METODE PEMBENTUKAN PRIBADI TAWAKKAL MELALUI PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA (PTSB).

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Dalam Bidang Ilmu Komunikasi Dan Penyiaran Islam Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)

Oleh

AMIRUDDIN MUHAMMAD NIM : B01211007

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM JURUSAN KOMUNIKASI

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2016


(2)

Narna

\D,I

Junrsan

Judul

: Amiruddin Muchammad

: 801211007

: Komunikasi Penyiaran Islam

: METODE PEMBENTUKAN PRIBADI TAWAKAL MELALUI

PENDALAMAN TERAPI SHALAT BAHAGIA (PTSB).

Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan Surabaya, 22 januai 201 6

Dosen Pembimbing,

Abdullah Satar. S.Ae. M.Fil.I


(3)

depan Tim Penguji Skripsi. Surabaya, 02 Februari 2016

Mengesahkan,

Abdullah SITar S.As. NI.Fill.I

NtP. 1965 12171997A31 002

Penguji Ii,

PendiilV

/ln$

u(ur/u

froini, ma

NrP. 1 9780 4022A08A 12026

Negeri Sunan Ampel Surabaya ivah dan Komunikasi

r. Suhartini. M

9s801131982032001

Bachtiar. M"Fil.I

1y69t219200901 1 002

h


(4)

SKRIPSI 3

t

n i i i ah i rrahmanirrahim

}':ng bertanda tangan dibawah ini, saya :

\irla

Nf\{

.:n-r-can

{arnat

: Amiruddin Muhammad

: B01211007

: Komunikasi Penyiaran Islam

:

Jl.

Kuncoro RT 05 RW 02 Desa Klurak, Kecamatan Candi,

Kabupaten Sidoarjo

llenvatakan dengan sesungguhnya bahwa :

I ) Skripsi yang berjudul "Dakwah Pembentukan Pribadi Tawakkal Nielalui

Pendalaman Terapi Shalat Bahagia (PTSB)" tidak pernah cikumpulkan

kepada lembaga pendidikan tinggi dan akademik manapun untuk

mendapatkan gelar S.L

2) Skripsi

ini

benar-benar hasil karya saya secara mandiri bukan merupakan

hasil plagiasi atas karya orang lain.

3) Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini sebagai hasil piagiasi, maka saya bersedia menanggung segala konsekuensi yang di

berlakukan.

Surabaya, 22 J anuai 207 6

Amrruddin Muhammad


(5)

ABSTRAK

Nama : Amiruddin Muhammad Fak / Jurusan : Dakwah / Komunikasi dan Penyiaran IslamNIM : B01211007 Perguruan Tinggi : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Judul Skripsi : Metode Pembentukan Pribadi Tawakkal Melalui Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB).

Keywords :

Tawakkal dan PTSB

Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif sedangkan untuk mengungkap metode dakwah Prof. Dr. Moh Ali Aziz, M.Ag, maka penulis menggunakan instrument penelitian antara lain : instrument pengumpulan dan penemuan informan. Sedangkan proses pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik yaitu : teknik observasi, teknik wawancara bebas mendalam, teknik analisa data dan teknik keabsahan data.

Peneliti mempergunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif studi kasus. Hal ini bertujuan untuk memaparkan suatu persoalan secara jelas dan akurat, sesuai dengan fakta yang ada dilapangan. Dalam penelitian ini yang menjadi rumusan masalah ialah, Bagaimana metode yang dilakukan Prof. Moh. Ali Aziz, M.Ag dalam membentuk pribadi tawakkal melalui Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) kepada peserta / mad’u ?. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis komparatif konstan atau analisis data dengan metode perbandingan tetap. Kemudian untuk keabsahan data penulis tempuh dengan ketekunan pengamatan, triagulasi, pemeriksaan sejawat melalui diskusi, kecukupan referensi

Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa dalam pelatihan PTSB mengkaitkan beberapa metode sehingga diperoleh; bahwa pada awalnya, materi pelatihan PTSB disampaikan dengan metode menggunakan metode, Ceramah, tanya jawab (diskusi), demonstrasi dan praktek shalat, menyapa pada peserta PTSB kemudian dilakukan secara mendalam dengan cara betanya pada pada peserta PTSB seperti; penyakit dan semacam masalah lalu melakukan asumsi untuk merubah pola berfikir yang mengarah pada tawakkal misal; untuk tidak mengeluh dan diakhiri praktek melalui pelatihan terapi shalat bahagia (PTSB).

Rekomendasi untuk peneliti yang akan datang adalah peneliti selanjutnya untuk dapat lebih memperdalam hasil penelitian ini. Karena peneliti menyadari sepenuhnya bahwa hasil dari penelitian ini masih jauh dari sempurna.


(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN PERTANGGUNG JAWABAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ………. 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Konsep ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II KEPUSTAKAAN A. Kajian Pustaka ... 13

1. Metode Dakwah ... 13

2. Pembentukan Pribadi ... 21


(7)

B. Kerangka Teoretik ... 33

C. Penelitian Terdahulu yang Relevan ... 41

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 44

B. Subjek & Objek Penelitian ... 47

C. Jenis Dan Sumber Data ... 48

D. Tahap-Tahap Penelitian ... 51

E. Teknik Pengumpulan Data ... 55

F. Teknik Analisis Data ... 60

G. Teknik Keabsahan Data ... 63

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Setting Penelitian ... 67

1. Biografi Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag. ... 67

2. Pandangan Masyarakat Terhadap Prof. Dr .H. Moh Ali Aziz, M.Ag ... 69

B. Penyajian Data ... 70

1. Pengalaman Prof.Dr.H. Moh Ali Aziz, M.Ag di ciptanya PTSB 70 2. Pelatihan Terapi Shalat Bahagia ... 71

3. Kata Kunci pada PTSB ... 74

4. Deskriptif Pelatihan Terapi Shalat Bahagia ... 83

5. Wawancara dengan Peserta PTSB ... 88

C. Analisis Data ... 93

a. Tawakkal menurut Prof. Moh Ali Aziz, M.Ag ... 93


(8)

c. Tawakkal yang Istiqomah ... 99 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 101 B. Saran ... 102 DAFTAR PUSTAKA

DOKUMENTASI Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) LAMPIRAN-LAMPIRAN


(9)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di dalam dunia ini kita sebagai manusia makhluk Allah yang paling mulia di antara penciptaannya, maka di setiap yang berhubungan dengan kehidupan kita seperti, sholat kita, ibadah kita, hidup dan mati kita, itu semua secara hakikinya diperuntukkan semata-mata karena Allah SWT. Dengan demikian di dalam segala sikap kita berbicara, diam, marah, mencintai, membenci, memberi, menahan, berdamai, dan semua aktivitas kita semua karena Allah semata dan tidak ada tempat lagi selain Allah. Maka dari itu kita diharapkan bertawakkal, karena tawakkal itu termasuk pekerjaan hati, terpaut di dalam hati dalam menghadapi sesuatu persolan atau pekerjaan, dimana manusia merasa bahwa dengan kekuatan sendiri tidak akan sanggup menghadapinya tanpa bersandar kepada kekuatan Allah.1

Tawakal merupakan kesadaran bahwa kehidupan ini dikendalikan oleh Allah. Dengan perasaan ini, hubungan seseorang dengan Tuhannya menjadi menjadi lebih mendalam, dan ketundukan kepadaNya semakin tampak.

1

Hamzah Yaqub, Tingkat ketenangan dan kebahagiaan mukmin (Jakarta :Atisa, 1992), h. 247


(10)

Tawakkal adalah salah satu ibadah hati yang paling utama dan salah satu dari berbagai akhlak iman yang agung atau dengan kata lain memohon pertolongan.2

Sebagaimana yang dikatakan Ghazali, “tawakal berarti penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu tidak keluar dari ilmu dan kekuasaanNya, sedangkan selain Allah tidak dapat

membahayakan dan tidak dapat memberi manfa’at.3

Tawakkal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan umum kebergantungannya kepada Asmaul Husna. Tawakal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dan sifat-sifat Allah. Semua sifat Allah dijadikan gantungan tawakal. Maka siapa yang lebih banyak

ma’rifatnya tentang Allah, maka tawakalnya juga lebih kuat.4

Banyak perintah Allah dalam AL-Qur’an dan Hadits yang berkenaan dengan perintah untuk bertawakkal karena dalam tawakkal terkandung makna kesadaran hamba akan batas-batas kemampuan dan keinginan dirinya dan kesadaran akan ruang yang luas tanpa batas bagi kehendak dan kekuasaanNya.5

Seperti dalam surah Ali Imron ayat 159:

َنِلِّكَوَ تُمْلا بُُِ َّلا نِإ ِّلا ىَلَع ْلكَوَ تَ ف َتْمَزَع اَذِإَف ِرْمَأا ِِ ْمُْرِواَشَو

٩٥١

-

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.

2

Yusuf Al Qardhawy, Tawakkal (Jakarta : Pustaka Al Kautsar, 1995), h. 17 3

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Muhtashar Ihya Ulum al Din, Terj. Moh. Solihin (Jakarta: Pusataka Amani, 1995), h. 290

4

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Pendakian Menuju Allah Penjabaran Konkrit Iyyaka

Na;budu wa Iyyaka Nasta’in, Terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2003), h. 195 5

Muhammad AL Ghazali, Selalu Melibatkan Allah : Sehat Spiritual, Sukses Sosial


(11)

Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal” (Qs. Ali Imron [03] :

159). 6

Tawakkal memiliki arti menyerahkan, mempercayakan, dan mewakilkan. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah SWT tidak akan berkeluh kesah dan gelisah. Ia akan selalu berada dalam ketenangan, ketentraman dan kegembiraan. Jika ia memperoleh nikmat dan karunia dari Allah Swt, ia akan bersyukur, dan jika tidak atau kemudian misalnya mendapatkan musibah, ia akan bersabar. Ia menyerahkan semua keputusan, bahkan dirinya sendiri kepada Allah Swt. Penyerahan diri itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata karena Allah Swt.

