Dinamika Perjuangan Pelajar Islam Indonesia di Era Orde Baru

DINAMIKA PERJUANGAN PELAJAR ISLAM INDONESIA
DI ERA ORDE BARU

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh
Mirzan Insani
NIM: 201033200785

PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M.

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul DINAMKA PERJUANGAN PELAJAR ISLAM
INDONESIA DI ERA ORDE BARU telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,
Jakarta, pada tanggal 12 Maret 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) Program Strata Satu (S-1) pada
program Study Ilmu Politik.
Jakarta 12 Maret 2010

Sidang Munaqasyah,
Ketua Merangkap Anggota,

Wiwik Siti Sadjaroh, MA
NIP. 196902101994032004.
Anggota,

Pembimbing,

Dr. Sirojuddin Aly, MA
NIP: 19540605 2001121001

Penguji I

Dra. Haniah Hanafie, M,Si
NIP. 196105242000032002

Penguji II

Drs. Agus Nugraha, M,Si
NIP. 196808012000031001

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 (satu) di Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 12 Maret 2010

Mirzan Insani
 

iii

KATA PENGANTAR

”Ma… jika malam gelap
Simpan tangismu dalam sehelai sapu tangan besok pagi jadikan merpati…
Menengadahlah pelangi sedang menapak dimuara amarahmu
Genggam satu saja kau lempar ke wajah aku..
Ma, bendung air matamu dengan kata-kata
Pertama untaikan dalam sajak besok pagi jadikan bait puisi..
Tengoklah hujan sedang menyirami bara risaumu
Biarkan melaut untuk menguap kembali menjadi awan”

Syukur terhatur kehadhirat Allah Tuhan yang Maha Ghafur atas segala
rakhmat yang meruang dan mewaktu dengan segala ketakziman yang ada.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah ke-haribaan Muhammad SAW,
keluargamu, sahabat-sahabatmu, dan siapapun yang mengikutimu, seperti curah
hujan atas bumi, seperti pancaran matahari pada semesta raya.
Akhirnya, skripsi ini selesai. Ada proses panjang yang sebelumnya
memang harus dilalui. Di sana, penulis mengalami banyak peristiwa dan bertemu
dengan nama-nama. Entah kenapa, peristiwa dan nama-nama itu seperti fase-fase
yang tanpa terasa membawa penulis pada fase terakhir studi. Kehidupan memang
memiliki aturan sendiri yang mungkin lepas dari logika manusia.
Terima kasih penulis haturkan kepada :
1. Dekan, Pembantu Dekan, dan seluruh Bapak serta Ibu Dosen Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah
memberikan pengajaran selama masa belajar penulis.
2. Ibu Wiwik St Syajaroy, MA selaku ketua Jurusan Pemikiran Politik
Islam, Bapak Rifki Mukhtar, Ketua Program Ushuluddin dan Filsafat

iv

3. Bapak Dr. Siradjuddin Ali, MA., selaku pembimbing skripsi yang
telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulisan skripsi ini.
4. Sungkem Sujudku kepada Kedua orang tua tercinta, Bapak Sujono
dan Ma Royanah atas keikhlasan, do’a serta airmata restu mereka.
Tanpa keduanya penulis tidak akan berada di dunia dan menjalani
kehidupan yang merupakan sekolah yang tidak pernah menawarkan
ijazah.
5. Saudara-saudaraku, Kakakku tercinta Mas Aan Raekhan dan Yu Dewi,
Adikku Lukman Effendi dan Endang serta sikecil Keyla Zahra
Lazuardani sebagai bagian dalam satu niscaya yang tak terpisahkan
menuju doa yang sempurna. Tak lupa para Lilik, Budhe, sepupu, Um,
Bulik, untuk kerukunan dan remojongannya. Bayu, Tegar (Mas Dang
saged Lulus)
6. Teruntuk mata telagaku Juwita Ratna Wulan yang menemani dan
banyak membantu menyelesaikan penulisan dan support yang
membangun untuk keoptimisan dalam penyelesaian studyku, serta
ketabahanmu
7. Untuk doamu kepadaku Rokhana semoga segalanya ada jawaban
pangampurane Nok.
8. Bambang Prihadi guruku diteater atas inspirasi kebersahajaannya.
9. Keluarga Besar UKM Teater Syahid dan Lab Teater Syahid banyak
memberikan pembelajaran yang tak ternilai.
10.

Keluarga

Besar

Pelajar

Islam

Indonesia

Daerah

Ciputat

memperkenalkanku tentang bagaimana menangis yang baik dan bijak.

v

11.

Saudara sehatiku Mas Kirno, Sub, Agus, Bapa Sakim yang
menyelamiku dalam makna yang bernama “diam”

12.

Kleng Pablo atas teriakan dan tepukan punggung untuk terus maju
menyelesaikan study ini.

13.

Keluarga Bani Solikhin Mba Zizah, Mas Untung, Mas Joyo, Mba
Endah, tak lupa Bonis atas cita yang sepadan

14.

Ozhy Tatu teman diskusi dan layout selama dalam penulisan

15.

Kang Gino dan Sokhibi pijakan pertemanan awalku memasuki kota
Jakarta dan Studyku di IISIP.

16.

Bapak Utomo Dananjaya demikian banyak keakraban tentang
memeluk kehidupan yang selalu dianggap hijau.

17.

Mas Radhar Pancadahana dan FTI (Federasi Teater Indonesia) atas
transfer pengetahuan dalam mencari celah kemungkinan

18.

Temen-temen seperjuangan semua kang Aseng tralala, Wong Zdolim,
Bang Echo Chotib, Mas Aris, Sir Ilham, Olief, Julung, Jula, Lina,
Yuni, Yanche, Alam, Yova, Kancil, Parto, Widi, Akbar, Rendi, Big
Dady, Washadi, Welda, Bangkit, Iman, Dimas, Kis, Wilda, Uswah,
Dien, dan temen-temen yang tidak saya sebutkan satu persatu.
Trimakasih semuanya

12 Maret, 2010.

PENULIS.

vi
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………… iii-v
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….. vi

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………… 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ………………………………………… 9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian……………………………………………… 9
D. Metode Penelitian…………………………………………………………….. 10
E. Sistematika Penulisan………………………………………………………… 11

BAB

II.

LATAR

BELAKANG

PENDIRIAN,

PEMBENTUKAN

DAN

PENGKADERAN
A. Keadaaan Umat islam Paska Kemerdekaan………………………………….. 12
B. Motovasi Dasar Pendirian Pelajar Islam …………………………………….. 21
C. Proses Pendirian Pelajar Islam Indonesia …………………………………… 24
D. Dasar-dasar Pandangan Pelajar Islam Indonesia tentang Kekuasaan………... 33
E. Kaderisasi Pelajar Islam Indonesia…………………………………………...

35

F. Pelajar Islam Indonesia, Arena Belajar Demokrasi…………………………..

38

BAB III. KEBIJAKAN PEMERINTAH ORDE BARU
A. Setting Politik Orde Baru ……………………………………………………. 41

vii
A. 1. Politik dalam Masa Peralihan………………………………

42

B. 2. Ideologi Pembangunan dan Dwifungsi ABRI……………...

43

B. Pengetatan Struktur Politik ………………………………………………….. 47
C. Implikasi Setting Politik Orde Baru Terhadap Islam………………………… 50

BAB IV. DINAMIKA HUBUNGAN PELAJAR ISLAM INDONESIA DENGAN
PEMERINTAH ORDE BARU
A. Undang-undang Keormasan Nomor 8/1985: Puncak Pertentangan………….. 56
B. Umat Islam dan Undang-undang Keormasan…………………………….

