Jenis-Jenis Fungi Yang Berasosiasi Dalam Proses Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp. Pada Berbagai Tingkat Salinitas

JENIS-JENIS FUNGI YANG BERASOSIASI DALAM PROSES DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina SETELAH
APLIKASI FUNGI Aspergillus sp PADA BEBERAPA TINGKAT SALINITAS
SKRIPSI
MERI DANEL SIMANJUNTAK 071202029
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

JENIS-JENIS FUNGI YANG BERASOSIASI DALAM PROSES DEKOMPOSISI SERASAH DAUN Avicennia marina SETELAH
APLIKASI FUNGI Aspergillus sp PADA BEBERAPA TINGKAT SALINITAS
SKRIPSI Oleh
MERI DANEL SIMANJUNTAK 071202029
Skripsi ini sebagai salah satu diantara beberapa syarat untuk memperoleh gelar Sarjana pada Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi
Nama NIM Program Studi

LEMBAR PENGESAHAN
: Jenis-jenis fungi yang berasosiasi dalam proses dekomposisi serasah daun Avicennia marina setelah aplikasi fungi Aspergillus sp. pada berbagai tingkat salinitas
: Meri Danel S : 071202029 : Budidaya Hutan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing

Nelly Anna, S.Hut, M.Si Ketua

Dr. Ir. Yunasfi, M.Si Anggota

Mengetahui,

Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D Ketua Program Studi Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
MERI DANEL S : Jenis-jenis Fungi yang Berasosiasi dengan Proses Dekomposisi Serasah Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas di bawah bimbingan NELLY ANNA dan YUNASFI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis fungi yang terdapat pada serasah daun Avicennia marina yang mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas setelah aplikasi fungi Aspergillus sp. pada daun A.marina. Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara. Fungi diisolasi dan diidentifikasi fungi di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari 2011 sampai April 2011.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 jenis fungi yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas. Indeks keanekaragaman jenis fungi tertinggi pada tingkat salinitas 0-10 ppt yaitu 2,44 yang terendah adalah 20 – 30 ppt yaitu 2,09. Jumlah jenis fungi yang terbesar yaitu pada salinitas 0-10 ppt dan 10-20 ppt dengan jumlah fungi 15 jenis sedangkan jumlah jenis terendah pada salinitas 20-30 ppt yaitu 12 jenis. Populasi rata-rata fungi tertinggi terdapat pada salinitas 20-30 ppt yaitu 6,76 x 10 2 cfu/ ml. Populasi rata-rata fungi terendah terdapat pada salinitas 10-20 ppt yaitu 3, 78 x 10 2 cfu/ ml. Frekuensi kolonisasi fungi pada berbagai salinitas berkisar antara 17 % sampai 67 % .
Kata Kunci: Avicennia marina, Dekomposisi, Fungi, Salinitas, Serasah Daun.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT MERI DANEL S: The Species of Fungi in Association with Decomposition Avicennia marina Leaf Litter after Aplication Aspergillus sp. at Various Salinity Level. Under academic supervision by NELLY ANNA and YUNASFI
The aim of this research was to know the diversity of fungi from A.marina leaf litter during decomposition process after aplication Aspergillus sp. at various salinity level. The research applied at the mangrove forest of Sicanang Medan Belawan, North Sumatera. Isolation and identification of fungi in Microbiology Laboratory, Biology departemen, faculty of Match and Sains, USU. The research conducted since January 2011 to April 2011.
The result of this research showed that totally 21 species of fungi of isolated from A. marina leaf litter during decomposition at various salinity level. The highest of species diversity indexs of fungi was 2,44 at 0-10 ppt salinity level and lowest was 2,09 at 20-30 ppt. The highest of species of fungi was 15 species at 0-10 ppt and 10-20 ppt salinity level whereas the lowest was 12 at 20-30 ppt. The highest population of fungi was 6,76 x 10 2 cfu/ ml at 20-30 ppt salinity level. The lowest population was 3,78 x 102 cfu/ ml at 10-20 ppt . The frequency of the fungi species colonization at various salinity ranged from 17 % to 67 %. Keyword : Avicennia marina, Decomposition, Fungi, Leaf Litter, Salinity.
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Aceh Selatan tanggal 20 Januari 1989. Anak dari Bapak Firdaus Simanjuntak dan Ibu Tiodor Matanari. Penulis adalah anak kedua dari lima bersaudara. Penulis menamatkan sekolah dasar di SD Negeri 084094 di Sibolga tahun 2001, kemudian melanjut ke SMP Negeri 1 Pancur Batu tamat tahun 2004 dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 17 Medan tamat tahun 2007. Penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Program Studi Budidaya Hutan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada tahun 2007 melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Pada tahun 2009, bulan Juni penulis mengikuti Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan (P3H) di desa Aras Napal dan Pulau Sembilan Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Penulis juga melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Perusahaan HTI Sumatera Silva Lestari (SSL) di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara dari tanggal 17 Januari sampai 17 Februari 2011.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih dan karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Jenis-jenis Fungi yang Berasosiasi dengan Proses Dekomposisi Serasah Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp. pada berbagai Tingkat Salinitas”. dapat diselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua penulis yang telah membimbing, mendidik dan memberikan semangat dan memberikan dukungan moril dan materil. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada komisi pembimbing Ibu Nelly Anna, S.Hut, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Yunasfi, M. Si yang terus membimbing, mengarahkan serta memberi saran kepada penulis sejak penulisan proposal sampai skripsi ini selesai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat sebagai dasar penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat menyumbang bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Medan, Agustus 2011
Penulis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK .............................................................................................. i

ABSTRACT .............................................................................................. ii

RIWAYAT HIDUP .................................................................................. iii

KATA PENGANTAR

...................................................................... iv

DAFTAR TABEL .................................................................................. vii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................. viii

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... ix

PENDAHULUAN ................................................................................ 1

Latar Belakang KerangkaPenelitian Tujuan Penelitian Hipotesis Penelitian Manfaat Penelitian

.................................................................................. 1 ................................................................................. 3 .................................................................................. 4 .................................................................................. 4 .................................................................................. 4

TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 5

Pengertian dan Ekosistem Hutan Mangrove .............................................. 5

Zonasi Mangrove .................................................................................. 6

