Pengaruh self-esteem dan dukungan sosial terhadap resiliensi mantan pecandu narkoba

(1)

i

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Oleh:

Bias Rembulan Smestha NIM : 1110070000034

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

v

Motto:

“Berbuat baiklah kepada semua makhluk yang ada di

alam semesta ini

Papa-“K

esabaran itu tiada bertepi maka bersabarlah dan

terus berjuang”

–Papa-

Persembahan:

Karya sederhana ini aku persembahkan kepada Mama dan Papa terkasih, adik dan saudaraku tersayang, serta sahabat-sahabat segala rasa.


(6)

vi A) Fakultas Psikologi

B) Desember 2014

C) Bias Rembulan Smestha

D) Pengaruh Self-Esteem dan Dukungan Sosial terhadap Resiliensi Mantan Pecandu Narkoba

E) xv + 113 halaman + lampiran

F) Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh self-esteem dan dukungan sosial terhadap resiliensi mantan pecandu narkoba. Hipotesis dalam penelitian ini adalah variabel self-esteem yaitu dimensi perasaan tentang diri sendiri, perasaan tentang hidup, dan perasaan tentang orang lain, dan juga variabel dukungan sosial yaitu dukungan emosi, dukungan nyata, dukungan informasi, dan dukungan persahabatan, serta pekerjaan mempengaruhi resiliensi mantan pecandu narkoba.

Populasi pada penelitian ini bersifat infinite sedangkan sampel berjumlah 154 orang mantan pecandu yang diambil dengan teknik non probability sampling yaitu purposive sampling. Untuk mengukur self-esteem, mengadaptasi dari skala Minchinton (1993), sedangkan untuk mengukur dukungan sosial, peneliti menggunakan skala berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Sarafino dan Smith dengan dimensi dukungan emosi atau penghargaan, dukungan nyata atau dukungan instrument, dukungan informasi, dan dukungan persahabatan. CFA (Confirmatory Factor Analysis) digunakan untuk menguji validitas alat ukur dan Multiple Regression digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Semua teknik pengujian dilakukan menggunakan software SPSS 16.0 dan LISREL 8.70. G) Hasil penelitian menunjukkan bahwa model self-esteem, dukungan sosial,

dan pekerjaan yang mempengaruhi resiliensi mantan pecandu narkoba fit

dengan data (P>0.05) dan memberikan kontribusi sebesar 58,2% dari bervariasinya resiliensi mantan pecandu narkoba dalam satuan logit. Namun, dilihat dari tabel koefisien regresi, dari keseluruhan delapan variabel independen, hanya terdapat empat variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap resiliensi mantan pecandu narkoba, yaitu dimensi perasaan tentang hidup, perasaan tentang orang lain, orang yang memiliki pekerjaan, dan yang bekerja sebagai konselor (P>0.05).


(7)

A) Faculty of Psychology B) December 2014

C) Bias Rembulan Smestha

D) The influence of Self-Esteem and social support to Drug Addict Formers’

Resilience.

E) xv + 113 pages + attachments

F) This observation main goal is to know the influence of self-esteem and social support to drug addict formers’ resilience. The hypothesis of this observation is the variable of self-esteem which is the feeling about themselves, the feeling of life, and the feeling of other people, and also the variable of social support that is the emotional support, real support, friendship support, and also job influences drug addict formers’ resilience. Population in this observation is infinite and has 154 samples from drug addict formers that have been collected with non-probability sampling technique which is purposive sampling. The observer uses Michinton’s scale (1993) to measure self-esteem and uses scale from Sarafino and Smith to measure social support with dimension of emotional support or appreciation. CFA (Confirmatory Factor Analysis) is used to assess the validity of measurement and Multiple Regression is used to assess observation hypothesis. All techniques is done by using software SPSS 16.0 and LISREL 8.70

G) The result of this observation shows that self-esteem model, social support, and job which influences drug addict formers’ resilience fit with the data of (P>0.05) and give 58.2% of contribution from variety drug addict formers’ resilience in logit unit. But, refer to coefficient regression table from eight independent variables, there are only four independent variable that are signicifant influenced by drug addict formers’ resilience, which are feeling of life dimention, feeling of other people, feeling of a person who has a job, and whom who work as counselor (P>0.05).

H) Reading equipments: 13 books + 10 journals + 14 internet articles


(8)

vii

ميحرلا نمحرلا ه مسب

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Syukur Alhamdulillah peneliti tujukan kepada Allah SWT. atas segala rahmat, hidayah, dan karunia yang telah diberikannya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Self-Esteem dan Dukungan Sosial terhadap Resiliensi Mantan Pecandu Narkoba ”. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW., atas segala perjuangannya sehingga kita dapat merasakan indahnya hidup di bawah naungan Islam. Terwujudnya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag, M.Si. Berkat bimbingan, arahan, nasehat dan cerita-cerita beliau mengenai pengalaman dan hal bermanfaat sehingga membuat penulis termotivasi untuk terus belajar dan berjuang menjadi lebih baik.

2. Moh. Avicenna, M.H.Sc., Psy Dosen Pembimbing skripsi, yang telah memberikan banyak nasehat, masukan, motivasi, serta saran dan kritik yang membangun sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

3. Dosen Pembimbing Akademik, Neneng Tati Sumiati, M.Si, Psi, serta untuk seluruh dosen Fakultas Psikologi yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas seluruh ilmu pengetahuan yang telah diberikan sehingga penulis dapat menjalani perkuliahan dan menyelesaikan skripsi.


(9)

viii menyelesaikan skripsi.

5. Untuk yang paling penulis sayangi, kasihi, dan hormati, malaikat yang diberikan Tuhan kepada penulis, Mamaku tercinta Lina Priswati dan Papaku tercinta Marwani Udjang juga adikku tersayang Bagas Rangga Ranaswari serta sepupu sepupuku, putri dan juga seluruh keluarga besarku yang tidak pernah putus memberikan dorongan, doa, cinta dan kasih sayang yang tulus kepada penulis.

6. Terima kasih kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam pengisian angket penelitian penulis. Terima kasih yayasan Sahabat Rekan Sebaya, Natura Addiction Center, yayasan Al-Jahu, dan Rumah Damping BNN.

7. Saudari-saudari seAllisan tercinta Adikku Lala, Bang Eki, Uci, Nia, Endep terima kasih atas keceriaan, kebahagiaan, ketidak jelasan, dukungan dan semangat yang telah diberikan serta terima kasih telah dengan rela selalu penulis ganggu, dan yang paling spesial Tetehku tercinta Mega Ziadatun Ni’mah, terima kasih atas segala kesabaran, kasih sayang, kegalakan, perhatian, motivasi dan ketulusan yang telah diberikan kepada penulis, terima kasih teteh terbaikku.

8. Sahabat sepermainan dan seperjuanganku, Afada Alhaque dan Ira Octavia Safitri. Terima kasih atas semua hari-hari yang telah kita lalui bersama, baik dalam keadaan senang, sedih maupun menyebalkan, dan juga atas segala


(10)

ix

kita bersama dapat terwujud di kemudian hari dan persahabatan ini akan terus berlangsung dan hangat hingga seterusnya, serta memberikan kebaikan untuk kita semua.

9. Sahabat-sahabat Emmeletus, Aulia, Lintang,Ditta, Hanna, Rava, Silmi, Iyus, Dina, Okta, terima kasih telah menemani penulis menjalani hari-hari selama kulih, sehingga menjadi lebih berwarna, terkhusus Raina Fathia Karima yang juga sahabat seperjuangan skripsi, untuk dukungan, bantuan, dan hiburannya selama proses penyelesaian skripsi penulis.

10.Kepada teman-teman dan seluruh pihak yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih.

Semoga Allah memberikan balasan yang lebih baik atas segala kebaikan dan bantuan yang diberikan. Harapan penulis, semoga skripsi ini memberikan manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi seluruh pihak yang terkait.

Jakarta, Desember 2014


(11)

x

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang Masalah ... 1

1.2Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 11

1.2.1Pembatasan Masalah ... 11

1.2.2Perumusan Masalah ... 12

1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12

1.3.1Tujuan Penelitian ... 12

1.3.2Manfaat Penelitian ... 13

1.3.3Sistematika Penulisan ... 13

BAB 2 KAJIAN TEORI ... 15

2.1 Resiliensi ... 15

2.1.1 Pengertian Resiliensi ... 15

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi ... 19

2.1.3 Aspek Resiliensi ... 20

2.1.4 Pengukuran Resiliensi ... 30

2.2 Self-Esteem ... 31

2.2.1 Pengertian Self-Esteem ... 31

2.2.2 Kategori Self-Esteem ... 34

2.2.3 Dimensi Self-Esteem ... 36

2.2.4 Pengukuran Self-Esteem ... 40

2.3 Dukungan Sosial ... 41

2.3.1 Pengertian Dukungan Sosial ... 41

2.3.2 Dimensi Dukungan Sosial ... 43

2.3.3 Pengukuran Dukungan Sosial ... 46

2.4 Pekerjaan ... 47

... 2.4.1 Pengertian Pekerjaan ... 47

... 2.4.2 Pekerjaan dan Resiliensi ... 47

2.5 Mantan Pecandu Narkoba ... 47

2.6 Kerangka Berpikir ... 48

2.7 Hipotesis Penelitian ... 53

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 55

3.1 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel ... 55


(12)

xi

3.4.2 Instrumen Pengumpulan Data ... 59

3.5 Teknik Uji Instrumen ... 61

3.5.1 Uji Instrumen ... 61

3.5.2 Uji Validitas Self-Esteem ... 63

3.5.2.1 Perasaan tentang Diri Sendiri ... 63

3.5.2.2 Perasaan tentang Hidup ... 66

3.5.2.3 Perasaan tentang Orang Lain ... 69

3.5.3 Dukungan Sosial ... 72

3.5.3.1 Dukungan Emosi ... 72

3.5.3.2 Dukungan Nyata ... 74

3.5.3.3 Dukungan Informasi ... 77

3.5.3.4 Dukungan Persahabatan ... 78

3.5.4 Uji Validitas Konstruk Skala Resiliensi ... 81

3.6 Prosedur Penelitian ... 84

3.7 Teknik Analisis Data ... 85

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 89

4.1 Deskriptif Data Penelitian ... 89

4.2 Uji Hipotesis ... 91

4.2.1 Analisi Regresi Variabel Penelitian ... 91

4.2.2 Uji Proporsi Varians Independent Variabel …… 98

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN ... 103

5.1 Kesimpulan ... 103

5.2 Diskusi ... 103

5.3 Saran ... 107

5.3.1 Saran Metodelogis ... 107


(13)

xii

3.2 Blue Print Skala Dukungan Sosial ... 60

3.3 Blue Print Skala Resiliensi ... 61

3.4 Muatan Faktor Item Perasaan Tentang Diri Sendiri ... 65

3.5 Muatan Faktor Item Perasaan tentang Diri Sendiri Setelah Di-drop 65 3.6 Muatan Faktor Item Perasaan tentang Hidup ... 68

