UJIAN NASIONAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK

UJIAN NASIONAL: LANGKAH MENUJU PENINGKATAN
MUTU PENDIDIKAN ?
Oleh :
Liftiah, S.Psi., M.Si.
Knowledge without religion is blind, religion without knowledge is lame.
I.

PENDAHULUAN
Pendidikan yang diterapkan di Indonesia adalah pendidikan peninggalan

penjajahan Belanda yang mulai digulirkan sejak tahun 1899 sampai sekarang. Sistem
pendidikan yang diterapkan parsial – dikotomistis, sehingga lahirlah “generasi buta”
dan “generasi lumpuh”. Generasi buta lahir dari gua garba sistem pendidikan umum
yang lebih berorientasi pada penguasaan ilmu dan teknologi, tetapi kering dari nilainilai religius. Sebaliknya generasi lumpuh lahir dari sistem pendidikan “agama” yang
hanya mengkaji kitab-kitab kuning dan penanaman moralitas belaka, tetapi tidak
diimbangi dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dua jenis generasi yang lahir dari sistem pendidikan yang dikotomistis
memberikan dampak terhadap lahirnya kepemimpinan yang berbeda. “ Si buta “
sebagai jenis generasi pertama yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi
kering dari religius menampilkan prilaku amoral dan telah menciptakan budaya KKN
secara turun temurun dan tersetruktur. Sedangkan jenis generasi kedua “Si lumpuh”
yang penuh dengan penguasaan “agama” tetapi karena tidak menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi, maka terjadi kegagapan dalam mengekspresikan
aktivitasnya karena selalu tertinggal oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Peribahasa Knowledge without religion is blind, religion without knowledge is
lame, benar-benar saat ini telah terjadi pada bangsa Indonesia. Agar tidak terjadi terus
menerus darurat peradaban bangsa Indonesia, maka perlu menyiapkan sumber daya
manusia (SDM) berkualitas melalui sistem pendidikan komprehensif.
Tugas pendidikan yang paling mulia adalah memberikan pelayanan pendidikan
yang paling baik bagi para siswanya, agar mereka mendapatkan kesempatan untuk
mewujudkan potensi intelektual, emosional, dan moralnya secara optimal. Untuk
mewujudkan hal tersebut perlu diadakan upaya yang sungguh-sungguh dan terpadu
dari berbagai pihak. Sehingga siswa dengan pendidikan yang diterimanya dapat : (1)
Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to be dan (4) learning to live
together sebagaimana pilar pembelajaran UNESCO.
1
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

II.

KONDISI PENDIDIKAN di INDONESIA
Secara umum kondisi pendidikan Indonesia dari tingkatan pendidikan dasar

sampai perguruan tinggi masih tergolong rendah. Kualitas output peserta didik belum
mempunyai keunggulan komparatif maupun kompetitif untuk dapat bersaing dengan
output peserta didik di Negara-negara ASEAN. Bila dibandingkan dengan Negaranegara maju maka sangat jauh tertinggal.
Secara kuantitas, Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia memberikan gambaran
bahwa jumlah anak putus sekolah dari masing-masing jenjang pendidikan masih
cukup besar. Perbandingannya 2 : 1 antara anak yang putus sekolah dan yang dapat
melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Hal ini berarti dari tiga anak yang
sekolah, hanya ada satu anak yang mampu melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,
sedangkan dua anak lainnya tidak mampu melanjutkan pendidikannya.
Hasil penelitian BPS yang dilakukan tahun 1994 sampai 1998 menunjukkan
bahwa pencapaian kelulusan anak perempuan hanya 26,4 % sedangkan anak laki-laki
hanya 30,6 %. Hal ini berarti hanya sepertiga bagian jumlah peserta didik yang dapat
meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya, sedangkan dua pertiga bagian lainnya
putus sekolah (Kompas, 8 September 2000). Mereka yang putus sekolah memasuki
pasar kerja sebagai tenaga kasar dengan pendidikan rendah baik di dalam negeri
maupun di luar negeri.
United Nation Development Program (UNDP) melaporkan tentang kinerja
pendidikan nasional di 174 negara pada tahun 1999 dan 2000. Menurut laporan
UNDP kinerja pendidikan nasional Indonesia pada tahun 1999 menempati urutan 105
dan pada tahun 2000 pada urutan 109 dari 174 negara yang disurvai UNDP.
Bandingkan dengan Filipina pada urutan 77, Thailand 67, Malaysia 56, Brunei
Darussalam 25, Singapura 22, dan Negara tetangga Australia pada urutan ke 7 dari
174 negara. Laporan UNDP tahun 1999 dan 2000 ini memberikan gambaran bahwa
kinerja pendidikan nasional Indonesia juga masih tertinggal dengan Negara-negara
ASEAN lainnya.

2.1. Kondisi Pendidikan Dasar
Balitbang Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan penelitian pada
tahun 1991 sampai dengan 1996 tentang prestasi akademik lulusan SD yang diukur
2
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

