Konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian tafsir Qs. 3/Ali-‘Imran: 159

KONSEP KECERDASAN RUHANI GURU
DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK
MENURUT KAJIAN TAFSIR QS. 3/ALI-‘IMRAN: 159
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar
Sarjana Pendidikan Islam

Oleh:
ABUBAKAR SAHBUDIN
NIM: 18100110000067

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014 M/1436 H

ABSTRAKSI

Konsep Kecerdasan Ruhani Guru dalam Pembentukan Karakter Peserta
Didik Menurut Kajian Tafsir QS. Ali-‘Imran: 159
Kata Kunci: Kecerdasan Ruhani, Guru, Karakter, Peserta Didik

Kecerdasan ruhani adalah identitas sejati dalam diri manusia, dan
merupakan kecerdasan tertinggi tentang kearifan dan kebenaran serta pengetahuan
yang bersumber dari Allah. Kepribadian yang dilandasi keimanan dan melahirkan
perilaku akhlak mulia, adalah manifestasi dari kecerdasan ruhani.
Bahwa guru sebagai pengajar, memikul tanggung jawab berat dan besar
jasanya, dalam mengembangkan pendidikan, oleh karenanya posisi guru menjadi
penting (orang penting), maka ia harus tampil baik sekali (prima), sehingga ia
menduduki derajat terhormat dalam masyarakat.
Tujuan penelitian ini difokuskan untuk mengungkapkan konsep
kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian
tafsir QS. Ali-‘Imran: 159. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan
(library research) dengan pendekatan secara kualitatif, yakni menelaah dan
menganalisis pemikiran-pemikiran dalam berbagai sumber data yang relevan, agar
memperoleh pemahaman yang mendalam atas tema pokok.
Terdapat lima kitab tafsir sebagai sumber data primer, yaitu: Tafsir
Jalalain, karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir
al-Mishbah, karya M. Quraish Shihab, Tafsir Ibnu Katsir (Lubābu at-Tafsir min
ibn Katsīr) Karya Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Aal asySyeikh, Tafsir Fi Zilalil Qur’an, karya Sayyid Quthb, dan Tafsir Al-Maragi,
Karya Ahmad Mustafa al-Maragi. Terkait metode tafsirnya, dalam penelitian ini
digunakan metode muqāran (komparasi), yaitu membandingkan kelima tafsir
tersebut sehingga diketahui kecenderungan para penafsir dalam objek kajiannya,
dimana membahas topik yang sama tetapi dengan redaksi yang berbeda.
Bahwa terdapat lima konsep perilaku yang mencerminkan kecerdasan
ruhani yaitu: lemah lembut terhadap peserta didik (linta lahum), menjadi guru
pemaaf (‘aafiina ‘aninnaas), selalu mendoakan dan memohon ampunan Allah
bagi peserta didiknya (wastaghfirlahum), dan bermusyawarah dengan mereka
(wasyaawirhum), serta bertawakkal kepada Allah (tawakkal ‘alallah).
Dengan demikian, keberhasilan proses pendidikan yang berorientasi pada
pembentukan karakter peserta didik, sesungguhnya ada di tangan para guru yang
memiliki kecerdasan ruhani, di samping memiliki berbagai kompetensi yang
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional,
dan kompetensi sosial.

vi

KATA PENGANTAR

Bismillāhirrahmānirrahīm, penulis memulai penyusunan skripsi ini
dengan menyebut Nama Dzat-Nya yang Mahamulia, dengan pengharapan semoga
mengalir keberkahan-Nya sehingga ilmu dan wawasan yang diperoleh membawa
manfaat setelah menyelesaikan program perkuliahan.
Al-Hamdulillāhirabbi al-‘ālamīn, seraya mengucapkan puji syukur
kehadirat Allah SWT Tuhan semesta alam, atas anugerah berbagai nikmat,
kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani aktifitas perkuliahan sampai tuntas,
dengan penuh semangat yang disertai pengalaman suka dan dukanya.
Shalawat dan Salam yang sempurna semoga Allah sampaikan kepada
Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat beliau, juga para
pengikut yang setia, semoga kita semua memperoleh syafaat beliau di hari
pembalasan kelak. mīn Yā Rabba al’ālamīn.
Menyadari sepenuhnya, bahwa tanpa bantuan dan kontribusi dari semua
pihak, rasanya mustahil bagi penulis untuk mampu menyelesaikan proses
perkuliahan sampai pada tahap akhir. Teringat sebuah hadits Nabi SAW:

‫َم ْن ََْ يَ ْش ُك ِر النَاس ََْ يَ ْش ُك ِر اه‬

Siapa yang belum berterimakasih kepada sesama
(mengindikasikan) ia belum bersyukur kepada Allah.

manusia,

Untuk itu secara tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sedalam-dalamnya atas jasa-jasa budi baik, kepada:
1.

Ibunda tercinta Siti Maimunah Komaruddin (Emma Bita), serta Mama
Ummiyati Ja’far Kansong Songge, dan Aba H. Kahruddin Kansong Songge
serta Mama Hj. Sonia Azahrah Kahruddin, dan Pamanda Ale Komaruddin
(Aba Ale), atas doa dan cinta kasih mereka yang tulus untuk ananda (penulis).

2.

Ust. Agus Sholeh, atas dorongan semangat dari beliau, sehingga penulis
berkesempatan mengikuti program perkuliahan.

vii

3.

Bapak Rektor UIN Jakarta beserta bapak ibu staf rektorat dan Dekan FITK
UIN Jakarta Ibu Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D, beserta bapak ibu staf dekanat.

4.

Bapak-bapak dan Ibu-ibu Dosen:

NO

NAMA DOSEN

MENGAMPU MATA KULIAH

1
2
3

Dr. Syamsul Arifin, M.Pd
Drs. E. Kusnadi
Zaharil Anasi, M.Hum

4

Drs. Safiuddin Sidik, MA

5
6

Drs. Jais Prasojo
Sudirman Tamin, MA

7

Zainal Muttaqin, MA

8

Dr. Yayah Nurmaliah, MA

9

Dra. Elo Al-Bugis, MA

10

Zikri Neni Iska, M.Psi

11

Nuraini Ahmad, M.Hum

12
13
14

Cut Dien Noerwahida, MA
A. Irfan Mufid, MA
Zaharil Anasi, M.Hum

15

Dra. Sofiah, MA

16
17
18
19

Prof. Dr. Armai Arief dan
Busahdiar MA (Asisten Dosen)
Syaifuddin, MA
Prof. Dr. Aziz Fachrurozi, MA

20

Dra. Eny Rosda Syarbaini, M.Pd

21

Drs. Faridal Arkam, M.Pd

22

Dr. Zubair Ahmad, MA

23

Prof. Dr. Salman Harun
viii

Bahasa Arab 1
Bahasa Indonesia
Bahasa Inggris 1
1. Fiqh 1 (Ibadah)
2. Ushul Fiqh 2
Pendidikan Kewarganegaraan
Pengantar Studi Islam
1. Qawaid al-Lughah
2. Bahasa Arab 2
1. Pengantar Ilmu Pendidikan
2. Pengembangan Kurikulum
PAI
1. Ulumul Qur'an 1
2. Ulumul Qur'an 2
Perkembangan Peserta Didik
(PPD)
1. Filsafat Umum
2. Filsafat Ilmu
Sosiologi Pendidikan
Sejarah Peradaban Islam
Bahasa Inggris 2
1. Ulumul Hadits 1
2. Hadits 1
3. Hadis Tarbawi
1. Sejarah Pendidikan Islam 1
2. Sejarah Pendidikan Islam 2
Ilmu Kalam 1
Pengembangan Profesi Keguruan
1. Bimbingan Konseling (BK)
2. Kesehatan Mental
Metode Penelitian Kependidikan
1. Ushul Fiqh 1
2. Masail Fiqhiyah 1
Tafsir 1