3.7 Muatan Faktor Item Perasaan tentang hidup Setelah Di-drop ... 68

3.8 Muatan Faktor Item Perasaan tentang Orang Lain ... 71

3.9Muatan Faktor Item Perasaan tentang Orang Lain Setelah Di-Drop 71 3.10 Muatan Faktor Item Dukungan Emosi ……….... 73

3.11 Muatan Faktor Item Dukungan Emosi Setelah Di-drop …………. 74 3.12 Muatan Faktor Item Dukungan Nyata ………. 76

3.13 Muatan Faktor Item Dukungan Nyata Setelah Di-drop ………….. 76

3.14 Muatan Faktor Item Dukungan Informasi ……… 78

3.15 Muatan Faktor Item Dukungan Persahabatan ……….. 79

3.16 Muatan Faktor Item Dukungan Persahabatan Setelah Di-drop … 80

3.17 Muatan Faktor Item Resiliensi ... 83

4.1 Deskriptif Data ... 89

4.2 Tabel R square . ... 92

4.3 Hasil Uji F ... 93

4.4 Koefisien Regresi ... 94

4.5 Priporsi Varians Independen Variabel ... 98


(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

2.1Skema Self-Esteem dan Dukungan Sosial terhadap Resiliensi ... 52

3.1Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Perasaan Tentang Diri Sendiri ... 64

3.2Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Perasaan Tentang Hidup ... 67

3.3Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Perasaan Tentang Orang Lain ... 70

3.4Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Dukungan Emosi ... 73

3.5Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Dukungan Nyata ... 75

3.6Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Dukungan Informasi ... 77

3.7Analisis Konfirmatori dari Faktor Variabel Dukungan Persahabatan ... 79


(15)

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam bab pendahuluan ini akan dibahas mengenai latar belakang penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, masalah penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, yang lebih dikenal dengan Napza atau Narkoba telah menjadi masalah yang besar bukan hanya bagi bangsa Indonesia namun juga bagi dunia. Berdasarkan laporan World Drug Report, 2012 yang diterbitkan oleh UNODC, diperkirakan terdapat 300 juta orang berusia produktif, yaitu antara 15 sampai dengan 64 tahun yang mengkonsumsi narkoba dan ± 200 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat penyalahgunaan narkoba (Badan Narkotika Nasional, 2013).

Masalah penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah memasuki tahap yang berbahaya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa terdapat 1,75% pengguna narkoba pada tahun 2005 dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 4,9%. Pengguna narkoba yang berusia 10-20 tahun juga mengalami peningkatan hingga 2,5% (Dara, 2013).


(16)

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap narkoba adalah dengan mengikuti rehabilitasi narkoba. Akan tetapi, rehabilitasi memiliki proses yang cukup panjang dan tidak mudah untuk dilalui. BNN (2013) menjelaskan terdapat empat fase dalam proses rehabilitasi, yaitu fase detoksifikasi, fase entry unit, fase primary, dan fase Re-Entry. Dimulai dengan pelepasan dari zat-zat narkotika atau disebut fase

detoksifikasi. Fase ini menggunakan terapi medis. Pecandu akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh oleh dokter ahli. Fase yang berlangsung selama satu bulan ini akan sangat sulit dilalui oleh pasien karena pasien akan sering mengalami sakau yang sangat menyakitkan bagi tubuh mereka, selain itu pasien akan berada di ruangan khusus yang terisolasi, dimana hubungan pasien dengan dunia diluar ruangan tersebut akan terputus. Pada fase ini pasien juga tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun termasuk keluarganya. Setelah selesai menjalani detoksifikasi maka akan lanjut ke fase entry unit. Fase entry unit

merupakan fase “istirahat” dimana pasien akan memulihkan keadaan fisiknya. Setelah itu pasien melanjutkan ke program primary. Fase ini akan berlangsung selama ± enam bulan dengan menggunakan terapi psikososial. Fase primary ini merupakan salah satu tahapan dalam therapeutic community (TC). Pada fase ini pasien ditempa untuk memiliki stabilitas fisik dan emosi. Pasien juga diberikan motivasi untuk melanjutkan ketahap selanjutnya. Terakhir adalah fase Re-Entry Stage yang merupakan lanjutan dari fase primary dan tahapan lanjutan dalam TC. Dalam fase ini pasien memantapkan keadaan psikologis dalam dirinya,


(17)

mendayagunakan nalarnya, menggali dan mengembangkan keterampilan. Setelah menyelesaikan tahapan ini, barulah pasien dapat dinyatakan bebas dari rehabilitasi dan dapat kembali ke keluarga mereka.

Dari proses rehabilitasi tersebut dapat diketahui bahwa proses tersebut sangat sulit untuk dilalui dan membuat seseorang merasa tertekan, sehingga sering kali banyak masalah yang muncul dalam rehabilitasi, diantaranya adalah sering kali ditemui pasien rehabilitasi yang melarikan diri karena tidak tahan menjalani proses rehabilitasi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya media massa (seperti, sindonews, 2013, rakyatsulsel, 2013, sumutpos, 2014) yang kerap kali memberitakan mengenai kaburnya pasien rehabilitasi dari berbagai tempat rehabilitasi. Selain melarikan diri, masalah yang muncul adalah masih adanya pasien rehabilitasi yang mengalami relaps (kambuh). Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang menyatakan bahwa bahkan pada tahun 2008, 9 dari 10 pecandu narkoba akan kambuh menjadi pecandu lagi. Hal serupa juga diungkapkan oleh Profesor George Koob MD bahwa rata-rata dunia, 8 dari 9 pecandu akan relaps (Nugraha, 2012).

Bukan hanya pasien yang masih menjalani rehabilitasi saja yang mengalami relaps, namun pasien yang telah diizinkan pulang dan dinyatakan sembuh pun masih ada yang kembali menggunakan narkoba (relaps). Salah satu contohnya adalah artis senior Indonesia yang kembali menjadi pecandu narkoba setelah sebelumnya pernah dinyatakan sembuh dari ketergantungan narkoba. Selain itu bahkan adapula pecandu narkoba yang sama sekali tidak


(18)

bisa terlepas dari narkoba bahkan sampai akhir hayatnya. Diantaranya adalah Whitney Houtson yang merupakan penyanyi ternama yang tidak bisa terlepas dari narkoba, bahkan dia ditemukan meninggal di kamar hotelnya karena over dosis (www.tempo.com, 2012, www.bbc.co.uk, 2012).

Meskipun terlepas dari ketergantungan terhadap narkoba adalah hal yang sulit untuk dijalani, namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat sembuh dari ketergantungan tersebut. Tidak sedikit yang dapat bangkit dari keterpurukan sebagai pecandu narkoba. Selain mereka sembuh dari ketergantungan narkoba, mereka pun dapat menjalani hidup mereka seperti sediakala bahkan lebih baik lagi. seperti halnya yang pernah dialami oleh Sammy Simorangkir yang merupakan vocalist band terkenal. Sammy diketahui sebagai pecandu narkoba sehingga harus menjalani rehabilitasi, karena itu pula, Sammy dikeluarkan dari band yang membesarkan namanya. Akan tetapi Sammy tetap dapat menjalankan rehabilitasinya sampai dia dinyatakan sembuh, bahkan setelah keluar dari rehabilitasi, Sammy tetap menjadi penyanyi walaupun bersolo karir, dan telah memiliki album solonya sendiri (Supri, 2012, www.regional.kompas.com).

Selain itu, banyak juga mantan pecandu narkoba yang dapat bangkit kembali, Raditya Oloan, berhasil mendirikan suatu komunitas untuk para remaja. Komunitas tersebut memiliki visi membangun bangsa dan anak-anak muda yang takut akan Tuhan (www.bnn-dki.com). Banyak pula mantan pecandu narkoba yang berperan sebagai konselor bagi para pasien rehabilitasi


(19)

narkoba. Bahkan ada mantan pecandu narkoba yang menjadi pengemuka agama yang terkenal, salah satunya adalah (Alm) Ustad Jefri Al Buchori.

(www.MNCTV.com, 2013, www.jawaban.com, 2013,

www.luar-negeri.kompasmania.com, 2013).

Dalam upaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap narkoba dan dapat melanjutkan kembali kehidupan, maka dibutuhkanlah suatu kemampuan untuk dapat bertahan dalam keadaan yang sulit tersebut, kemampuan untuk bertahan dalam keadaan yang menyulitkan seperti itu disebut dengan resiliensi. McCuubbin (2001) menyatakan bahwa resiliensi adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk kembali bangkit dari keterpurukan dan keadaan yang mudah terserang atau kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan.

Resiliensi merupakan faktor penting yang dapat membuat seseorang mampu bertahan dan dapat beradaptasi dalam keadaan yang sulit. Individu yang dapat bertahan adalah individu resilient. Oleh karena itu, mantan pecandu narkoba harus resilient untuk dapat mempertahankan diri mereka agar tidak relaps, serta dapat membangun kembali kehidupan mereka dan menjadi lebih baik. Conner (1992) dalam bukunya Managing at the Speed of Change

menyatakankan bahwa resiliensi sangat penting untuk kesuksesan dalam menerapkan perubahan. Dia menyimpulkan bahwa orang yang resilient adalah yang dapat memandang hidup dan diri mereka sendiri dengan positif, memiliki


(20)

pemikiran dan hubungan sosial yang fleksibel, fokus, terorganisasi dan proaktif (dalam Wang, tanpa tahun).

Mantan pecandu narkoba telah berhasil melalui proses yang tidak mudah untuk melepaskan dirinya pada ketergantungan terhadap narkoba dan juga telah dapat kembali masuk ke tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan kehidupannya seperti sediakala, maka dari itu mantan pecandu narkoba seharusnya memiliki kemampuan resiliensi yang baik, karena resiliensi dapat mengurangi seseorang terkena faktor-faktor resiko. Baik secara langsung maupun tidak langsung, resiliensi dapat mengurangi timbulnya kondisi mudah terserang dalam keadaan yang sulit dan membuat tertekan (vulnerabilities) serta dapat meningkatkan kompetensi dan kekuatan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Resiliensi juga dapat mengubah kondisi faktor resiko dan faktor pelindung yang muncul untuk dihubungkan dengan kelemahan dan kekuatan individu untuk melawan serangan-serangan dari gangguan sehingga dapat menghasilkan resiliensi dalam menghadapi tantangan yang serius. Karena itulah resiliensi berperan penting bagi mantan pecandu narkoba agar dapat kembali ke lingkungan masyarakat dan tidak kembali relaps.

