PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP SUKU LAIN ANTARA SUKU JAWA DAN SUKU BUGIS

PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP SUKU
LAIN ANTARA SUKU JAWA DAN SUKU BUGIS
SKRIPSI

Oleh :
Ibnu Munfaridz
201210230311187

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
1

PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP SUKU
LAIN ANTARA SUKU JAWA DAN SUKU BUGIS

SKRIPSI
Diajukan Kepada Univeristas Muhammadiyah Malang
sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Psikologi

Oleh :
Ibnu Munfaridz
201210230311187

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016
2

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Skripsi

: Perbedaan Perilaku Prososial Antara Suku Jawa Dan Suku Bugis
Terhadap Suku Lain.

2. Nama Peneliti

: Ibnu Munfaridz

3. NIM

: 201210230311187

4. Fakultas

: Psikologi

5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang
6. Waktu Penelitian : 4 Desember 2015 – 20 Desember 2015
Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji pada tanggal
Dewan Penguji
Ketua Penguji

: Dra. Tri Daya Kisni, M.Si

(

)

Anggota Penguji

: 1. Adhyatman Prabowo, S.Psi., M.Psi

(

)

2. Yuni Nurhamida, S.Psi. M.Si

(

)

3. Isriqomah, S.Psi. M.Si

(

)

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Tri Daya Kisni, M.Si

Adhyatman Prabowo, S.Psi., M.Psi
Malang, Februari 2016
Mengesahkan

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

i

Dra. Tri Dayakisni, M.Si.
SURAT PERNYATAAN

Yang bertandatangan di bawah ini :
Nama

: Ibnu Munfaridz

Nim

: 201210230311187

Fakultas / Jurusan

: Psikologi/ Psikologi

Perguruan Tinggi

: Universitas Muhammadiyah Malang

Menyatakan bahwa skripsi/ karya ilmiah yang berjudul :
Perbedaan Perilaku Prososial Antara Suku Jawa Dan Suku Bugis Terhadap Suku Lain
1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan
yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan sumbernya.
2. Hasil tulisan karya ilmiah / skripsi dari penelitian yang saya lakukan merupakan Hak bebas
Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini
tidak benar, maka saya bersedia mendapat sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Malang, Januari 2016
Mengetahui,
Ketua Program Studi

Yang menyatakan

Yuni Nurhamida, S.Psi., M.Si

Ibnu Munfaridz

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat, rahmat, dan
hidayatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Perilaku
Prososial Antara Suku Jawa Dan Suku Bugis Terhadap Suku Lain.”, skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memiliki kelemahan dan keterbatasan, sehingga
skripsi ini dapat terselesaikan karena ada bimbingan, dorongan, serta bantuan dari berbagai pihak
baik moril maupun materil. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima
kasih sebesar- besarnya atas segala bantuan yang telah diberikan terutama kepada:
1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah
Malang.
2. Yuni Nurhamida, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Program Studi Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang.
3. Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu,
kesabaran dan ketelatenan untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berharga,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
4. Adhyatman Prabowo, S.Psi., M.Psi., selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan
waktu, kesabaran dan ketelatenan untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat
berharga, serta selalu memberi semangat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
5. Tri Muji Ingarianti, S.Psi., M.Psi., selaku dosen wali yang telah memberikan motivasi, arahan
dan dukungan sejak awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini.
6. Kepada seluruh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah
memberikan ilmu pengetahuan selama perkuliahan ini.
7. Laboratorium Fakultas Psikologi beserta rekan-rekan asisten, untuk setiap dukungan dan
bantuan selama ini.
8. Kepada keluarga saya, Ayah Mohamad Rivai Nasir dan Ibu Hajrawati, serta Adik tercinta
Salsa Iftitah Amalia terima kasih atas kasih sayang dan do’a serta kebahagiaan yang diberikan.
9. Shella Lyana Wilza Cumentas, seseorang yang selalu ada dan memberi motivasi dalam
perkuliahan. Dan Anak saya Maryam Qonita Salsabila yang memberikan motivasi dalam
perkuliahan dan bisa menyelesaikan skripsi.

iii

10. Teman-teman dan sahabat tercinta: Nanda, Sulis, Elita, Afi, Kiky, Citra, Eva, Anya, Septian,
Reza, Mukhlis, Tyo, Didik, Ical, Mito, Erwinsyah, Didit, Mughny, Gita, yang telah banyak
memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini..
Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran
demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap
semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, Februari 2016
Penulis

Ibnu Munfaridz

iv

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………………. i
SURAT PERNYATAAN…………………………………………………………………………… ii
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………. iii
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………v
DAFTAR TABEL……………………………………………………………………………………vi
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………………………....vii
ABSTRAK………………………………………………………………………………………….. 1
PENDAHULUAN………………………………………………………………………………….. 2
LANDASAN TEORI…………………………………………………………………………………6
Perilaku Prososial……………………………………………………………………………………..6

Perilaku Prososial Antara Suku Jawa Dan Suku Bugis Terhadap Suku Lain…………………...7
Hipotesa…………………………………………………………………………………………7
METODE PENELITIAN…………………………………………………………………………….8
Rancangan Penelitian………………………………………………………………………………...8
Subjek Penelitian……………………………………………………………………………………..8
Variabel dan Instrumen Penelitian…………………………………………………………………...8
Prosedur Penelitian…………………………………………………………………………………...9
HASIL PENELITIAN……………………………………………………………………………….10
DISKUSI…………………………………………………………………………………………….11
SIMPULAN DAN IMPLIKASI…………………………………………………………………….13
REFERENSI………………………………………………………………………………………...14
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………15

v

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Deskripsi Subjek Suku Jawa Dan Suku Bugis…………………………………………9
Tabel 2. Perhitungan T-score Perilaku Prososial Suku JawaTerhadap Suku Lain…………..…10
Tabel 3. Perhitungan T-score Perilaku Prososial Suku Bugis Terhadap Suku Lain……………10
Tabel 4. Hasil Uji Compare Mean Independent t-test………………………………………….10

vi

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Skala Try Out Perilaku Prososial……………………………………………………………………16
LAMPIRAN 2
Analisa Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian……………………………………………21
LAMPIRAN 3
Blue Print Skala Perilaku Prososial…………………………………………………………………23
LAMPIRAN 4
Tabulasi Data Penelitian…………………………………………………………………………….31
LAMPIRAN 5

