PENGARUH GIBERELIN (GA 3 ) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max [L.) Merrill.)

(1)

Oleh

PIPIT DIAN PERTIWI

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN

Pada

Jurusan Agroteknologi

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDARLAMPUNG 2013


(2)

Pipit Dian Pertiwi

ABSTRAK

PENGARUH GIBERELIN (GA3) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI

(Glycine max [L.) Merrill.)

Oleh

PIPIT DIAN PERTIWI

Produktivitas kedelai di Indonesia masih rendah salah satu penyebabnya yaitu iklim tropis di Indonesia yang kurang optimal bagi pertumbuhan tanaman kedelai. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman kedelai di Indonesia yaitu dengan aplikasi zat pengatur pertumbuhan (ZPT) seperti giberelin (GA3).

Penggunaan giberelin dapat menggantikan panjang hari yang dibutuhkan oleh tanaman kedelai. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui konsentrasi giberelinyang efektif pada pertumbuhan tanaman dan produksi dua varietas tanaman kedelai, (2) mengetahui perbedaan respons dua varietas yang berbeda pada pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai, dan (3) mengetahui respons dua varietas kedelai dan konsentrasi giberelinpada pertumbuhan dan produksi

tanaman kedelai.

Perlakuan terdiri atas lima taraf konsentrasi giberelinyaitu 0, 100, 200, 300, dan 400 ppm sebagai faktor pertama dan dua varietas kedelai yaitu varietas


(3)

faktorial pada rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Kesamaan ragam data antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan aditivitas ragam data

antarperlakuan diuji dengan uji Tukey. Nilai terngah perlakuan diuji dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi giberelin 200 ppm pada varietas Tanggamus lebih baik daripada varietas Burangrang dalam variabel tinggi

tanaman sedangkan jika tanpa giberelin jumlah bunganya meningkat. Pemberian konsentrasi giberelin 200 ppm efektif dalam meningkatkan tinggi tanaman kedelai. Varietas Tanggamus memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang.


(4)

(5)

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... x

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang dan Masalah ... 1

1.2 Tujuan Penelitian ... 4

1.3 Kerangka Pemikiran ... 4

1.4 Hipotesis ... 6

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai ... 7

2.3 Peran Giberelin pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman ... 9

2.4 Peran Varietas pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman ... 12

III. BAHAN DAN METODE ... 14

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 14

3.2 Bahan dan Alat ... 14

3.3 Metode Penelitian ... 15

3.4 Pelaksanaan Penelitian ... 16

3.4.1 Persiapan Media Tanam ... 16

3.4.2 Penanaman ... 16

3.4.3 Penyulaman ... 17

3.4.4 Pemupukan ... 17

3.4.5 Pemeliharaan Tanaman ... 18

3.4.6 Aplikasi Giberelin ... 18

3.4.7 Panen ... 19


(7)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23

4.1 Hasil Penelitian ... 23

4.1.1 Pengaruh Giberelin pada Pertumbuhan dan Produksi tanaman ... 23

4.1.2 Pengaruh Varietas pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman ... 26

4.1.3 Pengaruh Interaksi antara Giberelin dan Varietas pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman ... 29

4.2 Pembahasan ... 33

V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 40

5.1 Kesimpulan ... 40

5.2 Saran ... 41

PUSTAKAACUAN ... 42

LAMPIRAN ... 45

Tabel 11--57 ... 46--70


(8)

DAFTAR GAMBAR

Tabel Halaman


(9)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Kedelai (Glycine max [L.] Merrill.) merupakan salah satu komoditas pangan terpenting ketiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan, akan tetapi produksi kedelai dalam negeri masih rendah. Menurut Badan Pusat Statistik (2012), produktivitas kedelai pada tahun 2012 adalah 1,48 t/ha sedangkan menurut Pusat Penelitian Tanaman Pangan (2012), potensi rata-rata kedelai di Indonesia adalah 1,8--2,5 t/ha. Tidak adanya

keseimbangan antara potensi dan produktivitas tanaman kedelai mengakibatkan Indonesia sangat bergantung pada impor kedelai.

Menurut Sumarno et al. (2007), rendahnya produksi tanaman kedelai di Indonesia disebabkan oleh kondisi iklim Indonesia yang kurang optimal bagi pertumbuhan tanaman kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis yang membutuhkan panjang hari 14--16 jam sedangkan Indonesia dengan iklim tropis memiliki panjang hari yang hampir konstan yaitu 12 jam. Kurangnya kebutuhan panjang hari di Indonesia menyebabkan produktivitas kedelai di Indonesia masih rendah.


(10)

2

Tanaman yang tumbuh pada wilayah yang memiliki perbedaan panjang hari satu jam atau lebih memerlukan perlakuan khusus guna mengatasi masalah panjang hari yang tidak tercukupi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan aplikasi zat pengatur pertumbuhan (ZPT) yang merupakan senyawa organik bukan hara yang diaplikasikan pada bagian tanaman dan pada konsentrasi yang sangat rendah mampu menimbulkan suatu respons fisiologis. Zat pengatur pertumbuhan yang dapat diaplikasikan yaitu asam giberelin (GA3). Menurut Salisbury dan

Ross (1995), giberelindapat menggantikan panjang hari yang dibutuhkan oleh beberapa spesies tanaman, hal ini menunjukkan adanya interaksi antara giberelin dan cahaya.