Dalam jurnal karya Grotberg, 1995 dinyatakan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi resiliensi, yaitu hubungan saling mempercayai, dukungan emosional dari selain keluarga, self-esteem (penghargaan diri), dorongan untuk mandiri, harapan, mengambil tanggung jawab dan resiko, rasa yang menimbulkan kasih sayang, prestasi sekolah, serta cinta yang tidak


(21)

bersyarat. Dengan demikian penulis mengambil hipotesis bahwa terdapat faktor inernal dan eksternal yang dapat mempengaruhi kemampuan resiliensi yang dimiliki oleh seseorang.

Salah satu faktor internal yang dapat mempengaruhi resiliensi adalah

self-esteem. self-esteem dipilih sebagai faktor internal yang mempengaruhi resiliensi dalam penelitian ini karena apabila seseorang telah mampu menerima dirinya sendiri tanpa syarat serta menilai positif dirinya dan kehidupan yang dia jalani, maka akan membantu individu tersebut untuk dapat beradaptasi secara positif dan dapat melepaskan diri dari kesulitan yang sedang dialaminya. Dalam jurnal yang ditulis oleh Guindon (2010), Wells dan Marwell (1976) mendefinisikan self-esteem sebagai bagian dari kepribadian, diri dan sistem diri, yang mana merupakan bagian dari kepribadian yang terkait dengan motivasi dan self-regulation (peraturan diri). Adapun Owens, Stryker, dan Goodman (2006) mengambil definisi self-esteem dari beberapa tokoh dalam jurnal mereka yang berjudul Extending self-esteem theory and research: sociological and research: sociological and psychosocial current, diantaranya Burns, 1979 dan Covington, 1992 menjelaskan bahwa self-esteem merupakan pelindung orang untuk melawan efek sakit yang didapat dari banyaknya masalah dalam hidup. Pernyataan ini mengasumsikan bahwa orang yang memiliki self-esteem tinggi menunjukkan perilaku yang lebih dapat diterima secara sosial, lebih bertanggung jawab, lebih resilien pada perubahan dalam hidup, dan biasanya


(22)

menunjukkan prestasi yang tinggi, sehingga akhirnya memiliki kesejahteraan sosioemosional yang lebih besar.

Akan tetapi, sebagian besar mantan pecandu narkoba memiliki perasaan bersalah, tidak berguna, dan mudah tersinggung sehingga mengakibatkan pecandu tidak memiliki kesejahteraan sosioemosional. Perasaan-perasaan tersebut pun masih sering muncul pada mantan pecandu narkoba, hal itu yang membuat mantan pecandu narkoba memiliki keinginan untuk kembali menggunakan narkoba. Oleh karena itu, agar mantan pecandu narkoba tidak kambuh lagi, maka mereka harus dapat mengatur dirinya sehingga perasaan yang tidak menyenangkan tersebut tidak muncul kembali (www.sinarbnn.co.id).

Selain faktor internal yang dapat mempengaruhi baik atau buruknya resiliensi seseorang, terdapat juga faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal adalah dukungan sosial. Dukungan sosial adalah bentuk penerimaan dari seseorang atau suatu kelompok terhadap individu, sehingga individu tersebut merasa diperhatikan, disayangi, dihargai, dan ditolong, serta mendapatkan dukungan yang meliputi dukungan informasi, dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan penghargaan dan dukungan jaringan sosial. House dan Kahn, 1985 menyatakan bahwa dukungan sosial biasanya berkaitan dengan fungsi perilaku individu yang berkaitan dengan orang yang berharga baginya, seperti keluarga, teman dan rekan kerja. Orang yang berarti ini dapat memberikan instrumen, informasi, dan atau pertolongan emosi (dalam Thoits,


(23)

1995). Dukungan sosial dipilih karena sebagai makhluk sosial, lingkungan memiiki pengaruh yang besar dalam kehidupan individu, dimana lingkungan memiliki peran dalam membentuk karakter individu. Dengan memiliki dukungan sosial yang tinggi maka individu tersebut akan lebih kuat untuk bertahan dalan keadaan yang sulit dan dapat bangkit kembali dari keadaan yang membuatnya terpuruk.

Sayangnya, mantan pecandu narkoba sangat jarang mendapatkan dukungan sosial dari masyarakat bahkan orang-orang terdekat mereka. bahkan dari hasil wawancara peneliti dengan mantan pecandu narkoba, banyak dari mereka yang tidak mendapat dukungan bahkan diasingkan dan diusir dari keluarganya. Hal ini terjadi karena adanya stigma sosial yang menyatakan bahwa mantan pecandu narkoba adalah sampah masyarakat yang hanya menyusahkan dan tidak dapat diandalkan (www.pelita.or.id, 2014).

Padahal, setelah terbebas dari kecanduan terhadap narkoba, mantan pecandu narkoba membutuhkan banyak dukungan yang diberikan oleh orang-orang terdekat dan masyarakat agar pecandu merasa dihargai, disayangi, ditolong, dan diterima dilingkungan masyarakat sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan mereka kembali dan terhindar dari kecenderungan untuk kembali menggunakan narkoba.

Selain dukungan sosial, pekerjaan juga merupakan salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi resiliensi. Berdasarkan The North West Mental Wellbeing Survey, 2009 bekerja atau tidak bekerjanya seseorang dapat


(24)

mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan dan kesehatan perilaku seseorang sehingga dapat berdampak pada resiliensinya dan kemampuan dalam menghadapi perubahan status. Anne dan Marie, 2007 mengatakan bahwa secara signifikan menganggur dapat meningkatkan symptom depresi. National Survey of Mental Health and Wellbeing 1993 menemukan bahwa 22% orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan dilaporkan memiliki symptom depresi (dalam Anne dan Marie, 2007).

Berdasarkan pernyataan yang disampaikan mantan pecandu dan ditemui oleh peneliti, mereka memiliki perasaan bersalah yang besar kepada keluarganya saat mereka tidak memiliki pekerjaan. Hal tersebut membuat mereka tertekan dan kembali ke pergaulan sebelumnya, sehingga mereka kembali menggunakan narkoba. Sedangkan mereka yang mendapatkan pekerjaan setelah menjalani rehabilitasi, menjadi lebih tahan dalam mengkontrol diri untuk tidak kembali menggunakan narkoba. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki lingkungan pergaulan yang baru dan lebih sehat, serta adanya kesibukan yang positif, dan juga adanya ketakutan akan kehilangan pekerjaannya.

Resiliensi sangat dibutuhkan oleh mantan pecandu narkoba untuk dapat bangkit dari keterpurukannya selama menjadi pecandu narkoba, oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti mengenai resiliensi pada mantan pecandu narkoba dan seberapa besar pengaruh self-esteem, dukungan sosial, dan pekerjaan dalam meningkatkan resiliensi pada mantan pecandu sehingga


(25)

mantan pecandu dapat resilient. Self-esteem dan dukungan sosial akan diukur berdasarkan masing-masing dimensi dan pekerjaan akan dilihat berdasarkan memiliki pekerjaan atau pengangguran. Diasumsikan bahwa apabila self-esteem, dan dukungan sosial pada mantan pecandu tinggi serta memiliki pekerjaan maka resiliensi mereka juga tinggi sehingga mereka dapat bangkit dari keterpurukan setelah menjadi pecandu narkoba, tidak mengalami relaps dan dapat kembali ke lingkungan masyarakat.

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah 1.2.1 Pembatasan Masalah

Masalah utama yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah pengaruh

self-esteem, dukungan sosial, dan pekerjaan terhadap resiliensi pada mantan pecandu narkoba. Oleh karena itu peneliti memberikan batasan pada masalah yang akan dibahas, adapun yang akan dibahas adalah sebagai berikut:

1. Self-esteem adalah nilai yang dilekatkan pada diri kita, penilaian atas ‘harga diri’ kita sebagai manusia, berdasarkan pada persetujuan dan pengingkaran atas diri dan perilaku kita (dalam Minchinton, 1993). 2. Dukungan sosial adalah kesenangan, kepedulian, penghargaan atau

tersedianya bantuan yang akan diterima oleh individu dari orang lain atau kelompok, dukungan tersebut dapat diperoleh dari pasangan hidup atau kekasih, keluarga, teman, atau organisasi dan komunitasnya (dalam Sarafino dan Smith, 2011).


(26)

3. Resiliensi dalam penelitian ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menghadapi, mengatasi, mempelajari, atau berubah melalui berbagai kesulitan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini (dalam Grotberg, 2003).

4. Pekerjaan yang dimaksud adalah adanya suatu kegiatan rutin yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu lingkungan tertentu dan dapat menghasilkan pendapatan.

5. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mantan pecandu narkoba yang berusia 18 tahun sampai 40 tahun dan berada di daerah Jakarta.

1.2.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan dalam latar belakang, peneliti mengajukan rumusan masalah yang akan dijadikan sebagai dasar dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: apakah ada pengaruh yang signifikan antara self-esteem, dukungan sosial, dan pekerjaan terhadap resiliensi pada mantan pecandu narkoba?

1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara self-esteem, dukungan sosial, dan pekerjaan terhadap resiliensi pada mantan pecandu narkoba.


(27)

1.3.2Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat berupa: a) Secara teoritis: diharapkan hasil dari penelitian ini dapat menambah

wacana dan perkembangan bagi ilmu psikologi khususnya psikologi klinis sarta dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai resiliensi yang dikaitkan dengan self-esteem, dukungan sosial, dan pekerjaan.

b) Secara praktis: diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan wawasan kepada masyarakat dan juga kepada keluarga pasien dalam memberikan dukungan sosial dan pembinaan psikologis kepada para mantan pecandu, agar mereka dapat resilien sehingga dapat terbebas dari narkoba, tidak relaps dan dapat melanjutkan hidupnya kembali.

1.3.3Sistematika Penulisan

Laporan penelitian (skripsi) ini terdiri dari lima bab. Perincian dari setiap bab adalah sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.


(28)

BAB II: KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini dilakukan penguraian tentang teori resiliensi, teori self-esteem, teori dukungan sosial, kerangka berfikir, dan hipotesis penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

Bab ini berisi penguraian mengenai variable penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengambilan sampel, desain penelitian, teknik pengambilan data, dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini.

BAB IV: HASIL PENELITIAN

Merupakan presentasi dan analisis data yang berisi tentang analisis deskriptif dan uji hipotesis.

BAB V: PENUTUP


(29)

BAB 2

KAJIAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas teori masing-masing variabel dalam penelitian, faktor-faktor yang mempengaruhi, dimensi-dimensi pada tiap variabel, dan kerangka berpikir serta hipotesis penelitian.

2.1 Resiliensi

Definisi dan karakteristik dalam variasi resiliensi sangatlah banyak, meskipun demikian terdapat konsep-konsep yang menjelaskan mengenai resiliensi.

