Tindak Tutur Ulul Azmi: Satu Kajian Pragmatik

(1)

TINDAK TUTUR ULUL AZMI:

SATU KAJIAN PRAGMATIK

TESIS

Oleh

097009002/LNG

ZULFAN

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2012


(2)

TINDAK TUTUR ULUL AZMI:

SATU KAJIAN PRAGMATIK

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik

Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

097009002/LNG

ZULFAN

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2012


(3)

Judul Tesis : TINDAK TUTUR ULUL AZMI: SATU KAJIAN PRAGMATIK

Nama Mahasiswa : Zulfan Nomor Pokok : 097009002 Program Studi : Linguistik

Menyetujui Komisi Pembimbing,

(Drs. M. Husnan Lubis, M.A., Ph.D.) (Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D.

Ketua Anggota

)

Ketua Program Studi, Direktur,


(4)

Telah diuji pada Tanggal 18 Juli 2012

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Drs. M. Husnan Lubis, M.A., Ph.D.

Anggota : 1. Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D.

2. Dr. Eddy Setia, M.Ed TESP 3. Dra. Pujiati, M. Soc. Sc. Ph.D.


(5)

PERNYATAAN Judul Tesis

TINDAK TUTUR ULUL AZMI: SATU KAJIAN PRAGMATIK

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebahagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 20 Juli 2012


(6)

RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi

Nama Lengkap : Zulfan

Tempat dan Tgl. Lahir : Simodong, 18 Januari 1986 Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Jl. Dwikora III Gg. Family No. 22 E Medan Amplas

Status : Menikah

No. Telp / Hp : 08566386277

II. Riwayat Pendidikan

SD. Centre Sipare-pare : 1992 – 1998

MTs. PONPES Darul Arafah : 1998 – 2001

MA PONPES Darul Arafah : 2001 – 2004

S1 Sastra Arab Universitas Sumatera Utara : 2004 – 2009 S2 Linguistik Universitas Sumatera Utara : 2009 – 2012

III. Riwayat Pekerjaan


(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis sampaikan ke hadirat Allah S.W.T yang telah

melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan serta menyelesaikan tesis ini yang berjudul: Tindak Tutur Ulul Azmi: Satu Kajian Pragmatik.

Salawat dan salam peneliti hadiahkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa risalah yang benar sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam menjalankan kehidupan untuk keselamatan di dunia dan akhirat.

Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Master Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU).

Penulis menyadari bahwa tesis ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi dan penyelesaian tesis ini. Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. M. Husnan Lubis, M.A., Ph.D. dan Bapak Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D. sebagai promotor yang telah membimbing dan


(8)

mengarahkan penulis selama penyusunan tesis ini dari awal hingga tesis ini dapat diselesaikan.

2. Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DMT & H, M.SC(CTM), SP.A(K), Direktur Program Pascasarjana USU Prof. Dr. Ir. A.Rahim Matondang, MSIE, beserta segenap jajarannya yang telah berupaya meningkatkan situasi kondusif pada Program Pascasarjana USU.

3. Ketua Program Studi Linguistik Prof. T. Silvana Sinar, Ph.D dan Sekretaris Program Studi Linguistik Dr. Nurlela, M.Hum yang telah membimbing dan banyak membantu saya selama studi. Demikian juga penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen dan staf administrasi SPs USU.

4. Bapak Dr. Eddy Setia, M.Ed TESP dan Ibu Dra. Pujiati, M. Soc. Sc. Ph.D

yang telah menguji dan memberikan saran kepada penulis untuk kesempurnaan tesis ini.

5. Ayahanda Burhanuddin, S.E. dan ibunda Siti Rana Pulungan yang telah memberikan hal-hal yang terbaik dan terindah selama ini. Semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada mereka berdua

Allahumma igfirlī żunūbī wa li wālidayya wa irhamhumā kamā

rabbayāni sagīran.

6. Adinda tercinta Dahlia, S. Sos. yang telah banyak memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis.


(9)

7. Istri yang terkasih dan tercinta Ilyani, S.S. yang telah banyak memberikan kasih dan sayangnya kepada penulis serta selalu memberikan motivasi dan dukungan dalam penulisan tesis ini. Untuk ananda Zahrah Humairah, tesis ini melengkapi kebahagian terhadap kehadiranmu di dunia ini. Serta untuk seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan dan do‘anya.

8. Seluruh guru dan dosen penulis yang telah mendidik dan memberikan ilmunya. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada mereka.

9. Teman-teman angkatan tahun 2009 dan seluruh Mahasiswa Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana USU.

10. Saudara-saudara penulis di Ikatan Mahasiswa Bahasa Arab Fakultas Ilmu Budaya USU dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fakultas Ilmu Budaya USU.

11. Seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada peneliti yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga kebaikan yang kalian berikan kepada peneliti dibalas oleh Allah SWT. Amin ya rabba al-‘alamin.

Medan, Juli 2012 Penulis


(10)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ... x

ABSTRAK ... xv

ABSTRACT ... xvi

ŞŪRATUN TAJRIDIYYATUN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Kajian ... 1

1.2 Persoalan Kajian ... 14

1.3 Tujuan Kajian ... 14

1.4 Batasan Kajian ... 14

1.5 Manfaat Kajian ... 16

1.5.1 Manfaat Teoretis ... 16

1.5.2 Manfaat Praktis ... 16

1.6 Kajian Terdahulu ... 16

1.7 Sistematika Penulisan ... 17

BAB II KERANGKA TEORI ... 19

2.1 Pengertian Pragmatik ... 19


(11)

2.3 Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi ... 21

2.4 Fungsi Tindak Tutur Ilokusi ... 22

2.5 Jenis Tindak Tutur ... 23

2.6 Kesantunan ... 27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 29

3.1 Metode Penelitian ... 29

3.2 Data dan Sumber Data ... 29

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 30

3.4 Prosedur Analisis Data ... 31

BAB IV TINDAK TUTUR ULUL AZMI ... 34

4.1 Tindak Tutur Nabi Nuh A.S ... 34

4.1.1 Tindak Tutur Asertif ... 34

4.1.2 Tindak Tutur Direktif ... 57

4.1.3 Tindak Tutur Komisif ... 70

4.1.4 Tindak Tutur Deklaratif ... 73

4.2 Tindak Tutur Nabi Ibrahim A.S ... 77

4.2.1 Tindak Tutur Asertif ... 78

4.2.2 Tindak Tutur Direktif ... 97

4.2.3 Tindak Tutur Komisif ... 106

4.2.4 Tindak Tutur Ekspresif ... 111


(12)

4.3 Tindak Tutur Nabi Musa A.S ... 123

4.3.1 Tindak Tutur Asertif ... 124

4.3.2 Tindak Tutur Direktif ... 155

4.3.3 Tindak Tutur Komisif ... 181

4.3.4 Tindak Tutur Ekspresif ... 185

4.3.5 Tindak Tutur Deklaratif ... 193

4.4 Tindak Tutur Nabi Isa A.S ... 200

4.4.1 Tindak Tutur Asertif ... 200

4.4.2 Tindak Tutur Direktif ... 207

4.5 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W ... 215

4.5.1 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W. pada Khutbah Pertama di Madinah ... 215

4.5.1.1 Tindak Tutur Asertif ... 215

4.5.1.2 Tindak Tutur Direktif ... 226

4.5.1.3 Tindak Tutur Komisif ... 230

4.5.2 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W. Dalam Perang Badar ... 231

4.5.2.1 Tindak Tutur Asertif ... 231

4.5.2.2 Tindak Tutur Direktif ... 238

4.5.2.3 Tindak Tutur Komisif ... 241 4.5.3 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W Untuk Menghibur


(13)

Orang-orang Anshar ... 242

4.5.3.1 Tindak Tutur Asertif ... 242

4.5.3.2 Tindak Tutur Direktif ... 245

4.5.3.3 Tindak Tutur Komisif ... 247

4.5.3.4 Tindak Tutur Ekspresif ... 248

4.5.4 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W. Tentang Tawanan Dan Harta Rampasan Perang Hawazin ... 250

4.5.4.1 Tindak Tutur Asertif ... 250

4.5.4.2 Tindak Tutur Direktif ... 253

4.5.4.3 Tindak Tutur Deklaratif ... 256

4.5.5 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W Pada Penaklukan Kota Mekah ... 257

4.5.5.1 Tindak Tutur Asertif ... 257

4.5.5.2 Tindak Tutur Direktif ... 259

4.5.5.3 Tindak Tutur Deklaratif ... 261

4.5.6 Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W Dalam Khutbah Beliau yang Terakhir ... 262

4.5.6.1 Tindak Tutur Asertif ... 262

4.5.6.2 Tindak Tutur Direktif ... 265

4.5.6.3 Tindak Tutur Komisif ... 272


(14)

BAB V PENUTUP ... 278

5.1 Kesimpulan ... 278 5.2 Saran ... 285

DAFTAR PUSTAKA


(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Klasifikasi Tindak Tutur Nabi Nuh A.S 76

Tabel 2 Fungsi Tindak Tutur Nabi Nuh A.S 77

Tabel 3 Jenis Tindak Tutur Nabi Nuh A.S 77

Tabel 4 Klasifikasi Tindak Tutur Nabi Ibrahim A.S 122

Tabel 5 Fungsi Tindak Tutur Nabi Ibrahim A.S 123

Tabel 6 Jenis Tindak Tutur Nabi Ibrahim A.S 123

Tabel 7 Klasifikasi Tindak Tutur Nabi Musa A.S 199

Tabel 8 Fungsi Tindak Tutur Nabi Musa A.S 199

Tabel 9 Jenis Tindak Tutur Nabi Musa A.S 200

Tabel 10 Klasifikasi Tindak Tutur Nabi Isa A.S 214

Tabel 11 Fungsi Tindak Tutur Nabi Isa A.S 214

Tabel 12 Jenis Tindak Tutur Nabi Isa A.S 215

Tabel 13 Klasifikasi Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W 276 Tabel 14 Fungsi Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W 277 Tabel 15 Jenis Tindak Tutur Nabi Muhammad S.A.W 277


(16)

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi yang digunakan dalam tesis ini adalah Pedoman Transliterasi berdasarkan SK Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.158 tahun 1987 dan No. 0543b /U/1987 tertanggal 22 Januari 1988.

A. Konsonan

Huruf

Arab Nama Huruf Latin Nama

ﺍ Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan

ﺏ Ba B Be

ﺕ Ta T Te

ﺙ Sa Ś Es (dengan titik di atas)

ﺝ Jim J Je

ﺡ Ha ḥ Ha (dengan titik di bawah)

ﺥ Kha Kh Ka dan ha

ﺩ Dal D De

ﺫ Zal Ż Zet (dengan titik di atas)

ﺭ Ra R Er

ﺯ Zai Z Zet


(17)

ﺵ Syin Sy Es dan ye

ﺹ Sad ș Es (dengan titik di bawah)

ﺽ Dad ḍ De (dengan titik di bawah)

ﻁ Ta ṭ Te (dengan titik di bawah)

ﻅ Za ẓ Zet (dengan titik di bawah)

ﻉ ‘Ain ‘ Koma terbalik (di atas)

ﻍ Gain G Ge

ﻑ Fa F Ef

ﻕ Qaf Q Ki

ﻙ Kaf K Ka

ﻝ Lam L El

ﻡ Mim M Em

ﻥ Nun N En

ﻭ Waw W We

ﻫ Ha H Ha

ء Hamzah ` Apostrof


(18)

B. Konsonan Rangkap

Konsonan rangkap (tasydid) ditulis rangkap.