24

Prof. Dr. Abuddin Nata, MA

25

Dra. Djunaidatul Munawaroh, MA

26

Azharuddin Latif, M.Pd

27

Eva Fitriyati, M.Pd

28

Abdul Rauf, MA

29

31
32

Nuraida, M.Si
Prof. Dr. Rif'at Syauqi Nawawi,
MA
Drs. Rasiin, MA
Dr. Dimyati, MA

33

Prof. Dr. Muardi Chotib

34

Dr. Sururin, MA

35

Dr. Ahmad Shodiq, MA

36
37

Drs. Achmad Gholib, MA
Abdul Ghofur, MA

38

Drs. Rusdi Jamil, MA

39
40

Drs. Muarif SAM, M.Pd
Prof. Dr Abd. Rahman Ghozaly

41

Dr. Ansori LAL

42
43
44
45
46
47
48
49
50
51

Dr. Dardiri
Dra. Manerah
Syamsul Aripin, MA
Dr. Abdul Majid Khon
Dindin Sobiruddin, M.Kom
Dr. Sita Ratnaningsih, MA
Marhamah Saleh, Lc.
Firdausi, S.Si, M.Pd
Dr. A. Basuni, MA
Dr. Ulfah Fajarini

30

5.

Filsafat Pendidikan Islam
1. Ilmu Pendidikan Islam (IPI)
2. Perencanaan Pembelajaran
3. Telaah Kurikulum
Fiqh 2 (Munakahat)
1. Media Pembelajaran PAI
2. Materi Khusus (MK) PAI
Ulumul Hadits 2 (Takhrijul
Hadits)
Psikologi Pendidikan
Tafsir Tarbawy ( Studi Naskah )
Ilmu Kalam 2
Logika/Mantik
1. Fiqh 3 (Mawaris)
2. Masail Fiqhiyah 2
Psikologi Agama
1. Akhlak Tasawuf 1
2. Akhlak Tasawuf 2
PPMDI 1
Qiroatul Quthub 1
1. Fiqh 4 (Mu'amalah)
2. Fiqh Siyasah
Adm. & Supervisi Pendidikan
Qawaid Fiqhiyah
1. Filsafat Islam
2. Tafsir Maudhu'i
Qira-atul Kutub II (Tarjamah)
Evaluasi Pembelajaran
PPMDI II
Tarikh Tasyri'
Statistik Pendidikan 1
Kapika Selekta Pendidikan
Perbadingan Mazhab
Statistik Pendidikan 2
Studi Agama-Agama
Pengantar Ilmu Sosial

Ibu Dr. Sururin, MA, selaku Dosen Pembimbing penulisan skripsi.

ix

6.

Bapak Ibu Pegawai Akademik Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

7.

Bapak Ibu Pegawai Perpustakaan FITK dan Perpustakaan Umum UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

8.

Bapak Kamaluddin Taher Parasong, M.Si, dan terutama isteri beliau Ibu Dwi
Indah Wahyuningsih, M.Si, selaku Kepala SMP Wawasan Nusantara
Cengkareng Jakarta Barat, yang telah memberikan rekomendasi Surat
Keterangan Mengajar kepada penulis sebagai persyaratan mengikuti
perkuliahan.

9.

Istriku tercinta Ikay Rokayah, S.Ag, dengan setianya selalu sibuk setelah
shalat subuh untuk menyiapkan sarapan pagi setiap kali suaminya ini
(penulis) hendak berangkat kuliah pukul 06.30 WIB.

10. Ust. Muhammad Ahmad RAM, dan Ka’ Ummi Mudzakiratin, atas dukungan
doa serta bantuan moril maupun materil.
11. Kakakku dan adik-adikku serta semua keluarga besar yang secara tulus
memberikan dukungan doa dan bantuan moril maupun materil, khususnya
adikku Saiful Sahbudin, yang telah memberikan laptopnya, sehingga sangat
membantu kelancaran penyusunan skripsi ini. Bisa dibayangkan, andaikan
tanpa adanya laptop, pasti penulis akan menghadapi berbagai hambatan dan
kesulitan dalam proses penulisan (pengetikan) skripsi. Termasuk adikku
Aminullah Magun Ja’far yang memberikan bantuan dana guna pendaftaran
wisuda.
12. Bapak Mertua H. As’ad Zaeni dan keluarga besar di Garut, atas dukungan
doa serta bantuan moril maupun materil.
13. Bapak H. M. Syarifin Maloko, SH, Bapak H. Tuan TS, Bapak H. Dr.
Muhammad Ali Taher Parasong, dan Bapak H. M. Udrus Maloko, serta
Keluarga Besar PKLS (Persatuan Keluarga Lamakera Solor) di Jabodetabek
dan sekitarnya.
14. Bapak M. Harun Shikka Songge dan Bapak Hasan M. Noer, yang banyak
membantu secara moril maupun materil, terlebih lagi meminjamkan beberapa
buku guna referensi penulisan skripsi.

x

15. Bapak H. Lukman Sangadji, yang juga banyak membantu secara moril
maupun materil.
16. Sahabatku Pak Prayitno, juga banyak membantu di saat penulis kesulitan
keuangan yang sekedar buat transportasi (uang bensin) ke kampus, terlebih
ketika penulis menumpang di rumahnya untuk mencetak (ngeprint) naskah
skripsi ini.
17. Sahabatku Arwanto (Bos Pa’e) pengusaha sukses jasa foto copy di Cikini
Jakarta Pusat, yang juga sering membantu ketika penulis kesulitan keuangan,
terutama sumbangannya 2 rim kertas ukuran A4, guna penggandaan naskah
skripsi ini.
18. Ust. Muhiddin dan Kakanda Syukur Mukin di Kupang NTT. Dari kakanda
Syukur inilah, penulis memperoleh cerita tentang “go anak jawab kurang
to’u saja mo ma’ar we?, yang penulis masukkan dalam latar belakang
masalah pada bab 1 skripsi ini. Lantaran gaya cerita Ka Syukur yang lucu,
sehingga yang mendengar cerita tersebut, semuanya tertawa terpingkalpingkal termasuk Ust. Muhiddin.
19. Rekan-rekan sesama mahasiswa dan mahasiswi Kelas A dan Kelas B.
20. Semua pihak yang penulis tidak sebutkan nama mereka dalam pengantar ini,
namun telah memberikan bantuannya secara langsung maupun tak langsung.
Semoga Allah SWT, memberikan balasan dengan ganjaran kebaikan yang
berlipat ganda dan ampunan serta rahmat-Nya kepada semua pihak, yang telah
berjasa, sehingga penulis mampu menyelesaikan program perkuliahan dan
merampungkan penyusunan skripsi ini.
Akhirnya, meskipun sudah berupaya semaksimal mungkin, namun
disadari, karya ini masih terdapat kelemahan dan kekurangannya, serta jauh dari
tarap sempurna sebagai sebuah karya ilmiah.
Jakarta, November 2014/Shafar 1436 H
Hormat Penulis