2.1.1 Pengertian Resiliensi

Tidak semua individu memiliki kemampuan untuk dapat mengatasi perubahan dalam hidupnya seperti situasi yang negatif dan kesengsaraan. Wagnild dan Young (1993) menyatakan bahwa perbedaan, karakteristik dan kemampuan seorang individu untuk mengatasi perubahan atau kemalangan dengan sukses disebut dengan resiliensi (dalam Resnick, Grotberg, dan Karen, 2011).

Grotberg (1995) dalam The International Resilience Project: Research And Application, menyatakan bahwa “Resiliensi adalah kapasitas universal yang memungkinkan seseorang, kelompok, atau komunitas untuk mencegah, meminimalisir atau mengatasi pengaruh yang merugikan dari kesengsaraan.”


(30)

Dalam sumber yang berbeda, Resilience For Today: Gaining Strength From Adversity, menurut Grotberg (2003) resiliensi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menghadapi, mengatasi, mempelajari, atau berubah melalui berbagai kesulitan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan ini.

Dalam The Resilience Factor, Reivich dan Shatte (2002) mengungkapkan bahwa resiliensi adalah kemampuan untuk dapat bertahan dengan teguh dan beradaptasi dalam keadaan yang sulit. Menurut McCubbin (2001) Secara luas, resiliensi dianggap sebagai suatu kemampuan untuk bengkit kembali atau untuk mengatasi kesulitan.

Luthar (dalam MacDermin et.all. 2008) menyatakan bahwa resiliensi didefinisikan sebagai sebuah fenomena atau proses yang secara relative mencerminkan adaptasi positif meskipun saat mengalami kesengsaraan (ancaman) atau trauma yang signifikan. Resiliensi adalah konstrak yang lebih tinggi yang menggolongkan dua dimensi yang berbeda yaitu kesulitan yang signifikan dan adaptasi positif, dimana ini tidak pernah diukur secara langsung, tapi secara tidak langsung dapat disimpulkan berdasarkan bukti dua penggolongan konstruk tersebut.

Wolin dan Wolin (dalam Waxman, et.al. 2003) menjelaskan bahwa istilah resiliensi dapat digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena seperti kondisi yang tidak mudah terancam, tak terkalahkan, dan tabah. Hal ini dikarenakan fenomena tersebut merupakan proses untuk menjadi resilien.


(31)

Secara umum, resiliensi menunjuk pada faktor-faktor dan proses-proses pada perilaku negatif yang dihubungkan dengan stress sehingga dapat beradaptasisecara positif meskipun dalan keadaan yang sengsara.

Banyak tokoh yang mendefinisikan resiliensi, sehingga definisi resiliensi berbeda-beda dan sangat bervariasi. Kaplan (dalam McCubbin 2001) menyebutkan bahwa terdapat empat perspektif pada konsep resiliensi yang menghasilkan variabilitas dalam definisi resiliensi. Dalam “Challenges to the Definition of Resilience” McCubbin (2001) menjabarkan faktor-faktor yang mempengaruhi bervariasinya definisi resiliensi, yaitu:

1) Pertama: Hubungan antara resiliensi dan faktor-faktor akibat (outcome faktors) contohnya: mendefinisikan resiliensi menjadi sebagai variabel penengah (moderator variabel) ketika menguji hubungan antara kesengsaraan dan akibat yang dihasilkan.

2) Kedua: Variasi dalam konseptualisasi resiliensi sebagai seperangkat akibat yang utama. Hasil ini didefinisikan dalam banyak perbedaan, seperti penambahan keterampilan sosial, perkembangan emosi, dan atau pencapaian akademik. Atau outcome yang negatif seperti menggunakan narkoba, kenakalan remaja dan meningkatnya aktivitas seksual. Outcome ini juga dekat dengan perspektif faktor positif seperti kesejahteraan psikologi, self-efficacy atau Self-esteem. 3) Ketiga: Mendefinisikan dan mengatur unsur resiliensi yang dapat


(32)

Contohnya: variabel yang mempengaruhi keterampilan koping, sikap-sikap dalam menghadapi rintangan, atau faktor-faktor lingkungan seperti dukungan keluarga dan keterlibatan komunitas. 4) Resiliensi dipandang sebagai sekelompok faktor-faktor resiko (risk

faktors), yang memberikan makna pada respon manusia yang bertahan dan kembali pulih dari kesengsaraan, seperti:

a. Mengukur signifikansi dalam satu periode waktu kehidupan seseorang. Kejadian ini bisa merupakan kejadian yang positif seperti kelahiran anak, pernikahan, dan bisa merupakan kejadian negatif, seperti kematian keluarga dan sakit (tidak sehat).

b. Mengukur stressor yang spesifik seperti bencana alam atau kejadian yang khusus seperti perceraian atau kehilangan orang tua.

c. Menguji faktor resiko untuk memperhatikan stressor yang kronis atau stress yang beruntun atau konstelasi.

Berdasarkan pemaparan dari beberapa definisi resiliensi diatas, serta uraian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi bervariasinya definisi resiliensi, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa resiliensi adalah suatu kemampuan untuk dapat mempelajari, bertahan, dan mengatasi segala keadaan yang sulit untuk dihadapi dan tidak dapat dihindari.


(33)

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Resiliensi

Werner dan Smith (dalam Reich, et.al. 2010) melakukan penelitian panjang, selama 40 tahun yang diikuti oleh anak-anak dari sebuah pulau daerah Kauai sejak mereka kecil sampai dewasa. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa faktor penting yang mempengaruhi resilience outcomes, yaitu:

1. Karakteristik individu, seperti Self-esteem dan tujuan hidup

2. Karakteristik keluarga seperti kasih sayang ibu dan dukungan keluarga, dan

3. Lingkungan sosial yang lebih luas, terutama mendapatkan contoh dari orang dewasa yang menyediakan dukungan tambahan

Hjemdal, Friborg, Stiles,Rosenvinge, and Martinussen (dalam Reich, et.al. 2010) mengidentifikasikan faktor internal yang dapat memprediksi resiliensi seseorang seperti kemampuan personal dan sosial dan juga faktor eksternalnya seperti keselarasan keluarga dan sumber sosial.

Menurut Siebert (2005) kekuatan resiliensi datang dari motivasi diri, usaha-usaha mengatur diri untuk mengembangkan kemampuan resiliensi. Dimana terdapat lima langkah untuk mengembangkan kemampuan resiliensi, yaitu:

1. Mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan diri 2. Mengembangkan kemampuan pemecahan masalah 3. Mengembangkan kekuatan Inner gatekeepers

4. Mengembangkan kemampuan resiliensi yang lebih tinggi 5. Menemukan bakat untuk serendipity


(34)

Menurut Resnick, Gwyther, Roberto (2011) terdapat empat faktor yang mempengaruhi resiliensi pada individu, yaitu: Self-esteem, dukungan sosial, spritualitas atau keberagamaan, dan emosi positif.

Garmezy, Greef & Ritman, Rutter, Shiner (dalam Reich, et.al. 2010) menjelaskan bahwa kepribadian resilien adalah karakteristik dari trait yang mencerminkan kekuatan, dapat dibedakan dengan baik dan menyatukan perasaan diri dan trait yang dapat meningkatkan kekuatan, hubungan timbal balik interpersonal dan orang lain. (Garmezy, 1991; Greef & Ritman, 2005; Rutter, 1987; Shiner, 2000) Kekuatan rasa dari diri ditunjukkan oleh:

1) Self-esteem;

2) Kepercayaan diri atau self-efficacy; 3) Pemahaman diri;

4) Orientasi masa depan yang positif, dan

5) Kemampuan untuk mengatur perilaku-perilaku dan emosi-emosi negatif.

2.1.2 Aspek Resiliensi

Reivich dan Shatte (2002) dalam bukunya “the Resilience Faktor

menjelaskan bahwa kemampuan resiliensi terdiri dari tujuh aspek, yaitu regulasi emosi, mengkontrol dorongan, empati, optimis, menganalisa sebab-akibat, self-efficacy, dan berinteraksi dengan lingkungan (racing out).


(35)

1. Regulasi Emosi (Emotion Regulation)

Regulasi emosi merupakan suatu kemampuan dimana individu dapat tetap tenang meskipun sedang berada dalam keadaan tertekan. Individu dengan regulasi emosi yang baik dapat mengontrol emosi, perhatian dan perilaku mereka, sehingga individu dapat mengekspresikan emosi mereka dengan tepat sesuai situasi dan lokasinya (Reivich dan Shatte, 2002).

Tidak semua emosi perlu diperbaiki dan dikontrol. Emosi yang dirasakan oleh individu harus diekspresikan, namun cara mengekspresikannya haruslah tepat. Menurut Reivich dan Shatte (2002) Ekspresi emosi baik negatif maupun positif merupakan sesuatu yang sehat dan bersifat membangun apabila emosi diekspresikan dengan tepat. Kemampuan untuk mengekpresikan emosi dengan tepat dimiliki oleh individu yang resilien.

Menurut Reivich dan Shatte (2002) ketenangan dan kefokusan merupakan keterampilan yang dimiliki untuk membantu individu dalam meregulasi emosi. Dengan dua keterampilan ini individu dapat merespon suatu hal dengan emosi yang tepat.

2. Pengendalian Impuls (Impluse Control)

Reivich dan Shatte (2002) menyatakan Pengendalian impuls memiliki hubungan yang dekat dengan regulasi emosi. Individu yang memiliki regulasi rendah juga memiliki pengendalian impuls yang


(36)

rendah. Sehingga apabila individu memiliki kontrol impuls yang rendah, maka individu tersebut akan percaya pada dorongan impulsifnya yang pertama dan menganggap situasi merupakan kenyataan dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan kenyataan tersebut. Hal ini dapat membuat resiliensi individu menjadi rendah. Individu dengan control impuls yang baik adalah ketika individu berada dalam situasi yang menantang, maka individu tersebut akan sanggup untuk memunculkan pengendalian impuls dan menghasilkan lebih banyak pemikiran yang lebih cermat sehingga melakukan regulasi emosi yang lebih baik dan menghasilkan perilaku yang lebih resilien.

3. Optimis

Orang yang resilien adalah orang yang optimis. Mereka percaya bahwa sesuatu itu bisa berubah menjadi lebih baik. Mereka punya harapan untuk masa depan dan percaya bahwa mereka mengkontrol dan mengarahkan hidup mereka. optimis membuat fisik lebih sehat karena dengan optimis hanya sedikit kemungkinan menderita depresi, menjadi lebih baik disekolah, lebih produktif saat kerja, dan lebih sering memenangkan perlombaan olahraga (Reivich dan Shatte, 2002).