Contoh : ﺔﻣﺪﻘﻣ = muqaddimah

ﺓﺭﻮﻨﻤﻟﺍ ﺔﻨﻳﺪﻤﻟﺍ = al-Madīnah al-munawwarah

C. Vokal

1. Vokal Tunggal

ﹷ (fathah) ditulis “a”, contoh : ﺃﺮﻗ = qara’a

ﹻ (kasrah) ditulis “i”, contoh : ﻢﺣﺭ = raima

ﹹ (dammah) ditulis “u”, contoh : ﺐﺘﻛ = kutubun

2. Vokal Rangkap

Vokal rangkap ﻱﹷ (fathah dan ya) ditulis “ai ” Contoh : ﺐﻨﻳﺯ = zainab

ﻒﻴﻛ = kaifa

Vokal rangkap ﻭ--- (fathah dan waw) ditulis “au” Contoh : ﻝﻮﺣ = ḥaula

ﻝﻮﻗ = qaulun

D. Vokal Panjang (maddah)

ﺍ--- dan ﻱ--- (fathah) ditulis “ā”, contoh : ﻡﺎﻗ = qāma ﻰﻀﻗ = qaā


(19)

ﻭ--- (dammah) ditulis “ū”, contoh : ﻡﻮﻠﻋ = ‘ulūmun

E. Ta Marbutah

a. Ta marbutah yang berharkat sukun ditransliterasikan dengan huruf “h”

Contoh : ﺔﻣﺮﻜﻤﻟﺍ ﺔﻜﻣ = makkah al-mukarramah

ﺔﻴﻣﻼﺳﻹﺍ ﺔﻌﻳﺮﺸﻟﺍ = al-syarī‘ah al-islāmiyyah

b. Ta marbutah yang berharkat hidup ditransliterasikan dengan huruf “t”

Contoh : ﺔﻴﻣﻼﺳﻹﺍ ﺔﻣﻮﻜﺤﻟﺍ = al-ukūmatu al-islāmiyyah

ﺓﺮﺗﺍﻮﺘﻤﻟﺍ ﺔﻨﺴﻟﺍ = al-sunnatu al-mutawātirah

F. Hamzah

Huruf hamzah (ء) di awal kata dengan vokal tanpa didahului oleh tanda apostrof. Contoh : ﻥﺎﻤﻳﺇ = َ◌imānun

G. Lafzu al-Jalālah

Lafzu al-Jalālah (kata ﷲ ) yang berbentuk frase nomina ditransliterasi tanpa hamzah.

Contoh : ﷲ ﺪﺒﻋ = ‘Abdullah

ﷲ ﻞﺒﺣ = ḥablullah H. Kata Sandang “al”

1. Kata sandang “al” tetap ditulis “al”, baik pada kata yang dimulai dengan huruf

qamariyah maupun syamsiyah.

Contoh : ﺔﺳﺪﻘﻤﻟﺍ ﻦﻛﺎﻣﻷﺍ = al-amākinu al-muqaddasah


(20)

2. Huruf “a” pada kata sandang “al” tetap ditulis dengan huruf kecil meskipun merupakan nama diri.

Contoh : ﻯﺩﺭﻭﺎﻤﻟﺍ = al-Māwardi

ﺮﻫﺯﻷﺍ = al-Azhar

3. Kata sandang “al” di awal kalimat dan pada kata “Allah SWT, Qur’an” ditulis dengan huruf kapital.

Contoh : Al-Afgani adalah seorang tokoh pembaharu Saya membaca Al-Qur’an al-Karim


(21)

ABSTRAK

Zulfan, 2012. Tindak Tutur Ulul Azmi: Satu Kajian Pragmatik.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi Rasul Ulul Azmi. Kemudian menganalisis kesantunan tindak tutur Rasul Ulul Azmi serta menganalisis tindak tutur ilokusi yang paling dominan beserta faktornya. Penelitian ini memakai teori Geoffrey Leech (1993) berkaitan dengan fungsi dan klasifikasi tindak tutur ilokusi serta prinsip kesantuan, I Dewa Putu Wijana dan M. Rohmadi (2010) tentang jenis tindak tutur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah tuturan Rasul Ulul Azmi

yang terdapat di dalam Al-Quran dan buku-buku hadis dan sejarah Islam. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik content analysis. Penelitian ini menemukan masing-masing Rasul Ulul Azmi tidak menggunakan semua klasifikasi tuturan ilokusi, begitu juga dengan fungsi tuturan ilokusi. Selanjutnya Rasul Ulul Azmi hanya menggunakan dua jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Penelitian ini menemukan bahwa Rasul Ulul Azmi lebih banyak menggunankan maksim kesepakatan dan menemukan juga tuturan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip kesantunan. Penelitian ini juga menemukan bahwa Rasul Ulul Azmi lebih banyak menggunakan tuturan asertif, karena dipengaruhi kondisi keyakinan umat mereka kepada animisme, dinamisme dan paganisme.


(22)

ABSTRACT

Zulfan, 2012. Speech Acts of Ulul Azmi (The Choosen): A Pragmatic Analysis

The research aims at analyzing classification, functions and kinds of illocutionary acts as performed by Prophets of Ulul Azmi (The Chosens). Other objects of this research are analyzing principles of politeness as contained in The Chosen’s illocutionary acts and finding the most dominant illocutionary act performed and reasons behind it. Geoffrey Leech’s theory (1993) is used in this research for analyzing classifications, functions and principle of politeness whereas analysis on kinds of illocutionary act is based on Putu Wijana and M. Rohmadi (2010). The method used in this research is descriptive qualitative method. The utterances of the Chosens as depicted in The Holy Quran and Islamic history books are collected using purposive sampling and become the main data of analysis which later on observed using content analysis. The facts in this research point that not all kinds of illocutionary acts are used but two namely literal direct and literal indirect. The facts also show that maxim of agreement is dominantly used and to some extents there are also some utterances which are regarded impolite. Assertive is dominantly used by the Chosens due to the condition of their people who are animism, dinamism and paganism.


(23)

ﻳﺪﻳﺮﺠﺗ ﺓﺭﻮﺻ

ﻦﻔﻟﻭﺫ

,

۲۰۱۲

,

ﻞﻴﻠﺤﺗ

ﻞﻤﻌﻟﺍ

ﻲﺑﺎﻄﺨﻟﺍ

ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ

:

ﺯﻮﻣﺮﻟﺍ ﻢﻠﻋ ﺞﻬﻨﻤﺑ

.

ﺱﻮﻛﻮﻠﻳﺇ ﻝﺍﻮﻗﻷ ﺱﺎﻨﺟﻷﺍﻭ ﺕﺎﻔﻴﻅﻮﻟﺍﻭ ﻡﺎﺴﻗﻷﺍ ﺮﻈﻨﻟ ﻊﺿﺍﻮﺘﻤﻟﺍ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻑﺪﻬﻳ

ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ ﻞﺳﺭ

.

ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ ﻞﺳﺮﻟ ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ ﺐﻳﺬﻬﺗ ﺮﻈﻧ ﻢﺛ

.

ﻝﺍﻮﻗﺃ ﺮﻈﻧﻭ

ﺱﻮﻛﻮﻠﻳﺇ

ﺎﻬﻠﻣﺍﻮﻋ ﻊﻣ ﺔﺒﻟﺎﻐﻟﺍ

.

ﺚﻴﻟ ﻯﺮﺑﻮﻴﺟ ﺔﻳﺮﻈﻧ ﻡﺪﺨﺘﺴﻳ ﺚﺤﺒﻟﺍﺍﺬﻫ

)

۱۹۹۳

(

ﻖﻠﻌﺘﺗ ﻰﺘﻟﺍ

ﺐﻳﺬﻬﺘﻟﺍ ﺃﺪﺒﻣﻭ ﺱﻮﻛﻮﻠﻳﺇ ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ ﻡﺎﺴﻗﺄﺑ ﻭ ﻝﺍﻮﻗﺃ ﺔﻔﻴﻅﻮﺑ

,

ﺎﻧﺎﺠﻳﻭ ﻮﺗﻮﺑ ﺍﻮﻳﺩ ﻱﻹ

ﻯﺪﻤﻫﺭ ﺪﻤﺤﻣﻭ

)

۲۰۱۰

(

ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ ﺱﺎﻨﺟﺄﺑ ﻖﻠﻌﺘﺗ

.

ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ ﻰﻓ ﺔﻣﺪﺨﺘﺴﻤﻟﺍ ﺔﻘﻳﺮﻄﻟﺍ

ﺔﻘﻳﺮﻄﻟﺍ ﻰﻫ

ﻴﻋﻮﻨﻟﺍ

ﻴﻔﺻﻮﻟﺍ

.

ﻟﺩﻭ

ﻰﻓ ﺓﺩﻮﺟﻮﻤﻟﺍ ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ ﻞﺳﺭ ﻝﺍﻮﻗﺃ ﻮﻫ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﻞﻴ

ﻰﻣﻼﺳﻹﺍ ﺦﻳﺭﺎﺘﻟﺍﻭ ﺚﻳﺪﺤﻟﺍ ﺐﺘﻛﻭ ﻢﻳﺮﻜﻟﺍ ﻥﺃﺮﻘﻟﺍ

.

ﺬﺧﺃ ﺔﻘﻳﺮﻄﺑ ﻞﺋﻻﺪﻟﺍ ﻊﻤﺟ ﺔﻘﻳﺮﻁﻭ

ﻑﺩﺎﻬﻟﺍ ﺕﺎﻧﺎﻴﻌﻟﺍ

.

ﻡﺪﺨﺘﺴﻳ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﺍﺬﻫ

ﺔﻘﻳﺮﻁ

ﻰﺿﺍﺮﻟﺍ ﻞﻴﻠﺤﺘﻟﺍ

.

ﻥﺃ ﺚﺤﺒﻟﺍﺍﺬﻫ ﺞﺘﻨﻳ

ﻞﺳﺭ ﻞﻛ

ﻰﺳﻮﻛﻮﻠﻳﺇ ﻡﻼﻛ ﻡﺎﺴﻗﺃ ﻞﻛ ﻡﺪﺨﺘﺴﻳ ﻻ ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ

.

ﻚﻟﺍﺬﻛﻭ

ﻝﺍﻮﻗﺃ ﺔﻔﻴﻅﻭ ﻰﻓ

ﻰﺳﻮﻛﻮﻠﻳﺍ

.

ﺱﺎﻨﺟﺃ ﻥﻮﻣﺪﺨﺘﺴﻳ ﻻﻭ

ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ

ﺎﻬﻨﻣ ﻦﻴﺴﻨﺟ ﻻﺇ

.

ﺲﻨﺟ ﺎﻤﻫﻭ

ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ

ﻞﺴﻠﺴﻤﻟﺍ ﺮﺷﺎﺒﻤﻟﺍ

ﻞﺴﻠﺴﻤﻟﺍ ﺮﺷﺎﺒﻤﻟﺍ ﺮﻴﻏﻭ

.

ﻥﺃ ﻮﻫ ﺚﺤﺒﻟﺍ ﻦﻣ ﻞﺻﺎﺤﻟﺍ ﻚﻟﺍﺬﻛﻭ

ﻥﻮﻣﺪﺨﺘﺴﻳ ﻢﻬﺒﻠﻏﺃ

ﺔﻴﻗﺎﻔﺗﺇ ﺔﻤﻜﺣ

ﻦﻣ

ﺐﻳﺬﻬﺘﻟﺍ ﺃﺪﺒﻣ

.

ﺪﺟﻮﻳﻭ

ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ

ﺇﺪﺒﻤﺑ ﺐﺳﺎﻨﻤﻟﺍ ﺮﻴﻏ

ﻦﻈﻟﺍ ﻰﻓ ﺐﻳﺬﻬﺘﻟﺍ

.

ﻝﺍﻮﻗﺃ ﻥﻮﻣﺪﺨﺘﺴﻳ ﻢﻬﺒﻠﻏﺃ ﻥﺃ ﻚﻟﺍﺬﻛ ﻪﻨﻣ ﻞﺻﺎﺤﻟﺍﻭ

ﺪﻴﻛﺄﺗ

ﺮﺛﺆﺗ ﺎﻬﻧﻷ

ﻭ ﺔﻴﻜﻣﺎﻨﻳﺪﻟﺍﻭ ﺔﻴﻜﻴﻤﻴﻧﻷﺍ ﻊﻣ ﻢﻬﺘﻣﺃ ﺩﺎﻘﺘﻋﺈﺑ

ّﻴﻨﺛﻭ

.