62

C. Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia dan Undangundang Keormasan….

65

D. Pelajar Islam Indonesia Melampaui Batas Akhir dan Tunduk pada Undangundang Keormasan…………………………………………………………. 76
E. Sumbangan Pelajar Islam Indonesia Terhadap Pembangunan Nasional………. 81
E.1. PII dan Gerakan Amal Sholeh……………………………………………... 82
E.2. PII dan Masa Depan Kepemimpinan Nasional……………………………. 83

BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………………… 85
B. Saran-Saran……………………………………………………………………… 86
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Umumnya para analis bersepakat, bahwa pasang surut hubungan Islam
dengan negara di Orde Baru telah memasuki babak baru sejak pertengahan tahun
1980-an dan makin jelas pada era 1990-an. Afan Gaffar menganggap, fenomena
tersebut sebagai fenomena politik akomodasi setelah sebelumnya hubungan itu
berada dalam suasana yang antagonistik. 1 Hubungan yang demikian ini ditandai
oleh dua hal. Pertama, di kalangan kekuatan-kekuatan politik Islam, persoalan
formalitas ideologi Islam dalam negara tampaknya tidak lagi menjadi ide atau
gagasan yang perlu dikedepankan. Gagasan itu adalah mendirikan negara Islam
atau menjadikan Islam sebagai dasar negara. Tampaknya terjadi perubahan
persepsi di kalangan generasi baru Islam. Mereka ini tidak lagi membicarakan
bagaimana membangun negara Islam atau bagaimana membangun suatu negara
yang menerapkan kaidah-kaidah (syari’ah) politik Islam dalam kehidupan
kenegaraan di Indonesia. Perubahan persepsi ini, menurut Afan, tidak dapat
dilepaskan dari makin banyaknya kelompok Islam yang terpelajar sebagai salah
satu hasil dari pembangunan Orde Baru. 2 Kedua, di tingkat kenegaraan,
pemerintah tampak melakukan akomodasi terhadap berbagai kepentingan

1

Afan Gaffar, ”Islam Dalam Era Orde Baru, Mencari Bentuk Artikulasi yang Tepat”
(Ulumul Qur’an, 1993) Vol. IV, hal-2
2
Afan Gaffar, “ Islam Dalam Era Orde Baru, Mencari Bentuk Artikulasi yang Tepat”
Vol. IV, hal-2

1

2

(aspirasi) umat Islam. Berbagai indikator dapat ditunjukkan untuk mendukung
pernyataan ini:
1). Pada masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan,
kebijakan pendidikan mulai berubah. Misalnya, pemberlakuan kembali
liburan puasa dan pelajar muslimah boleh memakai jilbab di sekolahsekolah umum/negeri.
2). Pendidikan yang bersesuaian dengan ajaran Islam diakomodasi dalam
beberapa pasal Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan
Nsional.
3).

Undang-undang

tentang

peradilan

Agama

yang

mengakui

pemberlakuan syari’ah Islam digolongkan dalam Pengadilan Agama di
Indonesia.
4). Pengiriman seribu da’i ke berbagai daerah oleh Yayasan Amal Bakti
Muslim Pancasila sekaligus dengan pembiayaannya.
5). Pengangkatan berbagai tokoh/intelektuan yang dianggap dekat dengan
Islam ke dalam kabinet pemerintah maupun lembaga DPR/MPR.
6). Berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).
Penjelasan terhadap munculnya fenomena akomodasi terhadap Islam oleh
Negara ini umumnya dilakukan secara makro. Umat Islam dalam hal ini
dipandang sebagai suatu entitas yang keseluruhannya melibatkan diri dalam arus
besar gerak politik Orde Baru. Dengan kata lain, berbagai penjelasan mengenai
pasang naiknya hubungan Islam dengan Negara sejak pertengahan era 1980-an
masih menyisakan satu pertanyaan besar. Pertanyaan itu ialah apakah fenomena
politik akomodasi di atas menyentuh kelompok-kelompok yang dianggap berada

3

di luar mainstream, baik secara formal maupun substansial? Pertanyaan ini juga
menurut penjelasan mengenai bagaimanakah perjalanan dan perkembangan
persepsi serta respon kelompok-kelompok Islam terhadap negara.
Dengan demikian, pada dasarnya umat Islam mengambil dua sikap. Sikap
utama atau yang menjadi main stream adalah menerima kebijakan tersebut.
Sedangkan sikap menolak adalah sikap yang dapat digolongkan sebagai sikap
diluar main stream. Lebih tegasnya, sebagai kelompok yang menolak kebijakan
itu, Pelajar Islam Indonesia dapat dikatakan telah berada di luar kerangka politik
formal Orde Baru.
Selain itu kebijakan pemerintah Orde Baru yang mengedepankan ide
tentang penyeragaman asas bagi segenap organisasi politik dan kemasyarakatan
dengan menggunakan asas Pancasila, pertama kali disampaikan oleh Presiden
Soeharto dalam pidato kenegaraan tahunannya pada tanggal 16 Agustus 1982.
Untuk organisasi kemasyarakatan, ide ini- setelah melalui berbagai prosesakhirnya diwujudkan menjadi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang
Keormasan dan diundangkan melalui Lembaran Negara Nomor 2638 tanggal 17
Juni 1985. 3 Salah satu pasal dalam Undang-Undang itu mewajibkan setiap
organisasi kemasyarakatan agar mencantumkan Pancasila sebagai asas organisasi
dan tidak ada asas lain selain itu. 4 Setiap organisasi kemasyarakatan ketika itu
diberi batas waktu hingga 17 Juni 1987 untuk menyesuaikan asasnya dan
mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri. 5

3

Tempo, Nomor 46 Tahun 1988.
Undang-Undang Keormasan Nomor 8 Tahun 1985
5
Lihat, Departemen Agama, “Ensiklopedia Islam di Indonesia”, (Jakarta: Departemen
Agama, 1993), Jilid III, hal,922 bandingkan dengan Tempo, Nomer 46 Tahun 1988
4

4

Sejak awal pencetusan ide tentang penyeragaman asas organisasi
kemasyarakatan ini, respon atau sikap ini nampak konsisten. Pernyataanpernyataan resmi PII selama tenggang waktu lima tahun (1982-1987) menunjukan
adanya konsistensi ini.
PII merupakan organisasi pelajar tertua yang lahir setelah kemerdekaan
Indonesia, 6 bergerak di bidang sosial-pendidikan dan dakwah. PII didirikan di
Yogyakarta tanggal 4 Mei 1947. Meskipun organisasi ini bernama pelajar, namun
yang terhimpun di dalamnya tidak hanya pelajar dalam arti formal. Di PII juga
akan ditemui mahasiswa (sarjana dan pascasarjana), juga pemuda-pemuda yang
sudah bekerja. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat PII mendefenisikan
“pelajar” dalam arti luas dan longgar, mengacu kepada pengertian bahwa belajar
itu sepanjang hayat.
Sebagai organisasi yang lahir pada masa mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan, PII telah menunjukan komitmennya yang besar terhadap
keberlangsungan

hidup

bangsa

dan

negara.