Individu yang optimis adalah individu yang percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menangani kesengsaraan yang akan muncul di masa yang akan datang. Optimis juga menggambarkan kemampuan self-efficacy, yakni kemampuan untuk mempercayai


(37)

kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dan siapa yang mengkontrol kehidupan diri sendiri. Kunci untuk menjadi resilien dan mencapai kesuksesan dikemudian hari adalah dengan memiliki optimis yang realistis dan dipadukan dengan self-efficacy (Reivich dan Shatte, 2002).

4. Analisis Penyebab Masalah (Causal Analysis)

Analisis kausal adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam mengidentifikasi dengan teliti penyebab dari masalah yang dihadapinya. Jika masalah tersebut tidak diidentifikasi dengan akurat, maka akan terjadi beberapa kesalahan secara berulangkali (Reivich dan Shatte, 2002).

Seligman dan rekannya (dalam Reivich dan Shatte, 2002) mengidentifikasi cara yang merupakan hal penting dalam analisis kausal dikenal denga explanatory style, yakni merupakan cara untuk menjelaskan hal baik dan buruk yang dialami oleh individu.

explanatory style terdiri dari tiga dimensi, yaitu: personal (saya-bukan saya); permanent (selalu-tidak selalu); pervasive (segalanya-bukan segalanya).

Individu yang resilien adalah individu yang memiliki kefleksibelan kognitif dan bisa mengidentifikasi semua penyebab dari kesulitan yang dihadapinya. Individu dapat bersikap realistis dan tidak


(38)

memfokuskan diri pada situasi yang tidak dapat diubah. Individu juga tidak menyalahkan orang lain terhadap kesalahan yang dilakukannya dalam rangka untuk membebaskan diri dari perasaan bersalah. Mereka juga berusaha mengontrol faktor yang bisa dikontrol dan mengatasi masalah yang akan datang (Reivich dan Shatte, 2002).

5. Empati

Empati merupakan kemampuan individu dalam menangkap isyarat yang diberikan orang lain untuk menunjukkan keadaan psikologis dan emosi mereka. Tidak semua orang memiliki kemampuan empati yang baik, ada juga yang tidak dapat mengembangkan kemampuan ini sehingga mereka tidak dapat menempatkan diri mereka pada posisi orang lain, memperkirakan apa yang orang lain rasakan dan memprediksi apa yang akan dilakukan oleh orang lain (Reivich dan Shatte, 2002).

Orang-orang dengan empati yang rendah, orang yang tetap memiliki maksud yang baik, cenderung sering mengulangi pola tidak resilien dalam berperilaku, dan mereka dapat “mengancam” keinginan dan emosi orang lain. Akan tetapi skor empati bisa meningkat (Reivich dan Shatte, 2002).

6. Self-Efficacy

Self efficacy adalah sebuah pemahaman yang menganggap bahwa dirinya adalah orang yang mengesankan dalam dunia. Ini


(39)

menggambarkan kepercayaan individu bahwa dirinya bisa memecahkan sendiri masalahnya, memiliki pengalaman dan kepercayaan bahwa dirinya mampu meraih sukses (Reivich dan Shatte, 2002).

Individu yang memiliki Self efficacy yang tinggi dapat mengatasi masalahnya dan tidak menyerah bahkan saat mereka menemukan bahwa solusi yang dia pikirkan tidak berhasil. Mengetahui talenta dan kemampuan yang dimiliki. Tetap percaya diri saat mengatasi masalah, dan membuat mereka lebih kuat ketika dihadapkan pada tantangan.

Pada individu yang efikasi dirinya rendah, respon yang muncul adalah lebih pasif saat dihadapkan pada sebuah tantangan atau masalah seperti ditempatkan di situasi baru. Saat ada masalah mereka mundur atau meminta orang lain mencari solusi bagi mereka. Jika mereka dihadapkan untuk mengatasi masalah mereka sendiri, mereka kekurangan kepercayaan diri atau merasa tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut.

7. Peningkatan Aspek Positif (Reaching Out)

Menurut Reivich dan Shatte (2002) resiliensi tidak hanya mengenai menanggulangi, terus mengendalikan dan menghilangkan kesengsaraan. Resiliensi juga memungkinkan kita untuk meningkatkan aspek positif dalam hidup. Resiliensi adalah sumber dari kemampuan kita untuk dapat meningkatkan aspek positif dan memberikan kejutan mengapa beberapa orang yang dapat melakukan itu. Orang yang tidak


(40)

reaching out merasa lebih baik untuk tidak melakukan sesuatu daripada dia melakukan sesuatu tapi banyak orang yang mengetahui bahwa dirinya mengalami kegagalan dan ditertawakan (Reivich dan Shatte, 2002).

Resiliensi juga penting untuk memperkaya hidup, memperdalam hubungan, dan mencari pembelajaran dan pengalaman baru. Untuk dapat meningkatkan aspek positif dalam hidup, individu yang resiliensi mampu menaksir resiko dengan baik memahami diri sendiri, dan mempunyai makna dan tujuan dalam hidup. Adanya kemampuan untuk menaksir risiko dengan baik ini kemudian menghadapi masalah, memampukan individu merasa aman untuk mengejar pengalaman yang baru dan membentuk hubungan yang baru.

Sementara itu Grotberg (2003) dalam bukunya “Resilience for Today: Gaining Strength from Adversity” menjelaskan untuk lebih mudah memahami

dimensi dalam resiliensi yang berupa external supports, inner strengths, dan

interpersonal and problem-solving skill, menurut Grotberg aspek resiliensi dalam tiga hal, yaitu: I HAVE, I AM dan I CAN.

1. Sumber-sumber yang Dimiliki (External Supports)

Sumber-sumber yang dimiliki oleh individu atau yang disebut I have oleh Grotberg, berupa dukungan yang didapatkan individu dari lingkungan sekitarnya, sehingga individu merasa memiliki keluarga dan


(41)

orang-orang yang dapat diandalkan, mendukung dan peduli terhadapnya. Secara spesifik dimensi ini mencakup:

a) Aku memiliki satu orang atau lebih dalam keluargaku yang bisa aku percayai dan mencintaiku tanpa syarat;

b) Aku memiliki satu orang atau lebih diluar keluargaku yang bisa aku percayai tanpa syarat;

c) Aku memiliki batasan dalam berperilaku;

d) Aku memiliki orang-orang yang mendukungku untuk menjadi mandiri;

e) Aku memiliki orang yang dapat dijadikan teladan yang baik; f) Aku memiliki akses untuk kesehatan, pendidikan, dan sosial,

serta pelayanan keamanan yang aku butuhkan, dan g) Aku memiliki keluarga dan komunitas yang stabil 2. Kekuatan Dalam Diri (Inner Strengths)

Kekuatan dalam diri merupakan pemahaman individu mengenai dirinya sendiri, Grotberg menyebutnya dengan I am. Hal ini mencakup potensi dalam diri individu yang bersifat positif, sehingga dapat merasa percaya diri, optimis, memililiki harga diri, dan bertanggung jawab. Secara spesifik dimensi ini mencakup:

a) Aku adalah orang yang paling disukai oleh orang-orang;

b) Secara umum aku dalah orang yang tenang dan memiliki sifat yang baik;


(42)

c) Aku adalah orang yang dapat mencapai apa yang telah aku rencanakan untuk masa depan;

d) Aku adalah orang yang dapat menghargai diri sendiri dan orang lain;

e) Aku adalh orang yang berempati dan peduli terhadap orang lain; f) Aku adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perilaku

sendiri dan mau menerima semua konsekuensinya, dan

g) Aku adalah orang yang percaya diri, optimis, penuh harapan dan keyakinan.

3. Kemampuan Diri (Interpersonal and Problem-Solving Skill)

Kemampuan diri merupakan pemahaman individu mengenai segala hal yang dapat dilakukan sendiri, Grootberg menyebutnya dengan I can, dimana mencakup keterampilan individu dalam melakukan hubungan interpersonal dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Secara spesifik dimensi ini mencakup:

a) Aku bisa menghasilkan ide-ide baru atau cara baru dalam melakukan sesuatu;

b) Aku bisa mengerjakan tugas sampai selesai;

c) Aku bisa menyaksikan humor dan menggunakannya untuk mengurangi ketegangan;

d) Aku bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam berkomunikasi dengan orang lain;


(43)

e) Aku bisa memecahkan masalah dalam berbagai keadaan (akademik, pekerjaan, personal, dan sosial);

f) Aku bisa mengontrol perilaku (perasaan, dorongan, dan tindakan), dan

g) Aku bisa mendapatkan pertolongan ketika aku butuh.

Menurut Grotberg (1995) aspek pada resiliensi tersebut dapat ditingkatkan secara terpisah, namun untuk menghadapi kesengsaraan butuh untuk mengkombinasikan ketiga aspek tersebut, baru kemudian mengambil beberapa kategori yang dibutuhkan. Terdapat beberapa orang yang dapat resilein pada suatu situasi, namun tidak dapat resilien pada situasi yang lain. Hal ini terjadi karena mereka hanya dapat resilien pada situasi mengancam yang telah dikenal dan lebih sedikit, tapi bila dalam keadaan yang baru dan lebih mengancam mereka akan kehilangan kontrol sehingga mereka butuh belajar untuk mendapatkan bantuan.

Dimensi resiliensi yang dikemukakan oleh Grotberg menjelaskan bahwa tidak hanya keadaan internal saja yang dapat membuat seseorang dikatakan resilien, keadaan eksternal juga memiliki peran dalam resiliensi. Seseorang mungkin saja memiliki kekuatan dalam diri dan keterampilan sosial yang baik, namun apabila tidak memiliki orang yang membantu dan mencintai, maka dia bukanlah orang yang memiliki resiliensi. Berdasarkan penjelasan aspek resiliensi diatas, penelitian ini akan menggunakan aspek-aspek resiliensi yang


(44)

diungkapkan oleh Grotberg (2003), yaitu: Sumber-sumber yang Dimiliki, Kekuatan Dalam Diri dan Kemampuan Diri.

2.1.3 Pengukuran Resiliensi

Berdasarkan teori mengenai aspek-aspek resiliensi yang telah dijelaskan sebelumnya, terdapat dua skala pengukuran. Pertama skala yang dikembangkan oleh Reivich dan Shatte yang berbentuk skala bernama Resilience Quotient

(RQ). Skala ini terdiri dari 56 item berdasarkan 7 aspek resiliensi menurut Reivich-Shatte, yaitu Regulasi Emosi, Pengendalian Impuls, Empati, Optimis, Analisis Penyebab Masalah, Self-Efficacy, dan Peningkatan Aspek Positif (Racing Out) (Reivich dan Shatte, 2002).