ﺔﻴﺴﻴﺋﺮﻟﺍ ﺕﺎﻤﻠﻜﻟﺍ

:

ﻝﺍﻮﻗﻷﺍ

ﺱﻮﻛﻮﻠﻳﺇ

,

ﻡﺰﻌﻟﺍ ﻮﻟﻭﺃ

,

ﺯﻮﻣﺮﻟﺍ ﻢﻠﻋ

,

ﻰﺿﺍﺮﻟﺍ ﻞﻴﻠﺤﺘﻟﺍ

.


(24)

ABSTRAK

Zulfan, 2012. Tindak Tutur Ulul Azmi: Satu Kajian Pragmatik.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi Rasul Ulul Azmi. Kemudian menganalisis kesantunan tindak tutur Rasul Ulul Azmi serta menganalisis tindak tutur ilokusi yang paling dominan beserta faktornya. Penelitian ini memakai teori Geoffrey Leech (1993) berkaitan dengan fungsi dan klasifikasi tindak tutur ilokusi serta prinsip kesantuan, I Dewa Putu Wijana dan M. Rohmadi (2010) tentang jenis tindak tutur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah tuturan Rasul Ulul Azmi

yang terdapat di dalam Al-Quran dan buku-buku hadis dan sejarah Islam. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan teknik content analysis. Penelitian ini menemukan masing-masing Rasul Ulul Azmi tidak menggunakan semua klasifikasi tuturan ilokusi, begitu juga dengan fungsi tuturan ilokusi. Selanjutnya Rasul Ulul Azmi hanya menggunakan dua jenis tindak tutur, yaitu tindak tutur langsung literal dan tidak langsung literal. Penelitian ini menemukan bahwa Rasul Ulul Azmi lebih banyak menggunankan maksim kesepakatan dan menemukan juga tuturan yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip kesantunan. Penelitian ini juga menemukan bahwa Rasul Ulul Azmi lebih banyak menggunakan tuturan asertif, karena dipengaruhi kondisi keyakinan umat mereka kepada animisme, dinamisme dan paganisme.


(25)

ABSTRACT

Zulfan, 2012. Speech Acts of Ulul Azmi (The Choosen): A Pragmatic Analysis

The research aims at analyzing classification, functions and kinds of illocutionary acts as performed by Prophets of Ulul Azmi (The Chosens). Other objects of this research are analyzing principles of politeness as contained in The Chosen’s illocutionary acts and finding the most dominant illocutionary act performed and reasons behind it. Geoffrey Leech’s theory (1993) is used in this research for analyzing classifications, functions and principle of politeness whereas analysis on kinds of illocutionary act is based on Putu Wijana and M. Rohmadi (2010). The method used in this research is descriptive qualitative method. The utterances of the Chosens as depicted in The Holy Quran and Islamic history books are collected using purposive sampling and become the main data of analysis which later on observed using content analysis. The facts in this research point that not all kinds of illocutionary acts are used but two namely literal direct and literal indirect. The facts also show that maxim of agreement is dominantly used and to some extents there are also some utterances which are regarded impolite. Assertive is dominantly used by the Chosens due to the condition of their people who are animism, dinamism and paganism.


(26)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Kajian

Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan pikirannya. Kehidupan manusia yang berkelompok-kelompok dan membentuk satu tatanan sosial masyarakat dan kebudayaan yang memiliki ciri dan kekhususannya. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan alat untuk saling berinteraksi. Manusia yang memiliki kemampuan berpikir menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa merupakan media komunikasi yang paling canggih dan produktif, semua kelompok manusia mempunyai bahasa, (Ibrahim, 1993:125). Dengan menggunakan bahasa manusia saling bertutur dan berujar untuk menyampaikan pesan dan maksud pikirannya. Penggunaan Bahasa yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi adalah bentuk representatif kemampuan manusia itu berpikir.

Setiap kelompok manusia memiliki bahasa tersendiri, yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama anggota kelompok tersebut. Melalui bahasa dapat dipahami kebudayaan pemakai bahasa, yang mencakupi cara berpikir masyarakatnya, (Sibarani, 2004: 46).

Bangsa Arab yang menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasinya, menjadikan bahasa Arab tersebar luas di berbagai penjuru Dunia. Karena bahasa Arab dipilih sebagai bahasa Al-Quran, maka seiring dengan kemajuan syiar Islam bahasa Arab mengalami perkembangan yang sangat pesat.


(27)

Seperti yang telah dikemukakan bahwa Al-Quran merupakan kitab suci yang diturunkan dalam bahasa Arab, kebenaran pernyataan ini diperjelas dengan Firman Allah sebagai berikut:

َﻚِﻟَﺬَﻛَﻭ

ُﻩﺎَﻨْﻟَﺰْﻧَﺃ

ﺎًﻧﺁْﺮُﻗ

ﺎًّﻴِﺑَﺮَﻋ

...

)

ﻪﻁ

,

۱۱۳

(

wa każalika anzalnāhu qurānan ‘arabiyyan…… (Taha, 113)

“Dan Demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab…..”. (QS. Taha, 113).

Sejak permulaannya, Al-Quran sebagai kitab dakwah, yakni ajakan untuk menuju Allah S.W.T dan mengikuti jejak Rasul-Nya, artinya, Al-Quran mengajak manusia untuk menaati dan mengikuti ajaran agama Islam yang dikehendaki oleh Allah S.W.T dan Rasul-Nya.

Para Rasul Allah S.W.T menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan keagamaan dalam kegiatan berdakwah yang merupakan kegiatan berkomunikasi, baik secara verbal maupun visual. Maka pada waktu yang bersamaan para Rasul Allah S.W.T juga telah melakukan tindak tutur, antara penutur dan lawan tutur. Pesan yang dikomunikasikan dapat dipandang sebagai gabungan atau kombinasi dari berbagai tindak, serangkaian unsur dengan maksud dan tujuan tertentu. Komunikasi mempunyai fungsi, bersifat purposif, mengandungi maksud dan tujuan tertentu, serta dirancang untuk menghasilkan beberapa efek, pengaruh, atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembaca, (Tarigan, 1990: 145). Dalam kegiatan berkomunikasi ini, ada tindak bahasa atau tindak tutur dalam menyampaikan pesan sesuai dengan konteks.


(28)

Tindak tutur ‘speech act’ yang merupakan bagian dari kajian pragmatik, pertama kali disampikan oleh filsuf berkebangsaan Inggris, Jhon L. Austin, (Nadar, 2009:12). Austin mengemukakan pendapat bahwa pada dasarnya, saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Selanjutnya pendapat ini dikembangkan oleh Searle dan berpendapat bahwa unsur yang paling kecil dalam komunikasi adalah tindak tutur seperti menyatakan, membuat pertanyaan, memberi perintah, menguraikan, menjelaskan, minta maaf, berterima kasih, mengucapkan selamat, dan lain-lain.

Searle, (dalam Nadar, 2009:14) membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan yang berbeda, yaitu tindak lokusioner, tindak ilokusioner, dan tindak perlokusioner. Tindak lokusi adalah tindak tutur yang semata-mata menyatakan sesuatu. Tindak ilokusi adalah apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada waktu menuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, minta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta dan lain sebagainya. Tindak tutur

ilokusi dapat dikatakan sebagai tindak terpenting dalam kajian dan pemahaman tindak

tutur. Tindak tutur perlokusi adalah tindak tutur untuk mempengaruhi lawan tutur, seperti memalukan, mengintimidasi, membujuk dan lain-lain.

Leech, (1993: 162) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi berdasarkan fungsinya menjadi empat jenis, yaitu: a) Kompetitif (Competitive) : tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial; misalnya, memerintah, meminta, menuntut, mengemis. b) Menyenangkan (Convivial): tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial; misalnya menawarkan, mengajak/mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih,


(29)

mengucapkan selamat. c) Bekerja sama (Collaborative): tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial; misalnya menyatakan, melapor, mengumumkan, mengajarkan. d) Bertentangan (Conflictive): tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial; misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, memarahi.

Searle, (dalam Leech, 1993: 164) mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan berbagai kriteria, antara lain: 1) Asertif (Assertives): pada ilokusi ini penutur terikat pada kebenaran proposisi yang diungkapkan, misalnya, menyatakan, mengusulkan, membual, mengeluh, mengemukakan pendapat, melaporkan. 2) Direktif (Directives): ilokusi ini bertujuan menghasilkan suatu efek berupa tindakan yang dilakukan oleh penutur, misalnya, memesan, memerintah, memohon, menuntut, memberi nasihat. 3) Komisif (Commissives): pada ilokusi ini penutur terikat pada suatu tindakan di masa depan, misalnya, menjanjikan, menawarkan. 4) Ekspresif

(Expressives): fungsi ilokusi ini ialah mengungkapkan atau mengutarakan sikap

psikologis penutur terhadap keadaan yang tersirat dalam ilokusi, misalnya, mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam, memuji, mengucapakan belasungkawa. 5) Deklarasi (Declarations): berhasilnya pelaksanaan ilokusi ini akan mengakibatkan adanya kesesuaian antara isi proposisi dengan realitas, misalnya, mengundurkan diri, membaptis, memecat, memberi nama, menjatuhkan hukuman, mengucilkan/membuang, mengangkat (pegawai), dan sebagainya.

Tindak tutur juga dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung, dan literal maupun tidak literal. Wijana dan Rohmadi, (2009: 28) secara formal,


(30)

berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan suatu informasi, kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan dan permohonan. Bila kalimat difungsikan secara konvensional sesuai dengan fungsinya maka tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung, yaitu: tindak tutur yang sesuai dengan modus kalimatnya. Jika kalimat difungsikan dengan tidak sesuai dengan fungisnya maka tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur tidak langsung, yaitu: tindak tutur yang tidak sesuai dengan modus kalimatnya.

Selanjutnya, setelah tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung, sejumlah tindak tutur mempunyai tuturan yang sesuai dan tidak sesuai dengan kata-kata yang menyusunnya. Wijana dan Rohmadi, (2010:31) menjelaskan bahwa tindak tutur yang maksudnya sama dan maksudnya tidak sama dengan kata-kata yang menyusunnya dibagi menjadi dua, yaitu: 1)Tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya. 2) Tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya.

Rasul merupakan manusia pilihan yang diberi kemampuan luar biasa untuk menerima wahyu dan menyampaikannya kepada manusia. Ini berarti pada saat tertentu Rasul dapat mengkondisikan dirinya untuk berkomunikasi dengan umatnya sebagai sasaran dakwah. Pada saat yang lain beliau juga harus mengkondisikan diri


(31)

untuk menerima wahyu yang berupa teori-teori maupun materi dakwah yang mesti disampaikan, (Wahid, 2010: 6).

Dalam kegiatan berkomunikasi ini, sudah pasti ada bahasa yang digunakan sebagai tindak tutur dalam menyampaikan pesan sesuai dengan konteks. Setiap Rasul dan Nabi berbeda umatnya, maka berbeda pula kondisi keimanan umat tersebut, berbeda pulalah tindak tutur yang digunakan oleh Rasul dan Nabi tersebut. Perbedaan tindak tutur ini menjadi masalah dalam kajian ini, oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian dengan menggunakan pendekatan pragmatik yang membahas pemakaian tindak tutur yang dilakukan oleh Nabi-nabi Allah S.W.T, khususnya para Rasul Ulul Azmi.

