Ibadah Muamalah Mawaris dalam Islam pert

PEDOMAN PRAKTIS 
PERHITUNGAN WARIS

KAJIAN MENURUT HUKUM ISLAM
OLEH:

ROHMAT SUPRAPTO, S.Ag, 
MSI

BAB I

PENDAHULUAN


SUMBER  UTAMA  HUKUM  ISLAM  ADALAH  AL­QUR’AN  DAN  AL­SUNNAH 
(BERUPA  PERKATAAN,  PERBUATAN  DAN  KETETAPAN  NABI  MUHAMMAD 
SAW).



HUKUM ISLAM BERSIFAT FLEXIBLE, BISA MENERIMA PANDANGAN DARI 
BERBAGAI  KALANGAN,  BAIK  DARI  KALANGAN  UMAT  ISLAM  SENDIRI 
MAUPUN DARI KALANGAN LUAR YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN 
PRINSIP  AJARAN  ISLAM  YANG  BERSUMBER  DARI  AL­QUR’AN  DAN 
SUNNAH RASUL.



HUKUM  WARIS  ISLAM  SECARA  RINCI  TELAH  DIKEMUKAKAN  OLEH  AL­
QUR’AN  DITAMBAH  OLEH  HADITS­HADITS  NABI  DAN  IJTIHAD  PARA 
ULAMA SERTA PARA PAKAR HUKUM ISLAM.



HARTA  WARIS  DALAM  ISLAM  ADALAH  HARTA  MUWARIS  YANG 
KEPEMILIKANNYA  SECARA  OTOMATIS  BERALIH  KEPADA  AHLI 
WARISNYA  SETELAH  MUWARIS  MENINGGAL  DUNIA  DENGAN  SYARAT 
TELAH 
DISELENGARAKAN 
JENAZAHNYA, 
DILUNASI 
HUTANG­
HUTANGNYA DAN DILAKSANAKAN WASIAT­WASIATNYA.

KONSEP HARTA DALAM ISLAM (1)


PEMILIK HARTA SECARA MUTLAK DALAM ISLAM ADALAH ALLAH, MANUSIA DIBERIKAN HAK ATAS
HARTA DAN MENGGUNAKANNYA SESUAI DENGAN PETUNJUK-PETUNJUKNYA MELALUI SYARI’AT
YANG TELAH DITETAPKANNYA.



HARTA DIBERIKAN KEPADA MANUSIA MELALUI USAHA YANG HAQ (BENAR) BUKAN DENGAN CARA
BATHIL (TIDAK BENAR) MELALUI PRINSIP HALAL DAN THAYYIB.



BENTUK USAHA YANG HAK ADA DUA MACAM:
1. IHRAZ AL-MUBAHAT (MEMILIKI BENDA-BENDA YANG BOLEH DIMILIKI), SEPERTI: RUMPUT DAN
PEPOHONAN DI HUTAN BELANTARA YANG TIDAK DIMILIKI ORANG, BINATANG BURUAN DAN IKANIKAN DI LAUT, ATAU DENGAN CARA IHYA AL-MAWAT (MENGHIDUPKAN/MENGGARAP TANAH MATI
YANG BELUM DIMILIKI SIAPAPUN, ATAU TELAH PERNAH DIMILIKI TETAPI TELAH DITINGGALKAN
SAMPAI TERLANTAR DAN TAK TERURUS). APABILA SESEORANG TELAH MENGUASAI DENGAN
MAKSUD MEMILIKI, MAKA MENJADILAH MILIKNYA. MENGUASAI DENGAN MAKSUD MEMILIKI
SECARA MUBAH ITU DIISTILAHKAN DENGAN IHRAZ, DILAKUKAN DENGAN DUA SYARAT: (A)
JANGANLAH BENDA ITU TELAH DIKUASAI OLEH ORANG LAIN LEBIH DAHULU; (B) BERNIAT UNTUK
MEMILIKINYA.
2. AQAD (MEMPEROLEH HARTA YANG TELAH DIMILIKI SESEORANG MELALUI SUATU TRANSAKSI).
BENTUK INI ADA DUA CARA : (A) PERALIHAN HARTA BERLANGSUNG DENGAN SENDIRINYA
(OTOMATIS), DISEBUT IJBARI, SEPERTI MELALUI WARISAN; (B) PERALIHAN HARTA MELALUI USAHA,
KEHENDAK DAN PERJANJIAN TIMBAL-BALIK ANTARA DUA ATAU BEBERAPA PIHAK, DISEBUT
DENGAN IKHTIYARI, SEPERTI JUAL BELI, PEROLEHAN JASA (GAJIH/HONORARIUM), MAHAR (DALAM
AKAD NIKAH), DSB.