Zat pengatur pertumbuhan yang diaplikasikan pada tanaman jumlahnya harus cukup. Aplikasi zat pengatur pertumbuhan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menurut Salisbury dan Ross (1995), respons tanaman yang diberi zat pengatur pertumbuhan bergantung pada bagian tanaman yang diaplikasikan zat pengatur pertumbuhan, konsentrasi zat pengatur pertumbuhan, dan faktor lingkungan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa giberelin mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian Yennita (2002) menunjukkan bahwa pemberian giberelinmampu meningkatkan tinggi tanaman bukan hanya pada bagian ujung meristem saja, melainkan mampu meningkatkan tinggi tanaman dan buku subur pada seluruh bagian batang tanaman. Hal ini terjadi karena tanaman sangat respons terhadap giberelin sehingga mengakibatkan pertumbuhan tinggi tanaman dapat terus meningkat.


(11)

Hasil penelitian Sumarno (2007) melaporkan bahwa pemberian giberelin dengan konsentrasi 50 ppm dapat meningkatkan jumlah polong bernas dan jumlah biji pada tanaman kedelai. Permanasari (2007) melaporkan bahwa pemberian giberelin pada konsentrasi 100 ppm mampu meningkatkan jumlah biji dan berat biji per tanaman kedelai.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Syafi’i (2005) menunjukkan bahwa pemberian giberelindengan konsentrasi 120 ppm memberikan hasil tertinggi pada tinggi tanaman melon yaitu sebesar 155 cm dan berpengaruh sangat nyata

terhadap bobot berangkasan segar tanaman melon. Hasil penelitian Pandiangan dan Tiurmaida (2006) menunjukkan bahwa pemberian giberelin dengan

konsentrasi 0,15--0,2 ppm dapat meningkatkan jumlah tunas, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah akar planlet tanaman anggrek.

Pemberian giberelinperlu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai yang dihasilkan. Oleh karena itu, diperlukan percobaan untuk menjawab permasalahan berikut :

1. Berapakah konsentrasi giberelin yang efektif untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai ?

2. Apakah terdapat perbedaan respons pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai karena penggunaan dua varietas yang berbeda ?

3. Apakah terdapat perbedaan respons antara dua varietas kedelai dengan

konsentrasi giberelinyang diberikan pada pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai ?


(12)

4

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi dan perumusan masalah, tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:

1. Mengetahui konsentrasi giberelinyang efektif pada pertumbuhan tanaman dan produksi dua varietas tanaman kedelai.

2. Mengetahui perbedaan respons dua varietas yang berbeda pada pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai.

3. Mengetahui respons dua varietas kedelai dan konsentrasi giberelinpada pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai.

1.3 Kerangka Pemikiran

Rendahnya produktivitas kedelai menjadi salah satu penyebab Indonesia sangat tergantung pada hasil impor dari luar negeri. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kedelai di Indonesia yaitu kurang optimalnya kondisi iklim di Indonesia. Tanaman kedelai merupakan tanaman asli dari wilayah subtropis dengan panjang hari 14--16 jam. Indonesia merupakan wilayah tropis yang mempunyai panjang hari 12 jam. Perbedaan lamanya panjang hari ini

menyebabkan produktivitas tanaman kedelai di Indonesia kurang optimal. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah kurangnya panjang hari di Indonesia yaitu dengan aplikasi zat pengatur pertumbuhan khususnya giberelin. Aplikasi giberelin

dengan konsentrasi yang sesuai diharapkan mampu menggantikan panjang hari yang dibutuhkan oleh tanaman kedelai (Sumarno et al., 2007).


(13)

Salisbury dan Ross (1995) menyatakan bahwa giberelin dapat menggantikan panjang hari yang dibutuhkan oleh beberapa spesies tanaman. Aplikasi giberelin juga dapat memenuhi kebutuhan beberapa spesies tanaman akan masa dingin untuk menginduksi pembungaan atau agar tanaman berbunga lebih awal (vernalisasi). Aplikasi giberelin diharapkan mampu memenuhi kebutuhan panjang hari yang dibutuhkan oleh tanaman kedelai sehingga mampu mengoptimalkan proses fotosintesis.

Menurut Wattimena (1988), giberelinyang disemprotkan pada tanaman akan berpengaruh terhadap proses perpanjangan ruas batang tanaman. Hal ini

disebabkan karena terjadinya penambahan jumlah dan ukuran sel pada ruas-ruas batang tanaman. Aplikasi giberelin juga dapat memperbesar luas daun sehingga tanaman mampu berfotosintesis dengan baik. Proses fotosintesis yang berjalan dengan baik mampu menghasilkan asimilat yang baik pula. Asimilat yang dihasilkan akan diteruskan ke seluruh organ tanaman yang digunakan untuk pembelahan sel, penambahan ukuran sel, dan penggantian sel-sel tanaman yang rusak sehingga mampu menghasilkan sel tanaman yang baru yang lebih produktif. Asimilat hasil fotosintesis yang telah tersedia pada tanaman kemudian

ditranslokasikan menuju polong sehingga mampu menunjang proses pembentukan polong pada tanaman kedelai dan mampu meningkatkan jumlah polong, bobot polong serta dapat menurunkan persentase polong hampa.


(14)

6

Penggunaan varietas juga dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Varietas dengan potensi hasil yang tinggi umumnya memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi yang lebih baik bila dibandingkan dengan varietas yang memiliki potensi hasil yang rendah.