Secara etimologi, kata Ulul Azmi terdiri dari dua kata “

ﻮﻟﻭﺃ

/ūlū/” dan “

ﻡﺰﻌﻟﺍ

/al-‘azmu/”. Dalam kamus bahasa Arab Al-Munawwir karya Ahmad Warson

Munawwir (2002), Kata

ﻮﻟﻭﺃ

/ūlū/ adalah kata yang bermakna “yang memiliki” yang berbentuk jama’, dan dalam bentuk mufrad atau bentuk tunggalnya adalah “

ﻭﺫ

/żū/”. Kata “

ﻡﺰﻌﻟﺍ

/al-‘azmu/” adalah kata yang berbentuk masdar

ﻡﺰﻋ

/’azmun/” dari kata kerja “

ﻡﺰﻌﻳ

-

ﻡﺰﻋ

/’azama-ya’zimu/” yang bermakna “seseorang yang berkeinginan

yang kuat dan penuh kesabaran”. Dengan demikian Ulul Azmi dapat diartikan

sebagai: “seseorang yang mempunyai keinginan yang kuat dan penuh kesabaran”. Beberapa pakar bahasa Arab berpendapat seperti yang terdapat di dalam

Al-Mu’jam Al-‘arabī Al-Asāsī (2003) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan


(32)

yang memiliki kesabaran dan bersungguh-sungguh dalam berdakwah, mereka adalah Nabi Nuh A.S, Nabi Ibrahim A.S, Nabi Musa A.S, Nabi Isa A.S, dan Nabi Muhammad S.A.W.

Alhamid, (1995: xii) menyatakan bahwa Ulul Azmi adalah Rasul-rasul Allah S.W.T yang menjadi teladan bagi Rasulullah S.A.W, karena tekad mereka kuat dalam berdakwah, Nabi Muhammad S.A.W juga termasuk kepada Nabi Ulul Azmi, karena beliau banyak melakukan jihad sabar dan berkorban. Pemilihan para Rasul

Ulul Azmi karena dalam melakukan dakwah, mereka sangat sabar walaupun mereka

sangat ditentang oleh umatnya. Sehingga mereka menjadi tokoh yang memiliki ketegaran dan kesabaran dalam medan perjuangan dakwah Islam.

Selanjutnya adalah contoh tindak tutur yang dituturkan oleh Nabi Nuh A.S mengajak kaumnya beriman kepada kekuasaan Allah S.W.T, yang terdapat pada surat Nuh ayat 15:

ْﻢَﻟَﺃ

ﺍْﻭَﺮَﺗ

َﻒْﻴَﻛ

َﻖَﻠَﺧ

ُﱠﷲ

َﻊْﺒَﺳ

ٍﺕﺍَﻭﺎَﻤَﺳ

ﺎًﻗﺎَﺒِﻁ

)

ﺡﻮﻧ

,

۱٥

(

alam taraw kaifa khalaqa allāhu sab’a samwātin tibāqan(15)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat- tingkat?” (QS. Nuh:15).

Contoh di atas gambaran tindak tutur yang tergolong kepada tindak tutur ilokusi yaitu bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk mempengaruhi agar si mitra tutur melakukan tindakan. Pada konteks ini penutur menginginkan mitra tuturnya untuk melakukan tindakan yaitu memperhatikan kekuasan Allah S.W.T menciptakan langit dengan beberapa tingkatan. Tuturan di atas diklasifikasikan kepada tindak tutur direktif yang memiliki fungsi komunikasi kompetitif. Tindak


(33)

tutur ini merupakan tindak tutur tidak langsung karena menggunakan modus interogatif yang bermaksud untuk memerintah atau imperatif agar beriman kepada Allah S.W.T.

Contoh yang kedua ialah tuturan Nabi Musa A.S kepada Nabi Khaidhir A.S, pada surat Al-Kahfi ayat 69 sebagai berikut:

َﻝﺎَﻗ

ﻲِﻧُﺪِﺠَﺘَﺳ

ْﻥِﺇ

َءﺎَﺷ

ُﱠﷲ

ﺍًﺮِﺑﺎَﺻ

ﻻَﻭ

ﻲِﺼْﻋَﺃ

َﻚَﻟ

ﺍًﺮْﻣَﺃ

)

ﻒﻬﻜﻟﺍ

,

٦۹

(

qāla satajidunī insyā allāhu ābiran wa lā a’ī laka amran(69)

“Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun" (QS. Al-Kahfi: 69).

Tuturan di atas adalah tuturan yang disampikan oleh Nabi Musa A.S kepada nabi Khaidhir A.S. Nabi Musa A.S diperintahkan Allah SWT untuk menjumpai Nabi Khaidhir A.S yang lebih pandai, karena Nabi Khaidhir A.S lebih mengetahui hal-hal yang ghaib dengan izin Allah SWT. Ketika Nabi Musa A.S berjumpa Nabi Khaidhir A.S, Nabi Khaidir A.S mengatakan kepada Nabi Musa A.S bahwa Nabi Musa A.S tidak akan sanggup mengikutinya. Namun Nabi Musa A.S berjanji kepada Nabi Khaidhir A.S bahwa ia akan sanggup mengikutinya selama perjalalan mereka. Tindak tutur di atas diklasifikasikan kepada tindak tutur komisif bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji. Tuturan komisif ini memiliki fungsi konvivial, dan tindak tutur ini merupakan tindak tutur langsung literal, karena menggunakan modus deklaratif.

Contoh yang ketiga ialah tuturan Nabi Musa A.S kepada kaumnya yaitu bangsa Israel yang terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 68, sebagai berikut:


(34)

َﻝﺎَﻗ َﻲِﻫ ﺎَﻣ ﺎَﻨَﻟ ْﻦﱢﻴَﺒُﻳ َﻚﱠﺑَﺭ ﺎَﻨَﻟ ُﻉْﺩﺍ ﺍﻮُﻟﺎَﻗ

ٌﺽِﺭﺎَﻓ ﻻ ٌﺓَﺮَﻘَﺑ ﺎَﻬﱠﻧِﺇ ُﻝﻮُﻘَﻳ ُﻪﱠﻧِﺇ

ِﺑ ﻻَﻭ

َﻚِﻟَﺫ َﻦْﻴَﺑ ٌﻥﺍَﻮَﻋ ٌﺮْﻜ

َﻥﻭُﺮَﻣْﺆُﺗ ﺎَﻣ ﺍﻮُﻠَﻌْﻓﺎَﻓ

)

٦۸

(

Qālū ud’u lanā rabbaka yubayyin lanā mā hiyā qāla innahu yaqūlu innhā baqaratun lā fāridun wa lā bikrun ‘awānun baina żalika faf’alū

mā tu’marūna (68)

Mereka menjawab: "mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".

Pada ayat di atas menceritakan kisah bangsa Israel yang meminta Nabi Musa A.S agar menanyakan kepada Allah S.W.T tentang kriteria sapi yang akan disembelih seperti yang diperintahkan Allah S.W.T kepada mereka. Pada ayat ini terdapat dua jenis tuturan yaitu tuturan langsung dan tidak langsung. Tuturan Nabi Musa A.S tersebut adalah sebagai berikut:

...

َﻝﺎَﻗ

ٌﺽِﺭﺎَﻓ ﻻ ٌﺓَﺮَﻘَﺑ ﺎَﻬﱠﻧِﺇ ُﻝﻮُﻘَﻳ ُﻪﱠﻧِﺇ

َﻚِﻟَﺫ َﻦْﻴَﺑ ٌﻥﺍَﻮَﻋ ٌﺮْﻜِﺑ ﻻَﻭ

….

)

٦۸

(

……innahu yaqūlu innhā baqaratun lā fāridun wa lā bikrun ‘awānun

baina żalika…...(68)

….Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu;….(68)

Pada tuturan ini Nabi Musa A.S memerintahkan bangsa Israel untuk memyembelih seekor sapi betina yang berumur tidak tua dan tidak pula muda, tetapi berumur diantara tua dan muda. Tuturan ini diklasifikasikan sebagai tuturan direktif, karena pada konteks ini penutur memerintahkan kepada lawan tuturnya untuk menyembelih seekor sapi sesuai dengan yang diperintahkan Allah S.W.T. Tindak


(35)

tutur ini memiliki fungsi kompetitif, jenis tindak tutur ini adalah tindak tutur tidak langsung literal, karena menggunakan modus deklaratif untuk memerintah.

Selanjutnya jenis tuturan kedua yaitu tindak tutur langsung literal Nabi Musa A.S, sebagai berikut:

...

َﻥﻭُﺮَﻣْﺆُﺗ ﺎَﻣ ﺍﻮُﻠَﻌْﻓﺎَﻓ

)

٦۸

(

………..faf’alū mā tu’marūna (68).

……….Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu"(68).

Pada tuturan ini Nabi Musa A.S memerintahkan bangsa Israel untuk langsung melakukan perintah Allah S.W.T dan jangan menundanya, Tuturan ini diklasifikasikasikan sebagai tindak tutur direktif karena penutur menginginkan lawan tuturnya untuk segera melakukan pekerjaan yang diperintahkan yaitu menyembelih seekor sapi dengan beberapa kriteria. Tindak tutur ini memiliki fungsi kompetitif, jenis tindak tutur ini adalah tindak tutur langsung literal, karena menggunakan modus imperatif untuk menyatakan suatu perintah.

Contoh keempat adalah tuturan Nabi Ibrahim A.S kepada bapaknya yang terdapat pada surat Maryam ayat 43, sebagai berikut:

َﻚِﺗْﺄَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻦِﻣ ﻲِﻧَءﺎَﺟ ْﺪَﻗ ﻲﱢﻧِﺇ ِﺖَﺑَﺃ ﺎَﻳ

ﻲِﻨْﻌِﺒﱠﺗﺎَﻓ

ﺎًّﻳِﻮَﺳ ﺎًﻁﺍَﺮِﺻ َﻙِﺪْﻫَﺃ

)

٤۳

(

Yā abati innī qad jāanī mina al-‘ilmi mā lam ya’tikafāttabi’nī ahdika

sirātan sawiyyan (43)

Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus(43).

Ayat di atas menceritakan kisah tentang Nabi Ibrahim A.S yang mengajak bapaknya untuk beriman kepada Allah S.W.T dan meninggalkan perbuatan syirik yaitu meyembah berhala. Pada ayat ini terdapat tiga tuturan yang diklasifikasikan


(36)

menjadi tuturan Asertif, tuturan direktif, dan tuturan komisif. Berikut ini adalah Tuturan asertif Nabi Ibrahim A.S yang terdapat pada ayat di atas, sebagai berikut:

َﻚِﺗْﺄَﻳ ْﻢَﻟ ﺎَﻣ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ َﻦِﻣ ﻲِﻧَءﺎَﺟ ْﺪَﻗ ﻲﱢﻧِﺇ ِﺖَﺑَﺃ ﺎَﻳ

………

)

٤۳

(

Yā abati innī qad jāanī mina al-‘ilmi mā lam ya’tika……(43)

Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu,…….(43)

Pada ayat ini Nabi Ibrahim A.S memberitahukan kepada bapaknya, bahwa dirinya telah mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan Semesta Alam yaitu Allah S.W.T, pengetahuan ini merupakan hidayah bahwa Allah S.W.T adalah Tuhan yang patut untuk disembah, dan bukan berhala yang dijadikan sebagai tuhan untuk disembah kerena berhala itu tidak dapat memberikan manfaat apa pun. Tuturan ini diklasifikasikan sebagai tuturan asertif, karena pada konteks ini penutur memberitahukan kepada lawan tuturnya bahwa ia telah mendapatkan suatu pengetahuan dari Allah S.W.T tentang kebenaran bahwa Allah S.W.T adalah Tuhan yang Maha Esa. Tindak tutur ini memiliki fungsi kolaboratif, dan jenis tindak tutur ini adalah tindak tutur langsung literal, karena menggunakan modus deklaratif untuk memberikan suatu informasi.

Selanjutnya pada tuturan kedua yaitu tuturan direktif Nabi Ibrahim A.S, sebagai berikut:

……….

ﻲِﻨْﻌِﺒﱠﺗﺎَﻓ

………..…..

