MASKULINISASI LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) DENGAN EKSTRAK STEROID TERIPANG PASIR (Holothuria scabra) PADA UMUR LARVA YANG BERBEDA

MASKULINISASI LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus)
DENGAN EKSTRAK STEROID TERIPANG PASIR (Holothuria scabra)
PADA UMUR LARVA YANG BERBEDA

ABSTRAK
Maskulinisasi dengan cara sex reversal merupakan salah satu teknik pembalikan
jenis kelamin pada lobster air tawar karena lobster jantan lebih cepat
pertumbuhannya dibanding betina. Ekstrak steroid teripang pasir (Holothuria
scabra) berperan dalam proses maskulinisasi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui umur larva lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang paling
efektif dalam pembentukan kelamin jantan melalui perendaman dalam larutan
ekstrak steroid teripang pasir. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan
acak kelompok (RAK) dan umur larva lobster sebagai perlakuan kelompok, tiap
perlakuan dengan 4 kali ulangan. Perlakuan menggunakan umur larva lobster air
tawar berbeda: 0,7,14 dan 21 hari dan dilakukan perendaman dalam larutan
ekstrak steroid teripang pada konsentrasi 2 ppm selama 18 jam. Larva lobster air
tawar kemudian dipelihara selama 40 hari setelah perendaman. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perbedaan umur larva berpengaruh nyata terhadap
pembentukan monoseks jantan (maskulinisasi) pada umur larva 0 hari 66,25%, 7
hari 48%, 14 hari 93,25% dan 21 hari 77,24% dibandingkan dengan kontrol
(30%). Berdasarkan hasil analisis ragam dan beda nyata terkecil (P ≤ 0,05),
terdapat perbedaan antar perlakuan dalam pembentukan monoseks jantan pada
umur yang berbeda. Larva umur 14 hari memiliki persentase tertinggi dalam
proses maskulinisasi yaitu 93,25% dan terendah pada larva umur 7 hari yaitur
48%.
Selama penelitian kelulushidupan larva lobster air tawar pada semua
perlakuan bervariasi antara 26-75%, tertinggi pada larva umur 21 hari yaitu 75%
dibandingkan dengan yang lain dan terdapat peningkatan rerata pertumbuhan
harian spesifik yang meliputi berat total dengan pertambahan 1,34 gr dan panjang
total dengan pertambahan 2,98 cm. Dari penelitian dapat disimpulkan, umur
berpengaruh terhadap pembentukan maskulinisasi larva lobster air tawar dan
umur larva lobster 14 hari yang paling efektif dalam pembentukan monoseks
jantan.
Kata kunci : ekstrak steroid teripang pasir, lobster air tawar, maskulinisasi

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK .................................................................................................
HALAMAN JUDUL ..................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................
PERSEMBAHAN .....................................................................................
SANWACANA .........................................................................................
DAFTAR ISI...............................................................................................
DAFTAR TABEL ......................................................................................
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

i
iii
iv
v
vi
viii
ix
xiii
xvii
xviii

I.

1
1
4
4
4
6

PENDAHULUAN ...............................................................................
A. Latar Belakang ................................................................................
B. Tujuan Penelitian ............................................................................
C. Manfaat Penelitian ..........................................................................
D. Kerangka Pemikiran ........................................................................
E. Hipotesis ..........................................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................
A. Lobster Air Tawar ..........................................................................
1. Klasifikasi Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) ........
2. Anatomi dan Morfologi Lobster Air Tawar .............................
3. Ekologi Lobster Air Tawar ......................................................
4. Perkembangan dan Ciri Kelamin Lobster Air Tawar ..............
5. Kualitas dan Lingkungan Hidup Lobster Air Tawar ..............
B. Teripang Pasir (Holothuria scabra) ................................................
1. Klasifikasi Teripang Pasir ........................................................
2. Biologi Teripang Pasir ..............................................................
3. Habitat dan Penyebaran Teripang Pasir ...................................
4. Biokimia Teripang Pasir ..........................................................
C. Sex Reversal (Pembalikan Kelamin) ...............................................
D. Hormon Steroid Teripang Pasir .....................................................

7
7
7
8
11
12
13
15
15
17
19
20
21
22

III. METODE PENELITIAN ...................................................................
A. Waktu dan Tempat Penelitian .........................................................
B. Alat dan Bahan ...............................................................................
C. Prosedur Penelitian..........................................................................

25
25
25
26

1.
2.
3.
4.
5.

Persiapan Tempat dan Air Media Pemeliharaan .......................
Pengeraman Telur Lobster dan Aklimasi Larva Lobster .........
Pembuatan Ekstrak Steroid Teripang .......................................
Seleksi Larva Lobster ...............................................................
Pelaksanaan Penelitian ..............................................................
a. Parameter Utama ..................................................................
b. Parameter Penunjang.............................................................
6. Rancangan Penelitian ................................................................

26
27
27
27
28
28
29
31

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................
A. Hasil Pengamatan ............................................................................
1. Tingkat Maskulinisasi Lobster Air Tawar (C. quadricarinatus)
Pada Umur Larva Yang Berbeda .................................................
2. Tingkat Kelulushidupan Lobster Air Tawar (C. quadricarinatus)
Setelah Perendaman Ekstrak Steroid Teripang Pasir (H. scabra)
3. Laju Pertumbuhan Spesifik dan Kecacatan Lobster Air Tawar
(C. quadricarinatus) ...................................................................
1. Berat dan Laju Pertambahan Berat Larva Lobster Air Tawar
(C. quadricarinatus) ............................................................
2. Panjang dan Laju Pertambahan Panjang Larva
Lobster Air Tawar (C. quadricarinatus) ..............................
3. Tingkat Kecacatan Larva Lobster Air Tawar
C. quadricarinatus ...............................................................
4. Kondisi Kualitas Air Media Pemeliharaan ...............................
B. Pembahasan .....................................................................................

32
32

38
39
41

V. KESIMPULAN ...................................................................................

49

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

50

LAMPIRAN................................................................................................