Analisa Independent Sample T-test dari SPSS…………………………………………………40

vii

PERBEDAAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP SUKU LAIN ANTARA SUKU
JAWA DAN SUKU BUGIS
Ibnu Munfaridz
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
faizmunfaridz@gmail.com

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keberagaman agama, Bahasa, ras,
budaya dan suku, meskipun begitu nilai-nilai pancasila dan Bhineka tungga ika yang
berarti meskipun berbeda-beda tetap satujua sangat dijunjung tinggi di Indonesia.
Suku Jawa dan Bugis merupakan suku yang besar yang ada di Indonesia, nilai-nilai
budayanya pun bebeda. Dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti apakah ada
perbedaan perilaku prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku lain.
Jumlah subjek dalam penelitiaan ini yaitu 75 orang Jawa dan 75 orang Bugis dengan
batas minimal usia 21 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah
purposive sampling dimana subjek penelitian sudah diketahui dan sesuai dengan ciriciri atau karakteristik yang ada. Pengambilan data menggunakan skala model likert.
Metode analisa data menggunakan komparatif Independent sample t-test. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa nilai (t hitung= 1,464 (sig >0,05) yang artinya tidak
terdapat perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara suku Jawa dan suku
Bugis. Hal ini berarti bahwa budaya tidak mempengaruhi perilaku prososial.
Kata Kunci: Perilaku Prososial, Suku Jawa, Suku Bugis.

Indonesia is a nation that has a diversity of religion, language, race, culture and
ethnicity, however the values of Pancasila and Bhineka Tungga ika means different
though still highly valued satujua in Indonesia. Javanese and Bugis is a large tribe
in Indonesia, cultural values was somewhat different. In this study, researchers
wanted to examine whether there are differences in prosocial behavior between
Javanese and Bugis against another tribe. The number of subjects in this penelitiaan
ie 75 Javanese and Bugis 75 people with a minimum age limit of 21 years. The
sampling technique used was purposive sampling in which the research subjects are
already known and in accordance with the traits or characteristics that exist.
Retrieving data using a Likert scale models. Comparative data analysis method using
Independent sample t-test. The results showed that the value (t = 1,464 (sig> 0.05),
which means there is no difference prosocial behavior against another tribe between
Javanese and Bugis. This means that the culture does not affect prosocial behavior.
Keywords: Prosocial Behavior, Javanese, Bugis

1

Perilaku prososial merupakan suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa
harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan
mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolong (Baron & Byrne, 2005).
Meskipun tindakan prososial dimaksudkan untuk memberikan keuntungan kepada orang lain,
namun tindakan ini dapat muncul karena beberapa alasan. Misalnya, seorang individu mungkin
membantu orang lain karena punya motif untuk mendapatkan keuntungan pribadi (mendapat
hadiah), agar dapat diterima orang lain, atau karena memang dia benarbenar bersimpati, atau
menyayangi seseorang.
Kenyataan yang terjadi, kehidupan pada saat ini nilai-nilai prososial dimasyarakat nampak adanya
kemunduruan. Misalnya di dalam bus ada seorang lanjut usia atau wanita hamil berdiri berdesakan
dengan penumpang yang lainnya, sementara yang muda dengan enaknya duduk tanpa peduli
terhadap orang tua atau wanita hamil tersebut. Atau misalnya, sering terlihat korban kecelakaan
hanya menjadi tontonan di mana hanya sedikit dari masyarakat yang langsung memberikan
pertolongan, dan mereka hanya berkerumun menyaksikan korban yang mengerang kesakitan atau
bahkan tidak sadarkan diri.
Fenomena-fenomena ini yang mengisyaratkan melemahnya perilaku prososial yang ada dalam
masyarakat Fenomena di atas didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Hamidah (2002)
ditujuh daerah di Jawa Timur menunjukkan adanya indikasi penurunan kepedulian sosial dan
kepekaan terhadap orang lain dan lingkungannya.
Kau (2010) menyatakan fenomena menurunnya perilaku prososial pada remaja dapat dilihat pada
rendahnya perilaku tolong menolong, berbagi, dan bekerjasama, antara remaja dengan remaja,
orang lain, orang tua, maupun masyarakat. Perilaku prososial tidak semata-mata berdasarkan pada
logika, pemahaman, atau penalaran, karena beberapa kondisi emosi menjadi penyebab dari
munculnya perilaku prososial, diantaranya empati. Lebih menarilk lagi ditinjau dari sudut pandang
budaya dimana nilai-nilai yang terkandung dalam suatu budaya juga mempengaruhi perilaku
prososial mereka.
Kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi,yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan berarti hal-hal yang
bersangkutan dengan akal. Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi tentang kebudayaan
secara sistematis dan ilmiah adalah Taylor, yang menulis dalam bukunya: “Primitive Culture”,
bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan lain, serta
kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Ranjabar, 2006).
Goodenough (dalam Kalangie, 1994) mengemukakan, bahwa kebudayaan adalah suatu sistem
kognitif, yaitu suatu sistem yang terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, dan nilai yang berada
dalam pikiran anggota-anggota individual masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan berada dalam
tatanan kenyataan yang ideasional. Atau kebudayaan merupakan perlengkapan mental yang oleh
anggota-anggota masyarakat dipergunakan dalam proses orientasi, transaksi, pertemuan,
perumusan, gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku sosial nyata dalam masyarakat
mereka.