Varietas Burangrang dan Tanggamus merupakan salah satu varietas kedelai yang memiliki potensi hasil yang cukup tinggi. Berdasarkan Pusat Penelitian Tanaman Pangan (2012), varietas Burangrang memiliki potensi produksi sebanyak 1,6--2,5 t/ha dan varietas Tanggamus memiliki potensi produksi sebanyak 1,22 t/ha. Aplikasi giberelin dengan konsentrasi yang optimal pada varietas kedelai dengan potensi produksi yang cukup tinggi diharapkan mampu berinteraksi satu sama lain sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai.

1.4 Hipotesis

Dari kerangka pemikiran yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut:

1. Pemberian konsentrasi giberelin yang efektif pada tanaman kedelai akan menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman meningkat.

2. Dua varietas kedelai yang digunakan akan menghasilkan perbedaan respons pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai..

3. Pengaruh konsentrasi giberelinpada pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai akan dipengaruhi oleh varietas dan sebaliknya.


(15)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai

Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar, sejumlah akar sekunder, dan cabang akar adventif yang tumbuh dari bagian bawah hipokotil. Panjang akar tunggang ditentukan oleh berbagai faktor seperti kekerasan tanah, populasi tanaman, dan varietas. Akar tunggang pada tanaman kedelai dapat mencapai kedalaman 200 cm. Tanaman kedelai mempunyai kemampuan untuk membentuk bintil akar yang mampu menambat nitrogen. Bintil akar yang telah matang akan berwarna merah muda yang disebabkan oleh adanya leghemoglobin yang diduga aktif menambat nitrogen, sebaliknya bintil akar yang sudah tidak aktif akan berwarna hijau (Sumarno et al., 2007).

Tanaman kedelai dikenal dengan dua tipe pertumbuhan batang yaitu determinit

dan indeterminit. Jumlah buku pada batang akan bertambah sesuai pertambahan

umur tanaman, tetapi pada kondisi normal jumlah buku berkisar antara 15--20 buku dengan jarak 2--9 cm. Batang tanaman kedelai ada yang bercabang dan ada pula yang tidak bercabang tergantung dari karakter varietas kedelai (Adisarwanto, 2008).


(16)

8

Tanaman kedelai mempunyai 4 tipe daun, yaitu 1) kotiledon, 2) daun primer sederhana yaitu daun pertama keluar dari buku sebelah atas kotiledon, 3) daun bertiga yang terdiri dari tiga helai anak daun dengan bentuk oval atau segitiga tergantung dari varietas, dan 4) profila yang terletak pada tiap pangkal cabang dan tidak bertangkai (Yennita, 2002).

Bunga tanaman kedelai umunya berwarna putih atau ungu muda serta mempunyai 5 mahkota dan 4 kelopak. Bunga tanaman kedelai mempunyai 10 benang sari, 9 di antaranya bersatu pada bagian pangkal dan membentuk seludang yang

mengelilingi putik. Benang sari yang ke-10 terpisah pada bagian pangkalnya dan seolah-olah menjadi penutup seludang dan bila putik dibelah di dalamnya terdapat bakal biji (Yennita, 2002).

Tanah yang sesuai untuk usaha tani kedelai adalah tanah yang bertekstur liat berpasir, liat berdebu berpasir, debu berpasir, drainase baik, mampu menahan kelembaban tanah, dan tidak mudah tergenang air. Kandungan bahan organik tanah (3--4%) sangat mendukung pertumbuhan tanaman kedelai (Sumarno et al.,

2007).

Panjang hari di daerah tropis umumnya berkisar antara 11--12 jam/hari, sementara di daerah subtropis panjang hari berkisar antara 14--16 jam/hari. Lamanya

panjang hari merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas kedelai di wilayah tropis. Hal ini terkait dengan sifat tanaman kedelai yang peka terhadap lama penyinaran sinar matahari.


(17)

Selama pertumbuhan tanaman kebutuhan air menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kebutuhan air tanaman berkisar antara 350--550 mm (Adisarwanto, 2008). Interaksi antara suhu, intensitas radiasi matahari, dan kelembaban tanah sangat menentukan laju pertumbuhan tanaman kedelai. Suhu tinggi berasosiasi dengan transpirasi yang tinggi. Suhu yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman kedelai berkisar antara 22--27º C (Sumarno et al., 2007).

2.3 Peran Giberelin pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

Menurut Yennita (2002), penggunaan zat pengatur pertumbuhan pada tanaman sangat kritis karena setiap zat pengatur pertumbuhan hanya akan efektif apabila digunakan dengan dosis yang tepat, terhadap tanaman yang tepat dan kondisi lingkungan yang sesuai serta fase pertumbuhan tertentu.

Kemampuan khusus yang dimiliki giberelin yaitu untuk memacu pertumbuhan tanaman, terutama tanaman kerdil atau tanaman dwitahunan yang berbentuk

roseta (mempunyai ruas pendek). Aplikasi giberelinmampu membuat tanaman

kacangan semak pendek menjadi tinggi menjalar ke atas. Selain itu, giberelin juga mampu meningkatkan tinggi tanaman padi, jagung, dan kapri (Salisbury dan Ross, 1995).