55

32
33
35
35
37

1

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komoditas ikan-ikan air tawar sejak beberapa waktu lalu sedang naik daun
karena memiliki daya tarik yang sangat kuat, salah satu jenisnya adalah
lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) atau lobster capit merah (red
claw). Hewan ini mudah dibudidayakan dan tidak seperti udang galah atau
jenis udang tawar lainnya, harga jualnyapun cukup tinggi. Oleh karena itu
tidak heran jika semakin banyak orang yang berminat untuk mengembangkan
komoditas ini (Satyantini dan Mukti, 2006).
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk budidaya lobster air
tawar karena iklim dan siklus musim yang memungkinkan lobster dapat
dibudidaya sepanjang tahun. Selain itu potensi sumber makanan yang
melimpah di alam dan mudah diperoleh. Indonesia menjadi salah satu negara
produsen utama sekaligus pemasok terbesar lobster air tawar di pasar
internasional (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Sektor usaha lobster air tawar
di Indonesia cukup prospektif untuk dikembangkan seiring dengan
meningkatnya permintaan kebutuhan pasar dunia artinya permintaan lobster
konsumsi tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Beberapa negara diantaranya Jepang, Hongkong, Malaysia, Singapura,
Amerika, Jerman dan beberapa negara Eropa merupakan negara pengimpor

2

komoditi ini (Bisnis Indonesia , 2006). Saat ini harga lobster air tawar ukuran
konsumsi ± 300 gram mencapai Rp 200.000 – Rp 300.000/kg. Untuk
memenuhi kebutuhan pasar maka perlu dilakukan budidaya lobster secara
kontinyu (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).
Jenis lobster yang saat ini banyak dipilih oleh peternak adalah red claw
(Cherax quadricarinatus) yang berasal dari Australia (Lukito dan Prayugo,
2007). Lobster air tawar tersebut ditemukan hidup di danau, rawa, atau
sungai yang terletak di kawasan Papua, Papua New Guinea, dan Australia.
Tempat hidup lobster air tawar ini umumnya memiliki ciri khusus seperti
sungai yang tepinya dangkal dan bagian bawahnya atas campuran lumpur,
pasir, dan bebatuan, serta dapat juga ditemukan di sungai atau danau yang
banyak ditumbuhi tanaman air (Setiawan, 2010).
Budidaya lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) mulai berkembang sejak
tahun 2000, dengan teknik pemeliharaan yang mudah, sehingga banyak
pembudidaya yang tertarik untuk mengembangkan produksi lobster air tawar
ini. Oleh karena itu, budidaya lobster berkembang cukup pesat, dan sudah
banyak berdiri sentra budidaya di beberapa Provinsi seperti Jakarta, Jawa
Barat, DIY Jogjakarta, dan Jawa Timur karena permintaan pasar yang
semakin meningkat (Potensi Negri Kami, 2010).
Lobster memang dianggap sebagai komoditas udang konsumsi yang mewah
dibandingkan dengan udang konsumsi lainnya. Selain daging yang padat,
gurih, empuk, lobster air tawar juga memiliki kandungan gizi yang sangat
tinggi, terutama protein. Bahkan sebagian orang yang meyakini jika daging

3

lobster dapat berkhasiat meningkatkan kemampuan seksual (Bisnis Indonesia,
2006).
Hasil penelitian dari Sarida (2008) dan Hakim (2008) menunjukkan bahwa
individu jantan lobster air tawar lebih cepat berkembang dan tumbuh
dibandingkan dengan betina. Hal ini dapat diketahui bahwa lobster jantan
usia 7-8 bulan dapat mencapai berat 30 gr/ ekor, sedangkan pada betina 20 gr/
ekor pada umur yang sama. Untuk itu, memproduksi individu jantan
(monoseks) lebih banyak dilakukan karena lebih menguntungkan (Sukmajaya
dan Suharjo, 2003).
Dalam perkembangannya budidaya hewan tersebut dapat dilakukan dengan
teknik sex reversal yaitu cara pembalikan arah perkembangan kelamin yang
seharusnya jantan diarahkan perkembangan gonadnya menjadi betina atau
sebaliknya. Teknik ini dilakukan pada saat sebelum terjadinya diferensiasi
gonad ikan secara jelas antara jantan dan betina pada waktu menetas.
Sex reversal merubah phenotip ikan tetapi tidak merubah genotipnya
(Masduki, 2010).
Penelitian Hakim (2008) tentang monoseks jantan (maskulinisasi) lobster air
tawar (Cherax quadricarinatus ) dengan pemberian hormon metil testosteron
dengan dosis yang berbeda menghasilkan pembentukan monoseks jantan
tertinggi sebesar 61,13% pada dosis 2 ppm. Berdasarkan hasil penelitian
tersebut maka penelitian ini dilakukan pada lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus) dengan menggunakan hormon alami ekstrak steroid teripang
pasir (Holothuria scabra) dengan dosis 2 ppm pada umur larva yang berbeda.

4

B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. mengetahui umur larva lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang
paling efektif dalam pembentukan kelamin jantan dengan perendaman
dalam larutan ekstrak steroid teripang pasir (Holothuria scabra).
2. mengetahui kelulushidupan, berat total dan panjang total larva lobster air
tawar (Cherax quadricarinatus) selama pengamatan.
3. mengetahui kualitas air selama masa pemeliharaan.

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi ilmiah mengenai umur
larva lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang paling efektif dalam
pembalikan kelamin sebagai usaha pengembangan dalam budidaya.

D. Kerangka Pemikiran

Indonesia saat ini memiliki prospek budidaya perikanan yang sedang
berkembang menuju ke arah spesies-spesies yang mempunyai komoditi ekspor
yang cukup tinggi. Salah satu spesies yang sudah banyak dikembangkan yaitu
jenis lobster air tawar (Cherax quadricarinatus). Hewan ini banyak diminati
oleh pembudidaya karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan
budidayanya mudah. Namun dalam pertumbuhannya diketahui bahwa pada
umur yang sama lobster air tawar jantan lebih cepat dan memiliki ukuran
tubuh yang lebih besar dibandingkan betina. Oleh karena itu, lobster air tawar

5

jantan lebih diminati oleh pembudidaya. Salah satu cara untuk mendapatkan
individu jantan yaitu melakukan sex reversal atau pembalikan kelamin dimana
individu anakan diberi stimulus biokimia untuk menghasilkan individu dengan
jenis kelamin yang diinginkan oleh pembudidaya. Salah satu cara untuk
melakukan sex reversal atau pembalikan kelamin yaitu menggunakan hormon
yang merupakan salah satu stimulus biokimia yang diberikan pada larva. Pada
pembalikan kelamin buatan dapat diarahkan dengan menggunakan hormon
steroid sintesis. Hormon dapat mengatur beberapa fenomena reproduksi
misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan gamet, ovulasi, perubahan
morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau produksi feromon.
Diferensiasi gonad terjadi lebih dahulu diikuti fenomena lain.

Steroid seks yang berfungsi mengubah jenis kelamin adalah androgen
(testosteron dan metiltestoteron) yang memberikan efek maskulinitas dan
estrogen (estron dan estrodiol) yang memiliki pengaruh feminitas. Androgen
dihasilkan oleh testis, korteks adrenal dan ovari. Salah satu hormon alami
androgen adalah testosteron. Derivat dari hormon ini yang merupakan
hormon steroid sintetis dan telah berhasil digunakan untuk merangsang
perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan adalah 17α
metiltestoteron.

Hasil penelitian sebelumnya tentang maskulinisasi lobster air tawar yang
menggunakn hormon metiltestosteron dengan dosis 2 mg/L dan umur larva
yang berbeda telah mendapatkan umur yang terbaik yaitu larva 10 hari dengan
tingkat keberhasilan 76,77% (Studivianto, 2007). Pada penelitian ini

6

menggunakan hormon alami yang berasal dari ekstrak steroid teripang pasir
(Holothuria scabra) dengan dosis 2 ppm. Pada umur larva lobster air tawar
(Cherax quadricarinatus) yang berbeda diduga dapat mempengaruhi rasio
pembentukan anakan lobster yang berkelamin jantan.

E. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengetahui umur larva yang paling efektif dalam pembentukaan
monoseks jantan lobster air tawar.
2. Mengetahui kelulushidupan, berat total dan panjang total lobster air tawar
setelah perlakuan.
3. Mengetahui nilai kualitas air yang cocok selama 40 hari pemeliharaan
lobster air tawar.

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Lobster Air Tawar
1. Klasifikasi Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus)
Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) atau fresh water crayfish
merupakan salah satu genus yang termasuk ke dalam kelompok udang
tawar (Crustacea), yang secara alami memiliki ukuran tubuh besar dan
seluruh siklus hidupnya di lingkungan air tawar. Lobster air tawar
memiliki beberapa nama internasional, yaitu crawfish dan crawdad.
Berdasarkan penyebarannya di dunia, terdapat 3 famili lobster air tawar
yaitu famili Astacidae, Cambaridae, Parastacidae (Handoko, 2013).
Tubuh lobster air tawar dilapisi oleh kutikula yang mengandung zat kapur
(Gambar 1).

Gambar 1. Morfologi lobster air tawar (Cherax quadricarinatus)
(Lukito dan Prayugo, 2007).

8

Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2010), lobster air tawar capit merah
memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Subphylum

: Crustacea

Class

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Subordo

: Pleocyemata

Superfamily

: Parastacoidea

Famili

: Parastacidae

Genus

: Cherax

Spesies

: Cherax quadricarinatus

(Holthius, 1949 )

2. Anatomi dan Morfologi Lobster Air Tawar
Tubuh lobster dibagi menjadi dua bagian, yaitu kepala dada
(chepalothoraks) dan badan (abdomen) (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Gambar 2. Morfologi Lobster Air Tawar (KPH Jember, 2006)

9

Chepalothoraks diselubungi oleh karapas yang memanjang dari somit
terakhir sampai mata, kadang-kadang membentuk rostrum yang menonjol
di atas mata. Pada bagian lateral, karapas menutupi ruang branchial
sehingga melindungi insang.
Chepalothoraks terdiri atas 14 somit yang mengalami fusi, masing-masing
dengan sepasang kaki gerak, 6 somit pertama terdiri dari chepalon, dan 8
terakhir pada thoraks (Gambar 2). Kaki gerak pada thoraks mencakup
mata, antena dan antenula, mulut, serta 5 pasang kaki jalan ( Lukito dan
Prayugo, 2007).
Mata lobster air tawar cukup besar, berupa mata majemuk yang terdiri dari
ribuan mata yang didukung oleh tangkai mata (stalk). Pergerakan mata bisa
dilakukan dengan cara memanjang dan memendek. Namun pada beberapa
jenis lobster yang matanya tidak bisa digerakkan sama sekali atau bahkan
sama sekali tidak ada. Lobster air tawar memiliki 2 pasang antena (sungut),
satu pasang berukuran pendek (antennula) dan satu pasang lainnya
berukuran lebih panjang yang berada dibagian luar. Antena pendek
berfungsi sebagai sensor kimia dan mekanis, yaitu alat perasa air atau
makanan. Antena panjang berfungsi sebagai alat peraba, perasa dan
pencium. Selain itu antena juga digunakan sebagai alat proteksi (Aulina. L,
2013).
Ciri lain yang terdapat pada lobster air tawar adalah rostrumnya hampir
berbentuk segitiga memipih, lebar, dan terdapat duri di sekeliling rostrum

10

tersebut. Dilihat dari organ tubuh luar, lobster air tawar memiliki beberapa
alat pelengkap sebagai berikut :
1. Sepasang antena sebagai perasa dan peraba terhadap pakan dan
kondisi lingkungan.
2. Sepasang antenula untuk mencium pakan, 1 mulut dan sepasang
capit (cheliped).
3. Enam ruas badan (abdomen).
4. Ekor, 1 ekor tengah (telson) terletak di semua bagian tepi ekor.
serta 2 pasang ekor samping (uropod).
5. Enam pasang kaki renang (pleopod) yang berperan dalam
melakukan gerakan renang.
6. Enam pasang kaki untuk berjalan (pereiopod) (Aulia. L, 2013).
Lobster air tawar tidak memiliki tulang dalam (internal skeleton), tetapi
seluruh tubuhnya terbungkus oleh cangkang (eksternal skeleton) (Tim
Karya Tani Mandiri, 2010).
Bagian mulut pada lobster air tawar mencakup mandibel, maksila, dan
maksiliped. Mulut berfungsi untuk menghancurkan makanan dengan cara
menggerakkan dari samping kiri ke samping kanan. Pada bagian perut
terdapat 5 pasang kaki renang. Dibandingkan kaki jalan dan capit, ukuran
kaki renang jauh lebih kecil dan pendek. Pada lobster betina, 4 pasang
kaki renangnya bisa digunakan untuk memegangi telur yang melekat pada
perutnya. Masing-masing kaki tersebut akan bertautan melingkari
kumpulan telurnya. Saat menggendong telur, kaki ini terkadang bergerak

11

seperti gerakan mengipas. Gerakan tersebut dapat memberikan suplai
oksigen yang dibutuhkan untuk telur yang digendongnya (Wiyanto dan
Hartono,2003; Lukito dan Prayugo, 2007).
3. Ekologi Lobster Air Tawar
Habitat asli lobster air tawar adalah danau, rawa, atau sungai air tawar.
Di samping itu, habitat alam yang selalu ditempati lobster air tawar juga
harus dilengkapi tumbuhan air atau tumbuhan darat yang memiliki akar
atau batang terendam air dan daunnya berada di atas permukaan air.
Beberapa spesies lobster air tawar hidup dengan suhu air minimum 8◦C.
Namun banyak spesies lobster air tawar dapat hidup di lingkungan dengan
suhu air 26-30◦C (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Lobster air tawar
umumnya aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal) dan juga
termasuk jenis pemakan segala (omnivora) (Wiyanto dan Hartono, 2003).
Dalam pertumbuhannya, lobster air tawar juga melakukan proses
pergantian kulit (molting), yang merupakan proses alami yang terjadi.
Hewan tersebut mempunyai kerangka luar (eksoskeleton), sehingga perlu
mengganti kerangkanya bila badannya tumbuh membesar, karena
kerangka bagian luar yang bersifat kaku tidak ikut tumbuh. Frekuensi
molting pada lobster air tawar selalu beriringan dengan pertambahan umur
dan tingkat laju pertumbuhan. Semakin baik pertumbuhan maka akan
semakin sering melakukan molting (Lukito dan Prayugo, 2007).
Fungsi dari molting adalah untuk percepatan pertumbuhan, percepatan
pematangan gonad, dan regenerasi bagian tubuh yang cacat seperti capit