2

Masyarakat indonesia sangat kaya akan suku dan budaya Kementrian Dalam Negeri pada tahun
2012 mencatat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 251.857.940 juta jiwa, dan tidak kurang dari
30 ribu pulau di Indonesia. Dari jumlah pulau tersebut, sebanyak 13.446 pulau telah diberi namadan
sekitar 17 ribu lainnyamasih tanpa nama, dimanamereka tinggal tersebar dipulau-pulau tersebut.
Mereka juga mendiami dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari
pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga
berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia
yang berbeda. Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia pada tahun 2000, menyatakan
jumlah suku di Indonesia, yang berhasil terdata sebanyak 1.128 suku bangsa, dengan komposisi
1.072 etnik dan sub-etnik di Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Windu Nuryanti (2012) mengatakan bahwa menurut
hasil penelitian Indonesia memiliki sekitar 743 bahasa. Dari jumlah itu, 442 bahasa sudah
dipetakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, sebanyak 26 bahasa diantaranya ada
di Sumatera, 10 bahasa di Jawa dan Bali, 55 bahasa di Kalimantan, 58 bahasa di Sulawesi, 11
bahasa di Nusa Tenggara Barat, 49 bahasa di Nusa Tenggara Timur, 51 bahasa di Maluku, serta
207 bahasa di Papua. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat
keanekaragaman budaya atau tingkat heterogenitas yang tinggi. Hal ini juga mepengaruhi perilaku
masing-masing budaya yang bebeda-beda.
Suku Jawa dan Bugis merupakan suku yang besar yang ada di indonesia, nilai-nilai budayanya pun
bebeda dimana nilai-nilai budaya pada suku jawa memegang dua nilai dasar yang sangat dijunjung
tinggi oleh masyarakat Jawa yaitu (Geertz,1983); 1. Nilai rukun budaya Jawa adalah bertujuan
untuk mempertahankan masyarakat yang harmonis, selaras, tentram dan tenang tanpa perselisihan.
Untuk itu semua individu diharapkan untuk berlaku rukun agar tidak menimbulkan ketegangan
dalam masyarakat. Cita-cita masyarakat Jawa pada hakekatnya adalah masyarakat yang harmonis.
Secara individual orang Jawa tidak diakui terlalu penting, bahkan bila perlu orang Jawa harus mau
mengorbankan dirinya untuk kepentingan umum. Semua individu diharapkan 10 selalu “low
profile”, tidak menonjolkan diri, tidak saling bersaing, harus mau selalu berbagi, patuh dan
tergantung serta kooperatif. Orang Jawa harus bisa “ngeli” tidak boleh mengacaukan
keseimbangan sosial untuk kepentingan dan ambisi pribadi.
Disamping itu manusia Jawa dituntut untuk menerima dan pasrah terhadap kekuatan yang lebih
tinggi dan selalu menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari suatu masyarakat luas. Menurut
dwiyanto dan purwadi dalam bukunya filsafat Jawa (2009:246) mengatakan bahwa rukun adalah
kesatuan perasaan antar indvidu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan
segala jenis pertengkaran dan pertentangan. Dalam bahasa jawa rukun kuwi angedohi padu don
yang artinya rukun itu menjauhkan pertengkaran. Prinsip kerukunan bertujuan untuk
mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis. Keadaan inilah yang disebut rukun. Rukun
berarti “berada dalam keadaan yang selaras”, “tenang dan tentram”, “tanpa perselisihan dan
pertentangan”, “bersatu dalam maksud untuk saling membantu (Mulder, dalam Suseno,1996).
Dengan demikian, kerukunan dalam masyarakat jawa bukan pencipta pada keadaan rukun, namun
lebih kepada tidak mengganggu keselarasan yang diasumsikan sudah ada.Dalam perspektif Jawa,
ketenangan dan keselarasan sosial merupakan keadaan normal yang ada dalam diri selama tidak
diganggu. Segala perilaku yang bias mengganggu keselarasan dan ketenangan dalam masyrakat
3

perlu di cegah. Rukun berarti berusaha menghindari pecahnya konflik (Willner dalam MagisSuseno, 2001). 2. Nilai Hormat Budaya Jawa adalah setiap orang dalam berbicara dan
membawakan diri setiap orang harus selalu menunjukan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai
dengan derajat dan kedudukan.
Mereka yang berkedudukan tinggi harus diberi hormat. Ungkapan rasa hormat juga tercermin
dalam bahasa jawa yaitu “bahasa krama” yang menunjukan rasa hormat yang mengungkapkan
keakraban (Mulder,1983). Dua nilai budaya tersebut merupakan suatu hal yang mendasar di budaya
jawa karena budaya jawa mengajarkan kerukunan dan keharmonisan serta rasa hormat dalam
kehidupan bermasyarakat denhgan saling tolong-menolong sesama masyarakat.
Adapun nilai-nilai budaya yang ada di suku bugis yang terkenal dengan sebutan sipakatau,
sipakainga, dan sipakalebbi. Sipakatau adalah inti atau pangkalan sikap keterbukaan yang berarti
membuka diri dalam peranan hidup kemanusiaan. Selanjutntya sipakalebbi adalah nilai yang
mengusung rasa hormat terhadap sesama, nilai ini juga mengajarkan untuk senantriasa
memperlakukan orang lain dengan baik dan memandang orang dengan segala kelebihannya. Dan
yang terakhir sipakainga, adalah nilai yang hadir sebagai tuntutan untuk saling mengingatkan,
karena manusia tak pernah terlepas dari kesalahan. Adapun nilai budaya yang dikenal dengan kata
Siri, Chabot; Hamka; Budidarmo; Ibrahim (dalam Hamid, et al., 2007) menjelaskan bahwa siri’ na
pacce merupakan niat tulus pada orang Bugis-Makassar untuk senantiasa menjaga harga dirinya
sebagai sebuah kewajiban moral, usaha mempertahankan eksistensi dalam kehidupan
bermasyarakat, dan motivasi untuk saling membantu, menjaga, dan mengingatkan dalam
kebaikan.
Moein (dalam Darwis & Dilo, 2012) menjelaskan konsep siri’ ke dalam tiga bagian, 1) siri’ dalam
sistem budaya adalah pranata pertahanan harga diri, kesusilaan, hukum, dan agama sebagai salah
satu nilai utamanya yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku manusia. 2) Siri’ dalam
sistem sosial adalah mendinamisasi keseimbangan eksistensi hubungan dengan individu lain dan
masyarakat untuk saling menjaga keharmonisan dan keberlangsungan hidup. 3) Siri’ dalam sistem
kepribadian adalah terbentuknya individu yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran,
kesungguhan dan keteguhan hati untuk menjaga harkat dan martabatnya atau dengan kata lain
untuk menghindarkan diri dari rasa malu. Dari nilai – nilai budaya suku bugis dan jawa terdapat
beberapa kesamaan yang intinya menjunjung tinggi kerukunan dan rasa hormat dalam
bermasyarakat.
Akan tetapi terdapat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat dimana terjadi perpecahan
antar masyarakat yang meninggalkan nilai-nilai budayanya sehingga nilai-nilai budaya yang
ditanamkan sejak kecil tidak lagi dipegang teguh, hal tersebut terjadi di Lumajang, Jawa Timur
yaitu kasus yang belum lama ini terjadi yaitu pengeroyokan dua orang di Lumajang yang
mengakibatkan satu orang meninggal yaitu Salim Kancil, dimana Salim Kancil termasuk orang
yang menentang tambang illegal yang ada di daerahnya, karena merasa terganggu, penambang
illegal tersebut mengeroyok Salim dan temannya. Hal tersebut sangat bertentangan dengan nilainilai budaya Jawa yang menjunjung tinggi kerukunan dan rasa hormat.
Perpecahan juga terjadi di daerah Makassar dimana terjadi bentrok antar warga Jalan Kelapa Tiga
Kelurahan Ballaparang dengan Warga Bara Barayya Timur, Makassar, Sulawesi Selatan menelan
4

