Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)

KAJIAN CENDAW
WAN ENT
TOMOPATOGEN
Metarh
hizium bru
unneum Peetch SEBA
AGAI AG
GENS HAY
YATI
TERH
HADAP RA
AYAP Maacrotermess gilvus Haagen (Isop
ptera:
T
Termitidae
e) PADA TANAMA
T
AN JARAK
K PAGAR
R
(Jatrop
opha curcaas L.)

MUHAM
MMAD SA
AYUTHI

SE
EKOLAH
H PASCAS
SARJANA
A
INS
STITUT PERTANIA
AN BOGO
OR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul”Kajian
Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai Agens
Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae)
pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)” adalah karya saya sendiri
dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan di dalam Daftar Pustaka pada bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

Muhammad Sayuthi
NIM A461060031

ABSTRACT
MUHAMMAD SAYUTHI.Study of Entomopathogenic Fungus Metarhizium
brunneum Petch as Biocontrol Agent Against Macrotermes gilvus Hagen
(Isoptera: Termitidae) in Castor (Jatropha curcas L.) Plantantion. Under
Supervision of TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP and UTOMO
KARTOSUWONDO.
Macrotermes gilvus Hagen is primary pest of castor (Jatropha curcas L.), as the
termites can damage roots and stems. The purposes of this research were: (1) to
estimate population size of colony in field stations at KIJP Pakuwon, (2) to study
M. gilvus foraging range, (3) to study the symptomatology and lethal time of M.
brunneum as biocontrol agent to M. gilvus in the laboratory, (4) to study the
effectiveness of the M. brunneum Petch as biological control agents against M.
gilvus in KIJP Pakuwon. The study was conducted from November 2009 to
October 2010 in the insect pathology laboratory and insect taxonomy laboratory
Departement of Plant Protection, Bogor Agricultural University (IPB), Zoology
Laboratory LIPI Cibinong and in the KIJP Pakuwon. Laboratory test was
designed using Completely Randomized Design (CRD) and the data were subject
to probit analysis. Triple mark recapture methods were used to estimate termite
population in the field. In the laboratorium the effective density of conidia as
biotermiticide was 1,21x106 konidia/mL, and this led to mortality of M. gilvus up
to 85,45%, while the density of 1,08x106conidia/mL resulting in mortality of
78,63%. The suspension of fungi at density 1,21x106conidia/mL was poured at
each experimental station (150 mL/station). The result showed that in block I
(15.210 m2), block II (5.700 m2), block III (27.000 m2), 8, 1 and 15 termite
colonies have been detected respectively from which, 150.388, 59.219, and
149.459 individus were found. In block I, the termites maximum foraging range
as far as 140,5 m, as compared to 140 m in block III. In all blocks, we noted the
significant decrease of termite population after application of M. brunneum, from
initial population 359.066 individus to 15.015 individus.
Keywords: M. brunneum, M. gilvus, foraging range, effectiveness, triple mark
recapture technique.

RINGKASAN

MUHAMMAD SAYUTHI. Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium
brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus
Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas
L.).Di bawah bimbingan TEGUH SANTOSO, IDHAM SAKTI HARAHAP dan
UTOMO KARTOSUWONDO.
Rayap Macrotermes gilvus Hagen merupakan salah satuhama penting
tanaman jarak pagar yang merusak sistem perakaran pada pangkal batang
tanaman, dan mengakibatkan tanaman terluka, patah dan akhirnya mati. Serangan
hama ini semakin lama semakin meningkat hingga meluas pada tanaman sehat
lainnya.Selama ini pengendalian rayap di KIJP Pakuwon dilakukan dengan
menggunakan insektisida yang disiramkan disekitar perakaran tanaman yang
dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.Oleh karena
itudiperlukancarapengendalian lain yang ramah lingkungandengan memanfaatkan
agens hayati. Cendawan entomopatogen Metarhizium brunneum mempunyai
patogenisitas lebih tinggi dibandingkan beberapa cendawan entomopatogen
lainuntuk mengendalikan hama ordo Isoptera. Informasi mengenai pemanfaatan
cendawan M. brunneum sebagai agens biokontrol yang berpotensi terhadap hama
rayap M. gilvuspada tanaman jarak pagar belum pernah dilaporkan. Penelitian ini
bertujuan: (1) Menduga ukuran populasi koloni rayap M. gilvus dari setiap koloni
pada stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon, (2) Mempelajari daya jelajah rayap
M.gilvus di KIJP Pakuwon, (3) Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian
rayap M. gilvussetelah diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai
biotermitisida di laboratorium, (3) Mempelajari keefektifan cendawan M.
brunneum sebagai agens biokontrol terhadap hama rayap M. gilvuspada tanaman
jarak pagar di KIJP Pakuwon.Penelitian ini dilakukan di laboratorium Patologi
Serangga, Laboratorium Taxonomi Serangga Departemen Proteksi Tanaman,
Faperta IPB, Laboratorium Zoologi LIPI Cibinong dan di Kebun Induk Jarak
Pagar (KIJP) Pakuwon Sukabumi Jawa Barat,sejak bulanNopember 2009 sampai
Oktober 2010. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan untuk penelitian
laboratorium sedangkan metode triple mark recapture technique untuk penelitian
di lapangan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa spesies rayap M. gilvussebagai
hama dominan di KIJP Pakuwon. Di Blok I dengan luas areal 15.210
m2didapatkan 8 koloni dengan jumah 150.388 individu. Di Blok II dengan luas
areal 5.700 m2 didapatkan 1 koloni dengan jumlah 59.219 individu. Di Blok III
dengan luas areal 27.000 m2didapatkan 15 koloni dengan jumlah 149.459
individu. Daya jelajah maksimum yang di lepas dari blok II, dan seminggu
kemudian diamati pada blok I, sejauh 140,5 m dan pada blok III sejauh 140 m.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kerapatan konidia1,21x106
konidia/mL mampu menghasilkan mortalitas rayap M. gilvus hingga mencapai
85,45%, dibandingkan 1,08x106 konidia/mL yang menghasilkan mortalitas
78,63%. Hal ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat
kerapatan

konidiasemakin meningkat mortalitas rayap. Untuk aplikasi Lapangan di KIJP
Pakuwon digunakan kerapatan 1,21x106konidia/mL. Setelah aplikasi cendawan
M. brunneum dengan kerapatan konidia 1,21x106/mL, ukuran populasi koloni
rayap M. gilvus menjadi 15.015 individu, dengan rincian sebagai berikut: blok I
(4.385 individu), blok II(2.595 individu) dan blokIII (8.037 individu) atau terjadi
penurunan ukuran populasi koloni hingga mencapai 95,48% dibandingkan ukuran
populasi koloni awal (100%) dan tersisa 4,12%. Hal ini membuktikan bahwa
cendawan M. brunneum efektif sebagai agens biokontrol terhadap rayap M. gilvus.