12

yang patah. Molting pertama terjadi seminggu setelah burayak
melepaskan diri dari induknya, atau sekitar berumur 2-3 minggu. Lobster
memiliki waktu molting yang bervariasi, sesuai dengan umur lobster.
Lobster yang masih muda biasanya hanya butuh waktu beberapa detik
untuk molting, sementara lobster yang lebih dewasa memerlukan waktu
sekitar 3-4 menit untuk molting (Wiyanto dan Hartono, 2003).
Proses molting merupakan proses yang rumit karena melibatkan berbagai
proses yang bersifat hormonal, ada dua jenis hormon yang bertanggung
jawab terhadap proses molting yaitu hormon ecdysis dan MIH (moult
inhibiting hormone). Ecdysis berperan dalam memicu proses molting,
sedangkan MIH berfungsi sebaliknya, yaitu menghambat proses molting.
Proses molting melalui 4 tahapan yaitu preecdysis, ecdysis, metaecdysis,
dan intramolting (Lukito dan Prayugo, 2007).
4. Perkembangan dan Ciri Kelamin Lobster Air Tawar

Lobster air tawar merupakan spesies dimorfisme, yakni terdiri dari jenis
kelamin jantan dan betina. Jenis kelamin jantan dan betina dapat
dibedakan secara pasti jika telah mencapai 2 bulan dengan panjang total
rata- rata 5 s/d 7 cm. Ciri-ciri primer pembeda jenis kelamin calon induk
lobster air tawar adalah bentuk tertentu yang terletak pada tangkai kaki
jalan dan ukuran capit, sedangkan ciri-ciri sekunder yang dapat dilihat
secara visual adalah kecerahan warna tubuhnya (Royadi, 2011).
Calon induk jantan memiliki tonjolan di dasar tangkai kaki jalan ke-5 jika
dihitung dari kaki jalan di bawah mulut disebut pethasma, sedangkan ciri

13

lobster air tawar betina adalah adanya lubang bulat yang terletak pada
dasar kaki ke-3 yaitu thelicum (Gambar 3). Berdasarkan capitnya, calon
induk jantan memiliki ukuran capit 2-3 kali lebar buku pertama (tangkai
capit) dan calon induk betina memiliki ukuran capit yang sama atau 1,5
kali buku pertama (KPH Jember, 2006).
Alat kelamin jantan
(pethasma)

Jantan (pethasma)

Alat kelamin betina
(thelicum)

betina(thelicum)

Gambar 3. Perbedaan Alat Kelamin Jantan dan Betina
Lobster Air Tawar (Lukito dan Prayugo, 2007).

5. Kualitas Dan Lingkungan Hidup Lobster Air Tawar
Udang jenis ini toleran terhadap kandungan oksigen yang sangat
rendah. Kadar oksigen terlarut dalam air yang bagus untuk lobster 2-4
mg/L. Sebenarnya dalam kadar 0,5 mg/L lobster masih bisa hidup tetapi
mengalami tekanan yang sangat besar. Setiap perubahan kadar oksigen
terlarut dalam air sebanyak 1 mg/L, baik naik maupun turun akan
membuat loster stres bahkan mati (Duniadinu, 2010). Selain itu lobster air
tawar toleran terhadap suhu sangat dingin mendekati beku, sehingga untuk
lobster yang hidup di daerah tropis biasanya dipelihara pada selang suhu

14

24-30 0C, sedangkan pertumbuhan optimum akan dicapai pada suhu 25290C (KPH Jember, 2006).
Kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan lobster air tawar yaitu sedikit
alkalin dengan kisaran pH 7-9 atau pH yang paling ideal yaitu 8.
Kesadahan (kandungan kapur) air yang diperlukan adalah sedang hingga
tinggi. Hal ini untuk menjaga kandungan kalsium terlarut cukup tinggi
untuk membantu pembentukan cangkang (Fatih. A, 2013). Apabila pH
terlalu tinggi diperlukan penambahan asam fosfor, sedangkan bila pH
rendah diperlukan penambahan kapur (CaCO3) (Setiawan, 2010).
Kesadahan air yang diperlukan adalah sedang hingga tinggi. Hal ini
diperlukan untuk menjaga kandungan kalsium terlarut yang tinggi untuk
menjamin pembentukan cangkang mereka dengan baik (KPH Jember,
2006). Kesadahan yang optimal agar lobster air tawar ini dapat hidup
dengan optimal yaitu 10-20 dH (Wiyanto dan Hartono, 2003).
Sumber air untuk pengairan terbagi menjadi dua yaitu air tanah dan air
permukaan. Bila sumber air berasal dari sungai maka harus disaring
terlebih dahulu. Sumber air yang dianggap lebih baik adalah mata air
(artesis) karena sumber airnya lebih mudah dijaga dari bahaya pencemaran
(Setiawan, 2010). Lobster air tawar bersifat sensitif terhadap beberapa
bahan kimia perairan yaitu,
1. Klorin (Cl) dengan kadar tinggi terutama pada individu lobster muda
dapat dicegah dengan air yang didiamkan terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk pemeliharaan.

15

2. Merkuri (Hg) karena lobster dapat mengakumulasi Hg dalam kadar
tertentu, sehingga hewan ini sering dijadikan sebagai indikator
pencemaran lingkungan.
3. Pestisida, terutama dari golongan organoklorin, serta residu-residu
minyak (Anonim, 2010).

B. Teripang Pasir

1. Klasifikasi Teripang Pasir (Holothuria scabra)
Teripang pasir (Holothuria scabra) adalah kelompok hewan invertebrata
laut dari kelas Holothuroidea (Filum Echinodermata), tersebar luas di
lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut
dalam terutama dilautan India dan lautan Pasifik Barat. Sekitar 1250 jenis
teripang telah didiskripsikan, dibedakan dalam enam ordo yaitu
Dendrochirotida, Aspidochirotida, Dactylochirotida, Apodida, Molpadida,
dan Elasipoda (Johan, 2013). Beberapa jenis hidup membenamkan diri
dalam pasir dan hanya menampakkan tentakelnya. Jenis-jenis teripang
komersil biasanya hidup pada substrat pasir, substrat keras, substrat kricak
karang dan substrat lumpur (Darsono, 2005).
Klasifikasi teripang pasir menurut Sutaman (1993) adalah sebagai berikut:
Phylum

: Echinodermata

Sub phylum

: Echinozoa

Class

: Holothuroidea

Subclass

: Aspidochirotacea

16

Ordo

: Aspidochirota

Family

: Holothuridae

Genus

: Holothuria

Species

: Holothuria scraba

Teripang memiliki tiga kaki tabung pada tiga bagian ventral tubuh untuk
berjalan dan dilengkapi dengan mangkuk penghisap seperti pada kelas
Asteroidea, memiliki tentakel berbentuk kaki tabung di sekeliling mulut
tanpa adanya pediselaria dan duri. Hewan ini memiliki alat respirasi
berupa alat bercabang yang terdiri dari banyak tabung, serta memiliki
daerah rektum dan kloaka yang dapat menggembung dan mengerut untuk
menghisap air ke dalam anus dan mendorongnya ke atas menuju tabung
respirasi. Selanjutnya oksigen diekstrak dari sejumlah air yang diabsorbsi
dari tabung ke tubuh untuk membangun bentuk tubuh melalui prinsip
tekanan (Gambar 4) (Romimohtarto dan Juwana, 2005).