dari Nilai Ebtanas Murni (NEM). Hasilnya baru mencapai rata-rata NEM 6,34 dengan
kategori medioser. Beberapa penelitian lain menyatakan bahwa output pendidikan
dasar di Indonesia saat ini baru sampai pada peserta didik bisa menulis, bisa
berhitung, dan bisa membaca, belum disertai dengan penggunaan bahasa Indonesia
secara baik dan benar. Pembelajaran Bahasa Indonesia pada tingkat SD dinilai belum
berhasil (Suara Merdeka, Kamis 14 Juni 2007 hal. O).
Hasil penelitian International Education Achievement (IEA) menunjukkan
bahwa kemampuan membaca siswa-siswi SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari
39 negara yang disurvai. Drs. Wahono, MPd., penulis buku teks mata pelajaran
bahasa Indonesia dalam Seminar Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) dalam pelajaran bahasa Indonesia (Rabo, 13 Juni 2007)
mengatakan bahwa sekitar 50 % siswa kelas 6 SD tidak bisa mengarang, selama ini
hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta, tidak
memahami substansinya. Akibatnya output lulusan SD tidak mampu menghubungkan
pengetahuan yang diterimanya untuk memecahkan persoalan sehari-hari yang
dihadapinya.
Menurut Vincent Greanery dalam Literacy Standard in Indonesia, menyatakan
bahwa kemampuan membaca siswa-siswi lulusan SD di Indonesia hanya bernilai
51,7. Nilai ini lebih rendah dari Filipina dengan nilai 52,6 ; Thailand 65,1 ; Singapura
74,0 ; Hongkong 75,5 ; dan Jepang dengan nilai 77,6. Vincent menambahkan bahwa
kurang dari l0 % lulusan SD di Indonesia yang mampu menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar, sedangkan sisanya lebih dari 90 % menggunakan
bahasa daerah atau kesukuannya masing-masing. Padahal Bahasa Indonesia
merupakan bahasa resmi Negara dan bahasa resmi pengantar di sekolah-sekolah baik
sekolah negeri maupun swasta di semua jenjang pendidikan.
Dilihat dari kemampuan berhitung lulusan SD di Indonesia saat ini baru pada
taraf menghitung dengan hafalan, menghafal dengan cepat angka-angka yang
disajikan untuk berhitung. Pelajaran matematika di SD diajarkan masih dengan gaya
lama yang membuat anak dilatih hanya untuk menghafal, bukan untuk mengenali dan
menguasai kemampuan bernalarnya.
Penyelenggara pendidikan SD baik negeri maupun swasta rata-rata belum
memiliki Permanent Comulatif Record (PCR) siswa-siswinya. PCR berisi tentang
keterangan pribadi ; kepandaian siswa dari angka-angka raport ; riwayat kesehatan
3
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

siswa ; keadaan social ekonomi rumahtangga ; riwayat sekolah ; riwayat kenakalan
siswa ; ketrampilan khusus yang dimiliki ; sifat-sifat pribadi ; cita-cita masa depan ;
riwayat prestasi dan penghargaan yang pernah diperolehnya. Apabila penyelenggara
pendidikan tidak memiliki PCR yang lengkap tentang siswa-siswinya, berakibat
penyelenggara pendidikan tersebut tidak mampu secara tepat memberikan arahan
pada siswa-siswinya hendak melanjutkan kemana setelah mereka lulus SD. Apabila
tiap-tiap SD memiliki PCR maka SD tersebut mampu mengarahkan lulusannya ke
jenjang pendidikan berikutnya secara tepat. Jika hal ini terjadi, maka bakat, minat,
ketrampilan khusus, dan cita-cita yang hendak diraih siswa dapat tersalurkan secara
baik. Dampaknya, siswa akan belajar lebih enjoy dan menampilkan prestasinya secara
gemilang.
Problematika pendidikan dasar di Indonesia akan semakin kompleks dan luas
apabila dilihat dari sarana prasarana pendidikan ; kurikulum pendidikan ;
perbandingan guru dengan siswa. Tidak kurang dari 40 % jumlah SD di Indonesia
sarana prasarana pendidikannya masih kurang (tidak layak) untuk proses
pembelajaran siswa, untuk memperbaiki dan melengkapinya dibutuhkan dana yang
tidak sedikit. Kurikulum pendidik di Indonesia juga laksana bandul lonceng,
kurikulum sebelumnya belum mampu diterapkan secara sempurna sudah ganti
kurikulum baru yang membutuhkan konsentrasi tenaga, pikiran, dan dana yang tidak
sedikit bagi SD untuk mampu menyesuaikan dan mengikuti kurikulum baru yang
diterapkan oleh DEPDIKNAS. Perbandingan guru dan siswa masih di atas dari l : 20
sebagai angka ideal minimal, bahkan dibeberapa daerah tidak jarang ditemukan l
sekolah hanya ada 2 orang guru. 1 guru merangkap 3 kelas sekaligus dalam proses
pembelajarannya.
Kondisi lulusan SD dengan kualitas yang masih rendah, dan dengan segala
problematikanya sebagai input bagi pendidikan menengah di Indonesia akan
berpengaruh pada kondisi pendidikan menengah di Indonesia.

2.2. Kondisi Pendidikan Menengah
Harian Kompas ( 8 Desember 2000 ) memuat hasil survai dari International
Mathematic Olympic ( TIMSS-R) pada tahun 1999 telah mengadakan survai
pengukuran dan penilaian pendidikan. Hasilnya, Indonesia hanya menempati urutan
34 untuk mata pelajaran Matematika, dan urutan 32 untuk mata pelajaran IPA, dari
4
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