©Hak cipta milik IPB, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

KAJIAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN
Metarhizium brunneum Petch SEBAGAI AGENS HAYATI
TERHADAP RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera:
Termitidae) PADA TANAMAN JARAK PAGAR
(Jatropha curcas L.)

MUHAMMAD SAYUTHI

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor pada
Program Studi Entomologi-Fitopatologi

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Disertasi

: Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum
Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes
gilvus Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak
Pagar (Jatropha curcas L.)

Nama

: Muhammad Sayuthi

NRP

: A461060031

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA.
Ketua

Dr. Ir. Idham Sakti Harahap, M.Si.

Prof. Dr. Ir. Utomo Kartosuwondo, M.S.

Anggota

Anggota

Mengetahui

Ketua Program Studi
Entomologi / Fitopatologi

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr.

Tanggal Lulus: 4 Januari 2012

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nyalah, penulis telah dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan
disertasiyang berjudul “Kajian Cendawan Entomopatogen Metarhizium
brunneum Petch sebagai Agens Hayati terhadap Rayap Macrotermes gilvus
Hagen (Isoptera: Termitidae) pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas
L.)”
Terima kasih penulis ucapkan kepada :
1. Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA, selaku Ketua Komisi Pembimbing, serta Dr. Ir.
Idham Sakti Harahap, M.Si, dan Prof. Dr. Ir. Utomo Kartosuwondo, M.S,
masing-masing sebagai Anggota Komisi Pembimbing, yang selalu
mengarahkan, membimbing, memberi saran atau masukan, serta memotivasi,
dan memberi bantuan sarana maupun prasarana yang memadai kepada penulis
mulai dari penyusunan proposal penelitian dan pelaksanaan penelitian hingga
sampai penyusunan disertasi ini.
2. Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Ketua Program Studi EntomologiFitopatologi (Dr. Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc.) dan Ketua Program
Studi Mayor Entomologi (Dr. Ir. Pudjianto, M. Si) serta seluruh staf pengajar
di Departemen Proteksi Tanaman IPB atas motivasi dan dorongannya kepada
penulis untuk menyelesaikan studinya. Kepada Dr. Ir. Pudjianto, M.Si dan Dr.
Ir. Haryadi, M.Si, penulis ucapkan banyak terima kasih sebagai penguji luar
komisi pada Ujian Prelim Lisan.
3. Kedua orang tua saya tercinta, isteri dan kedua putra saya tercinta, kedua
mertua saya tercinta, kakanda saya tercinta (Prof. Dr. Faisal A. Rani, SH,
M.Hum dan Keluarga, Dra. Hj. Rosnaini, Dra. Hj. Nurazimah dan Keluarga,
Taufik, A.Md dan Keluarga, Hj. Kartini, S.Ag, dan adinda saya tercinta (
Hastuti dan Keluarga, H. Isra Fahlevi, dan dr. Hj. Fitriani) yang selalu
memberi dukungan moril maupun materil kepada penulis untuk
menyelesaikan Studi Program Doktor di IPB.
4. Rektor, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala yang telah
memberi rekomendasi kepada penulis untuk melanjutkan studi Program
Doktor di Institut Pertanian Bogor. Staf Pengajar Fakultas Pertanian
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (Dr. Ir. Afizar, DAA, Prof. Dr. Ir.
Supardi, M.S, Prof. Dr. Ir. Lukman, M.Si. Prof. Dr. Ir. Sabarauddin,
M.Agric.Sc, Dr. Ir. Rosmaidar, M.S, Dr. Ir. Husni, M. Agric. Sc, Dr. Ir. Fajri,
M.Sc, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Si, Iswadi SPd, Muklis SPd dan lain-lain).
5. Staf Pengajar Universitas Iskandar Muda (UNIDA) Banda Aceh (Prof. Dr.
Drs. Syafi,i Ibrahim, M.S, Dr. Drs. Ridwan, M.Si (Almarhum), Ir. Basyir
Ahmad, M.S (Almarhum), Alwi Budiman, S.Si M. Si, Ir. Jauhari, MP., Alwi
Ibrahim, S.Si., M.Si.
6. Kepala Balai Tanaman Industri (BALITRI), Bapak Ir. Dibyo (Penanggung
Jawab KIJP Pakuwon), Bapak Andi, Bapak Uyun, Ebed, Neka, dan Aan, serta
teman-teman tenaga harian lepas lainnya yang tidak tersebut namanya secara

rinci di lingkungan KIJP Pakuwon Sukabumi Jawa Barat, yang telah
membantu penulis dalam kegiatan penelitian.
7. Lembaga pemberi beasiswa BPPS DIKTI (2006-2009) dan Pemda NAD
(2006-2008) yang telah banyak membantu penulis dalam mendukung terhadap
kebutuhan yang berhubungan dengan penyelesaian studi Program Pendidikan
Doktor (S3) di IPB.
8. Teman-teman mahasiswa/i di Laboratorium Patologi Serangga, Departemen
Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian (Yunimar, Dendi, Rendi, Teguh,
Faishol, Iin, Mira, dan lain-lain) atas bantuan dan kerjasamanya yang baik
untuk menyelesaikan studi di IPB.
9. Bapak Endang, Bapak Dede, Bapak Slamet, Ibu Aisyah (Teknisi Laboratoriun
di Departemen Proteksi Tanaman) yang dengan tulus iklas telah membantu
penulis dalam menyelesaikan studi di Departemen Proteksi Tanaman IPB.
10. Teman-teman Mahasiswa Program Pascasarjana Departemen Proteksi
Tanaman IPB (Bambang Supeno, Edi, Syamsuddin, Yusmani, Iwa, Efi Taufik,
Susiati, Rita, Fardedi, Husda, Kikidan lain-lain) yang dengan sukarela selalu
meluangkan waktu untuk berbagi ilmu melalui diskusiselama studi di sekolah
pascasarjana IPB.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan-kekurangan dalam
penulisan disertasi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan saran atau masukan
dari Komisi Pembimbing untuk membantu kesempurnaan penulisan disertasi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Ketua
Komisi dan Anggota Komisi Pembimbing, yang selama ini terus membimbing
dan memantau perkembangan studi penulis untuk menyelesaikan Program
Pendidikan Doktor di IPB. Semoga Allah SWT memberikan balasan amal baik
kepada mereka semua dengan balasan kebaikan yang tak terhingga.Akhirnya
semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Januari 2012

Muhammad Sayuthi

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 23 Nopember 1972 di Aceh Besar, anak
ke enam dengan delapan bersaudara dari pasangan H. Abdul Rani Usman dan Hj.
Razian Umar. Penulis menempuh Pendidikan Program Doktor (S3) pada Program
Studi Entomologi-Fitopatologi di Institut Pertanian Bogor, tahun 2006-2012.
Program Magister (S2) ditempuh di Universitas Padjadjaran Bandung pada
Program Studi Ilmu Tanaman dengan Bidang Kajian Utama Ekofisiologi
Tanaman, tahun 2000-2003. Pendidikan sarjana (S1) ditempuh di Jurusan Hama
dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh,
tahun 1991-1996.
Penulis adalah staf pengajar Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman
Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Penulis menikah
dengan Afrida SP, tahun 2002, dan telah dikaruniai dua orang putra yaitu:
Farhas Alfarisi (8 tahun) dan Salman Alfarisi (5 tahun).