Bahkan

pada

awal-awal

pergerakannya, sesuai dengan konteks ketika itu, gerak PII lebih banyak diwarnai
oleh keikutsertaannya- bersama komponen bangsa yang lain- mempertahankan
kemerdekaan. Hal ini dapat dimaklumi mengingat salah satu motivasi berdirinya
PII bertolak dari tanggungjawab sebagai organ bangsa yang ketika itu sedang
mempertahankan kemerdekaan dari rongrongan kolonial Belanda dengan agresi
militernya. 7

6

Departemen Agama, “Ensiklopedia Islam di Indonesia”, (Jakarta: Departemen Agama,
1993), Jilid III, hlm.922
7
Departemen Agama, “Ensiklopedia Islam di Indonesia” Jilid III, hal, Ibid

5

Pengakuan atas peran PII itu antara lain tercermin dalam amanat
almarhum Jendral Soedirman (Panglima Besar Angkatan Perang RI) pada resepsi
hari bangkit (HARBA) I PII, tanggal 4 Mei 1948 :
“Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada anak-anak PII, sebab

saya tahu bahwa telah banyak korban yang telah diberikan oleh PII kepada
negara.Teruskanlah perjuanganmu, hai anak-anaku Pelajar Islam
Indonesia. Negara kita adalah negara baru, didalamnya penuh onak dan
duri, kesukaran dan rintangan banyak kita hadapi. Negara membutuhkan
pengorbanan pemuda dan segenap bangsa Indonesia”. 8
Di samping motivasi kebangsaan, motivasi pertama yang melandasi
pendirian PII adalah motivasi yang berasal atau bertitik tolak dari ajaran agama. 9
Ayat al-Qur’an yang menjadi rujukan motivasi ini adalah Surat Ali Imran (3) ayat
104 yang memberi isyarat agar ada diantara sekelompok orang (organisasi) Islam
yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Motivasi ini sangat
mempengaruhi kepribadian kader-kader PII pada umumnya. Segenap warga PII
berkeyakinan bahwa eksistensi organisasi bukanlah sekedar memenuhi social
need, melainkan merupakan perangkat fardhu kifayah ( kewajiban secara
kelompok) dalam rangka pengembangan dakwah Islam.
Dengan dasar motivasi itu, sebagai organisasi Islam PII telah menunjukan
komitmen dan kepedulian yang tinggi dan konsisten kepada Islam. Perjalanan
historis PII telah membawanya pada posisi yang dianggap sebagai kelompok kritis
(kadang dianggap radikal) dan sangat dekat dengan Majelis Syura Muslimin
Indonesia (Masyumi M. Natsir). M. Rusli Karim menggambarkan PII sebagai
organisasi massa-pelajar yang sangat konsisten mengamalkan ajaran Islam dan

8

Documenta Selecta Pelajar Islam Indonesia, PB PII. Telah disesuaikan dengan ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
9
Tim IAIN Syahid Jakarta, “Ensiklopedi Islam Indonesia” (Jakarta: Djambatan 1992)
Jilid I, hal, 759.

6

pandangan politiknya sering disamakan dengan Majelis Syura Muslimin
Indonesia (Masyumi). 10 Jadi, tidaklah mengherankan kalau di tingkat kehidupan
berbangsa dan bernegara PII menjadi sangat peduli dan kritis pada kebijakankebijakan pemerintah terutama yang menyangkut kepentingan Islam dan umat
Islam.
Untuk membahas masalah ini secara nasional setidaknya PII telah
melaksanakan empat kali pertemuan. Pembahasan pertama dilakukan dalam
Muktamar Nasional ke-16 di Jakarta pada tahun 1983. Pembahasan kedua pada
tahun1984 di Jawa Barat lewat acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas).
Tahun berikutnya melalui Musyawarah Instruktur Nasional (MIN) di Bandar
Lampung. Akhirnya, pada Muktamar Nasional ke-17 tahun 1986,PII tetap
mempertegas sikapnya sebagaimana tercermin dalam Pokok-Pokok Pikiran
Pengurus Besar (PB) PII tentang penyusunan Undang-undang Keormasan yang
merupakan hasil Rapimnas tahun 1984 :
1.

Menolak setiap perangkat atau hukum yang secara sengaja atau tidak
sengaja akan mengeliminir atau mencoret Islam secara tersirat atau tersurat
dari Anggaran Dasar atau perangkat organisasi kemasyarakatan, terutama
yang bernafaskan islam.

2.

Mengakui Al-Islam sebagai satu-satunya asas bagi berorganisasi
kemasyarakatan yang bernafaskan Islam dalam melaksanakan kegiatankegiatannya.

10

M. Rusli Karim, HMI, hal, 127-128

7

3.

Menolak setiap perangkat aturan atau hukum yang secara birokratisadministratif akan membatasi nilai-nilai Islam. 11
Pokok-pokok pikiran tersebut dengan jelas menunjukan analisa dan

prediksi PII yang memandang Undang-undang Keormasan sebagai perangkat
ideologis pemerintah untuk mengeliminasi Islam dari bumi Indonesia.
Sejak itulah legalitas formal PII sebagai organisasi kemesyarakatan tdak
diakui lagi. Sejak itu pula sesungguhnya PII secara kelembagaan telah berada
diluar kerangka politik formal Orde Baru. Akan tetapi, di sini pula kita melihat
adanya pola hubungan yang unik antara pemerintah Orde Baru dengan PII sebagai
salah satu Kelompok Masyarakat. Pengurus dan kader PII sendiri tidak mau
menganggap organisasinya ilegal karena terbukti seluruh kegiatan utama mereka
dapat tetap dilaksanakan sebagaimana sebelumnya. Mereka menyebut situasi ini
“informal”. 12 Dengan istilah itu mereka ingin mengatakan, bahwa kegiatankegiatan PII tetap berlangsung, meskipun tidak dipublikasikan dan tentu saja
mengalami berbagai penurunan baik kualitas maupun kuantitas. Kegiatan terbuka
PII yang terakhir sebetulnya adalah muktamar di Surabaya (1-7 Januari 1980). 13
Setelah itu, kegiatan PII tidak dipublikasikan. Pada dasarnya pemerintah
mengetahui aktivitas PII, tetapi membiarkan saja. 14
Ketiadaan legalitas formal ternyata tidaklah mengurangi dinamika di
dalam tubuh PII. Pada tahun 1995 melalui Muktamar Nasional PII yang ke-20 di

11

PII, “Pokok-pokok pikiran PB PII tentang Penyusunan Undang-Undang Keormasan”,
Jakarta: Rapimnas, 1984.
12
Lihat, PII, “Pokok-pokok pikiran PB PII tentang Penyusunan Undang-Undang
Keormasan”, Jakarta: Rapimnas, 1984.
13
PII, Jakarta: Rapimnas, 1984.
14
Keterangan Hartono Mardjono, S.H (ketika itu Wakil Ketua DPA RI ) pada acara
“Advanced Leadership Training PII” (Jakarta, Juni 1991)

8

Cisalopa, Jawa Barat, PII secara kompak berketetapan hati untuk menerima asas
tunggal Pancasila dan mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri . 15
Alasan yang dikemukakan adalah , 1) Pancasila bagi umat Islam dan bsgi
PII sudah tidak perlu dipermasalahkan; dan 2) mengingat kondisi obyektif para
pelajar

