Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003

PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTP
NUSANTARA II DENGAN SERIKAT PEKERJA DITINJAU DARI UU No : 13
TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan
Memenuhi Syarat Dalam Mencapai
Gelar Sarjana Hukum

Oleh :
Ayu Kusuma Ning Dewi
060200283

Program Kekhususan Perdata BW

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN PTP
NUSANTARA II DENGAN SERIKAT PEKERJA DITINJAU DARI UU No : 13
TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Dan
Memenuhi Syarat Dalam Mencapai
Gelar Sarjana Hukum

Oleh :
Ayu Kusuma Ning Dewi
060200283

Disetujui Oleh :
Ketua Program Kekhususan Perdata BW

(Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS)
NIP . 1962204211988031004

Pembimbing I

(Prof.Dr.H.Tan Kamello,SH.MS)
NIP . 1962204211988031004

Pembimbing II

(Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum)
NIP.196602021991032002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Maha Esa atas segala rahmat-Nya yang diberikan kepada penulis, sehingga
penulis dapat mengikuti perkuliahan dan dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
Skripsi in disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk
meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara, dimana hal tersebut
merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/i yang ingin menyelesaikan
perkuliahannya.
Adapun judul skripsi yang ingin penulis kemukakan “Perjanjian Kerja
Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat Pekerja Ditinjau
Dari UU No.13 Tahun 2003”. Penulis telah mencurahkan segenap hati, pikiran
dan kerja keras dalam penyusuna skripsi ini. Namun penulis menyadari bahwa
didalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangannya, baik isi maupun
kalimatnya. Oleh sebab itu skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Di dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH.M.Hum., selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara;
2. Bapak Prof. Dr. H. Tan Kamello,SH.MS., selaku Ketua Program
Kekhususan Perdata BW di Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara yang juga Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberi

Universitas Sumatera Utara

bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada penulis saat penulisan
skripsi ini;
3. Ibu Rosnidar Sembiring,SH.M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang
telah banyak memberi bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada
penulis saat penulisan skripsi ini;
4. Seluruh Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis selama
menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Teristimewa untuk kedua Orangtua, Papaku Budhi Prasetio dan
Mamaku Endah Sri Wardhani, terimakasih atas segala perhatian,
dukungan dan doa yang diberikan kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini;
6. Adik-adikku tersayang Putri Dwiastuti dan Adhitia Prathama Nugraha
yang selalu menyemangati penulis untuk segera menyelesaikan skripsi
ini.
7. Teman-teman seperjuangan di Fakultas Hukum : Ian Keizer, Julia
Franciska, Vendrista Yulia, Tio Wibowo, Samuel Valentino, Fahruzan,
Dino Prabowo, Faisal, Eko August yang telah memberikan dukungan
dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak luput dari kekurangan
dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan menyempurnakan
skripsi ini. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan,

Maret 2010

Ayu Kusuma Ning Dewi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... iv

ABSTRAK............................................................................................................ vi

Bab I

PENDAHULUAN ....................................................................... 1

A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Permasalahan ............................................................................ 7
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan ................................................. 9
D. Keaslian Penulisan .................................................................. 10
E. Tinjauan Kepustakaan............................................................... 11
F. Metode Penulisan ..................................................................... 14
G. Sistematika Penulisan .............................................................. 15

Bab II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN
KERJA BERSAMA .......................................................................................... 17

A. Pengertian perjanjian kerja bersama ....................................... 17
B. Syarat-syarat pembuatan perjanjian kerja bersama ................ 22
C. Manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersama ...................... 28

Universitas Sumatera Utara

Bab III
TINJAUAN HUKUM POSITIF MENGENAI
SERIKAT PEKERJA .................................................................................. 33

A. Pengertian dan tujuan pembentukan serikat pekerja .......... 33
B. Tata cara pembentukan serikat pekerja .............................. 39
C. Fungsi serikat pekerja beserta hak dan kewajibannya ........ 42
D. Perlindungan terhadap serikat pekerja ................................ 47

Bab IV

PELAKSANAAN PEMBUATAN PERJANJIAN KERJA
BERSAMA di PTP.NUSANTARA II ..................................... 48

A. Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama Periode
2010-2011 di PTP Nusantara II .............................................. 48
B. Kesepakatan & Perubahan dari Perjanjian Kerja Bersama
PTP.Nusantara II Periode 2010-2011 .................................... 60
C. Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan
Perjanjian Kerja Bersama pada PTP.Nusantara II ................. 70
D. Penyelesaian perselisihan & perubahan Perjanjian Kerja
Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011 ditinjau dari UU
No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ........................ 74

Bab V

KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 76

A. Kesimpulan ............................................................................. 76
B. Saran ........................................................................................ 78