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...............................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR...........................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................

xvi

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................
Latar Belakang ..................................................................
Tujuan Penelitian ..............................................................
Manfaat Penelitian ............................................................

1
1
3
3

TINJAUAN PUSTAKA ....................................................
Biologi Rayap ...................................................................
Polimorfisme .......................................................................................
Pembentukan Koloni ........................................................
Siklus Hidup Rayap ..........................................................
Perilaku Rayap..................................................................
Aktivitas Makan ...............................................................
Aktivitas Kawin ................................................................
Daya Jelajah ......................................................................
Ekologi Rayap ..................................................................
Pendugaan Ukuran Populasi .............................................
Teknik Tanda Tangkap .....................................................
Teknik Penandaan.............................................................
Pengendalian Rayap .........................................................
Cendawan Metarhizium brunneum Petch .........................
Jarak Pagar (Jatropha curcasL.) ......................................

5
5

BAB II

BAB.III

POPULASI KOLONI RAYAP Macrotermes givus HagenDI
KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA BARAT ............
Abstrak..............................................................................
Abstract .............................................................................
Pendahuluan ......................................................................
Bahan dan Metode ............................................................
Hasil dan Pembahasan ......................................................
Simpulan ...........................................................................
Daftar Pustaka...................................................................

6
7
7
8
8
9
9
11
11
12
13
14
16

17
17
17
18
19
22
25
25

BAB IV. KEMAMPUAN DAYA JELAJAH RAYAP Macrotermes
gilvusHagen.DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA
BARAT ............................................................................
Abstrak .............................................................................
Abstract ............................................................................
Pendahuluan .....................................................................
Bahan dan Metode ............................................................
Hasil dan Pembahasan ......................................................
Simpulan ..........................................................................
Daftar Pustaka ..................................................................

27
27
28
28
29
33
33

BAB V STUDI SIMTOMATOLOGI DAN WAKTU KEMATIAN
RAYAP Macrotermes gilvus Hagen (Isoptera:Termitidae)
SETELAH INFEKSI OLEH CENDAWAN Metarhizium
brunneum Petch ................................................................
Abstrak .............................................................................
Abstract ............................................................................
Pendahuluan .....................................................................
Bahan dan Metode ............................................................
Hasil dan Pembahasan ......................................................
Simpulan...........................................................................
Daftar Pustaka ..................................................................

35
35
35
36
37
40
47
48

BAB.VI

KEEFEKTIFAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN
Metarhizium
brunneum
Petch
SEBAGAI
BIOTERMITISIDA TERHADAP RAYAP Macrotermes
gilvus Hagen DI KIJP PAKUWON SUKABUMI JAWA
BARAT ............................................................................
Abstrak .............................................................................
Abstract ............................................................................
Pendahuluan ....................................................................
Bahan dan Metode ...........................................................
Hasil dan Pembahasan .....................................................
Simpulan ..........................................................................
Daftar Pustaka .................................................................

27

51
51
51
52
53
56
57
57

BAB VII.. PEMBAHASAN UMUM ...............................................

59

BAB VIII. SIMPULAN DAN SARAN .............................................
Simpulan..........................................................................
Saran ................................................................................

63
63
63

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................

65

DAFTAR TABEL

No
1
2
3
4
5

Halaman
Spesies rayap M. gilvus dari stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon .............
Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus Hagen di KIJP Pakuwon ................
Stasiun pengamatan terpilih untuk menduga daya jelajah rayap M. gilvus ...
Mortalitas M. gilvus selama 7 hari setelah aplikasi M. brunneum ................
LT cendawan entomopatogen M. brunneum terhadap M. gilvus .................

22
22
29
44
46

DAFTAR GAMBAR

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

16

17
18

19
20
21
22
23

Perakitan stasiun pengamatan ......................................................
Stasiun pengamatan dan pemasangannya di KIJP Pakuwon .......
Rayap Macrotermes gilvus yang telah diwarnai dengan neutral
red 0,25 dan nile blue A 0,05% ....................................................
Rayap M. gilvus: (a) kasta prajurit mayor, (b) kasta prajurit
minor, dan (c) kasta pekrja ............................................................
Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok I ....................
Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok II ...................
Ukuran populasi koloni rayap M. gilvus pada blok III ..................
Daya jelajah rayap M. gilvus di KIJP Pakuwon pada blok I .........
Daya jelajah rayap M. gilvus pada blok III di KIJP Pakuwon ......
Kondisi tanaman jarak pagar (J. curcas) pada blok I ...................
Kondisi tanaman jarak pagar (J. curcas) pada blok III ................
Pengukuran daya jelajah rayap M. gilvus ......................................
Rayap M. gilvus: (a) kasta prajurit dan (b) kasta pekerja ..............
Konidia cendawan M. brunneum diamati dengan mikroskop
optik pembesaran (400×) ...............................................................
(a) kadaver M. gilvus berubah menjadi gelap setelah diinfeksi
oleh konidia M. brunneum (b) miseliumM. brunneum tampak
pada bagian tubuh rayap M. gilvus ................................................
Pengamatan dengan Scanning Electron Microscope (SEM)
pembesaran5000×, yaitu: (a) miselia dari M. brunneum keluar
dari internal tubuh inangmelalui lubang alami, (b) miselia
hampir menutupi seluruh permukaan tubuh inang .......................
Konidia pada permukaan tubuh rayap M. gilvus diamati
menggunakan SEM pembesaran 5000× ........................................
Infeksi konidia cendawan M. brunneum terhadap rayap M.
gilvus memasuki tahapan destruksi (a) hampir seluruh
permukaan tubuh rayap telah tertutupi miselia, dan (b) kadaver
rayapkering kehitaman terutama bagian abdomen ........................
Kematian rayap M. gilvus selama 7 hari pengamatanakibat
perlakuan konidia cendawan M. brunneum (LC95) ........................
Kematian rayap M. gilvus selama 7 hari pengamatanakibat
perlakuan konidia cendawan M. brunneum(LC85) ........................
Populasi koloni Rayap M. gilvus pada blokI .................................
Populasi koloni rayap M. gilvus pada blok II ................................
Populasi koloni rayap M. gilvus pada blok III ...............................