PEROLEHAN HARTA DALAM ISLAM BUKANLAH TUJUAN, NAMUN SBG SARANA KEHIDUPAN DAN
UNTUK MENCAPAI KERIDHAAN ALLAH, MAKA CARA MENDAPATKAN HARTA HENDAKNYA
DILAKUKAN DENGAN BERDO’A, MEMOHON REZKI KEPADA ALLAH KARENA PADA HAKIKATNYA
HARTA TERSEBUT ADALAH MILIK ALLAH.

KONSEP HARTA DALAM ISLAM (2)


TUJUAN UTAMA HARTA UNTUK MENUNJANG KEHIDUPAN MANUSIA. OLEH KARENANYA
HARTA DIGUNAKAN UNTUK MAKSUD TERSEBUT. ADA BEBERAPA PETUNJUK ALLAH
TENTANG CARA PENGGUNAAN HARTA, YAITU SBB:
1. DIGUNAKAN UNTUK KEBUTUHAN HIDUP MANUSIA SENDIRI, SEBAGAIMANA
DISEBUTKAN DALAM
AL-QUR’AN BERIKUT:
.(

‫ك لللوُا نوا ع‬
:‫ن )المرسلتا‬
‫مللوُ ن‬
‫م ت نعع ن‬
‫ماَ ك لن عت ل ع‬
‫شنرلبوُا هنبنيِئئاَ ب ب ن‬

“(Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah kamu dengan enak karena apa yang telah kamu 
kerjakan” (Q.S. 77/al­Mursalât: 43).
WALAUPUN YANG DISEBUTKAN DALAM AYAT TSB HANYA MAKAN DAN MINUM, TETAPI YANG
DIMAKSUD TENTUNYA SEGALA KEBUTUHAN HIDUP, SEPERTI PAKAIAN DAN PERUMAHAN, DLSB.
SELAIN ITU, ADA PULA PETUNJUK TENTANG LARANGAN PEMANFAATAN HARTA YANG DILAKUKAN
DENGAN CARA:
a) ISRÂF (BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MEMANFAATKAN HARTA).
.(

‫ونك لللوُا نوا ع‬
:‫ن )العأراف‬
‫ه ل نيل ب‬
‫ح ب‬
‫م ع‬
‫شنرلبوُا ونل ن ت ل ع‬
‫ب ال ع ل‬
‫سربلفوُا إ بن ن ل‬
‫سرببفيِ ن‬

...

“… makan dan minumlah, dan janganlah berlebih­lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai    
orang­orang yang berlebih­lebihan” (Q.S. 7/al­A’raf: 31).
            b)  TABDZÎR (BOROS, MENGHAMBUR-HAMBURKAN HARTA UNTUK SESUATU YANG TIDAK
BERMANMANFAAT

‫شيِ ع ن‬
‫ن ون ن‬
‫ن ن‬
‫ن ال ن‬
‫ن ال ن‬
‫فوُئرا‬
‫ن ل بنرب بهب ك ن ل‬
‫كاَلنوُا إ ب ع‬
‫شنيِاَ ب‬
‫ونل ن ت لب نذ بعر ت نب ع ب‬
‫طاَ ل‬
‫كاَ ن‬
‫وُا ن‬
‫ إ ب ن‬.‫ذيئرا‬
‫ن ال ع ل‬
‫خ ن‬
‫مب نذ ببري ن‬
‫طيِ ب‬
.(- :‫)السراء‬

...

“… dan janganlah kamu menghambur­hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros­
pemboros itu adalah saudara­saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” 
(Q.S. 17/al­Isrâ’: 26­27).

