husni, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan III
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

Universitas Sumatera Utara

5. Ibu Windha, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Ekonomi
Fakultas

Hukum

Universitas

Sumatera

Utara,

sekaligus

selaku

Pembimbing II penulis dalam pengerjaan Skripsi ini;
6. Bapak Ramli Siregar, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen
Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
7. Ibu Prof. Dr. Ningrum Natasha Sirait, S.H., M.Li., selaku Pembimbing I
penulis dalam pengerjaan Skripsi ini;
8. Bapak Hasim Purba, S.H., M.Hum.,selaku Dosen Penasehat Akademik
selama penulis mengenyam bangku pendidikan pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara;
9. Bapak Edi Ikhsan, S.H., M.A., Bapak Edy Zulham, S.H., M.H., dan Ibu
Rafiqoh Lubis, S.H., M.Hum., yang penuh tanggung jawab menjalankan
tugas membimbing kami ketika mengikuti MCC Udayana di Bali,
sehingga menyisakan kesan yang mendalam, serta Pak Edy Zulham untuk
buku-buku yang telah beliau pinjamkan sehinggap penulis bisa
menyelesaikan pengerjaan ini;
10. Bapak Nazaruddin, S.H., M.A yang telah membimbing kami Delegasi
Lomba Debat UNPAR 2011 di Bandung, terimakasi pak, Salut dan
Bangga punya dosen seperti Bapak, terimakasi untuk peringakat 4
(empat)nya pak;
11. Seluruh Dosen pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara, baik yang masih mengabdikan diri ataupun yang sudah pensiun;
12. Seluruh staff dan karyawan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

Universitas Sumatera Utara

13. Keluarga Besar Kelompok Belajar Gemar Belajar, Trimakasi Keluarga
kecilku;
14. Sahabat-sahabatku: Moratua Janatama Purba, Alboin Fransius Aditra Roga
Pasaribu, Gading Satria Nainggolan, Satra Lumban Toruan, Sera Ricky
Swanri Sialagan, dan Saor Mardongan Siahaan, Love You guys;
15. Keluarga Besar DPC Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia
(PERMAHI), Cabang Medan;
16. Keluarga Besar Meriam Debating Club (MDC) Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, Bg Anof, Bg Ucup, Kak Irma, Kak Witra,
Miranda, Satra, Dian, Udur, Agmal, Othy, Een, Fika, Lusi, Yudha, Utami,
Sahat, Revani, Zebua, Reza Rewin, Rezki dan Isma, kalian harus tetap
menjadi yang terbaik;
17. Rekan-rekan seperjuangan yang tergabung dalam TIM DELEGASI
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA DALAM
MENGIKUTI KOMPETISI PERDILAN SEMU PIALA TJOKORDA
RAKA DHERANA, DENPASAR, 6-9 AGUSTUS 2010, yaitu Sera Ricky
Siallagan, Gading Satria Nainggolan, Dermawanty Lumbantoruan,
Whenny Maranatha Siregar, Suhardi Fonger Sinaga, Esteria Maya Rita
Lingga, Yusty Riana Purba, Riswendang Purba, Melda Lumbantoruan,
Ristama Situmorang, Dedi Ronald Gultom, Fika Habbina Nababan,
Paruhum Purba, Fransisca Purba, Wanelfi Simangunsong, Dorothy
Rumapea;

Universitas Sumatera Utara

18. Keluarga Besar Pangaribuan, Abang-abang, Kakak-kakak ku terimakasi
untuk perhatian kalian semua;
19. Keluarga Besar Op Magdalena Marpaung, terimakasih Opung, Tulang,
Nantulang, Inang uda, Bapa Uda, Tante dan Amang Boru dan Para lae-lae
ku;
20. Keluarga besar UKM KMK UP FH USU;
21. Kordinasi Tahun 2011; Marthin (Lampard), Fonger (soulmateku), Togi,
John, Marupa, Fernandes, Juli, Dessy, Bona, Monica, Immanuel, Erikson,
Suspim, Santi (si puli), Joice, Esra, Rikson Serly, Yesaya dan Rebeca serta
Kordinasi Tahun 2010; Kak Cory (Bere ku), Evi, Adhi, Lusiana (itok) dan
Yeni, tetap berjuang dengan Pelayanannya ya teman-teman;
22. Kelompok Kecil di UKM KMK UP FH USU, Kakak Cristina Purba,
Boyle dan Satra;
23. Adik-adik Kelompok ku SOLI DEO GLORIA, Dedi Ronald Gultom dan
Melda Theresia Sihombing, harus jadi manusia rohani yang dewasa bukan
bayi-bayi rohani;
24. Anak-anak Paduan Suara SMA Negri 7 Medan HALELUJA CHOIR;
specialy to Saor, Wiwiek, Nova, Januar, Oliver, Debora (mereka kepalakepala suku PS selama kurun 6 Tahun) dan semua anggota PS selama 6
Tahun, trimakasih telah mau setia melayani Tuhan dengan suara yang
kalian miliki, serta tak lupa juga untuk para pelatih, Bg Cristian, dan Bg
Juna, trimakasih banyak ya bang.

Universitas Sumatera Utara

25. Anak-anak KOOR NATAL 2010, tetap layani Tuhan ya dek dengan suara
kalian;
26. Adek-adek kesayangan: Yusty Riana Purba (karena 1 Jeruk tapi sekarang
uda gak donk), Immanuel Rumapea (boy,,, sehat boy?) makasi ya untuk
laptop mu hehehe_, Joice Simatupang, Tamak, Eyak, Melda, Dedi, Een
dan Cristopel (anak Padus HC);
27. Untuk dia, wanita dalam doa ku, Tuhan yang akan memastikan siapa yang
terbaik untuk ku dan dia;
28. Seluruh Rekan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu. Hidup Mahasiswa!;
29. Para penulis buku-buku dan artikel-artikel yang penulis jadikan referensi
data guna pengerjaan skripsi ini, dan
30. Seluruh orang yang Penulis kenal dan mengenal Penulis. Semoga Tuhan
senantiasa memberikan berkat dan perlindungan-Nya kepada kita semua.
Penulis berharap kiranya skripsi ini tidak hanya berakhir sebagai setumpuk
kertas yang tidak berguna, tapi dapat dipakai oleh setiap orang yang
membutuhkan pengembangan pengetahuan mengenai Persaingan Usaha. Penulis
juga mengaharapkan kritik dan saran yang konstruktif terhadap skripsi ini. Atas
segala perhatiannya, Penulis ucapkan terima kasih.

