STRATEGI PEMERINTAH KOTA METRO DALAM MEWUJUDKAN KOTA YANG BERINTEGRITAS TINGGI

STRATEGI PEMERINTAH KOTA METRO DALAM MEWUJUDKAN
KOTA YANG BERINTEGRITAS TINGGI

Oleh
Ristra Astriani

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
SARJANA ADMINISTRASI NEGARA
Pada
Jurusan Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

ABSTRACT

THE STRATEGY OF METRO CITY GOVERNMENT IN MAKING A
HIGH INTEGRITY CITY
By:
RISTRA ASTRIANI

The aim of this research is to analyzing Metro city government strategy in making
a high integrity city. The method used was descriptive research by using
qualitative approach. The data collecting technique was done by using a deep
interview, documentation and observation.
The result of the research namely: (1) Metro city government strategy in making a
high integrity city was analyzed by 5 aspects, they were (a) privatization and
coproduction were done by devolution from government to private
institution through services procurement electronically (LPSE); (b)
debureaucratization was done by using making simple of service procedures to
be easy and quick; (c) reorganization was done by sharpening main tasks and
public organization function; (d) an effective public management was done by
improving the managerial processes to be more effective in carrying out its
functions; and (e) value for money was done by the prudence of government
officials in managing budget that next was done in the form of
government activities; (2) problems faced; (a) lack of commitment; (b) lack of
competence; (c) ) feodal culture; (d) permissive culture; and (e) resistence.
This research recommends several things, namely: (1) there is a high
integrity commitment from all governmental officers in Metro; (2) do
socialization to the society about the easiness of service in Metro city and the
commitment not to give gratification to the service-giving officer; (3) tighten the
public service giving and give a hard punishment to panders that are still
offering their service to the society; (4) there is the improvement of public
service facilities in the poor places; (5) routine guidance to all public service
officer; and (6) make the scale of priority against activities of Metro city
government.
Key words: strategy, a high integrity city

ABSTRAK

STRATEGI PEMERINTAH KOTA METRO DALAM
MEWUJUDKAN KOTA YANG BERINTEGRITAS TINGGI

OLEH:

RISTRA ASTRIANI
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi pemerintah kota
Metro dalam mewujudkan kota yang berintegritas tinggi. Metode yang
digunakan adalah tipe penelitian deskritif dengan pendekatan kualitatif.
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam,
dokumentasi dan observasi.
Hasil penelitian ini yaitu: (1) strategi pemerintah kota Metro dalam
mewujudkan kota yang berintegritas tinggi dianalisis dengan 5 aspek, yaitu
(a) privatisasi dan koproduksi dilakukan dengan penyerahan kewenangan
dari pemerintah kepada pihak swasta melalui layanan pengadaan barang dan
jasa secara elektronik (LPSE); (b) debirokratisasi dilakukan dengan
penyederhanaan prosedur pelayanan agar menjadi mudah dan cepat; (c)
reorganisasi dilakukan dengan mempertajam tugas pokok dan fungsi
organisasi publik; (d) manajemen publik yang efektif dilakukan dengan
memperbaiki proses manajerial agar menjadi lebih efektif dalam
menjalankan fungsinya; dan (e) value for money dilakukan dengan kehatihatian aparat pemerintah dalam mengelola anggaran yang kemudian
dituangkan dalam bentuk-bentuk kegiatan pemerintahan; (2) kendalakendala yang dihadapi: (a) minimnya komitmen (b) minimnya kompetensi
sumber daya (c) budaya feodal (d) budaya permisif dan (e) resistensi
birokrasi.
Peneliti merekomendasikan beberapa hal, yaitu: (1) perlunya komitmen
integritas yang tinggi dari seluruh aparat pemerintah daerah kota Metro; (2)
menggalakkan sosialisasi kepada masyarakat tentang mudahnya pelayanan
di kota Metro dan larangan pemberian gratifikasi kepada petugas pemberi
layanan; (3) memperketat kembali prosedur pelayanan publik dan
pemberian sanksi yang tegas kepada oknum perantara yang masih
menawarkan jasanya kepada masyarakat; (4) perlunya perbaikan fasilitas

pelayanan publik di tempat-tempat yang masih belum memadai; (5)
pembinaan rutin kepada seluruh petugas pelayanan publik; dan (6) membuat
skala prioritas terhadap kegiatan-kegiatan pemerintahan daerah kota Metro.
Kata kunci: strategi, kota yang berintegritas tinggi

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL

i

DAFTAR GAMBAR

ii

I.

PENDAHULUAN

1

A.
B.
C.
D.

1
9
9
9

II.

Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

11

A.
B.
C.
D.
E.

11
17
21
29
37

Pemberantasan Korupsi
Perbaikan Pelayanan Publik
Reformasi Administrasi
Kendala Reformasi Administrasi
Kerangka Pikir

III. METODOLOGI PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Tipe Penelitian
Fokus Penelitian
Lokasi Penelitian
Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kota Metro
B. Penyajian Data
1. Nilai Indeks Integritas Nasional Kota Metro Tahun 2011
2. Strategi Mewujudkan Kota yang Berintegritas Tinggi
a. Privatisasi dan Koproduksi
b. Debirokratisasi
c. Reorganisasi
d. Manajemen Publik yang Efektif

40
40
41
42
43
45
47
49
53
53
62
62
65
66
70
79
83

e. Value for Money
3. Nilai Indeks Integritas Nasional Kota Metro Tahun 2012
4. Kendala-kendala Menuju Kota yang Berintegritas Tinggi
a. Minimnya Komitmen
b. Minimnya Sumber Daya
c. Budaya feodal
d. Budaya permisif
e. Resistensi birokrasi
C. Pembahasan
1. Strategi Mewujudkan Kota yang Berintegritas Tinggi
a. Privatisasi dan Koproduksi
b. Debirokratisasi
c. Reorganisasi
d. Manajemen Publik yang Efektif
e. Value for Money
2. Kendala-kendala Menuju Kota yang Berintegritas Tinggi
a. Minimnya komitmen
b. Minimnya sumber daya
c. Budaya feodal
d. Budaya permisif
e. Resistensi birokrasi
V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

92
94
95
96
98
100
102
104
106
106
107
110
119
124
131
133
133
136
138
140
143
146
146
147

DAFTAR TABEL

Tabel
1.
2.
3.