(terutama

pelajar

sekolah

menengah

umum),

maka

PII

perlu

megoptimalisasikan perannya. Hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa memakai
jalur formal.
Sebagai tindak lanjut kesepakatan tersebut, pada tanggal 9 Desember 1996
secara resmi PII mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri sebagai salah
satu tahap akhir upaya formalisasinya. 16 Untuk mendukung peresmian kembali
PII ini, dilakukanlah lobby yang cukup intensif hingga mereka mengantongi
rekomendasi dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Agama,
Majelis Ulama Indonesia, ABRI (sekarang TNI ), dan dari tokoh-tokoh
masyarakat. 17 Dukungan yang jelas juga diberikan oleh Menteri Negara Riset dan
Teknologi. 18 Bahkan PII telah pula berkirim surat langsung kepada Soeharto
sebagai presiden orde baru di masanya.
Perkembangan PII di era 1980-an dan 1990-an seperti telah diuraikan
tersebut dapat menunjukkan dua hal yang masing-masing memuat dua fenomena
yang tampak bertentangan. Pertama, pada tahun 1985 PII menyatakan diri
menolak pemberlakuan asas tunggal Pancasila, sedangkan sepuluh tahun setelah
itu yakni tahun 1995, PII menyatakan sebaliknya. Kedua, pada tahun 1985 alasan
PII menolak asas tunggal Pancasila bersifat ideologis, sedangkan tahun1995 saat

15

Hasil Muktamar Nasional ke-20 PII, (Jakarta, 1995).
Republika, 20 Januari dan 24 Juni 1997.
17
Suara Merdeka, 4 Mei 1996. Juga Berkas Registrasi PII, Jakarta: PB PII, 1997.
18
Ummat.
16

9

mereka mendaftarkan diri ke Departemen Dalam Negeri alasannya pragmatis.
Kedua fenomena yang tampak bertentangan ini tentunya menarik untuk dikaji.
Kemudian, bila diletakkan dalam konteks hubungan Islam dan Negara
Indonesia, fenomena PII juga menarik. Pertama, apakah dinamika PII sejalan
dengan dinamika hubungan Islam dan Negara ataukah sebaliknya, dan
bagaimanakah menjelaskan fenomena yang tampak bertentangan dalam tubuh PII
itu? Kedua, apakah politik akomodasi dapat menjelaskan fenomena PII pada satu
dasawarsa terakhir ini? Pertanyaan seperti ini akan berimpliksi kepada penjelasan
mengenai pola hubungan Negara denagn PII sebagai kelompok yang secara
formal berada di luar kerangka politik formal Orde Baru akibat penolakannya
terhadap pemberlakuan asas tunggal Pancasila tahun 1985. Ketiga, fenomena
upaya PII memformalkan dirinya kembali ini mengingatkan kita pada upaya
Masyumi merehabilitasi dirinya pada awal Orde Baru. Meski di sisi lain dalam
beberapa hal dapat dibenarkan. Misalnya, dari segi afiliasi politik, PII dikenal
dekat dengan Masyumi. Bahkan, PII dikenal sebagai “Masyumi bercelana
pendek”. 19
Di samping itu, ada perubahan suasana dari yang bersifat antagonistik
kepada suasana yang akomodatif dari era 1980-an hingga 1990-an. Kemudian, ada
lobby yang cukup intensif yang dilakukan PII kepada pihak-pihak pemerintah
yang sedang berkuasa. Upya mencermati lobby PII ini akan membawa kita kepada
kesimpulan yang menarik tentang peran masyarakat dalam berhubungan dengan
negara.

19

Istilah ini antara lain dipakai oleh AM. Fatwa. Lihat Republika, 10 Juli 1997.

10

B.

Pembatasan dan Perumusan masalah
Pembatasan dalam penulisan ini berkisar tentang Hubungan dan

Pergerakan Pelajar Islam Indonesia (PII) dengan pemerintahan Orde Baru.
Adapun perumusan masalahnya adalah:
1.

Dimanakah posisi PII dalam dinamika hubungan Isalam dan Negara dari
tahun 1980 hingga 1995?

2.

Mengapa terjadi perubahan sikap PII dari menolak asas tunggal Pancasila
pada tahun 1985 menjadi menerima pada tahun 1995.

C.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola

hubungan yang terjadi antara negara di era Orde Baru dan PII serta, meletakkan
dan menjelaskan posisi PII sebagai kelompok kaum muda Islam yang kritis, di
dalam dinamika politik Orde Baru.
Adapun manfaat dari penulisan skripsi tersebut adalah:
1.

Melihat kembali pola hubungan antara negara dan masyarakat di Indonesia
yang secara teoritik telah terkonstruksi.

2.

Sebagai bahan pelengkap informasi mengenai pergerakan Islam di
Indonesia kontemporer, terutama pergerakan kaum mudanya.

D.

Metode Penelitian
Data diperoleh melaui studi kepustakaan (library research) sebagai

sumbernya yaitu buku-buku, artikel, jurnal, majalah, internet, dan dokumentasidokumentasi yang berkaitan dengan pokok permasalahan, dalam pembahasan
Dinamika hubungan dengan pemerintah Orde Baru, wawancara mendalam dengan

11

key information. Untuk sumber primer sebagi acuan penulis menggunakan Buku
karya Djayadi Hanan “Gerakan Pelajar Islam Dibawah Bayang-Bayang Negara
Studi kasus Pelajar Islam Indonesia tahun 1980-1997.
Penelitian ini bersifat kualitatif. Maksudnya, mendekati perjalanan PII
dalam setting naturalnya, dan berupaya memahami atau menginterprestasikan
fenomena PII sesuai dengan pemaknaan yang diberikannya. 20 Data yang
digunakan juga bersifat kualitatif. Data kualitatif adalah data yang biasa berbentuk
kata-kata, bukan angka-angka. 21
Selain itu, untuk pedoman penulisan skripsi ini, berpedoman pada buku
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi), yang diterbitkan
oleh CeQDA Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2007.

E.

Sistematika Penulisan
Demi mempermudah penelitian, pembahasan, dan penulisan skripsi ini,

maka penulis mengklasifikasikan permasalahan dalam beberapa bab, dengan
sistematika sebagai berikut:
Bab I.

Merupakan Pendahuluan yang membahas Latar Belakang, Tujuan dan
Kegunaan Penelitian, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Methodologi
Pembahasan, terakhir Sistematika Penulisan.

Bab II. Menelusuri dan melihat keadaan keadaan umat Islam Indonesia pascakemerdekaan hingga lahirnya PII, dan bagaimana PII berkiprah hingga
menjadi sangat sering bersentuhan dengan politik.
20

Norman K. Denzin dan Yvonna S. Loncoln,“Entering The Field of Qualitative
Research” (Handbook of Qualitative Research, California; SAGE Publication, Inc., 1994), hal, 2.
21
Mathew B. Miles, A. Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis” (California:
SAGE Publicatyin, Inc., 1996), hal, 1.

12

Bab III. Adalah mengkonsepsikan peran dalam setting politik Orde Baru dan
bagaimana implikasi setting poltik Orde baru terhadap Islam
Bab IV. Merupakan pandangan atau ide-ide yang berkembang dan dikembangkan
di PII berkaitan dengan ideologi, kekuasaan, dan Negara (pemerintahan)
serta berbagai proses perkembangannya.
Bab V. Adalah Bab Penutup yang menyajikan Kesimpulan dan saran-saran.