Medan, 25 Mei 2011
Penulis,
(Johannes Tare Pangaribuan)

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vii
ABSTRAKSI .......................................................................................................ix
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................ 1
B. Perumusan Masalah ............................................................... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ............................................... 10
D. Keaslian Penulisan ................................................................. 12
E. Tinjauan Kepustakaan ............................................................ 13
F. Metode Penelitian .................................................................. 23
G. Sistematika Penulisan ............................................................. 26

BAB II

HUKUM PERSAINGAN USAHA DI INDONESIA
A.

Tinjauan Umum Persaingan Usaha
1. Persfektif Non Ekonomi .................................................. 34
2. Persfektif Ekonomi ......................................................... 35

B. Sejarah Hukum Persaingan Usaha di Beberapa Negara
1. Amerika ........................................................................... 44
2. Jepang ............................................................................. 44
3. Uni Eropa ....................................................................... 45
4. Indonesia
a. Perkembangan

Persaingan

Usaha

di

Indonesia.. ....................................................... 48
b. Berbagai

Peraturan

Perundang-undangan

Tentang Persaingan Usaha sebelum lahirnya
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 ............. 54

Universitas Sumatera Utara

c. Lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 ................................................................ 60
d. Azas dan Tujuan Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 ..................................................... 64
C. Konsep Pendekatan Perse Illegal dan Rule Of Reason dalam
Persaingan Usaha .................................................................. 71

BAB III

POSISI DOMINAN YANG BERTENTANGAN DENGAN
UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 1999
A. Pasar Persaingan Sempurna dan Pasar Tidak Sempurna
Dalam Ekonomi
1. Karakteristik

Pasar

Persaingan

Sempurna

(Perfect

Competition) ................................................................... 84
2. Karakteristik Pasar Monopoli (Monopoly) ....................... 87
3. Karakteristik Monopolistis (Monopolistic Competition) .. 92
4. Karakteristik Pasar Oligopoli (Oligopoly) ....................... 95
B. Posisi Dominan Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999
1. Pengertian Posisi Dominan .............................................. 100
2. Jenis-jenis Posisi Dominan .............................................. 106
C. Posisi Dominan yang Bertentangan Dengan Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1999 ............................................................ 120

BAB IV

PENERAPAN HUKUM TERHADAP PENYALAHGUNAAN
POSISI DOMINAN
A. Penegakkan Hukum Persaingan Usaha di Indonesia Dampak
Merger Terhadap Persaingan ............................................... 139
B. Duduk Perkara Kasus Putusan KPPU Nomor 02 / KPPU-L /
2005 Tentang Carrefour ………………….. .......................... 147

Universitas Sumatera Utara

C. Penerapan

Hukum

Terhadap

Penyalahgunaan

Posisi

Dominan dalam Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005
Tentang Carrefour ................................................................ 154

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 171
B. Saran ..................................................................................... 173

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 174

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Johannes Tare P *
Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait,S.H.,M.LI **
Windha,S.H.,M.Hum ***
Setiap pelaku usaha menginginkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga
kebanyakan dari para pelaku usaha akan memakai berbagai cara untuk
memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya. Cara yang dipakai mulai dari
mengefesiensikan pengeluaran, memperbaiki jasa pelayanan, memperluas pangsa
pasar bahkan memakai strategi bisnis tertentu. Strategi bisnis inilah yang pada
akhirnya perlu dikhawatirkan, karena apabila strategi bisnis bertemu dengan
posisi dominan sebuah perusahaa maka akan berpotensi mengakibatkan praktek
monopoli. Dalam perangkat hukum persaingan usaha di Indonesia pada dasarnya
tidak melarang sebuah perusahaan memiliki posisi dominan, namun tegas
melarang penyalahgunaan posisi dominan.
PT. Carrefour Indonesia, salah satu Perusahaan retail terbesar di Indonesia
ini diindikasikan melakukan penyalahgunaan posisi dominan sehingga
mengakibatkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Indikasi tersebut
terlihat dari putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005.
Pada dasarnya posisi dominan tidak dilarang, lalu posisi dominan yang
bagaimanakah yang bertentangan dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
dan bagaimakah penerapan hukum terhadap penyalahgunaan posisi dominan yang
dilakukan PT. Carrefour Indonesia dalam putusan KPPU no. 02/KPPU-L/2005.
Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan
menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library
research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai
sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet
yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam
skripsi ini.
Posisi dominan yang bertentangan dengan Undang-undang No. 5 Tahun
1999 diatur secara tegas dalam pasal 25-29. Salah satu indikasi yang ada adalah
dengan menetapkan syarat-syarat perdagangan. Syarat-syarat perdagangan inilah
yang dilakukan oleh PT. Carrefour Indonesia, dalam putusan KPPU No.
02/KPPU-L/2005 ditegaskan bahwa PT. Carrefour Indonesia menetapkan traiding
term. Traiding terms merupakan salah satu bentuk syarat perdagangan. Walaupun
pada saat ini tidak didapatkan bukti bahwa perusahaan retail terbesar ini telah
melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, namun tidak dapat
dipungkiri kalau PT. Carrefour Indonesia telah melakukan syarat perdagangan.
Sehingga tepatlah kalau Pasal 25 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
merupakan kategori pasal Rule Of Reason.
* Mahasiswa
** Dosen pembimbing I
*** Dosen Pembimbing II