Data Pelaksanaan Wawancara Pada Informan Penelitian
Daftar Dokumen-Dokumen yang Berkaitan Dengan Penelitian
Daftar Nama-nama Anggota DPRD Kota Metro Menurut Daerah
Pemilihan Masa Jabatan 2009-2014

Halaman
46
47
58

DAFTAR GAMBAR

Gambar
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Alur Kerangka Pikir
Bagan/Alur Proses Perijinan di KPMPTSP
Perizinan yang memerlukan retribusi di KPMPTSP
Jenis Pelayanan dan waktu yang dibutuhkan di KPMPTSP
Loket Pembayaran khusus biaya perijinan dari Bank Lampung
Loket-loket pelayanan di Dinas Kependudukan Sipil Kota Metro
Kotak Saran di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil kota Metro
Struktur Organisasi KPMPTSP Kota Metro
Suasana Coffee Morning antara Walikota dan jajarannya dengan
masyarakat pengguna layanan publik
10. Sidak Walikota di Disdukcapil dan Banner Himbauan Anti-korupsi
11. Banner Anti Pencaloan di KPMPTSP

Halaman
39
71
71
74
74
77
77
81
86
88
98

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Pembangunan dirumuskan sebagai proses perubahan yang terencana dari

suatu situasi nasional yang satu ke situasi nasional yang lain yang dinilai lebih
tinggi (Katz, dalam Moeljarto 1995). Pembangunan nasional merupakan
serangkaian pembangunan multidimensional yang mencakup bidang ekonomi,
politik, sosial dan budaya dalam upaya pencapaian tujuan bangsa dan negara.
Dalam rangka pencapaian tujuan bangsa dan negara yang telah ditetapkan, suatu
negara berupaya menyelenggarakan berbagai kegiatan pembangunan di seluruh
segi kehidupan masyarakat.
Dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pembangunan, diperlukan sistem
administrasi dan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN).

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang

Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN) memuat ketentuan yang berkaitan langsung atau tidak langsung
dengan penegakkan hukum terhadap tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme
yang ditujukan kepada para penyelenggara negara dan pejabat lain yang memiliki
fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Agar Undang-Undang ini

2

dapat mencapai sasarannya secara efektif, diatur pembentukkan komisi pemeriksa
yang bertugas dan berwenang melakukan pemeriksaan harta kekayaan pejabat
negara sebelum, selama dan setelah menjabat.
Korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) merupakan suatu tindakan
penyimpangan kekuasaan yang dilakukan oleh pejabat publik guna memperkaya
dan menguntungkan dirinya sendiri atau suatu golongan. Korupsi ibarat kanker
yang mengganggu proses pembangunan. Korupsi mengakibatkan anggaran negara
yang sumbernya sudah langka menjauh dari pembangunan. Korupsi menghambat
investasi dengan meningkatkan berbagai resiko bagi investor yang berasal dari
dalam negeri maupun mancanegara karena perilaku bisnis bekerja dan berurusan
dalam lingkungan masyarakat korup dengan banyak waktu yang terbuang dan
menggunakan uang dalam berurusan dengan pegawai pemerintah yang korup
(Juni Sjafrien Jahja, 2012). Jelas sekali bahwa tindak pidana korupsi sangat
merugikan keuangan atau perekonomian negara serta menghambat proses
pembangunan nasional, oleh karena itu tindak pidana korupsi perlu diberantas dan
dicegah penyebarannya dalam rangka mewujudkan amanah Undang-Undang
Dasar 1945 yaitu masyarakat adil dan makmur.
Sistem pemerintahan yang diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) akan menciptakan proses penyelenggaraan
negara menuju tata pemerintahan yang baik (good governance) dan bersih dari
praktik KKN melalui penerapan asas-asas umum penyelenggara negara sehingga
berdampak pada keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Adapun
asas-asas umum penyelenggara negara yang disusun sesuai Pasal 3 Undang-

3

Undang RI Nomor 28 Tahun 1999 yaitu: (1) asas-asas kepastian hukum; (2) asas
tertib penyelenggara negara; (3) asas kepentingan umum; (4) asas keterbukaan;
(5) asas proporsionalitas; (6) asas profesionalitas; dan (7) asas akuntabilitas.
Adanya penerapan asas-asas umum penyelenggara negara di atas dapat
menjadikan proses penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia berjalan dengan
baik. Proses penyelenggaraan pemerintahan Indonesia dilaksanakan oleh
birokrasi-birokrasi pemerintah yang bertugas melayani masyarakat. Sejauh ini,
birokrasi menunjuk pada empat pengertian, yaitu: pertama, menunjuk pada
kelompok pranata atau lembaga tertentu. Pengertian ini menyamakan birokrasi
dengan biro. Kedua, menunjuk pada metode khusus untuk pengalokasian sumber
daya dalam suatu organisasi besar. Ketiga, menunjuk pada “kebiroan” atau mutu
yang membedakan antara biro-biro dengan jenis-jenis organisasi lain. Pengertian
ini lebih menunjuk pada sifat-sifat statis organisasi. Keempat, sebagai kelompok
orang, yakni orang-orang yang digaji yang berfungsi dalam pemerintahan (Eko
dan Moh. Waspa, 2009). Birokrasi sebagai organisasi pemerintahan yang digaji
untuk menjalankan tugas dan fungsi dalam pemerintahan perlu dipahami sebagai
suatu mindset para birokrat untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada
masyarakat.
program

Birokrasi publik menjadi ujung tombak pelaksanaan program-

pemerintah

yang

bertujuan

untuk

memenuhi

kebutuhan

dan

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, birokrasi berperan
penting dalam keberhasilan suatu program yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Sistem pemerintahan dan lingkungan birokrasi publik yang bebas dari
praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) akan menciptakan situasi dan
kondisi pemerintahan yang kondusif serta meningkatkan kepuasan masyarakat

4

atas pelayanan publik yang berkualitas. Sebaliknya, jika sistem pemerintahan dan
lingkungan birokrasi publik memburuk, maka akan menciptakan pasar bagi
terjadinya transaksi korupsi. Oleh karena itu, pemberantasan korupsi pada sistem
pemerintahan dan lingkungan birokrasi perlu dilakukan. Upaya yang dapat
dilakukan yaitu dengan reformasi administrasi untk menciptakan birokrasi yang
transparan dan akuntabel. Menurut Zauhar (2007:4), reformasi administrasi adalah
suatu usaha sadar dan terencana untuk mengubah: (a) struktur dan prosedur
birokrasi (aspek reorganisasi atau institusional atau kelembagaan), (b) sikap dan
perilaku birokrat (aspek perilaku), guna meningkatkan efektivitas organisasi atau
terciptanya

administrasi

yang

sehat

dan

menjamin

tercapainya

tujuan

pembangunan nasional.
Reformasi administrasi dilakukan untuk merespon perubahan, masalah dan
tantangan dalam rangka mewujudkan good governance. Salah satu pemerintah
daerah di Indonesia yang sedang melakukan reformasi administrasi dalam rangka
memperbaiki penyelenggaraan pemerintahannya yaitu pemerintah daerah kota
Metro. Pemerintah kota Metro melakukan upaya-upaya perbaikan dalam rangka
menyikapi hasil Survei Indeks Integritas Nasional untuk layanan publik di daerah
yang dilaksanakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tahun 2011 yang
menyatakan bahwa indeks integritas nasional pelayanan publik di kota Metro
bernilai buruk, di urutan terbawah dari 60 kota yang disurvei. Nilai indeks
integritas nasional kota Metro pada tahun 2011 yaitu 3,15 yang terdiri dari nilai
pengalaman integritas sebesar 2,59 dan nilai potensi integritas sebesar 4,29, nilai
yang diperoleh kota Metro tersebut merupakan nilai terendah dari 60 kota yang
disurvei.