Fungsi Hutan Mangrove ...................................................................... 6

Taksonomi dan Morfologi Avicennia marina.............................................. 8

Dekomposisi Serasah .................................................................................. 8

Fungi Hutan Mangrove

...................................................................... 12

METODE PENELITIAN ...................................................................... 15

Waktu dan Tempat Penelitian

.......................................................... 15

Alat dan Bahan ....................................................................... .......... 15

Pelaksanaan Penelitian ...................................................................... 16

Penentuan lokasi berdasarkan Salinitas .................................. 16

Penempatan Serasah di lokasi Penelitian.......................................... 16

Pengambilan Serasah ...................................................................... 17

Isolasi Fungi dari Serasah daun Avicennia marina.......................... 17

Identifikasi Fungi makroskopis. ................................... .......... 18

Identifikasi Fungi mikroskopis......................................................... 18

Analisa Data ............................................................................................. 18

HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 20

Hasil …………………………………………………………………….. 20

Universitas Sumatera Utara

Pembahasan………………………………………………………………. 31 Jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Salinitas 0-10 ppt…… 31 Jenis-jenis fungi yang Terdapat pada Serasah Daun A. marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Salinitas 10-20 ppt… 32 Jenis-jenis fungi yang Terdapat pada Serasah DaunA. Marina yang Mengalami Proses Dekomposisi pada Salinitas 20 -30 ppt… 33 Perbandingan Jumlah Jenis dan populasi fungi Fungi pada Berbagai Tingkat Salinitas………………………………………… 34 Indeks Diversitas Fungi…………………………………………… 36 Frekuensi Kolonisasi Fungi …………………………………….. 38
KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... 41 Kesimpulan.............................................................................................. 41 Saran .............................................................................................. 41 DAFTAR PUSTAKA ...... ...................................................................... 42 LAMPIRAN ........................................................................................... 45
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 0-10 ppt ………………………………………………….

20

2. Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 10-20 ppt ……………………………………………

21

3. Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 20-30 ppt ……………………………………………...

22

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Kerangka Penelitian.....................................................................

3

2. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Aspergillus sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas …………………………………

24

3. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Aspergillus sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas………………………………….

25

4. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Aspergillus sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas…………………………………

26

5. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Penicillium sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas …………………………………

27

6. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Fusarium sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas…………………………………

28

7. Struktur makroskopis dan mikroskopis fungi Saccharomyces sp. yang diisolasi dari serasah A. marina yang telah terdekomposisi pada berbagai tingkat salinitas....................................................

28

8. Grafik jumlah spesies fungi pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada berbagai salinitas

29

9. Grafik populasi fungi yang terdapat pada serasah daun A.marina yang telah mengalami proses dekomposisi pada berbagai salinitas.

30

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman 1. Ciri Makroskopis dan Mikroskopis Fungi yang ditemukan
pada serasah A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas………………………………………. 45

2. Jumlah Koloni x 10 2 (cfu/ml) berbagai jenis fungi tiap ulangan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15 sampai 90 hari di lingkungan dengan salinitas 0-10 ppt ………………………………………….

52

3. Jumlah Koloni x 10 2 (cfu/ml) berbagai jenis fungi tiap ulangan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 15 sampai 90 hari di lingkungan dengan salinitas 10-20 ppt……………………………………………

53

4 . Jumlah Koloni x 10 2 (cfu/ml) berbagai jenis fungi tiap

ulangan pada serasah daun A. marina yang telah mengalami

proses dekomposisi selama 15 sampai 90 hari di lingkungan

dengan salinitas 20-30 ppt

……………………………………

54

5. Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan berbagai salinitas…

55

6. Lokasi Penempatan Kantong Berisi Serasah Daun Avicennia marina pada Berbagai Tingkat Salinitas…………………. 56

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
MERI DANEL S : Jenis-jenis Fungi yang Berasosiasi dengan Proses Dekomposisi Serasah Avicennia marina setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp pada Berbagai Tingkat Salinitas di bawah bimbingan NELLY ANNA dan YUNASFI.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis fungi yang terdapat pada serasah daun Avicennia marina yang mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas setelah aplikasi fungi Aspergillus sp. pada daun A.marina. Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara. Fungi diisolasi dan diidentifikasi fungi di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari 2011 sampai April 2011.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 21 jenis fungi yang ditemukan pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas. Indeks keanekaragaman jenis fungi tertinggi pada tingkat salinitas 0-10 ppt yaitu 2,44 yang terendah adalah 20 – 30 ppt yaitu 2,09. Jumlah jenis fungi yang terbesar yaitu pada salinitas 0-10 ppt dan 10-20 ppt dengan jumlah fungi 15 jenis sedangkan jumlah jenis terendah pada salinitas 20-30 ppt yaitu 12 jenis. Populasi rata-rata fungi tertinggi terdapat pada salinitas 20-30 ppt yaitu 6,76 x 10 2 cfu/ ml. Populasi rata-rata fungi terendah terdapat pada salinitas 10-20 ppt yaitu 3, 78 x 10 2 cfu/ ml. Frekuensi kolonisasi fungi pada berbagai salinitas berkisar antara 17 % sampai 67 % .
Kata Kunci: Avicennia marina, Dekomposisi, Fungi, Salinitas, Serasah Daun.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT MERI DANEL S: The Species of Fungi in Association with Decomposition Avicennia marina Leaf Litter after Aplication Aspergillus sp. at Various Salinity Level. Under academic supervision by NELLY ANNA and YUNASFI
The aim of this research was to know the diversity of fungi from A.marina leaf litter during decomposition process after aplication Aspergillus sp. at various salinity level. The research applied at the mangrove forest of Sicanang Medan Belawan, North Sumatera. Isolation and identification of fungi in Microbiology Laboratory, Biology departemen, faculty of Match and Sains, USU. The research conducted since January 2011 to April 2011.
The result of this research showed that totally 21 species of fungi of isolated from A. marina leaf litter during decomposition at various salinity level. The highest of species diversity indexs of fungi was 2,44 at 0-10 ppt salinity level and lowest was 2,09 at 20-30 ppt. The highest of species of fungi was 15 species at 0-10 ppt and 10-20 ppt salinity level whereas the lowest was 12 at 20-30 ppt. The highest population of fungi was 6,76 x 10 2 cfu/ ml at 20-30 ppt salinity level. The lowest population was 3,78 x 102 cfu/ ml at 10-20 ppt . The frequency of the fungi species colonization at various salinity ranged from 17 % to 67 %. Keyword : Avicennia marina, Decomposition, Fungi, Leaf Litter, Salinity.
Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN
Latar Belakang Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang secara
teratur tergenang air laut dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut tetapi tidak dipengaruhi oleh iklim ( Santoso, 2000). Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Lahan mangrove terluas terdapat di Irian Jaya dengan luasan sekitar 1.350.600 ha (38%), Kalimantan 978.200 ha (28%) dan Sumatera 673.300 ha (19%) (Wetland International, 1999).
Menurut FAO, Indonesia memiliki sebanyak 37 jenis pohon mangrove. Dari sekian banyak jenis mangrove di Indonesia, jenis mangrove yang banyak ditemukan antara lain adalah jenis api-api (Avicennia sp), bakau (Rhizophora sp), tancang (Bruguiera sp), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp) yang merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai ( Irwanto, 2008).
Mangrove seperti tumbuhan lainnya membutuhkan unsur hara untuk pertumbuhan. Secara umum arti dari pergerakan materi dan energi dalam ekosistem mangrove yaitu mangrove menggunakan material anorganik yang masuk ke lingkungan mangrove dan mengeluarkan material organik dalam bentuk serasah tumbuhan yang dapat menyokong rantai makanan dekat pantai. Aliran energi yang terdapat pada ekosistem mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor fisik seperti sungai-sungai, pasang surut, gelombang laut, salinitas air laut dan faktor-faktor biologi seperti produksi serasah dari tumbuhan yang jatuh dan mengalami dekomposisi serta semua mekanisme yang mengatur kecepatan pemasukan, pengeluaran dan penyimpanan material organik dan anorganik ( Soeroyo, 1987).
Universitas Sumatera Utara