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Johannes Tare P *
Prof. Dr. Ningrum Natasya Sirait,S.H.,M.LI **
Windha,S.H.,M.Hum ***
Setiap pelaku usaha menginginkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga
kebanyakan dari para pelaku usaha akan memakai berbagai cara untuk
memaksimalkan keuntungan yang diperolehnya. Cara yang dipakai mulai dari
mengefesiensikan pengeluaran, memperbaiki jasa pelayanan, memperluas pangsa
pasar bahkan memakai strategi bisnis tertentu. Strategi bisnis inilah yang pada
akhirnya perlu dikhawatirkan, karena apabila strategi bisnis bertemu dengan
posisi dominan sebuah perusahaa maka akan berpotensi mengakibatkan praktek
monopoli. Dalam perangkat hukum persaingan usaha di Indonesia pada dasarnya
tidak melarang sebuah perusahaan memiliki posisi dominan, namun tegas
melarang penyalahgunaan posisi dominan.
PT. Carrefour Indonesia, salah satu Perusahaan retail terbesar di Indonesia
ini diindikasikan melakukan penyalahgunaan posisi dominan sehingga
mengakibatkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Indikasi tersebut
terlihat dari putusan KPPU No. 02/KPPU-L/2005.
Pada dasarnya posisi dominan tidak dilarang, lalu posisi dominan yang
bagaimanakah yang bertentangan dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
dan bagaimakah penerapan hukum terhadap penyalahgunaan posisi dominan yang
dilakukan PT. Carrefour Indonesia dalam putusan KPPU no. 02/KPPU-L/2005.
Kedua permasalahan itulah yang akan dikaji dalam tulisan ini dengan
menggunakan metode pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (library
research) yakni melakukan penelitian dengan menggunakan data dari berbagai
sumber bacaan seperti perundang–undangan, buku–buku, majalah dan internet
yang dinilai relevan dengan permasalahan yang akan dibahas penulis dalam
skripsi ini.
Posisi dominan yang bertentangan dengan Undang-undang No. 5 Tahun
1999 diatur secara tegas dalam pasal 25-29. Salah satu indikasi yang ada adalah
dengan menetapkan syarat-syarat perdagangan. Syarat-syarat perdagangan inilah
yang dilakukan oleh PT. Carrefour Indonesia, dalam putusan KPPU No.
02/KPPU-L/2005 ditegaskan bahwa PT. Carrefour Indonesia menetapkan traiding
term. Traiding terms merupakan salah satu bentuk syarat perdagangan. Walaupun
pada saat ini tidak didapatkan bukti bahwa perusahaan retail terbesar ini telah
melakukan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, namun tidak dapat
dipungkiri kalau PT. Carrefour Indonesia telah melakukan syarat perdagangan.
Sehingga tepatlah kalau Pasal 25 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
merupakan kategori pasal Rule Of Reason.
* Mahasiswa
** Dosen pembimbing I
*** Dosen Pembimbing II

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu permasalahan yang tegas akan kita dapati ketika berbicara iklim
usaha adalah adanya tindakan persaingan yang tidak sehat. Pada dasarnya dunia
usaha mementingkan atau mendambakan keuntungan yang besar pada sektor
usahanya. Hal ini yang secara langsung akan menuntut mereka memiliki posisi
dominan dalam suatu pasar.

Memiliki posisi yang dominan di dalam suatu pasar adalah impian dari
setiap pelaku usaha. Hal ini adalah wajar, dengan menjadi dominan dalam suatu
pasar tentu akan memberikan keuntungan yang lebih maksimal terhadap para
pelaku usaha. Oleh karena itu menjadi lebih ungggul (market leader) pada suatu
pasar bukanlah merupakan suatu hal yang dilarang, bahkan hal ini tentunya akan
memacu para pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan inovasi-inovasi untuk
menghasilkan produk yang berkualitas dan harga yang kompetitif di dalam
persaingan yang ada dengan pelaku usaha lainnya dalam pasar tersebut.

Namun, dalam mencapai posisi dominan di suatu pasar bukanlah perkara
yang mudah bagi setiap pelaku usaha, misalkan si pelaku usaha harus
meningkatkan kemampuan keuangannya, kemampuan akses pada pasokan atau
penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang

Universitas Sumatera Utara

atau jasa tertentu terlebih dahulu, barulah kemudian si pelaku usaha bisa mencapai
kedudukan posisi dominan di dalam pasar. 1

Oleh karena di dalam mencapai suatu posisi dominan dalam suatu pasar
adalah hal yang tidak mudah, maka si pelaku usaha cenderung akan terdorong
untuk

melakukan

segala

cara

untuk

mencapai

posisi

dominan

serta

mempertahankannya agar tidak tergoyahkan oleh pelaku usaha lain, bahkan
terkadang si posisi dominan melakukan tindakan-tindakan yang anti persaingan
dalam mempertahankan posisi dominannya.
Suatu hal yang tidak dapat dipungkirin bahwa negara tidak dapat berjalan
maju tanpa adanya dunia usaha yang berkembang secara pesat dan efisien. Dunia
usaha merupakan suatu dunia yang boleh dikatakan tidak dapat berdiri sendiri.
Banyak aspek dari berbagai macam dunia lainnya turut terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dengan dunia usaha ini. Meskipun banyak orang yang
beranggapan bahwa peningkatan perekonomian suatu negara bergantung dari
kerja keras pelaku bisnis dan para pekerja lainnya, namun peraturan-peraturan dan
perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pembuatnya juga mempunyai andil
yang besar.
Pesatnya perkembangan dunia usaha adakalanya tidak diimbangi dengan
penciptaan rambu-rambu pengawas. Dunia Usaha yang berkembang terlalu pesat
sehingga meninggalkan rambu-rambu yang ada jelas tidak akan menguntungkan

1

Ditha Wiradiputra, Pengantar Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Materi Kuliah
HPU, 2005, Universitas Indonesia hal 65-66