KONSEP HARTA DALAM ISLAM (3)
2. DIGUNAKAN UNTUK MEMENUHI KEWAJIBAN TERHADAP ALLAH, YAKNI ADA DUA
MACAM:
a) Kewajiban materi yang berkenaan dengan kewajiban agama, yang merupakan
hutang terhadap Allah, seperti: membayar zakat atau nadzar, atau kewajiban materi
lainnya. Walaupun demikian materi ini pada hakikatnya juga untuk kepentingan sesama
manusia.

‫ن‬

‫ن‬

‫ن‬

‫ن‬

.(267 :‫ )البقرة‬... ‫ض‬
‫ف ل‬
‫ماَ أ ع‬
‫م ب‬
‫م ون ب‬
‫ن ط نيِ بنباَ ب‬
‫قوُا ب‬
‫ملنوُا أن ع ب‬
‫نياَأي بنهاَ ال ن ب‬
‫خنر ع‬
‫ماَ ك ن ن‬
‫جنناَ ل نك ل ع‬
‫م ن‬
‫سب عت ل ع‬
‫تا ن‬
‫ن نءا ن‬
‫م ن‬
‫م ع‬
‫ذي ن‬
‫ن العر ب‬
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu …” (Q.S. 2/al-Baqarah:
267).

b) Kewajiban materi yang harus ditunaikan untuk keluarga, yakni: isteri, anak, dan
kerabat.
.(233 :‫ )البقرة‬... ‫ف‬
‫مععلرو ب‬
‫ن ونك ب ع‬
‫ن بباَل ع ن‬
‫موُعللوُد ب ل ن ل‬
‫ ونعأ ننلىَ ال ع ن‬...
‫سوُنت لهل ن‬
‫ه ربعزقلهل ن‬
“… dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang
ma`ruf …” (Q.S. 2/al-Baqarah: 233).

‫ن‬

‫ن‬

‫ن‬

‫سأللوُن ن ن‬
‫ن قل ع‬
‫ماَ ن‬
.(215 :‫ )البقرة‬... ‫ن‬
‫ف ع‬
‫ماَ أن ع ن‬
‫ف ل‬
‫ن ن‬
‫م ب‬
‫ذا ي لن ع ب‬
‫قوُ ن‬
‫ين ع‬
‫قت ل ع‬
‫ل ن‬
‫ك ن‬
‫ن ونا علقعنرببيِ ن‬
‫خيِ عرر فنل بل ع ن‬
‫م ع‬
‫وُال بد ني ع ب‬
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: Apa saja harta yang
kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat …” (Q.S. 2/al-Baqarah:
215).

KONSEP HARTA DALAM ISLAM (4)
3. DIMANFAATKAN BAGI KEPENTINGAN SOSIAL.
Hal ini dilakukan karena meskipun semua orang dituntut untuk berusaha mencari rezki,
namun yang diberikan Allah tidaklah sama untuk setiap orang. Ada yang
mendapatkan banyak sehingga melebihi keperluan hidupnya sekeluarga, tetapi ada
pula yang mendapatkan sedikit dan kurang dari keperluan hidupnya. Yang
mendapatkan rezki sedikit ini memerlukan bantuan saudaranya yang mendapat rezki
berlebih dalam bentuk infak dan sedekah.

‫ضك ل ع ن‬
‫ض ن‬
.(71 :‫ )النحل‬... ‫ق‬
‫ل ب نعع ن‬
‫ه فن ن‬
‫نوالل ل‬
‫ض بفيِ البرعز ب‬
‫م عأ نلىَ ب نعع ر‬
“Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki …”
(Q.S. 2/al-Baqarah: 71).
‫ن‬

‫ع‬

‫ن‬

‫ن‬

.(10 :‫ )المناَفقوُن‬... ‫تا‬
‫ف ل‬
‫م ب‬
‫قوُا ب‬
‫ونأن ع ب‬
‫يِ أ ن‬
‫لأ ع‬
‫موُع ل‬
‫م ال ع ن‬
‫حد نك ل ل‬
‫ماَ نرنزقعنناَك ل ع‬
‫ن ن‬
‫ن ي نأت ب ن‬
‫ن قنب ع ب‬
‫م ع‬
‫م ع‬
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum
datang kematian kepada salah seorang di antara kamu …” (Q.S. 63/al-Munâfiqûn: 10).