BAB II
LATAR BELAKANG PENDIRIAN, PEMBENTUKAN DAN
PENGKADERAN

A.

Keadaan Umat Islam Pasca kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus

1945, memberikan tiga warisan kepada bangsa Indonesia. Warisan itu adalah
keadaan yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda selama lebih dari tiga ratus lima
puluh tahun, warisan pemerintahan fasis Jepang, dan situasi internal bangsa
Indonesia akibat gabungan dari hal tersebut. Bagi Umat Islam, kemerdekaan yang
ada memang merupakan hal yang sangat disyukuri dan ditunggu-tunggu. Umat
Islam memang memiliki legitimasi historis untuk merasa paling berkepentingan
dengan kemerdekaan tersebut: 1
1.

Sebagian besar wilayah Nusantara dihuni oleh umat Islam dan hamper
disemua wilayah yang mayoritas Islam terjadi perlawanan yang sangat
gigih terhadap penjajah. Misalnya, perang Aceh, perang di daerah Jawa
pada

umumnya,

perang

di

Kesultanan

Palembang,

Kesultanan

Banjarmasin, Kerajaan Gowa dan Tallo, Kerajaan di daerah Ternate dan
Tidore, dan lain-lain.
2.

Ajaran Islam sangat berkepentingan dengan pelaksanaan syariat Islam
secara bebas dan diatur oleh orang Islam sendiri. Itu berarti bahwa umat
Islam harus memiliki kemerdekaan dan tanah air sendiri yang berdaulat.
1

Ahmad Adby Darban, “Sejarah Lahirnya Pelajar Islam Indonesia”, (Yogyakarta :
Panitia Daerah Muktamar XIV Pelajar Islam Indonesia, 1976) hal, 5-7

12

13

3.

Para penjajah yang menyengsarakan rakyat jelas-jelas dalam pandangan
Islam adalah kafir. Berjuang memerdekakan diri dari orang kafir adalah
sebuah jihad yang demikian besar dan mulia.

4.

Umat Islam berjumlah mayoritas sehingga apabila kemerdekaan
dipandang sebagai penyelesaian terbaik bagi bangsa ini, maka umat Islamlah yang akan mendapatkan kebaikan yang lebih banyak. Pemahaman
yang paling fundamental bagi umat Islam menunjukkan, bahwa penjajah
adalah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam dan fitrah manusia.
Di manapun dan kapanpun penjajah harus diperangi dan dibasmi. 2
Penjajah Belanda yang bercokol demikian lama di Indonesia memiliki

kebijakan khusus berkenaan dengan Islam. Hal ini terjadi karena Belanda
menyadari sepenuhnya, bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam
dan berarti pengaruh Islam merupakan variable yang tidak boleh dan tidak dapat
diabaikan.

Pemerintah

kolonial

Belanda

sejak

lama

sebetulnya

sudah

mengkhawatirkan kekuatan Islam. Ajaran Islam yang utama dalam kehidupan
sosial yakni, amar ma’ruf dan nahiy munkar sangat berdimensi revolusioner. 3
Pada dasarnya, dalam setiap agama manapun terlebih Islam mengajak
pemeluknya untuk selalu berbuat kebaikan dan memerangi segala bentuk
keburukan dan kejahatan dalam hidup. Belanda melihat bahwa Islam-lah yang
paling berkepentingan untuk menentang berbagai bentuk eksploitasi yang mereka
lakukan terhadap bangsa Indonesia. Dalam perspektif ini, Belanda beranggapan
bahwa ajaran Islam pada hakekatnya memang suatu revolusi yakni, revolusi

2

lihat misalnya, Ahmad Adby Darban, “Sejarah Lahirnya Pelajar Islam Indonesia”,
(Yogyakarta : Panitia Daerah Muktamar XIV Pelajar Islam Indonesia, 1976), hal, 6-7.
3
Ahmad Adby Darban, “Sejarah Lahirnya Pelajar Islam Indonesia”, (Yogyakarta :
Panitia Daerah Muktamar XIV Pelajar Islam Indonesia, 1976), hal, 6.

14

dalam menghapuskan dan menentang segala bentuk eksploitasi seperti
kapitalisme, imperialisme, komunisme, atau fasisme. 4
H. Aqib Suminto 5 menyimpulkan, bahwa Belanda melakukan tiga jenis
kebijakan politik terhadap Islam; Pertama. Kebijakan netral terhadap agama.
Kebijakan ini dalam prakteknya ternyata berbeda. Sampai tahun-tahun terakhir
kekuasaannya, pemerintah Belanda lebih banyak campur tanggan terhadap agama.
Kesulitan pemerintah Belanda bersikap netral karena politik-identitas antara Islam
dan Kristen. Pada umumnya, pemeluk Islam pasti orang bumiputra, sedangkan
Kristen pada umumnya dianut juga oleh penjajah.
1.

Politik asosiasi kebudayaan. Inti politik ini menghendaki agar di bidang
kemasyarakatan bumiputra menyesuaikan diri dengan kebudayaan
Belanda. Jalan yang ditempuh adalah melalui asosiasi dan pemanfaatan
adat serta asosiasi pendidikan.

2.

Memberikan perhatian secara khusus dan serius pada perkembangan
paham tarekat dan pan-Islamisme. Bagi Belanda, dua gerakan paham ini
sangat potensial untuk menimbulkan fanatisme di kalangan umat Islam.
Ketiga kebijakan ini kemudian diadministrasikan oleh kantoor voor
Islandsche zaken, yakni suatu institusi yang berwenang memberikan
nasihat kepada pemerintah dalam masalah-masalah bumiputra. 6
Sementara itu, menurut Adaby Darban inti kebijakan pemerintah kolonial

Belanda adalah melakukan usaha-usaha untuk menghalangi perkembangan dan

4

Mohammat Natsir, “Capita Selecta”, (Jakarta : Pustaka Pendis, 1957) hal, 23.
H. Aqib Suminto, “Politik Islam Hindia Belanda”, (Jakarta : LP3ES, 1986) hal, 19.
6
H. Aqib Suminto, “Politik Islam Hindia Belanda”, hal, 21

5

15

kebangkitan agama Islam dengan cara yang halus. Kebijakan ini ditempuh dengan
melakukan beberapa hal sebagai berikut: 7
1.

“Kristening politik’” yaitu, suatu usaha untuk melemahkan kekuatan
bumiputra dengan jalan memasukkan pengaruh agama lain dari tanah
jajahan. Menurut Stoddard, 8 tindakan seperti ini dilaksanakan dengan
menggunakan kesucian agama untuk kepentingan busuk kolonialisme di
Indonesia. Hal ini dilakukan Belanda pada masa kekuasaan Gubernur
Jendral Idenburg. Pada masa inilah politik pengkristenan terhadap seluruh
penduduk Nusantara dilakukan sedikit demi sedikit secara teratur dan
terencana. Stoddard menambahkan, bahwa politik ini pada intinya
bukanlah untuk memperkuat kekuasaan penjajah di bumi Nusantara dalam
waktu selama mungkin. Politik model ini memang memungkinkan bila
mengingat perimbangan kekuatan penjajah yang kalah terhadap mayoritas
umat Islam. Atas dasar itu, maka pemerintah Kolonial Belanda
memberikan bantuan pembinaan dan pengembangan agama Kristen.
Melalui restu Ratu Belanda sejak tahun 1901, dibukalah Zending Kristen
untuk beroperasi di Indonesia. Tindak lanjut dari hal ini adalah dengan
mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Sekolah-sekolah Kristen inilah yang
memberikan andil yang cukup besar dalam menyokong perkembangan
agama Kristen di Indonesia, dan terutama dalam menyuksekan politik
pemerintah Kolonial Belanda.