Universitas Sumatera Utara

pada akhirnya. 2 Salah satu peraturan yang penting untuk mengatur kegiatan dunia
usaha adalah yang mengatur bagaimana para pelaku usaha melakukan persaingan
antar sesamanya.
Bagi dunia usaha persaingan harus dipandang sebagai hal positif.
Persaingan disebut sebagai suatu elemen yang esensial dalam perekonomian
modern. Pelaku usaha menyadari bahwa dalam dunia bisnis adalah wajar untuk
mencari keuntungan sebesar-besarnya, tetapi sebaiknya dilakukan melalui
persaingan usaha yang jujur. 3 Persaingan memberikan keuntungan pada para
pelaku usaha itu sendiri dan juga kepada konsumen. Dengan adanya persaingan,
pelaku usaha akan berlomba-lomba untuk terus memperbaiki produk ataupun jasa
yang dihasilkan, terus-menerus melakukan inovasi dan berupaya keras member
produk untuk jasa yang terbaik bagi konsumen. Persaingan akan berdampak pada
semakin efesiennya pelaku usaha dalam menghasilkan produk atau jasanya. Di
sisi lain, dengan adanya persaingan, maka konsumen sangat diuntungkan karena
mereka mempunyai pilihan dalam membeli produk atau jasa tertentu dengan
harga yang murah dan kualitas yang baik. 4
Para ahli ekonomi mengatakan bahwa masyarakat yang ekonominya
terbuka terhadap persaingan akan memiliki tingkat harga yang lebih rendah,
produk yang lebih baik dan pilihan yang lebih luas bagi konsumennya. Untuk

2

Ahmad Yani dan Gunawan Widjaya, Seri Hukum Bisnis – Anti Monopoli, PT.
RajaGrafindo Perkasa, Jakarta, hal. 1
3
Ayudha D. Prayoga, et.al. (ed.) Persaingan Usaha dan Hukum Yang Mengaturnya di
Indonesia, ELIPS dan Partnership for Business Competition, Jakarta, 1999, hal. 27
4
Hikmahanto Juwana, Sekilas Tentang Hukum Persaingan dan Undang-Undang No. 5
Tahun 1999, dalam jurnal Magister Hukum, Vol 1 No. 1, September 1999, Program Pasca Sarjana
Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta, hal. 31

Universitas Sumatera Utara

melaksanakan dan mengawasi hal tersebut maka undang-undang anti monopoli
sangat diperlukan, karena dengan adanya undang-undang ini diharapkan adanya
pengawasan terhadap tindakan para pelaku usaha, dan selanjutnya diharapkan
pula akan tercapai adanya efesiensi ekonomi dan akan terpelihara tingkat harga
barang dan jasa yang wajar dengan kualitas yang tinggi. 5
Dunia usaha merupakan suatu dunia yang tidak dapat berdiri sendiri.
Banyak aspek dari berbagai macam dunia lainnya turut terlibat baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan dunia usaha ini. Keterkaitan antara satu
dengan yang lainnya kadangkala tidak memberikan prioritas atas dunia usaha,
yang pada akhirnya membuat dunia usaha harus tunduk dan mengikuti ramburambu yang ada dan seringkali bahkan mengutamakan dunia usaha sehingga
mengabaikan aturan-aturan yang telah ada. Negara memang tidak dapat berjalan
dan maju tanpa adanya dunia usaha yang berkembang secara pesat dan efisien
sebagai faktor penunjang. Pesatnya perkembangan dunia usaha ada kalanya tidak
diimbangi dengan “penciptaan” rambu-rambu pengawas, baik itu yang terbentuk
sebagai suatu aturan main peraturan perundang-undangan maupun hanya dalam
bentuk-bentuk “Kode etik” dunia usaha. Dunia usaha yang berkembang terlalu
pesat sehingga akhirnya meninggalkan rambu-rambu yang ada jelas tidak akan
menguntungkan pada akhirnya 6. Sehingga kebutuhan akan suatu perangkat hukum
yang mengatur persaingan saha antar pelaku usaha tidak dapat ditawar-tawar lagi.

5

Asril Sitompul, Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Tinjauan Terhadap
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 1
6
Ningrum Natasya Sirait, Asosiasi dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, selanjutnya disebut
Ningrum Natasya Sirait I, Medan, Pustaka Bangsa Press, 2003, hal 78

Universitas Sumatera Utara

Salah satu bentuk dari aturan dalam hukum persaingan usaha adalah
mengenai posisi dominan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Penyalahgunaa
posisi dominan sangat erat kaitannya dengan market power yang dimiliki oleh
sebuah perusahaan. Memiliki posisi yang dominan di dalam suatu pasar adalah
impian dari setiap pelaku usaha. Hal ini adalah wajar, dengan menjadi dominan
dalam suatu pasar tentu akan memberikan keuntungan yang lebih maksimal
terhadap para pelaku usaha. Oleh karena itu menjadi lebih ungggul (market
leader) pada suatu pasar bukanlah merupakan suatu hal yang dilarang, bahkan hal
ini tentunya akan memacu para pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan
inovasi-inovasi untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan harga yang
kompetitif di dalam persaingan yang ada dengan pelaku usaha lainnya dalam
pasar tersebut.

Namun, dalam mencapai posisi dominan di suatu pasar bukanlah perkara
yang mudah bagi setiap pelaku usaha, misalkan si pelaku usaha harus
meningkatkan kemampuan keuangannya, kemampuan akses pada pasokan atau
penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barang
atau jasa tertentu terlebih dahulu, barulah kemudian si pelaku usaha bisa mencapai
kedudukan posisi dominan di dalam pasar. 7

Oleh karena di dalam mencapai suatu posisi dominan dalam suatu pasar
adalah hal yang tidak mudah, maka si pelaku usaha cenderung akan terdorong
untuk

7

melakukan

segala

cara

untuk

mencapai

posisi

dominan

serta

Ditha Wiradiputra, Loc.cit

Universitas Sumatera Utara

mempertahankannya agar tidak tergoyahkan oleh pelaku usaha lain, bahkan
terkadang si posisi dominan melakukan tindakan-tindakan yang anti persaingan
dalam mempertahankan posisi dominannya.
Suatu hal yang tidak dapat dipungkirin bahwa negara tidak dapat berjalan
maju tanpa adanya dunia usaha yang berkembang secara pesat dan efisien. Dunia
usaha merupakan suatu dunia yang boleh dikatakan tidak dapat berdiri sendiri.
Banyak aspek dari berbagai macam dunia lainnya turut terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dengan dunia usaha ini. Meskipun banyak orang yang
beranggapan bahwa peningkatan perekonomian suatu negara bergantung dari
kerja keras pelaku bisnis dan para pekerja lainnya, namun peraturan-peraturan dan
perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pembuatnya juga mempunyai andil
yang besar.
Saat ini, salah satu dunia usaha yang berada dalam arus persaingan adalah
usaha dibidang retail atau perusahaan retail. Retail adalah bagian paling akhir dari
proses panjang sebuah pemasaran. 8 Dalam artian, proses penjualan suatu produk
yang ditujukan langsung untuk kebutuhan konsumen akhir. Konsumen akhir ini
adalah pembeli barang atau pun jasa yang memamfaatkan produk yang dibelinya
untuk keperluan personal atau untuk dikonsumsi secara pribadi. Pembeli terakhir
ini membeli produk eceran dari sebuah perusahaan retail semacam supermarket
atau mini market tanpa ada niatan untuk menjual kembali.

