PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERORIENTASI PADA PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS XI MIA SMA YPK MEDAN.

(1)

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERORIENTASI PADA PROBLEM BASED LEARNING UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS XI MIA SMA YPK MEDAN

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh :

RAHMI RAMADHANI

NIM : 8136172068

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


(2)

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERORIENTASI PADA PROBLEM BASED LEARNING UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS XI MIA SMA YPK MEDAN

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Matematika

Oleh :

RAHMI RAMADHANI

NIM : 8136172068

PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA UNIVERSITAS NEGERI MEDAN


(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

i

ABSTRAK

RAHMI RAMADHANI. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi pada Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas XI MIA SMA YPK Medan. Tesis. Medan : Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana

Universitas Negeri Medan, 2015.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika yang berorientasi pada problem based learning yang efektif dalam upaya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA YPK Medan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang menggunakan rancangan model pengembangan perangkat 4D menurut Thiagarajan yang telah dimodifikasi. Pada uji coba keterbacaan diperoleh validasi dan reliabilitas perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan sebesar 0,8904, hasil reliabilitas instrumen pengamatan sebesar 84,21% serta validasi dan reliabilitas tes kemampuan pemecahan masalah matematika sebesar valid dan reliabel tinggi (0,656). Uji coba lapangan dilaksanakan di kelas XI MIA-1 SMA YPK Medan Tahun Ajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa 38 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran tergolong ke dalam kriteria baik karena telah teruji validitasnya. Hasil pelaksanaan perangkat pembelajaran pada tahap implementasi termasuk kriteria praktis. Efektivitas pengembangan perangkat pembelajaran ini diperoleh dari data TKPMM siswa yang tuntas belajar yakni 86,84% secara klasikal dan respon positif siswa berada diatas 80%. Hasil uji coba lapangan pertama dan kedua yang diperoleh menunjukkan hasil bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebesar 0,27 (6,75%). Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang signifikan dengan menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning yang efektif.

Kata kunci: pengembangan, perangkat pembelajaran, problem based learning dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa


(8)

ii

ABSTRACT

RAHMI RAMADHANI. The Development of Mathematics Learning Tool

Oriented on Problem Based Learning to Enhance The Ability of Mathematics Problem Solving Grade XI MIA SMA YPK Medan. Thesis. Medan: Mathematics Education Study Program Postgraduate School of University of Medan, 2015. The purpose of this research was to develop a learning oriented mathematics problem based learning is effective in efforts to enhance the ability of mathematics problem solving grade XI MIA SMA YPK Medan. This research is a research development that uses the devices of development model 4D design according to the modified by Thiagarajan. On the readability of tests obtained validation and reliability of learning that has been developed by 0,8904, the result of the observation instrument reliability of 84,21% as well as validation and reliability tests of mathematics problem-solving ability of valid and high reliability (0,656). Field trials conducted in class XI MIA-1 SMA YPK Medan school year 2014/2015 with a total of 38 students. The results showed that the device learning belongs to the criteria because it has stood the test of validity. Implementation of the results of the study at this stage of implementation including practical criteria. The effectiveness of the development of this learning device retrieved from the data in test students who thoroughly learned i.e. 86,84% classical and positive response by students was above 80%. Field trial results of first trial and second trial shows the results obtained that there is an increase in mathematics problem solving abilities students of 0.27 (6.75 percent). Based on these results, it can be inferred that there is an increase in the ability of mathematics problem solving of students with significant learning-oriented devices using problem based learning is effective.

Keywords: Development, Learning Devices, Problem Based Learning and


(9)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis yang berjudul : “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi pada Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas XI MIA SMA YPK Medan” dapat diselesaikan dengan baik. Tesis ini disusun dalam

rangka memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Magister Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika di Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Edi Syahputra, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNIMED sekaligus pembimbing I yang telah banyak membantu dalam memberikan arahan kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

2. Bapak Prof. Dr. Asmin, M.Pd selaku pembimbing II di tengah-tengah kesibukannya telah memberikan bimbingan, arahan dengan sabar dan kritis terhadap berbagai permasalahan dan selalu mampu memberikan motivasi bagi penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

3. Bapak Prof. Hasratuddin, M.Pd selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNIMED


(10)

iv

4. Bapak Dapot Tua Manullang, M.Si. selaku staf Program Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNIMED yang telah banyak memberikan semangat dan membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini.

5. Bapak Prof. Pargaulan Siagian, M.Pd, Bapak Drs. Zul Amry, Ph.d dan Bapak Prof. Hasratuddin, M.Pd selaku narasumber yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun untuk menjadikan tesis ini menjadi lebih baik.

6. Bapak Prof. Dr.Abdul Muin Sibuea, M.Pd selaku Direktur Program Pascasarjana UNIMED.

7. Bapak Dr. Arif Rahman, M.Pd selaku Asisten Direktur I Program Pascasarjana UNIMED.

8. Ibu Dr. Ani Minarni, M.Si., Ibu Nurhasanah Siregar, M.Pd., Ibu Ummi Aulia, S.Pd., Ibu Nazmah, S. Pd., dan Ibu Dewani Ulinda Purba, S.Pd selaku validator yang banyak memberikan masukan dan bimbingan.

9. Bapak Ricardo A. Sirait, M.Si selaku Kepala SMA YPK Medan beserta seluruh dewan guru yang telah memberikan kesempatan dan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

10. Ayahanda tercinta H. Umar Khatib, M.Pd dan Ibunda tersayang Hj. Lela Hayati, M.Pd serta kakak Rahmawida Putri, M.Pd, Fithri Khairina, Ainil Mardhiyah, Fauzan Ramadhan, kedua keponakan serta Abang Tandana Sakono Bintang, S.Hut yang senantiasa memberikan motivasi, do’a dan materil kepada penulis selama mengikuti pendidikan sampai dengan selesai.


(11)

v

11. Sahabat seperjuangan angkatan XXII Prodi Matematika (terkhusus kelas B-1 eksekutif) yang telah memberikan dorongan, semangat, serta bantuan lainnya kepada penulis.

Semoga Allah SWT membalas semua yang telah diberikan Bapak/Ibu serta Saudara/I, kiranya kita semua tetap dalam lindungan-Nya. Semoga tesisi ini dapat bermanfaat bagi guru matematika dan perkembangan dunia pendidikan khususnya matematika. Namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Medan, Januari 2015 Penulis


(12)

vi DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 16

1.3 Batasan Masalah ... 16

1.4 Rumusan Masalah ... 17

1.5 Tujuan Penelitian ... 18

1.6 Manfaat Penelitian ... 18

1.7Definisi Operasional ... 19

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Teori... 22

2.1.1. Hakikat Matematika ... 22

2.1.2. Hakikat Pembelajaran Matematika ... 23

2.1.3. Perangkat Pembelajaran ... 25

2.1.4. Efektivitas Pembelajaran Matematika ... 41

2.1.5. Ketuntasan Belajar Siswa ... 42

2.1.6. Model Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) ... 43

2.1.7. Konsep Dasar Model Problem Based Learning ... 51

2.1.8. Penerapan Model Problem Based Learning ... 53

2.1.9. Kelebihan dan Kekurangan Model Problem Based Learning 56 2.1.10. Teori Belajar Pendukung ... 57

2.1.11. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika ... 60

2.2 Kerangka Konseptual ... 67 2.2.1. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika


(13)

vii

Siswa dengan Menggunakan Model Problem Based Learning 67 2.2.2. Efektivitas Perangkat Pembelajaran dengan Menggunakan