38 negara yang disurvai TIMSS-R. Pada mata pelajaran Matematika, Indonesia lebih
baik dari Negara – Negara : Cile, Filipina, Maroko, dan Afrika Selatan, sebagai 4
negara pada urutan terakhir. Pada pelajaran IPA Indonesia lebih baik daripada
Negara-negara : Turki, Tunisia, Cile, Filipina, Maroko, dan Afrika Selatan.
Pada tahun 1999 Balitbang DEPDIKNAS juga mengadakan penelitian terhadap
hasil Ujian Nasional pada siswa SMP untuk 6 mata ujian yakni : Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS, dan Kimia. Saat itu diperoleh hasil nilai ratarata mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan nilai 6,43 ; Bahasa Inggris 4,89 ;
Matematika 4,89 ; IPA 4,48 ; IPS 5,12 ; dan Kimia 4,87. Pada tingkatan SMA untuk
Program Ilmu Fisika, Program Ilmu Biologi, dan Program Ilmu Sosial, Nilai yang
diatas 6 hanya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan mata pelajaran lain
seperti ; Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Biologi, dan Kimia, nilai masih dibawah
5 bagi Program Ilmu Biologi, dan 4,6 sampai 5,5 bagi Program Ilmu Fisika. Hal ini
menunjukkan bahwa Siswa SMP dan SMA di Indonesia masih rendah dalam
penguasaan basic science-nya. Kondisi semacam ini tidak jauh berbeda dengan hasil
Ujian Nasional sejak diterapkannya Ujian Nasional (UN) 3 tahun terakhir (2005 –
2007),
Kelulusan Ujian Nasional (UN) siswa SLTP dan SLTA di berbagai daerah di
Jawa tahun 2007 menunjukkan antara 80 % sampai dengan 95 % lulus UN untuk
tingkat SLTP dan 82 % sampai 97 % untuk tingkat SLTA. Masing-masing daerah
Kabupaten dan atau kota di Jawa berbeda-beda, angka tersebut hanya kisaran
saja.(Suara Merdeka, Jum’at, 22 Juni 2007. Hal L).

2.3. Kondisi Pendidikan Tinggi
Asia Week 5 Mei 2000 dan edisi 30 Juni 2000 melaporkan hasil studinya tentang
kualitas perguruan tinggi (PT) di Asia dan Australia dalam Asia’s Best MBA Schools
by Reputation. Pada edisi 5 Mei 2000 disebutkan bahwa perguruan tinggi
penyelenggara program MM dan MBA di Indonesia tidak ada yang bekualifikasi
internasional. Dari 50 perguruan tinggi yang mempunyai reputasi akademik secara
internasional tidak satu pun berasal dari perguruan tinggi di Indonesia.
Pada edisi 30 Juni 2000, Asia Week melaporkan secara tidak langsung tentang
kualitas perguruan tinggi di Indonesia baik untuk kategori umum maupun untuk
kategori Iptek. Untuk kategori umum UI Jakarta menempati urutan 61 dari 77
5
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

perguruan tinggi kategori umum se Asia dan Australia, sedangkan UGM Yogyakarta
pada urutan 68, UNDIP Semarang 73, UNAIR Surabaya pada urutan 75. Terlepas
dari pro kontra tolok ukur penilaiannya, namun hasil penilaian Asia Week ini dapat
dijadikan introspeksi sekaligus pembenahan bagi PT di Indonesia. Untuk kategori
Iptek ITB Bandung menempati urutan 21 dari 39 perguruan tinggi berkategori Iptek.
Bila data Asia Week ini dapat dijadikan standard kualitas PT di Indonesia, maka dapat
disimpulkan bahwa kualitasnya masih rendah baik untuk kategori umum maupun
untuk kategori Iptek.
Para alumnus perguruan tinggi di Indonesia belum seluruhnya siap berkompetisi
dalam pasaran kerja global dengan Negara-negara tetangga karena tidak memiliki
keunggulan kompetitif. Salah satu keunggulan kompetitif yang dibutuhkan oleh
alumni PT adalah penguasaan bahasa-bahasa antar bangsa, misalnya penguasaan
Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Kurang dari l0 % lulusan PT di Indonesia
menguasai Bahasa Inggris kecuali alumnus program Bahasa dan Sastra Inggris atau
ikut kursus di lembaga pendidikan non formal. Demikian juga halnya dengan bahasa
Arab.
Rektor Universitas Teknologi Yogyakarta, Bambang Hartadi PhD Akt.
Mengatakan :”Idealnya lulusan PT memiliki competitive advantage di bidangnya
masing-masing dan didukung oleh Positive Corporate Culture yang mampu
membawa alumni PT bersaing di pasaran kerja global.” (Suara Merdeka, Senin 4 Juni
2007, Hal K).
Rendahnya kualitas lulusan PT di Indonesia tidak terlepas dari Input yang
masuk yang berasal dari lulusan SLTA, dan secara berartai yang masuk SLTA input
dari lulusan SLTP, dan yang masuk SLTP input dari lulusan SD. Perguruan tinggi
merupakan salah satu mata rantai yang tidak terpisahkan dalam satu kesatuan system
pendidikan yang ada di Indonesia. Apabila Input yang masuk ke PT dari (SLTA dan
yang sederajat kurang bermutu) maka masuk perguruan tinggi pun kualitas linier
dengan sebelumnya.
Tadjuddin Noer Effendi (Kompas, 4 Oktober 2000) menegaskan bahwa
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia salah satu sebabnya karena birokrasi
pendidikan tinggi di Indonesia masih memunculkan inefisiensi, menindas, dan
kontraproduktif. Birokrasi PT di Indonesia lebih mementingkan jabatan structural dan
kepangkatan di masing-masing Fakultas untuk mengembangkan akademisnya
6
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

dibandingkan dengan profesionalitas akademisnya. Kenaikan pangkat dosen dinilai
secara subjektif melalui DP3, bukan sebatas dari prestasi akadeisnya saja. Maka
wajarlah PT di Indonesia belum menghasilkan penemuan-penemuan yang cemerlang
di bidang Iptek maupun teori-teori keilmuan lainnya.
Kondisi kualitas PT di Indonesia akan semakin di perburuk apabila RUU Badan
Hukum Pendidikan disyahkan menjadi UU Badan Hukum Pendidikan (UU-BHP).
Apabila ini terjadi maka lembaga pendidikan laksana Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang harus membiayai dirinya sendiri. Dampak yang lebih jauh PT
memasang tariff yang mahal untuk dapat masuk disebuah Fakultas pada calon
mahasiswa. Misalnya, calon mahasiswa harus membayar Rp 40 juta sampai l00 juta
untuk dapat masuk Fakultas Kedokteran melalui jalur khusus di sebuah PTN. Biaya
pendidikan di PT semakin tidak terjangkau oleh kaum dhuafa.