DI SAMPING LARANGAN DI ATAS, ALLAH JUGA MELARANG MENGGUNAKAN HARTA UTK
TUJUAN NEGATIF, YANG DAPAT MENYULITKAN KEHIDUPAN, MENYAKITI DAN
MENJAUHKAN ORANG DARI MELAKSANAKAN PERINTAH AGAMA, DI ANTARANYA:

‫ن‬

.(36 :‫ )النفاَل‬... ‫ل اللهب‬
‫ف ل‬
‫ن كن ن‬
‫فلروا ي لن ع ب‬
‫ن ال ن ب‬
‫ص ب‬
‫قوُ ن‬
‫إب ن‬
‫ن ن‬
‫وُال نهل ع‬
‫نأ ع‬
‫م ل بيِ ن ل‬
‫سببيِ ب‬
‫دوا عأ ن ع‬
‫م ن‬
‫ذي ن‬
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk
menghalangi (orang) dari jalan Allah …” (Q.S. 8/al-Anfâl: 36).

KONSEP HARTA DALAM ISLAM (5)
‫قوُا مناَ ول ن أ نئذىً ل نه ن‬
‫ن‬
‫م‬
‫ف ل‬
‫م اَ أ نن ع ن‬
‫ف ل‬
‫ن ي لن ع ب‬
‫ال ن ب‬
‫م أ ع‬
‫م ل ن ي لت عب بلعوُ ن‬
‫قوُ ن‬
‫م بفيِ ن‬
‫جلرهل ع‬
‫ل ع‬
‫ن ن‬
‫ل اللهب ث ل ن‬
‫وُال نهل ع‬
‫ن أ ع‬
‫ن ن ن‬
‫س ببيِ ب‬
‫م ن‬
‫ذي ن‬
.(262 :‫ )البقرة‬... ‫م‬
‫ب‬
‫عأن عد ن نرب بهب ع‬

“Orang­orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang 
dinafkahkannya  itu  dengan  menyebut­nyebut  pemberiannya  dan  dengan  tidak  menyakiti  (perasaan 
sipenerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka …” (Q.S. 2/al­Baqarah: 262). 
SECARA

KHUSUS NABI SAW
DIPEROLEHNYA DENGAN CARA:

MELARANG

MENGGUNAKAN

HARTA

YANG

1. Ihtikâr, yaitu penimbunan secara spekulatif dalam bentuk barang sewaktu harga
masih stabil, kemudian menimbunnya di tempat tertentu sehingga terjadi
kelangkaan, lalu dijualnya dengan harga yang lebih tinggi.

‫ن‬

.(‫ئ )رواه مسلم‬
‫حت نك بلر ا عل ن‬
‫ل نين ع‬
‫خاَط ب ر‬
“Tidak ada yang melakukan penimbunan, kecuali hanya orang yan salah (berdosa)” (H.R.
Muslim).

2. Iddikhâr, yaitu menumpuk barang untuk kepentingan sendiri dan untuk dimakan
sendiri sewaktu orang lain telah mengalami kelangkaan makanan. Larangan ini
berlaku untuk waktu-waktu tertentu (temporal), yaitu musim kelangkaan bahan
pokok.

‫ح ىَ فنوُقن ث نل ن ر ن‬
‫ن‬
‫خلروا‬
‫ن فنك لللوُا نواد ع ن‬
‫ن إ بد ب ن‬
‫ضاَ ب‬
‫دافنةب فنعاَلْ ن‬
‫ل ال ن‬
‫ث ٍل ع‬
‫م ا عل ن‬
‫خاَرب ل ل ل‬
‫حوُ ل‬
‫ت ن نهنيِ عت لك ل ع‬
‫ك لن ع ل‬
‫ج ب‬
‫ع‬
‫م عأ ن ع‬
.(ً‫)رواه البخاَرى‬
“Sesungguhnya saya telah melarang kamu menumpuk daging qurban lebih dari keperluan tiga
hari karena ada kunjungan tamu, sekarang makanlah dan tumpuklah” (H.R. al-Bukhâry).