8

http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/strategi-bisnis/24025-strategi-di-baliksukses-perusahaan-retail-kelas-dunia.html diakses tanggal 2 Juni 2011 Pukul 11.42 Wib

Universitas Sumatera Utara

Perusahaan Retail adalah perusahaan yang mengincar konsumen atau
pembeli akhir. Dengan begitu, persebarannya pun tidak berpusat pada satu titik
keramaian, tetapi menyebar ke hampir seluruh pelosok suatu daerah. Maka, tidak
perlu heran jika pada saat ini perusahaan retail sekelas minimarket yang
berkembang dan memenuhi tiap pelosok daerah layaknya pertumbuhan jamur di
musim penghujan. Satu tujuan pasti yang ingin diraih perusahaan retail apapun
tentu keuntungan yang maksimal. Alasan ini lah yang mendorong pemilik
perusahaan retail semacam Yogya Departement Store, Circlek, Alfamart,
Indomart, Yomart, dan lain sebagainya, untuk membangun dan membuka cabang
sebanyak-banyaknya guna mengeruk seluruh uang dari konsumen akhir tadi.
Meskipun teori Darwin sudah tidak diakui lagi dalam dunia pendidikan,
dalam dunia retail, sepertinya teori ini masih sangat dipertahankan. Siapa yang
kuat, dialah yang bertahan. Kuat disini bukan hanya bergantung pada modal
(meski tak dapat dipungkiri bahwa modal adalah kekuatan utama bagi para
retailler), melainkan pada strategi penjualan. Salah satu bentuk nyata dari
kekuatan modal merupakan kekuatan utama dari retailler adalah adanya bentukbentuk retail yang dipengaruhi oleh modal besar. Muncullah perusahaan retailretail besar seperti Hypermart, Carrefour, Matahari Departement Store,
Ramayana, Suzuya, Macan Yohan, Naga Mas, Berastagi Departement Store dan
lain sebagainya. Perusahaan retail ini memiliki perbedaan yang mendasar dengan
perusahaan retail yang disebutkan diatas, hal ini dikarenakan perusahaan retail ini
memiliki modal yang besar.

Universitas Sumatera Utara

Perbedaan diatas seharusnya hanya terjadi sebatas pengadaan atau
kuantitas pasokan barang bukan pada sektor-sektor lain yang akan berdampak
pada adanya hambatan-hambatan yang akan dirasakan oleh para pelaku retail /
retailler yang lain. Industri ritel Indonesia, merupakan industri yang strategis bagi
perkembangan ekonomi Indonesia. Dalam sebuah klaimnya, asosiasi perusahaan
ritel Indonesia (Aprindo), yang selama ini banyak mewakili kepentingan peritel
modern menyatakan bahwa sektor ritel merupakan sektor kedua yang menyerap
tenaga kerja terbesar di Indonesia, dengan kemampuan menyerap sebesar 18,9
juta orang, di bawah sektor pertanian yang mencapai 41,8 juta orang. 9 Tidaklah
mengherankan apabila persoalan ritel merupakan persoalan yang sangat pelik bagi
bangsa Indonesia.
Sebagai salah satu perusahaan retail terbesar, Carrefour, namanya begitu
mudah dikenal. Sepak terjang raksasa retail asal Prancis ini kerap mencemaskan para
pesaingnya. Dalam tempo cepat, Carrefour sudah menjadi alternatif belanja pilihan bagi
keluarga, khususnya di kota-kota besar. Bahkan, 84 gerai Carrefour telah hadir di lebih
dari 60 lokasi yang tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta,
Semarang, Medan, Palembang dan Makasar.

Saat ini Carrefour Indonesia mengoperasikan 79 gerai (63 hypermarket, 16
supermarket) di 22 kota. Di tahun 2009 Carrefour Indonesia memperoleh nilai
penjualan sebesar Rp 11.7 triliun. Perusahaan ini mempunyai 12.000 karyawan
dan bekerjasama dengan ribuan supplier, termasuk banyak perusahaan menengah
ke bawah (small medium enterprise). Dalam wacana kedepan, Carrefour akan
9

www.kppu.go.id/docs/Positioning_Paper/ritel.pdf diakses pada tanggal 2 juni 2011 Pukul

10.42

Universitas Sumatera Utara

membuka 13 gerai baru di tahun 2010. Para Group sampai dengan saat ini telah
mempekerjakan lebih dari 50.000 orang di Indonesia. Bisnis ritel untuk kelas
hipermarket masih berpotensi berkembang. Tercatat hanya ada beberapa pemain
besar di Indonesia, yakni Carrefour, Giant, dan Matahari. Sejarah baru saja
tergores pada bisnis ritel di Indonesia. Hal itu terjadi ketika Trans Corp, kelompok
usaha yang didirikan pengusaha Chairul Tanjung, secara resmi membeli 40 persen
saham PT Carrefour Indonesia, anak usaha Carrefour SA, senilai 300 juta dollar
AS atau sekitar 3 triliun rupiah. 10
Di tengah kesuksesan yang didapati oleh PT. Carrefour Indonesia, KPPU
(Komisi Pengawas Persaingan Usaha), yang merupakan lembaga independen yang
terlepas dari pengaruh dan kekuasaan pemerinta serta pihak lainnya dan KPPU
bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden selaku kepala Negara 11,
mendapati laporan dari masyarakat bahwa perusahaan retail ini telah melakukan
perbuatan persaingan usaha tidak sehat. Hal ini dapat kita lihat dari keluarnya
surat pemeriksaan dengan nomor 02/KPPU-L/2005 Tentang Permasalahan
Carrefour. Pemeriksaan ini sampai atau berujung pada keluarnya putusan dari
KPPU dengan nomor putusan yang sama.
Hal ini yang akan kita bahas dalam tulisan ilmiah ini, apakah PT.
Carrefour Indonesia melakukan penyalahgunaan posisi dominan sehingga
mengakibatkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat?. Pertanyaan tersebut
akan kita analisa dari putusan KPPU sebagai lembaga independen yang
10

http://www.suaramedia.com/ekonomi-bisnis/strategi-bisnis/24025-strategi-di-baliksukses-perusahaan-retail-kelas-dunia.html, Op.cit
11
Ahmad Yani & Gunawan Widjaja, Op.cit, hal 53