ABUBAKAR SAHBUDIN
NIM: 18100110000067
xi

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
LEMBAR PERSETUJUAN BIMBINGAN SKRIPSI
LEMBARAN PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
LEMBARAN PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI
ABSTRAKSI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

BAB II

ii
iii
iv
v
vi
vii
xii

: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Perumusan Masalah
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1
6
7
7
8

: KAJIAN TEORITIK
A. Acuan Teori
1. Dimensi Kecerdasan Manusia
2. Rūh Menurut Al-Qur‟an
3. Makna Kecerdasan Ruhani
4. Dinamika Ruhani dan Jiwa yang Tenang
5. Pengertian dan Fungsi Guru
6. Hubungan Guru dan Peserta Didik
7. Definisi dan Hakikat Karakter
8. Landasan Hukum Pendidikan Karakter
9. Tentang Tafsir dan Surat Ali-„Imran
a. Definisi dan Keutamaan Tafsir
d. Tentang Surat Ali-„Imrān
B. Hasil Penelitian yang Relevan

9
9
10
12
15
20
21
22
23
24
24
25
26

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek dan Waktu Penelitian
B. Metode Penelitian
C. Fokus Penelitian
D. Prosedur Penelitian

xii

27
28
29
29

BAB IV : KECERDASAN RUHANI PERSPEKTIF QUR‟ANI
A. Tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159
B. Analisis Komparatif Tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159
C. Analisis Kandungan QS. 3/Ali-„Imran: 159
1. Lemah Lembut dan Tidak Berlaku Keras…
2. Memaafkan
3. Memohon Ampunan Allah bagi Mereka
4. Bermusyawarah
5. Tekad yang Bulat Disertai Tawakkal
D. Aspek-aspek Kecerdasan Ruhani Guru
1. Lemah Lembut terhadap Mereka (Linta lahum)
2. Jadilah Sosok Guru Pemaaf („aafiina „aninnaas)
3. Mendoakan Mereka (wastaghfir lahum)
4. Bermusyawarah dengan Mereka (wa syāwirhum)
5. Bertawakkal Kepada Allah
BAB V

: KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Implikasi
C. Saran

DAFTAR PUSTAKA

31
35
48
48
50
56
57
58
60
60
63
65
67
75

77
79
79
81

LEMBAR UJI REFERENSI

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Guru atau pengajar dalam bahasa Arab disebut mu‟allim. Kata almu‟allimu sebagai isim fā‟il (kata yang menunjukkan pelaku) berarti pengajar,
asalnya dari fi‟il (kata kerja):„allama-yu‟allimu artinya mengajarkan ilmu.
Jadi, al-mu‟allimu adalah orang yang mengajarkan ilmu.1
Untuk sampai pada tingkat mu‟allim seseorang haruslah melalui proses
yang cukup panjang. Proses itu dimulai dari ta‟allama-yata‟allamu artinya
belajar (menuntut ilmu secara terus menerus). Dengan ta‟allam (belajar),
seseorang dapat
Sedangkan

„ilmu

mencapai tingkat „alima-ya‟lamu artinya mengetahui.
artinya

pengetahuan.

Orang

yang

memiliki

ilmu/berpengetahuan disebut „ālim (pandai/pintar). Tanpa ada proses ta‟allam
(belajar) seseorang tidaklah sampai pada tingkat „ālim. Sebagaimana
ungkapan kata mutiara dalam pepatah/pribahasa Arab:

ِ ‫وعلْ ٍم َكمن هو ج‬
ِ ‫ ولَيس اَخ‬,‫تَعلَم فَلَيس اْمرء ي ولَ ُد عالِما‬
‫اهل‬
ُ َ ْ َ ً َ ْ ُ ُ َْ َ ْ ْ َ
َ َُ ْ َ

Belajarlah! Karena tidak ada seorang pun yang dilahirkan langsung
pandai, dan seorang yang tidak berilmu, dia seperti orang bodoh.2

Kata „ālim jamaknya (bentuk plural) adalah „ulamā‟ artinya: kumpulan
orang-orang pandai. Setelah menjadi „ālim (pandai) seseorang dituntut untuk
mengajarkan ilmunya („allama) kepada orang lain, sehinga sampailah ia pada
tingkat mu‟allim (sebagai pengajar). Bahkan antara ta‟allama (belajar) dan
„allama (mengajar) adalah sebuah proses untuk menjadi “sebaik-baik
manusia”, sebagaimana ungkapan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW:
1

Ahmad Warson Munawir. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia. (Yogyakarta: Unit
Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pesantren Al-Munawwir Krapyak. 1984). h. 1038
2
Tim Redaksi. Mahfudhat: Kumpulan Kata Mutiara dan Pribahasa Arab-Indonesia.
(Jakarta: Turos Pustaka. 2014) h. 73

1

2

َ‫َخْي ُرُك ْم َم ْن تَ َعلَ ََم الْ َق ْرآ َن َو َعلَ َمه‬

“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang belajar al-Qur‟an dan
mengajarkannya”. (H.R. Bukhari)3
Betapa

mulianya

derajat

mu‟allim,

karena

ia

seorang

yang

berpengetahuan („ālim/‟ulamā‟), bahkan dikatakan bahwa ulama merupakan
pewaris para nabi. Maknanya adalah menjadi pewaris berarti ia harus menjaga
warisan dengan sebaik-baiknya, bukan menjual atau menggadaikan warisan
itu untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Cita-cita menjadi guru adalah panggilan jiwa. Guru laksana cahaya
penerang di kegelapan malam pada setiap lintasan sejarah peradaban umat
manusia. Dunia berhutang budi kepada guru. Namun tidak semua orang yang
pandai itu mampu mengajarkan pengetahuannya dengan baik kepada orang
lain. Hal ini disebabkan ia tidak memiliki kompetensi sebagai pengajar (guru).
Kompetensi (competency) dapat diartikan dengan kemampuan, kecakapan atau
wewenang.4
Makna lain kompetensi adalah seperangkat tindakan intelegen penuh
tanggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap
mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu. Dengan
kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru, akan terwujud dalam bentuk
penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai
guru. Artinya guru bukan saja harus pintar tetapi juga pandai mentrasfer
(mengajarkan) ilmunya kepada peserta didik.5
Sejak belajar di bangku sekolah dasar hingga tingkat menengah, telah
muncul istilah “guru galak” (guru killer). Bahkan sampai di perguruan tinggi
pun terdengar pula istilah “dosen galak”. Konsekuensinya dapat dipahami,
bahwa guru galak dibenci oleh peserta didik. Akibatnya, mata pelajaran yang
Mannâ Khalil Al-Qaţţân, Studi Ilmu-Ilmu Qur‟an, Terj. Oleh Mudzakir AS. Cet. 13.
(Bogor: Pustaka Litera AntarNusa, 2010).h. 275
4
Fachruddin Saudagar dan Ali Udrus, Pengembangan Profesionalitas Guru, (Jakarta:
Gaung Persada-GP Press, 2011), Cet. III, h. 29.
5
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), Cet. IX, h. 5-6
3