III.

PENDIDIKAN KOMPREHENSIF BERKELANJUTAN
Pendidikan komprehensif berkelanjutan yang dimaksud adalah satu kesatuan tak

terpisahkan antara pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan yang
dimaksud adalah pendidikan formal dari derajat terendah sampai dengan tertinggi,
pendidikan non formal yang membentuk skill building, maupun pendidikan informal
yang dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat untuk membentuk caracter
building.
Variabel pendidikan yang dapat terukur secara langsung adalah pendidikan
formal, dengan asumsi semakin banyak penduduk yang berpendidikan tinggi maka
semakin tinggi kualitasnya dan sebaliknya. Hal ini akan semakin baik kualitasnya
apabila penyelenggaraan sistem pendidikan secara integral dan komprehensif dari
tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi.
Pendidikan yang diselenggarakan oleh negara beserta partisipasi masyarakatnya
adalah pendidikan yang integral, komprehensif, dan berkelanjutan. Integral dalam
pengertian pendidikan tingkat dasar tidak terpisahkan dengan tingkat menengah dan
perguruan tinggi, dalam satu kesatuan misi dan visi. Komprehensif dalam pengertian
tidak adanya dikotomi dalam pendidikan baik pendidikan tentang ilmu al dien
maupun ilmu al dunia. Ilmu al dien dibutuhkan supaya SDM tidak buta dan ilmu al
dunia supaya SDM tidak lumpuh. Keduanya satu kesatuan tak terpisahkan dan tidak
7
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

pula didikotomikan. Berkelanjutan artinya setiap manusia yang lahir mestilah
diprogramkan untuk mendapatkan pendidikan secara terus menerus sepanjang
hayatnya, tidak sebatas pada pendidikan formal, tetapi juga pendidikan informal, dan
non formal. (M. Saefuddin, 2002 ; hal 23).
Berkaitan dengan pendidikan formal maka negara dan pemerintahannya
berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan bagi bangsanya dari pendidikan
dasar sampai dengan pendidikan tinggi yang didukung sepenuhnya oleh elemenelemen masyarakatnya.
Negara wajib melaksanakan amanat Undang-Undang Dasarnya berkaitan
dengan pendidikan yang berbunyi :” (1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
mendapatkan pengajaran, (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
satu system pengajaran yang diatur dengan undang-undang.
Wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah cukup untuk
membentuk manusia berkualitas. Wajib belajar 9 tahun, berarti dari usia 6 – 15 tahun
hanya dapat menyelesaikan pendidikan formal setingkat SLTP. Cukupkah berkualitas
SDM lulusan SLTP ?, Tentu jawabnya tidak cukup. Idealnya wajib belajar yang
dicanangkan pemerintah minimal 16 tahun, dengan rincian : 6 tahun di SD, 3 tahun di
SLTP, 3 tahun di SLTA, dan 4 tahun di perguruan tinggi. Apabila wajib belajar 16
tahun dilaksanakan maka SDM berkualitas dengan berpendidikan minimal S1 akan
terwujud. Hal ini membutuhkan perhatian dan dana yang besar dari pemerintah.
Agar pemerintah tidak keberatan dalam hal dana pendidikan maka perlu
menciptakan : (1) saving dana abadi pendidikan, (2) pinjaman lunak pendidikan bagi
warga yang dikembalikan setelah mereka berkarya, (3) system taawuniyah (tolongmenolong) yang dikendalikan oleh negara dari iuran pendidikan tiap-tiap warga
negara per satuan waktu (hari, pekan, bulan, atau tahun), dari si kaya kepada si
miskin, dan (4) diambilkan dari hasil eksploitasi sumber daya alam, keuntungan
perusahaan BUMN maupun swasta dengan prosentase yang cukup yang dikendalikan
oleh pemerintah.
Jenis pendidikan yang diadakan adalah pendidikan secara menyeluruh yang
dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupan dan penghidupannya. Perlu adanya skala
perioritas jenis pendidikan yang diadakan berdasarkan pada : (1) hajat kebutuhan
negara yang mendesak, (2) hajat kebutuhan masyarakat secara luas untuk memenuhi
kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier, (3) menjaga nilai-nilai luhur peradaban
8
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

universal dan keberlangsungan regenerasi ummat manusia berkualitas selaku kholifah
fi al ardli.
Pendidikan yang diselenggarakan mestilah pendidikan yang memiliki Pertama,
idelogi universal yang mengangkat harkat dan martabat manusia ke arah
kesempurnaan fithrah, dengan mengedepankan keterkaitan antara nilai-nilai universal
dan jagad raya, antara nilai-nilai universal dan manusia, antara manusia dan jagad
raya, dan antara nilai-nilai universal, jagad raya dan manusia yang membentuk satu
kesatuan masyarakat yang beradab ( tamaddun ) secara lokal, nasional, regional,
maupun internasional.
Kedua, asas politik dalam pendidikan membawa suatu pandangan hidup
berkenaan dengan jagad raya, manusia, dan masyarakat. Pandangan hidup ini
dituangkan dalam syari’ah yang diperjuangkan dalam arena politik untuk
mencapainya. Salah satu aspek perjuangan politik ke arah pelaksanaan syari’ah ini
adalah bidang pendidikan yang salah satu tolok ukur keberhasilannya diukur dengan
system administrasi yang dipergunakannya untuk mencapai tujuan tersebut.
Ketiga, asas administrasi

dengan prinsip-prinsip menekankan aqidah dan

akhlaq dalam kerja administrasi, keadilan dan persamaan, musyawarah, pembagian
kerja dan tugas, berpegang pada perencanaan – organisasi – supervisi – pengawasan,
dan follow up, penghargaan, pergaulan dan hubungan baik dengan para pekerja, serta
prinsip kemampuan, pengalaman, keikhlasan, pertrainingan, penaikan pangkat, dan
pemberian amanat dalam pekerjaan. Dan Keempat, asas kurikulum yang
menekankan pada penerapan kurikulum yang senantiasa up to date untuk
mengendalikan perubahan social global tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar
nilai-nilai universal kefithrahan manusia.