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 79

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentang
Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat
Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang
menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian
Kerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan
apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama,
Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan
perubahan Perjanjian Kerja Bersama.
Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan
(Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan
hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalah
berupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggap
menunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya
ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya.
Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwa
Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.Perkebunan
Nusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun
2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalu
pihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal ini
PT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal
perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkan
kesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana
diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakan
pertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah
redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untuk
mempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya
dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian Kerja
Bersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang
mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan meminta
kepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan
perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh tim
perunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim Perunding
Serikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para
pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihak
petugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun
perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan dan
perselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Penulisan skripsi ini dilatar-belakangi oleh ketertarikan penulis tentang
Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan Serikat
Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003. Dalam penulisan skripsi ini yang
menjadi permasalahan adalah Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian
Kerja Bersama, Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi, Perselisihan
apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama,
Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap perselisihan dan
perubahan Perjanjian Kerja Bersama.
Penulisan skripsi ini dilakukan dengan metode penelitian kepustakaan
(Library Research) dan penelitian lapangan. Dilakukan dengan penelusuran bahan
hukum primer dan sekunder. Adapun bahan hukum primer yang diteliti adalah
berupa bahan hukum yang terdiri dari Undang-undang Nomot 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan maupun peraturan perundang-undangan yang dianggap
menunjang penulisan skripsi ini. Bahan sekunder yang diteliti adalah berupa karya
ilmiah seperti bahan pustaka, jurnal-jurnal tahunan, buku-buku dan sebagainya.
Setelah dilakukan pembahasan maka kemudian diketahui, bahwa
Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) PT.Perkebunan
Nusantara II 2010-2011 dilaksanakan mengingat Undang-undang No.21 Tahun
2000 dan Undang-undang No.13 Tahun 2003 serta KEP-48/Men/IV/2004, lalu
pihak serikat pekerja memberikan draft kepada perusahaan yang dalam hal ini
PT.Perkebunan Nusantara II atas pengajuan perubahan perubahan pasal-pasal
perjanjian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebelumnya demi meningkatkan
kesejahteraan karyawan. Pelaksananan perundingan dilaksanakan sebagaimana
diatur KEP-48/Men/IV/2004, tetapi di PT.Perkebunan Nusantara II ada diadakan
pertemuan informal yang bertujuan untuk membahas masalah-masalah
redaksional dan hal-hal umum dimana hal ini di dasari pertimbangan untuk
mempermudah waktu jalannya perundingan yang berakibat pada efisiensi biaya
dalam pelaksanaan perundingan. Tahap jalannya perundingan Perjanjian Kerja
Bersama (PKB) 2010-2011 tidak sepenuhnya sebagaimana diatur oleh KEP48/Men/IV/2004 hal ini disebabkan oleh kehadiran para pengurus cabang yang
mewakili kebun-kebun yangg mengawal jalannya perundingan dan meminta
kepastian atas eskalasi kenaikan upah agar dapat terpenuhi. Pelaksanaan
perundingan merupakan dari asas musyawarah mufakat maka di sepakati oleh tim
perunding dari perusahaan untuk memberikan kesempatan kepada Tim Perunding
Serikat Pekerja terlebih dahulu mensosialisasikan beberapa pasal kepada para
pengurus cabang yang berada diluar. Hal ini telah di koordinasikan ke pihak
petugas mediasi walaupun ini menyimpang dari ketentuan tata tertib namun
perundingan ini untuk mencapai mufakat dan tidak menimbulkan keributan dan
perselisihan maka dianggap tidak masalah guna mencapai kemufakatan.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Pada masa sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
menuntut kita untuk membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Perubahan dan perkembangan yang terjadi begitu pesat juga melanda dunia usaha
yang menuntut tenaga kerja yang berkualitas tinggi dan bermanfaat bagi nusa dan
bangsa.

Tenaga

kerja

yang

demikian

diharapkan

dapat

meningkatkan

produktivitas dan citra dari suatu instansi dalam melakukan pelayanan terhadap
masyarakat, hal ini menyangkut banyak hal tentang ketenagakerjaan.
Peran serta tenaga kerja sangat

diperlukan dalam pembangunan

ketenagakerjaan guna meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanya
dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya
sesuai dengan harkat dan martabat. Perlindungan terhadap tenaga kerja
dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar dari para pekerja atau buruh dan
juga untuk menjamin kesamaan kesempatan serta penempatan tanpa adanya
diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja atau
buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan
dunia usaha.
Ketenagakerjaan ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan tenaga
kerja waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Didalam peraturan
ketenagakerjaan

diatur

perlindungan

terhadap

para

tenaga

kerja

yang

Universitas Sumatera Utara

dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja dan menjamin kesamaan,
kesempatan serta perlakuan tanpa adanya diskriminasi dan keinginan untuk
mewujudkan kesejahteraan pekerja dengan tetap memperhatikan perkembangan
kemajuan dunia usaha.
Hubungan Industrial adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara
pelaku proses produksi barang dan atau jasa (terdiri dari unsur pengusaha ,
pekerja , dan pemerintah) didasarkan pada nilai nilai yang terkandung didalam
sila-sila Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
Dalam Implementasi kepribadian bangsa dikenal dengan azas kekeluargaan
dan gotong royong serta asas musyawarah untuk mufakat , dimana manisfestasi
hubungan kerja antara pekerja dengan pengusaha diperusahaan adalah kerjasama
dalam proses produksi dalam menikmati hasil dan tanggung jawab untuk
mempertahankan kelangsungan usaha dan perkembangan perusahaan yang juga
bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.
Seiring dengan berkembangnya alam demokrasi, dewasa ini dinamika
hubungan industrial mengalami peningkatan kualitas dan kuantitas dari waktu ke
waktu karena pekerja dan pengusaha yang memmiliki kepentingan dan tujuan
yang berbeda.
Fakta perburuhan di Indonesia adalah tidak seimbangnya jumlah tenaga
kerja dengan lapangan kerja yang tersedia. Ditambah lagi sebagian besar tenaga
kerja kita adalah unskill labour. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah
dalam

mengatasi

penganggguran

dengan

menyediakan

lapangan

kerja.

Universitas Sumatera Utara

Tersedianya lapangan kerja dapat dilakukan melalui investasi. Baik melalui public
investment maupun privat investment. Dana yang dibutuhkan Negara dalam
mewujudkan public investment sangat besar sehingga peran swasta sangat
dibutuhkan. Usaha untuk menarik investor asing merupakan salah satu bentuk dari
privat investment. Sayangnya tidak menariknya Indonesia sebagai tempat
investasi karena dipicu banyak hal, mulai dari infrastruktur yang tidak memadai,
birokrasi perizinan yang masih berbelit, etos kerja yang rendah. 1
Di sisi lain justru saat ini ada kecenderungan beralihnya tenaga trampil dan
berkeahlian untuk bekerja ke luar negeri. Bukan hanya

faktor tingginya

penghasilan yang mendorong mereka. Kondisi politik dan suasana kerja yang
memberi penghargaan pada kompetensi inilah yang menyebabkan terjadinya
migrasi pekerja berkualitas ke luar negeri.

Politk hukum nasional belum

sepenuhnya dirumuskan sesuai nilai-nilai moral dan kultural masyarakat kita,
sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.2
Untuk menjamin adanya kepastian hak dan kewajiban antara pekerja dan
pengusaaha yang memiliki kepentingan dan tujuan berbeda dalam hubungan
kerja, maka diperlukan satu rumusan sebagai pedoman pengaturan hak &
kewajiban antara pekerja dan pengusaha dalam bentuk pembuatan Perjanjian
Kerja Bersama.
Mendudukkan peraturan tentang ketenagakerjaan yang dibuat sebagai
pedoman pelaksanaan hubungan industrial antara hak dan kewajiban baik dari
1

Samhadi, Sri Hartati, ”Etos kerja Indonesia terburuk di Asia ? http://training-ethos.blogspot
.com/2007_ 12_05 _archive .html, di up date tanggal 21 Desember 2007.