Jenis mangrove A. marina merupakan salah satu jenis mangrove yang toleran terhadap salinitas yang luas bila dibandingkan dengan jenis mangrove yang lain (Mac Nae, 1978). Selain itu A. marina juga dapat menghasilkan serasah sebanyak 310 g/m2 tiap bulan (Clarke, 1994). Di dunia dikenal sebagai black mangrove karena penyebaran benihnya mudah, toleransi terhadap temperatur tinggi, cepat menumbuhkan akar pernafasan (akar pasak) dan sistem perakaran di bawahnya mampu menahan endapan dengan baik
Serasah yang jatuh ke dalam sungai dan daerah pantai mengalami dekomposisi yang melibatkan peran mikroorganisme air seperti bakteri dan fungi. Dekomposisi akan berjalan lebih cepat jika ada mikroorganisme tersebut. Menurut Moore-Landecke (1996), fungi saprofit merupakan organisme penyebab kerusakan yang memperoleh nutrisi dari material organik yang telah mati. Fungi berperan penting dalam proses perombakan bahan organik. Oleh karena itu dengan adanya penambahan fungi Aspergillus sp pada serasah A. marina diharapkan proses dekomposisi akan lebih cepat.
Menurut Kurniawan (2010) pada jenis Avicennia marina di kawasan hutan mangrove di Teluk Tapian Nauli didapat beberapa fungi yag ditemukan pada serasah A. marina yang mengalami dekomposisi yaitu Aspergilllus, Trichoderma , Penicillium , Culvularia lunata , Mucor plumbeus dan Arthrinium phaeospermum dengan indek diversitas fungi tertinggi pada salinitas 10-20 ppt. Sedangkan menurut Silitonga (2010), pada serasah Rhizopora mucronata yang mengalami dekomposisi di kawasan hutan mangrove Belawan didapat 8 genus fungi yaitu: Aspergilllus, Trichoderma, Penicillium, Mucor, Rhizopus, Gliocladium, Fusarium dan Epicoccum dengan diversitas tertinggi terdapat pada salinitas > 30 ppt.
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut diketahui bahwa keanekaragaman jenis fungi di hutan mangrove dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tingkat salinitas air laut. Penelitian ini difokuskan untuk melihat keanekaragaman jenis fungi pada tiap salinitas air laut pada dekomposisi serasah A. marina di kawasan hutan mangrove Sicanang, Belawan.

Kerangka Penelitian Ketersediaan bahan organik diperlukan dalam produktivitas perairan
terutama dalam peristiwa rantai makanan dan ketersediaan unsur hara. Fungi memiliki peranan penting sebagai dekomposer dalam mengubah serasah menjadi bahan organik. Peran fungi sebagai dekomposer dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti salinitas yang juga mempengaruhi proses dekomposisi serasah mangrove. Adapun kerangka penelitian dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini.
Hutan Mangrove

Lingkungan a. Faktor
iklim b. Salinitas c. pH d. Nutrisi e. dll

Serasah daun A. marina
Dekomposisi
Bahan Organik

Gambar 1. Kerangka Penelitian

Dekomposer a. Organisme b.mikroorganisme - Fungi - Bakteri

Universitas Sumatera Utara

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman jenis fungi yang
terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami dekomposisi pada berbagai tingkat salinitas setelah aplikasi fungi Aspergillus sp. pada daun A.marina. Hipotesis
Terdapat keanekaragaman jenis fungi yang berasosiasi dalam proses dekomposisi serasah A.marina setelah aplikasi fungi Aspergillus sp. pada beberapa tingkat salinitas serta mampu mempercepat laju dekomposisi serasah A. marina tersebut. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi masyarakat dan instansi yang terkait mengenai cara mempercepat proses dekomposisi dengan cara pemberian jenis fungi yang telah diketahui untuk kawasan ekosistem mangrove pada tingkat salinitas yang telah diketahui.
Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian dan Ekosistem Hutan Mangrove Hutan mangrove adalah formasi dari tumbuhan yang spesifik dan biasanya
dijumpai tumbuh dan berkembang di sepanjang pesisir yang terlindungi dari pukulan gelombang di daerah tropik dan subtropik yang dipengaruhi pasang surut air laut dengan kondisi tanah yang anaerob. Mangrove juga didefenisikan sebagai hutan yang tumbuh pada lumpur alluvial di daerah pantai dan muara sungai serta keberadaannya selalu dipengaruhi pasang surut air laut (Kuriandewa, 2003).
Menurut Nybakken (1993), hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Menurut Bengen (2000), Hutan mangrove meliputi pohon dan semak yang tergolong ke dalam 8 famili yang terdiri atas 12 genera tumbuhan berbunga yaitu: Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda dan Conocarpus .
Ekosistem hutan mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, dipengaruhi pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesis pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin atau payau ( Santoso, 2000).
Universitas Sumatera Utara