Tawakal adalah separuh agama. Oleh sebab itu, orang-orang biasa mengucapkan dalam sholat kalimat “Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’iin” (hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan). Manusia memohon pertolongan kepada Allah dengan menyadarkan hati kepadaNya dan yakin bahwasanya Dia akan membantu hambaNya dalam beribadah kepadaNya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam bukunya Pendakian Menuju Allah

Penjabaran Konkrit “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’iin” menyebutkan

betapa perlu dan pentingnya tawakkal dalam kehidupan. Beliau juga meyebutkan perkara-perkara yang mengarahkan pada sikap tawakkal kepada Allah. Salah satunya adalah dengan menyandarkan hati kepada Allah dan merasa tenang karena bergantung kepadaNya sehingga di dalam

6


(12)

hati tidak ada kegelisahan saat melepaskan apa yang disukai dan saat menghadapi apa yang dibenci.7

Dan beberapa perkara lainnya dengan konsep yang indah dan menarik. Manusia adalah mahluk yang paling sempurna diantara mahluk Tuhan yang lain. Kesempurnaan manusia tidak lepas dari peran cipta, rasa,

karsa, sehingga manusia mampu merubah dunia menjadi “Surga”.

Dibalik kesempurnaan itu manusia mempunyai kelemahan. Oleh karena keterbatasannya itulah, manusia membutuhkan pertolongan dan komunikasi dengan Tuhan. Komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan dengan ritual keagamaan. Maka tidak salah apabila Karl Marx mengatakan bahwa “Agama” adalah candu.

Manusia tidak akan lepas dari sebuah masalah. Dalam kehidupan selain

ikhtiar dan do’a puncak dari segalanya bertumpu pada tawakkal. Pentingnya

tawakkal dalam kehidupan tidak bisa disampaikan melalui khutbah atau ceramah para pendakwah.

Namun bisa juga disampaikan melalui sholat. Sholat merupakan rangkaian ibadah yang memiliki keteraturan yang sangat istimewa. Bagi setiap muslim, sholat adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan sesuai

dengan petunjuk Al Qur’an dan Sunnah.8

Sholat secara harfiyah, berarti do’a. sholat dalam konteks ini adalah

do’a yang disampaikan dengan tata cara syarat dan rukun yang khas dalam

bentuk bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan tertentu.

7

Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Pendakian Menuju Allah Penjabaran Konkrit Iyyaka

Na;budu wa Iyyaka Nasta’in, Terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 1998), h. 193 8

Lukman Hakim Saktiawan, Keajaiban Sholat Menurut Ilmu Kesehatan CIn (Bandung : PT Mizn Pustaka, 2007), h. 1


(13)

Ash-sholawat al –qoo’imah (sholat yang didirikan) dalam bahasa syariyah terdiri dari 5 waktu dan berbagai sholat Sunnah. Kata “Sholat” juga memiliki akar kata yang sama dengan memiliki hubungan makna dengan kata shilah yang bermakna hubungan. (contohnya, “shilah al-rahim”

bermakna silaturrahmi atau hubungan kasih sayang).

Kata shilah bermakna medium hubungan manusia dengan Allah. Sholat dalam sebuah hadits disebutkan “mi’raj-nya orang-orang beriman. Dengan kata lain, sebagaimana Rasulullah bertemu dengan Allah SWT.

Ketika mi’raj, orang beriman dapat bertemu dengan-Nya melalui shalat.9

H. M. Hembing, dalam bukunya Hikmah Shalat untuk Pengobatan dan Kesehatan dijelaskan bahwa Allah SWT telah banyak menegaskan dalam firman-firman Allah bahwa shalat adalah merupakan “kunci” untuk kebahagiaan hidup manusia di dunia ini.

Seperti ditegaskan dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-2 yang artinya:

“Sesungguhnya berbahagialah orang-orang mu’min, yaitu mereka yang

khusyuk di dalam shalatnya”. Hal ini memberi pengertian, bahwa shalat

mempunyai hakikat yang sangat istimewa.10

Ibadah ini di dalamnya berlangsung komunikasi ruhiah antara Muslim dan Penciptanya secara langsung tanpa tabir apapun, suatu bentuk dialog antara ruh yang menempati jasmani dan Zat yang Maha Tinggi. Setiap yang menyadari rahasia shalat merasakan hubungan harmonis ini sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi, sama halnya dengan makan. Setiap manusia butuh makan untuk memfungsikan semua organ di dalam diri

9

Haidar Bagir, Buat Apa Shalat?!, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), hal. 3-4 10

H. M. Hembing, Hikmah Shalat untuk Pengobatan dan Kesehatan, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1997), hal. 115


(14)

jasmaniah. Begitu juga halnya dengan shalat yang memberikan “makanan” yang dibutuhkan manusia untuk memfungsikan “organ-ruhiah’.11

Shalat bukan semata-mata gerakan yang harus dilakukan, tetapi juga ruh yang hidup dari sejak pelaksanaannya hingga sehari penuh.12 Jika dihayati shalat memainkan peran penting dalam tubuh kita terutama dalam hal kesehatan baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani.

Beberapa pengertian mengenai shalat tersebut Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag sebagai konselor dan pendakwah mengartikan bahwa shalat dapat dijadikan sebuah terapi untuk mengatasi masalah-masalah jika shalat disertai dengan kepasrahan total, peshalat merasakan kehadiran Allah SWT yang mengambil alih semua masalah yang dihadapi. Emosi negatif bisa hilang dan berganti dengan energi positif.13

Jika seseorang tersebut sudah bisa melaksanakan shalat dengan khusyuk atau penuh dengan penghayatan maka mereka bisa merasakan betapa dahsyatnya hikmah dalam shalat. Sehingga, mereka bahagia dan ketagihan dalam melaksanakan shalat. Oleh sebab itulah, beliau

menamakannya dengan “Terapi Shalat Bahagia”.

Berangkat dari permaslahan tersebut, penulis tertarik untuk meneliti Tentang Metode Pembentukan Pribadi Tawakkal Melalui Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB ) karena penulis ingin mengetahui secara pasti

11

Lukman Hakim Saktiawan, Keajaiban Shalat Menurut Ilmu Kesehatan Cina, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), hal. 2

12

Muhammad Bahnasi, Shalat Sebagai Terapi Psikologi, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004), hal. 22

13

H. Moh. Ali Aziz, 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Surabaya Press, 2012), hal. 2


(15)

metode apakah yang dapat membentuk pribadi tawakkal melalui Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan fenomena sosial dakwah di atas, maka peneliti memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang masalah yang akan diangkat dalam penelitian yaitu; Bagaimana metode yang dilakukan Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag dalam membentuk pribadi tawakkal melalui Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) kepada peserta / mad’u ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini untuk Mengetahui dan Mendeskripsikan metode yang dilakukan Prof .Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag dalam membentuk pribadi tawakkal melalui Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan berdaya guna sebagai berikut :

1. Secara teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan khasanah keilmuan dan wawasan baru terhadap pengembangan ilmu utamanya di bidang penelitian Ilmu Dakwah, secara khusus di bidang kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam.


(16)

a. Bagi Peneliti

Dengan penilitian ini, sangat besar harapan dapat mengetahui dan memahami tentang cara membentuk tawakkal melalui PTSB (Pelatihan Terapi Sholat Bahagia).Dengan begitu hasil penelitian ini bisa menjadi bahan acuan pembelajaran bagi penulis agar dapat mengamalkannya.

b. Bagi Akademis

Diharapkan dapat menjadi salah satu bahan (referensi) bagi para pecinta ilmu pengetahuan khususnya di bidang komunikasi dan penyiaran, juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran demi kepentingan dakwah.

E. Definisi Konsep

Untuk menghindari kemungkinan adanya kesalahfahaman dalam memahami penelitian ini dan guna mempermudah memahaminya, berikut ini adalah konsepsi secara teoritis maupun praktis istilah yang dijadikan judul dalam penelitian ini yaitu :

1. Metode Dakwah

Metode adalah suatu cara atau jalan dengan sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan sehingga tujuan tersebut dapat diperoleh dengan semaksimal mungkin. Sedangkan arti dakwah adalah mengajak manusia untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jadi dapat disimpulkan metode dakwah adalah cara-cara dakwah yang dipergunakan seorang da’i


(17)

(komunikator) kepada mad’u (komunikan) untuk suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.14

2. Pembentukan Kepribadian

Kepribadian berasal dari bahasa Inggris yaitu personality, Belanda (personalita), dan Spanyol (personalidad). Sedangkan akar katanya berasal dari bahasa latin yaitu persona yang berarti topeng, maksudnya topeng yang di pakai actor.15 Sedangkan kepribadian menurut psikologi diartikan sebagagi suatu organisasi yang dinamis dari system psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas, menurut Allport system psikofisik disini berarti jiwa dan raga.16

Sejak dini stiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda namun kepribadian tersebut juga bisa dibentuk secara alami dengan berbagai proses dan cara. Adapun dalam penelitian ini, pembentukan yang dibahas yaitu pembentukan pribadi tawakal. Dalam hal ini, penceramah bukan hanya sekedar berdiri di atas mimbar namun dengan melakukan pelatihan melalui sholat yang tidak asing lagi di dengar yaitu Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB).

3. Tawakkal

Tawakal adalah landasan atau tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. Baru berserah diri kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar.

14

Toto Tasmara, Komuniasi Dakwah, Cetakan 1 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 43

15

Hamim Rosyidi, Hand out psikologi kepribadian I, Surabaya: IAIN Suanan Ampel, 2010,hal.1 16


(18)

Itulah sebabnya meskipun tawakkal diartikan sebagai penyerahan diri dan ikhtiar sepenuhnya kepada Allah Swt, namun tidak berarti orang yang bertawakkal harus meninggalkan semua usaha dan ikhtiar. Menurut Amin Syukur, keliru apabila orang yang menganggap tawakkal dengan memasrahkan segalanya kepada Allah Swt tanpa diiringi dengan usaha maksimal.17 Usaha dan ikhtiar itu harus dilakukan, sedangkan keputusan terakhir diserahkan kepada Allah Swt.

Sedangakan tawakkal dalam penelitian ini adalah tawakkal yang berupa mengetahui dan meyakini sifat dan kuasa Allah, memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha, memantapkan hati dalam mengesakan Allah, berbaik sangka kepada Allah Swt, menyerahkan hati dan pasrah kepada Allah Swt melalui PTSB (Pelatihan Terapi Sholat Bahagia).

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan merupakan urutan sekaligus kerangka berpikir dalam penulisan skripsi, untuk lebih mudah memahami penulisan skripsi ini, maka disusunlah sistematika pembahasan, antara lain:

Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep dan sistematika pembahasan.