Gambar 4. Morfologi Teripang Pasir (Holothuria scabra)
(Satrio. A, 2009).

17

Gonad pada teripang pasir terletak pada satu sisi tubuh dan membuka ke
arah dorsal pada ujung belakang anterior tubuh melalui gonophore
tunggal. Sistem pohon respiratori untuk keperluan pernapasan terletak
pada bagian posterior tubuh dan membuka ke arah kloaka. Keseluruhan
dinding tubuh teripang pasir mencakup 56% dari total berat tubuh
(Aquafarm, 2009). Keistimewaan spesies-spesies dari kelas ini adalah
perilaku mengeluarkan sebagian besar isi perut melalui anus dan mulut
jika dipegang secara kasar (Romimohtarto dan Juwana, 2005).

Teripang pasir dapat bergerak dengan bantuan kaki tabung berjumlah 10
buah yang terdistribusi pada bagian ventral serta melalui pergerakan otot
pada dinding tubuh. Habitat umum teripang adalah ekosistem terumbu
karang. Hewan ini menyukai perairan bersih dan jernih dengan
salinitas 30 - 33 ppt dengan dasar perairan berpasir halus dengan tanaman
pelindung, terlindung dari hempasan ombak, dan lingkungan hidupnya
kaya akan detritus. Makanan utamanya berupa detritus dan zat organik
dalam pasir, serta makanan pelengkapnya berupa plankton, bakteri dan
berbagai biota mikroskopis (Arisandi, 2007).

2. Biologi Teripang Pasir
Teripang merupakan salah salah satu hewan berduri, tetapi tidak semua
teripang memiliki duri. Duri pada teripang merupakan rangka atau skelet
yang terdiri dari zat kapur. Badan teripang pasir berbentuk bulat panjang
dan lunak. Pada bagian perut berwarna kuning dan bagian punggung
berwarna abu-abu sampai kehitaman dengan garis berwarna hitam yang

18

melintang sepanjang punggungnya. Hewan ini memiliki struktur kulit
yang kasar, dan biasa ditemukan di sela-sela karang yang masih hidup atau
sudah mati dengan dasar yang berpasir (Martoyo et al, 1994).
Hewan ini merupakan salah satu hewan filum Echinodermata yang
semuanya hidup di laut. Bentuk tubuh dari anggota kelas ini tidak
berlengan, lembek, mulut dan anus berada di daerah yang berlawanan.
Mulut terletak pada ujung anterior dan anus pada ujung posterior (aboral).
Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang sebanyak 10 sampai
30 buah. Tentakel dapat disamakan dengan kaki tabung bagian oral pada
Echinodermata lainnya. Tiga baris kaki tabung di bagian ventral
digunakan untuk bergerak dan dua baris di bagian dorsal berguna untuk
melakukan pernafasan. Memiliki banyak endoskeleton yang tereduksi.
Tubuhnya juga memanjang tertutup oleh kulit yang berkutikula dan tidak
bersilia di bawah kulit terdapat dermis yang mengandung osikula, selapis
otot melingkar, dan 5 otot ganda yang memanjang (Pratiwi, 2010).
Teripang memiliki 2 mulut yang terdapat dikedua ujung bagian tubuhnya
yaitu bagian kepala dan anus, dan memiliki kaki tabung yang jumlahnya
tiga pada bagian ventral untuk berjalan yang dilengkapi dengan tabung
penghisap seperti pada kelas Asteroidea. Teripang memiliki alat respirasi
yang berbentuk tabung dan bercabang, dengan perolehan oksigen dari
hasil penggembungan dan mengkerut dari tubuh teripang tersebut,
sehingga dapat menyerap air dari anusnya dan mendorong ke tabung
respirasi (Rumimohtarto dan Juwana, 2005).

19

Teripang pasir dapat tumbuh sampai ukuran 40 cm dengan bobot 1,5 kg.
Kematangan gonad hewan air berumah dua (diocieaus) ini pertama kali
terjadi pada ukuran panjang rata-rata 220 mm. Seekor teripang betina
mampu menghasilkan telur dalam jumlah yang sangat banyak hingga
mencapai 1,9 juta butir telur. Daur hidup hewan ini dimulai dengan telur
yang dibuahi yang akan menetas dalam waktu sekitar 2 hari (Hobikan,
2009).
3. Habitat Dan Penyebaran Teripang Pasir
Teripang pasir memiliki penyebaran yang cukup luas di Indo-Pasifik, yaitu
Madagaskar, Asia dan Australia (Chrism, 2010). Di Indonesia sendiri
penyebaran juga cukup luas yaitu meliputi perairan pantai Madura, Aceh,
Bali, Lombok, Bengkulu, Bangka, Riau dan sekitarnya, Maluku,
Kalimantan (bagian Barat, Selatan, dan Timur), Sulawesi Timur, dan
kepulauan Seribu (Martoyo et al, 1994). Teripang ditemukan dalam
jumlah besar dan terlindung pasir dangkal di daerah tropis (Kithakeni dan
Ndaro, 2002).
Pada habitatnya, ada jenis teripang yang hidup berkelompok dan ada pula
yang hidup soliter (sendiri) misalnya, teripang putih membentuk
kelompok antara 3 - 10 ekor dan Holothuria nobilis hidup berkelompok
antara 10 - 30 ekor. Makanan utama teripang adalah organisme-organisme
kecil, detritus (sisa-sisa pembusukan bahan organik), Diatomae, Protozoa,
Nematoda, Alga, Kopepoda, Ostrakoda, dan rumput laut. Jenis makanan
lainnya adalah Radiolaria, Foraminifera, partikel-partikel pasir ataupun

20

hancuran-hancuran karang, dan cangkang-cangkang hewan lainnya
(Darsono, 2005).