Model Problem Based Learning terhadap Kemampuan

Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 70

2.3 Penelitian yang Relevan ... 73

2.4 Hipotesis Penelitian ... 78

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 79

3.2 Subjek Penelitian ... 79

3.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 80

3.4 Pengembangan Perangkat Pembelajaran ... 80

3.5 Validasi/Penilaian Para Ahli (Content Validity) ... 86

3.6 Uji Keterbacaan ... 88

3.7 Uji Coba Lapangan ... 88

3.7.1. Subjek Uji Coba Terbatas ... 89

3.7.2. Rancangan Uji Coba Terbatas ... 89

3.7.3. Tujuan Uji Coba ... 90

3.8 Pengembangan Instrumen Penelitian ... 91

3.8.1. Tes Kemampuan Belajar (TKB) ... 92

3.8.2. Lembar Pengamatan ... 94

3.8.3. Lembar Validasi ... 97

3.9 Prosedur Penelitian ... 98

3.10. Teknik Pengumpulan Data ... 100

3.10.1. Data Lembar Validasi ... 100

3.10.2. Lembar Penilaian Ahli dan Praktisi Tentang Kepraktisan 100 3.10.3. Data Kemampuan Pemecahan Masalah ... 101

3.10.4. Data Aktivitas Siswa ... 101

3.10.5. Data Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran 101

3.10.6. Data Respon Siswa ... 101

3.11. Teknik Analisis Data ... 102

3.11.1. Analisis Data Penelitian ... 102

3.11.2. Analisis Data untuk Menjawab Pertanyaan Penelitian .... pada Rumusan Masalah ... 112

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran ... 119


(14)

viii

4.1.1. Deskripsi Tahap Pendefinisian (Define) ... 119

a. Analisis Awal Akhir ... 119

b. Analisis Siswa ... 121

c. Analisis Konsep/Materi ... 122

d. Analisis Tugas ... 123

e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran ... 125

4.1.2. Deskripsi Tahap Perancangan (Design) ... 126

a. Hasil Penyusunan Tes ... 126

b. Hasil Pemilihan Media ... 126

c. Hasil Pemilihan Format ... 127

d. Hasil Perancangan Awal ... 127

4.1.3. Deskripsi Tahap Pengembangan (Develop) ... 131

a. Hasil Validasi Ahli ... 131

b. Hasil Uji Keterbacaan ... 136

4.1.4. Deskripsi Tahap Penyebaran (Disseminate) ... 137

a. Uji Coba Lapangan ... 137

b. Sosialisasi Perangkat Pembelajaran ... 138

4.2. Deskripsi Data Hasil Uji Coba Lapangan Pertama ... 139

4.2.1. Deskripsi Data Hasil Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 139

4.2.2. Deskripsi Data Hasil Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 142

4.2.3. Deskripsi Data Hasil Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran 144 4.2.4. Deskripsi Data Hasil Respon Siswa terhadap Pembelajaran ... 146

4.3. Revisi Berdasarkan Hasil Analisis Uji Coba Lapangan Pertama .. 148

4.3.1. Data Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah .... 148

4.3.2. Data Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 150

4.3.3. Data Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran ... 150

4.3.4. Data Respon Siswa terhadap Pembelajaran ... 151

4.4.Deskripsi Data Hasil Uji Coba Lapangan Kedua ... 154

4.4.1. Deskripsi Data Hasil Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 154

4.4.2. Deskripsi Data Hasil Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 158 4.4.3. Deskripsi Data Hasil Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran 160 4.4.4. Deskripsi Data Hasil Respon Siswa terhadap


(15)

ix

Pembelajaran ... 161

4.5.Pembahasan Penelitian ... 164

4.5.1. Data Hasil Ketuntasan dan Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa ... 166

4.5.2. Data Hasil Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran 170 4.5.3. Data Hasil Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran 171 4.5.4. Data Hasil Respon Siswa terhadap Pembelajaran ... 172

4.6.Keterbatasan Penelitian ... 175

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 178

5.2. Saran ... 179

DAFTAR PUSTAKA ... 181


(16)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1. Indikator-Indikator yang Akan Diamati pada Kemampuan

Guru dalam Mengelola Pembelajaran ... 40

Tabel 2.2. Nilai Ketuntasan pada Ranah Pengetahuan dan Keterampilan ... 43

Tabel 2.3. Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah ... 54

Tabel 2.4. Peran Guru, Peserta Didik dan Masalah ... 56

Tabel 2.5. Pemberian Skor pada Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 66

Tabel 3.1. Kisi-Kisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 93

Tabel 3.2. Tabel Penyekoran Kemampuan Pemecahan Masalah ... 94

Tabel 3.3. Format Perhitungan Validasi ... 105

Tabel 3.4. Persentase Waktu Ideal dan Batas Toleransi Aktivitas Siswa ... 113

Tabel 3.5. Kriteria Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran ... 115

Tabel 3.6. Tabel Weiner tentang Keterkaitan Antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat ... 118

Tabel 4.1. Kisi-Kisi Tes Kemampuan Pemecahan Masalah ... 127

Tabel 4.2. Deskripsi Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Uji Coba Lapangan Pertama ... 139

Tabel 4.3. Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Hasil Uji Coba Lapangan Kedua ... 139


(17)

xi

Tabel 4.4. Tingkat Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa Pada Uji Coba Lapangan Pertama ... 141

Tabel 4.5. Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran pada Uji Coba

Lapangan Pertama ... 142

Tabel 4.6. Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran (Uji Coba Pertama) ... 144

Tabel 4.7. Hasil Analisis Respon Siswa terhadap Pembelajaran pada Uji

Coba Lapangan Pertama ... 146

Tabel 4.8. Rata-Rata Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika 149 Tabel 4.9. Hasil Revisi Uji Coba Pertama yang Dianalisis dari Setiap Aspek 152

Tabel 4.10. Deskripsi Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa pada Uji Coba Lapangan Kedua ... 155

Tabel 4.11. Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa

Pada Hasil Uji Coba Lapangan Kedua ... 155

Tabel 4.12. Tingkat Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa pada Uji Coba Kedua ... 157

Tabel 4.13. Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran pada Uji Coba Kedua 158 Tabel 4.14. Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran (Uji Coba Kedua)... 160

Tabel 4.15. Hasil Analisis Respon Siswa terhadap Pembelajaran pada Uji Coba


(18)

xii

Tabel 4.1.6. Rata-Rata Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa ... 168

Tabel 4.17. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa


(19)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1.1 Anak Tangga yang Disandarkan pada Tembok/Dinding ... 11 Gambar 2.1 Diagram Alur Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4-D 50 Gambar 3.1 Diagram Alur Pengembangan Perangkat Pembelajaran Model 4-D 81 Gambar 3.2 Diagram Desain Penelitian Tindakan Kelas ... 89 Gambar 3.3. Diagram Alur Penelitian Pengembangan Perangkat Pembelajaran 99 Gambar 4.1. Peta Analisis Materi Pembelajaran Rumus-Rumus Segitiga ... 122 Gambar 4.2. Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa

Terhadap Proses Pembelajaran pada Uji Coba Lapangan Pertama 140 Gambar 4.3. Persentase Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa pada Uji Coba Lapangan Pertama ... 141 Gambar 4.4. Grafik Persentase Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran ... 145 Gambar 4.5. Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa

Pada Uji Coba Lapangan Lapangan Kedua ... 156 Gambar 4.6. Persentase Ketuntasan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Siswa pada Uji Coba Lapangan Kedua ... 157 Gambar 4.7. Persentase Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran pada Uji Coba

Lapangan Kedua ... 161 Gambar 4.8. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada


(20)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang merupakan ilmu dasar (basic science) mempunyai peran yang penting dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Materi pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah berperan dalam melatih siswa berpikir logis, kritis dan praktis, serta bersikap positif dan berjiwa kreatif. Karena pentingnya peranan matematika dalam kehidupan, maka dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, matematika diajarkan di setiap jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Pelajaran matematika menempati urutan pertama dalam jumlah jam pelajaran, hal ini menunjukkan pentingnya pelajaran matematika bagi para siswa di berbagai jenjang pendidikan.