Halaman
19
20
21
22
23
24
24
30
30
31
31
32
37
38

40

41
41

42
46
47
55
56
56

DAFTAR LAMPIRAN

No
1
2
3
4
5
6

7

8
9
10

Halaman
Bagan alir percobaan ............................................................................
Peta stasiun pengamatan di KIJP Pakuwon .......................................
Rekapitulasi data blok I (Percobaan I) ................................................
Rekapitulasi data blok II (Percobaan I) ...............................................
Rekapitulasi data blok III (Percobaan I) ..............................................
Data hasil pengamatan persentase mortalitas rayap Macrotermes
gilvus setelah aplikasi cendawan Metarhizium brunneum dengan
kerapatan konidia 1,21×106/mL di laboratorium (Percobaan III) .......
Data hasil pengamatan persentase mortalitas rayap Macrotermes
gilvus setelah aplikasi cendawan Metarhizium brunneum dengan
kerapatan konidia 1,08×106/mL di laboratorium (Percobaan III) .......
Rekapitulasi data blok I(Percobaan IV) ...............................................
Rekapitulasi data blok II (Percobaan IV) .............................................
Rekapitulasi data blok III (Percobaan IV) ...........................................

71
72
73
75
75

79

79
82
82
82

1

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Selama ini Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor bahan bakar
minyak dari fosil, namun dengan meningkatnya penduduk dan industri
diperkirakan sepuluh tahun mendatangakan menjadi negara pengimpor bahan
bakar minyak bumi. Oleh karenanya pemerintah perlu memikirkan alternatif
pengganti bahan bakar minyak bukan darifosil tetapi berpotensi untuk
dikembangkan di Indonesia (Hendriadi et al. 2005).
Salah satu sumber energi alternatif yang dapat terbarukan adalah biodisel
dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) yang hanya digunakan sebagai
sumber bahan bakar (Mahmud et al. 2006).Beberapa keunggulan biodisel dari
tanaman jarak pagar yaitu tidak mengandung sulfur, tidak beraroma, dapat
diperbaharui, ramah lingkungan, aman dalam penyimpanan dan transportasi
karena tidak mengandung racun, meningkatkan nilai produk

pertanian,

menurunnya ketergantungan suplai minyak dari negara asing, dan mudah terurai
oleh mikroorganisme (Susilo 2006).
Tingkat

produktivitas

jarak

pagar

sangat

tergantung

dari

cara

pemeliharaan, lingkungan, sumber benih, ada tidaknya serangan hama dan
penyakit. Produktivitas jarak pagar di berbagai negara, yaitu Nicaragua (5 ton/
ha), Paraguay (4 ton/ha) dan Mali (2,8 ton/ha) (Henning & Reinhard 2000).
Indonesia diperkirakan mampu menghasilkan produktivitas hingga 5 ton biji
kering/ha (Hasnam 2006).
Permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis jarak pagar adalah belum
tersedianya varietas unggul, ketersediaan benih sangat terbatas, teknik
budidayanya belum memadai, dan adanya serangan hama dan penyakit (Asbani et
al. 2007). Salah satu hama penting yang merusak tanaman jarak pagar adalah
rayap Macrotermes gilvus Hagen, yang merusak mulai dari akarhingga pada
batang tanaman (Tarumingkeng 2001).
Hasil pengamatan di Kebun Induk Jarak Pagar (KIJP) Pakuwon
menunjukkan bahwa tingkat serangan hama rayap M. gilvus terhadap tanaman

2

jarak pagar mencapai 15 sampai 24% dengan rata-rata 16,33%.

Menurut

informasi dari penanggung jawab KIJP Pakuwon,jarak pagar yang ditanamdengan
menggunakan stek ukuran 30 cm di permukaan tanah, 60 sampai 80% terserang
rayap M. gilvus hingga mengalami kematian. Hama ini merusak bagian pangkal
akar hingga batang tanaman dengan membuat tabung kembara dari bahan tanah
yang ditempelkan pada batang tanaman atau dengan cara masuk ke dalam jaringan
tanaman hinggahanyalapisan epidermisyang tersisa. Kondisi ini mengakibatkan
tanaman menjadi patah, roboh dan mengalami kematian. Semakin lama intensitas
serangannya semakin meningkat hingga pada tanaman sehat lainnya. Oleh
karenanya walaupuntingkat serangan hama ini kurang dari 10% tetapi harus
segera dilakukan pengendalian agar tidak menyebar kepada tanaman lain,
sehingga hasil produksi tetap maksimal (Asbani et al. 2007).Selama ini
pengendalian rayap di KIJP Pakuwon menggunakan termitisida sintetik dengan
caradisiramkan sekitar perakaran tanaman yang mengakibatkan pencemaran
lingkungan dan keracunan bagi pengguna (Oka 2005).
Keberadaan agens hayati secara alami yang telah ada di KIJP Pakuwon
kurang memberikan dampak positif terhadap rayap hama M. gilvus. Oleh karena
itu perlu pengendaliancaralain seperti pemanfaatan agens hayati yang mungkin
dapat diterapkan di KIJP Pakuwon.Namun sebelum melakukan pengendalian
terhadap spesieshama ini terlebih dahulu perlu dipelajari ukuran populasi koloni
dan daya jelajah maksimumnya,sehingga populasirayap hama M.gilvus dapat
tereliminasi lebih maksimal.
Dari penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa cendawan M. brunneum
memiliki tingkat patogenisitas dan virulensi yang lebih tinggi terhadap serangga
rayap Schedorhinotermes javanicus dibandingkan beberapa spesies cendawan
entomopatogen lain, seperti Metarhizium anisopliae, Beauveria bassiana,
Fusarium oxysporum dan Aspergillus flavus(Desyanti 2007, Ginting 2008).
Penelitian ini mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum
dalam menekan ukuran populasi koloni rayap M. gilvus yang menjadi hama
penting pada pertanaman jarak pagar di KIJP Pakuwon.

3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu:
1.

Menduga ukuran populasi koloni rayap Macrotermes gilvus di KIJP
Pakuwon.

2.

Mempelajari daya jelajah rayap M.gilvus di KIJP Pakuwon.

3.

Mempelajari simtomatologi dan waktu kematian rayap M. gilvussetelah
diinfeksi oleh cendawan M. brunneum sebagai biotermitisida di laboratorium.

4.

Mempelajari keefektifan cendawan entomopatogen M. brunneum sebagai
biotermitisida terhadap rayap M. gilvusdi KIJP Pakuwon.