2

Seran, Alexander, Moral Politik Hukum, Obor, Jakarta, 1999.

Universitas Sumatera Utara

pekerja yang diwakili oleh serikat pekerja maupun perusahaan dalam
melaksanakan hubungan kerja sehingga tidak terjadi perselisihan hubungan
industrial dan norma-norma syarat-syarat kerja, perlindungan upah, jaminan sosial
pekerja dapat terlaksana sebagaimana yang di amanatkan oleh undang-undang
yang diharapkan tercipta hubungan keharmonisan pekerja dan meningkatkan
produktifitas perusahaan guna mendukung kesejahteraan pekerja.
Suatu aturan hukum yang baik apabila memenuhi delapan kriteria, yaitu
berlaku secara umum, diumumkan, tidak berlaku surut, disusun dalam rumusan
yang dapat dimengerti, tidak saling bertentangan, dapat dilakukan secara wajar,
tidak mudah berubah, ada kecocokan antara aturan dan pelaksanaannya.
Delapan kriteria di atas merupakan suatu prinsip hukum. Salah satu prinsip
yang belum diterapkan dalam pembentukan PKB adalah adanya aturan hukum
yang tidak saling bertentangan. Di bidang perburuhan, tampaknya politik
perburuhan lebih berpihak kepada pengusaha. Banyak kemudahan yang diberikan
untuk mendorong terciptanya iklim investasi.
Dengan diundangkannya UU No: 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja /
Serikat Buruh dan UU No: 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah
membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pembuatan Perjanjian Kerja
Bersama baik dari sisi tata cara atau prosedur maupun pola pikir pihak-pihak yang
terlibat dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama.
Perubahan atas terbitnya UU No: 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja
dan UU No: 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah membuat dampak

Universitas Sumatera Utara

yang cukup signifikan dalam dunia usaha di Indonesia yang salah satunya adalah
PT.Perkebunan Nusantara II.
PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) yang berkedudukan di Tanjung
Morawa Medan ini merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang bergerak di sektor pertanian sub sektor perkebunan yang diusahai dengan
komoditi kelapa sawit, kakao, tembakau, karet dan tebu.
PT. Perkebunan Nusantara II ditetapkan berdasarkan PP Nomor 7 Tahun
1996 yang merupakan penggabungan dari PT. Perkebunan Nusantara II wilayah
Sumatera Utara dan Irian Jaya dengan PT. Perkebunan Nusantara IX di wilayah
Sumatera Utara.
Sebelumnya PT. Perkebunan Nusantara II yang ditetapkan berdasarkan PP
Nomor 28 Tahun 1975 memiliki areal perkebunan yang berada di wilayah
Propinsi Riau, Sumatera Utara dan Irian Jaya, sedangkan PT. Perkebunan
Nusantara IX yang ditetapkan berdasarkan PP Nomor 44 Tahun 1973 memiliki
areal perkebunan yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Utara dan Aceh.
Setelah dilakukan peleburan sebagaimana yang dimaksud dalam PP Nomor
7 Tahun 1996 maka PT. Perkebunan Nusantara II dan PT. Perkebunan Nusantara
IX dinyatakan bubar dengan ketentuan segala kewajiban dan kekayaan serta
karyawan Persero tersebut diatas beralih kepada PT. Perkebunan Nusantara II.
Kemudian didirikannya PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) dengan akte
pendirian Nomor 35 Tanggal 11 Maret 1996 yang dibuat dihadapan Harun
Kamil,SH yang merupakan Notaris di Jakarta dan telah mendapat pengesahan dari
Menteri Kehakiman Republik Indonesia, sesuai dengan Keputusan Menteri

Universitas Sumatera Utara

Kehakiman Republik Indonesia Nomor C2-8330.HT.01.01 tertanggal 8 Agustus
1995 serta telah diumumkan pada Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
8682/1996 tambahan Berita Negara Republik Indonesia Nomor 81 tanggal 8
Oktober 1996.
PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) pada awalnya memiliki 1 (satu)
Serikat Pekerja/Serikat Buruh namun setelah keluarnya Undang-undang Nomor
21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja, PT. Perkebunan Nusantara II memiliki 3
(tiga) Serikat Pekerja/Serikat Buruh yaitu Serikat Pekerja Perkebunan ( Sp-Bun ) ,
Serikat Pekerja Merdeka ( SPM ) dan Serikat Karyawan ( Sekar ). Tetapi pada
saat sekarang ini PT. Perkebunan Nusantara II mempunyai 2 (dua) serikat
Pekerja/Serikat Buruh saja, yaitu Serikat Pekerja Perkebunan ( Sp-Bun ) dan
Serikat Pekerja Merdeka (SPM).
PT. Perkebunan Nusantara II pada saat sekarang ini mengalami kondisi
yang kurang menggembirakan apabila dibandingkan dengan PT. Perkebunan
Nusantara lainnya, hal ini dikarenakan oleh :
1. Areal produksi di garap oleh orang yang tidak bertanggung jawab
2. Usia pokok produksi sudah tidak maksimal
3. Beban hak pekerja setiap tahunnya meningkat
4. Pemberian hak pekerja sudah melebihi yang diatur dengan undangundang namun komposisinya tidak pas dengan undang-undang,
sehingga hal ini menimbulkan persepsi yang berbeda oleh serikat
pekerja dan menjadi potensi perselisihan hubungan industrial.

Universitas Sumatera Utara

Oleh karena itu untuk meningkatkan produktivitas dan hubungan yang
harmonis antara pihak manajemen dengan pekerja, sesuai dengan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan makna hubungan industrial,
maka PT.Perkebunan Nusantara II membuat Perjanjian Kerja Bersama yang
rumusannya memuat berbagai macam persoalan hubungan kerja antara
Perusahaan dan Pekerja. Perjanjian Kerja Bersama ini diharapkan dapat lebih
menjamin kelancaran hubungan yang harmonis antara Manajemen dan Pekerja
guna terciptanya serta terbinanya ketenangan kerja.
Berdasarkan hal-hal tersebut mendorong penulis selaku mahasiswa Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara untuk meneliti dan menulis skripsi dengan
judul “Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II Dengan
Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003”