Tujuan pertama pembelajaran matematika (Depdiknas, dalam Nizarwati 2009: 57) adalah agar siswa dapat memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien dan tepat. Sejalan dengan tujuan di atas, siswa diharapkan dapat mengaplikasikan konsep matematika yang telah mereka dapatkan dalam menghadapi masalah-masalah matematika yang disajikan.

Model pembelajaran yang efektif dan baik untuk digunakan dalam proses pembelajaran matematika cukup banyak. Namun, jika ingin mengembangkan pembelajaran matematika yang bersifat kontekstual dan open ended, salah satu


(21)

2

model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Pembelajaran berbasis masalah (problem

based learning) dapat diterapkan pada pembelajaran matematika untuk

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Menurut Wena (2009: 91) pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk proses berpikir tingkat tinggi (high order thinking). Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memeroses informasi yang telah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Trianto, 2010:92).

Proses pembelajaran di dalam kelas tidak terlepas dari peran seorang guru. Guru adalah pendidik profesional. Guru memiliki tugas utama mendidik, mengajar, mengarahkan, membimbing, melatih, menilai serta mengevaluasi peserta didik mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga pendidikan menengah. Seorang guru selayaknya memiliki kemampuan profesional yang mendukung kinerja seorang guru. Menurut Sodijarto (dalam Wiyana, 2013: 240),

kemampuan profesional guru meliputi: “(1) merancang dan merencanakan

program pembelajaran, (2) mengembangkan program pembelajaran, (3) mengelola pelaksanaan program pembelajaran, (4) menilai proses dan hasil pembelajaran, (5) mendiagnosis faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses


(22)

3

pembelajaran. Kemampuan profesional tersebut merupakan bagian dari kompetensi yang dimiliki guru.

Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2004 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi (Yasin dalam Wiyana, 2013: 240). Dimilikinya empat kompetensi tersebut oleh guru merupakan faktor penting khususnya dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran. Sebagai tenaga pendidik, guru harus menguasai atau memahami tentang Kurikulum 2013 beserta penjabarannya termasuk di dalamnya adalah mengembangkan perangkat pembelajaran. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Alim Sumarno pada tahun 2011 (dalam Wiyana, 2013: 241) bahwa pemberdayaan kemampuan guru yang meliputi kualifikasi pendidikan, pelatihan penyusunan silabus dan RPP serta penataran penulisan karya ilmiah terhadap guru berpengaruh positif terhadap kinerja guru. Kinerja guru (melalui indikator pengetahuan, sikap dan keterampilan) berpengaruh positif terhadap kualitas pendidikan (kualitas nilai dan kuantitas belajar). Kinerja guru memilki peranan yang penting dalam mempengaruhi peningkatan kualitas pendidikan di setiap jenjang sekolah. Hal tersebut menyiratkan bahwa kemampuan menyusun perangkat pembelajaran merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Berdasarkan pengamatan peneliti pada beberapa guru di SMA YPK (pengamatan dilakukan saat diadakan pelatihan implementasi kurikulum 2013 di


(23)

4

SMA YPK), menganalisis perangkat pembelajaran yang dirancang oleh setiap guru, pada umumnya bervariasi dan cenderung untuk memenuhi standar pengumpulan administrasi, sedangkan perangkat pembelajaran yang sesuai tuntutan Kurikulum 2013 merupakan skenario atau rancangan yang dijadikan acuan pembelajaran di kelas. Hal ini terbukti, perangkat pembelajaran (salah satunya RPP) tidak dijadikan pedoman bagi sebagian guru.

Salah satu hasil penelitian lain yang dilakukan Wijaya pada tahun 2011 (dalam Wiyana, 2013: 241) terhadap penyusunan RPP menunjukkan bahwa kemampuan awal guru dalam menyusun RPP tergolong rendah, karena guru kebingungan dalam merumuskan RPP serta disebabkan sebagian guru hanya melakukan copy-paste terhadap RPP yang telah disusun oleh Tim MGMP. Dari penjabaran serta hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa (1) penyusunan perangkat pembelajaran hanya dilakukan untuk memenuhi standar pengumpulan administrasi pembelajaran. (2) kurangnya pengetahuan guru dalam menjabarkan perangkat pembelajaran (salah satunya RPP) sehingga RPP tidak dijadikan pedoman bagi sebagian guru. (3) Kurangnya kemampuan guru dalam menyusun RPP sehingga RPP kurang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 yang merupakan skenario atau rancangan yang dijadikan acuan pembelajaran di kelas.

Sejak tahun 2013, kurikulum diperbaharui kembali. KTSP diperbaharui menjadi Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang diharapkan dapat melengkapi kekurangan dalam KTSP sebelumnya. Pada penyusunan RPP kurikulum KTSP, sebagian guru masih mengalami kesulitan. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, pada umumnya guru beralasan,


(24)

5

ketidakpahaman guru dalam menyusun RPP disebabkan tidak memahami apa-apa saja yang harus dituangkan ke dalam RPP sehingga hanya dapat melakukan

copy-paste terhadap RPP yang lain.

Kurikulum 2013 menuntut para guru untuk dapat menyusun perangkat pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran yang telah disarankan oleh Tim Kurikulum 2013 Kemendikbud, yakni model pembelajaran penemuan (Discovery

Learning), model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning), dan

model pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning). Selain itu, sesuai dengan Permendikbud No. 81 A Tahun 2013 Lampiran IV, pendekatan ilmiah (scientific approach) juga dituntut untuk diterapkan dalam proses pembelajaran dan juga dimasukkan pada penyusunan perangkat pembelajaran. Dikarenakan tuntutan Kurikulum 2013, maka para guru seyogianya dapat menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.

Perubahan Kurikulum 2013 juga membuat sebagian guru kesulitan dalam mengimplementasikannya, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam penyusunan perangkat pembelajaran. Selama ini, para guru hanya dituntut untuk menyusun RPP dimana silabus sebagai pedoman pembuatan telah disiapkan oleh Pemerintah Pusat. Sedangkan untuk Kurilkulum 2013, silabus belum dirancang oleh Pemerintah. Pemerintah hanya memberikan permendikbud yang berisi kompetensi-kompetensi dasar yang harus dikuasai para siswa sesuai dengan mata pelajaran. Para guru dituntut untuk menyusun RPP dengan berpedoman pada Permendikbud yang telah diberikan oleh Pemerintah. Sehingga dari penjelasan


(25)

6

tersebut di atas terlihat betapa pentingnya perangkat pembelajaran untuk menunjang proses pembelajaran.