BAB II

ATURAN SEBELUM PEMBAGIAN WARIS


PENYEBAB MENERIMA DAN TIDAK MENERIMA HARTA WARIS

A. SEBAB­SEBAB BERHAK MENERIMA HARTA WARIS
     1. PERTALIAN NASAB (HUBUNGAN DARAH), SEPERTI: AYAH, IBU,
              KAKEK, NENEK, ANAK, DSB. 
     2. PERKAWINAN, YAKNI MENJADI SUAMI ATAU ISTERI.
     3. MEMERDEKAKAN (MU’TIQ).
     4. SESAMA ORANG YANG BERAGAMA ISLAM.
B. SEBAB­SEBAB TIDAK BERHAK MENERIMA HARTA WARIS
     1. MENJADI BUDAK/HAMBA SAHAYA
     2. MEMBUNUH
     3. MURTAD
     4. BEDA AGAMA





HAL­HAL YANG HARUS DILAKUKAN SEBELUM MENERIMA HARTA 
WARIS
PENYELENGGARAAN JENAZAH
PELUNASAN HUTANG MAYIT
PELAKSANAAN WASIAT MAYIT

BAB III

AHLI WARIS
AHLI WARIS LAKI­LAKI
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

ANAK LAKI­LAKI
CUCU LAKI­LAKI DARI ANAK LAKI­LAKI
AYAH
AYAHNYA AYAH (KAKEK)
SAUDARA LAKI­LAKI SEIBU­SEBAPAK
SAUDARA LAKI­LAKI SEBAPAK
SAUDARA LAKI­LAKI SEIBU
ANAK LAKI2 SDR LAKI2 SEIBU­SEBAPAK
ANAK LAKI2 SDR LAKI2 SEBAPAK
PAMAN SEIBU­SEBAPAK DENGAN AYAH
PAMAN SEBAPAK DENGAN AYAH
KEPONAKAN (ANAK PAMAN) DARI SDR 
LAKI2 SEIBU­SEBAPAK DENGAN AYAH
KEPONAKAN (ANAK PAMAN) DARI SDR 
LAKI2 SEBAPAK DENGAN AYAH
SUAMI
LAKI­LAKI YANG MEMERDEKAKANNYA

AHLI WARIS PEREMPUAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

ANAK PEREMPUAN
CUCU PEREMPUAN DARI ANAK 
LAKI­LAKI
IBU
IBUNYA AYAH (NENEK DARI 
AYAH)
IBUNYA IBU (NENEK DARI IBU)
SAUDARI SEIBU­SEBAPAK
SAUDARI SEBAPAK
SAUDARI SEIBU
ISTERI
PEREMPUAN YANG 
MEMERDEKAKANNYA

BAB IV

KADAR PEMBAGIAN HARTA WARIS (1)

















1/2 BAGIAN
 SEORANG ANAK PEREMPUAN TANPA ANAK LAKI­LAKI
 SEORANG ANAK PEREMPUAN DARI ANAK LAKI­LAKI TANPA ANAK (LAKI­
LAKI/PEREMPUAN)
 SEORANG SAUDARA PEREMPUAN S TANPA ANAK ATAU CUCU
 SEORANG SUAMI, TANPA ANAK ATAU CUCU

1/4 BAGIAN

 SUAMI, ADA ANAK ATAU CUCU
 ISTERI, TANPA ANAK ATAU CUCU

1/8 BAGIAN
 ISTERI, ADA ANAK ATAU CUCU
2/3 BAGIAN

DUA/LEBIH ANAK PEREMPUAN TANPA ANAK LAKI­LAKI
DUA/LEBIH  ANAK  PEREMPUAN  DARI  ANAK  LAKI2  TANPA  ANAK  (LAKI­
LAKI/PEREMPUAN)
DUA/LEBIH SAUDARA PEREMPUAN TANPA ANAK ATAU CUCU

KADAR PEMBAGIAN HARTA WARIS (2) 













1/3 BAGIAN

IBU,  TANPA  ANAK  ATAU  CUCU  ATAU  DUA/LEBIH  SAUDARA  (LAKI2/ 
PEREMPUAN)
DUA/LEBIH  SAUDARA  PEREMPUAN,  TANPA  AYAH  DAN  ANAK  (LAKI­
LAKI/PEREMPUAN).