17


(19)

Bab II merupakan bab kajiaan kepustakaan yang berisikan tentang penelusuran literatur yaitu tentang penelitian terdahulu yang relevan, landasan teori yang terdiri dari metode, tawakkal, PTSB (Pelatihan Terapi Sholat Bahagia). Dalam penelitian kualitatif kajian kepustakaan diarahkan pada penyajian informasi terkait yang mendukung gambaran umum tentang fokus penelitian.

Bab III merupakan bab metode penelitian yang berisi uraian secara rinci tentang metode dan langkah-langkah penelitian yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, jenis dan sumber data, unit analisis, tahapan penelitian, teknik pengumpulan, teknik analisis data.

Bab IV merupakan bab penyajian data dan temuan penelitian yang berisi tentang hasil yang di dapat selama penelitian. Pemaparan berisi deskripsi objek penelitian, data dan fakta subyek yang terkait dengan rumusan masalah, Hal ini akan dijelaskan dengan secukupnya agar pembaca mengetahui hal-ikhwal sasaran penelitian.

Bab V menjelaskan bab penutupan yang berisikan kesimpulan yang merupakan jawaban langsung dari permasalahan, saran-saran dan penutup. Yang perlu diingat bahwa kesimpulan harus sinkron dengan rumusan masalah, baik dalam hal urutan ataupun jumlahnya.


(20)

BAB II KEPUSTAKAAN

A. Kajian Pustaka

Metode sangat erat kaitannya dengan dakwah, karena metode merupakan suatu cara yang di gunakan dalam berdakwah. Dalam berdakwah

seorang da’i haruslah memperhatikan dan memahami tentang metode apa

yang harus digunakan sehingga dakwahnyapun bisa terlaksana sesuai tujuan yang ingin dicapai.

1. Metode Dakwah

Sebelum berbicara metode dakwah terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian dari metode. Secara etimologi, istilah metodelogi berasal dari Bahasa Yunani yakni dari kata “metados” yang berarti cara atau jalan dan

“logos” yang berarti ilmu. Sedangkan secara semantik metodelogi adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien. Efektif artinya antara biaya, tenaga dan waktu seimbang. Dan efesien artinya suatu yang berkenaan dengan pencapaian suatu hasil.1

Dari pengertian di atas penulis mengambil kesimpulan bahwa pengertian metode adalah suatu cara atau jalan dengan sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan sehingga tujuan tersebut dapat diperoleh dengan semaksimal mungkin.

1


(21)

Sedangkan arti dakwah menurut pandangan beberapa pakar ilmuan adalah sebagai berikut :

a. Pendapat Bakhial Khauli, dakwah adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari satu keadaan kepada keadaan yang lain.2

b. Pendapat Masdar Helmy, dakwah adalah mengajak dan menggerakkan manusia agar mentaati ajaran-ajaran Allah, termasuk amar ma’ruf nahi mungkar untuk bisa memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana uraian di atas bahwa metode adalah suatu cara atau jalan yang sistematis untuk mencapai suatu tujuan dan dakwah adalah mengajak manusia untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jadi dapat disimpulkan metode dakwah adalah cara-cara dakwah yang dipergunakan seorang da’i (komunikator) kepada mad’u (komunikan) untuk suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang.3

Metode dakwah merupakan cara atau jalan yang ditempuh oleh pendakwah dalam mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang berbuat jelek agar mendapat kebahagiaan dunia akhirat.

Menurut beberapa ahli metode dakwah yaitu :

2

Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah (Malasya: Nur Niaga SDN, BHD. 1996), h.5

3

Toto Tasmara, Komuniasi Dakwah, Cetakan 1 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 43


(22)

a Raifuddin, metode dakwah yaitu cara berdakwah yang tepat sehingga materi dakwah dapat diterima objek dakwah.4

b. Al-Bayanuny mengemukakan definisi metode dakwah sebagai cara yang ditempuh oleh pendakwah dalam berdakwah atau cara menerapkan strategi dakwah.

c. Said bin Ali al-Qathani membuat definisi metode dakwah sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana cara berkomunikasi secara langsung dan mengatasi kendala-kendalanya.5

d. Dr. Abdul Karim Zaidan, metode dakwah yaitu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara penyampaian dan berusaha menyelamatkan yang merintangi.6

Dari beberapa definisi tersebut, setidaknya ada tiga karakter yang melekat dalam metode dakwah, antara lain:

1) Metode dakwah merupakan cara-cara yang sistematis yang menjelaskan arah strategi dakwah yang telah ditetapkan. Ia bagian dari strategi dakwah.

2) Karena menjadi bagian dari strategi dakwah yang masih berupa konseptual, metode dakwah bersifat lebih konkrit dan praktis. Ia harus dapat dilaksanakan dengan mudah.

3) Arah metode dakwah tidak hanya meningkatkan efektivitas dakwah, melainkan pula bisa menghilangkan hambatan-hambatan dakwah. Setiap

4

Raifuddin, Prinsip dan Strategi Dakwah, Cetakan 1 (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 48

5

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dawah, Cetakan II (Jakarta: Kencana, 2009), h. 357 6


(23)

strategi memiliki keunggulan dan kelemahan. Metodenya berupaya menggerakkan keunggulan tersebut dan memperkecil kelemahannya.7

Metode sangatlah penting untuk mengantarkan kita kepada tujuan yang akan dicapai.8Dengan itu para da’i harus benar-benar memperhatikan metode apa yang digunakan dalam dakwahnya.

Pada prinsipnya metode berpijak pada dua aktivitas yaitu aktivitas dengan lisan atau tulisan dan aktivitas badan. Aktivitas lisan dalam menyampaikan pesan dakwah berupa metode caramah, diskusi, dialog,

majlis ta’lim, peringatan dan lain-lain. Aktivitas tulisan dalam

menyampaikan pesan dakwah melalui berbagai media cetak (buku, majalah, koran, pamlet, dan lain-lain). Sedangkan aktivitas badan dalam menyampaikan pesan dakwah dapat berupa berbagai amal sholeh dan memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari, contohnya membuang sampah pada tempatnya, secara tidak langsung, demikian itu memberi contoh dan berdakwah tentang menjaga kebersihan dan lain-lain.

Pedoman dasar atau prinsip penggunaan metode dakwah Islam sudah termaktub dalam Al-Qur’an dan Al Hadits Rasulullah saw. Dalam Al

-Qur’an prinsip ini disebutkan dalam surat An Nahl ayat 125, yang berisi

tentang seruan untuk mengajak kepada Agama Tuhan dengan cara yang bijaksana, nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik.9

Pada garis besarnya, bentuk dakwah ada tiga, yaitu: dakwah lisan (dakwah bil lisan), dakwah tulis (dakwah bil qalam),

7

Moh. Ali Aziz, Ilmu Dawah, Cetakan II (Jakarta: Kencana, 2009), h. 357-358. 8

Abdul Kadir Munsyi, Metode Diskusi Dalam Dakwah (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981), h. 29

9

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983), h. 101-102


(24)

dan dakwah tindakan (dakwah bil hal). Berdasarkan ketiga bentuk tersebut maka metode dakwah dapat diklasifikasi sebagai berikut:

a. Metode Ceramah

Metode ceramah atau pidato ini telah dipakai oleh semua Rasul Allah dalam menyampaikan ajaran Allah SWT. Sampai sekarang pun masih merupakan metode yang paling sering digunakan oleh para pendakwah sekalipun alat komunikasi modern terlah tersedia. Metode ini disebut public speaking (berbicara di depan publik). Sifat komunikasinya lebih banyak searah (monolog) dari pendakwah ke audiens, sekalipun diselingi atau diakhiri dengan komunikasi dua arah (dialog) dalam bentuk tanya jawab. Umumnya pesan-pesan dakwah yang disampaikan dengan ceramah bersifat ringan, informative dan mengundang perdebatan. Dialog yang dilakukan juga terbatas pada pertanyaan, bukan sanggahan. Penceramah diperlukan sebagai pemegang otoritas informasi keagamaan kepada audiens.

Metode ceramah adalah suatu teknik atau metode dakwah yang banyak di warnai oleh ciri karakteristik bicara oleh seorang da’i / mubaligh pada suatu aktivitas dakwah. Ceramah dapat pula bersifat propaganda, kampanye, berpidato, khutbah, sambutan, mengajar dan sebagainya.10 Metode ini dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian, penjelasan, tentang sesuatu masalah dihadapan orang banyak. Dengan kata lain,

10


(25)

metode ceramah adalah suatu bentuk ceramah atau penyampaian pesan dakwah yang bertujuan untuk memberikan nasihat dan petunjuk-petunjuk.

Adapun Menurut Abdul Kadir Munsyi mengemukakan bahwa metode ceramah, akan berhasil dengan baik jika memperhatikan prinsip-prinsip berikut :

1) Menguasai bahasa yang akan disampaikan sebaik-baiknya dengan menghubungkan dengan situasi kehidupan sehari-hari.

2) Menyesuaikan dengan kejiwaan, lingkungan sosial dan budaya para pendengar.

3) Suara dan bahasa diatur dengan sebaik-baiknya, meliputi ucapan, tempo, melodi ritme dan dinamika.

4) Sikap dan cara berdiri, duduk dan bicara secara simpatik.

5) Mengadakan variasi dengan dialog dan tanya jawab serta sedikit humor.11 b. Metode Tanya Jawab ( Diskusi )

Metode tanya jawab merupakan suatu cara untuk menyajikan dakwah harus digunakan dengan mentode dakwah yang lainnya, seperti metode ceramah. Metode ini dipandang cukup efektif apabila ditempatkan dalam usaha dakwah, karena objek dakwah dapat mengajukan pertanyaa-pertanyaan yang belum dikuasai oleh mad’u sehingga akan terjadi hubungan timbal balik antara subjek dakwah dengan objek dakwah. Abdul kadir Munsyi mengartikan diskusi dengan perbincangan suatu masalah di dalam sebuah pertemuan dengan jalan pertukaran pendapat di antara beberapa orang.12

11

Abdul Kadir Munsyi, Metode Diskusi dalam Dakwah (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981) h. 25 12


(26)

Metode ini dimaksudkan untuk mendorong mitra dakwah berfikir dan mengeluarkan pendapatnya serta ikut menyumbangkan dalam suatu masalah agama yang terkandung banyak kemungkinan-kemungkinan jawaban. Dapat disimpulkan bahwa metode dakwah melalui diskusi adalah berdakwah dengan cara bertukar pikiran tentang suatu masalah keagamaan sebagai pesan dakwah antar beberapa orang dalam tempat tertentu.

c. Metode Demontrasi

Berdakwah dengan cara memperlihatkan suatu contoh, baik berupa benda, peristiwa, perbuatan dan sebagainya dapat dinamakan bahwa seorang da’i yang bersangkutan menggunakan metode demontrasi. Artinya suatu metode

dakwah, di mana seorang da’i memperlihatkan sesuatu atau mementaskan

suatu terhadap sasarannya (massa), dalam rangka mencapai tujuan dakwah yang ia inginkan.13

d. Metode Konseling

Konseling adalah pertalian timbal balik diantara dua orang individu di mana seorang (konselor) berusaha membantu yang lain (klien) untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam hubungannya dengan maslah-masalah yang dihadapinya pada saat ini dan pada waktu yang akan datang. Metode konseling merupakan wawancara secara individual dan tatap muka antara konselor sebagai pendakwah dan klien sebagai mitra dakwah untuk memecahkan masalah.