7

Bandingkan dengan, Drs. H. Ahmad Adaby Darban, S. U, “Refleksi Kilas Balik
Berdirinya PII” dalam HM. Natsir Zubaidi dan Lukman Fathullah Rais, S.H, “Pak Timur
Menggores Sejarah, PII Menyiapkan Kader Ummat dan Bangsa” (Jakarta : Bulan Bintang, 1997),
hal, 229-239.
8
Lihat F.L. Stoddard, “Dunia Baru Islam” (Jakarta : Gunung Agung, 1966), hal, 295.

16

2.

Politik-asosiasi (associatie politik), yakni politik untuk menghubungkan
antara dunia Barat dan Timur. Dengan politik ini diharapkan kebudayaan
Barat akan mudah masuk ke Nusantara. Implikasi berikutnya tentu akan
membuat Belanda makin lama bercokol di Nusantara karena pengaruh
kedekatan kabudayaan tersebut. Politik

ini

dilaksanakan

dengan

mengambil sebagian dari bumiputera untuk dididik dengan kehidupan dan
gaya budaya Barat. Selanjutnya, kelompok ini akan dijadikan sebagai
pegawai pemerintah atau orang-orang yang memegang kekuasaan guna
membantu pemerintah kolonial. 9
Tokoh utama politik-asosiasi ini adalah Prof. Dr. Christian Snouck
Hurgronje, seorang orientalis Belanda yang paham agama Islam. Melalui
pendidikan, para pelajar diupayakan untuk mulai jauh dan terpisah dari ajaran
agama mereka. Juga diupayakan agar para pelajar tidak akrab dengan nilai-nilai
patriotisme. Kecintaan akan segala hal yang berbau dan berpola Barat sangat
ditanamkan, khususnya yang berhubungan dengan Belanda. Dalam hal ini,
Belanda menundukkan kaum bumiputera yang mayoritas umat Islam.
Sementara itu, penjajahan Jepang selama sekitar tiga setengah tahun juga
meninggalkan berbagai persoalan yang banyak menimpa umat Islam pascakemerdekaan. Pemerintah Jepang memang datang dengan mulut manis dan janjijanji yang menyejukkan bagi bangsa Indonesia ketika itu. Pendaratan Jepang pada
tanggal 1 Maret 1942 yang disusul dengan penyerahan kedaulatan dari Gubernur
Jenderal Garda van Starkenborgh Stachhouwern, kepada Jenderal Imamura pada 8
Maret 1942 mulanya disambut dengan antusias oleh bangsa Indonesia. Dengan

9

F.L. Stoddard, “Dunia Baru Islam” hal, 295-296

17

semboyan Tiga A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia, dan Nippon
Pelindung Asia), Jepang segera menarik simpati sebagian besar masyarakat
bumiputra. 10
Dalam perjalanan selanjutnya, simpati masyarakat kapada Jepang itu
semakin memudar hingga akhirnya berbalik manjadi antipati. Ada tiga langkah
dan kebijakan yang dibuat Jepang hingga membuat rakyat menarik simpatinya
kembali.
1.

Segera setelah berkuasa, Jepang memaksakan kehendak untuk mengubah
segala corak kebudayaan rakyat Indonesia. Semua sekolah harus bercorak
Jepang dan menghimbau PII untuk mematuhi akan larangan melanjutkan
segala bentuk kegiatannya. Pemuda dan pelajar dididik secara militer.
Mereka ini kemudian dimobolisasi ke dalam berbagai barisan militer
seperti Seinendan (untuk remaja), Keibondan (untuk pemuda), Fujinkai
(untuk pemudi), dan Hanco (untuk kalangan dewasa). Ringkasnya,semua
diberi corak Jepang.

2.

Jepang melaksanakan kerja paksa (romusha) dan menjerat kaum
perempuan Indonesia menjadi budak seks (jugun ianfu) bagi tentara
Jepang. Di zaman Belanda, rakyat mengenal kerja rodi yang juga
merupakan kerja paksa. Para romusha ditempatkan di berbagai pangkalan
militer dan kubu-kubu pertahanan. Untuk menghadapi perlawanan rakyat,
maka dibentuk Kempei Tai (Polisi Militer) yang sangat terkenal sebagai
algojo-algojo Jepang super kejam.

10

F.L. Stoddard, “Dunia Baru Islam” hal, 295

18

3.

Jepang mewajibkan kepada setiap rakyat Indonesia untuk melakukan
sekere yakni penyembahan Tenno Heika (Kaisar Jepang) setiap pagi
dengan cara menghadap ke arah negeri Jepang. Secara aqidah, umat Islam
tidak dapat menerima hal itu karena sama dengan mengantarkan orang
untuk cenderung berbuat musyrik, yaitu salah satu dosa besar yang ada
dalam ajaran Islam. 11
Selain ketiga perilaku kejam yang telah dilakukan Jepang, masih ditambah

lagi dengan pemberlakuan Undang-undang Nomor 3 Pemerintah Bala Tentara
Jepang. Undang-undang ini berisi larangan terhadap segala pembicaraan dan
pergerakan, serta anjuran yang bersifat propaganda.
Melihat perilaku Jepang yang semula memberi harapan ini, akhirnya
rakyat Indonesia-terutama umat Islam berkesimpulan, bahwa bangsa berkulit
kuning ini tidak kalah jahatnya dengan bangsa penjajah terdahulu. Bahkan,
terkesan lebih biadab. Inilah yang menyebabkan rakyat menjadi sangat antipati
terhadap Jepang.
Apa yang dilakukan Belanda dan Jepang terhadap Indonesia itu
menghasilkan reaksi yang sama dari umat Islam. Dengan semangat amar-ma’ruf
nahiy munkar umat Islam bangkit sekalipun harus bergerilya dengan segala
tantangan dan kesulitan. Di sini ada anggapan, bahwa pembinaan agama Islam
menjadi factor yang sangat penting hingga kemudian bangsa Indonesia dan umat
Islam memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945. 12

11

Natsir Zubaidi dan Lukman Fathullah Rais, S.H, “Pak Timur Menggores Sejarah, PII
Menyiapkan Kader Ummat dan Bangsa” (Jakarta : Bulan Bintang, 1997), hal, 231-239.
12

Natsir Zubaidi dan Lukman Fathullah Rais, S.H, “Pak Timur Menggores Sejarah, PII
Menyiapkan Kader Ummat dan Bangsa” hal, 229-239.