Menurut Salisbury dan Ross (1995), giberelin merupakan ekstrak dari Gibberella

fujikuroi. Semua giberelin merupakan turunan rangka ent-giberelan. Semua

giberelin bersifat asam dan dinamakan asam giberelat dengan penomoran yang berbeda untuk membedakannya. Molekul giberelin mengandung Gibban Skeleton


(18)

10

yaitu yang mengandung 19 atom karbon dan 20 atom karbon dan bergabung dalam sistem cincin 4 atau 5, kadang-kadang mempunyai 1 atau lebih grup karboksil, gugus H, atau OH, dan giberelin ini diberi nama dari 1--84. Giberelin mempunyai satu gugus karboksil yang melekat pada karbon 4, sehingga semuanya dapat disebut giberelat. Jumlah gugus hidroksil pada cincin A, C, dan D berkisar antara 0--4, dengan karbon 3 atau karbon 13, atau keduanya paling sering

terhidroksilasi.

Menurut Wattimena (1988), kebanyakan tanaman memberikan tanggapan terhadap pemberian giberelin. Hal ini dapat terlihat dengan adanya perubahan panjang batang tanaman. Pengaruh yang paling utama yaitu dalam perpanjangan ruas batang tanaman yang disebabkan oleh bertambahnya ukuran dan jumlah sel-sel yang ada pada ruas-ruas tanaman tersebut.

Giberelinaktif dalam aktivitas metabolisme tanaman. Giberelin dihasilkan oleh embrio kemudian ditranslokasikan ke lapisan aleuron sehingga menghasilkan enzim amilase. Proses selanjutnya yaitu enzim tersebut masuk ke dalam

endosperm dan terjadilah perubahan pati menjadi gula dan menghasilkan energi yang berguna untuk aktivitas sel dan pertumbuhan. Tahapan ini merupakan tahapan akhir dari dormansi biji. Salah satu efek giberelinadalah mendorong pemanjangan sel pada biji sehingga radikula dapat mendobrak endosperma, kulit biji yang dapat membatasi pertumbuhannya (Salisbury dan Ross, 1995).


(19)

Penelitian Sumarno (2007) menunjukkan bahwa pemberian giberelin dengan konsentrasi 50 ppm pada kedelai Wilis mampu meningkatkan tinggi tanaman dibanding kontrol. Pemberian giberelin dengan konsentrasi 50 ppm pada umur 3 dan 6 minggu setelah tanam dapat meningkatkan jumlah polong bernas dan jumlah biji pada kedelai.

Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Wahyu, Solichatun, dan Sugiyarto (2008) menunjukkan bahwa perlakuan giberelin dengan konsentrasi 50 ppm menghasilkan pertumbuhan tanaman yang tertinggi yang ditunjukkan oleh variabel tinggi tanaman, berat basah dan berat kering tanaman garut. Hasil penelitian Annisah (2009) menunjukkan bahwa induksi giberelindengan

konsentrasi 150 ppm mampu menghasilkan panjang buah terbesar dan konsentrasi giberelin 100 ppm mampu menghasilkan bobot buah terbesar pada tanaman semangka.

Respons tanaman terhadap zat pengatur tumbuh, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: jenis zat pengatur tumbuh yang digunakan, musim sewaktu

pemberian, varietas tanaman, keadaan lingkungan sewaktu pemberian, stadia pertumbuhan, dan konsentrasi zat pengatur tumbuh tersebut (Wattimena, 1988). Pernyataan tersebut juga didukung oleh Ratna (2008) yang menyatakan bahwa pengaruh dari suatu zat pengatur pertumbuhan bergantung pada spesies tanaman, tahap perkembangan tanaman, dan konsentrasi zat pengatur pertumbuhan. Suatu zat pengatur pertumbuhan tidak bekerja sendiri dalam mempengaruhi

pertumbuhan dan perkembangan tanaman, pada umumnya keseimbangan konsentrasi yang akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tanaman.


(20)

12

2.3 Peran Genotipe pada Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

Genotipe memegang peranan penting dalam perkembangan tanaman, karena untuk mencapai produktivitas yang tinggi sangat ditentukan oleh potensi daya hasil dari varietas unggul yang ditanam. Potensi hasil di lapangan dipengaruhi pula oleh interaksi antara faktor genetik (genotipe) dan kondisi lingkungan tumbuh yang ada di sekitar pertanaman. Pengelolaan lingkungan tumbuh yang kurang baik dapat menyebabkan potensi daya hasil yang tinggi dari varietas unggul tersebut tidak akan tercapai. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal memilih varietas yaitu umur panen, produksi, tingkat adaptasi terhadap lingkungan tumbuh yang tinggi (Adisarwanto, 2008).

Suprapto dan Narimah (2007) menyatakan bahwa penggunaan varietas unggul mampu meningkatkan produktivitas tanaman dikarenakan memiliki keragaman genetik yang tinggi. Keragaman genetik pada setiap varietas kedelai berbeda-beda. Keragaman genetik pada varietas unggul cenderung memiliki lebih banyak sifat baik sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman.

Zahrah (2011) menyatakan bahwa setiap tanaman memiliki banyak varietas. Masing-masing varietas dari setiap tanaman akan memberikan respons

pertumbuhan dan tingkat produksi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan setiap varietas tanaman mempunyai keragaman genetik yang berbeda-beda.

Perbedaan keragaman genetik setiap varietas dapat dilihat dari penampilan dan karakter masing-masing varietas tersebut.


(21)

Djumali (2011) juga menyatakan bahwa keragaman genetik yang dimiliki oleh setiap varietas atau kultivar tanaman berpengaruh terhadap hasil produksi. Keragaman genetik dapat digunakan sebagai salah satu tolak ukur untuk

mengetahui tingkat pertumbuhan dan produksi suatu tanaman. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemulia mengetahui keragaman genetik suatu tanaman. Mukmin dan Iskandar (2007) menambahkan bahwa keragaman genetik suatu varietas tanaman biasanya terbentuk dari hasil adaptasi yang cukup lama dengan lingkungan hidupnya.