B. PERMASALAHAN

Didalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan
diatur tentang syarat-syarat kerja, perlindungan upah, jaminan sosial tenaga kerja,
perlindungan tenaga kerja yang bermuara kepada hak dan kewajiban pekerja dan
perusahaan namun pengaturan hak dan kewajiban tersebut tidak dapat
dilaksanakan sepenuhnya di PTP Nusantara II dikarenakan oleh beberapa
ketentuan pembayaran tentang hak sudah melebihi dari undang-undang namun
komposisinya tidak sebagaimana undang-undang. Sehingga perubahan-perubahan
yang dilakukan oleh manajemen PTP Nusantara II ditanggapi dengan perspektif

Universitas Sumatera Utara

yang berbeda oleh serikat pekerja dan hal ini berpotensi menjadi perselisihan
hubungan industrial.
Didasari

UU No : 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja ,

di PTP

Nusantara II telah terbentuk 2 (dua) Serikat Pekerja yakni : Serikat Pekerja
Perkebunan ( Sp-Bun ) dan Serikat Pekerja Merdeka ( SPM ) maka hal ini
memberikan nuansa baru dalam proses pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja
Bersama periode 2010 – 2011 dan berdampak kepada tata cara perundingannya
yakni :

1. Bagaimanakah pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja Bersama
2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara II ?

2. Kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi dalam Perjanjian
Kerja Bersama PT.Perkebunan Nusantara II Periode 2010-2011 ?

3. Perselisihan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan perundingan
Perjanjian Kerja Bersama 2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara
II ?

4. Bagaimanakah penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap
perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama periode 20102011 di PT.Perkebunan Nusantara II bila ditinjau dari UU No. 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan ?

Universitas Sumatera Utara

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
1. Tujuan Penulisan
Untuk menjawab permasalahan yang telah dikemukakan di atas, adapun
yang menjadi tujuan dari penelitian dan penulisan ini adalah :

a.

Untuk mengetahui pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja
Bersama 2010-2011 pada PT.Perkebunan Nusantara II.

b.

Untuk mengetahui kesepakatan dan perubahan apa saja yang terjadi
dalam Perjanjian Kerja Bersama PT.Perkebunan Nusantara II
Periode 2010-2011.

c.

Untuk mengetahui perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan
perundingan

Perjanjian

Kerja

Bersama

2010-2011

pada

PT.Perkebunan Nusantara II.

d.

Untuk mengetahui penyelesaian yang sudah dilaksanakan terhadap
perselisihan dan perubahan Perjanjian Kerja Bersama periode 20102011 di PT.Perkebunan Nusantara II bila ditinjau dari UU No. 13
Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.

2. Manfaat Penulisan
Berdasarkan permasalahan-permasalahan diatas, maka diharapkan penelitian
ini akan dapat bermanfaat sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara

a.

Terlaksananya hubungan industrial yang harmonis di suatu
perusahaan dan segala perselisihan yang timbul dari sudut pandang
berbeda antara hak dan kewajiban diselesaikan melalui musyawarah
dan mufakat yang mengacu pada peraturan ketenagakerjaan serta
kemampuan perusahaan.

b.

Secara Teoritis, bahwa penelitian ini adalah merupakan sumbangsih
penulis kepada ilmu pengetahuan khususnya Ilmu Hukum Perdata.

c.

Secara Praktis, bahwa penelitian ini diharapkan dapat memberi
masukan serta informasi kepada Mahasiswa Hukum khususnya dan
masyarakat, bangsa dan negara dalam pembangunan.

D. KEASLIAN PENULISAN
“Perjanjian Kerja Bersama Antara Manajemen PTP Nusantara II
Dengan Serikat Pekerja Ditinjau Dari UU No.13 Tahun 2003” yang diangkat
menjadi judul skripsi ini merupakan hasil karya yang ditulis secara objektif,
ilmiah, melalui pemikiran, referensi dari buku-buku, bantuan dari narasumber dan
pihak-pihak lain. Skripsi ini juga bukan merupakan jiplakan atau merupakan judul
yang sudah pernah diangkat sebelumnya dalam suatu penulisan skripsi oleh orang
lain.

Universitas Sumatera Utara

E. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Perjanjian

kerja

yang

dalam

bahasa

Belanda

biasa

disebut

Arbeidsovereenkoms, dapat diartikan dalam beberapa pengertian. Pengertian yang
pertama disebutkan dalam ketentuan pasal 1601a KUH Perdata, mengenai
perjanjian kerja disebutkan bahwa :
“Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu si buruh,
mengikatkan dirinya untuk di bawah perintahnya pihak yang lain, si majikan
untuk suatu waktu tertentu, melakukan pekerjaan dengan menerima upah.” 3
Selain itu pengertian mengenai Perjanjian Kerja juga di kemukakan oleh
seorang pakar Hukum Perburuhan Indonesia yaitu Bapak Prof.R.Iman
Soepomo,S.H. yang menerangkan bahwa perihal pengertian tentang Perjanjian
Kerja, beliau mengemukakan bahwa :
“Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak kesatu, buruh,
mengikatkan diri untuk bekerja dengan menerima upah pada pihak lainnya,
majikan, yang mengikatkan diri untuk mengerjakan buruh itu dengan membayar
upah. 4”
Selanjutnya perihal pengertian Perjanjian Kerja, ada lagi pendapat Prof.
Subekti, S.H. beliau menyatakan dalam bukunya Aneka Perjanjian, disebutkan
bahwa Perjanjian Kerja adalah :
3

Djumadi,Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta,
Cet.V, 2004, hlm. 29.
4

Imam Soepomo,Loc.cit.,hlm.57.

Universitas Sumatera Utara

Perjanjian antara seorang “buruh” dengan seseorang “majikan”, perjanjian
mana ditandai oleh ciri-ciri; adanya suatu upah atau gaji tertentu yang
diperjanjikan dan adanya suatu hubungan di peratas (bahasa Belanda
dierstverhading) yaitu suatu hubungan berdasarkan mana pihak yang satu
(majikan) berhak memberikan perintah-perintah yang harus ditaati oleh pihak
yang lain. 5
Konsepsi perjanjian kerja seperti yang ditentukan Pasal 1 angka 14
Undang-undang Ketenagakerjaan, objeknya akan sama dengan objek yang
diperjanjikan di dalam Perjanjian Kerja Bersama seperti ditentukan pada Pasal 1
angka 21 Undang-undang Ketenagakerjaan, yang menentukan bahwa :
Perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil
perundingan antara serikat

pekerja/serikat

buruh atau beberapa serikat

pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau
perkumpulan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha
yang memuat syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak. 6
Di mana objek yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kerja Bersama memuat
syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak. Bahkan di dalam
ketentuan Pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 21 tahun 1954 tentang

5

Subekti,Aneka Perjanjian,Penerbit Alumni Bandung,Cet.II,1977,hlm.63.