Selain itu terdapat juga alat ukur resiliensi milik Grotberg. Skala ini tidak memiliki nama khusus, dan hanya terdiri dari item-item saja. Pada skala ini terdapat 21 item berdasarkan 3 aspek resiliensi menurut Grotberg, yaitu Sumber-sumber yang Dimiliki, Kekuatan Dalam Diri dan Kemampuan Diri.

Pengukuran resiliensi dalam penelitian ini akan mengadaptasi alat ukur resiliensi yang dikembangkan oleh Grotberg karena menurut penulis, dalam penelitian ini lebih cocok menggunakan alat ukur tersebut, selain itu dengan menggunakan alat ukur ini juga lebih dapat mengefisienkan waktu dan tenaga.


(45)

2.2 Self-esteem

2.2.1 Pengertian Self-esteem

Wells dan Marwell (dalam Guindon,2010) mengklasifikasikan definisi

self-esteem. Mereka memiliki kesimpulan bahwa definisi self-esteem dapat dibagi kedalam empat kategori yang dapat menghasilkan perspektif yang berbeda dari setiap kategorinya, definisi self-esteem menurut Wells dan Marwell adalah:

1. Pendekatan objek/sikap (object/attitudinal approach),

Diri adalah suatu objek perhatian seperti hal lainnya. Kita bisa memiliki pemikiran, perasaan, dan perilaku terhadap apapun yang menjadi objek. Dengan demikian kita juga bisa memiliki reaksi atas diri kita sendiri, hal seperti inilah yang disebut dengan self-esteem. 2. Pendekatan hubungan (relationalapproach)

Hubungan atau perbedaan antara seperangkat sikap. Ini juga merupakan reaksi. Contohnya: kita bisa memiliki pemikiran, perasaan dan perilaku yang bermacam-macam dan berbeda ketika kita membandingkan antara diri ideal kita (ideal self) dengan diri kita yang sebenarnya (real self), atau antara harapan kita dan prestasi kita. Well dan Marwell menemukan bahwa hubungan yang berbeda ini merupakan tipe dari definisi self-esteem.

3. Pendekatan respon-respon psikologis (psychological responses approach,)


(46)

Sebagaimana namanya, perhatian reaksi-reaksi psikologis dan emosi yang mengacu pada diri. Kita dapat merasa positif atau negatif mengenai beberapa elmen dalam diri kita sendiri, seperti perilaku kita atau penampilan kita. Self-esteem yang didefinisikan disini cenderung alami. Pendekatan respon psikologis ini salah satu cara dalam mendefinisikan self-esteem.

4. Pendekatan fungsi/komponen kepribadian (personality function/component approach)

Self-esteem merupakan bagian dari kepribadian (sebuah konstrak itu sendiri), diri, atau sistem diri, yang menjadi bagian kepribadian yang terkait dengan motivasi dan regulasi diri. Contohnya, individu menilai diri mereka sendiri berdasarkan bagaimana mereka tampail pada standar yang diterima di lingkungan sosialnya.

Menurut Minchinton (1993) dalam bukunya Maximum Self-esteem, self-esteem adalah nilai yang dilekatkan pada diri kita. Self-esteem juga berarti penilaian atas ‘harga diri’ kita sebagai manusia, berdasarkan pada persetujuan atau pengingkaran atas diri dan perilaku kita. Sedangkan William James (dalam Guindon,2010) mendefinisikan self-esteem sebagai penghargaan diri yang terdiri atas perasaan dan emosi yang mengacu pada diri. Wells dan Marwell menyimpulkan bahwa hampir semua definisi dari self-esteem konsisten pada dua aspek utama, yaitu: penilaian dan mempengaruhi atau pengalaman emosi.


(47)

Horney (dalam Guindon,2010) manyatakan bahwa setiap orang dilahirkan dengan potensi yang unik dan self-esteem diperoleh dari pencapaian tersebut. Sedangkan dalam sumber yang sama, Sullivan mengusulkan bahwa

self-esteem adalah kebutuhan sosial yang harus diterima, disukai, dan dimiliki, hal ini diperoleh dari interaksi sosial yamg mencerminkan penilaian diri. Self-esteem dipertahankan oleh penyesuaian diri terhadap harapan. Allport menyamakan self-esteem dengan perasaan bangga yang datang dari sesuatu yang bisa dilakukan oleh seseorang (Guindon,2010).

Rogers (dalam Guindon,2010) mendefinisikan self-estem suatu perluasan atas apa yang orang-orang sukai, nilai dan diterima oleh diri mereka sendiri. Menurutnya, self-esteem merupakan pengembangan diri dari kombinasi atas yang dialami dan didapatkan dari nilai-nilai dan pilihan-pilihan afektif.

Maslow (dalam Guindon,2010) memasukkan self-esteem sebagai kebutuhan dasar kedua untuk mencapai aktualisasi diri. Ia mendefinisikan self-esteem sebagai suatu hasrat untuk kekuatan, pencapaian, kecukupan, penguasaan, dan kemampuan untuk kemandirian dan kebebasan.

Rosenberg (dalam Guindon,2010) menyimpulkan bahwa self-esteem

adalah suatu sikap yang mengacu pada objek spesifik, yaitu diri. Setiap karakteristik diri dari penilaian dan hasil di kalkulasikan sebagai karakter. Setiap elmen dalam diri dievaluasi berdasarkan pada suatu penilaian yang dikembangkan sejak anak-anak dan remaja. Masukan dari orang lain, terutama orang-orang terdekat adalah unsur penting dalam self-esteem.


(48)

Sedangkan Guindon sendiri dalam bukunya Self-esteem Across the Lifespan Issues and Interventions manyebutkan self-esteem adalah sikap, komponen evaluasi diri; penilaian tempat afektif yang terdiri atas konsep diri terdiri atas perasaan bermanfaat dan penerimaan yang mengembangkan dan merawat akibat dari kesadaran kompetensidan umpan balik dari dunia luar.

Smelser (dalam Guindon,2010) menyatakan bahwa elemen kognitif, afektif dan evaluasi adalah komponen universal dari self-esteem. Komponen ini menunjukkan perbedaan kegunaan. Elmen kognitif mengungkapkan bagian dari diri dalam bagian deskriptif. Elmen afektif adalah aspek positif atau negatif dari setiap atribut ini atau valensi ini. Ini menentukan rendah atau tingginya self-esteem. Elmen evaluasi adalah level ketepatan menugaskan setiap atribut. Ini merupakan standar ideal bermasyarakat.

Dari beberapa pemaparan mengenai definisi self-esteem diatas, dapat disimpulkan bahwa self-esteem adalah nilai yang dilekatkan pada diri kita. Self-esteem juga berarti penilaian terhadap harga diri berdasarkan perlakuan yang diterima dari lingkungan.

2.2.2 Kategori Self-esteem

Branden (1985) dalam bukunya “The Self: Self-esteem And Personal

Transformation” menyebutkan bahwa self-esteem dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:


(49)

1. Low Self-esteem

Individu dengan self-esteem yang rendah memiliki kecenderungan untuk lebih mudah mengalami depresi dan kecemasan. Seseorang dengan self-esteem yang rendah akan merasa tidak pantas mendapatkan kebahagiaan, merasa tidak layak untuk mendapatkan kegembiraan atau penghargaan dalam hidupnya. Mereka juga merasa bahwa diri mereka tidak memiliki kemampuan dan tidak berharga, hal ini dapat terjadi karena adanya pengalaman hidup yang menakutkan dan mengalami kegagalan.

2. Good Self-esteem

Ketika seseorang telah memiliki suatu elmen yang penting untuk kebahagiaannya serta tidak memerlukan jaminan untuk mendapatkan kebahagiaan, dan juga memiliki self-confidence dan self-respect yang tinggi, mereka dapat dikatakan memiliki self-esteem yang baik. Individu dengan self esteem yang baik bukan berarti tidak memiliki katakutan ataupun ketidak yakinan terhadap dirinya, terkadang mereka juga memiliki keraguan pada beberapa hal misalnya, mereka tidak yakin untuk mendapatkan penghargaan khusus seperti meraih Nobel. Namun mereka dapat menikmati kehidupan dan dapat menenukan sumber kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup.


(50)

3. High Self-esteem

Individu dengan self-esteem yang tinggi memiliki kekuatan yang besar dalam menjalankan kehidupannya.

2.2.3 Dimensi Self-esteem

Minchinton (1993) dalam bukunya “Maximum Self-esteem” memaparkan

tiga aspek dalam self-esteem, yaitu: 1. Perasaan tentang Diri Sendiri

Individu dengan self-esteem yang tinggi merupakan individu yang dapat menerima diri seutuhnya tanpa syarat, dan juga menghargai dirinya sebagai seseorang yang berharga. Penerimaan tanpa syarat berarti menerima dan menghargai diri sendiri tanpa bergantung pada apapun, menerima diri apa adanya secara penuh, merasa nyaman dengan apa yang dilakukan, dan tidak berfokus pada kekurangan yang dimiliki. Individu dengan self-esteem yang tinggi juga mampu menilai keunikan dalam dirinya sebagai seorang individu tanpa menghiraukan sifat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya ataupun tidak.

Individu dengan self-esteem yang tinggi dapat menerima segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya dan tidak terpengaruh oleh apa yang dikatakan orang lain mengenai diri sendiri. Ketika mendapatkan pujian, tidak merasa lebih baik, dan ketika dikritik juga tidak merasa lebih buruk. Perasaan tentang diri sendiri tidak tergantung


(51)

pada kondisi eksternal atau apapun yang dilakukan. Seseorang dengan

self-esteem yang tinggi juga dapar mengontrol emosi dengan baik. Bebas dari perasaan yang tidak menyenangkan, seperti perasaan bersalah, marah, sedih, dan takut. Emosi yang sering muncul pada orang dengan self-esteem yang tinggi adalah perasaan bahagia, karena ia merasa senang dan menerima dirinya dan kehidupannya apa adanya.

Individu dengan self-esteem yang rendah adalah individu yang percaya bahwa penilaian mengenai dirinya diukur berdasarkan pada pencapaian yang diperolehnya. Ia akan bekerja dengan sangat keras dan kooperatif untuk memperoleh suatu pencapaian dan untuk membuktikan bahwa dirinya telah mencapai suatu kesuksesan. Individu dengan self-esteem yang rendah akan perfeksionisme, menentukan tujuan yang tidak realistis, dan meletakkan tuntutan yang tidak rasional pada diri sendiri. Memiliki cita-cita yang tidak realistis hanya akan lebih banyak menghukum dan menyalahkan diri sendiri, karena ketika tujuan itu tercapai, ia akan merasa kecewa, karena merasa tidak puan dan kurang, meskipun berbagai upaya telah dilakukan.