3

diajarkan oleh guru galak, juga menjadi sasaran kebencian, sehingga mata
pelajaran tersebut tak dapat dipahami/diserap dengan baik oleh siswa. Guru
yang memiliki perangai kasar/galak, tidak jarang menjadikan peserta didiknya
sebagai sasaran kemarahannya, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik.
Penamparan, tendangan, pemukulan dengan penggaris, kayu atau rotan adalah
bentuk kemarahan yang seringkali diperagakan oleh guru galak terhadap
peserta didiknya.
Perilaku guru kasar, terkadang memunculkan reaksi dari para orang tua
siswa. Dahulu pada dekade 1980an di kampung penulis, ada cerita menarik.
Seorang murid SD ditampar gurunya lantaran tidak bisa menjawab pertanyaan
pelajaran Matematika. Sang guru bertanya, 2 + 5, lalu si murid menjawab 6.
Jawaban yang benar tentunya 7. Maka tak pelak lagi, si murid menerima
hadiah berupa tamparan di pipi. Dengan memendam rasa takut, maka si murid
membolos pulang ke rumah. Ayahnya yang bekerja di pelabuhan, kembali ke
rumah untuk makan siang, mendapatkan anaknya sudah ada di rumah sebelum
waktu pulang sekolah. Setelah memperoleh penjelasan anaknya, sang ayah
pun bergegas menuju ke sekolah untuk menemui sang guru yang telah
menampar anaknya. Di sana bertemulah dengan sang guru itu, dan keduanya
terlibat pertengkaran yang hebat (baku adu mulut) dengan dialek khas bahasa
kampung, sang ayah bertanya: “pa guru, kenapa anak saya dipukul?”. Sang
Guru menjawab: “Ya karena tadi saya bertanya 2 + 5, anak Bapa menjawab 6,
lalu saya tampar dia to?”. Sang ayah pun kembali merespon dengan dialek
kampung: “beh moe pa guru, go anak jawab kurang to‟u saja mo ma‟ar
we?”6 (“ah kamu Pa Guru, anak saya menjawab kurang 1 saja kamu pukul
kah?). Kelanjutan dari pernyataan sang ayah, kiri-kira maknanya begini:
“bagaimana kalau anak saya menjawab kurang 2 atau kurang 3, bisa-bisa anak
saya mati dibunuh”.
Tampil menjadi guru tidak hanya di lembaga pendidikan formal, karena
setiap orang adalah guru. Bapak-Ibu selaku orang tua adalah guru pertama
6

Bahasa Lamaholot, merupakan bahasa daerah masyarakat gugusan kepulauan Solor
yang terdiri dari tiga pulau yaitu Pulau Adonara, Pulau Lembata (Lomblen) dan Pulau Solor, yang
terletak di wilayah Kabupaten Flores Timur - NTT.

4

bagi anak-anak dalam keluarga. Seorang kakak menjadi guru yang baik
dengan keteladanannya, haruslah bersikap jujur dan amanah agar dapat
dihormati oleh adik-adiknya. Bahkan para pemimpin negara mestinya dapat
tampil sebagai guru-guru bangsa yang mencerahkan.
Demikian sekelumit problematika guru, baik guru di masyarakat
maupun guru di lembaga pendidikan formal. Ternyata menjadi guru, tidaklah
cukup memiliki kompetensi kognitif, dan berwawasan intelektualitas semata.
Fachruddin Saudagar dan Ali Udrus menjelaskan bahwa kompetensi guru
meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
profesional, dan kompetensi sosial.
Pertama, kompetensi pedagogik adalah sejumlah kemampuan guru
yang berkaitan dengan ilmu dan seni mengajar. Prof. Dr. J. Hoogeveld
(Belanda) menjelaskan pedagogik adalah imu yang mempelajari masalah
membimbing anak ke arah tujuan tertentu, supaya kelak ia mampu secara
mandiri menyelesaikan tugas hidupnya.
Para ahli/pakar pendidikan telah mengembangkan teori pedagogik,
maka terdapat dua teori pedagogik yang cukup berpengaruh dalam dunia
pendidikan yaitu pedagogi behaviorism dan pedagogi konstruktivism.
Kemudian

pedagogi

behaviorism

mendapat

kritik

sebagai

pedagogi

penindasan, karena menghambat kreativitas dan pengembangan potensi siswa.
Maka muncullah teori pedagogi konstruktivisme yang berbasis humanisme
seiring dengan berkembangnya pendidikan demokratis, pendidikan humanis,
dan pedagogi yang menghargai potensi, aktivitas dan kemampuan belajar para
pembelajar.7
Kedua, kompetensi kepribadian yang dimiliki oleh guru adalah nilainilai kebajikan yang bersumber pada ajaran agama sesuai dengan
keyakinannya. Pemahaman, penghayatan dan pengamalan atas nilai-nilai
kebajikan tersebut, seorang guru akan tampil sebagai pribadi yang berakhlak
Dede Rosyada. “Pembelajaran PAIS antara Behaviorisme dan Constructivisme. dalam
Marwan Saridjo (Penyunting). Mereka Bicara Pendidikan Islam: Sebuah Bunga Rampai. (Jakarta:
DPP GUPPI bekerja sama dengan RajaGrafindo Persada dan Yayasan Ngali Aksara. 2009). h.
130-152.
7

5

mulia, berwibawa, sehingga ia dapat menjadi teladan bagi peserta didik. Jadi
yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang
berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru, yang kelak harus memiliki nilainilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari.
Ketiga, yang dimaksud dengan komptensi profesional adalah, seorang
guru harus memiliki kemampuan yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas
pendidikan dan pengajaran, yang meliputi: pengetahuan, sikap, dan
keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis.
Keempat, kompetensi sosial, menurut ungkapan Ahmad Sanusi adalah:
mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tuntutan kerja dan
lingkungan sekitar, pada waktu melaksanakan tugasnya sebagai guru. 8
Imam Al-Ghazali menjelaskan gambaran terbaik bagi seorang pengajar
yang mursyid adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, orang
inilah yang disebut orang besar di kalangan para malaikat di langit. Dan tidak
layak bagi seorang pengajar bersikap seperti jarum yang menjahit pakaian
untuk yang lain sedang dia sendiri telanjang, atau seperti sumbu pelita yang
memberikan penerangan kepada yang lain, sedang dia sendiri terbakar.9
Selanjutnya Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa menjadi pengajar,
hendaklah ia memelihara etika dan tugasnya sebagai berikut:
1. Menyayangi orang yang belajar kepadanya dan memperlakukannya
sebagai anaknya.
2. Mengikuti jejak Rasul.
3. Janganlah ia menyimpan suatu nasihat untuk keesokan harinya,
seperti larangannya mengemukakan tingkat yang lebih tinggi
sebelum berhak diterima oleh muridnya, dan larangan menyelami
ilmu yang samar sebelum ilmu yang terang dikuasainya.
4. Memberi nasehat kepada murid dan melarangnya dari akhlak-akhlak
tercela, melalui kata-kata sindiran, tidak secara terang-terangan.
8

Fachruddin Saudagar dan Ali Udrus, Pengembangan Profesionalitas Guru, (Jakarta:
Gaung Persada-GP Press, 2011), Cet. III, h. 31 - 63
9
Imam Al-Ghazali, Ringkasan Ihya‟ „Ulumuddin, Terj.oleh Bahrun Abu Bakar. L.C. cet.
I (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), h. 32.