IV. PERLUNYA KERJASAMA KSM DALAM PENDIDIKAN
Perlu dikembangkan kerjasama yang sungguh-sungguh dan kongkrit antara
keluarga (K), sekolah (S), dan masyarakat (M) untuk mencapai tujuan pendidikan
yang diidam-idamkan. Tiap-tiap komponen mempunyai tugas dan kewajiban untuk
mensukseskan pendidikan di lingkungannya, sehingga pendidikan anak tidak
sepenuhnya semata-mata diserahkan kepada sekolah, tetapi harus menyertakan
keluarga dan masyarakat.
9
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

Satu hal paling mendasar agar kerjasama keluraga, sekolah, dan masyarakat
(KSM) dapat berjalan dengan baik haruslah ada kesamaan misi, visi, dan tujuan
pendidikan yang dipahami dan dimiliki oleh KSM. Sebab apabila ketiga komponen
tersebut tidak sama dalam hal misi, visi, dan tujuan pendidikan yang dimaksud maka
pelaksanaan pendidikan anak akan berjalan secara centrifugal. Artinya mental
attitude anak didik akan mengikuti salah satu kekuatan mana dari KSM yang paling
kuat mempengaruhinya maka kekuatan itulah yang paling kuat membentuk mental
attitudenya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan misi, visi, dan tujuan pendidikan
dari masing-masing komponen KSM (lihat gambar 1). Hal sebaliknya akan terjadi
apabila ada kesamaan misi, visi, dan tujuan pendidikan dalam KSM maka
pelaksanaan pendidikan anak akan berjalan secara centripetal. Artinya mental attitude
anak didik akan semakin kuat ke arah keinginan bersama KSM ( lihat gambar 2 ).
Gambar 1 : Centrifugal
S

Gambar 2 : Centripetal

MA = Mental Attitude

S

K = Keluarga
MA
MA

MA

S = Sekolah
M = Masyarakat

K

M

Keterangan :
Pada Gambar 1 misi, visi, dan tujuan
Pendidikan K # S # M

K

M

Pada Gambar 2 misi, visi, dan tujuan
Pendidikan K = S = M

Penyamaan persepsi terhadap misi, visi, dan tujuan pendidikan dapat dilakukan
antara komponen KSM secara bersama-sama dalam forum dialog terbuka yang
diprakarsai oleh sekolah. Sekolah membuka diri untuk menerima usulan, kritikan,
maupun masukan lainnya dari para orang tua wali murid, untuk selanjutnya dibahas
dan dirumuskan bersama dengan Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan (KSDP)
yang bertindak sebagai representasi dari komunitas masyarakat wali murid. Hasil
rumusan bersama ini disosialisasikan kepada seluruh orang tua wali murid dan
pemerintah. Dengan demikian akan tercipta satu persepsi yang sama dalam hal misi,
visi, dan tujuan pendidikan untuk selanjutnya dilaksanakan bersama kompenen KSM
sesuai dengan perannya masing-masing.
10
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

Apabila langkah penyamaan ini berhasil sekalipun hanya pada skala mikro
(KSM yang bersakutan) maka akan tercipta satu tanggung jawab bersama dalam
bidang pendidikan yang dapat memperlancar proses pendidikan anak untuk mencapai
tujuannya.
Tiap-tiap KSDP di masing-masing sekolah perlu membuat rumusan kerjasama
KSM dalam bidang pendidikan. Peran KSDP sangatlah menentukan dinamika
kerjasama yang dibangun KSM. Kerjasama KSM akan dinamis apabila KSDP yang
dibentuk benar-benar mewakili aspirasi orang tua wali murid, bukan penjelmaan dari
BP-3 yang selama ini terbukti mandul.
Adanya keterbukaan, dialog, dan musyawarah antar KSM merupakan kunci
keberhasilan kerjasama KSM dalam memainkan peranannya masing-masing dalam
bidang pendidikan.

4.1. Peran Keluarga
Orang tua wali murid dan keluarganya memiliki peran strategis yang tidak
dapat dipisahkan dengan peran sekolah dalam pendidikan anak. Diantara peran orang
tua wali murid untuk kesuksesan pendidikan anak adalah : (1) merasa memiliki misi,
visi dan tujuan pendidikan bagi anaknya yang tidak terpisahkan antara pendidikan di
sekolah dan di keluarga, (2) memberikan stimulus dan respon yang positif dari segi
material maupun immaterial kepada kebijakan sekolah dan segenap programprogramnya, (3) memberikan stimulasi mental yang cukup, merangsang, dan
memuaskan dorongan keingintahuan anak dengan disertai pemberian semangat serta
meningkatkan rasa mampu pada anak, (4) menyediakan sarana

dan

prasarana

belajar yang memadai yang mampu setiap saat dapat membuat anak fresh secara fisik
maupun otak, dengan kata lain yang mampu menciptakan kebugaran fisik dan
kebugaran otak setiap saat. Memberikan gizi yang cukup bagi pertumbuhan fisik dan
perkembangan otak anak.