)

٤۳

(

………fāttabi’nī………..(43)

………….Maka ikutilah Aku,……..(43)

Pada ayat ini Nabi Ibrahim A.S juga menasehati bapaknya untuk mengikutinya untuk beriman kepada Allah S.W.T. Tuturan ini diklasifikasikasikan


(37)

sebagai tindak tutur direktif karena penutur menginginkan lawan tuturnya untuk melakukan suatu pekerjaan yang diperintahkan yaitu mengikuti pekerjaan yang dilakukan oleh penutur yaitu menyembah Allah S.W.T. Tindak tutur ini memiliki fungsi kompetitif, jenis tindak tutur ini adalah tindak tutur langsung literal, karena menggunakan modus imperatif untuk menyatakan suatu perintah.

Tuturan terakhir yang dituturkan Nabi Ibrahim A.S kepada bapaknya adalah tuturan komisif, berikut ini adalah tuturannya:

………..

َﻙِﺪْﻫَﺃ

ﺎًّﻳِﻮَﺳ ﺎًﻁﺍَﺮِﺻ

)

٤۳

(

……….ahdika sirātan sawiyyan (43)

…………..niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus (43).

Pada ayat ini Nabi Ibrahim A.S juga berjanji kepada bapaknya bahwa ia akan membimbing dan menuntun bapaknya ke jalan yang lurus, jelas, mudah dan suci yang akan mengantarkannya kepada kebaikan dunia dan akhirat, yaitu dengan menyembah Allah S.W.T. Tuturan ini diklasifikasikasikan sebagai tindak tutur komisif karena penutur menyatakan kesanggupannya untuk melakukan suatu tindakan pada masa yang akan datang kepada lawan tuturnya, yaitu menuntun dan menunjukkan jalan yang benar yang penuh kebaikan di dunia dan akhirat. Tindak tutur ini memiliki fungsi konvivial, jenis tindak tutur ini adalah tindak tutur langsung literal, karena menggunakan modus deklaratif untuk menyatakan suatu informasi.

Oleh sebab keberagaman tindak tutur yang dijumpai di dalam Al-Quran, penulis berpikir dan merasa perlu melakukan kajian untuk menjawab fenomena tindak tutur para Rasul Allah S.W.T yang telah mampu mempengaruhi umatnya


(38)

untuk senantiasa beribadah kepada Allah S.W.T. Hasil dan dapatan fenomena tersebut akan dijadikan sebagai jawaban atas fenomena da’i dan da’iah masa kini yang lebih dan cenderung mengundang tawa lawan tuturnya.

Basit, (2006: 30) mengatakan bahwa, para pelaku dakwah di masyarakat banyak yang mengembangkan dakwah hanya melalui metode ceramah dan ironisnya, umat Islam sangat bangga dan tertarik dengan model ceramah yang penuh tawa. Akibatnya, dakwah hanya sebatas tontonan dan tidak dijadikan sebagai tuntunan. Padahal, pada dasarnya tugas pokok seorang da’i adalah meneruskan tugas Rasulullah Muhammad S.A.W, karena da’i adalah pewaris nabi. Ia berarti harus menyampaikan ajaran-ajaran Allah S.W.T seperti yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadis.

Selanjutnya untuk menemukan jawaban fenomena tersebut, penulis menjadikan kisah-kisah umat manusia terdahulu sebagai objek kajian. Kisah-kisah itu didapati di dalam percakapan para Rasul Ulul Azmi dengan kaumnya yang diabadikan dalam kisah-kisah nabi di dalam Al-Quran dan buku-buku hadis serta sejarah Islam. Kajian ini difokuskan pada tindak tutur ilokusi, karena kajian terpenting dalam pemahaman tindak tutur adalah tindak tutur ilokusi. Ini karena tindak ilokusi tidak mudah diidentifikasi. Hal itu terjadi karena tindak ilokusi itu berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan dan di mana tindak tutur dilakukan. Pada tindak tutur ilokusi perlu disertakan konteks tuturan dalam situasi tutur, (Wijana dan Rohmadi, 2010: 23).


(39)

1.2Persoalan Kajian

Dengan memaparkan latar belakang kajian di atas, maka peneliti mengajukan beberapa persoalan kajian untuk melakukan penelitian ini:

1. Klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi apa saja yang digunakan oleh Rasul Ulul Azmi kepada umatnya?

2. Bagaimana kesantunan tindak tutur Rasul Ulul Azmi dalam berkomunikasi kepada umatnya?

3. Klasifikasi, jenis dan fungsi tuturan manakah yang paling dominan digunakan oleh Rasul Ulul Azmi kepada umatnya? dan apa yang mempengaruhi dominanisasi jenis, fungsi dan klasifikasi tindak tutur tersebut?

1.3 Tujuan Kajian

Kajian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi Rasul Ulul Azmi kepada umatnya.

2. Menganalisis kesantunan tindak tutur Rasul Ulul Azmi kepada umatnya. 3. Menganalisis klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi yang paling

dominan digunakan oleh Rasul Ulul Azmi kepada umatnya, beserta faktor yang mempengaruhi dominanisasi tersebut.

1.3Batasan Kajian

Kajian yang akan dilakukan ini berfokus pada percakapan atau dialog antara Rasul Ulul Azmi dengan umatnya. Percakapan dialog itu terhimpun di dalam


(40)

kisah-kisah di dalam Al-Quran dan terjemahnya. Penulis merujuk kepada Al-Quran dan Terjemahnya, yang diterbitkan oleh Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/Pentafsir Al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia tahun 1971. Namun dalam hal ini, dialog yang di ambil dari kisah Al-Quran adalah dialog Nabi Nuh A.S, Nabi Ibrahim A.S, Nabi Musa A.S, dan Nabi Isa A.S.

Selanjutnya, untuk tindak tutur Nabi Muhammad S.A.W, penulis merujuk kepada buku Khutab ar-Rasūl: 574 Khutbatan min kunuz ad-durar wa jawami

al-kalim (edisi terjemahan oleh Muslih) yang diterbitkan oleh Qisthi Press tahun 2009.

Buku ini berisikan khutbah-khutbah Nabi Muhammad S.A.W dalam berdakwah, dan menceritakan sejarah kehidupan beliau. Buku ini dipilih sebagai bahan kajian untuk mendapatkan tuturan Nabi Muhammad S.A.W, karena Al-Quran adalah mukjizat Nabi Muhammad S.A.W sendiri. Sehingga Al-Quran tidak memuat langsung perkataan dari Nabi Muhammad S.A.W, seperti yang telah tertulis di dalam Al-Quran surat An-Najm ayat 1-4, sebagai berikut:

ﻯَﻮَﻫ ﺍَﺫِﺇ ِﻢْﺠﱠﻨﻟﺍَﻭ

)

۱

(

ﻯَﻮَﻏ ﺎَﻣَﻭ ْﻢُﻜُﺒِﺣﺎَﺻ ﱠﻞَﺿ ﺎَﻣ

)

۲

(

ﻯَﻮَﻬْﻟﺍ ِﻦَﻋ ُﻖِﻄْﻨَﻳ ﺎَﻣَﻭ

)

۳

(

ﻰَﺣﻮُﻳ ٌﻲْﺣَﻭ ﻻِﺇ َﻮُﻫ ْﻥِﺇ

)

٤

(

wa al-najmi iżā hawā(1)mā dallā sāhibukum wa mā gawā(2)wa mā yantiqu

‘ani al-hawā(3)in huwa illā wahyun yūhā(4)

Demi bintang ketika terbenam (1) Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru (2).Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya (3).Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)(4).


(41)

1.5 Manfaat Kajian

Temuan dari penelitian ini diharapkan memberi manfaat teoretis dan praktis, yakni:

1.5.1 Manfaat teoretis

Penelitian ini akan menambah, memperluas dan meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang pragmatik khususnya dalam bahasa Arab.

1. Penelitian ini akan memperjelas jenis, fungsi dan klasifikasi tindak tutur ilokusi yang digunakan oleh masing-masing Rasul Ulul Azmi.

2. Penelitian akan memperjelas kesantunan tindak tutur yang digunakan oleh masing-masing Rasul Ulul Azmi.

3. Penelitian ini akan memberikan informasi dan pengetahuan di bidang tindak tutur untuk yang mempelajari bahasa, budaya dan sastra Arab, serta pengajar agama Islam dan penceramah di Indonesia.

1.5.2 Manfaat Praktis

1. Penelitian ini berguna bagi peneliti selanjutnya.

2. Penelitian ini berguna bagi pengajar dan pembelajar bahasa Arab.

3. Penelitian ini membantu dan mengembangkan bidang ilmu komunikasi dakwah.

1.6 Kajian Terdahulu

Penelitian dan tulisan tentang tindak tutur yang berkaitan dengan kisah nabi-nabi Allah S.W.T di dalam Al-Quran tentunya sudah pernah dilakukan oleh peneliti-


(42)

peneliti sebelumnya. berikut ini paparan tentang beberapa literatur tentang kisah di dalam Al-Quran:

1. Penulis mendapati sebuah hasil penelitian yang bersumber dari

Penelitian tersebut berkaitan dengan kisah Ulul Azmi di dalam Al-Quran, permasalahan dalam penelitian tersebut adalah tentang relevansi pengulangan kisah-kisah Ulul Azmi di beberapa surat di dalam Al-Quran dengan kerasulan Nabi Muhammad S.A.W dan relevansinya terhadap kehidupan umat Nabi Muhammad S.A.W. Penelitian tersebut sama sekali tidak menggunakan pendektan Pragmatik, seperti yang penulis lakukan. 2. Sebuah tesis dengan judul “Tuturan Direkif dalam Al-Quran: Kajian

Pragmatik Terhadap Ayat-ayat Hukum, yang ditulis oleh Ayup Purnawan mahasiswa pascasarjana linguistik UGM pada tahun 2009.

Sepanjang yang diketahui penulis sampai saat ini, belum ada satu kajian tentang tindak tutur Rasul Ulul Azmi, oleh sebab itu penulis mencoba melakukan penelitian yang berkaitan dengan tindak tutur Rasul Ulul Azmi.

1.7 Sistematika Penulisan

Tesis ini terdiri atas lima bab. Bab pertama menjelaskan tentang pendahuluan yang berisikan; latar belakang kajian, tujuan kajian, persoalan kajian, batasan kajian, manfaat penelitian, kajian terdahulu, dan sistematika penulisan. Bab dua adalah kerangka teori. Bab tiga adalah metodologi penelitian. Bab empat adalah klasifikasi, fungsi dan jenis tindak tutur ilokusi serta kesantunan tindak tutur Ulul Azmi dalam


(43)

berkomunikasi kepada umatnya. Bab lima adalah penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran.


(44)

BAB II

KERANGKA TEORI

Kerangka teori ini berisi tentang teori yang akan digunakan dalam penelitian ini, yang berkaitan dengan: (1) pengertian pragmatik; (2) tindak tutur; (3) klasifikasi tindak tutur; (4) fungsi tindak tutur ilokusi; (5) jenis tindak tutur; (6) prinsip kesantunan.

Untuk memudahkan peneliti dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti menggunakan dan memanfaatkan beberapa teori yang berkaiatan dengan tindak tutur yang dikemukakan oleh beberapa pakar, antara lain: a) Geoffrey Leech (1993, edisi terjemahan oleh M. D. D. Oka ) yang berkaitan dengan fungsi tindak tutur ilokusi dan prinsip kesantuan. b) I Dewa Putu Wijana dan M. Rohmadi (2010) yang berkaitan dengan jenis tindak tutur. c) Geoffrey Leech dalam Henry Guntur Tarigan (1990) tentang klasifikasi tindak tutur.

2.1 Pengertian Pragmatik

Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu antaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi.

Wijana dan Rohmadi, (2010: 4) mengatakan bahwa semantik dan pragmatik adalah cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara internal, manakala pragmatik


(45)

mempelajari makna secara eksternal. Telaah semantik adalah makna yang bebas konteks, manakala makna prgamatik adalah makna yang terikat konteks.