5

Penilaian indeks integritas yaitu dengan variabel pengalaman integritas dan
potensi integritas. Variabel pengalaman integritas memiliki indikator yaitu
pengalaman korupsi dan cara pandang terhadap korupsi, serta sub indikator yang
meliputi jumlah atau besaran gratifikasi, frekuensi pemberian gratifikasi, waktu
pemberian gratifikasi, arti pemberian gratifikasi dan tujuan pemberian gratifikasi.
Variabel potensi integritas memiliki indikator yaitu lingkungan kerja, sistem
administrasi, perilaku individu dan pencegahan korupsi, serta sub indikator yang
meliputi kebiasaan pemberian gratifikasi, kebutuhan pertemuan di luar prosedur,
keterlibatan calo, fasilitas di sekitar lingkungan pelayanan, suasana atau kondisi di
sekitar pelayanan, kepraktisan Standar Operasional Pelayanan (SOP), keterbukaan
informasi, pemanfaatan teknologi informasi, keadilan dalam layanan, ekspektasi
petugas terhadap gratifikasi, perilaku pengguna layanan, tingkat upaya anti
korupsi dan mekanisme pengaduan masyarakat.
Berdasarkan pada penilaian indeks integritas nasional untuk layanan publik
di daerah yang diperoleh kota Metro tersebut, pemerintah kota Metro melakukan
upaya-upaya perbaikan untuk meningkatkan kualitas

pelayanan publik dan

mewujudkan kota Metro sebagai kota yang berintegritas tinggi. Upaya-upaya
yang dilakukan antara lain dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan publik
menjadi lebih mudah dan cepat, membangun komitmen integritas di lingkungan
pemerintah kota Metro, pencanangan wilayah menuju bebas korupsi dan
sebagainya. Penandatanganan surat perjanjian antikorupsi berdasarkan surat
Nomor 498/III.15/HK/2012 tentang penetapan Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Metro sebagai zona integritas menuju
wilayah bebas dari korupsi (Harian Lampost, 5 Juni 2012). Zona menuju bebas

6

korupsi merupakan suatu program yang dicanangkan oleh pemerintah kota Metro
agar kota Metro bersih dari korupsi. Pencanangan zona menuju bebas korupsi di
Metro sejak 4 Juni 2012 lalu merupakan yang pertama di Lampung dan sebagian
kecil kota-kota di Indonesia. Pencanangan dihadiri oleh wakil dari Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), Kementerian Pendayagunaan Aparatur dan
Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB), serta Komisi Ombudsman Nasional
(Harian Lampost, 4 Juni 2012).
Pemerintah provinsi Lampung mengapresiasi pencanangan zona integritas
menuju wilayah bebas dari korupsi oleh pemerintah kota Metro. Metro menjadi
satu-satunya daerah di Lampung yang telah mencanangkannya sehingga
pemerintah provinsi Lampung berharap kabupaten dan kota lainnya untuk dapat
segera

menyusul

mencanangkan

program

tersebut

(http://lampung.tribunnews.com/2012/06/04/pemprov-dukung-metro-zona-bebaskorupsi diakses 28 November 2012). Pemerintah Kota Metro telah berupaya
melakukan langkah perbaikan terhadap pelayanan publik, sekaligus melakukan
kampanye dan sosialisasi antikorupsi kepada masyarakat, dan penindakan
terhadap pemberi pelayanan publik yang menerima suap atau gratifikasi.
Sosialisasi kepada masyarakat digencarkan. Baliho antikorupsi ada di setiap
kecamatan dan kelurahan. Semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
dilibatkan dalam sosialisasi ini. Semua pejabat eselon II, III, IV di Kota Metro
menandatangani Pakta Integritas antikorupsi. Pemerintah Daerah Kota Metro juga
telah berupaya menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan KPK dalam
rangka peningkatan kualitas pelayanan publik, pasca-survei Indeks Integritas
Nasional tahun 2011 lalu. Kota Metro berupaya menjadi kota berintegritas tinggi

7

yang mampu melayani warganya dengan baik, dan dapat mengelola anggaran
publik, serta melaksanakan pembangunan kota ini secara akuntabel dan transparan
terpercaya

(Sumber/Bahan:

Bappeda

Kota

Metro.

http://www.antaralampung.com/print/264416/metro-menuju-kota-berintegritastinggi diakses 19 April 2013).
Pemerintah Kota Metro yang mendapat nilai terendah indeks integritas
tahun 2011 dapat menerima penilaian tersebut secara positif. Walikota Metro,
Lukman Hakim mengapresiasi KPK yang telah membuka mata publik, terutama
aparatur pemerintah daerah, tentang pentingnya perbaikan sektor layanan publik
guna menciptakan pelayanan publik yang berkualitas dan berintegritas. Bahkan,
Walikota Metro datang ke KPK mendengarkan ekspos dan berdialog tentang
survei tersebut. Pemerintah kota Metro juga menindaklanjutinya dengan
mengundang Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KPK datang ke
Metro untuk menjelaskan dan berdialog langsung dengan jajaran pemerintah
daerah untuk memperoleh masukan lebih lanjut dalam perbaiakn penyelenggaraan
pelayanan publik.
Upaya perbaikan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Metro dalam rangka
meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan kota Metro sebagai
kota yang berintegritas tinggi ternyata membuahkan hasil. Nilai indeks integritas
nasional untuk pelayanan publik di daerah kota Metro tahun 2012 meningkat
signifikan dengan peningkatan skor lebih dari 2 poin, sehingga total skor nilai
integritas yang diperoleh yaitu 5,31. Berdasarkan hasil survei tersebut, Metro
berada pada urutan ke-4 nasional yang skor indeks integritasnya mengalami
kenaikan signifikan, dari semula 3,15 menjadi 5,31. Meskipun nilai indeks