6

Djumadi,Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta,
Cet.V, 2004, hlm. 123.

Universitas Sumatera Utara

Perjanjian Perburuhan dan Pasal 1601 n KUH Perdata ditambah dengan ketentuan
“yang harus diindahkan pada waktu membuat perjanjian kerja”.
Dengan demikian bahwa objek yang diperjanjikan perjanjian kerja,
Perjanjian Kerja Bersama dalam konsepsi Undang-undang Ketenagakerjaan akan
sama objeknya dengan ketentuan Pasal 1601 n KUH Perdata dan Pasal 1 ayat (2)
Undang-undang Nomor 21 Tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan.
Objek yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kerja Bersama adalah tentang
syarat-syarat kerja, hak, dan kewajiban kedua belah pihak, yang harus diindahkan
atau dipedomani sewaktu membuat perjanjian secara individual atau dipedomani
sewaktu membuat perjanjian secara individual, yaitu perjanjian kerja. 7
Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil
perundingan antara Serikat pekerja/buruh atau beberap serikat pekerja/serikat
buruh

yang

tercatat

pada

instansi

yang

bertanggung

jawab dibidang

ketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha atau perkumpulan
pengusaha.
Perjanjian kerja bersama ini adalah semua perjanjian tertulis sehubungan
dengan kondisi–kondisi kerja yang diakhiri dengan penandatangan oleh
pengusaha, kelompok pengusaha atau satu atau lebih organisasi pengusaha disatu
pihak dan pihak lain oleh perwakilan organisasi pekerja atau perwakilan dari
pekerja yang telah disyahkan melalui peraturan dan hukum nasional. 8

7

Djumadi, Hukum Perburuhan Perjanjian Kerja, Penerbit Rajagrafindo, Jakarta,
Cet.V, 2004, hlm. 124.
8

ILO Recommendation No.91 paragraf 2

Universitas Sumatera Utara

Perjanjian kerja bersama mengikat pihak-pihak yang bertanda tangan di
dalamnya dan secara otomatis peraturan perusahaan tidak berlaku lagi dengan
adanya perjanjian kerja bersama, kecuali nilai dari peraturan perusahaan tersebut
lebih tinggi dari pada yang tercantum di dalam perjanjian kerja bersama. 9
Perjanjian kerja bersama adalah hak yang mendasar yang telah disyahkan
oleh anggota-anggota ILO dimana mereka mempunyai kewajiban untuk
menghormati, mempromosikan dan mewujudkan dengan itikad yang baik.
Perjanjian kerja bersama adalah hak pengusaha atau organisasi pengusaha
disatu pihak dan dipihak lain serikat pekerja atau organisasi yang mewakili
pekerja. Hak ini ditetapkan untuk mencapai “ kondisi-kondisi pekerja yang
manusiawi dan penghargaan akan martabat manusia (humane conditions of labour
and respect for human dignity)“, seperti yang tercantum dalam Konstitusi ILO.
Sedangkan pengertian Perjanjian Kerja Bersama yang termaktub di dalam
PKB PT. Perkebunan Nusantara II Periode 2010 – 2011 adalah Perjanjian kerja
bersama yang diadakan oleh dan antara Direksi PT Perkebunan Nusantara II
(Persero) dengan Serikat Pekerja Perkebunan (SP BUN PTP Nusatara II Persero).

F. METODE PENULISAN

Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data untuk digunakan dalam
penulisan skripsi ini adalah metode pengumpulan data secara studi pustaka atau
data-data sekunder dan penelitian lapangan.
9

ILO Recommendation 91 paragraf 3 (1),(2) dan (3)

Universitas Sumatera Utara

Metode penulisan yang digunakan adalah studi kepustakaan yaitu
menganalisis tentang perjanjian kerja bersama dengan mengumpulkan dan
membaca referensi melalui peraturan, koran, internet, majalah dan setelah
terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menyeleksi data-data yang layak
digunakan untuk mendukung penulisan skripsi ini.
Sedangkan data-data penelitian di lapangan di peroleh dari pihak
PT.Perkebunan Nusantara II yang bertindak sebagai perusahaan yang mengadakan
Perjanjian Kerja Bersama dengan serikat buruh / serikat pekerjanya.

G. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan didalam skripsi ini dibagi atas 5 (lima) bab, dimana
masing-masing bab dibagi atas beberapa sub bab. Urutan bab tersebut tersusun
secara sistematik dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Uraian singkat
atas bab-bab tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. BAB I, merupakan bab PENDAHULUAN, yang menguraikan tentang :
latar belakang, permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian
penulisan, tinjauan pustaka, metode penulisan, sistematika penulisan.
2. BAB II, merupakan bab yang menguraikan tinjauan umum tentang
Perjanjian Kerja Bersama, bab ini terdiri dari beberapa sub bab seperti :
pengertian perjanjian kerja bersama, syarat-syarat pembuatan perjanjian
kerja bersama dan manfaat dibentuknya perjanjian kerja bersama.

Universitas Sumatera Utara

3. BAB III, merupakan bab yang menguraikan tinjauan umum tentang
Serikat Pekerja, bab ini terdiri atas beberapa sub bab seperti : dasar
pendirian serikat pekerja, syarat sahnya dibentuknya serikat pekerja,
batasan dan kewenangan serikat pekerja dan manfaat berdirinya serikat
pekerja.
4. BAB IV, merupakan bab yang menjelaskan tentang Pelaksanaan
Pembuatan Perjanjian Kerja Bersama di PTP Nusantara II, bab ini terdiri
atas beberapa sub bab seperti : Pelaksanaan perundingan Perjanjian Kerja
Bersama Periode 2010-2011 di PTP Nusantara II, Kesepakatan &
Perubahan dari Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 20102011, Perselisihan yang timbul dalam pelaksanaan perundingan Perjanjian
Kerja Bersama pada PTP.Nusantara II , Penyelesaian perselisihan &
perubahan Perjanjian Kerja Bersama PTP.Nusantara II Periode 2010-2011
ditinjau dari UU No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
5. BAB V, merupakan bab penutup yang berisi tentang kesimpulan yang
merupakan jawaban singkat terhadap permasalahan yang telah diteliti, dan
saran

yang

merupakan

sumbangsih

pemikiran

penulis

terhadap

permasalahan di dalam skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN KERJA BERSAMA