4.2. Peran Sekolah
Sekolah sebagai pelaksana pendidikan formal memegang peranan strategis
dalam pendidikan anak. Peran strategis yang dimaksud antara lain : (1) merumuskan,
melaksanakan, dan mengevaluasi : misi, visi, dan tujuan pendidikan ; kebijakan dan
11
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

program pendidikan ; pelaksanaan proses belajar mengajar, (2) menyediakan sarana
dan prasarana yang memadai bagi berlangsungnya proses belajar mengajar yang
nyaman, aman, dan menyenangkan siswa dalam meraih ilmu; Menerapkan sistem
pembelajaran yang memperhatikan

kebutuhan siswa, termasuk didalamnya

mempertimbangkan adanya perbedaan individual dalam perkembangan iuntelektual,
emosional, dan moral siswa, (3) memberi kesempatan seluas-luasnya pada siswa
untuk learning by doing atau praktek nyata, tidak hanya diberi penjelasan teori saja
dan (4). Menciptakan situasi belajar-mengajar yang membuat siswa mempunyai
kebebasan dan keamanan psikologis (Suparwoto, dkk, : 2006 : Hal. 90 – 95). Disini
peran guru sangat besar untuk menciptakan hal tersebut. Guru dapat memberikan
kebebasan dan kesempatan siswa untuk mengungkapkan ide, pendapat, dan daya
kritisnya. Guru memberikan penerimaan yang tulus, ikhlas, penuh pengertian, empati,
dan menciptakan situasi yang tidak membuat siswa merasa terancam atau tertekan.
Guru harus mampu memberikan semangat dan dorongan serta perasaan mampu yang
tinggi pada peserta didiknya, agar mereka mempunyai prestasi yang optimal.

4.3.

Peran Masyarakat
Peran masyarakat yang diwakili oleh Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan

(KSDP) memegang peranan sebagai mitra kerja sekolah dalam merumuskan berbagai
kebijakan sekolah. Oleh karena itu KSDP mestilah berperan serta aktif dalam
memberikan masukan-masukan bagi perbaikan pendidikan di sekolah. Masukanmasukan tersebut berasal dari seluruh orang tua wali murid yang secara otomatis
sebagai anggota KSDP di sekolah yang bersangkutan.
KSDP perlu memiliki program-program jangka panjang untuk membuat
terobosan-terobosan supaya setiap murid yang lulus dari SD bisa ke SLTP, dari SLPP
bisa ke SLTA, dan dari SLTA bisa ke Perguruan Tinggi dalam jumlah yang seimbang
dengan lulusan masing-masing tingkatan. Langkahnya dengan cara menggalang dana
pendidikan dari orang tua wali murid untuk keberlangsungan pendidikan anakanaknya secara terus menerus, sehingga wajib belajar anak tidak hanya 9 tahun tetapi
16 tahun. Dengan demikian Sumberdaya manusia di masa datang mayoritas
berpendidikan perguruan tinggi
KSDP perlu memberikan masukan-masukan yang positip kepada sekolah
berkaitan dengan sistem Pendidikan yang terpadu, berkualitas, dan cukup stabil yang
12
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

mampu memberikan pendidikan pada siswa yang cukup memedai dari segi ilmu
maupun ketrampilannya.
Peran masing-masing komponen KSM bisa dimainkan apabila ada kerja sama
yang baik dari masing-masing komponen tersebut. Oleh karena itu perlu dibangun
kerja sama antara Keluarga, Sekolah dan Masyarakat dalam pendidikan.

V.

UJIAN NASIONAL
Pada pertengahan Juni 2007 yang lalu hasil Ujian Nasional telah diumumkan.

Tanggapan pro dan kontra mewarnai halaman media masa (Koran) daerah maupun
nasional. Ujian Nasional (UN) ibarat makan buah Simalakama, tidak diadakan berarti
out put hasil pendidikan dari tingkat SD, SLTP, dan SLTA tidak terukur secara
standard, dan ketika diadakan secara nasional faktanya system pendidikan yang
diterapkan di masing-masing daerah kondisinya berbeda-beda, sesuai dengan kondisi
daerahnya masing-masing. Dan banyak siswa-siswa daerah yang belum sepenuhnya
siap secara mental dan penguasaan materi untuk mengikuti UN.
Ketidaksiapan siswa dari daerah-daerah yang tidak siap ditunjukkan dalam
bentuk perilaku menyimpang dari system UN, misalnya ; saling mencontek,
dikerjakan oleh gurunya, guru mencuri soal UN, menangis histeris, pingsan, bahkan
sampai ada yanmg bunuh diri mengetahui dirinya tidak lulus UN. (Suara Merdeka,
Jum’at, 15 Juni 2007. Hal H).
Ujian Nasional merupakan salah satu jenis evaluasi untuk menilai kompetensi
kelulusan secara nasional. Mata pelajaran yang ditentukan dari kelompok mata
pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi, hal ini dimaksudkan untuk mencapai
standar nasional pendidikan. UN juga digunakan sebagai salah satu pertimbangan
penentuan kelulusan, seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, akreditasi satuan
pendidikan, serta pembinaan dan pemberian bantuan ke satuan pendidikan untuk
meningkatkan mutui pendidikan (Suara Merdeka, Kamis, 14 Juni 2007. Hal O).
Sardjono, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah mengatakan
:” Dengan standar kelulusan minimal 4,26 untuk setiap mata pelajaran dan rata-rata
4,51 untuk tiga mata pelajaran yang ditetapkan masih ada yang belum bisa
terlampaui. Berarti kompetensi sebagian peserta didik terhadap materi UN masih
kurang “. UN merupakan salah satu standar yang digunakan untuk mengukur
seberapa jauh keberhasilan pendidikan dan pengajaran dari guru kepada para murid.
13
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