8

integritas yang diperoleh kota Metro pada tahun 2012 sudah mengalami kenaikan,
namun nilai tersebut masih belum maksimal. Nilai indeks integritas yang
seharusnya dapat dicapai oleh pemerintah kota Metro yaitu nilai 6,00 sebagai
standar nilai indeks integritas nasional atau bahkan lebih dari nilai 6,00. Oleh
karenanya, pemerintah kota Metro perlu meningkatkan upayanya agar tahun 2013
nilai indeks integritas nasional kota Metro dapat naik kembali.
Peneliti tertarik untuk meneliti strategi pemerintah kota Metro dalam
mewujudkan kota yang berintegritas tinggi karena langkah-langkah yang
dilakukan oleh Pemerintah Kota Metro untuk memperbaiki pelayanan publik dan
meningkatkan nilai integritas nasional layanan publik cukup berhasil. Peningkatan
prestasi indeks integritas nasional dalam pelayanan publik tahun 2011 dari skor
3,15 mengalami kenaikan yang signifikan urutan keempat nasional pada tahun
2012 dengan perolehan skor sebesar 5,31 dengan kenaikan skor lebih dari 2 poin
dari tahun sebelumnya. Meskipun nilai yang diperoleh kota Metro belum
mencapai nilai 6 sebagai standar indeks integritas nasional, tetapi dengan adanya
hasil peningkatan prestasi tersebut, maka upaya perbaikan

Pemerintah Kota

Metro dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan kota
Metro sebagai kota yang berintegritas tinggi tersebut diharapkan dapat
memberikan informasi terkait upaya perbaikan yang dilakukan oleh Pemerintah
Kota Metro sehingga Kabupaten atau Kota lainnya dapat menerapkan upayaupaya tersebut untuk meningkatkan prestasinya masing-masing.

9

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, permasalahan
yang akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pelaksanaan strategi Pemerintah Kota Metro dalam mewujudkan
kota yang berintegritas tinggi?
2. Apa saja

kendala-kendala yang dihadapi

dalam mewujudkan kota yang

berintegritas tinggi?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1.

Untuk menganalisis pelaksanaan strategi yang dilakukan Pemerintah Kota
Metro dalam mewujudkan kota yang berintegritas tinggi.

2. Untuk

mengetahui

apa

saja

kendala-kendala

yang dihadapi

dalam

mewujudkan kota yang berintegritas tinggi.

D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran,
informasi dan penambahan ilmu pengetahuan dalam khasanah perkembangan
ilmu administrasi negara, khusunya yang berkaitan dengan reformasi
administrasi.

10

2. Secara praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan-masukan bagi para
stakeholder

Kabupaten

atau

Kota

lain

dalam

memperbaiki

sistem

pemerintahan dan lingkungan birokrasi publik yang bebas dari KKN yang
dapat meningkatkan kualitas
integritas nasional.

pelayanan publik dan meningkatkan nilai

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pemberantasan Korupsi
Menurut definisi Jeremy Pope (2003:30), korupsi adalah menyalahgunakan
kekuasaan kepercayaan untuk keuntungan pribadi. Namun, korupsi dapat pula
dilihat sebagai perilaku tidak mematuhi prinsip „mempertahankan jarak”, artinya,
dalam pengambilan keputusan di bidang ekonomi, apakah ini dilakukan oleh
perorangan di sektor swasta atau oleh pejabat publik, hubungan pribadi atau
keluarga tidak memainkan peranan.
Andi Hamzah dalam Juni Sjafrien Jahja (2012:8), mengemukakan bahwa
korupsi berawal dari bahasa latin corruptio atau corruptus. Corruptio berasal dari
kata corrumpere, suatu kata latin yang lebih tua. Dari bahasa latin itulah turun ke
banyak bahasa Eropa seperti Inggris yaitu corruption, corrupt; Prancis yaitu
corruption; dan Belanda yaitu corruptie, korruptie. Dari Bahasa Belanda inilah
kata itu turun ke Bahasa Indonesia yaitu korupsi. Sedangkan Henry dalam Juni
Sjafrien Jahja (2012:8), korupsi merupakan suatu perbuatan yang dilakukan
dengan maksud untuk memberikan beberapa keuntungan yang bertentangan
dengan tugas dan hak orang lain. Perbuatan seorang pejabat atau seorang
pemegang kepercayaan yang secara bertentangan dengan hukum, secara keliru
menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya sendiri
atau untuk orang lain, bertentangan dengan tugas dan hak orang lain.

12

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penerbitan Balai Pustaka Tahun
1997, menjelaskan istilah-istilah korupsi, kolusi dan nepotisme sebagai berikut:
(a) korup berarti buruk (rusak), suka memakai barang (uang) yang dipercayakan
kepadanya, dapat disogok dan memakai kekuasaannya untuk kepentingan pribadi;
(b) korupsi mengandung arti penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau
perusahaan) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Dapat juga berupa korupsi
waktu, yakni menggunakan waktu dinas (bekerja) untuk urusan pribadi; (c)
nepotisme ialah kecenderungan untuk mengutamakan (menguntungkan) sanak
saudara sendiri, terutama dalam jabatan, pangkat di lingkungan pemerintah, atau
tindakan memilih kerabat atau sanak saudara sendiri untuk memegang
pemerintahan; dan (d) kolusi ialah kerja sama rahasia untuk maksud tidak terpuji;
persekongkolan. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
korupsi

merupakan

suatu

tindakan

penyimpangan

dan

penyelewengan

kepentingan pemerintah yang digunakan untuk keuntungan pribadi guna
memperkaya diri sendiri atau kelompoknya.
Menurut perspektif hukum, definisi korupsi telah dijelaskan dalam 13 buah
Pasal dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001. Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam
tiga puluh bentuk atau jenis tindak pidana korupsi. Pasal-pasal tersebut
menerangkan secara rinci mengenai perbuatan yang bisa dikenakan pidana penjara
karena korupsi. Ketigapuluh bentuk atau jenis tindak pidana korupsi tersebut
pada dasarnya dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) kerugian keuangan
Negara; (b) suap-menyuap; (c) penggelapan dalam jabatan; (d) pemerasan; (e)
perbuatan curang; (f) benturan kepentingan dalam pengadaan; dan (g) gratifikasi.

13

Selain bentuk atau jenis tindak pidana korupsi yang sudah dijelaskan
tersebut, masih ada tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana
korupsi yang tertuang pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Jenis tindak pidana lain yang berkaitan dengan pihak pidana korupsi itu adalah:
(a) kerugian keuangan negara; (b) tidak memberi keterangan atau memberi
keterangan rekening tersangka; (c) bank yang tidak memberikan keterangan
rekening tersangka; (d) saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau
memberi keterangan palsu; (e) orang yang memegang rahasia jabatan tidak
memberikan keterangan rekening tersangka; (f) orang yang memegang rahasia
jabatan tidak memberikan keterangan atau meberi keterangan palsu; dan (g) saksi
yang membuka identitas pelapor.
Sebuah

survei

mengenai

pengalaman

organisasi-organisasi

cabang

Transparency International yang dilakukan pada tahun 1995 dalam Jeremy Pope
(2003:32) menunjukkan bahwa korupsi di sektor publik sama bentuknya dan
berjangkit di bidang-bidang yang sama pula, baik di negara maju maupun di
negara berkembang. Bidang-bidang kegiatan pemerintahan yang paling mudah
dijangkiti korupsi, yaitu: (a) pengadaan barang dan jasa publik; (b) penetapan
batas-batas tanah; (c) pengumpulan pemasukan; (d) pengangkatan pegawai
pemerintah; dan (e) tata pemerintahan setempat. Kemudian cara yang digunakan
dalam melakukan tindakan korupsi pun sama, yaitu: (a) kronisme, koneksi,
anggota keluarga dan sanak kerabat; (b) korupsi politik melalui sumbangan dana
untuk kampanye politik dan sebagainya; (c) uang komisi bagi kontrak pemerintah
(dan subkontrak jasa konsultan); dan (d) berbagai ragam penggelapan