1/6 BAGIAN

IBU,  ADA  ANAK  ATAU  CUCU  ATAU  DUA/LEBIH  SAUDARA  (LAKI2/ 
PEREMPUAN)
AYAH, ADA ANAK ATAU CUCU (JIKA  TANPA ANAK/CUCU, AYAH SEBAGAI  
‘ASHABAH)
NENEK,  TANPA  AYAH  (JIKA  IBUNYA  AYAH);  TANPA  IBU  (JIKA  IBUNYA 
IBU)
KAKEK,  TANPA  AYAH  TAPI  ADA  ANAK/CUCU  (JIKA  ADA  AYAH 
TERHALANG)
CUCU  PEREMPUAN  (DARI  ANAK  LAKI2),  TANPA  ANAK  LAKI2  ATAU 
DUA/LEBIH ANAK PRP.
SAUDARA SEIBU (LAKI2/PEREMPUAN), TANPA ANAK ATAU AYAH
SAUDARA  PEREMPUAN  SEBAPAK,  TANPA  ANAK/AYAH  NAMUN  ADA 
SEORANG SAUDARA PEREMPUAN SEKANDUNG (SEIBU­SEBAPAK).

BAB V

MASALAH­MASALAH DALAM PEMBAGIAN HARTA WARIS 
(1)


‘AUL



ADALAH  MASALAH  PENYELESAIAN  HARTA  WARIS  DI  LUAR  KETENTUAN 
KADAR  YANG  SUDAH  DITENTUKAN,  KARENA  HARTA  KURANG  DARI 
PEMBAGIAN  MENURUT  KADAR  PEMBAGIAN    YANG  TELAH  DITENTUKAN 
(DIDAPATKAN  JUMLAH  PEMBILANG  MELEBIHI  PENYEBUTNYA). 
PENYELESAIANNYA,  JUMLAH  PEMBILANG  MENJADI  PENYEBUT 
SEHINGGA DAPAT TERBAGI TANPA ADA KEKURANGAN HARTA WARIS.



RADD



ADALAH  MASALAH  PENYELESAIAN  HARTA  WARIS  DI  LUAR  KETENTUAN 
KADAR  YANG  TELAH  DITENTUKAN,  KARENA  ADA  SISA  (KELEBIHAN) 
HARTA.  CARA  PENYELESAIANNYA  ADALAH  SISA  HARTA  ITU  DIBAGI 
KEPADA  AHLI  WARIS  YANG  ADA  HUBUNGAN  NASAB  (DARAH) 
BERDASARKAN  PERBANDINGAN  MENURUT  KADAR  PEMBAGIAN  YANG 
TELAH DITENTUKAN.



GHARRAWAIN



ADALAH AHLI WARIS YANG HANYA TERDIRI DARI AYAH, IBU DAN SUAMI; 
ATAU  AYAH,  IBU  DAN  ISTERI.  CARA  PERHITUNGAN  PEMBAGIAN 
WARISNYA  DI  LUAR  KETENTUAN  PEMBAGIAN  WARIS  SESUAI  KADAR 
YANG TELAH DITENTUKAN KHUSUSNYA BAGI AYAH DAN IBU. AYAH DAN 
IBU  BEROLEH  SISA  HARTA  DIBAGI  SEBAGAIMANA  PEROLEHAN  ANAK 
LAKI­LAKI  BERBANDING  ANAK  PEREMPUAN  (DUA  BERBANDING  SATU), 
SETELAH PEROLEHAN SUAMI ATAU ISTERI.