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi awal dan sebagai
pedoman dasar untuk penyusunan rekomendasi pengendalian hama rayap
Macrotermes gilvus pada tanaman jarak pagar menggunakan cendawan
entomopatogen Metarhizium brunneum sebagai agens biokontrol.

4

5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Rayap
Krishna dan Weesner (1969) menyatakan bahwa rayapdiklasifikasikan ke
dalam

6

Famili(Mastotermitidae,

Rhinotermitidae,

Serritermitidae,

Kalotermitidae,
dan

Hodotermitidae,
Rayap

Termitidae).

tanahMacrotermesgilvus termasuk famili Termitidae sub famili Macrotermitinae,
klasifikasinya adalah sebagai berikut:
filum: Arthropoda
kelas: Insecta
sub-kelas: Pterigota
ordo: Isoptera
famili: Termitidae
sub-Famili: Macrotermitinae
genus: Macrotermes
spesies: Macrotermes gilvus Hagen.
Menurut Krishna dan Weesner (1969) rayap M. gilvushidup berkoloni
yang mempunyaikasta prajurit mayor dan minor.Ciri-ciri kasta prajuritsecara
umumadalah kepala bewarna coklat tua, mandibel berkembang dan berfungsi,
mandibel kiri dan kanan simetris,tidak memiliki gigi marginal, ujung mandibel
melengkung yang berfungsi untuk menjepit. Ujung labrum tidak jelas, pendek dan
melingkar,

antena

terdiri

atas

16-17

ruas.

Thapa

(1981)

dan

Tho

(1992)menjelaskan ciri-ciri dari kasta prajuritmayor yaitu kepala bewarna coklat
kemerahan, panjang kepala dengan mandibel 4,80-5,00 mm, lebar kepala 2,883,10 mm,antena 17 ruas, ruas ketiga sama panjang dengan ruas kedua dan ruas
ketiga lebih panjang dari ruas keempat. Sedangkan kasta prajurit minor kepala
bewarna coklattua, panjang kepala 1,84-2,08 mm dan lebar 1,52-1,71 mm
sertapanjang kepala dengan mandibel 3,07-3,27 mm. Antena17 ruas, ruas kedua
sama panjangdengan ruas keempat.
Menurut Nandika et al. (2003) rayap M. gilvus banyak tersebar di
Indonesia, umumnya bersarang dalam tanah atau di dalam kayu yang

6

berhubungan dengan tanah.Rayap membiakkan cendawan yang berbentuk bunga
karang, serta bangunan-bangunan liat dalam tanah dan untuk menemukan sumber
makanan dengan membuat tabung kembara dari humus atau tanahsebagai jalur
jelajah (Nandika et al. 2003).
Polimorfisme
Polimorfismemerupakan ciri rayap yang hidup secara terorganisir dengan
bentuk, ukuran, dan fungsi yang berbedadalam sebuah koloni, sepertiordo
Isopteraterdiri atas kasta prajurit, kasta pekerja dan kasta reproduktif. Kasta
pekerja bertugas sebagai pencari makan, perawat telur, pembuat dan pemelihara
sarang. Kasta ini pada saat tertentu dapat bersifatkanibalterhadap individu rayap
yang sakit dalam koloninya untuk mempertahankan prinsip efisiensi dan
konservasi energi, serta mengatur keseimbangan koloni (Tarumingkeng 1993,
Tambunan & Nandika 1989).
Kasta prajurit dengan ukuran kepalanyabesar dan mengalami penebalan
pada bagian tersebut serta memiliki mandibelkuat untuk melindungianggota
koloni dari gangguan luar (Tambunan & Nandika 1989). Apabila terjadi gangguan
dari luar, maka kasta prajurit segera menginformasikan kepada anggota kasta
prajurit lain dalam koloninya dengan tanda tertentu, dan semua kasta prajurit
segera menuju sumber gangguan untuk mengatasinya (Harris 2001).
Kasta reproduktif berfungsi untuk bertelur dan jantan membuahi betina,
seperti kasta reproduktifdari rayap Macrotermes spp dapat menghasilkan telur
seminggu setelah melakukan swarming (Harris 1971). Neoten akan muncul bila
kasta reproduktif primer mati atau terpisahdari koloni induk akibat adanya
gangguan luar. Neoten dapat terbentuk beberapa kali dalam jumlah besar sesuai
dengan perkembangan koloni (Richards & Davies 1996).
Pembentukan Koloni
Sebuah koloni rayap dapat terbentuk dari sepasang laron betina dan jantan
dengan melakukan kopulasi, kemudian mencari habitat yang sesuai untuk
membentuk koloni baru (Tarumingkeng 1993). Koloni rayap dapat terbentuk
melalui tiga cara, yaitu: (1) melalui sepasang imago rayap yang bersayap (laron),

7

(2) melalui pemisahan koloni dari koloni utama dengan membentuk kasta
reproduktif suplementer, dan (3) melalui proses migrasi dari sebagian koloni
rayap menuju tempat baru dan koloni yang tertinggal mengembangkan kasta
reproduktif suplementer (Lee & Wood 1971, Harris 1971).
Kasta reproduktif bersayap akan muncul pada musim-musim tertentu,
yang berkumpul dalam koloninya sebelum bersialang (swarming) keluar sarang.
Umumnya beberapa spesies rayap di daerah tropis bersialang pada awal musim
hujan (Lee & Wood 1971). Selama bersialang sepasang imago (jantan dan betina)
bertemu dan segera menanggalkan sayap untuk mencari tempat yang sesuai
(Tambunan & Nandika 1989). Di Amerika Selatan rayap Contrictotermes
cavifronsuntuk membentuk koloni baru melalui fragmentasi koloni dengan
bermigrasi untuk menemukan habitat baru(Krishna & Weesner 1969). Demikian
juga

rayap

Anoplotermes,Trinervitermes

di

Afrika

(Rismayadi

1999)

danMastotermes darwinensismembentuk koloni baru melaluifragmentasi koloni
(Lee & Wood 1971).
Siklus Hidup Rayap
Rayap mengalami metamorfosis tidak sempurna (paurometabola). Siklus
hidupnya dimulai dari telur, nimfa, dan imago. Nimfa muda yang baru keluar dari
telur dan akan berkembang menjadi kasta pekerja, kasta prajurit, atau alata di
dalam koloninya (Natawigena 1990). Lama siklus hidup rayap dari fase telur 5060 hari. Ratu rayap Macrotermes sp yang telah berumur 5 tahun mampu
menghasilkan telur hingga 36.000 butir perhari (Hasan 1986). Memasuki instar I
membutuhkan waktu 11-13 hari, instar II (13-18 hari), instar III (16-32 hari),
instar ke IV (30-50 hari), dan instar ke V (14 hari), dan sekali siklus hidup rayap
dibutuhkan waktu 4-6 bulan (Grasse 1984).
Perilaku Rayap
Sebagai serangga sosial, rayap memiliki beberapa prilaku yang khas
(Nandika & Tambunan 1987; Tarumingkeng 2004), yaitu:
Trophallaxis adalahtransfer material (makanan dan protozoa) antara
anggota

koloni

rayap.