Tanpa adanya standar tidak mungkin dapat diketahui tingkat pendidikian bangsa
Indonesia. Demikian pendapat Wakil Presiden Jusuf Kalla yang disampaikannya
ketika meresmikan monument PGRI di Solo (Sabtu, 2 Juni 2007 dalam Suara
Merdeka, 4 Juni 2007 Hal O).
Apabila hanya dengan 3 mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan
Matematika) yang diujikan dalam UN saja masih banyak yang gugur, hal ini
menunjukkan adanya 2 kemungkinan yaitu : (1) Kualitas pendidikan menengah di
Indonesia masih rendah terbukti masih banyak (puluhan ribu) siswa yang tidak
memiliki kompetensi yang cukup terhadap UN, dan (2) Standar soal yang diujikan
terlalu tinggi, bahkan mungkin diantara siswa masih banyak yang tidak familiar
dengan soal-soal UN.
Menurut Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd. Kons. Sebagai anggota Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bahwa nilai UN bukan satu-satunya syarat
kelulusan siswa. Ada beberapa syarat lain yang juga harus dipenuhi siswa sebelum
para siswa dinyatakan lulus dari satuan pendidikan (Suara Merdeka, Rabo, 30 Mei
2007. Hal. O). Diantara dua syarat lainnya adalah : pertama, para siswa harus
menyelesaikan pembelajaran, harus menamatkan seluruh kurikulum. Program
pembelajaran ini diwujudkan dalam nilai raport. Dan Kedua, para siswa harus lulus
ujian sekolah (US) mata pelajaran yang diujikan US berbeda dengan UN. Dan
sebagai syarat kelulusan US nilai rata-rata harus 6.
Tanggapan pro dan kontra atas pelaksanaan UN terus bergulir dari para pakar
pendidikan dan penentu kebijakan. Sisi Negatif dan positif UN terus dikaji. Sisi
negative UN, nasib siswa ditentukan oleh 3 mata pelajaran yang diujikan UN,
sedangkan pelajaran lainnya tidak diperhitungkan. Pengabaian tentang internalisasi
proses pendidikan untuk menyerap nilai-nilai bergerak ke arah system drilling yang
instan. Yang penting sukses di 3 mata pelajaran yang diujikan UN, karena itu yang
dipikirkan dan dituju adalah bagaimana lolos UN. Perkara serapan nilai-nilai
pendidikan pun akhirnya menjadi urusan paling belakang. Padahal selama ini
digembar gemborkan kurikulum berbasis kompetensi. Dr. Haryono, MPd,
mengatakan bahwa akar persoalan evaluasi belajar sekolah adalah adanya kontradiksi
antara UN dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP roh dan
raganya otonomi daerah, sedangkan UN sentralistik, maka tidak bisa dipertemukan
dan pada aspek teknisnya terjadi pembodohan.
14
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

Sisi positif UN, kondisi siswa peserta UN secara kompetensi terhadap 3 mata
pelajaran yang diujikan dapat diketahui. Ternyata hasilnya masih banyak siswa yang
tidak memiliki kompetensi yang cukup terhadap 3 mata pelajaran yang diujikan UN.
Hal ini menandakan perlu adanya pembenahan sistem pendidikan secara keseluruhan
dari berbagai jenjang tingkatan. Perlu dilakukan evaluasi terus menerus terhadap
sistem evaluasi pembelajaran, sampai ditemukannya sistem Ujian Nasional yang
bertindak sebagai sistem kontrol mutu pendidikan secara komprehensif, dan
menilainya tidak hanya dari pencapaian lewat evaluasi standar tiga mata pelajaran.
Hasil UN tahun 2007 dapat digunakan untuk memetakan mutu pendidikan
nasional di masing-masing daerah sebagai input untuk perbaikan sistem pendidikan
nasional. Apabila kualitas pendidikan nasional di masing-masing daerah dapat
dipetakan maka dapat dibuat Regionalisasi UN.

5.1. Regionalisasi Ujian Nasional
Sangat disadari bahwa telah terjadi ketidakseimbangan mutu pendidikan
nasional antara pendidikan di Jawa dan di luar jawa, antara daerah perkotaan dan
pedesaan, antara daerah maju dan daerah tertinggal. Menghadapi kondisi mutu
pendidikan yang berbeda antar daerah maka perlu dilakukan regionalisasi Ujian
Nasional, dan secara bertahap dilakukan menuju kualitas yang sama secara nasional.
Regionalisasi Ujian Nasional dapat dibedakan menjadi 6 yaitu : (1) Kawasan
Jawa, Bali dan Madura ; (2) Kawasan Sumatera dan sekitarnya ; (3) Kawasan
Sulawesi dan sekitarnya ; (4) Kawasan Kalimantan dan sekitarnya; (5) Kawasan Nusa
Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sekitarnya, dan (6)
Kawasan Papua Barat dan sekitarnya. Apabila diasumsikan bahwa urutan kawasan
tersebut mencerminkan urutan kualitas pendidikan di masing-masing daerahnya maka
perlu adanya upaya peningkatan kualitas pendidikan secara bertahap. Peningkatannya
secara bertahap dari kualitas setara kawasan 6 menuju kualitas setara kawasan 5, dari
kawasan 5 menuju setara kawasan 4, dari kawasan 4 ke 3, dari 3 ke 2, dari 2 ke 1, dan
dari 1 kearah penyempurnaan kualitas pendidikan nasional sebagaimana yang
didealkan.
Apabila ditrerapkan regionalisasi UN maka konsekuensinya DEPDIKNAS
harus membuat peta kawasan mutu pendidikan antar daerah, dan soal-soal UN yang
mempunyai tingkat kesulitan yang berjenjang dari Grid 1 sampai Grid 6 sesuai
15
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

dengan jumlah kawasan mutu pendidikan yang dipetakan. Untuk selanjutnya
diadakan evaluasi terus menerus masing-masing kawasan untuk mengetahui ada
tidaknya peningkatan kualitas pendidikan di kawasan tersebut.