Individu yang memiliki self-esteem rendah juga akan takut untuk mencoba. Ketika ada orang yang menilai rendah diri dan pekerjaannya, maka ia akan meragukan kemampuannya dan akan takut dalam mempertanyakan tujuan yang ditetapkannya. Apabila terbatasnya penghargaan pada diri akan membuatnya akan meletakkan batasan yang


(52)

kaku atas apa yang ingin dicapai. Jika dia telah meletakkan tujuan yang ingin dicapai, maka mereka tidak meyakini bahwa bisa mencapainya.

Self-esteem yang rendah juga ditunjukkan dengan penilaian diri yang tergantung pada pendapat atau komentar orang lain. Dia akan berusaha bahkan dengan susah payah untuk mendapatkan mengakuan dan penghargaan orang lain, yang terkadang melalui upaya yang beresiko dan berbahaya bagi dirinya sendiri.

2. Perasaan tentang Hidup

Individu yang memiliki self-esteem tinggi adalah individu yang merasa memiliki tanggungjawab dan kontrol atas hidupnya. Mereka merasa bahwa apapun yang terjadi pada kehidupannya adalah karena pilihan dan keputusannya, bukan karena faktor eksternal. individu dengan self-esteem yang tinggi juga dapat memiliki pilihan untuk mempertimbangkan pendapat orang lain tentang hidupnya, namun tetap memiliki otoritas penuh untuk menentukan mana yang benar dan terbaik untuk hidupnya.

Individu denganself-esteem yang rendah akan cenderung salah dalam menggambarkan realitas kehidupannya. Dan tidak memperdulikan apa yang terjadi pada lingkungan sekitar. Beberapa dari mereka merasa terasingkan dari realitas kehidupan, dan apa yang terjadi pada kehidupannya seringkali tampak diluar kendali. Mereka juga merasa dirinya tidak berdaya, lemah, dan setiap saat mudah terserang,


(53)

seperti tidak memiliki kekuatan untuk sedikitpun mengatasi tantangan yang terjadi pada kehidupannya sehari-hari.

3. Perasaan tentang Orang Lain

Individu dengan self-esteem yang tinggi memiliki toleransi dan penghargaan kepada semua orang, sepanjang ia meyakini bahwa ia memiliki hak yang sama seperti manusia pada umumnya. Ketika seseorang merasa nyaman dengan dirinya, ia akan menghargai hak-hak orang lain, apa yang orang lain lakukan, dan pilihan serta kehidupan yang mereka jalani, selama orang lain juga memiliki kehendak untuk menghargai dirinya. Sehingga mereka mampu menjalin hubungan dengan orang lain secara bijak.

Individu dengan self-esteem yang rendah akan memiliki dasar penghargaan yang rendah pada orang lain, tidak memiliki toleransi dan memiliki keyakinan bahwa orang lain harus hidup berdasarkan pada cara pandangnya terhadap mereka. orang dengan self-esteem yang rendah akan berhubungan dengan orang lain secara kaku dan tidak fleksibel, terlalu sibuk dengan urusan sendiri dan tidak mau memikirkan tentang orang lain. Saat memikirkan orang lain, ia hanya khawatir mengenai apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Mereka cenderung melakukan sabotase terhadap hubungan dengan orang lain. Ia seringkali merasa tidak aman dan tidak nyaman berada dengan orang


(54)

lain, bahkan bersikap malu dan mempermalukan atau marah dan defensif.

Dalam penelitian ini, akan digunakan aspek-aspek resiliensi yang diungkapkan oleh Minchinton (1993), yaitu: Perasaan Tentang Diri Sendiri, Perasaan Tentang Hidup, dan Perasaan Tentang Orang Lain.

2.2.4 Pengukuran Self-esteem

Guindon (2010) dalam bukunya “Self Esteem Across The Lifespan

menjelaskan beberapa instrumen dalam pengukuran self-esteem, yaitu sebahai berikut:

Self-esteem Scale (SES) yang dikembangkan oleh Rosenberg, 1965. Instrumen ini hanya mengukur self-esteem secara umum, melakukan pengukuran unidimensional dari perasaan secara umum terhadap harga diri dan penerimaan diri. Memperkirakan perasaan positif atau negative mengenai diri sendiri. SES terdiri dari 10 item, dimana pada setiap pernyataan terdapat 4 pilihan respon. SES dapat digunakan pada remaja hingga dewasa.

Self-esteem Inventory (SEI), dikembangkan oleh Coopersmith, 1981. SEI terdiri dari 2 bentuk, yaitu tipe A yang dapat mengukur self-esteem secara umum dan khusus, pada tipe A ini terdapat 4 sub skala, yaitu hubungan sosial diri dan teman sepermainan, rumah-orangtua, akademik disekolah, dan skala kebogongan. Tipe B hanya mengukur self-esteem secara umum. Pada SEI,


(55)

responden dilinta memilih seperti aku atau bukan aku pada pernyataan yang tersedia. Pada tipe A terdapat 50 item dan tipe B terdapat 25 item. SEI dapat digunakan pada anak usia 8 tahun sampai 15 tahun.

Tennessee Self-Concept Scale (TSCS) dikembangkan oleh Roid dan Fitts, 1988. TSCS terdiri dari 100 item, dimana dalam setiap pernyataan terdapat 5 pilihan respon terhadap pernyataan tersebut. Dalam TSCS terdapat pernyataan yang dapat mengukur self-esteem secara umum ataupun khusus, seperti sosial, keluarga,fisik, etika moral, dan kategori personal. TSCS dapt digunakan pada yang telah berusia diatas 12 tahun.

Dalam penelitian ini akan menggunakan alat pengukur self-esteem

berbentuk skala yang akan diadaptasi dari alat pengukuran self-esteem yang dikembangkan oleh Minchinton. Alat pengukuran self-esteem ini terdiri dari 25 item bardasarkan 3 dimensi self-esteem menurut Minchinton, yaitu Perasaan tentang Diri Sendiri, Perasaan tentang Hidup, dan Perasaan tentang Orang Lain. Tujuan dari pengukuran ini adalah ingin mengetahui keadaan dan tingkat self-esteem responden.

2.3 Dukungan Sosial

2.3.1 Pengertian Dukungan Sosial

Menurut Reitschlin dan Allen Dukungan sosial didefinisikan sebagai informasi yang diberikan oleh orang lain yang mencintai dan memperdulikan untuk menghormati dan menghargai, dan bagian dari jaringan komunikasi dan


(56)

kewajiban bersama dari orang tua, pasangan hidup atau orang yang mencintai, ahli-ahli lain, teman, hubungan dengan sosial dan komunitas dan juga memelihara binatang peliharaan (dalam Taylor, 2006)

Menurut Cutrona (1986) dukungan sosial didefinisikan dan diterapkan dalam banyak bentuk, yang bisa dirasakan sebagai sumber pelindung dalam melawan segala hal yang merugikan baik bagi kesehatan fisik maupun psikis. (cutrona, 1986)

Sarafino dan Smith (2011) mengungkapkan bahwa dukungan sosial merupakan kesenangan, kepedulian, penghargaan atau tersedianya bantuan yang yang diterima oleh individu dari orang lain atau kelompok. Dukungan tersebut dapat diperoleh dari pasangan hidup atau kekasih, keluarga, teman, dokter, atau organisasi dan komunitasnya.

Menurut Sarason et.all. (1983) dukungan sosial biasanya didefinisikan sebagai adanya atau tersedianya orang yang bisa diandalkan, orang yang menunjukkan bahwa dia memperdulikan, menghargai, dan mencintai kita.

Dari berberapa pengertian dari dukungan sosial diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial merupakan persepsi seseorang mengenai kepedulian, penghargaan, penerimaan, dan kasih sayang yang didapatkan dari orang-orang yang berada dilingkungan sekitar.


(57)

2.3.2 Dimensi Dukungan Sosial

Weiss dalam jurnal Cutrona dan Russell yang berjudul “The Provisions of Sosial Relationship and Adaptation to Stress” menyebutkan bahwa terdapat

enam fungsi sosial yang berbeda atau “ketentuan” yang mungkin dapat diperoleh dari orang lain. Dia berpendapat bahwa keenam ketentuan ini dibutuhkan oleh individu untuk mendapatkan dukungan yang cukup serta untuk menghindari rasa kesepian ketika mengalami kesengsaraan, meskipun ketentuan yang berbeda mungkin dapat menjadi sangat penting dalam suatu keadaan tertentu atau pada tingkat tertentu dalam siklus kehidupan. Keenam aspek ketentuan tersebut adalah:

1. Guidance (Pembimbing) guidance merupakan nasihat atau informasi yang didapatkan baik dariguru, mentor, ataupun orang tua.

2. Reliable Alliance (Kelompok yang Dapat Dipercaya) adanya jaminan bahwa individu memiliki orang yang bisa diperhitungkan dalam memberikan bantuan yang nyata. Dukungan ini biasanya didapatkan dari keluarga.

3. Reassurance of Worth, adanya pengakuan dari orang lain bahwa individu merupakan seseorang yang berharga, memiliki kompetensi dan kecakapan.

4. Opportunity for Nurturance (Kesempatan Untuk Mengasuh) adanya perasaan bahwa seseorang mempercayakan sesuatu untuk kesejahteraan mereka kepada individu yang berhubungan dengan skema


(58)

konseptualnya. Menurut Weiss, sumber yang paling sering dalam kesempatan untuk diasuh adalah keturunan seperti anak atau cucu, meskipun suami atau istri juga merupakan sumber yang lain.

5. Attachment (Kasih Sayang) adanya kedekatan emosional dari dari seseorang yang memberikan rasa aman. Kasih sayang (attachment) paling sering didapatkan dari suami atau istri, tapi tidak menutup kemungkinan juga dapat berasal dari hubungan keluarga dan pertemanan.

6. Sosial Integration (Integrasi Sosial) ssebuah rasa memiliki suatu kelompok yang memiliki kesamaan minat, perhatian, dan aktivitas. Integrasi sosial paling banyak didapat dari teman. Yang dikaitkan dengan memberikan kebahagiaan, keamanan, kesenangan, dan adanya identitas.

Sarafino dan Smith (2011) dalam buku Health Psychology: Biopsychososial Interactions menyatakan bahwa terdapat empat aspek dalam dukungan sosial, yaitu:

1. Dukungan Emosi atau Penghargaan

Dukungan emosi dapat diekspresikan dengan cara menunjukkan empati, memberikan perhatian dan kepedulian, memandang positif, serta memberikan dorongan. Hal ini dapat memberikan kesenangan dan menentramkan hati karena mereka merasa memiliki seseorang yang


(59)

perduli dan mencintai mereka ketika sedang berada dalam keadaan yang sulit dan mengalami stress.

2. Dukungan Nyata atau Dukungan Instrument

Dukungan instrument merupakan dukungan yang berbentuk pelibatan diri secara langsung dalam memberikan bantuan. Dukungan ini dapat berupa pemberian dana, atau pemberian bantuan berupa tindakan nyata atau benda.