4. Biokimia Teripang Pasir

Teripang kaya akan zat yang mampu menstimulasi pertumbuhan sehingga
dapat memperbaiki sel-sel rusak. Kandungan protein mencapai 82% dan
asam lemak essensial mujarab memperkuat sel hati untuk mengeluarkan
antibodi, sehingga teripang (gamat) kerap disebut imunomodulator yaitu
cara memperbaiki fungsi sistem imun tubuh dengan menggunakan bahan
yang merangsang atau meningkatkan kerja imun tersebut. Teripang
mempunyai kandungan kolagen yang tinggi, dan mampu melakukan
regenerasi sel secara singkat. Ekstrak teripang larut dalam air dan
langsung dapat diserap di hati tanpa mengalami detoksifikasi (Bisnis
UKM, 2011). Menurut Subroto dalam Bisnis UKM (2011), teripang
memiliki kandungan protein yang tinggi mencapai 82%, dan baik
diberikan pada penderita diabetes karena akan meningkatkan kinerja
insulin untuk meregenerasi sel β pankreas.
Teripang memiliki nilai penting sebagai sumber biofarma potensial
maupun makanan kesehatan. Kandungan kimia teripang basah terdiri dari
44-45 % protein, 3-5 % karbohidrat dan 1,5-5% lemak. Teripang-juga
mengandung asam amino esensial, kolagen dan vitamin E. Kandungan
asam lemak penting teripang adalah asam eikosapentaenoat (EPA) dan
asam dekosaheksaenoat (DHA) yang berperan dalam perkembangan saraf
otak dan agen penyembuh luka dan antitrombotik (Ramadhan, 2008).

21

C. Sex Reversal (Pembalikan Kelamin)
Sex reversal merupakan cara pembalikan arah perkembangan kelamin ikan
yang seharusnya berkelamin jantan diarahkan perkembangannya menjadi
betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan pada saat sebelum terjadi
diferensiasi seksual secara jelas antara jantan dan betina pada waktu menetas.
Sex reversal merubah phenotip ikan tetapi tidak merubah genotipnya
(Masduki, 2010).

Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan
melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung) (Aquakultur, 2011). Pada
terapi langsung hormon androgen dan estrogen mempengaruhi phenotip tetapi
tidak mempengaruhi genotip. Metode langsung dapat diterapkan pada semua
jenis ikan apapun pada seks kromosomnya dan dapat meminimalkan jumlah
kematian ikan. Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam
dikarenakan perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama, misalkan
pada ikan hias, nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan :
50% betina pada pemijahan pertama, dan 30% jantan : 50% betina pada
pemijahan berikutnya (Aquakultur, 2011).

Menurut Tripod (2010) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ada beberapa
keuntungan dan kerugian dalam teknik sex reversal, yaitu:

Keuntungannya adalah

1. Teknologi ini dapat menghasilkan ikan-ikan jantan secara massal.
2. Penerapan teknologi ini relatif mudah.

22

3. Biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar dibanding hasil yang
bisa didapat.
4. Menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan
ikan jantan.
5. Teknologi ini juga digunakan untuk mendapatkan induk jantan
super (YY), yang selanjutnya dapat menghasilkan anak ikan
dengan jenis kelamin jantan semua.

Kerugiannya adalah

1. Teknologi ini bersifat spesifik, sehingga dalam penerapannya harus
tepat, jenis dan dosis hormon, lama perendaman, serta waktu mulai
perendaman.
2. Pemberian dosis hormon yang kurang tidak akan mempengaruhi
jenis kelamin ikan, sementara pada pemberian hormon yang
berlebihan dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi dan
atau ikan keturunan menjadi steril.
3. Ikan jantan yang dihasilkan melalui proses sex reversal tidak bagus
bila dijadikan induk.

D. Hormon Steroid Teripang Pasir

Senyawa steroid teripang kelas Holothuroidea belum banyak diteliti. Saat ini
baru sekitar 20 senyawa dari 1200 jenis steroid yang terisolasi. Beberapa jenis
steroid teripang yang sudah teridentifikasi antara lain steroid teripang
Holothuria scabra dari Vietnam, teripang Pseudostichopus trachus,

23

Holothuria nobilis, Trochostoma orientale dan Bathyplotes natans, teripang
Synapta maculate, Cladolabes bifurcatus dan Cucumaria sp dan teripang
Stichopus mollis. Jenis asam amino dalam teripang seperti saponin, sterol
bebas dan sterol yang berikatan (triterpen glukosida), mempunyai banyak
kegunaan bagi kesehatan. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa
senyawa tersebut pada teripang mempunyai aktifitas antitoksik, antibakteri
pada teripang Cucumaria frondosa, anti jamur pada teripang Psolus
patagonicus, anti tumor dan mempunyai aktivitas anti inflamasi (Artikel
Kimia, 2010).

Penelitian Riata (2010) menunjukkan 4 senyawa bioaktif yang merupakan
steroid dominan yang ditemukan dalam jenis Holothuria scabra atau teripang
pasir. Senyawa steroid tersebut yaitu :

1. 24-ethylidenecholest-25-en-ol mempunyai rumus molekul
C29H48O. Senyawa ini juga ditemukan pada Bathyplotes natans
(teripang) dan juga terisolasi dari koral Sinularia gyropsa.
2. Lanost-9 (11)-en-3-ol mempunyai rumus molekul C30H52O dikenal
juga dengan sebutan dihydroparkeol yang mempunyai efek
mencegah reaksi inflamasi, infeksi bakteri, arterosklerosis, dan
juga kanker.
3. Cholestane-3,4,6,15,24-pentol atau 28-O-(4-O-Methyl-Dxylopyranoside) atau certonardoside H2 ini mempunyai rumus
molekul C34H40O9. Senyawa ini merupakan suatu senyawa
saponin, yaitu steroid yang berikatan dengan monosakarida atau

24

disakarida. Pada senyawa ini monosakarida yang terikat adalah
xylosa, senyawa ini mempunyai aktivitas sitotoksik. Senyawa
certonardoside H2 ini juga ditemukan pada bintang laut
Certonardoa semiregularis.
4. 24-O-[2,4-Di-O-methyl-D-xylopyranosyl-(12)-d-xylofurinoside]
atau disebut juga certonardoside H1 atau culcitoside ini,
mempunyai rumus molekul C39H68O13, merupakan suatu senyawa
saponin, dimana pada senyawa tersebut terikat disakarida yang
terdiri dari xylosa dalam bentuk furanosa dan piranosa.
Culcitoside juga ditemukan pada bintang laut jenis Certonardoa
semiregularis, senyawa ini mempunyai aktivitas sitotoksik.