6

Karena sesungguhnya ungkapan secara terang-terangan itu merusak
wibawa yang menghijabi diri gurunya. 10
Berbagai usaha terus dilakukan agar tindak kekerasan dalam pendidikan
seperti yang terjadi pada tahun-tahun silam atau pun terkadang masih kerap
terjadi hingga saat ini, dapat diminimalisir bahkan sedapat mungkin dihapus
dari dunia pendidikan. Kini secara nasional sedang diupayakan untuk
mendesain sekolah ramah anak, yang secara konseptual bertujuan untuk
mendidik dan melindungi anak-anak dengan memiliki prinsip-prinsip yang
dapat diintegrasikan ke dalam bidang-bidang implementasi, meliputi: tanpa
kekerasan, tanpa diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak dan hak untuk
tumbuh, serta penghargaan terhadap anak.11
Guna mewujudkan usaha-usaha tersebut, maka guru berada pada garda
terdepan merupakan sosok yang dapat mengambil peran penting sebagai posisi
strategis dalam menyelenggarakan pendidikan. Guru tidak hanya memiliki
kemampuan intelektual dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik. Aspek
lain seperti kecerdasan emosional dan spiritual semestinya juga harus dimiliki
oleh seorang guru dalam membentuk karakter peserta didik sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional.
Dengan demikian, skripsi ini mencoba mengungkapkan aspek
kecerdasan ruhani bagi setiap guru dalam mendidik, guna membentuk karakter
peserta didik berdasarkan petunjuk Al-Qur‟an.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan sekelumit permasalahan sebagaimana uraian pada latar
belakang masalah, maka penulis melanjutkan dengan mengidentifikasi
masalah sebagai berikut:

10
11

h.5

Ibid., 32-33
“Sekolah Ranah Anak Menuju Pendidikan Ramah Anak”. Warta KPAI. Edisi III, 2013.

7

1. Dalam mengajar, sebagian guru membekali dirinya, dengan lebih
mengutamakan kecerdasan intelektual, sehingga mengabaikan sisi
lain dari kecerdasan yaitu kecerdasan ruhani.
2. Sebagian guru mengenal murid-muridnya dalam batas lahiriah saja,
bahkan ada guru yang tidak mengetahui nama muridnya sendiri,
sehingga antara guru dan murid tidak memiliki hubungan/ikatan
batin yang kuat. Apalagi guru hampir tidak pernah menyertakan
murid-muridnya bagian dari lantunan doanya. Dengan kata lain, guru
tidak mendoakan murid-muridnya agar mereka mendapatkan
ampunan Allah dan kekuatan lahir batin dalam menjalani proses
pendidikan serta sukses meraih cita-cita.
3. Sebagian guru masih memfokuskan diri sekedar mentrasfer
pengetahuan kepada muridnya, dan belum secara maksimal
berorientasi pada pembentukkan karakter.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan, maka penulisan
skripsi ini akan dibatasi pada pembahasan teori kecerdasan ruhani serta makna
dan hakikat karakter menurut beberapa sumber data yang relevan dengan tema
utama yaitu: Konsep Kecerdasan Ruhani Guru dalam Pembentukan Karakter
Peserta Didik Menurut Kajian Tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159.

D. Perumusan Masalah
Dengan memahami hal-hal yang telah diuraikan, maka penulis
mengajukan rumasan masalahnya, yaitu: bagaimana konsep kecerdasan ruhani
guru dalam pembentukan karakter peserta didik menurut kajian tafsir QS.
3/Ali-„Imran: 159?

8

E. Tujuan dan Manfaat Hasil Penelitian
Berdasarkan perumusan masalahnya, maka penelitian ini bertujuan
untuk memahami konsep kecerdasan ruhani guru dalam pembentukan karakter
peserta didik menurut kajian tafsir QS. 3/Ali-„Imran: 159.
Dengan tujuan tersebut, kiranya penelitian ini juga memperoleh manfaat
yaitu:
1. Untuk menambah khazanah pengetahuan khususnya bagi penulis,
umumya bagi praktisi pendidikan, bapak-ibu guru dan para calon
guru yang bercita-cita untuk mengabdikan dirinya dalam dunia
pendidikan.
2. Menjadi perhatian para pemangku kebijakan pendidikan nasional,
bahwa kajian ini sebagai kontribusi kecil dalam mendukung tujuan
pendidikan, yang berorientasi pada pembentukan karakter.
3. Dapat digunakan oleh siapa saja sebagai rujukan untuk melakukan
penelitian lebih lanjut secara mendalam dan komprehensif.

BAB II
KAJIAN TEORITIK

A. Acuan Teori
1. Dimensi Kecerdasan Manusia
Dalam kamus bahasa Indonesia, kecerdasan berarti kesempurnaan
perkembangan akal budi.1 Kecerdasan adalah anugerah Tuhan. Para ahli
mengemukakan, bahwa terdapat beberapa kecerdasan dalam dimensi
kemanusiaan. Wahyuni Nafis yang mengutip Robert Frager, mengungkapkan,
manusia memiliki empat kecerdasan yaitu: kecerdasan jasmani, kecerdasan
pribadi, kecerdasan emosi, dan kecerdasan spiritual. Adapun kecerdasan
spiritual berarti manusia telah dibekali aspek ruhaniah.2
Pendapat lain tentang kecerdasan manusia, ialah: kecerdasan
intelektual (Intelektual Quotient – IQ), kecerdasan emosi (Emotional
Quotient – EQ), dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient – SQ). Menurut
Toto Tasmara bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan ruhani,
kecerdasan jiwa yang bertumpu pada ajaran cinta (mahabbah).3
Manusia tercipta dari unsur tanah, kemudian hidup dengan ruh ilahi.
Adanya unsur tanah, maka manusia dipengaruhi oleh kebutuhan yang sama
dengan makhluk lainnya. Sedangkan unsur ruhani yang membedakan
manusia dengan makhluk lain yang sekedar memenuhi kebutuhan jasmani
(makan, minum) dan kebutuhan biologis.4

1

W. J. S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (Jakarta: PN Balai Pustaka.
1976) h. 201
2
Sururin, Perempuan dalam Dunia Tarekat: Studi tentang Pengalaman Beragama
Perempuan Anggota Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah, (Jakarta: Kementerian Agama RI
Direktorat Jendral Pendidikan Islam Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, 2012). h. 251-259
3
M. Furqon Hidayatullah,. Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas.
Cet. Ke-3. (Surakarta: Yuma Pustaka. 2010). h. 209
4
Abdul Majid & Dian Andayani. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Cet. III.
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2013). h. 75-79

9

10

Menurut Al-Ghazali (1058-1111), manusia terdiri dari dua bagian,
yaitu badan dan jiwa. Badan adalah materi gelap yang kasar, tersusun,
bersifat tanah, tidak sempurna, tercipta dari alam khalq. Sedangkan jiwa tidak
bisa diukur/ditakar, karena itu ia tidak bisa dibagi. Antara badan dan jiwa
terdapat hakikat manusia, maka hakikat manusia adalah ruhani, yang tercipta
dari alam ‘amr.5

2. Rūh Menurut Al-Qur’an
Pertanyaan mendasar: “apakah ruh itu?”. Al-Qur‟an berbicara tentang
ruh: Berikut ini akan ditampilkan beberapa ayat al-Qur‟an tentang ruh:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah “ruh itu
termasuk urusan Tuhan-Ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit”. (QS. 17/Al-Israa’: 85)
Ayat ini menjelaskan bahwa hakikat ruh tidak dapat diketahui oleh
manusia, kecuali sedikit ilmu yang diberikan oleh Allah untuk menyingkap
fenomena ruh.
Kalimat “ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku” berkemungkinan
bahwa ia dalah sinonim dengan sesuatu. Maka ruh adalah bagian dari hal-hal
yang besar, dan hanya diketahui oleh Allah SWT. Sedangkan penyandaran
kata “amr” (urusan) adalah perkara yang pengetahuan tentangnya hanya
dimiliki oleh Allah SWT.6

5

Akhmad Sodiq, MA. “Transformasi Ruhani dalam Perspektif Al-Ghazali”. Disertasi
pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2008/1429. h. 31
6
Ali Abdul Halim Mahmud. Pendidikan Ruhani. Terjemahan dari at-Tarbiyatu alRūhiyyah oleh Abdul Hayyie al-Kattani dkk. (Jakarta: Gema Insani Press. 2000). h. 67..