14

David J. Could dalam Jeremy Pope (2003:15), mengemukakan bahwa
korupsi menimbulkan inefisiensi dan pemborosan dalam ekonomi, karena
dampaknya pada alokasi dana, pada produksi, pada konsumsi. David Bayley
dalam Jeremy Pope (2003:16) menyebutkan ringkasan biaya yang ditimbulkan
oleh perilaku korupsi adalah sebagai berikut: (1) tindak korupsi mencerminkan
kegagalan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pemerintah; (2) korupsi
menular ke lingkungan tempat sektor swasta beroperasi menimbulkan tindak
mengejar laba dengan cepat dalam situasi yang sulit diramalkan; (3) korupsi
mencerminkan kenaikan harga administrasi; (4) jika korupsi merupakan bentuk
pembayaran yang tidak sah, hal ini akan mengurangi jumlah dana yang disediakan
untuk publik; (5) korupsi menimbulkan pengaruh yang merusak mental aparat
pemerintah, melunturkan keberanian yang diperlukan untuk mematuhi standar
etika yang tinggi; (6) korupsi dalam pemerintahan, dalam pandangan masyarakat
luas, menurunkan rasa hormat pada kekuasaan yang dipercayakan dan karena itu
pada legitimasi pemerintah; (7) jika elite politik dan pejabat tinggi pemerintahan
secara luas dianggap korup, maka publik akan menyimpulkan tidak ada alasan
mengapa publik tidak boleh korup juga; (8) hal yang menghambat pembangunan
adalah keengganan di tingkat politik untuk mengambil keputusan yang tidak
popular; (9) korupsi menimbulkan kerugian yang sangat besar dari sisi
produktivitas karena waktu dan energi habis untuk menjalin hubungan guna
menghindari atau mengalahkan sistem, daripada untuk meningkatkan kepercayaan
dan memberikan alasan yang objektif mengenai permintaan layanan yang
diperlukan; (10) korupsi, karena merupakan ketidakadilan yang dilembagakan,
mau tidak mau akan menimbulkan perkara yang harus dibawa ke pengadilan dan

15

tuduhan-tuduhan palsu yang dapat digunakan pada pejabat yang jujur sekalipun
untuk diperas; dan (11) bentuk korupsi yang paling menonjol di beberapa negara,
„uang pelicin” atau “uang rokok” menyebabkan keputusan ditimbang berdasarkan
uang, bukan berdasarkan kebutuhan manusia.
Upaya yang efektif untuk melawan korupsi harus mulai dari penyebabpenyebabnya yang paling dalam, kita perlu memahami insentif orang yang
berpotensi memberi suap dan pihak yang dirugikan oleh korupsi yang dilakukan
pihak lain. Jeremy Pope (2003:37) menyebutkan ada empat kategori penyuapan
yaitu : (1) kategori 1 yaitu suap yang diberikan untuk (a) mendapat keuntungan
yang langka, atau (b) menghindari biaya; (2) kategori 2 yaitu suap yang diberikan
untuk mendapat keuntungan (atau menghindari biaya) yang tidak langka, tetapi
memerlukan kebijakan yang harus diputuskan oleh pejabat publik; (3) kategori 3
yaitu suap yang diberikan, tidak untuk mendapatkan keuntungan tertentu dari
publik, tetapi untuk mendapat layanan yang berkaitan dengan perolehan
keuntungan (atau menghindari resiko), seperti mialnya, layanan yang cepat atau
informasi dari orang dalam; dan (4) kategori 4 yaitu suap yang diberikan (a) untuk
mencegah pihak lain mendapatlam bagian dari keuntungan, atau (b) untuk
membebankan biaya pada pihak lain.
Upaya

mewujudkan

pemerintahan

yang

Anti-korupsi,

pemerintah

meratifikasi Konvensi PBB Anti-korupsi 2003, terdapat 10 kegiatan yang bersifat
preventif (Juni Sjafrien Jahja, 2012:13) : (a) kebijakan dan praktik pencegahan
korupsi; (b) badan-badan pencegahan korupsi; (c) sektor publik; (d) aturan
perilaku bagi pejabat publik; (e) pengadaan barang dan pengelolaan keuangan
publik; (f) pelaporan publik; (g) tindakan-tindakan yang berhubungan dengan

16

jasa-jasa peradilan dan penuntutan; (h) sektor swasta; (i) partisipasi masyarakat;
dan (j) tindakan pencegahan pencucian uang seharusnya dijadikan standar acuan
yang perlu diikuti langkah penjabarannya disetiap sektor kehidupan bernegara
agar lebih diintensifkan.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam mendukung Undang-Undang
Pemberantasan Korupsi di Indonesia, menurut Juni Sjafrien Jahja (2012:131),
yaitu: (a) political will dari pemerintah dalam menemukan pemerintahan yang
bersih dan berwibawa sangatlah penting ini dapat dimanifestasikan dengan
serangkaian tindakan nyata berupa penindakan kepada pegawai yang telah
terbukti melakukan perbuatan yang merugikan keuangan negara dan secara ketat
menerapkan ketentuan agar para pegawai memegang teguh disiplin dalam tugas
sehari-hari dan menjauhkan diri dari perbuatan tercela lainnya; (b) meningkatkan
kesejahteraan bagi pegawai negeri sipil (PNS) dengan menetapkan standar gaji
yang dapat menjamin kehidupan yang layak dan pantas guna memenuhi
kebutuhan sehari-hari; (c) mewujudkan secara transparansi prinsip reward and
punishment dalam manajemen sumber daya manusia di setiap instansi pemerintah
dan (d) membenahi kesadaran hukum masyarakat untuk tidak terlarut dalam
situasi yang tidak sehat dan melanggar undang-undang yang berlaku.
Berbeda dengan Juni Sjafrien Jahja, Jeremy Pope (2003) mengemukakan
bahwa terdapat enam bidang pokok perubahan yang dapat mendukung
pelaksanaan strategi anti-korupsi yang menyeluruh yaitu: (a) kepemimpinan; (b)
program publik; (c) perbaikan organisasi pemerintah; (d) penegakan hukum; (e)
kesadaran masyarakat; dan (f) pembentukan lembaga pencegah korupsi.
Berdasarkan Perpres No. 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pencegahan