13

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983), h. 145-146


(27)

Metode konseling dalam dakwah diperlukan mengingat banyak masalah yang terkait dengan keimanan dan pengalaman keagamaan yang tidak bisa diselesaikan dengan metode ceramah ataupun diskusi.

e. Metode Karya Tulis

Metode ini termasuk dalam kategori dakwah bi al-qolam (dakwah dengan karya tulis). Tanpa tulisan, peradaban dunia akan lenyap dan punah. Kita bisa memahami Al-Qur’an, hadits, fikih para Imam Mazhab dari tulisan yang dipublikasikan. Tulisan yang terpublikasi bermacam-macam bentuknya, antara lain: tulisan ilmiah, tulisan lepas, tulisan stiker, tulisan spanduk, tulisan sastra, tulisan berita dan lain sebagainya. Metode karya tulis merupakan buah dari keterampilan tangan dalam menyampaikan pesan dakwah.

f. Metode Pemberdayaan Masyarakat

Salah satu metode dalam dakwah bi al-hal (dakwah dengan aksi nyata) adalah metode pemberdayaan masyarakat, yaitu dakwah dengan upaya untuk membangun daya, dengan cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya dengan dilandasi proses kemandirian.14

2. Pembentukkan Pribadi a. Pengertian

Kepribadian berasal dari bahasa Inggris yaitu personality, Belanda (personalita), dan Spanyol (personalidad). Sedangkan akar katanya berasal dari bahasa latin yaitu persona yang berarti topeng, maksudnya topeng yang

14


(28)

di pakai actor.15 Sedangkan kepribadian menurut psikologi diartikan sebagagi suatu organisasi yang dinamis dari system psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas, menurut Allport system psikofisik disini berarti jiwa dan raga.16

Adapun menurut beberapa pendapat adalah sebagai berikut : 1) Alfred Adler

Kepribadian adalah gaya hidup individu cara yang karakteristik mereaksinya seseorang terhadap masalah-masalah hidup termasuk tujuan hidup.

2) Raimond Bernad Cattel

Kepribadian adalah sesuatu yang memungkinkan unntuk memprediksi tentang apa yang dikerjakan seseorang dalam sesuatu tertentu, mencakup semua tingkah laku individu baik yang terbuka (lahiriyah) maupun yang tersembunyi.17

3) Sigmund Freud

Kepribadian adalah integerasi id (dorongan biologis), ego (menimbang) dan super ego (norma social/ lingkungan).

4) Carl Gustav Jung

Kepribadian adalah integrasi dari ego, ketidaksadaran pribadi, ketidaksadaran kolektif, kompleks - kompleks, arkhetib - arkhetib, persona dan anima.18 Dari definisi diatas dapat dirumuskan bahwa unsur-unsur pokok dalam kepribadian adalah; organisasi, dinamis, psikofisik, menentukan (khas) dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan.

15

Hamim Rosyidi, Hand out psikologi kepribadian I, Surabaya: IAIN Suanan Ampel, 2010,hal.1 16

E. Koeswara, teori-teori kepribadian, Bandung:Eresco, 1991, hal. 10-11 17

Calvin S. Hall and Gardner Lienzey, Teori Holistik Organismik Fenomenologis, Yustinus, terj. Theoris of Personality, Yogyakarta: Kanisius. 1993, hal. 25

18


(29)

Adapun berbagai teori kepribadian dari para pakar seperti Sigmund freud dengan teori kepribadian psikoanalisa klasik, Alfred Adler dengan teori kepribadian struktur keluarga, Carl Gustav Jung dengan kepribadian Analitik, Erik H Erikson dengan psikoalatilik kontemporer dan Erich Fromim dengan teori kepribadian social. Dalam penelitian ini peneliti menemukan pakar dengan teorinya yang cocok dengan penelitian ini oleh : Harry Stack Sullivan dengan Teori Psikiatri Interpesonal.

1. Teori Kepribadian Harry Stack Sullivan

Menurut Harry Stack Sullivan, kepribadian adalah pola yang relatif menetap situasi-situasi antar pribadi yang berulang, yang menjadi ciri kehidupan manusia. Sullivan tidak menyangkal pentingnya hereditas dan pematangan dalam membentuk dan membbangun kepribadian, namun ia berpendapat bahwaa apa yang khas manusiawi adalah interaksi social. Pengalaman hubungan antar pribadi telah mengubah fungsi fisiologis organisme menjadi organisme sosial.

2. Psikiatri Interpersonal

Seiring dengan penelitiannya Sullivan meletakkan dasar untuk memahami individu berdasrkan jaringan hubungan di mana dia atau dia terlibat. Ia mengembangkan teori psikiatri di dasarkan pada hubungan interpersonal.19 Daalam kata-katanya, seseorang harus membayar perhatian pada “interaksional”, bukan “intrapsikis”. Ini mencari kepuasan melalui keterlibatan pribadi dengan orang lain dipimpin Sullivan untuk mencirikan

19Rioch DM, “

Kenangan tenteang Harry Stack Sullivan dan pengembangan psikiatriinterpersonal


(30)

kesepian sebagai yang paling menyakitkan dari pengalaman manusia. Dia juga memperpanjang psikoanalisis Freudian untuk perawatan pasien dengan gangguan mental yang berat, terutama skizofrenia.

3. Struktur Kepribadian Teori Sullivan

Meskipun Sullivan memandang tegas sifat dinamis kepribadian, namun menurutnya ada beberapa aspek kepribadian yang nyata-nyata stabil dalam waktu yang lama seperti :

a) Dinamisme (The Dynamism)

Dinamisme adalah pola khas tingkah laku (transformasi energy, baik terbuka maupun tersembunyi) yag menetap dan berulang terjadi yang menjadi ciri khusus seseorang. Dinamisme yang melayani kebutuhan kepuasan organisme melibatkan bagian tubuh, yakni alat reseptor, efektor dan sistem syaraf. Misalnya, dinamisme makan melibatkan otot mulut dan leher.

b) Personifikasi (Pesonnification)

Personifikasi adalah suatu gambaran mengenai diri atau orang lain yang dibangun berdasarkan pengalaman yang menimbulkan kepuasan atau kecemasan.

Hubungan yang memberi kepuasan akan membangkitkan image positif, sebaliknya jika melibatkan kecemasan akan membangkitkan image negatif. c) Sistem Self (Self-System)


(31)

Sistem self adalah pola tingkah laku yang konsisten yang mempertahankan keamanan interpersonal dengan menghindari atau mengecilkan kecemasan.20

4. Aplikasi Teori terdapat dua macam yakni : a. Gangguan Mental

Menurut Sullivan, semua gangguan mental berasal dari cacat hubungan interpersonal dan hanya di pahami melalui referensi lingkungan sosial seseorang itu.

b. Psikoterapi

Umumnya terapi model Sullivan mula-mula berusaha untuk mengungkapkan kesulitan klien dalam berhubungan orang lain dan berusaha mengganti motivasi disjungtif (berpisah) dengan motivasi konjungtif (bergabung). Motivasi konjungtif menyatakan kepribadaian dan membuat klien bisa memuaskan kebutuhan dan meningkatkan perasaan amannya. Sullivan membagi interview dalam empat tahapan; pembukaan (formal inception), pengamatan (reconnaissance), pertanyaan detail (detailed in khuiry), dan pemberhentian (termination).21

5. Relevansi dengan Al-qur’an

Terapi penanggulangan stress, sebagaiamana yang terdapat dalam firman Allah Surat Yunus ayat 57 :

“Hai manusia, sesungguhnya telah dating kepadamu pelajaran dari

Tuhanmu dan penymbuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Yusuf [12]

20

Hamim Rosyidi, Psikologi Kepribadian, , (Jl. Jemur Wonosari lebar 61, Surabaya : Jaudar Press, 2012), h. 59-61

21


(32)

: 57). 22

Perhatian ilmuan dibidang kedokteran umumnya dan kedokteran jiwa (psikiatri) khususnya terhadap agama semakinn besar. Tindakan kedokteran tidak selamanya berhasil, seorang ilmuan berkata : Dokter yang mengobati tetapi Tuhan yang menyembuhkan. Pendapat ilmuan tersebut sesuai dengan hadits Nabi SAW sebagaimana yanag diriwayatkan oleh muslim dan ahmad (dari jabir bin Abdullah r.a) sabdanya :

Setiap penyakit ada obatnya, jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu, akan sembuh”. (HR. Muslim dan Ahmad).23

3. Tawakal

Secara etimologi, kata tawakal dapat dijumpai dalam berbagai kamus dengan variasi sebagai berikut: dalam Kamus Al-Munawwir disebut

هل ىَلَع لَك َوَتَف (bertawakkal, pasrah kepada Allah).24 Dalam kamus Arab Indonesia karya Mahmud Yunus, ه ىلع لكّتا – لَك َوَت ( Menyerahkan diri, tawakal kepada Allah).25

Menurut terminologi, terdapat berbagai rumusan tentang tawakal, hal ini sebagaimana dikemukakan Hasyim Muhammad dalam bukunya yang

22

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: J-ART,2005), h.988 23

Ibid

24

Ahmad Warson Al Munawir, Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yokyakarta: Pustaka Progresif, 1997), h. 1579

25

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/ Penafsir Al-Qur’an, 1973), h. 506.