(22)

14

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium Benih dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Januari--Mei 2013.

3.2 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah tanah latosol sebanyak 8 kg, benih kedelai varietas Burangrang dan Tanggamus, Giberelin, alkohol 70%, akuades, pupuk Urea, SP36, dan KCl, pestisida Bayluscide dengan bahan aktif niclosamide 250 g/l dan

pestisida Dursband dengan bahan aktif klorpirifos 200 g/l.

Alat yang digunakan adalah bans, polibag, cangkul, koret, timbangan, ajir, sprayer, ember, gembor, oven, mistar, kertas amplop, kertas koran, pisau, plastik sungkup, gunting, alat pembagi tepat benih, dan alat tulis.


(23)

3.3 Metode Penelitian

Untuk mendapatkan bukti empiris dan menguji hipotesis disusun rancangan perlakuan sebagai berikut:

1. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah lima konsentrasi giberelinyaitu (G0) 0 ppm, (G1) 100 ppm, (G2) 200

ppm, (G3) 300 ppm, dan (G4) 400 ppm. Faktor kedua adalah dua varietas

kedelai yaitu (V1) varietas Burangrang dan (V2) varietas Tanggamus sehingga

terdapat 10 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali ulangan dan dikelompokkan menjadi tiga kelompok sehingga dalam satu kelompok terdapat 30 satuan percobaan. Pengelompokkan dilakukan berdasarkan waktu pengamatan. Secara keseluruhan terdapat 90 satuan percobaan.

2. Kesamaan ragam data antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan untuk aditivitas ragam data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi analisis ragam terpenuhi maka dilakukan uji lanjut.

3. Tanggapan terhadap peningkatan konsentrasi giberelindiuji dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%.


(24)

16

3.4 Pelaksanaan Penelitian

3.4.1 Persiapan Media Tanam

Pelaksanaan penelitian dimulai dengan menyiapkan media tanam berupa tanah. Tanah diambil dari lahan percobaan lapang terpadu kemudian tanah diaduk sampai homogen dan dibersihkan dari kotoran seperti kerikil dan sisa-sisa tanaman lain. Tanah yang digunakan yaitu tanah latosol pada lapisan tanah top soil. Tanah yang telah homogen dimasukkan sebanyak 8 kg ke dalam polibag berwarna hitam berukuran 10 kg. Polibag yang digunakan sebanyak 90 polibag. Selanjutnya polibag yang telah terisi oleh media tanam diletakkan sesuai dengan tata letak percobaan dengan jarak antarpolibag 25 x 30 cm. Penyiapan media tanam ini dilakukan dua minggu sebelum tanam.

3.4.2 Penanaman

Benih kedelai ditanam pada polibag yang telah terisi media tanam. Penanaman dilakukan dengan cara membenamkan benih ke dalam polibag yang telah terisi media tanam dengan kedalaman kurang lebih 3 cm. Benih ditanam sebanyak 4 butir benih dalam satu polibag. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan tanaman dengan tingkat pertumbuhan paling baik dan untuk mencegah kegagalan tumbuh dari benih yang ditanam.


(25)

Pada saat akan aplikasi giberelin dilakukan penjarangan dan hanya dipertahankan dua tanaman yang pertumbuhannya paling baik. Sementara untuk tanaman lain yang pertumbuhannya kurang baik dapat dicabut dan dibuang. Penjarangan ini bertujuan untuk menghindari adanya kompetisi antartanaman dalam satu polibag.

3.4.3 Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada saat satu minggu setelah tanam. Penyulaman dilakukan bila tidak ada benih yang tumbuh dalam satu polibag. Penyulaman harus dilakukan secepat mungkin. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan pertumbuhan tanaman kedelai.

3.4.4 Pemupukan

Pemberian pupuk dilakukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman.

Pemupukan dilakukan sesuai dengan dosis anjuran. Dosis pupuk yang dianjurkan yaitu Urea dengan dosis 400 kg/ha, SP36 200 kg/ha, dan KCl 200 kg/ha. Dosis anjuran masih dalam satuan kg/ha, oleh karena itu dilakukan konversi terlebih dahulu untuk mengetahui dosis pupuk yang akan diberikan pada masing-masing polibag. Dari hasil konversi setiap polibag mendapatkan 1.6 gram Urea, 0,8 gram SP36, dan 0,8 gram KCl. Pupuk diaplikasikan dengan cara larikan di sekitar pertanaman. Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali. Pemupukan pertama diberikan pada saat seminggu setelah tanam dan pemupukan kedua diberikan pada saat enam minggu setelah tanam.


(26)

18

3.4.5 Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman yang dilakukan berupa penyiraman, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit. Tindakan pemeliharaan yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi lapang. Penyiraman dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari, yaitu saat pagi dan sore hari.

Pengendalian gulma dilakukan secara manual yaitu dengan mancabut dan membuang gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman dengan menggunakan tangan. Sementara untuk pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan pestisida. Pestisida yang digunakan ada dua yaitu pestisida berbahan aktif niklosamida 250 g/l dan pestisida berbahan aktif klorpirifos 200 g/l.