17

dan Pemberantasan Korupsi Jangka Panjang Tahun 2012-2025 dan Jangka
Menengah Tahun 2012-2014: (1) Stranas PPK adalah dokumen yang memuat visi,
misi,

sasaran,

strategi,

dan

fokus

kegiatan

prioritas

pencegahan

dan

pemberantasan korupsi jangka panjang tahun 2012-2025 dan jangka menengah
tahun 2012-2014, serta peranti anti korupsi; (2) Aksi PPK adalah kegiatan atau
program yang dijabarkan dari Stranas PPK untuk dilakukan oleh Kementerian
atau Lembaga dan Pemerintah Daerah; (3) Peran serta masyarakat adalah peran
aktif perorangan, Organisasi Masyarakat, atau Lembaga Swadaya Masyarakat
dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi; (4) Hasil
pelaksanaan Stranas PPK meliputi hasil pemantauan, evaluasi, dan laporan
capaian Aksi PPK, serta hasil evaluasi Stranas PPK.
Masalah korupsi selama ini lebih banyak dipecahkan hanya melalui hukum
dengan instrument pidana saja, padahal tindak pidana korupsi dapat timbul tidak
semata-mata karena keinginan individu untuk korupsi, namun oleh karena sistem
yang buruk memberikan peluang bagi terjadinya tindak pidana korupsi. Oleh
karena itu, korupsi dapat pula dipecahkan melalui perbaikan sistem, yaitu
perbaikan pelayanan publik.

B.

Perbaikan Pelayanan Publik
Perbaikan pelayanan publik sebagai salah satu solusi bagi pemecahan tindak

pidana korupsi. Dengan adanya perbaikan pelayanan publik, maka akan tercipta
sistem yang baik sehingga dapat mempersempit ruang gerak yang dapat
berpotensi korupsi. Pelayanan publik merupakan serangkaian aktivitas pelayanan
yang dilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan

18

masyarakat. Menurut Kumorotomo dalam Eko dan Moh Waspa (2009:39) salah
satu prasyarat legitimasi kekuasaan negara apabila negara, melalui aktivitasaktivitas pemerintahan dapat mengusahakan kesejahteraan umum bagi seluruh
rakyat. Untuk mewujudkan kesejahteraan umum negara menggunakan instrument
birokrasi sebagai pelaksana kebijakan pelayanan kepada masyarakat. Sudah
menjadi kewajiban negara untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.
Peran pemerintah dalam pengadaan barang dan jasa publik tidak semata-mata
karena organisasi privat tidak mau menyentuh bidang tersebut (tidak
menguntungkan), tetapi memang sudah menjadi kewajiban negara melalui salah
satu instrumennya, birokrasi pemerintahan, melaksanakan pelayanan kepada
masyarakat. Oleh karena itu, pelayanan publik

yang

diberikan kepada

masyarakat harus berkualitas untuk mewujudkan kesejahteraan umum negara.
Pelayanan publik yang buruk dapat diatasi dengan reformasi administrasi dalam
rangka memperbaiki pelayanan publik.

1.

Karakteristik Kualitas Pelayanan Publik
Pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi hendaknya berdasarkan

prinsip-prinsip dasar berikut ini seperti yang dikemukakan oleh Eko dan Moh
Waspa (2009:39): (a) rasional, efektif dan efisien yang dilakukan melalui
manajemen terbuka; (b) ilmiah, berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung
oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya; (c) inovatif, pembaruan yang
dilakukan terus menerus untuk menghadapi lingkungan yang dinamis, berubah
dan berkembang; (d) produktif, berorientasi kepada hasil kerja yang optimal; (e)
profesionalisme, penggunaan tenaga kerja professional, terampil dalam istilah

19

“The right man in the right place”; dan (f) penggunaan teknologi modern yang
tepat guna.
Kriteria

lain

tentang

pelayanan

publik

yang

baik

sebagaimana

dikemukakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) dalam Eko dan Moh
Waspa (2009:40) yakni kesederhanaan, kejelasan dan kepastian, keamanan,
keterbukaan, efisiensi, ekonomis, keadilan yang merata, ketepatan waktu serta
kriteria kuantitatif lainnya (jumlah warga yang meminta pelayanan dalam kurun
waktu tertentu, lamanya waktu pemberian layanan sesuai permintaan, penggunaan
perangkat-perangkat modern untuk mempercepat pemberian layanan dan
frekuensi keluhan maupun pujian dari masyarakat penerima layanan).

2.

Pelayanan Prima
Pelayanan prima menurut Sedarmayanti (2009:249) merupakan pelayanan

yang diberikan kepada pelanggan (masyarakat) minimal sesuai dengan standar
pelayanan (cepat, tepat, akurat, murah, ramah). SESPANAS LAN dalam
Sedarmayanti (2009:249) mengemukakakan bahwa dalam sektor publik,
pelayanan dikatakan prima apabila sebagai berikut: (a) pelayanan yang terbaik
dari pemerintah kepada pelanggan atau pengguna jasa; (b) pelayanan prima ada
bila ada standar pelayanan; (c) pelayanan prima bila melebihi standar, atau sama
dengan standar. Bila belum ada standar, pelayanan yang terbaik dapat diberikan,
pelayanan yang mendekati apa yang dianggap pelayanan standar, dan pelayanan
yang dilakukan secara maksimal; dan (d) pelanggan adalah masyarakat dalam arti
luas; masyarakat eksternal dan masyarakat internal.
Pelayanan prima menurut Eko dan Moh Waspa (2009:44) mengandung tiga
aspek, yakni kemampuan professional, kemauan yang teguh dan sikap yang

20

ikhlas, tulus, senang membantu menyelesaikan keluhan. Kemampuan yang
professional tercermin dalam pemikirannya yang brilian, perencanaan yang tepat,
kerja yang berkualitas, sentuhan yang menyenangkan. Pelayanan yang
professional diartikan juga lebih professional dalam menanggapi keluhan
permasalahan pelanggan (responsive public service), menyelesaikan pekerjaan
dengan cepat (quick service), melayani dan memuaskan kebutuhan masyarakat,
seperti halnya dunia swasta melayani pelanggan. Seperti yang dikatakan J.Levy
dalam Eko dan Moh Waspa (2009:45), apabila urusan di dunia swasta dapat
diselesaikan dengan cepat, maka semestinya begitu juga tentang sikap dari
petugas birokrasi publik, artinya birokrasi harus memiliki keluwesan (flexibility),
dan peraturan-peraturan yang tidak terlalu ketat (stiff regulations) serta tidak
terlalu banyak pekerjaan arsip (too much paper work).
Strategi pelayanan prima yang mengacu pada kepuasan pelanggan
menurut Sedarmayanti (2009:250) dapat ditempuh melalui: (a) implementasi visi
misi pelayanan pada semua tingkat yang terkait dengan pelaksanaan pelayanan
kepada masyarakat (pelanggan); (b) hakikat pelayanan prima disepakati untuk
dilaksanakan oleh semua aparatur yang member pelayanan; (c) dalam pelaksanaan
pelayanan prima, didukung sistem dan lingkungan yang dapat memotivasi
anggota organisasi untuk melaksanakan pelayanan prima; (d) pelaksanaan
pelayanan prima aparatur pemerintah, didukung sumber daya manusia, dana dan
teknologi canggih tepat guna; dan (e) pelayanan prima dapat berhasil guna,
apabila organisasi menerbitkan standar pelayanan prima yang dapat dijadikan
pedoman dalam melayani dan panduan bagi pelanggan yang memerlukan jasa
pelayanan.