Leech, (1993: 8) mengatakan bahwa pragmatik dan semantik berkaitan dengan makna. Semantik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan dua segi (dyadic) seperti pada “apa artinya X”. Manakala pragmatik memperlakukan makna sebagai suatu hubungan yang melibatkan tiga segi (triadic), seperti pada “apa maksudmu dengan X”. Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, manakala dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya.

2.2 Tindak Tutur

Tindak tutur ‘speech act’ yang merupakan bagian dari kajian pragmatik, pertama kali disampikan oleh filsuf berkebangsaan Inggris, Jhon L. Austin. Austin (1962) mengemukakan pendapat bahwa pada dasarnya, saat seseorang mengatakan sesuatu, dia juga melakukan sesuatu. Selanjutnya pendapat ini dikembangkan oleh Searle dan berpendapat bahwa unsur yang paling kecil dalam komunikasi adalah tindak tutur seperti menyatakan, membuat pertanyaan, memberi perintah, menguraikan, menjelaskan, minta maaf, berterima kasih, mengucapkan selamat, dan lain-lain, (Nadar, 2009:12).

Searle, (dalam Wijana dan Rohmadi 2010: 20-23) mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak ilokusi (ilocutionary


(46)

act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act). Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu, tindak tutur itu disebut ‘the act of saying something’.

Tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasi karena pengindentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Tindak ilokusi adalah tuturan yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga dipergunakan untuk melakukan sesuatu, tindak ilokusi disebut ‘the act of doing

something’. satu tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya

pengaruh (perlocutionary force), atau efek bagi yang mendengarkan. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan tindak perlokusi. Tindak ini disebut ‘The Act of Affecting Someone’. 2.3 Klasifikasi Tindak Tutur Ilokusi

Tindak tutur ilokusi diklasifikasikan oleh Searle, (dalam Leech, 1993:164). menjadi lima jenis yaitu tindak tutur asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi. Searle, mengklasifikasikan tindak ilokusi berdasarkan berbagai kriteria, antara lain:

1. Asertif (Assertives): melibatkan pembicara pada kebenaran proposisi yang diekspresikan, misalnya: menyatakan, memberitahukan, menyarankan, membanggakan, ,mengeluh, menuntut, melaporkan.

2. Direktif (Directives): dimaksudkan untuk menimbulkan beberap efek melalui tindakan sang penyimak, misalnya: memesan, memerintahkan, memohon,


(47)

3. Komisif (Commissives): melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang, misalnya: menjanjikan, bersumpah, menawarkan, memanjatkan (doa).

4. Ekspresif (Expressives): mempunyai fungsi unuk mengekspresikan, mengungkapkan, atau memberitahukan sikap psikologis sang pembicara menuju suatu pernyataan keadaan yang diperkirakan oleh ilokusi; misalnya: mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memaafkan, mengampuni, menyalahkan,

memuji, menyatakan belasungkawa, dan sebagainya.

5. Deklarasi (Declarations): adalah ilokusi yang bial performasinya berhasil akan menyebabkab korespondensi yang baik antara isi proporsional dengan realitas; contoh: menyerahkan diri, memecat, membebaskan, membaptis, member nama, menamai, mengucilkan, mengangkat, menunjuk, menentukan, menjatuhkan hukuman,

memvonis, dan sebagainya.

2.4 Fungsi Tindak Tutur Ilokusi

Tindak ilokusi mempunyai beraneka ragam fungsi dalam praktik kehidupan sehari-hari. Berdasarkan bagaimana hubungannya dengan tujuan sosial dalam menentukan dan memelihara serta mempertahankan rasa sikap hormat. Leech, (1993:162) mengemukakan bahwa fungsi-fungsi ilokusi dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu:

1. Kompetitif (Competitive) : Tujuan ilokusi bersaing dengan tujuan sosial; misalnya, memerintah, meminta, menuntut, mengemis. Pada ilokusi yang berfungsi kompetitif sopan santun mempunyai sifat negatif dan tujuannya


(48)

ialah mengurangi ketidak harmonisan yang tersirat dalam kompetisi antara apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan apa yang dituntut oleh sopan santun.

2. Menyenangkan (Convivial): Tujuan ilokusi sejalan dengan tujuan sosial; misalnya, menawar, mengajak/mengundang, menyapa, mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat. Pada fungsi ini sopan santun lebih positif bentuknya dan bertujuan mencari kesempatan untuk beramah-tamah.

3. Bekerja sama (Collaborative): Tujuan ilokusi tidak menghiraukan tujuan sosial; misalnya, menyatakan, melapor, mengumumkan, mengajarkan. Pada fungsi ini tidak melibatkan sopan santun, karena pada fungsi ini sopan santun tidak relevan.

4. Bertentangan (Confilctive): Tujuan ilokusi bertentangan dengan tujuan sosial; misalnya mengancam, menuduh, menyumpahi, memarahi. Dalam jenis ilokusi ini unsur sopan santun tidak ada sama sekali, karena pada dasarnya fungsi ini menimbulkan kemarahan.

2.5 Jenis Tindak Tutur

Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat: berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan suatu informasi. Kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu. Kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan dan permohonan, (Wijana dan Rohmadi, 2010: 28).


(49)

Apabila kalimat difungsikan secara konvensional sesuai dengan fungsinya dan jika kalimat difungsikan dengan tidak sesuai dengan fungisnya maka tindak tutur yang terbentuk adalah:

1. Tindak tutur langsung, yaitu: tindak tutur yang sesuai dengan modus kalimatnya.

Contoh: (1) jam berapa sekarang?

Tuturan di atas adalah tindak tutur yang menanyakan informasi waktu kepada mitra tutur.

2. Tindak tutur tidak langsung, yaitu: tindak tutur yang tidak sesuai dengan modus kalimatnya.

Contoh: (2) apa ini bukan waktunya untuk tidur?

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya, dengan menggunakan kalimat tanya untuk mengungkapkan tindak tutur tidak langsung yaitu memerintah.

Selanjutnya, setelah tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Sejumlah tindak tutur mempunyai tuturan yang sesuai dan tidak sesuai dengan kata-kata yang menyusunnya.

Wijana dan Rohmadi, (2010:31) menjelaskan bahwa tindak tutur yang maksudnya sama dan maksudnya tidak sama dengan kata-kata yang menyusunnya dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Tindak tutur literal adalah tindak tutur yang maksudnya sama dengan makna kata-kata yang menyusunnya.


(50)

Contoh: (3) mobilmu bersih sekali.

Tuturan di atas dituturkan seseorang kepada temannya yang baru selesai mencuci mobilnya. Maka jelas tuturan itu memuji yang sifatnya literal. 2. Tindak tutur tidak literal adalah tindak tutur yang maksudnya tidak sama

dengan atau berlawanan dengan makna kata-kata yang menyusunnya. Contoh: (4) mobilmu bersih sekali.

Tuturan di atas dituturkan seseorang kepada temannya yang mengendarai mobilnya ketika hujan dan melewati jalanan yang becek. Maka tuturan tersebut tindak tutur tidak literal, karena bukan bermaksud untuk memuji, tetapi mengejek.

Apabila tindak tutur langsung dan tidak langsung disinggungkan (diinterseksikan) dengan tindak tutur literal dan tidak literal, maka akan didapatkan tindak tutur berikut ini:

1. Tindak tutur lansung literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus tuturan dan makna yang sama dengan maksud pengutaraannya. Contoh: (5) angkat tangan!

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang polisi yang memerintahkan seseorang mengangkat tangannya sebelum ditangkap karena melakukan kejahatan.

2. Tindak tutur tidak langsung literal adalah tindak tutur yang diungkapkan dengan modus kalimat yang tidak sesuai dengan maksud pengutaraannya, tetapi makna kata-kata yang menyusunnya sesuai dengan apa yang


(51)

dimaksudkan penutur. Dalam tindak tutur ini maksud memerintah diutarakan dengan kalimat berita atau kalimat tanya.

Contoh: (6) kok gelap?

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang pemilik rumah kepada pembantunya ketika sedang mati lampu. Kalimat yang digunakan pemilik rumah adalah kalimat tanya, secara tidak langsung memerintah dengan maksud agar pembantu menghidupkan lilin.

3. Tindak tutur langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat yang sesuai dengan maksud tuturan, tetapi kata-kata yang menyusunnya tidak memiliki makna yang sama dengan maksud penuturnya. Dalam tindak tutur ini, maksud memerintah diutarakan dengan kalimat perintah, kalimat dan maksud menginformasikan dengan kalimat deklaratif.

Contoh: (7) merokok lagi yang banyak, biar sehat!

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang dokter kepada pasiennya, dokter tersebut memerintahkan pasiennya agar mengurangi menghisap rokok supaya sehat.

4. Tindak tutur tidak langsung tidak literal adalah tindak tutur yang diutarakan dengan modus kalimat dan makna kalimat yang tidak sesuai dengan maksud yang hendak diutarakan.


(52)

Tuturan di atas dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya untuk menyuruh anaknya pelan-pelan ketika makan.

2.6 Kesantunan

Dalam pertukaran tuturan, peserta tutur tidak hanya menghormati prinsip-prinsip kerjasama, tetapi juga mengindahkan prinsip-prinsip-prinsip-prinsip kesopanan. Sebagai retorika interpersonal, pragmatik memerlukan prinsip lain, yakni prinsip kesopanan, (Wijana dan Rohmadi, 2010: 51).

Leech, (1993: 206) mengatakan bahwa sopan santun berkenaan dengan hubungan antara dua pemeran serta yang boleh kita namakan diri dan lain. Dalam percakapan, diri biasanya diidentifikasi dengan n, dan lain lazimnya diidentifikasi dengan t; tetapi penutur juga dapat menunjukkan sopan santun pada pihak ketiga yang hadir ataupun tidak hadir dalam situasi ujar yang bersangkutan. Selanjutnya, Leech (1993) menjelaskan bahwa ada enam maksim di dalam prinsip kesantunan, iaitu:

1. Maksim Kearifan (Tact Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi impositif dan komisif)

a. Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin. b. Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.

2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi impositif dan komisif)

a. Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin. b. Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin.


(53)

3. Maksim Pujian (Approbation Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi ekspresif dan asertif)

a. Kecamlah orang lain sedikit mungkin. b. Pujilah orang lain sebanyak mungkin.

4. Maksim Kesederhanaan Hati (Modesty Maxim) (dalam ilokusi-ilokusi ekspresif dan asertif)

a. Pujilah diri sendiri sedikit mungkin. b. Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.

5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim) (dalam ilokusi Asertif)

a. Usahakan agar tak ketaksepakatan antara diri dan lain sedikit mungkin terjadi.

b. Usahakan agar kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin.

6. Maksim Simpati (Sympathi Maxim) (dalam ilokusi Asertif)

a. Kurangilah rasa antipati antara diri dengan lain hingga sekecil mungkin.


(54)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Untuk memudahkan dan membantu penulis untuk menganalisis data dalam penelitian ini, maka metodologi penelitian sangat penting untuk ditentukan dan diaplikasikan dalam proses penelitian ini. Oleh karena itu peneliti menentukan bahwa, penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realita sosial. Penelitian ini juga berupaya menarik realita tersebut ke permukaan sebagai satu ciri, karakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, situasi, ataupun fenomena tertentu, (Bungin, 2007:68).

3.2 Data dan Sumber Data

Satuan data penelitian ini adalah tuturan para Rasul Ulul Azmi yang terdapat pada dialog antara Rasul Ulul Azmi sebagai penutur dan kaumnya sebagai lawan tutur. Sumber data primer penelitian ini adalah Al-Quran dan Terjemahnya, yang diterbitkan oleh Yayasan Penyelenggara, Penterjemah/Pentafsir Al-Quran Departemen Agama Republik Indonesia tahun 1971, dan buku Khutab ar-Rasūl: 574

Khutbatan min kunuz ad-durar wa jawami al-kalim (edisi terjemahan oleh Muslih)

yang diterbitkan oleh Qisthi Press pada tahun 2009.