korban jiwa. Dalam kejadian tersebut, dua orang kelompok Bara Barayya tewas akibat terkena
peluru senapan angin dan dua lainnya masih dalam perawatan intensif rumah sakit Pelamonia
Makassar. Hal tersebut juga bertentangan dengan nilai-nilai budaya suku Bugis yang dimana
menjelaskan bahwa siri’ na pacce merupakan niat tulus pada orang Bugis-Makassar untuk
senantiasa menjaga harga dirinya sebagai sebuah kewajiban moral, usaha mempertahankan
eksistensi dalam kehidupan bermasyarakat, dan motivasi untuk saling membantu, menjaga, dan
mengingatkan dalam kebaikan. Oleh karena itu, dari dua fenomena yang ada dimasing-masing suku
tersebut penulis ingin meneliti apakah ada perbedaan perilaku prososial antara suku jawa dan Bugis
terhadap suku lain, di lihat dari nilai-nilai budaya yang mereka miliki.
Akan tetapi tidak terelakkan bahwa suku dan budaya di Indonesia sangatlah beragam sehingga
antar suku dapat saling berbaur satu sama lain. Contohnya suku Jawa dan Bugis yang melakukan
transmigrasi ke daerah lain yang dapat mempengaruhi perilaku prososial masing-masing suku,
dalam hal ini suku Jawa dan Bugis tidak lagi tinggal didaerah yang dimana terdapat suku asli
mereka. Akan tetapi dilihat dari nilai-nilai budaya suku Jawa yang mengutamakan kerukunan dan
rasa hormat maka hal ini tidak akan berpengaruh terhadap perilaku prososialnya karena orientasi
suku Jawa adalah tetangga, dimanapun dia, dari suku apapun dia maka orang Jawa akan menjaga
kerukunan dan rasa hormat tersebut.
Berbeda dengan suku Bugis yang nilai-nilai budayanya yaitu senantiasa menjaga harga dirinya
sebagai sebuah kewajiban moral, usaha mempertahankan eksistensi dalam kehidupan
bermasyarakat, dan motivasi untuk saling membantu, menjaga, dan mengingatkan dalam kebaikan,
dapat dilihat bahwa suku Bugis lebih mengutamakan marga atau sesama suku Bugis.
Herbert Simon (1990) berpendapat bahwa sangat mudah bagi individu untuk mempelajari norma
sosial dari anggota lain dari masyarakat. Orang-orang yang rnempelajari dengan baik norma dan
kebiasaan dari suatu masyarakat memiliki keuntungan dalam bertahan hidup. Karena sejak
berabad-abad yang lalu, budaya rnernpelajari hal-hal seperti bagaimana orang dapat bekerja sarna
dengan baik, dan orang yang mempelajari aturan ini lebih dapat bertahan hidup daripada yang
tidak. Akibatnya, melalui seleksi alam, kemampuan untuk mempelajari norma sosial menjadi
bagian dari perbaikan genetis.
Salah satu norma yang dipelajari dan dinilai berharga oleh orang-orang adalah menolong orang
lain. Singkatnya, orang-orang secara genetis diprogram untuk mempelajari norma-norma sosial,
dan salah satu normanya adalah altruisme (Hoffman, 1981; Kameda, Takezawa, & Hastie, 2003).
Koentjaraningrat, Matsumoto (dalam Dayakisni & Yuniardi, 2008) menjelaskan bahwa budaya
merupakan sebuah hasil pemikiran dan produk yang berisikan seperangkat nilai serta keyakinan.
Hal ini termanifestasi dalam bentuk gagasan, sikap, atau perilaku untuk dijadikan pedoman bagi
individu yang berada pada kebudayaan tersebut. Begitupun halnya dengan perilaku prososial yang
ada dalam setiap budaya yang didasari oleh norma-norma dan nilai-nilai budaya tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adakah perbedaan
perilaku prososial sukuJawa dan suku Bugis terhadap suku lain? Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui pebedaan perilaku prososial budaya Jawa dan budaya Bugis terhadap suku lain.
Manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat dalam
pengembangan ilmu psikologi khususnya Psikologi lintas budaya yang berhubungan dengan
5

perilaku prososial atau perilaku menolong terutama pada suku Jawa dan suku Bugis, juga dapat
meningkatkan rasa nasionalisme. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperluas informasi
dan wawasan dalam ranah ilmu psikologi sosial, khususnya pada kajian lintas budaya.
Perilaku Prososial
Menurut Baron & Byrne (2002), tindak prososial adalah segala tindakan apapun yang
menguntungkan orang lain, dapat dijelaskan bahwa tindakan yang dilakukan ini tidak memberikan
keuntunga secara langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut dan kadang-kadang
mungkin mengandung resiko-resiko tertentu. Perilaku-perilaku yang dipandang sebagi perilaku
prososial adalah memebrikan pertolongan dalam situasi darurat, beramal. Donasi, membantu,
berkorban dan berbagi. William (dalam Dayakisni : 2009) membatasi perilaku prososial sebagai
perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan
dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara material sanrpun psikologis- Tindakan
prososial memiliki tiga indikator; yaitu (a) tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut
keuntungan pada pihak pelaku, (b) tindakan itu dilahirkan secara sukarela, (c) tindakan itu
menghasilkan kebahagiaan (Staub dalam Myers, 2012) Rela berkorban juga merupakan salah satu
bagian dalam perilaku prososial.
Faktor-faktor yang mendasari perilaku prososial
Menurut staub (1978) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak
prososial, yaitu:
1. self –Gain
harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin
mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.
2. Personal Values and Norms
Adanya nilai-nilai dan norma social yang diinternalisasikan oleh individu selama
mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan
tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenarandan keadilan serta adanya
norma timbale balik.
3. Empathy
Kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain.
kemampuan untuk empati ini erat kaitannya dengan pengambilalihan peran. Jadi pasyarat
untuk mampu melakukan empati, individu harus memiliki kemampuan untuk melakukan
pengambilan peran.
Faktor Situasional dan Personal Yang Berpengaruh Pada Perilaku Prososial
Ada beberapa faktor personal maupun situasional yang menentukan tindakan prososial. Menurut
pilavin (dukutip oleh Brigham, 1991) ada tiga faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya
perilaku prososial:
1. Karakteristik situasional (seperti; situasi yang kabur atau samar-samar dan jumlah orang
yang melihat kejadian)
2. Karakteristik orang yang melihat kejadian (seperti; usia, gender, ras, kemampuan untuk
menolong), dan
6