Menurut Soerianegara (1998), ciri-ciri hutan mangrove adalah sebagai berikut: tidak dipengaruhi iklim, dipengaruhi pasang surut air laut, tanah tergenang air laut atau berpasir dan tanah liat, tanah rendah pantai, hutan tidak mempunyai strata tajuk dan tinggi mencapai 30 meter. Zonasi Mangrove
Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia : a. Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering
ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik. b. Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. c. Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. d. Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya. Fungsi Hutan Mangrove
Hutan mangrove di kebanyakan pesisir pantai di Sumatera Utara merupakan daerah pinggiran yang berguna dan produktif, dan juga melindungi pesisir dari ombak dan perembesan air asin. Secara garis besar fungsi hutan mangrove dapat dibagi tiga aspek: Aspek fisik, Aspek Biologi dan Aspek ekonomi. Secara ekologis fungsi hutan mangrove dalam melindungi dan melestarikan kawasan pesisir adalah ( Alikondra, 2003):
Universitas Sumatera Utara

1. Melindungi garis pantai dan kehidupan di belakangnya dari gempuran tsunami dan angin, karena kondisi tajuknya yang relatif rapat, dan kondisi perakarannya yang kuat dan rapat mampu mencengkeram dan menstabilkan tanah habitat tumbuhnya, dan sekaligus mencegah terjadinya salinisasi pada wilayah-wilayah di belakangnya.
2. Melindungi terumbu karang, karena sistem perakarannya mampu menahan lumpur sungai dan menyerap berbagai bahan polutan yang secara ekologis pada akhirnya akan dapat melindungi kehidupan berbagai jenis flora dan fauna yang berasosiasi dengan padang lamun dan terumbu karang.
3. Melindungi tempat buaya dan berpijahnya berbagai jenis ikan dan udang komersial, termasuk melindungi tempat tinggal, baik tetap maupun sementara berbagai jenis burung, mamalia, ikan, kepiting, udang, dan reptilia, yang banyak diantaranya termasuk jenis binatang yang dilindungi undang-undang. Secara sosial, hutan mangrove juga dapat melestarikan adanya keterkaitan
hubungan sosial dengan masyarakat setempat karena banyak di antara mereka yang membutuhkan mangrove sebagai tempat mencari ikan, kepiting, udang, maupun mendapatkan kayu dan bahan untuk obat-obatan. Di samping itu, secara ekonomi hutan mangrove secara luas akan dapat melindungi nilai ekonomi maritim karena kemampuannya sebagai tempat berpijah berbagai jenis ikan dan udang komersial, ataupun habitat kepiting bakau (Alikodra, 2002).
Universitas Sumatera Utara

Taksonomi dan Morfologi Avicennia marina

Kingdom : Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Lamiales

Famili

: Acanthaceae

Genus

: Avicennia

Avicennia marina atau yang sering disebut api-api biasanya tumbuh ditepi

atau dekat laut sebagai bagian dari komunitas tumbuhan mangrove. Pohon dengan

tinggi 30 m, dengan tajuk yang agak renggang. Akar nafas muncul10-30 cm dari

permukaan substrat, berupa paku jari-jari rapat, diameter akar lebih kurang 0,5-1

cm dekat ujungnya. Pepagan (kulit batang) halus keputihan sampai dengan abu-

abu kecoklatan dan retak-retak. Ranting dengan buku-buku bekas daun yang

menonjol serupa sendi-sendi tulang. Daun tunggal, bertangkai, berhadapan,

bertepi rata, berujung runcing atau membulat; helai daun seperti kulit, hijau

mengkilap di atas, abu-abu atau keputihan di sisi bawahnya, sering dengan kristal

garam yang terasa asin (Noor dan Syahputra, 2006).

Dekomposisi Serasah

Serasah dalam ekologi digunakan untuk dua pengertian yaitu sebagai

lapisan bahan tumbuhan mati yang terdapat pada permukaan tanah dan bahan-

bahan tumbuhan mati yang tidak terikat lagi pada tumbuhan. Serasah merupakan

bahan organik yang mengalami beberapa tahap proses dekomposisi dapat

menghasilkan zat yang penting bagi kehidupan dan produktivitas perairan

terutama dalam peristiwa rantai makanan (Arif, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Serasah yang terdapat dipermukaan tanah merupakan bahan-bahan yang telah jatuh dan mati. Serasah mengalami proses dekomposisi dan mineralisasi dimana laju dari proses dekomposisi itu dapat ditentukan dari bobot yang terdekomposisi. Laju dekomposisi serasah tergantung jenis serasah, jenis pohon dan penggenangan air pada lantai hutan mangrove. Selain itu ditentukan salinitas, suhu, pH dan mikroorganisme. Serasah yang kaya nutrisi umumnya lebih cepat terdekomposisi dibandingkan dengan serasah yang miskin hara (Rismunandar, 2000)
Dekomposisi dapat didefinisikan sebagai penghancuran bahan organik mati secara gradual yang dilakukan oleh agen biologi maupun fisika yang dipandang sebagai reduksi komponen-komponen organik menjadi berat molekul yang lebih rendah melalui mekanisme enzimatik. Dekomposer mengeluarkan enzim protease, selulase, ligninase yang menghancurkan molekul-molekul organik kompleks seperti protein dan karbohidrat dari tumbuhan yang telah mati (Sunarto, 2003).
Odum (1993) menyatakan bahwa serasah daun mangrove di estuaria sebagai penyumbang unsur hara yang penting bagi jaringan makanan dan juga merupakan sumber makanan bagi ikan dan invertebrata yang penting. Kecepatan proses dekomposisi serasah tidak hanya dipengaruhi oleh mikroorganisme pengurai tetapi juga dipengaruhi iklim seperti curah hujan, kelembaban, intensitas cahaya, suhu udara disekitar kawasan mangrove dan kondisi lingkungan tempat tumbuh organisme seperti suhu air, pH, salinitas, kandungan oksigen terlarut, kandungan hara organik dan lain-lain.
Universitas Sumatera Utara