(33)

berjudul "Dialog Tasawuf dan Psikologi": Ada banyak pendapat mengenai tawakal. Antara lain pandangan yang menyatakan bahwa tawakal adalah memotong hubungan hati dengan selain Allah. Sahl bin Abdullah menggambarkan seorang yang tawakal di hadapan Allah adalah seperti orang mati di hadapan orang yang memandikan, yang dapat membalikkannya kemanapun ia mau. Menurutnya, tawakal adalah terputusnya kecenderungan hati kepada selain Allah.26

Beberapa definisi lain dapat dikemukakan di bawah ini :

a. Amin Syukur dalam bukunya yang berjudul " Pengantar Studi Islam" dengan singkat menyatakan, tawakal artinya memasrahkan diri kepada Allah.27

Dalam buku lainnya yang berjudul "Tasawuf Bagi Orang Awam"

merumuskan "tawakal" adalah membebaskan hati dari ketergantungan kepada selain Allah SWT, dan menyerahkan segala keputusan hanya kepada-Nya (QS. Hud/11:123).

b. Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal adalah pengendalan hati kepada Tuhan Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu tidak keluar dari ilmu dan kekuasaan-Nya, sedangkan selain Allah tidak dapat membahayakan dan tidak dapat memberinya manfaat.28

c. Menurut Muhammad bin Hasan asy-Syarif, tawakal adalah orang yang mengetahui bahwa hanya Allah penanggung rizkinya dan urusannya. Oleh

26

Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi (Yokyakarta: Pustaka Pelajar Kerjasama Walisongo, 2002), h. 45

27

Amin Syukur, Pengantar Studi Islam (Semarang: CV Bima Sejati, 2000), h. 173 28

Imam Al-Ghazali, Muhtasar Ihya Ulumuddin, Terj. Zaid Husein al-Hamid (Jakarta: Pustaka Amani,1995), h. 290.


(34)

karena itu ia bersandar kepada-Nya semata-mata dan tidak bertawakal kepada selain-Nya

d. Menurut TM. Hasbi Ash-Shiddieqy, tawakal adalah menyerahkan diri kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya.29

Dari beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa tawakal adalah penyerahan segala perkara, ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah Swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan kemaslahatan atau menolak kemadaratan.

Sedangakan tawakkal dalam penelitian ini adalah tawakkal yang berupa mengetahui dan meyakini sifat dan kuasa Allah SWT, dan memiliki keyakinan akan keharusan melakukan usaha, memantapkan hati dalam mengesakan Allah, berbaik sangka kepada Allah Swt, menyerahkan hati dan pasrah kepada Allah Swt melalui PTSB (Pelatihan Terapi Sholat Bahagia). 2) A. Macam-Macam Tawakal

Ditinjau dari sudut orang yang bersikap tawakal, tawakal itu dibagi menjadi dua bagian, yaitu: tawakal kepada Allah dan tawakal kepada selain Allah, dan pada masing-masing bagian ini terdapat beberapa macam tawakal:

1. Pertama Tawakal Kepada Allah

Sikap tawakal kepada Allah terdapat empat macam, yaitu:

(1) Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang Istiqamah serta dituntun dengan petunjuk Allah, serta bertauhid kepada Allah secara murni, dan konsisten terhadap agama Allah baik secara lahir maupun batin, tanpa

29


(35)

ada usaha untuk memberi pengaruh kepada orang lain, artinya sikap tawakal itu hanya bertujuan memperbaiki dirinya sendiri tanpa melihat pada orang lain.

(2) Tawakal kepada Allah dalam keadaan diri yang Istiqamah seperti disebutkan di atas, dan ditambah dengan tawakal kepada Allah SWT untuk menegakkan, memberantas bid'ah, memerangi orang-orang kafir dan munafik, serta memperhatikan kemaslahatan kaum muslim, memerintahkan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan memberi pengaruh pada orang lain untuk melakukan penyembahan hanya kepada Allah, ini adalah sikap tawakalnya para nabi dan sikap tawakal ini diwariskan oleh para ulama sesudah mereka, dan ini adalah sikap tawakal yang paling agung dan yang paling bermanfaat di antara sikap tawakal lainnya.

(3) Tawakal kepada Allah dalam hal mendapatkan kebutuhan seorang hamba dalam urusan duniawi-nya atau untuk mencegah dari sesuatu yang tidak diingini berupa musibah atau bencana, seperti orang yang bertawakal untuk mendapatkan rezeki atau kesehatan atau istri atau anak-anak atau mendapatkan kemenangan terhadap musuhnya dan lain-lain seperti ini, sikap tawakal ini dapat mendatangkan kecukupan bagi dirinya dalam urusan dunia serta tidak disertai kecukupan urusan akhirat,

kecuali jika ia meniatkan untuk meminta kecukupan akhirat dengan kecukupan dunia itu untuk taat kepada Allah SWT.


(36)

(4) Tawakal kepada Allah dalam berbuat haram dan menghindari diri dari perintah Allah.30

2. Tawakkal Kepada Selain Allah

Jenis tawakal ini terbagi menjadi dua bagian:

(1) Tawakal Syirik: yang terbagi menjadi dua macam pula :

a. Tawakal kepada selain Allah dalam urusan-urusan yang tidak bisa dilakukan kecuali Allah SWT. Seperti orang-orang yang bertawakal kepada orang-orang yang sudah mati serta para thagut (sesuatu yang disembah selain Allah) untuk meminta pertolongan mereka.

b. Tawakal yang berupa kemenangan, perlindungan, rezeki dan syafa'at, inilah yang dinamakan syirik yang paling besar, karena sesungguhnya urusan-urusan ini dan yang sejenisnya tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah SWT.31

Tawakal semacam ini dinamakan dengan tawakal tersembunyi, karena perbuatan seperti ini tak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang mempercayai bahwa sesungguhnya mayat ini memiliki kekuatan tersembunyi di alam ini, bagi mereka tak ada perbedaan apakah mayat ini berupa mayat seorang Nabi, atau seorang Wali atau thagut yang menjadi musuh Allah SWT.

c. Tawakal kepada selain Allah dalam urusan-urusan yang bisa dilakukan menurut dugaannya oleh yang ditawakalkannya. Ini adalah bagian dari syirik yang paling kecil. Yaitu seperti bertawakal kepada sebab-sebab

30

Abdullah Bin Umar Ad-Dumaji, Rahasia Tawakal Sebab dan Musibah, Terj

Kamaludin Sa’diatulharamaini (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000), h. 125 31


(37)

yang nyata dan biasa, seperti seseorang yang bertawakal kepada seseorang pemimpin atau raja yang mana Allah telah menjadikan di tangan pemimpin itu rezeki atau mencegah kejahatan dan hal-hal yang serupa itu lainnya, ini adalah syirik yang tersembunyi. Oleh karena itu dikatakan: Memperhatikan kepada sebab-sebab adalah perbuatan syirik dalam tauhid, karena amat kuatnya pautan hati serta sandaran hati kepada sebab-sebab itu.32

(2) Mewakilkan yang dibolehkan : Yaitu ia menyerahkan suatu urusan kepada seseorang yang mampu dikerjakannya, dengan demikian orang yang menyerahkan urusan itu (bertawakal) dapat tercapai beberapa keinginannya. Mewakilkan di sini berarti menyerahkan untuk dijaga seperti ungkapan: "Aku mewakilkan kepada Fulan, berarti: Aku menyerahkan urusan itu kepada Fulan untuk dijaga dengan baik. Mewakilkan menurut syari'at: seseorang menyerahkan urusannya kepada orang lain, untuk menggantikan kedudukannya secara mutlak atau pun terikat. Mewakilkan dengan maksud seperti ini dibolehkan menurut al-Qur'an, hadis dan ijma'.33

Tawakal merupakan tempat persinggahan yang paling luas dan menyeluruh, yang senantiasa ramai ditempati orang-orang yang singgah di sana, karena luasnya kaitan tawakal, banyaknya kebutuhan penghuni alam, keumuman tawakal, yang bisa disinggahi orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik dan orang jahat, termasuk pula burung, hewan liar dan binatang buas. Semua penduduk bumi dan langit berada dalam

32 Ibid 33


(38)

tawakal, sekalipun kaitan tawakal mereka berbeda-beda. Para wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang khusus bertawakal kepada Allah karena iman, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, berjihad memerangi musuh-musuh-Nya, karena mencintai-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan selain mereka bertawakal kepada Allah karena kepentingan dirinya dan menjaga keadaannya dengan memohon kepada Allah. Ada pula di antara mereka yang bertawakal kepada Allah karena sesuatu yang hendak didapatkannya, entah rezki, kesehatan, pertolongan saat melawan musuh, mendapatkan istri, anak dan lain sebagainya. Ada pula yang bertawakal kepada Allah justru untuk melakukan kekejian dan berbuat dosa. Apa pun yang mereka inginkan atau yang mereka dapatkan, biasanya tidak lepas dari tawakal kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bahkan boleh jadi tawakal mereka ini lebih kuat daripada tawakalnya orang-orang yang taat. Mereka menjerumuskan diri dalam kebinasaan dan kerusakan sambil memohon kepada Allah agar menyelamatkan mereka dan mengabulkan keinginan mereka. 34

Tawakkal yang paling baik ialah tawakkal dalam kewajiban memenuhi hak kebenaran, hak makhluk dan hak diri sendiri. Yang paling luas dan yang paling bermanfaat ialah tawakal dalam mementingkan faktor eksternal dalam kemaslahatan agama, atau menyingkirkan kerusakan agama. Ini merupakan tawakalnya para nabi dalam menegakkan agama Allah dan menghentikan kerusakan orang-orang yang rusak di dunia. Ini

34 Ibid


(39)

juga tawakalnya para pewaris nabi. Kemudian tawakal manusia setelah itu tergantung dari hasrat dan tujuannya.

Di antara mereka ada yang bertawakal kepada Allah untuk mendapatkan kekuasaan dan ada yang bertawakal kepada Allah untuk mendapatkan serpihan roti. Siapa yang benar dalam tawakalnya kepada Allah untuk mendapatkan sesuatu, tentu dia akan mendapatkannya. Jika sesuatu yang diinginkannya dicintai dan diridhai Allah, maka dia akan mendapatkan kesudahan yang terpuji. Jika sesuatu yang diinginkannya itu dibenci Allah, maka apa yang diperolehnya itu justru akan membahayakan dirinya. Jika sesuatu yang diinginkannya itu sesuatu yang mubah, maka dia mendapatkan kemaslahatan dirinya dan bukan kemaslahatan tawakalnya, selagi hal itu tidak dimaksudkan untuk ketaatan kepada-Nya.35

B. Kerangka Teoretik

Sebelum terjun lapangan atau melakukan pengumpulan data, peneliti diharapkan mampu menjawab permasalahan melalui suatu kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran merupakan kajian tentang bagaimana hubungan teori dengan berbagai factor yang telah didefinisikan dalam perumusan masalah.