MASALAH­MASALAH DALAM PEMBAGIAN HARTA 
WARIS (2)


HIJAB DAN MAHJUB



ADALAH PARA AHLI WARIS YANG BERSTATUS SEBAGAI PENGHALANG DAN 
YANG  DIHALANGI  UNTUK  MEMPEROLEH  HARTA  WARIS,  KARENA 
STATUSNYA  YANG  LEBIH  DEKAT  ATAU  LEBIH  JAUH  DENGAN  MUWARIS. 
MISALNYA CUCU TERHALANG MENERIMA WARIS KARENA ADA ANAK.



GONO­GINI



ADALAH  BERASAL  DARI  TRADISI  (ADAT)  BEBERAPA  KELOMPOK 
MASYARAKAT  DI  INDONESIA,  DI  MANA  ISTERI  PADA  DASARNYA  TELAH 
BERSUSAH­PAYAH  MENGURUSI  RUMAH  TANGGA  NAMUN  SANG  ISTERI 
DIANGGAP  TIDAK  MEMILIKI  HARTA  APAPUN  KARENA  TIDAK 
MENGHASILKAN  HARTA  .  JERIH  PAYAH  ISTERI  OLEH  ADAT  DIHARGAI 
DENGAN  HAK  PEMILIKAN.  KEMUDIAN,  OLEH  HUKUM  PERUNDANGAN  DI 
INDONESIA  (UU  PERKAWINAN  DAN  KOMPILASI  HUKUM  ISLAM) 
DIRUMUSKAN  BAHWA  GONO­GINI  ADALAH  HARTA  BERSAMA  SUAMI­
ISTERI  (TERHITUNG    MULAI  SAAT    TANGGAL  PERKAWINAN)  DENGAN 
PEROLEHAN  MASING­MASING    SEPARUH  HARTA  APABILA  TERJADI 
PERCERAIAN (CERAI HIDUP ATAU CERAI MATI).



WASIAT WAJIBAH



ADALAH  SEBUAH  WASIAT  YANG  DITETAPKAN  OLEH  HUKUM 
PERUNDANGAN  DI  INDONESIA  YANG  BERSIFAT  WAJIB  (WALAUPUN 
MUWARIS  TIDAK  MENGUCAPKAN  WASIAT  SEBELUM  MENINGGAL  DUNIA) 
YANG  DIBERIKAN  KEPADA  ANAK  ANGKAT    ATAU  ORANG  TUA  YANG 
BERBEDA AGAMA.

BAB VI

PRAKTIK PEMBAGIAN WARIS


Jika  seseorang  meninggal  dunia,  meninggalkan  harta  berjumlah  3  buah 
rumah (masing­masing seharga Rp. 150.000.000,­), sebidang  tanah seluas 25 
ha.  (permeter  harganya  Rp.  2.000.000,­),  simpanan  uang  di  Bank  Rp. 
3.000.000.000,­ dan uang tunai Rp. 750.000.000,­. Ahli warisnya terdiri dari: 
2  (dua)  orang  isteri,  2  (dua)  orang  anak  laki­laki,  3  (tiga)  orang  anak 
perempuan, 3 (tiga) orang cucu laki­laki dan 5 (lima) orang cucu perempuan 
(semua cucu dari anak perempuannya), seorang saudara laki­laki dan 2 (dua) 
orang  sauara  perempuan,  serta  ibunya.  Namun  sebelum  meninggal,  ia 
berwasiat (di hadapan para ahli warisnya) agar  sebuah rumahnya diberikan 
kepada  sebuah  Yayasan,  dan  2  (dua)  orang  pembantunya  diberi  masing­
masing  Rp.  25.000.000,­.  Berapakah  masing­masing  ahli  waris  memperoleh 
harta waris?



Sepasang  suami  isteri  meninggal  dunia.  Mereka  tidak  meninggalkan  anak, 
namun mengasuh seorang anak. Sang suami meninggalkan ibu dan seorang 
saudari,  sang  isteri  meninggalkan  ayah,  ibu  dan  saudara  laki­laki.  Sang 
suami meningalkan harta Rp. 540.000.000,­, sedang sang isteri meninggalkan 
harta Rp. 270.000.000,­. Bagaimana cara membagi waris bagi ahli waris yang 
ditingalkan mereka (menurut perhitungan waris Islam, dan menurut hukum 
perundangan)?

Dokumen yang terkait

Dokumen baru