Perangkat pembelajaran matematika atau yang sering disebut sebagai kurikulum merupakan bagian yang penting dari sebuah proses pembelajaran, juga merupakan pedoman para guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di dalam kelas. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pembelajaran telah disajikan, indikator-indikator apa sajakah yang ingin dicapai, hingga bagaimana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh guru. Selain itu, perangkat pembelajaran juga bertujuan membantu para siswa untuk mengikuti proses pembelajaran matematika. Hal di atas, sesuai dengan bunyi Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005 tentang SNP (SNP, 2008: 3) menyatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa perangkat pembelajaran begitu penting bagi seorang guru, antara lain (1) perangkat pembelajaran sebagai panduan; perangkat pembelajaran merupakan panduan guru dalam menjalankan tugasnya di kelas. Dengan adanya perangkat pembelajaran, proses pembelajaran akan berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun oleh guru tersebut. (2) Perangkat pembelajaran sebagai tolak ukur; dengan adanya perangkat pembelajaran, guru dapat melakukan analisis kemampuan siswa terhadap materi pelajaran yang telah disajikan. Guru dapat melihat sudah sejauh mana materi yang telah disajikan diserap oleh siswa. Berapa banyak siswa yang masih perlu


(26)

7

dilakukan bimbingan khusus, serta dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran berikutnya. (3) Perangkat pembelajaran sebagai peningkatan profesionalisme; dengan adanya perangkat pembelajaran, guru dapat semakin mengasah kemampuannya dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang dapat meningkatnya profesionalitas guru dalam bekerja. (4) Perangkat pembelajaran mempermudah para guru dalam membantu proses fasilitasi pembelajaran; dengan adanya perangkat pembelajaran, guru dapat lebih mudah melakukan inovasi-inovasi pembelajaran yang dapat menarik minat siswa dalam proses pembelajaran.

Perangkat pembelajaran merupakan sekumpulan sumber belajar yang disusun sedemikian rupa dimana siswa dan guru melakukan kegiatan pembelajaran (Subanindro dalam Fitriani, 2014: 3). Perangkat pembelajaran meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus pembelajaran, bahan ajar (buku siswa dan LKS), media pembelajaran, tes untuk mengukur kemampuan matematis siswa, dan sebagainya. Sehingga, pengembangan perangkat pembelajaran merupakan hal yang sangat dituntut oleh setiap guru untuk mempunyai kemampuan mengembangkan perangkat pembelajaran sendiri.

Perangkat pembelajaran merupakan salah satu poin yang penting dalam proses pembelajaran. Selain itu, poin lainnya yang dapat menunjang proses pembelajaran adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa itu sendiri. Kemampuan siswa dalam menerima proses pembelajaran sangatlah penting. Salah satu kemampuan siswa antara lain adalah kemampuan dalam bidang matematika. Selama ini, kemampuan matematika siswa di Indonesia masih rendah. Rendahnya


(27)

8

kemampuan matematika siswa di Indonesia merupakan sebuah permasalahan klasik yang masih menjadi dilema dalam dunia pendidikan hingga saat ini. Penelitian oleh TIMSS 2007, TIMSS 2011 dan PISA 2009 memaparkan bahwa siswa Indonesia memiliki kemampuan menjawab pertanyaan matematika dalam standar internasional yang rendah, terutama pada kemampuan pemecahan masalah matematika (Murni, 2013: 194).

Dalam Curriculum and Evaluation Standard (NCTM dalam Bistari, 2010: 15) memaparkan bahwa salah satu kemampuan dasar berpikir matematika yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yaitu kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan pemecahan masalah merupakan satu dari kemampuan matematis yang penting untuk pengembangan kemampuan matematik para siswa, khususnya siswa sekolah menengah.

Kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan memperhatikan proses menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah (memahami masalah; merencanakan pemecahan masalah; menyelesaikan masalah; dan melakukan pengecekan kembali) yang dikemukakan oleh polya (Nurdalilah, 2013: 117).

Pemecahan masalah merupakan tipe belajar yang paling tinggi dibandingkan tipe belajar lainnya. Menurut Slameto (dalam Pamungkas, 2013: 119) pemecahan masalah dipandang sebagai suatu proses untuk menentukan kombinasi dari sejumlah aturan yang dapat diterapkan dalam upaya mengatasi situasi yang baru. Kemampuan pemecahan masalah sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Para ahli pembelajaran sependapat bahwa kemampuan


(28)

9

pemecahan masalah dalam batas-batas tertentu, dapat dibentuk melalui bidang studi dan disiplin ilmu yang diajarkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika adalah kemampuan yang harus dimiliki siswa untuk dapat memahami masalah, merencanakan pemecahan, menyelesaikan masalah, dan memeriksa kembali hasil dari suatu matematika yang diberikan.

Wilson menambahkan bahwa (dalam Setiawati, 2005: 7) dalam kemampuan pemecahan masalah matematik siswa harus mengembangkan proses kognitif dan metakognitifnya dengan memakai ide, contoh sebelumnya untuk memahami masalah yang sedang dihadapi, mengeneralisasi pendekatan yang mungkin dapat dilakukan dan memilihnya, memonitor sendiri kemajuan yang dicapainya dan menyeleksi masalah dengan cukup hati-hati. Pentingnya kemampuan pemecahan masalah dikemukakan oleh Branca (dalam Effendi, 2012: 2), bahwa kemampuan pemecahan masalah adalah jantungnya matematika. Selanjutnya, Russefendi (dalam Effendi, 2012: 3) juga mengemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah sangat penting dalam matematika, bukan saja bagi mereka yang di kemudian hari akan mendalami atau mempelajari matematika, melainkan juga bagi mereka yang akan menerapkannya dalam bidang studi lain dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki siswa untuk melatih agar terbiasa menghadapi berbagai permasalahan, baik masalah dalam matematika, masalah dalam bidang studi lain, ataupun masalah dalam kehidupan sehari-hari yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, kemampuan siswa untuk memecahkan masalah


(29)

10

matematis perlu terus dilatih sehingga siswa dapat memecahkan masalah yang dihadapi.

Berdasarkan karakteristiknya, matematika merupakan ilmu yang bernilai guna, yang tercermin dalam peran matematika sebagai bahasa simbolik serta alat komunikasi yang tangguh, singkat, padat, cermat, tepat, dan tidak memiliki makna ganda. (Wahyudin dalam Yonandi, 2011: 133). Oleh sebab itu untuk menumbuhkembangkan kemampuan pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika, maka pendidik selayaknya mengupayakan pembelajaran dengan model-model pembelajaran yang dapat memberikan peluang dan mendorong siswa untuk melatih kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika.

Kenyataan menunjukkan bahwa matematika masih dianggap sebagai pelajaran berhitung yang rumit dan terlalu banyak rumus. Selain itu, objek matematika yang abstrak juga dianggap sebagai faktor yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan konsep matematika ke dalam permasalahan sehari-hari yang disajikan. Selain permasalahan di atas, peneliti juga menemukan permasalahan lain di lapangan. Peneliti melakukan pengamatan di SMA YPK Medan, dan dari hasil wawancara dengan guru matematika kelas XI MIA (Ibu Ummi Aulia, S.Pd) diperoleh bahwa setiap hasil ulangan kompetensi dasar, para siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami soal-soal berbentuk masalah kontekstual dan open ended serta kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang disajikan sesuai dengan konsep yang telah diajarkan. Hasil ulangan kompetensi dasar para siswa rata-rata masih berada di


(30)

11

Gambar. 1.1. Anak Tangga

yang Disandarkan pada

Tembok

bawah KKM. Nilai rata-rata hasil ulangan KD-1 adalah 55,23 masih di bawah nilai KKM yang ditetapkan oleh sesuai dengan Kurikulum 2013 dalam Lampiran Permendikbud No. 104 (2014: 12), yakni atau setara dengan 67. Kurangnya pengaplikasian konsep matematis berdampak pada hasil belajar siswa yang diperoleh kurang memuaskan.