Wilbur Schram menyatakan bahwa teori merupakan suatu perangkat pernyataan yang saling berkaitan, pada abstraksi dengn kadar tinggi dan dari padanya proposisi bias dihasilkan dan diuji secara ilmiah dan pada landasannya dapat dilakukan prediksi mengenai perilaku.

35


(40)

Adapun teori yang dianggap relevan dengan masalah penelitian ini adalah : 1. Teori Interaksional

Teori interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm (1954). Teori ini menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator. Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim kepada penerima, dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa, komunikasi selalu berlangsung.

Pandangan interaksional mengilustrasikan bahwa seseorang dapat menjadi pengirim maupun penerima dalam sebuah interaksi, tetapi tidak menjadi keduanya sekaligus. Salah satu elemen yang penting dalam model ini, adalah umpan balik (fedback) atau respons terhadap suatu pesan. Umpan balik dapat berupa verbal atau nonverbal, dan bisa sengaja maupun tidak sengaja. Umpan balik sangat membantu komunikator untuk mengetahui apakah pesan mereka telah tersampaikan atau tidak, Selain itu, dengan adanya umpan balik, komunikator diharapkan mampu mengetahui sejauh mana pencapaian makna terjadi.

Pada model komunikasi interaksional ini, umpan balik terjadi setelah pesan diterima, dan tidak saat pesan sedang dikirim. Adapun elemen atau bagian lain yang terpenting dalam konsep komunikasi interaksional, ditklieni dengan adanya bidang pengalaman (field of experinces) seseorang, budaya atau keturunan, yang dapat mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dengan yang lainnya. Setiap peserta komunikasi membawa


(41)

pengalaman yang unik dan khas dalam setiap perilaku komunikasi yang dapat mempengaruhi komunikasi yang terjadi.36

Teori interaksional ini juga bisa dipklienng sebagai komunikasi dengan proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal atau menganggukkan kepala, kemudian orang pertama bereaksi lagi setelah menerima respons atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya. Pokoknya masing-masing dari kedua pihak berfungsi secara berbeda, bila yang satu sebagai pengirim, maka yang satunya lagi sebagai penerima. Begitu pula sebaliknya.37

Dalam teori ini, Wilbur Schramm juga menggambarkan komunikasi sebagai proses sirkuler. Untuk pertama kalinya ia menggambarkan dua titik pelaku komunikasi yang melakukan fungsi encoder, interpreter, decoder. Dalam proses sirkular ini, setiap pelaku komunikasi bertindak sebagai enoder dan decoder. Ia meng-encode pesan ketika mengirim dan men-decode pesan ketika menerimanya. Pesan yang diterima kembali dapat disebut umpan balik, yang tetap ia beri nama message. Umpan balik inilah yang telah membuat model linier menjadi sirkuler atau dialogis.38

2. Komunikasi Persuasif

Komunikasi persuasif adalah komunikasi yang bertujuan untuk mengubah sikap, pendapat, dan prilaku. Istilah persuasif bersumber dari

bahasa latin yaitu ” persuasion” yang berarti membujuk, mengajak atau

36

Syaiful Rohim, Teori Komunikasi Perspektif Ragam, dan Aplikasi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hal. 15-16.

37

Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 72-73 38

Dani Vardiansyah, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004), hal. 121.


(42)

merayu. 39Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasif yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah. Komunikasi yang efektif bukan hanya sekedar menyusun kata atau mengeluarkan bunyi yang berupa kata-kata, tetapi menyangkut bagaimana agar orang lain tertarik perhatiannya, mau mendengar, mengerti dan melakukan sesuai dengan pesan yang disampaikan.

Komunikasi persuasif berusaha mempengaruhi individu melalui terpaan pesannya, sehingga dapat didefinisikan pesan yang dimaksudkan untuk mengubah pendapat, sikap, kepercayaan, atau perilaku individu maupun organisasi.40 Untuk tujuan tersebut, bukan hal yang mudah dan begitu saja bisa dilakukan, sehingga dalam membentuk sebuah pesan yang persuasif perlu mempehatikan prinsip tau kerangka AIDA (Attention, Interest, Desire, Action).

1. Attention (perhatian)

Pada bagian awal, diuraikan ide pokok yang menarik perhatian dan manfaat bagi audiens.

2. Interest (minat)

Pesan tersebut harus mampu membangkitkan minat dan ketertarikan audiens.

39

Wahyu Ilaihi, Komunikasi Dakwah (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), h.125 40


(43)

3. Desire (keinginan)

Yang kemudian mendorong pada penumbuhan kebutuhan.

4. Action (tindakan)

Diharapkan muncul sebuah tindakan yang diinginkan oleh komunikator.

Istilah lain dari formla AIDDA adalah A-A procedure sebagai singkatan dari attention, action, procdure yang berarti agar komunikasi dalam melakukan kegiatan dilakukan dulu dengan menumbuhkan minat.

Konsep ini, merupakan proses psikologis dari diri mad’u.

Sebagai contoh, dakwah yang dilakukan dengan metode pidato (ceramah). Sebelum juru dakwah bermaksud mencapai tujuan dakwah terlebih dahulu harus berusaha membangkitkan perhatian mad’u. Upaya dalam membangkitkan perhatian tersebut dapat dilakukan dengan vocal maupun visual. Ditinjau dari aspek olah vocal dapat dilakukan dengan mengatur tinggi rendahnya suara, mengatur irama, serta mengadakan tekanan-tekanna terhadap kalimat yang dianggap penting. Da’i harus dapat mengatur kata-katanya, di mana ia harus berhenti, memanjangkan suku-suku kata tertentu dan mengeraskan bunyi sebagai penekanan terhadap kata atau kalimat yang dianggap perlu.

Sementara itu, kontak visual dapat dilakukan dengan mengarahkan

pandangan kepada seluruh mad’u. Dengan cara itu, mad’u akan merasa

lebih diperhatikan dan diajak bicara oleh da’i. Mereka pun akan merasa


(44)

timbal balik yang sangat kuat antara da’i sebagai komunikator dan mad’u sebagai komunikan, selanjutnya, da’i harus bisa berorientasi pada upaya menggerakkan mereka untuk berbuat sesuai dengan materi atau pesan yang disampaikan.41

Selain itu, dalam komunikasi persuasif untuk mencapai tujuan dan sasarannya maka seoarang da’i perlu melakukan perencanaan secara matang dan untuk menjadi komunikator yang efektif, seorang komunikator dakwah harus membekali mereka dengan teori-teori persuasif yang dikembangkan menjadi beberapa metode, antara lain:

1. Metode Asosiasi adalah penyajian pesan komunikasi dengan jalan menumpangkan pada suatu peristiwa yang aktual, yang dimana obyek dan peristiwa tersebut memiliki nilai, kredibilitas, kepopuleran sehinnga menarik perhatian dn minat massa.

2. Metode Integrasi adalah kemampuan untuk menyatukan diri dengan komunikan dalam arti menyatukan diri secara komunikatif, sehingga tampak menjadi satu, atau mengandung arti kebersamaan dan senasib serta sepenanggungan dengan komunikan, baik dilakukan secara verbal maupun nonverbal (sikap)

3. Metode Pay-Off dan Fear arousing yakni kegiatan mempengaruhi orang lain dengan jalan melukiskan hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan perasaannya atau memberi harapan (iming-iming), dan sebaliknya dengan menggambarkan hal-hal yang menakutkan atau menyajikan konsekuensi yang buruk dan tidak menyenangkan perasaan

41


(45)

4. Metode Icing device adalah yaitu sebuah metode dimana menyajikan

sebuah pesan dipengaruhi oleh unsur ”emotional appeal” pesan-pesan

tersebut msmpu membangkitkan perasaan terharu, sedih, senang, bahagia pada diri komunikan sehingga dengan menyertakan unsur emotional appeal dalam barisan pesannya diharapkan pesan-pesan yang disampaikan akan lebih mudah diingat dan dipahami oleh pihak komunikan.

Empat metode tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan mad’u. Untuk itu seorang komunikator dakwah layaknya dapat menganalisis terlebih dahulu situasi dan kondisi objek dakwah yang akan dihadapi. Semakin banyak informasi tentang kondisi mad’u yang dikumpulkan, semakin banyak keuntungan yang diperoleh komunikator untuk dapat memilih materi yang sebaik-baiknya berdasarkan informasi yang telah ditetapkan.42

Perlu diingat dan diperhatikan pula, bahwa sebagai suatu proses komunikasi, tidak menutup kemungkinan munculnya hal-hal yang dapat menghambat tercapainya tujuan dakwah secara persuasif. Hambatan-hambatan tersebut terjadi karena faktor antara lain :

1. Faktor Motivasi

Seseorang akan bersikap atas dasar kepentingan atau kebutuhan yang melekat pada dirinya. Oleh karena itu, pembicara harus memperhatikan akan kebutuhan-kebutuhan mad’u.

2. Faktor Prejudice (prasangka)

42


(46)

Bila mad’u sudah diinggapi perasaan prejudice baik antar individu, ras maupun golongan maka akan sulit untuk menerima perasaan secara objektif karena mereka tidak lagi merepon pesan secara rasional.

3. Faktor Semantik

Faktor pada perbedaan dalam pengejaan, bunyi maupun pengertian kata-kata antara komunikator dan komunikan sehingga akan menimbulkan salah pengertian dan mengganggu jalannya informasi.

4. Faktor Gangguan Suara ( noise factor )

Gangguan ini dapat terjadi karena disengaja atau tidak sengaja misalnya ketika penyampaikan ceramah berlangsung, tiba-tiba ada kereta api yang lewat, sehingga mengganggu penyampaian ceramah tersebut.43

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya hambatan tersebut,

seorang da’i harus mengetahui secara dini pada saat persiapan maupun

penyampaian pesan dakwah. Selanjutnya harus ada upaya untuk menghindari hambatan-hambatan tersebut agar tidak terjadi kegagalan dalam pelaksanaan persuasif, karena kegagalan dalam persuasif, juga berarti kegagalan dalam tujuan dakwah.