3. Karakteristik korban (seperti; jenis kelamin, ras, daya tarik)
Adapun faktor situasional yang mendukung atau menghambat perilaku prososial menurut Baron &
Byrne (2005):
1. Daya tarik ( menolong mereka yang anda sukai)
2. Atribusi (menyangkut tanggung jawab korban)
3. Model-model prososial (kekuatan dari contoh positif)
Selain itu adapun karakteristik kepribadian Bystander yang mendorong perilaku prososial:
1. Empati, komponen afektif, tekanan /Distres, dan simpati.
2. Komponen kognitif, pengambilan perspektif, perasaan korban, self dalam situasi, karakter
fiktif.
3. Kebutuhan
4. Kebutuhan untuk disetujui
5. Kepercayaan interpersonal
6. Emosi yang positif
7. Sosialibilitas, keramahan
8. Tidak agresif
9. Self-scema prososial
10. Stabilitas emosional
11. Belief akan dunia yang adil
12. Tanggung jawab sosial
13. Locus of control internal
14. Tidak adanya egosentrisme
15. Generativitas komitmen pada diri sendiri
16. Kesediaan untuk bertindak, kepribadian penolong
17. Bukan Machiavellian
Perilaku Prososial Suku Jawa
Nilai rukun budaya Jawa adalah bertujuan untuk mempertahankan masyarakat yang harmonis,
selaras, tentram dan tenang tanpa perselisihan. Nilai Hormat Budaya Jawa adalah setiap orang
dalam berbicara dan membawakan diri setiap orang harus selalu menunjukan sikap hormat
terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukan. Dua nilai budaya tersebut merupakan
suatu hal yang mendasar di budaya jawa karena budaya jawa mengajarkan kerukunan dan
keharmonisan serta rasa hormat dalam kehidupan bermasyarakat dengan saling tolong-menolong
sesama masyarakat. Dari nilai-nilai budaya Jawa di atas yang dapat membentuk Perilaku
Prososialnya.
Perilaku Prososial Suku Bugis
suku bugis terkenal dengan sebutan sipakatau, sipakainga, dan sipakalebbi. Sipakatau adalah inti
atau pangkalan sikap keterbukaan yang berarti membuka diri dalam peranan hidup kemanusiaan.
Selanjutntya sipakalebbi adalah nilai yang mengusung rasa hormat terhadap sesama, nilai ini juga
mengajarkan untuk senantriasa memperlakukan orang lain dengan baik dan memandang orang
dengan segala kelebihannya. Dan yang terakhir sipakainga, adalah nilai yang hadir sebagai
7

tuntutan untuk saling mengingatkan, karena manusia tak pernah terlepas dari kesalahan. Dari nilainiai budaya suku Bugis di atas yang membentuk perilaku prososial masyarakatnya.
Perbedaan perilaku prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku lain
Secara individual orang Jawa tidak diakui terlalu penting, bahkan bila perlu orang Jawa harus mau
mengorbankan dirinya untuk kepentingan umum. Semua individu diharapkan 10 selalu “low
profile”, tidak menonjolkan diri, tidak saling bersaing, harus mau selalu berbagi, patuh dan
tergantung serta kooperatif, dilihat dari nilai-nilai budaya suku Jawa yang mengutamakan
kerukunan dan rasa hormat dan orientasi suku Jawa adalah tetangga, dan suku Bugis yang nilainilai budayanya yaitu senantiasa menjaga harga dirinya sebagai sebuah kewajiban moral, usaha
mempertahankan eksistensi dalam kehidupan bermasyarakat, dan motivasi untuk saling membantu,
menjaga, dan mengingatkan dalam kebaikan, dan mengutamakan marga atau sesama suku Bugis,
maka terlihat bahwa perilaku prososial suku Jawa lebih tinggi dari pada suku Bugis terhadap suku
lain yang ditinjau dari nilai-nilai budayanya.
Suku Jawa yang lebih mengutamakan rukun hormat yang dimana dimanapun masyarakat suku
Jawa berada maka mereka akan hormat kepada siapapun yang ada di lingkungan mereka tanpa
memandang suku dan budaya akan lebih mudah menolong orang lain yang berada di
lingkungannya sebab masyarakat suku Jawa tidak memandang suku sebagai tolak ukur untuk
menolong orang lain.
Berbeda dengan suku Jawa, suku Bugis yang mengutamakan marga ataupun sesame suku Bugis,
masyarakat suku Bugis lebih memandang orang lain dari suku dan marga mereka, masyarakat suku
Bugis juga lebih mengutamakan untuk membantu orang lain yang memiliki suku yang sama
dengan mereka sebelum membantu orang lain yang berbeda suku. Meskipun terdapat perbedaan
nilai-nilai budaya suku Jawa dan suku Bugis akan tetapi perilaku prososial dapat dilihat dari factorfaktor lain, dengan kata lain tidak hanya dilihat dari nilai-nilai budayanya. Oleh sebab itu peneliti
melakukan penelitian untuk mengetahu perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara
suku Jawa dan suku Bugis.
Hipotesa
Ada perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara suku Jawa dan suku Bugis, suku Jawa
lebih tinggi dibandingkan suku Bugis.

METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk melihat perbedaan perilaku prososial
antara suku Jawa dan Bugis terhadap suku lain, dengan jenis penelitian komparatif yang dimana
peneliti membandingkan perilaku prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku
lain.Sugiyono, 2012).