Kelemahan siswa dalam mengaplikasikan konsep matematis dikarenakan rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Selama peneliti melakukan pengamatan, peneliti mengamati bahwa para siswa cenderung pasif dalam mengikuti proses pembelajaran matematika di dalam kelas. Siswa cenderung merasa takut dan cemas saat mengemukakan pendapatnya, bahkan para siswa takut untuk bertanya mengenai hal yang kurang dipahami.

Peneliti melakukan riset dan observasi awal kepada siswa Kelas XII IPA 1 dan XII IPA 2 dengan memberikan soal-soal yang open ended yang berkaitan dengan materi Rumus-Rumus Segitiga. Jumlah siswa di kedua kelas sebanyak 80 siswa, namun diambil 10 siswa sebagai sampel penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling, yakni 5 siswa dari XII IPA 1 dan 5 siswa dari XII IPA 2.

Permasalahan yang disajikan oleh peneliti, yakni: 1. Sebuah tangga terpasang pada sebuah

dinding tembok. Tinggi tangga 2,6 m dan sudut antara tangga dengan dinding tembok adalah 30o. Dapatkah Anda membuat ilustrasi gambar dari masalah tersebut? Dan dapatkah Anda menentukan jarak antara puncak tangga dengan lantai?


(31)

12

2. Sebidang tanah berbentuk segiempat. Tanah tersebut dibatasi oleh tonggak-tonggak A, B, C dan D. Jarak tonggak A ke B = 4 m, B ke C = 3 m, C ke D = 5 m, dan D ke A = 6 m . Jika . Dapatkah Anda menggambarkan ilustrasi dari masalah tersebut? dan dapatkah Anda menentukan luas tanah tersebut?

(Tim Kreatif Matematika, 2009: 196-197)

Solusi permasalahan yang dijawab oleh siswa (peneliti hanya memaparkan

hasil seorang siswa sebagai contoh)

Solusi 1

Pola Jawaban Siswa dalam Memecahkan Masalah-1 Tembok

Penempatan ilustrasi soal masih kurang tepat. Ilustrasi sudut 30o merupakan ilustrasi sudut antara tangga dengan dinding tembok

Siswa masih belum mampu mensubtitusi kan apa yang diketahui dalam soal dengan rumus yang tepat Terlihat siswa

belum mampu menentukan rumus yang digunakan Seharus-nya penempa tan sudut 30o berada di sini Hasil pemecahan yang didapat siswa memang benar, namun proses penyelesaian nya masih belum tepat


(32)

13

Solusi 2:

Pola Jawaban Siswa dalam Memecahkan Masalah-2

Dari kedua solusi permasalahan di atas, tampak terlihat bahwa siswa tidak dapat memecahkan masalah dengan baik.

Pada solusi pemecahan soal (1), siswa telah mampu menggambarkan ilustrasi dari masalah yang disajikan dengan baik dan benar, namun siswa masih terkendala pada mengidentifikasikan komponen-komponen yang diketahui dari ilustrasi tersebut. Siswa salah meletakkan nilai sudut yang diketahui dalam masalah (1). Dari indikator pemecahan masalah yang pertama, siswa belum mampu menuliskan apa yang diketahui dengan benar. Untuk indikator pemecahan masalah kedua, siswa belum mampu memilih rumus yang tepat dalam memecahkan masalah (1) yang telah disajikan. Rumus yang sesuai untuk memecahkan masalah (1) adalah rumus aturan sinus, yakni

.

Dan untuk indikator pemecahan masalah ketiga, siswa belum mampu menyelesaikan masalah dengan tepat. Hal itu disebabkan pada indikator

Sudah mampu membuat ilustrasi gambar Penggunaan rumus masih belum sesuai dengan soal yang disajikan Penyelesaian masalah yang disajikan siswa masih belum tepat


(33)

14

pemecahan masalah pertama, dimana siswa masih belum mampu menuliskan apa yang diketahui dalam masalah tersebut. Hal tersebut menjadi suatu kesulitan untuk menyelesaikan proses pemecahan masalah dengan tepat. Pada solusi permasalahan pertama, secara garis besar, siswa masih belum mampu memenuhi ketiga indikator kemampuan pemecahan masalah. Untuk kesimpulan sementara, pada masalah (1), kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah.

Pada solusi pemecahan masalah (2), siswa telah mampu menggambarkan ilustrasi dari masalah yang disajikan dengan baik dan benar. Dari indikator pemecahan masalah yang pertama, siswa telah mampu menuliskan apa yang diketahui dengan benar. Untuk indikator pemecahan masalah kedua, siswa belum mampu memilih rumus yang tepat dalam memecahkan masalah (2) yang telah disajikan. Dari pemecahan masalah yang telah siswa kerjakan, terlihat bahwa siswa mengetahui bahwa masalah (2) dapat diselesaikan dengan menggunakan rumus luas segitiga, namun siswa masih belum mampu memilih rumus luas segitiga mana yang lebih tepat digunakan untuk memecahkan masalah (2). Dan untuk indikator pemecahan masalah ketiga, siswa belum mampu menyelesaikan masalah dengan tepat. Hal itu disebabkan pada indikator pemecahan masalah kedua, dimana siswa masih belum mampu memilih rumus luas segitiga yang tepat untuk menyelesaikan masalah (2) tersebut. Hal tersebut menjadi suatu kesulitan untuk menyelesaikan proses pemecahan masalah dengan tepat. Pada solusi permasalahan kedua, secara garis besar, siswa masih belum mampu memenuhi dua dari tiga indikator kemampuan pemecahan masalah. Untuk kesimpulan


(34)

15

sementara, pada masalah (2), kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah.

Dari kedua solusi masalah di atas yang telah dikerjakan oleh siswa, dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah yang disajikan secara kontekstual dan kompleks. Selain itu, dapat pula disimpulkan bahwa, kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki oleh siswa tersebut masih rendah. Hal tersebut merupakan suatu fakta yang membuktikan bahwa kemampuan pemecahan masalah oleh siswa SMA masih rendah. Fakta tersebut juga didukung pula oleh kenyataan bahwa, kemampuan pemecahan masalah matematika siswa masih rendah disebabkan oleh siswa masih jarang melatih diri untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan permasalahan kontekstual. Selain sebab tersebut, dapat pula disimpulkan bahwa, siswa tidak memahami maksud soal dan tidak memahami konsep matematis yang dapat digunakan; serta siswa tidak memahami bagaimana membuat model matematika dari permasalahan yang disajikan. Kemampuan pemecahan masalah siswa tampak masih jauh dari harapan dalam pembelajaran matematika. Selain dikarenakan ketidakmampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep matematis dalam permasalahan sehari-hari, penyebab lainnya (baca: kemampuan pemecahan masalah) adalah kurangnya maksimalnya guru dalam memberikan soal-soal yang berbasis masalah yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

Dari uraian permasalahan di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian yang berhubungan dengan kemampuan matematis para siswa serta kaitannya dengan keberadaan perangkat pembelajaran matematika. Judul penelitiannya


(35)

16

adalah Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berorientasi

pada Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas XI MIA SMA.

1.2.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based

learning antara lain RPP, buku siswa, LKS serta tes kemampuan

pemecahan masalah dalam proses pembelajaran matematika siswa kelas XI MIA SMA masih belum diterapkan sebagaimana mestinya.

2. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA rendah.

3. Dalam proses pembelajaran, guru kurang maksimal dalam memberikan soal-soal yang berbasis masalah yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah.

1.3. Batasan Masalah

Mengingat keluasan ruang lingkup permasalahan dalam pembelajaran matematika seperti yang telah diidentifikasi di atas, maka penelitian ini perlu dibatasi, sehingga lebih terfokus pada permasalahan yang mendasar dan memberikan dampak yang luas terhadap permasalahan yang dihadapi. Penelitian ini dibatasi pada pemecahan masalah. Adapun alternatif pembelajaran yang diteliti


(36)

17

adalah pengembangan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based

learning.

Masalah yang teridentifikasi di atas merupakan masalah yang cukup luas dan kompleks, agar penelitian ini lebih fokus dan mencapai tujuan, maka penulis membatasi masalah pada:

1. Perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based

learning antara lain RPP, buku siswa, LKS serta tes kemampuan

pemecahan masalah dalam proses pembelajaran matematika siswa kelas XI MIA SMA masih belum diterapkan sebagaimana mestinya.

2. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA rendah.

1.4. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, maka permasalahan yang dikaji pada rumusan masalah ini adalah “Bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA”. Dari permasalahan tersebut dapat dirincikan beberapa pertanyaan penelitian, yaitu:

1. Bagaimana keefektifan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based learning yang telah dikembangkan dalam proses pembelajaran matematika siswa kelas XI MIA SMA?

2. Bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA menggunakan perangkat pembelajaran


(37)

18

matematika berorientasi pada problem based learning yang telah dikembangkan ?

1.5. Tujuan Penelitian

Penelitian ini memiliki tujuan utama untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas XI MIA SMA. Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengembangkan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada

problem based learning yang efektif dalam proses pembelajaran

matematika di kelas XI MIA SMA.

2. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas XI MIA SMA menggunakan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based learning yang telah dikembangkan.

1.6. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menghasilkan temuan-temuan yang merupakan masukan berarti bagi pembaharuan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan suasana baru dalam memperbaiki cara guru mengajar di dalam kelas, khususnya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Manfaat yang mungkin diperoleh antara lain:

1. Bagi siswa akan memperoleh pengalaman memecahkan permasalahan matematika pada materi rumus-rumus segitiga dengan menggunakan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based


(38)

19

learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

2. Sebagai masukan bagi guru matematika mengenai model pembelajaran matematika dalam membantu siswa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.

3. Bagi kepala sekolah, dapat menjadi bahan pertimbangan kepada tenaga pendidik untuk menerapkan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based learning dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.

4. Bagi peneliti, dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam pengembangan perangkat pembelajaran matematika berorientasi pada problem based

learning lebih lanjut.

5. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk pembelajaran dalam bidang ilmu pengetahuan yang lain.

1.7.Definisi Operasional

a. Pengembangan adalah suatu pengkajian sistematis terhadap pendesainan, pengembangan, dan evaluasi terhadap program yang telah ditentukan. Sedangkan proses dan produk pembelajaran yang dikembangkan harus memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif.

b. Perangkat pembelajaran merupakan sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Adapun perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan pada penelitian ini


(39)

20

adalah RPP, LKS, buku siswa dan tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

c. Problem Based Learning (PBL) adalah pembelajaran yang menghadapkan

siswa pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain siswa belajar melalui permasalahan-permasalahan. Sintaks dari model problem based learning (PBL) ini adalah (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisasi siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual maupun berkelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

d. Perangkat pembelajaran matematika berorientasi problem based learning adalah perangkat pembelajaran yang di dalamnya tercakup langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). Selain itu, soal-soal yang disajikan pada bahan ajar yang dikembangkan (buku siswa dan LKS) juga tersaji dalam bentuk permasalahan-permasalahan. e. Kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan siswa dalam

menyelesaikan masalah matematika dengan memperhatikan proses menemukan jawaban berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah (memahami masalah; merencanakan pemecahan masalah; menyelesaikan masalah; dan melakukan pengecekan kembali) yang dikemukakan oleh polya.

f. Efektivitas pembelajaran adalah tingkat kesiapan guru dan siswa dalam pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari komponen-komponen: (1) aktivitas


(40)

21

siswa, (2) kemampuan guru mengelola pembelajaran, dan (3) respon siswa.

(1) Aktivitas siswa adalah persentase penggunaan waktu pembelajaran dalam melaksanakan aktivitas aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran matematika dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

(2) Kemampuan guru mengelola pembelajaran adalah seberapa besar usaha guru mengetahui kesiapan belajar siswa, memberikan penjelasan/informasi, memotivasi siswa untuk belajar, serta memberi bantuan atau membimbing siswa.

(3) Respon siswa adalah pendapat siswa terhadap kekinian (baru/tidak baru), dan kesukaan (suka/tidak suka) terhadap perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning yang dikembangkan.

(4) Ketuntasan Belajar terdiri atas ketuntasan penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar. Ketuntasan penguasaan substansi yaitu ketuntasan belajar KD yang merupakan tingkat penguasaan peserta didik atas KD tertentu pada tingkat penguasaan minimal atau di atasnya, sedangkan ketuntasan belajar dalam konteks kurun waktu belajar terdiri atas ketuntasan dalam setiap semester, setiap tahun ajaran, dan tingkat satuan pendidikan.


(41)

178

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dipaparkan beberapa kesimpulan sebagai berikut ini:

1. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan telah diujicobakan dinyatakan telah efektif. Hal tersebut disebabkan, perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan telah memenuhi kriteria keefektifan yang telah dijabarkan sebelumnya di Bab II. Berikut kesimpulan hasil keefektifan perangkat pembelajaran yang dianalisis berdasarkan kriterianya:

a. Tingkat kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based

learning sudah dapat dikatakan efektif, dikarenakan rata-rata

kemampuan guru mengelola pembelajaran telah mencapai kriteria minimal, yakni katagori baik.

b. Aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning sudah berada pada kriteria batasan keefektifan pembelajaran

c. Respon siswa terhadap komponen perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning serta proses pembelajaran sudah menunjukkan respon yang positif, terlihat dari respon siswa mencapai 81,78%.


(42)

179

2. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan dinyatakan telah efektif, maka dianalisislah bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang telah dilaksanakan pada uji coba lapangan pertama dan kedua. Kesimpulan hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada uji coba lapangan pertama dan kedua, yakni: tingkat ketuntasan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada

problem based learning yaitu secara klasikal sebesar 86,84%. Sedangkan

peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada uji coba lapangan pertama yaitu 2,67 meningkat menjadi 2,94 pada uji coba lapangan kedua. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa mengalami peningkatan yang signifikan yakni sebesar 0,27 (6,75%).

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, pembelajaran dengan

menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning memberikan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyarankan beberapa hal sebaga berikut:

a. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan dinyatakan telah efektif hanya terfokus pada satu bab materi pokok saja, sehingga pengembangan perangkat pembelajaran belum optimal.

b. Dalam melaksanakan uji coba lapangan, peneliti mengalami beberapa faktor yang menghambat terlaksananya penelitian ini, diantaranya adalah


(43)

180

faktor eksternal yang dialami siswa. Faktor eksternal tersebut diantaranya kondisi belajar yang kurang bersahabat dikarenakan proses pembelajaran dilaksanakan pada siang hingga sore hari, serta kondisi lingkungan sekitar yang membuat proses pembelajaran sedikit tidak kondusif. Peneliti sedikit mengalami kendala saat mengkondusifkan kondisi belajar di dalam kelas. c. Pengembangan perangkat pembelajaran yang telah peneliti lakukan cukup

mendapatkan perhatian yang besar oleh kepala sekolah dan staff guru di sekolah penelitian. Hal tersebut dikarenakan perangkat pembelajaran yang peneliti kembangkan merupakan perangkat pembelajaran yang baru dan sangat menarik sebagai buku pedoman siswa dalam proses pembelajaran. d. Bagi guru yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran yang

berorientasi pada problem based learning pada materi pokok matematika yang lain atau pada mata pelajaran yang lain dapat merancang/mengembangkan komponen-komponen model pembelajaran dan karakteristik dari materi pelajaran yang akan dikembangkan.