Dekomposisi serasah adalah perubahan secara fisik maupun kimia yang sederhana oleh mikroorganisme tanah seperti bakteri, fungi atau hewan tanah lainnya. Dekomposisi serasah sering disebut juga mineralisasi yaitu proses penghancuran bahan organik yang berasal dari hewan dan tanaman menjadi sengawa anorganik sederhana ( Sutedjo dkk. 1991).
Menurut Nybakken (1993) terdapat tiga tahap proses dekomposisi serasah yaitu (1) proses leaching merupakan mekanisme hilangnya bahan-bahan yang terdapat pada serasah atau detritus akibat curah hujan atau aliran air, (2) penghawaan (wathering) merupakan mekanisme pelapukan oleh faktor-faktor fisik seperti pengikisan oleh angin atau pergerakan molekul air dan (3) aktivitas biologi yang menghasilkan pecahan-pecahan organik oleh makhluk hidup yang melakukan proses dekomposisi.
Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa salah satu bagian tersebut adalah daun yang mempunyai unsur hara karbon, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium. Ketika gugur ke permukaan substrat, daun-daun yang banyak mengandung unsur hara tersebut tidak langsung mengalami pelapukan atau pembusukan oleh mikroorganisme, tetapi memerlukan bantuan hewan-hewan yang disebut makrobentos. Makrobentos ini memiliki peranan yang sangat besar dalam penyediaan hara bagi pertumbuhan dan perkembangan pohon-pohon mangrove maupun bagi mangrove itu sendiri. Makrobentos berperan sebagai dekomposer awal yang bekerja mencacah-cacah daun-daun menjadi bagianbagian kecil, yang kemudian akan dilanjutkan oleh organisme yang lebih kecil lagi yaitu mikroorganisme. Pada umumnya keberadaan makrobentos dapat mempercepat proses dekomposisi serasah daun tersebut .
Universitas Sumatera Utara

Di Victoria, materi yang berasal dari mangrove api-api (A. marina) ternyata sangat kaya unsur hara senyawa fosfat. Peranan mangrove begitu aktif dan penting dalam proses daun-daun yang jatuh dan juga akar-akar selama satu tahun mempunyai kadar nitrogen sebanyak empat kali lipat dan fosfat setengah dari kadar nitrat dan fosfat dalam perairan di pantai itu sendiri. Penguraian senyawa mangrove menurut Swift et all (1979) dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Alam dan komunitas pengurai (binatang dan mikroorganisme). b. Kualitas sumber (jenis serasah) c. Faktor iklim, kualitas suhu dan kelembapan tanah. Menurut Lear dan Turner (1977), bagian terbesar dari serasah mangrove merupakan bahan yang pokok untuk tempat berkumpulnya bakteri dan fungi. Kemudian bahan-bahan tersebut mengalami penguraian yang merupakan mata rantai dari hewan-hewan laut. Bagian-bagian partikel daun yang kaya akan protein dirombak oleh koloni-koloni bakteri dan seterusnya dimakan oleh ikan-ikan kecil. Perombakan partikel daun ini akan berlanjut terus sampai menjadi partikel yang berukuran sangat kecil (detritus) dan akhirnya dimakan oleh hewan-hewan pemakan detritus, seperti molusca dan crustacea kecil. Selama proses perombakan ini substansi organik terlarut yang berasal dari serasah sebagian dilepas sebagai materi yang berguna bagi fitoplankton dan sebagian lagi diabsorpsi oleh partikel sedimen yang menyokong rantai makanan. Fungi Hutan Mangrove Fungi adalah organisme eukariot yang terdiri dari kapang dan khamir. Pada dasarnya, tubuh fungi terdiri dari dua bagian yaitu miselium dan spora.
Universitas Sumatera Utara

Miselium merupakan kumpulan dari beberapa filament yaitu hifa. Berdasarkan cara dan ciri reproduksinya maka fungi dibagi atas empat kelas yaitu Zycomycota, askomycota, basidiomycota dan deuteromycota. Bila fungi hidup pada benda mati yang terlarut maka fungi akan bersifat saprofit (Pelczar dan Chan, 2005).
Fungi merupakan salah satu mikroorganisme yang berperan dalam proses dekomposisi berbagai komponen serasah, yang terdiri atas daun, bunga, cabang, ranting dan bagian-bagian tumbuhan lain. Fungi detritus bukanlah dekomposer awal yang berperan di dalam pembusukan serasah mangrove. Arif (2007) menyatakan makrobentos seperti fauna kelas Gastropoda, Crustacea, Bivalvia, Hirudinae, Polichaeta dan Ampibi sangat menunjang keberadaan unsur hara. Selain mengkonsumsi zat hara yang berupa detritus, diantara berbagai fauna ini ada yang berperan sebagai dekomposer awal yang bekerja dengan cara mencacahcacah daun menjadi bagian-bagian kecil kemudian akan dilanjutkan oleh organisme yang lebih kecil yaitu mikroorganisme (MacNae, 1978).
Serasah yang jatuh akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme menjadi detritus. Semakin banyak serasah yang dihasilkan dalam suatu kawasan mangrove maka semakin banyak pula detritus yang dihasilkan. Detritus inilah yang akan menjadi sumber makanan bernutrisi tinggi untuk berbagai jenis organisme perairan yang selanjutnya dapat dimanfaatkan organisme tingkat tinggi dalam jaring makanan. Jenis-jenis fungi yang bersifat asosiatif dalam proses degradasi serasah mangrove adalah Aspergillus, Trichoderma, Penicillium, Paecilomyces, Gliocladium, Gonatobotryum dan Syncephalastrum ( Affandi et ll , 2001 dalam Zamroni dan Immy, 2008).
Universitas Sumatera Utara