Pemeliharaan dilakukan pada saat seminggu setelah tanam. Pemeliharaan

tanaman bertujuan untuk menunjang tingkat pertumbuhan tanaman di lapang dan guna menghindari adanya kontaminasi dari organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

3.4.6 Aplikasi Giberelin

Aplikasi giberelindilakukan menurut metode yang digunakan Yennita (2002). Konsentrasi giberelin yang digunakan yaitu 0, 100, 200, 300, dan 400 ppm. Konsentrasi giberelin masih dalam satuan ppm, oleh karena itu dilakukan konversi ke dalam satuan gram sehingga didapat konsentrasi giberelin (G0) 0 gram, (G1)

0,1 gram, (G2) 0,2 gram, (G3) 0,3 gram, (G4) 0,4 gram. Giberelin kemudian


(27)

Giberelin yang telah ditimbang dan masih berbentuk powder dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol 70% sebanyak 2 ml sampai larut. Giberelin yang telah larut kemudian ditambahkan dengan akuades hingga volume masing-masing konsentrasi giberelin mencapai 1 liter. Sebelum diaplikasikan pada tanaman dilakukan kalibrasi terlebih dahulu untuk mengetahui volume giberelin yang akan diaplikasikan pada tanaman.

Kalibrasi dilakukan dengan menggunakan media air yang disemprotkan pada tanaman hingga air tersebut mampu membasahi seluruh bagian tanaman sehingga diperoleh volume 15 ml untuk setiap tanaman. Aplikasi giberelin dilakukan dua kali yaitu aplikasi pertama dilakukan pada hari keempat awal pembungaan dan aplikasi kedua dilakukan seminggu setelah aplikasi pertama. Diharapkan aplikasi giberelinpada awal pembungaan mampu mengoptimalkan proses pembungaan sehingga mampu menghasilkan polong dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik.

3.4.7 Panen

Secara teori panen dilaksanakan pada saat tanaman berumur sekitar 86 hari karena pada umur ini polong telah mencapai matang fisiologis yang ditandai oleh polong yang berwarna kecoklatan lebih dari 90%, batang serta daun telah berwarna kecoklatan dan mengering. Namun keadaan di lapang tidak sesuai dengan teori tersebut karena pada umur tanaman 86 hari polong, batang, dan daun belum 90% berwarna kecoklatan. Hal ini mengakibatkan waktu panen mundur sehingga panen dilakukan saat tanaman berumur sekitar 106 hari. Salah satu penyebab mundurnya waktu panen yaitu kondisi cuaca yang tidak menentu.


(28)

20

Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut tanaman kedelai hingga akarnya. Polong kedelai dipisahkan dan dimasukkan ke dalam tempat yang telah

disediakan dan dihitung jumlahnya. Sementara berangkasan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 80 derajat selama tiga hari. Berangkasan yang telah kering selanjutnya ditimbang dan dicatat bobot keringnya.

3.5 Pengamatan

Untuk menguji kesahihan kerangka pemikiran dan hipotesis dilakukan

pengamatan terhadap komponen pertumbuhan dan produksi dua varietas kedelai yang dihasilkan. Adapun komponen pengamatan yang diamati yaitu:

(1) Tinggi tanaman diukur dari pangkal batang tanaman yang berada di permukaan tanah sampai titik tumbuh batang utama. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap minggu sampai tanaman memasuki fase generatif. Pengukuran dilakukan dalam satuan sentimeter dengan menggunakan alat pengukur panjang yaitu mistar atau meteran.

(2) Jumlah daun diketahui dengan cara menghitung jumlah daun maksimum dengan menghitung total daun yang terbentuk. Daun yang dihitung yaitu daun triploid yang artinya dalam satu tangkai daun terdapat tiga helai daun. Penghitungan daun dilakukan dalam satuan helai.


(29)

(3) Jumlah buku subur. Pengamatan jumlah buku subur dilakukan pada saat panen dengan cara menghitung jumlah buku yang menghasilkan polong. Penghitungan dilakukan dalam satuan buku.

(4) Jumlah bunga. Pengamatan jumlah bunga dilakukan pada saat bunga pertama muncul sampai dengan tanaman tidak lagi menghasilkan bunga. Bunga yang dihitung yakni bunga yang telah mekar. Penghitungan dilakukan dalam satuan kuntum.

(5) Persentase bunga jadi polong. Penghitungan persentase bunga jadi polong dilakukan dengan menghitung jumlah polong yang terbentuk dalam satu tanaman dibagi dengan jumlah bunga yang terbentuk kemudian dikalikan 100%. Penghitungan dilakukan dalam satuan persen (%). Rumus:

Persen bunga jadi polong = ∑

∑ x 100%

(6) Bobot kering berangkasan. Seluruh tanaman kedelai yang telah dipanen polongnya dipisahkan dengan cara dirontokkan kemudian berangkasan dikeringkan. Pengeringan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 80° C selama tiga hari hingga bobotnya konstan dan berangkasan benar-benar kering. Berangkasan yang telah kering kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan elektrik untuk mengetahui bobot keringnya. Pengukuran bobot dilakukan dalam satuan gram.


(30)

22

(7) Jumlah polong isi. Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan

menghitung total polong isi per tanaman. Hasil penghitungan total polong isi kemudian dipisahkan agar tidak tercampur dengan polong hampa.

Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.

(8) Jumlah polong hampa. Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan menghitung total polong yang hampa per tanaman. Hasil penghitungan total polong hampa kemudian dipisahkan agar tidak tercampur dengan polong isi. Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.

(9) Jumlah polong total. Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan menghitung jumlah total polong hampa dan polong isi per tanaman. Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.


(31)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemberian konsentrasi giberelin 200 ppm efektif dalam meningkatkan tinggi tanaman kedelai varietas Tanggamus.