3. Dukungan Informasi

Dukungan informasi dapat diberikan dalam bentuk memberikan nasihat, dorongan, masukan, atau umpan balik mengenai bagaimana individu dalam menyikapi masalah yang sedang dihadapinya dan apa yang harus individu tersebut lakukan.

4. Dukungan Persahabatan

Dukungan ini terjadi dengan adanya orang lain yang menghabiskan waktu dengan individu tersebut, dengan cara memberikan palajaran, melakukan aktivitas sosial bersama, melakukan hal yang disukai dan melibatkan diri dalam keanggotaan pada suatu kelompok.

Berdasarkan penjelasan mengenai dimensi dukungan sosial diatas, peneliti akan menggunakan dimensi-dimensi dukungan sosial dari Sarafino dan Smith (2011), yaitu: Dukungan Emosi atau Penghargaan, Dukungan Nyata atau Dukungan Instrument, Dukungan Informasi, dan Dukungan Persahabatan. Peneliti menggunakan dimensi-dimensi ini karena berdasarkan penjelasannya,


(60)

dimensi-dimensi inilah yang cocok digunakan dalam penelitian ini. Selain itu, dimensi-dimensi ini yang cukup untuk melangkapi persyaratan dimensi dalam melakukan penelitian ini.

2.3.3 Pengukuran Dukungan Sosial

Cutrona dan Russell (1984) dalam jurnalnya “The Provisions Of Social Relationships And Adaptation To Stress” menuliskan skala dukungan sosial

yang disebut dengan Social Provisions Scale. Skala ini terdiri dari 24 item, dimana terdapat 4 pilihan respon pada setiap pernyataan.

Zimet, et al (1998) dalam jurnalnya “The Multidimentional Scale of Perceived Social Support” menuliskan instrumen pengukuran dukungan sosial

yang berupa skala, disebut dengan Multidimentional Scale of Perceived Social Support. Skala ini terdiri dari 12 item, setiap pernyataan terdapat 7 pilihan respon.

Dalam penelitian ini akan menggunakan alat pengukur dukungan sosial berbentuk skala yang akan dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan indikator dari Sarafino dan Smith karena landasan teori untuk dukungan sosial yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori dari Sarafino dan Smith. Instrument ini dibuat berdasarkan 4 aspek dukungan sosial Sarafino dan Smith, yaitu: Dukungan Emosi atau Penghargaan, Dukungan Nyata atau Dukungan Instrument, Dukungan Informasi, dan Dukungan Persahabatan. Tujuan dari pengukuran ini adalah ingin mengetahui seberapa besar dukungan sosial yang didapatkan oleh responden.


(1)

109

menahan keinginan untuk kembali menggunakan zat tersebut, mereka merasa frustasi dengan kehidupan mereka, atau mereka bertemu dengan teman-teman mereka saat mengkonsumsi narkoba. Ketidaksesuaian atau perbedaan dalam penelitian ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor seperti latar belakang budaya yang berbeda, berbedanya latar belakang lingkungan sekitar, sampling error, serta beberapa hal lain yang tidak ikut diteliti dalam penelitian ini. Selain itu, partisipan yang kurang serius dalam mengisi skala juga dapat mempengaruhi perbedaan hasil karena respon menjadi tidak berpola, atau kondisi serta situasi pada saat partisipan mengisi skala dalam keadaan yang kurang kondusif sehingga partisipan menjadi tidak konsentrasi dalam memberikan responnya.

5.3Saran

Peneliti menyadari banyaknya kekurangn dalam penelitian ini. Oleh karena itu, peneliti membagi saran menjadi dua yaitu saran metodelogis dan saran praktis. Saran tersebut dapat dijadikan pertimbangan bagi peneliti lain yang akan meneliti dengan variabel depanden yang sama.

5.3.1 Saran Metodelogis

1. Untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan resiliensi, mantan pecandu narkoba sudah tepat untuk digunakan sebagai sampel, namun


(2)

110

disarankan untuk menggunakan jumlah sampel penelitian yang lebih banyak agar sampel yang diteliti lebih barvariasi.

2. Menelaah lebih lanjut secara teliti tiap-tiap item, dan meminta bantuan dari beberapa rekan sejawat untuk mengoreksi item-item tersebut agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan item dan item tersebut dapat dipahami dengan mudah serta tidak adanya social desirability.

3. Untuk penelitian selanjutnya yang meneliti resiliensi, disarankan untuk melibatkan variabel lain yang dapat memberikan pengaruh terhadap resiliensi, misalnya religiusitas atau self-regulation.

5.3.2 Saran Praktis

1. Yayasan rehabilitasi dan BNN menambahkan materi mengenai self-esteem dan memperbanyak kegiatan yang dapat meningkatkan self-esteem residen.

2. Untuk para mantan pecandu narkoba, sebaiknya lebih membuka diri kepada orang terdekat. Sehingga saat sedang terpuruk dan mengalami masalah, ada yang mendukung, membantu, dan melindungi.

3. BNN dan yayasan rehabilitasi memberikan penyuluhan atau seminar kepada keluarga atau orang terdekat dari residen mengenai pentingnya dukungan sosial bagi para mantan pecandu narkoba.


(3)

111

4. BNN dan yayasan rehabilitasi lain memberikan penyuluhan atau seminar rutin kepada masyarakat umum terutama yang memiliki orang terdekat dengan riwayat ketergantungan narkoba mengenai bagaimana menangani dan menjaga agar mereka tidak kembali relaps dan dapat beresiliensi dengan baik.

5. BNN dan yayasan rehabilitasi menambahkan program kerja mengasah keterampilan dan minat residen seperti dengan pelatihan menjahit, memasak, otomotif dan lain lain.

6. BNN dan yayasan rehabilitasi lain memberikan bantuan kepada mantan residen yang belum memiliki tujuan setelah menyelesaikan rehabilitasi berupa menyalurkannya sebagai tenaga kerja.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Ariwibowo, K. (2013). Balai besar rehabilitasi BNN layani rehabilitasi medis dan sosial. Diunduh tanggal 19 Agustus 2013 dari http://www.dedihumas.bnn.go.id

Ariwibowo, K. (2013). Therapeutic Community. Diunduh Januari 2013 dari http://www.dedihumas.bnn.go.id

BBC Indonesia. (2012). Whitney Houston meninggal akibat tenggelam setelah mengkonsumsi kokain. Diunduh Setember 2014 dari http://www.bbc.co.uk

Carlin, H. et. all. (2011). North west mental wellbeing survey: employment and resilience. Liverpool: Northwest Publict Health Observation

Cutrona, C. E. (1986). Behavioral manifestation of social support: A microanalytic investigation. Journal of American Psychology Association. 0022-3514-86-S00.75.

Cutrona, C. E., & Russell, D. W. (1987). The provisions of social relationships and adaptation to stress. JAI Press Inc. ISBN: 0-89232-774-X.

Dara, T. T. (2013). BNN: 2013, pengguna narkoba tambah 2,3 persen. Diunduh tanggal 12 April 2013 dari http://www.Metrotvnews.com

Grotberg, E. H. (1995). A guide to promoting resilience in children: Strengthening the human spirit. Senior Scientist Civitan International Research Center Universitas of Alabama at Birmingham.

Grotberg, E. H. (1995). The international resilience project: Research and application. Birmingham: Applied Image, Inc.

Grotberg, E. H. (ed). (2003). Resilience for today: Gaining strength from adversity. Wesport: Preager Publisher.

Guindon, M. H. (2010). Self-esteem across the lifespan: issue and interventions. New York: Routledge Taylor and Francis group.

Kerlinger, F. N. Foundation of behavioral research third edition, Asas-asas penelitian behavioral. Landung R. Simatupang (terj), 2006. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kompasmania. (2011). Menggapai cahaya: kisah inspirasi mantan pecandu narkoba dari singapura. Diunduh September 2014 dari http://www.luar-negeri.kompasmania.com MacDermid, S. M. et. all. (2008). Understanding and Promoting resilience in military families.

Lafayette: MFRI.

McCubbin, l. (2001). Challenges to the definitionof resilience. San Francisco: American Psychological Association.


(5)

Meichenbaum, D. (n.d). How educators can nurture resilience in high-risk children and their families. University of Waterloo Department of Psychology.

Minchinton, J. (2003). Maximum esteem: The handbook of for reclaiming tour sense of self-worth. Kuala Lumpur: Golden Books Center SDN, BHD.

Moorthouse, A. & Marie, .L. C. (2007). Resilience and unemployment: exploringrisk and protective influences for the outcome variables of depression and assertive job searching. Amerika: American Counseling Association

News, MNC. (2014). Perjalanan Ustad Jeffry penuh gejolak. Diunduh September 2014 dari http://116.90.165.206/~n3ws

Owens, T. J., Stryker, S. & Goodman, N. (2006). Extending self-esteem theory and research: Sociological and research: sociological and psychological current. New York: Cambridge University Press.

Qunsul, R. (2013). Pers release hari anti narkoba internasional (HANI) 2013. Diunduh tanggal 24 Juni 2013 dari http://www.bnn.go.id

Reich, J. W., Alex J. Zautra & John Stuart Hall. (2010). Handbook of Adult resilience. New York: The Guilford Press.

Reivich, K., & Shatte, A. (2002). The resilience Factor. New York: Random House, Inc.

Resnick, B., Lisa P. Gwyther & Karen A. Roberto. (2011). Resilience in aging: Concepts, research, and outcomes. London: Springer Science + Business Media, Inc.

Sarafino, E. P. & Smith, T. W. (2011). Health psychology: Biopsychosocial interaction. United States: John Wiley & Sons, Inc.

Siebert, A. (2005). The resiliency advantage: Master chance, thrive under pressure, and bounce back form setbacks. San Francisco: Berrett-Koehler Publishers, Inc.

Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Taylor, S. E. (2006). Health psychology. New York: Mc Graw Hill.

Tempo. (2012). Penyebab kematian Whitney Houston diumumkan. Diunduh September 2014 dari http:// www.tempo.co

Thoits, P. A. (1995). Stress, coping, and social support processes: where are we? What next?. Nashville: Vanderbilt University.

Tof. (2010). Diduga konsumsi narkoba, Sammy “Ketispatih” ditangkap. Diunduh September 2014 dari http://www.regional.kompas.com

W, Lestari. (2014). Stigma negatif, musuh para mantan pecandu narkoba. Diunduh Desember 2014 dari http://www.pelita.or.id


(6)

Wang, J. (n.d). Using resilience characteristics and traditional background factors to study adjustment of international Graduate student in U.S. Florida: Florida State University. Waxman, H. C., Jon P. Gray & Yolanda n. Pardon. (2003). Review of research on educational