A. Pengertian Perjanjian kerja bersama

Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) timbul setelah diundangkannya
Undang-undang No.21 Tahun 2000. Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
digunakan untuk menggantikan istilah sebelumnya yaitu Kesepakatan Kerja
Bersama (KKB), dikarenakan pembuat undang-undang berpendapat bahwa
pengertian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sama dengan Kesepakatan Kerja
Bersama (KKB).
Tetapi Sentanoe Kertonegoro berpendapat lain mengenai persamaan
pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan Kesepakatan Kerja Bersama
(KKB), beliau mengatakan bahwa :
Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ialah :
a. Merupakan

dasar

dari

individualisme

dan

liberalisme

yang

berpandangan bahwa diantara pekerja/buruh dengan pengusaha adalah
dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda dalam perusahaan.
b. Bebas untuk melakukan perundingan dan juga membuat perjanjian
tanpa adanya campur tangan dari pihak lain.
c. Dibuat melalui perundingan yang bersifat tawar-menawar (bargaining)
masing-masing pihak akan berusaha memperkuat kekuatan tawar-

Universitas Sumatera Utara

menawar, bahkan dengan menggunakan senjata mogok dan penutupan
perusahaan.
d. Hasilnya adalah perjanjian yang merupakan keseimbangan dari
kekuatan tawar-menawar.
Adapun Kesepakatan Kerja Bersama, yaitu :
a. Dasar adalah hubungan industrial Pancasila berpandangan bahwa
antara pekerja dan pengusaha terdapat hubungan yang bersifat
kekeluargaan dan gotong-royong.
b. Mereka bebas melakukan perundingan dan memuat perjanjian asal
saja, tetapi memperhatikan kepentingan yang lebih luas, yaitu
masyarakat, bangsa, dan negara.
c. Dibuat melalui musyawarah untuk mufakat, tidak melalui kekuatan
tawar-menawar, tetapi yang diperlukan sifat yang keterbukaan,
kejujuran, dan pemahaman terhadap kepentingan semua pihak.
Kehadiran serikat pekerja dalam rangka meningkatkan kerja sama dan
tanggung jawab.
d. Hasilnya adalah suatu kesepakatan yang merupakan titik optimal yang
bisa dicapai menurut kondisi yang ada, dengan memperhatikan
kepentingan semua pihak.

Apabila dicermati pendapat Sentanoe mengenai perbedaan antara PKB
dengan KKB, tampak ada peluang yang dapat digunakan oleh majikan dalam
memanfaatkan suatu keadaan dari pengertian KKB untuk menekan buruh dalam

Universitas Sumatera Utara

memperjuangkan haknya. Pada pengertian KKB, lebih ditekankan bahwa semua
pihak

tidak

hanya

mengutamakan

kepentingannya,

tetapi

juga

harus

memperhatikan juga kepentingan bangsa dan negara. Sebagai contoh pemerintah
telah menetapkan upah minimun provinsi/kota.
Pasal 103 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 menyebut Perjanjian Kerja
Bersama (PKB) merupakan salah satu sarana dilaksanakannya hubungan
industrial. Sangat diharapkan akan terbentuk PKB yang berkualitas dengan
mengkomodasikan tiga kepentingan yaitu buruh, pengusaha dan negara.
Sayangnya sulit terwujud, karena terdapat inkonsistensi aturan hukum atau
terdapat konflik norma di dalam norma pembentukan PKB.
Perjanjian kerja bersama adalah hak yang mendasar yang telah disyahkan
oleh anggota-anggota ILO dimana mereka mempunyai kewajiban untuk
menghormati, mempromosikan dan mewujudkan dengan itikad yang baik.
Perjanjian kerja bersama adalah hak pengusaha atau organisasi pengusaha disatu
pihak dan dipihak lain serikat pekerja atau organisasi yang mewakili pekerja. Hak
ini ditetapkan untuk mencapai “kondisi-kondisi pekerja yang manusiawi dan
penghargaan akan martabat manusia (humane conditions of labour and respect for
human dignity)“, seperti yang tercantum dalam Konstitusi ILO.
Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai pengertian
Perjanjian Kerja Bersama, diantaranya pendapat dari Prof.Subekti,SH beliau
mengatakan dalam bukunya Aneka Perjanjian, disebutkan bahwa Perjanjian Kerja
adalah perjanjian antara seorang buruh dengan seorang majikan, perjanjian mana
ditandai oleh ciri ciri adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan

Universitas Sumatera Utara

adanya suatu hubungan di peratas yaitu suatu hubungan berdasarkan mana pihak
yang satu (majikan) berhak memberikan perintah – perintah yang harus ditaati
oleh pihak yang lain.
Pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) berdasarkan Pasal 1 angka 21
UU No. 13 Tahun 2003 jo Kepmenakertrans No. KEP.48/MEN/2004 tentang Tata
cara pembuatan dan pengesahan peraturan perusahaan serta pembuatan dan
pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama, adalah perjanjian yang merupakan hasil
perundingan antara serikat

pekerja/serikat

buruh atau beberapa serikat

pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha, atau beberapa pengusaha atau
perkumpulan pengusaha yang memuat syarat syarat kerja, hak dan kewajiban
kedua belah pihak.
Bertolak dari pengertian tersebut, tersirat bahwa di dalam perjanjian kerja
bersama terkandung hal-hal yang sifatnya obligator (memuat hak-hak dan
kewajiban-kewajiban pihak-pihak yg mengadakan perjanjian), hal-hal yg bersifat
normatif (mengenai peraturan perundang-undangan).
Dengan demikian, dalam suatu perjanjian kerja bersama dimungkinkan
untuk memuat kaedah yang bersifat horizontal (pengaturan dari pihak-pihaknya
sendiri), kaedah yang bersifat vertikal (pengaturan yg berasal dari pihak yg lebih
tinggi tingkatannya), dan kaedah yg bersifat diagonal (ketentuan yang berasal dari
pihak yg tidak langsung terlibat dalam hubungan kerja).
Untuk menjaga agar isi perjanjian kerja bersama sesuai dengan harapan
pekerja maka isi perjanjian kerja bersama haruslah memuat hal-hal yang lebih dari