25

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksananakan pada bulan Juli – September 2013 di
laboratorium penelitian Biologi Akuatik Gedung MIPA Terpadu Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.
B. Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bak fiber untuk
pemeliharaan induk lobster dengan kapasitas volume 100 liter. Bak fiber
untuk pemijahan dan aklimasi dengan kapasitas volume air 48 liter. Bak kaca
untuk perlakuan dan pengamatan dengan kapasitas volume 5 liter. Loop
untuk pengamatan morfologi lobster larva. Cawan petri untuk wadah
pengamatan morfologi lobster. Neraca digital untuk pengukuran berat tubuh
larva lobster. Milimeter block dan jangka sorong untuk pengukuran panjang
tubuh larva lobster. Pengukuran kualitas air menggunakan pHmeter untuk
mengukur pH, DO meter untuk mengukur oksigen terlarut/dissolved oxygen
(DO), termometer untuk mengukur suhu air, dan refraktometer untuk
mengukur salinitas. Pengeringan ekstrak steroid teripang menggunakan
rotary vacum evaporator. Labu ukur 500 mL dan gelas becker 250 mL untuk
wadah ekstrak steroid teripang. Lembar kerja untuk pencatatan data

26

parameter pengamatan dan kalkulator untuk perhitungan dan hasil
pengamatan.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah hewan uji berupa larva
lobster air tawar capit merah (Cherax quadricarinatus) dengan perlakuan
umur larva yang berbeda 0, 7, 14 dan 21 hari. Ekstrak organ dalam teripang
pasir (Holothuria scabra) yang digunakan sebagai sumber ekstrak steroid.
Pakan berupa cacing sutera dan pelet. Air media pemeliharaan dalam bak
pengeraman, bak pemijahan aklimasi, maupun bak perlakuan, etanol, aseton,
dietil eter, fenol ftelin, dan kalium hidroksida untuk ekstraksi teripang.
C. Prosedur Penelitian
1. Persiapan Tempat dan Air Media Pemeliharaan
1. Media pemeliharaan dilakukan dengan mempersiapkan bak
pengeraman dan pemijahan aklimasi. Seluruh bak berukuran (63 x 40 x
40) cm3 dengan pembagian sebagai berikut:
a. Bak pemeliharaan lobster berjumlah 3 unit dengan pengisian air
sebanyak 50 liter dan jumlah lobster per bak yaitu 3 ekor (1 jantan
dan 2 ekor betina).
b. Bak pengeraman induk lobster berjumlah 3 unit dengan pengisian air
50 liter dengan jumlah induk 1 ekor yang sudah siap menetas.
c. Bak pemijahan aklimasi berjumlah 1 unit dengan pengisian air 20
liter.
2. Air untuk media pemeliharaan yang disiapkan berupa air sumur.

27

2. Pengeraman Telur Lobster dan Aklimasi Larva Lobster
Pengeraman telur lobster dilakukan selama 3-5 minggu dengan kondisi
pemeliharaan bak induk disesuaikan dengan kehidupan optimal lobster di
alam. Pemisahan anakan dilakukan pada saat telur lobster telah menetas
menjadi larva pada abdomen induk dan larva sudah tampak lepas dari
abdomen induknya pada bak pemijahan. Selanjutnya aklimasi dilakukan
pada larva lobster pada umur yang berbeda dengan pemberian pakan,
suplai oksigen, dan sanitasi bak yang dianggap memadai.
3. Pembuatan Ekstrak Steroid Teripang
Pembuatan ekstrak steroid teripang dilakukan dengan cara mengekstraksi
lemak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol dengan
perbandingan teripang dan etanol 1 : 2. Lemak yang diperoleh kemudian
disabunkan menggunakan kalium hidroksida 1 M dan dilakukan refluks
dengan suhu 700 C selama 1 jam. Untuk mendapatkan ekstrak steroid
dilakukan ekstraksi menggunakan pelarut dietil eter sebanyak tiga kali.
Pengeringan ekstrak steroid teripang dilakukan dengan menggunakan
rotary vacum evaporator pada suhu 550C (Riata, 2010).
4. Seleksi Larva Lobster
Seleksi larva lobster air tawar dilakukan dengan melihat ciri-ciri morfologi
lobster larva tersebut, seperti panjang tubuh dan kelengkapan organ.
Larva yang diseleksi yaitu larva yang berumur 0-3 minggu setelah
pemijahan.

28

5. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam bak pemeliharaan larva lobster air
tawar, yang diberi perlakuan perendaman ekstrak steroid teripang dengan
umur larva yang berbeda yaitu 0, 7, 14 dan 21 hari pada konsentrasi 2 ppm
serta lama perendaman 18 jam. Kepadatan larva dalam bak pemeliharaan
yaitu 20 ekor per 4 liter air. Setelah dilakukan perendaman dengan umur
larva yang berbeda (0, 7, 14 dan 21 hari), lobster dipelihara selama 40 hari
dengan kepadatan 20 ekor per 4 liter air. Selama pemeliharaan lobster
diberi pakan berupa pelet yang sudah dihancurkan dengan pemberian
pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore. Setelah itu dilakukan pengamatan
parameter yaitu parameter utama meliputi pembentukan kelamin jantan
yang diamati setiap 10 hari sekali dan kelulushidupan pada awal dan akhir
pengamatan, serta parameter penunjang yaitu laju pertumbuhan yang
diamati setiap 10 hari sekali dan pengukuran kualitas air pada pagi dan
sore hari selama pemeliharaan.
a. Parameter Utama
1. Jumlah pembentukan alat kelamin jantan yang diamati secara
morfologi. Pengamatan jenis kelamin jantan dilakukan dengan
menggunakan loop berdasarkan ciri-ciri yang ada yaitu memiliki
pethasma yang terdapat di kedua pangkal pereiopod kelima.
Pengamatan dilakukan 20 hari sekali setelah pemberin hormon
steroid teripang.

29

Menurut Effendi (1979), rasio pembentukan kelamin jantan dapat
ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut :
J (%) = (A/T) x 100%
Keterangan : J = presentase jenis kelamin jantan (%)
A = jumlah lobster berkelamin jantan
T = jumlah sampel lobster yang diamati

2. Survival rate (kelulushidupan) dimana menentukan jumlah larva
lobster yang mati dari awal perlakuan sampai akhir penelitian.
Selanjutnya dapat ditentukan dengan menghitung rasio
kelulushidupan dengan rumus sebagai berikut :
SR (%) =

x 100%

Keterangan :
SR = survival rate / rasio kelulushidupan larva (%)
Nt = total lobster hidup pada akhir penelitian
No = total lobster hidup pada awal penelitian
(Effendi,1979).
b. Parameter Penunjang
1. Pertumbuhan lobster air tawar dihitung setiap 10 hari dimulai setelah
pemberian perlakuan terhadap 20 sampel larva, dimana yang
dihitung yaitu pertambahan panjang dan berat larva lobster air tawar.
Pertambahan panjang diukur dengan milimeter blok dan jangka

30

sorong (sesuai dengan ukuran larva lobster), sedangkan pertambahan
berat tubuh larva lobster ditimbang dengan neraca O’Hauss,
kemudian rata – rata pertumbuhan yang dihitung berdasarkan waktu
pemeliharaan. Menurut Tacon (1987) untuk menentukan
pertumbuhan lobster air tawar dapat dilakukan perhitungan sebagai
berikut :
SGR=

x 100 %

Keterangan :
SGR = Standard Growth Rate / laju pertumbuhan standar larva
Wt = berat tubuh larva pada pengamatan terakhir
Wo = berat tubuh larva pada pengamatan awal
T = waktu antar pengamatan
2. Jumlah lobster yang cacat atau mengalami kelainan morfologi
diamati dengan menggunakan loop pada hari ke 40, kemudian
dihitung presentase lobster yang cacat dengan menggunakan
perhitungan menurut Sarida (2008), sebagai berikut :
C (%) = (A / T) x 100%
Keterangan :
C = presentase lobster cacat (%)
A = jumlah lobster cacat
T = jumlah sampel lobster yang diamati

31

3. Pengukuran kualitas air diamati 2 kali sehari pada pukul 06.00 WIB
dan 17.00 WIB yang meliputi:
1. Dissolved oxygen (DO) yang diukur dengan DO meter
elektrik.
2. pH yang diukur dengan pH meter elektrik.
3. suhu yang diukur dengan termometer.
4. salinitas air yang diukur dengan refraktometer.