8

Subjek Penelitian
Penelitian ini akan menyelidiki mengenai perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara
suku Jawa dan Bugi. Oleh karena itu, subjek penelitian yang dipilih sebagai partisipan adalah 1)
masyarakat suku Bugis asli, baik itu laki-laki maupun perempuan dengan karakteristik usia
minimal 21 tahun, kedua orang tuanya berasal dari suku Bugis asli, tinggal menetap di daerah yang
benar-benar masih memegang teguh nilai-nilai budaya Bugis yang belum terpengaruhi budaya luar
2) masyarakat suku Jawa asli, baik itu laki-laki dan perempuan dengan karakteristik usia minimal
21 tahun, kedua orangtuanya berasal dari suku Jawa asli, tinggal menetap di daerah yang benarbenar masih memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa yang belum terpengaruhi budaya luar Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dimana subjek penelitian sudah
diketahui dan sesuai dengan ciri-ciri atau karakteristik yang ada di atas.
Variabel dan Instrumen Penelitian
Varabel bebas dari penelitian ini yaitu suku Jawa dan Bugis dengan variabel terikatnya yaitu
perilaku prososial. Perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi
positif bagi si penerima, baik dalam bentuk materi, fisik ataupun psikologis yang memberi
keuntungan pada orang lain atau dirinya sendiri. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah
skala model Likert yang terdiri dari item favorable dan unfavorable. Selain itu, dalam skala ini
berisikan lima kategori jawaban dengan format respon yang berdasarkan item dengan penilaian,
yaitu SS (sangat sesuai), S (sesuai), TS (tidak sesuai), dan STS (sangat tidak sesuai). Skala yang
digunakan yaitu skala dari Suciatma Umiasih (2013) yang dimana peneliti mengadopsi skala
tersebut sesuai dengan penelitiannya yaitu perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara
suku Jawa dan suku Bugis.
Hasil try out uji validitas dan reliabilitas menggunakan program SPSS for windows versi 20.
Adapun untuk masing-masing indeks validitas dan reliabilitas pada variabel di atas terdapat pada
table 1.
Tabel 1. Indeks Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Penelitian
Alat Ukur
Perilaku Prososial

Jumlah Valid
33

Indeks Validitas
0.325 – 0.708

Indeks Reliabilitas
0.920

Berdasarkan hasil uji Validitas dan reliabilitas skala perilaku prososial dengan menggunakan
standar validitas r= 0,3 dari 36 item diperoleh item valid sebanyak 33 item dan item gugur sebanyak
3 item. Setelah diuji kembali dengan membuang item yang gugur sehingga diperoleh tingkat
reliabilitas sebesar 0.920 maka skala ini termasuk dalam reliabel. Dari 33 item yang valid dapat
mewakili aspek – aspek yang ada. Sehingga skala ini dapat digunakan dalam penelitian karena
telah memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang baik.
Prosedur Penelitian
Secara umum, penelitian yang akan dilakukan memiliki tiga prosedur utama yaitu, Persiapan,tahap
persiapan dimulai dari peneliti melakukan try out dan penelitian di kota Makassar dan Yogyakarta
9

mulai dari tanggal 20 November 2015 – 11 Desember 2015 dengan cara membagikan skala tersebut
kepada setiap subjek. Namun sebelum membagikan skala. terlebih dahulu peneliti memberikan
pengantar yang bertujuan untuk memastikan bahwa subjek yang diberikaan skala adalah orang
Jawa dan Bugis yang berusia minimal 21 tahun.
Selama proses penyebaran skala peneliti banyak dibantu oleh tiga orang rekan di Yogyakarta dan
dua orang rekan di Makassar. Subjek yang di dapatkan dalam proses try out berjumlah 35 orang
Jawa dan 35 orang Bugis. Setelah data terkumpul peneliti kemudian melakukan proses entry data,
menguji validitas dan reliabilitas alat ukur.
Tahap selanjutnya adalah melakukan penelitian langsung dengan menggunakan instrumen
penelitian yang telah valid dan reliable setelah melalui proses try out. Dalam proses penelitian ini
skala yang disebar adalah sebanyak 150 subjek yang terdiri dari 75 orang Jawa dan 75 orang Bugis.
Setelah data terkumpul, peneliti kembali melakukan proses entry data dan analisa data dengan
menggunakan Software perhitungan statistic SPSS for Windows versi 20. Adapun metode analisa
data dalam penelitian ini menggunakan independent sample t-test untuk mengetahui perbedaan
perilaku prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku lain.
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian 150 subjek terkait dengan perilaku prososial digambarkan dalam tabel dibawah ini
:
Tabel 1. Deskripsi Subjek Suku Jawa Dan Suku Bugis
Jenis Kelamin

Frekuensi

Suku Jawa

Suku Bugis

Persentase

Laki-Laki
Perempuan

76
74

39
36

37
38

50,67%
49,33%

Total

100 %

Usia

Frekuensi

Suku Jawa

Suku Bugis

Persentase

21 – 29
30 – 39
40 – 49

127
8
15

62
3
9

65
5
6

84,67%
5,33%
10 %

Total

100 %

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 150 orang yang terdiri dari 75 orang Jawa dan 75 orang
Bugis. Dengan jumlah subjek Laki-laki sebanyak 76 orang dan subjek perempuan 74 orang. Dari
75 subjek orang Jawa terdapat 39 orang laki-laki dan 37 orang perempuan. Sedangkan dari 75
subjek orang Bugis terdapat 36 orang laki-laki dan 38 orang perempuan.
Dari 150 subjek yang diteliti berada pada rentang usia dari 21 – 49 tahun. Pada rentang usia 21-29
tahun berjumlah 127 orang yang terdiri dari 62 orang Jawa dan 65 orang Bugis. Pada rentang usia
10

30-39 tahun berjumlah 8 orang yang terdiri dari 3 orang Jawa dan 5 orang Bugis. Pada rentang usi
40-49 tahun berjumlah 15 orang yang terdiri dari 9 orang Jawa dan 6 orang Bugis.
Tabel 2. Perhitungan T-score Perilaku Prososial Suku JawaTerhadap Suku Lain
Perilaku
Prososial
Tinggi
Rendah

Interval

Frekuensi

T-score ≥ 50
T-score < 50

Total

Persentase

32
43

42, 67%
57, 33 %

75

100 %

Berdasakan perhitungan T-score pada tabel 2 ditemukan bahwa dari 75 subjek suku Jawa. terdapat
32 atau 42,67% subjek yang memiliki perilaku Prososial tinggi terhadap suku lain dan 43 atau 57,
33% subjek yang memiliki perilaku prososial rendah terhadap suku lain.
Tabel 3. Perhitungan T-score Perilaku Prososial Suku Bugis Terhadap Suku Lain
Perilaku
Prososial
Tinggi
Rendah

Interval

Frekuensi

T-score ≥ 50
T-score < 50

Total

Persentase

39
36

52 %
48 %

75

100 %

Berdasakan hasil perhitungan T-score pada tabel 3 ditemukan bahwa dari 75 subjek suku Bugis.
terdapat 39 atau 52% subjek yang memiliki perilaku Prososial tinggi terhadap suku lain dan 36 atau
48% subjek yang memiliki perilaku prososial rendah terhadap suku lain.
Tabel 4. Hasil Uji Compare Mean Independent t-test
F
,890

Sig

t

,765

1,464

df
148

sig. (2-tailed)
,145

Berdasarkan hasil pada tabel 3 ditemukan bahwa nilai t hitung= 1,464 (sig >0,05), artinya tidak
ada perbedaan perilaku prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku lain.