2. Varietas Tanggamus memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang hampir pada semua variabel kecuali variabel persentase bunga jadi polong.

3. Pengaruh interaksi antara konsentrasi giberelindan varietas nyata terhadap variabel tinggi tanaman dan jumlah bunga tanaman kedelai. Pemberian giberelin konsentrasi 200 ppm yang disemprotkan pada varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang berdasarkan variabel tinggi tanaman. Varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang meskipun tidak disemprotkan giberelin berdasarkan variabel jumlah bunga.


(32)

40

5.2 Saran

Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan konsentrasi giberelin yang lebih rendah (< 200 ppm) dan waktu aplikasi penyemprotan giberelin yang tepat.


(33)

PUSTAKA ACUAN

Adisarwanto, T. 2008. Budidaya Kedelai Tropika. Cetakan 10. Penebar Swadaya. Jakarta. 76 hlm.

Annisah. 2009. Pengaruh induksi giberelin terhadap pembentukan buah

partenokarpi pada beberapa varietas tanaman semangka (Citrullus vulgaris

Schard). Skripsi Program Studi Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. 93 hlm.

Arifin, Z., Prapto, Y., dan Toekidjo. 2011. Pengaruh konsentrasi GA3 terhadap

pembungaan dan kualitas benih cabai merah keriting (Capsicum annuum

L.). Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. 13 hlm.

Azizi Kh., Moradii, J., Heidari, S., Khalili, A., dan Felzian, M. 2012. Effect of different concentrations of gibberellic acid on seed yield and yield

components of soybean genotypes in summer intercropping. Internatoinal

Journal of Agriscience. 2(4): 291—300.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2013. Curah Hujan Bulanan Tahun 2012 s/d Maret 2013. Masgar, Tegineneng. Lampung.

Badan Pusat Statistik. 2012. Produksi tanaman kedelai seluruh provinsi di Indonesia (http://www.bps.go.id). Diakses pada 5 November 2012.

Djumali. 2011. Karakter agronomi yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung. Jurnal Tanaman Tembakau,

Serat, dan Minyak Industri 3(1) April 2011:17--29. Balai Penelitian


(34)

42

Komariyah, S. 2012. Kandungan zat pengatur tumbuh daun dan pola infloresen bunga pada jarak pagar (Jatropha curcos L.) andromonoecious. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. 17 hlm.

Mukmin, A., dan Iskandar, Z. 2007. Uji keturunan saudara tiri (Half-sib) sengon

(Paraserianthes falcataria L. Nielsen) di Taman Hutan Cikabayan. Jurnal

Manajement Hutan Tropika. Vol. XIII No. 1: 78--92.

Pandiangan, S., dan Tiurmaida, N. 2006. Pengaruh pemberian giberelin (GA3)

dan air kelapa terhadap pertumbuhan planlet tanaman anggrek

(Dendrobium sp.) secara in vitro. Jurnal Komunikasi Penelitian.

Vol.18(2). 4 hlm.

Permanasari, I. 2007. Pengaruh GA3 terhadap pertumbuhan dan hasil benih

kedelai hitam pada kondisi kekeringan. Tesis Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Pusat Penelitian Tanaman Pangan. 2012. Deskripsi Kedelai Varietas Burangrang dan Varietas Tanggamus

(http://www.puslittan.bogor.net/Inovasi%20Teknologi/Kacang2an&umbi2

an/Varietas%20kedelai). Diakses pada 5 November 2012.

Ratna, I.D. 2008. Peranan dan fungsi fitohormon bagi pertumbuhan tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran. Bandung. 43 hlm.

Salisbury, F.B. dan Cleon, W.R. 1995. Fisiologi Tumbuhan III. Diterjemahkan oleh D.R. Lukman dan Sumaryono dari buku Pant Physiology. Penerbit ITB. Bandung. 173 hlm.

Sumarno, Suyamto, Widjono, A., Hermanto, dan Kasim, H. 2007. Kedelai:

Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan

Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 512 hlm.

Suprapto, dan Khairudin, N. Md. 2007. Variasi genetik, heritabilitas, tindak gen dan kemajuan genetik kedelai (Glycine max Merrill) pada Ultisol. Jurnal

Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 9 (2): 183—190.


(35)

Syafi’i, M. 2005. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Pemberian Giberellin (GA3)

terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo I.) dengan Sistem Tanam Hidroponik Irigasi Tetes. Universitas Sebelas Maret Surakarta. 19 hlm.

Wahyu, G.L., Solichatun, dan Sugiyarto. 2007. Pertumbuhan, kandungan klorofil, dan laju respirasi tanaman garut (Maranta arundinacea L.) setelah pemberian Asam Giberelat (GA3). Jurnal Bioteknologi 5(1):1--9.

Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Lembaga Sumber Daya Informasi-IPB. Bogor. 145 hlm.

Yennita. 2002. Respon tanaman kedelai (Glycine max) terhadap Gibberellic Acid GA3 dan Benzyl Amino Purine (BAP) pada fase generatif. Tesis Program

Pascasarjana Biologi Institut Pertanian Bogor. 48 hlm.

Zahrah. 2011. Respons berbagai varietas kedelai (Glycine Max (L.) Merril) terhadap pemberian pupuk NPK organik. Jurnal Teknobiologi, II(1) 2011: 65 – 69.


(1)

Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.

(8) Jumlah polong hampa. Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan menghitung total polong yang hampa per tanaman. Hasil penghitungan total polong hampa kemudian dipisahkan agar tidak tercampur dengan polong isi. Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.