Transfer

materialmelalui

anusdisebut

proctodeal

8

feedingsedangkan melalui mulut disebut dengan stomodeal feeding. Sifat
trofalaksis merupakan cara memperoleh protozoa flagellatabagi individu yang
baru melakukan ganti kulit (ekdisis), karena pada saat ekdisis integumen
proctodeum tanggal sehingga protozoa simbion yang diperlukan untuk mencerna
selulosa ikut keluar dan diperlukan reinfeksi dengan jalan trophallaxis. Grooming
adalah berkumpul dengan mengosokkan tubuh antara individu dalam sebuah
koloni, dan menjilat bagian tubuhnya yang bertujuan untuk membersihkan diri
dari serangan patogen. Cryptobiotic adalah menyembunyikan dan menghindar
dari cahaya kecuali laron yang menyukai cahaya pada saat swarming. Rayap
hidup dalam tanah dan pada saat mencari makanan dipermukaan tanah,
membentuk tabung kembara dari bahan tanah atau humus. Cannibalistic yaitu
perilaku memakan individu sejenis, seperti kasta prajurit yang lemah tidak dapat
menjaga koloninyasecara efektif, akan dimakan oleh kasta pekerja. Demikian juga
betina dan jantan baik ratu, raja maupun neoten yang tidak mampu memberikan
kontribusi pada koloninya. Nekrofagi yaitu memakan kadaver sesamanya
(Tarumingkeng 2004).
Aktifitas Makan
Sumber makanan rayap berupa selulosa.Terdapat hubungan antara rayap
dengan mikoorganisme simbion pada saluran pencernaan rayap, yaitu protozoa
pada rayap tingkat rendah dan bakteri pada rayap tingkat tinggi. Sumber makanan
rayap pada umumnya dikelompokkan ke dalam dua tipe, yaitu sumber makanan
mentah (crude nutrient) dan sumber makanan dari kasta pekerja. Sumber makanan
mentah berupa tanaman atau pohon hidup, kayu atau tanaman yang sudah mati,
bahan makanan lain seperti humus, rumput, jamur (Nandika et al. 2003).

Aktifitas Kawin
Kopulasi rayap dapat ditandai dengan terbangnya laron (swarming) yang
dipengaruhi oleh perubahan cuaca di luar sarang. Laron akan berkumpul pada
tempat tertentu di dalam sarang yang menunjukkan atraksi tertentu dengan
gerakantidak

teratur,seperti

mengembangkan

sayap

dan

segera

terbang

9

mencaricahaya.

Kemudian

menanggalkan

sayapnya

untuk

menemukan

pasangan.Setelah menemukanpasangannya,calon ratuakanberjalan di depan dan
calon raja mengikuti dari belakang untuk menemukan habitat yang sesuai.Setelah
3-8 hari berada pada habitat yang baruditemukan akan berkopulasi (Nandika et
al.2003).
Daya Jelajah
Rayap akanberjelajah untuk menemukan sumber makanan dengan
lingkungan yang optimal. Persentuhan fisik antar individu rayap dan bau yang
dikeluarkan melalui jejaknya merupakan sebuah mekanisme penyampaian
informasi dalam sebuah koloniterhadap sumber makanan yang baru ditemukan.
Rayap Nasutitermes dalam melakukan daya jelajah berhubungan dengan feromon
yang dikeluarkan melalui jejak dan dihasilkan oleh kelenjer sternal yang terdapat
pada abdomen(Krishna & Weesner 1969). Rayap tanah C. formosanus melakukan
daya jelajah hingga mencapai 100 m dengan jumlah individu 1-7 juta individu
perkoloni. Reticulitermes flavivesmenjelajah hingga 79 m dengan 2-5 juta
individu anggota koloni yang mengikutinya (Su 1994).
Ekologi Rayap
Rayap berperan penting dalam siklus biogeochemical (dekomposisi bahan
organik), seperti nitrogen, carbon, oksigen, fosfor, yang dapat meningkatkan
kesuburan tanah, karena mampu mengubah profil tanah, mempengaruhi tekstur
tanah dan mendistribusikan bahan organik (Khrisna & Weesner 1969).
Dengan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan monokultur
menyebabkan rayap ini menjadi hama penting di dunia pertanian khususnya di
bidang perkebunan(Tarumingkeng 2001).Pengembangan sektor perkebunan dan
hutan tanaman industri yang dilakukan pada lahan gambut dan lahan bekas hutan
primer merupakan salah satu penyebab terjadinya serangan rayap terhadap
tanaman perkebunan (Sudohadi 2001).
Serangan hama rayapsulit dideteksi secara dini karena merusak tanaman
mulai dari bagian akar tunggang di dalam tanahdan diketahui setelahmembentuk
tabung kembara di sekitar batang tanaman (Hasan 1986). Rayap hama M. gilvus

10

ini menyerang tanaman Eucalyptus alba pada umur enam bulan dengan tingkat
kematiannya secara berturut-turut adalah 60% dan 100% di Kebun Percobaan
Darmaga dan Demplot HTI Universitas Winaya Mukti (Nandika et al. 2003).
Serangan rayap hama pada tanaman perkebunan biasanya dipengaruhi oleh
tingkat preferensinya terhadap jenis tanaman, tingkat kesehatan tanaman, dan
kondisi tempat tumbuh, serta tanaman yang tertekan karena serangan patogen,
kerusakan fisik, atau akibat kekurangan air dan unsur hara. Biasanya tanaman
eksotik lebih tinggi tingkat serangan rayap dibandingkan tanaman lokal, hal ini
diduga tanaman lokal dapat mengembangkan mekanisme resistensinya terhadap
gangguan rayap, yaitu melalui proses adaptasi dan evolusi. Tanaman yang berada
di dataran rendah lebih banyak diserang oleh rayap dibandingkan tanaman yang
berada di dataran tinggi. Hal ini berhubungan dengan distribusi rayap yang
dibatasi oleh faktor suhu, kelembaban serta ketinggian tempat (Pribadi 2009).
Aktivitas rayap disuatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
tanah, tipe vegetasi, faktor iklim dan ketersediaan air. Faktor-faktor tersebut saling
berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kelembaban dan suhu
merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas rayap. Bila kondisi lingkungan
berubah akan mempengaruhi perkembangan, aktifitas dan perilaku rayap
(Nandika et al. 2003).
Curah hujan merupakan salah satu faktor pemicu perkembangan eksternal
yang merangsang keluarnya kasta reproduktif dari sarang. Laron biasanya keluar
pada saat musim hujan. Bila curah hujan terlalu tinggi dapat menurunkan daya
jelajah rayap yang berpengaruh langsung terhadap koloni rayap, terutama bila
sarangnya berada diatas permukaan tanah. Koloni Neotermes tectonae bersarang
di dalam kayu dan terlindungi secaralangsung dari pengaruh curah hujan. Di hutan
jati rayap ini memiliki kisaran suhu optimum 22‐26°C dengan ketinggian 0- 700 m
dpl (Nandika et al. 2003). Rayap Macrotermes spmenyukai kelembaban 75
sampai 90% dan pada saat musim panas melakukan daya jelajah membentuk
tabung kembara menuju habitat dengan suhu yang lebih rendah. Cryptotermes sp
merupakan rayap kayu kering dan dengan suhu optimum 15-38°C dapat
melakukan daya jelajah tanpa memerlukan air atau kelembaban tinggi(Khrisna &
Weesner 1969). Rayap Coptotermes formosanus memiliki toleransi suhu lebih