C. Penelitian Terdahulu yang Relevan

43


(47)

Untuk menghindari terjadinya pengulangan skripsi yang membahas permasalahan yang sama dari seseorang, baik dari buku ataupun bentuk tulisan lain, dan untuk menghindari plagiarisme, maka berikut ini penulis sampaikan beberapa hasil penelitian sebelumnya yang memiliki relevansi dengan penelitian ini, antara lain sebagai berikut :

NO NAMA DAN

TAHUN

JUDUL SKRIPSI

PERSAMAAN PERBEDAAN

1. Fitrotul Lutfianah Tahun 2012 Metode Dakwah K.H Masykur Hasyim. Sama-sama menekankan pada proses penyampaian pesan dakwah.

Pada Subyek penelitian, Mengkaji tentang aktifitas dakwah yang menggunakan metode ceramah dan diskusi yang dikemas dalam bentuk PTSB sedangkan pada penelitian Metode Dakwah KH Masykur Hasyim. Peneliti menggunakan berbagai metode dakwah.

2. R.Hendrik Koswanto Tahun 2010 Dakwah Melalui Pengembanga n Motivasi (Study Metode Dakwah Quantum Spirit Ustd N. Faqih Syarif). Sama-sama menekankan pada aktivitas atau tekhnik penyampaian dakwah.

Penelitian ini mengkaji tentang aktivitas dakwah N. Faqih Syarif yang

menggunakan metode ceramah dan diskusi yang dikemas dalam bentuk peatihan spiritual dengan pengembangan motivasi.

3. Alik Inayah Tahun 2013 Efektifitas Trapi Shalat Bahagia untuk mengurangi problem selesai Sama-sama meneliti PTSB untuk menjadi objek penelitian.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, untuk mengetahui ke efektifan terapi shalat bahagia untuk mengurangi problem yang tidak kunjung selesai


(48)

(UNFINISHD BUSINESS) di Surabaya.

Surabaya.

4. Jannah 'Umroatul Tahun 2012 Penggabunga n Teknik Dakwah R.Hendrik Kuswanto: Hipnotherapy dan Neuro Linguistic Programming . Sama-sama menekankan pada aktivitas penyampaian dakwah.

Pada subyek penelitian, Mengkaji tentang aktifitas dakwah yang menggunakan metode ceramah dan diskusi yang dikemas dalam bentuk PTSB sedangkan penelitian Penggabungan Teknik Dakwah R. Hendrik

Kuswanto ( ipnotherapy Dan Neuro Linguistic

Programming) peneliti mengkaji tentang aktifitas dakwah yang menggunakan teknik infiltrasi yang dikemas dalam bentuk Workshop Hypnotherapy, melalui penggabungan Hypnotherapy dan Neuro Linguistic Programming, dengan pendekatan pengembangan alam bawah sadar.


(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Metode penelitian adalah seperangkat pengetahuan tentang langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan pemecahannya.1 Penelitian merupakan proses kreatif yang tidak pernah mengenal kata selesai. Pada dasarnya, penelitian itu bermula dari rasa keingintahuan seseorang atau beberapa orang tentang suatu hal. Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan yang diajukan melalui aplikasi prosedur ilmiah.2

Dalam metode penelitian, ada dua macam metode penelitian, yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dan menggunakan pendekatan fenomenologi.

Pendekatan fenomenologi merupakan tradisi penelitian kualitatif yang berakar pada filosofi dan psikologi, dan berfokus pada pengalaman hidup manusia (sosiologi). Pendekatan fenomenologi hampir serupa dengan

pendekatan hermeneutics yang menggunakan pengalaman hidup sebagai

alat untuk memahami secara lebih baik tentang sosial budaya, politik atau konteks sejarah dimana pengalaman itu terjadi.

1

Moch. Nasir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998), h. 63. 2

Asep Saeful Muhtadi.dkk, Metode Penelitian Dakwah (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), h. 43


(50)

Penelitian ini akan berdiskusi tentang suatu objek kajian dangan memahami inti pengalaman dari suatu fenomena. Peneliti akan mengkaji secara mendalam isu sentral dari struktur utama suatu objek kajian dan selalu bertanya "apa pengalaman utama yang akan dijelaskan informan tentang subjek kajian penelitian". Peneliti memulai kajiannya dengan ide filosofikal yang menggambarkan tema utama. Translasi dilakukan dengan memasuki wawasan persepsi informan, melihat bagaimana mereka melalui suatu pengalaman, kehidupan dan memperlihatkan fenomena serta mencari

makna dari pengalaman informan.

Berdasarkan pertimbangan peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi dikarenakan peneliti ingin mengetahui secara mendalam mengenai metode pembentukan pribadi tawakkal melalui Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) karena pada hakikatnya penelitian dengan menggunakan pendekatan fenomenologi lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah.3 Selain itu peneliti menggunakan model deskriptif interprestatif, penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum terhadap kenyataan sosial dari prespektif partisipasi.4

Pemahaman tersebut tidak di tentukan terlebih dahulu, tetapi diperoleh setelah melakukan analisis terhadap kenyataan sosial yang menjadi fokus penelitian, dan kemudian ditarik suatu kesimpulan berupa pemahaman

3

Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), h.5 4

4 Ruslan Rusady, metodologi Penelitian: Public Relation dan komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), hal.212


(51)

umum tentang kenyataan-kenyataan tersebut. Artinya, bersumber dari kesimpulan-kesimpulan umum menjadi kesimpulan-kesimpulan khusus.

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif analisis. Kata ini datang dari latin

“Deskriptivus” artinya bersifat uraian. Uraian disini berarti gambaran tentang keadaan obyek pada suatu waktu atau saat tertentu. Asumsi peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan, berbagai kondisi dan situasi pada saat pelatihan berlangsung dan menggambarkan mengenai objek penelitian yang dijadikan bahan kajian dalam penelitian ini, khususnya mengenai metode apa yang digunakan Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag dalam membentuk pribadi tawakkal melalui PTSB.

Penelitian deskriptif ini juga berusaha mendeskripsi dan menginterpretasikan apa yang ada, mengenai kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang.5 Penelitian ini juga menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan. Penelitian deskriptif juga dapat diartikan sebagai penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti yang menggunakan metode kualitatif. Setelah menyusun perencanaan penelitian, kemudian peneliti ke lapangan tidak membawa alat

5

Sumanto, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan (Yokyakarta: Andi Offset, 1995), h. 77


(52)

pengumpul data, melainkan langsung melakukan observasi atau pengamatan evidensi-evidensi sambil mengumpulkan data dan melakukan analisis.6

B. Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian ini ialah seorang pendakwah yaitu Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag. Selain itu ia juga menjadi Guru Besar dan dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya, juga seorang konseler serta penceramah Islam di berbagai kota dan negara. Selain itu, Prof. Moh Ali Aziz adalah salah satu penulis dari berbagai buku yang menjadi karyanya dan salah satunya adalah buku yang berjudul “60 Menit Terapi Sholat Bahagia” yang direalisasikan dalam forum Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB).

Objek penelitian ini adalah PTSB itu sendiri yang menjadi sarana atau media dalam forum yang dibawai oleh Prof. Moh. Ali Aziz, M.Ag untuk menjembatani seseorang untuk dapat lebih memahami dan memperhatikan tentang shalat yang bukan hanya sebagai perintah atau sebuah menggurkan kewajiban, akan tetapi dapat merasakan kebahagiaan setelah melaksanakan shalat setelah mengikuti Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB). dimana ia mengharapkan para mad’u yang telah mengikuti pelatihan tersebut menjadi sesorang yang memiliki pribadi tawakkal (menyerahkan segala urusan kepadaNya), sehingga dengan demikian seseorang tersebut memiliki keridlahan hati dan bahagia.

Dengan itu, peneliti ingin meneliti tentang Metode Pembentukan Pribadi Tawakkal Melalui Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB).

6


(53)

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini dibagi dalam bentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis. Sedangkan sumber data dalam penelitian yang akan dilakukan ini, peneliti sependapat dengan apa yang dikonsepkan oleh Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian, merupakan jawaban atas pertanyaan, kemudian diajukan terhadap masalah yang dirumuskan pada tujuan yang ditetapkan7 Jenis dafa dibagi menjadi dua macam, yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber pertama di lapangan. Pada penelitian ini data primer diperoleh dari hasil observasi yang diperkuat dengan wawancara. Peneliti sendiri langsung mengikuti Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) .

2. Data Sekunder

Data yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti, atau sebagai data pelengkap dan pendukung penelitian ini. Dalam hal ini adalah hasil

7

Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi


(54)

interview yang dilakukan peneliti dalam beberapa tahap dengan para peserta PTSB yang menjadi key informan sekaligus sentral informasi dalam menggali data dan juga sebagai subyek penelitian.

Mengenai wawancara, peneliti menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya terbuka dan terus dapat berkembang. Dasar peneliti dalam mempertimbangkannya adalah untuk menghindari kesalah pahaman dalam menafsirkan konsep-konsep yang dipahami oleh informan dan meminta penjelasan dari informan apabila terdapat hal lain yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Selain dari wawancara dengan Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag, data yang digunakan sebagai data utama yaitu berasal dari keterangan dari pihak -pihak yang memiliki kompetensi dalam memberikan keterangan dan informasi, seperti Bapak M. Tanzilul Faisol, ibu Lilik masturoh, bapak ranu, Gunawan puji lestari (bunda tari), ibu mas’ulah, mbak dfrina sukma satiti,

ibu Sri wahyuni, dan bu Ni’mah el-victor (beberapa peserta dan salah satu

panitia PTSB). Kepada peserta peneliti menanyakan tentang bagaimana pemahaman mereka tentang Shalat, Tawakkal dari sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan serta dampak apa yang di rasakan peserta PTSB setelah mengikuti Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB) yang di sampaikan oleh Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, M.Ag dan seberapa jauh mereka mengenal si penceramah.


(55)

Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data diperoleh.8 Dalam melakukan penelitian ini peneliti mendapatkan sumber data yang berasal dari informan yaitu orang yang memberikan tanggapan secara langsung atau memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan peneliti melalui wawancara.

Menurut Lofland bahwa sumber data dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Sumber utama

Dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sumber utama dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati dalam pelatihan dan dicatat melalui catatan tertulis atau melalui foto observasi dan wawancara peserta PTSB sebagai bukti penelitian.