Universitas Sumatera Utara

sekedar aturan yang berlaku (normatif), dengan membatasi masa berlakunya suatu
perjanjian kerja bersama, guna untuk selalu dapat disesuaikan dengan kondisi riel
dalam kehidupan bermasyarakat.
Perjanjian Kerja Bersama merupakan hasil perundingan para pihak terkait
yaitu serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh
dengan pengusaha atau beberapa pengusaha yang mengatur syarat-syarat kerja,
serta hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Perjanjian Kerja Bersama tidak hanya mengikat para pihak yang
membuatnya yaitu serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha saja, tetapi juga
mengikat pihak ketiga yang tidak ikut di dalam perundingan yaitu pekerja/buruh,
terlepas dari apakah pekerja/buruh tersebut menerima atau menolak isi perjanjian
kerja bersama atau apakah pekerja/buruh tersebut menjadi anggota serikat
pekerja/serikat buruh yang berunding atau tidak.
Penggunaan istilah bersama dalam perjanjian kerja bersama ini menunjuk
pada kekuatan berlakunya perjanjian yaitu mengikat pengusaha, atau beberapa
pengusaha, serikat pekerja/serikat buruh, dan pekerja/buruh itu sendiri.
Penggunaan istilah bersama itu bukan menunjuk bersama dalam arti seluruh
pekerja/buruh ikut berunding dalam pembuatan perjanjian kerja bersama karena
dalam proses pembuatan perjanjian kerja bersama pekerja/buruh bukan
merupakan pihak dalam berunding.
Dalam satu perusahaan hanya boleh dibuat 1 (satu) perjanjian kerja bersama
yang berlaku untuk pengusaha dan semua pekerja/buruh di perusahaan tersebut.
Hal ini dimaksudkan agar dalam 1 (satu) perusahaan tidak terdapat perbedaan

Universitas Sumatera Utara

syarat-syarat kerja antara pekerja/buruh satu dengan pekerja/buruh lainnya.
Apabila perusahaan tersebut mempunyai cabang maka dapat dibuat perjanjian
kerja bersama induk yang berlaku di semua cabang dan perjanjian kerja bersama
turunan yang berlaku di masing-masing cabang perusahaan.
Perjanjian kerja bersama induk mengatur ketentuan-ketentuan yang berlaku
umum di seluruh cabang perusahaan dan perjanjian kerja bersama turunan
memuat pelaksanaan perjanjian kerja bersama induk yang disesuaikan dengan
kondisi masing-masing cabang.
Apabila beberapa perusahaan bergabung dalam satu grup dan masingmasing perusahaan merupakan badan hukum sendiri-sendiri maka perjanjian kerja
bersama dibuat dan dirundingkan oleh masing-masing pengusaha dan serikat
pekerja/serikat buruh yang ada di masing-masing perusahaan.

B. Syarat-syarat Pembuatan Perjanjian Kerja Bersama
Didalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama haruslah berdasarkan filosofi
yang terkandung dalam hubungan industrial yang berdasarkan pada nilai-nilai.
Pancasila yaitu musyawarah untuk mufakat. Perjanjian Kerja Bersama pada
dasarnya merupakan suatu cara dalam rangka mengembangkan partisipasi pekerja
untuk ikut andil dalam menentukan pengaturan syarat kerja dalam pelaksanaan
hubungan kerja, sehingga dengan adanya partisipasi tersebut diharapkan timbul
suatu sikap ataupun rasa memiliki dan juga rasa tanggung jawab terhadap
kelangsungan hidup perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

Perjanjian kerja bersama dirundingkan oleh serikat pekerja/serikat buruh
yang telah tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha.
Perundingan perjanjian kerja bersama ini haruslah didasari oleh itikad baik
dan berkemauan bebas dari kedua belah pihak.
Perundingan perjanjian kerja bersama dilaksanakan secara musyawarah
untuk mufakat. Lamanya perundingan perjanjian kerja bersama ini ditetapkan
berdasarkan kesepakatan para pihak dan dituangkan ke dalam tata tertib
perundingan.
Dalam satu (1) perusahaan hanya dapat dibuat 1 (satu) perjanjian kerja
bersama yang berlaku bagi seluruh pekerja/buruh di perusahaan yang
bersangkutan. Apabila perusahaan itu memiliki cabang, maka dibuatlah perjanjian
kerja bersama induk yang akan diberlakukan di semua cabang perusahaan
tersebut. Lalu dapat dibuat juga perjanjian kerja bersama turunan yang akan
berlaku di masing-masing cabang perusahaan.
Perjanjian kerja bersama induk itu memuat ketentuan-ketentuan yang
berlaku umum bagi seluruh cabang perusahaan dan perjanjian kerja bersama
turunan itu memuat pelaksanaan dari perjanjian kerja bersama induk yang
disesuaikan dengan kondisi cabang perusahaan masing-masing. Apabila
perjanjian kerja bersama induk telah berlaku namun perjanjian kerja bersama
turunan di cabang perusahaan belum disepakati maka perjanjian kerja bersama
induk tetap akan berlaku.

Universitas Sumatera Utara

Pihak perusahaan haruslah melayani permintaan secara tertulis untuk
merundingkan perjanjian kerja bersama dari serikat pekerja/serikat buruh yang
telah tercatat berdasarkan Undang-undang No.21 Tahun 2000 tentang Serikat
Pekerja/Serikat Buruh dan peraturan pelaksanaannya.
Pembentukan PKB berdasarkan Pasal 119 dan Pasal 120 Undang-Undang
No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dibagi 2 yaitu untuk perusahaan
yang memiliki satu serikat Buruh dan perusahaan yang memiliki lebih dari satu
serikat Buruh. Ketentuan Pasal 119 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 berlaku
bagi perusahaan yang memiliki satu serikat buruh, yaitu batasan serikat buruh
yang berhak mewakili buruh dalam perundingan pembuatan PKB apabila :
1.

memiliki jumlah anggota lebih dari 50% (lima puluh perseratus)
dari jumlah seluruh pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan
atau; Apabila musyawarah tidak mencapai kesepakatan tentang
suatu hal, maka penyelesaiannya dilakukan melalui mekanisme
penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

2.

mendapat dukungan lebih 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah
seluruh pekerja/buruh di perusahaan melalui pemungutan suara.
Apabila tidak terpenuhi ;

3.

dapat mengajukan kembali permintaan untuk merundingkan
perjanjian kerja bersama dengan pengusaha setelah melampaui
jangka waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak dilakukannya
pemungutan suara.