Dari hasil penelitian Ito dan Nakagiri dalam Yunasfi (2008) diketahui bahwa pada rizosfer Sonneratia alba terdapat 9 jenis fungi yang terdiri atas: Acremonium sp., Alternaria alternata, Cylindrocarpon destractans, Fusarium moniliforme, Pestalotiopsis sp.1 Pencillium sp. 1, Trichoderma harzianum, dan 2 jenis tidak teridentifikasi. Adapun pada rizosfer A. marina ditemukan 10 jenis fungi, yaitu : Aspergillus aculeatus, Engyodontium album, Gliomastix murorum, Pencillium sp. 2, Pencillium sp. 3, Pencillium sp. 4, Trichoderma aureoviride, Trichoderma harzianum, Virgaria nigra, dan 1 jenis tidak teridentifikasi.
Hyde (1990) menemukan 57 jenis fungi yang terdapat pada Rhizophora apiculata di hutan mangrove Brunei. Kebanyakan jenis-jenis fungi ini tumbuh di atas ketinggian pasang air laut rata-rata. Hasil pengamatan Sadaba dkk., (1995) yang dilakukan di Mai Po, Hongkong pada Acanthus ilicifolius yang mengalami senescen bagian atas (apical) banyak dikoloni oleh jenis-jenis fungi terestrial, sedang bagian bawahnya banyak dikoloni oleh jenis-jenis fungi laut. Pada hutan mangrove Malaysia terdapat 30 jenis fungi lignocolous. Keanekaragaman jenis dan kelimpahan terbesar berbagai jenis fungi tersebut terdapat pada kayu A. marina.
Menurut Gandjar dkk ( 2006), para peneliti Jepang telah mengisolasi fungi dari lumpur hutan mangrove yang terdapat di Pulau Okinawa dan menemukan Penicillium purpurogenum, Aspergillus terreus, Trichoderma harzianum, Penicillium cristosum, Acremonium alabamense, Talaromyces flavus dan Phialophor fastigiata.
Fungi- fungi yang berperan dalam dekomposisi serasah menurut Kurniawan (2010) yaitu Aspergilllus, Trichoderma, Penicillium, Culvularia
Universitas Sumatera Utara

lunata, Mucor plumbeus dan Arthrinium phaeospermum. Sedangkan menurut Silitonga (2010), pada serasah Rhizopora mucronata yang mengalami dekomposisi di kawasan hutan mangrove Belawan didapat 8 genus fungi yaitu: Aspergilllus, Trichoderma, Penicillium, Mucor, Rhizopus, Gliocladium, Fusarium dan Epicoccum. Menurut Ayunasari (2009), salah satu fungi yang memiliki kontribusi terbesar dalam proses dekomposisi serasah A. marina adalah Aspergillus sp, Curvullaria sp, Penicillium sp dan Saccharomycess.
Universitas Sumatera Utara

METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan dari bulan Januari sampai bulan April 2011.
Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Sumatera Utara dan Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah kantong nilon (litter bag) dengan poripori 1 mm (ukuran 40 x 30 cm), tali rafia, hand refraktometer, jarum, tabung reaksi, rak tabung reaksi, cawan petri, jarum ose, lampu Bunsen, sprayer, gelas ukur, corong, spatula, batang pengaduk, hockey stick, mancis, labu Erlenmeyer, gelas beker, mortal dan alu, pipet serologi, hot plate, vortex, magnetic stirrer, autoklaf, oven, inkubator fungi, mikroskop cahaya, kaca obyek, kulkas, timbangan analitik, timbangan elektrik dan kamera digital. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah serasah A. marina, media Potato Dextrose Agar (PDA), Antibiotik chloramfenicol, air lokasi penelitian dengan salinitas 0-10 ppt, 10-20 ppt, 20-30 ppt, alkohol 70 %, desinfektan, kapas, kertas saring, spritus, benang nilon, akuades, aluminium foil, plastik wrap, kertas tisu.
Universitas Sumatera Utara

Pelaksanaan Penelitian 1. Penentuan Lokasi berdasarkan Tingkat Salinitas
Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan mengukur tingkat salinitas air dengan menggunakan alat hand refractometer. Penentuan lokasi ini dimulai dari titik tertentu dari darat ke laut yang terdiri dari 3 lokasi yaitu:
a. Lokasi I untuk tingkat salinitas air dari 0-10 ppt. b. Lokasi II untuk tingkat salinitas air dari 10-20 ppt. c. Lokasi III untuk tingkat salinitas air dari 20-30 ppt.
2. Pembuatan Suspensi Jamur Fungi Aspergillus sp yang diperoleh dari penelitian sebelumnya disiapkan.
Fungi ini merupakan fungi yang diperkirakan berperan dalam proses dekomposisi serasah A. marina. Biakan fungi Aspergillus sp pada media agar dipotong 1x1 cm dan dicampurkan ke dalam 10 ml air laut yang telah disterilkan. Suspensi dihomogenkan dengan menggunakan vortex. Suspensi ini digunakan pada kantong serasah yang berisi serasah A.marina .
3. Penempatan Serasah Daun A. marina yang sudah menguning dan gugur dikumpulkan sebanyak 3
kg. Masing-masing 50 gram serasah dimasukkan ke dalam kantong serasah yang terbuat dari jaring nilon dengan pori-pori 1 mm (ukuran 40 x 30 cm) sebanyak 60 buah. Serasah daun ditempatkan pada kawasan mangrove di sekitar tambak udang milik warga setempat dengan perbedaan tingkat salinitas. Posisi kantong diletakkan sedemikian rupa agar terendam saat air pasang dan surut. Kemudian
Universitas Sumatera Utara