(9) Jumlah polong total. Pengamatan dilakukan pada saat panen dengan menghitung jumlah total polong hampa dan polong isi per tanaman. Penghitungan dilakukan dalam satuan polong per tanaman.


(2)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemberian konsentrasi giberelin 200 ppm efektif dalam meningkatkan tinggi tanaman kedelai varietas Tanggamus.

2. Varietas Tanggamus memiliki tingkat pertumbuhan dan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang hampir pada semua variabel kecuali variabel persentase bunga jadi polong.

3. Pengaruh interaksi antara konsentrasi giberelindan varietas nyata terhadap variabel tinggi tanaman dan jumlah bunga tanaman kedelai. Pemberian giberelin konsentrasi 200 ppm yang disemprotkan pada varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang berdasarkan variabel tinggi tanaman. Varietas Tanggamus lebih baik dibandingkan dengan varietas Burangrang meskipun tidak disemprotkan giberelin berdasarkan variabel jumlah bunga.


(3)

(4)

PUSTAKA ACUAN

Adisarwanto, T. 2008. Budidaya Kedelai Tropika. Cetakan 10. Penebar Swadaya. Jakarta. 76 hlm.

Annisah. 2009. Pengaruh induksi giberelin terhadap pembentukan buah

partenokarpi pada beberapa varietas tanaman semangka (Citrullus vulgaris Schard). Skripsi Program Studi Pemuliaan Tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. 93 hlm.

Arifin, Z., Prapto, Y., dan Toekidjo. 2011. Pengaruh konsentrasi GA3 terhadap

pembungaan dan kualitas benih cabai merah keriting (Capsicum annuum L.). Fakultas Pertanian. Universitas Gadjah Mada. 13 hlm.

Azizi Kh., Moradii, J., Heidari, S., Khalili, A., dan Felzian, M. 2012. Effect of different concentrations of gibberellic acid on seed yield and yield

components of soybean genotypes in summer intercropping. Internatoinal Journal of Agriscience. 2(4): 291—300.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. 2013. Curah Hujan Bulanan Tahun 2012 s/d Maret 2013. Masgar, Tegineneng. Lampung.

Badan Pusat Statistik. 2012. Produksi tanaman kedelai seluruh provinsi di Indonesia (http://www.bps.go.id). Diakses pada 5 November 2012.

Djumali. 2011. Karakter agronomi yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung. Jurnal Tanaman Tembakau, Serat, dan Minyak Industri 3(1) April 2011:17--29. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. Malang.


(5)

Mukmin, A., dan Iskandar, Z. 2007. Uji keturunan saudara tiri (Half-sib) sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) di Taman Hutan Cikabayan. Jurnal Manajement Hutan Tropika. Vol. XIII No. 1: 78--92.

Pandiangan, S., dan Tiurmaida, N. 2006. Pengaruh pemberian giberelin (GA3)

dan air kelapa terhadap pertumbuhan planlet tanaman anggrek (Dendrobium sp.) secara in vitro. Jurnal Komunikasi Penelitian. Vol.18(2). 4 hlm.

Permanasari, I. 2007. Pengaruh GA3 terhadap pertumbuhan dan hasil benih

kedelai hitam pada kondisi kekeringan. Tesis Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Pusat Penelitian Tanaman Pangan. 2012. Deskripsi Kedelai Varietas Burangrang dan Varietas Tanggamus

(http://www.puslittan.bogor.net/Inovasi%20Teknologi/Kacang2an&umbi2 an/Varietas%20kedelai). Diakses pada 5 November 2012.

Ratna, I.D. 2008. Peranan dan fungsi fitohormon bagi pertumbuhan tanaman. Fakultas Pertanian. Universitas Padjajaran. Bandung. 43 hlm.

Salisbury, F.B. dan Cleon, W.R. 1995. Fisiologi Tumbuhan III. Diterjemahkan oleh D.R. Lukman dan Sumaryono dari buku Pant Physiology. Penerbit ITB. Bandung. 173 hlm.

Sumarno, Suyamto, Widjono, A., Hermanto, dan Kasim, H. 2007. Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan. Badan Penelitian dan

Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 512 hlm.

Suprapto, dan Khairudin, N. Md. 2007. Variasi genetik, heritabilitas, tindak gen dan kemajuan genetik kedelai (Glycine max Merrill) pada Ultisol. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 9 (2): 183—190.


(6)

Syafi’i, M. 2005. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Pemberian Giberellin (GA3)

terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Melon (Cucumis melo I.) dengan Sistem Tanam Hidroponik Irigasi Tetes. Universitas Sebelas Maret Surakarta. 19 hlm.

Wahyu, G.L., Solichatun, dan Sugiyarto. 2007. Pertumbuhan, kandungan klorofil, dan laju respirasi tanaman garut (Maranta arundinacea L.) setelah pemberian Asam Giberelat (GA3). Jurnal Bioteknologi 5(1):1--9.

Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Lembaga Sumber Daya Informasi-IPB. Bogor. 145 hlm.

Yennita. 2002. Respon tanaman kedelai (Glycine max) terhadap Gibberellic Acid GA3 dan Benzyl Amino Purine (BAP) pada fase generatif. Tesis Program

Pascasarjana Biologi Institut Pertanian Bogor. 48 hlm.

Zahrah. 2011. Respons berbagai varietas kedelai (Glycine Max (L.) Merril) terhadap pemberian pupuk NPK organik. Jurnal Teknobiologi, II(1) 2011: 65 – 69.