DISKUSI
Hasil dari penelitiaan ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan perilaku prososial terhadap suku
lain antara suku Jawa dan suku Bugis. Hal ini berarti bahwa hipotesis peneliti ditolak atau tidak
terbukti sebab dari hasil uji independent sample t-test menunjukkan tidak ada perbedaan perilaku
prososial antara suku Jawa dan sukuBugis yang signifikan.
Mengapa perilaku prososialnya tidak terdapat perbedaan? Hal ini bisa dijelaskan bahwa meskipun
nilai-nilai budaya dari suku Jawa dan suku Bugis berbeda, akan tetapi terdapat beberapa kesamaan
11

nilai-nilai budaya antara suku Jawa dan Bugis yang mana nilai budaya tersebut dapat membentuk
perilaku prososial seseorang.
Hal ini diperkuat oleh Herbert Simon (1990) yang berpendapat bahwa sejak berabad-abad yang
lalu, budaya rnernpelajari hal-hal seperti bagaimana orang dapat bekerja sarna dengan baik, dan
orang yang mempelajari aturan ini lebih dapat bertahan hidup dari pada yang tidak. Salah satu
norma yang dipelajari dan dinilai berharga oleh orang-orang adalah menolong orang lain. Hal
tersebut berarti bahwa meskipun suku Jawa dan Bugis memiliki nilai budaya yang berbeda akan
tetapi masing-masing budaya tersebut mengajarkan kerja sama dan perilaku tolong menolong antar
sesama.
Seperti pada suku Jawa dimana masyarakat Jawa pada hakekatnya adalah masyarakat yang
harmonis. Secara individual orang Jawa tidak diakui terlalu penting, bahkan bila perlu orang Jawa
harus mau mengorbankan dirinya untuk kepentingan umum.
Semua individu diharapkan selalu “low profile”, tidak menonjolkan diri, tidak saling bersaing,
harus mau selalu berbagi, patuh dan tergantung serta kooperatif. Orang Jawa harus bisa “ngeli”
tidak boleh mengacaukan keseimbangan sosial untuk kepentingan dan ambisi pribadi dan nilai
budaya.
Disamping itu manusia Jawa dituntut untuk nerimo dan pasrah terhadap kekuatan yang lebih tinggi
dan selalu menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari suatu masyarakat luas. Menurut dwiyanto
dan purwadi dalam bukunya filsafat Jawa (2009) mengatakan bahwa rukun adalah kesatuan
perasaan antar indvidu dalam melaksanakan sebuah visi bersama dengan menyingkirkan segala
jenis pertengkaran dan pertentangan. Dalam bahasa jawa rukun kuwi angedohi padu don yang
artinya rukun itu menjauhkan pertengkaran.
Prinsip kerukunan bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan harmonis.
Keadaan inilah yang disebut rukun. Rukun berarti “berada dalam keadaan yang selaras”, “tenang
dan tentram”, “tanpa perselisihan dan pertentangan”, “bersatu dalam maksud untuk saling
membantu (Mulder, dalam Suseno,1996).Dengan demikian, kerukunan dalam masyarakat jawa
bukan pencipta pada keadaan rukun, namun lebih kepada tidak mengganggu keselarasan yang
diasumsikan sudah ada.
Dalam perspektif Jawa, ketenangan dan keselarasan sosial merupakan keadaan normal yang ada
dalam diri selama tidak diganggu. Segala perilaku yang bias mengganggu keselarasan dan
ketenangan dalam masyrakat perlu di cegah. Rukun berarti berusaha menghindari pecahnya konflik
(Willner dalam Magis-Suseno, 2001). 2. Nilai Hormat Budaya Jawa adalah setiap orang dalam
berbicara dan membawakan diri setiap orang harus selalu menunjukan sikap hormat terhadap orang
lain, sesuai dengan derajat dan kedudukan.
Adapun nilai-nilai budaya yang ada di suku bugis yang terkenal dengan sebutan sipakatau,
sipakainga, dan sipakalebbi. Sipakatau adalah inti atau pangkalan sikap keterbukaan yang berarti
membuka diri dalam peranan hidup kemanusiaan. Selanjutntya sipakalebbi adalah nilai yang
mengusung rasa hormat terhadap sesame, nilai ini juga mengajarkan untuk senantriasa
memperlakukan orang lain dengan baik dan memandang orang dengan segala kelebihannya. Dan

12

yang terakhir sipakainga, adalah nilai yang hadir sebagai tuntutan untuk saling mengingatkan,
karena manusia tak pernah terlepas dari kesalahan.
Adapun nilai budaya yang dikenal dengan kata Siri, Chabot; Hamka; Budidarmo; Ibrahim (dalam
Hamid, et al., 2007) menjelaskan bahwa siri’ na pacce merupakan niat tulus pada orang BugisMakassar untuk senantiasa menjaga harga dirinya sebagai sebuah kewajiban moral, usaha
mempertahankan eksistensi dalam kehidupan bermasyarakat, dan motivasi untuk saling
membantu, menjaga, dan mengingatkan dalam kebaikan.
Dari nilai – nilai budaya suku bugis dan jawa terdapat beberapa kesamaan yang memiliki maksud
yang sama yaitu menjunjung tinggi kerukunan dan rasa hormat dalam bermasyarakat. Kesamaan
dari nilai-nilai budaya dari suku Jawa dan suku Bugis menunjukkan bahwa maksud dari nilai-nilai
budaya diatas yaitu menghargai sesama, lebih mengutamakan kepentingan umum, saling
menolong, memperlakukan orang lain dengan baik, dan selalu mempentingkan kepentingan umum
daripada kepentingan pribadi..
Hal tersebut berarti bahwa meskipun suku Jawa dan Bugis memiliki nilai budaya yang berbeda akan tetapi
masing-masing budaya tersebut mengajarkan kerja sama dan perilaku tolong menolong antar sesama. Dari