Universitas Sumatera Utara

mengawasi persaingan usaha dalam putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005
Tentang Permasalahan Carrefour.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka
pembahasan permasalahan akan dititikberatkan pada bagaimana posisi dominan
yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat serta menganalisis putusan KPPU Nomor 02 / KPPU-L / 2005 Tentang
Carrefour untuk dapat melihat apakah Carrefour telah melakukan praktik
monopoli dan persaingan usaha tidak sehat melalui posisi dominan yang
perusahaan ini miliki. Atas dasar itulah, penulis membatasi ruang lingkup kajian
permasalahan yang ada sebagai berikut:

1. Bagaimana Posisi Dominan yang bertentangan dengan UndangUndang No. 5 Tahun 1999?
2. Bagaimana penerapan

hukum terhadap penyalahgunaan posisi

dominan yang dilakukan Carrefour dalam putusan KPPU Nomor 02 /
KPPU-L / 2005?

C. Tujuan dan Manfaat Tulisan

Berdasarkan perumusan masalah yang telah penulis kemukakan di atas, maka
tujuan dari penulisan ini adalah:

Universitas Sumatera Utara

1. Untuk mengetahui gambaran umum tentang pengaturan Posisi
Dominan di Indonesia dari perspektif hukum persaingan usaha.
2. Untuk mengetahui pengaturan posisi dominan yang bertentangan
dengan UU No. 5 Tahun 1999.
3. Untuk mengetahui apakah perusahaan retail Carrefour telah melakukan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat dilihat dari
tindakan Posisi Dominan yang dimilikinya, ditinjau dari putusan
KPPU.

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

1. Secara Teoritis:

a. Dapat memberikan pandangan umum tentang Persaingan Usaha dan
pengaturan Persaingan Usaha di Indonesia.
b. Dapat mengetahui serta memahami bentuk posisi dominan serta posisi
dominan yang bertentangan dengan Undang-Undang No. 5 Tahun
1999.
c. Dapat memberikan pandangan mengenai posisi dominan yang dapat
mengakibatkan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

2. Secara Praktis

Untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan penulis dalam
mererapkan ilmu yang diperoleh, serta memberikan manfaat bagi setiap pihak

Universitas Sumatera Utara

yang berkepentingan dalam kaitannya dengan praktik monopoli dan persaingan
usaha tidak sehat

D. Keaslian Penulisan

Untuk mengetahui orisinalitas penulisan, sebelum melakukan penulisan
skripsi berjudul “Posisi Dominan yang Mengakibatkan Praktik Monopoli dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat ( Studi Kasus Putusan KPPU No. 02/KPPUL/2005 Tentang Carrefour )”, penulis terlebih dahulu melakukan penelusuran
terhadap berbagai judul skripsi yang tercatat pada Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum / Perpustakaan Universitas
cabang Fakultas Hukum USU melalui surat tertanggal 08 Januari 2011 (terlampir)
menyatakan bahwa “Tidak ada Judul yang Sama”

Adapun beberapa judul yang memiliki sedikit kesamaan di Perpustakaan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara antara lain:

1. Perilaku Usaha Untuk Menjadi Posisi Dominan Melalui Pemilikan Saham
yang bertetangan dengan UU No. 5 / 1999. (Disusun oleh Manahan /
020200031)
2. Persekongkolan Tender Ditinjau Dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1999
Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
(Disusun oleh Eva Nirwana Sitompul / 0020200135)

Universitas Sumatera Utara

3. Usaha Kecil dihubungkan dengan upaya pengecualian dari Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat berdasarkan UU No. 5
Tahun 1999. (Disusun oleh Maria Kurnia Munthe / 010200030 )

Surat dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum / Perpustakaan
Universitas cabang Fakultas Hukum USU tersebut kemudian dijadikan dasar bagi
Bapak Ramli Siregar, S.H., M.Hum (Sekretaris Departemen Hukum Ekonomi
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara) untuk menerima judul yang
diajukan oleh penulis.

Penulis juga menelusuri berbagai judul karya ilmiah melalui media
internet, dan sepanjang penelusuran yang penulis lakukan, belum ada penulis lain
yang pernah mengangkat topik tersebut. Sekalipun ada, hal itu adalah diluar
sepengetahuan penulis dan tentu saja substansinya berbeda dengan substansi
dalam skripsi ini. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah murni hasil
pemikiran Penulis yang didasarkan pada pengertian-pengertian, teori-teori, dan
aturan hukum yang diperoleh melalui referensi media cetak maupun media
elektronik. Oleh karena itu, Penulis menyatakan bahwa skripsi ini adalah karya
asli penulis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

E. Tinjauan Kepustakaan

Penulisan skripsi ini berkisar tentang Posisi Dominan yang Mengakibatkan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Studi Kasus Putusan KPPU

Universitas Sumatera Utara

No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour. Adapun Tinjauan Kepustakaan
mengenai skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Posisi Dominan

Pengertian posisi dominan dikemukakan Pasal 1 angka 4 UndangUndang
Nomor 5 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa posisi dominan adalah keadaan di
mana pelaku usaha tidak mempunyai pesaing yang berarti di pasar bersangkutan
clalam kaitan dengan pangsa pasar yang dikuasai, atau pelaku usaha mempunyai
posisi tertinggi di antara pesaingnya di pasar bersangkutan dalam kaitan dengan
kemampuan keuangan, kemampuan akses pada pasokan atau penjualan, serta
kemampuan untuk menyesuaikan pasokan atau permintaan barangatau jasa
tertentu. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap pelaku usaha
mempunyai kemungkinan untuk menguasai pangsa pasar secara dominan,
sehingga dirinya dianggap menduduki posisi dominan atas pelaku usaha atau
kelompok pelaku usaha lainnya yang menjadi pesaingnya dalam menguasai
pangsa pasar; atau suatu posisi yang menempatkan pelaku usaha lebih tinggi atau
paling tinggi di antara pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha lain yang
menjadi pesaingnya dalam kaitan dengan kemampuan keuangan, kemampuan
akses pada pasokan atau penjualan, serta kemampuan untuk menyesuaikan
pasokan atau pernintaan barang arau jasa tertentu, sehingga dirinya dianggap
menduduki posisi dominan atas pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha
lainnya yang menjadi pesaingnya.