suspensi jamur Aspergillus sp disemprotkan pada kantong serasah. Setiap aplikasi jamur dibuat 3 ulangan.
4. Pengambilan Serasah Daun A. marina Serasah yang diletakkan pada tiap salinitas diambil setiap 15 hari sekali
sebanyak 6 kali pengambilan. Pada tiap lokasi penelitian diambil 3 kantong serasah. Serasah kemudian dianalisa dilaboratorium untuk mengetahui keanekaragaman dan karakteristik fungi yang diperoleh.
5. Isolasi Fungi dari Serasah Daun A. marina Alat dan bahan terlebih dahulu disterilkan sebelum digunakan dengan
metode sterilisasi basah dan kering. Sterilisasi basah dengan menggunakan autoklaf dengan suhu 121 0 C selama 15-30 menit. Sterilisasi kering dengan oven dengan suhu 170 0 - 180 0 C selama 2 jam.
Media yang digunakan untuk biakan fungi yaitu media Potato Dextrose Agar ( PDA). Media ditimbang sebanyak 3,9 gram dan dilarutkan dalam 100 ml air laut dari masing-masing salinitas serta ditambahkan Antibiotik Chloramfenicol. Media tersebut dipanaskan di atas hotplate dan disterilkan dengan menggunakan autoklaf.
Sebanyak 10 gram sampel serasah A.marina dihaluskan dengan mortal dan alu secara aseptis. Lalu serasah yang telah dihaluskan disuspensikan dengan 100 ml air laut pada masing-masing salinitas yang sudah disterilkan. Kemudian dilakukan pengenceran 10 −2 . Satu mililiter dari masing-masing pengenceran pada setiap perlakuan dimasukkan ke dalam cawan petri yang telah berisi media PDA dengan metode agar sebar. Kemudian diinkubasi selama 5-8 hari. Fungi yang
Universitas Sumatera Utara

tumbuh dihitung jumlah koloni dan dicatat ciri-cirinya. Fungi yang tumbuh kemudian dipindahkan kecawan petri yang lain untuk mendapatkan biakan murni.

6. Identifikasi Fungi Makroskopis Biakan murni diremajakan pada media PDA dan diinkubasi selama 14
hari. Fungi yang tumbuh pada media diamati ciri-ciri makroskopisnya yaitu ciri koloni seperti warna koloni, sifat tumbuh koloni dan diameter koloni.

7. Identifikasi Fungi Mikroskopis Identifikasi secara mikroskopis dilakukan dengan metode Block square.
Ditumbuhkan pada kaca preparat selama 2 - 3 hari. Pengamatan fungi dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan mengamati struktur mikroskopis fungi seperti hifa, konidia, bentuk spora dan warna spora. Diambil gambar dari struktur fungi dan dicocokkan dengan buku identifikasi fungi.

Analisa Data

Metode yang dipakai untuk mengetahui keanekaragaman fungi yang

diisolasi dari serasah A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada

berbagai tingkat salinitas dengan menggunakan Indeks Diversitas Shannon-

Winner (H’) sebagai berikut:

H’ = − ∑ pi ln pi

H’ = − ∑ (ni / N ) ln(ni / N )

Dimana, pi = Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis (ni/N)
H’ = Indeks Keanekaragaman jenis

Universitas Sumatera Utara

Ni = Nilai Kuantitaf suatu jenis N = Jumlah Nilai kuantitaf semua jenis dalam komunitas
Universitas Sumatera Utara

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada salinitas 0-10 ppt
Dari hasil pengamatan terhadap fungi-fungi dekomposer, diperoleh 15 jenis spesies fungi yang berhasil diisolasi dari serasah daun A. marina pada lokasi 1 (salinitas 0-10 ppt). Jumlah koloni dan frekuensi koloni masing-masing spesies yang berhasil diisolasi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi

kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses

dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 0-10 ppt

No Jenis

Lama masa dekomposisi

Jumlah Jumlah Jumlah

Jumlah Frekuensi

Fungi

(hari)

seluruh koloni pengamatan kemunculan kolonisasi

15 30 45 60 75 90

koloni

ratarata

(kali)

koloni (kali)

a (%)

1 Aspergillus 0 0 0 1,67 0 1 2,67

0,44

6

2 33

sp. 1

2 Aspergillus 0 1,67 0 0,67 0,67 1,67 4,68

0,78

6

4 66

sp .2

3 Aspergillus 0,33 0 0 0 0,33 0 0,66

0,11

6

2 33

sp. 3

4 Fusarium 0 0,67 0 0 0 0 0,67

0.11

6

1 17

spp

5 Penicilium 0 0,33 0

0 0,33 0 0,66

0,11

6

2 33

sp. 1

6 Penicilium 0 0,33 0

0 0,33 0 0,66

0,11

6

2 33

sp. 2

7 Aspergillus 1 0 0 0 0,67 0 1,67

0,28

6

2 33

sp. 4

8 Aspergillus 1 0 0 0,67 0 0 1,67

0,28

6

2 33

sp.5

9 Aspergillus 0 0 1 0 0 2,3 3,33

0,55

6

2 33

sp. 6

10 Aspergillus 0

0 0,33 2,33 0

0 2,66

0,44

6

2 33

sp. 15

11 Aspergillus 2,67 0 0 0 0 0 2,67

0,44

6

1 17

spp 7

12 Aspergillus 0

0 0,33 0,33 0 2,6 2,66

0,44

6

3 50

sp. 8

13 Aspergillus 0 0 0 0 0,67 0,67 1,34

0,22

6

2 33

spp 9

14 Aspergillus 0 0 0 1,67 0 0 1,67

0,28

6

2 33

sp. 10

15 Aspergillus 0 0 0 0,67 0 0 0,67

0,11

6

1 17

sp. 11

Total

27,67 4,61

a : Jumlah kemunculan koloni (kali) / Jumlah pengamatan x 100 %

Universitas Sumatera Utara

Dari 15 jenis fungi yang berhasil diisolasi, Aspergillus sp.2 mempunyai jumlah koloni rata-rata terbesar yaitu 0,78 x10 2 cfu/ml dengan frekuensi kolonisasi 66 %. Sedangkan jumlah koloni rata-rata terkecil yaitu 0,11 x10 2 cfu/ml diperoleh oleh Aspergillus sp.3, Fusarium spp, Penicillium sp.1, Penicillium sp.2 dan Aspergillus sp.11.

Jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada salinitas 10-20 ppt
Pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada
tingkat salinitas 10-20 ppt diperoleh 15 jenis fungi yang diisolasi. Jumlah koloni
dan frekuensi koloni setiap spesies pada lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 10-20 ppt

No Jenis

Lama masa dekomposisi

Jumlah Jumlah Jumlah

Jumlah Frekuensi

Fungi

(hari)

seluruh koloni pengamatan kemunculan kolonisasi

15 30 45 60 75 90

koloni

ratarata

(kali)

koloni (kali)

a (%)

1 Penicillium 0,67 0,67 1,33 1,33 0 0 4

0,67

6

4 67

sp. 3

2 Aspergillus 0

0,33 0

0,67 0,67 0

1,67

0,28

6

3 50

spp8

3 Aspergillus 0 0 0 0 0,67 0,33 1

0,2

6

2 33

sp.9

4 Aspergillus 0,33 0 0 0 0 0 0,33

0,05

6

1 17

sp. 11

5 Aspergillus 0,67 0,33 0 0 0 0 1

0,2

6

2 33

spp 3

6 Aspergillus 2 0 0,33 0 0 0 2,33

0,39

6

2 33

sp. 2

7 Penicillium 0 0 0 0,67 0 0 0,67

0,11

6

1 17

sp. 1

8 Aspergillus 1 0 0 0,67 0,33 0 2

0,33

6

3 50

sp. 5

9 Aspergillus 0 0,33 0 0 0 0 0,33

0,05

6

1 17

sp. 12

10 Aspergillus 0 1,67 3,33 0 0 0 5

0,83

6

2 33

sp. 6

11 Aspergillus 0 0 0 0,67 0 0 0,67

0,11

6

1 17

sp. 4

12 Aspergillus 0 0 0 0 0,67 0 0,67

0,11

6

1 17

spp 1

13 Penicillium 0 0 0 0 0,33 0 0,33

0,05

6

1 17

sp. 2

14 Aspergillus 0 0 0 0 0,67 0 0,67

0,11

6

1 17

sp.16

15 Aspergillus 0 0 0 0 0 2 2

0,33

6

1 17

sp. 13

Total

22,67 3,78

Universitas Sumatera Utara

Dari 15 jenis fungi yang berhasil diisolasi pada salinitas 10- 20 ppt , Aspergillus sp.6 mempunyai jumlah koloni rata-rata terbesar yaitu 0,83 x10 2 cfu/ml. Sedangkan jumlah koloni rata-rata terkecil yaitu 0,05 x 10 2 cfu/ml diperoleh oleh Aspergillus sp.11, Penicillium sp.2 dan Aspergillus sp.12. Frekuensi kolonisasi terbesar yang diperoleh pada lokasi ini yaitu Penicillium sp.3 dengan frekuensi kolonisasi 67 % dan frekuensi kolonisasi terkecil diperoleh pada fungi Aspergillus sp.1, Aspergillus sp.4, Aspergillus sp.11, Aspergillus sp.12, Aspergillus sp.13, Aspergillus sp.16, Penicillium sp.1, dan Penicillium sp.2.

Jenis-jenis fungi yang terdapat pada serasah daun A. marina yang mengalami proses dekomposisi pada salinitas 20 -30 ppt
Terdapat 12 jenis spesies fungi yang berhasil diisolasi dari serasah daun A.
marina pada lokasi 3 ( salinitas 20-30 ppt). Jumlah koloni dan frekuensi koloni
masing-masing spesies yang berhasi diisolasi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah koloni rata-rata x (10 2 cfu/ml) tiap jenis fungi tiap 15 hari dan frekuensi

kolonisasinya pada serasah daun A. marina yang telah mengalami proses dekomposisi

selama 90 hari dilingkungan dengan salinitas 20-30 ppt

No Jenis Fungi

Lama masa dekomposisi

Jumlah

(hari)

seluruh

15 30 45 60 75 90 koloni

1 Aspergillus 0,67 0 0 0 0 0

sp. 15

2 Aspergillus

0 0,67 0

0

1

0

sp. 8

3 Aspergillus 0 0 1 0 0 0,67

sp. 9

4 Aspergillus 2,33 9 0 0,33 0,33 0

sp. 3

5 Penicilium

0 0,67 0

0

0

0

sp. 2

6 Aspergillus 2,33 2,33 0 3,33 0

0

sp. 2

7 Penicilium

0 0,67 5

0

0

0

sp. 1

8 Aspergillus 0 0 1 0 0 0,67

sp. 14

9 Aspergillus

0 3,33 0 0,33 0,33 0

sp. 5

10 Saccharomyce 0

000

0 2,67

s spp

0,67 1,67 1,67 11,96 0,67 7,9 5,67 1,67 3.99 2,67

Jumlah koloni rata rata 0,11
0,28
0,28
1,99
0,11
1,32
0,94
0,28
0,66
0,44

Jumlah pengamatan
(kali)
6

Jumlah kemunculan
koloni (kali)
1

62

62

64

61

63

62

62

Dokumen yang terkait

Laju Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus sp Pada Berbagai Tingkat Salinitas

0 45 65

Laju Dekomposisi Serasah Daun Rhizophora mucronata Setelah Aplikasi Fungi Penicillium sp., Aspergillus sp., dan Curvularia sp. Pada Berbagai Tingkat Salinitas

2 53 61

Jenis-Jenis Fungi Yang Berasosiasi Pada Proses Dekomposisi Serasah Daun Avicennia. Marina (Forsk) Vierh Setelah Aplikasi Fungi aspergillus sp., curvularia sp., Penicillium SP. Pada Beberapa Tingkat Salinitas Di Desa Sicanang Belaw

1 53 101

Jenis-Jenis Bakteri Yang Berasosiasi Pada Proses Dekomposisi Serasah Daun Avicennia. Marina (Forsk) Vierh Setelah Aplikasi Fungi Aspergillus SP., Curvularia SP., Penicillium SP. Pada Beberapa Tingkat Salinitas Di Desa Sicanang Belawan

12 74 89

Jenis-Jenis Fungi Yang Terlibat Dalam Proses Dekomposisi Serasah Daun Avicennia Marina Pada Berbagai Tingkat Salinitas

0 61 5

Keanekaragaman Jenis Fungi Pada Serasah Daun Avicennia marina Yang Mengalami Dekomposisi Pada Berbagai Tingkat Salinitas

0 30 134

Jenis-Jenis Fungi Yang Terdapat Pada Serasah Daun Rhizophora Mucronata Yang Mengalami Dekomposisi Pada Berbagai Tingkat Salinitas

0 27 70

Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina oleh Bakteri dan Fungi Pada Berbagai Tingkat Salinitas

2 22 243

Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina oleh Bakteri dan Fungi pada Berbagai Tingkat Salinitas

2 24 243

Dekomposisi Serasah Daun Avicennia marina oleh Bakteri dan Fungi Pada Berbagai Tingkat Salinitas

4 31 253