11

tinggi dibandingkan rayap Reticulitermes flavipes. Bila suhu sangat tinggi rayap
akan berada di bawah permukaan tanah atau masuk dalam sarangnya atau tetap
beradadi permukaan tanah bila terdapat naungan agar mendapatkan suhu
optimum. Di daerah semi gurun dengan penutupan vegetasi yang rendah, rayap
Psammotermes sering ditemukan di bawah batu atau naungan karena dapat
menciptakan suhu dan kelembaban yang lebih baik. Jenis tanaman penutup tanah
juga mempengaruhi suhu tanah. Di lapangan dengan tanaman sereal dapat
memberikan sedikit perlindungan dibandingkan jenis tanaman lain atau semak
(Lee & Wood 1971).
Pendugaan Ukuran Populasi
Menurut Krebs (1978) dua kriteria mendasar yang mempengaruhi
pemilihan metode pendugaan ukuran populasi adalah kerapatan dan mobilitas dari
individu-individu penyusun populasi yang akan diteliti. Pengukuran kepadatan
populasi dapat dilakukan dengandua cara,yaitu (a) kepadatan absolut; jumlah
organisme per unit areal atau volume (b) kerapatan relatif; kerapatan satu populasi
relatif terhadap populasi lainnya (Krebs 1989). Penggunaan metode untuk
memperoleh informasi mengenai ukuran populasi biasanya berhubungan dengan
sifat mobilitas organisme yang diteliti. Untuk organisme yang bergerak umumnya
menggunakan teknik tanda tangkap dan transek garis. Sedangkan untuk organisme
yang tidak bergerak menggunakan metode kuadrat, seperti pada tumbuhan
(Tarumingkeng 2001).
Umumnya ukuran populasi kolonirayap tingkat rendah terdiri atas
beberapa

ratus

atau

beberapa

ribu

ekor.Rayap

Kalotermes

flavicollis

menghasilkan 15-20 ekor rayap untuk tahun pertama, namun beberapa tahun
kemudian populasi koloninya menjadi bertambah hingga 600-1.000 ekor
(Richards& Davies 1996).Di Afrikarayap Macrotermes spplebih besar ukuran
populasi koloninya yang terdiri atas beberapa juta ekor(Lee & Wood 1971).
Teknik Tanda Tangkap
Menurut Rismayadi (1999)teknik tanda tangkap pertama kali digunakan
di bidang ekologi oleh G.J. Petersen. Su et al.(1984,1994) dan Sornnuwat et al.

12

(1996) juga mempelajari ukuran populasi dan daya jelajah rayap tanah dengan
metode teknik tanda tangkap.Asumsi-asumsi yang mendasari semua analisis
teknik tanda tangkap adalah: (1) individu bertanda tidak dipengaruhi oleh
penandaan dan tanda yang digunakan tidak hilang selama periode pengamatan, (2)
individu bertanda bercampursecaraacak dalam populasi, (3) penarikan contoh
dilakukan secaraacak (berdasarkan asumsi ini maka individu dalam populasi dari
kelompok umur dan dari jenis kelamin berbeda akan memiliki peluang tertangkap
berdasarkan perbandingan yang ada dalam populasi dan semua individu
mempunyai peluang yang sama untuk tertangkap dalam habitatnya), (4)
pengambilan contoh dilakukan dalam waktu tertentu (Southwood 1975, Krebs
1978& 1989).
Metode Schnabel menjadi dasar dari teknik yang digunakan oleh Su
(1994) dan Surnnuwat et al.(1996) untuk mempelajari ukuran populasi dan daya
jelajah rayap tanah. Namun dalam penelitian ini untuk pendugaan ukuran populasi
koloni rayap digunakan metode triple mark reupture technique, yaitu:
N = (∑Mi.ni)/[(∑mi)+1]
SE = N/{[1/(∑mi)+1)]}+{(2/((∑mi)+1)2+[(6/(∑mi)+1)3]}1/2 

dimana:
N

= Ukuran populasi

SE

= Simpangan baku

ni

= Jumlah keseluruhan rayap yang tertangkap pada penangkapan ke-i

mi

= Jumlah rayap bertanda yang tertangkap pada penangkapan ke-i

Mi

= Jumlah total rayap bertanda sampai penangkapan ke-i
Teknik Penandaan
Menurut Southwood (1975) bahan penanda yang digunakan oleh para

peneliti terhadap beberapa studi populasi adalah: cat dan larutan bahan pewarna,
penandaan internal dengan penyuntikan, bahan pewarna fluorescent, label,
mutilasi (pemotongan) dan penandaan melalui pengumpanan yang mengandung
bahan pewarna.
Pada penelitian pendugaan ukuran populasi koloni dan daya jelajah rayap
tanah Coptotermes formosanus, digunakan bahan pewarna sudan red 7B (Su et