5.2. Mata Pelajaran Ujian Nasional
Mata pelajaran yang perlu diujikan pada UN untuk SLTP dan SLTA adalah
mata pelajaran yang terkait dengan basic science untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Pada tingkatan SLTP dan yang sederajat diujikan mata
pelajaran : Bahasa Indonesia ; Bahasa Inggris ; Matematika ; IPA ; IPS ; dan Kimia.
Sedangkan pada tingkatan SLTA dan yang sederajat untuk Program Ilmu Fisika, dan
Program Ilmu Biologi, mata pelajaran yang diujikan meliputi : Bahasa Indonesia ;
Bahasa Inggris ; Matematika ; Fisika ; Kimia ; dan Biologi. Untuk SLTA Program
Ilmu Sosial mata pelajaran yang diujikan meliputi : Bahasa Indonesia ; Bahasa
Inggris ; Ekonomi ; Sosiologi – Antropologi ; dan Tata Negara. Mata pelajaran
lainnya dan muatan lokal diujikan dalam Ujian Sekolah masing-masing. Tingkat
kesulitan soal-soal yang dibuat sesuai dengan grid regionalisasi UN.

VI.

KESIMPULAN
Kualitas pendidikan di Indonesia dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi

belum sepenuhnya memenuhi amanat UUD 1945, dan UU No 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, bahkan ada kecenderungan mengalami kemerosotan bila
dibandingkan dengan perkembangan pendidikan di Negara-negara Asia dan
Australia.
Perlu diadakan pembenahan yang komprehensif dan menyeluruh terhadap
sistem pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan pendidikan komprehensif
yang berkelanjutan untuk meminimalisir angka putus sekolah. Wajib belajar l6 tahun
perlu dicanangkan. Untuk mensukseskannya diperlukan kerja sama antara Keluarga,
Sekolah, dan Masyarakat (KSM) yang masing-masing memainkan peranannya dalam
pendidikan.
Regionalisasi Ujian Nasional perlu dilakukan untuk melakukan program
pentahapan peningkatan mutu pendidikan di masing-masing kawasan sampai
dicapainya mutu pendidikan yang sama secara nasional dan barulah diberlakukan
Ujian Nasional dengan tingkat kesulitan yang sama untuk seluruh kawasan.
16
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

DAFTAR PUSTAKA

Al-Muslimun :” Pendidikan Masyarakat : Dibina lalu Dirusak “. Edisi 386 Mei
2002.
Asia Week, :“ Asia’s Best MBA Schools by Reputation”. Edisi 5 Mei 2000 dan Edisi
30 Juni 2000.
Conny Semiawan Stamboel : “ Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di
dalam Dunia Pendidikan “. Jakarta : Penerbit Mutiara, 1982.
Greanery, Vincent :” Literacy Standard in Indonesia “ Jakarta : Yayasan Obor, 2000.
Kompas : “ Birokrasi Menghambat Kemajuan Pendidikan Tinggi di Indonesia “
Tadjuddin Noer Effendy, dalam harian Kompas Edisi 4 Oktober 2000.
Nashih Ulwan, Abdullah, DR. : “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam “. Bandung
: Penerbit Asy-Syifa, Jilid l Cetakan ke 2 Desember 1990.
Saefudin, Muhammad.Drs. : “ Bunga Rampai : Kualitas Pendidikan di Indonesia”.
Al- Zaytun Press : 2002.
Suara Merdeka :” Pembelajaran Bahasa Indonesia Dinilai Belum Berhasil “ Harian
Suara Merdeka, Edisi Kamis : 4 Juni 2007, Hal. O.
Suara Merdeka :” Jumlah Kelulusan SLTP Meningkat”. Harian Suara Merdeka, edisi
Jum’at : 22 Juni 2007. Hal. L.
Suara Merdeka :” Alumni PT Butuh Keunggulan Kompetitif dan Budaya Positif “.
Harian Suara Merdeka, Edisi Senin : 4 Juni 2007. Hal. K.
Suara Merdeka :” Tak Lulus UN sejumlah Siswi Pingsan “. Harian Suara Merdeka,
Edisi Jum;at l5 Juni 2007. Hal. H.
Suara Merdeka :” Jumlah Pelajaran UN dipertanyakan”. Harian Suara Merdeka,
Edisi Kamis : 14 Juni 2007. Hal. O.
Suara Merdeka,:” UN Tak Akan Dihapus “. Harian Suara Merdeka, Edisi Kamis : 4
Juni 2007. Hal. O.
Suara Merdeka :” UN Bukan Satu-satunya Syarat Kelulusan Siswa :” Harian Suara
Merdeka. Edisi Rabo : 30 Mei 2007. Hal. O.
Suparwoto, Drs. dkk. :” Psikologi Perkembangan “. Semarang : UPT UNNES
PRESS, Cetakan ke 4, 2006.
Syahrir, Dr. :” Kebijaksanaan Negara : Konsistensi dan Implementasi”. Kumpulan
Artikel. Jakarta : LP3ES. 1987.
17
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

POTRET PENDIDIKAN INDONESIA DAN UJIAN NASIONAL

Oleh :
Liftiah, S.Psi. M.Si.
Makalah Seminar
Dipresentasikan Dalam Seminar Nasional Dengan Tema :
“ Ujian Nasional (UN) dan Masa Depan Pendidikan Indonesia “
Pada Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
10 Juli 2007.

JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
JULI 2007

18
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

19
Potret Pendidikan Indonesia dan Ujian Nasional

Makalah Seminar Nasional : Liftiah

Dokumen yang terkait

Dokumen baru