Untuk membantu proses penelitian ini, peneliti mengumpulkan data sekunder, sebagai pendukung bahan dan data penelitian yang berkaitan dengan pembahasan penelitian. Peneliti mengambil data sekunder tersebut dari beberapa buku, antara lain:


(55)

1. Khutab Al-Rasul karya Majdi Muhammad Syahawi, yang diterbitkan oleh Maktabah Al-Taufiqiyyah.

2. Al-Rahīq Al-Makhtūm karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury yang diterbitkan oleh Maktabah Al-Nur Al-Islamiyi.

3. Majma’ Al-Zawāid wa Manba’i Al-Fawāid jilid 6 karya Al-Hafiz

Nuruddin Ali bin Abi Bakr Al-Hasyimi, yang diterbitkan oleh Dāru Al -Kitābi Al-‘Arabī.

4. Imtā‘u Al-Asmā‘i jilid 1karya Taqiyuddin Ahmad bin Ali bin Abdul Qadir bin Muhammada Al-Muqriri, yang diterbitkan oleh Dāru Al-Kutubi Al-‘Alamiyati.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Terdapat 903 ayat Al-Quran yang mengkisahkan kehidupan Rasul Ulul Azmi

(Nabi Nuh A.S, Nabi Ibrahim A.S, Nabi Musa A.S, dan Nabi Isa A.S). Dengan menggunakan teknik purposive sampling, maka didapatkan 167 ayat yang berisi dialog dari empat Rasul Ulul Azmi, dengan klasifikasi sebagai berikut:

1. Nabi Nuh A.S 42 ayat. 2. Nabi Ibrahim A.S 42 ayat. 3. Nabi Musa A.S 73ayat. 4. Nabi Isa A.S 10 ayat.

Selanjutnya untuk tindak tutur Nabi Muhammad S.A.W, ditetapkan enam khutbah yang dianggap dapat menjawab dari tujuan penelitian ini. Keenam khutbah tersebut adalah:


(56)

1. Khutbah Nabi Muhammad S.A.W pada Perang Badar.

2. Khutbah Nabi Muhammad S.A.W untuk Menghibur Orang-orang Anshar. 3. Khutbah Nabi Muhammad S.A.W tentang tawanan dan harta rampasan perang

Hawazin.

4. Khutbah Nabi Muhammad S.A.W dalam penaklukan kota Mekah. 5. Khutbah pertama Nabi Muhammad S.A.W di Madinah.

6. Khutbah terakhir Nabi Muhammad S.A.W yang Terakhir.

3.4 Prosedur Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 2010: 280). Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan (Sugiyono, 2009: 336).

Ada tiga tahapan analisis data penelitan menurut Miles dan Huberman (1992: 15-20), ketiga tahapan tersebut adalah: reduksi data, display atau penyajian data dan menarik kesimpulan atau verifikasi data.

a. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara memilih ayat-ayat Al-Quran yang menceritakan kehidupan para Rasul Ulul Azmi. Selanjutnya ayat-ayat


(57)

tersebut direduksi sehingga menjadi tuturan Nabi Nuh A.S, Nabi Ibrahim A.S, Nabi Musa A.S dan Nabi Isa A.S. Penelitian ini juga mereduksi khutbah-khutbah Nabi Muhammad S.A.W, sehingga khutbah yang dijadikan data penelitian hanya khutbah yang memiliki keistimewaan tersendiri di dalam sejarah Islam.

b. Penyajian data adalah proses penyajian hasil dari reduksi data sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan data. Penyajian data dalam penelitian ini adalah dengan cara mengelompokkan tuturan dari masing-masing Rasul Ulul Azmi sesuai dengan klasifikasi, fungsi dan jenisnya, serta menyesuaikannya dengan prinsip kesantunan.

c. Verifikasi adalah langkah terakhir untuk menarik kesimpulan. Verifikasi merupakan proses mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi- konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposisi. Setelah peneliti menarik kesimpulan dari hasil penelitian, peneliti perlu mempelajari dan meninjau kembali data-data dari hasil penelitian. Peninjauan ulang ini dapat melibatkan berbagai pihak, agar kesimpulan penelitian ini benar-benar kokoh dan dapat diuji kebenarannya. Sehingga kesimpulan penelitian ini dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal.

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka, karena data yang dijadikan sebagai objek, diambil dari dokumen-dokumen yaitu Al-Quran dan kitab-kitab hadis


(58)

dan sejarah Islam. Guba dan Lincoln (1981:228) (dalam Moleong, 2010: 216) mengemukakan bahwa dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film.

Untuk memanfaatkan dokumen yang padat isi, biasanya digunakan teknik tertentu, teknik yang paling umum digunakan adalah ialah content analysis (Moleong, 2010: 220). Analisis isi (content anlysis) adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru, dan sahih data dengan memerhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi (Bungin, 2007: 155).


(1)

Tabel 9

TINDAK TUTUR NABI MUHAMMAD S.A.W PADA KHUTBAH PERTAMA DI KOTA MADINAH

NO TUTURAN

KLASIFIKASI TINDAK TUTUR

ILOKUSI

FUNGSI TINDAK TUTUR

ILOKUSI

JENIS TINDAK TUTUR

PRINSIP KESANTUNAN

1

,

ﻪﻳﺪﻬﺘﺳﺃﻭ ﻩﺮﻔﻐﺘﺳﺃﻭ

,

ﻪﻨﻴﻌﺘﺳﺃﻭ ﻩﺪﻤﺣﺃ

,

ﻟ ﺪﻤﺤﻟﺍ

ﻩﺮﻔﻛﺃ ﻻ ﻪﺑ ﻦﻣﺅﺃﻭ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal

Maksim

Kerendahan Hati

2

ﻪﻠﺳﺭﺃ

ﻰﻠﻋ ﺔﻈﻋﻮﻤﻟﺍﻭ ﺭﻮﻨﻟﺍﻭ ﻖﺤﻟﺍ ﻦﻳﺩﻭ ﻯﺪﻬﻟﺎﺑ

ﻞﺳﺮﻟﺍ ﻦﻣ ﺓﺮﺘﻓ

,

ﻢﻠﻌﻟﺍ ﻦﻣ ﺔﻠﻗﻭ

,

ﻦﻣ ﺔﻟﻼﺿﻭ

ﺱﺎﻨﻟﺍ

,

ﻥﺎﻣﺰﻟﺍ ﻦﻣ ﻉﺎﻄﻘﻧﺇﻭ

,

ﻭ ﺔﻋﺎﺴﻟﺍ ﻦﻣ ﻮﻧﺩﻭ

ﻞﺟﻻﺍ ﻦﻣ ﺏﺮﻗ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim

Kerendahan Hati

3

ﺪﻘﻓ ﺎﻤﻬﺼﻌﻳ ﻦﻣﻭ

.

ﺪﺷﺭ ﺪﻘﻓ ﻪﻟﻮﺳﺭﻭ ﷲ ﻊﻄﻳ ﻦﻣ

ﻞﺿﻭ ﻁﺮﻓﻭ ﻯﻮﻏ

ﺍﺪﻴﻌﺑ ﻻﻼﺿ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal

Maksim Kesepakatan

4

ﺔﺤﻴﺼﻧ ﻚﻟﺍﺫ ﻦﻣ ﻞﻀﻓﺃ ﻻﻭ

,

ﻚﻟﺍﺫ ﻦﻣ ﻞﻀﻓﺃ ﻻﻭ

ﻯﺮﻛﺫ

,

ﺔﻓﺎﺨﻣﻭ ﻞﺟﻭ ﻰﻠﻋ ﻪﺒﻠﻤﻋ ﻦﻤﻟ ﻯﻮﻘﺗ ﻪﻧﺇﻭ

ﻕﺪﺻﻭ ﻥﻮﻋﻭ

,

ﺓﺮﺧﻻﺍ ﺮﻣﺃ ﻦﻣ ﻥﻮﻐﺘﺒﺗ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim Kesepakatan

5

ﻭ ﺮﺴﻟﺍ ﺮﻣﺃ ﻦﻣ ﷲ ﻦﻴﺑ ﻭ ﻪﻨﻴﺑ ﻯﺬﻟﺍ ﺢﻠﺼﻳ ﻦﻣﻭ

ﻚﻟﺍﺬﺑ ﻯﻮﻨﻳ ﻻ ﺔﻴﻧﻼﻌﻟﺍ

ﻪﺟﻭ ﻻﺇ

ﻰﻓ ﺍﺮﻛﺫ ﻪﻟ ﻦﻜﻳ ﷲ

ﻩﺮﻣﺃ ﻞﺟﺎﻋ

,

ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺪﻌﺑ ﺎﻤﻴﻓ ﺍﺮﺧﺫﻭ

,

ﻦﻴﺣ

ﻰﻟﺇ ءﺮﻤﻟﺍﺮﻘﺘﻔﻳ

ﻡﺪﻗﺎﻣ

,

ﺩﻮﻳ ﻚﻟﺍﺫ ﻯﻮﺳ ﻦﻣ ﻥﺎﻛ ﺎﻣﻭ

ﺍﺪﻴﻌﺑ ﺍﺪﻣﺃ ﻪﻨﻴﺑ ﻥﺃﻮﻟ

.

ﻪﻟﻮﻗ ﻕﺪﺻ ﻯﺬﻟﺍﻭ

,

ﺮﺠﻧﺃﻭ

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim Kesepakatan


(2)

ﻚﻟﺍﺬﻟ ﻒﻠﺧ ﻻ ﻩﺪﻋﻭ

,

ﻝﻮﻘﻳ ﻰﻟﺎﻌﺗ ﻪﻧﺈﻓ

)

ُﻝﱠﺪَﺒُﻳ ﺎَﻣ

ٍﻡﻼَﻈِﺑ ﺎَﻧَﺃ ﺎَﻣَﻭ ﱠﻱَﺪَﻟ ُﻝْﻮَﻘْﻟﺍ

ِﺪﻴِﺒَﻌْﻠِﻟ

(

6

ﻪﺘﻘﻣ ﻰﻗﻮﺗ ﷲ ﻯﻮﻘﺗ ﻥﺇﻭ

,

ﻪﺘﺑﻮﻘﻋ ﻰﻗﻮﺗ ﻭ

,

ﻰﻗﻮﺗﻭ

ﻪﻄﺨﺳ

.

ﻪﺟﻮﻟﺍ ﺾﻴﺒﺗ ﷲ ﻯﻮﻘﺗ ﻥﺇﻭ

,

ﺏﺮﻟﺍ ﻰﺿﺮﺗﻭ

,

ﻊﻓﺮﺗﻭ

ﻪﺟﺭﺪﻟﺍ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim Kesepakatan

7

.

ﻟﺎﺑ ﻻﺇ ﺓﻮﻗ ﻻﻭ

.

ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟﺍ ﻢﻛﺎﻤﺳﻭ ﻢﻛﺎﺒﺘﺟﺍ ﻮﻫ

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim Kesepakatan

8

ﻦﻴﺑ ﻭ ﻪﻨﻴﺑ ﺎﻣ ﻪﻔﻜﻳ ﷲ ﻦﻴﺑ ﻭ ﻪﻨﻴﺑ ﺎﻣ ﺢﻠﺻﺃ ﻦﻣ ﻪﻧﺈﻓ

ﺱﺎﻨﻟﺍ

,

ﻥﻮﻀﻘﻳ ﻻﻭ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﻰﻀﻘﻳ ﷲ ﻥﺄﺑ ﻚﻟﺍﺫ

ﻪﻴﻠﻋ

,

ﻚﻠﻤﻳﻭ

ﻪﻨﻣ ﻥﻮﻜﻠﻤﻳ ﻻﻭ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻦﻣ

,

ﺮﺒﻛﺃ ﷲ

,

ﻢﻴﻈﻌﻟﺍ ﻰﻠﻌﻟﺍ ﻟﺎﺑ ﻻﺇ ﺓﻮﻗ ﻻﻭ

.