6.

Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental
dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan umur larva yang berbeda
sebagai kelompok yaitu 0, 7, 14, dan 21 hari dengan perlakuan pemberian
ekstrak steroid teripang pasir (Holothuria scabra) dengan dosis 2 ppm dan
dilakukan perendaman selama18 jam. Masing – masing perlakuan diulang
sebanyak 4 kali, dan setiap akuarium digunakan untuk memelihara 20 ekor
larva. Data hasil perlakuan akan diuji dengan analisis ragam (Anara) dan jika
terdapat perbedaan nyata maka diuji dengan uji BNT (Beda Nyata Terkecil)
dengan taraf α-0,05 (Gasper’s, 1991).

V. KESIMPULAN
Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang penggunaan ekstrsak steroid teripang
pasir pada umur larva yang berbeda terhadap keberhasilan pembentukan
monoseks jantan lobster air tawar, maka dapat disimpulkan.
1. Umur larva lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang paling efektif
dalam pembentukan monoseks jantan adalah 14 hari sebesar 93,25%.
2. Kelulushidupan lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) tertinggi pada
kontrol 86% dan umur 21 hari 75%, sedangkan terendah pada larva umur 0
hari 26%.
3. Berat total lobster air tawar tertinggi pada umur 21 hari (2,0125 gr) dan
panjang total lobster air tawar tertinggi pada umur 14 (3,89 cm) dan 21
hari (3,9025 cm).
4. Kualitas air selama 40 hari pemeliharaan masih dalam kisaran baik yaitu
suhu 27,71 – 28,45 oC, DO 5,77 – 7,71 mg/L dan pH yaitu 6,05 – 6,81.
Saran
Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah :
dilakukan penelitian lanjutan dengan lobster air tawar (Cherax
quadricarinatus) khusus umur 14 hari dengan konsentrasi steroid teripang
pasir yang beragam.

50

DAFTAR PUSTAKA

Affandi,R., dan U. Tang. 2006. Fisiologi Hewan Air. Universitas Riau . Riau. 217p.
Anonim. 2010. Seri Budaya Ternak :Pedoman Budidaya Lobster Air Tawar.
Nuansaaulia. Bandung.

Aquafarm. 2009. Sand fish. http://www.aquafarm.biz/index.php?s=11&x=1.
Diakses pada Selasa, 15 Maret 2011, pukul 10.05 WIB.
Aquakultur, B. 2011. Seks Reversal. http://riradevhinya.blogspot.com/2011/03/
seks-reversal.html. diakses pada tanggal 06 Oktober 2011
pada pukul 11.38 WIB.
Arisandi, A.2007. Efektivitas Ekstrak Steroid Teripang Untuk Memanipulasi
Kelamin Udang Galah. Thesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Artikel Kimia. 2010. Identifikasi Steroid Teripang Pasir (Holothuria scabra)
Indonesia. http://www.artikelkimia.info/identifikasi-steroid-teripang-pasirholothuria-scabra-indonesia-03522102102011. Diakses pada 06 Oktober
2011 pukul 22.36 WIB.
Aulina, L. 2013. Anatomi dan Morfologi Lobster. http://lytauliana.wordpress
com/2013/04/10/anatomi-morfologi-lobster/. Di akses 2 November 2013
15. 20 WIB.
Bisnis Indonesia. 2006. Perikanan: Pasar Lobster Air Tawar Makin Bergairah.
http://www.lobsterairtawar.com/berita_lat.htm. Diakses pada 08 Oktober
2011 pukul 22.56 WIB.
Bisnis U.K.M. 2011. Potensi Teripang dan Segudang Manfaatnya.
http://bisnisukm. com/potensi-teripang-dan-segudang-manfaatnya.html.
Diakses pada 05 Oktober pukul 01.04 WIB.
Boyd. C.E., 2003. Bottom Soil and Water Quality Management in Shrimp Ponds.
The Haworth Press, Inc. pp. 11-33.
Chrism. 2010. The Ecology of Holothuria scabra! The CUKE-SEAGRASS
Connection. http://echinoblog.blogspot.com/2010/06/ecology-ofholothuria-scabra-cuke-sea.html. Diakses pada 04 Oktober 2011 pada
20.37 WIB.

51

Cittleborough, R.G. 1975. Environmental Factors, Panulirus longipes (Milne
Edwards) Aust. J. Mar And Freswater. Res. 26 : 177-196.
Darsono, P. 2005. Teripang (Holothurians) Perlu Dilindungi. Bidang Sumberdaya
Laut, Puslit Oseanografi – Lipi, Jakarta.
Duniadinu. 2010. Kualitas Air Untuk Budidaya. http://duniadinu.blogspot.com
/2010/10/sumber-dan-kualitas-air-untuk-budidaya.html. Diakses 10
Oktober 2013pukul 12.23 WIB.
Effendi, M. S. 1979. Metode Biologi Perikanan. PT GramediaPustaka Utama.
Jakarta.
Fatih.A. 2013. Cara Mudah Budidaya Lobster Air Tawar.http://kencanalobster.
blogspot.com /2013/02/cara-mudah-budidaya-lobster-air-tawar.html.
Diakses 10 Oktober 2013 pukul 12.36 WIB.
Fulierton, D.S. 1980. Steroid dan Senyawa Terapetik Sejenis. Buku teks Wilson
dan Gisvold. Kimia Farmasi dan Medicinal Organik. Editor : Doerge R.F.
Edisi VIII, Bagian II. J.B. Lippincott Company. Philadelphia – Toronto.
USA. Hal. 675-754.
Gasper’s, V., 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung.
Guerrero, R.D. 1982. Sex Use of Androgens for The Production of All Male
Tilapia aurea (Steindachner). Reprinted from Transaction of The
American Fisheries Society. Vol. 104.
Hakim, R.R.2008. Peningkatan Keberhasilan Pembentukan Monosex Jantan
Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) Melalui Pemberian Hormon
Metiltestosteron dengan Lama Perendaman yang Berbeda. Jurusan
Perikanan Fakultas Pertanian-Peternakan. Universitas Muhammadiyah
Malang. Malang.
Handajani, H. 2006. Pengujian Hormon Metiltestosteron Terhadap Keberhasilan
Monosex Jantan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Protein
Fakultas Peternakan-Perikanan UMM, Vol. 13 No. 1 Malang.
Handoko. 2013. Habitat Dan Peny

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23