21

Perbaikan pelayanan publik dilakukan dalam rangka memperbaiki sistem
pelayanan agar pelayanan menjadi berkualitas dan menutup ruang gerak bagi
terjadinya potensi korupsi. Upaya untuk menghentikan mesin pembentuk perilaku
korupsi dapat juga dilakukan dengan melakukan reformasi administrasi. Menurut
Agus Dwiyanto dalam Agus Pramusinto dan Wahyudi Kumorotomo (2009:214),
birokrasi mempertemukan supply of dan demand for corruption, institusi dan
mekanisme birokrasi sering menciptakan aktor-aktor pemburu rente, baik aktor di
dalam ataupun di luar birokrasi yang melihat adanya peluang untuk menciptakan
rente dari mekanisme dan institusi birokrasi. Lebih lanjut, Agus menyatakan
birokrasi yang buruk dapat mendorong perilaku korupsi melalui terciptanya
peluang bagi aktor-aktor di dalam dan di luar birokrasi untuk memburu rente
dengan mempertukarkan privileges dengan uang, fasilitas dan sumber kenikmatan
lainnya. Kondisi birokrasi yang buruk seperti ini menciptakan pasar bagi
terjadinya transaksi korupsi, oleh karenanya diperlukan reformasi administrasi
untuk

menciptakan

birokrasi

yang

transparan

dan

akuntabel

sehingga

meningkatkan kualitas pelayanan publik.
C.

Reformasi Administrasi
Pergeseran politik dan pemerintahan yang terjadi pada era reformasi saat ini

merupakan momentum tepat untuk menata kembali administrasi penyelenggaraan
pemerintahan di Indonesia agar lebih efektif, efisien dan demokratis dalam upaya
mewujudkan good governance (Sedarmayanti,2009:3). Pemerintah dihadapkan
pada arus perubahan semakin cepat dan mengglobal, sehingga perubahan harus
segera direspons pemerintah. Upaya untuk merespons perubahan, masalah dan

22

tantangan menuju good governance, pemerintah perlu melakukan reformasi
administrasi guna mewujudkan good governance.
Menurut Zauhar (2007:4), reformasi administrasi merupakan bagian yang
sangat penting dalam pembangunan di negara-negara sedang berkembang,
terlepas dari tingkat perkembangan atau kecepatan pertumbuhan dan arah serta
tujuannya. Reformasi administrasi adalah suatu usaha sadar dan terencana untuh
mengubah: (a) struktur dan prosedur birokrasi (aspek reorganisasi atau
institusional atau kelembagaan), (b) sikap dan perilaku birokrat (aspek perilaku),
guna meningkatkan efektivitas organisasi atau terciptanya administrasi yang sehat
dan menjamin tercapainya tujuan pembangunan nasional.
Miftah Thoha seperti dikutip Pandji Santosa (2009:117) menyatakan bahwa
reformasi adalah suatu proses yang tidak bisa diabaikan, reformasi secara naluri
harus dilakukan karena tatanan pemerintahan yang baik pada suatu masa, dapat
menjadi tidak sesuai lagi karena perkembangan zaman. Kemudian Yehekzel Dror
dalam Zauhar (2007:6) mengatakan bahwa reformasi administrasi adalah
perubahan yang terencana terhadap aspek utama administrasi. Caiden dalam
Zauhar (2007:6) mendefinisikan reformasi administrasi sebagai “The Artificial
Indusment of Administrative Transformation Against Resistance”. Definisi
tersebut mengandung beberapa implikasi, yaitu: (a) reformasi administrasi
merupakan kegiatan yang dibuat oleh manusia, tidak bersifat eksidental, otomatis
maupun alamiah; (b) reformasi administrasi merupakan suatu proses dan (c)
resistensi beriringan dengan proses reformasi administrasi.
Caiden

dengan

tegas

membedakan

antara

reformasi

administrasi

(Administrative Reform) dan perubahan administrasi (Administrative Change).

23

Perubahan administrasi dimaknai sebagai respons keorganisasian yang sifatnya
otomatis terhadap fluktuasi atau perubahan kondisi, kemudian munculnya
kebutuhan akan reformasi administrasi sebagai akibat dari adanya perubahan
administrasi. Tidak berfungsinya perubahan administrasi yang alamiah ini
menyebabkan diperlukannya reformasi administrasi.
Mosher seperti dikutip Falih Suaedi dan Bintoro Wardiyanto (2010:10)
menyebutkan bahwa isi reformasi administrasi adalah reorganisasi administrasi,
bahkan dia menyamakan antara keduanya. Reorganisasi administrasi itu hanya
salah satu isi dari reformasi administrasi, yang sering disebut sebagai aspek
institusional (kelembagaan) reformasi administrasi. Aspek lain dari reformasi
administrasi adalah perubahan sikap, perilaku dan nilai orang-orang yang terlibat
dalam proses reformasi administrasi. Aspek inilah yang disebut aspek perilaku,
dengan kata lain isi reformasi administrasi meliputi aspek institusional atau
kelembagaan dan aspek perilaku.
Terkait dengan perilaku, seminar tentang administrative reform and
innovations yang diselenggarakan oleh Pemerintah Malaysia bekerja sama dengan
Eastern Regional Organizations for Public Administration (EROPA) di Kuala
Lumpur pada bulan Juni 1968 menyepakati bahwa reformasi administrasi tidak
hanya diartikan sebagai perbaikan struktur organisasi, namun juga meliputi
perbaikan perilaku orang yang terlibat di dalamnya. Hal ini sebagaimana
dikemukakan oleh moderator seminar tersebut, Hahn Been Lee bahwa…there was
a genuine consensus from the very beginning of the seminar on what we really
mean change of names and structures of some administrative organization.
Rather, it menat changing the behavior of those involved (Zauhar,2007:10).