(44)

181

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, Bansu I. 2012. Komunikasi Matematik dan Politik. Banda Aceh: PeNa Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).

Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Asmin, Mansyur Abil. 2014. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar dengan

Analisis Klasik dan Modern. Medan: LARISPA

Bistari, Bsy. 2010. Pengembangan Kemandirian Belajar Berbasis Nilai untuk Meningkatkan Komunikasi Matematik. Jurnal Pendidikan Matematika dan

IPA, 1 (1): 11-23

Borg, Walter R, Maredith D. Gall. 1983. Educational Research: An Introduction,

Fourth Edition. New York: Longman Inc

Chapman, Olive. 2005. Constructing Pedagogical Knowledge of Problem Solving: Preservice Mathematics Teachers. In Chick, H. L. & Vincent, J. L. (Eds.), Proceedings of the 29th Conference of the International Group

for the Psychology of Mathematics Education, 2: 225-232. Melbourne:

PME

Dewi, Muthia. 2014. Pengembangan Modul Matematika Menggunakan Model

Thiagarajan untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik di MTs. Pesantren Daar Al Uluum Kisaran. Tesis. Medan: Program Pascasarjana

Universitas Negeri Medan

Effendi, Leo Adhar. 2012. Pembelajaran Matematika Dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Dan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Jurnal Penelitian Pendidikan,13 (2): 1-10

Ferryansyah. 2011. Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa antara Pembelajaran yang Disertai Penciptaan Kondisi Alfa dan Tanpa Disertai Penciptaan Kondisi Alfa. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial-Scocioscientia, 3 (2): 236

Fitriani. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Melalui Model


(45)

182

Komunikasi Matematik Siswa di SMP Kelas VIII. Tesis. Medan: Program

Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Jihad, Asep. 2008. Pengembangan Kurikulum Matematika (Tinjauan Teoritis dan

Historis). Yogyakarta: Multi Presindo

Komariah. 2007. Model Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika SD. Jurnal Pendidikan Dasar, V (7)

Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar

Kompetensi Guru). Bandung: ROSDA

Muchayat. 2011. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Strategi IDEAL Problem Solving Bermuatan Pendidikan Karakter. Jurnal PP, 1 (2): 200-203

Muchlis, Effie Efrida. 2012. Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) terhadap Perkembangan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas II SD Kartika 1.10 Padang. Jurnal Exacta, X (2): 137-138

Murni, Atma, dkk 2013. The Enhancement of Junior High School Student’s Abilities in Mathematical Problem Solving Using Softt Skill-Based Metacognitive Learning. Indo-MS Journal Mathematics Education (JME), 4 (2): 194 (ISSN 2087-8885)

Murwaningsing, Utami, Nuryani Tri Rahayu. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Matematika Realistik di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal WIDYATAMA, 21 (2): 133

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Kencana: Jakarta

NCTM. 2010. Why is Teaching with Problem Solving Important to Students Learning. Problem Solving Reasearch Brief

Nizarwati, dkk. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme untuk Mengajarkan Konsep Perbandingan Trigonometri Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Matematika, 3 (2): 57-72

Nurdalilah, dkk. 2013. Perbedaan Kemampuan Penalaran Matematika dan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Konvensional di SMA Negeri 1 Kualuh Selata. Jurnal


(46)

183

Permendikbud RI. 2013. Salinan Lampiran Permendikbud No. 65 Tahun 2013

tentang Standar Proses

. Salinan Lampiran Permendikbud No. 81A Tahun 2013

tentang Standar Penilaian

Pamungkas, dkk. 2013. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kreativitas Belajar Matematika dengan Pemanfaatan Software Core Math Tools (CMT). Prosiding: Seminar Nasional Pendidikan Matematika, hal. 119

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik. 2014. Materi Pelatihan Guru:

Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran Matematika SMA/SMK Untuk Guru. Jakarta: Badan Pengembangan sumber Daya

Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Rohani. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematika Siswa SMP Muhammadiyah 24 Aek Kanopan. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri

Medan

Rusman. 20111. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme

Guru. Jakarta: Rajawali Pers

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: ALFABETA Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana

Setiawati, Euis. 2005. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan

Masalah Matematika Melalui Teknik SQ4R dan Peta Konsep Siswa Madrasah Aliyah. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program Pascasarjana

Universitas Pendidikan Indonesia

Sinaga, Bornok. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika

Berdasarkan Masalah Berbasis Budaya Batak (PBM-B3). Surabaya:

Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks Standar Nasional Pendidikan (SNP). 2008. Standar Nasional Pendidikan (SNP).


(47)

184

Suparlan, Asup. 2005. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Mengembangkan

Kemampuan Pemahaman dan Representasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program

Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, hal. 20-22

Tim Kreatif Matematika. 2009. Matematika SMA/MA Kelas X. Jakarta: Bailmu Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta :

Kencana

Wiyana, dkk. 2013. Pengaruh Pengetahuan KTSP dan Pendidikan Terhadap Kemampuan Menyusun RPP Guru SDN Jatiyoso Tahun 2011/2012. Jurnal

Teknologi Pendidikan, 1 (2): 239-248 (http://jurnal.pasca.uns.ac.id)

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer; Suatu Tinjauan

Konseptual Operasional. Jakarta : Bumi Aksara

Wulan, dkk. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Guided Inquiry yang dilengkapi Penilaian Portifolio pada Materi Gerak Melingkar. Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, (1): 1-19 (http://ejournal.unp.ac.id)

Yonandi. 2011. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas Melalui Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Komputer. Jurnal Pendidikan Matematika, 2 (2): 133


(1)

2. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan dinyatakan telah efektif, maka dianalisislah bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang telah dilaksanakan pada uji coba lapangan pertama dan kedua. Kesimpulan hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada uji coba lapangan pertama dan kedua, yakni: tingkat ketuntasan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning yaitu secara klasikal sebesar 86,84%. Sedangkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada uji coba lapangan pertama yaitu 2,67 meningkat menjadi 2,94 pada uji coba lapangan kedua. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa mengalami peningkatan yang signifikan yakni sebesar 0,27 (6,75%).