beberapa kesamaan inilah yang membentuk perilaku prososial masyarakat Jawa dan Bugis
terhadap etnis lain. Sehingga tidak terdapat perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara
suku Jawa dan Bugis.
Faktor lain juga dapat mempengaruhi perilaku prososial tersebut, antara lain faktor karakteristik
situasional dan faktor karakteristik personal yang melihat kejadian (Dayakisni dan Hudaniah,
2006) seperti kehadiran orang lain, pengorbanan yang harus dikeluarkan, Pengalaman dan suasana
hati, kejelasan stimulus, adanya norma-norma sosial, hubungan antara calon penolong dengan
korban.
Selain itu Menurut Sarwono & Meinarno (2009) mengungkapkan bahwa factor factor yang
mempengaruhi perilaku prososial, yaitu: Pengaruh Faktor Situasional seperti; Bystande, daya tarik,
atribusi terhadap korban, ada model, desakan waktu, sifat kebutuhan korban. Pengaruh faktor
dalam diri seperti; suasana hati, sifat, jenis kelamin, tempat tinggal, dan pola asuh.
Meskipun tidak terdapat perbedaan prososial antara suku Jawa dan suku Bugis terhadap suku lain,
ada hal yang juga memprihatinkan bagi masyarakat di Negara kita. Dimana dari hasil penelitian
pada75 subjek suku Jawa menunjukkan bahwa dari 75 subjek terdapat 32 subjek yang masuk dalam
kategori tinggi dan 43 subjek masuk dalam kategori rendah dalam perilaku prososial mereka
terhadap suku lain. Hal ini menunjukkan bahwasannya perilaku prososial suku Jawa terhadap suku
lain masih jauh dari angka ideal.
Pada suku Bugis pun demikian, dari 75 subjek terdapat 39 subjek yang masuk dalam kategori tinggi
dan 36 subjek masuk dalam kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwasannya perilaku prososial
suku Bugis terhadap suku lain juga masih jauh dari angka ideal. Apalagi bagi sebuah bangsa yang
berdasarkan pada pancasila dan bhineka tunggal ika yang berarti meskipun berbeda-beda tetap satu
jua.
13

SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Berdasarkan hasil perhitungan independent sample t-test ditemukan bahwa nilai t hitung= 1,464
(sig >0,05), artinya tidak ada perbedaan perilaku prososial terhadap suku lain antara suku Jawa dan
suku Bugis. Karena terdapat beberapa kesamaan nilai-nilai budaya antara suku Jawa dan suku
Bugis yang dimana nilai budaya tersebut dapat membentuk perilaku prososial masyarakatnya.
Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi stimulasi bagi masyarakat secara umum
bahwasanya perilaku prososial merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan
bermasyarakat meskipun berbeda suku, karena perilaku prososial sangat bermanfaat bagi orang
lain yang membutuhkan bantuan kita, tidak selamanya pula manusia dapat hidup sendiri tanpa
bantuan orang lain. Apalagi Indonesia merupakan bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai
Pancasila dan bhineka tunggal ika yang berarti meskipun berbeda-beda tetap satu jua.
Pemerintah juga diharapkan agar lebih meningkatkan pendidikan cultural bagi masyarakat
Indonesia sebagaimana bangsa yang memegang teguh bhineka tunggal ika dan Pancasila sebagai
dasar Negara yang mana meskipun kita berbeda suku, ras, dan agama, tetapi kita tetap satu. Maka
dengan tidak memandang perbedaan tersebut, masyarakat lebih peduli terhadap sesama. Tanpa
memandang asal dan suku.
Bagi peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan variabel yang sama namun dalam
konteks yang berbeda, misalnya menggunakan suku masing-masing ataupun suku yang dianggap
menarik untuk diteliti. Bagi peneliti yang ingin meneliti dengan variabel yang sama namun tetap
menggunakan suku Jawa dan suku Bugis juga dapat memperhatikan hal-hal yang dianggap
menarik untuk diteliti terkait dengan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya masing-masing
suku.
Peneliti juga dapat memperhatikan keterbatasan dari penelitian ini sebelum melanjutkan penelitian
yang sama, yaitu menelaah lebih teliti lagi terhadap skala yang akan digunakan, dari segi Bahasa
maupun kata-kata.

14

REFERENSI
Akil, A., Yudono, A., Latief, I., & Radja, A.M. (2013). Application of Buginese-Makassarese
culture in Makassar City. Makassar: Faculty of Engineering, Hasanuddin University
Arrahmannews. (29 September, 2015). Pembunuhan sadis aktivis Lumajang Salim Kancil atas
kasus penolakan tambang pasir. Diakses pada 29 Oktober 2015, dari
http://arrahmahnews.com/2015/09/29/pembunuhan-sadis-aktivis-lumajang-salim-kancilatas-kasus-penolakan-tambang-pasir/
Astuti, S. Y. (2014). Hubungan antara empati dengan perilaku prososial pada karang taruna di
desa Jetis, kecamatan baki,KabupatenSukoharjo. Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Baron, A. R., Byrne, D. (2005). Psikologi sosial jilid 2. Jakarta: Erlangga
Dayakisni, T., Hudaniah.(2009). Psikologi sosial. Malang: UMM Press.
Dayakisni, T., Yuniardi, S. (2008). Psikologi lintas budaya. Malang: UMM Press.
Hamid, A., Farid, A.Z.A., Mattulada., Lopa, B., Salombe. (2007). Siri’ dan pesse’ harga diri
manusia Bugis, Makassar, Mandar, Toraja. Makassar: Pustaka Refleksi.
Ilham, A. (07 November, 2014). Tawuran pecah di Makassar, dua tewas. Diakses pada 29 Oktober
2015, dari http://news.okezone.com/read/2014/11/07/340/1062619/tawuran-pecah-dimakassar-dua-tewas
Isnandar, W. T. (2010). Hubungan antara konsep diri dengan perilaku
Prososial pada siswa sma 1 Purwodadi. Skripsi, Surakarta: Program Sarjana Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Mashuri, F. (2015). Nilai budaya siri’ na pacce dengan komitmen perkawinan pada etnis bugisMakassar.Skripsi, Malang: Program Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
Karina, D.V. (2014). Pengaruh nilai budaya jawa (rukun - hormat) terhadap pemaafan dalam
konteks hubungan remaja dengan orang tua. Skripsi, Malang: Program Sarjana Universitas
Muhammadiyah Malang.
Khusnul, K. (2012). Pengalaman nilai sipakatau, sipaka

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

102 3170 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 796 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 707 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 461 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 612 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1055 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 963 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 580 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 849 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1046 23