Universitas Sumatera Utara

Lebih lanjut, dalam Pasal 25 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1999 dinyatakan bahwa suatu pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha
dianggap memiliki "posisi dominan" apabila ;
1. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai 50% (lima
puluh persen) atau lebih pangsa pasar atau jenis barang atau jasa tertentu;
atau
2. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai 75%
(tujuh puluh lima persen) atau lebih pangsa pasar satu jenis barang atau
jasa tertentu.
Dari bunyi ketentuan Pasal 25 ayat (2) ini, dapat disimpulkan bahwa jika posisi
dominan itu terkait dengan "penguasaan pasar" atas satu jenis barang atau jasa
tertentu di pasar bersangkutan oleh satu pelaku usaha atau sekelompok pelaku
usaha sebesar 50% atau lebih, atau dua atau tiga pelaku usaha atau sekelompok
pelaku usaha sebesar 75% atau lebih, hal ini akan mengakibatkan hanya ada satu
pelaku usaha atau sekelompok pelaku usaha yang menguasai pangsa pasar yang
bersangkutan. Penguasaan pasar yang demikian dinamakan "posisi dominan".
2. Praktik Monopoli
Umumnya, monopoli merupakan istilah yang dipertentangkan dengan
persaingan. Meskipun demikian, ternyata belum ada kesepakatan luas mengenai
apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ini. Secara etimologi, kata
monopoli berasal dari kata Yunani ‘monos’ yang berarti sendiri dan ‘polein’ yang

Universitas Sumatera Utara

berarti penjual. Dari akar kata tersebut, secara sederhana orang lantas memberi
pengertian monopoli sebagai suatu kondisi dimana hanya ada satu penjual yang
menawarkan (supply) suatu barang atau jasa tertentu. 12
Monopoli terbentuk jika hanya satu pelaku mempunyai kontrol eksklusif
terhadap pasokan barang dan jasa di suatu pasar, dan dengan demikian juga
terhadap penentuan harganya. Karena pada kenyataannya monopoli sempurna
jarang ditemukan, dalam praktiknya sebutan monopoli juga diberlakukan bagi
pelaku yang menguasai bagian terbesar pasar. Secara lebih longgar, pengertian
monopoli juga mencakup struktur pasar dimana terdapat beberapa pelaku, namun
karena peranannya yang begitu dominan, maka dari segi praktis pemusatan
kekuatan pasar sesungguhnya ada di satu pelaku saja. 13
Sebagai perbandingan pengertian berdasarkan pengamatan penulis diatas,
secara akademis dikutipkan pengertian monopoli berdasarkan Black Law
Dictionary 14:
Monopoly. A priviledge or peculiar advantage vested in one or more
persons or companies, consisting in the excelusive rights (or power) to
carry on a particular business or trade, manufacture a particular article,
or control the sale of the whole supply of a particular commodity. A form
of market structure in which one or only a few firms dominate the total
sales of a product or services.
Monopoly as prohibited by section 2 of Sherman Antitrust Act has two
elements: possessions of monopoly power in relevant market and willful
acquisition or maintenance of that power, as distinguished from growth or

12

13
14

Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Bogor, Ghalia Indonesia, 2004, hal.18
Suyud Margono, Hukum Anti Monopoli, Jakarta, Sinar Grafika, 2009, hal 5-6
Ibid, hal 6

Universitas Sumatera Utara

development as consequence of a superior product, business acumen or
historic accident.
It is monopolization in violation of Sherman Antitrust Act for persons to
combine or conspire to acquire or maintain power to exclude competitors
from any part of trade commerce, provided they also have such power that
they are able, as group, to exclude actual or potential competition and
provided that they have intent and purpose to exercise that power.
Natural monopoly: Natural monopoly is one result where one firm of
efficient size can produced all or more than market can take as
remunerative prices.
Adapun ciri-ciri dari pasar monopoli adalah: 15
1. Hanya ada satu produsen yang menguasai penawaran
2. Tidak ada barang pengganti / pengganti yang mirip (close subtitude)
3. Produsen memiliki kekuatan untuk menentukan harga
4. Tidak ada pengusaha lain yang bisa memasuki pasar tersebut karena ada
hambatan berupa keunggulan perusahaan.
Dalam kaitannya dengan Hukum Persaingan Usaha, Undang-Undang No 5
Tahun 1999 menyatakan bahwa monopoli adalah penguasaan atas produksi dan
atau pemasaran barang dan atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku
usaha atau satu kelompok pelaku usaha. 16 Praktik monopoli adalah pemusatan
kekuatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan
dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan atau jasa tertentu

15

Wieniawski, Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dapat diakses dalam:
http://www.scribd.com/doc/16045405/Monopoli-dan-Persaingan-Usaha-tidak-sehat
16
Lihat pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1999