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran berorientasi pada problem based learning memberikan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyarankan beberapa hal sebaga berikut:

a. Perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan dan dinyatakan telah efektif hanya terfokus pada satu bab materi pokok saja, sehingga pengembangan perangkat pembelajaran belum optimal.

b. Dalam melaksanakan uji coba lapangan, peneliti mengalami beberapa faktor yang menghambat terlaksananya penelitian ini, diantaranya adalah


(2)

faktor eksternal yang dialami siswa. Faktor eksternal tersebut diantaranya kondisi belajar yang kurang bersahabat dikarenakan proses pembelajaran dilaksanakan pada siang hingga sore hari, serta kondisi lingkungan sekitar yang membuat proses pembelajaran sedikit tidak kondusif. Peneliti sedikit mengalami kendala saat mengkondusifkan kondisi belajar di dalam kelas. c. Pengembangan perangkat pembelajaran yang telah peneliti lakukan cukup

mendapatkan perhatian yang besar oleh kepala sekolah dan staff guru di sekolah penelitian. Hal tersebut dikarenakan perangkat pembelajaran yang peneliti kembangkan merupakan perangkat pembelajaran yang baru dan sangat menarik sebagai buku pedoman siswa dalam proses pembelajaran. d. Bagi guru yang ingin menerapkan perangkat pembelajaran yang

berorientasi pada problem based learning pada materi pokok matematika yang lain atau pada mata pelajaran yang lain dapat merancang/mengembangkan komponen-komponen model pembelajaran dan karakteristik dari materi pelajaran yang akan dikembangkan.


(3)

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, Bansu I. 2012. Komunikasi Matematik dan Politik. Banda Aceh: PeNa Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi).

Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Asmin, Mansyur Abil. 2014. Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar dengan

Analisis Klasik dan Modern. Medan: LARISPA

Bistari, Bsy. 2010. Pengembangan Kemandirian Belajar Berbasis Nilai untuk Meningkatkan Komunikasi Matematik. Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA, 1 (1): 11-23

Borg, Walter R, Maredith D. Gall. 1983. Educational Research: An Introduction, Fourth Edition. New York: Longman Inc

Chapman, Olive. 2005. Constructing Pedagogical Knowledge of Problem Solving: Preservice Mathematics Teachers. In Chick, H. L. & Vincent, J. L. (Eds.), Proceedings of the 29th Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, 2: 225-232. Melbourne: PME

Dewi, Muthia. 2014. Pengembangan Modul Matematika Menggunakan Model Thiagarajan untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik di MTs. Pesantren Daar Al Uluum Kisaran. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Effendi, Leo Adhar. 2012. Pembelajaran Matematika Dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Dan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Jurnal Penelitian Pendidikan,13 (2): 1-10

Ferryansyah. 2011. Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa antara Pembelajaran yang Disertai Penciptaan Kondisi Alfa dan Tanpa Disertai Penciptaan Kondisi Alfa. Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial-Scocioscientia, 3 (2): 236

Fitriani. 2014. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Kemampuan


(4)

Komunikasi Matematik Siswa di SMP Kelas VIII. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Jihad, Asep. 2008. Pengembangan Kurikulum Matematika (Tinjauan Teoritis dan Historis). Yogyakarta: Multi Presindo

Komariah. 2007. Model Pemecahan Masalah melalui Pendekatan Realistik pada Pembelajaran Matematika SD. Jurnal Pendidikan Dasar, V (7)

Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru). Bandung: ROSDA

Muchayat. 2011. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Strategi IDEAL Problem Solving Bermuatan Pendidikan Karakter. Jurnal PP, 1 (2): 200-203

Muchlis, Effie Efrida. 2012. Pengaruh Pendekatan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) terhadap Perkembangan Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Kelas II SD Kartika 1.10 Padang. Jurnal Exacta, X (2): 137-138

Murni, Atma, dkk 2013. The Enhancement of Junior High School Student’s Abilities in Mathematical Problem Solving Using Softt Skill-Based Metacognitive Learning. Indo-MS Journal Mathematics Education (JME), 4 (2): 194 (ISSN 2087-8885)

Murwaningsing, Utami, Nuryani Tri Rahayu. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran dengan Model Pembelajaran Matematika Realistik di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal WIDYATAMA, 21 (2): 133

Nata, Abuddin. 2009. Perspektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Kencana: Jakarta

NCTM. 2010. Why is Teaching with Problem Solving Important to Students Learning. Problem Solving Reasearch Brief

Nizarwati, dkk. 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme untuk Mengajarkan Konsep Perbandingan Trigonometri Siswa Kelas X SMA. Jurnal Pendidikan Matematika, 3 (2): 57-72

Nurdalilah, dkk. 2013. Perbedaan Kemampuan Penalaran Matematika dan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Konvensional di SMA Negeri 1 Kualuh Selata. Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, 6 (2): 116


(5)

Permendikbud RI. 2013. Salinan Lampiran Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses

. Salinan Lampiran Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Standar Penilaian

Pamungkas, dkk. 2013. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Kreativitas Belajar Matematika dengan Pemanfaatan Software Core Math Tools (CMT). Prosiding: Seminar Nasional Pendidikan Matematika, hal. 119

Pusat Pengembangan Profesi Pendidik. 2014. Materi Pelatihan Guru: Implementasi Kurikulum 2013 Tahun 2014 Mata Pelajaran Matematika SMA/SMK Untuk Guru. Jakarta: Badan Pengembangan sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjamin Mutu Pendidikan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Rohani. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Menggunakan Pendekatan Matematika Realistik untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Disposisi Matematika Siswa SMP Muhammadiyah 24 Aek Kanopan. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Rusman. 20111. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers

Sagala, Syaiful. 2009. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: ALFABETA Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan. Jakarta: Kencana

Setiawati, Euis. 2005. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman dan Pemecahan Masalah Matematika Melalui Teknik SQ4R dan Peta Konsep Siswa Madrasah Aliyah. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Sinaga, Bornok. 2007. Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Berdasarkan Masalah Berbasis Budaya Batak (PBM-B3). Surabaya: Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya

Slavin, Robert E. 2011. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Jakarta: Indeks Standar Nasional Pendidikan (SNP). 2008. Standar Nasional Pendidikan (SNP).


(6)

Suparlan, Asup. 2005. Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Mengembangkan Kemampuan Pemahaman dan Representasi Matematika Siswa Sekolah Menengah Pertama. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, hal. 20-22

Tim Kreatif Matematika. 2009. Matematika SMA/MA Kelas X. Jakarta: Bailmu Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta :

Kencana

Wiyana, dkk. 2013. Pengaruh Pengetahuan KTSP dan Pendidikan Terhadap Kemampuan Menyusun RPP Guru SDN Jatiyoso Tahun 2011/2012. Jurnal Teknologi Pendidikan, 1 (2): 239-248 (http://jurnal.pasca.uns.ac.id)

Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer; Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta : Bumi Aksara

Wulan, dkk. 2012. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Menggunakan Model Guided Inquiry yang dilengkapi Penilaian Portifolio pada Materi Gerak Melingkar. Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, (1): 1-19 (http://ejournal.unp.ac.id)

Yonandi. 2011. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik Siswa Sekolah Menengah Atas Melalui Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Komputer. Jurnal Pendidikan Matematika, 2 (2): 133


Dokumen yang terkait

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP PAHLAWAN NASIONAL MEDAN.

0 3 27

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DI KELAS XI-IPA SMA ISLAM AL-ULUM TERPADU MEDAN T.A 2016/2017.

0 4 30

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERORIENTASI PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN VISUAL THINKING DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP.

0 2 46

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DALAM CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS X SMK FARMASI PHARMACA MEDAN.

6 61 29

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA SMK.

2 31 239

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MELALUI METODE PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VIIF,

0 3 16

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATERI SEGIEMPAT DENGAN PENDEKATAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMP KELAS VII.

0 0 476

Pengembangan perangkat pembelajaran matematika berbasis problem based learning (PBL) pada materi perbandingan dan skala untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP kelas VII.

1 24 519

Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Contextual Teaching and Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Peserta Didik Kelas XI

0 0 15

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PESERTA DIDIK KELAS VIII

1 1 17