11

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah
meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud.7 (QS. 15/Al-Hijr: 28-29)

(Ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan
kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan
bersujud kepadanya. (QS. 38/Shaad: 71-72)

Dua ayat dari surat al-Hijir: 28-29, dan surat Shaad: 71-72,
menjelaskan tentang unsur terpenting dari penciptaan manusia pertama yaitu
Nabi Adam as. bahwa, ia tercipta dari unsur tanah liat kering dari lumpur
hitam yang diberi bentuk, kemudian Allah meniupkan ruh ciptaannya ke
dalam tubuh yang telah dibentuk. Setelah penciptaan, para malaikat
diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Adam (manusia pertama)
yang telah Dia Ciptakan.

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.

7

Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan. Lihat
Al-Qur’an dan Terjemahannya, terbitan Khadim al-Haramain asy-Syarifain (Pelayan kedua Tanah
Suci) Raja Fahd ibn „Abd al‟Aziz, dan telah mendapatkan Tanda Tashih dari Departemen Agama
RI pada 3 Sya‟ban 1410 H/28 Februari 1990. h. 393

12

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina
(air mani).
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya
ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
pengelihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS.
32/As-Sajdah: 7-9)

Pada hari ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka
tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya
oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucap kata-kata yang
benar. (QS. 78/An-Naba’: 38)
Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud “ruh” dalam ayat
tersebut. Ada yang mengatakan “Jibril” ada yang mengatakan “tentara Allah”
dan ada yang mengatakan “ruh manusia”8

3. Makna Kecerdasan Ruhani
Kecerdasan ruhani adalah identitas sejati dalam diri manusia, dan
merupakan kecerdasan tertinggi tentang kearifan dan kebenaran serta
pengetahuan yang bersumber dari Allah.
Ruh adalah suatu kekuatan yang tidak terlihat, abstrak, rumit, namun
ia ada, yang dapat menghubungkan manusia dengan sesuatu yang tidak
diketahui, dan tidak mungkin dijangkau oleh indra. Ia adalah alat untuk
mengadakan kontak dengan Allah. Maka ruhani adalah pusat eksistensi
manusia, dan landasan tempat sandaran eksistensi itu, sehingga seluruh alam
ini saling berhubungan. Ruhani merupakan pemeliharaan kehidupan manusia,
dan penuntun kepada kebenaran ilahi. Oleh karenanya, Islam memberikan
perhatian yang sangat besar terhadap pembinaan ruhani, ia merupakan suatu
agama fitrah9

8

Ibid.., h. 1016
Muhammad Quthb. Sistem Pendidikan Islam. Terj. dari ManhājTarbiyatul Islamiyah.
oleh Salman Harun. (Bandung: PT. Al-Ma‟arif. ). h.53-59
9

13

Dengan demikian ruhani adalah sifat-sifat ruh atau hal-hal yang
berkaitan dengan ruh, yang diberikan tugas untuk membimbing manusia agar
selalu berada di jalan Tuhan. Ruhani inilah sebagai sumber jiwa rabbani yang
terdapat dalam diri manusia. Hanya jiwa rabbanilah yang mampu
berkomunikasi dengan Tuhan dan mengapresiasi realitas gaib yang tidak
sanggup dijangkau oleh jiwa insani. Demikian menurut Prof. Dr. Komaruddin
Hidayat.10
Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah, bahwa kata “rūh”
pada QS. 17/Al-Israa‟: 85, dipahami oleh banyak ulama adalah dalam arti
potensi pada diri makhluk yang menjadikannya dapat hidup. Thabāthabā‟i
menjelaskan kata “rūh” berarti sumber hidup yang dengannya hewan
(manusia

dan

binatang)

dapat

merasa

dan

memiliki

gerak

yang

dikehendakinya, juga digunakan untuk menunjuk hal-hal yang berdampak
baik lagi diinginkan, seperti ilmu yang dinilai sebagai kehidupan jiwa.
Firman-Nya: Ruh itu termasuk urusan Tuhan-Ku, dipahami oleh
Thabāthabā‟i dalam arti ketetapan Allah secara langsung, tanpa melalui
hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya, tidak memerlukan pentahapan,
waktu, dan tempat. Lanjutan Firman-Nya: dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit, menunjukkan keterbatasan manusia untuk
mengetahui hakikat ruh. Atas dasar itu, boleh jadi dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, manusia terus berupaya memahami hakikat ruh secara umum.11
Tentang ruh bahwa tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit, hal ini menarik untuk mengetengahkan ungkapan Bapak Dr. Akhmad
Sodik, MA., beliau adalah dosen penulis yang mengampu mata kuliah Akhlak
Tasauf, bahwa:

‫ قل ْي ٌل ع ْنده وكث ْي ٌر ع ْند النَا‬/(qalīlun ‘indallāh wa katsīrun ‘inda an-

nās)/sedikit di sisi Allah namun banyak bagi manusia. Maka hemat penulis
sebagaimana anugerah lainnya, bahwa sedikit dalam pandangan Allah, namun
terasa banyak dalam pandangan manusia.
Komaruddin Hidayat. “Eksistensi Jiwa Rabbani” dalam Kolom Rektor UIN Jakarta.
Jumat, 03 Agustus 2012.
11
M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Vol.
7. Cet. II. (Jakarta: Lentera Hati. 2002). h. 181-184
10

14

Lebih lanjut, ketika menafsirkan QS. 32/As-Sajdah: 9, Quraish Shihab
menjelaskan kata ( ‫) م ْن روْ حه‬/min rūhihi, secara harfiah berarti dari rūh-Nya
(dari rūh Allah), bukan berarti ada “bagian” Ilahi yang dianugerahkan kepada
manusia, karena Allah tidak terbagi, tidak juga terdiri dari unsur-unsur. Jadi
ruh itu adalah ciptaan-Nya. Penisbahan ruh itu kepada Allah adalah
penisbahan pemuliaan dan penghormatan. Jika dipahami, ayat ini bagaikan
berkata:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam

(tubuh)nya ruh (yang mulia dan terhormat dari ciptaan-Nya).12
Dengan ruh, ia mengikat dari dimensi kebutuhan tanah itu – walau ia
tidak dapat bahkan tidak boleh melepaskannya. Ruh pun memiliki kebutuhankebutuhan agar dapat terus menghiasi manusia. Dengan ruh, manusia diantar
menuju tujuan non materi yang tidak dapat diukur di laboratorium, tidak juga
dikenal di alam materi. Dimensi spiritual ini yang mengantar manusia untuk
cenderung kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan (pengabdian
kepada sang Pencipta) dan lain-lain. Demikian menurut Quraish Shihab.
Jadi, dalam diri manusia terdapat ruh yang mulia dan terhormat dari
ciptaan Allah sebagai sumber kehidupan. Derajat kemulian manusia terletak
pada seberapa besar mengoptimalisasikan ruh ilahi guna mengaplikasikan
nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan.
Lanjutan QS. 32/As-Sajdah: 9: dan Dia menjadikan bagi kamu
pendengaran, pengelihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Ayat ini menggunakan kata ( َ‫ ) ال َسمْع‬as-sam’a/pendengaran dengan bentuk
tunggal dan menempatkan sebelum kata ( ‫ ) اأبصار‬al-abshār/pengelihatanpengelihatan yang berbentuk jamak serta (َ‫ ) َاأفئدة‬al-af’idah/aneka hati yang
juga berbentuk jamak.13 Untuk memahaminya dengan merujuk kepada QS.
16/al-Nahl: 78, Quraish Shihab menguraikan tafsirnya: dan Dia menjadikan
bagi kamu pendengaran, pengelihatan-pengelihatan dan aneka hati sebagai
bekal dan alat-alat untuk meraih pengetahuan agar kamu bersyukur dengan