Universitas Sumatera Utara

sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan
kepentingan umum. 17
Meskipun telah dijelaskan bahwa secara sederhana monopoli melibatkan
pemusatan suatu kekuatan tunggal di pasar, dengan beberapa kriteria bisa
ditemukan beberapa variasi monopoli. 18
Pertama, monopoli bisa dibedakan menjadi private monopoly (monopoli
swasta) dan public monopoly (monopoli publik). Pembedaan ini didasarkan pada
kriteria siapa yang memegang atau memiliki kekuasaan monopoli. Dikatakan ada
monopoli publik, jika monopoli itu dipunyai oleh badan publik (public body),
seperti negara, negara bagian, pemerintah daerah, dan sebagainya. Sebaliknya,
monopoli swasta adalah ,monopoli yang dipegang oleh pihak nonpublik, seperti
perusahaan swasta, koperasi, dan perorangan.
Kedua, dari sisi keadaan yang menyebabkan monopoli bisa dibagi menjadi
natural monopoly dan social monopoly. Natural monopoly adalah monopoli yang
disebabkan oleh faktor-faktor alami yang ekslusif. Jika di suatu daerah terdapat
bahan tambang yang tidak dijumpai didaerah lain, pengelola sumber daya di
wilayah itu akan memiliki natural monopoly. Sebaliknya, social monopoly
merupakan monopoli yang tercipta dari tindakan manusia atau kelompok sosial.
Monopoli terhadap hak cipta yang diberikan oleh negara kepada seorang pencipta,
misalnya, merupakan contoh dari monopoli sosial.

17
18

Lihat pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No. 5 Tahun 1999
Arie Siswanto, Op.cit hal 22

Universitas Sumatera Utara

Ketiga, dalam kaitannya dengan tulisan ini, perlu juga dibedakan antara
monopoli legal dan monopoli illegal. Secara sederhana, monopoli legal adalah
monopoli yang tidak dilarang oleh hukum di suatu negara. Sebaliknya, monopoli
dikatakan illegal kalau dilarang oleh hukum. Mengingat banyaknya sistem hukum
yang memiliki peraturan berbeda-beda, tentu saja kriteria legal dan illegal antara
negara yang satu dengan negara yang lain juga berlainan. Apa yang dikatakan
sebagai monopoli legal di suatu negara belum tentu merupakan monopoli legal
pula di negara lain. Demikian pula sebaliknya di Amerika Serikat, suatu
perusahaan yang memegang posisi monopoli atau mencoba meraih posisi
monopoli tidak dengan sendirinya dianggap melakukan tindakan illegal. Menurut
Sherman Act posisi monopoli dan upaya mencapai posisi itu menjadi illegal jika
dilakukan melalui cara-cara yang tidak wajar.
3. Persaingan Usaha Tidak Sehat

Persaingan yang dalam bahasa Inggris disebut ‘competition’ adalah
“situation in which people compete for something that not everyone can have”. 19
Selanjutnya, Webster memberi definisi yaitu “… the effort of two or more parties
acting independently to secure the business of a third party by offering the most
favorable terms”. 20
Dengan memperhatikan terminologi persaingan di atas, dapat disimpulkan
bahwa dalam setiap persaingan akan terdapat unsur-unsur sebagai berikut: 21

a. Ada dua pihak atau lebih yang terlibat dalam upaya saling mengungguli.

19

Oxford Learner’s Pocket Dictionary Third Edition, Oxford, Oxford University Press,
2003, hal 82
20
Merriam Webster Dictionary, dapat diakses dalam: http://www.merriamwebster.com/dictionary/competition?show=0&t=1298893621
21
Arie Siswanto, Op.cit hal 13

Universitas Sumatera Utara

b. Ada kehendak di antara mereka untuk mencapai tujuan yang sama.

Dengan definisi yang demikian, kondisi persaingan sebenarnya merupakan
satu karakteristik yang lekat dengan kehidupan manusia yang cenderung untuk
saling mengungguli dalam banyak hal. Meskipun demikian, Anderson
berpendapat bahwa persaingan di bidang ekonomi merupakan salah satu bentuk
persaingan yang paling utama di antara sekian banyak persaingan antarmanusia,
kelompok masyarakat, atau bahkan bangsa.

Salah satu bentuk persaingan di bidang ekonomi adalah persaingan usaha
(business competition) yang secara sederhana bisa didefinisikan sebagai
persaingan antara para penjual di dalam merebut pembeli dan pangsa pasar. 22
Oleh karena itu, konsep persaingan dalam hal ini dipersempit sehingga hanya
mencakup persaingan usaha sebagai salah satu bentuk persaingan di bidang
ekonomi.

Sehubungan dengan hal ini, Dr. Norman, seorang dosen senior di bidang
ekonomi menyatakan bahwa:

“In economics, he stated, competition referred to the capacity of the
`market to adopt new techniques of production and distribution, to
respond to variations in the needs and requirements of the buyers thereof,
to avoid excessive profits or selling costs and to distribute goods and
services efficiently” 23
Dalam kaitannya dengan Hukum Persaingan Usaha, maka persaingan
dapat dilakukan dengan cara yang sehat dan juga secara tidak sehat. Persaingan
22

Ibid, hal. 13-14
Anne Hurley, Restrictive Trade Practices, Sydney, The Law Book Company Limited,
1990, hal. 33
23

Universitas Sumatera Utara

usaha tidak sehat adalah persaingan usaha dalam menjalankan kegiatan produksi
dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur
atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha. 24

Dengan demikian, seperti yang dikemukakan diatas, bahwa suatu
persaingan dikatakan tidak sehat apabila dilakukan dengan tidak jujur dan
melawan hukum di dalam merebut pembeli dan pangsa pasar. Anne Hurley di
dalam bukunya “Restrictive Trade Practices” menyatakan bahwa ada beberapa
elemen dari struktur pasar yang perlu dilihat dalam kasus persaingan usaha tidak
sehat yaitu: 25

1. The number and size distribution of independent sellers, especially the
degree of market concentration;
2. The height of barriers to entry, that is the ease with which new firms
may enter and secure a viable market;
3. The extent to which the products of the industry are characterised by
extreme product differentiation and sales promotion;
4. The character of “vertical relationships” with customers with
suppliers and the extent of vertical integration; and
5. The nature of any formal, stable and fundamental arrangements
between firms which restrict their ability to function as independent
entities.
4. Komisi Pengawas Persaingan Usaha

KPPU ini merupakan lembaga independen yang terlepas dari pengaruh dan
kekuasaan pemerinta serta pihak lai

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Posisi Dominan Yang Dapat Mengakibatkan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (Studi Kasus Putusan KPPU No. 02 / KPPU-L / 2005 Tentang Carrefour)