13

al.1984). Kemudian Su et al. (1991) menggunakan beberapa bahan pewarna
neutral red dan nile blue A, ternyata hasilnya sangat efektif digunakan sebagai
pewarna rayap. Setelah itu bahan pewarna ini telah banyak digunakan untuk studi
populasi rayap. Su (1994) pernah menggunakan bahan pewarna ini untuk
menandai Reticulitermes flavipes dan C.formosanus, juga pernah di pakai untuk
menandai C. gestroi. Hal yang sama juga pernah dilakukan oleh Harahap et al.
(2005) dalam mengamati perilaku agonistik pada rayap R. flavipes dan R.
nirginicus; menggunakan bahan pewarna nile blue A (0,05%) dan neutral red
(0,25%), ternyata sangat efektif digunakan sebagai bahan penandaan rayap.
Pengendalian Rayap
Pengendalian rayap dengan teknik pengumpanan lebih menguntungkan
karena tanah tidak terkontaminasi oleh bahan kimia dan meringankan pekerjaan
dari perlakuan yang intensif.Melalui penempatan umpan pertama tidak beracun
pada koloni rayap dandengan mengulangi penempatan umpan beracun yang slow
action, akan lebih efektif untuk menyebarkan racun terhadap individu lain dalam
sebuah koloni. Agar pengendalian cara ini lebih efektif maka umpan harus lebih
menarik dari makanan di sekitarnya. Penambahan gula, madu, jamur pelapuk,
asam amino, sumber nitrogen, bahkan feromon dapat meningkatkan laju
komsumsi rayap (Pearce 1997). Pengendalian rayap dengan menggunakan
chlorprenapyr pada berbagai konsentrasi melalui pengumpanan mampu
menghasilkan mortalitas yang berkorelasi positif dengan waktu aplikasi dan
konsentrasi perlakuan(Sudohadi Y 2001).
Menurut Scheffrahn dan Su (1994) kelebihan dari metode pengumpanan
yaitu ramah lingkungan, mudah diterima oleh masyarakat karena sedikit
menggunakan bahan kimia yang telah dikemas dalam bentuk yang efektif, dan di
sukai rayap dengan kerja racun yang slow action, sehingga dapat mengeliminasi
koloni rayap. Menurut Su et al. (1994) penggunaan hexaflumuron dengan dosis
0,5% yang dilarutkan pada gulungan kertas tissue (Whatman No. 1) dan
diumpankan pada rayap, maka semua rayap yang mencerna umpan tersebut tidak
segera akan menunjukkan gejala keracunan, tetapi mengganggu proses

14

metabolisme dan menghambat proses ganti kulit, kemudian setelah beberapa hari
rayap akan mati.
Hingga saat ini pengendalian rayap masih tergantung pada insektisida
sintetik yang berdampak negatif terhadap lingkungan (Kartika et al. 2007),
keracunan bagi penggunadan lainnya. Oleh karena itu perlu alternatif
pengendalian cara lain yang ramah lingkungan. Salah satunya dengan
memanfaatkan

bioinsektisida (Soetopo

kelompokmikroorganisme

yang

&

bermanfaat

Indrayani 2009). Ada enam
sebagai

bioinsektisida,

yaitu

cendawan, bakteri, nematoda, virus protozoa, dan riketsia (Santoso 1993).
Cendawan Metarhizium brunneum Petch
CendawanM. brunneummerupakan salah satu jenis bioinsektisida yang
dapat menimbulkan penyakit terhadap serangga dandapat ditemukan hampir di
berbagai tempat, seperti tanah gambut di USA dan Oregon (CABI 2001).
Desyanti (2007) mengisolasikan cendawan M. brunneum dari tanah. Untuk
pertumbuhannya memerlukan suhu optimum 22-27°C (Roddam & Rath 1997),
dengan tingkat keasaman (pH) antara 3,3-8,5, sedangkan pH optimal 6,5 (Domsch
& Gams 1980). Konidia akan berkecambah pada kelembaban 90% dan dapat
tumbuh baik pada media PDA, jagung dan beras (Ginting 2008).
Butt et al. (2001) mengklasifikasikan cendawan kepada dua divisi yaitu
Myxomycota dan Eumycota.Lebih rinci Roy et al.(2006) mengklasifikasikan
cendawan entomopatogen Metarhizium sp sebagai berikut:
devisi: Ascomycota
kelas: Sordariomycetes
ordo: Hypocreales
famili: Clavicipitaceae
genus: Metarhizium
spesies:Metarhizium brunneum Petch
CendawanM. anisopliaemempunyai koloni berwarna putih dan dengan
bertambahnya umurwarnanya berubah menjadi gelap, sedangkan strain M.
brunneum pada awal pertumbuhannya bewarna putih hingga kekuningan,
selanjutnya berubah menjadi coklat. Miseliumnya bersekat, diameter 1,98-2,97

15

µm, konidiofor tersusun tegak, berlapis, dan bercabang yang dipenuhi oleh
konidia. Konidia bersel satu berwarna hialin, berbentuk bulat silinder dengan
ukuran 9,94 x 3,96 mμ (Strack 2003, Ginting 2008).
Keragaman intraspesiespada cendawan entomopatogen umumnya terlihat
pada perbedaan virulensinya (Hajek& Leger 1994). Faktor yang dapat
mempengaruhi perbedaan keragaman tersebut adalah sumber isolat, inang dan
daerah geografis asal isolat (Varela & Morales 1995, Baretta et al. 1998).
Umumnya strain cendawan entomopatogen yang diisolasi dari inang yang sama
akan lebih virulen untuk diaplikasikan terhadap inang tersebut, dibandingkan dari
inang yang berbeda. Seperti cendawanB. bassiana yang koleksi dari kadaver
rayap apabila kembali diinfeksikan terhadap individu rayap lain dari spesies yang
sama maka toxisitasnya lebih efektif (Boucias& Pendland 1998).
Pemanfaatan agens hayati cendawanM. brunneum di areal pertanaman
belum pernah dilakukan. Penggunaan cendawan ini baru dilakukan Desyanti
(2007) dalam studi pengendalian rayap tanah Coptotermes spp di laboratorium
dan hasilnya efektif sebagai agens hayati dengan tingkat patogenisitasnya lebih
tinggi dan dapat membunuh rayap Coptotermes spp dengan LC50 terendah
dibandingkan spesies M. anisopliae, B. bassiana, Fusarium oxysporum
danAspergillus flavus (Desyanti 2007). Keefektifan dalam penggunaan cendawan
tersebut didukung oleh daya kecambah dan kerapatan konidia yang dihasilkan.
Menurut Desyanti (2007) daya kecambah dari cendawan M. brunneum dan M.
anisopliaesetelah diinkubasiselama 12-24 jammasing-masing 97,20% dan 85
sampai 90%.Kerapatan konidia yang dihasilkan oleh cendawan M. brunneumlebih
tinggi (223,66 x 107/cawan Petri) dibandingkan cendawan M. anisopliae(6,18 x
107/cawan Petri).
Cendawanini mempunyai kemampuan untuk menempel dan menembus
kutikula inang dan tumbuh ke bagian internal tubuh inang (hemocoel) sebagai
sumber nutrisi untuk pertumbuhan yang mengakibatkan kematian inang.
Kemudian cendawan tersebut juga dapat menghancurkan jaringan lain dengan
melepaskan toksin dan akan mempengaruhi perkembangan inang secara

Dokumen yang terkait

Kajian cendawan Entomopatogen Metarhizium brunneum Petch sebagai agens hayati terhadap rayap Macrotermes gilvus hagen (Isoptera: Termitidae) pada tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.)