19

Secara internal, di kalangan umat Islam sendiri ada berbagai masalah
serius yang harus diselesaikan. Perjuangan umat Islam di Indonesia telah sejak
lama dilakukan. Terutama perjuangan untuk membebaskan diri dari belenggu
kedua bangsa penjajah yang bercokol sangat lama. Perjuangan umat Islam
terutama dalam kaitannya dengan keberadaan Islam sebagai komunitas politik
mulai menghebat sejak awal abad ke-20 dengan munculnya berbagai organisasi.
M. Rusli Karim 13 membagi perjuangan itu kedalam era sebelum dan sesudah
merdeka. Pada era sebelum merdeka terdapat tiga jenis organisasi Islam yakni;
1) Syarikat Islam.
2) Muhammadiyah dan
3) Nahdlatul Ulama.
Di samping itu, keberadaan organisasi ini digolongkan sebagai fase awal
perjuangan umat Islam. Selanjutnya, perjuangan umat memasuki fase ideologis
yakni, saat adanya elaborasi berbagai pandangan tentang Negara Islam dan
perjuangan idoelogis pada masa pendudukan Jepang. Fase perjuangan ideologis
ini menurut M. Rusli Karim, berlanjut hingga masa setelah Indonesia merdeka
yang dapat dibagi ke dalam tahap: 14
1) Perjuangan tahun 1945.
2) Perjuangan pada fase demokrasi liberal.
3) Perjuangan pada fase demokrasi terpimpin.
4) Perjuangan-perjuangan setelah atau pascademokrasi terpimpin.
Polemik ini memunculkan pola-pola perjuangan yang diidentifikasikan
oleh M. Rusli Karim menurutnya, itu tidak lepas dari adanya berbagai perbedaan
13

M. Rusli Karim, HMI MPO “Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia, (Bandung :
Mizan, 1997), hal, 53-54.
14
M. Rusli Karim, HMI MPO “Kemelut Modernisasi Politik di Indonesia, hal, 54.

20

pandangan dan pengalaman di kalangan umat Islam. Perbedaan itu umumnya
berkenaan dengan masalah khilafiyah yang sering kali dibesar-besarkan. 15 Tidak
jarang justru membawa perpecahan. Seperti telah diuraikan di muka, Belanda
dengan strategi polotiknya berhasil memperbesar perbedaan dan perpecahan itu.
Bahkan, memelihara dan meningkatkan intensitasnya.
Sisi lain, umat Islam yang telah terpecah-belah dikemudian hari berupaya
untuk bersatu. Dan gagasan ini mewujud pada tanggal 21 September 1937 dengan
terbentuknya Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI). Akan tetapi, MIAI ini tidak
berumur panjang karena para anggotanya tidak kompak atau menyatu.
Dengan konteks ini keberadaan umat Islam yang telah diuraikan di atas,
maka umat Islam pasca kemerdkaan menghadapi keadaan sebagai berikut:
1) Umat Islam tetap terpecah-belah ke dalam berbagai organisasi dan
golongan berdasarkan kategori mazhab atau aliran tertentu.
2) Bangsa Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya harus bersiapsiap menghadapi kembalinya para penjajah ke tanah air melalui berbagai
cara. Padahal, tugas berat dan utama yang harus segera diselesaikan oleh
bangsa Indonesia sebagai bangsa yang baru merdeka adalah menyiapkan
pengelolaan

Negara

secara

politis

maupun

secara

social

dan

administratif. 16
3) Bangsa Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya belum memiliki
kesiapan yang memadai untuk mengelola Negara. Keadaan ini terutama

15

Lihat Habibullah,”Tinjauan Terhadap Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Sejarah
Perjuangannya Sebagai Organisasi Kader, Pendidikan, dan Dakwah” makalah pra-skripsi untuk
fakultas Adab IAIN (Jakarta, Desember 1986).
16
Habibullah, makalah pra-skripsi untuk fakultas Adab IAIN (Jakarta, Desember 1986).

21

disebabkan oleh kondisi pendidikan bangsa Indonesia yang masih sangat
memprihatinkan. 17

B.

Motivasi Dasar Pendirian Pelajar Islam Indonesia
Dengan dilatarbelakangi keadaan bangsa sebelum kemerdekaan, pendirian

organisasi Pelajar Islam Indonesia dimotivasi oleh dua hal.
1) Motivasi ke-Islam-an.
2) Motivasi Kebangsaan.
Adapun, kebijakan politik Belanda dan Jepang terhadap umat Islam dan
bangsa Indonesia sangat berpengaruh kepada generasi muda, utamanya para
pelajar. Akibat politik-asosiasi, misalnya, banyak pelajar Indonesia yang
mendapat pendidikan kurikulum Belanda. Terdapat perbedaaan antara pelajar
didikan Belanda dengan pelajar hasil didikan

Tradisional di Indonesia yang

mengutamakan pendidikan Pesantren. Para pelajar didikan Barat umumnya
memiliki pandangan dunia yang lebih luas (rasional) terutama berkenaan dengan
dunia Barat. Di samping itu, mereka juga cenderung banyak meniru Barat dalam
pola hidup maupun budaya pribadi, seperti terlihat pada cara berpakaian, bersikap,
dan tingkah laku sehari-hari. Umumnya, pandangan dan rasa keagamaannya
terkikis seiring dengan perubahan cara berfikir dan cara menyikapi agama. Bagi

17

Lihat habibullah, makalah pra-skripsi untuk fakultas Adab IAIN (Jakarta, Desember

1986).
dan bandingkan dengan, Djayadi Hanan, “Gerakan Pelajar Islam di bawah Bayangbayang Negara” (Yogyakarta: PB PII & UII Press, 2006) hal, 54.

22

mereka, hidup haruslah diorientasikan pada dunia, bukan pada Tuhan (religion)
yang hanya berorientasi pada akhirat. 18
Terdapat sisi positifnya yang dapat diambil dari hasil pendidikan Barat,
misalnya pada metode penggunaan gaya modern, misalnya memakai kurikulum
dan kelas. Metode ini dapat memberikan keteraturan dan kedinamisan. Sementara
sisi negatifnya terletak pada kemerosotan rasa patriotisme dan masuknya paham
sekularisme ke dalam pikiran para pelajarnya. Dari sisi pekerjaan, umumnya
pelajar hasil pendidikan gaya Belanda ini menjadi pegawai rendahan pada
pemerintah kolonial Belanda. Keadaan seperti ini tentu saja akan mengancam
perkembangan bangsa dan umat Islam ke depan. 19
Di satu sisi, untuk mempertemukan dan menyatukan kedua kutub pelajar,
agar terjalin keharmonisan antara keduanya sebagai sesama Muslim. Atas dasar
ini yang menjadi salah satu latar belakang pendirian organisasi Pelajar Islam
Indonesia.
Sementera itu, pada zaman Jepang, akibat adanya tekanan-tekanan
terhadap kemurnian aqidah oleh pemerintahan Jepang (terutama karena adanya
keharusan melakukan sekerei sebagai keinginan Jepang), maka umat Islam pun
menggencarkan pendalaman aqidah bagi para pelajar Islam. Gerakan ini
dilakukan terutama di kampung-kampung dan di sekolah-sekolah melalui
pendidikan agama dan pelaksanaan shalat fardhu secara barjamaah. Adanya
aktivitas keagamaan di sekolah inilah yang turut memberikan andil bagi

18

Seperti dituturkan Amin Syahri kepada Bapak Ahmad Adaby Darban, tanggal 11
September 1975 di Kompleks Mu’allimin Jalan Patangpuluhan. Lihat Ahmad Adaby Darban,
“Refleksi Kilas Balik Berdirinya PII” hal, 11.
19
Ahmad Adaby Darban, “Refleksi Kilas Balik Berdirinya PII” hal, 11.