Universitas Sumatera Utara

Ketentuan Pasal 120 berlaku bagi perusahaan yang memiliki lebih dari satu
serikat buruh, yaitu batasan serikat buruh yang berhak mewakili buruh dalam
perundingan pembuatan PKB apabila :
1.

jumlah keanggotaannya lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari
seluruh jumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut. Apabila tidak
terpenuhi ;

2.

serikat pekerja/serikat buruh dapat melakukan koalisi sehingga
tercapai jumlah lebih dari 50% (lima puluh perseratus) dari seluruh
jumlah pekerja/buruh di perusahaan tersebut untuk mewakili dalam
perundingan dengan pengusaha.

3.

tidak

terpenuhi,

maka

para

serikat

pekerja/serikat

buruh

membentuk tim perunding yang keanggotaannya ditentukan secara
proporsional berdasarkan jumlah anggota masing-masing serikat
pekerja/serikat buruh.

Dari ketentuan di atas dapat tafsirkan terdapat kemungkinan agar Serikat
Buruh dapat menjadi pihak dalam perundingan pembuatan perjanjian kerja
bersama yaitu apabila jumlah anggotanya 50% (lima puluh perseratus) dari jumlah
seluruh pekerja/buruh di perusahaan yang bersangkutan atau mendapat dukungan
lebih dari 50% dari seluruh jumlah buruh di perusahaan tersebut maka berhak
untuk mewakili buruh dalam perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama.
Apabila tidak terpenuhi maka dibentuk tim perunding yang keanggotaannya

Universitas Sumatera Utara

ditentukan secara proporsional berdasarkan

jumlah anggota masing-masing

serikat buruh.
Tempat untuk pelaksanaan perundingan perjanjian kerja bersama dilakukan
di kantor perusahaan yang bersangkutan atau di kantor serikat pekerja/serikat
buruh ataupun bisa juga dilaksanakan di tempat lain yang sesuai dengan
kesepakatan para pihak. Semua biaya yang timbul dalam pelaksanaan
perundingan perjanjian kerja bersama ini akan menjadi beban perusahaan atau
pengusaha, kecuali telah disepakati oleh para pihak.
Perjanjian Kerja Bersama harus dibuat dalam bentuk tertulis dengan huruf
latin dan menggunakan bahasa Indonesia. Dalam hal perjanjian kerja bersama
dibuat tidak menggunakan bahasa Indonesia, maka perjanjian kerja bersama
tersebut harus diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerjemah resmi yang
telah disumpah dan hasil terjemahan tersebut dianggap sebagai perjanjian kerja
bersama yang telah memenuhi syarat perundang-undangan yang diatur dalam
Pasal 116 ayat 3 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Berdasarkan kerentuan yang diatur dalam Pasal 21 Kep.48/Men/IV/2004
tentang tentang Tata cara Pembuatan dan pengesahan Peraturan perusahaan serta
pembuatan dan pengesahan Perjanjian Kerja Bersama, perjanjian kerja bersama
sekurang-kurangnya harus memuat :
a. nama, tempat kedudukan serta alamat serikat pekerja/serikat buruh;
b. nama, tempat kedudukan serta alamat perusahaan;
c. nomor serta tanggal pencatatan serikat pekerja/serikat buruh pada instansi
yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan Kabupaten/Kota;

Universitas Sumatera Utara

d. hak dan kewajiban pengusaha;
e. hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh;
f. jangka waktu dan mulai berlakunya perjanjian kerja bersama;dan
g. tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama.

Menurut ketentuan didalam Pasal 124 ayat 1 UU No.13 Tahun 2003,
Perjanjian kerja bersama haruslah paling sedikit memuat:
h. Hak dan kewajiban pengusaha;
i.

Hak dan kewajiban serikat pekerja/serikat buruh serta pekerja/buruh;

j.

Jangka waktu dan tanggal mulai berlakunya perjanjian kerja bersama; dan

k. Tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama

Secara yuridis

formal dasar hukum dalam pembuatan Perjanjian Kerja

Bersama didasarkan atas :


Kepmenaker No. 48 tahun 2004 tentang Tata cara Pembuatan dan pengesahan
Peraturan perusahaan sert

Dokumen yang terkait

Pelaksanaan Mediasi Berdasarkan Perma No. 2 Tahun 2003 Di Pengadilan Negeri Medan

0 22 113

PENGATURAN PENGUPAHAN PEKERJA FORMAL (PERBANDINGAN ANTARA UU NOMOR 13 TAHUN 2003 DENGAN SYARIAH ISLAM)

0 5 107

PENULISAN HUKUM / SKRIPSI PELAKSANAAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA TERHADAP PEKERJA YANG MELAKUKAN WANPRESTASI ATAS PERJANJIAN KERJA DI CV. CHISEL (DITINJAU DARI UU NO 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN).

0 3 12

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA TERHADAP PEKERJA YANG MELAKUKAN WANPRESTASI ATAS PERJANJIAN KERJA DI CV. CHISEL (DITINJAU DARI UU NO 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN).

0 2 14

PENUTUP PELAKSANAAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA TERHADAP PEKERJA YANG MELAKUKAN WANPRESTASI ATAS PERJANJIAN KERJA DI CV. CHISEL (DITINJAU DARI UU NO 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN).

0 4 4

PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA MANAJEMEN DAN SERIKAT PEKERJA HOTEL SAHID SURABAYA.

0 4 24

PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA PT. FREEPORT INDONESIA DITINJAU DARI UU NO. 13 TAHUN 2OO3 PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA PT. FREEPORT INDONESIA DITINJAU DARI UU NO. 13 TAHUN 2OO3 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 0 11

PENDAHULUAN PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA PT. FREEPORT INDONESIA DITINJAU DARI UU NO. 13 TAHUN 2OO3 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 1 18

PELAKSANAAN PERJANJIAN KERJA WAKTU TERTENTU OLEH PEKERJA DAN PENGUSAHA DI PT FAJAR AGUNG INDOCEMERLANG DIHUBUNGKAN DENGAN UU NO 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN.

0 0 1

Pedoman Perjanjian Kerja Bersama "Perjanjian Kerja Bersama Antara Pengusaha dan Serikat Pekerja dalam Perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia" Repository - UNAIR REPOSITORY

0 0 63