12
13

Ibid., Vol. 10. h. 368-369
Ibid., h. 369

15

menggunakan

alat-alat

tersebut

menganugerahkannya kepada kamu.

sesuai

dengan

tujuan

Allah

14

Untuk memahami kata tasykurun ( ‫ ) تشكرون‬dengan merujuk ke QS.
30/Ar-Rūm: 46. Quraish Shihab menguraikan tafsirnya: kata itu terambil dari
kata syukur ( ‫ ) شكر‬yang inti maknanya adalah memfungsikan anugerah Allah
sesuai dengan tujuan penciptaannya. Sebanyak manfaat yang Anda dapat raih
sebanyak itu pula pertanda kesyukuran Anda, selama Anda rasakan dan sadari
bahwa semua yang Anda raih itu bersumber dari Allah dan berkat rahmatNya.15
Rujukan selanjutnya dari penjelasan tentang kata syukur adalah QS.
31/Luqman: 12, Quraish Shihab menguraikan tafsirnya, bahwa syukur
maknanya berkisar antara lain pada pujian atas kebaikan serta penuhnya
sesuatu. Manusia bersyukur kepada Allah dimulai dengan menyadari dari
lubuk hatinya yang terdalam akan anugerah-Nya disertai dengan ketundukan
dan kekaguman sehingga melahirkan rasa cinta kepada-Nya serta dorongan
untuk memuji-Nya dengan ucapan sambil melaksanakan apa yang Dia
kehendaki dari penganugerahan itu.16
Dengan demikian, di antara indikasi seseorang memiliki kecerdasan
ruhani adalah menyadari segala anugerah Allah dengan penuh rasa syukur
dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dengan penuh rasa tanggung
jawab.

4. Dinamika Ruhani dan Jiwa yang Tenang
Ketika memulai mata kuliah Akhlak Tasauf, Bapak Dosen Dr.
Akhmad Sodik, MA.,

menjelaskan tentang proses pembentukan akhlak.

Dimulai dari niat, prilaku, kebiasaan, sehingga terbentuklah akhlak. Niat
adalah hasil dari perdebatan batin yang mempertimbangkan masukan berupa
ilham dan was-was. Prilaku adalah ekspresi niat dengan kesadaran dan

14

Ibid., Vol. 6. h. 672
Ibid., Vol. 10. h. 245
16
Ibid., h. 292-293
15

16

pemikiran, biasanya masih ada rasa keterpaksaan. Kebiasaan berarti setelah
prilaku dibiasakan, maka ia menjadi ringan untuk dilakukan, tidak ada rasa
berat dalam melakukan itu. Puncaknya adalah akhlak, menunjukkan bahwa
jika kebiasaan itu diinternalisasikan hingga terbentuklah perbuatan yang
muncul tanpa pemikiran dan pertimbangan lagi. Pada level ini pelaku akan
selalu merasakan kenikmatan melakukan akhlak terkait.
Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh dinamika ruhani, sehingga
melahirkan dua jenis akhlak yang saling bertentangan, yakni akhlak
mahmudah (akhlak terpuji/perilaku positif) dan akhlak madzmumah (akhlak
tercela/perilaku negatif). Masing-masing akan merasakan kenikmatannya.
Bagi yang memahami dan menghayati nilai-nilai ruhani, maka dia mencapai
kebahagiaan karena telah mampu mewujudkan sikap dan prilaku dengan
akhlak terpuji, namun bersedih hati bila terjerumus dalam dosa. Sedangkan
bagi yang mengotori jiwa dengan gejolak nafsu dan mengabaikan nilai-nilai
kebenaran bahkan menentangnya, dia pun berpuas diri penuh bangga bila
terus bermaksiat tanpa memikirkan akibatnya.
Bahwa dalam diri manusia terdapat al-qalb (hati), al-‘aql (rasio/akal)
dan an-nafs (nafsu). Hati adalah tempat bersemayam malaikat untuk
membimbing manusia, dan nafsu adalah tempat bercokol syetan untuk
menjerumuskan manusia. Sedangkan akal laksana medan pertempuran antara
malaikat dan syetan untuk menguasai perilaku manusia. Malaikat dengan
kelembutannya membisikkan nilai-nilai ketuhanan dalam hati manusia.
Adapun syetan dengan menggebu-gebu membisikkan angkara murka dalam
nafsu.
Sebuah ilustrasi tentang daya-daya ruhani yang dikutip oleh Dr.
Akhmad Sodiq, MA dari Kimiya al-Sa’adah karya Imam Al-Ghazali:
“Jiwa itu laksana sebuah negeri. Ladangnya adalah dua tangan, dua
kaki, dan seluruh anggota tubuh lainnya. Tuan tanahnya adalah nafsu
seksual (syahwat), sedangkan nafsu agresi (ghadhab) adalah
penjaganya. Al-Qalb adalah rajanya dan al-‘aql adalah perdana
menterinya. Wajib bagi sang raja tersebut bermusyawarah dengan
perdana menteri guna menjadikan tuan tanah itu tunduk di bawah
kendali perintah perdana menteri demi kelanggengan kerajaan dan

17

kemakmuran negeri. Demikianlah kondisi al-qalb yang selalu
bermusyawarah dengan al-‘aql guna menjadikan nafsu syahwat dan
ghadhab di bawah kendali perintahnya. Dengan demikian situasi jiwa
benar-benar tenteram sehingga mampu mencapai sebab kebahagiaan
ma‟rifat terhadap realitas transendental (al-hadhrah al-ilāhiyyah).
Akan tetapi jika akal berada di bawah al-ghadhab dan syahwat maka
hancurlah jiwa itu dan jadilah al-qalb sebagai yang celaka di akhirat.17
Berikut ini adalah skema dinamika ruhani yang telah disajikan oleh
Dr. Akhmad Sodik, MA, ketika menyampaikan materi mata kuliah Akhlak
Tasauf dalam bentuk power point:

Syetan secara menggebu-gebu telah menguasai nafsu kemudian
berhasil memperdaya rasio, dan ia dengan arogansinya menolak apa pun dari
rasio, padahal rasio telah menerima pencerahan hati yang bersumber dari
bimbingan malaikat. Oleh karena pertarungan telah dimenangkan oleh syetan,
maka melahirkan perilaku negatif. Gejolak syahwat adalah konsumsi nafsu
untuk meraih apa yang diinginkan tanpa memperdulikan batas-batas moral.
(na’udzu billahi min dzālik).
Akhmad Sodiq, MA. “Transformasi Ruhani dalam Perspektif Al-Ghazali”. Disertasi
pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 2008/1429. h. 88.
17