24

Kemudian Hahn Been Lee dan Samonte dalam Zauhar (2007:9), mengemukakan
lima alat pengukur reformasi administrasi, yaitu: (1) penekanan baru terhadap
program; (2) perubahan sikap dan perilaku masyarakat dan anggota birokrasi; (3)
perubahan gaya kepemimpinan yang mengarah kepada komunikasi terbuka dan
manajemen partisipatif; (4) penggunaan sumber daya yang lebih efisien dan (5)
pengurangan penggunaan pendekatan legalistik.
Selanjutnya seorang peserta seminar EROPA tersebut, Cho (Zauhar
2007:10), yang berasal dari Korea juga menyatakan bahwa “administrative reform
as a conscious human efforts to introduce changes into the behavior and
performance of administrators”. Abueva dalam Zauhar (2007:10) menekankan
definisi reformasi administrasi pada segi kelembagaan dan perilaku, Ia
memandang reformasi administrasi sebagai “essentially a deliberate attempt to
use power, authority and influence to change the goals, structure or procedures of
the bureaucracy, and therefore, to after the behavior of its personnel”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
reformasi administrasi merupakan usaha yang direncanakan untuk melakukan
perubahan sistem administrasi dengan menerapkan ide-ide baru ke dalam sistem
administrasi dengan tujuan menciptakan sistem administrasi yang sehat dalam
rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.
Penentuan tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam reformasi
administrasi sebagai tolak ukur penetapan sukses atau gagalnya program
reformasi administrasi. Pentingnya pelaksanaan reformasi administrasi bertujuan
untuk efisiensi administrasi dan membenahi penyakit administrasi. Hahn Been
Lee dalam Zauhar (2007:13), mengungkapkan adanya tujuan umum reformasi

25

administrasi,

yaitu

meningkatkan

keteraturan,

meningkatkan

atau

menyempurnakan metode dan meningkatkan performance (unjuk kerja).
Sedangkan Abueva

dalam

Zauhar

(2007:14) menyebutkan

dua

tujuan

administrative reform (reformasi administrasi) yaitu: (a) Manifest or declared
goal (tujuan terbuka), antara lain adalah efisiensi, ekonomis, efektivitas,
peningkatan pelayanan, struktur organisasi, prosedur yang ramping dan
sebagainya dan (b) Undisclosed or undeclared goal (tujuan terselubung) yakni
tujuan yang bersifat politis.
Adapun menurut Mosher seperti dikutip Zauhar (2007:13), ada empat tujuan
reformasi administrasi, yaitu: (a) perubahan inovatif terhadap kebijaksanaan dan
program pelaksanaan; (b) peningkatkan efektivitas administrasi; (c) meningkatkan
kualitas personel; (d) melakukan antisipasi terhadap kemungkinan kritik dan
keluhan dari pihak luar. Pakar lain, dalam sebuah karyanya yang berjudul The
Objectives of Governmental Reorganization, Marshall E.Dimock dalam Zauhar
(2007:13) menyatakan tujuan utama reorganisasi adalah untuk meningkatkan
efektivitas organisasi. Dengan nada hampir sama, Carlos P. Ramos dalam Zauhar
(2007:14) juga menyatakan bahwa tujuan peningkatan efektivitas administrasi
berkaitan erat dengan pencapaian tujuan umum pembangunan nasional, karena
keberhasilan administrative reform merupakan salah satu ukuran yang dipakai
oleh pemerintah negara berkembang dalam mencapai tujuan pembangunan.
Selanjutnya Dror seperti dikutip Zauhar (2007:14) mengklasifikasikan
tujuan reformasi ke dalam dua kelompok, yaitu tujuan yang bersifat intraadministrasi yang ditujukan untuk menyempurnakan administrasi internal dan
tujuan yang berkaitan dengan masyarakat di dalam sistem administrasi. Tujuan

26

yang bersifat intra-administrasi menurut Dror adalah: (a) efisiensi administrasi,
dalam arti penghematan uang, yang dapat dicapai melalui penyederhanaan
formulir, perubahan prosedur, penghilangan duplikasi dan kegiatan organisasi
metode yang lain; (b) penghapusan kelemahan atau penyakit administrasi seperti
korupsi, pilih kasih dan sistem taman dalam sistem politik dan lain-lain; dan (c)
pengenalan dan penggalakan sistem merit, pemakaian PPBS, pemrosesan data
melalui sistem informasi yang otomatis, peningkatan penggunaan pengetahuan
ilmiah dan lain-lain. Sedangkan tujuan yang berkaitan dengan masyarakat di
dalam sistem administrasi, yaitu: (a) menyesuaikan sistem administrasi terhadap
meningkatnya keluhan masyarakat; (b) mengubah pembagian pekerjaan antara
sistem administrasi dan sistem politik, misalnya meningkatkan otonomi
professional dari sistem administrasi dan meingkatkan pengaruhnya pada suatu
kebijaksanaan; dan (c) mengubah hubungan antara sistem administrasi dan
penduduk, misalnya melalui relokasi pusat-pusat kekuasaan (desentralisasi).
Merumuskan tujuan reformasi administrasi sangatlah rumit, karena banyak
pihak yang terlibat, yang masing-masing mempunyai tujuan sendiri-sendiri, yang
tidak hanya berbeda, tetapi sering bertentangan satu sama lain. Oleh karena itu,
tujuan reformasi administrasi bersifat sangat subjektif. Untuk mencapai tujuan
reformasi administrasi, ada beberapa pendekatan yang dapat dipakai. Caiden
dalam Zauhar (2007:16) mengidentifikasi adanya lima pendekatan di dalam
reformasi administrasi, yaitu: (a) pendekatan Perancis; (b) pendekatan Prussia; (c)
pendekatan Bolshevin atau Rusia; (d) pendekatan Inggris; dan (e) pendekatan
Amerika. Berdasarkan lima pendekatan tersebut, ada empat butir pembanding
yang dapat digunakam untuk membandingkan masing-masing pendekatan satu

27

sama lain, yaitu: (a) ada pembaru yang berasal dari luar, ada pula yang berasal
dari dalam; (b) ada pembaruan yang dicanangkan dari bawah, ada pula yang
berasal dari atas; (c) ada ideologi yang mempengaruhi reformasi administrasi, ada
pula reformasi administrasi yang tidak depengaruhi oleh ideologi; dan (d) ada
reformasi administrasi yang diikuti oleh resolusi, ada pula yang tidak.
Dalam pengembangan ilmu reformasi administrasi yang lebih luas, Caiden
tidak melupakan reformasi administrasi di negara berkembang, disamping
pengamatannya terhadap dinamika reformasi administrasi di negara maju.
Menurut Caiden, kemerdekaan di Negara-negara berkembang membuat reformasi
administrasi menjadi sebuah kewajiban bagi mereka. Hal ini disebabkan karena
sistem administrasi di negara berkembang yang masih baru memerlukan banyak
sekali adaptasi dan perubahan untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi
selama ini. Adapun pendekatan yang harus dipilih oleh negara berkembang
tersebut sangat tergantung pada faktor-faktor meliputi sifat kultur setempat,
caliber atau reputasi kepemimpinan nasional, jenis rezim politik, kekuatan dan
diversitas oposisi/penentang dan ketersediaan sumber daya.
Atas das

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1891 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 497 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 438 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 265 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 582 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 511 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 323 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 502 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 594 23