23

kelancaran dan keberhasilan ide pendirian PII. 20 Akan tetapi, ada hal yang
berhubungan langsung sebagai latar belakang berdirinya PII, yakni berdirinya
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 21

Sejak HMI didirikan pada 5 Februari

1947, Anton Timur diminta oleh Lafran Pane (pendiri HMI) menjadi Sekretaris
Jendral hingga Kongres I. Anggota-anggota HMI umumnya menempuh
pendidikan menengah pada zaman Belanda. Dengan demikian, mereka lebih
memiliki dasar-dasar tradisi akademik dari pada para santri. Mereka lebih siap
masuk ke Perguruan Tinggi Umum daripada ke Perguruan Tinggi Islam. Dari
HMI inilah Anton Timur, sebagai Pendiri PII mengaku memperoleh tradisi
berpikir akademik yang kemudian dapat digunakan sebagai pisau analisis. Ia pun
merasa lebih terarah dalam memahami pesan-pesan al-Qur’an. 22
Dari uraian di atas, terlihat bahwa motivasi ke-Islam-an yang mendorong
pendirian PII didasari oleh keprihatinan terhadap keadaan umat Islam, yang bila
dibiarkan seperti saat itu akan mengalami kebekuan. Sementar itu, motivasi
kebangsaan muncul dari keprihatinan para pendiri PII terhadap nasib bangsa
Indonesia yang baru saja terlepas dari penjajahan yang sangat lama. Dalam jangka
pendek dan panjang, menurut mereka, bangsa ini pasti memerlukan wadah yang
dapat menjadi penjaga keutuhannya sekaligus penyedia kader-kader pengganti
para pimpinannya.

20

Seperti dituturkan oleh Anton Timur Djaelani dalam wawancara pada tanggal 30 April
1997, di Kramat Raya Nomor 9 Jakarta Pusat.
21
Anton Timur Djaelani, “Kebangkitan PII 4 Mei 1947, Dari Bangku Sekolah Ke
Organisasi,” tulisan tidak dipublikasikan, 30 April 1997.
22
Lihat Ahmad Adaby Darban, “Refleksi Kilas Balik Berdirinya PII” hal, 10-11.

24

C.

Proses Pendirian Pelajar Islam Indonesia
Pada tanggal 25 Februari 1947, Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di

Masjid Besar Kauman, Yogyakarta. Ketika itu, dalam pikirannya terlintas gagasan
untuk membentuk suatu organisasi bagi para pelajar Islam yang dapat mewadahi
segenap lapisan pelajar Islam yang saat itu belum terkoordinasi. Gagasan tersebut
disampaikannya kepada kawan-kawannya saat pertemuan di gedung SMP Negeri
2 Sekodiningratan, Yogyakarta. Selain Yoesdi Ghozali, hadir juga Anton Timur
Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasyi, dan Noersyaf. Semua yang hadir ini
sepakat untuk mendirikan organisasi Pelajar Islam. 23
Di sisi lain, dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang
dilaksanakan pada tanggal 30 Maret hingga 1 April 1947, Yoesdi Ghozali
mengemukakan gagasan tersebut kepada para peserta kongres. Setelah melalui
proses perdebatan karena perbedaan pandangan, akhirnya peserta yang menyetujui
ide ini lebih banyak. Oleh karena itu, kongres kemudian memutuskan untuk
melepas GPII sayap pelajar guna bergabung ke organisasi Pelajar Islam yang akan
dibentuk. Utusan Kongres GPII yang kembali ke daerah-daerah juga diminta
untuk memperlancar berdirinya organisasi khusus Pelajar Islam. 24
Kemudian, Ahad tanggal 4 Mei 1947 digelar pertemuan di kantor GPII,
jalan Margomulyo No. 8 Yogyakarta. Dalam pertemuan itu hadir Anton Timur
Djaelani dan Amin Syahri mewakili GPII sayap pelajar yang siap untuk dilebur ke
dalam organisasi Pelajar Islam yang akan dibentuk. Di sana juga telah hadir
Yoesdi Ghozali, Ibrahim Zarkasyi, dan wakil-wakil organisasi Pelajar Islam lokal
yang telah ada. Mereka adalah Yahya Ubeid dari persatuan Pelajar Islam
23

Lihat, Lihat misalnya, Djayadi Hanan, “Gerakan Pelajar Islam di bawah Bayangbayang Negara” hal, 57.
24
Djayadi Hanan, hal 57-59

25

Surakarta (PPIS), Multazam dan Shawabi dari penggabungan Kursus Islam
Sekolah Menengah (PERSIKEM) Surakarta, serta Dida Gursida dan Supomo NA
dari perhimpunan Pelajar Islam Indonesia (PPII) Yogyakarta. Dalam pertemuan
yang dipimpin oleh Yoesdi Ghozali itulah diputuskan berdirinya organisasi
Pelajar Islam Indonesia (PII). Tepatnya pada pukul 10.00 WIB tanggal 4 Mei
1947. 25
Dalam pertemuan anggota GPII, maka ditetapkan Anggaran Dasar (AD)
dan Anggaran Rumah Tangga (ART) PII. Juga ditetapkan susunan pengurus
Besar PII periode pertama, yang terdiri atas Yoesdi Ghozali sebagai ketua umum,
Thoha Mashudi sebagai Wakil I, Mansur Ali sebagai Wakil II, Ibrahim Zarkasyi
sebagai Sekretaris Jenderal, Karnoto sebagai Bendahara, Amin Syahri sebagai
Bagian Pendidikan, dan Anton Timur Djaelani sebagai penanggung jawab Bagian
Penerangan. 26
Yoesdi Ghozali sebagai penggagas berdirinya PII ternyata juga telah
menyiapkan lambing organisasi ini. 27 Usulan Yoesdi Ghozali pun langsung
disetujui oleh peserta yang hadir dalam pertemuan itu tanpa memerlukan
perdebatan panjang. Demikianlah tampaknya dunia pelajar. Sedangkan hadirin
yang lebih tua, termasuk Anton Timur Djaelani yang saat itu telah menjadi
mahasiswa juga menyetujui.

25

Djayadi Hanan, “Gerakan Pelajar Islam di bawah Bayang-bayang Negara” hal, 58-60
Muzakkir, “Perjuangan PII Ditinjau Dari Segi Dakwah di Indonesia” (Yogyakarta,
1979), hal, 55.
27
Lihat juga HM Joesdi Ghozali, S.H., “Dunia Pelajar Islam Indonesia”; “Dasa Warsa
PII”; dan Lagu-lagu PII,” dalam Moh Husnie Thamrin dan Ma’roov (eds.), “Pilar Dasar Gerakan
PII, Dasa Warsa Pertama Pelajar Islam Indonesia” (Jakarta : Karsa Cipta Jaya, Mei 1998), hal,
19-34; 114-115; 116-120.
26

26

Lambang PII ketika itu terdiri dari warna hijau yang menunjukkan, bahwa
dalam mencapai cita-citanya, Islam dijadikan sebagai lambing perdamaian. Lalu,
ada warna biru yang melambangkan kesetiaan PII kepada cita-citanya itu. Warna
merah putih menunjukkan lambing kebangsaan Indonesia. Bulan-bintang
menunjukan ketinggian Islam sebagai cita-cita yang diperjuangkan PII, dan kubah
yang tinggi membumbung

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1648 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 427 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 386 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 239 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 349 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 493 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 440 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 279 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 449 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 519 23