Dalam penelitian ini, yang menjadi informan utama (key informan) adalah peseta PTSB sebagai objek penelitian dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku Pembina PTSB yang dijadikan subjek penelitian, PTSB tersebut yang menjadi kajian dalam penelitian ini. Disamping itu, juga digali informasi dari beberapa informan pendukung lainnya, seperti panitia dan peserta yang telah mengikuti kegiatan PTSB dibawahi oleh Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Selain itu, juga menggunakan wawancara secara mendalam pada peserta PTSB. Foto dan video sudah lebih banyak dipakai sebagai alat untuk keperluan penelitian kualitatif karena dapat dipakai dalam berbagai

8

Suharmini Arikunto Praktek, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), h.107.


(56)

keperluan. Semisal foto, video serta wawancara menghasilan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaan segi-segi subyektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif. Menggunakan alat media foto dan video yang dapat dimanfaatkan dalam forum, yang dihasilkan dari peneliti sendiri untuk kebersamaannya pada saat mengamati proses jalannya Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB).

Sumber data tambahan seperti pendapat dan saran atau dokumentasi dari peserta PTSB dan lain-lain. Sumber tertulis, dapat dikatakan sebagai sumber kedua yang berasal dari luar sumber kata-kata dan tindakan. dilihat dari segi sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis yang berkaitan dengan PTSB.

D. Tahap - Tahap Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1. Tahap Pra lapangan

Yaitu tahap yang dilakukan sebelum melakukan penelitian. Pada tahap ini dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Menyusun Rancangan Penelitian.9

Dalam hal ini, peneliti terlebih dahulu membuat permasalahan yang akan dijadikan subjek penelitian. Kemudian membuat matrik usulan judul penelitian sebelum melaksanakan penelitian hingga membuat proposal penelitian.

9

Lexy J, Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 86


(1)

101 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan.

Pada pembahasan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa metode pembentukkan pribadi tawakkal melalui pelatihan terapi shalat bahagia (PTSB). Para peserta PTSB yang telah mengikuti pelatihan mayoritas mengatakan pelatihan ini memberikan dampak yang positif bagi invidu, terasa lebih menerima cobaan dengan tulus hati (ikhlas), tidak banyak mengeluh dan memantabkan keyakinan pada hati akan kebesaran Allah SWT.

Terlebih lagi lebih memperhatikan shalat dalam kehidupan sehari-hari, untuk berusaha tepat waktu, berjama’ah dan tidak sering mengeluh pada ketentuanNya / coba’an yang diberikan misalnya. Sebagai bentuk tawakkal mereka kepada Tuhannya setelah melakukan do’a dan usaha / kerja keras.

Metode dakwah Pembentukkan Pribadi Tawakkal melalui Pelatihan Terapi Shalat Bahagia (PTSB), Prof. Dr.H. Moh Ali Aziz, M.Ag dalam Pendalamana atau Pelatihan pada peserta PTSB menggunakan metode ceramah, Tanya jawab (diskusi), demonstrasi dan praktek shalat. Dengan menggunakan metode ini ia dapat memberikan pengertian pada peserta PTSB serta dapat dengan mudah difahami, sekaligus mengarabkan diri pada audiens seperti sama halnya mengajak para peserta untuk melakukan timbal balik (Berinteraksi).


(2)

102

B. Saran.

Setelah menemukan beberapa hasil penelitian tentang Metode Pembentukan Pribadi Tawakal Melalui Pelatihan Terapi Sholat Bahagia (PTSB) meliputi:

1. Bagi masyarakat luas, dalam mengikuti PTSB tidak hanya sekedar mengikutinya, akan tetapi hendaknya ada pengamalan dari apa yang diperoleh dari PTSB, sehingga ilmu yang di dapat bermanfaat da nada pula perubahan yang baik untuk dirinya sendiri, lebih-lebih diamalkan untuk orang lain sebagai bekal di dunia dan akhirat kelak.

2. Demikian juga halnya bagi juru dakwah/da’i dimanapun dan kapanpun berada untuk lebih meningkatkan diri dengan mendidik serta memperdalam mental Spiritual (kepribadian tawakkal), agar dapat terbentuknya pribadi yang tawakkal.

3. Untuk penda’i senantiasa menjaga pribadinya untuk tawakkal, agar dapat menjadi bekal dalam menyampaikan pesan dakwahnya, sehingga dalam memberi pengaruh yang positif dan pesan dakwah kepada orang lain, benar-benar dapat tercapai secara maksimal serta selalu mempersiapkan dan memperdalam ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama termasuk keilmuan dakwah maupun pengetahuan umum.


(3)

103

4. Penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi berdasarkan penelitian ini maka penulis memberikan saran dengan adanya hasil penelitian ini, penelitian memberikan rokemendasi kepada peneliti selanjutnya untuk dapat lebih memperdalam hasil penelitian ini. Karena peneliti menyadari sepenuhnya bahwa hasil dari penelitian ini masih jauh dari sempurna.


(4)

DAFTAR PUTAKA

Al-Ghazali Imam, IHYA’ ULUMIDDIN 8, (Semarang: CV.ASY-SYIFA’,Cetakan ke-30, Februari 2009).

Al Qardhawy Yusuf, Tawakkal (Jakarta : Pustaka Al Kautsar, 1995), Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Muhtashar Ihya Ulum al Din, Terj. Moh. Solihin (Jakarta: Pusataka Amani, 1995)

Al Jauziyah Ibnu Qoyyim, Pendakian Menuju Allah Penjabaran Konkrit Iyyaka Na;budu wa Iyyaka Nasta’in, Terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 2003)

AL Ghazali Muhammad, Selalu Melibatkan Allah : Sehat Spiritual, Sukses Sosial (Jakarta:Serambi Ilmu Semesta, 2003)

Agama RI Departemen, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: J-ART,2005)

Al Jauziyah Ibnu Qoyyim, Pendakian Menuju Allah Penjabaran Konkrit Iyyaka Na;budu wa Nasta’in Iyyaka, Terj. Kathur Suhardi (Jakarta: Pustaka al Kautsar, 1998)

Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983) Ali Aziz Moh., Ilmu Dawah, Cetakan II (Jakarta: Kencana, 2009)

A. Kadir Munsyi, Metode Diskusi Dalam Dakwah (Surabaya: Al Ikhlas, 1978) Asmuni Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983) Alwisol, Psikologi Kepribadian Edisi Revisi, (Malang : UMM Press)

Agama RI Departemen, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: J-ART,2005)

Ahmad Warson Al Munawir, Kamus Al Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Yokyakarta: Pustaka Progresif, 1997)

Amin Syukur, Pengantar Studi Islam (Semarang: CV Bima Sejati, 2000)

Al-Ghazali Imam, Muhtasar Ihya Ulumuddin, Terj. Zaid Husein al-Hamid (Jakarta: Pustaka Amani,1995)

Abdullah Bin Umar Ad-Dumaji, Rahasia Tawakal Sebab dan Musibah, Terj Kamaludin Sa’diatulharamaini (Jakarta: Pustaka Azzam, 2000)

Abu Achmadi &Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 1997) Ali Aziz H. Moh., 60 Menit Terapi Shalat Bahagia, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel

Surabaya Press, 2012)

Bahnasi Muhammad, Shalat Sebagai Terapi Psikologi, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004)


(5)

Bachtiar Wardi, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos, 1997)

Calvin S. Hall and Gardner Lienzey, Teori Holistik Organismik Fenomenologis, Yustinus, terj. Theoris of Personality, (Yogyakarta: Kanisius. 1993)

Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusun Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi (Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1998)

Darussalam Ghazali, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah (Malasya: Nur Niaga SDN, BHD. 1996)

Dani Vardiansyah, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2004) E. Koeswara, teori-teori kepribadian, (Bandung:Eresco, 1991)

Fami bi Syauqin Mushaf, Al-Qur’an ddan Terjemah,(Tangerang Selatan Banten: FORUM PELAYAN AL-QUR’AN, 2013)

Hakim Saktiawan Lukman, Keajaiban Sholat Menurut Ilmu Kesehatan CIn (Bandung : PT Mizn Pustaka, 2007)

Hembing H. M., Hikmah Shalat untuk Pengobatan dan Kesehatan, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1997)

Hakim Saktiawan Lukman, Keajaiban Shalat Menurut Ilmu Kesehatan Cina, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007)

Hamim Rosyidi, Psikologi Kepribadian,, (Jl. Jemur Wonosari lebar 61, (Surabaya : Jaudar Press, 2012)

Ilaihi Wahyu, Komunikasi Dakwah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010) Karim Zaidan Abdul, Ushlud Dakwah (Bandung: Darul A,al Khatab, 1995)

Kadir Munsyi Abdul, Metode Diskusi Dalam Dakwah (Surabaya: Al-Ikhlas, 1981)

Muhammad Hasyim, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi (Yokyakarta: Pustaka Pelajar Kerjasama Walisongo, 2002)

Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009)

Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) Nasir Moch, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998)

Nasution S, Metode Research ( Bandung : Jemmars, 1982)

Rosyidi Hamim, Hand out psikologi kepribadian I, (Surabaya: IAIN Suanan Ampel, 2010) Raifuddin, Prinsip dan Strategi Dakwah, Cetakan 1 (Bandung: Pustaka Setia, 1997)

Rioch DM,“Kenangan tenteang Harry Stack Sullivan dan pengembangan psikiatri interpersonal nya”48, Psikiatri (2),(Bandung:Eresco, 1991)

Rohim Syaiful, Teori Komunikasi Perspektif Ragam, dan Aplikasi, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009)


(6)

Ruslan Rusady, metodologi Penelitian: Public Relation dan komunikasi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)

Syukur Amin, Pengantar Studi Islam (Semarang: CV Bima Sakti, 2000)

Syukir Asmuni, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya: Al Ikhlas, 1983)

Saeful Muhtadi Asep.dkk, Metode Penelitian Dakwah (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003)

Saifuddin Azwar, Metode Penelitian (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001)

Sumanto, Metode Penelitian Sosial dan Pendidikan (Yokyakarta: Andi Offset, 1995) Suharmini Arikunto Praktek, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan (Jakarta : Rineka

Cipta, 2002)

TM. Hasbi Ash Shiddieqy, al-Islam I (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2001)

Tasmara Toto, Komuniasi Dakwah, Cetakan 1 (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) Yaqub Hamzah, Tingkat ketenangan dan kebahagiaan mukmin (Jakarta :Atisa, 1992) Yunus, Mahmud Kamus Arab Indonesia (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/