Asertif Kolaboratif Langsung Literal Maksim Kesepakatan

9

ﻦﻣ ﷲ ﻢﻛﺭﺬﺣ ﺎﻣ ﺍﻭﺭﺬﺣﺎﻓ

,

ﷲ ﻯﻮﻘﺘﺑ ﻢﻜﻴﺻﻭﺃﻭ

ﻪﺴﻔﻧ

.

Direktif Kompetitif Langsung Literal

Maksim

Kebijaksanaan

10

ﷲ ﺍﻮﻘﺗﺍﻭ

ﻪﻠﺟﺍﻭ ﻢﻛﺮﻣﺃ ﻞﺟﺎﻋ ﻰﻓ

,

ﺮﺴﻟﺍ ﻰﻓ

ﺔﻴﻧﻼﻌﻟﺍﻭ

,

ﻪﻧﺈﻓ

:

)

ﺍًﺮْﺟَﺃ ُﻪَﻟ ْﻢِﻈْﻌُﻳَﻭ ِﻪِﺗﺎَﺌﱢﻴَﺳ ُﻪْﻨَﻋ ْﺮﱢﻔَﻜُﻳ َ ﱠﷲ ِﻖﱠﺘَﻳ ْﻦَﻣَﻭ

(

Direktif Kompetitif Langsung Literal Maksim

Kebijaksanaan

11

ﻢﻜﻈﺤﺑ ﺍﻭﺬﺧ

,

ﷲ ﺐﻨﺟ ﻰﻓ ﺍﻮﻁﺮﻔﺗ ﻻﻭ

,

ﻢﻜﻤﻠﻋ ﺪﻗ

ﻪﺑﺎﺘﻛ ﷲ

,

ﻢﻜﻟ ﺞﻬﻧﻭ

ﻦﻴﺑﺫﺎﻜﻟﺍ ﻢﻠﻌﻴﻟﻭ ﺍﻮﻗﺪﺻ ﻦﻳﺬﻟﺍ ﻢﻠﻌﻴﻟ ﻪﻠﻴﺒﺳ

.

Direktif Kompetitif Langsung Literal Maksim


(3)

12

,

ﻩءﺍﺪﻋﺃ ﺍﻭﺩﺎﻋ ﻭ

,

ﻢﻜﻴﻟﺇ ﷲ ﻦﺴﺣﺃ ﺎﻤﻛ ﺍﻮﻨﺴﺣﺄﻓ

ﻩﺩﺎﻬﺟ ﻖﺣ ﷲ ﻰﻓﺍﻭﺪﻫﺎﺟﻭ

.

Direktif Kompetitif Langsung Literal

Maksim

Kebijaksanaan

13

.

ﺕﻮﻤﻟﺍ ﺪﻌﺑ ﺎﻤﻟ ﺍﻮﻠﻤﻋﺍﻭ

,

ﷲ ﺮﻛﺫ ﺍﻭﺮﺜﻛﺄﻓ

Direktif Kompetitif Langsung Literal Maksim

Kebijaksanaan

14

ﻻﺇ ﻪﻟﺇ ﻻ ﻥﺃ ﺪﻬﺷﺃﻭ

,

ﻩﺮﻔﻜﻳ ﻦﻣ ﻯﺩﺎﻋﺃﻭ

,

ﻩﺮﻔﻛﺃ ﻻ

ﻪﻟ ﻚﻳﺮﺷ ﻻ ﻩﺪﺣﻭ ﷲ

,

ﻪﻟﻮﺳﺭﻭ ﻩﺪﺒﻋ ﺍﺪﻤﺤﻣ ﻥﺃﻭ

.

Komisif Konvivial Langsung Literal

Maksim


(4)

Tabel 10

TINDAK TUTUR NABI MUHAMMAD S.A.W PADA KHUTBAH BELIAU YANG TERAKHIR

NO TUTURAN KLASIFIKASI TINDAK

TUTUR ILOKUSI

FUNGSI TINDAK TUTUR ILOKUSI

JENIS TINDAK TUTUR

PRINSIP KESANTUNAN

1

.

ﻢﻜﻴﻠﻋ ﻪﻔﻠﺨﺘﺳﺃﻭ

,

ﻢﻜﺑ ﷲ ﻰﺻﻭﺃﻭ

Asertif Kolaboratif Langsung

Literal

Maksim Penghargaan

2

.

ﻦﻴﺒﻣ ﺮﻳﺬﻧ ﻢﻜﻟ ﻰﻧﺇ

Asertif Kolaboratif

Langsung Literal

Maksim Kesepakatan

3

ﻰﺴﻴﻠﺟﻭ ﻰﻠﻴﻠﺧ ﻰﻠﻋ ﻰﻠﺼﻳ ﻦﻣ ﻝﻭﺃ ﻥﺈﻓ

ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﻞﻳﺮﺒﺟ

,

ﻞﻴﺋﺎﻜﻴﻣ ﻢﺛ

,

ﻢﺛ

ﻞﻴﻓﺍﺮﺳﺇ

,

ﻩﺩﻮﻨﺟ ﻊﻣ ﺕﻮﻤﻟﺍ ﻚﻠﻣ ﻢﺛ

,

ﻢﺛ

ﺔﻜﺋﻼﻤﻟﺍ

ﻢﻬﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ

ﺎﻬﻌﻤﺟﺄﺑ

.

Asertif Kolaboratif Langsung

Literal

Maksim Kesepakatan

4

.

ﻢﻬﻧﻭﺮﺗ ﻻ ﺚﻴﺣ ﻦﻣ ﻢﻜﻧﻭﺮﻳ ﺓﺮﻴﺜﻛ ﺔﻜﺋﻼﻣ ﻊﻣ

Asertif Kolaboratif Langsung Literal

Maksim Kesepakatan

5

.

ﷲ ﻯﻮﻘﺘﺑ ﻢﻜﻴﺻﻭﺃ

Direktif Kompetitif Langsung

Literal

Maksim

Kebijaksanaan

6

.

ﻩﺩﻼﺑﻭ ﻩﺩﺎﺒﻋ ﻰﻓ ﷲ ﻰﻠﻋ ﻮﻠﻌﺗ ﻻ ﻥﺃ

Direktif Kompetitif Langsung

Literal

Maksim

Kebijaksanaan

7

.

ﻰﻧﺩﻷﺍﺎﻓ ﻰﻧﺩﻷﺍ

,

ﻰﺘﻴﺑ ﻞﻫﺃ ﻝﺎﺟﺭ

Direktif Kompetitif Tidak Langsung

Literal

Maksim

Kebijaksanaan

8

ﻭﺃ

,

ﺔﻴﻨﻤﻳ ﺔﻠﺣ ﻰﻓ ﻭﺃ

,

ﻢﺘﺌﺷ ﻥﺇ ﻩﺬﻫ ﻰﺑ ﺎﻴﺛ ﻰﻓ

ﺮﻀﻣ ﺽﺎﻴﺑ ﻰﻓ

.

Direktif Kompetitif

Tidak Langsung Literal

Maksim

Kebijaksanaan


(5)

Literal Kebijaksanaan

10

ﻰﻓ ﻯﺮﻳﺮﺳ ﻰﻠﻋ ﻰﻧﻮﻤﺘﻌﺿﻭﻭ ﻰﻧﺍﻮﻤﺘﻠﺴﻏ ﺍﺫﺇ

ﻯﺮﺒﻗ ﺮﻴﻔﺷ ﻰﻠﻋ ﺍﺬﻫ ﻰﺘﻴﺑ

.

Direktif Kompetitif

Tidak Langsung Literal

Maksim

Kebijaksanaan

11

ﻰﻓ ﻯﺮﻳﺮﺳ ﻰﻠﻋ ﻰﻧﻮﻤﺘﻌﺿﻭﻭ ﻰﻧﺍﻮﻤﺘﻠﺴﻏ ﺍﺫﺇ

ﻯﺮﺒﻗ ﺮﻴﻔﺷ ﻰﻠﻋ ﺍﺬﻫ ﻰﺘﻴﺑ

,

ﺔﻋﺎﺳ ﻰﻨﻋ ﺍﻮﺟﺮﺧﺎﻓ

.

Direktif Kompetitif

Langsung Literal

Maksim Kebijaksanaan

12

ﺎﺟﻮﻓ ﺎﺟﻮﻓ ﻰﻠﻋ ﻮﻠﺧﺩﺍ ﻢﺛ

,

ﻰﻠﻋ ﺍﻮﻠﺼﻓ

ﺎﻤﻴﻠﺴﺗ ﺍﻮﻤﻠﺳﻭ

,

ﺔﻴﻛﺎﺒﺑ ﻰﻧﻭﺫﺆﺗﻻﻭ

ﻝﺎﻗ ﻪﺒﺴﺣﺃ

:

ﺔﻧﺍﺭ ﻻﻭ ﺔﺧﺭﺎﺻ ﻻﻭ

ﻰﻠﻋ ﺓﻼﺼﻟﺎﺑ ﺃﺪﺒﻴﻟﻭ

ﻰﺘﻴﺑ ﻞﻫﺃ ﻝﺎﺟﺭ

,

ﺪﻌﺑ ﻢﺘﻧﺃ ﻢﺛ

,

ﻢﻜﺴﻔﻧﺃ ﺍﻮﺋﺮﻗﺃﻭ

ﻡﻼﺴﻟﺍ ﻰﻨﻣ

,

ﻯﺪﻌﺑ ﻢﻜﻨﻳﺩ ﻰﻓ ﻢﻜﻌﻣ ﻞﺧﺩ ﻦﻣﻭ

.

Direktif Kompetitif Langsung

Literal

Maksim

Kebijaksanaan

13

.

ﻰﺘﻴﺑ ﻞﻫﺃ ﻝﺎﺟﺭ

Direktif Kompetitif Tidak Langsung

Literal Maksim Kebijaksanaan 14

ﷲ ﻢﻛﺎﻴﺣﻭ

,

ﷲ ﻢﻜﻈﻔﺣﻭ

,

ﷲ ﻢﻛﺍﻭﺃ

,

ﻢﻛﺮﺼﻧﻭ

,

ﷲ ﻢﻜﻌﻓﺯ

,

ﷲ ﻢﻛﺍﺪﻫ

,

ﷲ ﻢﻜﻗﺯﺭ

,

ﻢﻜﻘﻓﻭ

,

ﷲ ﻢﻜﻤﻠﺳ

,

ﷲ ﻢﻜﻠﺒﻗ

.

Komisif Konvivial Langsung

Literal

Maksim

Kedermawanan

15

.

ﺍﺮﻴﺧ ﻢﻜﻴﺒﻧ ﻦﻋ ﻢﻛﺍﺯﺎﺟ ﻭ

,

ﻢﻜﻟ ﷲ ﺮﻔﻏ

Komisif Konvivial Langsung

Literal

Maksim

Kedermawanan

16

ﻡﻼﺴﻟﺍ ﺃﺮﻗﺃ ﻰﻧﺃ ﻢﻛﺪﻬﺷﺃ ﻰﻧﺈﻓ

-ﻝﺎﻗ ﻪﺒﺴﺣﺃ

:

ﻪﻴﻠﻋ

-ﻰﻨﻌﺑﺎﺗ ﻦﻣ ﻞﻛ ﻰﻠﻋﻭ

ﻦﻣ ﻰﻨﻳﺩ ﻰﻠﻋ

ﺔﻣﺎﻴﻘﻟﺍ ﻡﻮﻳ ﻰﻟﺇ ﺍﺬﻫ ﻰﻣﻮﻳ

.

Komisif Konvivial Langsung

Literal

Maksim

Kedermawanan

17

.

ﻢﻜﺑ ﺎﺒﺣﺮﻣ

Ekspresif Konvivial Lansung Literal Maksim


(6)