18

Malaikat membisikkan dengan lembut (tidak menggebu-gebu) ke
dalam hati, kemudian membimbing kepada rasio (akal), selanjutnya dengan
kekuatan yang mencerahkan, akal dapat menundukkan nafsu, sehingga nafsu
mampu menolak hasutan syetan, maka akan melahirkan perilaku positif.
Adalah dzikrullah sebagai konsumsi jiwa yang tenang (nafsulmutmainnah) karena telah mendapat bimbingan malaikat sehingga mampu
menundukkan gejolak syahwat. Jiwa yang tenang ini akan memperoleh
panggilan mesra dari Tuhan.
Allah berfirman:

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram. (QS. 13/Ar-Ra‟du: 28)

19

Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah
hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. 89/AlFajr: 27-30)
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang dikecualikan dari jiwa yang
memerintah kepada keburukan, yakni jiwa yang dirahmati Tuhan:

(Yusuf berkata:) dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),
karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. 12/Yusuf:
53)
Mengutip Prof. Dr. Rif‟at Syauqi Nawawi, MA, beliau adalah dosen
penulis yang mengampu mata kuliah Tafsir Tarbawi. Menurutnya, bahwa
manusia yang memiliki jiwa yang tenang (nafsul muthmainnah) dalam
rangkaian QS. 89/Al-Fajr: 27-30, diindikasikan memiliki karakter sebagai
berikut:
a. Cenderung ingin kembali dan ingin dekat kepada Tuhan atau ingin
sesuai dengan yang digariskan Tuhan, dalam menempuh
kehidupan. Hal tersebut seperti dapat dipahami dari frase: irji’ī ila
rabbiki = kembalilah kepada Tuhan/Rabbmu. Kecenderungannya
ialah pada bagaimana hidup ini diselaraskan dengan apa yang
dikehendaki Tuhan, rabbnya. Agaknya jiwa kategori ini dapat
disebut dengan al-nafs al-rabbaniyyah (jiwa rabbani) yang segala
sesuatu yang dikerjakannya cenderung disesuaikan dengan nilainilai ketuhanan.
b. Menerima dengan rela dan puas segala apa yang digariskan Allah
kepadanya, dan menjalankan semuanya dengan perasaan puas pula.
Hal tersebut dapat dipahami dari radhiyatan, ayat 28. (QS. 89/AlFajr: 28)
c. Batinnya tidak cemas dan tidak bersedih, karena merasa optimis
untuk memperolah rahmat Tuhan. Inilah maksud kata
“mardhiyyah” di akhir ayat 28 (QS. 89/Al-Fajr: 28). Perasaan
demikian timbul karena iman yang mantap kepada Allah, amal-

20

amal salih yang nyata dan ikhlas, serta keyakinan yang kuat bahwa
Tuhan akan membalasnya pada hari akhir nanti.
d. Kecenderungannya bergabung dengan hamba-hamba Allah yang
salih, untuk mencari kebaikan-kebaikan dan mencontoh
keteladanan mereka. Ini dapat ditangkap dari frase: fadkhuli fi ibadi
= masuklah dalam (golongan) hamba-hamba-Ku, ayat yang ke 29
((QS. 89/Al-Fajr: 29).
e. Merasa mantap, atas dasar iman yang benar, amal-amal salih yang
nyata dan atas keyakinan bahwa ia pasti dibalasi oleh Tuhan di
akhirat, dialah orangnya yang bakal masuk surga-Nya. Makna ini
diambil dari frase: wadkhuli jannati (masuklah engkau ke dalam
syurga-Ku), pada ayat 30 (QS. 89/Al-Fajr: 30).18
Jadi, jiwa yang tenang bukan berarti seseorang telah kehilangan (mati)
hasratnya, akan tetapi gejolak hasratnya telah ditundukkan dan dikendalikan
oleh pencerahan akal budi dalam bimbingan jiwa rabbani dan kecerdasan
ruhani yang diarahkan menuju keridhaan Tuhan. Jiwa-jiwa inilah yang berhak
masuk dalam kenikmatan surgawi nan abadi.

5. Pengertian dan Fungsi Guru
Dalam Bahasa Indonesia, “guru” diartikan sebagai “pengajar”,
berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti” berat, besar, penting, baik
sekali, terhormat, dan pengajar. Demikian menurut Ir. Poedjawijatna yang
mengutip dari J. E. C. Gericke dan T. Roorda.19.
Dapatlah dirangkum dalam sebuah redaksi, bahwa “guru sebagai
pengajar, memikul tanggung jawab berat dan besar jasanya, dalam
mengembangkan pendidikan, oleh karenanya posisi guru menjadi penting
(orang penting), maka ia harus tampil baik sekali (prima), sehingga ia
menduduki derajat terhormat dalam masyarakat” Demikian hemat penulis.
Dalam bahasa Arab, terdapat banyak kata yang mengacu pada
pengertian guru, di antaranya, mu’allim (yang mengajarkan ilmu), mudarris
18

Rif‟at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, Cet. I. (Jakarta: WNI Press. 2009) h. 58-

59.
19

Aris Shoimin. Guru Berkarakter untuk Implementasi Pendidikan Karakter. Cet. 1.
(Yogyakarta: Gava Media. 2014). h. 8

21

(yang mengajarkan pelajaran), muaddib (guru khusus di istana), ustadz
(penceramah),

mudzakir

(pemberi

peringatan),

mudzakki

(yang

membersihkan hati), ar-rasihuna fi al-ilm (memahami pesan-pesan al-Qur‟an
berdasarkan ta‟wil), dan murabbi. Kata terakhir ini: “murabbi”20 yang akar
katanya “rabb” yang bermakna “Tuhan”, sebagai akar kata dari “tarbiyah”
yang oleh banyak ahli digunakan sebagai kata yang bermakna “pendidikan” 21
Sebagaimana kata “rabbal ‘alamin” yang berarti “mendidik,
mengatur, memelihara alam semesta”, maka guru yang memiliki kecerdasan
ruhani, dan jiwa rabbani, adalah perpanjangan tangan Tuhan di bumi yang
berfungsi sebagai pendidik, pemelihara, dan pengatur umat manusia melalui
“proyek besar” sepanjang sejarah yang bernama “pendidikan”.

6. Hubungan Guru dan Peserta Didik.
Seorang ibu mempunyai naluri untuk selalu dekat dengan anakanaknya begitu pun sebaliknya, hal ini dikarenakan antara ibu dan anak
memiliki ikatan batin yang kuat. Kondisi batin yang kuat karena dilandasi
jiwa yang jernih bersandarkan pada kekuatan ruhani. Dengan kemampuan
ruhani itulah, antara orang tua dengan anak-anaknya senantiasa hidup
berkasih sayang, saling mencintai dan saling mendoakan dalam bimbingan
nilai-nilai ketuhanan. Walau secara jasmani hidup berjauhan jarak, namun
secara batin, terasa dekat dalam jiwa dan saling merindukan. Maka,
kemampuan ruhani itulah sebagai perekat ikatan batin antara anak dengan
orang tuanya. Demikian analogi tentang ikatan batin.
Saling mendoakan, hidup berkasih sayang adalah modal utama dalam
ikatan cinta dan tidak hanya berlaku dalam keluarga; antara suami-istri selaku
orang tua dengan anak-anaknya. Hubungan/ikatan batin dapat terjalin dalam
perspektif yang lebih luas. Misalnya guru dapat bertindak sebagai pengganti
orang tua bagi peserta didik di lembaga sekolah. Guru

adalah subyek

pendidikan (pendidik) juga sebagai media pertama sumber pengetahuan.
Di kalangan pesantren, kat

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

59 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 385 23